Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN DISKUSI SEMENTARA

SIKAP MENTAL dan ETIKA PROFESI HUKUM

SKENARIO HAKIM

I. Klasifikasi Terminologi

Hakim : orang yang mengadili perkara di pengadilan

Terdakwa : orang yang dituntut/dituduh dalam pengadilan

Pejabat : orang yang bekerja untuk pemerintah/pegawai negeri

Pidana : hukum mengenai tindak – tindak kejahatan

II. Penetapan masalah

Permasalahan yang menjadi bahan diskusi kelompok dalam skenario profesi


hakim ini adalah mengenai sikap istri Pak Jon yang dengan mudahnya menerima
kunjungan dari keluarga Pak Iwan dan Pak Nano, padahal keduanya adalah
terdakwa dari perkara korupsi. Begitu pula dengan Pak Jon sendiri yang dengan
mudahnya terhasut oleh keluarga Pak Kris, terdakwa kasus korupsi lainnya
hingga membuat Pak Jon mengatakan ia sedang membutuhkan dana untuk
pembangunan rumah skretaris pribadinya. Apakah sikap Pak Jon dan istrinya
tersebut telah melanggar kode etik seorang hakim?

III.Hipotesis

Pak Jon dan istrinya menerima kunjungan dari keluarga terdakwa Pak Iwan, Pak
Nano, dan Pak Kris dengan penuh keterbukaan telah menyalahi kode etik profesi
seorang hakim dan undang – undang tentang kehakiman.

IV. Pemecahan Masalah Sementara

Pak Jon dan istrinya terkena hukuman akibat tindakan mereka yang melanggar
kode etik profesi hakim dan undang – undang kehakiman

V. Tujuan Pembelajaran

1) Mengetahui kode etik profesi hakim


2) Mengetahui sikap – sikap yang harus diambil oleh seorang hakim dalam
menjalankan tugasnya

3) Menjawab pertanyaan,”Apakah sikap dan tindakan Pak Jon beserta istrinya


sesuai dengan etika profesi seorang hakim?”
Hasil Diskusi

Sikap Mental dan Etika Profesi Hukum

Langkah 1

Terminologi

1. Hakim

Rosita: Pejabat yang memimpin persidangan, yang memutuskan hukuman


bagi pihak yang bersangkutan.

Dame: Orang yang mengadili perkara di pengadilan atau mahkamah.


Keputusannya tidak bisa diganggu gugat (KBBI).

Aldo: Pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk


melaksanakan pengadilan untuk menegakkan hukum dan keadilan.

2. Terdakwa

Rosita: Orang yang didakwa, dituntut, atau dituduh telah melakukan


tindak pidana dengan adanya cukup alasan untuk dilakukan pemeriksaan
di hadapan persidangan (KBBI).

Opi: Dengan adanya cukup bukti yang otentik (tambahan).

3. Pejabat

Dame: Pegawai pemerintah yang memegang jabatan paling tinggi/penting


(KBBI). Seharusnya dia memenuhi kewajibannya dengan kejujuran.

4. Pidana subsider

Rosita: Hukuman pengganti apabila hukuman pokok tidak terjadi (KBBI).

5. Tanggung renteng

Rosita: Menanggung secara bersama-sama tentang biaya yang harus


dibayar.
Catatan tutor:

• Definisi resmi ada di Pasal 1 angka 8 UU No. 8 Tahun 1981 tentang


hukum acara pidana.

• Perbedaan terdakwa dan tersangka adalah tersangka belum dijatuhi


hukuman, terdakwa sudah dijatuhkan hukuman pidana.

• Definisi pejabat negara dapat ditemukan di UU No.28 Tahun 1999


tentang penyelenggaraan negara dan UU No. 8 Tahun 1974 Jo UU
No. 43 Tahun 1999 Pasal 1 poin 2 dan 4.

• Pidana penjara (pasal 10 KUHAP) ada pidana pokok dan tambahan.

• KUHP penetapan undang-undang hukum pidana. Lebih ke


pelanggaran-pelanggarannya.

• KUHAP berisi cara-cara penyelidikan tentang hukum acara pidana.

Langkah 2

Penetapan Masalah

1. Tugas dan kewenangan hakim itu sejauh mana? Tutor

2. Benarkah bila hakim di pengadilan tinggi sudah mengeluarkan


keputusan, hal itu sudah dianggap absolut? Dame

3. Bolehkah seorang hakim menangani perkara yang melibatkan orang-


orang yang dikenalnya? Aldo

4. Apakah suatu hubungan tertentu mempengaruhi keputusan hakim


kepada terdakwa? Dhipo

5. Apakah hukuman bagi seorang hakim yang terbukti menerima


gratifikasi? Ody

6. Adakah hukuman maksimal bagi para terdakwa korupsi dan apa?


Yudhan

7. Berapakah gaji hakim hingga melakukan korupsi? Tutor


8. Apakah sikap hakim tersebut sesuai dengan etika profesi hakim? Tutor

Langkah 3

Hipotesis

(print memory)

Langkah 4

Pemecahan Masalah Sementara

Langkah 5

Tujuan Pembelajaran

1. Mengetahui tugas dan wewenang hakim

Langkah 6

Pengumpulan Informasi dan Belajar Mandiri

Langkah 7

Rosita: UU No. 4 Tahun 2004

Gratifikasi adalah pemberian yang bukan ditujukan untuk penyuapan.


Ukurannya dilihat dari tingkat hubungannya. Bisa diduga pemberian tersebut
akan mempengaruhi keputusan hakim. Hukuman maksimalnya pasal 12 UU
2001 paling singkat empat tahun paling lama dua puluh tahun, paling sedikit
200.000.000 dan paling banyak 1.000.000.000.

Kesimpulan: