Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Bauksit adalah endapan yang memiliki kandungan mineral utama

alumunium hidroksida, yaitu berupa gibbsite, bohmite, dan diaspore. Selain itu
terdapat beberapa mineral pengotor lain seperti silika, oksida besi, dan titanium.
Bijih bauksit ini kemudian diolah menjadi alumunium. Sebagian besar alumunium
yang dihasilkan digunakan untuk pabrik peleburan alumunium, pemanfaatan
lebih lanjutnya yaitu untuk bidang konstruksi, transportasi, pengemasan dan
listrik yang menggunakan bahan-bahan dari alumunium. Alumunium juga dapat
digunakan untuk keperluan lain, misalnya yaitu untuk pembuatan batu tahan
panas (refractories), industri gelas, keramik, bahan penggosok, dan industri kimia
(Tim Analisa

dan

Evaluasi

Komoditi

Mineral

Internasional

Proyek

Pengembangan Pusat Informasi Mineral,1984).


Bauksit merupakan salah satu komoditas tambang yang dianggap bernilai
ekonomis di Indonesia. Endapan bauksit di Indonesia terletak di Pulau Bintan dan
Kalimantan Barat. Berdasarkan data dari Suhala et al. (1995), endapan bauksit
yang sudah dieksplorasi dan ditambang di Indonesia yaitu di Pulau Bintan yang
telah dikembangkan sejak tahun 1935 oleh Nederland Indische Bauxite
Explotatie Maatschappy. Pengembangan eksplorasi bauksit di Kalimantan
Barat sendiri relatif masih baru dibandingkan dengan eksplorasi bauksit di Pulau
Bintan. Di Kalimantan Barat, bauksit awalnya ditemukan pada tahun 1952 di
daerah Bengkayang. Namun, bauksit ini memiliki kadar alumunium yang rendah
(34,6%) dan kandungan silika yang tinggi (32,5%) sehingga dinilai kurang
ekonomis (Tarring et al., 1952 dalam Suwarna et al., 1995). Eksplorasi berikutnya
yaitu dilakukan pihak Belanda pada tahun 1976 dan diketahui bahwa terdapat
cadangan yang cukup besar namun low grade, cadangan yang ada diperkirakan
sekitar 300 juta ton (Leuween et al., 1994). Penyebaran bauksit di Kalimantan
Barat sendiri diperkirakan mengikuti jalur penyebaran busur laterit yaitu dari arah
barat laut hingga tenggara meliputi kabupaten Ketapang, Sanggau, Landak,
Kubu Raya, Pontianak, Bengkayang, hingga ke Singkawang (Surata et al., 2010).

Saat ini, proses penambangan bauksit sudah dilakukan di daerah


Kalimantan Barat,
eksplorasi

lebih

seiring

dengan

proses

penambangan,

tahap

lanjut dilakukan dengan mencari daerah-daerah prospek

yang memiliki kesamaan genetik dengan daerah cadangan bauksit yang telah
terbukti. Salah satu eksplorasi bauksit di Kalimantan Barat dilakukan oleh pihak
Antam sejak tahun 2007, di daerah Sanggau, Tayan, Mempawah, Landak dan
beberapa daerah lain. Diketahui bahwa bauksit yang dihasilkan dari tiaptiap

tempat

tersebut

memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan

karakteristik ini disebabkan oleh berbagai


pembentukan

laterit

seperti

faktor

yang

mempengaruhi

litologi, topografi, iklim, dan struktur geologi.

Salah satu lokasi tambang bauksit di Kalimantan Barat

yang

memiliki

cadangan besar yaitu di daerah Tayan yang termasuk dalam IUP PT Antam.
Sumber daya bauksit terindikasi yang potensial yaitu sekitar 104 juta ton kubik,
dengan grade rata-rata yaitu T-Al2O3 = 46%, T- SiO2 = 13%, R-SiO2 = 4%,
Fe2O3 = 12% dan TiO2 = 0,9%. (Surata, et al., 2010). Sumberdaya bauksit di
daerah Tayan ini jumlahnya lebih besar di bandingkan dengan daerah lain. Dan
hal ini menjadikan daerah Tayan menarik untuk diteliti lebih lanjut, terutama
untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lateritisasi di daerah ini.
Faktor-faktor itulah yang menyebabkan endapan bauksit di daerah Tayan ini
jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan daerah lain. Faktor-faktor yang
mengontrol lateritisasi dapat diketahui dari karakteristik mineralogi dan geokimia
endapan bauksit yang ada di daerah tersebut. Dari karakteristik geokimia dan
mineraloginya, kita dapat mengetahui perubahan- perubahan yang ada pada
tiap-tiap zona endapan laterit. Dari karakteristik geokimianya, kita dapat
mengetahui pengayaan unsur Al dari

bedrock hingga terubah menjadi

endapan laterit. Dari karakteristik mineraloginya, kita dapat mengetahui


perubahan-perubahan mineral yang ada dari bedrock dan yang kemudian
terubah menjadi endapan laterit.
1.2

Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah:
-

Mengetahui genesa keterbentukan dari mineral bauksit.


Mengetahui karakteristik mineralogi dan geokimia dari endapan
bauksit yang terdapat di Tambang Tayan, Kalimantan Barat.

Mengetahui faktor-faktor yang mengontrol pembentukkan bauksit.

Mengetahui perubahan komposisi mineralogi dan geokimia dari


bedrock menjadi endapan bauksit,

1.3

Batasan Masalah
Tugas fokus pada pembahasan lateritisasi, mineralogi dan perilaku

geokimia unsur, dari endapan bauksit yang ada di tambang Tayan, Kalimantan
Barat.
1.4

Lokasi Daerah Penelitian


Lokasi penelitian terletak di tambang bauksit Tayan, Kalimantan
Barat. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar I.1

Gambar 1.1
Lokasi penelitian di Kalimantan Barat

1.6

Peneliti Terdahulu
Beberapa peneliti terdahulu yang telah melakukan penelitian tentang

bauksit di Kalimantan Barat yaitu :


1.

Patterson, S.H., H.F Kurtz, J.C Olson, dan C.L Neeley (1986)
Endapan bauksit yang terdapat di daerah Kalimantan Barat merupakan

tipe endapan laterit yang terbentuk dari proses pengangkatan dan pemotongan
dataran tinggi. Sehingga kemudian terbentuk bukit-bukit rendah yang bertudung

dan tingginya sekitar 15-60 meter dari ketinggian sekitar. Bukit ini dikelilingi oleh
daerah berawa-rawa.
2. Surata (2007)
Bauksit yang terbentuk di daerah Tayan berasal dari batuan induk
berupa diorit kuarsa dan gabro. Karakteristik dari batuan induknya ini akan
sangat berpengaruh terhadap karakteristik bauksit yang dihasilkan. Batuan
induk yang berupa diorit kuarsa dan gabro ini diuji ciri fisiknya dan
kehadiran

mineral- mineral seperti gibbsite, kuarsa, dan oksida besi pada

batuan induk tersebut. Hasil yang didapatkan adalah bauksit yang berasal dari
diorit kuarsa memiliki karakteristik berupa sifat fisik yang tidak homogen dan
juga rapuh. Mineral gibbsite yang ada memiliki keterikatan dengan mineral
kuarsa dengan rasio total SiO2/Fe2O3 > 1. Bauksit tipe ini kemudian dinamakan
bauksit dengan SiO2 tinggi. Bauksit yang berasal dari batuan induk berupa
gabro

memiliki

karakteristik berupa sifat fisik yang relatif homogen dan

kompak. Mineral gibbsite yang ada memiliki keterikatan dengan oksida besi
dan rasio total SiO2/Fe2O3 <1. Bauksit tipe ini disebut dengan bauksit Fe
tinggi. Berdasarkan uji komposisi kimia, didapatkan hasil bahwa pada bauksit
tipe SiO2 tinggi, kadar total Al2O3 memiliki keterikatan negatif dengan kadar
total SiO2, sedangkan pada bauksit tipe Fe2O3 tinggi, kadar total Al2O3
memiliki keterikatan negatif dengan kadar total Fe2O3 .
3. Surata, M., O. Suksiano, M. Pratomo, dan Supriyadi (2010)
Eksplorasi bauksit yang dilakukan di daerah Mempawah dan Landak,
Kalimantan Barat didasarkan pada pendekatan perbandingan genetik kedua
area tersebut dengan daerah sumberdaya bauksit terbukti yang telah ada di
Kalimantan Barat. Perbandingannya meliputi komposisi batuan sumber,
morfologi, dan bukti lain yang ditemukan dari proses pengendapan bauksit.
Terdapat dua karakteristik bauksit yang ditemukan di kedua area tersebut. Di
daerah Mempawah, litologinya didominasi oleh andesit dan gabro yang
menghasilkan endapan bauksit dengan rasio Fe2O3/T-SiO2 > 1 dan di daerah
Landak, litologinya didominasi oleh granodiorit Mesibao yang menghasilkan
endapan bauksit dengan rasio Fe2O3/T- SiO2 < 1.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Umum
Bauksit merupakan endapan yang mengalami pemerkayaan alumunium

oksida, yang ditemukan di Les Baux di dekat Avigon, Perancis Selatan. Bauksit
terbentuk dari batuan yang mempunyai kadar alumunium nisbi tinggi, kadar Fe
rendah dan tidak atau sedikit mengandung kuarsa (SiO2) bebas atau tidak
mengandung sama sekali. Bentuknya menyerupai cellular atau tanah liat dan
kadang-kadang berstruktur pisolitic. Secara makroskopis bauksit berbentuk
amorf. Kekerasan bauksit berkisar antara 13 skala Mohs dan berat jenis
berkisar antara 2,5 2,6.
Bauksit merupakan bahan yang heterogen, yang mempunyai mineral
dengan susunan terutama dari oksida aluminium, yaitu berupa mineral buhmit
(Al2O3H2O) dan mineral gibsit (Al2O3 .3H2O). Secara umum bauksit
mengandung Al2O3 sebanyak 45-65%, SiO2 1-12%, Fe2O3 2-25%, TiO2 >3%,
dan H2O 14-36%. Bauksit merupakan kelompok mineral aluminium hidroksida
yang dalam keadaan murni berwarna putih atau kekuningan. Bahan galian yang
ditambang dengan menggunakan shovel ini, apabila dicampur dengan bahan
mineral lain, misalkan chrome, baja, atau nikel, menghasilkan aluminium yang
sangat bagus (Alloy). Aluminium ini tahan panas, kuat namun lentur dan mudah
dibentuk. Untuk, onderdil otomotif, perkapalan dan industri pesawat terbang,
menggunakan bauksit secara massif.
Bauksit kadang-kadang dianggap menjadi mineral, tetapi sebenarnya
merupakan batu. Bauksit merupakan bijih utama aluminium. Bauksit terbentuk
pada iklim tropis sebagai hasil pelapukan bahan kimia; pencucian silika dalam
batuan aluminium-bearing. Ini terdiri dari satu atau lebih dari tiga aluminium
hidroksida mineral, gibsit bohmite, diaspore, dalam proporsi yang berbeda-beda.
Gibsite adalah aluminium hidroksida yang benar, sementara bohmite dan

diaspore adalah aluminium oksida hidroksida. Diaspore berbeda dari bohmite


dalam struktur kristal dan memerlukan suhu yang lebih tinggi untuk dehidrasi
cepat. Bauksit juga mengandung jumlah bervariasi oksida besi, oksida silikon,
titanium, dan jumlah kecil dari tanah liat dan silikat lainnya.
Bauksit bisa sangat keras, tetapi umumnya cukup lembut dan seperti
tanah liat. Muncul dalam warna yang berbeda, termasuk, coklat, tan, kuning,
merah, putih dan berbagai kombinasi. Namun lebih sering muncul dengan tanpa
warna dibandingkan dengan warna kemerahan, yang sesuai dengan jumlah
kandungan oksida besinya. Bauksit ada dalam tiga bentuk: pisolitic longgar,
dengan butir marmer ukuran kecil dan bulat, disemen pisolitic, dengan butiran
kecil yang disemen bersama-sama, dan tubular, potongan yang lebih besar
dengan rongga tidak menentu. (Mineral Institut Informasi, USGS, 2005, DuniaAluminium, 2000.)

2.2

Mineralogi dan Kandungan Kimia Dari Bauksit


Bauksit adalah batuan sedimen, sehingga tidak memiliki rumus kimia

yang tepat. Hal ini terutama terdiri dari mineral alumina yang terhidrasi seperti
gibsit Al(OH)3 atau Al2O3. 3H2O)] dalam deposit (endapan) tropis yang lebih
baru, atau keadaan subtropis, endapan bauksit memiliki mineral utama boehmite
-AlO(OH) atau Al2O3.H20] dan beberapa-diaspore AlO(OH) atau Al2O3.H20].
Komposisi kimia rata-rata bauksit, berat, adalah 45 sampai 60% Al2O3 dan 20
sampai 30% Fe2O3. Berat sisanya terdiri dari silika (kuarsa, kalsedon dan
kaolinit, karbonat (kalsit dan magnesit dolomit, titanium dioksida dan air).
Pembentukan bauxites laterit terjadi di seluruh dunia di 145 - 2-juta-tahun yang
lalu yaitu di pesisir Kapur dan Tersier, Endapan bauksit berbentuk sabuk
memanjang, kadang-kadang panjangnya mencapai ratusan kilometer, sejajar
dengan garis pantai Tersier Bawah di India dan Amerika Selatan; distribusi
mereka tidak terkait dengan komposisi mineralogi tertentu dari batuan induknya.
Bijih bauksit merupakan mineral oksida yang sumber utamanya adalah:
1. Al2O3.3H2O, Gibbsit yang sifatnya mudah larut

2. Al2O3.3H2O, Bohmit yang sifarnya susah larut dan Diaspore yang tidak
larut.

2.3

Endapan Bauksit
Bauksit ditemukan dalam empat jenis deposit meliputi endapan: selimut,

saku, interlayered, dan detrital. Endapan Selimut adalah lapisan datar bauksit,
rata-rata 4-6 meter tebal, tetapi aa juga endapan selimut yang memiliki
ketebalan dari satu meter sampai empat puluh meter (1-40 meter). Endapan
Selimut terutama terjadi di Afrika Barat, Australia, Amerika Selatan dan India.
Endapan Pocket (saku), sebagai nama akan berarti, adalah kantong-kantong
bauksit di dalam tanah, mulai dari kurang dari 1-30 meter. Mereka dapat
ditemukan terisolasi atau sebagai endapan tumpang tindih. Endapan Pocket
ditemukan di Jamaika, Hispaniola, dan Eropa Selatan. Endapan Interlayered
pernah ada sebagai jenis lain batu, tapi seiring waktu telah tertutupi dan
dikemas ke bawah. Mereka kemudian lebih terkompresi daripada jenis lain yang
dipersamakan. Endapan Interlayered terjadi di Amerika, Suriname, Guyana
Brazil, Rusia, Cina, Hongaria dan deposito Mediterranean. Detrital tidak sangat
umum. Endapan detrital terbentuk ketika bauksit dari jenis endapan lain
mengikis dan membangun tempat lain. Endapan detritial hanya substansial dan
terletak di Arkansas. (Mineral Institut Informasi, Dunia-Aluminium, 2000.)

2.4

Genesa Keterbentukan Bauksit Di Tayan Kalimantan Barat


Laterit didefinisikan sebagai produk yang dihasilkan dari pelapukan yang

kuat pada daerah-daerah tropis, lembab, dan hangat yang kaya akan lempung
kalolinit sebagai oksida dan oksihidroksida dari Fe dan Al. Laterit penting
secara ekonomi karena mengandung logam alumunium (bauksit)
Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan
tersebut antara lain nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, gabro, basalt,
hornfels, schist, slate, kaolinitic, shale, limestone dan phonolite. Apabila batuanbatuan tersebut mengalami pelapukan, mineral yang mudah larut akan

terlarutkan, seperti mineral mineral alkali, sedangkan mineral mineral yang


tahan akan pelapukan akan terakumulasikan.
Proses yang berlangsung pada bagian atas dari profil laterit berupa
pelarutan inkongruen yaitu :
Feldspar (kehilangan Si) kaolinit (kehilangan Si) gibsit (Al(OH)3)
Variasi iklim musiman juga dianggap penting dalam pembentukan formasi
bauksit. Musim panas dan dingin membuat fluktuasi pada muka air tanah, yang
membuat terjadinya pelarutan dan transfer massa. Variasi pada profil bauksit
sebagai transformasi dari gibsit yang terdehidrasi menjadi versi yang terhidrasi
secara relatif, boehemit atau diaspor (ALO(OH)), dihasilkan dari fluktuasi
tersebut. Profil mineralogical untuk zona mineralisasi bauksit dapat bervariabel.
Di daerah tropis, pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk dari
mineral silikat dan lempung akan terpecah-pecah dan silikanya terpisahkan
sedangkan oksida alumunium dan oksida besi terkonsentrasi sebagai residu.
Proses ini berlangsung terus dalam waktu yang cukup dan produk pelapukan
terhindar dari erosi, akan menghasilkan endapan lateritik.
Kandungan alumunium yang tinggi di batuan asal bukan merupakan
syarat utama dalam pembentukan bauksit, tetapi yang lebih penting adalah
intensitas dan lamanya proses laterisasi.
Batuan seperti nepheline, syenite, granodiorit dan lain-lain adalah batuan
yang cocok untuk membentuk mineral aluminium hidrat, batuan asal tersebut
selanjutnya akan mendapatkan proses laterisasi karena proses perubahan
temperatur secara terus menerus, sehingga pada kondisi ini batuan akan mudah
lapuk dan hancur. Pada musim hujan air akan membawa elemen yang mudah
larut,tetapi untuk elemen yang tidak mudah larut akan tinggal di batuan yang
selanjutnya membentuk residu, jika residu tersebut kaya aluminium maka inilah
yang disebut bauksit laterit, proses pengendapan bauksit membutuhkan daerah
yang stabil, dimana proses erosi vertikal tidak aktif lagi, kondisi ini biasanya

terjadi di daerah paneplain, tetapi tetap harus memerlukan sirkulasi air tanah
untuk mengangkut elemen tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bauksit:
-

Sumber batuan yang kaya akan unsur unsur Al.


Wilayah subtropis dengan lingkungan penguapan yang tinggi
Suhu harian rata rata lebih dari 25 derajat
Topografi bergelombang
Daerah stabil
Formasi batuan yang berada diatas air permanen.
Beberapa faktor eksternal juga dapat mempercepat proses pelapukan

seperti struktur geologi, frekuensi curah hujan dan suhu harian yang tinggi
(daerah subtropis) dan juga asam organik, yang terakhir ini berasal dari
tanaman yang akan menurunkan pH tanah menjadi kurang dari 4. Pada ph < 4
dan pH > 10 elemen Al2O3 akan dilepaskan , tetapi SiO2 hanya akan terlepas
pada pH > 9 dan pH 10, karena pH normal air tanah adalah 7, maka pada
kedalaman tertentu akan terhadi pelepasan Al2O3 dan SiO2, hal ini sudah tentu
terkait dengan topografi yaitu pada kondisi slope yang pendek.
Unsur unsur lain seperti Ca, Na, K dan Mg akan diangkut oleh air tanah
melalui sistem drainase pada daerah rendah ke daerah yang cekung,
sedimentasi residu Al2O3SiO3 dan garam Fe pada pH antara 4 dan 9
disebabkan oleh normalisasi pH tanah pada kedalaman tertentu. Pada kondisi
pH 4-9, silika dari feldspar akan bercampur dengan air (H20) membentuk silikat
alumina hidrat dengan Al2O3 SiO3 dan H2O.
Mineralisasi selama proses pembentukan bauksit yaitu dalam bauksit
ada terdapat prefensi untuk normalisasi hidroksida, oksida terhidrasi dan oksida
Al, Fe dan Ti, tetapi dalam hal ini lapisan silikat dan kuarsa pun dapat terbentuk.
Pembebasan unsur unsur dari mineral atau batuan diatur oleh :
-

Obligasi dalam kisi kristal mineral yang akan hancur


Kelarutan pada fase mineral sekunder
pH dan Eh dari larutan
pengisian elemen , misalnya Fe
suhu dan konsentrasi pelapukan larutan
ion lain dalam pembentukan larutan.

2.5

Keadaan Lingkungan
Bauksit ditemukan terutama di daerah tropis dan subtropis di dekat

khatulistiwa, namun ada beberapa daerah di Eropa yang mengandung bauksit,


dan ada begitu banyak bauksit di Arkansas. Mayor endapan bauksit dapat
ditemukan di daerah Karibia dan Mediterania. Australia memiliki 40% bauksit di
dunia, diikuti oleh New Guinea dan kemudian Jamaika. (World-Aluminium,
2000).
Bijih bauksit terjadi di daerah tropis dan subtropis yang memungkinkan
pelapukan yang sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan yang mempunyai
kadar alumunium nisbi tinggi, kadar Fe rendah dan tidak atau sedikit
mengandung kuarsa (SiO2) bebas atau tidak mengandung sama sekali.
Bentuknya menyerupai cellular atau tanah liat dan kadang-kadang berstruktur
pisolitic. Secara makroskopis bauksit berbentuk amorf. Kekerasan bauksit
berkisar antara 1 3 skala Mohs dan berat jenis berkisar antara 2,5 2,6.
Kondisi kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan bauksit secara
optimum adalah ;
-

Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang

kaya alumunium.
Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan.
Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan

mudah.
Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering).
Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan.
Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan

terjadinya pergerakan air dengan tingkat erosi minimum.


Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan.[3]