Anda di halaman 1dari 13

Dampak fluktuasi Nilai tukar rupiah terhadap ekspor impor

Nilai rupiah dapat berfluktuasi terhadap nilai mata uang asing, perbandingan nilai rupiah
dengan nilai mata uang asing dikenal dengan istilah kurs atau nilai tukar (exchange rate).
Penyebab utama naik atau turunnya nilai mata uang asing di Indonesia karena besarnya
permintaan dan penawaran mata uang asing tersebut.
Permintaan dan penawaran mata uang asing dibutuhkan oleh para pihak yang berkepentingan,
antara lain pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, individu, dan sebagainya.
Besarnya permintaan terhadap uang asing juga dipengaruhi oleh 3 hal, antara lain sebagai alat
bertransaksi, sebagai aset cadangan atau hanya untuk berjaga-jaga, dan untuk spekulasi.
Baca juga: 6 Faktor Penyebab Berubahnya Nilai Tukar Mata Uang Antar Negara
Bila permintaan terhadap mata uang asing di Indonesia mengalami peningkatan (dengan
asumsi jumlah penawaran tidak berubah) maka nilai mata uang asing tersebut akan
meningkat atau menguat dibandingkan rupiah.
Begitu pula sebaliknya, bila permintaan terhadap mata uang asing mengalami penurunan
(dengan asumsi penawaran tidak berubah) maka nilai mata uang asing tersebut cenderung
melemah dibandingkan rupiah.
Sama halnya bila ditinjau dari sisi penawaran, hanya saja berbanding terbalik. Jika penawaran
mata uang asing mengalami peningkatan dengan asumsi permintaan tidak berubah, maka
nilainya akan menurun atau rupiah akan menguat.
Sedangkan bila penawaran mata uang asing mengalami penurunan dengan asumsi jumlah
permintaan tidak berubah, maka nilainya akan meningkat atau rupiah cenderung melemah.
Hukum permintaan dan penawaran terhadap mata uang tentunya bisa saja terjadi setiap saat
tergantung pada perilaku pengguna serta motif penggunaan mata uang asing tersebut.
Sementara itu, pengaruh nilai tukar rupiah dibandingkan mata uang asing terhadap ekspor
impor ketika mengalami kenaikan dan penurunan adalah sebagai berikut:

Dampak Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Ekspor


Ekspor merupakan transaksi penjualan barang dan jasa dari Indonesia ke luar negeri yang
menimbulkan pembayaran oleh pembeli dari luar negeri.
Transaksi ekspor berakibat pada adanya uang masuk ke Indonesia dalam mata uang asing.
Ketika eksportir (penjual dari Indonesia) memperoleh pembayaran dari luar negeri, maka
selanjutnya ia akan menukarkan uang asing tersebut menjadi rupiah agar bisa dipakai kembali
menjadi modal dalam pembelian bahan baku, dan biaya operasional lain sehingga
menghasilkan produk kembali.
Pada saat nilai tukar rupiah mengalami penurunan atau melemah, maka jumlah rupiah yang

akan diperoleh eksportir menjadi lebih banyak dibandingkan nilai tukar sebelumnya.
Jadi, secara makro bisa dikatakan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah dapat menambah
jumlah transaksi ekonomi dan menambah minat dunia usaha untuk meningkatkan ekspor ke
luar negeri.
Namun, akan terjadi sebaliknya ketika nilai tukar rupiah menguat, maka bisa dikatakan minat
ekspor dan perekonomian dalam negeri cenderung menurun.

Dampak Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Impor


Impor adalah transaksi pembelian barang dan jasa dari luar negeri yang menimbulkan
pembayaran dengan mata uang asing ke luar negeri.
Adanya impor akan menimbulkan uang keluar dari Indonesia ke luar negeri. Agar dapat
melakukan pembayaran dengan mata uang asing, maka individu maupun perusahaan di
Indonesia harus menukarkan uang rupiah terlebih dulu menjadi mata uang asing.
Jika saat itu nilai tukar rupiah sedang melemah, maka akan diperlukan lebih banyak uang
rupiah guna memperoleh sejumlah mata uang asing guna pembayaran ke luar negeri.
Hal ini tentu saja sebagai kerugian bagi para importir. Karena harga jual barang impor di
dalam negeri juga akan meningkat atau semakin mahal, sehingga berakibat pada menurunnya
daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa yang berasal dari luar negeri. Pada akhirnya
kondisi tersebut akan mengurangi minat impor dari luar negeri.
Nah, itulah gambaran sederhana mengenai dampak dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap
ekspor dan impor. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan pembaca

Beragam Dampak Kurs Rupiah Melemah


17 Dec 2014 By: A Muttaqiena View: 42207 Share This
Kemerosotan kurs Rupiah hingga nyaris 13,000 per Dolar beberapa hari belakangan telah
menjadi berita terpanas menjelang akhir tahun. Beragam faktor menjadi penyebab kurs
Rupiah melemah; diantaranya fundamental ekonomi Indonesia yang masih rapuh serta
sentimen regional Asia dan negara-negara berkembang yang memburuk dan berakibat pada
pelarian modal ke luar negeri.
Depresiasi, atau penurunan nilai tukar (kurs) suatu mata uang, seringkali dipandang negatif.
Kenapa? Padahal sebenarnya, ada yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan. Kurs
Rupiah melemah memiliki beragam implikasi bagi masyarakat, baik perusahaan maupun
individual.

1. Nilai Gaji Dalam Dolar AS Meningkat

Tanpa perlu dijabarkan sekalipun, fakta ini sudah umum dipahami. Kurs Rupiah melemah
membuat nilai gaji dalam bentuk Dolar AS atau mata uang asing lainnya jadi meningkat saat
ditukarkan dengan Rupiah. Kiriman bulanan TKI sebesar 500 USD ke keluarganya di
Indonesia, misalnya. Saat kurs Rupiah 12,000 per Dolar AS maka jumlah itu hanya akan
setara dengan sekitar 6 juta Rupiah; tetapi bila kurs Rupiah melemah hingga 13,000 per Dolar
AS maka nilainya akan meningkat jadi sekitar 6,5 juta Rupiah.

Ini dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga Indonesia
yang kebetulan kerabatnya bekerja di luar negeri, sekaligus membuat makin banyak orang
berkeinginan untuk menjadi TKI.

2. Meningkatkan Daya Saing Produk Made In Indonesia di


Luar Negeri
Sudah umum diketahui juga bahwa dengan kurs Rupiah melemah, harga produk Indonesia
akan makin murah bagi konsumen yang berdomisili di luar negeri. Secara teoritis, hal ini bisa
meningkatkan pangsa pasar bagi produk-produk Made In Indonesia. Selain itu, perusahaan
berorientasi ekspor menerima pembayaran dari luar negeri dalam bentuk Dolar AS yang
nilainya semakin tinggi seiring melemahnya Rupiah. Dengan sendirinya, kondisi ini bisa
meningkatkan ekspor Indonesia.

Jajaran bumbu-bumbu instan


produk Indonesia di salah satu toko di Jepang. Nampak label harga dalam Yen.

Meningkatnya daya saing produk Made In Indonesia di luar negeri ini berpotensi memicu
ekspor Indonesia dan menguntungkan perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor jika biaya
produksi barang-barang ekspor itu sendiri bisa dijaga dalam kisaran normal dan produk
Indonesia disukai di luar negeri.

3. Harga Barang Impor Naik


Salah satu dampak yang langsung terasa saat kurs Rupiah melemah adalah kenaikan harga
barang-barang impor. Sebagian besar perdagangan luar negeri Indonesia dijalankan dengan
perantaraan Dolar AS, sehingga mahalnya Dolar AS akan membuat harga barang impor juga
makin mahal. Apakah ini bagus?
Bagi barang-barang impor dari jenis barang konsumsi, mungkin bagus. Katakanlah harga
buah-buahan impor naik, misalnya, maka orang mungkin akan tertarik untuk membeli buahbuahan lokal yang lebih murah dan segar. Jika masyarakat lebih suka buah lokal, maka impor
buah pun akan turun. Pendapatan importir buah ikut anjlok, tetapi di saat yang bersamaan
akan menggeser rejeki bagi petani dan pedagang buah lokal.
Namun, kenaikan harga barang impor ini akan buruk sekali bagi industri yang berbahan baku
impor, misalnya industri Tempe dan Tahu. Kebutuhan kedelai Indonesia sebagian besar
dipenuhi dari impor, sehingga bila kurs Rupiah melemah terus menerus, maka harga kedelai
akan makin menjulang tinggi, dan dampaknya harga Tempe dan Tahu naik, serta industrinya
terancam gulung tikar.

Industri Tempe Rumahan

Semakin banyak industri berbahan baku impor di Indonesia, maka dampak kurs rupiah
melemah terhadap perekonomian akan semakin berat. Selain karena perusahaan-perusahaan
di industri itu terancam tutup, para pegawainya bisa di-PHK, dan pertumbuhan ekonomi juga
terancam melambat. Padahal, jumlah industri berbahan baku impor ini banyak sekali, bukan
hanya industri Tempe dan Tahu.

4. Beban Hutang Negara Dan Swasta Makin Berat


Guna menjalankan pembangunan negara, pemerintah seringkali perlu berhutang, baik secara
langsung ke lembaga atau negara tertentu, maupun dengan menerbitkan obligasi (surat
utang). Perusahaan-perusahaan swasta pun seringkali perlu berhutang dulu untuk
mengembangkan usahanya. Jika hutang-hutang ini dilakukan dalam bentuk Dolar AS, maka
pengembaliannya pun harus dilakukan dengan mata uang yang sama, walaupun kurs Rupiah
saat pengembalian hutang berbeda dengan saat pemberian hutang.
Umpamakan perusahaan X berhutang 1 juta USD saat kurs Rupiah masih 12,000 per Dolar
AS, atau dengan kata lain ia akan mendapatkan dana segar dari sumber hutang sebesar 12
milyar Rupiah. Perjanjiannya, satu tahun kemudian ia harus mengembalikan hutang 1 juta
USD itu plus bunga 2% (20,000 USD). Di awal perjanjian, ia mungkin mengira hanya perlu
mengembalikan 12 milyar Rupiah plus bunga 240 juta Rupiah. Tetapi bila saat jatuh tempo
pengembalian hutang tiba ternyata kurs Rupiah melemah hingga 13,000 per Dolar AS, maka
besar jumlah yang harus dikembalikan perusahaan X tersebut adalah 13 milyar Rupiah plus
bunga 260 juta Rupiah. Atau dengan kata lain, beban hutangnya berlipat ganda dari pinjaman
awal.
Saat krisis tahun 1997/1998 dulu, sebagian besar hutang Indonesia, baik hutang negara
maupun hutang swasta, berbasis Dolar Amerika Serikat. Akibatnya, ketika kurs Rupiah
melemah drastis, maka perekonomian langsung kolaps. Namun selama beberapa tahun
terakhir ini, Pemerintah lebih banyak berhutang dalam Rupiah, sehingga risiko krisis jadi
lebih kecil. Walaupun demikian, sebagian hutang Pemerintah Indonesia masih ada yang
berdenominasi Dolar AS, begitu pula banyak sekali hutang-hutang perusahaan swasta dalam
mata uang tersebut, sehingga ketika kurs Rupiah melemah akan tetap terasa efeknya.

Demikianlah sejumlah pengaruh signifikan yang menjadi dampak kurs Rupiah melemah.
Positif atau negatifnya pelemahan nilai tukar bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Selain
empat poin diatas tersebut juga ada sejumlah efek minor lain yang mungkin timbul. Namun
dampaknya bagi negara merupakan gabungan dari semua dampak negatif dan positif itu,
sehingga ibarat penjumlahan dan pengurangan dalam matematika, apakah menguntungkan
atau merugikan hasil akhirnya akan tergantung pada lebih banyak mana antara positif dan
negatifnya, dan itupun bervariasi antar sektor ekonomi.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Dalam perdagangan internasional, kurs mata uang dapat diartikan sebagai perbandingan
nilai antar mata uang di setiap negara dengan negara lain. Dikutip di wikipidia.com dengan
sedikit perubahan nilai tukar atau nilai kurs merupakan sebuah perjanjian yang dikenal
sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara
dua mata uang masing- masing negara. Setiap negara selalu menginginkan nilai mata
uangnya stabil terhadap mata uang di negara lain namun untuk mencapai hal tersebut
tidaklah mudah.
Menguat atau melemahnya nilai tukar mata uang tidak hanya ditentukan oleh kondisi dan
kebijakan ekonomi dalam negeri akan tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian
negara lain yang menjadi mitra dalam perdagangan internasionalnya serta kondisi nonekonomi seperti keamanan dan kondisi politik.
Berikut merupakan faktor- faktor yang mempengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah
Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat, baik itu faktor di dalam negeri maupun faktor di
luar negeri disadur dalam berbagai sumber bacaan seperti buku, jurnal, artikel, dan halaman
web di internet.
a. Faktor dalam negeri mempengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar:

Perekonomian

Indonesia

yang

kurang

mapan

Rupiah termasuk soft currency, yaitu mata uang yang mudah


terdepresiasi ( depresiasi; melemahnya nilai mata uang suatu
negara terhadap negara lain yang ditentukan oleh mekanisme
pasar ) karena perekonomian negara asalnya relatif kurang
mapan. Mata uang negara-negara berkembang umumnya adalah
mata uang tipe ini, sedangkan mata uang negara maju seperti
Amerika Serikat disebut hard currency, karena kemampuannya
untuk mempengaruhi nilai mata uang yang lebih lemah. Selain itu,
sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia berbagi
sentimen dengan negara berkembang lainnya. Artinya, ketika
sentimen terhadap negara- negara berkembang secara umum
baik, maka nilai rupiah akan cenderung menguat. Sebaliknya,
ketika di negara-negara berkembang yang lain banyak kerusuhan,
bencana, dan lain sebagainya, maka nilai Rupiah akan melemah.
Muttaqiena,

A.

Faktor-

faktor

yang

menyebabkan

rupiah

melemah. Diunduh pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 15:20 WIB dari
http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?
id=157900&title=faktorfaktor_yang_menyebabkan_rupiah_melema
h.
-

Pelarian

modal

kembali

ke

luar

negeri

(Capital

Flight)

Modal yang beredar di Indonesia, terutama di pasar finansial, sebagian besar adalah modal
asing. Ini membuat nilai rupiah sedikit banyak tergantung pada kepercayaan investor asing
terhadap prospek bisnis di Indonesia. Semakin baik iklim bisnis Indonesia maka akan
semakin banyak investasi asing di Indonesia dan dengan demikian Rupiah akan semakin

menguat. Sebaliknya, semakin negatif pandangan investor terhadap Indonesia, Rupiah akan
kian

melemah.

Mari ambil contoh pemotongan stimulus yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat,
The Fed, baru-baru ini. Kebijakan uang ketat (tight money policy) tersebut membuat investor
memindahkan investasinya dari Indonesia kembali ke Barat sehingga kemudian diikuti oleh
pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Muttaqiena, A. Faktor- faktor yang
menyebabklan rupiah melemah. Diunduh pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 15:20 WIB
dari
-

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?

id=157900&title=faktorfaktor_yang_menyebabkan_rupiah_melemah.
Ketidakstabilan Politik- Ekonomi di Indonesia
Faktor yang paling mempengaruhi Rupiah adalah kondisi politik- ekonomi. Performa data
ekonomi Indonesia, seperti pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/Gross Domestic
Product), inflasi, dan neraca perdagangan, juga cukup mempengaruhi Rupiah. Pertumbuhan
yang bagus akan menyokong nilai Rupiah, sebaliknya defisit neraca perdagangan yang
bertambah akan membuat Rupiah terdepresiasi. Dua sisi dalam neraca perdagangan, impor
dan ekspor, sangat penting disini. Inilah sebabnya kenapa sangat penting bagi Indonesia
untuk menggenjot ekspor dan mengurangi ketergantungan pada produk impor, defisit
neraca perdagangan Indonesia dan tingginya inflasi yang menyebabkan kebutuhan akan
dolar meningkat tajam karena impor lebih besar daripada ekspor Muttaqiena, A. Faktorfaktor yang menyebabklan rupiah melemah. Diunduh pada tanggal 8 Mei 2015 pukul
15:20

WIB.

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?

id=157900&title=faktorfaktor_yang_menyebabkan_rupiah_melemah.
-

Kultur bangsa yang cenderung konsumtif dan boros


Kultur bangsa yang cenderung konsumtif dan boros serta public policy terkait utang.
Pemerintah akan kesulitan berutang di dalam negeri, maka kekurangan akan ditutupi
dengan berutang ke luar negeri. Maka karena utang harus dibayar dengan mata uang dolar,
nilai tukar rupiah terhadap dolar dipastikan melemah. Kristina, Fransiska. 2014. Rupiah
Masih Akan Melemah Tahun Ini: Jawaban untuk Faisal Basri Maming. KOMPASIANA. 19
Januari 2014. halaman 12- 13.

b. Faktor di luar negeri mempengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar:
- Keadaan ekonomi Amerika Serikat yang baik
Dalam 8 tahun terakhir ekonomi AS memang cukup stabil, dan bahkan dalam 6 tahun
terakhir mencapai kondisi pertumbuhan yang relatif tinggi, tingkat pengangguran turun, dan
inflasi rendah. Kenaikan tingkat bunga yang cukup tinggi tidak akan membuat pertumbuhan
ekonomi mereka menurun tajam. Muttaqiena, A. Faktor- faktor yang menyebabkan
rupiah melemah. Diunduh pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 15:20 WIB dari
http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?
id=157900&title=faktorfaktor_yang_menyebabkan_rupiah_melemah.
- Rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed tahun ini
Stimulus moneter sebesar 20% dari PDB Amerika atau US$3,8 triliun akan ditarik perlahan
oleh Bank Sentral AS dengan menaikkan suku bunga. Dalam tiga tahun ke depan akan naik
2,5%-3%, AS ekonominya meningkat sendiri sehingga suku bunganya juga naik. Elina,
Jabir. 10 penyebab lemahnya rupiah. Diunduh pada tanggal 11 Mei 2015 pukul 04:38
WIB dari http://katadata.co.id/infografik/2015/03/20/10-penyebab-rupiah-tumbang?page=6.

2.

Dampak positif melemahnya nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat
bagi perekonomian Indonesia.

1) Nilai gaji dalam Dolar AS akan meningkat


Kurs Rupiah melemah membuat nilai gaji dalam bentuk Dolar AS atau mata uang asing
lainnya jadi meningkat saat ditukarkan dengan Rupiah. Kiriman bulanan TKI sebesar 500
USD ke keluarganya di Indonesia, misalnya. Saat kurs Rupiah Rp 12.000,00 per Dolar AS
maka jumlah itu hanya akan setara dengan sekitar Rp 6.000.000,00 ; tetapi bila kurs Rupiah
melemah hingga Rp 13.000,00 per Dolar AS maka nilainya akan meningkat jadi sekitar Rp
6.500.000,00. Hal ini dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
keluarga Indonesia yang kebetulan kerabatnya bekerja di luar negeri. Muttaqiena, A.
Beragam dampak kurs rupiah melemah. Diunduh pada tanggal 8 Mei 2015 pukul
15:38

WIB.

dari

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?

id=215463&title=beragam_dampak_kurs_rupiah_melemah.

2) Meningkatkan daya saing produk Made in Indonesia di luar negeri


Jika kurs rupiah melemah, harga produk Indonesia akan makin murah bagi konsumen yang
berdomisili di luar negeri. Secara teoritis, hal ini bisa meningkatkan pangsa pasar bagi
produk-produk Made In Indonesia. Selain itu, perusahaan berorientasi ekspor menerima
pembayaran dari luar negeri dalam bentuk Dolar AS yang nilainya semakin tinggi seiring
melemahnya Rupiah. Dengan sendirinya, kondisi ini bisa meningkatkan ekspor Indonesia.
Meningkatnya daya saing produk Made In Indonesia di luar negeri ini berpotensi memicu
ekspor Indonesia dan menguntungkan perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor jika
biaya produksi barang-barang ekspor itu sendiri bisa dijaga dalam kisaran normal dan
produk Indonesia disukai di luar negeri. Muttaqiena, A. Beragam dampak kurs rupiah
melemah.

Diunduh

pada

tanggal

Mei

2015

pukul

15:38

WIB

dari

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?
id=215463&title=beragam_dampak_kurs_rupiah_melemah.
3) Selisih nilai tukar kurs lebih bagi pengekspor di Indonesia
Saat pengekspor telah mengekspor produknya ke luar negeri secara kredit sebesar USD $
6,000.00 umpamakan kurs rupiah pada saat pelunasan Rp 12.000,00 berarti pengekspor

akan menerima pelunasan sebesar Rp

72.000.000,00 ( dalam rupiah ). Akan tetapi jika

kurs rupiah menjadi Rp 13.000,00 maka pengekspor akan menerima pelunasan sebesar Rp
78.000.000,00 ( dalam rupiah jika ditukarkan saat itu. Ini berarti ada selisih lebih piutang
sebesar Rp 6.000.000,00.
4) Harga barang konsumsi impor akan naik
Bagi barang-barang impor dari jenis barang konsumsi, mungkin bagus. Jika harga buahbuahan impor naik misalnya, maka orang mungkin akan tertarik untuk membeli buahbuahan lokal yang lebih murah dan segar. Jika masyarakat lebih suka buah lokal, maka

impor buah pun akan turun. Pendapatan importir buah ikut anjlok, tetapi di saat yang
bersamaan akan menggeser rejeki bagi petani dan pedagang buah local. Hal ini
memungkinkan pendapatan petani lokal akan bertambah. Muttaqiena, A. Beragam
dampak kurs rupiah melemah. Diunduh pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 15:38 WIB.
dari

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?

id=215463&title=beragam_dampak_kurs_rupiah_melemah.

3. Dampak negatif melemahnya nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat
bagi perekonomian Indonesia.

1)

Beban Hutang Negara Dan Swasta Makin Berat

Pemerintah seringkali perlu berutang guna menjalankan pembangunan, baik secara


langsung ke lembaga atau negara tertentu, maupun dengan menerbitkan obligasi (surat
utang). Perusahaan-perusahaan swasta pun seringkali perlu berutang dulu untuk
mengembangkan usahanya. Jika utang- utang ini dilakukan dalam bentuk Dolar AS, maka
pengembaliannya pun harus dilakukan dengan mata uang yang sama, walaupun kurs
Rupiah saat pengembalian utang berbeda dengan saat pemberian hutang. Namun selama
beberapa tahun terakhir ini, Pemerintah lebih banyak berhutang dalam Rupiah, sehingga
risiko krisis jadi lebih kecil. Walaupun demikian, sebagian hutang Pemerintah Indonesia
masih ada yang berdenominasi Dolar AS, begitu pula banyak sekali utang- utang
perusahaan swasta dalam mata uang tersebut, sehingga ketika kurs Rupiah melemah akan
tetap terasa efeknya. Muttaqiena, A. Beragam dampak kurs rupiah melemah. Diunduh
pada

tanggal

Mei

2015

pukul

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?
id=215463&title=beragam_dampak_kurs_rupiah_melemah.
2) Harga bahan baku impor akan naik

15:38

WIB.

dari

Kenaikan harga barang impor ini akan buruk sekali bagi industri yang berbahan baku impor,
misalnya industri tempe dan tahu. Kebutuhan kedelai Indonesia sebagian besar dipenuhi
dari impor, sehingga bila kurs Rupiah melemah terus menerus, maka harga kedelai akan
makin menjulang tinggi dan dampaknya harga tempe dan tahu naik, serta industrinya
terancam gulung tikar. Semakin banyak industri berbahan baku impor di Indonesia, maka
dampak kurs rupiah melemah terhadap perekonomian akan semakin berat. Selain karena
perusahaan-perusahaan di industri itu terancam tutup, para pegawainya bisa di-PHK dan
pertumbuhan ekonomi juga terancam melambat. Padahal jumlah industri berbahan baku
impor ini banyak terdapat di Indonesia. Muttaqiena, A. Beragam dampak kurs rupiah
melemah.

Diunduh

pada

tanggal

Mei

2015

pukul

15:38

WIB.

dari

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?
id=215463&title=beragam_dampak_kurs_rupiah_melemah.
Meningkatnya beban anggaran negara karena berdasarkan data Kementerian Keuangan,
setiap rupiah melemah Rp100, defisit anggaran bertambah Rp940,4 miliar-Rp1,21 triliun.
Jadi, jika rupiah melemah Rp1.000 sejak awal tahun, maka negara akan mengalami defisit
anggaran sebesar Rp9 triliun-Rp12triliun. Muttaqiena, A. Beragam dampak kurs rupiah
melemah.

Diunduh

pada

tanggal

Mei

2015

pukul

15:38

WIB.

dari

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?
id=215463&title=beragam_dampak_kurs_rupiah_melemah.

4.

Upaya pemerintah dalam mengendalikan melemahnya laju nilai tukar rupiah Indonesia
terhadap dolar Amerika Serikat

1) Menerapkan kembali UU No 7/ 2011


Salah satu upaya nyata yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi pelemahan rupiah
adalah menegakkan kembali UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. UU tersebut dengan
tegas menetapkan bahwa setiap transaksi harus dilakukan dengan mata uang rupiah. Bila

berhasil dilaksanakan sepenuhnya, tentu rupiah akan terjaga dari tekanan fluktuasi. Jadi, di
dalam negeri akan dilarang bertransaksi dengan dolar. Anindito, Rezy. Dua cara perkuat
rupiah.

Diunduh

pada

tanggal

11

Mei

2015

pukul

05:42

WIB.

dari

http://www.goldbank.co.id/channel/laput/sub-jasa-keuangan/dua-cara.html
2) Mendongkrak ekspor
Ekspor industri, terutama industri manufaktur, menjadi fokus pemerintah karena sektor
tersebut dapat memberikan nilai tambah pada kegiatan ekspor. Upaya untuk meningkatkan
ekspor industri manufaktur ini sangat menjadi perhatian pemerintah, mengingat sektor
industri manufaktur merupakan sektor yang memberikan nilai tambah tinggi bagi kegiatan
ekonomi, termasuk kegiatan ekspor. Untuk mendukungnya, pemerintah telah melakukan
revisi terhadap berbagai peraturan yang terkait dengan ekspor. Terutama di sektor produksi
tekstil, sepatu, serta kertas. Pemerintah juga mempertimbangkan pemberian fasilitas untuk
barang-barang modal yang masuk ke dalam negeri, agar dapat membantu dunia usaha
mempertahankan daya saing produk-produknya, terutama produk ekspor. Peningkatan
ekspor sangat penting untuk memperkuat nilai tukar rupiah, karena sangat sulit untuk
menekan atau menghentikan aktivitas impor di era perdagangan bebas saat ini. Salah satu
langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan
menyiapkan seluruh struktur ekonomi nasional untuk mampu berasing di era perdagangan
bebas. Anindito, Rezy. Dua cara perkuat rupiah. Diunduh pada tanggal 11 Mei 2015 pukul
05:42 WIB. dari http://www.goldbank.co.id/channel/laput/sub-jasa-keuangan/dua-cara.html.
3) Perkuat modal industri berbahan baku domestik untuk mengoptimalkan ekspor
4) Menjaga kestabilan harga makanan pokok agar kualitas hidup masyarakat terjaga
5) Meningkatkan produktivitas pertanian dan perkebunan domestik sebagai bahan konsumsi
nasional
6) Meningkatkan iklan wisata untuk menarik wisatawan mancanegara.
7) Mengalihkan subsidi Bahan Bakar Minyak dari non- produktif kearah produktif