Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

MOLUSKUM KONTAGIOSUM

Disusun Oleh :
Nama : Apresia Kirana Sari
NIM : 1161050001
Pembimbing : dr. Syahfori Widiyani, M.Sc., Sp.KK
Kepaniteraan Kulit dan Kelamin
Periode 5 Oktober - 7 November 2015

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN


INDONESIA
JAKARTA 2015

STATUS PASIEN KEPANITERAAN


ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. A
Jenis kelamin : laki laki
Usia : 7 tahun
Status : belum menikah
Alamat : Cawang
Pekerjaan : Siswa
Suku : Jawa
Agama : Islam

II.

ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA : banyak kutil di kaki dan dada, berwarna hitam,

tidak gatal,

dan

bertambah banyak sejak dua minggu sebelum masuk

rumah sakit.
KELUHAN TAMBAHAN : -

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien laki laki berusia 7 tahun datang ke poli RS UKI dengan keluhan
banyak kutil di kaki dan dadanya sejak 2 minggu lalu. Kutil tidak gatal dan
berwarna hitam, dirasakan bertambah banyak tapi tidak bertambah besar. Pasien
tidak mengalami demam sebelumnya. Pasien belum pernah berobat. Di
lingkungan sekitar tidak ada yang mengalami hal yang sama dengan pasien
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga disangkal
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Belum pernah mengalami hal ini sebelumnya
Tidak ada riwayat alergi obat maupun makanan dan lain lain
RIWAYAT SOSIAL DAN KEBIASAAN PRIBADI
Pasien tidak ada gangguan dalam aktifitas

III.

PEMERIKSAAN FISIK

Kesadaran : Compos Mentis


Keadaan Umum: Tampak sakit ringan

Tanda tanda vital


Suhu : 36.5oC
Frekuensi Nafas : 16x/menit
Frekuensi Nadi : 80x/menit
Jantung : Dalam batas normal
Paru : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremitas : Dalam batas normal

IV.

STATUS DERMATOLOGIS

Efloresensi :
Jenis : papul
Lokasi : regio cruris dekstra et sinistra dan regio torakal
Bentuk : bulat
Susunan : Ukuran : lentikuler
Penyebaran : regional

Batas :tegas
Tepi : tidak aktif
Tengah : ada lekukan/ pusat umbilikasi/ delle

Gambar 1. Molluscum contagiosum di Regio Cruris Sinistra

Gambar 2. Molluscum contagiosum di Regio Cruris Dekstra

Gambar 3. Molluscum contagiosum di Regio Torakal

V.

DIAGNOSA
Diagnosa kerja : Molluscum contagiosum
Diagnosa banding : Veruka Vulgaris

VI.

TATALAKSANA

Di Ekstraksi dengan ekstraksi komedo


VII.

PROGNOSIS

Ad vitam : dubia ad bonam


Ad fungsionum : dubia ad bonam
Ad sanationum : dubia ad bonam
Ad cosmeticum : dubia ad bonam

BAB I
PENDAHULUAN

Moluskum kontagiosum (MC) adalah kondisi kulit yang umum,


disebabkan oleh poxvirus, yang menyebabkan kecemasan yang cukup besar. Hal
ini sering terjadi pada anak-anak dan umumnya berupa lesi asimtomatik. Namun,
dapat juga terjadi kemungkinan muncul lesi dengan pruritus, eritema dan, pada
beberapa kejadian, superinfeksi bakteri dengan peradangan dan nyeri1.
Laporan insiden dan prevalensi MC bervariasi, oleh karena itu sulit untuk
memperkirakan jumlah sebenarnya dipengaruhi oleh MC. Pada anak-anak, ada
beberapa pilihan pengobatan yang tersedia untuk kliring lesi MC. Perawatan
seperti kuretase sangat tidak menyenangkan dan sering menyebabkan rasa sakit
dan jaringan parut1.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI
Moluskum kontagiosum merupakan suatu penyakit infeksi virus pada kulit

yang disebabkan oleh virus golongan poxvirus genus Molluscipox dengan wujud
klinis berupa benjolan pada kulit atau papul-papul multipel yang berumbilikasi di
tengah, mengandung badan moluskum, serta dapat sembuh dengan sendirinya1.
II.

EPIDEMIOLOGI
Moluskum kontagiosum dapat ditemukan di seluruh dunia, terutama di

negara tropis. Angka kejadian Moluskum kontagiosum di seluruh dunia


diperkirakan sebesar 2% - 8%, dengan prevalensi 5% - 18% pada pasien
HIV/AIDS. Moluskum kontagiosum bersifat endemis pada komunitas padat
penduduk, kebersihan buruk dan daerah miskin. Penyakit ini terutama menyerang
anak-anak. Biasanya pada dewasa oleh karena hubungan seksual. Media
penularan penyakit ini melalui kontak langsung. Penyakit ini menyebar dengan
cepat pada suatu komunitas yang padat dengan kebersihan yang kurang3.
ETIOLOGI
Moluskum kontagiosum disebabkan oleh suatu virus dari golongan
Poxvirus. Dalam taksonomi, virus ini termasuk dalam ordo Poxviridae,

famili Chordopoxvirinae,

genus

Molluscipox

virus,

spesies Molluscum

contagiosum virus (MCV)1.


Menurut subtipe MCV, terdapat 4 subtipe, yaitu MCV I, MCV II, MCV
III, dan MCV IV. Keempat subtipe tersebut menimbulkan gejala klinis serupa
berupa lesi papul milier yang terbatas pada epidermis dan sangat jarang pada
membranemukosa.

MCV

diketahui

memiliki

prevalensi

lebih

besar

dibandingkan ketiga subtipe lain. Sekitar 96,6% infeksi Moluskum kontagiosum


disebabkan oleh MCV I. Akan tetapi pada pasien dengan penurunan status imun
didapatkan prevalensi MCV II sebesar 60%. Tiga subtipe dari MCV telah
diidentifikasi, semuanya memiliki presentasi klinis yang mirip dan tidak
terlokalisir

pada

bagian

tubuh

tertentu

(misalnya

genital).

Molluscum

contagiosum virus tipe-1 (MCV-1) adalah subtipe yang paling ditemukan pada
pasien, sedangkan MCV-3 jarang ditemukan2.
III.

PATOFISIOLOGI
Virus Moluskum kontagiosum, yang berisi linier double-stranded DNA,

menyebabkan penyakit kulit Moluskum kontagiosum. Restriksi endonuklease


menjelaskan 4 subtipe virus: virus Moluskum kontagiosum subtipe I, II, III, dan
IV. Ketika infeksi pada manusia terjadi, keratinosit epidermis yang diserang.
Replikasi virus terjadi dalam sitoplasma sel yang terinfeksi, menghasilkan
karakteristik badan inklusi sitoplasma. Badan-badan inklusi yang paling nyata
terlihat dalam stratum granulosum dan lapisan stratum korneum pada epidermis2.

Inti virus yang pertama ditemukan di lapisan basal epidermis, di mana


terdapat keratinosit sebagai tampilan penanda aktivasi sel, reseptor faktor
pertumbuhan epidermal dan hiperplastik. Badan Henderson-Paterson, badan
inklusi virus, ditemukan sekitar tiga sampai empat lapisan atas lapisan sel basal2.
Pematangan virus Moluskum kontagiosum adalah 5 hari. Stratum
korneum akhirnya menjadi disintegrasi sehingga melepaskan sejumlah virion
menular. Pecahnya dan pembuangan virus Moluskum kontagiosum melalui pusat
umbilical yang terdapat di tengah lesi2.
Virus Moluskum kontagiosum menyebabkan 3 pola penyakit berbeda
dalam 3 populasi pasien yang berbeda yaitu anak-anak, orang dewasa yang
imunokompeten, dan pasien dengan immunocompromised (anak-anak atau orang
dewasa). Anak-anak tertular virus Moluskum kontagiosum dapat melalui kontak
langsung kulit dengan kulit atau kontak tidak langsung kulit dengan benda yang
terkontaminasi seperti peralatan olahraga dan pemandian umum. Lesi biasanya
terjadi di dada, lengan, badan, kaki, dan wajah. Pada orang dewasa, Moluskum
kontagiosum dianggap sebagai penyakit menular seksual (PMS). Pada hampir
semua kasus yang mengenai orang dewasa sehat, pasien menunjukan beberapa
lesi, yang terbatas pada perineum, genital, perut bagian bawah, atau pantat.
Umumnya, pada populasi imunokompeten, Moluskum kontagiosum adalah
penyakit yang dapat sembuh sendiri2.
Pasien yang terinfeksi dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau
pasien yang kekebalannya menurun perjalanan penyakitnya lebih lama dengan lesi

lebih luas. Pada pasien terinfeksi HIV, lesi umumnya terdistribusi secara lebih
luas, sering terjadi pada wajah, dan mungkin timbul dalam jumlah ratusan2.
IV.

MANIFESTASI KLINIS
Lesi tersebut papul berbatas tegas, licin, dan berbentuk kubah (dome

shaped) sewarna kulit. Ukuran papul bervariasi dari 2-6 milimeter. Di bagian
tengah lesi, biasanya terdapat lekukan (delle) kecil, berisi bahan seperti nasi dan
berwarna putih yang merupakan ciri khas dari moluskum kontagiosum5.

Gambar 1. Moluskum Kontagiosum pada Lengan dan Badan

Gambar 2. Moluskum Kontagiosum pada pasien HIV

Benjolan biasanya tidak terasa gatal, tidak terasa nyeri. Namun papul bisa
meradang, misalnya karena garukan, sehingga teraba hangat dan berwarna
kemerahan.
V.

DIAGNOSIS BANDING

Definisi

Tanda klinis

Tempat
predileksi

Etiologi

Moluskum kontagiosum
Penyakit infeksi virus
pada kulit yang
disebabkan oleh virus
golongan poxvirus
genus Molluscipox/
Molluscum contagiosum
virus (MCV)
papul-papul multipel
sewarna kulit yang
berumbilikasi di tengah,
mengandung badan
moluskum. Dapat tunggal
maupun berkelompok.
Sering tidak gatal.

Veruka vulgaris
Penyakit infeksi
HPV pada
epidermis

Milia

papul, nodul
berbentuk kubah
sewarna dengan
kulit, permukaan
kasar, dapat
tunggal maupun
berkelompok.
Sering tidak
gatal.

Kista jinak
berisi keratin
berukuran
kurang lebih
3mm,
berwarna
putih. Dapat
tunggal
maupun
berkelompok.
Tidak gatal.

dada, lengan, badan, kaki,


wajah, perineum, genital,
perut bagian bawah, atau
pantat

tangan, siku,
lutut, kaki dan
jari-jari

Daerah yang
banyak folikel
sebasea,
folikel rambut
halus dan.
kelenjar
keringat.
Seperti bawah
mata, dan area
sekitar
kelopak mata.

Molluscum contagiosum
virus (MCV)

Human
papiloma virus
(HPV)

Kista berisi
epitel berlapis
skuamosa
dan lapisan
sel granular.

Milia adalah
kista
epidermoid
yang berasal
dari folikel
sebasea

Pemeriksaan

Gejala klinis dan


anamnesis, histopatologi

Proses

Kontak langsung dan tidak Kontak


langsung
langsung dan
tidak langsung

penularan

Gejala klinis dan


anamnesis,
histopatologi

Gambar 1. Moluskum kontagiosum

Gambar 2. Veruka Vulgaris

Gambar 3. Milia
VI.

PENATALAKSANAAN

Gejala klinis
dan
anamnesis,
histopatologi
Tidak menular

Moluskum kontagiosum biasanya dapat sembuh sendiri, dan lesi


umumnya sembuh tanpa timbul jaringan parut. Intervensi dapat dindikasikan jika
lesi tidak dapat sembuh sendiri. Prinsip pengobatan adalah mengeluarkan massa
yang mengandung bahan moluskum. Bisa dengan alat ekstraksi komedo4.
Cryotherapy (bedah beku) dan kuretase merupakan pilihan utama untuk
pengobatan Moluskum kontagiosum dan telah terbukti menjadi efektif. Namun,
teknik ini dapat menyebabkan jaringan parut, hipo atau hiperpigmentasi, dan bisa
menyakitkan, terutama untuk anak-anak4.
Disamping itu, terapi medikamentosa dapat diberikan podofilin 25%
dalam larutan benzoin atau alkohol dapat diaplikasikan pada lesi dengan
menggunakan lidi kapas, dibiarkan selama 1 -4 jam kemudian dilakukan
pembilasan dengan

menggunakan air bersih. Pemberian terapi dapat diulang

sekali seminggu.Terapi ini membutuhkan perhatian khusus karena mengandung


mutagen yaitu quercetin dan kaempherol. Efek samping lokal akibat penggunaan
bahan ini meliputi erosi pada permukaan kulit normal serta timbulnya jaringan
parut4.
Sedangkan cantharidin merupakan agen keratolitik berupa larutan yang
mengandung 0,9% collodian dan acetone. Telah menunjukkan hasil memuaskan
pada penanganan infeksi Molluscum Contagiosum Virus (MCV). Pemberian
bahan ini terbatas pada puncak lesi serta didiamkan selama kurang lebih 4 jam
sebelum lesi dicuci. Cantharidin menginduksi lepuhan pada kulit sehingga perlu
dilakukan tes terlebih dahulu pada lesi sebelum digunakan.Bila pasien mampu

menoleransi bahan ini, terapi dapat diulang sekali seminggu sampai lesi hilang.
Efek samping pemberian terapi meliputi eritema, pruritus serta rasa nyeri dan
terbakar pada daerah lesi. Kontraindikasi penggunaan Cantharidin pada lesi
moluskum kontagiosum di daerah wajah4.
PROGNOSIS
Pasien akan sembuh spontan, tapi biasanya setelah waktu yang lama,
berbulan bulan sampai tahunan. Dengan menghilangkan semua lesi, penyakit ini
jarang atau tidak residif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Stulberg, Daniel L. Hutchinson, Anne Galbraith. Molluscum Contagiosum
And Warts. American Family Physician. Volume 67, Number 6th.
2010.1233-1240.
2. Chen, Xiaoying. Anstey, Alex V. Bugert, Joachim J. Molluscum
Contagiosum Virus Infection. Lancet Infect Dis 2013; 13: 87788.
3. Berk. David R. Bayliss, Susan J. Milia: A Review And Classification. J
Am Acad Dermatol 2008;59:1050-63.
4. BCCDC Non-certified Practice Decision Support Tool. Molluscum
Contagiosum. December 2014.