Anda di halaman 1dari 21

Fikih Puasa : Hal-hal Yang Membatalkan Puasa

Yang Hanya Mewajibkan Qadla' (Tidak Kafarat)


Hal-hal yang membatalkan puasa ada dua macam: yang
mewajibkan qadla' saja (tidak kafarat), dan ada yang
mengharuskan qadla' dan kafarat. Kali ini, kita akan
menampilkan yang pertama, yang mewajibkan qadla' saja,
menurut 4 mazhab besar : Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan
Hanbaliyah.

A. Mazhab Hanafiyah

Hal-hal yang membatalkan puasa, dalam mazhab Hanafiyah ini


terbagi ke dalam 3 kelompok besar. Pertama,
memakan/menelan/meminum sesuatu yang tidak selayaknya ia
makanan. Masuk dalam kelompok ini adalah hal-hal berikut:

• memakan beras mentah.


• makan adonan tepung yang tidak dimasak.
• menelan obat-obatan (tanpa maksud yang jelas).
• Memakan buah yang belum masak.
• Memakan sisa-sisa makanan di mulut sebesar kacang Arab
(sama dengan setengahnya kacang tanah).
• Memakan garam banyak dengan sekali telan juga
mewajibkan qadla' (tidak kafarat), berbeda jika
menelannya sedikit-sedikit, maka selain qadla' puasa ia
juga wajib membayar kafarat.
• Memakan biji-bijian.
• Memakan/menelan kapas, kertas atau kulit, kerikil, besi,
debu, batu, uang kertas/perak atau sejenisnya.
• Memasukkan air atau obat ke dalam tubuh dengan cara
menyuntukkan melalui lubang kemaluan, hidung, atau
tenggorokan.
• Meneteskan minyak ke dalam telinga (bukan air, karena
air tidak bisa meresap lebih jauh ke dalam).
• Masuknya air hujan atau salju ke dalam tenggorokan
tanpa sengaja, dan dia tidak menelannya.
• Sengaja muntah-muntah, atau mengeluarkan muntah
dengan paksa lantas ditelankannya kembali, jika
muntahannya itu memenuhi mulut; atau walaupun tidak
sampai memenuhi mulut namun yang kembali tertelan
minimal menyamai biji kacang Arab, sementara dia sadar
bahwa dia puasa. Namun jika muntahan itu terjadi dengan
tanpa sengaja; atau kalaupun muntah secara disengaja
namun muntahannya tidak memenuhi mulutnya; atau saat
muntah dia lupa bahwa dia sedang puasa; atau
muntahannya itu berupa lendir, tidak makanan; maka
puasanya tidak batal. Ini berdasar hadis "Barang siapa
muntah dengan tanpa sengaja maka dia tidak wajib
mengqadla, namun jika sengaja muntah-muntah maka
diwajibkan mengqadla'".

Jenis kedua adalah memakan/meminum/menelan makan-


makanan atau obat-obatan karena ada udzur, baik itu berupa
penyakit, dipaksa, memakan/meminum/menelan secara keliru,
atau karena menyepelekan, atau karena samar. Masuk dalam
kategori ini adalah hal-hal berikut ini:

• Masuknya air kumur ke dalam perut secara tak sengaja.


• Berobat dengan cara membedah tubuh bagian kepala atau
perut, lantas obat yang dimasukkan mencapai otak atau
perut.
• Orang tidur yang dimasuki air ke dalam tubuhnya dengan
sengaja.
• Orang perempuan yang membatalkan puasanya dengan
alasan khawatir sakit karena melaksanakan suatu
pekerjaan.
• Makan atau bersenggama secara syubhat/samar, setelah ia
melakukan hal itu (makan atau senggama) karena lupa.
• Makan setelah ia berniat puasa pada siang hari.
• Seorang musafir (orang yang bepergian) yang makan saat
niat puasanya dilakukan pada malam hari setelah ia
memutuskan untuk menetap (mukim) di tempat ia berada.
• Makan/minum/senggama pada saat fajar telah terbit,
namun ia ragu apakah fajar telah terbit.
• Makan/minum/senggama pada saat matahari belum
terbenam, namun ia menyangka bahwa matahari telah
terbenam (telah maghrib).

CATATAN
Seorang yang makan atau melakukan hubungan badan sejak
sebelum terbitnya fajar, kemudian fajar terbit, maka jika ia
langsung menghentikannya atau memuntahkan makanan yang
ada di mulutnya, maka hal tersebut tidak membatalkan
puasanya.

Jenis ketiga adalah pelampiasan nafsu seks/birahi secara tak


sempurna. Masuk dalam kategori ini adalah hal-hal berikut:

• Keluarnya mani dikarenakan berhubungan badan dengan


mayit atau binatang atau anak kecil yang belum
menimbulkan syahwat.
• Keluarnya mani karena berpelukan atau adu paha.
• Keluarnya mani karena ciuman atau rabaan.
• Perempuan yang disetubuhi saat ia tertidur.
• Perempuan yang menetesi kemaluannya dengan minyak.
• Memasukkan jari yang dibasahi dengan minyak atau air
kedalam anus, lantas air atau minyak itu masuk ke dalam.
• Bercebok sehingga ada air yang masuk ke dalam melalui
anus.
• Memasukkan sesuatu sampai tenggelam seluruhnya
(kapas, kain, atau jarum suntik, dll) ke dalam anus.(Jika
tidak tenggelam seluruhnya, maka tidak membatalkan
puasa)
• Perempuan yang memasukkan jarinya yang dibasahi
dengan minyak atau air ke dalam vaginanya bagian dalam.

B. Mazhab Malikiyah

Dalam mazhab ini, hal-hal yang mewajibkan qadla' (tanpa


kafarat) ada 3 kategori berikut ini:

1. Membatalkan puasa-puasa fardlu (seperti qadla'


Ramadlan, puasa kafarat, puasa nadzar yang tidak
tertentu, puasanya orang yang haji tamattu' dan qiraan
yang tidak membayar denda). Adapun puasa nadzar yang
ditentukan, semisal bernadzar puasa hari/beberapa
hari/bulan tertentu, jika dia membatalkan puasanya itu
karena udzur seperti haidl, nifas, ayan, gila, sakit, dll,
maka ia tak wajib mengqadla'. Namun jika uzdurnya sudah
hilang sementara apa yang dinadzarkannya masih tersisa,
maka ia wajib melakukan puasa pada hari yang tersisa itu.
2. Membatalkan puasa dengan sengaja pada puasa
Ramadhan, selama syarat-syarat wajibnya kafarat tak
terpenuhi. Seperti batalnya puasa karena udzur seperti
sakit; atau karena udzur yang menghilangkan dosa seperti
lupa, kesalahan, keterpaksaan; batalnya puasa karena
keluarnya madzi atau mani karena
melamun/melihat/memikir-mikir (sesuatu yang
menimbulkan syahwat), dengan tanpa berlebihan, namun
kebiasaannya keluar mani pada saat berhenti dari
tindakan itu. Singkatnya, semua puasa wajib yang
dibatalkannya wajib baginya mengqadla, kecuali puasa
nadzar tertentu yang dibatalkannya karena udzur.
3. Membatalkan puasa dengan sengaja pada puasa-puasa
sunat. Karena menurut mazhab ini, melakukan suatu
ibadah sunat, hukumnya wajib melakukannya sampai
sempurna. Jika dibatalkan secara sengaja maka harus
mengqadlanya, dan jika tanpa jika batalnya karena udzur
tidak wajib mengqadlanya.

Kesimpulannya, seseorang yang membatalkan puasa (semua


jenis puasa) dengan sengaja maka ia wajib mengqadlanya, dan
tidak wajib membayar kafarat kecuali pada puasa Ramadhan
saja. Dan barang siapa yang batal puasanya (jenis apa saja)
karena lupa, wajib baginya mengqadla (tidak kafarat), kecuali
pada puasa sunat (tidak wajib qadla' tidak pula kafarat).

Adapun hal-hal yang bisa membatalkan puasa, dalam mazhab


ini, ada 5 hal:

1. Bersengga yang mewajibkan mandi.


2. Keluarnya mani atau madzi karena ciuman, belaian, dan
melihat/memikir-mikir (sesuatu yang menimbulkan
syahwat) dan itu dilakukannya dengan sengaja dan terus-
terusan.
3. Muntah-muntah secara sengaja, baik muntahannya itu
memenuhi mulut atau tidak. Namun jika muntah itu terjadi
secara tak sengaja maka tak membatalkan puasanya,
kecuali jika ada muntahannya yang kembali masuk ke
perut walau tak sengaja (maka batallah puasanya).
4. Sampainya sesuatu yang cair ke tenggorokan melalui
mulut, hidung, atau telinga, baik itu secara sengaja, lupa,
kesalahan, atau keterpaksaan. Seperti air kumur atau saat
gosok gigi. Masuk dalam kategori hukum cairan ini juga,
dupa dan kemenyan jika dihirup kuat-kuat sehingga masuk
ke tenggorokan, asap yang diketahui (seperti rokok-pent),
bercelak dan berminyak rambut pada siang hari jika
rasanya sampai ke tenggorokan, jika tidak sampai ke
tenggorokan tidak membatalkan puasa. Sebagaimana ia
tak membatalkan puasa, jika hal itu dilakukannya pada
malam hari).
5. Sampainya sesuatu ke pencernaan, baik zat cair atau tidak,
melalui mulut, hidung, mata atau pangkal rambut, baik
masuknya dengan disengaja, keliru, lupa atau terlanjur.
Adapun suntikan pada lobang kelamin laki-laki tidak
membatalkan puasa. Begitu juga halnya mengkorek-korek
lubang telinga, juga menelan sisa-sisa makanan yang
masih menempel di antara gigi-gigi tidak membatalkan
puasa, meskipun itu dilakukan dengan sengaja.

Demikian pula masuknya segala sesuatu, baik berupa cairan


atau tidak, ke dalam pencernaan melalui lubang-lubang (menuju
dalam tubuh) yang berada di atas perut, baik lubang tersebut
lebar atau sempit, membatalkan puasa dan wajib mengqadlanya.
Beda dengan sesuatu yang masuk melalui lubang bawah (perut),
ia baru dianggap membatalkan puasa jika lubang bawah itu
lebar (seperti lubang anus dan kelamin perempuan), dan barang
yang masuk itu berupa zat cair (tidak benda yang keras).

Singkatnya, qadla' itu wajib bagi orang yang membatalkan


puasa-puasa wajib, baik itu dilakukannya dengan sengaja, lupa,
keterpaksaan; baik pembatalannya itu haram, boleh, atau wajib
seperti orang yang membatalkan puasanya karena
kekhawatirannya akan sesuatu yang fatal (jika ia puasa); baik
pembatalan itu juga mewajibkan kafarat atau tidak; baik puasa
fardhu itu asli atau puasa nadzar.

C. Menurut Madzhab Syafi`i:

Umum

Sedikit catatan mengenai batalnya puasa seseorang menurut


Syafi`iyah, yaitu:
Pertama: Orang yang lupa, (di-)terpaksa, atau tidak tahu bahwa
hal-hal tersebut bisa membatalkan puasa, maka puasanya tidak
batal -meski yang dimakan itu banyak atau sedikit. Jadi kriteria
batal menurut Syafi`iyah adalah adanya unsur kesengajaan
dalam melakukan hal-hal yang membatalkan puasa tersebut.
Kedua: Orang yang batal puasa tanpa udzur (halangan) harus
tetap meneruskan puasanya hingga waktu buka.

Perihal Batalnya Puasa Dan Hanya Wajib Qadla

Ada beberapa hal yang membatalkan puasa dengan konsekuensi


qadla` saja tanpa berkewajiban membayar kafarah, yaitu:

1. Masuknya satu benda atau dzat ke dalam perut dari lobang


terbuka seperti mulut, hidung, lobang penis, anus dan
bekas infus, baik sesedikit/sekecil apapun, seperti semut
merah; ataupun benda tersebut yang tidak biasa dimakan
seperti debu atau kerikil.
Masuk dalam kategori ini juga :
o Sengaja mencium bau renyah daging goreng;
o Menghirup obat pelega pernafaan (semacam vicks
atau mint) ket ika seseorang merasa sesak nafas;
o Menelan kembali ludah yang sudah berceceran dari
pusat kelenjar penghasil ludah. Seperti menelan
kembali ludah yang sudah keluar dari mulutnya
(dihukumi sebagai benda luar); atau seseorang
membasahi benang dengan ludahnya kemudian
mengembalikan benang yang basah (oleh ludahnya
tersebut) ke dalam mulutnya dan hasil ludah tersebut
ditelannya lagi; atau menelan ludah yang sudah
bercampur dengan benda lain -lebih-lebih benda yang
terkena najis.
o Mempermainkan ludah di antara gigi-gigi, sementara
ia bisa memuntahkannya.
o Menelan sisa-sisa makanan yang menempel di antara
gigi-gigi meski sedikit, sementara ia sebenarnya bisa
memisahkannya tanpa harus menelannya.
2. Menelan dahak yang sudah sampai ke batas luar mulut.
Namun jika kesulitan memuntahkannya maka tidak apa-
apa;
3. Masuknya air madlmadlah (air kumur) atau air istinsyaq
(air untuk membersihkan hidung) ketika wudlu hingga
melwati tenggorokan atau kerongkongan karena berlebih-
lebihan dalam melakukannya.
4. Muntah dengan sengaja walaupun ia yakin bahwa
muntahan tersebut tidak ada yang kembali ke perut.
5. Ejakulasi ekster-coitus (Istimna) seperti onani --baik
dengan tangan sendiri maupun bantuan isterinya--, atau
mani tersebut keluar disebabkan sentuhan, ciuman,
maupun melakukan petting (bercumbu tanpa senggama)
tanpa penghalang (bersentuhan kulit dengan kulit). Hal-
hal tersebut membatalkan puasa karena interaksi secara
langsung menyentuh kelamin hingga menyebabkan
ejakulasi.

Adapun jika seorang keluar mani karena imajinasi sensual,


melihat sesuatu dengan syahwat, melakukan petting tanpa
sentuhan kulit dengan kulit (masih dihalangi kain), maka
tidak apa-apa, karena interaksi tersebut tidak secara
langsung menyentuh kelamin hingga menyebabkan
ejakulasi. Dan hukumnya disamakan dengan mimpi basah.
Namun jika hal itu dilakukan berulang-ulang maka
puasanya batal, meskipun tidak ejakulasi.
6. Jelas-jelas keliru makan pada siang hari, karena sudah
terbitnya fajar atau belum terbenamnya matahari.

Jika ia berbuka puasa dengan sebuah ijtihad yaitu


membaca keberadaan awan kemerah-merahan (sabagai
tanda waktu buka) atau yang lain, seperti cara
menentukan waktu sholat (secara astronomis), maka
dibolehkan atau sah puasanya.

Namun, untuk kehati-hatian, hindari makan di penghujung


hari (berbuka) kecuali dengan keyakinan sudah saatnya
berbuka. Juga dibolehkan makan di penghujung malam
(waktu sahur) jika ia menyangka masih ada waktu meski
sebenarnya waktu fajar sudah tiba dan dimulutnya masih
ada makanan maka sah puasanya. Sebab dasar hukum itu
berangkat dari keyakinan awal yaitu belum terbit fajar.
Akan tetapi jika sudah jelas-jelas ia mengetahui terbitnya
fajar (imsak) sementara di mulutnya masih ada makanan
kemudian ia langsung memuntahkan makanan tersebut
maka tidak apa-apa, namun jika masih asyik memakannya
maka puasanya batal.
7. Datang bulan (haid), nifas, gila, dan murtad. Sebab
kembali pada syarat-syarat sahnya puasa yaitu sehat akal
(Akil), masuk ke jenjang dewasa (baligh), muslim, dan suci
dari haid dan nifas. Dengan demikian batalnya puasa
tersebut karena tidak memenuhi persyaratan tersebut
diatas.
D. Menurut Madzhab Hanbali, antara lain:

1. Masuknya satu benda (materi) ke dalam perut atau


pembuluh nadi dari lobang/rongga badan dengan unsur
kesengajaan dan sebagai alternatif, sementara ia masih
ingat betul bahwa dirinya sedang puasa -meski ia tidak
tahu hal tersebut membatalkan-. Baik benda tersebut bisa
dimakan seperti makanan dan minuman, atau tidak,
seperti kerikil, dahak, tembakau kinang, obat, pelumas
yang sampai ke tenggorokan atau otak, selang yang
dimasuk lewat anus, atau merokok.

CATATAN: Seperti Syafi`I, Imam Hanbali mensyaratkan


adanya unsur kesengajaan dalam hal batalnya puasa. Jika
seseorang lupa, keliru, atau ter/di paksa melakukan hal-hal
yang membatalkan puasa maka tidak apa-apa.
2. memakai celak mata hingga dzat celak tersebut sampai
tenggorokan. Jika tidak sampai ke sana, maka tidak apa-
apa;. Rasulullah bersabda, "Berhatilah-hatilah orang yang
puasa dengannya (celak)".
3. Muntah dengan sengaja --baik muntahan itu berupa
makanan, ataupun muntahan yang sudah pahit, lendir,
darah dan lain-lain-- meski sedikit sekalipun. Rasulullah
bersabda, "Barang siapa terpaksa harus muntah maka ia
tidak perlu mengulang puasanya, dan barang siapa
muntah dengan sengaja maka ia wajib qadla`".
4. Berbekam. Baik subyek maupun obyek disini dianggap
batal puasanya jika benar-benar terlihat darah. Rasul
bersabda, "membatalkan (puasa) pelaku dan obyek
bekam". Namun jika tidak sampai kelihatan maka tidak
apa-apa.
5. Berciuman, onani, bersentuhan, bersetubuh tanpa
penetrasi (persenggamaan) -baik yang keluar mani atau
madzi-. Begitujuga Keseringan menonton obyek sensual
hingga keluar mani bukan madzi;
6. Murtad secara mutlak, karena firman Allah swt.: "Jika
kamu benar-benar musyrik, maka amal kamu akan benar-
benar terhapus".
7. Meninggal dalam keadaan puasa wajib maka ahli waris
harus mengqadla puasa untuk hari kematiaannya. Namun
jika pada hari kematiaanya, ia dalam keadaan
menjalankan puasa nazar atau kafarah, maka ahli waris
hanya memberi makan orang miskin (tidak perlu
mengqadla).
8. Jelas-jelas salah makan di siang hari.

Jika ada keraguan bahwa matahari sudah terbenam kemudian ia


berbuka (seperti halnya ia berbuka namun ia masih menyangka
matahari belum terbenam dan memang kenyataan matahari
belum terbenam) maka batal puasa dan harus mengqadla.
Termasuk batal dan wajib qadla juga, jika seseorang makan
karena lupa, kemudian ia menyangka dirinya sudah batal
sehingga ia meneruskan makan dengan sengaja.
Fikih Puasa : Hal-hal Yang Membatalkan Puasa
Yang Mewajibkan Qadla' Sekaligus Kafarat
Membayar "kafarah" yaitu dengan cara memerdekakan budak,
atau puasa dua bulan berturut-turut jika tidak menemukan
budak, atau memberi makan enam puluh fakir miskin jika tidak
mampu puasa.

Namun pada zaman sekarang ini, karena perbudakan sudah


tidak ada, maka cukup berpuasa dua bulan berturut-turut, dan
jika tidak mampu (karena sakit atau hal-hal yang menghalangi
lainnya) maka harus memberi makan enam puluh fakir miskin
--editor

A. Madzhab Hanafi

Ada sekitar 22 hal yang mengharuskan membayar qadha' dan


kafarah sekaligus. Ketentuan ini berlaku bagi orang mukallaf
(orang yang sudah punya hak dan kewajiban dalam konstitusi
hukum) yang melakukan niatnya pada malam hari kemudian
membatalkan puasanya (dengan melakukan salah satu 22 hal
tersebut) dengan sengaja, tanpa keterpaksaan, dan tidak ada hal
lain yang menghalangi puasa seperti sakit atau bepergian.

Adapun jika seorang yang melakukakan salah satu 22 hal


tersebut adalah anak kecil yang belum mukallaf, atau tidak
melakukan niat pada malam harinya, baik puasa qadha` atau
puasa-puasa lain di luar Ramadhan, karena dia lupa atau keliru,
karena terpaksa atau darurat, atau ada hal lain yang boleh
membatalkan puasa, maka ia tidak wajib membayar kafarah,
namun hanya cukup meng-qadha' saja.

Keduapuluh-dua hal tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua


kategori:

1. Memakan-meminum makanan-minuman atau obat-obatan


tanpa ada halangan (udzur) yang sah. Makanan-minuman
di sini meliputi hal-hal yang biasa dimakan-minum, seperti
daging dan makanan berlemak lainnya, baik yang mentah,
masak, atau kering. Begitu juga buah-buahan dan sayuran.
Meliputi pula makanan yang tidak biasa dimakan seperti
daun anggur, kulit semangka, dll. Dan masuk dalam
kelompok obat-obatan adalah hal-hal yang membahayakan
kesehatan seperti rokok, narkoba, dll.

Termasuk dalam kategori pertama ini, makan dengan


sengaja karena ia menyangka puasanya telah batal.
Misalnya ia sengaja makan setelah ia mengumpat orang
lain, karena ia menduga bahwa umpatan itu membatalkan
puasa. Atau ia sengaja makan setelah berbekam,
menyentuh atau mencium dengan syahwat, bercumbu
tanpa keluar mani, dll.

Masuk dalam kategori ini juga menelan air hujan yang


masuk ke mulut dan menelan air liur isteri untuk
kenikmatan.

2. Melampiaskan nafsu seksual secara sempurna, yaitu


berhubungan seksual melalui alat kelamin atau anus --baik
pelaku maupun obyek--, meskipun hanya bersentuhan alat
kelamin tanpa keluar mani. Namun dengan syarat
obyeknya orang yang mengundang syahwat. Begitu pula
jika seorang perempuan melakukan kontak seksual dengan
anak kecil atau orang gila, maka perempuan tersebut tetap
harus membayar kafarah.

Adapun dalil hukumnya adalah hadits yang menceritakan


kejadian orang badui yang bersenggama dengan isterinya
pada siang hari Ramadhan. Nabi lantas mewajibkan
mereka membayar kafarah yaitu dengan cara
memerdekakan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut
jika tidak menemukan budak, atau memberi makan 60
fakir miskin jika tidak mampu puasa.

B. Madzhab Maliki

Imam Malik hanya menyempitkan konsekuensi qadha' sekaligus


kafarah hanya pada pelanggaran puasa bulan Ramadhan saja,
yaitu antara lain:

1. Bersetubuh dengan sengaja baik dengan manusia atau


hewan, meskipun tidak keluar mani. Baik dengan isterinya
atau wanita lain. Karena hal itu merupakan penghinaan
terhadap kemulyaan bulan Ramadhan. Meski inisiatif
senggama datang dari si wanita, baik istrinya sendiri atau
orang lain, kewajiban kafarah tetap dikenakan pada dua-
duanya. Namun jika sang wanita disetubuhi ketika sedang
tidur atau diperkosa, maka wanita tersebut bebas dari
kafarah. Dan jika bersenggama karena lupa, tidak tahu,
atau dipaksa, maka ia tidak berkewajiban membayar
kafarah. Karena kafarah pada esensinya adalah akibat
pelanggaran kehormatan bulan Ramadhan.
2. Mengeluarkan mani akibat berciuman; bercumbu tanpa
bersetubuh; memandang atau membayangkan (sesuatu
yang mengundang syahwat) dalam tempo waktu yang
disengaja sementara dia sadar akan kebiasaannya keluar
mani akibat melakukan hal seperti itu; memandang dan
mengangan dalam sekilas waktu dan dia sadar
kebiasaanya mengeluarkan mani dengan sekedar
melakukan hal seperti itu.

Namun jika keluar mani dikarenakan memandang atau


membayangkan padahal tidak biasanya dia keluar mani
karena melakukan hal itu; atau memang biasa keluar
mani/madzi dengan hanya memandang atau
membayangkan, maka ia tidak wajib membayar kafarah.
3. Makan dan minum dengan sengaja. Demikian juga
menelan apa saja (walaupun sesuatu yang tidak lazim
dimakan) yang telah sampai di tenggorokan; dan muntah
dengan sengaja kemudian menelannya kembali meski
tanpa sengaja.

Karenanya, kalau seseorang batal puasa karena lupa maka


ia tidak wajib membayar kafarah. Begitu juga halnya hal-
hal yang masuk ke perut atau rongga badan lainnya yang
tidak melalui mulut. Karena pada dasarnya yang
mwajibkan kafarah itu adalah faktor kesengajaan merusak
kemulyaan bulan Ramadhan.
4. Berniat membatalkan puasa di pagi hari, meski setelah itu
ia berniat lagi.
5. Sengaja membatalkan puasa tanpa ada udzur seperti sakit,
bepergian, haid bagi wanita.

C. Madzhab Syafi`i

Hanya satu hal yang mewajibkan qadha', kafarah, dan ta`zir


(hukuman) serta tetap diwajibkan menahan (dari apa yang
membatalkan puasa) selama sisa hari mana ia membatalkan
puasanya, yaitu bersenggama pada siang hari Ramadhan
dengan kriteria sebagai berikut:

1. Ia telah berniat puasa pada malam harinya. Jika ia tidak


berniat maka puasanya tidak sah dan ia harus menahan
diri.
2. Adanya faktor kesengajaan.
3. Tidak terpaksa.
4. Sadar dan tahu akan keharaman bersetubuh di siang hari
Ramadhan.
5. Terjadi pada siang hari Ramadhan. Kalau itu terjadi puasa
wajib selain Ramadhan, maka tidak dikenai sanksi.
6. Tidak mengerjakan hal yang membatalkan puasa
sebelumnya. Sehingga jika ia makan lebih dahulu
kemudian bersenggama, ia tidak terkena sanksi ini. Begitu
juga jika telah melakukan percumbuan (yang
membatalkan puasa) selain bersetubuh.
7. Ia seorang mukallaf yang tidak mempunyai 'udzur
berpuasa. Karenanya anak kecil, orang yang bepergian
(musafir) yang membatalkan puasanya dengan
bersetubuh, dan orang sakit (yang mencapai udzur puasa)
tidak dikenai sanksi tersebut di atas.
8. Yakin bahwa puasanya sah. Maka tidak ada kafarah bagi
orang yang sengaja bersenggama yang menduga bahwa
puasanya telah batal.
9. Tidak keliru. Karenanya, jika seseorang bersetubuh karena
menduga waktu masih malam, belum datang Subuh, tidak
wajib baginya kafarah.
10. Tidak menjadi gila atau meninggal dunia seusai ia
bersenggama.
11. Persenggamaan tersebut memang benar-benar atas dasar
kehendak dan suka sama suka. Sehingga seandainya si
lelaki/perempuan diperkosa, dengan cara melemahkan
badannya agar tak mampu berontak, atau dengan cara apa
saja, maka kafarah hanya wajib bagi si pemerkosa.
12.Persenggamaan benar terjadi, minimal dengan masuknya
kepala penis ke liang vagina.
13.Persenggamaan tersebut dilakukan pada lubang kemaluan,
baik itu anus, dengan sesama jenis, orang mati, atau
binatang. Adapun persenggamaan bukan pada lubang
kemaluan (seperti oral seks), tidak mewajibkan kafarah.

D. Madzhab Hanbali

Orang yang bersenggama pada siang hari Ramadhan, tanpa ada


'udzur puasa sebelumnya, baik itu dilakukan di vagina atau
anus, baik manusia atau binatang, orang hidup atau mati,
mengeluarkan mani atau tidak, dengan sengaja atau lupa,
secara salah, tidak tahu, suka sama suka atau terpaksa, baik
ketika dipaksa dia sadar ataupun tertidur, tetap diharuskan
membayar kafarah. Sebab Rasul dalam riwayatnya Abu
Hurairah, tidak menjelaskan kepada penanya yaitu seorang
Badui, mengenai detail persengamaan. Jika memang hukumnya
berbeda di masing-masing kondisi, tentunya Rasul akan
menjelaskan masing-masing keadaan. Seolah-olah Nabi berkata
pada Badui tersebut, "Jika kamu telah bersenggama, maka kamu
harus membayar kafarah".

CATATAN:

1. 'Udzur-'udzur puasa seperti sakit, bepergian, gila, murtad,


dll, yang terjadi setelah persenggamaan tidak
menggugurkan kewajiban kafarah. Karena pelanggaran
terhadap kemulyaan Ramadhan telah terjadi sebelumnya.
2. Jumlah kafarah tergantung jumlah pelanggaran. Barang
siapa yang melakukan persenggamaan dua hari berturut-
turut, maka ia harus membayar dua kafarah.

Fikih Puasa : Hal-hal Yang Membolehkan Tidak


Berpuasa
1. Bepergian (Safar)

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat


185 yang berbunyi :"Maka barang siapa di antara kamu
dalam keadaan sakit atau sedang bepergian maka dia
boleh meninggalkan puasa dan menggantinya dihari lain".

Safar yang memperbolehkan berbuka adalah safar yang


berjarak minimal kira-kira 89 km. Safar ini, menurut
jumhur (mayoritas) ulama, harus dilakukan sebelum
terbitnya matahari. Jika dia telah berpuasa saat memulai
perjalanan (karena dia memulai perjalanannya sehabis
Subuh), maka dia tidak boleh membatalkan puasanya.
Kendati begitu jika ternyata dia tidak mampu
menuntaskan puasanya karena perjalanan yang amat
melelahkan, maka dia boleh berbuka dan wajib
mengqadha'nya, sebagaimana hadis riwayat Jabir:
"Bahwasanya Rasulullah berangakat menuju Makkah pada
'Aam al-Fath. Sampai masuk kawasan Kurâ' al-Ghamîm
(nama sebuah jurang di Asfân, dataran tinggi Madinah)
Nabi masih berpuasa, maka para sahabat pun ikut
berpusasa. Kemudian Rasul mendengar laporan bahwa
"rombongan sudah merasa amat berat untuk meneruskan
puasa, hanya saja mereka menunggu apa yang dilakukan
Rasul". Maka lantas Rasul mengajak meminum air sehabis
Asar. Anggota rombongan pada memperhatikannya, ada
sebagian yang ikut membatalkan puasa, dan sebagian lain
ada yang masih tetap bertahan meneruskan puasanya.
Setelah diberitahu bahwa masih ada yang berpuasa, maka
Rasul pun bersabda: "Mereka yang tidak membatalkan
puasanya itu orang-orang yang keras".

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang musafir boleh


berbuka dalam perjalanannya sekalipun dia sudah
memulai puasanya pada hari itu.

o Ulama Hambaliyah membolehkan musafir berbuka


sekalipun dia baru memulai perjalanannya pada
siang hari sebagaimana riwayat Abu Dawud dari Abu
Bashrah Al-Ghiffâri yang pernah membatalkan
puasanya dalam perjalanan, dan ia berkata bahwa
"hal itu merupakan sunnah Rasul."
o Ulama Syafi'iyah, ada satu syarat lagi yaitu
hendaklah orang yang bepergian tersebut bukan
termasuk orang yang selalu bepergian seperti sopir.
Dia tidak boleh berbuka kecuali jika dia betul-betul
menemui masyaqqah (kepayahan) yang luar biasa.
o Jumhur ulama selain Hanafiyah ada dua syarat lain
lagi, yaitu:
1. Perjalanan yang dilakukan bukan untuk
kemaksiatan. (Hanafiyah memperbolehkan
membatalkan puasa sekalipun perjalanan itu
demi kemaksiatan)
2. Tidak berniat untuk menetap di tempat tujuan
selama 4 hari.
o Ulama Malikiyah menambah syarat lain: berniat
tidak berpuasa pada malam harinya.

Seandainya seorang musafir telah memulai puasanya sampai


pagi hari, lantas ia hendak membatalkannya? Menurut jumhur
ulama hal itu tidak jadi soal dan dia tidak berdosa. Namun tetap
wajib mengqadha'nya sebagaimana Rasul pernah melakukan hal
yang sama, seperti yang ditunjukkan hadis di atas. Sementar
ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa hal itu
tidak boleh dan ia berdosa jika melakukannya serta wajib
mengqadha'nya dan membayar kafarat.

Mana yang lebih baik bagi musafir, berpuasa atau tidak?


Menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi'iyah, berpuasa
lebih baik jika tidak ada sebab yang mendesak untuk
membatalkan puasa.

Hanafiyah menambahkan, bila sesama rombongan musafir pada


membatalkan puasa, atau bekal mereka jadi satu, maka lebih
baik membatalkan puasanya. Namun jika keadaan tidak
memungkinkan untuk melanjutkan puasa maka wajib hukumnya
membatalkan puasa. Dalil yang melandasi pendapat mereka
adalah firman Allah: "Dan berpuasalah karena itu lebih baik
bagi kalian".

Lain lagi dengan Hanbaliyah yang men-sunnatkan untuk


membatalkan puasa dan memakruhkan berpuasa sekalipun
tidak ada masyaqqah sama sekali, berdasar sabda Rasulullah
(dalam hadis di atas) "Mereka yang tidak membatalkan
puasanya itu orang-orang yang keras." Diperkuat lagi dengan
riwayat Syaikhain Bukhari dan Muslim bahwa Rasul bersabda:
"Berpuasa dalam perjalanan bukanlah termasuk perbuatan yang
baik".

Menurut penulis (Wahbah al-Zuheily--pent), pendapat jumhur


lebih bisa diterima, setidaknya karena dua alasan: (1) karena
sesuai dengan firman Allah: "dan berpuasalah karena itu lebih
baik bagi kalian", dan (2) kisah dalam hadis di atas terjadi saat
'Aam al-Fath, yaitu ketika terjadi perang.

Kalaupun musafir itu memperoleh rukhsah (kemudahan) tidak


berpuasa dalam bulan Ramadhan, secara implisit hal itu
menunjukkan ia juga tidak boleh berpuasa wajib selain
Ramadhan. Karena diperbolehkannya ia tidak berpuasa
Ramadhan, itu sekedar kemurahan/kemudahan (rukhsah). Maka
jika ia tidak mau mengambil kesempatan rukhsah tersebut ia
harus kembali pada hukum asalnya: wajib berpuasa Ramadhan.
Sehingga, jika seorang musafir atau orang sakit melakukan
puasa selain Ramadhan pada saat itu, maka puasanya batal.

Beda dengan Hanafiyah, jika yang dilakukan adalah puasa wajib


maka sah, karena jika musafir itu boleh berbuka maka dia juga
berhak untuk melakukan puasa lain yang wajib atasnya.

Jika seorang musafir atau orang sakit tidak mau mengambil


kesempatan rukhsahnya, lantas ia berpuasa dalam safarnya
atau dalam keadaan sakitnya, apakah puasanya sah? Menurut
keempat madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah,
Hanbaliyah, puasanya diangap sah. Sementara ulama
Dhahiriyah berpendapat bahwa puasanya dianggap batal.

Fikih Puasa: Hal-hal Yang Membolehkan Tidak


Berpuasa
2. Sakit

Sakit merupakan 'udzur puasa berdasar firman Allah : "Barang


siapa diantara kamu dalam keadaan sakit atau sedang bepergian

Sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang


menyebabkan si penderita tidak mampu lagi untuk
melaksanakan puasa atau bila ia berpuasa justru memperparah
kondisinya, memperlambat kesembuhan, atau bahkan
dikhawatirkan menyebabkan kematian. Maka jika seseorang
menderita penyakit-penyakit ringan, semacam koreng, flu, tidak
boleh membatalkan puasanya. Dan seseorang yang dalam
keadaan sehat namun dia khawatir bila puasa akan menjadi
sakit menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah (berbeda dari
Syafi'iyah dan Hanbaliyah), dia dihukumi sama dengan orang
sakit. Demikian pula jika seseorang mempunya dugaan kuat bila
ia puasa maka akan mematikan fungsi salah satu panca
inderanya, misal, maka wajib hukumnya membatalkan
puasanya.

Ulama Hanafiyah menambahkan, dalam peperangan yang


melelahkan seseorang boleh tidak berpuasa agar bisa
menghadapi musuh dengan kondisi yang fit. Sebagaimana yang
pernah dilakukan Rasul pada 'Aam al-Fath (penaklukan kota
makkah).

Menurut jumhur ulama orang yang sakit tidak diwajibkan niat


berbuka. Lain dengan ulama Syafi'iyah yang mewajibkan hal itu.
Namun jika orang yang sakit tersebut tetap berpuasa maka
puasanya dianggap sah.

Manakah yang lebih baik bagi orang yang sakit, tetap berpuasa
atau boleh berbuka?
Menurut Hanafiyah dan Syafi'iyah mereka boleh berbuka atau
tetap berpuasa, sementara menurut Hanbaliyah sunnat bagi
mereka berbuka dan makruh berpuasa. Di pihak lain Malikiyah
mengatakan ada 4 ketentuan bagi puasanya orang sakit :

1. Jika ia tidak bisa sama sekali berpuasa, atau puasanya


akan memperparah keadaan, atau bahkan menyebabkan
kematiannya maka wajib baginya untuk berbuka.
2. Jika ia bisa berpuasa walaupun dengan susah payah maka
boleh baginya untuk berbuka.
3. Jika ia mampu berpuasa namun masih khawatir akan
kesehatannya, ada dua pendapat dalam hal ini, antara
boleh dan tidak.
4. Jika ia bisa berpuasa tanpa khawatir sedikitpun, maka
menurut jumhur ulama ia tidak boleh berbuka.
5. Jika seseorang yang sakit /musafir berniat puasa pada
pagi harinya dan ternyata di siang hari 'udzurnya hilang,
maka dia tidak boleh berbuka, sementara jika ia tidak
berpuasa di pagi harinya maka ia boleh tetap berbuka.

Jika seseorang meninggalkan puasa baik karena sakit atau


'udzur yang lain dan dia belum mengqadha'nya hingga datang
Ramadhan lagi, menurut Syafi'iyah dia wajib mengqadha' dan
membayar kafarah yaitu memberi makan sebanyak 1 mud untuk
satu hari puasa yang ditinggalnya kepada orang miskin. Lain
halnya jika 'udzurnya tersebut belum berakhir hingga datang
Ramadhan berikutnya, maka diwajibkan mengqadha' saja.

Dan jika ia meninggal sebelum mengqadha', puasanya


digantikan oleh walinya. Namun jika walinya tidak mampu juga
--untuk menggantikan puasanya si mayit-- maka dia (wali) harus
membayar kafarah dari harta peninggalannya (mayit).
Sebagaimana dalam riwayat Tirmidzi dari Ibnu Umar ia
berkata : "Barang siapa meninggal dan belum mengqadha'
Ramadhan yang ia tinggalkan maka hendaklah ia membayar
kafarah." Dan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari
Sayidah 'Aisyah, Rasulullah bersabda: "Barang siapa meninggal
dan mempunyai tanggungan puasa, maka digantikan oleh
walinya."
3 & 4. Hamil dan Menyusui

Seseorang yang hamil dan menyusui boleh meninggalkan puasa


jika ia khawatir akan kesehatan diri dan bayinya. Sama saja
apakah bayi yang disusui adalah anak kandungnya atau anak
susuan saja. Kekhawatiran disini baik berdasarkan diagnosa
dokter atau pengalaman sendiri. Ketentuan seperti ini
berlandaskan pada qiyas pada orang yang sakit atau musafir,
dan hadis Nabi: "Sesungguhnya Allah memberi keringanan bagi
musafir dan orang sakit untuk tidak berpuasa, mengqashar
shalat, dan meringankan bagi perempuan yang hamil dan yang
menyusui."

Dan jika mereka (perempuan hamil dan menyusui)


mengkhawatirkan timbulnya sesuatu yang kronis --akibat
puasanya-- maka haram baginya berpuasa.

Jika mereka berbuka (tidak berpuasa) apakah wajib mengqadha'


dan membayar fidyah?

• Hanafiyah: mereka wajib mengqadha' saja tanpa


membayar fidyah.
• Syafi'iyah dan Hanbaliyah: wajib mengqadha' dan
membayar fidyah, jika mereka khawatir atas keselamatan
bayinya saja (tidak diri mereka).
• Malikiyah: wajib mengqadha' dan membayar fidyah bagi
orang yang menyusui, dan hanya mengqadha' saja bagi
orang hamil.

5. Lanjut Usia

Berdasarkan ijma' kaum muslimin, seseorang yang lanjut usia


yang sudah tidak mampu lagi untuk berpuasa, baik pada bulan
Ramadhan atau lainnya dibolehkan untuk tidak berpuasa dan
tidak diwajibkan untuk mengqadha'nya melainkan ia harus
membayar fidyah yang diberikan pada orang-orang miskin.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqarah 184. Menurut
Ibnu Abbas, ayat ini menerangkan tentang orang yang sudah
lanjut usia yang sudah tidak mampu lagi berpuasa, maka ia
wajib membayar fidyah kepada satu orang miskin tiap satu hari.

Ketentuan ini juga berlaku bagi orang sakit yang tidak diharap
lagi kesembuhannya, berdasar firman Allah "..dan sekali-kali
Dia (Allah) tidak menjadikan bagi kamu dalam agama suatu
kesempitan." [QS. Al-Hajj 78] Dan bagi mereka yang kira-kira
masih bisa sembuh maka wajib mengqadha' tanpa membayar
fidyah.
Fikih Puasa: Hal-hal Yang Membolehkan Tidak
Berpuasa

6. Lapar dan dahaga yang tak tertahankan lagi.

Seseorang yang tertimpa lapar atau dahaga yang tak


tertahankan lagi, sekiranya jika ia berpuasa akan menemui
kepayahan luar biasa, maka ia boleh membatalkan puasa dan
wajib mengqadha'nya. Bahkan ia wajib membatalkan puasanya
jika menduga akan menemui madharrat sehingga merusak
mekanisme (syaraf) tubuh. Firman Allah: "...dan janganlah
kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan. [QS. Al
Baqarah 195]

7. Dalam keadaan dipaksa

Mayoritas ulama (berbeda dari Syafi'iyah) berpendapat bahwa


seseorang yang dipaksa/diperkosa boleh membatalkan puasanya
dan ia wajib mengqadha'nya. Dan jika ada seorang perempuan
digauli secara paksa atau dalam keadaan tidur, ia (si
perempuan) wajib mengqadha'nya puasanya.

Demikianlah beberapa hal yang memperbolehkan kita untuk


membatalkan puasa.

Ketentuan-ketentuan lain

1. Pekerja berat
Imam Abu Bakar Al-Ajiri mengatakan bahwa jika ia
mengkhawatirkan kondisinya karena pekerjaan berat yang
ia lakukan maka dia boleh tidak berpuasa dan wajib
mengqadha'nya. Namun, mayoritas ulama mengatakan
bahwa mereka tetap wajib berpuasa dan jika ternyata
ditengah hari dia tidak mampu lagi melanjutkan puasanya,
barulah ia membatalkannya dan wajib mengqadha' nya.
Sebagaimana firman Allah "Dan janganlah kamu
membunuh dirimu, karena sesungguhnya Allah Maha
Peenyayang kepadamu." [Surat Annisa 29]

2. Penyelamat seseorang yang tenggelam


Ulama Hanbali mengatakan bahwa ia boleh berbuka dan
tidak wajib membayar fidyah jika tidak mampu menahan
masuknya air, jika ia mampu menahannya maka ia tidak
diperbolehkan berbuka.

Fikih Puasa: Hal-hal Yang Tidak Membatalkan


Berpuasa
HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA

Berikut ini di antara hal-hal yang tidak membatalkan puasa


menurut 4 madzhab, Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan
Hanbaliyah.

A. Madzhab Hanafiyah

1. Makan, minum dan jima' tanpa sengaja (lupa). Seperti


dalam sebuah hadis dari Abi Hurairah berkata: "Barang
siapa yang lupa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa,
makan atau minum maka sempurnakanlah puasanya ..".
Dan dalam sebuah hadis -dha'if- dari Aisyah mengatakan :
"Barang siapa yang berbuka (makan atau minum) pada
siang hari tanpa sengaja (lupa) maka tiada baginya qadla'
dan bayar kafarat". Termasuk di dalamnya jima'. Jika
pada saat itu teringat sedang berpuasa bersegeralah
memberhentikan dari perbuatan makan, minum atau jima',
bila diteruskan batallah puasanya. Wajib hukumnya
mengingatkan oarng yang tidak mampu berpuasa untuk
meninggalkan makan, sebaliknya bila tidak mengingatkan
makruhlah hukumnya.
2. Keluarnya mani dengan hanya melihat atau
mengkhayalkan sesuatu (yang bisa membangkitkan nafsu).
Begitu pula hubungan seksual dengan sesama jenis tidak
membatalkan puasa dengan syarat tidak mengeluarkan air
mani, hanya saja ia dosa besar bagi yang melakukannya.
Adapun orang yang sekedar iseng mengatakan ingin
berbuka tidak haram hukumnya selama ia tidak
melakukannya. Ataupun orang yang mimpi bersetubuh di
siang hari kemudian junub maka tidak juga batal
puasanya.
3. Meneteskan air mata atau bercelak. Karena Rasulullah
pernah bercelak sedangkan beliau puasa.
4. Berbekam. Karena Rasulullah pernah berbekam pada
bulan Muharram dan berbekam dalam keadaan berpuasa.
5. Bersiwak, walau memakai air.
6. Berkumur atau menyedot air melalui hidung, walaupun itu
dilakukan di luar wudhu' dan selagi airnya tidak masuk ke
tenggorokan.
7. Mandi, berenang, berendam dalam air atau memasukkan
sesuatu kedalam telinga untuk membersihkannya.
8. Mengumpat atau memfitnah.
9. Masuknya asap atau debu yang berterbangan (seperti yang
terjadi di tempat penggilingan tepung, tempat-tempat
pembakaran), atau lalat danserangga-serangga yang
berterbangan, atau sisa makanan yang terdapat di dalam
mulut dengan syarat tidak ada kesengajaan.
10. Masuknya air ke telinga karena menolong seseorang
yang tenggelam di sungai, misal, atau mengorek kuping
untuk mengeluarkan kotoran yang ada di dalamnya. Tapi
sebaiknya pekerjaan-pekerjaan tersebut ditinggalkan.
11. Menelan dahak dan menyedot lendir dengan sengaja lalu
menelannya. Namun lebih baiknya tidak melakukan hal
itu.
12.Muntah tanpa sengaja.
13.Menelan sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi.
14.Junub pada siang hari.
15.Suntikan yang langsung ke otot atau kulit atau urat. Tetapi
diutamakan, menyuntiknya setelah sore hari (berbuka).
16.Mencium bau yang harum, wewangian seperti bunga,
mawar, parfum dan lainnya tanpa berlebihan.

B. Madzhab Maliki

1. Muntah tanpa sengaja, dan tak ada sedikitpun muntahan


yang ditelan kembali ke dalam tenggorokan;
2. Masuknya lalat dan nyamuk tanpa sempat untuk
menghindarinya; debu jalanan, juga tepung yang halus
yang berterbangan (seperti jika kita berada di
penggilingan tepung).
3. Menahan air kencing pada tempat saluran air kencing atau
pada lubang kemaluan.
4. Mengoles atau meminyaki perut dengan obat, atau
mengolesi luka apa saja sehingga meresap ke dalam rongga
di tubuh.
5. Menghentikan makan, minum, atau mencabut kemaluan
(saat senggama) hingga terbit fajar.
6. Mengkhayal/melamun/memikirkan (sesuatu yang
membangkitkan syahwat) disertai dengan kemampuan
menahan keluarnya mani atau madzi.
7. Menelan air liur atau menelan sisa makanan yang berada
di sela-sela gigi.
8. Kumur-kumur untuk mengatasi rasa haus (tapi tidak
masuk kedalam tenggorokan), atau bersiwak pada siang
hari dengan niat untuk menyempurnakan tindakan yang
masyruu' seperti wudlu', salat dan pembacaan ayat Al-
Qur'an.
9. Berbekam (tapi hukumnya makruh bagi yang
melakukannya).

C. Madzhab Syafi'iyah

1. Sampainya/masuknya sesuatu ke dalam tenggorokan


tanpa sengaja (lupa), dipaksa.
2. Menelan dahak atau sisa makanan yang terdapat di sela-
sela gigi, atau sesuatu yang sulit dihindari seperti debu
jalanan, serangga yang berterbangan dan lalat.
3. Berbekam. Namun makruh, kecuali ada hajat-hajat
tertentu.
4. Bercelak
5. Berciuman dengan tidak disertai syahwat. Bila disertai
syahwat hukumnya makruh, demikian juga berpelukan.
6. Keluarnya mani tanpa sengaja, walau akibat melihat
sesuatu yang membangkitkan syahwat atau hanya sekedar
berkhayal.
7. Mengunyah sesuatu tanpa ada yang dirasakan dan tidak
masuk sampai tenggorokan.
8. Bersiwak. Tapi hukumnya makruh bila setelah melewati
fajar.
9. Melihat/mendengar/mencium disertai dengan syahwat.

D. Madzhab Hanbaliyah

1. Tertelannya sesuatu yang sulit dihindari seperti ludah,


debu jalanan, tepung yang berterbangan di penggilingan
tepung. Begitu pula jika dengan sengaja mengumpulkan
air ludah kemudian menelannya, selama itu masih di
dalam mulut. Hanya saja, untuk yang terakhir ini,
hukumnya makruh.
2. Berkumur-kumur atau mengeluar-masukkan air pada
hidung, baik saat bersuci (seperti wudhu') atau tidak.
Hanya dimakruhan saja bila itu dilakukan tanpa maksud
tertentu.
3. Mengunyah semacam permen karet yang tidak ada
rasanya.
4. Berciuman, berpegangan (saling meremas), beradu paha
(berlainan jenis) tanpa keluar air mani. Sebab bila
sampai keluar mani, batallah puasanya --wajib
mengqadha' tanpa membayar kafarat.
5. Mengeluarkan air madzi tanpa diiringi syahwat yang
sengaja ditimbulkan lebih dulu.
6. Mengeluarkan darah dengan berbagai sebab: melukai
kulit sendiri atau dilukai orang lain, mimisan
(mengeluarkan darah dari hidung), dan berbekam.
7. Masuknya sesuatu kedalam tenggorokan tanpa disengaja
(lupa), dipaksa, atau sedang dalam keadaan tidur.
8. Makan, minum atau jima' sedangkan ia tidak menyangka
belum masuk fajar, walaupun kenyataannya sudah terbit
fajar. Sesuai firman Allah Swt. di dalam surat Al-Baqarah
ayat 187 yaitu: "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari
bulan Puasa bersenggama dengan isteri-isteri kamu....
dan makan ,munumlah hingga terang bagimu benang
putih dari benang hitam,yaitu fajar..."
9. Muntah tanpa sengaja.
10. Bersiwak.
11. Junub. Tetapi sebaiknya mandi (bersuci) sebelum masuk
fajar.
12.Bercelak atau menangis.
13.Seorang perempuan yang memasukkan ujung jarinya
atau selainnya ke dalam kemaluannya sendiri sehingga
basah (mengeluarkan cairan).

THE ISLAMIC JURISPRUDENCE AND ITS EVIDENCES, Jilid III,


karya Prof. Dr. Wahbah Al Zuhail