P. 1
Laporan Tongkol

Laporan Tongkol

|Views: 1,609|Likes:
Dipublikasikan oleh Muh. Fadillan Amir
Dinamika Populasi dan Evaluasi Stok
Dinamika Populasi dan Evaluasi Stok

More info:

Published by: Muh. Fadillan Amir on Jun 01, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Schaefer dan

Guland-Fox. Adapun langkah analisis data ialah sebagai berikut :

1. Standarisasi Effort

Unit effort sejumlah armada penangkapan ikan dengan alat tangkap dan

waktu tertentu dikonversi ke dalam satuan “boat-days” (trip). Pertimbangan yang

digunakan adalah :

a. respon stock terhadap alat tangkap standar akan menentukan status

sumberdaya selanjutnya berdampak pada status perikanan alat

tangkap lain,

25

b. total hasil tangkap ikan per unit effort alat tangkap standar lebih

dominan dibanding alat tangkap lain, dan

c. daerah penangkapan alat tangkap standar meliputi dan atau

berhubungan dengan daerah penangkapan alat tangkap lain.

Prosedur standarisasi alat tangkap ke dalam satuan baku unit alat

tangkap standar, dapat dilakukan sebagai berikut :

(1) Alat tangkap standar yang digunakan mempunyai CPUE terbesar dan

memiliki nilai faktor daya tangkap (fishing power index, FPI) sama dengan 1. Nilai

FPI dapat diperoleh melalui persamaan (Gulland, 1983):

dimana :

CPUEr

= total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat

tangkap r yang akan distandarisasi (ton/trip).

CPUEs = total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat

tangkap s yang dijadikan standar (ton/trip).

FPIi

= fishing power index dari alat tangkap i (yang distandarisasi dan alat

tangkap standar)

(2) Nilai FPIi digunakan untuk menghitung total upaya standar, yakni :

dimana :

E

= total effort atau jumlah upaya tangkap dari alat tangkap yang

distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)

26

Ei = effort dari alat tangkap yang distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)

2. Maximum Sustainable Yield

Estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap didasarkan atas jumlah

hasil tangkapan ikan yang didaratkan pada suatu wilayah dan variasi alat

tangkap per trip. Prosedur estimasi dilakukan dengan cara (Sparre dan Venema,

1999) :

a. Menghitung hasil tangkapan per upaya tangkap (CPUE), melalui

persamaan :

dimana :

CPUEn

= total hasil tangkapan per upaya penangkapan yang telah

distandarisasi dalam tahun n (ton/trip)

Catchn = total hasil tangkapan dari seluruh alat dalam tahun n (ton)

En

= total effort atau jumlah upaya tangkap dari alat tangkap yang

distandarisasi dengan alat tangkap standar dalam tahun n (trip).

b. Melakukan estimasi parameter alat tangkap standar dengan

menggunakan model Schaefer berikut :

CPUEn = α – βEn atau Catchn = α En – βEn

2

dimana :

CPUEn

= total hasil tangkapan per upaya setelah distandarisasi pada tahun n

(ton/trip)

En

= total effort standar pada tahun n (trip/tahun)

α dan β

= konstanta dan koefisien parameter dari model Schaefer

Persamaan di atas dihitung dengan menggunakan metode regresi linear

sederhana (Ordinary Least Square, OLS).

27

c. Melakukan estimasi effort optimum pada kondisi keseimbangan

(equilibrium state), digunakan persamaan :

Fopt = - ½ (α / β)

d. Melakukan estimasi Maximum Sustainable Yield (MSY) sebagai

indikator potensi sumberdaya perikanan tangkap yang berkelanjutan

(lestari) melalui persamaan :

MSY = - ¼ (α2

/ β)

Nilai effort optimum dan MSY yang diperoleh melalui persamaan (3) dan

(4) selanjutnya dimasukkan sebagai kendala tujuan dalam model ekonomi

sumberdaya perikanan tangkap (model dasar LGP). Dengan demikian, secara

biologi pengelolaan perikanan menunjukkan optimalisasi pemanfaatan

sumberdaya perikanan tangkap yang berkelanjutan.

28

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data produksi hasil tangkapan perairan Teluk Bone yang

diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Sulawesi Selatan, maka

Penangkapan ikan tongkol di perairan Teluk Bone yang meliputi tujuh kabupaten

(terlampir) dilakukan dengan menggunakan alat tangkap, antara lain;

Payang/Lampara, Pukat cincin (Purse seine), Jaring Insang Hanyut (Drift gill net),

Jaring lingkar (Enclircling gill net), Jaring klitik (Shrimp gill net), Jaring Insang

Tetap (Set gill net), Bagan Perahu (Boat lift net), Bagan Tancap (Bagan), Jaring

Angkat Lain (Other lift net), R.Hanyut lain S.R.T (Drift long lines), Rawai Tetap

(Set long line), Pancing yang Lain (Other pole and line), Pancing tonda (Troll

line), Huhate (Skipjack pole and line) dan alat tangkap lain-lain (others).

Semua alat tangkap di atas merupakan alat tangkap yang beroperasi di

perairan Teluk Bone yang memperoleh hasil tangkapan berupa ikan Tongkol.

Terdapat beberapa jenis alat tangkap yang memperoleh jumlah tangkapan ikan

Tongkol terbesar, dimana dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Pada tahun

1999 – 2002 alat tangkap Huhate (Skipjack pole and line) memperoleh hasil

tangkapan ikan tongkol terbesar, tahun 2003 – 2006 alat tangkap pukat cincin

(Purse seine) memperoleh hasil tangkapan terbesar untuk ikan tongkol dan pada

tahun 2007 alat tangkap pancing tonda (Troll line) memperoleh hasil tangkapan

terbesar untuk ikan tongkol. Data tersebut kemudian di standari berdasarkan

jenis alat tangkap yang banyak menangkap (CPUE) ikan tongkol pada tahun

tersebut (terlampir).

Berdasarkan data yang diperoleh, maka hasil tangkapan ikan tongkol di

perairan Teluk Bone dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

29

Tabel 1. Produksi Ikan Tongkol Perairan Teluk Bone tahun 1999-2007

No.

TAHUN

Catch(ton)

1.

1999

6,100.00

2.

2000

6,104.50

3.

2001

9,745.30

4.

2002

14,521.30

5.

2003

9,993.40

6.

2004

10,468.50

7.

2005

10,499.30

8.

2006

10,728.20

9.

2007

15,725.90

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil tangkapan ikan tongkol

terbesar ialah terjadi pada tahun 2007 sebesar 15.725,90 ton, sedang hasil

tangkapan terkecil terjadi pada tahun 1999 sebesar 6.100,00 ton. Hal ini

disebabkan karena alat tangkap yang menjadi standar penangkapan ikan tongkol

pada tahun 2007 memiliki jumlah trip lebih banyak dibanding alat tangkap yang

menjadi standar penangkapan pada tahun 1999. Pada tahun 2007 jumlah trip

alat tangkap ialah sebesar 27.326 trip sedang pada tahun 1999 ialah sebesar

17.233 trip.

Untuk melihat besarnya potensi ikan tongkol yang terdapat pada perairan

teluk Bone, maka kita dapat menghitungnya menggunakan model Schaefer dan

Guland-Fox. Dari hasil perhitungan berdasarkan model tersebut diperoleh nilai

MSY dan Fopt seperti pada tabel di bawah ini.

30

Tabel 2. Potensi Lestari Maksimum dan Effort Optimum Ikan Tongkol di perairan

Teluk Bone Tahun 1999 - 2007 berdasarkan metode Schaefer dan

Guland-Fox.

No

Nilai

Scheafer

Fox

Satuan

1 A

0.1436

-1.9424

2 B

-3E-07

-4E-06

3 MSY

17,346.00

13,080.36

Ton

4 FOpt

241,519.50

248,018.84

Trip

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai MSY antara dua model

tersebut cukup berbeda, dimana nilai MSY pada model Schaefer lebih besar bila

dibandingkan dengan nilai MSY pada model Guland-Fox. Nilai MSY tersebut

merupakan nilai tangkapan lestari yang menunjukan besarnya tangkapan dan

jumlah trip yang diperbolehkan agar tidak terjadi overfishing.

Menurut Irnawati S (2004) ketentuan jumlah tangkapan yang

diperbolehkan (JTB) atau 80 % dari MSY, maka jumlah tangkapan ikan tongkol

yang diperbolehkan pada perairan teluk Bone ialah sebesar (17.346,00 x 80 % =

13.876,80) nilai ini sesuai dengan hasil yang diperoleh dengan model Guland-

Fox. Dari hasil yang diperoleh tersebut dan dihubungkan deng jumlah tangkapan

tiap tahun, maka dapat diketahui pada tahun 2002 dan 2007 telah mengalami

overfishsing ikan tongkol.

Adanya indikasi gejala overfishing ini bisa dibuktikan langsung dengan

terjadinya penurunan hasil tangkapan ikan tongkol di perairan teluk Bone yang

dapat dihitung dengan melihat selisih antara produksi tahun 2002 dengan tahun

2003 sebesar 4.5271,90 ton atau turun sebesar 31,18 %. Penurunan hasil

31

tangkapan ikan tongkol pada perairan Teluk Bone dapat kita lihat melalui grafik

produksi di bawah ini.

Gambar 11. Produksi Tahunan Ikan Tongkol di Perairan Teluk Bone

Tahun 1999 – 2007

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa dari tahun 1999 – 2001 hasil

tangkapan ikan tongkol di perairan Teluk Bone mengalami peningkatan, hingga

akhirnya pada ahun 2002 terjadi overfishing yang menyebabkan produksi pada

tahun 2003 menurun. Kemudian produksinya kembali meningkat hingga tahun

2006 dan pada tahun 2007 kembali terjadi overfishing.

Hal tersebut mengindakasikan bahwa belum ada pengelolaan yang baik

dalam penangkapan ikan tongkol. Bisa diprediksikan bahwa pada tahun 2008

produksi ikan tongkol di perairan Teluk Bone akan mengalami penurunan. Maka

perlu dilakukan pengelolaan terhadap upaya dan hasil tangkapannya.

Model yang bisa digunakan dalam melakukan pengelolaan sumberdaya

ikan tongkol di perairan Teluk Bone ialah dengan menggunakan model Schaefer

dan Guland-Fox. Dengan menggunakan data hasil tangkapan ikan tongkol mulai

dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2007, maka kita bisa memprediksi jumlah

tangkapan lestari.

-

2,000.00

4,000.00

6,000.00

8,000.00

10,000.00

12,000.00

14,000.00

16,000.00

18,000.00

199920002001200220032004200520062007

Total Catch (TON)

TAHUN

32

Perhitungan dengan model Schaefer dan Guland-Fox ialah dengan

menggunakan data hasil tangkapan dan effort kemudian dilanjutkan dengan

menghitung nilai CPUE dan LN CPUE seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 3. Perhitungan nilai CPUE dan LN CPUE

No. TAHUN Catch(ton)

Effort

Stand(F)

CPUE LN CPUE

1

1999 6,100.00 149,960 0.04068 -3.20208

2

2000 6,104.50 97,300 0.06274 -2.76877

3

2001 9,745.30 159,873 0.06096 -2.79760

4

2002 14,521.30 423,709 0.03427 -3.37343

5

2003 9,993.40 496,438 0.02013 -3.90553

6

2004 10,468.50 46,273 0.22623 -1.48618

7

2005 10,499.30 158,569 0.06621 -2.71488

8

2006 10,728.20 167,793 0.06394 -2.74986

9

2007 15,725.90 84,045 0.18711 -1.67605

Kemudian perhitungan dilanjutkan dengan membuat grafik persamaan

regresi linear dengan memasukkan data Effort dan CPUE untuk Schaefer serta

data Effort dan LN CPUE untuk model Guland-Fox. Grafik regresi linear tersebut

dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini.

33

Gambar 12. Grafik Regresi Linear Model Shaefer

Gambar 13. Grafik Regresi Linear Model Guland-Fox

Dari gambar diatas terlihat hubungan antara Effort dan nilai CPUE,

dimana semakin tinggi nilai dari Effort akan menyebabkan turunnya nilai CPUE.

Kemudian nilai A dan B yang di peroleh pada perhitungan regresi linear ini akan

digunakan untuk menghitung MSY dari masing-masing model, yang kemudian

digunakan sebagai nilai lestari dari suatu penangkapan. Dalam hal ini

y = -3E-07x + 0.1436
R² = 0.415

-0.04000

0.00000

0.04000

0.08000

0.12000

0.16000

0.20000

0.24000

-

100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000

CPUE

Effort

y = -4E-06x -1.9424
R² = 0.668

-4.5000

-4.0000

-3.5000

-3.0000

-2.5000

-2.0000

-1.5000

-1.0000

-0.5000

0.0000

-

100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000

LN CPUE

Effort

34

penangkapan ikan tongkol di perairan teluk Bone. Nilai MSY yang diperoleh,

dapat dilihat pada grafik MSY di bawah ini.

Gambar 14. Grafik MSY Model Schaefer

Gambar 15. Grafik MSY Model guland-Fox

Berdasarkan grafik di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai MSY untuk

model Schaefer ialah sebesar 17.346,00 ton pertahun dengan effort sebesar

241.519,50 trip. Sedang nilai MSY untuk model Guland-Fox ialah sebesar

13.080,36 ton pertahun dengan effort sebesar 248.018,84 trip.

0

2000

4000

6000

8000

10000

12000

14000

16000

18000

20000

0

100000

200000

300000

400000

500000

Yield per Reqruit (ton)

Effort

0

2000

4000

6000

8000

10000

12000

14000

0

50000100000150000200000250000300000350000400000450000500000

Yield per Reqruit (ton)

Effort

35

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->