Anda di halaman 1dari 30

TUGAS 3 MATA KULIAH

PERANCANGAN PABRIK MINYAK ATSIRI

Dosen : Ir. Supranto, M.Sc., Ph.D.

PERANCANGAN ATAU PEMBUATAN PERALATAN


PENGOLAH MINYAK ATSIRI BERBAHAN BAKU DAUN CENGKEH DI
SAMIGALUH KULONPROGO YOGYAKARTA

Oleh :

Trustha Dwiratna

Kelas : TIKM B

NIM : 08/279085/PTK/5670

MAGISTER SISTEM TEKNIK

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2009
PERANCANGAN ATAU PEMBUATAN PERALATAN PENGOLAH MINYAK ATSIRI
BERBAHAN BAKU DAUN CENGKEH DI SAMIGALUH KULONPROGO YOGYAKARTA

A. Pendahuluan
Perancangan alat pengolah minyak atsiri ini digunakan untuk mengolah bahan
baku berupa daun cengkeh. Bahan baku ini terdapat di Kecamatan Samigaluh
Kabupaten Kulonprogo Propinsi D.I. Yogyakarta. Sebelum lebih jauh merancang alat
pengolahnya terlebih dahulu kita kenalkan tentang Kecamatan Samigaluh.
1. Sekilas tentang Yogyakarta

Gambar 1. Peta Daerah Istimewa Yogyakarta

Letak geografis Propinsi D.I Yogyakarta.

Luas Wilayah : 3.133,15 Km2

Garis Bujur : 110.05'- 110.04' BT

Garis Lintang : 07.15'- 08.15' LS

Perbatasan Utara : Kabupaten Sleman

Perbatasan Selatan : Kabupaten Bantul

Perbatasan Timur : Kabupaten Bantul dan Kabupaten


Sleman

Perbatasan Barat : Kabupaten Bantul dan Kabupaten


Sleman
2. Kondisi Fisiografi

Gambar 2. Gunung Merapi di Yogyakarta

a. Gunung Api Merapi dan lereng gunung api, terletak di bagian utara DIY
pada ketinggian ± 500 m hingga ± 2.911 m, dengan susunan material
dari endapan aktivitas Gunung Api Merapi.
b. Dataran Aluvial, terletak di bagian tengah membentang ke selatan DIY
hingga Samudra Indonesia. Wilayah ini mempunyai topografi datar-
hampir datar, sehingga merupakan lahan yang baik untuk permukiman
dan pertanian.
c. Pegunungan Kulon Progo yang terletak di bagian barat DIY dengan
batas bagian timur adalah lembah progo dan bagian selatan dibatasi
oleh dataran aluvial pantai. Wilayah ini mempunyai lereng curam-
hingga sangat curam sehingga proses erosi dan longsor sering terjadi
dan perlu tindakan konservasi tanah.
d. Dataran Tinggi Gunungkidul, yang meliputi bagian tenggara DIY. Bagian
utara daerah ini dibatasi oleh pegunungan Batur Agung dengan garis
yang terjal dan memanjang. Bagian tengah merupakan ledok Wonosari
dengan topografi datar bergelombang dan pada bagian selatan
merupakan perbukitan karst yang disebut Gunung Sewu. Lereng
perbukitan karst tersebut curam dan merupakan lahan kritis.

3. Potensi Cengkeh di Kecamatan Samigaluh


Kecamatan Samigaluh adalah salah satu wilayah Kabupaten Kulonprogo
dengan kondisi wilayah terbesar berupa pegunungan. Terletak di sebelah barat
Kulonprogo tepatnya di pegunungan menorah. Kondisi tanah yang demikian
menyebabkan masyarakat mengandalkan penghasilan dari hasil bercocok tanam
dan berkebun. Hasil perkebunan di Samigaluh diantaranya adalah tanaman
cengkeh. Tanaman cengkeh yang merupakan bahan baku membuat minyak cengkeh
sangat banyak terdapat di daerah ini. Sehingga di Samigaluh terdapat beberapa
pengusaha produksi minyak cengkeh. Menurut data pemerintah daerah Yogyakarta,
Kulonprogo memiliki luas lahan bukan sawah sebanyak 47,760 hektar. Minyak
cengkeh bisa juga disebut minyak atsiri.

B. Bahan baku dan produk minyak atsiri di Samigaluh


Minyak atsiri atau sering disebut minyak mudah menguap atau minyak
terbang. Minyak atsiri merupakan senyawa yang pada umumnya berujud cairan
atau padatan yang memiliki komposisi maupun titik didih yang beragam, yang
diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, biji maupun dari
bunga dengan cara penyulingan dengan uap. Disini akan diuraikan proses
perancangan atau pembuatan peralatan pengolah minyak atsiri dengan bahan baku
daun cengkeh.
Bahan baku utama yang digunakan pada minyak daun cengkeh adalah daun
cengkeh kering yang sudah gugur. Ini menyebabkan usaha minyak daun cengkeh
bersifat musiman karena sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku. Pada
musim kemarau ketersediaan bahan baku melimpah dan sebaliknya pada musim
penghujan terjadi kekurangan suplai bahan baku.

Gambar 3. Daun Cengkeh Kering yang Siap Diproses

Menggunakan tangkai/gagang cengkeh sebagai bahan bakunya. Harga daun


cengkeh gugur kering yang diterima penyuling di Samigaluh ini antara Rp 500 – 600
/kg. Sedangkan harga tangkai cengkehnya Rp 1700 – 1800/kg. Minyak daun cengkeh
di tingkat tengkulak pada saat saya berkunjung dihargai Rp 40.000 /kg sedangkan
harga minyak tangkainya Rp 45.000 /kg. Berbicara masalah rendemen, pada saat
musim kemarau rendemen minyak daun cengkeh gugur yang berhasil mereka
dapatkan antara 2,7% - 3% dengan waktu penyulingan efektif rata-rata 8 jam.
Sedangkan pada musim penghujan hanya 1.5% - 2% tetapi harga daunnya turun
menjadi sekitar Rp 400/kg. Untuk tangkai cengkeh kering, mereka bisa dapatkan
rendemen rata-rata 5% untuk kapasitas sekali suling 1 ton tangkai cengkeh selama
16 – 18 jam.
Cara mendapatkan minyak yaitu proses hidrodistilasi (atau nama sehari-
harinya penyulingan uap). Untuk skala kecil (kurang lebih 25 kg daun
cengkeh/proses). Hampir semua penyulingan minyak daun cengkeh skala besar
memang menggunakan sistem penyulingan uap-air (kukus) dengan bahan bakar
daun ampas penyulingan dan ditambah sedikit kayu bakar (jika dirasa kurang). Ketel
pertama berkapasitas 1000 kg daun cengkeh/batch dan ketel kedua sekitar 800
kg/batch. Untuk ketel pertama, diameternya sekitar 1,8 m dan tinggi total 2,5 m.
Pada bagian bawah ketel dilengkapi pipa-pipa api untuk mengoptimalkan proses
perpindahan panas dari api/gas cerobong menuju air di dasar ketel untuk diubah
menjadi uap. Gas cerobong tersebut mengalir melalui pipa-pipa api dan selanjutnya
dibuang ke udara atmosfer melalui cerobong asap. Pendingin yang digunakan
berasal dari bahan aluminium yang dibuat melingkar dan tercelup pada sebuah
kolam pendingin. Sedangkan pemisah minyaknya terdiri dari 7 buah drum yang
disusun bertingkat untuk menghindari adanya minyak yang terbuang bersama
kondensat.
Untuk menghasilkan rendemen minyak yang setinggi mungkin kuncinya adalah
bagaimana mengupayakan proses pembakaran di tungku berlangsung stabil,
perpindahan panas baik, dan api yang dihasilkan besar sehingga laju alir uap yang
masuk ke tumpukan bahan baku menjadi besar. Sebab jika apinya kecil dan tidak
stabil, ada beberapa kerugian yang akan dituai oleh penyuling yaitu ; rendemen
rendah, waktu penyulingan lama, dan kadar eugenol rendah.
Pengeringan dilakukan dengan cara "kering angin" alias tidak langsung dijemur
di atas sinar matahari. Beberapa komoditas atsiri memang sudah ada SNInya
(minyak pala, nilam, jahe, kemukus, sereh wangi, akar wangi, kayu putih, cengkeh,
dll). Dalam SNI tidak dinyatakan secara jelas bahwa kadar Patchouly alkohol (PA)
dalam minyak nilam harus di atas 30% tetapi kalangan pedagang selalu menerapkan
standar ini ketika memperjualbelikan minyak atsiri. Jika PA-nya dibawah 30% maka
tentunya harganya lebih rendah dibandingkan yang PA-nya di atas 30%.
Minyak cengkeh sebagian besar warnanya hitam karena disuling menggunakan
ketel dari besi karbon biasa, begitu pula dengan kondensernya. Karena banyak
terkontaminasi logam Fe dalam besi tersebut, makanya minyaknya jadi hitam. Cara
mengambil ion Fe tersebut dalam minyak, diantaranya :
 menambahkan bubuhan zat yg berfungsi chelating agent seperti asam sitrat,
asam oksalat, EDTA, NTA, asam tartarat, dll) dengan konsentrasi tertentu.
 menambahkan adsorben- adsorben komersial untuk mengikat Fe seperti
karbon aktif, zeolit, atau bentonit aktif.
Dengan menambahkan bentonit aktif dari 5 - 15% ke dalam minyak cengkeh hitam,
lalu dipanaskan sampai suhu sekitar 80-90 C dan diaduk selama 30 menit, hasilnya
kemudian disaring. Kadar eugenol naik 2 - 3%. Tetapi minyak yang hilang sekitar 5 -
10% karena penguapan selama pemanasan dan penyaringan tidak sempurna
sehingga sebagian minyak masih ada dalam bentonit.
Harga daun cengkeh gugur itu bervariasi tergantung daerah, tetapi masih
dalam kisaran Rp 300 – Rp 400 / kg. Sedangkan harga pangkang keringnya antara Rp
800 – Rp 1300 / kg. Rendemen daun cengkeh gugur kualitas baik bisa mencapai 2,5
– 3% dan bisa mencapai hampir 4%. Sedangkan pangkangnya memiliki rendemen 4
– 6%. Harga minyak daun cengkeh di tingkat tengkulak/agen eksportir berada pada
kisaran Rp 33.000 – Rp 38.000 / kg. Sedangkan minyak pangkangnya lebih tinggi Rp
3000 – Rp 5000 /kg dari minyak daunnya.

C. Teknologi Proses Produksi Minyak Atsiri Daun Cengkeh

Teknologi yang dipakai adalah dengan penyulingan uap dan air (Water and
steam Distillation). Bahan baku yang akan diproses ditempatkan dalam suatu
tempat yang bagian bawah dan tengah berlobang-lobang yang ditopang di atas
dasar alat penyulingan. Bagian bawah alat penyulingan diisi air sedikit di bawah
dimana bahan ditempatkan. Air dipanaskan dengan api. Air juga dapat dipanaskan
dengan uap jenuh yang basah dan bertekanan rendah. Bahan baku tanaman yang
akan disuling hanya terkena uap, dan tidak terkena air yang mendidih.
Air keluar

Air masuk

Air pendingin
Minyak atsiri

Api pemanas/ampas
kering daun cengkeh

Gambar 4. Penyulingan dengan uap dan air

Faktor yang mempengaruhi hidrodestilasi yaitu :


 Difusi atau perembesan minyak atsiri oleh air panas melalui selaput
tanaman,ini dikenal dengan pengertian hidrodifusi.
 Hidrolisis terhadap komponen tertentu dari minyak atsiri.
 Peruraian terjadi oleh panas.
Untuk memperoleh kualitas minyak atsiri dengan hasil yang paling baik yaitu:
 Usahakan
ahakan suhu operasional serendah mungkin, meskipun kita mengetahui
bahwa kecepatan produksi ditentukan oleh suhu.
 Dalam penyulingan uap gunakan air sesedikit mungkin yang dapat
berhubungan dengan bahan baku tanaman.
Perlu modifikasi tekanan untuk menghasilkan
menghasilkan penyulingan yang baik, yaitu:
 Pada pengurangan tekanan.
 Pada tekanan atmosfer.
 Pada penambahan tekanan.
Itulah sedikit gambaran produksi minyak cengkeh dari Samigluh Kulonprogo.
Dari sini saya mencoba merancang peralatan produksi minyak atsiri daun cengkeh
dalam skala kecil.

D. Kapasitas Peralatan Produksi Yang Di Rencanakan

Kapasitas produksi peralatan minyak atsiri ini adalah untuk mengolah bahan
daun cengkeh sebanyak 25 kg untuk sekali proses(sistem batch).

1. Modal/Investasi
Modal untuk membuat alat produksi, membeli bahan baku serta mendirikan
pabrik minyak atsiri daun cengkeh sebesar 75 juta rupiah.
2. Masuk Jenis Industri Kecil Menengah
Dilihat dari modal yang ada, maka dapat digolongkan pada jenis industria kecil
dan menengah.
E. Dimensi Peralatan Proses Produksi
1. Kapasitas
Kapasitas produksi peralatan minyak atsiri ini adalah untuk mengolah bahan
daun cengkeh sebanyak 25 kg untuk sekali proses(sistem batch).
2. Harga
Harga 1 set peralatan produksi minyakatsiriberbahan baku daun cengkeh adalah
30 juta rupiah.
3. Prosedur Pembuatan
a. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Peralatan Patri
b. Tang
c. Las acytelin
d. Gerinda
e. Las busur stainless stell
f. Alat ukur
2. Bahan
a. Plat stainless steel, dipakai untuk membuat
1. Tabung tempat mengukus daun kayu putih dan angsangnya.
Tutup tabung berbentuk kerucut.
2. Tabung kondensor.
b. Pipa tembaga, untuk membuat saluran uap dari tabung pemanas air
(steam air) ke tabung pengukus daun kayu putih. Pipa saluran steam
kayu putih dari tabung pengukus menuju ke kondensor. Pipa
melingkar pendingin di dalam kondensor sampai keluar menuju
botol penampung hasil.
c. Besi siku 4 x 4 cm untuk membuat dudukan tabung dan kondensor.
d. Kran untuk mengatur besar kecil aliran stem dan air
e. Termometer untuk mengetahui suhu kerja peralatan
f. Selang plastik untuk jalannya air dari drum penampung menuju
kondensor dan sebaliknya.
g. Pompa air untuk memompa air dari tempang penampung
pendinginan menuju ke kondensor sehingga air bisa bersirkulasi.
h. Drum plastik untuk tempat air pendingin.
i. Kompor gas/tungku tempat bahan bakar kayu, untuk memanaskan
tabung pemanas air.
j. Tabung gas dan bahan bakar lpg sebagai sumber bahan bakar proses
penyulingan bila memakai kompor.
k. Botol penampung hasil penyulingan minyak atsiri
l. Botol kemasan minyak atsiri

b. Proses pembuatan
1. Peralatan yang akan dibuat antara lain: Destilator, Kondensator,
Separator, Tabung penampung air, Cerobong.
2. Peralatan yang beli berupa : Pompa air pendingin, Penampung minyak
atsri, Boiler, Tangki air boiler, Pelunak air, Pompa air boiler, Bak
penampung air, Kipas penghisap cyclone, Cyclon.
3. Pembuatan tabung pemanas air dan pengukus daun kayu putih. Tabung
pemanas berada di bawah tabung pengukus. Pada tabung pengkus
dipasang 3 angsang sebagai tempat menaruh daun kayu putih. Tujuan
penambahan angsang adalah supaya tekanan saat destilasi tidak terlalu
tinggi, dan uap air yang di hembuskan bisa mencapai susunan daun kayu
putih yang paling atas. Diameter tabung pemanas adalah 26 cm dan
tinggi 15 cm. Gambar seperti terlihat di bawah ini. Untuk tabung
pengukus diameter 20 cm tinggi 30 cm.
4. Pembuatan angsang dalam tabung pengukus. Berbentuk lingkaran
dengan diameter 20 cm. Bersamaan dengan pembuatan dudukan
angsang di tiga titik dalam dinding tabung pengukus.
5. Pemuatan tutup kerucut pada kedua tabung. Dengan ukuran diameter
alas 20 cm dan tinggi 10 cm.
6. Pembuatan tabung kondensor. Diameter 40 cm tinggi 60 cm.
Bersamaan dengan membuat saluran masuk dan buang air pendingin
dengan memasang kran pengatur.
7. Pembuatan dudukan peralatan agar tertata dengan baik dan tidak
mudah bergeser.

c. Bentuk alat yang siap pakai

Gambar 5. Model penyulingan dengan uap dan air

Metode penyulingan dengan menggunakan uap air memiliki kelebihan


tersendiri. Penyulingan dengan air dan uap ini relatif murah atau ekonomis.
Biaya yang diperlukan relatif rendah dengan rendemen minyak daun
cengkeh yang memadai dan masih memenuhi standar mutu yang diinginkan
konsumen. Kelemahan utamanya adalah kecepatan penyulingan yang
rendah.
d. Peralatan yang dirancang

Keterangan :

A : Kompor pemanas
B : Dudukan Tabung pemanas air
C : Tabung pemanas air
D : Tabung destilasi dengan 3 angsang
E : Termometer
F : Saluran uap
G : Pipa pendingin
H : Tabung kondensor
I : Saluran air pendingin masuk
J : Saluran air pendingin keluar
K : Tabung penambung minyak atsiri
L : Dudukan kondensor

Gambar 6. Rencana peralatan yang akan dibuat


Gambar.7 . Detailperalatan produksi minyak atsiri
Keterangan : A : Kondensor, B: Tangki air,
C : Bak penampung air, D : Pompa air

Gambar. 8 . Peralatan produksi minyak atsiri daun cengkeh


Biaya pembuatan alat dan persiapan tempat seperti tercantum di bawah ini.

No Nama Biaya (Rp) Keterangan


1 Kompor 200.000
2 Dudukan tangki dari besi siku 400.000
3 Tabung pemanas air dan destilator 5.000.000
4 Pipa saluran uap 300.000
5 Tabung kondensor 5.000.000
6 Tabung hasil penyulingan 200.000
7 Tangki tendon air 800.000
8 Bak penampung air 1.000.000
9 Pompa air 400.000
10 Tabung gas dan LPG 800.000
11 Instalasi alat 500.000
12 Biaya tak terduga 400.000
13 Ruang produksi dan gudang 10.000.000
14 Lain-lain 5.000.000
Total 30.000.000

F. STANDART OPERATING PROCEDURE

Pada industri penyulingan minyak daun cengkeh menggunakan mesin dan


peralatan yang sederhana, juga memerlukan SOP diantaranya adalah seperti tertulis
di bawah ini.

1. Langkah Persiapan
- Mengontrol keadaan baud dan mur pengikat pada penutup ketel penyuling.
- Membersihkan lingkungan dan menjauhkan material yang dapat
mengakibatkan kebakaran ataupun mengakibatkan kecelakaan kerja.
- Membersihkan / menyingkirkan abu pembakaran didalam tungku, agar tidak
mengganggu didalam proses pemanasan.
- Menata bahan bakar kayu / daun kering yang akan digunakan didalam
proses penyulingan, sehingga dapat mempermudah didalam pengambilan
dan proses pembakarannya.
- Mengontrol pembatas / pengaman disekitar ketel penyuling apakah dapat
berfungsi dengan baik.
- Menggunakan pakaian kerja yang sesuai untuk memberikan rasa nyaman
didalam bekerja.
2. Langkah pengoperasian
- Masukanlah air secukupnya kedalam ketel penyuling agar selama
pengoperasian tidak perlu menambahkannya.
- Letakanlah angsang penyangga bahan baku kedalam ketel penyuling tidak
boleh miring dan pas pada kedudukannya.
- Masukanlah bahan baku daun cengkeh yang telah disortasi dan ditimbang
sesuai dengan kapasitas ketel penyuling.
- Nyalakan api pemanas sesuai dengan bahan bakar ( kayu, daun kering,
minyak dan gas ) yang digunakan, agar api pemanas tepat pada
kedudukannya.
- Operasikan ketel penyuling selama waktu yang ditentukan.
3. Pengendalian Proses
- Penambahan kayu bakar/ daun kering sebagai bahan bakar disesuaikan
dengan kapasitas tungku, sehingga suhu didalam ketel akan stabil.
- Gunakanlah tongkat pendorong / penjepit daun / sekop panjang, untuk
menghindari panas disekitar tungku.
- Kontrol pada tutup ketel penyuling, pipa-pipa uap jangan sampai ada
kebocoran, yang dapat berakibat mengurangi rendemen produk.
- Kontrol air pendingin pada bak pendingin (kondensor) agar airnya terus
terjaga kapasitas atau alirannya.
- Kontrol drum separator (pemisahan minyak dengan air destilat), agar
berfungsi sesuai dengan yang dikehendaki.
- Lakukan pembukaan kran pengaliran minyak cengkeh secara berkala dan
tepat waktu.
- Letakkan hasil / produk minyak daun cengkeh ditempat yang aman.
4. Shut down
- Matikanlah api pemanas dengan menghentikan pemasukkan bahan bakar
kayu / daun kering.
- Biarkan ketel penyuling dingin dengan sendirinya, ketel penyuling jangan
dibuka dalam keadaan masih panas.
- Biarkan air pendingin mengalir, agar kondensasi destilat masih tetap
berlangsung, untuk menambah rendemen minyak daun cengkeh.
- Buka aliran minyak cengkeh pada separator dan wadahkan pada ember
jangan sampai tumpah.
- Bila ketel telah dingin bukalah penutup ketel dan keluarkan daun cengkeh
yang telah tersuling, angsang dan bukalah kran pembuang air didalam ketel
sehingga air dalam ketel habis.
- Bersihkanlah ketel penyuling dengan air bersih, sehingga siap dipergunakan
diproses selanjutnya.

G. Tenaga kerja

Tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi relatif tidak terlalu
banyak. Tenaga untuk proses produksi hanya membutuhkan 3 orang per proses
penyulingan. Jika dalam 1 hari perusahan melakukan 2 kali proses penyulingan maka
diperlukan 6 orang pekerja tidak tetap per hari per ketel (diasumsikan pengusaha
memiliki dua buah ketel). Para pekerja tersebut biasanya dibayar secara borongan
untuk satu kali proses penyulingan. Proses penyulingan tersebut membutuhkan
waktu antara 6 sampai 8 jam dan dalam satu hari dapat dilakukan 2 hingga 3 kali
penyulingan per ketel.

H. TROUBLE SHOOTING

Trouble shuting bertujuan agar pekerja dapat mengatasi apabila terjadi


permasalahan selama proses penyulingan minyak daun cengkeh.

Tabel 1. Permasalahan dan cara mengatasinya pada proses penyulingan minyak


daun cengkeh

Permasalahan Alternatif Pemecahan


No.

1. Kebocoran uap pada hubungan ketel Dipasangkan perapat / perpak pada


dan tutup ketel bagian tutup atau pada bagian badan
ketel
2. Tungku penuh dengan abu sisa Ruang pembakaran dan ruang abu
pembakaran, sehingga panas tidak
maksimal. pembakaran dipisahkan, tidak jadi satu.
3. Destilat masih panas dan masih Volume air pada bak pendingin
terdapat / keluar uap yang belum (kondensor) ditambah, atau dengan air
terembunkan. yang mengalir.
4. Terdapat kebocoran pada pipa Diperbaiki/ diganti sehingga tidak
penghubung uap dari ketel ke terdapat kebocoran lagi.
kondensor.
5. Pipa penghubung uap panas dan bodi Diberi isolasi sebagai pengaman bagi
ketel, tidak diberi pengaman dan tidak yang melewati serta mengurangi
terisolasi. temperatur disekitar ketel tersebut
6. Tempat bahan baku, tempat bahan Ditata yang rapi dibuatkan bak khusus
bakar (daun kering) berceceran sehingga tidak berserakan, yang dpat
disekitarnya. mengakibatkan bahaya kebakaran.

1. Peringatan (Warning)

Sebelum mengoperasikan / memulai proses penyulingan daun cengkeh


pelajari dulu dengan seksama semua komponen, alat-alat kontrol dan fungsi
operasinya. Hubungi orang ahli apabila masih belum jelas didalam
pengoperasian ketel penyuling.

a. Langkah Persiapan
- Persiapkan bahan baku, bahan bakar dan air pendingin serta perangkat /
peralatan yang lainnya, sehingga didalam proses penyulingan tidak
terganggu.
- Tambahkan alat-alat kontrol suhu dan tekanan pada ketel penyuling,
sehingga tahu kondisi didalam ketel penyuling.
- Berikan termometer ruang / dipasang disekitar ketel penyuling untuk
mengetahui suhu disekitar ketel penyuling, untuk mendapatkan
kenyamanan kerja.
- Pasangkan isolasi pada badan ketel, tutup ketel dan pipa-pipa uap,
sehingga tidak terjadi sentuhan yang panas apabila operator
menyentuh, dan suhu disekitarpun menjadi lebih nyaman.
- Bak pendingin yang cukup dalam hendaknya diberi pengaman /
pembatas, sehingga tidak akan terjadi kecelakaan disekitarnya, bila
perlu diberi tutup.
b. Pengoperasian ketel penyuling
- Sortasilah bahan baku sebelum dimasukkan kedalam ketel penyuling,
jika terdapat bahan lain/ benda asing yang terikut, yang berakibat
turunnya kualitas minyak cengkeh yang dihasilkan.
- Kontrol thermometer dan manometer yang terpasang pada tutup ketel
penyuling, apakah masih berfungsi dengan baik.
- Kontrollah besar kecil api pemanas agar tidak terjadi over heat
ataupun low heat, yang bisa mengakibatkan turunnya kualitas produk
minyak cengkeh.
- Jangan terdapat bahan / material yang mudah terbakar disekeliling ketel
pemanas, karena dapat menyulut terbakarnya pabrik penyulingan
minyak daun cengkeh.
- Aliran air pendingin pada kondensor selalu dikontrol agar proses
pendinginan uap dapat maksimal.
- Tutuplah ketel penyuling dengan kuat dan kontrol dari kebocoran agar
tidak terjadi kehilangan uap yang berakibat rendemen dari minyak
cengkeh berkurang.
c. Mematian ketel pemanas
- Matikan api pemanas pada penyulingan minyak cengkeh, sehingga
proses pemanasan akan berhenti.
- Tutuplah tungku pemanas dengan penutup dari plate besi, sehingga
suplai oksigen yang masuk tidak ada dan api akan mati.
- Jangan sekali-kali membuka tutup ketel penyuling dalam keadaan panas
apalagi masih dalam keadaan api masdih hidup.
d. Petunjuk umum
1. Lakukan pemeriksaan awal mesin dan peralatan yang akan digunakan,
apakah sudah layak pakai atau belum.
2. Persiapkan bahan baku yang akan diproses penyulingan, yakinkan telah
disortasi terlebih dahulu.
3. Persiapkan bahan bakar kayu / daun kering yang akan digunakan,
yakinkan telah kering sehingga dapat mudah terbakar dan tidak
menimbulkan kematian api ditengah-tengah proses penyulingan.
4. Selama proses penyulingan selalu diadakan pengontrolan :
i. Keadaan besar kecilnya api pemanas.
ii. Kebocoran uap pada ketel penyuling dan pipa-pipa uap.
iii. Keadaan air pendingin pada bak air (kondensor)
iv. Keadaan separator (pemisah minyak atisiri dengan destilat),
v. Pengontrolan waktu, suhu dan rendemen minyak cengkeh.
5. Lakukan untuk mematikan api pemanas apabila dirasa minyak yang
terkandung ( rendemen ) sesuai dengan standar.
6. Keluarkan bahan baku yang telah selesai penyulingan, setelah ketel
sudah da;lam keadaan dingin.
e. Pertanyaan umum
1. Bagaimana cara mengukur kadar air bahan baku dan kadar air minyak
cengkeh yang diperoleh.
2. Perhitungan % yield ( rendemen minyak cengkeh ) yang dihasilkan perlu
dihitung dengan rumus. Tuliskan rumus perhitungannya.
3. Bagaimana cara menghitung beaya operasional / beaya kerja ( fixed
cost dan variable cost) pada industri kecil minyak cengkeh. Dan
bagaimana cara menghitung keuntungannya.
4. Analisa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi : rendemen minyak
atsiri dan kualitas minyak cengkeh yang dihasilkan.
5. Kembangkan konstruksi penyulingan daun cengkeh, sehingga
memperoleh minyak atsiri cengkeh yang berkualiatas tinggi.
Dalam hal ini akan diuraikan dua bagian layout yaitu peralatan dan organisasi
bisnis pada pabrik minyak atsiri.

I. LAYOUT PERALATAN

Tujuan layout peralatan pada hakekatnya merupakan optimasi pengaturan


fasilitas – fasilitas operasi sehingga nilai yang diciptakan oleh sistem produksi
adalah maksimum dan meminimunkan biaya penanganan bahan, jarak angkut,
menciptakan kesinambungan dalam proses produksi, menyederhanakan proses
poduksi, menjaga keselamatan kerja pada karyawan dan peralatan serta
menghindari berbagai bentuk pemborosan.

1. Pola Lay Out


Pada pola layout kita akan mengenal berbagai macam pola layout, yaitu
diantaranya layout fungsional, layout produk, layout kelompok dan layout
posisi.

a. Lay Out Fungsional


Lay Out fungsional disebut juga layout proses atau job lot
adalah pengelompokan bersama peralatan – peralatan pabrik dan
personalia untuk melaksanakan pekerjaan yang serupa atau sejenis.
Tujuan dari layout fungsional akan menghasilkan penggunaan
spesialisasi peralatan dan personalia yang paling baik juga akan
adanya fleksibel dan dapat memproses produksi dengan seefisein
mungkin.

Gambar 9. Lay Out Fungsional

b. Lay Out Produk

Layout produk atau sering disebut layout garis, berarti bahwa


kebutuhan – kebutuhan operasi produk mendominasi dan menentukan
layout peralatan – peralatan lainnya. Produk bergerak biasanya terus
menerus, mengikuti garis dan berjalan melalui tempat – tempat kerja,
para pekerja dan atau peralatan melakukan kegiatan yang menghasilkan
produk akhir.

Gambar. 10. Layout Produk

c. Lay Out Kelompok


Layout kelompok ( group layout ) yaitu memisahkan – memisahkan
daerah dan kelompok peralatan bagi pembuatan keluarga komponen –
komponen yang memerlukan pemrosesan yang sejenis. Setiap
komponen diselesaikan di daerah –daerah spesialisasi ini dengan
keseluruhan urutan pengerjaan peralatan dilakukan di tempat tersebut.
Dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar. 11 . Layout Kelompok

Beberapa keuntungan layout kelompok adalah penghematan biaya


penanganan bahan. Komponen – komponen tidak harus diangkut dari
sudut ke sudut pabrik yang berjauhan, dan lebih mudah untuk mengetahui
di mana setiap kelompok produk berada. Waktu pengiriman dapt lebih
cepat diperkirakan dan scheduling menjadi sederhana. Biaya penyiapan (
set up ) dikurangi karena berdasarkan diri pada operasi yang lalu, jadi
membuatanya untuk mempergunakan bagian dari set up yang lebih
tersusun.
d. LayOut Posisi tetap
Menempatkan produk kompleks yang dirakit pada suatu tempat,
seperti pada pembuatan pesawat, kapal dan lain – lainya. Produk mungkin
berada disuatu lokasi selama periode perakitan ( misal pembuatan kapal
) atau tinggal disuatu tempat untuk waktu yang lama sampai pekerjaan
tertentu dilakukan, selanjutnya pindah ketempat perakitan. Kelamahannya
perlu biaya tinggi karena peroduk dipindahkan dari satu tempat ke tempat
lain terlalu sering.

2. Metoda Layout
Pembangunan pabrik baru memang diharuskan membuat perbaikan
atau layout baru, sehingga menghilangkan pemborosan, cara analisis
layout, sebagai berikut :

a. Cek diagram perakitan, yaitu membuat daftar kebutuhan operasi(


menunjukan urutan peralatan produksi ), dengan penetapan
tempat keja operator dan penempatan peralatan mesin.

b. Dilihat dari sudut material handling ( fase, sifat bahan, resiko


kerusakan dan lain – lain ) juga kuantitas produk apakah produk
besar, selalu dipakai dan lain – lain.

c. Menggambar kebutuhan ruang disertai penempatan peralatan


mesin baru yang ideal.

3. Perencanaan Lay Out Peralatan

Adapun langkah – langkah perencanaan layout peralatan pada pabrik


minyak atsiri yang akan kita dirikan adalah sebagai berikut :

a. Analisis Perencanaan
Pada analisis perencanaan ini adalah untuk mengetahui berapa
ukuran atau mengetahui jumlah setiap peralatan yang akan diperlukan,
sehingga peralatan yang kita rencanakan adalah sesuai yang dibutuhkan.
Salah satu contohnya bila kita akan membutuhkan alat destilasi, maka
langkah – langkahnya sebagai berikut :
Rencanakan bahan baku, dengan data sebagai berikut :

Bahan baku dari daun cengkeh kering, dengan kapasitas 100 Kg, ρ cengkeh
0,3 Kg/ L,dan kadar rendemen 1,5 %, destilasi yang dipakai jenis
destilasi air ( rebus ), maka dapat diselesaikan :

a.1. Volume Bahan

Volume Bahan = Kapasitas daun kering : ρ cengkeh

= 100 Kg : 0,3 Kg/liter

= 333,33 liter

a.2. Volume Air

Volume air = 2 X Volume bahan

= 2 X 333,33

= 666,67 liter

a.3. Volume Tercelup

Volume tercelup = 3 X Volume bahan

= 3 X 333,33

= 999,99 liter

≈ 1000 liter

≈ 1 m³

a.4. Volume Alat

Volume alat = 2 X Volume tercelup

= 2 X 1000 liter

= 2000 liter

= 2 m³
a.5. Penentuan Bahan Destilasi

a.5.1. Tinggi Alat ( H )

Tinggi Alat ( H ) = 2 X Diameter

a.5.2. Penentuan Volume Destilasi

π. D².

V = ------------ H

V = --- D² ( 2 D )

= 0,5 π D³

V = 0,5 X 3,14 X D³

D³ = V : ( 0,5 X 3,14 )

D = ³√ 1,274

= 1,1 m

V = Volume Destilasi + Volume Tutup destilasi

a.6. Daftar Kebutuhan Peralatan Pabrik

NO Material Jumlah komdisi Keterangan

1 Destilator 1 Baru

2 Kondensator 1 Baru

3 Separator 1 Baru

4 Penampung air 1 Baru

5 Pompa air pendingin 2 Baru

6 Penampung minyak atsri 1 Baru

7 Boiler 1 Baru
8 Tangki air boiler 1 Baru

9 Pelunak air 1 Baru

10 Pompa air boiler 1 Baru

11 Bak penampung air 1 Baru

12 Kipas penghisap cyclon 1 Baru

13 Cyclon 1 Baru

14 Cerobong 1 Baru

a.7. Daftar Kebutuhan Perkantoran

NO Material Jumlah komdisi Keterangan

1 Komputer 3 Baru

2 Meja dann bangku 3 Sudah ada

3 Lemari 2 Baru

4 Atk Komplit Baru

Perlengkapan ruang
5 2 set Sudah ada
tamu

6 Kendaran 2 Baru

7 Gudang pengemasan 2 baru

b. Perencanaan Gambar LayOut


b.1. Lokasi
U

Gambar.12. Lokasi Pabrik Minyak Atsiri


b.2. Lay Out Rancang Bangun ( Lihat Lampiran )

Gambar.13. Rancang Bangun Pabrik Minyak Atsiri

b.3. Lay Out Peralatan PMA ( Lihat Lampiran )

Gambar. 14. Lay Out Peralatan PPMA

b.4. Lay Out Peralatan Destilasi ( Lihat Lampiran )


Gambar.15. LayOut Peralatan Destilasi PPMA

4. Perencanaan Organisasi Bisnis

Organisasi Bisnis pada pabrik minyak atsiri adalah merupakan bentuk


khusus untuk usaha kecil, sehingga cocok digunakan dialam industri penyulingan
minyak atsiri. Dalam bentuk ini tiap manager mempunyai bidang tanggung
jawab yang jelas. Tiap-tiap individu diberikan tugas yang lengkap dari pada
pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, dibatasi hanya kepada kekuasaan dari
atasan kepada siapa dia wajib lapor. Pada umumnya usaha kecil mengetrapkan
struktur organisasi-lini karena sederhana dan juga dapat efesien. Struktur
organisasi pada Industri Kecil Penyulingan Minyak Atsiri adalah Pola
Kekeluargaan karena banyak tenaga kerja yang diambil dari keluarga sendiri.
Adapun struktur organisasinya sebagai berikut :
Gambar.16. Struktur Organisasi Bisnis pada Pabrik Minyak Atsiri

J. URAIAN TUGAS

1. Manager :

a. Bertanggung jawab atas keberhasilan usaha industri minyak atsiri, secara


menyeluruh.

b. Menjalin kerjasama dengan pihak-pihak luar yang relevan, untuk


pengembangan usaha penyulingan minyak atsiri.

c. Mengevaluasi pelaksanaan usaha penyulingan minyak atsiri secara berkala


dan rutin.

d. Menciptakan suasana yang harmonis diperusahaan yang dipimpin, untuk


mencapai keselarasan dan kesehatan kerja.

e. Mengangkat dan memberhentikan pegawainya.

f. Bersama-sama dengan bagian produksi, pemasaran dan keuangan


untukmengadakan pertemuan secara berkala dan rutin.

g. Mencari peluang untuk pengembangan usaha, baik modal, sarana-prasarana


maupun tenaga kerja.
h. Mencari solusi untuk memberikan kesejahteraan kepada pegawai-pegawainya.

i. Melakukan studi banding kepada perusahaan-perusahaan yang lebih maju /


berkembang.
j. Membuat rencana program jangka pendek maupun jangka panjang dan
memberikan sosialisasi kepada pegai-pegawainya.

J. Memberikan ijin atau cuti kepada pegawainya sesuai dengan haknya.

2. Bagian Keuangan

a. Menerima, menyiapkan dan membukukan keuangan dalam bentuk tabularis.

b. Mengeluarkan keuangan sesuai dengan pengajuan yang telah disetujui oleh


manager (pimpinan).

c. Membuat laporan keuangan secara berkala dan rutin,dan


dipertanggungjawabkan kepada manager (pimpinan).

d. Memberikan upah, kesejahteraan kepada pegawai sesuai dengan aturan yang


berlaku diperusahaan.

3. Bagian Pemasaran

a. Menginventaris dan menentukan target destribusi pasar/ analisa pasar sebagai


pengguna produksi minyak atsiri/ pengeksport minyak atsiri.

b. Menetapkan harga produk bersama-sama dengan bagian produksi dan manager,


apabila terjadi fluktuasi harga.

c. Menginventaris produk yang diinventori/ gudang, produk yang dipasarkan dan


produk yang gagal/ kembali.

d. Melaksanakan destribusi pemasaran produk minyak atsiri, sesuai dengan


pesanan yang diminta dan mencari daerah pasar yang baru yang lebih
menguntungkan bagi perusahaan.

4. Bagian Produksi

a. Menginventaris bahan baku, peralatan, tenaga kerja, metode dan utilitas.


b. Menginventaris produk minyak atsiri yang diproses setiap proses produksi.

c. Merencanakan lay out proses produksi sehingga proses produksi dapatberjalan


lebih lancar dan keselamatan kerja karyawan dapat terjamin.

d. Melakukan perencanaan dan pengendalian proses sehingga produtivitas dan


kualitas meningkat.akan meningkat.

e. Mengadakan research and development dalam proses produksi secara


berkaladan rutin.

5. Pengawas

a. Mengawasi jalannya proses produksi, mulai dari bahan baku, proses dan inventori
pada usaha minyak atsiri.

b. Inventarisasi bahan baku, tenaga kerja, sarana dan prasarana proses, waktu
proses, dan utilitas di proses produksi.

c. Mengorganisasi masukkan tenaga kerja, organisasi yang sederhana dan


luwesdapat mencapai tujuan usaha.

d. Menggiatkan pabrik dengan motivasi secara terus menerus, mengkomunikasikan


dan memadukan semua masukan yang dibutuhkan untukmenghasilkan suatu
produk minyak atsiri.

e. Mengevaluasi secara berkala dan rutin aktivitas proses produksi untukmencapai


tujuan perusahaan dan menjamin kehidupan perusahaan secarajangka panjang.

K. Daftar Pustaka
1. Hardjono Sastrohamidjojo; Kimia Minyak Atsiri, Gajah Mada University Press, Juli
2004.
2. Web Site Pemda DIY : www.pemda-diy.go.id
3. http://www.bi.go.id/sipuk/id/lm/atsiri/produksi.asp.
4. Materi perkuliahan, Proses Produksi Minyak Atsiri