Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN BREAKWATER

TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI

Tugas Dinamika Oseanografi dan Remote Sensing


Dosen : Dr. Denny Nugroho Sugianto, ST, MT

Program Studi Magister Ilmu Kelautan

Disusun Oleh
AHMAD FADLAN
26020114420018

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah pesisir yang kaya dan
beragam akan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan. Negara kepulauan yang memiliki
garis pantai sepanjang 81.000 km termasuk negara kedua yang memiliki garis pantai
terpanjang setelah Kanada. Luas wilayah laut negeri kita, termasuk didalamnya zona
ekonomi ekslusif, mencakup 5,8 juta kilometer persegi, atau sekitar tiga perempat dari luas
keseluruhan wilayah Indonesia (Dahuri 2002 dalam Darmadi 2010 ).
Wilayah pesisir adalah wilayah interaksi antara laut dan daratan yang merupakan 15 %
daratan bumi. Wilayah ini sangat potensial sebagai modal dasar pembangunan Indonesia
sebagai tempat perdagangan dan transportasi, perikanan, budidaya perairan, pertambangan
serta pariwisata. Wilayah pesisir Indonesia sangat potensial pula untuk dikembangkan bagi
tercapainya kesejahteraan umum apabila pengelolaannya dilakukan secara terpadu dan
berkelanjutan, dengan memperhatikan faktor-faktor yang berdampak terhadap lingkungan
pesisir. Salah satu faktor yang paling mempengaruhi kondisi pesisir adalah aktivitas manusia.
Aktivitas manusia yang berpengaruh terhadap kondisi pantai antara lain adalah
pembangunan, reklamasi dan pengerukan dasar perairan untuk tujuan komersial yang
berlebihan. Berkembangnya wisata bahari dibeberapa daerah pantai juga mendorong
terjadinya perubahan kondisi alam menjadi lingkungan buatan dengan dibangunnya beberapa
fasilitas penunjang yang diperlukan.
Saat ini beberapa kawasan pantai di Indonesia telah mengalami kerusakan. Pengamatan
di beberapa stasiun penelitian di Jawa menunjukan adanya kenaikan muka air laut dan
mengakibatkan berkurangnya kawasan pantai. Gelombang laut yang datang ke pantai dengan
energi yang cukup besar serta erosi dapat menambah kerusakan kawasan pantai. Tingkat
kerusakan akan relatif rendah apabila perlindungan alami pantai tetap terjaga. Banyaknya
kawasan pantai yang dihuni maka apabila terjadi kerusakan akan memberikan kerugian yang
cukup besar. Usaha mengatasi kerusakan fisik dalam skala bangunan maupun lingkungan
sudah banyak dilakukan (Wahyudin, 2009), salah satunya dengan membuat bangunan
pengaman pantai untuk melindungi pantai dan mengontrol erosi pantai (Tawas, 2011).

Bangunan pantai yang dibangun untuk perlindungan pantai secara buatan terdapat
beberapa jenis bangunan antara lain, jety, reklamasi, seawall groin dan breakwater. Pada
jenis dari breakwater sendiri ada yang jenis lepas pantai dan ada yang jenis pinggir pantai,
untuk jenis breakwater lepas pantai atau disebut nearshore breakwater dan pinggir pantai
atau offshore breakwater yang merupakan breakwater yang bisa menangkap sedimen
tersuspensi ataupun sedimen dari long shore curent yang bisa berdampak pada perubahan
garis pantai.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kondisi beberapa pesisir di pulau
Jawa khususnya yang telah dibangun breakwater. Adapun dalam menganalisa kondisi pantai
dilakukan dengan cara memperhatikan gambar dari citra satellit terhadap kawasan pesisir
tersebut.

1.3 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada makalah ini adalah bagaimana perubahan yang terjadi pada
bentuk garis pantai setelah adanya pembangungan breakwater

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sedimentasi
Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut
oleh tenaga air atau angin. Pada saat pengikisan terjadi, air membawa batuan mengalir
ke sungai, danau, dan akhirnya sampai di laut. Pada saat kekuatan pengangkutannya
berkurang atau habis, batuan diendapkan di daerah aliran air. Karena itu
pengendapan ini bisa terjadi di sungai, danau, dan di laut. Batuan hasil pelapukan secara
berangsur diangkut ke tempat lain oleh tenaga air, angin, dan gletser(es yang mengalir
secara lambat). Air mengalir di permukaan tanah atau sungai membawa batuan
halus baik terapung, melayang atau digeser di dasar sungai menuju tempat yang
lebih rendah. Hembusan angin juga bisa mengangkat debu, pasir, bahkan bahan material
yang lebih besar. Makin kuat hembusan itu, makin besar pula daya angkutnya. Di padang
pasir misalnya, timbunan pasir yang luas dapat dihembuskan angina dan berpindah ke
tempat lain. Sedangkangletser, walaupun lambat gerakannya, tetapi

memiliki daya

angkut besar (Anwas, 1994 dalam Khatib, 2013).

Jenis Sedimen
Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dapat berasal dari beberapa sumber yang menurut
Reinick (Darmadi, 2010 dalam Khatib 2013 ) dibedakan menjadi empat yaitu:
1. Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil
erosi daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut melalui proses mekanik,
yaitu tertransport oleh arus sungai dan atau arus laut dan akan terendapkan jika energi
tertransforkan telah melemah.
2. Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang
hidup seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang
mengalami dekomposisi.
3. Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di
dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan

tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalahmagnetit,
phosphoritdanglaukonit.
4. Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk
ke laut melalui jalur media udara atau angin. Sedimen jenis ini dapat bersumber dari
luar angkasa, aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa
angin.Material yang berasal dari luar angkasa merupakan sisa-sisa meteorik yang
meledak di atmosfir dan jatuh di laut. Sedimen yang berasal dari letusan gunung
berapi dapat berukuran halus berupa debu vulkanik, atau berupa fragmenfragmenaglomerat.

Sifat-Sifat Sedimen
Sifat-sifat sedimen pantai dapat mempengaruhi laju transpor sedimen di sepanjang pantai.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju sedimen antara lain :
1. Karakteristik material sedimen (distribusi dan gradasi butir, kohesifitas faktor
bentuk, ukuran, rapat massa, dan sebagainya)
2. Karakteristik
pembangkitan

gelombang
gelombang,

dan

arus

(arah

dan

kecepatan

angin,

posisi

pasang surut, dan kondisi topografi pantai yang

bersangkutan).
Sifat sedimen yang sangat penting adalah distribusi ukuran butir, setelah itu kecepatan
endap sedimen dan lain-lain.
Transpor sedimen pantai adalah gerakan sedimen di daerah pantai yang
disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya. Transpor sedimen
dibedakan menjadi dua macam yaitu: transpor menuju dan meninggalkan pantai
(onshore-offshoretransport) yang mempunyai arah rata-rata tegak lurus garis pantai,
sedangkan transpor sepanjang pantai (longshore transport)mempunyai arah rata-rata
sejajar pantai. Di daerah lepas pantai biasanya hanya terjadi transpor menuju dan
meninggalkan pantai, sedangkan di daerah dekat pantai terjadi kedua jenis transpor
sedimen (Triatmodjo,1996 dalam Khatib, dkk., 2013)

2.2 Proses Pada Pantai


Pantai merupakan kenampakan alam dimana terjadi interaksi keseimbangan dinamis
antara air, angin dan material (sedimen). Angin dan air bergerak membawa material
(sedimen) dari satu tempat ke tempat yang lain, mengikis dan kemudian
mengendapkannya lagi di daerah lain secara berkesinambungan. Fenomena transport
sedimen tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk morfologi pantai. Pantai
mempunyai pertahanan alami dari serangan arus dan gelombang dimana bentuknya akan
terus-menerus menyesuaikan sehingga dapat meminimalkan energi gelombang yang
menerpanya. Sistem pertahanan alami ini dapat berupa karang penghalang, atol, sand
dune, longshore bar, kemiringan dasar pantai dan vegetasi yang hidup di pantai.
Ada dua tipe tanggapan dinamis pantai terhadap gerak gelombang, yaitu tanggapan
terhadap kondisi gelombang normal dan tanggapan terhadap kondisi gelombang badai.
Pada saat badai terjadi, pertahanan alami pantai tidak mampu menahan serangan energi
gelombang yang besar, sehingga pantai dapat tererosi. Setelah gelombang besar reda,
berangsur-angsur pantai akan kembali ke bentuk semula oleh pengaruh gelombang
normal. Tetapi ada kalanya pantai yang tererosi tersebut tidak dapat kembali ke bentuk
semula karena material pembentuk pantai terbawa arus dan tidak dapat kembali ke
lokasi semula. Proses dinamis pantai sangat dipengaruhi oleh littoral transport, yang di
definisikan sebagai gerak sedimen di daerah dekat pantai (nearshore zone) oleh
gelombang dan arus.

2.3 Pengertian Breakwater


Pemecah gelombang atau dikenal sebagai juga sebagai pemecah ombak atau
breakwater dimana sebagai prasarana yang dibangun untuk memecah ombak/gelombang
laut.dengan menyerap sebagai energi gelombang dengan menyerap sebagain energi
gelombang. Pemecah gelombang digunakan untuk mengendalikan abrasi yang mengurus
garis pantai dan untuk menenangkan gelombang di pelabuhan sehingga kapal dapat
merapat dipelabuhan dengan lebih mudah dan cepat.
Pemecah gelombang harus didesain sedemikian sehingga arus laut tidak
menyebabkan pendangkalan karena pasir yang ikut dalam arus mengendap di kolam
pelabuhan.

Breakwater atau pemecah gelombang lepas pantai dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu pemecah gelombang yang menyambung dengan pantai dan lepas pantai.
Tipe yang menyambung dengan pantai banyak digunakan pada perlindungan perairan
pelabuhan, sedangkan tipe lepas pantai untuk perlindungan pantai terhadap erosi. Secara
umum kondisi perencanaan kedua tipe adalah sama, hanya pada tipe pertama perlu
ditinjau karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah gelombang,
sperti halnya pada perencaan groin dan jetty.

GROIN
Groin adalah banguna pelindung pantai yang biasanya dibuat tegak lurus garis pantai
dan berfungsi untuk menahan transpor sedimen sepanjang pantai sehingga bisa
mengurangi/menghentikan erosi yang terjadi. Bangunan ini juga bisa digunakan untk
menahan masuknya transport sedimen sepanjang pantai ke pelabuhan atau muara sungai.
Groin yang ditempatkan di pantai akan menahan gerak sedimen tersebut sehingga
sedimen mengendap di sisi sebelah hulu ( terhadap arah transport sedimen sepanjang
pantai ). Di sebelah hilir groin angkutan sedimen masih tetap terjadi sementara suplai
dari sebelah hulu terhalang oleh bangunan, akibatnya daerah di hilir groin mengalami
deficit sedimen sehingga pantai mengalami erosi. perlindungan pantai dengan
menggunakan satu buah groin tidak efektif. Biasanya perlindungan pantai dilakukan
dengan membuat suatu seri bangunan yang terdiri dari beberapa groin yang ditempatkan
dengan jarak tertentu (Triadmodjo, 1999 dalam Parmantoro, 2013).

Gambar 1. Groin tunggal dan perubahan garis pantai yang ditimbulkan


(sumber: Tawas, 2011)

Groin dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu tipe lurus, tipe T dan tipe L.
Menurut kontruksinya groin dapat berupa tumpukan batu, caisson beton, turap, tiang
yang dipancang berjajar, atau tumpukan buis beton yang didalamnya diisi beton

(a)

(b)

Gambar 2. Groin bentuk L (a) dan bentuk T (b) (sumber: Darmadi, 2010)

Di dalam perencanaan groin masih dimungkinkan terjadinya suplai pasir melintasi


groin ke daerah hilir. Pasir dapat melintasi groin dengan melewati sisi atasnya
(overpassing) atau melewati ujungnya (endpassing).

JETTY
Merupakan bangunan yang tegak lurus dengan pantai yang ditempatkan pada kedua
sisi muara sungai yang mempunyai berfungsi mengurangi pendangkalan alur oleh
sedimen pantai dan melindungi alur pelayaran. Selain melindungi alur pelayaran, dapat
juga digunakan untuk mencegah pendangkalan dimuara dalam kaitannya dengan
pengendalian banjir
Selain untuk melindungi alur pelayaran, jetty juga dapat digunakan untuk mencegah
pendangkalan di muara dalam kaitannya dengan pengendalian banjir. Mengingan
fungsinya hanya untuk penanggulangan banjir, maka dapat digunakan dalah satu dari
bangunan beikut, yaitu jetty panjang, jetty sedang atau jetty pendek. Jetty panjang apabila
ujungnya berada diluar gelombang pecah. Jetty sedang dimana ujungnya berada diantara
muka air surut dan lokasi gelombang pecah, dapat menahan sebagai transpor sedimen
sepanjang pantai. Pada jetty pendek, kaki ujung bangunan berada pada muka air surut.
Fungsi utama bangunan ini adalah menahan berbeloknya muara sungai dan

mengkonsentrasikan aliran pada alur yang telah ditetapkan untuk bisa mengerosi endapan
sehingga pada awal musim penghujan dimana debit besar (banjir) belum terjadi,muara
sungai telah terbuka.

Gambar 3. Tipe Jetty yang ada pada muara sungai (sumber : Ardiyanto, 2013)

BAB III
METODOLOGI

Dalam makalah ini, dilakukan penelitian terhadap beberapa kawasan pesisir di pulau
Jawa khususnya kawasan pesisir yang telah memiliki pemecah gelombang tipe Groin dan
Jetty untuk melihat perubahan garis pantai yang terjadi seperti di kawasan pesisir Indramayu
dan kawasan pesisir Tegal.

Gambar 3.1 Lokasi Pemantauan (sumber : Google Earth)

Adapun dalam melakukan analisa, dilakukan pemantauan melalui gambar dari hasil
pengindraan citra satelit menggunakan software Google Earth sehingga dapat menemukan
daerah mana saja yang terkena dampak akresi (sedimentasi) dan derah mana yang terkena
erosi akibat pengaruh pembangunan pemecah gelombang

BAB IV
PEMBAHASAN

Saat ini beberapa kawasan pantai di Indonesia telah mengalami kerusakan. Pengamatan
di beberapa stasiun penelitian di Jawa menunjukan adanya kenaikan muka air laut dan
mengakibatkan berkurangnya kawasan pantai. Gelombang laut yang datang ke pantai dengan
energi yang cukup besar serta erosi dapat menambah kerusakan kawasan pantai. Tingkat
kerusakan akan relatif rendah apabila perlindungan alami pantai tetap terjaga. Banyaknya
kawasan pantai yang dihuni maka apabila terjadi kerusakan akan memberikan kerugian yang
cukup besar. Usaha mengatasi kerusakan fisik dalam skala bangunan maupun lingkungan
sudah banyak dilakukan.
Untuk melindungi daerah pantai dari serangan gelombang, suatu pantai memerlukan
bangunan peredam gelombang. Peredam gelombang adalah suatu bangunan yang bertujuan
untuk mereduksi atau menghancurkan energi gelombang.

KASUS DI INDRAMAYU
Di pantai balongan indramayu telah terjadi proses abrasi yang sangat signifikan proses
majunya garis pantai (abrasi) semakin tahun di pantai balongan indramayu ini semakin maju,
garis bibir pantai semakin berkurang akibat dari abrasi tersebut. Pada awalnya pemerintah
indramayu untuk mengatasi abrasi pantai ini hanya menggunakan karung berisi pasir untuk
menahan ombak lalu hal ini gagal terus di buatlah batu batu pengahalang ombak yang
berbebtuk tripod yang dipasang menjorok ke laut, hal demikian pula gagal karena jumlah
batu pemecah ombak itu hanya sedikit dan tidak sebanding dengan luas wilayah pantai
balongan indramayu dan kini batu itu habis tergerus oleh ombak atau geloimbang pantai
Mulai tahun 2007 telah direncanakan untuk pembuatan Breakwater, pada awalnya
pembuatan Breakwater itu rampung pada akhir tahun 2008 yang berbentuk melengkung, lalu
pada tahun 2009 dibuat lagi breakwater berbentuk melengkung dan berbentuk T di
sepanjang bibir pantai balongan indramayu untuk mengatasi hal abrasi ini.
Proses terjadinya sedimentasi pada breakwater ini bermula dari arah arus gelombang
yang ditahan lalu terpecahkan oleh breakwater ini, kemudian arah arus dibelokan kedalam

sisi breakwater sehingga sedimentasi yang terjadi terkumpul pada sisi bagian breakwater itu
sendiri dan akibatnya terjadi pendangkalan di bagian sisi tersebut. Arus membawa berbagai
macam partikel partikel yang menyebabkan sedimentasi itu terjadi (Gambar 2).
Adapun kondisi pesisir Indramayu sebelum dan sesudah pemasangan bangunan pemecah
gelombang tipe groin adalah sebagai berikut,

SEDIMENTASI

EROSI
A
B

Gambar 4. Kondisi pesisir Indramayu sebelum pemasangan Groin

SEDIMENTASI
EROSI

Gambar 5. Kondisi pesisir Indramayu sesudah pemasangan Groin

Pengaruh pemecah gelombang lepas pantai terhadap perubahan bentuk garis pantai dapat
dijelaskan sebagai berikut. Apabila garis puncak gelombang pecah sejajar dengan garis

pantai asli, terjadi difraksi di daerah terlindung di belakang bangunan, di mana garis puncak
gelombang membelok dan berbentuk busur lingkaran. Perambatan gelombang yang
terdifraksi tersebut disertai dengan angkutan sedimen menuju ke daerah terlindung dan
diendapkan di perairan di belakang bangunan. Pengendapan sedimen tersebut menyebabkan
terbentuknya cuspate dibelakang bangunan.
Dari gambar 4 dan 5 dapat kita ketahui bahwa arah gelombang dominan berasar dari arah
timur laut dimana wilayah yang terkena penumpukan sedimentasi adalah wilayah sebelah
timur bangunan pantai Jetty/Groin (A). Sedangkan wilayah disebelah baratnya mengalami
erosi dengan garis pantai yang lebih menjorok ke daratan (B). Kondisi ini terjadi karenakan
adanya arus sejajar garis pantai (long shore current) dari arah timur menuju barat, sehingga
sedimen yang terbawa oleh arus tersebut akan mengumpul di depan penghalang namun akan
mengikis pantai dibelakangnya.

KASUS PESISIR TEGAL


Di kota Tegal, saat ini telah banyak dibangun bangunan pemecah geombang tipe
sambung pantai (Jetty/Groin) dimana digunakan sebagai pencegah abrasi akibat traspor
sedimen. Namun pembangun pemecah gelombang yang cukup banyak membuat adanya
perubahan pada kondisi garis pantai yang salah satunya terjadi di Pantai Alam Indah Tegal
(PAI). Di wilayah pantai ini terdapat pemecah geombang tipe jetty yang dibangun pada
muara sungai yang ada di pantai ini. Adapun kondisi muara sungai tersebut sebelum adanya
pembangunan jetty dan sesudah adanya pembangunan dapat digambarkan sebagai berikut.

SEDIMENTASI
Arah Gelombang

EROSI
(a)

(b)

Gambar 6. Sebelum dibangun (a) dan sesudah dibangun jetty (b)

Seperti halnya kondisi pesisir Indramayu, PAI Tegal juga mengalami perubahan garis
pantai akibat adanya bangunan jetty yang dibangun di muara sungai (gambar 6b). Pada
gambar tersebut terlihat jelas perbedaan garis pantai sebelum dan sesudah dibangun jetty
dimana sebelum dibangunnya jetty dimuara sungai, garis pantai alam indah tegal umumnya
sejajar. Namun setelah dibangun, terlihat pada sebelah timur jetty terdapat sedimen yang
terperangkap dan mengendap sehingga terlihat pantai sebelah timur jetty lebih luas
dibandingkan sebelah barat yang terkikis oleh erosi pantai.
Jika dilihat dari penyebabnya, maka kondisi pantai di Indramayu dan di Tegal memiliki
penyebab yang sama yakni adanya transport sedimen dari arah timur oleh arus sejajar pantai
akibat arah gelombang yang berasal dari timur laut. Adapun kondisi tersebut dapat di
ilustrasikan sebagai berikut,

Gambar 7. Erosi dan Akresi di sekitar Groin (sumber : Koleksi Perpus ITB)
Apabila gelombang datang membentuk sudut dengan garis pantai maka laju transport
sedimen sepanjang pantai akan berkurang, yang menyebabkan pengendapan sedimen dan
terbentuknya cuspate. Pengendapan berlanjut sehingga pembentukan cuspate terus
berkembang hingga akhirnya terbentuk tombolo. Tombolo yang terbentuk akan
merintangi/menangkap transport sedimen sepanjang pantai. Sehingga suplai sedimen
kedaerah hilir terhenti yang dapat berakibat terjadinya erosi pantai di hilir bangunan.
Gelombang yang menjalar mengenai suatu bangunan peredam gelombang sebagian
energinya akan dipantulkan (refleksi), sebagian diteruskan (transmisi) dan sebagian
dihancurkan (dissipasi) melalui pecahnya gelombang, kekentalan fluida, gesekan dasar dan
lain-lainnya. Pembagian besamya energi gelombang yang dipantulkan, dihancurkan dan
diteruskan tergantung karakteristik gelombang datang (periode, tinggi, kedalaman air), tipe
bangunan peredam gelombang (permukaan halus dan kasar)

BAB V
KESIMPULAN

Bangunan pemecah ombak (breakwater) pada umumnya berfungsi untuk meredam


ombak yang dapat mengakibatkan dampak abrasi pada pantai, namun disisi lain bangunan
tersebut juga dapat merubah bentuk dan garis pantai yang sebelumnya sejajar menjadi tidak
sama. Akibat adanya transport sedimen yang dibawah oleh arus sejajar pantai membuat
daerah hilir bangunan yang terkena langsung arus tersebut menangkap dan mengendapkan
sedimen sehingga membuat daerah tersebut akresi, namun daerah bagian hilir berikutnya
mengalami erosi akibat pemberian energi transport yang sempat melemah karena terhalang
oleh bangunan tersebut.

REFRENSI

Ardianto, P. 2013. Rekayasa Pantai. Fakultas Teknik. Universitas Brawijaya.


Darmadi. 2010. Analisis Proses Sedimentasi Yang Terjadi Akibat adanya Breakwater di Pantai
Balongan Indramayu. [Online] [Diakses 23 Juni 2015]
https://dhamadharma.wordpress.com/2010/04/19/analisis-proses-sedimentasi-yang-terjadiakibat-adanya-breakwater-di-pantai-balongan-indramayu/
Khatib, A., Adrianti, Y., Wahyudi, A. E. 2013. Analisis Sediment Dan Alternatif Penanganannya
di Pelabuhan Selat Baru Bengkalis. KoNTekS 7. UNS.
Purnomo, R. 2005. Kajian Penanggulangan Erosi Pantai Wisata di Tegal. Tesis, ITB.
Parmatoro, P., N. 2013. Kajian Pemodelan Arus Sedimen di Sekitar Jetty Muara Sungai. Teknik,
Vol. 34, No. 3, ISSN 0852-1697
Rahmadhani, S., D. 2013. Studi Kinerja Bangunan Groin Tanjung Bunga. Jurnal Tugas Akhir,
Fakultas Teknik, UNHAS.
Tawas, H., J. 2011. Metode Pelaksanaan Pembangunan Pengamanan Pantai Girian Bawah Kota
Bitung Sulawesi Utara Indonesia. Jurnal Ilmiah Media Engenering Vol.1, No. 1
Wahyudin, B. 2009. Kerusakan Pantai Dan Upaya Mengatasinya Dengan Menggunakan Break
Water Metode Kubus. Breakwater [Online]. [Diakses 23 Juni 2015]
https://disfaslanal.wordpress.com/2009/05/12/3/