Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM V

I.
II.

JUDUL PRAKTIKUM
Identifikasi simplisia Amylum
TUJUAN PRAKTIKUM
1.
2.
3.
4.

Mahasiswa dapat menentukan identifikasi secara organoleptik dari simplisia amylum


Mahasiswa dapat mengidentifikassi secara makroskopik simplisia amylum
Mahasiswa dapat mengidentifikassi secara mikroskopik simplisia amylum
Mahasiswa dapat membedakan ke semua simplisia amylum dengan menentukan

perbedaan dan kesamaannya


5. Mahasiswa dapat menggunakan mikroskop
6. Mahasiswa dapat mengenal tumbuhan / bagian tumbuhan yang digunakan sebagai
simplisia

III.

TINJAUAN PUSTAKA
Amylum manihot ( pati singkong) adalah pati yang diperoleh dari umbi akar manihot
utilissima Pohl (familia Euphorbiaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih,
secara mikroskopik berupa butir tunggal, agak bulat atau bersegi banyak butir kecil
dengan diameter 5m sampai 10 m, butir besar bergaris tengah 20 m sampai 35
m, hilus tengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga, lamella tidak jelas,
konsentris, butir majemuk sedikit, terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama
bentuknya. Identifikasi kimiawi yaitu dengan Iodium dimana akan terjadi biru tua
yang hilang pada pemanasan dan timbul kembali pada pendinginan.
Amylum maydis ( pati jagung) adalah pati yang diperoleh dari biji zea mays L.
( familia Poaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih. Secara mikroskopik
yaitu berupa butir bersegi banyak, bersudut, ukuran 2 m sampai 23 m atau butir
bulat dengan diameter 25 m sampai 32 m, hilus ditengah berupa rongga yang nyata
atau celah berjumlah 2 sampai 5, tidak ada lamella. Jika diamati dibawah cahaya
terpolarisasi, tampak bentuk silang berwarna hitam, memotong pada hilus. Untuk
identifikasi secara kimiawi sama dengan amylum manihot.
Amylum oryzae ( pati beras) adalah amylum yang diperoleh dari biji Oryza sativa L.
1

(familia Poaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih. Secara mikroskopik
yaitu berupa butir bersegi banyak ukuran 2 m sampai 5 m, tunggal atau majemuk
bentuk bulat telur ukuran 10 m sampai 20 m. hilus di tengah tidak terlihat jelas,
tidak ada lamella konsentris. Jika diamati dibawah cahaya terpolarisasi tampak bentuk
silang berwarna hitam, memotong pada hilus.
Amylum solani ( pati kentang) adalah pati yang diperoleh dari umbi solanum
tuberosum (familia Solanaceae). Yang berupa serbuk sangat halus dan putih. Secara
mikroskopik yaitu berupa butir tunggal, tidak beraturan, atau bulat telur ukuran 30 m
sampai 100 m, atau membulat ukuran 10 m sampai 35 m, butir majemuk jarang,
terdiri dari 2 sampai 4, hilus berupa titik pada ujung yang sempit dengan lamella
konsentris jelas terlihat, jika diamati dibawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk
silang berwarna hitam memotong pada hilus. Untuk idetifikasi secara kimiawi sama
dengan amylum manihot.
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai bahan obat yang belum
mengalami pengolahan apapun, kecuali dinyatakan lain merupakan bahan yang telah
dikeringkan.
Tahapan Pembuatan simplisia :
1. Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia tergantung pada bagian tanaman
yang digunakan, umur tanaman atau bagian tanaman saat panen, waktu panen,
dan lingkungan tempat tumbuh. Jika penanganan ataupun pengolahan simplisia
tidak benar maka mutu produk yang dihasilkan kurang berkhasiat atau
kemungkinan dapat menimbulkan toksik apabila dikonsumsi.
2. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan bahan-bahan asing yang tidak
berguna atau berbahaya dalam pembuatan simplisia Penyortiran segera
2

dilakukan setelah bahan selesai dipanen, bahan yang mati, tumbuh lumut
ataupun tumbuh jamur segera dipisahkan yang dimungkinkan mencemari bahan
hasil panen.
3. Pencucian
Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi
mikroba-mikroba yang menempel pada bahan. Pencucian harus dilakukan
dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk menghindari larut dan terbuangnya
zat yang terkandung dalam simplisia. Pencucian harus menggunakan air bersih,
seperti air dari mata air, sumur atau PAM.
4. Perajangan
Perajangan dilakukan bertujuan untuk memperluas permukaan sehingga
lebih cepat kering tanpa pemanasan yang berlebih. Pengubahan bentuk
dilakukan dengan menggunakan pisau tajam yang terbuat dari bahan steinless.
5. Pengeringan
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah suhu pengeringan, kelembaban
udara, aliran udara, waktu pengeringan (cepat), dan luas permukaan bahan. suhu
pengeringan bergantung pada simplisia dan cara pengeringan. Pengeringan
dapat dilakukan antara suhu 30o-90o C. Pengeringan dilakukan untuk
mengeluarkan atau menghilangkan air dari suatu bahan dengan menggunakan
sinar matahari. Cara ini sederhana dan hanya memerlukan lantai jemur.
Simplisia yang akan dijemur disebar secara merata dan pada saat tertentu dibalik
agar panas merata.
Cara penjemuran semacam ini selain murah juga praktis, namun juga ada
kelemahan yaitu suhu dan kelembaban tidak dapat terkontrol, memerlukan area
penjemuran yang luas, saat pengeringan tergantung cuaca, mudah
terkontaminasi dan waktu pengeringan yang lama. Dengan menurunkan kadar
air dapat mencegah tumbuhnya kapang dan menurunkan reaksi enzimatik
sehingga dapat dicegah terjadinya penurunan mutu atau pengrusakan simplisia.
Secara umum kadar air simplisia tanaman obat maksimal 10%.
3

Pengeringan dapat memberikan keuntungan antara lain memperpanjang


masa simpan, mengurangi penurunan mutu sebelum diolah lebih lanjut,
memudahkan dalam pengangkutan, menimbulkan aroma khas pada bahan serta
memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
6. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan simplisia.
Tujuan sortasi adalah untuk memisahkan benda asing, seperti bagian-bagian
yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan
tertinggal.
7. Pengemasan dan Penyimpanan
Setelah bersih, simplisia dikemas dengan menggunakan bahan yang tidak
berracun/tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. Pada kemasan diberi
dicantumkan nama bahan dan bagian tanaman yang digunakan. Tujuan
pengepakan dan penyimpanan adalah untuk melindungi agar simplisia tidak
rusak atau berubah mutunya karena beberapa faktor, baik dari dalam maupun
dari luar. Simplisia disimpan di tempat yang kering, tidak lembab, dan terhindar
dari sinar matahari langsung.

IV.

METODE KERJA
A. Alat
1. Pisau cutter
2. Nampan/ nyiru dari anyaman bambu
3. Papan iris
4. Oven
5. Serbet
6. Ember
7. Mortir dan stamper
8. Pengayak
9. Mikroskop
10. Object glass
11. Cover glass
12. Bunsen
13. Korek api
14. Gegep kayu
15. Tissue roll
B. Bahan
4

1.
2.
3.
4.
5.

Aquades
Amylum Maydis
Amylum Orizae
Amylum Solani
Amylum Manihot

C. Prosedur Kerja
1. Simplisia di panen
2. Dilakukan pengamatan terhadap amylum
3. Dilakukan sortasi basah sampai pada sortasi kering kemudian simplisia
dihaluskan hingga halus halus dan siap untuk diamati
4. Dilakukan identifikasi simplisia secara organoleptik mulai dari pengamatan
warna amyum, bau, rasa, dan pemerian amylum.
5. Dilakukan identifikasi secara mikroskopik yaitu mengamati bentuk serbuk
dibawah mikroskopdengan pembesaran 10X atau lebih dengan Aquades
6. Semua hasil pengamatan digambarkan, dan disesuaikan dengan yang tertera
dalam buku penuntun (sesuai MMI).

V.

HASIL PENGAMATAN
1. Amylum Oryzae (pati beras)
Nama tanaman asal
: Oryza sativa L
Famili
: poaceae/graminae
Morfologi amylum
:

Terdiri dari butir-butir tunggal/majemuk. Bentuknya segi


banyak dengan ukuran 2 m sampai 5 m, umumnya
tidak mempunyai hilus, kadang-kadang terdapat hilus
pada pembesaran kuat.
Organoleptis

: Serbuk halus ada butiran kasar,warna putih seperti kapur,


tidak berasa, tidak berbau.

Mikroskopis

Keterangan :
(a),
(b),

(c)
2. Amylum Manihot (pati singkong)
Nama tanaman asal
: Manihot utilissima
Famili
: euphorbiaceae
Morfologi amylum
:

Terdiri dari butir-butir tunggal/majemuk.


bentuk bulat, kadang-kadang ada bentuk seperti helm
( topi baja) hilusnya di tengah, lemala tidak jelas.
(Kecuali pembesaran kuat) ukurannya 20 m.
Organoleptis

: Serbuk halus licin, berwarna putih susu encer , tidak


memiliki rasa dan bau.

Mikroskopis

:
7

Keterangan :
(a)
(b)
3. amylum solani (pati kentang)
Nama tanaman asal
Famili
Morfologi kentang

: Solanum tuberosum
: Solanaceae
:

Terdiri dari butir-butir tunggal, bentuknya oval, ukuran


100 m. hilus eksentris (di pinggir), lamela jelas.

Organoleptis:

Serbuk halus, denagn butiran kasar

berwarna putih kotor tidak memiliki rasa dan


bau.
Mikroskopis

Keterangan
(a)
(b)

4. amylum maydis ( pati jagung)


Nama tanaman asal
: Zea mays
Famili
: Graminae
Morfologi amylum
:

Terdiri dari butir-butir tunggal/majemuk, bentuknya


polygonal, ukuran 5-25 m, hilus kon sentris
(ditengah) dan retak, lamela sulit dilihat.

Organoleptis
Mikroskopis

Serbuk halus, dengan butiran kasar. berwarna putih

seperti susu bubuk, tidak memiliki rasa dan bau.


:

Keterangan :
(a)
(b)
VI.

KESIMPULAN
1. Tahap pembuatan simplisia pasca panen
a Sortir basah
b Pencucian
c Perajangan
d Pengeringan
e Sortir kering
f Penghalusan
g Pengepakan
h Penyimpanan
2. Identifikasi amylum dan simplisia secara mikroskopik.
Dari percobaan yang kami amati yaitu identifikasi amylum dan simplisia secara
mikroskopik, maka kami dapat menyimpulkan:
a. Amylum
Dengan pembesaran mikroskop yang sama yaitu 40 X 10 bahwa:
Amylum manihot
Bentuknya berupa butir tunggal,butir agak bulat atau bersegi banyak butir kecil,
terdapat butir pati,dan juga hilus yang berupa garis dan titik, terdapat juga lamella

10

tapi tidak jelas,yang berupa butir majemuk sedikit.

Amylum maydis
Tidak punya lamella (tidak terlihat), Bentuknya berupa butir bersegi banyak,
bersudut, atau butir bulat,kemudian terdapat butir pati dan hilus yang berupa
rongga atau celah.

Amylum solani
Berbentuk butir tunggal, tidak beraturan, atau bulat telur, terdapat butir pati juga
lamella yang tidak terlihat jelas.

Amylum oryzae
Bentuknya yaitu butir bersegi banyak, tunggal atau majemuk bentuk bulat telur,
terdapat butir telur dan hilus yang tidak terlihat jelas dan tidak terdapat lamella.

Dari keempat jenis amylum yang kami amati, hanya dua jenis amylum yang tidak
punya lamella (tidak terlihat) yaitu amylum oryzae dan amylum maydis.

DAFTAR PUSTAKA
11

1.

Farmakope Indonesia edisi IV, Departemen Kesehatan Republik

Indonesia, Jakarta 1995.

2.

http://data-farmasi.blogspot.com/

12