Anatomi
Anatomi Thyroidea suatu kelenjar endokrin sangat
vaskular, merah kecoklatan yang terdiri dari
Lobus dextra dan sinistra yang dihubungkan oleh
isthmus pada garis tengah.
Gambar. Kelenjar tiroid normal dan goiter
Vaskularisasi kelenjar tyroid berasal dari ArteriTiroidea
Superior (cabang dari A. Carotis Eksterna) dan A. Tyroidea
Inferior (cabang A. Subklavia).
Definisi
Hipertiroid merupakan keadaan klinis akibat dari
produksi T4, T3 atau keduanya, hipertiroid juga
merupakan
suatu
keadaan
dimana
didapatkan
kelebihan kadar hormon tiroid bebas dalam darah
yang membuat metabolisme tubuh menjadi lebih cepat
dan dapat membuat kualitas hidup dari penderitanya
menurun
DEFINISI
Hipertiroid merupakan keadaan klinis akibat dari
produksi T4, T3
atau
keduanya,
hipertiroid
juga
merupakan suatu keadaan dimana didapatkan kelebihan
kadar hormon tiroid bebas dalam darah yang membuat
metabolisme tubuh menjadi lebih cepat dan dapat
membuat kualitas hidup dari penderitanya menurun
Epidemiologi
4-8 kali pada perempuan dibandingkan pria,
dengan insiden terbanyak pada dekade ketiga atau
keempat.
Indonesia berkisar antara 44,44%-48,93% dari
seluruh
gondok.
penderita
dengan
penyakit
kelenjar
Etiologi
Penyakit grave
Konsumsi Yoidum
Berlebihan
Toxic Nodular
Goiter
Produksi TSH
yang Abnormal
Tiroiditis (Radang
kelenjar Tiroid)
Beberapa
penyakit
yang
Hipertiroid yaitu :
1. Penyakit Graves
2. Toxic Nodular Goiter
3. Produksi TSH yang Abnormal
4. Tiroiditis (Radang kelenjar Tiroid)
5. Konsumsi Yoidum Berlebihan
menyebabkan
Klasifikasi
Struma nodusa memiliki beberapa stadiumyaitu :
Derajat 0 : tidak teraba pada pemeriksaan
Derajat I : teraba pada pemeriksaan, terlihat jika
kepala di tegakkan
Derajat II: mudah terlihat pada posisi kepala
normal
Derajat III : terlihat pada jarak jauh
Secara klinis pemeriksaan klinis strauma nodusa dapat
dibedakan menjadi :
1. Struma nodosa toxic
Struma nodusa toxic dapat dibedakan atas 2 yaitu
struma nodusa difusa toxic dan struma nodusa toxic.
2. Struma nodusa non toxic
Struma nodusa non toxic
kekurangan yodium yang kronik
disebabkan
oleh
Manifestasi klinis
1.Umum :
* Berat badan turun
* keletihan apatis
2.Kardiovaskuler :
Palpitasi
sesak nafas
Angina
* berkeringat
gagal jantung
* tidak tahan panas
sinustakikardi
fibrilasi atrium(getaran),
nadi kolaps
3.Neuromuskular :
* Gugup
* Gelisah
* Agitasi
* Tremor
* Koreoatetosis * Psikosis
* kelemahan otot
* hipereksitabel
* iritabel dan terus menerus
4. Gastrointestinal :
penderita mengalami peningkatan selera makan dan
konsumsi makanan.
penurunan berat badan yang progresif, kelelahan otot
yang abnormal, perubahan defekasi dengan konstipasi
atau diare, serta muntah.
5. Kulit :
warna kulit penderita biasanya agak kemerahan
(flushing) dengan warnah salmon yang khas dan
cenderung terasa hangat, lunak serta basah. namun
demikian, pasien yang berusia lanjut mungkin
kulitnya agak kering, tangan gemetar Pruritus,
eritema Palmaris, miksedema pretibial, rambut tipis.
6.Struma : Difus dengan/tanpa bising, nodosa
7.Mata :
* lakrimasi meningkat
* kemosis (edeme konjungtiva)
* Proptosis
* ulserasi kornea
* ptalmoplegia
* Diplobia
* Edema pupil
* penglihatan kabur.
Patofisiologi
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan adalah :
1. TSH serum (biasanya menurun)
2. T3, T4 (biasanya meningkat)
3. Test darah hormon tiroid
4. EKG
4. X-ray scan, CAT scan, MRI scan (untuk
mendeteksi adanya tumor)
5. Skintigrafi
Diagnosis
Diagnosa ditegakan berdasarkan anamnesis
ditanyakan mengenai pembesaran didaerah
leher depan, adanya keluhan-keluhan hipertiroid.
gambaran klinik hipertiroidi dapat ringan dengan
keluhan- keluhan yang sulit dibedakan dari reaksi
kecemasan,tetapi dapat berat sampai mengancam
jiwa penderita karena timbulnya hiperpireksia,
gangguan sirkulasi dan kolaps.
Untuk mendiagnosis hipertiroid bisa menggunakan Indeks Wayne seperti terlihat
pada tabel 1 di bawah ini.
N
Gejala yang baru timbul dan
Nilai
o
1
atau bertambah berat
Sesak saat kerja
+1
.
2
Berdebar
+2
.
3
Kelelahan
+2
Ada
Tidak
ada
1. Tyroid teraba
+3
-3
2. Bising tyroid
+2
-2
3. Exopthalmus
+2
+1
5. Hyper kinetik
+4
-2
6. Tremor jari
+1
7. Tangan panas
+2
-2
8. Tangan basah
+1
-1
9. Fibrilasi atrial
+4
0. < 80x/rmenit
-3
80-90x/menit
+3
4. Kelopak
mata
tertinggal
gerak bola mata
Suka udara panas
-5
.
5
Suka udara dingin
+5
.
6
Keringat berlebihan
+3
.
7
Gugup
+2
.
8
Nafsu makan naik
+3
Nadi teratur
>90x/menit
.
9
Nafsu makan turun
-3
.
1
Berat badan naik
-3
Tanda
.
4
.
1
Berat badan turun
+3
Hipertiroid : 20
Eutiroid: 11 18
Hipotiroid: <11
Inspeksi
1. Waktu memeriksa kelenjar tiroid hendaknya dipastikan arah sinar
yang tepat, sehingga masih memberi gambaran jelas pada kontur,
relief, tekstur kulit maupun benjolan.
2. Demikian pula harus diperhatikan apakah ada bekas luka
operasi.
3. Dengan dagu agak diangkat, perhatikan struktur dibagian bawahdepan leher.
4. Kelenjar tiroid normal biasanya tidak dapat dilihat dengan cara
inspeksi, kecuali pada orang yang amat kurus, namun apabila
dalam keadaan tertentu ditemukan deviasi trachea atau dilatasi
vena maka harus curiga kemungkinan adanya gondok substernal
Gambar 4. Pembesaran kelenjar tiroid
Palpasi
Syarat untuk palpasi tiroid yang baik adalah
menundukkan leher sedikit serta menoleh kearah tiroid
yang akan diperiksa (menoleh kekanan untuk memeriksa
tiroid kanan, maksudnya untuk memberi relaksasi otot
sternokleido mastoideus
kanan).
Pemeriksa berdiri
didepan pasien atau duduk setinggi pasien. Sebagian
pemeriksa lebih senang memeriksa tiroid dari belakang
pasien. Apapun yang dipilih langkah pertama ialah meraba
daerah tiroid dengan jari telunjuk (dan atau 3 jari) guna
memastikan ukuran, bentuk, konsistensi, nyeri tekan
dan simetri. Untuk mempermudah meraba tiroid, kita
dapat menggeser laring dan tiroid ke satu sisi dengan
menggunakan ibu jari atau jari tangan lain pada
kartilago tiroid. Kedua tiroid diperiksa dengan cara
yang sama sambil pasien melakukan gerakan menelan.
Ukuran tiroid dapat dinyatakan dalam bermacam-macam cara :
Misalnya dapat diterjemahkan dalam ukuran volume (cc)
dibandingkan dengan ukuran volume ibu jari pemeriksa
Ukuran lebar dan panjang (cm x cm) atau ukuran berat
(gram jaringan dengan perbandingan ibu jari pemeriksa yang
sudah ditera sendiri berdasarkan volume air yang tergeser oleh
ibu jari dan volume dikaitkan dengan berat daging dalam gram)
Mengukur luas permukaan kelenjar dapat digunakan sebagai
ukuran besarnya tiroid
Gradasi pembesaran kelenjar tiroid untuk keperluan
epidemiologi (untuk menentukan prevalensi gondok endemik)
menggunakan klasifikasi perez atau modifikasinya. Umumnya
wanita mempunayi gondok lebih besar sehingga lebih mudah
diraba.
Gambar 5. Palpasi pemeriksaan fisik
kelenjar tiroid
Auskultasi
Tidak banyak informasi yang dapat disumbangkan oleh
auskultasi tiroid, kecuali untuk mendengarkan bruit,
bising pembuluh di daerah gondok yang paling banyak
ditemukan pada gondok toksik (utamanya ditemukan di
lobus kanan tiroid-ingat vaskaularisasinya).
Diagnosis Banding
Hipotiroid
Tumor tiroid
Penatalaksanaaan
Tujuan pengobatan hipertiroid adalah produksi hormon
(obat anti tiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium
radioaktif, tiroidektomi sub total)
1.
Obat antitiroid
Obat
Dosis awal (mg/hari)
Pemeriksaan (mg/hari)
Karbimatol
30 60
5 20
Metimazol
30 60
5 20
Propiltiourasil
300 600
50 200
2. Pengobatan dengan yodium radioaktif
3.Operasi
(Tiroidektomi
mengatasi hipertiroid)
4. Pengobatan tambahan
subtotal
efektif
untuk
Pencega
Langkah yang harushan
dilakukan untuk menghindari diri
dari berbagai factor resiko. Beberapa pencegahan yang
dapat dilakukan adalah :
*Memberikan edukasi kepada masyarakat dalam
merubah pola prilaku makan dan memasyarakatkan
pemakaian garam yodium
*Mengkonsumsi makanan yang merupakan sumber
yodium seperti ikan laut
*Mengkonsumsi yodium
*Iodisai air minum untuk wilayah tertentu dengan
resiko tinggi.
*Memberikan suntikan yodium
Prognosis
Dubia ad bonam. Mortalitas krisis tiroid dengan
pengobatan adekuat adalah 10-15%
KESIMPULAN
Hipertiroid merupakan keadaan klinis akibat dari produksi T4,
T3 atau keduanya, hipertiroid juga merupakan suatu keadaan
dimana didapatkan kelebihan kadar hormon tiroid bebas dalam
darah yang membuat metabolisme tubuh menjadi lebih cepat
dan dapat membuat kualitas hidup dari penderitanya
menurun.Hipertiroid dapat disebabkan olehPenyakit Graves,
Toxic Nodular Goiter, produksi TSH yang Abnormal, tiroiditis
(Radang kelenjar Tiroid), konsumsi Yoidum Berlebihan. Untuk
mendiagnosa suatu penyakit hipertiroid kita perlu melakukan
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Setelah mendiagnosa dengan suatu hipertiroid kita dapat
memberi penatalaksanaan yang tepat yang sesuai terapinya.
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Meddy setiawan. 2010. Buku Ajar Endokrin. EGC : Jakarta
Diunduh dari www.academia.edu/4469848/anatomi_fisiologi_kelenjar_tiroid
Sudoyo, Aru W. Dkk.2010. Ilmu Penyakit DalamJilid II. Interna Publishing ; jakarta.
Guyton and Hall. 2010. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. EGC : jakarta
Anonim, 2012. Hyperthyroidism. National Endocrine and Metabolic Diseases Information
Service. http://www.endocrine.niddk.nih.gov (Diakses tanggal 22 Juni 2015)
Djokomoeljanto, R. 2009. Kelenjar Tiroid, Hipotiroidisme, Hipertiroidisme. Dalam Aru,
W.S., Bambang, S., Idrus, A., Marcellus, S.K., Siti, S. Editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Interna Publishing. Hal: 1993-2008.
Gandhour, A., Reust, C. 2011. Hyperthyroidisme: A Stepwise Approach to Management. The
Journal of Family Practice Vol. 60, No. 07: 388-395
Schteingart, D.E. 2006. Gangguan Kelenjar Tiroid. Dalam Huriawati H., Natalia S., Pita W.,
Dewi A.M (Editors). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Dalam. Penerbit
Buku Kedokteran: EGC. Hal: 1225-36
Anonim, 2010. Hyperthyroidism (Overacting thyroid). http://www.mayoclinic.com (Diakses
tanggal 19 Mei 2011).
Diunduh dari : http://www.emedicinehealth.com/hyperthyroidis-health/page8_em.htm