Anda di halaman 1dari 33

Tugas Fisika Statistik

Resume Bab 11

Oleh :
Muhammad Habibie
NIM 15726251040

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

TERMODINAMIKA STATISTIK
11. PENDAHULUAN
Pendekatan statistik memiliki hubungan yang dekat baik dengan termodinamika
maupun teori kinetik gas. Pada sistem partikel dimana energi partikelnya dapat
ditentukan, Anda dapat menurunkan persamaan keadaan dan persamaan energinya
dengan rata-rata statistik. Termodinamika statistik memberikan penafsiran entropi yang
lebih mendalam.
Termodinamika statistik tidak seperti teori kinetik gas, tidak hanya berkutat kepada
tinjauan tumbukan antar molekul maupun tumbukan molekul dengan dinding. Lebih
dari itu, termodinamika statistik menyadari kenyataan bahwa molekul-molekul
berjumlah sangat banyak dan karakteristik rata-rata dari sejumlah besar molekul dapat
dihitung bahkan tanpa mengetahui informasi spesifik dari molekul tertentu.
Metode statistik dapat diterapkan tidak hanya pada molekul tetapi juga foton,
gelombang elastik pada zat padat, dan entitas fisika kuantum yang abstrak yang disebut
fungsi gelombang. Kita akan menggunakan istilah netral partikel untuk merujuk
kepada besaran-besaran tersebut.

11.1 KEADAAN ENERGI DAN TINGKAT ENERGI

Gambar 11-1. Tiga gelombang stasioner yang pada senar


yang terikat pada kedua ujung

Dalam beberapa kejadian, persamaan ini, secara eksak analogi dengan persamaan
gelombang yang menjelaskan perambatan gelombang transversal dalam sebuah dawai
yang ditegangkan, yang ujung-ujungnya terikat. Seperti yang sudah banyak diketahui,

dawai akan bergetar dalam keadaan steady dalam bentuk gelombang stasioner, tiga
diantaranya seperti yang ditunjukkan dalam gambar 11-1. Terdapat sebuah simpul N
pada amplitudo minimum dan perut A pada amplitudo maksimum. Kesimpulan yang
penting dari ini semua adalah bahwa selalu ada bilangan bulat dari perut dalam mode
getaran pada keadaan steady; 1 perut pada gambar 11-1 (a), 2 pada gambar 11-1 (b),
dan selanjutnya. Jarak antara simpul dan perut sebesar setengah dari panjang
gelombang, sehingga jika L merupakan panjang dawai, panjang gelombang
gelombang stasioner yang mungkin adalah
1
2 2L
1 2 L
2
,
,

dari

1
3 2 L
3
,

d.l.l;

atau secara umum dapat dinyatakan dengan,

1
2 L,
nj

nj

dimana
merupakan jumlah perut = 1, 2, 3, . . .
Berdasarkan mekanika kuantum, gelombang Schrodinger stasioner sebenarnya
ekuivalen dengan partikel ini, dan panjang gelombang

dari gelombang stasioner

berhubungan dengan momentum p dari partikel yang memenuhi persamaan


h
p

(11-1)

dimana h merupakan konstanta Plankc. Dalam sistem MKS


6,625 10 34
h=
Js
Momentum partikel yang diperbolehkan hanya memiliki salah satu dari serangkaian
keadaan
pj nj

h
2L

(11-2)
Jika sebuah partikel bergerak babas dalam arah manapun di dalam kubus dengan
sisi L yang sisi-sisinya sejajar dengan sumbu x, y, z dari sistem koordinat kartesius,
komponen momentum x, y, dan z diperbolehkan hanya memiliki nilai sebagai berikut.
h
h
h
p x nx
py ny
p z nz
2L
2L
2L
,
,
dengan nx, ny, dan nz merupakan bilangan bulat yang disebut bilangan kuantum, masingmasing dapat memiliki beberapa nilai 1, 2, 3, d.l.l. Masing-masing bilangan kuantum

bertanggung jawab terhadap arah dari momentum. Kemudian jika pj merupakan


resultan momentum dari beberapa momentum nx, ny, nz.
p 2j p x2 p y2 p z2 (n x2 n 2y n z2 )

(n n n ) n
2
x

atau, jika kita tuliskan

2
y

2
z

2
j

, maka

p 2j n 2j
Energi kinetik

h2
4 L2

h2
4L2

dari sebuah partikel bermassa m, kecepatan v, dan momentum p =

mv adalah
1 2 p2
mv
2
2m
j

Energi

p 2j
berhubungan dengan momentum
, oleh karena itu
2
pj
h2
j
n 2j
2m
8mL2

(11-3)
Nilai dari nx, ny, dan nz disebutkan untuk mendefinisikan keadaan dari sebuah

n 2j
partikel, dan energi yang berhubungan dengan nilai kemungkinan dari

merupakan

n 2j
tingkat energi. Tingkat energi bergantung hanya kepada nilai dari

dan bukan

tergantung pada nilai individu nx, ny, dan nz. Dengan kata lain, energi hanya bergantung
kepada besar momentum pj dan tidak bergantung kepada arahnya.
Volume V dari kotak kubus dengan sisi L adalah L3, sehingga L2 = V2/3; dan
persamaan (11-3) dapat ditulis, untuk partikel bebas dalam kotak kubus adalah,
h 2 2 / 3
j n 2j
V
8m

(11-4)
n 3
Tingkat energi terendah (j = 1) adalah untuk nx = ny = nz = 1. Kemudian
dan
2
3h 2 / 3
j
V
8m
2
1

Hanya ada satu keadaan (satu set bilangan kuantum nx, ny, nz ) yang memiliki energi
ini. Oleh karena itu, tingkat energi terendah tak terdegenerasi dan g1 = 1. Komponen x,
y, dan z berhubungan dengan momentum p1 adalah sama, dan masing-masing sama
dengan h/2L.
Pada tingkat energi selanjutnya (j = 2) kita mungkin memiliki salah satu dari keadaan
berikut ini:
nx

ny

nz

Oleh karena itu, pada keadaan pertama, contohnya, momentumnya adalah


h
h
h
p2 x 2
,
p2 y
,
p2 y
,
2L
2L
2L

n 22 (n x2 n 2y n z2 ) 6
Pada masing-masing keadaan,

, dan pada tingkat energi ini,


j

6h
V 2 / 3
8m

Karena tiga keadaan memiliki energi yang sama, tingkat degenerasinya g2 = 3.


Gambar 11-2 merepresentasikan sebuah skema konsep keadaan energi, tingkat
energi, dan tingkat degenerasi. Tingkat degenerasi gj dari j merupakan jumlah kotak
pada tingkat energi tertentu. Jumlah kelereng dalam kotak pada tingkat energi j disebut
bilangan okupasi Nj dari tingkat energi tersebut.

j
Gambar 11-2. Representasi skematik dari serangkaian tingkat energi

, tingkat degenerasinya gj dan

bilangkan okupasi Nj.

Dengan jelas, jumlah dari bilangan okupasi Nj dari semua tingkat energi sama
dengan jumlah total partikel N:

(11-5)
Selain itu, karena partikel dalam keadaan ini terlibat dalam beberapa keadaan j

j
semuanya memiliki energi yang sama

, energi total dari partikel pada tingkat energi j

j N j
adalah

dan energi total E dari sistem adalah


j N j E
j

(11-5)
Jika sistem berada dalam medan gaya konservatif seperti medan gravitasi, listrik,
atau magnet, energi total E akan terdiri dari sebagian dari potensial energi Ep dari
sistem. Jika energi potensial adalah nol, energi total E kemudian merupakan energi
dalam U dan

N j U

(11-5)

11-2 KEADAAN MAKRO DAN KEADAAN MIKRO


Spesifikasi dari jumlah Nj pada masing-masing tingkat energi disebut sebagai
keadaan makro dari assembly. Contohnya, keadaan makro dari gambar 11-2 ditetapkan
sebagai serangkaian bilangan okupasi N1 = 5, N2 = 4, N3 = 3, N4 = 2.
Jika partikel tak terbedakan, spesifikasi dari jumlah total partikel pada masingmasing energi disebut sebagai keadaan mikro dari assembly.

Jika satu atau dua partikel pada tingkat energi 4 berada pada keadaan selain (3) dan
(5), keadaan mikronya akan menjadi berbeda, tetapi keadaan makronya akan tidak
berubah karena kita masih memiliki N4 = 2. Dengan jelas, banyak keadaan mikro yang
akan berhubungan dengan keadaan mikro yang sama.
Jika partikel terbedakan, spesifikasi dari keadaan energi dari masing-masing
partikel disebut sebagai keadaan mikro dari assembly. Yaitu, kita harus menetapkan
tidak hanya berapa banyak partikel dalam masing-masing keadaan, tetapi partikel yang
mana mereka itu. Maka anggaplah bahwa partikel pada gambar 11-2 terbedakan dan
ditandain dengan a, b, c, d.l.l dan pada tingkat energi ke-4 partikel a berada pada
keadaan (3) dan partikel (b) beada pada keadaan (5); pada tingkat energi ke-3, partikel
c berada pada keadaan (1) dan partikel d dan e berada pada keadaan (3) dan (4)
berturut-turut, dan selanjutnya.
Jika ada lebih dari satu partikel pada keadaan energi tertentu, penukaran dari
susunan huruf-huruf tanda partikel tidak dianggap berubah pada keadaan mikro. Oleh
karena itu, anggaplah dua partikel (1) pada tingkat energi 2 ditandai p dan q. Keadaan
mikro dianggap sama jika huruf ditulis susunan pq dan qp.
Keadan mikro dan makro yang mungkin dari assembly partikel analogi dengan tabel
umur sekolompok individu. Sebagai contoh misalkan ada sejumlah anak-anak pada
masing-masing kelas di sekolah dasar yang memiliki total 368 siswa.
Kelas

Jum.Ana

60

70

62

61

62

53

k
Kelas berhubungan dengan tingkat energi dan spesifikasi jumlah anak pada masingmasing kelas mendefinisikan keadaan makro. Keadaan makro yang berbeda dengan
jumlah total anak yang sama ditampilkan sebagai berikut.
Kelas

Jum.Ana

52

57

60

73

62

64

k
Perubahan distribusi mungkin memiliki akibat makroskopik; membutuhkan jumlah
guru yang berbeda, perbadaan peralatan, perbedaan jumlah buku teks, d.l.l.
Tiap kelas dapat dibagi ke dalam beberapa kelas, yaitu, pada keadaak makro pertama
menjelaskan mungkin ada 3 kelas pada kelas 1 dan 2 kelas pada kelas 2. Kelas-kelas ini
akan berhubungan dengan keadaah degenerasi energi dari masing-masing tingkat
energi. Mungkin ada 3 keadaan degenerasi pada tingkat energi ke-1, d.l.l.

Jika anak-anak dipertimbangkan sebagai partikel tak terbedakan (contoh yang


sebenarnya kurang baik), kemudian keadaan mikro sistem akan menjadi
Kelas

1(a)

1(b)

1(c)

2(a)

2(b)

Jum.Ana

60

22

25

23

30

32

k
Keadaan mikro yang berbeda dari keadaan makro yang sama misalkan seperti ini
Kelas

1(a)

1(b)

1(c)

2(a)

2(b)

Jum.Ana

60

20

25

25

30

32

k
Meskipun jumlah anak pada masing-masing kelas berubah, jumlah anak-anak pada
msing-masing kelas adalah tetap.
Akan tetapi, pada distribusi,
Kelas

1(a)

1(b)

1(c)

2(a)

2(b)

Jum.Ana

60

20

27

23

30

30

k
akan berhubungan dengan keadaan makro karena jumlah anak pada masing-masing
kelas berubah, meskipun jumlah anak ssatu sekolah tetap konstan.
Ketika anak-anak ditinjau sebagai partikel terbedakan, keadaan mikro berbeda, jika
Evelyn berada pada kelas 1(a) dan Mildred pada kelas 1(b), atau lainnya, atau atau jika
keduanya berada pada kelas 1(b). Akan tetapi, pada kasus terakhir keadaan mikro sama
jika nama Mildred muncul sebelum Evelyn atau setelah Evelyn dianggap sama saja

11-3 PROBABILITAS TERMODINAMIKA


Secara alternatif, seseorang dapat meninjau sejumlah besar N
assembly tertentu (sebuah ensembel). Misalkan,

dari replika dari

menjadi jumlah dari replika

yang berada pada beberapa salah satu keadaan mikro yang mungkin. Postulat
termodinamika statistik dapat dinyatakan sebagai jumlah

adalah sama untuk

semua keadaan mikro. Postulat tersebut tampatknya tidak dapat diturunkan dari
beberapa prinsip-prinsipdasar, dan tentu itu tidak bisa dibuktikan secara eksperimen.
Dasar kebenaran terletak pada kebenaran dari kesimpulan yang ditarik dari kesimpulan
ini.
Dengan mengingat contoh pada pembahasan sebelumnya, jika semua keadaan mikro memiliki
kemungkinan yang sama dan populasi sekolah dibatasi maksimal 368 siswa, waktu berjalan dari tahun ke

tahun, semakin lama masing-masing distribusi siswa pada masing-masing kelas akan sama dengan satu
sama lain. Secara alternatif, jika dalam selang waktu tertentu seseorang mengamati beberapa sekolah dasar
yang memiliki populasi 368 siswa, maka masing-masing distribusi anak tiap kelas akan memiliki frekuensi
yang sama. Pada masing-masing kasus, contoh yang disajikan pada pembahasan sebelumnya akan terjadi
dengan rentang waktu yang sama.

Jumlah keadaan mikro yang memiliki kemungkinan sama yang berhubungan


dengan keadaan mikro k disebut probabilitas termodinamikaW
(Simbol W

dari keadaan makro.

berasal dari huruf Jerman yang berarti probabilitas dari asal kata,

Wahrscheinlichkeit. Jumlah total

dari keadaan mikro dari sebuah assembly, atau

probabilitas termodinamika dari assembly, sama dengan jumlah semua keadaan makro
dari probabilitas termodinamika dari masing-masing keadaan mikro:
W k
k

Maka tujuan utama daru teori statistik adalan untuk menurunkan ungkapan rata-

rata dari jumlah partikel

pada masing-masing tingkat energi j dari assembly.

Ungkapan ini dapat diturunkan yang disebut bilangan okupasi dari tingkat energi j.
Misalkan Njk merupakan bilangan okupasi dari tingkat energi j pada keadaan makro
N
k. Nilai rata-rata kelompok dari bilangan okupasi dari tingkat energi j,

g
j

, ditentukan

dengan mengalikan Njk dengan jumlah replika pada keadaan makro k, dengan
menjumlah semua keadaan makro dan membaginya dengan jumlah replika,

Jumlah total dari replika dari sebuah assembly yang berada pada keadaan makro k sama
dengan hasil kali jumlah replika

yang berada dalam beberapa keadaan mikro dan

Wk
jumlah keadaan mikro

Akan tetapi,

yang terkandung dalam keadaan makro. Oleh karena itu


g
1
Nj
N jkW k N
N k

N W k N
k

Dan karena

sama untuk semua keadaan makro, kita dapat mengembalikannya

dari penyebut dan pembilangnya. Rata-rata kelompoknya adalah,


k N jkW k 1
g
Nj
N jkW k
W k k
k

(11-8)
Sama halnya, kita dapat menghitung rata-rata waktu dari bilangan okupasi dari
g

Nj
tingkat energi j,

. Seperti yang telah dijelaskan di atas, postulat bahwa semua

keadaan mikro memiliki kemungkinan yang sama berarti bahwa selama periode
tertentu, masing-masing keadaan mikro muncul dengan interval
waktu assembly yang ditemukan pada keadaan makro k

interval waktu

yang sama. Total

merupakan hasil waktu

Wk
dan jumlah keadaan mikro dari keadaan makro k,

. Jumlah dari

hasil perkalian ini untuk semua keadaan mikro merupakan total waktu t:
t W k t
k

Nj
Rata-rata waktu dari bilangan okupasi dari tingkat energi j,

, ditentukan dengan

W k t
mengalikan bilangan okupasi Njk dari tingkat energi j dalam keadaan makro k,

dengan yang assembly habiskan dalam keadaan makro k, dengan menjumlahkan hasil
perkalian ini dalam semua keadaan makro, dan membaginya dengan total waktu t. Oleh
karena itu, waktu rata-ratanya adalah
1
N N jkW k t
t k
t
j

N W t
W t
jk

karena

sama untuk semua keadaan makro, kita dapat mengembalikannya dari

penyebut dan pembilangnya. Rata-rata kelompoknya adalah,


k N jkW k 1
t
Nj
N jkW k
W k k
k

(11-9)

Perbandingan persamaan (11-8) dan (11-9) menunjukkan bahwa jika semua


keadaan mikro memiliki kemungkinan yang sama, rata-rata waktu dari bilangan

N
okupasi sama dengan rata-rata kelompok, dan kita dapat menuliskannya sebagai

11-4 STATISTIK BOSE-EINSTEIN


Peluang termodinamik

Wk

keadaan mikro sebuah assembly bergantung pada statistik

partikel-partikel yang dipatuhi oleh assembly. Pada beberapa penyusunan partikel pada
tingkat j. Kita mungkin memiliki partikel a dan b pada tingkat 1, partikel c pada tingkat
2, tidak ada partikel, yang berada pada tingkat 3, partikel d,e,f pada tingkat 4, dan
seterusnya.
Distribusi partikel pada tingkat ini dapat dinyatakan dalam sebuah persamaan :
[(l)ab] [(2)c] [(3][(4)def] ..........................................(1- 10)
Dimana dalam setiap kelompok dalam kurung tersebut terdapat huruf yang mengikuti
nomor didepannya yang menandakan bahwa partikel-partikel tersebut berada pada
tingkat-tingkat yang diwakili oleh nomor.
Jika semua nomor dan huruf disusun dalam semua deret yang mungkin dari
gj

partikel-partikel di sekitar tingkat-tingkat energinya sehingga ada

dan setiap deret

( g j N 1)

mengandung

angka-angka dan notasi-notasi yang dapat disusun pada

setiap keadaan. Sejumlah deret yang berbeda dimana N objek terbedakan dapat
disusun menjadi N! (N faktorial}. Ada N pilihan untuk bentuk yang pertama dalam
( N 1)

deret tersebut,

( N 2)

untuk bentuk yang kedua,

untuk bentuk yang ketiga,

dan seterusnya. Jumlah keseluruhan dari semua deret yang mungkin adalah :
N(N - 1)(N 2) . . .1 = N!
Sebagai contoh, ada tiga huruf a, b, dan c dapat disusun menjadi deret sebagai berikut :
abc, acb, bca, bac, cba, cab
Kita melihat bahwa ada enam deret yang mungkin, yang sebanding dengan 3!.

Dengan menggunakan contoh pada bagian sebelumnya, jumlah W dari deret yang berbeda di mana 70
anak-anak kelas satu dapat berbaris adalah 70!. ditunjukkan pada Lampiran C pendekatan Stirlings1 untuk
logaritma natural dari faktorial untuk x adalah

ln x! x ln x x.
Karenanya

ln 70! 70 ln 70 70 245
log 10 70! 245 / 2.303 106
70! 10

108

( g j N 1)

Jumlah deret yang mungkin dari

( g j N 1)

nomor dan huruf karena itu


gj

dan jumlah total dari semua deret dari

Nj

nomor dan

huruf adalah

g j [( g j N 1)! ].....................................................(11 11)

Meskipun masing-masing dari urutan ini merupakan kemungkinan distribusi


partikel antara tingkat-tingkat energi, banyak dari mereka mewakili distribusi yang
sama. Misalnya, salah satu deret yang mungkin sebagai berikut:
[(3)] [(l)ab] [(4)def] [(2}c] . . .
Karena partikel sebenarnya dibedakan, urutan yang berbeda dari persamaan seperti
berikut :
[(l)ca] [(2)e] [(3)] [(4)bdf] . . .
juga mewakili distribusi yang sama dengan (11-10) karena setiap tingkat diberikan
Nj

mengandung jumlah partikel yang sama. Huruf-huruf

dapat disusun dalam urutan

N j!

N j!

cara yang berbeda, jadi (11-11) juga harus dibagi dengan


pada distribusi yang berbeda untuk tingkat j adalah :

g j [ g j N j 1)!]
g j!N j!

yang mungkin lebih mudah ditulis sebagai

1 James Stirling, Matematikawan Skotlandia (1696-1770)

karenanya angka

( g j N j 1)!
( g j 1)! N j !

,.......................................(11 12)

dimana,
g j ! g j ( g j 1)!

Jika tingkat tidak terdegenerasi, jika hanya ada satu keadaan pada tingkat dan
gj 1

, maka hanya ada satu cara yang mungkin di mana partikel-partikel di tingkat itu

j 1

gj 1

bisa disusun, dan karenanya

Tetapi jika

Oleh karena itu kita harus mengatur

, Persamaan.(11-12) menjadi

N j!
0! N j !

0! 1

1.

, yang dapat dianggap sebagai konvensi yang

diperlukan untuk mendapatkan jawaban yang benar. Sebuah diskusi lebih lanjut dapat
ditemukan dalam Lampiran C.
Nj 0

Jika tingkat j adalah kosong dan


( g j 1)1

( g j 1)!(0)!

j 1
dan

untuk tingkat itu.


Untuk masing-masing kemungkinan distribusi dalam berbagai tingkat, kita boleh

menggunakan apa saja dari kemungkinan distribusi dalam masing-masing tingkat yang

lain, jadi jumlah total dari kemungkinan distribusi, atau peluang termodinamika

W B E

j
adalah perkalian pada semua tingkat dari nilai-nilai

untuk masing-masing tingkat

atau :
W B E W K j
j

( g j N j 1)!
,........................(11 13)
( g j 1)! N j !

Dimana simbol

, berarti bahwa total perkalian dari semua factor yang mengikuti,

untuk sebuah nilai dari subskrip j. Hal ini sesuai dengan simbol

yang merupakan

total penjumlahan dari sebuah deretan factor-faktor.


Peluang termodinamika

Wk

untuk tiap-tiap keadaan makro, untuk keadaan makro,

gj 3

k=1, saat

dalam semua tingkat dan semua jumlah kerja adalah nol kecuali dalam

N6 1
tingkat 6, dimana

N 0 5,
, dan dalam tingkat 0, dimana

W1

3 1 1)! (3 5 1)!
.
3x 21 63.
2!1!
2!5!

Artinya, partikel tunggal ditingkat 6 yang terdapat dalam tiga keadaan, dan di tingkat
terendah lima partikel yang tersisa akan didistribusikan dalam 21 cara yang berbeda di
antara tiga keadaan, membuat total 63 kemungkinan penyusunan yang berbeda.
Total jumlah kemungkinan keadaan mikro dari sistem atau peluang termodinamika dari
sistem adalah

W k 1532.
k

Jumlah kerja rata-rata setiap tingkat, dihitung dari Persamaan. (11-8),


diberikan di kanan tingkat yang sesuai. Misalnya, pada tingkat 2, kita lihat
bahwa 3 keadaan makro meliputi 135 microstates, di masing-masing ada satu partikel
di tingkat 2. Keadaan makro 6 mencakup 270 keadaan mikro yang mana masingmasing terdapat juga satu partikel dalam di tingkat 2, dan seterusnya. Jumlah kerja ratarata dari tingkat 2 adalah :
N2

1
1272
N 2 kW k
0,83.

k
1532

Dalam sembarang keadaan makro k yang mana tingkat 2 tidak ditempati, hubungan

N 2 k Wk
nilai dari Nk adalah nol dan hasil perkalian

untuk tingkat itu adalah nol. Catatan,

meskipun jumlah kerja sebenarnya dari berbagai tingkat dalam keadaan makro harus

merupakan sebuah bilangan bulat atau nol, jumlah kerja rata-rata tidak perlu sebuah
bilangan bulat.

11-5 STATISTIK FERMI-DIRAC


Statistik Fermi dan Dirac berlaku untuk partikel tak terbedakan yang mematuhi prinsip
eksklusif Pauli,
Sebuah kemungkinan penyusunan diberikan sebagai berikut :
[(1)a] [(2)b] [(3)] [(4)c] [(5)] .................................. (11-14)
yang berarti bahwa keadaan (1), (2), (4), . . .dengan kuota satu partikel
gj

masing-masing keadaan, sementara (3), (5), ... kosong. Ada kemungkinan

lokasi

gj

untuk karakter pertama, mengikuti salahsatu penghitungan

. Lokasi yang mungkin

( g j 2)

untuk karakter kedua hanya

[ g j ( N j 1)]

turun terus sampai

atau

[ g j ( N j 1)]

lokasi untuk karakter terakhir. Karena salah satu lokasi dari salah satu
karakter boleh memiliki salah satu lokasi yang mungkin dari masing-masing lain,
Nj

gj

jumlah total cara yang member

karakter dapat ditunjukkan ke dalam


, yaitu :
g j!
g j ( g j 1)( g j 2)...( g j N j 1)
..............(11 15)
( g j N j )! '

saat,

g j ! g j ( g j 1)( g j 2)...( g j N j 1)( g j N j )!

untuk tingkat j:

W F D

g j!
( g j N j )! N j !

.........................................(11 16)

dari keadaan makro dalam statistic F-D adalah


W F D W K j
j

g j!
( g j N j )! N j !

......................(11 17)

Peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro, dihitung dari persamaan

W F D

, yang tertulis di bawah kolom yang bersesuaian. Dengan demikian dalam

keadaan makro 1,

W1

3!
3!
3!
.
.
3 x3 x1 9
(3 1)!1! (3 2)!2! (3 3)!3!

Jumlah total mungkin keadaan makro adalah


W k 73.
k

11-6 STATISTIK MAXWELL-BOLTZMANN


Pada statistik Maxwell-Boltzmann partikel dari suatu assembly dinggap berbeda.
Tetapi, pada statistik B-E tidak ditentukan jumlah partikel yag dapat menempati energi
basis yang sama. Karena pada tingkat

Nj

terdapat beberapa partikel pada tingkatan

ini, maka jumlah distribusi total yang mungkin terjadi pada tingkatan ini adalah sebagai
berikut:
j=g Nj ................................................. (11-18)
j

Distribusi total yang dapat ditempatkan pada semua tingkatan, dengan spesifikasi
dari satu set partikel pada tingkatan lainnya adalah sebagai berikut:
w j= g Nj ............................................ (11-9)
j
j
J

Tetapi untuk

j j

tidak sama dengan

Wk

seperti dalam statistik lainnya

sejak penyimpangan dari partikel pada setiap level (serta pertukaran antar bagian atau
daerah pada tingkatan yang sama) hal tersebut menyebabkan microstate yang berbeda.
(Jika partikel berupa partikel yang tidak dibedakan, maka pertukaran partikel pada tiap
tingkat tidak menghasilkan microstate yang berbeda). Misalnya, jika partikel

b pada

Gambar. 11-7 yang dipertukarkan dengan partikel c dari beberapa tingkat lain sehingga
dua partikel di tingkat

dimana a dan c

adalah a dan b , kita memiliki

sembilan susunan yang berbeda dari partikel pada tingkatan ini. Pertanyaan selanjutnya
adalah ada berapa cara jika total pada

dari

N partikel sehingga partikel dapat

didistribusikan pada berbagai tingkatan energi, dengan memberikan nomor pada tiap
tingkatan dari partikel seperti

N1 , N2 , N 3

11-7 INTERPRETASI ENTROPI SECARA STATISTIK


Pada bagian ini kita mendapatkan hubungan dan mulai bertanya apa saja bagian-bagian
dari model statistik dari sebuah sistem yang dapat dikaitkan dengan entropi. Prinsip
pada termodinamika menyebabkan hasil yang diperoleh terhadap entropi berbeda antara
satu bagian yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:
T S= U + P V ..................................... (11-12)
Dari sudut pandang statistik, perubahan dari energi dari sebuah assembly, pada volume,
dan jumlah partikel mengakibatkan perubahan jumlah total kemungkinan microstate
yang terdapat pada sistem.
1
2
Jika
dan
dari probabilitas termodinamika dari sistem, dan setiap
microstate dari salah satu sistem, kemungkinan akan memiliki satu microstate. Jumlah
kemungkinan dari microstate oleh dua sistem merupakan hasil dari

dan

= 1 2 ............................................ (11-23)
Untuk sistem yang bebas dapat dinyatakan:
dJ

=k B
d
dJ=k B

J=k B ln
S=k B ln
Fungsi tersebut hanyalah fungsi dari

......................................... (11-24)

yang memenuhi syarat bahwa entropi

merupakan bagian dari logaritma sebaliknya probabilitas dari termodinamika


merupakan perkalian dari logaritma.

11-8 FUNGSI DISTRIBUSI BOSE-EINSTEIN


Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperoleh hubungan antara nilai
relatif dari

ln

untuk dua sistem yang memiliki jumlah set tingkat energi yang

sama. Namun pada sistem kedua jumlah partikel kurang dari jumlah partikel pada

sistem pertama yang dinayatakan dengan

n , dimana untuk

n N , dan di mana

energi kurang dari pada yang pertama yang dinyatakan dengan


adalah energi pada level arbitrary pada pada tingkat

nr

, dengan

r . Dengan demikian, simbol

unprimed ditujukan untuk sistem pertama dan simbol primed untuk sistem kedua
N ' =Nn ,U ' =Un r .................................... (11-31)
W'rk

Probabilitas termodinamika

pada macrostate

pada sistem unprimer

dinyatakan dengan:
W k =
j

( g j + N jk 1 ) !
( g j1 ) ! N jk ! ............................................ (11-33_

Pada sistem primer


W rk =
'

( g j+ N ' jk 1 ) !

( g j1 ) ! N ' jk ! ...................................... (11-34)

rk

Lambang
macrostate

bermakna

W'rk

pada sistem primer, dan

yang berarti probabilitas termodinamika pada


r

merupakan tingkat yang telah dipilih secara

acak dari satu partikel yang dihilangkan atau dihapus. Sedangkan lambang
N jk

dan

'
jk

menunjukkan jumlah partikel pada tingkat

pada sistem unprimer dan primer.


Bagian terakhir dari persamaan

' r 'r
N

dapat dinyatakan dengan:

r =( gr + N ' r ) Q ' r
N
Dan
r
N
'r
= (1135)
'r
gr + N

jk

bermakna

pada macrostate

Pada sistem mikroskopik dimana terdapat banyak partikel, maka penghapusan dari salah satu
partikel dari salah satu level merupakan cara yang tidak mungkin pada saat rata-rata jumlah
rata-rata partikel pada tingkat tersebut terpenuhi. Dan cara terbaik adalah dengan cara
memperkirakan dengan

' r= N r
N
:
N r
' r
=
(1136)
r r
gr+ N

Dengan menggunakan logaritma pada kedua sisi, dapat dinyatakan dengan:


r
N
' r
ln
=ln
r

gr+ N
Tetapi
'r
'
ln
=ln rln

Dengan menggunakan persamaan (11-24), yaitu

S=k B ln

'
'
N r
S S S
ln
=
=
(1137)
r
kB
kB
gr + N

Dengan menggunakan prinsip termodinamika, entropi akan berbeda

antara dua

keadaan yang tidak tertutup atau sistem terbuka yang mana volumenya (sesuai dengan
variabel ekstensif) adalah konstan akan memberikan energi yang berbeda
N

perbedaan

pada setiap partikel, dan suhu dinayatakan dengan

U , dan

T , oleh persamaan

(8-11):
T S= U N

Dimana

merupakan potensial kimia pada setiap partikel. Untuk dua keadaan dapat

dinayakan dengan:

U = r

N =1

Dan karena itu, maka:


S=

Dari persamaan (11-37), sejak tingkat

r
T

dipilih secara bebas dan begitu pula pada tingkat

ln

j
N
j
=
j kBT
g j+N

dan
j gj
g j+N

= +1=exp j
j
j
kb T
N
N
Sehingga kita dapat menyatakan sebagai:
N j
=
gj

1

exp j
1 ............................................ (11-38)
kB T

( )

Persamaan tersebut merupakan fungsi distribusi fungsi Bose-Einstein, yang menyatakan ratarata jumlah partikel pada setiap kulit pada setiap tingkat
pada keadaan, dan potensial kimia

j ,

j/ g j
N
, jumlah energi

, konstantan universal k B dan suhu T .

11.9 FUNGSI DISTRIBUSI FERMI-DIRAC


Untuk mendapatkan fungsi distribusi dalam statistik F-D, kita menentukan dua
assembly pada jumlah partikel yang masing-masing

dan

N ' N 1

. Di beberapa

r,
pasangan makros,

pada semua tingkatan kecuali pada level r; dan di level

U ' U r .
U
. Energi yang sesuai adalah
dan
Peluang termodinamik untuk keadaan makro yang berhungan dengan assembly

N ' rk N rk 1

tidak utama dan utama adalah:

Wk
j

'

rk

g j!
( g j N jk )! N jk !

Kemudian

g j!
( g j N ' jk )! N ' jk !

( g j N jk )! N jk !
W ' rk

'
'
W rk
j ( g j N jk )! N jk !

Yang setelah mengalami pengurangan menjadi:

W ' rk
N rk

Wk
g r N ' rk
atau

N rkW k ( g r N ' rk )W ' rk

Dengan menjumlahkan semua nilai

N W
rk

maka diperoleh

g r W ' rk N ' rkW ' rk


k

dan

Nr
g r N 'r

' r

.........................................(11-39)

Di sini didapatkan

N 'r N r

, jika keadaan cukup degerasi,

Nr

dan

besar dari yang lain. Dengan alasan yang sama seperti pada statistik B-E

N 'r

dapat lebih

Nj

gj

1
j
1
exp
k
T
B

.................................... (11-40)
yang mana adalah fungsi distribusi Fermi-Dirac. Ini berbeda dari distribusi B-E yang
mempunyai nilai + 1 pada angka -1.

11-10 FUNGSI DISTRIBUSI KLASIK


N
Dalam sistem partikel tak terbedakan, rata-rata jumlah partikel

di setiap level

gj
sangat jauh lebih sedikit daripada jumlah pada bagian level
N
jumlah partikel per keadaan

, sehingga rata-rata

gj
, sangat kecil. Angka pada pers (11-38) dan (11-40)

sangat besar; jadi kita dapat mengabaikan angka 1; dan kedua fungsi distribusi B-E dan
F-D diturunkan menjadi

j
Nj
exp
gj
k BT
........................................(11-41)
Yang mana adalah fungsi distribusi klasik.

11-11 PERBANDINGAN FUNGSI DISTRIBUSI PADA PARTIKEL


TAK TERBEDAKAN
Fungsi distribusi dari partikel tak terbedakan semuanya dapat digambarkan oleh
persamaan tunggal

Nj

gj

di mana

a 1

dalam statistik B-E,

exp

1
j
k BT

a 1

a
.....................................(11-42)

dalam statistik F-D, dan

a0

dalam

statistik klasik.
Kurva pada Gambar. 11-11 adalah grafik dari jumlah rata-rata partikel per keadaan ,

gj
, bergantung pada suhu untuk statistik B-E dan F-D berkomplot sebagai fungsi

( j ) k B T
dari banyaknya ukuran

(Oleh karena itu energi meningkat ke arah

j
kanan). Ordinat kurva mempunyai arti, tentu saja, hanya pada absis di mana energi

N
mempunyai salah satu nilai yang diijinkan. Ketika

gj
sangat kecil, distribusi B-E

dan F-D sangat mirip, dan keduanya menurunkan distribusi klasik.


j
N j gj
dari nilai
dalam statistik B-E menjadi infinitif dan
Catatan pada saat

j
untuk level di mana

kurang dari

adalah negatif dan karena itu tak berarti.

Artinya, dalam statistik ini, potensial kimia harus kurang dari energi yang diijinkan

j
ditingkat paling rendah. Partikel-partikel seperti berkonsentrasi di level

hanya

sedikit lebih besar dari

Gambar 11-11 Grafik fungsi distribusi Bose-Einstein, Fermi-Dirac, dan klasik.

Dalam statistik F-D, dengan kata lain semua level populasinya menurun ke yang paling

j
rendah dan

N
,

gj
mendekati 1. Artinya, tingkat energi rendah hampir secara

keseluruhan dipopulasikan dengan satu partikel per keadaan.

12 FUNGSI DISTRIBUSI MAXWELL BOLTZMANN


Fungsi distribusi dalam statistik M

-B diperoleh dengan cara yang sama seperti pada

statistik B-E dan F-D statistik.


Peluang termodinamik untuk keadaan maksro yang berhungan dengan assembly tidak
utama dan utama adalah

W k N !

gj

W ' k N ' !
j

Nj

N j!

gj

N'j

N'j !

Setelah menjumlahkan semua makro, diperoleh

'
Nr
r
Ng r

....................................... (11-43)
dan dengan prosedur yang sama seperti sebelumnya,

j
Nj N
exp
gj
k BT

...........................( 11-44)
yang merupakan fungsi distribusi Maxwell-Boltzmann. Ini berbeda dari fungsi distribusi
klasik, yang kadang-kadang disebut sebagai "pengkoreksi" dari fungsi Bollzmann, pada
j
pembilang di sebelah kiri adalah rata-rata jumlah pecahan partikel di level

N
, sehingga sisi kiri adalah jumlah pecahan dari partikel per keadaan di tingkat

manapun.

13 FUNGSI PARTISI
Fungsi distribusi dalam statistik Maxwell-Boltzmann dapat ditulis:

N j N exp
k BT

k BT

g j exp

Ketika

Nj N

dan potensi kimia

j
tidak tergantung pada

N
exp
j
j

k BT

, maka

k BT

g j exp

Jumlah di bagian akhir disebut fungsi partisi atau jumlah keadaan lebih dan diwakili
oleh Z. (German Zustandssumm). Bentuk lain yang sering digunakan

Z j g j exp

j
k BT

..................................... (11-45)
Fungsi partisi hanya tergantung pada suhu T dan pada parameter-parameter yang
menentukan tingkat-tingkat energi. Hal itu lanjutan dua persamaan sebelumnya dalam
statistik M-B:

exp

k BT Z

................................................ (11-46)
Jadi sistem yang diberikan, rata-rata jumlah partikel per keadaan di setiap level

j
berkurang secara eksponensial dengan energi

dan pada suhu T yang lebih rendah,

kelebihan kecepatan tersebut adalah penurunan kecepatannya.


Fungsi distrubusi klasik dapat ditulis:

N j exp
k BT

k BT

g j exp

j
Dan penjumlahan semua nilai

, kita dapatkan

exp
j
j

k BT

Lalu jika fungsi partisi

g j exp

j
k BT

ditentukan dengan cara yang sama seperti di statistik M-B,

kita dapatkan:

exp

k BT
Z
..................................... (11-48)

Dan fungsi distrubusi klasik dapat ditulis:

j
Nj
N
exp
gj
Z
k BT
................................. (11-49)

14 BESARAN TERMODINAMIKA DARI SEBUAH SISTEM


Perlu diingat bahwa semua sifat termodinamika dari sebuah sistem juga ditentukan oleh
persamaan karakteristik; yaitu, fungsi Helmholtz yang dinyatakan dalam
atau fungsi Gibbs dinyatakan dalam

dan

. Disini

dan

dan

tegak lurus dengan

beberapa pasangan variabel seperti volume


dan tekanan
.
Jadi kita memulai dengan menyatakan turunan untuk fungsi Helmholtz dan Gibbs
dalam

ln Z

. Seperti ditunjukkan dalam Bagian 8-1, fungsi-fungsi ini terkait dengan

potensi kimia

oleh persamaan.

T ,Y

T ,X

........................... (11-50)
Untuk sebuah sistem yang mematuhi statistik MB, potensi kimia dari sistem berkaitan
dengan fungsi partisi oleh Persamaan. (11-46):

k BT ln Z

...................................... (11-51)
Dalam statistik klasik, potensial kimia diberikan melalui Persamaan. (11-48):

k BT ln Z ln N

Fungsi partisi,

Z g j exp j k B T

............................. (11-52)

, adalah sebuah fungsi suhu dari suatu

sistem dan parameter yang menentukan tingkat energi dari sistem (seperti volume

atau medan magnet

). Sehingga Pers. (11-51) dan (11-52) menyatakan

dalam

X
Y
bentuk
atau .
Anggapan pertama sebuah sistem dari partikel yang tak terbedakan mematuhi statistik
klasik dan salah satu tingkat energi adalah fungsi dari parameter
partisi adalah sebuah fungsi dari
dari fungsi Helmholtz

dan

. Kemudian fungsi

, dan karena ini adalah variabel "natural"

, kita mulai dari pers. (11-50) dan (11-52).

k BT ln Z ln N
T ,X

............................ (11-53)
Sisi kanan dari persamaan ini adalah konstan ketika

konstanta

f T , X

konstan. Penggabungan

F Nk BT ln Z ln N 1

........................ (11-54)

. Persamaan (11-53) akan terpenuhi jika fungsi

ditambahkan ke sisi kanan persamaan (11-54), tapi karena

nol ketika

dan

menghasilkan:

N ln NdN N ln N N

Ketika

untuk

dan

N 0

, maka bahwa

f T , X 0

harus menjadi

. Persamaan (11-54) adalah lambang

N ,T , X
dalam bentuk

; Oleh karena itu semua sifat termodinamika dalam

sebuah sistem dapat ditentukan oleh metode Bagian 7-2.


Entropi

S F T N , X

yaitu dedapatkan dengan

ln Z

sehingga

Nk B ln Z ln N 1

S Nk BT

Ketika

U F TS

.......(11-55)
, energi internal yaitu

ln Z

U Nk BT 2

............................(11-56)
Lambang untuk suatu entropi sekarang dapat ditulis kembali sebagai berikut:

U
Nk B ln Z ln N 1
T

...................(11-57)
Variabel intensif Y digabungkan dengan variabel ekstensif X didapatkan dengan

Y F N N ,T
sehingga

ln Z

Y Nk BT

.......................... (11-58)

N ,T ,
dimana persamaan keadaan dari suatu sistem, menyatakan Y sebagai fungsi dari
dan

X.

Dengan demikian semua sifat-sifat termodinamika dari sistem ini dapat

ditentukan jika

diketahui sebagai fungsi dari

dan

G N

Untuk sistem sebuah komponen, fungsi Gibbs


(11-52) menjadi

.
, sehingga dari Persamaan.

G Nk BT ln Z ln N

...................... (11-59)

Tapi secara umum untuk variabel X dan Y,

G U TS YX F YK

G F YK

dan
dari persamaan (11-54) dan (11-59)

G F Nk BT

Jadi untuk setiap sistem mematuhi statistik klasik dan di mana tingkat energi adalah
fungsi dari sebuah parameter X ekstensif tunggal,

YK Nk BT

..................................... (11-60)
Dalam kasus khusus di mana parameter X adalah volume V dan Y adalah tekanan P,

PV Nk BT
Ini adalah persamaan keadaan gas ideal sebagai perolehan dari teori kinetik,

ditambahkan bahwa konstanta umum

kB

yang diperkenalkan sebelumnya hanya

sebagai konstanta proporsionals dalam persamaan

konstanta Boltzmann

k R NA

kasus khusus ini sama dengan

. Karena

R NA

kB

S k B ln

sama dengan

adalah konstanta umum, dimana dalam

, itu harus sama

R NA

tanpa memperhatikan

assembly amami. Pada pembahasan selanjutnya, untuk kemudahan, dengan

S k ln

menghilangkan indeks
dan menulis dengan mudah
.
Pernyataan untuk sifat termodinamika dari suatu sistem yang mengikuti statistik klasik
dan sebuah sistem di mana tingkat energi ditentukan oleh parameter ekstensif X
diperoleh:

F NkT ln Z ln N 1
ln Z

...............(11-61)

U NkT 2

......................(11-62)

U
Nk ln Z ln N 1
T

..................(11-63)

dan

ln Z

Y NkT

.........................(11-64)
Sistem partikel tak terbedakan menuruti statistik M-B dan di mana tingkat energi
ditentukan oleh parameter X, hubungan untuk U dan Y tidak berubah, tetapi hubungan
untuk F dan S adalah

F NkT ln Z

..............................(11-65)

dan

U
Nk ln Z
T

............................. .(11-66)
Hubungan ini berbeda dari partikel tak terbedakan oleh sebuah istilah proporsional

N ln Z N

(Lihat soal 11-31).

kT ln Z
T ,Y

............................ (11-67)
Sisi kanan persamaan ini adalah konstan ketika T dan Y konstan. Penggabungan saat
kontanta T dan Y menghasilkan

G NkT ln Z

........................... (11-68)

g (T , Y )
Berubah-ubah fungsi
yaitu nol juga karena

yang harus ditambahkan ke sisi kanan pers. (11-68)

G0

ketika

N 0

bertentangan dengan pers. (11-65) sejak

. Persamaan ini muncul pada awalnya

F G

. Namun, pers. (11-65) bermula dari

sebuah sistem di mana tingkat energi adalah fungsi dari parameter ekstensif X,
sedangkan Pers. (11-68) berlaku untuk sistem di mana tingkat energi tergantung pada
parameter intensif Y.

S G T X ,Y

Entropi sekarang diperoleh dengan

dan karenanya

ln Z

S NkT

Nk ln Z
Y

.................. (11-69)
Entalpi H sama G + TS, jadi

ln Z

H NkT 2

..........................(11-70)
Dan persamaan (11-69) dapat ditulis

S
Persamaan keadaan diperoleh

H
Nk ln Z
T

............................... (11-71)

ln Z

NkT 2
N ,T

.............(11-72)
Jika parameter Y adalah intensitas sebuah medan konservatif dari gaya, energi
partikelnya hanya energi potensialnya (gravitasi, magnet, atau elektrik). Energi internal

dari suatu sistem adalah kemudian nol, dan total energi

Ep
potensialnya

intensif

. Jika

mewakili variabel ekstensif bergabung dengan variabel

E p YX
, energi potensial

H U YX

dan

U 0

adalah hanya energi

berarti

. Kemudian sejak entalpi

didefinisikan sebaga

E Ep H

dan pers. (11-70) dan (11-71) dapat ditulis

ln Z

F NkT 2

.............................(11-73)
dan

E
Nk ln Z
T

..................................(11-74)
j
X1
Y2
Satu-satunya perbedaan adalah bahwa
sekarang berfungsi pada kedua
dan ,
Y2
T X1
dan fungsi partisi adalah fungsi dari ,
dan . Sejak suatu sistem memiliki kedua

energi internal

E p Y2 X 2
dan energi potensial

total energi

E U E p U Y2 X 2

dan karena itu kita menggunakan fungsi umum Helmholtz


Persamaan. (7-34) sebagai

adalah

, didefinisikan oleh

F E TS U TS Y2 X 2
Potensial Kimia sekarang

T ', X 1 ,T2

Jika suatu sistem mematuhi statistik klasik,

kT ln Z ln N

Dan penggabungan pada konstanta

T , X 1 , T2

F NkT ln Z ln N 1

Penempatan fungsi yang bergantung pada

X 1 , Y1

dan

.................... (11-75)

sama dengan nol seperti

sebelumnya.
Variabel Y1 dan X2 bergabung dengan X1 dan Y2, adalah didapatkan dengan:

Y1

ln Z

NkT

N ,T ',Y2

T ',Y2

.......... (11-76)

X 2

Y
1

N ,T ', X 1

ln Z

Y
2

NkT

T ', X 1

.............. (11-77)
Sistem ini memiliki dua persamaan keadaan, menyatakan Y1 dan X2 dalam suku

N,T , X1
Entropi

dan

Y2

adalah

ln Z

Nk ln Z ln N 1

NkT
N , X 1 ,Y2

X 1 ,Y2

(11-78)
Energi total

sama dengan

F TS

, jadi

ln Z

E NkT 2

X 1 ,Y2

................................ (11-79)
dan karenanya,

E
Nk ln Z ln N 1
T

............................. (11-80)

Jika suatu sistem mematuhi statistik Maxwell-Boltzmann

kT ln Z

Dan dengan alasan yang sama,

F NkT ln Z

................................... (11-81)

Y1
X2
Variabel
dan
ditunjukan oleh pers. (11-75) dan (11-76)
Entropi adalah,

ln Z

S NkT

Nk ln Z
X 1 ,Y2

.................... (11-82)
Total energi adalah

ln Z

E NkT 2

X1 ,Y2

.......................... (11-83)
Jadi satu dapat dituliskan

E
Nk ln Z
T
E p Y2 X 2

Dalam statistik lainnya, energi potensial


adalah

.................................. (11-84)

dan energi internal adalah

U E E p E Y2 X 2
....................... (11-85)