Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH

PROKRASTINASI
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kesehatan Mental
Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

TRI SUGENG ADEK PURNOMO


AULIA RIZKA NOVIYANTI
CITRA FAJAR SARI
MOCH. ALDO ARMANDO A.
SAFUTRI NURHIDAYAH

3D
3C
3C
3D

Kelas

( 1114500103 )
( 1114500106 )
3D
( 1114500037 )
1114500091 )
( 1114500057 )

: 3 BK

Dosen Pengampu : Sri Adi Nurhayati, S.Psi ., MM

PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas mata kuliah Kesehatan Mental yang
berjudul PROKRASTINASI.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
Kesehatan Mental yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang
datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Pancasakti. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan
datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Terima kasih.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ................................................................................. 1
Rumusan Masalah ............................................................................ 1
Tujuan ............................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Pengertian Prokrastinasi ............................................................. 3


Prokrastinasi dalam perspektif Islam .......................................... 6
Tipe tipe procrastinator................................................ 8
Perilaku Prokrastinasi ............................. 10
Ciri ciri pelaku prokrastinasi ....................................10
Jenis jenis prokrastinasi... 13
Faktor penyebab Prokrastinasi ................................................... 18
Teori prokrastinasi .............................. 26
Karakteristik prokrastinasi .......... 29
Dampak Prokrastinasi ............ 31

K. Penanganan
Prokrastinasi............................................................
31
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan iii
B. Saran ...iii
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
3

Manusia adalah seorang makhluk yang paling sempurna dari pada


makhluk yang lain. Pekerjaan merupakan suatu tugas yang harus dilaksanakan
agar seseorang itu menjadi sukses tetapi banyak sekali tugas yang harus
dilaksanakan dengan baik dan segera sesuai dengan yang disepakati malah
seorang itu tidak di kerjakan sehingga banyak seseorang yang menjadi
terganggu perilaku seseorang tersebut.
Dan untuk mengetahui tentang perilaku diatas maka kami akan bahas di
bawah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan Prokrastinasi
2. Siapa Tokoh yang pertama kali menyimpulkan atau Meneliti tentang
3.
4.
5.
6.

Prokrastinasi
Dimana prokrastinasi itu dilakukan
Kapan prokrastinasi sering dilakukan oleh seseorang
Mengapa Prokrastinasi sering dilakukan
Bagaimana cara mencegah dan mengatasi agar tidak melakukan
prokrastinasi

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian, ciri ciri prokrastinasi
2. Untuk mengetahui siapa yang pertama kali menemukan istilah dari
3.
4.
5.
6.

prokrastinasi
Untuk mengetahui dimana saja prokrastinasi dilaksanakan
Untuk mengetahui kapan prokrastinasi sering dilakukan
Untuk mengetahui alasan orang melakukan prokrastinasi
Untuk mengetahui cara mencegah dan mengatasi prokrastinasi
Dan yang paling utama tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi

tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental yang diampu oleh Dosen Sri Adi Nurhayati,
S.Psi, S.Pd, MM

BAB I
PEMBAHASAN
A. Pengertian Prokrastinasi
1. Pengertian Prokrastinasi
Prokrastinasi berasal dari bahasa latin yaitu pro yang berarti maju, ke
depan, lebih menyukai dan crastinus yang berarti besok (Steel, 2006). Jadi
dari asal katanya prokrastinasi adalah lebih suka melakukan tugasnya besok.
Orang yang melakukan prokrastinasi disebut sebagai prokrastinator. Prokrastinasi
adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun mengetahui
bahwa penundaannya dapat menghasilkan dampak buruk.

Kata prokrastinasi sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan dalam salah
satu prasasti di Universitas Ottawa Canada, pada abad ke 17 kata ini telah
dituliskan oleh Walker dalam Khatbahnya. Disana dikatakan bahwa prokrastinasi
sebagai salah satu dosa serta kejahatan manusia, dengan menunda-nunda
pekerjaan manusia akan kehilangan kesempatan dan menyia-nyiakan karunia
Tuhan.
Prokrastinasi juga tidak selalu diartikan sama dalam bahasa dan budaya
manusia. Bangsa mesir kuno misalnya, mempunyai dua kata kerja yang memiliki
arti sebagai prokrastinasi, yang pertama menunjukkan pada suatu kebiasaan yang
digunakan untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan penting dan usaha yang
impulsuf. Sedangkan kata yang kedua menunjukkan pada kebiasaan yang
berbahaya akibat kemlasan dalam menyelesaikan suatu tugas yang penting untuk
nafkah hidup, seperti mengerjakan ladang ketika musim tanam tiba.
Bangsa Romawi menggunakan kata procrastinare dalam istilah militer
mereka yaitu perbuatan yang bijaksana untuk menangguhkan keputusan
menyerang dengan cara menunggu musuh keluar yang menunjukkan suatu sikap
sabar dalam konflik militer.
Pada abad lalu pokrastinasi bermakna positif bila penunda-nunda sebagai
upaya yang konstruktif untuk menghindari keputusan impilsif dan tanpa
pemikiran yang matang dan tanpa tujuan yang pasti.
Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa latin procrastinare, dari kata pro
yang artinya maju, ke depan, bergerak maju, dan crastinus yang berarti besok atau
menjadi hari esok. Jadi, prokrastinasi adalah menunda-nunda hari esok atau lebi
suka melakukan pekerjaannya besok. Orang yang melakukan prokrastinasi dapat
disebut sebagai procrastinator. (Kartadinata, 1, & Sia, T, Prokrastinasi Akademik
Dan Manajemen Waktu, Anima Indonesa Psychological Journal, 23 (2), 2008,
Hal.110).
Fiore mengatakan bahwa secara etiologis atau menurut asal katanya, istilah
prokrastinasi berasal dari bahasa latin yaitu pro atau forward yang berarti maju,
dan crastinus atau tomorrow yaitu hari esok, ini berarti prokrastinasi adalah maju
pada hari esok. Sedangkan secara etimologis prokrastinasi adalah suatu

mekanisme untuk mengatasi kecemasan yang berhubungan dengan bagaimana


cara memulai atau melengkapi suatu pekerjaan dan dalam hal membuat
keputusan. (Fiore, 2006 ).
Adapun pengertian prokrastinasi menurut beberapa peneliti yaitu:
1) Menurut Ferrari et.al (2000) menyimpulkan bahwa pengertian
prokrastinasi dapat dipandang dari berbagai sudut pandang yaitu :
a) Prokrastinasi adalah setiap perbuatan untuk menunda
mengerjakan tugas tanpa mempermasalahkan tujuan serta
alasan penundaan yang dilakukan.
b) Prokrastinasi sebagai suatu pola perilaku (kebiasaan) yang
mengarah kepada trait dan penundaan yang dilakukan sudah
merupakan respon yang menetap seseorang dalam
menghadapi tugas dan biasanya disertai dengan keyakinan
yang irrasional.
c) Prokrastinasi sebagai suatu trait kepribadian, tidak hanya
perilaku sebuah perilaku menunda saja tetapi melibatkan
struktur mental yang saling terkait dan dapat diketahui secara
langsung maupun tidak langsung.
2) Menurut Steel bahwa prokrastinasi adalah to voluntarity delay an
intended course of action despite expecting to be worse-off for the
delay, artinya prokrastinasi adalah menunda dengan sengaja
kegiatan yang diinginkan walaupun mengetahui bahwa
penundaannya dapat menghasilkan dampak buruk. (Kartadinata, 1,
& Sia, T, Prokrastinasi Akademik Dan Manajemen Waktu, Anima
Indonesia Psychological Journal, 23 (2), 2008, Hal.112)
3) Menurut Vestervelt secara umum diyakini bahwa selain meliputi
komponen perilaku, prokrastinasi juga meliputi koponen afektif dan
kognitif. Komponen afektif perilaku prokrastinasi di indikasikan
dengan kecenderungan kronis atau kebiasaan menunda dan
bermalas-malasan sehigga baru memulai, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas mendekati tenggang waktu. Terkait komponen

kognitif, Vestevelt mendefinisikan prokrastiasi sebagai sesuatu


kekurang sesuaian kronis atau intensi, prioritas, atau penentuan
tujuan terkait mengerjakan tugas yang sudah ditetapkan. Vestervelt
juga mengingatkan inndividu tidak dianggap berprokrastinasi apabila
salah mengingat jadwal atau tidak menyadari penundaan yang
dilakukannya. Vestervelt mengatakan pula bahwa prokrastinasi
haruslah disertai dengan afeksi negatif, misalnya merasa tertekan
atau tidak nyaman. (Sia Tjungdjing, Apakah Penundaan
Menurunkan Prestasi?, Anima, Indonesia Psychological Journal,
Vol. 22, No. 1, 2006, Hal. 18)
4) Menurut Silver, seorang prokrastinator tidak bermaksud menghindari
atau tidak mau tau dengan tugas yang dihadapi, akan tetapi mereka
hanya menunda-nunda untuk mengerjakannya sehingga menyita
waktu yang dibutuhkan utuk menyelesaikan tugas. Penundaan
tersebu sering kali menyebabkan dia gagal menyelesaikan tugas
tepat waktu. (Ferrari J. R, Self Handicapping By Procrastinator :
Academic Procrastination
http://www.carleton.cartpychyl/interner.html, diakses 28 Mei 2009
5) Menurut Watson menyatakan bahwa prokrastinasi berkaitan dengan
takut gagal, tiak suka ada tugas yang diberikan, menentang dan
melawan kontrol, mempunyai sifat ketergantungan dan kesulitan
dalam membuat keputusan. (Ferrari J. R, Self Handicapping By
Procrastinator : Academic Procrastination
http://www.carleton.cartpychyl/interner.html, diakses 28 Mei 2009)
Dari berbagai pendapat yang dikemukakan para ahli tentang prokrastinasi,
dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi merupakan kecenderungan seseorang
untuk menunda-nunda mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang sedang ia
hadapi yang pada akhirnya akan mengakibatkan kecemasan karena pada akhinya
dia tidak dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu dan maksimal atau
bahkan gagal menyelesaikannya.

2. Prokrastinasi dalam Perspektif Islam


Menunda-nunda adalah salah satu penyakit kronis manusia yang sangat
berbahaya. Seorang individu menangguhkan sebuah amal karena berpikir bahwa
amal tersebut bisa dikerjakan esok hari. Padahal, dengan menunda ia akan
menyesal ketika tidak mampu lagi mengerjakan pekerjaan tersebut dilain waktu.
Perilaku yang kurang terpuji ini, tentu sangat memprihatinkan, sebab sebagai
negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seharusnya kita harus lebih
cermat dalam memanfaatkan waktu. Hal ini disebabkan Al Quran dan Hadits
memberikan perhatian dari berbagai sudut pandang dan bentuk yang beragam
terhadap waktu. Al-Quran mengulang-ulang akan pentingnya waktu agar manusia
tidak sampai melalaikannya. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Ashr ayat 12:
Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian
Di kalangan para ahli tafsir dan dalam pandangan kaum muslimin, bahwa
ketika Allah SWT bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, hal itu
dimaksudkan untuk menarik perhatian mereka kepada aspek tersebut dan
memperingatkan kepada mereka betapa besar manfaat dan peranan aspek itu.
Selain ayat Al-quran tersebut diatas, ada salah satu hadist yang juga menganjurkan
memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Hadist tersebut berbunyi:
Artinya: Jika kamu di sore hari, jangan menunggu pagi hari; dan jika kamu
di pagi hari, jangan menunggu sore hari. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum
kamu sakit, dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.(Hadist riwayat Bukhari).
Ungkapan Ibnu Umar diatas juga mengingatkan kita untuk tidak
membiasakan diri menunda-nunda pekerjaan. Jika suatu pekerjaan bisa dilakukan
pada waktu sore, janganlah kita menundanya hingga esok pagi.
Jika suatu pekerjaan bisa dilakukan pada pagi hari, jangan pula kita
menundanya hingga sore hari. Jangan sampai kita menjadi orang yang tertipu
pada kenikmatan-kenikmatan yang ada dunia ini. Sebagaimana disinyalir oleh
Nabi melalui sabda beliau, yaitu:

Artinya: Ada dua kenikmatan, banyak manusia menjadi tertipu garagara dua kenikmatan ini, yaitu; nikmat kesehatan dan nikmat waktu
luang.(Hadist riwayat Bukhari)
B. Tipe-tipe Prokrastinator
Pada beberapa individu tipe prokrastinasi ini dapat bercampur, sedangkan
beberapa individu lainnya dapat diklasifikasikan dengan mudah pada satu tipe
yang lebih terlihat dari tipe lainnya. Menurut Ferrari ( 2000 ) Tipe tipe itu antara
lain :
1. The sometime-procrastinator, tipe ini merupakan seseorang yang
melakukan prokrastinator setiap hari.
2. The chronic-procrastinator, yaitu seseorang yang melakukan tindakan
prokrastinasi dalam semua area kehidupan. Perilaku prokrastinasi dapat
menjadi gaya hidup bagi prokrastinator kronik.
3. The tense-afraid type, yaitu seseorang yang sering merasa berada di
bawah tekanan untuk mencapai sukses dan selalu merasa takut gagal
sehingga melakukan prokrastinasi, contohnya: tidak mempunyai tujuan,
tidak mempunyai komitmen.
4. The relaxed type, yaitu tipe orang tidak mau mengambil pusing dengan
tugas yang sedang atau harus dikerjakan, merasa bisa melakukannya
dilain waktu dan lebih memilih melakukan sesuatu yang lebih
menyenangkan.
Menurut Sapadin dan Maguire (2000), ada 6 tipe prokrastinator:
1. The perfectionist
seseorang yang enggan memulai atau menyelesaikan tugasnya, karena jika
hasilnya kurang dari sempurna, maka hal tersebut dilihat sebagai kegagalan oleh
dirinya atau orang lain
2. The dreamer
ingin hidup berjalan dengan lancar dan menghindari tugas yang sulit.
Pemikiran grandiose tidak dapat diterjemahkan dalam tujuan yang jelas dan dapat
diraih.

10

3. The worrier
a. memiliki ketakutan bahwa hal-hal tidak akan berjalan sesuai dengan
tujuannya.
b. seringkali perilakunya dipengaruhi oleh rasa cemas dan muncul pikiranpikiran seperti bagaimana jika..
c. seringkali menghindari resiko dan perubahan.
d. memiliki sedikit kepercayaan diri terhadap kemampuannya dalam
mengambil keputusan atau mentoleransi ketidaknyamanan
4. The defier
a. Seseorang yang resisten, senang berargumen dengan instruksi dan saran
orang lain.
b. Kurang suka jika orang lain memberikan arahan mengenai apa yang harus
dilakukan atau saat orang lain berusaha untuk mengontrol dirinya
c. Resistensi merupakan bentuk tidak langsung dari passive-aggressive yang
mengatakan iya pada permintaan orang lain, namun sebenarnya ia
mengatakan tidak dikarenakan ia tidak siap untuk mengambil tanggung
jawab untuk mengerjakan hal tersebut saat itu.
5. The crisis-maker
a. Seseorang yang suka menunjukkan keberanian dengan menyatakan bahwa
ia tidak dapat termotivasi hingga saat-saat terakhir atau saat ini merupakan
saat dimana ia dapat mengeluarkan sisi terbaiknya.
b. Cenderung mudah bosan dengan aktivitas yang menurutnya kurang
menantang.
6. The overdoer
a. Merupakan individu yang memiliki banyak pekerjaan tanpa membangun
prioritasnya
b. Mereka tidak dapat mengatur waktu dengan efisien yang kemudian
mengarah pada pekerjaan yang tidak terselesaikan, tidak memuaskan, atau
terlambat menyelesaikan
C. Perilaku prokrastinasi
perilaku prokrastinasi dibedakan menjadi 2 (Chu & Choi, dalam Gafni &
Geri, 2010), yaitu:
1. Prokrastinator aktif:
Memilih untuk bekerja di bawah tekanan dan sengaja untuk menunda tugastugasnya, namun mereka tetap menyelesaikan tugasnya tepat waktu.
11

2. Prokrastinator pasif:
Orang-orang yang terhambat oleh sikap indecisive dan gagal untuk
menyelesaikan tugasnya tepat waktu.
D. Ciri-Ciri Pelaku prokrastinasi
Burka dan Yuen (2008), menjelaskan ciri-ciri seorang pelaku prokrastinasi
antara lain:
1. Prokrastinator lebih suka untuk menunda pekerjaan atau tugastugasnya.
2. Berpendapat lebih baik mengerjkan nanti dari pada sekarang, dan
menunda pekerjaan adalah bukan sutu masalah.
3. Terus megulang perilaku prokrastinasi.
4. Pelaku prokrastinasi akan kesulitan dalam mengambil keputusan.
Menurut Ferrari (M. N. Ghufron,2003: 22), mengatakan bahwa sebagai
suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat terminifertasikan dalam
indikator tertentu yang dapat dikir dan diawali dalam ciri-ciri tertentu berupa:
a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas
yang dihadapi.
b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas.
c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.
Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas-tugas
yang dihadapi jadi siswa yang melakukan prokrastiasi tahu bahwa tugas yang
dihadapinya harus segera diselesaikan, akan tetapi dia menunda-nunda untuk
mulai mengerjakannya atau menunda-nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas
jika dia sudah mulai mengerjakan sebelumnya. Keterlambatan dalam mengerjakan
tugas, jadi siswa yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lma
dari pada watu yang dibutuhkn dalam penyelesaia suatu tugas, tanpa
meperhitungkan keterbatasan waktu yang dimiliinya. Kadang-kadang tindakan
tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara
memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya siswa dalam melakukan suatu tugas
dapat menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi akademik.
Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual, maksudnya siswa
yang melakukan prokrastinasi mempuyai kesulitan untuk melakukan sesuatu
sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorag

12

prokrastinator sering mengalami keterlambatan dalam memenuhi deadline yang


telah ditentukan, baik oleh orang lain maupun rencana-rencana yang telah
ditentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai
mengerjakan tugas pada waktu yang telah ditentukan akan tetapi ketika saatnya
tiba tidak juga melakukannya sesuai dengan apa yang telah direncanakan,
sehingga menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan
tugas secara memadai degan melakukan aktifitas lain yang lebih menyengkan dari
pada melakukan tugas yang harusnya dikerjaan. Siswa yang melakukan
prokrastinasi dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi
menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktifitas lain yang
dipandang lebih menyenangkan dan mendtangkan hiburan, seperti membaca
(koran, majalah, atau buku cerita lainnya), nonton, ngobrol, jalan, mendengarkan
musik, dan sebagainya. Sehingga menyita waktu yang dia miliki untuk
mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri prokrastinasi adalah penundaan
untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi,
keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan
kinerja aktual dan melakukan aktifitas lain yang lebih menyengkan dari pada
menyelesaika tugas yang harus dikerjakan.
Millgram (dalam Fibrianti, 2009) menyatakan bahwa dalam prokrastinasi
meliputi empat aspek, yaitu:
a. Melibatkan unsur penundaan, baik untuk memulai maupun
menyelesaikan tugas-tugas akademik
Seorang prokrastinator cenderung tidak segera memulai ataupun
menyelesaikan tugas-tugas akademik yang harus segera diselesaikan.
b. Menghasilkan akibat-akibat lain yang lebih jauh
Mahasiswa yang melakukan prokrastinasi menghasilkan akibat
akibat yang negatifmisalnya keterlambatan menyelesaikan tugas
maupun kegagalan dalam mengumpulkan tugas tersebut
c. Melibatkan suatu tugas yang dipersepsikan oleh pelaku prokrastinasi
sebagai tugas yang penting untuk dikerjakan
Mahasiswa mengetahui bahwa tugas-tugas akademik merupakan
tugas penting yang harus diselesaikan, akan tetapi mereka cenderung
13

tidak segera mengerjakan atau menyelesaikan tugas tersebut. Bahkan


mengganti mengerjakan tugas dengan aktivitas lain yang tidak
penting.
d. Menghasilkan keadaan emosional yang tidak menyenangkan,
misalnya perasaan cemas, perasaan bersalah, marah, panik.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa ciri-ciri prokrastinasi adalah
penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang
dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara
rencana dan kinerja aktual, melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan
daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.
E. Jenis-Jenis Prokrastinasi
Ada 5 macam prokrastinasi (Balkis dan Duru, 2009), yaitu:
1. General procrastination
Sikap menghindari pekerjaan dan tugas sehari-hari. Biasanya mereka
kesulitan melakukan tugas sehari-hari karena tidak mampu mengatur waktu dan
melakukan manajemen dengan efektif.
2. Academic procrastination
Adapun beberapa pendapat ilmuwan tentang pengertian prokrastinasi
akademik sebagai berikut:
a) Prokrastinasi akademik didefinisikan sebagai suatu kecenderungan
tidak logis untuk menunda pada awalnya dan atau menyelesaikan
tugas akademis (dalam Senecal et. al, 2003)
b) Prokrastinasi akademik didefinisikan sebagai penundaan baik
dalam hal pengerjaan tugas maupun dalam hal belajar, dan
menundanya hingga saat terakhir sehingga pada akhirnya akan
menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dalam diri prokrastinator
(Capan, 2010).
c) Noran mendefinisikan prokrastinasi akademik sebagai bentuk
penghindaran dalam mengerjakan tugas yang seharusnya
diselesaikan oleh individu (Akinsola et. al, 2007).

14

Prokastinasi akademik merupakan prokastinasi situasional yang


berhubungan dengan tugas akademik (Harris & Sutton, 1983). Solomon &
Rothblum (1986) mendefinisikan prokrastinasi akademik sebagai:
1) hampir selalu atau selalu menunda tugas akademik, dan
2) hampir selalu atau selalu mengalami pengalaman kecemasan dengan
tugas akademik.
Beswick & Mann (1994) mengartikan prokratinasi akademik sebagai
delay beginning or completing an intended course of action. Sedangkan
Solomon & Rothblum (1984) mengartikannya delay in conjunction with
subjective discomfort.
Prokrastinasi akademik terdiri dari enam unsur yaitu
1) tugas mengarang, meliputi penundaan melaksanakan tugas
menulis makalah, laporan atau tugas mengarang lainnya,
2) belajar menghadapi ujian, meliputi penundaan belajar ketika
menghadapi ujian tengah semester, akhir semester atau kuis,
3) membaca, menunda membaca buku, jurnal, referensi yang
berkaitan dengan tugas akademik,
4) tugas administratif, meliputi menyalin catatan kuliah,
mendaftarkan diri dalam presensi, daftar praktikum,
5) menghadiri pertemuan, penundaan atau keterlambatan
menghadiri kuliah, praktikum, dan lain-lain, dan
6) kinerja akademik secara keseluruhan, menunda kewajiban
mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara
keseluruhan.
Solomon & Rothblum (1984) mengemukakan beberapa faktor yang
berkorelasi dengan prokrastinasi akademik, yaitu manajemen waktu yang buruk,
lokus kendali diri, perfeksionis, takut gagal, dan menghindari tugas. Ferari (Rizvi,
1997) mengemukakan etiologi prokrastinsasi ke dalam tiga kategori, yaitu:
1) Takut gagal,
2) Tidak menyukai tugas, dan
3) Faktor lain.
Beberapa factor lain tersebut antara lain sifat ketergantungan
pada orang lain dan banyak membutuhkan bantuan, pengambilan

15

keputusan dengan resiko berlebihan, sikap kurang tegas,sikap


memberontak, dan kesukaran dalam memilih keputusan.
Lay, Knish, dan Zannata (1992) mengemukakan perilaku khusus yang
berkontribusi terhadap prokrastinasi mahasiswa yaitu kurang latihan atau
persiapan, kurangnya usaha, dan tidak sesuainya adegan kinerja, khususnya
dalam persiapan. Perilaku lain yang berkontribusi terhadap prokrastinasi
adalah sabotase diri atau self-handicapping yaitu memilih untuk
mengerjakan tugas namun kemudian malah menyebabkan menunda mengerjakan
tugas.
3. Decision-making procrastination
Individu sulit mengambil keputusan sehingga selalu menunda karena tidak
mampu memilih prioritas pekerjaannya
4. Neurotic procrastination
Seseorang cenderung memilih untuk menunda mengerjakan sesuatu karena
berpikir mengenai apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.
5. Non-obsessional or non-functional procrastination
Menunda untuk memunculkan sebuah perilaku.
Menurut Ferrari (Yemima Husetiya, 2010: 6), membagi prokrastinasi
menjadi dua jenis prokrastinasi berdasarkan manfaat dan tujuan melakukannya,
yaitu:
a. Functional Procrastination
Yaitu penundaan mengerjakan tugas yang bertujuan memperoleh
informasi lengkap dan akurat.
b. Dysfunctional procrastination
Yaitu penundaan yang tidak bertujuan, berakibat buruk dan
menimbulkan masalah. Dysfunctional procrastination ini dibagi lagi
menjadi dua hal berdasarkan tujuan mereka melakukan penundaan:
1) Decisional procrastion
Menurut Ferrari (M. N. Ghufron 2003: 18), prokrastinasi
dilakukan sebagai bentuk coping yang ditawarkan untuk
menyesuaikan diri dalam pembuatan keputusan pada situasi penuh
stres. Jenis prokrastinasi ini terjadi akibat kegagalan dalam
16

identifikasi tugas, yang kemudian menimbulkan konflik dalam


individu sehingga akhirnya seseorang menunda untuk memutuskn
sesuatu. Decisional procrastion berhubungan dengan kelupaan atau
kegagalan proses kognitif, akan tetapi tidak berkaaitn dengan
kurangnya tingkat intelegensi seseorang.
2) Behavioral atau avoidance procrastination
Menurut Ferrari (M. N. Ghufron, 2003: 19), penundaan
dilakukan dengan suatu cara untuk menghindari suatu yang
dirasakan tidak menyenangkan dan sulit untuk dilakukan.
Prokrastinasi dilakukan untuk menghindari kegagalan dalam
menyelesaikan pekerjaan, yang akan mendatangkan nilai negatif
dalam dirinya sehingga seseorang menunda untuk melakukan
sesuatu yang nyata yaang berhubungan dengan tugasnya.
Berdasarkan pendapat diatas, dapaat disimpulkan bahwa prokrastinasi dapat
dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan tujuan dan manfaan penundaan yaitu
prorastinasi yang dysfuncional (yang menampakkan penundaan yang tidak
bertujuan dan merugikan dan prokrastinasi yang fungsional, yaitu penundaan yang
disertai alasan yang kuat, mempunyai tujuan pasti sehingga tidak merugikan,
bahkan berguna untuk melakukan suatu upaya konsumtif agar suatu tugas dapat
diselesaikan dengan baik. Penelitian ini dibatasi pada jenis dysfunctional
behavioral procrastination yaitu penundaan yang dilakukan pada tugas yang
penting, tidak bertujuan, dan bisa menimbulkan akibat negatif.
Prokrastinasi dapat dilakukan pada beberapa jenis pekerjaan. Menurut
Peterson bahwa seseorang dapat melakukan penundaan hanya pada hal-hal
tertentu saja atau pada semua hal. Sedangkan tugas yang sering ditunda oleh
prokrastinator yaitu pada tugas pembuatan keputusan, aktivitas akademik, tugas
rumah tangga dan pekerjaan kantor.
Istilah yang sering digunakan para ahli untuk membagi jenis-jenis tugas
tersebut adalah prokrastinasi akademik dan non akademik. Prokrastinasi akademik
adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yag berhubungan
dengan tugas akademik, misalnya tugas sekolah, tugas kursus dan tugas kuliah.
Prokrastinasi non akademik adalah penundaan yang dilakukan pada jenis tugas
17

non formal atau tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya
tugas rumah tangga, tugas sosial, tugas kantor dan sebagainya.
Solomon dan Rothblum membagi enam area akademik dimana biasa terjadi
prokrastinasi pada pelajar. Enam area akademik tersebut yaitu:
a. Tugas menulis, contohnya antara lain keengganan dan penundaan
pelajar dalam melakanakan kewajiban menulis makalah, laporan, dan
tugas menulis lainnya.
b. Belajar menghadapi ujian, contohya pelajar melakukan penundaan
belajar ketika menghadapi ujian, baik ujian semester, ujian akhir
semester, kuis-kuis, maupun ujian yang lainnya.
c. Tugas membaca per minggu, contohnya antara lain penundaan dan
keengganan pelajar membaca buku referensi atau literatur-literatur
yang berhubungan dengan tugas sekolahnya.
d. Tugas administratif, meliputi penundaan pengerjaan dan penyelesaian
tugas-tugas administratif, seperti menyalin catatan materi pelajaran,
membayar SPP, mengisi daftar hadir (presensi) sekolah, presensi
praktikum, dan lain-lain.
e. Menghadiri pertemuan, antara lain penundaan dan keterlambatan
dalam masuk sekolah, praktikum dan pertemuan lainnya.
f. Tugas akademik pada umumnya, yaitu penudaan pelajar dalam
mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas kademik lainnya secara
umumnya. (M. N. Ghufron, Hubungan Control Diri Dan Persepsi
Remaja Terhadap Penerapan Disiplin Orang Tua Dengan
ProkrastinasiAkademik,www.mitropedulicenter.multiply.com,diakses
23 April 2009.
F. Faktor Penyebab Prokrastinasi
Sementara itu, Catrunada mengungkapkan tentang sepuluh wilayah
magnetis yang menjadi faktor-faktor dilakukannya prokrastinasi:
a) Anxiety ( Kecemasan )
Anxiety dapat diartikan sebagai kecemasan. Kecemasan pada
akhirnya menjadi kekuatan magnetik yang berlawanan dimana tugastugas yang diharapkan dapat diselesaikan berinteraksi dengan

18

kecemasan yang tinggi, sehingga seseorang cenderung menunda


tugas tersebut.
b) Self-Depreciation (Kurangnya penghargaan akan diri)
Dapat diartikan sebagai pencelaan terhadap diri sendiri.
Seseorang memiliki penghargaan yang rendah atas dirinya sendiri dan
selalu siap untuk menyalahkan diri sendiri ketika terjadi kesalahan
dan juga merasa tidak percaya diri untuk mendapat masa depan
yang cerah.
c) Low Discomfort Tolerance (Rendahnya toleransi terhadap
ketidakyakinan )
Dapat diartikan sebagai rendahnya toleransi terhadap
ketidaknyamanan. Adanya kesulitan pada tugas yang dikerjakan
membuat seseorang mengalami kesulitan untuk menoleransi rasa
frustrasi dan kecemasan, sehingga mereka mengalihkan diri sendiri
kepada tugas-tugas yang mengurangi ketidaknyamanan dalam diri
mereka.
d) Pleasure-seeking (Pencarian kesenangan )
Dapat diartikan sebagai pencari kesenangan. Seseorang yang
mencari kenyamanan cenderung tidak mau melepaskan situasi yang
membuat nyaman tersebut. Jika seseorang memiliki kecenderungan
tinggi dalam mencari situasi yang nyaman, maka orang tersebut
akan memiliki hasrat kuat untuk bersenang-senang dan memiliki
kontrol impuls yang rendah.
e) Time Disorganization ( Ketidakteraturan waktu )
Dapat diartikan sebagai tidak teraturnya waktu. Mengatur
waktu berarti bisa memperkirakan dengan baik berapa lama seseorang
membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Aspek
lain dari lemahnya pengaturan waktu adalah sulitnya seseorang
memutuskan pekerjaan apa yang penting dan kurang penting untuk
dikerjakan hari ini.Semua pekerjaan terlihat sangat penting sehingga
muncul kesulitan untuk menentukan apa yang harus dikerjakan
terlebih dahulu.
f) Environmental Disorganisation ( Ketidakteraturan Lingkungan )

19

Dapat diartikan sebagai berantakan atau tidak teraturnya


lingkungan. Salah satu faktor prokrastinasi adalah kenyataan bahwa
lingkungan disekitarnya berantakan atau tidak teratur dengan baik, hal
itu terjadi kemungkinan karena kesalahan individu tersebut. Tidak
teraturnya lingkungan bisa dalam bentuk interupsi dari orang lain,
kurangnya privasi, kertas yang bertebaran dimana-mana, dan alat-alat
yang dibutuhkan dalam pekerjaan tersebut tidak tersedia. Adanya
begitu banyak gangguan pada area wilayah pekerjaan menyulitkan
seseorang untuk berkonsentrasi sehingga pekerjaan tersebut tidak bisa
selesai tepat pada waktunya.
g) Poor Task Approach ( Pendekatan yang lemah terhadap tugas )
Dapat diartikan sebagai pendekatan yang lemah terhadap tugas.
Jika akhirnya seseorang merasa siap untuk bekerja, kemungkinan dia
akan meletakkan kembali pekerjaan tersebut karena tidak tahu
darimana harus memulai sehingga cenderung menjadi tertahan oleh
ketidaktahuan tentang bagaimana harus memulai dan menyelesaikan
pekerjaan tersebut.
h) Lack of Assertion ( Kurang memberikan pernyatan yang tegas )
Dapat diartikan sebagai kurangnya memberikan pernyataan
yang tegas. Contohnya adalah seseorang yang mengalami kesulitan
untuk berkata tidak terhadap permintaan yang ditujukan kepadanya
sedangkan banyak hal yang harus dikerjakan karena telah dijadwalkan
terlebih dulu. Hal ini bisa terjadi karena mereka kurang memberikan
kehormatan atas semua komitmen dan tanggung jawab yang dimiliki.
i) Hostility with others ( Permusuhan terhadap orang lain )
Dapat diartikan sebagai permusuhan terhadap orang lain.
Kemarahan yang terus menerus bisa menimbulkan dendam dan sikap
bermusuhan sehingga bisa menuju sikap menolak atau menentang
apapun yang dikatakan oleh orang tersebut.
j) Stress and fatigue ( Perasaan tertekan dan kelelahan )
Dapat diartikan sebagai perasaan tertekan dan kelelahan.Stres
adalah hasil dari sejumlah intensitas tuntutan negatif dalam hidup

20

yang digabung dengan gaya hidup dan kemampuan mengatasi


masalah pada diri individu. Semakin banyak tuntutan dan semakin
lemah sikap seseorang dalam memecahkan masalah, dan gaya hidup
yang kurang baik, semakin tinggi stres seseorang (Catrunada, 2011)
http://www.psychologymania.com/2012/12/penyebab-perilakuprokrastinasi.html
Menurut Ferrari (M. N. Ghufron, 2003: 28) menyatakan, prokrastinasi
mengganggu dalam dua hal:
1. Faktor internal
Faktor - faktor yang mempengaruhi individu untuk melakukan
prokrastinasi, meliputi:
1) Kondisi kodrati, Terdiri dari jenis kelamin anak, umur, dan
urutan kelahiran. Anak sulung cenderung lebih diperhatikan,
dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum berpengalaman.
Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya
cukup jauh dari kakaknya.
2) Kondisi fisik dan kondisi kesehatan, mempengaruhi munculnya
prokrastinasi akademik. Menurut Ferrari (M. N. Ghufron,
2003: 28), tingkat itelegensi tidak mempengaruhi prokrastinasi
walaupun prokrastinasi sering disebabkan oleh adanya
keyakinan-keyakinan.
3) Kondisi psikologis, trait kepribadian yang dimiliki individu
turut mempengaruhi munculnya perilaku prokrastinasi,
misalnya hubungan kemampuan sosial dan tingkat kecemasan
dalam berhubungan sosial, Millgram (M. N. Ghufron,
2003:28).
Sikap perfeksionis yang dimiliki seseorang biasanya
mempengaruhi perilaku prokrastinasi lebih tinggi. Besarnya
motivasi seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi
secara negatif. Semakin tinggi motivasi yang dimiliki individu
ketika menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungan
untuk melakukan prokrastinasi akademik, Briordy (M. N.
Ghufron, 2003: 29).
21

2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang ikut menyebabkan kecenderungan
munculnya prokrastinasi akademik dalam diri seseorang yaitu faktor
pola asuh orang tua, lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah.
Menurut Ferrari & Ollivete (Ghufron, 2003: 28), tingkat
pengasuhan otoriter ayah akan menyebabkan munculnya
kecenderungan prokrastinasi yang kronik pada subyek peneliti anak
wanita, sedangkan tingkat otoritatif ayah menghasilkan perilaku anak
wanita yang tidak melakukan prokrastinasi.
Menurut Millgram (M. N. Ghufron, 2003: 30), kondisi
lingkungan yang linent, yaitu lingkungan yang toleran terhadap
prokrastinasi mempengaruhi tinggi rendahnya prokrastinasi seseorang
daripada lingkungan yang penuh dengan pengawasan.
Menurut Stell perilaku prokrastinasi kerja dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu:
a. Kesengajaan antara niat dan tindakan (intetron Action Gap)
Menunda-nunda tidak hanya dilakukan secara irasional, tetap juga
tanpa niatan.
b. Tugas yang sulit
Perilaku yang dianggap tidak menyenangkan dan cenderung
dihindari. Semakin tidak menyenangkan, maka situasi tersebut
semakin dihindari.
c. Pimikiran Dalam
Prokrastinasi sering kali bersumber dari pemikiran-pemikiran yang
neorotis. Perasaan khawatir yang berlebihan, kecemasan dasar, semua
itu adalah sumber neurotisme.
d. Keyakinan diri (self efficacy) dan (self esteem)
Sebagaimana dengan ketakutan dan kegagalan yang berasumsi
dengan neurotisme, hal tersebut berkaitan dengan keyakinan diri (self
efficacy) dan citra diri (self esteem) seseorang.
e. Impulsivines
Seseorang yang impulsive cenderung mudah terjerumus dalam
perilaku menunda-nunda dan mudah tertarik pada situasi yang
memikat.
f. Kontrol diri (self control)
22

Prokrastinator seringkali merasa out of control terhadap perilaku


menunda yang dilakukannya. Penundaan kerap kali berulangkali
dilakukan terhadap apa yang seharusnya dimulai atau diselesaikan,
karena menganggap hal tersebut biasa dilakukan.
Penyebab prokrastinasi bisa mental dan fisik. Dengan kata lain, psikologis
atau fisiologis. Penyebab karena prokrastinasi itu sendiri, adalah perilaku yang
sangat individualistis yang diatur oleh keadaan individual. Penyebab prokrastinasi
oleh lingkungan antara lain :
1. Kurangnya sumber daya
Penyebab lingkungan mungkin kurangnya sumber daya untuk
tugas tertentu. Hal ini berlaku terutama untuk lingkungan kerja di mana
manajer mungkin tidak dapat mengambil keputusan hanya karena dia
kurang mampu.
2. Tugas-tugas lain yang menerima prioritas lebih tinggi
Seseorang yang terus menunda-nunda beberapa tugas di tangannya
dan dia akan menjawab Saya punya prioritas lain dalam hidup.
3. Menahan diri dari melakukan tugas
Ini merupakan situasi yang ekstrim di mana lingkungan, tekanan
pribadi atau professional dapat dimasukkan pada seseorang/individu yang
mungkin akan dipaksa untuk menunda-nunda tugas tertentu.
Selain alasan mengapa kita menunda-nunda, kita sering datang
dengan sejumlah alasan atau rasionalisasi untuk membenarkan perilaku kita.
Menurut Tuckman, Abry, dan Smith, ( 2000 ) ada 14 alasan utama mengapa
orang menunda-nunda:
1. Tidak tahu apa yang perlu dilakukan
2. Tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu
3. Tidak ingin melakukan sesuatu
23

4. Tidak peduli apakah itu akan dilakukan atau tidak


5. Tidak peduli ketika sesuatu akan dilakukan
6. Tidak merasa dalam mood untuk melakukannya
7. Berada dalam kebiasaan menunggu sampai menit terakhir
8. Percaya bahwa Anda bekerja lebih baik di bawah tekanan
9. Berpikir bahwa Anda dapat menyelesaikannya pada menit terakhir
10. Kurang inisiatif untuk memulai Melupakan
11. Menyalahkan sakit atau kesehatan yang buruk
12. Menunggu saat yang tepat
13. Perlu waktu untuk berpikir tentang tugas
14. Menunda satu tugas dalam mendukung bekerja di lain.
Menurut Burka &Yuen (2008), konsekuensi negatif prokrastinasi dapat
bersifat internal dan eksternal. Konsekuensi negatif yang diperoleh oleh
prokrastinator secara internal dapat berupa perasaan frustasi, perasaan bersalah.
Konsekuensi negatif yang sifatnya ekternal berupa lemahnya performa
akademis dan pekerjaan, rapuhnya relasi interpersonal, dan hilangnya kesempatan.
Misalnya mahasiswa yang melakukan prokrastinasi dalam belajar, ia tidak akan
optimal menyajikan makalah atau presentasi dalam kelas. Hal ini dikarenakan
mahasiswa tersebut tidak memperhitungkan waktu dalam mengerjakan tugas
akademis sehingga tergesa-gesa dalam pengerjaan tugas tersebut.
Selain itu prokrastinasi ternyata memberi dampak buruk bagi prestasi
seseorang. Hasil meta analisis Tjundjing (2006) menunjukkan bahwa prokrastinasi
berkorelasi negatif dengan prestasi yaitu r = -0.270. Mahasiswa yang memiliki
tingkat prokrastinasi yang tinggi mendapatkan prestasi akademik yang rendah.
Menurut Monchec dan Munchik (dalam Van Wyk, 2004), konsekuensi
negatif prokrastinasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsekuensi konkret dan
konsekuensi emosional. Konsekuensi konkret berupa rendahnya produktivitas,
hilangnya kesempatan, dan membuang waktu dengan percuma. Konsekuensi
emosional berupa tingkat moral yang rendah, stres meningkat, rasa frustasi dan
marah, serta motivasi yang rendah.
Tice dan Baumeister (2000) melaporkan bahwa prokrastinator mengalami
lebih sedikit stres dan penyakit di awal semester dan bertambah sampai akhir
semester. Tingkat stres yang tinggi ini bersamaan dengan kondisi kesehatan yang
rendah. Mereka juga menemukan bahwa perilaku prokrastinasi tidak

24

menyebabkan penyakit yang berbeda-beda, namun menyebabkan semakin


kronisnya satu jenis penyakit.
Konsekuensi-konsekuensi negatif yang telah dipaparkan menunjukkan
bahwa perilaku prokrastinasi menyebabkan kerugian bagi prokrastinator.
Sekalipun prokrastinasi terkadang tidak merugikan, namun prokrastinasi tidak
pernah menguntungkan. Dampak positif dari prokrastinasi pada jangka pendek
tidaklah sebanding dengan dampak negatif yang harus dibayar pada jangka
panjang.
Tabel pernyataan atau perkataan orang berperilaku Prokrastinasi
Aspek
1. Deskripsi umum mengenai
kecenderungan menunda
sesuatu

Item
Saya menunda menyelesaikan suatu
pekerjaan, meskipun pekerjaan tersebut
penting.Saya berjanji pada diri saya
untuk

2. Kecenderungan menghindari
tugas yang sulit atau tidak
menyenangkan

segera melakukan sesuatu, tetapi


kemudian menundanya juga.
Saya menunda memulai suatu hal yang
sulit.Ketika saya merasa terhambat,
saya

3. Kecenderungan untuk

berhenti mengerjakan tugas saya.


Saya menganggap bahwa orang yang

menyalahkan orang lain akan

memberi saya pekerjaan yang sulit

situasi yang dihadapi Item

adalah
orang yang tidak adil.Orang lain tidak
berhak untuk memberikan saya
deadline

G. Teori Prokrastinasi
Berikut ini akan disajikan beberapa pandangan teoritis mengenai
prokrastinasi, yakni ditinjau dari teori-teori yang berasal dari Barat, seperti:
Psikodinamika, Behaviorisme, dan Behavioral Kognitif.
25

1. Psikodinamika.
Penganut psikodinamika beranggapan bahwa pengalaman masa
kanak-kanak akan mempengaruhi perkembangan proses kognitif seseorang
ketika dewasa, terutama trauma. Seseorang yang pernah mengalami
trauma akan suatu tugas tertentu, misalnya gagal menyelesaikan tugas
sekolahnya, akan cenderung melakukan prokrastinasi ketika ia dihadapkan
lagi pada suatu tugas yang sama. Orang tersebut akan teringat kepada
pengalaman kegagalan maupun perasaan tidak menyenangkan yang pernah
dialami seperti masa lalu, sehingga seseorang menunda mengerjakan tugas
sekolah, yang dipersepsikannya akan mendatangkan perasaan seperti masa
lalu (Ferrari dkk, dalam Romano, 1996: 698).
Berkaitan dengan konsep tentang penghindaran tugas, Freud
(dalam Ferrari dkk, 2000) mengatakan bahwa seseorang yang dihadapkan
pada tugas yang mengancam ego pada alam bawah sadar akan
menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Perilaku penundaan atau
prokrastinasi merupakan akibat dari penghindaran tugas dan sebagai
mekanisme pertahanan diri. Seseorang bisa secara tidak sadar melakukan
penundaan untuk menghindari penilaian yang dirasakan akan mengancam
keberadaan ego atau harga dirinya. Akibatnya, tugas yang cenderung
dihindari atau yang tidak diselesaikan adalah jenis tugas yang
mengancam ego seseorang, seperti menghindari tugas-tugas sekolah
sebagaimana tercermin dalam perilaku prokrastinasi akademik.
2. Behaviorisme.
Penganut aliran Behaviorisme beranggapan bahwa perilaku
prokrastinasi akademik muncul akibat proses pembelajaran. Seseorang
yang pernah merasakan sukses dalam melakukan tugas sekolah dengan
melakukan penundaan, cenderung akan mengulangi lagi perbuatannya.
Sukses yang pernah dia rasakan akan dijadikan hadiah (reward) untuk
mengulangi perilaku yang sama di masa yang akan datang (Bijou dkk,
dalam Ferrari dkk, 1995: 8). Adanya obyek lain yang memberikan hadiah
lebih menyenangkan daripada obyek yang diprokrastinasi, menurut
McCown dan Johnson (dalam Ferrari dkk, 1995: 9), juga dapat

26

memunculkan perilaku prokrastinasi akademik. Seseorang yang


memandang bermain video game lebih menyenangkan daripada
mengerjakan tugas sekolah, mengakibatkan tugas sekolah lebih sering
diprokrastinasi daripada bermain video game.
Di samping hadiah yang diperoleh, prokrastinasi akademik juga
cenderung dilakukan pada jenis tugas sekolah yang memiliki konsekuensi
hukuman (punishment) dalam jangka waktu yang lama. Hal itu bisa terjadi
karena konsekuensi hukuman yang akan dihadapi kurang begitu kuat
untuk menghentikan perilaku prokrastinasi. Misalnya, jika seseorang
terpaksa harus memilih untuk menunda belajar ujian semester atau
menunda untuk mengerjakan pekerjaan rumah mingguan, maka
kencederungan untuk menunda belajar untuk ujian semester lebih besar
daripada menunda mengerjakan pekerjaan rumah minggguan.
Kecenderungan tersebut timbul karena resiko nyata akibat menunda
pekerjaan rumah mingguan lebih cepat dihadapi/diterima daripada resiko
akibat menunda belajar untuk ujian semester.
3. Behavioral Kognitif (Cognitive-Behavioral).
Ellis dan Knaus (dalam Tuckman, 2002: 1) memberikan penjelasan
tentang prokrastinasi akademik dari sudut pandang Cognitive-Behavioral.
Menurutnya, prokrastinasi akademik terjadi karena adanya keyakinan
irrasional yang dimiliki oleh seseorang. Keyakinan irrasional tersebut
dapat disebabkan oleh suatu kesalahan dalam mempersepsikan tugas
sekolah, seperti: memandang tugas sebagai beban yang berat dan tidak
menyenangkan (aversiveness of the task) serta takut mengalami kegagalan
(fear of failure) (Solomon dan Rothblum, 1984: 505). Akibatnya, ia
merasa tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya secara memadai,
sehingga ia menunda penyelesaian tugas tersebut.
Alamat http://risalatuna.blogspot.co.id/2013/01/prokrastinasi-akademik.html pada
tanggal 2 November 2015 pada jam 09.00 WIB
Stell (Wyk, 2004) mengemukakan tiga teori prokrastinasi, yaitu;
1) anxiety, fear of failure, perfectionism,

27

Menurut teori anxiety, fear of failure, perfectionism, seseorang


melakukan prokrastinasi terhadap tugas karena takut dan stress.
Konsekuensinya adalah seseorang yang rentan terhadap stress
cenderung mengalami proktrastinasi. Terdapat sejumlah kondisi yang
menyebabkan seseorang cemas, di antaranya adalah keyakinan tak
rasional, seperti takut gagal dan selalu ingin kesempurnaan.
2) self handicapping
Menurut teori self handicapping, seseorang mengalami
prokrastinasi ketika menempatkan hambatan sebagai penghalang dari
kinerja terbaik. Motivasi self handicapping adalah untuk
mempertahankan harga diri dengan mencari alasan-alasan.
3) rebelliousness, dan discounted expectancy theory.
Menurut literatur klinis, penentangan (rebelliousness), permusuhan
(hostility) dan ketikdaksetujuan (disagreeableness) merupakan
motivasi utama untuk prokrastinasi. Seseorang orang yang memiliki
ciri kepribadian seperti ini memandang bahwa tuntutan eksternal
merupakan sesuatu yang mengancam sehingga perlu dijauhi.
Berdasarkan discounted expectancy theory, seseorang akan
melakukan terlebih dahulu sesuatu yang lebih menyenangkan atau
tujuan yang lebih dekat. Konsekuensinya seseorang cenderung
prokrastinasi terhadap tugas-tugas yang sulit.
H. Karakteristik Prokrastinasi
Menurut Wyk (2004) terdapat tiga karakteristik prokrastinasi yaitu: 1)
vocious cycles, 2) unrealistic sense of time, 3) dependence of inspiration.
Lingkaran setan, artinya prokrastinasi merupakan sebuah siklus yang
diawali oleh penolakan terhadap tugas karena alasan malu atau mengkritik
diri, kemudian menyebabkan pekerjaan terlantar yang akhirnya juga
meningkatkan rasa malu, dan umpan balik negatif terhadap pekerjaan juga
akhirnya meningkatkan penundaan. Pandangan yang tidak realistic terhadap
waktu, hasil studi menunjukkan bahwa para procrastinator memandang waktu
secara berlebihan atau mengabaikan waktu sehingga rencana yang dibuat
sering tidak realistis.
28

Mengandalkan inspirasi, para procrastinator sering berpikir tommorow I


will be in better mood. Terdapat dua kesalahan dari pikiran semacam ini, yaitu
seseorang akan dapat bekerja dengan baik kalau sudah terinspirasi dan kalau
dikerjakan besok akan lebih terinspirasi.
Menurut Ferrari, prokrastinasi tidak selalu menghasilkan kinerja di bawah
standar atau hasil yang buruk. Faktanya, banyak individu yang menampilkan
kinerja baik meskipun waktu yang tersedia sangat terbatas. Oleh karena itu,
prokrastinasi harus dilihat dalam konteks frekuensi atau kedalamannya. Dengan
kata lain, individu dipandang sebagai seorang prokrastinator apabila
memiliki kecenderungan kronis untuk menunda atau menyelesaikan suatu tugas.
Solomon and Rothblum (2000) mengemukakan bahwa prokrastinasi lebih
dari sekedar lamanya waktu dalam menyelesaikan suatu tugas, tetapi juga
meliputi penundaan secara konsisten yang disertai oleh kecemasan.
Prokrastinasi melibatkan kesenjangan antara niat dengan perilaku nyata. Jika
mahasiswa menunda mengerjakan tugas sambil menunggu masukan lebih
lanjut dari dosen dapat dikategorikan sebagai prokrastinasi. Dalam kasus ini,
Ferarri (2001) membedakan prokrastinasi fungsional dan disfungsional.
Prokrastinasi disfungsional merupakan penundaan menyelesaian tugas
yang merupakan prioritas tinggi tanpa didasari oleh alasan yang masuk akal.
Sebaliknya, prokrastinasi fungsional merupakan penundaan mengerjakan tugas
dengan tujuan memperoleh informasi yang lengkap dan akurat. Bercermin pada
contoh di atas, mahasiswa yang menunda menyelesaikan tugas termasuk kategori
prokrastinasi fungsional.
Singkatnya, terdapat konsensus tentang definisi teoritis kontruks
prokrastinasi karena apa yang dinilai seseorang sebagai penundaan terhadap tugas
bagi orang lain dipertimbangkan sebagai perilaku tepat waktu. Lebih lanjut,
beberapa ahli meyakini bahwa seseorang tidak dapat dipandang sebagai
procrastinator jika ia tidak benar-benar sadar menunda suatu tugas. Karena
adanya variasi definisi prokrastinasi, maka rentang prokrastinasi mulai dari yang
bersifat situasional sampai disposisional. Prokrastinasi yang melibatkan
komponen perilaku, kogntif, dan afektif.

29

I. Dampak Prokrastinasi
Perilaku menunda dapat mempengaruhi keberhasilan akademik dan pribadi
individu. Sirois (2004:33) mengemukakan konsekwensi negative yang timbul dari
perilaku menunda, yaitu :
1. Performa akademik yang rendah
2. Stress yang tinggi
3. Menyebabkan penyakit
4. Kecemasan yang tinggi
J. Penanganan Prokrastinasi
I. Langkah-langkah penanganan Prokrastinasi
1. Langkah pertama: Telah sikap diri terhadap tugas
Untuk dapat mengatasi persoalan prokrastinasi, terlebih dahulu anda
perlu memahami persoalan itu sendiri. Artinya diperlukan analisis atas situasi
dan kondisi anda pada saat tugas tidak terselesaikan dengan baik. Cobalah
untuk diam sejenak, lalu telaah dan cobalah berdialog dengan diri sendiri
tentang tugas yang sedang dihadapi. Telusuri sikap diri secara jujur terhadap
tugas tersebut. Perlu dilihat apakah tugas tersebut memang merupakan tugas
anda dan anda bertanggung jawab untuk melakukanya. Bila demikian halnya,
maka silakan lanjut pada langkah kedua.
Sebaliknya bila anda tidak atau belum bisa melihat bahwa tugas itu adalah
tugas anda dan ada kemarahan atau emosi menggaggu lainnya di dalam hati,
maka selesaikanlah terlebih dahulu masalah emosi anda.
a.
Pertama-tama, perlu ditelaah apakah tidak selesainya tugas tersebut
disebabkan oleh manajemen waktu yang tidak bagus? Bila demikian
halnya, silakan kembali ke MD05 mengenai manajemen waktu dan
b.

latihlah diri anda dengan lebih baik.


Bila ternyata anda sudah paham bagaimana manajemen waktu yang
baik, tetapi anda tidak melakukannya, mungkin anda punya persoalan
yang lebih serius. Mungkin saja salah satu aspek itu berada di bawah
ini:
1) Tidak melihat relevansinya dengan diri. Bila sutau tugas anda
anggap tidak relevan, maka akan sulit bagi anda untuk termotivasi
memulai mengerjakannya
2) Tugas dianggap sebagai tujuan orang lain dan bukan tujuan anda.
Apabila suatu tugas dipaksakan kepada anda dan anda tidak tertarik

30

dan tidak melihat manfaatnya bagi tujuan anda, maka anda akan
terhambat untuk menyediakan waktu untuk mengerjakannya.
3) Perfeksionisme. Anda memiliki standar yang terlalu tinggi,
sehingga tak ter jangkau. Anda menjadi terhambat, tidak terdorong
untuk mengerjakannya. Perlu Anda catat bahwa kesempurnaan
tidak pernah dapat dicapai.
4) Kecemasan dievaluasi. Ada orang-orang yang tidak siap untuk di
evaluasi, sehingga timbul kecemasan jangan jangan saya akan
dinilai jelek, takut salah, dst; sehingga akhirnya tidak bisa bekerja
jadi tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut.
5) Ambiguity keraguan. Apabila Anda tidak jelas tentang apa yang
diharapkan dari Anda, boleh jadi Anda kesulitan untuk memulai
pekerjaan. Takut akan hal baru yang tidak diketahui, akan
menghambat semangat anda untuk mulai bekerja.
6) Ketidak mampuan menangani tugas tersebut. Apabila Anda kurang
memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan untuk
mengerjakan tugas tsb. atau mungkin penghayatan Anda tidak
cukup memadai untuk dapat menyelesaikan tugas tersebut. Boleh
c.

jadi anda akan sama sekali menghindarinya, tidak mengerjakannya.


Setelah tahu penyebab prokrastinasi di diri Anda, selesaikanlah
persoalan di diri Anda. Bila perlu bicarakan dengan orang yang

relevan, dengan teman, dengan dosen atau PA Anda.


2. Langkah kedua: penyelarasan diri dengan tugas
Apabila Anda menghadapi tugas yang membutuhkan kurun waktu yang
panjang, bagi lah tugas tersebut ke dalam bagian-bagian (segmen) yang pendek
dan manageable. Biasanya, tugas pendek tidak menimbulkan prokrastinasi. Jadi
apabila Anda membagi tugas kompleks dan butuh waktu lama menjadi beberapa
bagian pendek, sehingga setiap segmen bisa dkerja kan atau diselesaikan setiap
hari/minggu/bulan; Sedemikian rupa sehingga tugas tsb secara keseluruhan dapat
diselesakan paling lambat pada tgl .{tentukan tgl ini beberapa hari sebelum
batas waktu (dead line)}.

31

Contoh /illustrasi :
a. Tugas membaca text,
1) Rencanakanlah membaca sejumlah halaman setiap waktu tertentu,
setiap harinya/setiap minggunya sehingga seluruhnya dapat
diselesaikan dalam kurun waktu yang telah kita tentukan.
2) Buat penjadwalan, siapkan bahannya (bila perlu fotocopy supaya bisa
dipilah per-porsinya)
3) Kerjakan
b. Tugas membuat paper/project,
1) Pilah tugas membuat paper berdasarkan proses pembuatannya
2) Tentukan estimasi kurun waktu yang dibutuhkan untuk setiap langkah
dari proses tersebut.
3) Buat penjadwalan, tentukan waktu spesifik untuk mengerjakannya
setiap hari/minggunya, kemudian hitung mundur (backward) dari
beberapa hari sebelum dead line
4) Kerjakan
3. Langkah ketiga : Hindari perasaan terbeban (overwhelmed)
Hindari perasaan terbebani (over-whelmed), dengan cara memecah tugas
besar atau tugas sulit menjadi bagian/komponen yang lebih kecil, sehingga
manageable. Kemudian pusatkan perhatian Anda hanya pada satu bagian saja
yakni satu bagian yang sedang Anda kerjakan.
4. Langkah keempat: Hindarkan Diri dari perfectionism
Jangan biarkan kebiasaan perfectionism membuat Anda tidak berdaya.
Sebagai orang yang sedang belajar (mahasiswa, dosen, siapapun) Anda tidak
diharapkan menunjukkan keahlian / kepakaran. Lakukan yang terbaik yang
mampu Anda lakukan (do the best you can), kemudian mintalah umpan balik
feed-back (berbeda dari evaluasi/penilaian), dan sedapat mungkin menyesuaikan
dengan masukkan umpan balik tersebut. Sebagai catatan perlu anda pahami
bahwa dosen yang baik akan memperhatikan upaya serius dan perbaikan yang
semakin nampak, bukan kesempurnaan.
5. Langkah kelima : Hal-hal penting yang harus diperhatikan

32

Hal-hal penting yang harus diperhatikan agar Anda bisa segera mulai
mengerjakan tugas dan menjaga tetap mengerjakan tugas tersebut sehingga selesai
pada waktu yang Anda tetapkan:.
a. Tetapkan sasaran tertentu (spesifik) untuk diselesaikan dalam setiap kurun
waktu belajar
b. Pusatkan perhatian hanya pada satu langkah setiap kali.
c. Optimalkan effisiensi Anda, dengan cara mengendalikan segala sesuatu
yang dapat mengganggu Anda
d. Jangan tunggu sampai anda merasa mau memulai melakukannya, tetapi
lakukanlah saja sejumlah kecil tugas tersebut (sebagai warming up), nanti
Anda bisa lihat Anda akan menjadi terpacu untuk lanjut bekerja.
e. Perhatikan baik-baik, untuk tidak mengijinkan dalih/ excuses apapun
untuk tidak memulai ataupun berhenti bekerja.
6. Langkah keenam : Monitoring pola perilaku Anda secara sadar
Anda perlu memonitor kegiatan Anda sehari-hari.Catat kemajuan
kerja/study anda dengan cara memberi check-mark di daftar porsi pekerjaan anda
atau pada jadwal anda, pada butir porsi yang baru saja anda selesaikan. Nikmati
rasa puas yang muncul di diri anda karena telah menyelesaikan apa yang anda
canangkan. Selamat -Congratulation.
7. Langkah ketujuh : Beri Apresiasi kepada Diri
Jangan lupa beri diri anda imbalan/reward karena sudah menyelesaikan
tugas. Hal ini bisa dengan jalan-jalan, nonton TV, makan sesuatu yang anda
sukai, baca novel yang tadinya amat menggoda, bahkan istrahat-tidur, atau apa
saja yang dapat menyenangkan hati Anda.
8. Langkah kedelapan: Kembangkan Respek Diri
Langkah terakhir, dan yang perlu dilakukan terus menerus, adalah menjaga
dan merawat respek diri agar tidak terperangkap ke masa lalu maupun masa
depan. Selalu bisa mensyukuri setiap saat kini dan di kehidupan ini. Dengan
demikian kita bisa terhindar dari prokrastinasi dan bisa menjalani hidup lebih
bertanggung jawab dan berdaya guna.
II. 10 Tips untuk menginggalkan menunda nunda

33

Menunda melakukan pekerjaan (prokrastinasi) merupakan salah satu


kebiasaan yang tidak efektif. Menunda pekerjaan dapat menyebabkan
terlambatnya penyelesaian, menumpuknya pekerjaan, terhambatnya pekerjaan
lain, atau akibat kontra produktif lainnya. Oleh karena itu jika anda masih sering
dihinggapi kebiasaan menunda pekerjaan, anda harus berusaha membuang jauh
kebiasaan tersebut. Berikut beberapa tips yang dapat anda coba untuk mulai
meninggalkan kebiasaan menunda pekerjaan.
1. Buat Rencana Kerja Secara tertulis
Salah satu penyebab seseorang sering menunda pekerjaan adalah
karena lupa atau lalai dalam membagi waktu untuk mengerjakan beberapa
tugas sekaligus. Buatlah rencana kerja dengan jadwal tertulis. Hal ini
membantu mengingatkan anda mengenai tenggat waktu yang tersedia untuk
menyelesaikan setiap pekerjaan.
2. Mulailah Sekarang Juga
Jika anda sering malas untuk memulai sesuatu, maka gunakan prinsip
mulailah sekarang juga. Mungkin anda membutuhkan persiapan serius
untuk memulai sebuah pekerjaan, namun anda pasti bisa memulai dengan
hal yang termudah misalnya dengan membuat jadwal, menulis kebutuhan,
membaca referensi, dan lain sebagainya.
3. Tingkatkan Motivasi
Menunda pekerjaan bisa jadi disebabkan karena kurangnya motivasi.
Temukan motivasi anda untuk melakukan pekerjaan anda secara tepat waktu
misalnya demi mengejar karir, meningkatkan pendapatan atau bonus,
membuat prestasi, dan lain sebagainya.
4. Bangun Kebiasaan Disiplin

34

Orang yang memiliki kebiasaan menunda melakukan pekerjaanya


seringkali terbawa oleh sikap tidak disiplin. Cobalah membangun kebiasaan
disiplin untuk mengatur aktivitas pribadi sesuai jadwal tertentu secara
teratur mulai dari bangun tidur, waktu makan, jam berangkat, dan aktivitas
lainnya. Jika anda membangun kebiasaan berdisiplin dalam aktivitas pribadi
anda, anda juga akan lebih mudah untuk berdisiplin mengerjakan tugas
secara tepat waktu.
5. Tingkatkan Rasa Percaya Diri
Jangan ragukan kemampuan diri anda sendiri. Jauhkan pikiran negatif
bahwa anda tidak bisa melakukannya dengan baik. Tidak ada orang yang
sempurna. Cobalah mengerjakan tugas anda dengan sebaik-baiknya, anda
bisa memperbaikinya di lain kesempatan.
6. Jangan Meremehkan
Sebagian orang menunda pekerjaan karena meremehkan pekerjaan
tersebut. Jangan terlalu percaya diri bahwa anda bisa mengerjakan tugas
anda di sisa waktu yang sedikit. Kalaupun memang tugas itu sudah biasa
anda kerjakan, tidak ada jaminan bahwa anda tidak mengalami masalah saat
mengerjakannya. Anda bahkan tidak bisa mengetik selembar surat jika
komputer anda bermasalah.
7. Pikirkan Hal-Hal Tak Terduga
Akan selalu tersedia pekerjaan bagi anda. Lebih cepat menyelesaikan
sebuah pekerjaan adalah lebih baik. Pikirkan masalah tak terduga yang
dapat menghambat penyelesaian pekerjaan anda misalnya terjadi kesalahan
pada pekerjaan anda yang harus dikoreksi atau terjadi perubahan jadwal
sehingga harus diselesaikan lebih awal.
8. Pikirkan Manfaat Menyelesaikan Pekerjaan lebih Awal

35

Cobalah pikirkan manfaat dari menyelesaikan pekerjaan lebih awal.


Beberapa manfaat dari menyelesaikan pekerjaan lebih awal misalnya
mengurangi resiko menumpuknya pekerjaan, memiliki waktu untuk
melakukan perbaikan kesalahan, mendapatkan waktu luang lebih awal, dan
lain sebagainya.
9. Berpikir Strategis
Salah satu penyebab seseorang biasa menunda pekerjaan adalah pola
pikir (mindset) yang salah dalam menghadapi kurangnya rasa percaya diri
misalnya dengan mengatakan daripada tidak selesai mending dikerjakan
nanti setelah siap semuanya atau daripada salah mending dikerjakan
setelah paham betul. Cobalah berpikir strategis sehingga anda dapat
mengantisipasi kesulitan karena kurangnya bahan, tidak ada yang
membantu, tidak paham, dan lain sebagainya.
10. Kerjakan Sedikit Tapi Sering
Jika memungkinkan, coba mengerjakan pekerjaan sedikit sedikit tetapi
sering. Sebagian orang menyiasati melakukan pekerjaan yang sulit atau
membosankan dengan cara mencicil sedikit demi sedikit tetapi sering.
Contohnya jika anda kesulitan untuk menulis sebuah artikel sekaligus
cobalah menulis satu alenia kemudian mengerjakan pekerjaan lain, lalu
lanjutkan setengah jam berikutnya tulis satu alenia lagi, begitu seterusnya.
http://fgbmfi.web.id/2013-07-06-04-08-39/artikel/marketplace/2768-10-tipsmengatasi-kebiasaan-menunda-prokrastinasi

III.Manfaat Mengatasi Penundaan

36

Apa manfaat dari mengatasi penundaan? Ketenangan pikiran, perasaan


kekuatan dan tujuan, dan perasaan sehat yang bertanggung jawab atas hidup Anda.
Sementara penundaan membuat Anda merasa lemah, tidak berguna, dan tak
berdaya, mengambil alih hidup Anda akan membuat Anda merasa kuat, kompeten,
dan mampu. Anda akan mengalami peningkatan kebebasan pribadi!

DAFTAR PUSTAKA
http://www.carleton.cartpychyl/interner.html, diakses 28 Mei 2009
Ferrari J. R, Self Handicapping By Procrastinator: Academic Procrastination
http://www.carleton.cartpychyl/interner.html, diakses 28 Mei 2009
www.mitropedulicenter.multiply.com,diakses 23 April 2009

37

Rumiani. 2006. Prokrastinasi Akademik Ditinjau dari Motivasi


Berprestasi dan Stres Mahasiswa. Jurnal Psikologi
Universitas Diponegoro Semarang Vol.3, No. 2.
Ferrari, J. R., Johnson, J. L., & McCown W. G. (1995). Procrastination and task
avoidance: Theory, research, and treatment. New York: Plenum
Press
Austin, P. Kevin. (2007). Procrastination (Online). Tersedia di
www.counseling.caltech.edu/articles/procrastination.(25Mei 2007).
Binder, Kelly. (2000). The Effects of an Academic Procrastination Treatment on
Students Procrastination and Subjective Well-Being (Online).
Tersedia: http//www.nlc-bnc.ca. (13 September 2005).
Artikel

http://psychology.about.com/od/the-psychologyof/a/psychology-of procrastination.htm

Artikel

http://sas.calpoly.edu/asc/ssl/procrastination.html

Artikel

http://fgbmfi.web.id/2013-07-06-04-08
39/artikel/marketplace/2768-10-tips-mengatasi-kebiasaanmenunda-prokrastinasi

38