Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN

PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LANJUT

KAJIAN TEKNIS PENGOLAHAN ANDESIT PT. ANDESIT


PARAHYANGAN

Oleh :

Raditya Aricardo T.H. 1409055007


M. Kesuma Negara 1409055017
Santi 1509055001
Andreas Marojahan G. 1509055002
Ashabul Kahfi 1509055009
Krisna Wisnu Sarwenda 1509055015

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2018
LAPORAN

PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LANJUT

KAJIAN TEKNIS PENGOLAHAN ANDESIT PT. ANDESIT


PARAHYANGAN

Oleh :

Raditya Aricardo T.H. 1409055007


M. Kesuma Negara 1409055017
Santi 1509055001
Andreas Marojahan G. 1509055002
Ashabul Kahfi 1509055009
Krisna Wisnu Sarwenda 1509055015

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji kehadirat Tuhan yang maha Esa yang menciptakan manusia
berpasang-pasang dan membekalinya dengan berbagai karakter berfikir, sehingga
diciptakan mereka sebagai pemimpin di muka bumi ini. Dengan hanya berucap
hamdalah karena atas rahmat Tuhan semata kami berhasil menyelesaikan laporan
pengolahan bahan galian lanjut ini.

Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam pembentukan makalah ini, terutama kepada :

1. Bapak Muh. Dahlan Balfas,S.T.,M.T. selaku Dekan Fakultas Teknik


Universitas Mulawarman.
2. Bapak Dr. Shalaho Dina Devy,S.T.,M.Eng. selaku Kepala Program Studi S1
Teknik Pertambangan.
3. Bapak Windhu Nugroho,S.T.,M.T. selaku Dosen Pengampu mata kuliah
pengolahan bahan galian lanjut.
4. Kedua orang tua yang selalu memotivasi kami dan seluruh teman-teman S1
Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman.

Pada akhirnya, kami pun hanya bisa kembali menyandarkan seluruh beban kami
dan cita-cita kami kepada Tuhan semata. Kami menyadari bahwa tulisan kami ini
masih kurang dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami
butuhkan. Kami berharap semoga proposal kami ini memberi manfaat kepada
semua pihak.

Samarinda, 01 Juni 2018


Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman

Halaman Sampul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 2
1.3 Batasan Masalah 2
1.4 Lokasi Penambangan dan Pengolahan 2
1.5 Pemrakarsa Perusahaan 3
1.6 Profil Perusahaan 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
2.1 Andesit 5
2.1.1 Deskripsi Megaskopis 5
2.1.2 Deskripsi Mineral dan Batuan 6
2.2 Petrogenesa dan Komposisi Andesit 7
2.3 Klasifikasi Thrope and Brown 8
2.4 eksplorasi, Pengeboran, Penambangan dan Peremukan 9
2.4.1 Eksplorasi 9
2.4.2 Pengeboran 9
2.4.3 Penambangan 10
2.4.4 Peremukan 11
2.5 Potensi Andesit di Indonesia dan Kegunaannya 12
BAB III RANCANGAN PENGOLAHAN ANDESIT 16
3.1 Pengolahan dan Penggunaan Alat 16
3.2 Dasar Pemilihan Alat 17
3.2.1 Pemnilihan Alat Hopper 18
3.2.2 Pemilihan Alat Feeder 18
3.2.3 Pemilihan Alat Peremuk 19
3.3 Diagram Alir Pengolahan 19
BAB IV MATERIAL BALANCE 21
BAB V PENJUALAN DAN PEMASARAN 28
5.1 Produk 28
5.2 Pemasaran Produk 28
BAB VI PENUTUP 29
6.1 Kesimpulan 29
6.2 Saran 29
DAFTAR PUSTAKA 30
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan merupakan usaha kedua terbesar manusia setelah agrikultur. Kedua


bidang ini berperingkat sama sebagai industri utama dalam kehidupan manusia.
Di Indonesia, pertambangan merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan perekonomian masyarakat yang semakin berkembang dalam hal
penggunaan mineral-mineral ekonomis untuk pembangunan dan pemenuhan
kebutuhan penunjang. Indonesia juga salah satu negara di dunia yang terkenal
memiliki sumberdaya alam yang unggul baik itu dari segi kualitas maupun dari
segi kuantitas, termasuk didalamnya adalah sumber daya alam yang merupakan
bahan galian atau sumber daya pertambangan.

Menurut UU no 4 tahun 2009 penggolongan bahan galian diatur berdasarkan


pada kelompok usaha pertambangan sesuai pasal 4 yaitu :
a. Pertambangan Mineral
b. Pertambangan Baatubara

Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan


atas :
a. Pertambangan mineral radio aktif
b. Pertambangan mineral logam
c. Pertambangan mineral bukan logam
d. Pertambangan batuan

Salah satu bahan galian yang cukup melimpah di indonesia adalah andesit.
Andesit adalah jenis batuan beku vulkanik, ekstrusif, komposisi menengah,
dengan tekstur afanitik hingga porfiritik. Dalam pengertian umum, andesit adalah
jenis peralihan antara basalt dan dasit, dengan rentang silikon dioksida (SiO2)
adalah 57-63%.

Andesit umumnya ditemukan pada lingkungan subduksi tektonik di wilayah


perbatasan lautan seperti di pantai barat amerika selatan, atau daerah-daerah

1
dengan aktivitas vulkanik yang tinggi seperti indonesia. Nama andesit berasal dari
nama pegunungan andes. Andesit banyak digunakan dalam bangunan-bangunan
megalitik, candi dan piramida. Begitu juga perkakas-perkakas dari zaman pra
sejarah banyak memakai material ini misalnya, sarkofagus, punden berundak,
lumpang batu, meja batu, arca dan lain-lain. Di zaman sekarang andesit ini banyak
digunakan sebagai material untuk nisan, cobek, lumpang jamu, cungkup atau kap
lampu taman dan arca-arca untuk hiasan.

Andesit di indonesia banyak ditemukan di daerah Jawa Barat, DI Yogyakarta,


Jawa Timur, Jawa Tengah, Papua, NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Bengkulu, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara
dan beberapa daerah lainnya. Salah satu perusahaan yang berminat dalam
mengusahakan andesit ini adalah PT. Andesit parahyangan.

PT. Andesit Parahyangan merupakan perusahaan yang bergerak pada


penambangan dan pengolahan andesit di wilayah Kabupaten Bandung Barat
Provinsi Jawa Barat. Hasil pengolahan andesit pada perusahaan ini digunakan
sebagai bahan bangunan di area Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan berdasarkan latar belakang di atas adalah sebagai berikut :

1. Mendesain rancangan pengolahan andesit PT. Andesit parahyangan


2. Menentukan teknis pemilihan alat pada pengolahan andesit PT. Andesit
parahyangan
3. Mendapatkan produktivitas maksimum unit peremuk pada pengolahan
andesit PT. Andesit parahyangan

1.3 Batasan Masalah

Pada laporan ini hanya akan dibahas mengenai processing plant pada PT. Andesit
Parahyangan. Pengolahan andesit juga hanya digunakan untuk suplai bahan
bangunan di wilayah sekitar Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

1.4 Lokasi Penambangan dan Pengolahan

2
PT. Andesit Parahyangan terletak Desa Mukapayung, Sukamulya, Nanggerang,
Karyamukti, Burinagara dan Kidangpananjung Kecamatan Soreang Kabupaten
Bandung dengan koordinat 107°29’19” BT dan 6°51’8” LS. Lokasi penambangan
dan pengolahan berlokasi di tempat yang sama.

Gambar 1.1 Peta Perusahaan PT. Andesit Parahyangan

1.5 Pemrakarsa Perusahaan

Adapun pemrakarsa perusahaan PT. Andesit Parahyangan adalah sebagai berikut :

- General Manager : Andreas Marojahan Gurning


- Kepala teknik tambang : Raditya Aricardo
- Kepala Engineering Department : M. Kesuma Bangsa
- Kepala Processing Plant : Ashabul Kahfi
- Kepala HRD Department : Krisna Wisnu Sarwenda
- Kepala HSE Department : Andreas M.G.
- Kepala pemasaran : Santi

1.6 Profil Perusahaan

3
Gambar 1.6 Logo Perusahaan

PT. Andesit Parahyangan merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di


bidang pertambangan. Perusahaan ini didirikan oleh salah satu tokoh di wilayah
bandung yaitu Andreas marojahan Gurning beserta dengan rekan-rekannya.
Perusahaan ini berdiri pada 18 Desember 2017 berdasarkan SK Dinas ESDM
Provinsi Jawa Barat No. 571 tahun 2017 dengan luas IUP 694,27 Ha. Perusahaan
in mengusahakan komoditas andesit yang banyak terdapat di Kabupaten Bandung
Barat khusunya di wilayah Padalarang. Andesit dari alam diolah menjadi salah
satu bahan bangunan untuk mensuplai kebutuhan di wilayah Jawa barat, Banten
dan DKI Jakarta.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Andesit

Batu alam Andesit adalah suatu jenis batuan beku vulkanik dengan komposisi
antara dan tekstur spesifik yang umumnya ditemukan pada lingkungan subduksi
tektonik di wilayah perbatasan lautan seperti di pantai barat Amerika Selatan juga
daerah - daerah di Indonesia dengan aktivitas vulkanik yang tinggi seperti di
Majalengka, Cirebon, Tulung Agung dan Bandung Barat. Batu andesit terbentuk
dari pembekuan lava yang keluar ke permukaan bumi saat letusan gunung berapi.
Nama andesit sendiri berasal dari nama Pegunungan Andes di daerah Amerika
Selatan.
Batu andesit banyak digunakan dalam bangunan-bangunan megalitik, candi dan
piramida. Begitu juga perkakas-perkakas dari zaman prasejarah banyak memakai
material ini, misalnya: sarkofagus, punden berundak, lumpang batu, meja batu,
arca dan lainnya.
Di zaman sekarang batu andesit ini masih digunakan sebagai material untuk nisan
kuburan orang Tionghoa, cobek, lumpang jamu, cungkup/kap lampu taman dan
arca-arca untuk hiasan. Salah satu pusat kerajinan dari batu andesit ini adalah
Magelang.
Pusat kerajinan dan pemotongan batu Andesit juga terdapat di daerah Bandung
Barat dan Majalengka Jawa Barat. Karena di daerah ini banyak terdapat
perbukitan yang merupakan daerah tambang Batu Andesit.

2.1.1 Deskripsi Megaskopis

Adapun deskripsi megaskopis andesit antara lain :


a. Jenis Batuan: Batuan Beku
b. Warna: Abu – abu
c. Struktur: Masif
d. Tekstur: Holokristalin, Equigranular Afanitik, Subhedral

5
2.1.2 Deskripsi Mineral dalam Batuan

1. Mineral Utama: K – Feldspar < 10%, Kuarsa < 10%


2. Mineral Tambahan: Hornblende, Biotit, Piroksen, Feldspatoid, Na –
Amfibol
a) Nama Mineral: Kuarsa
 Rumus Kimia: SiO2
 Warna: Bening Mengkilap
 Bentuk: Prismatik
 Kekerasan: 7
 Cerat: Putih
 Kilap: Kaca
 Pecahan: Concoidal
 Belahan: Tidak ada
 Transparansi: Transparan
 Golongan: Silikat
b) Nama Mineral: Hornblende
 Rumus Kimia: Ca2 (Mg, Fe, Al)5 (Al, Si)8 O22 (OH)2
 Warna: Hitam
 Bentuk: Menjarum
 Kekerasan: 5,5 – 6
 Cerat: Hitam
 Kilap: Kaca
 Pecahan: Uneven
 Belahan: Sempurna
 Transparansi: Opaq
 Golongan: Silikat
c) Nama Mineral: Biotit
 Rumus Kimia: K (Fe, Mg)3 AlSi3O10 (F, OH)2
 Warna: Hitam
 Bentuk: Lembaran

6
 Kekerasan: 2,5
 Cerat: Tidak berwarna
 Kilap: Kaca
 Pecahan: Uneven
 Belahan: Perfect
 Transparansi: Opaq
 Golongan: Silikat
d) Nama Mineral: Piroksen
 Rumus Kimia: (Ca,Mg,Fe,Na,Al,Ti) Si2O6
 Warna: Gelap
 Bentuk: Prismatik
 Kekerasan: 5 – 6
 Cerat: Putih
 Kilap: Kaca
 Pecahan: Uneven
 Belahan: Perfect
 Transparansi: Opaq
 Golongan: Silikat

2.2 Petrogenesa dan Komposisi Andesit

Andesit termasuk jenis batuan beku kategori menengah sebagai hasil bentukan
lelehan magma diorit. Andesit bertekstur afanitik mikro kristalin dan berwarna
gelap. Mineral yang ada dalam andesit ini berupa kalium felspar dengan jumlah
kurang 10% dari kandungan felspar total, natrium plagioklas, kuarsa kurang dari
10%, felspatoid kurang dari 10%, hornblenda, biotit dan piroksen. Penamaan
andesit berdasarkan kepada kandungan mineral tambahannya yaitu andesit
hornblenda, andesit biotit dan andesit piroksen.
Nama andesit sendiri diambil berdasarkan tempat ditemukan, yaitu di daerah
Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Peranan bahan galian ini penting sekali di
sektor konstruksi, terutama dalam pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya,
gedung, jembatan, saluran air/irigasi dan lainnya. Dalam pemanfaatannya dapat

7
berbentuk batu belah, split dan abu batu. Sebagai negara yang sedang
membangun, Indonesia membutuhkan bahan galian ini yang terus meningkat
setiap tahun.
Jenis magma diorit merupakan salah satu magma terpenting dalam golongan
kapur alkali sebagai sumber terbentuknya andesit. Lelehan magma tersebut
merupakan kumpulan mineral silikat yang kemudian menghablur akibat
pendinginan magma pada temparatur antara 1500 – 2500C membentuk andesit
berkomposisi mineral felspar plagioklas jenis kalium felspar natrium plagioklas,
kuarsa, felspatoid serta mineral tambahan berupa hornblenda, biotit dan piroksen.
Komposisi kimia dalam batuan andesit terdiri dari unsur-unsur, silikat,
alumunium, besi, kalsium, magnesium, natrium, kalium, titanium, mangan, fosfor
dan air. Prosentasi kandungan unsur-unsur tersebut sangat berbeda di beberapa
tempat. Sebagai contoh, dalam Tabel 1.4 diperlihatkan komposisi kimia yang
terdapat di Desa Kalirejo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Andesit berwarna abu-abu kehitaman, sedangkan warna dalam keadaan lapuk
berwarna abu-abu kecoklatan. Berbutir halus sampai kasar, andesit mempunyai
kuat tekan berkisar antara 600 – 2400 kg/cm2 dan berat jenis antara 2,3 – 2,7,
bertekstur porfiritik, keras dan kompak.

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Andesit

Senyawa Komposisi (%)


SiO2 47,55
Al2O3 18,37
Fe2O3 8,19
CaO 7,11
MgO 2,25
Na2O 1,70
K2O 2,16
TiO2 0,59
MnO 0,22
P2O5 0,30
H2O 0,52

2.3 Klasifikasi Thorpe and Brown

8
Menurut Thorpe dan Brown (1985), klasifikasi batuan beku dapat disesuaikan
dengan tabel di bawah.

Gambar 2.3 Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Thorpe and Brown (1985)

2.4 Eksplorasi, Pengeboran, Penambangan, dan Peremukan

2.4.1 Eksplorasi

Kegiatan eksplorasi andesit dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu :


 Penelitian Geologi
Kegiatan ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui batas penyebaran
secara lateral, termasuk mengumpulkan segala informasi geologi dan
pemetaan topografi. Peta topografi pada tahap ini berskala 1 : 500.
 Penelitian Geofisika
Penelitian yang umum dilakukan berupa pendugaan geolistrik, yaitu
penelitian berdasarkan sifat tahanan jenis batuan. Kegiatan ini diselaraskan
dengan data geologi permukaan ataupun bawah permukaan. Hasil interpretasi
disajikan dalam bentuk penampang geologi yang didasarkan kepada hasil
pengolahan data pengukuran geolistrik dengan menghubungkan setiap titik
duga satu dengan yang lainya. Keadaan geologi ini akan memperlihatkan
penyebaran, baik secara vertikal maupun lateral pada suatu penampang.
Pendugaan geolistrik secara umum akan menyajikan data lapisan tanah pucuk
dan lapisan andesit.

2.4.2 Pengeboran

9
Kegiatan ini dilakukan untuk pengecekan secara rinci data endapan bagi
keperluan perhitungan cadangan:
 Pengambilan contoh
Kegiatan ini dimaksudkan untuk keperluan analisis laboratorium dan
mekanika batuan.
 Perhitungan cadangan
Perhitungan cadangan yang terdapat di daerah penyelidikan dilakukan dengan
cara metoda penampang (cross section method) yang sangat cocok untuk
batuan yang penyebarannya homogen serta ketebalannya relatif merata.
Volume cadangan dihitung per luas penampang yang dimensinya adalah di
antara dua luas daerah penampang dan ketebalan pada titik-titik eksplorasi di
sekelilingnya. Dengan menjumlahkan volume seluruh penampang yang ada
di daerah penyelidikan tersebut, maka jumlah cadangan dapat diketahui.

2.4.3 Penambangan

Metode penambangan yang biasa diterapkan terhadap andesit adalah tambang


terbuka (quarry). Bentuk topografi bahan galian umumnya berbentuk bukit, dan
penambangan dimulai dari puncak bukit (top hill type) ke arah bawah (top down)
secara bertahap membentuk jenjang (bench). Secara garis besar tahapan kegiatan
penambangan dapat diuaraikan sebagai berikut :

 Persiapan (development)
Meliputi pembangunan sarana dan prasarana tambang antara lain jalan,
perkantoran, tempat penumpukan (stockpile), mobil-isasi peralatan, sarana
air, work-shop, listrik (genset), serta poliklinik.
 Pembersihan permukaan (land clearing)
Perbersihan permukaan lahan yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar
dengan alat konvensional atau buldoser.
 Pengupasan lapisan penutup (stripping overburden)
Mengupas tanah penutup dilakukan dengan buldoser atau back hoe. Tanah
penutup didorong dan dibuang ke arah lembah (disposal area) yang terdekat,
namun bila tumpukan hasil pengupasan ini jauh dari disposal area
pembuangan-nya dapat dibantu dengan dump truck.

10
 Pembongkaran (loosening).
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk membongkar andesit dari batuan induknya
sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
Untuk melaksanakan pekerjaan ini dilakukan dengan cara pemboran dan
peledakan. Dalam kegiatan pemboran perlu ditentukan geometri lubang
tembak yang meliputi berden, kedalaman, pemampat, subdrilling dan spasi.
Peralatan yang digunakan untuk kegiatan pemboran adalah crawler rock drill
(CRD) dan kompresor.
Sedangkan untuk kegiatan peledakan digunakan bahan peledak ANFO/
damotin. Dalam kegiatan peledakan ini, untuk mendapatkan ukuran produk
yang diinginkan ditentukan melalui perubahan spasi lubang ledak, makin
rapat ukuran semakin kecil ukuran produknya.
 Pemuatan (loading)
Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan alat muat mekanis berupa
backhoe untuk memuat hasil kegiatan pembongkaran ke dalam alat angkut
yaitu dump truk.
 Pengangkutan (transporting)
Bongkahan andesit diangkut ke lokasi unit peremukan menggunakan dump
truck menuju stockpile.

2.4.4 Peremukan

Pengolahan andesit adalah mereduksi ukuran yang sesuai dengan berbagai


kebutuhan. Untuk kegiatan ini dilaksanakan melalui unit peremukan (crushing
plant). Tahapan pengolahan meliputi :

1. Peremukan dengan primary crusher seperti jaw crusher, cone crusher atau
gyratory crusher yang dilanjutkan dengan Secondary crusher.
2. Pengangkutan menggunakan ban berjalan.
3. Pemisahan menggunakan pengayak (screen).
4. Penghalus ukuran dengan rotopactor.

Dari proses peremukan akan menghasilkan beberapa macam ukuran antara lain :

a. ukuran -700 + 25 mm

11
b. ukuran – 152 + 70 mm
c. ukuran – 70 + 31 mm
d. ukuran – 31 + 19 mm
e. ukuran – 19 + 9 mm
f. ukuran -9 + 6 mm
g. ukuran -6 ( abu/sirtu)

Jenis peralatan pada unit peremukan terdiri dari :

a. Pengumpan grizzly getar, suatu alat yang berfungsi sebagai pengatur


banyaknya umpan masuk ke dalam jaw crusher dan ayakan pemisah dengan
sirtu.
b. Pengumpan getar, suatu alat yang berfungsi sebagai pengatur banyaknya
umpan masuk ke dalam secondary crusher.
c. Peremuk, digunakan untuk memperkecil ukuran yang sesuai dengan
permintaan. Alat yang digunakan adalah :
 Peremuk tingkat 1, yaitu jaw crusher jenis single toggle.
 Peremuk tingkat II yaitu peremuk berahang II, memakai tipe 80 dan
71, dengan ukuran masing-masing 36 x 10 dan 36 x 4.

Bagan alir proses peremukan terlihat pada lampiran B. Untuk kepentingan lain
seperti pembuatan hias, lantai, nisan dan peralatan rumah tangga, perlu dilakukan
tahap pengolahan, pemahatan, penghalusan, dan pemolesan.

2.5 Potensi Andesit di Indonesia dan Kegunaannya

Krisis ekonomi Indonesia sejak Juli 1997 menyebabkan lumpuhnya dunia usaha
di dalam negeri termasuk pula pembangunan infrastruktur seperti jalan raya,
jembatan, irigasi, dan pengembang sektor perumahan/real estate, sebagai pemakai
utama andesit. Dengan membaiknya kurs rupiah terhadap dolar diharapkan akan
membawa ke arah pemulihan perekonomian Indonesia sehingga dunia usaha akan
bergairah kembali.
Cadangan andesit di Indonesia berjumlah milyaran ton, tersebar merata di seluruh
daerah Indonesia. Dari kenyataan itu, untuk masa mendatang diperkirakan
pengusahaan andesit di Indonesia akan mengalami peningkatan sejalan dengan

12
kembali dimulainya pembangunan perumahan baik RSS, RS maupun real estat,
juga pembangunan sektor konstruksi lainnya seperti jalan, jembatan dsb.
Identifikasi faktor yang mempengaruhi pasar, baik itu sektor pendukung maupun
penghambat pengembangan usaha pertambangan andesit adalah :
 cadangan; potensi andesit di Indonesia jelas memungkinkan dengan jumlah
cadangan yang besar dan lokasinya tersebar hampir di seluruh wilayah
Indonesia;
 tenaga kerja; cukup melimpah, biaya operasi tenaga kerja murah adalah faktor
yang menguntungkan baik bagi perusahaan maupun pemerintah;
 konsumen; perkembangan sektor kontruksi (jalan dan perumahan) dan sektor
industri yang mulai membaik merupakan indikator akan meningkatnya
tingkat kebutuhan andesit di sektor ini. Oleh karena itu pengembangan
pertambangan andesit dengan berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan
sektor ini cukup memberikan harapan.
Perkembangan konsumsi andesit di sektor industri dalam kurun waktu 1987 -1997
menunjukkan kecenderungan yang meningkat dengan laju perubahan tahunan
sebesar 0,44%. Jenis industri barang-barang dari semen, genteng, dan barang
bukan logam lainnya merupakan pemakai utama komoditas ini.
Andesit banyak digunakan untuk sektor konstruksi, terutama infrastruktur seperti
sarana jalan raya, jembatan, gedung-gedung, irigasi, bendungan dan perumahan,
landasan terbang, pelabuhan dan lain-lain. Untuk menguji kualitas batuan dapat
dilakukan dengan uji kuat tarik, kuat tekan, kuat geser, densitas, berat jenis dan
lain-lain. Hasil dari uji itu akan diperoleh sifat-sifat elastisitas dari batuan. Sifat
ini berperan penting sehubungan dengan pemanfaatan batuan itu sendiri. Uji kuat
tarik pada prinsipnya adalah dengan memberi beban atau gaya pada sisi contoh
andesit yang berbentuk silinder (penekanan diametral) sampai contoh batuan
tersebut pecah.
Andesit banyak digunakan di sektor kontruksi. Pemanfaatan yang lain adalah
untuk bahan baku pembuatan dimension stone, patung seni dan sebagainya.
a. Kontruksi/bangunan
Dalam bentuk agregat, andesit banyak digunakan untuk pembangunan jembatan,
pembuatan galangan kapal untuk dermaga, pondasi jalan kereta api,

13
bendungan/dam dan sebagainya. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk
kebutuhan konstruksi dan bangunan menurut SII. 0378-80.

b. Dimension stone
Pada pembuatan dimension stone andesit dipotong berdasarkan ukuran tertentu,
dipahat, diampelas/diasah, kemudian dipoles agar dapat dimanfaatkan untuk
keperluan : batu hias, tegel, dan peralatan rumah tangga.

Di sektor konstruksi, konsumsi andesit sebagai indikatornya adalah pemakaian di


sub sektor perumahan. Pembangunan perumahan di Indonesia dilakukan melalui
dua cara yaitu dibangun oleh perorangan dan melalui pihak lain/investor seperti
Perumnas, KPR-BTN, dan Real Estate Indonesia (REI). Pembangunan perumahan
di Indonesia dilakukan melalui dua cara yaitu dibangun oleh perorangan dan
investor seperti Perumnas, KPR-BTN, dan Real Estate Indonesia (REI).
Menurut data dari BPS, dalam kurun waktu tahun 1987 – 1996 melalui Perumnas
telah dibangun sebanyak 328.425 unit yang terdiri dari 127.023 unit Perumahan
Sederhana, 190.442 unit Perumahan Inti, dan 10.960 unit Rumah Susun (Rusun).
Dalam kurun waktu yang sama telah dibangun sebanyak 163.247 unit melalui
KPR-BTN yang terdiri dari 143.940 unit melalui developer swasta dan 19.307
unit melalui developer Perumnas. Adapun melalui REI dalam kurun waktu
tersebut jumlah terbesar yang dicapai adalah sebanyak 268.432 unit. Khusus
untuk KPR-BTN, Rumah Sederhana (RS) dan Rumah Sangat Sederhana (RSS),
pada 2000 BTN mentargetkan sekitar 100.000 unit rumah. Hal ini diperkuat pula
oleh perkiraan pemerintah bahwa pada tahun 2000 menyediakan dana sebesar Rp.
1,2 triliun untuk program pembangunan perumahan bagi masyarakat golongan
penghasilan rendah.
Perekonomian Indonesia yang cenderung membaik diperkirakan kebutuhan akan
perumahan terutama tipe yang dibangun melalui KPR-BTN akan semakin
meningkat di masa mendatang, dan ini berarti kebutuhan akan andesit juga akan
meningkat. Demikian juga halnya dalam pembangun gedung-gedung pusat
pertokoan, pusat perkantoran swasta ataupun pemerintahan, pembangunan dan
pemeliharaan jalan, jembatan serta sarana irigasi yang setiap tahun diperkirakan
akan terus meningkat merupakan peluang bagi pertambangan andesit.

14
Dari sisi teknologi, secara umum penambangan andesit dapat dilakukan secara
sederhana atau mekanis/ peledakan. Jumlah investasi yang dibutuhkan relatif kecil
sehingga turut mendorong pengembangan usaha pertambangan andesit.
Beberapa kendala yang dihadapi dalam pembangunan pertambangan andesit
adalah jumlah pengusahaan andesit non-formal. Selain itu, adanya beberapa
kontraktor konstruksi yang juga merupakan pemasok andesit yang keberadaannya
tersamar dan sulit diketahui, akan menutup peluang pihak lain yang akan berusaha
menjadi pemasok andesit.
Masalah lingkungan dan tata guna lahan juga merupakan faktor yang perlu
dipertimbangkan. Perusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan
penambangan akan terjadi. Penggunaan lahan berpotensi andesit untuk kegiatan
sektor lain akan berakibat areal yang boleh ditambang menjadi terbatas. Pesatnya
kegiatan pembangunan menyebabkan peningkatan pendayagu-naan sumber daya
alam termasuk andesit. Kebutuhan bahan galian tersebut bagi pembangunan
menjadi sangat besar, di sektor konstruksi maupun di sektor industri.
Potensi andesit yang demikian besar patut disyukuri dengan mulai membaiknya
perekonomian di dalam negeri dan diharapkan di waktu mendatang dapat
menarik minat para pengusaha tambang untuk mengembangkan usaha andesit,
yang berarti pula memperluas lapangan kerja dalam rangka pemberdayaan
perekonomian masyarakat.

15
BAB III
RANCANGAN PENGOLAHAN ANDESIT

3.1 Pengolahan dan Penggunaan Alat

Secara garis besar kegiatan pengolahan andesit terdapat beberapa tahapan yang
dilakukan yaitu :

a. Feeding (Pengumpanan)

Proses pengumpanan bertujuan untuk mendistribusikan andesit yang sebelumnya


diambil dari unit penambangan dengan menggunakan wheel loader sehingga
umpan akan masuk secara teratur melalui hopper ke pan feeder yang kemudian
akan didistribusikan ke dalam alat peremuk.

Gambar 3.1 feeding

b. Crushing (Peremukan)

Tujuan dari peremukan ini adalah untuk memperkecil ukuran butir sesuai dengan
yang kita inginkan. Adapun untuk menentukan berapa kalii proses peremukan
dapat dilihat dari ukuran umpan terbesar yang masuk dengan produk terbesar
yang diinginkan oleh konsumen. Dari hasil pembagian antara ukuran umpan yang
masuk dengan produk terbesar didapatkan nilai Limiting Reduction Ratio (LRR),
sehingga dilihat dari nilai LRR tersebut maka banyaknya proses peremukan dapat
ditentukan.

16
Gambar 3.2 Jaw crusher

c. Screening (Pengayakan)

Tujuan dari proses pengayakan adalah untuk mengelompokkan produk dari


proses peremukan sesuai dengan ukuran butir yang ditentukan berdasarkan
permintaaan pasar/konsumen. Dari hasil ayakan terakhir akan ditimbun di suatu
tempat yang disebut Stock Pile.

Gambar 3.3 screening

3.2 Dasar pemilihan Alat

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan alat yang akan digunakan
dalam industri pengolahan hasil pertambangan adalah sebagai berikut :

1. Pertimbangan segi ekonomis

17
Pertimbangan dari segi ekonomis ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan
modal yang tersedia dengan alat yang akan dipilih dan biaya pendukung lainnya.
Jadi dalam hal ini sebuah perusahaan tidak boleh salah dalam menentukan
peralatan yang digunakan.

2. Pertimbangan segi teknis


Pertimbangan secara teknis berguna untuk mengetahui alat yang akan dipilih agar
sesuai dengan kondisi yang ada, baik masalah material, lokasi, kapasitas, serta
produk yang diharapkan.

3.2.1 Pemilihan Alat Hopper

Hopper merupakan alat seperti piramida terpancung, bagian bawah disesuaikan


dengan feeder (reciprocating plate feeder). Hopper sebaiknya berkapasitas lebih
besar daripada kapasitas vessel dump truck yang digunakan untuk mencurahkan
(125-150% dari kapasitas dump truck). Dalam menghitung kapasitas hopper
digunakan persamaan sebagai berikut :
Ct = 0,33 x T x [La + Lb + (La x Lb)] 0.5 ................................ (1)
Dengan,
Ct = Kapasitas hopper
T = Tinggi
La = Luas atas
Lb = Luas bawah

3.2.2 Pemilihan Alat Feeder

Feeder merupakan alat yang berfungsi untuk mengatur masuknya umpan ke dalam
peremuk (crusher). Hal-hal yang mempengaruhi dalam pemilihan feeder adalah
sebagai berikut :

a. Ukuran umpan terbesar


b. Keadaan material, kandungan tanah, air, dan lain-lain.
c. Banyaknya umpan.
d. Ukuran produk yang dikehendaki.

18
3.2.3 Pemilihan Alat Peremuk

Pemilihan crusher didasarkan oleh beberapa hal diantaranya adalah sebagai


berikut :

a. Harga Reduction Ratio (nisbah reduksi).


b. Karakteristik material (kekerasan, kandungan air, bulk density material dan
lain-lain).
c. Produksi tiap jam dari kapasitas alat.
d. Cara pemasukkan umpan.

Kapasitas crusher dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

Y menurut Tagart,

T = 0,6 L . S ............................................................... (2)

Dengan, T = Kapasitas Crusher


L = Panjang lubang penerimaan
S = Lebar discharge opening

Y menurut Kurimoto

Tc = T x C x M x F x G .................................................... (3)

Dengan, Tc = Produksi Crushing (ton/jam)


T = Kapasitas Katalog
C = Faktor keadaan dan macam umpan
M = Faktor keadaan kandungan air
F = Faktor distribusi ukuran material
G = Faktor bulk density (1 untuk 1,6 ton/m 3 )
Tf = Perhitungan banyaknya umpan (ton/jam)

3.3. Diagram Alir Pengolahan

Berikut ini adalah diagram alir pengolahan andesit PT. Andesit Parahyangan.

19
Gambar 3.3 Diagram Alir Pengolahan Andesit PT. Andesit Parahyangan

20
BAB IV
MATERIAL BALANCE

Target produksi yang direncanakan adalah 929 ton/hari, perusahaan


memberlakukan satu shift per hari sehingga target produksi per harinya adalah
100 ton/jam. Ukuran umpan terbesar yang berasal dari tambang adalah +700 mm
dengan distribusi ukuran umpan sebagai berikut :

a. -700 + 100 mm = 40 %
b. -100 + 50 mm = 32 %
c. -50 + 25 mm = 26,1%
d. - 25 mm = 1,9 %

Umpan tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi 2 produk dengan


menggunakan vibrating grizzly feeder merk Nordberg dengan efisiensi 99% dan
spasi bar 25 mm yang detail produknya sebagai berikut :
a. -700 + 25 mm = 97,1%
b. -25 mm = 1,9 %

Ukuran produk yang dihasilkan dalam serangkaian unit pengolahan PT. Andesit
Parahyangan adalah sebagai berikut :
a. -31 + 19 mm
b. -19 + 9 mm
c. -9 + 6 mm
d. -6 mm
e. -25 mm
Untuk produk -25 mm merupakan produk dari vibrating grizzly feeder dan tanpa
pengolahan lanjutan sudah menjadi produk penjualan. Selain -25 mm merupakan
produk dari pengolahan lanjutan hingga menjadi produk penjualan.+

1. Peremuk I

21
Jenis crusher yang digunakan adalah Jaw Crusher. Umpan terbesar yang berasal
dari unit sebelumnya (vibrating grizzly feeder) adalah 700 mm dan reduction ratio
yang diinginkan 4,605 sehingga ukuran terbesar produk yang dihasilkan adalah :

ukuran terbesar umpan 700 mm


Ukuran terbesar produk = = = 152 mm

RR 4,605

Berdasarkan ukuran terbesar produk yang dihasilkan diperoleh setting dengan


ukuran 70 mm. Produk dari jaw crusher kemudian diklasifikasikan menurut
distribusi ukuran menggunakan unit selanjutnya yaitu screen I.

2. Screen I

Screen I yang digunakan adalah double deck vibrating screen yang terdiri atas dua
deck dengan pengaturan sebagai berikut :

a. Deck I

Opening : 70 mm
Effisiensi : 99 %
Berat material yang lolos
Effisiensi = x 100%

Berat material yang seharusnya lolos

Berat material yang seharusnya lolos = 97,1 tpj


Berat material yang lolos = 0,99 x 97,1 tpj = 96,129 tpj

Distribusi ukuran produk screen I deck I adalah sebagai berikut:

a. -152 + 70 mm : 30 % x 96,129 tpj = 28,84 tpj


b. -70 + 31 mm : 40 % x 96,129 tpj = 38,45 tpj
c. -31 + 10 mm : 22 % x 96,129 tpj = 21,15 tpj
d. -10 mm : 7% x 96,129 tpj = 6,73 tpj

22
Tabel 4.1 Distribusi ukuran Deck I Screen I

Ukuran Oversize Undersize Distribusi


( mm ) ( tpj ) ( tpj ) (tpj )
- 152 + 70 28,84 28,84
- 70 + 31 6,45 32 38,45
- 31 + 10 21,15 21,15
- 10 6,73 6,73
Total 35,29 59.88 96,129

Produk undersize pada deck I screen I akan dilanjutkan pada deck II screen I
sedangkan produk oversize akan menjadi umpan bagi peremuk II.

b. Deck II

Opening : 31 mm
Effisiensi : 99 %

Berat material yang seharusnya lolos = 59,88 tpj


Berat material yang lolos = 0,99 x 59,88 tpj
= 59,28 tpj

Tabel 4.2 Distribusi ukuran Deck II Screen I

Ukuran Oversize Undersize Distribusi


( mm ) ( tpj ) ( tpj ) ( tpj )
- 70 + 31 32 32
- 31 + 19 6,15 14,4 20,55
- 19 6,73 6,73
Total 38,15 21,13 59,28

Produk undersize dari deck II screen I akan dilanjutkan pada screen II sedangkan
produk oversize akan menjadi umpan pada peremuk II.

3. Peremuk II

23
Crusher yang digunakan adalah Cone crusher. Ukuran umpan terbesar yang
berasal dari screen I adalah 70 mm dengan Reduction Ratio (RR) 2,26 sehingga
diperoleh ukuran produk terbesar sebagai berikut :

ukuran terbesar umpan 70 mm


Ukuran terbesar produk = = = 31 mm

RR 2,26

Berdasarkan ukuran terbesar produk diperoleh setting dari crusher II adalah 19


mm. Dengan distribusi ukuran produk Crusher II sebagai berikut :

- 31 + 19 mm : 40 % x 73,41 tpj : 29,36 tpj


- 19 + 9 mm : 30 % x 73,41 tpj : 22,02 tpj
- 9 + 6 mm : 17 % x 73,41 tpj : 12,47 tpj
- 6 mm : 13 % x 73,41 tpj : 9,54 tpj

4. Screen II ( Triple Deck Vibrating Screen )

Screen II terdiri atas 3 deck :

Distribusi umpan yang masuk pada screen II :

a. -31 + 19 mm = (29,36 + 14,4) tpj = 43,76 tpj


b. -19 + 9 mm = (22,02 + 6,73) tpj = 28,75 tpj
c. -9 + 6 mm = 12,47 tpj = 12,47 tpj
d. - 6 mm = 9,54 tpj = 9,54 tpj

a. Deck I

Opening = 19 mm
Effisiensi = 99 %

Berat material yang seharusnya lolos = 94,52 tpj


Berat material yang lolos = 0,99 x 94,52 tpj
= 93,57 tpj

24
Tabel 4.3 Distribusi ukuran Deck I Screen II

Ukuran Oversize Undersize Distribusi


( mm ) ( tpj ) ( tpj ) ( tpj )
- 31 + 19 43,76 43,76
- 19 + 9 3,51 24,29 27,8
- 9+6 12,47 12,47
- 6 9,54 9,54
Total 47,27 46,3 93,57

Produk oversize akan menjadi Produk I dengan ukuran – 31 + 19 mm,


sedangkan produk undersize akan dilanjutkan pada deck II.

b. Deck II

Distribusi umpan yang masuk pada Deck II :

- 19 + 9 mm = 24,29 tpj
- 9 + 6 mm = 12,47 tpj
- 6 mm = 9,54 tpj
Opening = 9 mm
Effisiensi = 99 %

Berat material yang seharusnya lolos = 46,3 tpj


Berat material yang lolos = 0,99 x 46,3 tpj
= 45,83 tpj

Tabel 4.4 Distribusi ukuran Deck II Screen II

Ukuran Oversize Undersize Distribusi


( mm ) ( tpj ) ( tpj ) ( tpj )
- 19 + 9 24,9 24,29
-9+6 2 10 12
-6 9,54 9,54
Total 25,85 19,54 45,83

25
Produk oversize akan menjadi Produk II ukuran - 19 + 9 mm, sedangkan produk
undersize akan dilanjutkan pada deck III.

c. Deck III

Distribusi umpan yang masuk pada Deck III :


- 9 + 6 mm = 10 tpj
- 6 mm = 9,54 tpj

Opening = 6 mm
Effisiensi = 99 %
Berat material yang seharusnya lolos = 19,54 tpj
Berat material yang lolos = 0,99 x 19,54 tpj
= 19,34 tpj

Tabel 4.5 Distribusi ukuran Deck III Screen II

Ukuran Oversize Undersize Distribusi


( mm ) ( tpj ) ( tpj ) ( tpj )
-9+6 10 10
-6 3 6,34 9,34
Total 13 6,34 19,34

Produk oversize akan menjadi Produk III dengan ukuran – 9 + 6 mm, sedangkan
produk undersize menjadi Produk IV dengan ukuran – 6 mm.

Dari perhitungan Material Balance yang telah dilakukan, diperoleh lima


Produktan dengan distribusi ukuran sebagai berikut :

26
Tabel 4.6 Produk Hasil Pengolahan Andesit PT. Andesit Parahyangan

Ukuran Tonase
Produk % Berat
(mm) ( tpj )
I - 25 1,9 2,01
II - 31 + 19 47,27 50,1
III - 19 + 9 25,85 27,4
IV - 9+6 13 13,78
V - 6 6,34 6,72
Jumlah Total 94,36 100

Dari jumlah umpan masuk proses pengolahan 100 ton/jam, produk yang
dihasilkan adalah 94,36 ton/jam sehingga recovery dari proses pengolahan adalah
94,36%.

27
BAB V
PENJUALAN DAN PEMASARAN

5.1 Produk

Produk yang diproduksi disesuaikan dengan kegunaan setiap ukuran material . Ukuran
produk disesuaikan dengan aggregat dalam campuran bahan beton. Berikut spesifikasi
harga untuk setiap ukuran :
Tabel 5.1. Daftar harga produk
No Ukuran ( mm ) Produk Harga per Ton
1 Ukuran -31 + 19 Batu Pecah Rp 60,000
2 Ukuran -25 Batu Pecah Rp 64,000
3 Ukuran -19 + 9 Batu Pecah Rp 65,000
4 Ukuran -9 + 6 Batu Pecah Rp 69,000
5 Ukuran -6 (Sirtu) Pasir Batu Rp 90,000

5.2 Pemasaran Produk

PT. Andesit Parahyangan memasarkan produknya kepada konsumen sebagai bahan


konstruksi dan bahan campuran beton untuk wilayah sekitar Jawa Barat, DKI Jakarta dan
Banten.

28
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari proses pengolahan ini adalah sebagai berikut


a. Target produksi yang direncanakan adalah 929 ton/hari, perusahaan
memberlakukan satu shift per hari dan target produksi pada proses
pengolahan per harinya adalah 100 ton/jam.

b. Umpan terbesar dari run of mine berukuran 700 mm dan diproses pada pabrik
pengolahan sehingga menjadi 5 jenis produk dengan ukuran masing-masing.

c. Recovery proses pengolahan PT. Andesit Parahyangan adalah 94,36%.

6.2 Saran

Adapun saran untuk perencanaan pabrik pengolahan selanjutnya adalah sebagai


berikut :
a. Sebaiknya jenis produk hasil pengolahan lebih diperbanyak.

b. Sebaiknya recovery pengolahan lebih ditingkatkan.

29
DAFTAR PUSTAKA

Balfas, M.D. 2015. Geologi untuk Pertambangan Umum. Yogyakarta : Graha


Ilmu.
Noor, Djauhari. 2014. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan.
Nugroho, Windhu. 2016. Diktat Pengolahan Bahan Galian. Samarinda :
Universitas Mulawarman.
Sukandarrumidi. 2008. Bahan Galian Industri. Yogyakarta : UGM Press.

30
LAMPIRAN A

DIAGRAM ALIR PENAMBANGAN

PENGUPASAN PENGUPASAN
QUARRY
TANAH PENUTUP BATUAN LAPUK

PEMUATAN PELEDAKAN PENGEBORAN

CRUSHING
PENGANGKUTAN PEMASARAN
PLANT
LAMPIRAN B

DIAGRAM ALIR PENGOLAHAN


LAMPIRAN C

PETA ADMINISTRASI
PETA TOPOGRAFI
PETA GEOLOGI REGIONAL
PETA DAERAH ALIRAN SUNGAI
PETA DENAH LOKASI IUP
LAMPIRAN D

BATAS IUP PT.ANDESIT PARAHYANGAN

1. 107° 29' 04.6621" E, 6° 50' 52.0403" S


2. 107° 29' 38.1663" E, 6° 50' 52.0311" S
3. 107° 29' 36.9142" E, 6° 51' 05.5223" S
4. 107° 29' 47.3770" E, 6° 51' 08.3393" S
5. 107° 29' 47.3770" E, 6° 51' 17.9973" S
6. 107° 29' 36.1093" E, 6° 51' 21.6190" S
7. 107° 29' 30.8779" E, 6° 51' 36.5085" S
8. 107° 29' 15.5860" E, 6° 51' 37.7157" S
9. 107° 29' 10.3546" E, 6° 51' 28.0577" S
10. 107° 28' 56.2700" E, 6° 51' 25.6432" S
11. 107° 28' 53.0506" E, 6° 51' 03.9127" S
12. 107° 29' 04.6621" E, 6° 50' 52.0403" S
13. 107° 29' 04.6621" E, 6° 50' 52.0403" S
LAMPIRAN E

DENAH PABRIK PENGOLAHAN


LAMPIRAN F
LUAS STOCKPILE

Berat jenis batu andesite = 1,6 ton/m³


Angle of repose = 38º
Waktu kerja = 61,5 jam/minggu
Volume kerucut = ⅓ л r² T
Tan T = T/r
T = r tan α

3 3V
r =
л tan α

1. Stock Pile I (Produk -25 mm)


Berat = 1,9 tpj
1,9 tpj
= x 61,5 jam/minggu = 73,03 m3/minggu
3
1,6 ton/m

3 3 (73,03)
r = = 4,47 m
3,14 tan 38º
t = 4,47 tan 38º = 3,49 m
L = л r² = 3,14 x (4,47 m )2
= 62,74 m2
2. Stock Pile II (Produk -31+19 mm)
Berat = 47,27 tpj
47,27 tpj
= x 61,5 jam/mgu = 1816,94 m3/minggu
1,6 ton/m3

3 3 (1816,94)
r = = 13,05 m
3,14 tan 38º
t = 13,05 tan 38º = 10,19 m
L = л r² = 3,14 x (13,05 m )2
= 535,02 m2

3. Stock Pile III (Produk -19+9 mm)


Berat = 25,85 tpj
25,85 tpj
= x 61,5 jam/mgu = 993,61 m3/minggu
1,6 ton/m3

3 3 (993,61)
r = = 10,67 m
3,14 tan 38º
t = 10,67 tan 38º = 8,34 m
L = л r² = 3,14 x (10,67 m )2
= 357,67 m2

4. Stock Pile IV (Produk -9+6 mm)


Berat = 13 tpj
13 tpj
= x 61,5 jam/minggu = 499,69 m3/minggu
3
1,6 ton/m

3 3 (499,69)
r = = 8,49 m
3,14 tan 38º
t = 8,49 tan 38º = 6,63 m
L = л r² = 3,14 x (8,49 m )2
= 226,45 m2
5. Stock Pile V (Produk -6 mm)
Berat = 6,34 tpj
6,34 tpj
= x 61,5 jam/minggu = 243,69 m3/minggu
1,6 ton/m3
3 3 (243,69)
r = = 6,68 m
3,14 tan 38º
t = 6,68 tan 38º = 5,22 m
L = л r² = 3,14 x (6,68 m )2
= 140,19 m2

Luas untuk 5 stockpile untuk 5 produk dari PT. Andesit Parahyangan adalah
1322,07 m2.