Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu tugas terpenting dari seorang perawat atau bidan adalah memberi obat yang
aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang
memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat
menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang
serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut
tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya.
Seorang perawat atau bidan juga memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat
dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan
tepat, memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar dan
berdasarkan pengetahuan.
1.2 Rumsan Masalah
A. Pengertian Obat
B. Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Obat
C. Tujuan dari pemberian obat
D. Prinsip Pemberian Obat
E. Penghitungan Dosis Obat
F. Penggunan Unit Dosis Obat
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan dan
mempermudah dalam pembelajaran rekan-rekan semua.

BAB II
PEMBAHASAN

Pemberian Obat dalam Wewenang Bidan


Dosis
Dosis Obat adalah sejumlah takaran obat yang diberikan kepada manusia atau hewan yang
dapat memberikan efek fisiologis.
Tujuan menghitung dosis
Setiap bahan kimia adalah racun, termasuk obat. Oleh karena itu dosis harus dihitung untuk
memastikan bahwa obat yang diberikan dapat memberikan efek terapi yang diinginkan.
Cara menghitung dosis
Dosis obat yang harus diberikan kepada pasien untuk menghasilkan efek yang diinginkan
tergantung dari banyak faktor, antara lain usia, bobot badan, luas permukaan tubuh, kelamin,
beratnya penyakit dan daya tangkis penderita.
Untuk obat-obat yang membutuhkan perhitungan dosis individual, mungkin diperlukan
penghitungan berdasarkan berat badan (BB) dan luas permukaan tubuh (LPT)..
Cara menghitung dosis
Rumus dasar yang mudah diingat dan lebih sering digunakan dalam perhitungan dosis obat
adalah :
Dx V = A
H
D = Dosis diinginkan (dosis diperintahkan dokter)
H = dosis ditangan (dosis pada label tempat obat)
V = bentuk obat yang tersedia (tablet, kapsul, cair)
A = jumlah hasil hitungan yang diberikan kepada pasien

Prinsip Pemberian Obat

Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar memberikan pil
untuk diminum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah (parenteral), namun juga
mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut.
Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh
perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan klien dengan mendorong klien untuk lebih proaktif jika membutuhkan pengobatan.
Perawat berusaha membantu klien dalam membangun pengertian yang benar dan jelas tentang
pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta bertanggungjawab
dalam pengambilan keputusa tentang pengobatan bersama dengan tenaga kesehatan lain. Perawat
dalam memberikan obat juga harus memperhatikan resep obat yang diberikan harus tepat,
hitungan yang tepat pada dosis yang diberikan sesuai resep dan selalu menggunakan prinsip 12
benar, yaitu:
1.

Benar Obat
Sebelum mempersiapkan obat ketempatnya perawat harus memperhatikan kebenaran

obat sebanyak 3 kali yaitu ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat, saat obat
diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan. Jika labelnya tidak terbaca,
isinya

tidak

boleh

dipakai

dan

harus

dikembalikan

ke

bagian

farmasi.

Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang yang asing
harus diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generik
atau kandungan obat. Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat
memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu perawat
mengingat nama obat dan kerjanya.
2.

Benar Dosis
Untuk menghindari kesalahan pemberian obat, maka penentuan dosis harus diperhatikan

dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus dilengkapi alat tetes, gelas ukur, spuit
atau sendok khusus, alat untuk membelah tablet dan lain-lain sehingga perhitungan obat benar
untuk diberikan kepada pasien.

1. Dosis yang diberikan klien sesuai dengan kondisi klien

2. Dosis yang diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan
3. Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang akan diberikan,
dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: tersedianya obat dan dosis obat yang
diresepkan/diminta, pertimbangan berat badan klien (mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosisi
obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain
4. Melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu
3.

Benar Pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan dengan cara

mengidentifikasi kebenaran obat dengan mencocokkan nama, nomor register, alamat dan
program pengobatan pada pasien.
1. Klien berhak untuk mengetahui alasan obat
2. Klien berhak untuk menolak penggunaan sebuah obat
3. Membedakan klien dengan dua nama yang sama
4.

Benar Cara Pemberian


Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan

pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang
diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan
peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
1. Oral adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena ekonomis,
paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau
bukal) seperti tablet ISDN.
2. Parenteral. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti disamping, enteron berarti usus,
jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset
/ perinfus).
3. Topikal yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya salep, losion,
krim, spray, tetes mata.
4. Rektal. Obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan
mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti
konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar / kejang (stesolid
supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat dibandingkan pemberian obat
dalam bentuk oral, namun sayangnya tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria.

5. Inhalasi yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel
untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal
pada salurannya.
5.

Benar Waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang dprogramkan, karena

berhubungan dengan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.
1. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
2. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. Misalnya seperti dua kali
sehari, tiga kali sehat, empat kali sehari dan 6 kali sehari sehingga kadar obat dalam
plasma tubuh dapat dipertimbangkan
3. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t ). Obat yang mempunyai
waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk obat yang memiliki waktu paruh
pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu tertentu
4. Pemberian obat juga memperhatikan diberikan sebelum atau sesudah makan atau
bersama makanan
5. Memberikan obat obat-obat seperti kalium dan aspirin yang dapat mengiritasi mukosa
lambung bersama-sama dengan makanan
6. Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk
memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan kontraindikasi
pemeriksaan obat
6.

Benar Dokumentasi
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat

itu diberikan. Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit. Dan
selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien
terhadap pengobatan.
7.

Benar Pendidikan Kesehatan Perihal Medikasi Klien


Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melakukan pendidikan kesehatan pada pasien,

keluarga dan masyarakat luas terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat secara
umum, penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh,
hasil yang diharapkan setelah pembeian obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat,
interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahan-perubahan yang diperlukan
dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit, dan sebagainya.

8.

Hak Klien Untuk Menolak


Klien berhak untuk menolak dalam pemberian obat. Perawat harus memberikan Inform

consent dalam pemberian obat.


9.

Benar Pengkajian

Perawat selalu memeriksa TTV (Tanda-tanda vital) sebelum pemberian obat.


10. Benar Evaluasi
Perawat selalu melihat/memantau efek kerja dari obat setelah pemberiannya.
11. Benar Reaksi Terhadap Makanan
Obat memiliki efektivitas jika diberikan pada waktu yang tepat. Jika obat itu harus
diminum sebelum makan (ante cimum atau a.c) untuk memperoleh kadar yang diperlukan harus
diberi satu jam sebelum makan misalnya tetrasiklin, dan sebaiknya ada obat yang harus diminum
setelah makan misalnya indometasin.
12. Benar Reaksi Dengan Obat Lain
Pada penggunaan obat seperti chloramphenicol diberikan dengan omeprazol penggunaan
pada penyakit kronis.
Tujuan Pemberian Obat
Ada beberapa tujuan dari pemberian obat ini dan diantara tujuan pemberian obatadalah :
1. Untuk membantu mengurangi atau menghilangkan rasa tidak nyaman seperti halnya nyeri
pada seseorang.
2. Efek samping dari obat dapat diminimalisasi sedikit mungkin.
3. Menyembuhkan penyakit seseorang. Harus diberikan kepada orang yang berkompeten dalam
hal ini adalah pihak medis.

Persiapan pemberian Obat


Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obat

Beberapa pedoman umum dalam pemberian obat dijelaskan dalam prosedur pemberian
obat obat yang benar yang terdiri dari 4 langkah (persiapan, pemberian, pencatatan, dan hal-hal
yang tidak boleh dalam pemberian obat)
Persiapan :
Cuci tangan sebelum menyiapkan obat
Periksa riwayat, kardek dan riwayat alergi obat
Periksa perintah pengobatan
Periksa label tempat obat sebanyak 3 kali
Periksa tanggal kadaluarsa
Periksa ulang perhitungan dosis obat dengan perawat lain
Pastikan kebenaran obat yang bersifat toksik dengan perawat lain atau ahli Farmasi
Tuang tablet atau kapsul kedalam tempat obat. Jika dosis obat dalam unit, buka obat
disisi tempat tidur pasien setelah memastikan kebenaran identifikasi pasien
Tuang cairan setinggi mata. Miniskus atau lengkung terendah dari cairan harus berada
pada garis dosis yang diminta
Encerkan obat-obat yang mengiritasi mukosa lambung (kalium, aspirin) atau berikan
bersama-sama dengan makanan
Pemberian
vPeriksa

identitas

pasien

melalui

gelang

identifikasi

v Tawarkan es batu sewaktu memberikan obat yang rasanya tidak enak. Jika mungkin berikan
obat yang rasanya tidak enak terlebih dahulu baru kemudian diikuti dengan obat dengan rasa
yang

menyenangkan

vBerikan
vBantu
v

hanya
klien

Tetaplah

mendapatkan
bersama

obat
posisi
klien

yang

yang
tepat
sampai

tergantung
obat

disiapkan
rute

pemberian

diminum/dipakai

v Jika memberikan obat pada sekelompok klien, berikan obat terakhir pada klien yang
memerlukan

bantuan

ekstra.

v Berikan tidak lebih dari 2,5 3 ml larutan intramuscular pada satu tempat. Bayi tidak boleh
menerima lebih dari 1 ml larutan intramuskuler pada satu tempat. Tidak boleh memberikan lebih
dari

Buang

ml

Buang

jika

melalui

jarum
obat

rute

dan

kedalam

subkutan.
tabung

tempat

Jangan
suntik

menutup
pada

khusus

jangan

kembali
tempat

kedalam

jarum

suntik.

yang

benar

tempat

sampah

v Buang larutan yang tidak terpakai dari ampul. Simpan larutan stabil yang tidak terpakai di
dalam tempat yang tepat (bila perlu masukkan ke dalam lemari es). Tulis tanggal waktu dibuka
serta
v

inisial
Simpan

narkotik

Anda
kedalam

laci

pada

atau

lemari

label

dengan

kunci

ganda

v Kunci untuk lemari narkotik harus disimpan oleh perawat dan tidak boleh disimpan didalam
laci atau lemari.
Pencatatan :
Laporkan kesalahan obat dengan segera kepada dokter dan perawat supervisor. Lengkapi
laporan peristiwa
Masukkan kedalam kolom, catatan obat yang diberikan, dosis, waktu rute, dan inisial Anda.
Catat obat segera setelah diberikan, khususnya dosis stat
Laporkan obat-obat yang ditolak dan alasan penolakan.
Catat jumlah cairan yang diminum bersama obat pada kolom intake dan output. Sediakan
cairan yang hanya diperbolehkan dalam diet.
Yang

Tidak

Jangan

sampai

konsentrasi

Jangan

memberikan

obat

Boleh
terpecah
yang

sewaktu

dikeluarkan

:
menyiapkan
oleh

orang

obat.
lain.

v Jangan mengeluarkan obat dari tempat obat dengan label yang sulit dibaca, atau yang labelnya
sebagian
v
v

terlepas

Jangan
Jangan

memindahkan

obat

mengeluarkan

atau
dari

satu
obat

tempat
ke

hilang
ke

tempat

tangan

lain
Anda

v
v

Jangan
Jangan

memberikan

menduga-duga

obat

yang

mengenai

obat

tanggalnya

dan

dosis

obat.

telah
Tanya

kadaluwarsa
jika

ragu-ragu

v Jangan memakaim obat yang telah mengendap, atau berubah warna, atau berawan.
v

Jangan

tinggalkan

obat-obat

yang

telah

dipersiapkan

v Jangan berikan suatu obat kepada klien jika ia memiliki alergi terhadap obat itu.
v Jangan memanggil nama klien sebagai satu-satunya cara untuk mengidentifikasi
v Jangan berikan jika klien mengatakan bahwa obat tersebut berlainan dengan apa yang telah ia
terima
v

sebelumnya.Periksa
Jangan

Faktor-Faktor

menutup
yang

Mengubah

perintah
kembali

pengobatan.
jarum

Respon

Terhadap

suntik.
Obat

Respon Farmakologik terhadap suatu obat bersifat komplek, maka dari itu perawat harus tahu
jumlah dan macam-macam factor yang mempengaruhi respon individu terhadap suatu
obat.Faktor-faktor yang mempengaruhi respon terhadap obat antara lain :
Absorpsi : suatu variable yang utama dalam rute pemberian obat. Absorpsi oral terjadi pada
saat partikel-partikel obat keluar dari saluran gastrointestinal (lambung dan usus halus) menuju
cairan tubuh. Setiap gangguan intestinal seperti muntah/diare akan mempengaruhi absorpsi obat.
Distribusi : dengan protein merupakan pengubah utama dari distribusi obat didalam tubuh.
Metabolisme / biotransformasi : semua bayi khususnya neonates dan bayi dengan BBLR
mempunyai fungsi hati dan ginjal yang belum matang, demikian pula lansia juga kehilangan
sebagian dari fungsi sel ginjalnya. Hal ini akan berpengaruh pada metabolism obat.
Ekskresi : rute utama dari ekskresi obat adalah melalui ginjal, empedu, feses, paru-paru, saliva,
dan juga keringat.
Usia : Bayi dan lansia lebih sensitive terhadap obat-obatan. Lansia hipersensitif terhadap
barbiturate dan epnekan SSP. Klien seperti ini mempunyai absorpsi yang buruk melalui saluran
gastrointestinal akibat berkurangnya sekresi lambung. Dosis bayi dihitung berdasarkan berat
badan dalam kilogram daripada berdasarkan usia biologis atau gastrointestinalnya.

Berat badan : dosis obat, misalnya anti neoplastik dapat diberikan sesuai berat badan. Orang
yang obesitas mungkin perlu penambahan dosis atau sebaliknya.
Toksisitas : Istilah ini merujuk pada gejala merugikan, yang bias terjadi pada dosis tertentu. Hal
ini sering terjadi pada orang-orang yang mempunyai gangguan hati dan ginjal.
Farmakokinetik : istilah ini merujuk pada factor-faktor genetic terhadap respon obat. Jika orang
tua Anda memiliki respon yang merugikan terhadap suatu obat, mungkin Anda juga bisa
memiliki hal yang sama.
Rute pemberian : obat-obat yang diberikan intravena lebih cepat bekerja daripada yang
diberikan peroral.
Saat pemberian : ada atau tidaknya makanan didalam lambung dapat mempengaruhi beberapa
kerja obat
Faktor emosional : komentar-komentar yang sugestif mengenai obat dan efek sampingnya
dapat mempengaruhi efek obat
Toleransi : kemampuan klien untuk merespon terhadap dosis tertentu dari suatu obat dapat
hilang setelah beberapa hari atau minggu setelah pemberian.
Efek penumpukan : ini terjadi jika obat dimetabolisme atau diekskresi lebih lambat daripada
kecepatan pemberian obat
Interaksi Obat : efek kombinasi obat dapat lebih besar, sama, atau lebih lemah dari efek obat
tunggal.

Penghitungan Dosis Obat

Rumus dasar yang mudah diingat dan lebih sering digunakan dalam perhitungan dosis obat
adalah

Dx V = AH

D = Dosis diinginkan (dosis diperintahkan dokter)


H = dosis ditangan (dosis pada label tempat obat)
V = bentuk obat yang tersedia (tablet, kapsul, cair)
A = jumlah hasil hitungan yang diberikan kepada pasien

Cara menghitung dosis


Dosis obat yang harus diberikan kepada pasien untuk menghasilkan efek yang diinginkan
tergantung dari banyak faktor, antara lain usia, bobot badan, luas permukaan tubuh, kelamin,
beratnya penyakit dan daya tangkis penderita. Untuk obat-obat yang membutuhkan perhitungan
dosis individual, mungkin diperlukan penghitungan berdasarkan berat badan (BB) dan luas
permukaan tubuh (LPT).
Cara menghitung dosis
Contoh :
Perintah :
ampisilin (polycililin) 0,5 g, PO, bid.
Tersedia (label Obat) : Polycillin 250mg/kapsul
Maka :
Konversi gram ke miligram (0,5 g = 500 mg)
500 x 1 Kapsul = 2 Kapsul
250

Cara menghitung dosis

Perintah : Kodein gr I (1), PO, STAT


Tersedia : Codein Sulfat 30 mg
Maka :
Konversi grain ke miligram (1 gr = 60 mg)
Keterangan :
60 x 1 Tablet = 2 Tablet
30
Cara menghitung dosis
Perintah : Ampisilin 100 mg, PO, qid
Tersedia :
Ampisilin (Polycillin ) 250

mg/5 mL

Maka :
100 X 5 mL = 2mL
250

Berdasarkan Usia
Usia
Rumus young semula banyak digunakan untuk menghitung dosis anak dengan usia antara 112 tahun.
n

XD

n + 12
Namun, kini rumus ini jarang digunakan lagi karena memberikan dosis yang terlalu rendah
bagi bayi dan anak di atas usia 12 tahun.
Berdasarkan Berat Badan
Berat Badan
Metode berat badan dalam penghitungan
memberikan hasil yang individual dalam
dosis obat.
Rumus :

Dosis /hari = dosis obat x berat badan


Berdasarkan Berat Badan
Contoh :
Perintah :
Fluorourasil (5-FU), 12 mg/kg/hari intravena, tidak melebihi 800 mg/hari. Berat dewasa
adalah 132 lb (pound).
Maka :
Konversi pound menjadi kilogram
(132 : 2,2 = 60 kg)
Dosis = 12 mg x 60 kg = 720 mg/kg/hari
Berdasarkan Berat Badan
Perintah :
Sefaklor (Ceclor) 20 mg/kg/hari

dalam

dosis terbagi tiga. Berat anak 31 lb (pound).


Label obat : cefaklor 125 mg/5 mL
Maka :
Konversi pound menjadi kilogram (31 : 2,2 = 14 kg)
Dosis = 20 mg x 14 kg = 280 mg/kg/hari
280 mg : 3 dosis = 93 mg/dosis.
93 x 5 mL = 3,7 mL
125
Berdasarkan Berat Badan
Cara perhitungan dosis anak
berdasarkan berat badan :
Cara Clark :
Dosis = Berat Badan (kg) x dewasa
70
Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh

Metode Luas Permukaan Tubuh


Metode Luas permukaan tubuh (LPT) dianggap sebagai yang paling tepat dalam menghitung
dosis obat untuk bayi, anak-anak, orang lanjut usia, dan mereka yang berat badannya rendah.
Untuk menghitung dosis obat dengan metode luas permukaan tubuh, kalikan dosis obat yang
diminta dengan angka meter persegi.
Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh
Contoh :
Perintah :
Siklofosfamid (cytoxan) 100 mg/m2/hari, PO.
Tinggi klien 5 kaki 10 inci (70 inci) dan
beratnya 160 lb.
Maka :
70 inci dan 160 lb, berpotongan pada skala nomogram pada 1,97 m2 (LPT)
Dosis = 100 mg x 1,97 m2
= 197 mg ~ 200 mg
Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh
Perintah :
Mefentoin (mesantoin) 200 mg/m2, PO
dalam dosis terbagi tiga.
Tinggi anak 42 inci dan beratnya 44 lb.
Maka :
42 inci dan 44 lb, berpotongan pada skala nomogram pada 0,8 m2
Dosis = 200 mg x 0,8 m2 = 160 mg/hari atau 50 mg t.i.d (tiga kali sehari).

Penggunaan Unit Dosis Obat

A. Sistem Metrik
1. Diciptakan o/ negara Perancis, pd akhir abad 18, kmd dipakai scr meluas.
2. Unit yg digunakan dlm sistem metrik adalah :
liter

: untuk volume cairan

gram : untuk berat zat padat


meter : untuk ukuran panjang

3. Dalam phitungan & pukuran obat hanya ada beberapa ekuivalensi yg digunakan yaitu :
1 liter (L)

1 ml

1 kilogram (Kg)

1 gram
1

miligram

1000
1

cc
1000

= 1000 mg (miligram)
= 1000 mcg (microgram)

B. Sistem Apothecaries
1. Sistem yg lebih tua dari sistem metrik
2. Menggunakan satuan jaman dahulu kala
3. Masih digunakan di AS dan Kanada
4. Pengukuran yg lazim digunakan adalah
Volume60 minims = 1 fluid dram
8 fluid drams = 1 fluid ounce
Berat 30 grains = 1 scruple

ml
(kubik

(mililiter)
sentimeter)

gr

(gram)

scruple = 1 dram

C. Sistem Takaran Rumah Tangga


1. Sistem ini digunakan khususnya utk bahan2 yg tdk memerlukan sistem pengukuran yg akurat
2. Satuan yg lazim digunakan adalah :
- tetes
- sendok teh
- sendok makan
- cangkir
- gelas
Pencegahan Injury Pengobatan
Eksternal
- Mode transpor atau cara perpindahan
- Manusia atau penyedia pelayanan kesehatan (contoh : agen nosokomial)
- Pola kepegawaian : kognitif, afektif, dan faktor psikomotor
- Fisik (contoh : rancangan struktur dan arahan masyarakat, bangunan dan atau perlengkapan)
- Nutrisi (contoh : vitamin dan tipe makanan)
- Biologikal ( contoh : tingkat imunisasi dalam masyarakat, mikroorganisme)
- Kimia (polutan, racun, obat, agen farmasi, alkohol, kafein nikotin, bahan pengawet, kosmetik,
celupan (zat warna kain))

Internal
- Psikolgik (orientasi afektif)
- Mal nutrisi
- Bentuk darah abnormal, contoh : leukositosis/leukopenia, perubahan faktor pembekuan,
trombositopeni, sickle cell, thalassemia, penurunan Hb, Imun-autoimum tidak berfungsi.
- Biokimia, fungsi regulasi (contoh : tidak berfungsinya sensoris)
- Disfugsi gabungan
- Disfungsi efektor
- Hipoksia jaringan
- Perkembangan usia (fisiologik, psikososial)
- Fisik (contoh : kerusakan kulit/tidak utuh, berhubungan dengan mobilitas)
Peran dan Tanggung Jawab Bidan
Dalam memberikan obat kepada klien, bidan harus
memperhatikan hal-hal berikut
1.

Interpretasikan dengan tepat resep obat yang dibutuhkan

- Bidan bertanggung jawab untuk melakukan

interpretasi yang tepat terhadap order yang

diberikan.

- Saat order tidak terbaca segera konfirmasi.


- Lakukan evaluasi jumlah dan cara pemberian
- Bila perawat tidak yakin cara pemberian

- dosis tanyakan langsung tim medis karena


- bidan berhak dan bertanggung jawab atas klien
2. Hitung dengan tepat dosis obat yang akan diberikan sesuai dengan resep.
- Permintaan dosis obat biasanya dengan angka
- Bila dosis obat yang tersedia dengan dosis yang
- diinginkan berbeda gunakan rumus untuk
- menghitung dosis

BAB III

PENUTUP
Kesimpulan
Obat adalah semua zat baik dari alam (hewan maupun tumbuhan) atau kimiawi yang
dalam takaran (dosis) yang tepat atau layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah
penyakit atau gejala-gejalanya dan digunakan sebagai perawatan atau pengobatan bahkan
pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuh.

REFRERENSI

Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta 1996


Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan Joyce L. Kee dan Evelyn R. Hayes
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner dan Suddarth Edisi 8. Penerbit Buku
Kedokteran 2001
Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta 1986 IPI (Informasi Akurat Produk Farmasi di Indonesia)
http://hermanbagus.blogspot.com/2012/06/makalah-pemberian-obat-melalui-mataby.html#ixzz2MucLD1pH