Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN
Invertebrata laut dalam sistem rantai makanan merupakan herbivora, predator
dominan dan biota penentu dari sistem piramida makanan. Invertebrata laut telah
diketahui sebagai sumber yang kaya akan senyawa bioaktif penting dan menarik
perhatian karena senyawa kimia yang dikandungnya berbeda dan unik serta memiliki
aktivitas farmakologis yang sangat menarik1.
Penelitian yang dilakukan terhadap produk alam laut dalam beberapa dekade
terakhir telah berhasil menemukan berbagai senyawa aktif terutama sebagai bahan aktif
untuk pengembangan obat baru. Salah satunya adalah sterol.2
Sterol merupakan bagian yang penting dari senyawa organik dan seringkali
berfungsi sebagai nukleus. Salah satu jenis sterol, yakni kolesterol mempunyai peranan
yang vital bagi fungsi-fungsi selular dan menjadi substrat awal (bahasa Inggris:
precursor) bagi vitamin yang larut dalam lemak, dan hormon steroid. Sudah banyak
penelitian yang meneliti tentang sterol dan cara pengambilannya.2
Sejak tahun 1960-an sudah ada penelitian tentang sterol, tetapi di karenakan
keterbatasan metodologi, hanya sterol utama saja yang berhasil dipisahkan dan dapat
diidentifikasi dengan betul dan pasti. Banyak biota lautyang mengandung sterol, misal;
mega-sterol, shakosterol, meritristerol, dan pteropoda-sterol. Pencarian sterol laut
beraktivitas farmakologi untuk dielusidasi, ditunjang penemuan metoda separasi
sehingga karakterisasi sejumlah sterol yang mempunyai pola alkila-si rantai samping
unik, cincin termodifikasi.2

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. INVERTEBRATA
1. Pengertian
Invertebrata atau Avertebrata adalah sebuah istilah yang diungkapkan
oleh Chevalier de Lamarck untuk menunjuk hewan yang tidak memiliki tulang
belakang. Invertebrata mencakup semua hewan kecuali hewan vertbrata
(pisces, reptil, amfibia, aves, dan mamalia). Contoh invertebrata adalah
serangga, ubur-ubur, hydra, cumi-cumi, dan cacing. Invertebrata mencakup
sekitar 97 persen dari seluruh anggota kingdom Animalia. Invertebrata atau
Avertebrata air merupakan suatu bidang ilmu yang mempelajari tentang
hewan-hewan perairan yang tidak bertulang belakang.
2. Klasifikasi
Lamarck awalnya membagi invertebrata ke dalam dua kelompok yaitu :
Insecta (serangga) dan
Vermes(cacing).
Tapi sekarang, invertebrata diklasifikasikan ke dalam lebih dari 30 subfila mulai dari organisme yang simpel seperti porifera dan cacing pipih
hinggaorganisme yang lebih kompleks seperti mollusca,echinodermata, dan
arthropoda. Ada 9 filum dalamklafisikasi avertebrata. Filum dalam Klasifikasi
Avertebrata adalah :

Annelida
Arthropoda
Coelenterata/Cnidaria
Echinodermata
Molluska
Nemathelminthes
Platyhelminthes
Porifera
Protozoa

3. Ciri-ciri Invertebrata
Hewan invertebrata ada yang tersusun oleh satu sel(uniselluler) dimana
seluruh aktivitas kehidupannya dilakukan oleh sel itu sendiri. Sedangkan
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
2

hewan invertebrata yang tersusun oleh banyak sel (multiselluler/metazoa) sel


selnya mengalami deferensisasi dan spesialisasi membentuk jaringan danorgan
tubuh dan aktivitasnya semakin komplek.
Kelompok hewan avertebrata mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
Tidak bertulang belakang,
susunan syaraf terletak di bagian ventral (perut) di bawah saluran
pencernaan,
umumnya memiliki rangka luar (eksoskeleton) dan
otak tidak dilindungi oleh tengkorak.
4. Lingkungan Hidup Avertebrata Air
Lingkungan Hidup Avertebrata Air adalah :
Perairan Tawar
Perairan tawar adalah perairan yangairnya tidak mengandung kadar garam
dan jika terdapat salinitas nilainya kecil sekali antara 0-0.05 ppt.
Perairan payau
Perairan payau adalah perairan yang airnya mengandung kadar garam
antara 7 - 20 ppt dimana perairan ini merupakan daerah pertemuan antara
air tawar dan air laut.
Perairan Laut
Perairan Laut adalah perairan yang airnya mengandung kadar garam
(salinitas)yang berkisar antara 15 sampai dengan 35 ppt.
Adapun perbedaan Avertebrata berdasarkan Lingkungannya adalah :
Alat ekskresi avertebrata air tawar lebih berkembang dankompleks
dibandingkan avertebrata air laut.
Cairantubuh hewan avertebrata air laut lebih kurang isotonik terhadap air
laut. Sedangkan cairan tubuh avertebrataair tawar bersifat hipertonik
terhadap lingkungannya.
Jumlah telur yang dihasilkan avertebrata air laut lebih banyak daripada
avertebrata air tawar, tetapi ukurannya lebih kecil dari pada ukuran telur
avertebrata air tawar. Umumnya tidak dilengkapi dengan pelindung
(bedadengan telur avertebrata air tawar yang dilengkapi agar dan
cangkang).
Pada hewan yang serupa, umumnya avertebrata air laut memiliki ukuran
yang lebih besar daripada avertebrata air tawar.

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


3

Warna avertebrata air laut lebih bervariasi dan berwarna warni


dibandingkan avertebrata air tawar yang cenderung suram, kelabu, coklat
dan hitam.
Umumnya avertebrata air laut memiliki biolumin escence, sedangkan
avertebrata air tawar tidak.
B. STEROL

Gambar. Struktur kimia Sterol.


1. Pengertian
Sterol (bahasa Yunani: stereos, padat) adalah steroid tak jenuh dengan
kerangka kolestana yang mengandung gugushidroksil-3b dan rantai sisi alifatik
dengan minimal 8 atomkarbon yang terikat. Sterol merupakan kelompok
penting di dalam steroid. Sterol juga dikenal sebagai alkohol steroid, sebuah
subkelompok steroid dan bentuk penting dari molekul bio. dengan
gugushidroksil pada posisi ketiga dari cincin-A. Sterol bersifat amfipatik yang
terbentuk dari acetyl-coenzyme A melalui jalur HMG-CoA reductase.
Biosintesis sterol selalu dianggap sebagai proses eukariotik karena
kekerapannya terjadi pada bakteri.
Sterol hadir dalam semua jenis bentuk kehidupan, dari tanaman, ke
hewan dampai jamur.

Bentuk yang paling

akrab sterol hewan adalah

kolesterol, dan ini penting dalam fungsi seluler, sebagai pendahulu untuk
vitamin larut lemak dan sebagai komponen bangunan steroid. Jadi, sterol
menjadi komponen dasar steroid, juga bertanggung jawab atas hasil yang sama
seperti steroid dalam fungsi metabolisme yang hasil dan efek samping yang
mungkin terjadi jika digunakan secara berlebihan. Sterol juga penting karena
juga membentuk komponen yang diperlukan untuk mempertahankan fluiditas
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
4

membran sel, dan juga bertindak sebagai pembawa pesan kedua untuk
komunikasi intraseluler.

2. Klasifikasi sterol
Lemak sterol nabati disebut fitosterol dan yang hewani disebut zoosterol.
Jenis zoosterol yang penting antara lain adalah kolesterol dan hormon steroid.
Sedangkan pada fitosterol dikenal kampesterol, sitosterol dan stigmasterol.
Ergosterol adalah lemak sterol yang ditemukan pada membran selfungi yang
berfungsi layaknya kolesterol pada hewan.

Gambar. Semua eukariota mengandung sterol, komponen yang berfungsi


sebagai struktural dalam membran sel, dan sebagai prekursor untuk
hormon penting.
Klasifikasi lemak sterol sebagai berikut :
Kolesterol dan turunan
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
5

Kolesteril ester
Fitosterol dan turunan
Marina sterol dan turunan
Fungi sterol dan turunan
Steroid
o C18 steroid (estrogens) dan turunan
o C19 steroid (androgens) dan turunan
o C21 steroid (gluco/mineralocorticoids, progestogins) dan turunan
Sekosteroid
o Vitamin D2 dan turunan
o Vitamin D3 dan turunan
Asam empedu
o C24 Asam empedu, alkohol, dan turunan
o C26 Asam empedu, alkohol, dan turunan
o C27 Asam empedu, alkohol, dan turunan
o C28 Asam empedu, alkohol, dan turunan
Konjugasi Steroid
o Glucuronida
o Sulfat
o Glycine conjugates
o Taurine conjugates
Hopanoid
3. Sterol Bebas
Sterol dapat dijumpai sebagai sterol bebas, ester sterol (terasilasi), eter
alkil steril (teralkilasi), sterol sulfat, dan steril glikosida yang kemudiannya
dapat terasilasi menjadi glikosida sterol berasil.
Sterol bebas adalah lemak tahan saponifikasi yang ditemukan dalam
jumlah cukup banyak pada jaringan tubuh. Sterol mempunyai beberapa variasi
molekul dari 3-hidroksisteroid kristal alkohol C27-C30. Lemak ini juga
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
6

termasuk golongan triterpena karena merupakan turunan dari skualena.


Kerangka sterana dari sterol dapat digunakan sebagai penanda biologi dalam
proteomika.
Pada jaringan tubuh vertebrata, sterol terbanyak yang ditemukan adalah
kolesterolalkohol C27 yang terdistribusi di kelenjar adrenal (10%), jaringan
syaraf (2%), hati (0,2%) dan batu empedu. Bagian otakvertebrata merupakan
organ dengan rasio kolesterol yang tertinggi sekitar 25% dari distribusi
kolesterol di seluruh tubuh. Rumus bangun dasar kolesterol adalah sebuah
cincin sterana, merupakan sterol yang pertama kali ditemukan sekitar tahun
1758 oleh F.P. Poulletier de La Salle pada batu empedu. Pada tahun 1815, M.E.
Chevreul memberi nama kolesterina untuk lemak hewani yang tidak dapat di
saponifikasi. Rumus kimia C27H46O diajukan oleh F. Reinitzer pada tahun 1888
dan studi lebih lanjut dilakukan oleh H.O. Wieland antara tahun 1900 hingga
1932 dengan substrat asam empedu dan substansi terkait.
Beberapa lemak sterol yang dikenal umum antara lain kolesterol,
lanosterol,

7-dehidrokolesterol,

desmosterol,

dinosterol,

oksisterol/cerebrosterol, sikloartenol, ergosterol, sitosterol, stigmasterol,


kampesterol, fukosterol, saringosterol, sitostanol, koprostanol, avenasterol
a. Desmosterol
Desmosterol merupakan intermediat antara lanosterol
dan kolesterol. Kegagalan dalam konversi demosterol
menjadi kolesterol dapat mengakibatkan desmosterolosis.
Kadar desmosterol yang cukup tinggi dapat ditemukan
pada otakhewan berusia muda dan tidak pada hewan pada
usia kematangannya. Demosterol juga banyak ditemukan
pada sel membranmamalia, seperti astrositdan red algae
yang

mengandung

dehydrocholesterol

dan

demosterol

berjenis

22-dehydrocholesterol

konsentrasi tinggi.
b. Fitosterol
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
7

24dalam

Sterol pertama pada tumbuhan ditemukan pada sekitar


tahun 1878 oleh Hesse O. dari biji Calabar (bahasa Latin:
Phytostigma

venenosum)

phytosterine,

lalu

yang

stigmasterol.

kemudian
Kata

disebut

Fitosterol

baru

diusulkan pada tahun 1897 untuk merujuk kepada semua


jenis sterol nabati.
Umumnya fitosterol terdiri dari 28 hingga 30 atom
karbon mirip dengan kolesterol kecuali pada rantai karbon
24 terdapat tambahan karbon supernumerary baik berjenis
chirality a atau b. Gugus alkil-24 ini adalah ciri dari semua
jenis

fitosterol.

Fitosterol

pada

tanaman

merupakan

turunan dari sikloartenol, pada fungi merupakan turunan


dari lanosterol. Keduanya merupakan produk dari proses
siklisasiskualena.

c. Oksisterol
Salah satu jenis oksisterol (bahasa Inggris: Oxysterol) yaitu 24Shidroksikolesterol, adalah produk dari hasil oksidasikolesterol oleh enzim
yang terjadi pada otak. Lemak ini ditemukan pada tahun 1953 pada otak
kuda dan diberi nama cerebrosterol.
Oksisterol ditengarai dapat menjadi petunjuk untuk penyakit
Alzheimer dan memberikan perlindungan terhadap b-amiloid peptida,
jenis amiloidogenik peptida yang ditemukan pada plak (bahasa Inggris:
plaques) otak dari penderita Alzheimer.
d. Ester sterol.

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


8

Pada membran sel, sterol ditemukan pada bentuk


dasarnya. Di luar itu, lemak sterol akan bersenyawa
dengan asam fosforat atau asam lemak dalam ikatan ester.
Pada jaringan tubuh, terutama pada hati, adrenal dan
plasma darah, kolesterol ditemukan bersenyawa dengan
asam

lemak,

khususnya

asam

lemak

esensial,

dan

membentuk senyawa kolesterol ester. Ester dari kolestrerol


dengan

asam

arasidonat

menghasilkan

kolesteril

arasidonat.

4. Biosintesis Sterol
Biosintesis sterol hampir selalu ditemukan pada makhluk eukariota dan
hampir tidak ditemukan pada makhluk prokariota. Eukariota adalah organisme
yang terdiri dari sel-sel yang memiliki inti yang terikat membran serta organel
terikat membran. Prokariota adalah organisme yang terdiri dari sel-sel yang
tidak memiliki inti sel atau organel terbungkus membran. Lintasan biosintetik
sterol dapat diamati pada proteobakterium.

Gambar. Perbedaan utama antara Sel prokariotik dan eukariotik..

Biosintesis kolestrol (sterol) dibagi dalam tiga tahap deretan reaksi


pembentukan antara lain :
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
9

a. Pembentukan senyawa intermediate mevalonat


Diawali dengan reaksi pengabunggan 2 molekul asetil-SKoA, yang
dikatalis oleh enzim tiolase, dan dihasilkan asetoasetil-SKoA. Selanjutnya,
asetoasetil-SKoA bereaksi dengan 1 molekul asetil-SKoA lagi membentuk
senyawa -OH, -CH3-SKoA (HMG-SKoA). Reaksi ini dikatalis oleh
enzim HMG-SKoA sintesis. Akhirnya HMG-SKoA direduksi oleh
NADPH + H+, yang dikatalis oleh enzim HMG-SKoA reduktase, dan
terbentuklah mavelonat.
b. Pembentukan kolestrol (sterol)
Perubahan mevalonat menjadi senyawa sterol pertama berupa
lenosterol, berlangsung melelui pembentukan dua senyawa intermediate,
berturut-turut berupa senyawa unit isoprenoid dan skualen. Kolestrol
diturunkan dari lenosterol melalui pembentukan senyawa intermediate
berupa

senyawa

14-desmetillano-sterol,

zimosterol,

7,

24

kolestadienol, desmosterol dan pada akhirnya terbentuklah kolestrol


(sterol).
c. Pembentukan kolestrol dari skualin
Pada tahap terakhir proses biosintesis kolestrol, skualin bereaksi
dengan oksigen menghasilkan skualin-2,3-epoksida. Reaksi ini dikatalis
oleh

skualin

monooksigenase.

Selanjutnya

skualin-2.3-epoksida

mengalami proses suklisasi, yang dikatalis oleh enzim skualin epoksida


lanosterol-siklase, menghasilkan lenosterol. [erubahan linosterol menjadi
kolestrol berlangsung dengan pelepasan tiga gugus metal (dua atom
karbon nomor empat dan satu dari atom karbon nomor 14), reduksi ikatan
rangkap dari rantai samping kolestrol, dan perpindahan ikatan rangkap
dari posisi-8,9 ke posisi-5,6 dalam cincin B. perubahan linosterol dapat
berlangsung melalui salah satu dari dua jalur reaksi, yaitu melalui
pembentukan desmoserol atau melalui 7-dehidroksikolestrol.
Karena sterol adalah prekursor untuk steroid, keduanya dapat dianggap
memiliki hasil dan efek yang sama pada tubuh manusia. Ini termasuk dari
molekul kolesterol dengan hormon seks dengan glukokortikoid terhadap obat
anti inflamasi seperti deksametason. Juga steroid anabolik adalah dari kategori
yang sama juga. Sterol berbeda dalam arti bahwa mereka diwajibkan untuk
menjaga fluiditas sel dan sinyal sekunder, dengan steroid bukan bagian
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
10

darinya.Jadi kesamaan antara keduanya lebih besar daripada perbedaanperbedaan, dan kita harus mempertimbangkan sterol sebagai komponen steroid
sehingga memberikan kita dengan efek steroid yang biasanya kita lihat.
5. Fungsi Sterol
Sterol, juga dikenal sebagai alkohol steroid, adalah kelas bahan kimia
yang memainkan peran ganda yang penting dalam tubuh. Mereka memiliki
bagian-bagian yang dapat larut dalam molekul seperti lemak dan bagian-bagian
yang dapat larut dalam air. Sterol manusia yang paling banyak dikenal adalah
kolesterol, yang berfungsi sebagai prekursor untuk hormon steroid dan vitamin
yang larut dalam lemak. Beberapa orang mengambil sterol seperti vitamin A,
D, E dan K sebagai suplemen.
Adapun fungsi dari sterol adalah sebagai :
a. Persinyalan sel
Sinyal sel mengacu pada kemampuan sel untuk
berkomunikasi secara efektif penting karena sel-sel
dalam pekerjaan organ atau jaringan yang diberikan
bersama-sama, dan sel sering perlu untuk memberi sinyal
pada organ jauh juga. Sterol memainkan peran penting
dalam penanda sel dengan membantu mengatur proses
pembangunan. Selain itu, mereka menyampaikan pesan
yang diterima dari luar sel untuk efek perubahan dalam
sel. Dalam kapasitas ini, mereka dikenal sebagai second
messenger. Mereka juga bertindak sebagai hormon steroid,
yang merupakan molekul yang disintesis oleh organ
hormonal untuk sinyal organ yang jauh. Beberapa hormon
steroid yang lebih umum adalah kortisol, aldosteron,
testosteron dan estrogen. Kortisol adalah hormon stres,
aldosteron mengatur keseimbangan mineral dalam tubuh
dan testosteron dan estrogen adalah hormon seks laki-laki
dan perempuan.
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
11

b. Vitamin Lemak dalam larut


Vitamin yang larut dalam lemak, termasuk vitamin A,
D, E dan K yang disintesis dari organisme lain dari sterol
dan kemudian diteruskan ke tubuh dalam bentuk makanan.
Vitamin penting untukkesehatan mata dan kulit. Vitamin D
memiliki

banyak

fungsi

termasuk

membantu

sistem

kekebalan tubuh dan memperkuat tulang. Vitamin E adalah


antioksidanyang

membantu

melindungi

terhadap

kerusakan sel. Vitamin K penting untuk pembekuan darah.


c. Stabilitas Membran
Sterol terutama kolesterol merupakan bagian integral dari stabilitas
membran sel. Membran meliputi bagian luar dari sel analog dengan kulit.
Secara kimia hal itu disebut lipid bilayer. Lipid mengacu pada molekul
seperti lemak yang berfungsi untuk menjaga lingkungan di dalam dan di
luar sel terpisah, dan bilayer berarti ada dua lapisan. Kolesteroltertanam
dalam membran mempertahankan fleksibilitas atau fluiditas dan karenanya
stabilitas membran pada rentang suhu.
d. Pitosterol
Pitosterol ditemukan dalam tanaman dan tertelan ketika
mengkonsumsi makanan nabati. Beberapa orang mengambil konsentrasi
sterol. Sebuah studi di American Journal of Clinical Nutrition 2003
menunjukkan bahwa sterol dapat mengganggu penyerapan kolesterol
berlebih dari makanan dan karena itu mungkin baik untuk jantung dan
pembuluh darah. Namun efek jangka panjang dan efek samping masih
harus diteliti.

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


12

BAB III
PEMBAHASAN

A. ASAL-USUL STEROL INVERTEBRATA


1. Pandangan umum
Sterol bervariasi invertebrata memberi kesan komplesitas sterol tersebut,
tapi kajian mendalam dapat ditarik satu generalisasi bahwa ada pola sterol unik
dalam berbagai jenis hewan. Pengecualian sterol unik bunga karang,
gorgosterol dalam koral lunak, pada dasarnya suatu fila terdapat sterol dari
jenis yang sama.20
Perbedaan antar jenis tertentu dalam suatu fila terutama kadar dan bukan
pada macam sterol, nampak pada anilisis komponen sterol dengan alat peka
ada persamaan. Contoh sterol C28 dari scallopkandung senyawa (22b) cukup
tinggi dianggap sterol unik dari moluska, tetapi juga ditemukan dalam hewan
dan fila yang lain kadar rendah dan tidak dapat dianggap sebagai senyawa unik
dari laut karena telah ditemukan dalam sedimen dari danau air tawar di
Chesire, Inggeris. Sterol C27 sering segagai komponen utama,tapipada
pemakan penyaring seperti bunga ka-rang, moluska bivalve, ascidiandan
pemakan detritus seperti Echinodermata dan Anelida, kandung> kompleks,
sterol C26, C28, C29, dan C30.20
Banyak jenis karnifora, misal,Coelenterata, Cephalopoda dan ikan
bintang terutama Crus-tacean sterol C27nya biasa> 90% .Zooxanthellae
(simbiotik), misalketam Alcyona-rian dan gorgonian sering kandung sterol
C28 dan C30 kadar> sterol C27, ini menunjukkan bahwa Zooxanthellae
kemungkinan penyum-bang penting pola sterol umum.
Untuk mengetahui bagaimana terjadinya komplemen akhir sterol dari
hewan harus diperhatikan empat macam sumbernya:
Biosintesis de novo sterol dari asetil Co-A melalui asam mevalonat dan
skualena.
Absorpsi dan asimilasi dari sterol makanan.
Modifikasi dari sterol makanan.
Lintasan sterol dari ganggang simbiotik atau organisme lain yang ada
hubungan (misal jamur atau bakteri) ke hewan inang
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
13

Diketahui dari beberapa ulasan menganai biosintesis sterol dalam hewan


dan tumbuhan yang dapat digunakan sebagai dasar biosintesis sterol
invertebrata.Hasil penelitian membuktikan sintesis sterol dalam invertebrata
belum dapat disimpulkan, hanya dapat digambarkan, beberapa masalah perlu
dipertimbangkan dalam usaha melakukan evaluasi sintesis sterol secara de
novo . 20
Bila sintesis sterol de novo ditunjukkan terbatas sterol C27 maka dibuat
asumsi logis bahwa sterol C26, C28, C29 dan C30 adalah makanan yang tidak
dirubah atau dimodifikasi hewan tersebut. Sebagian sterol C27 mungkin juga
berasal dari makanan karena kolesterol, dermosterol dan 22-dehidrokolesterol
dominan dalam ganggang merah dan kolesterol merupakan komponen utama
plankton dan beberpa diatomae. Perlu diperhatikan: beberapa hewan terutama
Crusta-cea,

beberpa

Coelenterata

dan

Molusca,

punya

kemampuan

mengadakan dealkilasi sterol C28 dan C29 untuk menghasilkan kolesterol.


Pendekatan menariksterol invertebrata berasal dari makanan dilakukan
oleh Steudler dkk dan Kanazawa dkk; analisis komposisi sterol hewan hidup di
pantai karang, buktikan hewan pema-kan pola sterol mirip makanannya,
campuran sterol digunakan mencari rantai makanan, loka-si sumber pertama
sterol, kemudian digunakan sebagai penelitian biosintesis.20
2. Porifera
Senyawa 26-metilsterol aplisterol (25b) dan 24,28-dehidroaplisterol
(26b) hanya ditemukan dalam bunga karang famili Verongia, jenis bu-nga
karang lain dari habitat sama seperti Vero-ngia aerophoba tidak kandung 25b
dan 26b. Sterol ini mungkin disintesis oleh jenis verongia dari tansmetilasi
sterol eksogen sesuai asal makanan.
Inkubasi Verongia aerophoba [metal-14C] meti-oninatidak menyebabkan
terjadi

inkorporasi

radioaktivitas

ke

dalam

aplisterol.

Sebelumnya

disimpulkan; senyawa 26-metilsterol berasal dari penataan ulang metal dari


suatu sterol C30 seperti terjadi pada fukosterol (19b).
Tanpa perhatikan tidak terdeteksi aplisterol pa-da jenis bunga karang
lain, telah ditentukan bahwa sumber 26-metilsterol ganggang dari luar karena
Verongia gigantea mengambil ma-terial tersuspensi air laut sedikit selektivitas.

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


14

Jadi jenis Verongia mungkin lebih efisien darijenis bunga karang lain dalam
menangkap organisme sumber primer aplisterol.
Pembentukan rantai samping sterol ganggang

sekarang

dapat

dikemukakan: urutan transme-tilasi rantai samping 25a dan 26b digambarkan


di bawah.24-metil-25-metilenasterol hanya dalam satu anggota Siphonales
dan anggota Chlorococca-les, prazat 24-metilsterol, arahkan pendapat:
sumber aplisterol dicari antara ganggang laut.
Gambar. Suatu gagasan mekanisme biosintesis dari rantai samping
apisterol

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


15

Gambar. Mekanisme hipotetik pada pembentukan rantai samping gorgosterol

3. Cniderae
Penelitian; tidak jelas apakah Coelenterate mampu melakukan sintesis
sterol,tidak ada inkorporasi dari [1-12C]asetat sterol dari ikan madu,
Rhizoztoma sp, atau Anemone,Calliac-tis para sitica, meski ter-jadi pelabelan
asam lemak. Juga beberapa terpe-noid terlabel sete-lah disuntik asam
mevalonat(2-14C], tidak ada radioaktivitas ditemukan dalam sterol Metridi-um
senile, Actinea equina atau Tealia feline.
Sterol teralkilasi C-24 dominan pada campuran ste-rol Zoanthidae
samagorgosterol dalam gorgonian ungkap mungkin penting sumbang sterol
Zooxan-thella, dipertegas tenemuan bahwa Zooxanthella peroleh sterol dari
gorgonian Eunicea mammosa dan Pseudoplexauraporosa kandung sterol C28
dan C29. Ditemukan pula; perpindahan senyawa antara ganggang simbiotik
dan Coelenterate induk mere-ka , juga mungkin terjadi pada sterol digunakan
pemenuhan kebutuhan hewan akan membran.
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
16

Tidak ada penelitian biosintesis gorgosterol, tapi isolasi dinosterol (35i)


Dinoflagellatae dan sterol berkaitan (35b, 36b) koral lunak tunjuk gorgosterol
punya asal usul dari Dinoflagellata mungkin jalur pembentukan rantai samping
se-perti gambar. Mekanisme transmetilasi perta-ma pembentukan rantai
samping 35 pertama kali guna [CD3] metio-nin diumpankan pada
Dinoflagellatae Cryptecodi-nium chnii.
Penelitian lain tunjuk ada transformasi

[H3]fukosterol (19b) dalam

kolesterol Anemona Cal-liactis parasitica. Proporsi relatif besar kolesteol


dalam campuran sterol Hydrozoa, Scyphozoa dan jenis Actinaria, dapat
dijelaskan karena ada kemampuan binatang iniadakan dealkilasi sterol C28 dan
C29. Kemungkinan alternatif adalah; dapat absorpsi sterol C27 se-cara selektif
dari makanan dari plankton yang kaya kolesterol.
4. Nemertini dan Annelida
Inkorporasi
gunakan

[1-14C]asetat

disimpul-kan

;Nemertea

Cerebratulus marginatus mam-pu sintesis sterol secara terbatas, menarik aktivitas spesifik sterol teresterifikasi kadar > tinggi sterol bebas, sama pada
Coelenterate.Beberapa cacing Polychaeta laut mampu lakukan sintesis sterol,
ini buktikan secara jelas pada studi Arenicola marina, Nereis diversicolor,
Amphitrite ornate, Nereis pelagica, Nephthylus hombergii dan Spirographis
spallonzani.
Penelitian di atas, tidak menemukan identitas sterol terlabel,tujukkan
bahwa semua fila inver-tebrata kandungan sterolsangat dipengaruhi oleh
makanan dan pengaturan biosintetik. Hanya dibuat dugaan bahwa sterol C26,
C28 dan C29 pada Anelida berasal darimakanan tapi belum sampai bagaimana
hewan memodifi-kasi.
5. Arthropoda
Dipastikan Crustacea tidak mampu melakukan sintesis de nevo dari asam
asetat atau mevalo-nat dan sama sekali tergantung sumber sterol makanan,
seperti serangga. Sintesis sterol ti-dak dapat dilakukan pada Astacus astacus,
Ho-marus vulgaris, Homarus gammarus, Cancer apgurus, Astacus fluviatilis,
Carcinus maenus, Eupagurus euarginata, Artemia salina, Penaeus japonicus,

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


17

Pamulirus japonica, Portunus trita-berculatus, Sesarma dehaani atau Helice


tridens
Udang Penaeus japonicus punya pertumbuhan lam-bat dan kekuatan
bertahan rendah bila beri makan kolesterol rendah, tumbuh normal bila makan
kan-dung kolesterol>. Kemampuan bertahan hidup juga baik bila diberi
makanan kandung fitosterol (ergosterol8d, stigmasterol 16b, sitosterol 14b).
Penelitian; kolesterol dan beberapa sterol teral-kilasi pada C-24
diabsorpsi sangat sedikitP.ja-ponicus. Bila P.japonicus dan udang air asin
Artemia salina hanya diberi makanan kandung beberapa fitosterol (8d, 14b,
16b, dan kampe-sterol 6b) sterol dipisah dari hewan tersebut terutama
kolesterol, buktikan bahwa Crustacea dapat melakukan dealkilasi C-24, seperti
dalam insektisida.
Kemampuan Crustacea melakukan dealkilasi fitosterol dikemukakan
oleh Teshima dan Kanazawa; tumbuhkan Euglena gracilis dengan [114C]asetat untuk produksi

ergosterol ter-label (8d), kemudian diberipada

Artemia salina sebagai makanan. Setelah 3 hari, sterol udang kandung


kolesterol radioaktif.
Juga ada pengubahan 24-metil-kolest-5-en-3-ol terlabel (5b atau 6b)
oleh ragi Cryptoccus albidus dan 24-metilkolesta-5,22-dien-3-ol (7b) oleh
Cyclotella nana menjadi kolesterol oleh Artemia salina . Produksi kolesterol
dari fitosterol juga dibuktikan pada udang P. Japoni-cus yang diberi makan
[14-14C] ergosterol (8d).
Mekanisme dealkilasi C-24 sitosterol berlang-sung dalam insekta telah
dipelajari secara rinci (lihat gambar). Sebagai hasilnya, fukosterol , fukosterol
24,28-epoksida, dan demosterol (2b) diidentifikasi sebagai intermediat.
Kemungkinan rute

dealkilasi ini juga berlangsung dalam Crustacea,

dibuktikan dengan tunjukkan; udang (P. japonicus) dan jenis Palaemon


serratus, serta kepiting Sesarma dehanni dapat ubah desmosterol jadi
kolesterol.
Penelitian, pengubahan desmosterol jadi kole-sterol diamati

pada

beberapa tahap siklus per-gantian kulit Palaemon serratus dan maksimal pada
tahap sebelum pergantian kulit terjadi .
Produksi dari desmosterol sebagai intermediat dalam dealkilasi fitosterol
makanan beri kejela-san menarik muncul sejumlah sterol cukup be-sar dalam
banyak jenis Crustacea. Zat ini pasti tidak dapat dihasilkan sebagai intermidiat
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
18

da-lam biosintesis kolesterol de novo karena Crus-tacea tidak dapat


lakukansintesis sterol. Sterol muncul, walaupun sebagian sumber makanan
kandung desmosterol pada beberapa macam ganggang merah dan konstituen
beberapa campuran sterol dari Molusca.
Gambar. Garis besar mekanisme pemindahan gugus pada sterol C-24
yang berlangsung pada serangga dan kemungkinan juga pada Crustaceae.

6. Mollusca
Diperkirakan banyak Mollusca mampu melakukan sintesis sterol tapi
produksi rendah. Kolest-7-en-3-ol (1c) sterol uta-ma kelas Amphineura telah
disintesis

dari

[1-14C]mevalonat

khiton

Liolophura

ja-ponica

dan

Lipodochitona cinetra, terda-pat juga kolesterol pada keduanya. Ini bukti


bahwa asal-usul dari kolesterol endogen dan bukan eksogen. Penelitian lanjut
tunjukkan pada khiton lain akumu-lasi dari (1c) karena ada suatu hambat-an
total atau parsial pada urutan biosinte-sis kearah kolesterol.
Gastropoda dapat sintesis sterol dibuktikan dengan gunakan [1214]mevalonat sebagai substrak pada Buccci-num indatum tunjukkan dia dapat
mengubah lanosterol (2n) menjadi kolesterol.
Empat Cephalopoda diperiksa kemampuan biosintesis sterolnya, Sepia
officinalis dengan [1-14]asetat dan Eledone cirrhosa dengan [2-14]mevalonat
hasil negatif, sehingga disimpul-kan Cephalopoda tidak hasilkan sterol.Tetapi
pada Octopus vulgaris [1-14] asetat hasilkan sterol kadar rendah, sehingga
kesim-pulan akhir bahwa Cephalopoda dapat sintesis sterol secara terbatas.
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
19

Proses dealkilasi fitosterol dibuktikan dalam Mollusca. Kolesterol dan


desmoste-rol teridenti-fikasi sebagai metabolit dari [3-3H]fukosterol dalam
Ostrea grypha. Sterol sama juga dihasil jika [3-3H]sitosterol dan [33H]fukosterol diberi pada Patella vulga-te.
Buccinum undatum ubah 24-metilenakole-sterol terlabel sitosterol jadi
kolesterol. Kondrillasterol (15c) tidak ditransformasi ke kolesterol, tapi hewan
ini punya enzim untuk menata ulang 7----- 5 nampak ti-dak benar karena
konversi yang teramati dari lanosterol jadi kolesterol membutuh-kan langkah
ini.
Identifikasi desmosterol sebagai produk demetilasi melibatkan jalur
dealkilasi pada insekta, mungkin juga Crustacea (gambar). Desmoste-rol
diidentifikasi dalam Mollus-ca, buktikan pen-dapat bahwa dealkilasi fitosterol
makanan mungkin hal penting hasilkan kolesterol bila tidak ada sintesis sterol
secara de novo . Mungkin bahwa ada Mollusca alami evolusi sehingga punya
sistem enzim dapatlakukan alkilasi C-24 dan demetilasi C-24, masalah
filogenetik yang menarik.

Gambar. Rute usulan dari dealkilasi rantai samping sterol yang menghasilkan
26-nor dan 26,27-dinor yang diketemukan dalam beberapa serol
lautan
Identifikasi

24-metilkolesta-5,22-dien-3-ol

(7g)

Patinopecten

yessoensis buk-tikan asal-usul dari makanandiatomae sebagai sumber utama,


kemungkinan juga sterol C28 dan C29 lain. Elusidasi dan konfigurasi 24
okselasterol (24b) merupakan sterol lain P. yessoensis mungki melalui rute
gambar untuk pem-buatan rantai samping sterol tipe 24-metil-27-norste-rol
(24) dan sterol C26 (22). Sterol dengan ran-tai samping demikian tersebar luas
dalam inverteb-rata dari beberapa fila mungkin produser primer suatu
organisme awal dalam ran-tai makan laut
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
20

7. Echinodermata
Lima kelas Echinodermata diteliti, ditemukan; mereka lakukan sintesis
skualen dansterol C27, tidak ditemukan inkorporasi [1,2-14C]ase-tat dalam
skualen dan sterol oleh ekinoid Para-centrotus lipidus. Penelitian lain tunjuk
bahwa jenis urchin Echinus acutus dan Psammechinus miliarishasilkan sterol
radioaktif belum teriden-tifikasi setelah diinjeksi [1-14C]asetat. Juga ada
inkorporasi [2-14]mevalonat dalam skua-len dan sterol Psammechinus miliaris
dan urchin laut Clypeaster japonicus
Suatu penelitian rinci biosintesis sterol dalam urchin laut Echinus
esculentustemukan bahwa [2-14]mevalonat secara mudah terinkorporasi dalam
skualen, lanosterol dan desmosterol, tapi kolesterol sedikit terlabel.
Dehidrolanosterol (1n) radioaktif terkonversi ke kolesterol, tapi [2614C]desmosterol tidak. Ini ungkap bahwa semua enzim yang diperlukan untuk
transformasi 2n ke 1b , kecuali sterol 24-reduktase aktif dalam urchin.
Brittlestar Ophiura albida dan Ophioderma longicauda produksi sterol
terlabel

teridentifi-kasi

[1-14C]asetat

diinjeksikan.

[2-14]mevalo-nat

diinkorporasi dalam skualen dan sterol Ophiocomina nigra, senyawa sterol


ter-sebut kandung kolesterol terlabel dan komponen kedua

teridentifikasi

sebagai desmosterol.
Kemampuan holoturin sintesis sterol pertama diteliti Stichopus
japonicus diinjeksi[1,2-14C]asetat, skualen terlabeltapi sterol 7 dan lanosterol tidak. Selanjutnya pelabel [1-14C]asetatsterol Cucumaria planci,
C.elonga-ta, Holoturia tubulosa dan Stichopus regalistunjukkan inkor-porasi,
sedang C.elongata dan C.lactea juga tunjukkan inkorporasi kedalam sterol dan
skua-len setelah diberi . [2-14] mevalonat dengan kolest-7-en-3-ol (1c)
komponen utama.
Sintesis de novo sterol mevalonat ikan bintang pertama dilapor Smith
dan Goad:temukan Asterias rubens dan Henricia sanguinolenta ada
inkorporasi baik dalam skualen dan rendah 4,4-dimetilsterol. Beberapa 4,4dimetil dan 4-monometilsterol teridentifikasi komponen minor A. rubens dan
sejumlah senyawa terlabel sete-lah diinjeksi [2-14]mevalonat, arahkan jalur
biosintesis 5-kolest-7-en-3-ol sesuai gambar.
Fakta bahwa dehidrolanosterol (1n) dan 4,4-dimetilkolest-8-en-3-ol
(1o) belum teridetifikasi dalam ikan bintang, dan pelabelan sterol 24, ini
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
21

karena reduksi ikatan rangkap 24 mungkin ter-hambat sampai tahap 4monometil atau tahap akhir.

Gambar. Urutan dalam konversi sterol 5 menjadi sterol 7


dalam ikan bintang
Sterol 9,19-siklopropana sikoartenol (1r), sik-loartenol dan 31norsikloartenol (1s) teridentifi-kasi Asterias rubens tidak terlabel[2-14]mevalonat tunjuk; sterol dari makanan atau dari ran-tai makanan ganggang sterol
siklopropana ter-bentuk sebagai prazat fitosterol.
Ikan bintang kandung sterol C28 dan C29 kadar tinggi, studi biosintesis
ungkap tidak mampu pro-duksi 24-alkilsterol, sebab itu dianggap sterol berasal
dari makanan. Timbulkan pertentangan, sterol C28 dan C29 asteroid senyawa
7dan 5 sebagian besar ditemukan dalam sumber maka-nannya.Kemungkinan
asteroid dapat ubah sterol 5 jadi

7. Pisaster achraceus ubah [4-14C]

kolesterol jadi 5-kolest-7-en-3-ol (1c). Trans-formasi ini diperjelas pada


Asterias rubens, Sola-ster papposus, Porania pulvillus.
Suatu jalur alternatif menjadi 5-kolest-7-en-3-ol (1c) mungkin terjadi
pada produksi dari 7-dehidrokolesterol (1d). Goodfellow temukan [3-3H,414Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
22

C] kolesterol diinjeksi pada Asterias rubens hasilkan 5-kolestanol (1a).


Selanjutnya studi metabolisme kolesterol dan sitosterol
rubensmungkin

katabolisme

ekstensif

sterol

ini,

dan

dalam

A.

radioaktivitas

terinkorporasi dalam lipida netral kandung trigliserida, lipida polar yang


kandung fosfolipida dan dalam kar-bon dioksida.
8. Urochordata
Ada inkorporasi [1-14C]asetat dalam sterol dimurnikan dari ascidian
Microcosmus sulcatus, Ciona intestinalis, Holocynthia papillosa dan Style
plicata.
B. STEROL GANGGANG DAN JAMUR
Ganggang merupakan sumber utama sterol lingkungan laut,Rhodophyta
kandungan utama kolesterol (1a), ada yang mengandung demosterol (2b) sebagai
sterol utama. Rhodymenia palmatae kandung kolesterol rendah dan demosterol
bervariasi

tergantung

waktu

pengambilan(pengaruh

musim).

Sterol

alga

memainkan peran kunci dalam lingkungan laut karena ganggang berada di bagian
bawah rantai makanan. Status sterol laut telah ditinjau oleh Kerr dan Baker.
Dalam ganggang merah ditemukan 24-metil dan 24-etil sterol kadar rendah,
jumlah besar sterol C28 (5b dan 6b) hanya terdapat dalam Rhytiphelea tinctoria
dan Vidalia volubilis. Sterol utama ganggang hijau biru adalah stigmasterol yang
disertai dengan kolesterol dan 24-ethylcholesterol. Dinoflagellata biasanya
mengandung campuran kompleks sterol. Karakteristik utama sterol kelompok ini
adalah dinosterol yang ditandai sebagai 4,23,24 (R) -trimethyl-5-cholest-22-en-3 ol. Anggota bangsa Siphonales, Codium fragile kandung 25 metilenasterolklerosterol (17 b, 95%) dan kodisterol (9 b, 5%) kedua konfigurasi 24 . Hanya;
Halimedia incrassata kandung dua sterol dengan rantai samping 24-alkil jenuh:
klionasterol (13 b, 94%) dan ergost-5-enol (6 b, 4%).
Perkiraan asal usul sterol laut 28-metil, 5, 7, dan 5,7 dalam ganggang
bersel tunggal bangsa Chlorococcales dan ergosterol (8b) dan 7-dehid-roporiferasterol (15b)dalam Chlamydomonas reinhardi (sekerabat) punya pola sterol sama,
mungkin muncul dalam fitoplankton. Diatomae penyusun utama fitoplankton
teridentifikasi kandungan chondrilasterol (15c) dalam Navicula pelliculosa.
Nitzschia closterium, Cyclotella nana kandung brasikasterol (8b), sterol konfigurasi
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
23

24.Dengan RMI diatomae Phaedactylum tricornu-tum (nama resmi N. closterium


forma minutis-sima) kandung (24S)-24metil-kolesta-5,22E-dien-3-ol (7b) epimer
24 brasikasterol (8b).
Dalam 4 jenis diatomae lain (N.ovalis, N.frustu-lum, Navicula oelliculosa
dan Biddulphia aurita) kandung 7b. Kolesterol (1b) dalam N. Longissi-ma, sedang
etilsterol 24 yaitu stigmasterol (16b) dalam Amphora exigua. Thalasiosira
pseudonana,Biddulphia aurita Kolesterol komponen utama campuran sterol
plankton kemungkinan berasal dari zooplank-ton, tetapi fitoplankton merupakan
sumber utama kadar 75%.Toksin dinoflagellata tidak terlalu menarik, tapijenis;
Pyrocystis lunula kandung kolesterol dan campuran 22-dehidrokole-sterol (3b),
demoste-rol (2b) dan sejumlah sterol 5, 5,22, 5,24(28) serta sterol C28 dan C29
jenuh. Gonyaulax tamaren-sis kandung kolesterol & sterol unik dinosterol (35i) dg
sistem cincin 4-monome-til jenuh, jgpunya metal C-23 pada ikatan 22, punya
hubungan dgn gorgosterol (11b) dalam gorgonian.
Banyak invertebrata, terutama coelenterates dan beberapa moluska,
mengandung simbion dinoflagellata dikenal sebagai zooxanthellae. Mereka
mengandung

sterol

siklopropil,

gorgosterol

dan

23-demethylgorgosterol.

Strukturnya yang unik menimbulkan pertanyaan menarik tentang asal biosintesis


dan peran biologinya. Meskipun ada banyak diskusi mengenai biosintesis yang dari
dinosterol dan gorgosterol, mekanisme yang tepat belum pernah ditemukan.
Diatom terdiri porsi yang signifikan dari fitoplankton. Sterol diatom belum
mendapat banyak perhatian. Umumnya sterol diatom yang konvensional C-27, C28 dan C-29 pitosterol. Coccolithophorids yang mikroskopis, alga uniseluler luas di
lautan.
Komposisi sterol dari mikro-alga umumnya sangat sederhana. Chlorophyta
uniseluler laut mengandung ergosterol, stigmasterol 7-dehidro, dan sterol. Sterol
dari makro-alga memiliki struktur mirip dengan kolesterol dengan pengecualian
dari metil atau etil kelompok di C-24 dan atau jenuh. Sterol dari alga merah yang
tidak biasa, umumnya mereka tidak memiliki C-24 alkilasi.
Fucosterol adalah sterol utama dari ganggang coklat. Ganggang hijau
biasanya memiliki campuran kompleks dari sterol. Pitosterol dari ganggang laut
berbeda dari sterol hewan dalam memiliki tambahan dua obligasi di ring B atau
kelompok alkil tambahan di C-24. Mekanisme modifikasi rantai samping telah
dijelaskan oleh penelitian dengan menggunakan mevalonated atau methionine.
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
24

Mekanisme pembentukan 24-metil-24 -sterol adalah umum di kedua jamur


dan fotosintesis ganggang. Alkilasi dari prekursor dan migrasi dari hidrogen dari C24 untuk C-25 menghasilkan sesuatu yang mengalami penurunan stereospesifik ke
24-metil-24 -sterol. Alga ini memiliki mekanisme yang sama untuk produksi dari
24-etil-24 -sterol. Chlorophyta mengikuti jalur biosintesis yang berbeda untuk
sintesis 24-alkil sterol. Langkah terakhir dalam proses biosintesis adalah
pengurangan substrat. Migrasi dari dua hidrogen yang terlibat dalam pembentukan
24-metil-24 -sterol. Dalam biosintesis 24-alkil sterol di chlorophytes, hidrogen
asli di C-24 dipertahankan. Hidrogen ini bermigrasi ke C-25 dalam biosintesis
sterol di ganggang fotosintetik lain.
Dalam semua alga yang diteliti sejauh ini, poriferasterol dibentuk oleh
pengenalan ikatan sebelum pengurangan -bond (di chrysophyte, Ochromonas
malhamensis atau obligasi (dalam spesies alga hijau dari genus Trebouxia.
Meskipun studi ini telah dilakukan pada ganggang air tawar, namun diharapkan
mikroalga laut mengikuti jalur biosintesis yang sama. Sebuah chrysophyte tak
dikenal dimasukkan [metil-13C] - dan [metil-2H3] metionin menjadi [24E] -25propylidene kolesterol, dan itu didirikan bahwa kelompok propylidene tidak
dibentuk dari pembelahan siklopropana sebuah cincin. Telah dilaporkan bahwa
kolesterol dan 24-methylcholesta-5,22-dien-38-ol yang disentesis dari mevalonate
di Pseudoisochrysis chrysophyte paradoxa. Kelompok 23-metil di dinosterol
berasal dari metionin yang dan juga jembatan metilen di 4-methylgorgostanol di
Peridinium Balticum.
Perlu diingat, Sterol invertebrata adajamur Ascomyce-tes dan Fungi
imperpecti yang punya peran ekologis dalam lingkung laut. Semua ganggang laut
kandung 24-metil-5,7,22 triena ergoste-rol (8d) juga khas dalam jamur daratan.
Macam-macam sterol ganggang dan jamur adalah :
1.
2.
3.
4.

Klionasterol, poriferasterol & aplisterol

(Verongia

spp.,

Aximelia

verucosa).
Gorgosterol :Pseudoplexaura
porosa.
Kolesterol :Marphysa mossambica &Terebella ehrenbergi (Annelida).
Kolesterol, Dihidrobrassikasterol :Tridacna crocea, T. roae, T. squamosa

(Moluska).
5.
Kolesterol,

Desmosterol

(Rhodymenia

(Arthropoda).
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
25

palmata).:

Crustacea

6.

Asterosterol, akantasterol, gorgostanol :Acanthaster planci, Echinaster

sepositus.
7.
Kolestanol :Styela plicata (Urochordata).
Gambar. Struktur rantai samping

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


26

Gambar. Struktur cincin

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


27

C. STEROL DARI INVERTEBRATA LAUT


Banyak biota laut yang mengandung sterol, misal : mega-sterol, shakosterol,
meritristerol, dan pteropoda-sterol. Empat macam sumbernya:
1. Biosintesis de novo sterol dari asetil Co-A melalui asam mevalonat dan
skualena.
2. Absorpsi dan asimilasi dari sterol makanan
3. Modifikasi dari sterol makanan
4. Lintasan sterol dari ganggang simbiotik atau organisme lain yang ada hubungan
(misal jamur atau bakteri) ke hewan inang
Komposisi sterol invertebrata laut :
1.

Porifera,
Henze dan Dorbe (1909) menyatakan bunga karang mengandung
sejumlah sterol biogenetik bervariasi. Bergman dkk (1949, 1962) meneliti
tentang karakteristik beberapa sterol laut, antara lain; klionasterol

dan

poriferasterol khas dalam ganggang.


Bunga karang juga mengandung sterol yang mempunyai punya rantai
samping dengan pola alkilasiunik seperti aplisterol (25b) dalam Verongia
spp.Axinella verucosamengandung seri 19-norsterol (misalnya 1e), 3-hidroksimetil-A-norstanol (misalnya 1f). Identifikasi sterol unik dalam
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
28

Mediterra-na, Axinella cannabinamengandung 5,8-epo-ksisterol misal


1g, 3g, dan 8g, juga mengandung sterol 5,7.
Kalisterol (27b) punya gugus siklopro-pana pada rantai samping diisolasi
dari Calyx nicaensis bersama 23-etilkolesta-5,23-dien-3-ol (28b) dan
sejumlah tu-runan kolesterol yaitu (29b) punya ikat-an asetilenik-23,24.
Asetilasi kuat kali-sterol hasil suatu diasetat (30b, 3-ase-tat) dan pada
kromatografi alumina dijenuhkan perak nitrat membuka cincin
siklopropena hasil 31b.
Bunga karang; Tethya aurantia mengandung 5,8-epidioksisterol,
Stellecta clarella 3-okso-4 (misalnya 1h, 19h).
Haliclonarubens mengandung; turunan pregnena 3-hidroksi-17-pregn5-en-20-on (32b), 17-pregn-5-ena-3,20-diol (33b) dan 17-oregn-5ena-3,20-diol (34b)
Jenis Verongidae mengandung sterolrantai samping 25 dan 26;
Axinellidae 19-norstanol dan 3-hidroksimetil-A-norstanol: Axinellidae,
Hali-chondriae,

Haliclonidae,

Chondrillidae

dan

Hymeniacidaemengandung jumlah cukup besarstanol (1a, 3a dan 10a):


Suku Spongidae dan Axinelidae.
2.

Cniderae .
Sterol dalam

coelenterate

banyak

yang

terdapat

luas

dalam

fila invertebrata kecuali gorgonian dan anggota Zoanthidae kolesterol


kandung utama.Gorgonian; gorgosterol (11b) dan sterol lain(12b, 11i,
11j) punya gugus siklo-propana rantai samping.
Pseudoplexaura porosa; gorgosterol juga 19-norkolesterol (1k) dan
homologlebih tinggi (8k dan 15k konfiguras C-24).
Sarcophyla elegans; 2 sterol hub. bioge-netik gorgosterol. 23,24dimetilkolesta-5,22-dien-3-ol (35b) dan 23,24-dimetil-kolesta-5,23dien-3-ol (36b).
Ptilosarcus gueneyi (jenis pena laut) sterol unik; ester metil asam (20S)3-hidroksikol-5,22-dien-24-0at (37b).
Beberapa koral lunak kandung sterol terpolihidroksilasi antara steroid
utama. Simalaria mayi; 24-metilkolest-5-ena-3,25 diol, Srarcophyton
elegans; 24-metilkolestana-3,5, 6-25-tetrol 25 asetat dan 24Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
29

metilkolestana-3,5, 6-25-pentol 25 asetat,Lobophytum pauci-florum;


(24S)-24-metilkolestana-3, 4, 5,25-tetrol-6-on 25 asetat,
Sinularia
dissecta;
24-metilkolestana-3,5,
6-triol,

24-

metilkolestana-3,5, 6-triol-6-asetat dan turunan 24-metil-ena .


Pseudopterogorgia elisabethae; kolesta-3,5,6,9-tetrol. Litophyton viri3.

dis; 24-ketilenakolest-5-ena-3,17, 19 triol dan 7-asetatnya


Namertea dan Annelida .
Satu jenis cacing nemertea dan lima jenis cacing polichaeta yang telah
dianalisis kandung komponen utama kolesterol dari campuran kompleks
sterol. Analisis pertama tentang sterolC26, C27, C28 dan C29 sterol 5
dan 5,22
Sterol polichaeta Pseudopotamilla occelatakandung senyawa 22-sis,
yaitu kolesta-5,22Z-dien-3-ol (4b) yang selanjutnya diketahui juga
sterol rantai sampang 22-trans struktur 27-nor-(25S)-24-metilkolesta-5-

4.

22E-dien-3-ol (24b, okselasterol).


Molusca .
Diperkirakan banyak Moluska mampu melakukan sintesis sterol tapi
produksi rendah. Moluska banyak dianalisis mengandung dan komposisi
sterol, karena nilai nutrisi steroid > 1%.
Chiton (Kelas Amphineura) khas, kadar kolest-7-en-3 (1c) tinggi, Kelas
lain moluska kandung terutama 5: Chepalo-poda kolesterol (1b) 90%
total campur
Gastropoda dan Pelecypoda: banyak ste-rol unik C28, C295dan 5,22
kadar 40-50% campuran, kolesterol cukup tinggi.
4 jenis ketam (clam): Tridacna crocea, Tridacna roae, Tridacna
squamosa dan Hippons hippons34-65% dihidrobrassi-kasterol (6b) dan
12-29% kolesterol.
Kadar dan komposisi sterol Mytilus edu-lis dari empat lokasi berbeda.
Pola umum sterol empat contoh lokasi berbeda sama dan dua contoh
sangat mirip.
Contoh dari Halifax punya kadar koleste-rol tinggi, 24-metilenakolesta5,22-dien-3-ol (8b) rendah, 24-metilenakolesterol (10b) dapat diabaikan
dibanding dengan contoh dari Zeeland dan Kagoshima. Kandungan dari
Kagoshima punya kan-dungan 22-dehidrokolesterol (3b) kadar lebih
tinggi dan demosterol (2b) rendah dari contoh lain. Kondisi ini

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


30

dipengaruhi oleh; kandungan sterol dari plankton ru-pa makanan, lokasi


geografis dan musim
Banyak jenis moluska punya sterol 5,7 dan kadang kadar tinggi dari
campuran; 7-dehidro-kolesterol (1d), kolesta 5,7,22-trien-3-ol (3b) dan
7-dehidrostig-masterol (16d).
Senyawa sterol 5,7 prazat pembentukan sterol 5 dan vitamin D
(mungkin terlibat metabolisme kalsium penggantian kulit kerang).
Sterol unik moluska adalah (22E)-24-norkoles-ta-5,22-dien-3-ol (22b)
tersebar luasbersamasterol C28 lain dalam lingkung laut, isomerik
propilidenasterolo (20b dan 38b) dalam Placo-pecten magellanicus dan
5.

sterol C22 (21b) dariTapes philippinarum


Arthropoda .
Crustacea mempunyai sterol paling sederhana dari invertebrata,
umumnya mengandung kolesterol utama biasa > 90% , yang punya kadar
< 90% sebagai gantinya sterol yang ada hubungan seperti demosterol.
Sterol C26, C28 dan C29 jumlah sangat sedikit, sterol khas lain dalam

6.

fila ini adalah 24-metil dan 24-etil-5.


Echinodermata
Sifat menarik sterol Echinodermata; diko-tomi antara krinoid, ofiurid dan
ekinoid,kandung sterol 5, holoturin dan asteroid sterol 7, juga kandung
campuran sterol kompleks seperti fila invertebrata lain.
Sebagian besar kandung utama kolesterol da-lam crinoid, ofiuroid dan
ekinoid serta kolest-7-ena-3-ol (1c) dalam holoturian dan asteroid,
kadang dalam asteroid Acanthaster planci dan Echinaster sepositus
sterol C28 dan C29 dominasi
Sterol unik Echinodermata, misalnya astero-sterol (22c), 24-norkolest-5ena-3-ol (23b), 24-norkolest-5-22-ena-3-ol (22a), amurasterol (24c),
24-metilkolesta-7,22,25-trien-3-ol, akantasterol (11c) dan gorgosterol
(11a)
Pendapat pertama; holoturian dan asteroid ha-nya kandung sterol 7 tidak
benar karena Echi-nodermata ternyata kandung cukup besar sterol sulfat.
Penelitian lipida Asterius rubens teriden-tifikasi kandung kolosterol
sulfat, bertentangan identifikasi kolest-7-en-3-ol (1c) dan sterol 7
dalam campuran sterol bebas. Pada pemisahan sterol hati-hati

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


31

teridentifikasi kolesterol sulfat sebagai komponen utama walau juga


teriden-tifikasi ada kolest-7-en-3-ol (1c) cukup berarti
Kolesterol sulfat terdapat dalam oosit dari sea urchin (Anthocidaris
crassipina) dan kelima kelas Echinodermata, jumlah kecil dalam ketam,
sterol sulfat tidak ditemukan dari fila invertebrata. Dalam semua kelas
Echinoderma-ta, kolesterol merupakan komponen utama sterol sulfat,
termasuk dalam ketimun laut, sterol bebas senyawa 7, seperti dalam
holo-turin. Kadar sterol sulfat 1,3 mg/g berat kering jaringan. Kadar
cukup tinggi sterol sulfat

diban-ding sterol bebas, ditemui dalam

asteroid dan ofiuroid dan krinoid, tapi ekinoid kandung kadar relatif
rendah sterol sulfat. Jenisini kandung +porsi sama sterol C27 sulfat dan
bebas, ini ber-tentangan empat kelas lain Echinodermata kandung sterol
7.

C27nya proporsi jauh >bentuk sulfat dibanding bentuk bebas


Urochordata
Beberapa jenis ascidiankandung berbagaisterol khas

dari

fila

invertebrata. Kandungan kolesterol (1b) dalam campuran berkisar 65%


dalam Styela plicata kira-kira 10% kolestanol (1a), juga ada variasi
komposisi sterol dari lokasi yang berbeda.
Sterol juga berperan pada produksi Ekdison dalam Crustaceae. Ekdisis adalah
proses pergantian kulit yang dipengaruhi hormon steroid (ekdison).Hormon
eksidon dan ekdisterol terdapat dalam :
Udang (Homarus americanus)
Kerang(Orconectes limosus)
Ketam (Carcinus maenus)
Nama sterol pada hewan invertebrata :
1. Megasterol
2. Shakosterol
3. Meritristerol
4. Pteropodasterol
Invertebrata yang mengandung sterol :
1. Bunga karang Polifer

: Aplisterol.

2. Cniderae

: Gorgosterol

3. Nemertea & Annelida

: Kolesterol

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


32

4. Moluska

: Dihidrobrassicakolesterol

5. Arthropoda

: Desmosterol

6. Echinodermata

: Asterosterol

7. Urochordata

: Kolestanol

Gambar. Ubur-ubur/Jelly Fish/Moluska


D. STEROL NON-KONENSIONAL DARI SUMBER LAUT
Sterol merupakan bagian yang penting dari senyawa organik dan seringkali
berfungsi sebagai nukleus. Salah satu jenis sterol, yakni kolesterol mempunyai
peranan yang vital bagi fungsi-fungsi selular dan menjadi substrat awal (bahasa
Inggris: precursor) bagi vitamin yang larut dalam lemak, dan hormon steroid.
Sterol dapat dijumpai sebagai sterol bebas, ester sterol (terasilasi), eter alkil
steril (teralkilasi), sterol sulfat, dan steril glikosida yang kemudiannya dapat
terasilasi menjadi glikosida sterol berasil. Biosintesis sterol hampir selalu
ditemukan pada makhluk eukariota dan hampir tidak ditemukan pada makhluk
prokariota. Lintasan biosintetik sterol dapat diamati pada proteobakterium.
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
33

Secara luas, beberapa sterol ini diklasifikasikan dan berada

dalam

persentasi yang rendah (1-2%) dari campuran sterol; klasifikasi melalui rantai
makanan dapat diduga karena benyak spesies yang tidak mampu untuk mensintesis
sterol secara de novo. Sterol lain, dengan batasan klasifikasi terhadap klas, genus,
atau spesies tertentu, campuran sterol berada dalam persentasi yang sangat tinggi;
untuk sterol ini, partisipasi invertebrata dalam biosintesis atau modifikasi sterol
diambil dari menu yang paling mungkin.

HO

HO

HO

HO

Gambar. 1 Sterol C26 dari sumber lautan


Sterol biasanya digolongkan menurut jumlah atom karbon dan dalam
makalah ini akan dibahas tentang sterol C 26, jenis sterol 27-norergo-stane, rantai
samping sterol dimodifikasi melalui adisi atom karbon tambahan di kedudukan
biogenetik yang belum ada sebelumnya, dan spons-turunan sterol, termasuk yang
belum pernah terjadi dalam urutan sebelum pola alkilasi rantai samping dan
modifikasi inti tetrasiklik.

1.

Sterol C26
Gambar 1 adalah struktur sterol C26 yang diisolasi; pertama dari sterol
dengan sebuah rantai samping atom C-7 yang belum terjadi sebelumnya, 22trans-24-norcholestra-5, 22-dien-3 -ol (1) atau jika anda lebih suka, 22trans-26,27-bisnorergosta-5, 22-dien-3 -ol, yang diisolasi melalui reaksi

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


34

idler. Dari molluska (kerang) Placepecten magellanicus dalam komponen yang


sedikit. Beitu juga dengan sterol C26 yang dideteksi pada penulis yang sama
dalam 18 spesies dari moluska termasuk kelas pelecypoda dan Gastropoda dan
dan satu spesies dalam filum molluscoida, dalam persentasi rendah, berkisar
0,1 sampai 6% dari jumlah total sterolnya. Struktur dapat ditentukan demgan
teknik spektra, khususnya melalui nmr, secara jelas menggambarkan gugus
isopropil ujung, dan ditegaskan melalui sintesis parsial, pertama dilaporkan
melalui Fryberg. Dan kemudian oleh kelompok barbiernya dalam Gif-surYvette (prancis). Sintesis eliminasi tidak pasti berkaitan dengan stereokimia
pada atom C-20, yang terbukti menjadi 20 R, ditemukan dalam kolesterol, dan
dengan konfigurasi dari 22-ikatan-rangkap yang terbukti dalam keadaan trans.
7,22 pertama dilaporkan oleh kelompok Barbiernya
Sterol C (2)
26

dari kulit Halocynthia rotrezi 6, dimana berlaku pada isomer

5,22

(1) dan

turunan dihidro (3). Pada waktu yang bersamaan, (2) dideteksi dalam beberapa
asteroid dan dalam holothurians Stichopus japonicas oleh Kobayashi. Penulis
terakhir, yang menggambarkan sterol baru sebagai bahan kristalin dari Asterias
amurensis8, dinamakan asterosterol, dalam pandangan yang cukup luas

mengenai distribusi dalam asteroid. Nuklir tak jenuh

dalam asteroid

tidak diharapkan, dalam tampilan utama terdapat dalam kedua asteroid


(bintang laut) dan holothurians (teripang) dari
muncul melalui modifikasi sesuai dengan sterol

sterol langka, yang dipikir

kedalam

yang

didemonstrasikan oleh Smith dan Goad terjadi paling sedikit dua spesies,
Austeria rubens dan Solaster papposus. Pekerja jepang mengusulkan bahwa
asterol-sterol (2) dapat dibentuk melalui asteroid dari digest

5,22-

C26.

Struktur asterosterol juga ditentukan melalui sintesis, yang diumumkan


secara serempak oleh Kobayashi dan Boll, yang melaporkan isolasi
asterosterol dari spons laut Halicondria panacea.
Sterol C26 juga telah diisolasi dari dua spesies spons lain oleh Erdmann
dan Thomson. Struktur sterol C26 ditetapkan melalui sintesis oleh Metayer dan

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


35

Barbier, penetapan menjadi konfigurasi 20 R dan stereokimia posisi trans dari


22-ikatan rangkap.
Empat anggota dari kelompok ini telah dideteksi saat ini sebagai
komponen kecil dalam kerang Placopecten magellanicus oleh Idler. Tabel 1.
filum Hewan laut dalam sterol C26 yang telah ditemukan.
Filum
Porifera
Mollusca

Klas
Desmospongiae
Gastropoda
Pelecypoda
Polychoeta
Ascideacea
Anthozoa

Annelida
Tunicata
Coelententerata
Brachiopoda
Molluscoidea
Echinodermata

Asteroida
Holothuroidea
Echinoidea
Sterol C26 kelihatan secara meluas dalam invertebrata laut dan tersebar
dimana-mana. Sejak pengujian campuran sterol oleh kromatografi gasspektrometer massa terhadap 25 spesies spons yang berbeda, representative
terhadap sebelas family dan tujuh orde, dimana terdapat komponen kecil
terhadap

waktu

retensi

yang

dicatat,

memperluas

jumlah

spesies

Echinodermata dalam sterol C26 yang telah dideteksi, menunjukan adanya


sterol C26 sebagai komponen kecil (2%) dalam dua spesies ophiuroids
(ophiuroidea) dan satu dari echinoids (Echinoidea), lagipula, asteroid dan
holothuroids diuji mengandung level rendah sterol C 26. Baru-baru ini, Voogt,
telah mendeteksi, sterol C26 dalam tiga anemone laut (Anthozoa dan
Coelenterata), dan Vogt dan Kobayashi telah melaporkan adanya sterol C 26
dalam beberapa Anelida,
Jadi saat ini, keberadaan sterol C26 telah dilaporkan dalam tujuh filum
laut, yaitu anelida, coelenterate, echinodermata, mollusca, molluskoida,
tunicates dan spons (tabel 1). Keunikan kerangka C26 dan keberadaannya
dimana-mana dari senyawa ini merupakan pertanyaan mengenai kedua tipe
organisme ini dalam mana asalnya dan biosintesisnya. Penemuan kelompok
Barbier mengusulkan bahwa dari sterol C26 dalam fitoplankton laut itu lazim
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
36

untuk semua hewan laut, tetapi penulis tidak dapat mendeteksi radioaktifitas
sterol C26 dalam alga merah Rhodmen palmate setelah pemberian label asetat,
mevalonat dan metionin; radioaktifitas asetat ditemukan dalam sterol C27-C29
sementara radioaktifitas ditemukan dalam sterol C28 dan C29.
Pengarang memberikan perbedaan penjelasan hasilnya, namun mereka
menyimpulkan masalah biologic dari C26 tinggal tingkat tak pastinya dan
pertanyaan utama untuk memecahkan penemuan dari tipe organism yang
mungkin. Pada kenyataannya, sintesis kerangka C26. Sementara keterangan asal
dan biogenesis dari senyawa menarik ini adalah kurang, banyak peneliti
memperhitungkan pembentukannya. Gagasan yang lebih kita sukai bahwa
sterol C26 muncul oleh dimetilasi sterol 24- metilasi. Hal ini didukung oleh
penemuan Kobayashi dan Mitshuhashi dari kelompok sterol, yang muncul
secara luas dibagi antara filum laut, memiliki keadaan yang belum terjadi pada
rantai samping 27-norergostane. Untuk lebih jauh, kemampuan organism untuk
mendealkilasi sterol tidak begitu mengejutkan, dalam tinjauan keterangan
ditunjukkan bahwa banyak spesies arthropoda dealkilasi antara sterol C 28 dan
C29.
2. Sterol tipe 27-norergostane
Tiga anggota dari kelompok ini yang telah diisolasi saat ini yaitu 27norergosta-7, 22-dien-3 -ol, (5), dinamakan amuresterol, isomernya 27norergosta-5, 22-dien-3 -ol (6), dinamakan okelasterol, dan 27-norergosta22-dien-3 -ol (7), dinamakan patinosterol (gambar 2).
Struktur dari dua anggota ini ditentukan dan ditegaskan melalui sintesis
parsial oleh Kobayashi dan Mitsuhashi pada tahun 1974. Mereka menemukan
amursterol dalam enam spesies dari asteroid. Okelasterol, pertama kali
diekstraksi dari annelid Psedopotamilla ocellata, ditemukan keberadaanya
dalam invertebrate berdasarkan perbedaan filum (tabel 2). Baru-baru ini,
patinosterol telah diisolasi oleh peneliti yang sama dari kerang Patinopecten
yessoensis, farksi sterol berisi dua puluh komponen.
Gambar.2 Sterol tipe 27-norergostane dari sumber lautan

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


37

HO

5, amuresterol

HO

6, occelasterol

HO

7, patinosterol

Ketiga sterol tersebut berada dalam persentasi yang rendah (1-2%)


identik dengan trans-C27- sterol analog dalam ir dan sifat ms; bagaimanapun,
waktu retensinya lebih pendek dalam glc kemudian bersamaan dengan sterol
C27, dan asetatnya lebih kurang polar pada kromatografi perak.

Tabel 2. Filum hewan laut daplam tipe sterol 27-norergostane yang telah
ditemukan.
Filum
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
38

Klas

Coelenterata
Annelida
Tunicata
Mollusca

Anthozoa
Polychaeta
Ascidiaceae
Bivalvia
Gastropoda
Asteroida
Holothuroidea
Echinoidea

Echinodermata

Lebih jauh lagi, peneliti yang sama juga mengamati sterol dari
invertebrate laut dilakukan dengan banyak pekerja pada masa lampau, berfikir
menjadi 22-cis-cholesta-5,22-dien-3 -ol dari waktu retensi glcnya dan data
spectra massa, pada kenyataanya, menjadi occelasterol. Pengamatan ini
diperluas pembagiannya menjadi tipe 27-norergostane dalam sumber laut
(Tabel).
Sejauh ini, biosintesis sterol ini adalah mengenai tiga hipotesis yang
dirumuskan struktur dasar, yang berada dalam mussel, anemone laut, dan
crustaceae, dimana sterol ini telah dideteksi, pengetahuan tentang tidak bisanya
disintesis de novo dan sterol harus, oleh karena itu kita megakumulasikan
melalui rantai makanan :
a. Melalui kesesuaian konversi dari sterol

22

-C27 oleh migrasi internal

metal.
b. Melalui metilasi sterol C26 atau
c. Dimetilasi dari tipe sterol ergostane.
Sejak fraksi sterol beberapa dwiatom (tentukan dwiatom (penyusunan
kembali dalam biomassa air laut) yang baru dilaporkan tersusun dari 22-trans(24S)-24-methylcholesta-5,22-dien-3

ol (24

isomer brassicasterol,

yang diisolasi dari P occelata), dan sejak occelasterol memiliki kemiripan


stereokimia pada atom C24, Kobayashi dan Mitsuhashi menyimpulkan bahwa
kesimpulan sesuai dengan konfigurasi pada C-24 terlihat mengusulkan bahwa
occelasterol diturunkan dari dimetilasi dari dwiatom sterol dan kemudian
dikelompokkan serta diakumulasi dalam invertebrate lain melalui rantai
makanan. Biogenetik yang mungkin

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


39

pada ururtan tipe 26-norergo-

Kobayashaki dan Mitsuhashi dirangkum dalam gambar 3.

dan

12,22

sterol mungkin daibentuk dalam bebera pacara secara langsung dengan


koresponen
samping

22

7,22

Sterol atau dimetilasi melalui jumlah cincin rantai

dan precursor

12,22

Dicatat bahwa C26 dan 27-norergostane- tipe sterol selalu terjadi


bersama dengan jumlah sterol 24(S)-24-metil. Secara jelas, banyak pekerjaan
disyaratkan sebelum konlusi dapat diketahui tentag sterol yang tidak ada
sebelumnya, tetapi, dalam hal sterol C26 yang mungkin dimetilasi dari
occelasterol (6), masalah utaman pelarutan adalah penemuan tipe dari
organisme yang mengarang tentang kerangka 27-noregostane dan menjadi
sama apabila disintesis pada kerangka 26,27-bisnorergostane.
Gambar 3. Kemungkinan rangkaian biogenetik pada C26 dan C27-noregostane
tipe sterol menurut Kobayashi dan Mitsuhashi

HO

HO

24-epibrassicasterol

HO

occelasterol

24-norcholesta-5,22-dien-3 ol

Sterol non-konvensional, yang memiliki rantai samping dimodifikasi


melalui pengurangan satu atau dua atom karbon dari C9 rantai samping. Sterol
non-konvensional yang memiliki rantai samping yang dimodifikasi dari karbon
tambahan secara biogenetic posisi belum pernah terjadi (e.g/ C-22, C-23 dan
C-26) dari rantai samping normal C9. Hal ini memiliki batasan distribusi
diantara film laut, dalam perbandingan kejadian mengenai nor-sterol.
Tabel.3 Keberadaan 22,23-siklopropana yang mengandung sterol.
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
40

Filum
Coelenterata

Klas
Anthozoa

Echinodermata

Asteroida

Spesies
Gorgonia flabellum
G. ventilina
Plexaura sp.
P. flexuosa
Pseudopterogorgia americana
Nephthea sp.
Palythoa tuberculosa
Acanthaster planci

Referensi
40
40
51
37
41
52
53
34,35

Saat ini, dua jenis sterol C30 telah ditemukan dalam nvertebrata laut;
sterol tersubstitusi a 24-propilidena dan memiliki cincin siklopropana di rantai
samping pada posisi 22,23.

24-propiledenecholeest-5-en- 3 -ol (8) pertama kali diekstraksi oleh

Kelompok Idler dikanada yang berasal dari kerang Placopecten magelanikus,


dimana jumlah sterol dalam campuran adalah 1%. Kemudian, Sheikh dan
Djerassi memperkenalkan sterol ini dalam spons Tethyis aurantia sebagai
komponen kecil digambarkan juga sintesisnya. Sterol C 30 tak dikenal telah
dicatat dalam spons lain.
Semua sterol dilaporkan menghasilkan separuh siklopropana pada posisi
22, 23 dirantai samping (gambar 4) berlaku dalam karang lembut (tabel 3),
kecuali acnthasterol, yang diisolasi dari asteroid Achantaster planci, Namun
karena Achantaster planci menghasilkan karang lembut, dan dalam peninjauan
kemampuan dari asteroid yang ditransformasi dari sterol

menjadi sterol

adalah kemungkinan acanthaterol dalam bintang laut berasal dari

pencernaan gorgosetol.

Gambar 4. Setrol yang mengandung Siklopropana

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


41

HO

HO

9 gorgosterol
H

HO

10 acanthasterol

HO

11 23,demethylgorgosterol
H
HO
H
O

HO

12

Gorgosterol pertama kali ditemukan oleh Bergnmann pada tahun 1943,


tapi struktur baru dipacahkan pada tahun 1970, melalui usaha kolaborasi tiga
tim penelitian, kemudian ditegaskan melalui analisis difraksi sinar-X.
Penambahan

sterol

yang

mengandung

siklopropana

yaitu

23-

dimetilgorgosterol dan luar biasa senyawa seko. Struktur dari senyawa ini juga
dielusidasi melalui analisis difraksi sinar-X. Beberapa laporan penelitian untuk
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
42

mensintesis sterol yang mengandung siklopropana, menghasilkan sintesis dari


dua stereoisomer 23-dimetilgorgosterol yang telah dipublikasikan.
Penemuan cincin siklopropana gorgosterol disimulasikan

pada

pembahasan awal dan signifikan secara biologi. Keberadaan cincin juga


dipertimbangkan terhadap keterangan yang mendukung hipotesis bahwa
siklopropana bisa diintermeiet dalam pengenalan gugue metal kedalam rantai
samping sterol.
Gambar. 5 23,24-dimetil sterol yang berasal dari sumber laut.

13

HO

14

HO

HO

15

Meskipun ditegaskan bahwa siklopropanasi mungkin hanya sebuah


langkah

awal

dalam

biosintesis

grorgosterol,

memberikan

perkiraan

pembenaran oleh penemuan dalam karang lembut Sarchphyta elegans dari


23,24-dimetilkolesta-5,22-dien-3 -ol, yang bisa dibayangkan, kesamaan
bentuk intermediet terhadap 23-desmetilgorgosterol.
Baru-baru ini, 4 -metilsterol kemiripan dengan rantai samping telah
ditemukan dalam kandungan racun dinoflagellata Gonyaulax tamarensis. Hal
itu ditandai dengan konstiten fitoplankton 4 -metilsterol berjumlah sekitar
60% dari campuran sterol, komponen lainnya (40%) ada dalam bentuk
kolesterol. Peneliti mendapat perhatian pada fakta bahwa 4 -metilsterol,
intermediet dalam biosintesis sterol, yang diakumulasikan dibawah kondisi
anaerob dan dicatat dalam analisis spektroskopik massa dari sterol anaerobic,
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
43

gorgonian-diasosiasikan zooxanthellae yang dilaporkan meghasilkan ion


molekul m/e 428, ditandai dihidrogorgosterol menyebabkan sterol memiliki
rantai samping dalam pembukaan cincin siklopropana mengahsilkan pola
substitusi yang identik terhadap 4 -metilsterol yang dideteksi dalam
Gonyaulax tamarensis.
Kita juga bisa mengisolasi

dari spons Axinella polipoida (yang

mengandung campuran 19-norstanol dibahas selanjutnya) 19-norstanol yang


diusulkan strukturnya berdasarkan perbandingan data spktra yaitu 23,24dimetilas sterol.
Gambar 6. 26-metilsterol yang berasal dari spons genus verongia
H

HO

16, aplysterol

HO

17, didehydroaplysterol

Semenjak kerja keras Bergmann terhadap sterol dari invertebrate, hal itu
diakui bahwa, dalam kingdom hewan, spons mengandung variasi sterol
terbesar, tetapi baru-baru ini, ketika teknik kromatografi canggih diterapkan
dalam analisi sterol, secara komlit dilaporkan sumber sterol dengan tipe baru.
Biogenetik pertama belum ada sebelumnya sterol yang diisolasi dari
spons aplisterol dan 24,28-didehiroaplisterol, merupakan contoh pertama dari
26-alkilasi dalam biosintesis sterol (gambar 6). Striktur dari 26-metil-24metilenkolesterol diusulkan untuk 24,28-didehiroaplisterol, berdasarkan data
spektroskopik, selama perlakuan degradasi kemudian penetapan sintesisnya.
Struktur lengkap dari 24,26-dimetilkolesterol, diusulkan untuk aplisterol
pada keterangan spktra dan hubungan timbale balik dedihidroaplisterol dari piodobenzoat, yang juga dinyatakan stereokimia dari rantai samping menjadi
24R, 25S. Keunikan sterol ini, pertama kali diisolasi dari spons orange
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
44

Verongia aerophoba, dikenal sebagai family Verongidae. Dalam pengujian dua


puluh lima spons bagi komposisi sterolnya, ditemukan semua spesies Verongia,
dikumpul dalam lokasi dan habitat yang berbeda, mengandung dua sterol baru
sebagai 60-70% dari total sterol (tabel 4). Hasil ini memberikan data yang
berguna untuk sistematis spons dan ditambah dengan keterangan lebih jauh
dengan pemisahan Verongidae dari Spongidae. Berdasarkan perbedaannya
dengan asam amino, mereka dipertimbangkan oleh Bergqist dan Hartman
menjadi luas pemisahan kelompoknya, bahkan mereka diklasifikasikan sesuai
dengan kesamaan ordenya.
Tabel 4. Spons yang mengandung aplisterol (16) dan 24,28-didehidroaplisterol (17)16.
Spons
Diktioseratida
Famili Verongidae
v. aerophoba
v. archeri (kuat)

Sumber

% kandungan sterol

Naples
70%

Saat ini kita tidak dapat menjelaskan asal biogenetic dari sterol ini. Hasil
laboratorium kami mengindikasikan bahwa Verongia aerophoba gagal untuk
dimasukkan kedalam 1-14C-asetat atau 2-14C-mevalonat menjadi aplisterol dan
24,28-didehidroaplisterol.

Sebuah

eksperimen

radiolabeling

yang

menggunakan CH3-14C-metionin dalam spons V. aerophoba juga dihasilkan


dalam nonradioaktif 26-metilsterol.
Pandangan dari hasil ini, menyebabkan keterbatasan distribusi dari sterol
ini, yang dibuat menjadi satu family, kita dapat menyiratkan bahwa
pengubahan spons menjadi sterol eksogenus dilakukan dalam makanan
aplisterol dan 24,28-didehidro-aplisterol; seperti pengubahan dan internal
metilasi yang berasal dari Prekursor C29 dalam fukosterol. Kita tidak punya
keterangan hipotesis yang mendukung, namun dalam hal ini kalisterol telah
diisolasi, yang mana sifat unik dari cincin siklopropana di rantai samping, yang
diperoleh melalui eksperimen, beberapa data mengindikasikan bahwa
pengubahan spons menjadi fukosterol (tidak dipublikasikan hasilnya).
Gambar 7. Sterol non-konvensional dari spons Calyx nicaensis

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


45

HO

19

18, calysterol

HO

20
HO

Kalisterol, komponen prinsipil sterol (90%) dari spons Calyx nicaensis,


menggambarkan lebih jauh penandaan variasi struktur dalam penambahan
atom karbon terhadap kerangka kolesterol normal pada atom C23 (gambar 7).
Struktur sterol ini dapat dituliskan, berdasarkan data spectra dan degradasi
kimia, oleh Fattorusso dan tim pekerja yang memperoleh turunana 1,3- diketon
melalui ozonolisis stanol. Keberadaan cincin siklopropana di rantai samping
C10 juga didukung oleh hidrogenasi terhadap turunan dihidro yang memiliki
spektrum nmr tiga proton, hasil tinggi, signal kompleks menyebar diantara 0,30,6 ppm yang ditandai pada hydrogen siklopropil. Hidrogenasi dibawah
kondisi drastic menghasilkan

-sitostanol, menegaskan struktur dan

stereokimia dari kalisterol.


Kelompok yang sama juga ditemukan sterol lebih jauh luar biasa (19)
dan (20), dari Calyx nicaensis. Keberadaan (19), contoh pertama dari sebuah
gugus asetilenik dalam steroid, yang secara langsung berkaitan dengan
jawaban terhadap masalah precursor biokimia kalisterol, dan juga sterol
gorgonian

memili

22,23-siklopropana.

Bagaimanapun,

eksperimen

menunjukan bahwa Calyx nicaensis tida dapat dimasukan 14C-metil metionin


kedalam kalisterol; eksperimen radiolabeling menggunakan lebel asetat dalam
spons Calyx nicaensis juga menghasilkan sterol non radioaktif.
Berdasarkan hasil ini, kita dapat mengusulkan bahwa, dalam spons,
kalisterol dapat diperoleh melalui modifikasi sterol makanan, dan bersamaan
dalam Calyx nicaensis pemberian makanan dari seri sterol C 29, seperti
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
46

fukosterol, stigmasterol, dan

-sitosterol. Tabel 5 menunjukkan data

penggabungan, yang mengindikasikan bahwa spons dapat dimetabolisis injeksi


[7-3H] fukosterol untuk menghasilkan kalisterol, yang berbentuk stigmasterol
dan

-sitosterol yang tidak dapat bertindak sebagai precursor dari sterol

uinik ini.
Dalam semua eksperimen yang menggunakan pelabelan precursor sterol,
masalah utama sering terjadi dalam pemisahan precursor dari metabolit.
Kalisterol dan konvensional sterol menggunakan sifat prekursor yang sama
dalam kromatografi dan menyebabkan masalah serius dalam pemisahan dan
purifikasi. Selama asetilasi kalisterol pada temperature tinggi, kita mengamati
bentuk titik lambanya perpindahan pada tlc, bersamaan dengan titik
koresponden asetat kalisterol. Saat menginginkan proses reaksi berlangsung
lima jam, pergerakan senyawa lambat pada tlc menghasilkan sedikit produk
reaksi yang ditunjukan oleh ms dan nmr menjadi sebuah campuran diasetat,
komponen utama yang dikenal sebagai (21) (gambar 8). Kita mendapat
manfaat dari pengamatan ini dan manyampaikan label campuran sterol, setelah
penambahan fukosterol pada refluks, dan farksi diasetat dipurifikasi melalui
pengulangan kromatografi dari induk diasetat dan turunan diol.
Gambar. 8. Asetilasi kalisterol
R=H, 24 nor R=H, 22-trans
R=H
R=H, 22-trans
R=Me
R=Et

R=Me,
R=Et,

22

-trans

24(28)
OAc

Ac2O, py
refluks
HO

calysterol

HO

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


47

21

Dalam pertimbangan asal sedikit sterol menggambarkan Calyz nicaensis,


asetilen (19) dan 24-ethyl-cholesta-5,22-diena-3 -ol (20) keduanya berasal
dari katabolit kalisterol.
Gambar 9. 19-nor-sterol dalam spons Axinella polipoida
R

R=H, 24 nor
R=H
R=Me
R=Et

HO

HO
H

Modifikasi inti sterol juga ditemukan dalam spons. Jumlah total sterol
dari Axinella polypoida merupakan campuran dari stanol mempunyai rumus a
19-norkolestanol inti menghasilkan senyawa tak jenuh konvesional dan monotak jenuh C7 (24-nor), C8, C9, dan C10 rantai samping (gambar 9). Secara
singkat ditulis A. polypoida juga mengandung stanol keduanya yaitu inti 19norkolestanol dan bagian alkilasi dari yang ditemukan dalam sterol berasal dari
karang lembut dan dalam 4 -metilsterol diisolasi dari dinoflagellata.
Keberadaan dalam A. polipoida bersamaan dengan 24-nor komponen,
menggambarkan kemampuan spons dalam menerima perbedaan substrat sterol
dan pelepasan gugus 19-metil. Kenyataanya, kita dapat menggambarkan
melalui eksperimen bahwa spons sangat efisien mengubah kolesterol menjadi
19-nor-stanol; dari keseluruhan radioaktifitas menggambarkan fraksi sterol
setelah 290 jam diinkubasi, 78% diperoleh dalam fraksi 19-nor-stanol dan
hanya 22% dalam precursor. Tabel 6 menggambarkan kumpulan data ketika A.
polipoida diberikan makanan dengan 26-14C-kolesterol.
Penelitian lebih jauh ditandai dengan diperolehnya informasi terhadap
konversi biologic dari kolesterol menjadi 19-nor-kolesterol memiliki bentuk
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
48

ditunjukan dengan adanya

-ikatan rangkap dalam inti sterol sebagai

prasyarat bagi pelepasan dari 19-metil grup. Kenyataannya, ketika spons diberi
makan dengan campuran [14C] kolesterol dan [7- -3H]-kolestanol, semua
label digabungkan menjadi 19-nor-stanol yang berkaitan dengan 14C (tabel 7).
Lebih jauh lagi, pelaksanaan eksperimen [1-14C] asetat dihasilkan dalam
sterol non-radioaktif. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa spons
tidak dapat disintesis secara de novo tetapi dimodifikasi melalui makanan yang
diperolehnya.
Modifikasi lebih jauh dari inti sterol telah ditemukan dari stenol dari
Axinella verucosa, yang digabung dari 3 -hidroksimetil-A-nor-5 kolestane dan biasa tak jenuh dan rantai samping

22

- tak jenuh C8, C7 dan

C10.
Gambar 10. 3 -Hidroksimetil-A-nor-sterane dalam spons Axinells Verrucosa

R=H

R=H,

R=Me

R=Me,
R=Et,

R=Et

22
22
22

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


49

BAB III
KESIMPULAN
1. Sterol adalah steroid tak jenuh dengan kerangka kolestana yang mengandung gugus
hidroksil-3b dan rantai sisi alifatik dengan minimal 8 atom karbon yang terikat atau
merupakan kelompok penting di dalam steroid.
2. Fungsi dari sterol adalah sebagai : persinyalan sel, vitamin larut dalam lemak
(A,D,E dan K), stabilitas membran dan pitosterol.Sterol juga penting karena juga
membentuk komponen yang diperlukan untuk mempertahankan fluiditas membran
sel, dan juga bertindak sebagai pembawa pesan kedua untuk komunikasi
intraseluler
3. Sterol invertebrata bervariasi memberi kesan komplesitas sterol tersebut, tapi kajian
mendalam dapat ditarik satu generalisasi bahwa ada pola sterol unik dalam
berbagai jenis hewan. Invertebrata laut memiliki biogenetik yang menarik yaitu
pada sisi rantai sterol C26 dan C30, serta sterol rantai C27 dan C29 disertai pola
alkilasi, dan lebih utama, modifikasi inti tetrasiklik dengan sterol.
4. Ganggang merupakan sumber utama sterol lingkungan laut,Rhodophyta kandungan
utama kolesterol (1a), ada yang mengandung demosterol (2b) sebagai sterol utama.
Macam-macam sterol ganggang dan jamur adalah :
a. Klionasterol, poriferasterol & aplisterol (Verongia spp., Aximelia
verucosa).
b. Gorgosterol : Pseudoplexaura porosa.
c. Kolesterol : Marphysa mossambica
& Terebella ehrenbergi (Annelida).
d. Kolesterol, Dihidrobrassikasterol : Tridacna crocea, T. roae, T. squamosa
(Moluska).
e. Kolesterol, Desmosterol (Rhodymenia palmata). : Crustacea (Arthropoda).
f. Asterosterol, akantasterol, gorgostanol : Acanthaster planci, Echinaster
sepositus.
g. Kolestanol : Styela plicata (Urochordata).
5. Banyak biota laut yang mengandung sterol, misal : mega-sterol, shakosterol,
meritristerol, dan pteropoda-sterol.
a. Porifera : Bunga karang juga mengandung sterol yang mempunyai punya rantai
samping dengan pola alkilasiunik seperti aplisterol (25b) dalam Verongia spp.
b. Cniderae : Ptilosarcus gueneyi (jenis pena laut) sterol unik; ester metil asam
(20S)-3-hidroksikol-5,22-dien-24-0at (37b).
Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
50

c. Namertea dan Annelida : Sterol polichaeta Pseudopotamilla occelatakandung


senyawa 22-sis, yaitu kolesta-5,22Z-dien-3-ol (4b) yang selanjutnya diketahui
juga sterol rantai sampang 22-trans struktur 27-nor-(25S)-24-metilkolesta-522E-dien-3-ol (24b, okselasterol).
d. Molusca : Gastropoda dan Pelecypoda: banyak ste-rol unik C28, C295dan 5,22
kadar 40-50% campuran, kolesterol cukup tinggi.
e. Arthropoda : CrustaceaSterol C26, C28 dan C29 jumlah sangat sedikit, sterol
khas lain dalam fila ini adalah 24-metil dan 24-etil-5.
f. Echinodermata :astero-sterol (22c), 24-norkolest-5-ena-3-ol (23b), 24norkolest-5-22-ena-3-ol (22a), amurasterol (24c), 24-metilkolesta-7,22,25trien-3-ol, akantasterol (11c) dan gorgosterol (11a)
g. Urochordata : Kandungan kolesterol (1b) dalam campuran berkisar 65% dalam
Styela plicata kira-kira 10% kolestanol (1a), juga ada variasi komposisi sterol
dari lokasi yang berbeda.
6. Nama sterol pada hewan invertebrata :
a. Megasterol
b. Shakosterol
c. Meritristerol
d. Pteropodasterol
Invertebrata yang mengandung sterol :
a. Bunga karang Polifer

: Aplisterol.

b. Cniderae

: Gorgosterol

c. Nemertea & Annelida

: Kolesterol

d. Moluska

: Dihidrobrassicakolesterol

e. Arthropoda

: Desmosterol

f. Echinodermata

: Asterosterol

g. Urochordata

: Kolestanol

7. Sterol non-konvensional dari sumber laut


a. Sterol C26 yang diisolasi pertama kali dari sterol dengan sebuah rantai
samping atom C-7 yang belum terjadi sebelumnya, 22-trans-24-norcholestra-5,
22-dien-3-ol (1) atau jika anda lebih suka, 22-trans-26,27-bisnorergosta-5, 22dien-3-ol, yang diisolasi melalui reaksi idler.
b. Sterol tipe 27-norergostane, yang telah diisolasi saat ini yaitu 27-norergosta-7,
22-dien-3-ol, (5), dinamakan amuresterol, isomernya 27-norergosta-5, 22Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015
51

dien-3-ol (6), dinamakan okelasterol, dan 27-norergosta-22-dien-3-ol (7),


dinamakan patinosterol.

DAFTAR PUSTAKA

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


52

Aunurohim, Keanekaragaman Nudibranchia Di Perairan Pasir Putih Situbondo, Jurusan


Biologi FMIPA ITS.
Burhanuddin Taebe, Steroid Dari Invertebrata,
D.S. Bhakuni, Bioactive Marine Natural Products, Central Drug Research Institute
Lucknow, India,
Devi Ulinuha, Avertebrata Air,
Faulker, D. J., dan Fenical, W. H., 1977, Marine Natural Products Chemistry, Plenium
Press, New York and London.
Kurniawati,

Fera.

2015.

Tugas

Rangkuman

Produk

Alami.

(Http://dokumen.tips/documents/tugas-rangkuman-produk-alami55b07a5206f58.html)
Sumi Hudiyono PWS,2004. Pengaruh berbagai kondisi oksidasi terhadap kandungan
kolesterol dan sterol lain dalam lemak coklat, makara, sains, vol. 8, no. 2, agustus
2004: 70-75, Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Indonesia, Depok 16424,
Indonesia.
Suparno,2005. Kajian bioaktif spons laut (forifera: demospongiae) suatu peluang
alternatif pemanfaatan ekosistem karang indonesia dalam dibidang farmasi,
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor,

Makalah Sterol dari Invertebrata Lautan, P2K, 2015


53