Anda di halaman 1dari 74

HARUSLAH KAMU BERSUKARIA:

EKSEGESIS PERINTAH BERSUKARIA DALAM KITAB ULANGAN

SERTA RELEVANSINYA BAGI GEREJA PADA MASA KINI

TESIS

DISERAHKAN KEPADA

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI CIPANAS

UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN

GUNA MEMPEROLEH GELAR MAGISTER DIVINITAS

ANDREA KARUNIA ISKANDAR

030490

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI CIPANAS

2006
HALAMAN PENGESAHAN

TESIS BERJUDUL:
HARUSLAH KAMU BERSUKARIA:
EKSEGESIS PERINTAH BERSUKARIA DALAM KITAB ULANGAN
SERTA RELEVANSINYA BAGI GEREJA PADA MASA KINI

DITULIS OLEH:
ANDREA KARUNIA ISKANDAR
030490

diserahkan untuk memenuhi sebagian persyaratan


memperoleh gelar Magister Divinitas
telah diterima oleh Dewan Dosen Sekolah Tinggi Teologi Cipanas
atas rekomendasi tim penguji

Pembimbing

Pdt. Drs. Yonky Karman, Ph.D. ____________

Penguji

Barnabas Ludji, D.Th. ____________________

Penguji

Pdt. Eddy Paimoen, D.Th. _________________

Ir. Armand Barus, Ph.D.


Puket I. Bidang Akademik

Tanggal 27 April 2006

ii
ABSTRAK

Pemunculan kata “bersukaria” dalam bentuk perintah dan di tengah-tengah


kitab Ulangan yang penuh dengan peraturan menimbulkan suatu tanda tanya, apalagi
kata “bersukaria” itu di luar kitab Ulangan dipakai dalam konteks yang biasa, seperti
berpesta dan bersenang-senang; bukan cuma senang, tapi bersenang-senang.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bersukaria di sini? Dan apa
alasannya? Apakah ini masih berlaku bagi kita sekarang, Gereja masa kini? Jika
masih berlaku, apakah ada evaluasi-evaluasi yang harus Gereja lakukan untuk
menyikapinya?
Tesis ini melakukan eksegesis penggunaan kata xmf (smkh) dalam kitab
Ulangan, membahas makna sukaria dalam kehidupan umat TUHAN. Pembahasan akan
dimulai dengan penyelidikan frase-frase “haruslah kamu bersukaria” dalam masing-
masing konteks perikopnya. Selanjutnya akan ditinjau sejumlah bentuk konkret
ibadah bangsa Israel yang mencerminkan pelaksanaan ketentuan dalam kitab
Ulangan, yaitu sejauh yang dicatat oleh Alkitab Ibrani.
Dari hasil tesis ini diharapkan dapat dilihat apa yang sebenarnya TUHAN
kehendaki dari orang Israel dengan perintah-perintah untuk bersukaria itu dan sejauh
apa serta dengan cara bagaimana kehendak TUHAN itu relevan bagi Gereja saat ini
karena Allah yang mereka sembah adalah juga Allah yang kita sembah.

Kata kunci:
sukaria, bersukaria, Ulangan, sukacita, ibadah.

iii
KATA PENGANTAR

Ajaib segala yang TUHAN perbuat. Ia membuat segala sesuatu indah pada
waktunya. Ia yang telah menuntun penulis dalam perjalanan hidup yang luar biasa,
sebuah petualangan yang penuh dengan kejutan dan gairah, persimpangan-
persimpangan yang tak terduga, belokan-belokan yang membuka kepada dunia yang
benar-benar berbeda. Banyak orang dan banyak peristiwa telah dipakai-Nya dengan
cara yang luar biasa dalam karya-Nya ini.
Kini, tesis berjudul “Haruslah Kamu Bersukaria” telah selesai. Penulis
sendiri mengalami suatu proses pembentukan dan penemuan-penemuan yang
mengejutkan dalam penelitian dan penulisannya. Allah memang penuh dengan
kejutan. Penulis berharap penemuan yang tidak baru ini dapat kembali menyegarkan
kehidupan rohani para pembacanya dengan mengingatkan bahwa kehidupan Kristen
seyogianya adalah sebuah kehidupan yang penuh sukacita, sebuah kehidupan yang
sangat menggairahkan.
Dalam perkuliahan selama tiga tahun dalam program M.Div. Jakarta di STT
Cipanas dan dalam masa penyusunan tesis ini, Allah telah menyediakan orang-orang
yang luar biasa untuk mendukung, mendorong dan menguatkan penulis dan kepada
mereka penulis hendak mengucapkan terima kasih:

A. Keluarga
1. Jafet Iskandar & Wirawaty Iskandar, kedua orang tua penulis yang telah
memberikan kebebasan yang menakjubkan kepada penulis dalam bertualang di
dalam kehidupan ini.
2. Semuil Iskandar & Salome Iskandar, opa dan oma yang begitu mempedulikan
dan senantiasa mendukung dalam doa, hari demi hari.

B. Civitas Academica STT Cipanas


3. Bapak Pdt. Yonky Karman, Ph.D. yang telah mengajar berbagai mata kuliah
berkaitan dengan Perjanjian Lama seraya menyediakan akses kepada literatur
yang demikian luas sehingga memacu semangat penulis dalam mendalami
Perjanjian Lama; yang juga membimbing penulis dalam penulisan tesis ini.
4. Bapak Armand Barus, Ph.D. yang telah sangat suportif dalam proses studi
penulis, sejak perkuliahan, pengajuan proposal tesis hingga proses penyusunan
tesis, selalu menunjukkan kepedulian yang besar.
5. Ibu Ina Hidayat yang dengan sangat serius mencarikan bahan-bahan yang luar
biasa berguna bagi penulis dalam masa kebingungan dan yang juga telah
meluangkan waktunya untuk berdiskusi.
6. Bapak Pdt. Dr. Eddy Paimoen dan Ibu Pdt. Insriatmi Paimoen yang telah
menunjukkan keramahan yang luar biasa, bantuan serta kepedulian yang besar.

iv
7. Ibu Sedihati Gea dan Ibu Liliany Indriati yang dengan caranya masing-masing
telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis dalam proses studi di
Cipanas.

C. Gereja Kristus Ketapang


8. Bpk. Djeffry Hidajat yang acapkali memberikan rujukan, memberikan pinjaman
buku, dan pada saat-saat penulis mengalami kekeringan ide seringkali
memberikan inspirasi yang menyegarkan.
9. Ibu Pntk. Casthelia Kartika yang minat, perhatian, semangat dan perjuangannya
juga telah membantu menguatkan penulis dalam proses studi dan penyusunan
tesis.
10. Bapak Pntk. Martin Elvis dan Ibu Puspa Noviana yang telah memberikan
dukungan moril tanpa bosan-bosannya.
11. Bapak Pdt. Kumala Setiabrata yang telah meluangkan waktunya untuk
mendiskusikan beberapa bagian akhir dari tesis ini.

D. Lain-Lain
12. Bapak Pdt. Paulus Kurnia yang telah mendorong dan menguatkan penulis pada
mulanya untuk mengambil studi M.Div. ini.
13. Gereja Kristus Ketapang yang memberikan dukungan yang tak terkira baik
dalam proses studi maupun penyusunan tesis.
13. Perpustakaan GK Ketapang, Perpustakaan STT Jakarta dan Perpustakaan STT
Cipanas yang menyediakan pelayanan dan literatur yang luar biasa suportif.
14. Ibu Sri Widarti, yang telah memberikan masukan-masukan yang berarti.

E. Para Sahabat
15. Christian Saputra yang senantiasa menunjukkan dukungannya, termasuk juga
menyediakan berbagai sarana yang sangat membantu penyelesaian tesis ini.
16. KTB Opus Dei: Alfin Tjandra, Antony Seno dan Stevanus Kurniawan yang
terus mendukung dan mendoakan sejak awalnya.

Biarlah segala keberadaan kita mendatangkan sukacita bagi Allah, bagi diri
kita sendiri, bagi sesama, sehingga nama Allah dimuliakan. Bersukacitalah di dalam
TUHAN, sebab itulah yang dikehendaki-Nya bagi orang-orang kudus-Nya.

Jakarta, Maret 2006


Bagi Kristus dan bagi Gereja-Nya,

Andrea K. Iskandar

v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. iv

DAFTAR ISTILAH, SINGKATAN DAN AKRONIM .............................................. ix

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1

A. Latar Belakang...................................................................................................... 1

B. Tujuan ................................................................................................................... 3

C. Manfaat ................................................................................................................. 4

D. Perumusan Masalah.............................................................................................. 4

E. Metodologi ............................................................................................................ 4

F. Hipotesis................................................................................................................ 5

BAB II. EKSEGESIS .................................................................................................. 6

A. Kitab Ulangan....................................................................................................... 6

B. “Haruslah Kamu Bersukaria” dalam Kitab Ulangan .......................................... 13

1. Ulangan 12:7 ................................................................................................... 13

2. Ulangan 12:12 ................................................................................................. 13

3. Ulangan 12:18 ................................................................................................. 14

4. Ulangan 14:26 ................................................................................................. 15

5-7. Ulangan 16:11, 14-15 .................................................................................. 16

vi
8. Ulangan 26:11 ................................................................................................. 17

9. Ulangan 27:7 ................................................................................................... 18

C. Persamaan Topikal.............................................................................................. 19

1. Konteks Ibadah dan Hari Raya Bangsa Israel ................................................ 20

2. Motivasi ........................................................................................................... 22

3. Membawa Persembahan.................................................................................. 23

4. “Seisi Rumahmu” ............................................................................................ 25

5. Orang-Orang Lewi .......................................................................................... 27

6. Persembahan Boleh Diuangkan ...................................................................... 27

D. Pembandingan Peraturan-Peraturan pada Kitab Ulangan dengan Peraturan-

Peraturan Serupa pada Kitab Keluaran dan Imamat........................................... 31

E. Bentuk Konkret Sebuah Idealisme...................................................................... 34

BAB III. PERINTAH BERSUKARIA BAGI GEREJA MASA KINI................. 40

A. Kehidupan Kristen.............................................................................................. 40

B. Ibadah Kristen..................................................................................................... 42

C. Sukaria dan Masalah........................................................................................... 45

D. Disiplin Rohani................................................................................................... 47

E. Sukaria dan Dampaknya bagi Sesama ................................................................ 47

BAB IV. PENUTUP .................................................................................................. 50

A. Risalah ................................................................................................................ 50

B. Kesimpulan ......................................................................................................... 52

C. Saran ................................................................................................................... 53

vii
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 55

LAMPIRAN 1. PRAYER TO EVERY GOD............................................................. 57

LAMPIRAN 2. ANGKET .......................................................................................... 59

LAMPIRAN 3. HASIL ANGKET.............................................................................. 62

viii
DAFTAR ISTILAH,

SINGKATAN DAN AKRONIM

Umum, berdasarkan alfabet


ay. ayat
cf. bandingkan dengan
dyb. dan yang berikutnya
etc. et cetera, dan lain-lain
f(f.) dan halaman(-halaman) selanjutnya
hlm. halaman
Ibid. ibidem, di tempat yang baru saja dikutip
i.e. id est, yaitu, dengan kata lain
LAI Lembaga Alkitab Indonesia
loc.cit. loco citato, di tempat yang telah dikutip sebelumnya
NT New Testament
op.cit. opere citato / opus citato,
dalam karya yang telah dikutip sebelumnya
OT Old Testament
PB Perjanjian Baru
PL Perjanjian Lama
p(p). halaman(-halaman)
SM Sebelum Masehi

Buku-Buku Rujukan, berdasarkan alfabet


ISBE International Standard Bible Encyclopedia
NICOT New International Commentary of the Old Testament
TOTC Tyndale Old Testament Commentaries
TWOT Theological Wordbook of the Old Testament
WBC Word Biblical Commentary

Versi-Versi Alkitab, berdasarkan alfabet


BHS Biblia Hebraica Stuttgartensia
BIMK Bahasa Indonesia Masa Kini
TNK Tanakh, terbitan Jewish Publication Society
KJV King James Version
NASB New American Standard Bible
TB Terjemahan Baru

Catatan: rujukan ayat-ayat dalam tesis ini diambil dari TB, kecuali dinyatakan lain –
dalam kasus mana versi yang dirujuk akan disebutkan.

ix
Buku-Buku dalam Alkitab, berdasarkan urutannya di dalam Alkitab
Kej. Kejadian
Kel. / Exod. Keluaran / Exodus
Im. Imamat
Bil. Bilangan
Ul./Deut. Ulangan / Deuteronomy
1Sam. 1 Samuel
2Sam. 2 Samuel
1Raj. / 1Ki. 1 Raja-Raja / 1 Kings
2Raj. / 2Ki. 2 Raja-Raja / 2 Kings
1Taw. 1 Tawarikh
2Taw. 2 Tawarikh
Ezr. Ezra
Neh. Nehemia
Mzm. Mazmur
Ams. Amsal
Pkh. Pengkhotbah
Mat. Matius
Luk. Lukas
Rm. Roma
1Kor. 1 Korintus
Gal. Galatia
Ef. Efesus
Flp. Filipi
1Tim. 1 Timotius
Ibr. Ibrani

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Alkitab Ibrani, kata xmf muncul 177 kali. Dalam Alkitab bahasa

Indonesia (LAI, 1974), kata tersebut dan berbagai turunannya diterjemahkan sebagai

"bersukaria(lah)", "bersukacita(lah)", "menyukakan (hati)", "hati riang",

"(meng)gembira(kan)", "(bercahaya) gemilang", "(muka) berseri-seri", "bersorak-

sorai", "senang". Dari semua terjemahan itu dapat ditangkap makna yang koheren

yang disarikan oleh Gesenius sebagai (hlm. 791, lema 8055 sesuai nomor Strong):

TO REJOICE, TO BE GLAD. (The primary idea appears to be that of a joyful and cheerful
countenance, Prov. 13:9 … to be clement, liberal, mild … but its use is more widely
extended, and it is even used for louder expressions of joy, as of those who make
merry with wine, 1 Ki. 4:20; Ecc. 8:15; and who utter merry cries ….)

dan oleh TWOT sebagai (hlm. 879, lema 2268):

… denotes being glad or joyful with the whole disposition as indicated by its
association with the heart …, the soul …; and with the lighting up of the eyes ….

Alasan atas tindakan bersukaria itu beragam: tindakan Allah, berkat Allah

atas jerih-payah yang telah dilakukan sehingga panen berhasil, karena terpilihnya

seorang raja, karena kemenangan Israel dalam peperangan, karena kalah/matinya

orang yang menentang Allah, karena anggur (yang menyebabkan kesenangan dengan

memabukkan, dan juga mampu membuat wajah orang berseri-seri).

1
xmf juga digunakan dalam mengungkapkan perasaan bangsa Israel yang
telah memperbarui perjanjian dengan Allah, perasaan orang yang hadir di hadirat

Allah, perasaan seorang istri yang semula mandul tetapi kemudian mengandung dan

melahirkan, perasaan seorang ayah yang memiliki anak yang bijak, perasaan seorang

yang panjang umurnya.

Bentuk pengungkapan sukaria tidak dinyatakan di dalam kitab Ulangan,

tetapi di luar kitab Ulangan dijumpai bahwa sukacita itu antara lain bisa terjadi di

dalam hati (Kel. 4:14), diungkapkan melalui doa (1Sam. 2:1), sorak-sorai dengan

gegap-gempita sambil membunyikan alat-alat musik (1Raj. 1:40, 2Raj. 11:14, 2Taw.

23:13), dan mempersembahkan kurban (1Sam. 6:13, Neh. 12:43).

Tetapi di dalam kitab Ulangan, dari 11 penggunaan xmf, 9 di antaranya

digunakan dalam konteks hari raya dengan ibadah yang terpusat sedangkan dua yang

lainnya dalam konteks peraturan pengecualian seorang pria yang baru menikah dari

wajib-militer dan pemberian berkat oleh Musa kepada Zebulon dan Naftali.

Kesembilan pemunculan itu dalam bahasa Indonesia lebih-kurang diterjemahkan

sebagai "haruslah kamu bersukaria". Satu-satunya bentuk yang demikian digunakan

di luar kitab Ulangan adalah dalam Imamat 23:40 yang juga membahas hari-hari raya

dan bisa diparalelkan dengan Ulangan 16:14-15.

Apa kaitan yang demikian erat antara sukaria jemaat dengan ibadah hari raya

Israel? Sebegitu pentingnya jemaat bersukaria sehingga jemaat diperintahkan untuk

bersukaria. Hal ini lebih mengejutkan lagi karena kita menemukan kaitan yang erat

antara ibadah dan sukaria di tengah-tengah kitab Ulangan yang lazim dipandang

2
sebagai kitab yang menjemukan dan mendatangkan kerutan di dahi – bukan sebuah

kitab yang diasosiasikan dengan sukaria. Carmichael menuliskan,

One of the most noteworthy is the recurring command in the sacrificial and feast laws,
"And thou shalt rejoice" (xii. 7, 12, 18, xiv. 26, etc.). Nothing could be further from a
formal legal embodying a penalty for failure to observe it.1

Penulis tidak menemukan suatu tulisan yang membahas secara spesifik kata

xmf maupun mengenai bersukaria dalam keunikannya di kitab Ulangan. Tulisan


yang mendekati topik yang hendak dibahas adalah artikel Daniel I. Block dalam

Bibliotheca Sacra Vol. 162 (tahun 2005), no. 645 – 648, tetapi terutama dalam bagian

pertama yang dimuat di no. 645, “The Grace of Torah: The Mosaic Prescription for

Life (Deut. 4:1-8; 6:20-25)”. Studi literatur lainnya memberikan konteks, baik secara

teologis maupun sosiologis.

B. Tujuan

Tesis ini bermaksud membahas makna sukaria dalam kehidupan umat

TUHAN sebagaimana dimaksudkan dalam kesepuluh ayat di atas, dengan memusatkan

perhatian pada kitab Ulangan karena sembilan dari sepuluh ayat di atas ada dalam

kitab Ulangan dan Imamat 23:40 bisa diparalelkan dengan Ulangan 16:14-15.

Pembahasan akan dimulai dengan penyelidikan frase-frase “haruslah kamu

bersukaria” dalam masing-masing konteks perikopnya. Selanjutnya akan ditinjau

sejumlah bentuk konkret ibadah bangsa Israel yang mencerminkan pelaksanaan

ketentuan dalam kitab Ulangan, yaitu sejauh yang dicatat oleh Alkitab Ibrani.

1
Calum M. Carmichael, The Laws of Deuteronomy (Ithaca: Cornell University Press, 1974), 34.

3
Hasil penyelidikan itu akan dibandingkan dengan sikap Gereja pada masa

Perjanjian Baru dan diharapkan didapatkan suatu tuntunan bagi Gereja di masa kini

untuk hidup dan beribadah sesuai kehendak TUHAN.

C. Manfaat

Dari hasil tesis ini diharapkan dapat dilihat apa yang sebenarnya TUHAN

kehendaki dari orang Israel dengan perintah-perintah untuk bersukaria itu dan sejauh

apa serta dengan cara bagaimana kehendak TUHAN itu relevan bagi Gereja saat ini

karena Allah yang mereka sembah adalah juga Allah yang kita sembah.

D. Perumusan Masalah

Pemunculan kata “bersukaria” dalam bentuk perintah dan di tengah-tengah

kitab Ulangan yang penuh dengan peraturan menimbulkan suatu tanda tanya, apalagi

kata “bersukaria” itu di luar kitab Ulangan dipakai dalam konteks yang biasa, seperti

berpesta dan bersenang-senang; bukan cuma senang, tapi bersenang-senang.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bersukaria di sini? Dan apa

alasannya? Apakah perintah ini masih relevan bagi kita sekarang, Gereja masa kini?

Jika masih relevan, apakah ada evaluasi-evaluasi yang harus Gereja lakukan untuk

menyikapinya?

E. Metodologi

Penulisan tesis akan didasari pada eksegesis dan studi literatur.

4
F. Hipotesis

TUHAN menghendaki umat Israel beribadah hanya di satu tempat, hanya

kepada Dia, dan ibadah itu haruslah ibadah yang memancar dari hati yang sungguh-

sungguh hendak menyenangkan TUHAN, bukan yang muncul dari rasa takut apalagi

rutinitas belaka.

5
BAB II

EKSEGESIS

A. Kitab Ulangan

Sejak disertasi doktoral W.M.L. de Wette di tahun 1805, analisis literatur

atas Pentateukh memulai suatu era baru.2 Vriezen menuliskan3 pandangan yang

dipicu oleh pemikiran de Wette bahwa kitab Ulangan ditulis pada abad ke-7 SM,

sebelum zaman Raja Yosia, mungkin pada masa pemerintahan Raja Manasye sebagai

dampak dari upaya-upaya pembaruan kehidupan rohani – yang telah mengalami

kemunduran yang luar biasa – sejak zaman Raja Hizkia. Sekelompok orang saleh

dengan bimbingan beberapa orang imam menulis dan merevisi naskah yang kini kita

sebut kitab Ulangan ini. Selanjutnya,

Dokumen Kitab Ulangan itu ... dibawa ke Bait Suci dan ditaruh di sana sebagai suatu
persembahan dalam kotak-kotak persembahan, disertai harapan bahwa di kemudian
hari kitab itu akan ditemukan dan akan berpengaruh. Justru itulah yang terjadi. Pada
tahun 621 (yaitu menjelang masa pemerintahan Yosia), Bait Suci diperbaiki. Sehingga
pada waktu itu Kitab Ulangan ditemukan dan disambut sebagai kitab hukum yang
merupakan standar Yahwisme, dengan status resmi ....4

Itulah yang dikenal sebagai Reformasi Yosia yang kita temukan dalam 2Raj. 22-23.

2
Duane L. Christensen, Deuteronomy 1:1 – 21:9 (WBC 6A; rev.; Nashville: Thomas Nelson
Publishers, 2001), lxviii dan Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy (NICOT; Grand Rapids:
Eerdmands, 1976), 73.
3
Th.C. Vriezen, Agama Israel Kuno (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 247-253. Diterjemahkan
dari De godsdienst van Israël (Arnhem: W. De Haan, 1963).
4
Op.cit., 249.

6
Dalam tradisi yang sama, von Rad menuliskan kondisi sosial yang

menurutnya melatarbelakangi kitab Ulangan,

[Israel then] has a king and a graded civil service; economically its life is no longer the
patriarchal, but it has entered upon the stage of an economy based on currency, with all
its perilous consequences; it knows the prophets, and has indeed already had
unpleasant experiences with these men; and so on. ... In the later regal period its whole
5
religious and political life had been called in question; is it then still Jahweh's people?

Memang diakui bahwa kitab Ulangan pernah mengalami revisi dan pasti

pernah diredaksi ulang karena adanya perbedaan kata ganti orang kedua – antara

“engkau” yang tunggal dan “kamu” yang jamak – yang disebut Numeruswechsel.

Tetapi Christensen6 menyatakan bahwa “the new approach tended to find unity in the

text in spite of the apparent diversity in surface form ....” Pendapat ini senada dengan

Craigie7 yang menyatakan:

Hence, while in principle Josiah’s reformation is not in conflict with Deuteronomy, it


is difficult to provide an explanation for the reference to Mount Ebal and Mount
Gerizim, if Deuteronomy is believed to be a seventh-century composition, designed in
part to promote centralization of worship in Jerusalem.

Banyak sarjana yang walaupun berpendapat kitab Ulangan ditulis pada abad

ke-7 SM tidak menolak kemungkinan bahwa banyak di antara bahan-bahan yang

dikandung Ulangan telah ditulis lama sebelumnya. Jadi, penanggalan abad ke-7 SM

untuk kitab Ulangan bukanlah penulisannya dari nol melainkan lebih merupakan

pengumpulan naskah-naskah yang sudah ada dan penyusunan redaksinya menjadi

satu buku. Dalam studi yang berkembang belakangan ini, Ulangan dipandang sebagai

5
Gerhard von Rad, Studies in Deuteronomy (Chicago: Henry Regnery Company, 1953), 70.
6
Christensen, op.cit., lxix.
7
Craigie, op.cit., 49.

7
suatu penggabungan karya-karya yang jauh lebih tua, yang dilakukan di sekitar abad

ke-7 SM.8

Bagi para sarjana yang menyetujui pandangan bahwa Ulangan ditulis pada

abad ke-7 SM, alasan di balik penulisan kitab ini adalah sebagai suatu wujud

idealisme sejumlah orang yang rindu melihat pemulihan kehidupan sosio-religius

Israel. Di tengah-tengah kebejatan bangsa mereka, mereka mengharapkan adanya

pembaruan, kembali ke “zaman normal”, ketika TUHAN dikasihi dengan segenap hati,

jiwa dan tenaga (Ul. 6:5). Tulisan-tulisan mereka, yang kini kita sebut kitab Ulangan,

adalah gambaran dari idealisme itu.

Para sarjana yang menyetujui pandangan bahwa Ulangan ditulis sesuai

tradisi, yaitu sebelum bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, pada akhir masa

kepemimpinan Musa, juga dapat melihat isi kitab ini sebagai sebuah idealisme yang

dicita-citakan. Ketika Israel berada di ambang dari dua periode besar – peralihan dari

masyarakat nomaden ke masyarakat yang menetap, ketika mereka berada di ambang

peralihan kebudayaan dan struktur sosial yang menanti di hadapan mereka dan jelas

akan ada banyak tantangan untuk tetap setia kepada TUHAN di tengah-tengah

ketersediaan berbagai alternatif dewa untuk disembah, Israel ditantang untuk memilih

kehidupan (Ul. 30:19). Kitab Ulangan menyodorkan dua pilihan bagi mereka:

kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk; dan mereka diharapkan memilih

kehidupan – dan berkat pun akan mengikuti kehidupan. Ini adalah gambaran hitam-

putih masa depan mereka, suatu idealisme bagi kehidupan yang lebih baik di tanah

perjanjian.

8
Ibid., 73.

8
Jadi, analisis dan persetujuan terhadap waktu penulisan kitab Ulangan

kurang berpengaruh bagi penelitian bentuk ibadah bangsa Israel sebagaimana akan

dibahas dalam tesis ini, sebab keduanya memandang bentuk ibadah itu terutama

sebagai ibadah yang ideal, bukan sebagai gambaran dari ibadah yang nyata, yaitu

ibadah yang sudah berlangsung karena dalam Ul. 12:8 orang Israel dinasihati untuk

tidak lagi meneruskan kebiasaan mereka dalam beribadah yang selama ini telah

terbentuk, yaitu setiap orang berbuat sesuka hatinya.

Dalam kaitannya dengan Reformasi Yosia, analisis atas kitab Ulangan pun

tidak perlu memperhitungkan 2Raj. 22 dan 23 dengan sangat mendalam karena

kalaupun benar kitab Ulangan ditulis pada masa itu, reformasi tersebut baru mulai

bergulir dan belum memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan sosio-religius

Israel sedangkan ketika Raja Yosia gugur di medan perang 12 tahun berikutnya pun

kita masih melihat masih ada upaya perjuangan untuk mewujudnyatakan reformasi

tersebut.

Dalam pandangan yang demikian, Christensen juga mengutarakan bahwa

kitab Ulangan, walaupun berisi serangkaian hukum dan ketetapan, bukanlah kitab

undang-undang, melainkan buku pengajaran dan pendidikan yang juga mewakili

suatu upaya pendidikan keagamaan yang sangat komprehensif dari suatu masa yang

sangat awal dalam sejarah Israel maupun sejarah manusia. Nuansa pelajaran itu

sendiri dapat kita jumpai antara lain pada Ul. 4:1, 5, 10, 14; Ul. 5:1, 6:1, 7; 8:5; dan

Ul. 31:12, 13, 19.

9
Christensen9 memandang kitab Ulangan sebagai rangkaian tiga pidato Musa

yang diikuti tiga apendiks singkat. Ketiga pidato itu adalah 1:1 – 4:43 yang mengulas

balik perjalanan bangsa Israel dari Gunung Horeb hingga tiba di Moab; 4:44 – 26:19,

yang merupakan bagian utama dan terbesar dari kitab ini dengan isi peraturan-

peraturan moral dan kemasyarakatan; serta 27:1 – 31:30 yang berisi ucapan-ucapan

berkat dan kutuk serta pembaruan perjanjian dengan Allah yang diikuti inaugurasi

Yosua sebagai pengganti Musa. Ketiga apendiks yang mengikuti ketiga pidato

masing-masing adalah pasal 32, pasal 33 dan pasal 34 yang berturut-turut berisi

nyanyian Musa, berkat Musa kepada kedua belas suku Israel dan narasi kematian

Musa. Beliau juga menunjukkan bagaimana Niehauss (1997, 537) berbeda sedikit

dengan menganut pandangan J.A. Thompson10 bahwa pembagian ketiga pidato di

awal adalah 1:4 – 3:29; 4:1 – 28:68 dan 29:1 – 30:20.

Ada sejumlah pandangan lain yang berbeda dalam detail pembagian struktur

kitab Ulangan, misalnya Craigie yang memandang 29:1 – 30:20 sebagai pidato

penutup Musa untuk memanggil dan menantang bangsa Israel tetap setia kepada

Allah dan 31:1 – 34:12 sebagai satu kesatuan peralihan kepemimpinan bangsa Israel

dari Musa kepada Yosua; juga Weinfeld yang membagi struktur utama kitab Ulangan

menjadi jauh lebih kompleks dengan penstrukturan yang mendetail atas pola

perjanjian suzerain-vassal milenium kedua sebelum Masehi. Tetapi nampaknya tidak

ada penulis yang tidak menyetujui bahwa bagian utama dari kitab Ulangan

mengandung narasi 5:1 – 26:19.

9
Christensen, op.cit., lvii.
10
J.A. Thompson, Deuteronomy (TOTC; London: Inter-Varsity, 1974).

10
Dengan pembagian di atas maka kita menjumpai delapan dari sembilan ayat

yang mengandung perintah bersukaria terdapat dalam bagian utama kitab Ulangan

dengan satu yang terakhir pada bagian penutup, yaitu pengukuhan kembali perjanjian

Allah dengan umat-Nya sebelum mereka memasuki tanah perjanjian.

Apa pentingnya pengulangan ini – hingga sembilan kali – dan mengapa ada

demikian banyak pengulangan?

Brent A. Strawn mengutip Bruce F. Kawin, menyatakan bahwa berbeda

dengan pandangan populer modern bahwa pengulangan-pengulangan menunjukkan

buruknya kualitas suatu orasi, dalam naskah-naskah kuno kita menemukan bahwa

pengulangan-pengulangan adalah suatu hal yang dibutuhkan untuk menunjukkan

penekanan atas pesan-pesan utama yang hendak disampaikan. Analogi yang

digunakan Strawn adalah bagai seorang pembela di pengadilan yang tidak bisa

mengandalkan kemampuan hakim untuk mencerna dan memahami argumennya,

tetapi harus memaksakan pemahaman itu demi kepentingan kliennya, demikian pula

pengulangan-pengulangan yang kita temui dalam kitab Ulangan.

Kawin11 menunjukkan ada tiga macam pengulangan:

1. pengulangan destruktif, yang cenderung menghancurkan argumentasi;

2. pengulangan yang menekankan dan membangun makna dalam setiap

pemunculannya, satu makna di atas makna lain yang telah ada, mengikat

perhatian pembaca/pendengar dan mematri pesan yang hendak disampaikan

dengan baik;

11
Bruce F. Kawin, Telling It Again and Again: Repetition in Literature and Film (Boulder: University
Press of Colorado, 1989), 181.

11
3. pengulangan transenden yang selain mengingatkan juga memberikan makna

baru pada setiap pemunculannya sehingga pemahaman pembaca/pendengar

diperkaya dan dengan demikian pada akhirnya pembaca/pendengar memiliki

suatu pemahaman yang melampaui makna yang didapatnya dari masing-masing

pemunculan.

Menurut Strawn12, pengulangan-pengulangan yang ditemukan dalam kitab

Ulangan adalah pengulangan-pengulangan jenis kedua dan ketiga sehingga perlu

diperhatikan dengan seksama.

Di dalam kitab Ulangan kita banyak menjumpai pengulangan, walaupun

tidak persis kata demi kata, tetapi banyak frase maupun klausa yang diulang dengan

makna yang serupa dan dengan mudah dapat dikenali ketika dibaca/didengar.

Pengulangan-pengulangan tersebut, dalam konteks tesis ini, dijumpai baik dalam

pemunculan perintah untuk “bersukaria” maupun dalam motivasi-motivasi yang

diajukan untuk bersukaria.

Semua penggunaan perintah bersukaria terdapat dalam konteks ibadah hari

raya. Tetapi ada beberapa faktor lain yang mengerubungi perintah ini: subyek-subyek

lain yang diperintahkan untuk bersukaria bersama-sama, pihak-pihak ketiga yang

harus dilibatkan dalam bersukaria, motivasi dan tujuan untuk bersukaria serta

beberapa varian minor lainnya. Keragaman-keragaman tersebut kini akan diselidiki

satu per satu.

12
Brent A. Strawn, "Keep/Observe/Do – Carefully – Today! The Rhetoric of Repetition in
Deuteronomy" dalam A God So Near, diedit oleh Brent A. Strawn & Nancy R. Bowen (Winona Lake:
Eisenbrauns, 2003), 221-224.

12
B. “Haruslah Kamu Bersukaria” dalam Kitab Ulangan

1. Ulangan 12:7

Konteks ayat ini adalah satu tempat ibadah. Setelah umat Israel memasuki

“negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyang [mereka]” (ay. 1), mereka harus

memusnahkan sama sekali tempat-tempat ibadah yang digunakan oleh bangsa-bangsa

yang daerahnya mereka duduki – segala bentuk ibadah bangsa-bangsa itu harus

dijauhi oleh bangsa Israel dan hanya kepada TUHAN saja mereka boleh beribadah.

Ibadah itu pun hanya boleh dilakukan di tempat (~AqM'h,; bentuk tunggal) yang

TUHAN akan pilih.

Kegiatan yang dilakukan adalah membawa kurban bakaran dan kurban

sembelihan, persembahan persepuluhan dan persembahan khusus, kurban nazar dan

kurban sukarela, serta anak-anak sulung lembu sapi dan kambing domba (ay. 6).

Perintah ini ditujukan kepada orang kedua jamak (“kamu”) dengan subyek-

subyek lainnya yang diikutsertakan adalah “seisi rumahmu”.

Alasan yang diajukan adalah “karena dalam segala usahamu engkau

diberkati oleh TUHAN, Allahmu.”

2. Ulangan 12:12

Paragraf pertama dari pasal 12, yaitu ayat 1-7, bertolak dari suatu perintah

untuk melakukan (“harus kamu lakukan”, ay. 1) tindakan peniadaan kebiasaan yang

dimiliki bangsa-bangsa pendahulu Israel di tanah yang akan mereka tempati hingga

13
berakhir pada perintah untuk membawa persembahan kepada TUHAN dan bersukaria.

Paragraf yang kedua, yaitu ayat 8-12, bertolak dari perintah untuk tidak melakukan

(“jangan kamu melakukan”, ay. 8) berbagai tindakan yang hingga saat itu telah

menjadi kebiasaan mereka. Tindakan-tindakan sporadis yang telah menjadi kebiasaan

mereka hingga saat itu harus dihentikan ketika mereka masuk ke “tempat perhentian

dan ke milik pusaka” yang akan mereka terima dari TUHAN.

Kegiatan yang harus dilakukan adalah membawa “semuanya yang [Musa]

perintahkan” (ay. 11), yakni kurban bakaran dan kurban sembelihan, persembahan

persepuluhan dan persembahan khusus dan segala kurban nazar yang terpilih.

Perintah ini masih ditujukan kepada orang kedua jamak (“kamu”) beserta

“anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu

perempuan” yang masih mencerminkan “seisi rumahmu” yang dijumpai di ayat 7,

namun dengan tambahan “dan orang Lewi yang di dalam tempatmu”.

Alasan yang diajukan untuk membawa semua persembahan itu dan

bersukaria adalah TUHAN telah memberikan negeri untuk dimiliki, mengaruniakan

keamanan dan ketenteraman (ay. 10). Alasan dalam mengikutsertakan orang Lewi

adalah “sebab orang Lewi tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama kamu”

(ay. 12).

3. Ulangan 12:18

Mulai ayat 13, “kamu” berubah menjadi “engkau” (orang kedua tunggal);

demikian pula partikel “-mu” sebenarnya memiliki arti orang kedua tunggal.

Perhatian kini semakin terfokus dicurahkan kepada tempat mengadakan ritual

14
persembahan. Penyembelihan hewan untuk dimakan diatur cukup leluasa; boleh

dilakukan di mana saja, demikian pula najis/tahirnya orang tidak mempengaruhi hak

memakan daging sembelihan.

Tetapi persembahan, yang di sini dijabarkan dengan lebih dirinci lagi –

persembahan persepuluhan dari gandum, anggur dan minyak, dari anak-anak sulung

lembu sapi dan kambing domba, kurban nazar, kurban sukarela dan persembahan

khusus (ay. 17) – hanya boleh dimakan “di hadapan TUHAN ... di tempat yang akan

dipilih TUHAN” (ay. 18). Penekanan pada ayat ini adalah “di hadapan TUHAN,

Allahmu, haruslah engkau memakannya”.

Perintah ini kemudian dijabarkan lagi dalam ayat 20-28, di mana dikatakan

di ayat 27 “darah [kurban] sembelihanmu haruslah dicurahkan ke atas mezbah

TUHAN, Allahmu, tetapi dagingnya boleh kaumakan.”

Perintah ini ditujukan kepada “engkau ini, anakmu laki-laki dan anakmu

perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di

dalam tempatmu”. Di ayat 19 juga ditekankan kembali untuk tidak sekali-kali

mengabaikan kesejahteraan orang Lewi.

Motivasi yang diberikan adalah TUHAN kelak akan meluaskan “daerahmu”

(orang kedua tunggal).

4. Ulangan 14:26

Perikop 14:22-29 membahas persembahan persepuluhan. Persembahan itu

harus diberikan dari segala hasil tanah dan dipersembahkan secara tahunan. Perincian

persembahan di sini (ay. 23) sama dengan perincian sebelumnya pada 12:17. Perintah

15
ini ditujukan kepada “engkau dan seisi rumahmu” seperti sebelumnya, juga dengan

perintah untuk mengingat “orang Lewi yang diam di dalam tempatmu” (ay. 27).

Yang berbeda adalah: pertama, persembahan persepuluhan boleh diuangkan.

Ini merupakan sesuatu yang baru. Demi kepraktisan, orang Israel cukup membawa

uang hasil penjualan hewan kurban maupun hasil bumi yang dimaksudkan sebagai

persembahan untuk menempuh perjalanan jauh dan setibanya di “tempat yang akan

dipilih oleh TUHAN” ia boleh membelanjakan uang itu untuk apa pun “yang diingini

hatimu”, termasuk “anggur atau minuman yang memabukkan” agar ia dan seisi

rumahnya dapat bersukaria di hadapan TUHAN!

Kedua, setiap tahun ketiga dan tahun keenam dari siklus tujuh tahunan13

orang Israel tidak perlu membawa persembahan persepuluhannya ke tempat-tunggal

yang TUHAN pilih karena persembahan pada tahun-tahun itu dikhususkan untuk

“orang Lewi ... orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu” agar

mereka “datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati

engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu.”

5-7. Ulangan 16:11, 14-15

Ulangan 16:1-17 membicarakan tiga hari raya utama, ayat 1-8 hari raya

Paskah, ayat 9-12 hari raya Tujuh Minggu dan ayat 13-15 hari raya Pondok Daun

dengan ayat 16-17 meringkaskan kewajiban orang laki-laki Israel untuk menghadap

TUHAN tiga kali dalam setahun: pada hari raya Roti Tidak Beragi (yang

merangkaikan hari raya Paskah), hari raya Tujuh Minggu dan hari raya Pondok Daun.

13
Christensen, op.cit., 305.

16
Kurban Paskah dipersembahkan saat Matahari terbenam, sehingga tidak ada

perintah untuk bersukaria. Perintah itu muncul pada perayaan Tujuh Minggu dan

Pondok Daun. Ayat 11 dan 14 sendiri tidak mengandung suatu elemen yang baru;

ayat ini menggabungkan semua subyek perintah untuk “bersukaria”: dari anak,

hamba, orang Lewi, hingga orang asing, anak yatim dan janda.

Hal yang baru ditemukan pada ayat 12 sebagai motivator: karena dulu

“engkau budak di Mesir” dan pada ayat 15, bahwa TUHAN akan bertindak sedemikian

rupa sehingga orang Israel “dapat bersukaria dengan sungguh-sungguh” (cetak-

miring ditambahkan).

8. Ulangan 26:11

Menjelang penghujung bagian utama peraturan-peraturan dalam kitab

Ulangan, kembali hal persembahan dibahas. Ulangan 26:1-15 mengulas ibadah-

ibadah pertama yang orang Israel harus lakukan sesudah mereka masuk ke tanah

perjanjian, disertai pengakuan iman yang harus mereka ucapkan saat

mempersembahkan kurban mereka yang pertama (ay. 5-10).

Perintah untuk bersukaria mengikuti rumusan pengakuan iman dan tata cara

penyerahan kurban kepada TUHAN. Dalam ayat 11, yang diperintahkan untuk

bersukaria bukan lagi “engkau” semata melainkan “engkau, orang Lewi dan orang

asing yang ada di tengah-tengahmu” harus bersukaria karena TUHAN telah

memberkati “seisi rumah”.

17
9. Ulangan 27:7

Ulangan 27 kembali menggunakan “engkau” dan “kamu” bergantian,

mengantar bangsa Israel menuju pengukuhan perjanjian antara TUHAN dan mereka

sebagai satu bangsa (ay. 9). Ulangan 27:1-10 berisi perintah untuk mendirikan

mezbah batu yang pertama-tama orang Israel harus dirikan sesudah menyeberangi

sungai Yordan, mempersembahkan kurban bakaran serta “memakannya di sana dan

bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu”.

Ulangan 26 dan 27 menjabarkan hal-hal yang bangsa Israel harus lakukan

pertama kali mereka memasuki tanah perjanjian.14 Maka perintah-perintah yang telah

diulas di atas dari Ulangan 26:11 dan 27:7 merupakan perintah yang bersifat khusus

untuk satu kali perayaan. Perintah-perintah itu hanya mencerminkan dan menegaskan

perintah-perintah yang lebih bersifat deskriptif yang telah dibahas lebih dahulu

sebelumnya, yang didapati dalam pasal 12, 14 dan 16. Sekurang-kurangnya dapat

dipandang bahwa penekanan pada pasal 26 dan 27 berarti perintah-perintah yang

telah diberikan sebelumnya telah efektif berlaku segera sesudah orang Israel masuk

ke tanah perjanjian, bukan setelah mereka berhasil menaklukkan seluruh daerah itu,

bukan juga setelah panen mereka yang pertama – tidak ada alasan bagi penundaan.

Juga tidak ada suatu elemen baru pun yang didapati dalam kedua ayat ini beserta

perikop-konteksnya masing-masing. Karena itu Ulangan 26:11 dan 27:7 tidak akan

dibahas lebih lanjut. Perhatian akan difokuskan pada pembahasan ayat-ayat yang

dijumpai dalam pasal 12, 14, dan 16.

14
Craigie, op.cit., 319.

18
Namun sebelumnya ada baiknya diperhatikan bahwa perintah untuk

bersukaria – perintah untuk beribadah – pada pasal 12, 14, dan 16, mendahului

peraturan dan ketetapan dalam kehidupan bermasyarakat yang mengikutinya hingga

pasal 25. Pada pasal 26 dan 27 kembali perintah-perintah ini muncul mengawali

bagian penutup dari perintah-perintah dan mengawali ajakan kepada bangsa Israel

untuk mulai bergerak mengokohkan kembali perjanjian dengan TUHAN dan

menduduki tanah perjanjian. Ibadah kepada TUHAN dipandang sebagai suatu hal yang

amat penting, menjadi koridor dan mendahului semua hubungan sosial-

kemasyarakatan dan ibadah itu juga merupakan pengikat hubungan komunal di antara

umat Israel.

C. Persamaan Topikal

Kini dapat diringkaskan sejumlah elemen yang sama-sama dimiliki oleh

(a) Ul. 12:7


(b) Ul. 12:12
(c) Ul. 12:18
(d) Ul. 14:26 dan
(e) Ul. 16:11, 14-15.

Ketujuh ayat tersebut akan diperlakukan sebagai lima unit demikian. Berikut adalah

elemen-elemen bersama yang dimiliki semua unit tersebut:

1. konteks ibadah dan hari raya bangsa Israel


2. setiap perintah disertai alasan atau motivasi
3. ada persembahan yang harus dibawa
4. perintah ditujukan kepada orang Israel dan seisi rumahnya

19
Sedangkan berikut adalah elemen-elemen yang hanya muncul pada sebagian dari

kelima unit tersebut

5. pengikutsertaan orang Lewi


6. persembahan boleh diuangkan

Berikutnya akan ditinjau masing-masing dari elemen-elemen tersebut.

1. Konteks Ibadah dan Hari Raya Bangsa Israel

Ulangan 12:1-7 dan 12:8-12 saling melengkapi dalam memberikan

“ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan” (ay. 1) dan “jangan kamu

lakukan” (ay. 8). Perintah-perintah ini menyatakan suatu sikap yang harus berubah

sepenuhnya dari sikap mereka selama hidup dalam pengembaraan. Orang-orang ini

adalah orang-orang yang dilahirkan di padang gurun dan telah banyak melihat

praktek-praktek kehidupan beragama bangsa-bangsa lain.15 Ketika mereka kelak akan

hidup menetap, tentu praktek kehidupan beragama itu juga akan mengalami perubah-

an. Ada yang harus ditanggalkan, ada yang harus dihindari dan dengan seksama Israel

harus mematuhinya agar mereka hidup dan memiliki keadaan yang baik di negeri

yang TUHAN akan karuniakan kepada mereka serta agar mereka memiliki umur yang

panjang untuk menikmatinya (Ul. 4:1; 5:33; 6:2, 24; 8:1; 10:12-13).

Hukum-hukum yang diberikan ini adalah hukum-hukum yang akan berlaku

efektif pada saat bangsa Israel memasuki tanah perjanjian. Kepada mereka

diperhadapkan pilihan antara kehidupan dan kematian, antara berkat dan kutuk

15
Cf. von Rad, op.cit., 70.

20
(30:19-20; 32:47). Kehidupan mereka di kemudian hari akan bergantung pada

bagaimana mereka memenuhi tuntutan hukum-hukum ini.16

Kenapa bersukaria? Selain alasan-alasan yang telah diajukan di atas

sehubungan dengan pemeliharaan TUHAN, ternyata “sukaria” dalam konteks ibadah

adalah suatu hal yang sungguh-sungguh luar biasa bagi masyarakat pada masa itu.

Daniel Block dalam artikelnya The Grace of Torah (2005, 9-12) menunjukkan bahwa

motivasi tertinggi dalam kitab Ulangan adalah “supaya kamu hidup” (4:1) dengan

turunannya “dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh

TUHAN, Allah nenek moyangmu.” Hal yang seringkali disimpulkan adalah

kenormatifan Taurat dan perintah untuk menaatinya sebagai kunci kehidupan, tetapi

Block juga menunjukkan pemberian Taurat kepada bangsa Israel sebagai wujud

konkret yang tertinggi dari hak istimewa yang Israel miliki dari TUHAN.

Block mengajak kita memerhatikan Ulangan 4:7-8,

Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya
seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? Dan bangsa besar
manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh
hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

Bahwa bangsa Israel mempunyai suatu ketetapan yang jelas mengenai apa yang

Allah-nya kehendaki dan tidak kehendaki, bahwa mereka tahu bagaimana mereka

bisa patuh terhadap Allah dan bisa membuat Allah murka dan bahwa mereka tahu

bagaimana mereka dapat berdamai kembali dengan Allah adalah suatu hal yang luar

biasa.

16
M. Weinfield, "The Book of Deuteronomy in Its Relation to Wisdom" (in Hebrew) Jubilee Volume
for Y. Kaufmann (Jerusalem, 1960), 104ff. dikutip dalam Calum M. Carmichael, The Laws of
Deuteronomy (Ithaca: Cornell University Press, 1974), 17.

21
Sebuah doa yang ditulis dalam bahasa Sumeria dalam milenium kedua

sebelum Masehi (lihat Lampiran 1) menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa di sekitar

Israel pada masa itu hanya “mengetahui” ada dewa-dewi yang bisa mereka buat

marah tanpa mengetahui siapa dewa-dewi itu, apa yang bisa mengesalkan dewa-dewi

itu, dosa apa yang bisa membuat dewa-dewi itu marah, tempat-tempat mana yang

tidak boleh mereka kunjungi, makanan apa yang haram bagi mereka, dan masih

banyak lagi kemisteriusan yang melingkupi keberadaan dan kehendak dewa-dewi itu.

Dalam keadaan yang demikian umat hanya bisa dengan gemetar dan tidak menentu –

baik dalam perasaan maupun dalam pikiran – menghadap dewa-dewi mereka seraya

berharap ada pengertian dan pengampunan tersedia bagi mereka.

Karena itu, ketika bangsa Israel memiliki Taurat sebagai pegangan mereka,

itu adalah suatu karunia yang luar biasa. Sesungguhnya, TUHAN memang

memberikan mereka suatu alasan untuk bersukaria dengan memberikan Taurat

sehingga mereka memang hidup dalam situasi yang “terang” dan tenang: mengetahui

apa kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan kepada-Nya dan apa yang tidak;

serta bagaimana berdamai dengan-Nya.

2. Motivasi

Masing-masing dari kelima unit kitab Ulangan yang ditinjau di atas

senantiasa mengandung motivasi untuk memenuhi tuntutan peraturan/pengajaran.

Umat Israel tidak dituntut untuk mematuhi peraturan/pengajaran itu semata-mata

karena TUHAN telah berfirman. Kitab Ulangan adalah kitab yang sangat menghargai

manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan kemampuan mengambil keputusan

22
secara pribadi. Itu jugalah sebabnya dalam Ulangan 30:19-20, sesudah berkat dan

kutuk diucapkan, Musa menantang bangsa itu untuk memilih antara kehidupan dan

kematian, antara berkat dan kutuk.

Kemandirian telah dikaruniakan kepada manusia dan ia bertanggung jawab

dalam penggunaannya, karena itulah motivasi-motivasi yang diberikan sesudah setiap

perintah menjadi suatu elemen yang bermakna.

Mengapa bersukaria? Ditinjau dari masing-masing motivasi yang diberikan,

tidak sulit memahami alasan-alasan untuk bersukaria: karena tanah telah memberikan

hasilnya, karena usaha yang dikerjakan telah berhasil, karena TUHAN telah setia

dalam menjaga dan memelihara kehidupan mereka masing-masing, baik melalui alam

maupun melalui kekuatan-kekuatan politis – yaitu keamanan yang mereka miliki

sehingga dapat dengan tenang dan tenteram mengusahakan penghidupan mereka.

Bahkan dalam kaitannya dengan hari-hari raya pun tetap diajukan alasan-alasan yang

sama: karena TUHAN telah memberkati usaha dan hasil tanah mereka (16:15).

3. Membawa Persembahan

Setiap bagian dalam kitab Ulangan yang mengandung perintah bersukaria

telah ditinjau di atas dan semuanya – kecuali Ulangan 27 – berkaitan dengan

persembahan. Hal itu berlaku sebaliknya. Setiap bagian dalam kitab Ulangan yang

berkaitan dengan persembahan mengandung perintah bersukaria. Memang hanya

pasal 12, 14, 16 dan 26 dalam kitab Ulangan yang membahas persembahan.

Persembahan yang dibahas beraneka ragam. Ada persembahan-persembahan

yang wajib diberikan, seperti kurban bakaran dan kurban sembelihan, persembahan

23
persepuluhan, kurban nazar dan anak sulung dari lembu sapi dan kambing domba.

Tetapi ada juga kurban sukarela.

Motif memberikan persembahan berkaitan erat dengan motif ibadah di atas.

Bangsa Israel, baik secara komunal maupun pribadi, memberikan persembahan

karena dalam kehidupan mereka sehari-hari TUHAN memberikan mereka tanah untuk

ditempati (12:10), meluaskan daerah mereka (12:20), memberkati pekerjaan dan jerih

lelah mereka (12:7, 14:24), yang juga dapat dipahami bahwa TUHAN telah

memampukan mereka bekerja sehingga memperoleh hasil yang baik.

Motif lainnya adalah karena karya TUHAN di masa lalu dalam memelihara

mereka, memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir dan terus memelihara

mereka. Ini adalah satu motif yang sangat penting dan selalu diingatkan kepada

bangsa Israel. Dari sisi lain, orang Israel juga harus – dan memang seyogianya –

bersukacita karena mereka yang dulu budak kemudian telah menjadi bangsa yang

merdeka dan bahkan telah menjadi suatu bangsa yang merdeka dengan memiliki

tanahnya sendiri yang TUHAN karuniakan kepada mereka. Dituliskan oleh R.P.

Martin,

Worship as traced in both the OT and NT originates in salvation-history


(Heilsgeschichte); i.e., worship begins with God. God the creator, the rescuer, and the
redeemer initiates our human approach to Him. The remembered events of Exodus, the
Passover, the crucifixion, and the Resurrection evoke a response from God’s people.
The response is worship. Hence, worship originates with God in its theological roots as
opposed to anthropological initiation from the human side. 17

Dalam motif yang murni bersifat keagamaan ini (dibandingkan dengan motif

dalam paragraf di atas yang bersifat empiris) orang-orang Israel membawa

17
R.P. Martin, “Worship”, dalam ISBE, III: 1.117.

24
persembahan sukarela, tapi tetap harus “sesuai dengan berkat yang diberikan

kepadamu oleh TUHAN, Allahmu” (16:10).

Motif-motif ini kemudian akan berdampak pada praktek kehidupan

beragama mereka juga.

Mengapa bersukaria? Membawa persembahan adalah suatu tindakan

simbolik untuk mengakui bahwa TUHAN-lah Allah dan Ia telah memelihara

kehidupan orang Israel. Dalam Ulangan, pembawaan persembahan sangat kental

dengan warna sosial – persembahan kurban tidak melulu berkaitan dengan TUHAN

dan dengan imam, tetapi selalu berkaitan dengan sesama. Karena itu alasan ini

berkaitan erat dengan poin keempat di bawah dan akan dibahas lebih lanjut dalam

kaitan tersebut. Berikutnya akan ditinjau orang-orang yang diwajibkan untuk

dilibatkan rangkaian penyerahan persembahan kepada TUHAN dan bersukaria di

hadapan TUHAN.

4. “Seisi Rumahmu”

Sementara ada perintah bagi setiap orang laki-laki dewasa dalam umat Israel

untuk menghadap ke hadirat TUHAN tiga kali dalam setahun, bagi anggota keluarga

lainnya tidak ada ketetapan semacam itu. Kewajiban ritual itu hanya berlaku bagi

laki-laki dewasa, tetapi kitab Ulangan memberikan perhatian kepada semua penghuni

rumah, bukan saja kepada istri dan anak-anak, melainkan juga kepada para hamba

dan orang asing. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki posisi sosial yang

lemah dalam masyarakat, tetapi Ulangan memberikan perhatian yang sama kepada

mereka.

25
Mengapa bersukaria? Nampaknya penulis kitab Ulangan hendak

menekankan suatu bentuk ibadah yang bukan saja memiliki unsur vertikal (antara

Allah dan manusia) melainkan juga kuat dalam unsur horizontalnya (antara manusia

dengan sesamanya manusia). Perintah-perintah dalam kitab Ulangan sangat

memperhatikan keberadaan manusia dalam hubungannya dengan sesamanya.

Hari raya memang diadakan dengan motivasi untuk menjalin hubungan

dengan TUHAN, tetapi di tanah tempat perhentian (12:9) itu, orang Israel diingatkan

bahwa mereka berhenti dari segala pekerjaan bukan semata-mata karena Allah

berhenti dan beristirahat (Kej. 2:3), melainkan juga untuk memberikan kesempatan

kepada orang-orang lain dalam rumah tangga mereka untuk beristirahat. Pernyataan

“haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir” menyentakkan

kesadaran itu diikuti motivasi-kausalnya “haruslah engkau melakukan ketetapan ini

dengan setia” (16:12).

Pengingatan kepada bangsa Israel bahwa mereka pernah menjadi budak di

Mesir sebagai motivator juga muncul dalam 5:14-15; 15:13-15; dan 24:17-18. Orang

Israel diajar untuk menghargai para budak karena mereka pun dulu adalah budak.

Bagai kacang, mereka selalu diingatkan kepada kulitnya: bahwa mereka adalah

bangsa yang kecil, mereka datang ke Mesir hanya sebagai tujuh puluh orang (10:22)

dan mereka kemudian diperbudak; hanya karena tangan TUHAN yang kuat dan

lengan-Nya yang teracunglah mereka bebas dari perbudakan itu (4:34; 5:15; 9:29;

11:2; 26:8).

26
Selanjutnya akan ditinjau dua elemen yang hanya muncul pada sebagian dari

kelima unit yang ditinjau.

5. Orang-Orang Lewi

Orang Lewi tidak memiliki warisan tanah di antara saudara-saudara

sebangsanya karena itu setiap orang Israel lainnya wajib menanggung kehidupan

orang-orang Lewi, saudara mereka. Mekanisme penanggungan itu disiapkan melalui

persembahan-persembahan yang harus dikurbankan. Sesuai sifat kitab Ulangan yang

telah dibicarakan di atas, dalam kasus orang Lewi pun ditekankan aspek kebersamaan

antara orang-orang Israel non-Lewi dengan saudara-saudara mereka itu. Penulis

Ulangan tidak hanya mengingatkan mereka tentang kewajiban mereka terhadap

Allah, tetapi juga terhadap orang-orang Lewi.

6. Persembahan Boleh Diuangkan

Dalam Ul. 14:24-26 terdapat sejumlah ketentuan baru yang mengejutkan.

Nampak keseriusan TUHAN dalam memerintahkan umat-Nya untuk bersukaria.

Kerepotan besar yang diantisipasi dapat terjadi jika umat Israel harus membawa

persembahan dengan ukuran fisik besar, apalagi berat ke tempat-tunggal yang TUHAN

tetapkan diatasi dengan diizinkannya bangsa Israel untuk menukarkan persembahan

itu dengan uang.

Keseriusan juga nampak dalam hal uang dibawa sampai ke tempat yang

TUHAN tetapkan tidak harus ditukarkan dengan persembahan yang sama, yang setara

dengan barang-barang yang semula diuangkan. Uang itu justru harus dibelanjakan

27
untuk “segala yang disukai hatimu” (ay. 26). TUHAN menghendaki agar umat-Nya

mengakui bahwa segala berkat yang telah mereka terima berasal dari diri-Nya, tetapi

TUHAN tidak bersikukuh menetapkan bahwa tepat benar-benar benda yang mereka

terima dari TUHAN itulah yang mereka persembahkan.

Nampak bahwa bukan persembahan itu sendiri – secara fisik dan jumlah –

yang benar-benar berarti bagi TUHAN, melainkan pengakuan dari umat-Nya atas

keberadaan dan karya-Nya dalam kehidupan mereka, itulah yang terutama.

Pengakuan itu juga nampak dari waktu, biaya dan tenaga yang mereka alokasikan

untuk pergi ke tempat-tunggal yang TUHAN pilih, dan bukan sekedar persembahannya

yang dikirimkan.

Ketiga, keseriusan TUHAN nampak ketika ia memerintahkan bahwa barang

yang dibeli harus memenuhi dua ketentuan, yang satu dinyatakan secara eksplisit dan

yang lainnya secara implisit: yang pertama adalah menyenangkan hati sendiri – yaitu,

bukan sekedar senang, melainkan juga membuat wajah berseri-seri; dan yang kedua

adalah menyenangkan hati sesama juga, sebab barang-barang yang dibeli itu akan

dinikmati bersama di hadapan TUHAN, baik oleh kepala rumah tangga maupun seisi

rumahnya – dan ini berarti termasuk juga para budak, orang-orang tak sedarah yang

tinggal di rumahnya.

Di antara barang-barang yang disebutkan, dicantumkan “untuk anggur atau

minuman yang memabukkan, atau apapun yang diingini hatimu”. Lembu sapi serta

kambing domba memang adalah hewan-hewan sembelihan dan penyebutan hewan-

hewan ini tidak menimbulkan masalah. Tetapi bagaimana dengan anggur, dengan

minuman yang memabukkan? Apakah TUHAN begitu rupa ingin agar umat-Nya

28
bersukaria sehingga memabukkan diri dalam rangkaian ibadah pun dianjurkan?

Bukan saja mabuk, bahkan mabuk sekeluarga! Apakah Alkitab memang mengizinkan

suatu hal – yang dengan logika awam pun dapat kita katakan tak pantas – untuk

dilakukan dalam ibadah?

Para imam jelas dilarang minum anggur bila mereka masuk ke Kemah

Pertemuan (Im. 10:9). Sedangkan bagi kalangan Israel awam, sikap Eli yang

menegur Hana yang ia kira mabuk ketika dengan berkomat-kamit Hana berdoa dalam

ritual tahunan dalam 1Sam. 1:14 dapat kita jadikan gambaran bahwa bermabukan

bukan suatu hal yang berterima dalam konteks ibadah. Nasihat kepada Lemuel dalam

Ams. 31:4 juga menyatakan anggur sebagai sesuatu yang berasosiasi negatif, tidak

pantas untuk raja dan pembesar. Tetapi dalam Pentateukh, minuman yang

memabukkan hanya dilarang bagi para nazir (Bil. 6:3) yang juga dilarang

mengkonsumsi anggur serta segala sesuatu yang terbuat dari anggur. Walaupun

mabuk adalah suatu hal yang negatif, tidak pernah dalam Alkitab Ibrani ada larangan

untuk meminum minuman yang memabukkan maupun untuk mabuk. Larangan

mabuk baru kita jumpai dalam Luk. 21:34; Rm. 13:13; 1Kor. 15:11; dan Ef. 5:18.

Anggur, di sisi lain, diakui sebagai sesuatu “yang menyukakan hati manusia”

(Mzm. 104:15) dan “menyegarkan tubuh” (Pkh. 2:3). Anggur juga disarankan Paulus

untuk diminum oleh Timotius demi kesehatannya (1Tim. 5:23) sementara juga dalam

surat yang sama Paulus mensyaratkan diaken tidak boleh seorang “penggemar

anggur” (1Tim. 3:8). Maka dapat kita simpulkan bahwa anggur adalah sesuatu yang

baik karena dapat membuat manusia bersukaria walaupun memiliki potensi bahaya

bagi jiwa karena dapat membuat orang lepas kendali. Anggur dalam dosis yang

29
secukupnya, asalkan cukup untuk menjaga kesehatan dan menyegarkan tubuh, adalah

sesuatu yang baik.

Berikutnya juga perlu diperhatikan bahwa ada frase “di hadapan TUHAN,

Allahmu” (ay. 26). Dalam seluruh Pentateukh, 146 kali frase ini digunakan, terutama

untuk menunjukkan keberadaan manusia ketika berhadapan dengan manifestasi

keberadaan TUHAN baik berupa teofani seperti Musa ketika berhadapan dengan

semak yang tampak menyala walaupun tidak dimakan api (Kel. 3:2) maupun dalam

bentuk yang tidak dijelaskan seperti Kain yang diusir dari hadapan TUHAN (Kej.

4:16), dan di kemudian hari dengan penekanan pada pertemuan di Kemah Pertemuan,

misalnya para imam dan orang-orang yang datang untuk membawa persembahan.

Dalam semua keberadaan itu jelas bahwa manusia tidak bisa bertindak seenaknya

sebagaimana Kain diusir “dari hadapan TUHAN” karena tindakannya yang tidak patut

dan Musa yang diperintahkan untuk menanggalkan sandalnya karena tanah yang

diinjaknya adalah kudus. Ketika bentuk keagamaan semakin terinstitusi dengan baik,

maka peraturan dalam menghadap TUHAN pun semakin ketat yang nampak dari

pakaian yang harus dikenakan para imam ketika menyelenggarakan ritual-ritual di

Kemah Pertemuan (Kel. 28:43).

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa anjuran untuk membeli

anggur dan minuman yang memabukkan tidak berarti anjuran untuk bermabukan,

tetapi dapat diasumsikan ada suatu pengendalian diri yang dituntut dari orang Israel

dalam segala tindakan mereka. Anggur bukan sesuatu yang diharamkan. Anggur

adalah sesuatu yang baik bagi kesehatan, bagi tubuh, juga bagi perayaan dan

hubungan sosial, asalkan pengendalian diri tetap ada. Anggur mempunyai potensi

30
untuk mendatangkan kecelakaan, tetapi kecelakaan itu bukan sesuatu yang inheren

pada anggur, melainkan pada diri manusia yang kurang pengendalian diri.

Bagi TUHAN, sukacita umat adalah sesuatu yang sangat penting. TUHAN

hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang Ia jadikan adalah baik, dan diadakan

untuk kebaikan dan kesenangan manusia. Manusia perlu tetap hidup di hadapan

TUHAN dan mengandalkan Dia agar tetap memiliki pengendalian diri yang baik

sehingga dapat menikmati berkat TUHAN dengan sepatutnya dan dengan demikian

memiliki kehidupan yang bersukaria.

D. Pembandingan Peraturan-Peraturan pada Kitab Ulangan

dengan Peraturan-Peraturan Serupa pada Kitab Keluaran dan Imamat

Menarik sekali bahwa ternyata kitab Ulangan tidak sungguh-sungguh

mengulang peraturan-peraturan dari kitab Imamat, walaupun memang berbagai rupa

persembahan yang diatur dalam kelima unit yang telah dibahas di atas pertama kali

kita jumpai dalam kitab Imamat.

Peraturan-peraturan dalam kitab Imamat yang membahas kurban-kurban

menitikberatkan perhatiannya pada detail-detail teknis dan ketepatan ritual dari

masing-masing upacara. Ketika upacara itu melibatkan kegiatan memakan daging

yang dipersembahkan, maka motivasi dan fokusnya secara lugas adalah TUHAN.

Kelayakan orang-orang yang terlibat secara ritual sangat ditekankan. Kitab Ulangan,

kita jumpai di atas, tidak menitikberatkan perhatiannya pada detail-detail teknis – hal

semacam itu bahkan sama sekali tidak dijumpai – tetapi pada ketepatan sikap hati.

Orang-orang yang terlibat diperintahkan untuk bersukaria. Demikian pula motivasi

31
dan fokus perhatian orang-orang yang membawa persembahan bukan TUHAN semata-

mata, melainkan meluas juga kepada orang-orang lain yang secara sosial lebih lemah

atau lebih rendah dan dengan demikian berarti secara fisik tidak semapan sang kepala

keluarga – yaitu hamba-hamba, orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda.

Pengabdian kepada TUHAN dalam kitab Ulangan bukanlah pengabdian yang

berhenti pada TUHAN; pengabdian yang sejati kepada TUHAN akan memancar

kembali kepada orang-orang di sekitar abdi itu, mendatangkan berkat dan

kebahagiaan bagi semua orang, sehingga banyak orang bersukaria karena berkat yang

TUHAN berikan kepada abdi itu.

Dumbrell mengutarakan,

In essence, Deuteronomy is never interested merely in providing civil or social


legislation by which the community may be regulated. That is why the exposition of
the social codes differs from Exodus 21-23, even though the detail is similar or even
identical. There is a pronounced humanitarian bent in Deuteronomy (cf. Deut. 15:12-
18 with Exod. 21:2-11; see also Deut. 22:13-19; 25:13-16, etc.).18

Carmichael juga telah menunjukkan perhatian yang besar tentang perbedaan

ini dengan memberikan porsi satu bab dari bukunya, bab yang diberinya judul

“Humanism”. Beliau menunjukkan bahwa bukan saja peraturan-peraturan tentang

persembahan, tetapi peraturan-peraturan tentang budak, tentang perempuan yang

diperkosa, dan tentang orang asing yang dijumpai dalam kitab Ulangan adalah

peraturan-peraturan yang lebih memperhatikan manusia. Beliau juga mengutarakan,

Biblical scholars have long recognized the moral and humanistic character of
Deuteronomy. The book contains many ethical laws which have no counterpart

18
William J. Dumbrell, The Faith of Israel: Its Expression in the Books of the Old Testament
(Leicester: Apollos, 1993), 59.

32
elsewhere in the Pentateuch, and those which do have Pentateuchal parallels appear in
Deuteronomy with divergent and more humanistic overtones.19

Juga,

The book of Deuteronomy does, indeed, mark the transition from the narrow casuistic
and statutory law corpus to the humanistic law-code.20

Maka dalam pemahaman yang demikian kita dapat melihat juga bahwa kitab

Ulangan memandang umat Israel sedang berada di persimpangan jalan. Ketika

mereka memasuki tanah perjanjian, mereka diperhadapkan kepada dua pilihan:

mengikut TUHAN atau tidak. Ada satu warna yang melandasi seluruh pemikiran

dalam kitab Ulangan ini, bahwa motivasi terbesar adalah kehidupan. Mereka harus

memilih kehidupan dengan beribadah kepada TUHAN sebab di luar Dia hanya ada

kematian. Dalam kata-kata Dumbrell,

The author centers his attention on human welfare, underscoring the laws that relate to
human life and personal happiness. Deuteronomy is concerned to emphasize Israel's
relationships to Yahweh and therefore that of Israelite to Israelite. In keeping with this
focus, the major statement concerning Yahweh – "The LORD our God is one LORD"
(6:4) – is not a statement regarding God's essential nature, his ontological
indivisibility; rather, it concerns the exclusive demand that Israel's life and worship be
directed to him.21

Dengan memilih TUHAN, orang Israel akan bersukaria. Bahkan, boleh

dikatakan, jika memilih TUHAN, mereka harus dan seharusnya bersukaria. Jika tidak

memilih TUHAN, bukan saja tidak ada sukaria, tetapi mereka akan menghadapi

kematian.

19
Carmichael, op.cit., 282.
20
Ibid., 283.
21
Dumbrell, loc.cit.

33
Inilah idealisme peraturan-peraturan bangsa Israel. Inilah yang dicita-

citakan. Kini akan ditinjau bagaimana idealisme ini nampak dalam beberapa ibadah

bangsa Israel yang tercatat dalam Alkitab Ibrani.

E. Bentuk Konkret Sebuah Idealisme

Bagaimanakah Alkitab Ibrani dalam kitab-kitab selanjutnya mencatat hal-hal

“bersukaria” sebagaimana telah diuraikan di atas ini dalam ibadah yang dilakukan

orang-orang Israel? Berikut akan dipaparkan secara kronologis sejumlah kejadian

yang dicatat Alkitab Ibrani tersebut.

Pertama, dalam 1Sam. 1:3-4 dan 9 kita melihat dalam keluarga Elkana

sebuah kebiasaan untuk menempuh perjalanan ke Silo dan beribadah di sana. Dalam

ritual mempersembahkan kurban, ada kegiatan makan bersama sesama anggota

keluarga. Perhatikan pula bahwa pada ayat 9 disebutkan bukan hanya disebut bahwa

mereka makan, tetapi mereka “makan dan minum”. Suatu nuansa yang lebih kuat

bahwa “minum” adalah suatu entitas tersendiri, terlepas dari “makan” sehingga bisa

ditafsirkan sebagai meminum suatu minuman jenis tertentu, atau mungkin minuman

yang dapat memabukkan, didapat dari pembacaan KJV (1611) dan TNK (1985):

KJV : So Hannah rose up after they had eaten in Shiloh, and after they had drunk.

TNK : After they had eaten and drunk at Shiloh, Hannah rose.

Dari ayat-ayat ini kita dapat melihat bahwa orang-orang Israel – sekurang-kurangnya

melalui satu keluarga ini – benar-benar memiliki kebiasaan datang ke tempat yang

TUHAN pilih untuk membawa persembahan mereka dan bersenang-senang sekeluarga,

34
walaupun memang muncul ketidakharmonisan dalam keluarga ini akibat poligami

dan kemandulan Hana.

Kedua, Daud menempatkan kelompok-kelompok penyanyi untuk

melengkapi jajaran petugas ibadah dalam 1Taw. 16:41-42.22 Nyanyian dan musik

telah menjadi bagian yang integral di dalam ibadah umat Israel. Dapat dikatakan

bahwa keberadaan para pemusik adalah sebagai fasilitator bagi bangsa Israel untuk

bersukaria dalam ibadah mereka.

Ketiga, ketika Raja Salomo menahbiskan Bait Suci, serangkaian kegiatan

keagamaan yang penuh sukacita pun dapat kita lihat dengan jelas, bagaimana sukacita

yang besar merajut kegiatan keagamaan itu dengan kehidupan umat Israel sehari-hari

dalam 1Raj. 8:66, 2Taw. 6:41-42 dan 2Taw. 7:10. Sukacita yang besar senantiasa

hadir menandai kepenuhan suatu ibadah dan mengantarkan umat Israel kembali ke

tempat tinggal mereka, ke dalam rutinitas mereka dengan kesadaran yang baru bahwa

TUHAN tetap menyertai mereka.

Keempat, dalam masa pemerintahan Raja Yoas, 2Taw. 24:10 mencatat

bahwa pemulihan ibadah kepada TUHAN membawa sukacita kepada semua pemimpin

dan seluruh rakyat.

Kelima, 2Taw. 29:36 dan 2Taw. 30:25 mencatat bahwa ibadah yang

dilakukan oleh seluruh umat secara komunal juga membawa sukacita bagi semua

orang yang terlibat, baik orang-orang Israel sendiri (yaitu, jemaat Yehuda), imam,

orang-orang Lewi dan orang-orang asing. Dalam masa kerajaan yang telah terpecah

22
Bnd. 2Raj. 11:14, “… raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan
para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri.”

35
ini dicatat pula bahwa ada orang-orang dari tanah Israel (yaitu, Kerajaan Utara).

Ibadah kepada TUHAN dipelihara kendati masalah politis yang terjadi dan sukacita

yang dari TUHAN pun tetap hadir melintasi batas politis maupun etnis (perhatikan

“orang-orang asing”).

Keenam, setelah orang Israel kembali dari pembuangan, Ezr. 6:22 dan Neh.

12:43 mencatat betapa bersukarianya orang Israel kembali beribadah kepada TUHAN,

Allah Israel. Kembali berada di hadirat TUHAN setelah suatu periode-panjang dalam

keadaan terbuang adalah suatu hal yang sangat menggembirakan.

Ketujuh, suatu nuansa yang agak berbeda dapat kita baca dalam

Neh. 8:10-12,

“Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-
orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: "Hari
ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!",
karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu. Lalu
berkatalah ia kepada mereka: "Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah
minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa,
karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab
sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" Juga orang-orang Lewi menyuruh
semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: "Tenanglah! Hari ini adalah kudus.
Jangan kamu bersusah hati!"

Walaupun konteksnya agak berbeda – yaitu pembacaan kitab hukum yang sudah lama

diabaikan oleh umat Israel – tetapi keberadaan mereka di hadirat TUHAN tetap harus

diwarnai oleh sukacita. Dukacita dan tangisan adalah hal-hal yang dipandang kurang

patut. Para pemuka Israel bahkan juga memerintahkan umat untuk makan dan minum

hidangan yang dapat mendorong perasaan positif dalam diri mereka, serta juga

membagikannya dengan “mereka yang tidak sedia apa-apa” karena kekudusan Tuhan.

Perlindungan TUHAN dan kekudusan-Nya adalah alasan umat harus bersukacita.

36
Bagaimana dengan perintah untuk datang ke satu tempat ibadah? Saat

pembaca dalam zaman kita membaca peraturan-peraturan tentang satu tempat ibadah

yang kita jumpai dalam Ul. 12:7; 12:12; 12:18; 14:26; dan 16:11, 14-15, mungkin

sekali yang terbersit dalam pemikirannya adalah Yerusalem, kota di mana bait Allah

didirikan oleh Salomo, Ezra dan Herodes. Tetapi ketika kita memperhatikan sejarah

bangsa Israel, sesudah mereka memasuki tanah perjanjian di bawah pimpinan Yosua,

bait Allah masih berpindah-pindah di berbagai tempat.

Pada masa Raja Saul tabut perjanjian sempat dicuri oleh orang-orang Filistin

dan hingga masa Raja Daud pun masih terjadi upaya-upaya pemindahan tabut

perjanjian. Barulah pada masa Raja Salomo bait Allah dibangun dan tabut perjanjian

memperoleh kediamannya. Vriezen mencatat,

Di tanah Israel terdapat berbagai tempat suci walaupun hanya beberapa di antaranya
yang disebutkan dalam riwayat Saul dan Daud, yaitu Kuil di Gilgal (1 Sam. 11:15),
Nod (1 Sam. 21:1 dyb.), Bukit Zaitun (2 Sam. 15:32).
Bahwa hanya beberapa kuil ini disebut tentu tidak berarti bahwa tidak ada yang
lain. Berdasarkan cerita di dalam Kitab Hakim-hakim, Raja-raja dan di dalam tulisan-
tulisan para nabi jelas bahwa pada permulaan periode kerajaan terdapat banyak sekali
kuil.23

Beberapa tempat lain yang disebutkan Vriezen adalah Silo, Hebron dan Yerusalem.

Pada akhir perjalanan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan – akhir dari

masa pelayanan Musa – bangsa Israel masih merupakan bangsa nomaden. Mereka

berpindah-pindah dalam satu kelompok besar dan berkemah menurut suku mereka.

Ibadah dilaksanakan di Kemah Suci yang terletak di pusat perkemahan mereka.

23
Vriezen, op.cit., 76f.

37
Dalam keadaan nomaden, mereka cukup terlindungi dari pengaruh-pengaruh

kebudayaan asing dan agama asing.

Sesudah memasuki tanah Kanaan, tantangan pun bermunculan. Mereka

berhadapan lebih frontal dibandingkan sebelumnya dengan kebudayaan yang lebih

mapan daripada kebudayaan mereka sendiri – suatu keadaan yang biasanya

mengunggulkan kebudayaan yang lebih matang untuk menghisap kebudayaan yang

inferior terhadapnya. Di sini perintah untuk beribadah kepada satu Allah menjadi

semakin bermakna, di tengah kehadiran banyaknya dewa asing.

Pada awalnya ibadah masih terjadi secara sporadis, di mana-mana orang

bebas mendirikan tempat ibadahnya. Vriezen mencatat ada empat jenis tempat

ibadah: kapel-kapel pribadi, kuil-kuil kuno yang telah dipakai bangsa Kanaan, bukit-

bukit pengorbanan dan tempat-tempat ibadat Yahwis24.

Melihat lambatnya perkembangan yang demikian, nampaknya yang lebih

penting adalah dijaganya kekudusan nama TUHAN dan tindakan preventif agar umat

Israel tidak menyimpang dari jalan TUHAN, bukan tempat itu sendiri yang

dipermasalahkan.

Kita mengetahui bahwa bangsa Israel ternyata gagal memelihara keutuhan

ibadah kepada TUHAN sehingga mereka akhirnya dibuang dari tanah perjanjian.

Sesudah itu, dalam masa Perjanjian Baru pun kita melihat Tuhan Yesus mengecam

ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi seraya mengingatkan orang Israel, “...

turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi

janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya

24
Ibid., 181ff.

38
tetapi tidak melakukannya” (Mat. 23:3). Selanjutnya, dalam ayat 23 pasal yang sama

Tuhan Yesus kembali mengecam mereka, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan

orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih,

adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu

abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan

dan yang lain jangan diabaikan” (cetak-miring ditambahkan).

Jadi, bangsa Israel sebenarnya tidak pernah memenuhi idealisme kitab

Ulangan dalam ibadah mereka sendiri. Dua aspek dalam ibadah yang ideal – harus

dengan sukaria dan harus mengingat sesama manusia – tetap gagal dipenuhi bangsa

Israel, bahkan sesudah mereka kembali dari pembuangan.

Bagaimanakah Firman ini berarti bagi kita di masa kini? Inilah yang akan

menjadi topik bab berikutnya.

39
BAB III

PERINTAH BERSUKARIA BAGI GEREJA MASA KINI

A. Kehidupan Kristen

TUHAN yang disembah oleh bangsa Israel pada zaman Musa adalah Allah

yang sama yang diberitakan oleh para rasul Perjanjian Baru, yaitu TUHAN yang

menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus yang “tetap sama, baik kemarin maupun

hari ini sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Atas dasar itu tentu kita bisa

mengekstrapolasikan suatu pola bahwa apa yang Ia kehendaki bagi umat Israel dalam

menemui Dia dulu juga Ia kehendaki bagi kita sekarang dalam kehidupan kita bagi

Dia. Ia dulu menghendaki agar umat Israel datang ke hadirat-Nya dengan sukaria

yang membawa kepedulian kepada sesama. Sukaria memancar dari ibadah, melalui

kita, kepada sesama. Apa maknanya bagi umat Kristen kini?

Hadirat Allah bagi pembaca kitab Ulangan mula-mula adalah satu tempat

ibadah tertentu yang TUHAN akan tetapkan dan hanya di situlah umat Israel boleh

mempersembahkan kurban. Ke situlah umat Israel harus datang tiga kali dalam

setahun untuk beribadah dan bersukaria di hadapan TUHAN. Tempat semacam ini

tidak ada lagi bagi umat Kristen pada zaman Perjanjian Baru hingga sekarang. Kita

tidak lagi memiliki suatu tempat yang menjadi kiblat kegiatan keagamaan kita karena

pada saat Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya di atas salib, tabir bait Allah – yang

memisahkan ruang kudus dan ruang mahakudus – terbelah dua (Mat. 27:51). Ini

menandakan bahwa sejak saat itu tidak ada lagi halangan untuk datang ke hadirat

40
Allah, tidak lagi kita yang beriman dalam Yesus memerlukan pengantara untuk

datang ke hadirat Allah.

Bahkan, kini kita senantiasa hidup di hadirat Allah; di mana pun kita hidup,

kita hidup di hadapan Allah, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Artinya, hidup yang

sukaria Allah minta dari kita setiap saat, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak ada

lagi yang membedakan antara kondisi dalam hidup sehari-hari dan kondisi ketika

datang ke hadirat Allah; keduanya telah melebur.

Dalam pengertian yang demikian kita dapat memahami seruan rasul Paulus

dalam surat Filipi untuk bersukaria, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali

lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Flp. 4:4) Bersukacita adalah imperatif bagi orang

Kristen. Richard Foster dalam karya klasiknya Celebration of Discipline

memasukkan “Celebration” sebagai satu dari kedua belas disiplin rohani yang

diajukannya. Demikian pula John Piper dalam bukunya Desiring God menunjukkan

kepada kita bahwa kehidupan Kristen bukanlah hidup yang sendu dan muram,

melainkan hidup yang penuh dengan keceriaan dan sukacita. Foster mengutarakannya

demikian,

Of all people, we should be the most free, alive, interesting. Celebration adds a note of
gaiety, festivity, hilarity to our lives. After all, Jesus rejoiced so fully in life that he was
accused of being a wine-bibber and a glutton. Many of us lead such sour lives that we
cannot possibly be accused of such things.25

Kehidupan kita di hadapan Allah harus meneladani Yesus sebagaimana Tuhan Yesus

sendiri mengajak, “belajarlah pada-Ku ... dan jiwamu akan mendapat ketenangan”

(Mat. 11:29).

25
Richard Foster, Celebration of Discipline (London: Hodder and Stoughton, 1999), 245.

41
B. Ibadah Kristen

Jika seluruh hidup kita adalah hidup di hadapan Allah, bagaimanakah

dengan ibadah kita? Apakah seluruh hidup kita adalah ibadah kita? Ya, menurut Rm.

12:1-2. Tetapi kita juga tetap diminta untuk mengalokasikan waktu untuk

mengadakan ibadah sebagaimana dituliskan dalam Ibr. 10:25, “Janganlah kita

menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita.” Kehidupan yang disadari

sepenuhnya berada di hadapan Allah tidak berarti kita tidak perlu lagi beribadah.

Karena itu, perlu juga diperhatikan bagaimana kita memiliki hidup yang bersukaria

baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam waktu-waktu ibadah kita.

Dalam masa kini secara garis besar dapat dikatakan kita menjumpai tiga

gaya ibadah dalam gereja: 1) konvensional, 2) pentakosta, 3) karismatik. Dalam

gereja-gereja dengan gaya ibadah konvensional, jemaat menyanyi terutama dengan

memperhatikan ketepatan kata-kata dan kesesuaian muatan doktrinal dari lagu yang

dinyanyikan, walaupun pada tataran awam, yang lebih diutamakan adalah

“kepatutan” sikap dalam menyanyi.

Dalam gereja-gereja dengan gaya ibadah pentakosta, jemaat menyanyi

dengan gaya yang ekspresif, disertai tepuk tangan, gerakan-gerakan tangan, lompatan.

Dalam kalangan ini juga lebih banyak ditemukan lagu-lagu rohani populer, dengan

nada yang lebih bersemangat dan mengondisikan jemaat untuk bergerak. Gereja-

gereja bergaya karismatik tidak berbeda jauh dengan gereja-gereja pentakosta, hanya

saja dalam rangkaian pujian di gereja-gereja karismatik jauh lebih ditekankan

kemampuan berbahasa roh sebagai suatu hal yang integral dengan pujian.

42
Bagaimana persepsi jemaat tentang bersukaria dalam ibadah? Benarkah

bahwa dalam gaya ibadah yang konvensional tidak terdapat sukacita atau ‘kurang’

sukacita dibandingkan dengan gaya ibadah pentakosta dan karismatik yang berlimpah

dengan sukacita?

Penulis mencoba mewawancarai 36 orang dari berbagai gereja, baik yang

memiliki gaya ibadah konvensional26, pentakosta27 maupun karismatik28. Responden

memiliki rentang usia dari remaja (16 tahun) hingga paruh baya (50-an) dan

semuanya terlibat aktif di dalam pelayanan gerejawi. Dalam wawancara itu dicoba

untuk diidentifikasikan apakah para responden memandang dirinya sendiri sebagai

orang yang bersukacita, apakah mereka mengalami sukacita dalam ibadah dan

bagaimana mereka mendefinisikan “bersukacita”. Dalam upaya untuk menyeleksi

keabsahan jawaban responden, diajukan juga pertanyaan apa yang menurut mereka

mereka butuhkan untuk masuk ke surga dan seberapa sering mereka bersaat teduh.

Ternyata dalam rangkaian wawancara tersebut, orang-orang yang menjawab

mereka membutuhkan Tuhan atau anugerah semata untuk masuk surga ternyata

mengaitkan hal bersukacita bukan dengan ekspresinya. Baik orang-orang Kristen

yang merupakan anggota dari jemaat yang karismatik maupun jemaat yang lebih

konvensional mengaitkan sukaria dengan sikap hati yang tenang dan damai dan –

secara negatif – bukan dengan ketiadaan, maupun dengan penafian, kesusahan karena

keberadaan dan kedekatan dengan Tuhan.

26
Gereja-Gereja Katholik, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Kristus, Gereja Kristus Yesus, Gereja
Protestan di Indonesia bagian Barat, St. Catherine Anglican Church, St. Laurentius Stadtkirche
27
Gereja Pantekosta di Indonesia
28
Abba Love Ministries, Gereja Bethany Indonesia, Gereja Bethel Indonesia

43
Para anggota jemaat gereja pentakosta maupun karismatik sekalipun

mengaitkan sukacita dalam kehidupan mereka terutama dengan perasaan tenang dan

damai yang mereka dapatkan, baik dalam bersaat teduh maupun dalam menghadapi

kehidupan sehari-hari. Sukacita ada kalanya juga dipandang hadir dalam kaitannya

dengan penantian kelepasan dari suatu masalah. Perlu pula diungkapkan secara

negatif bahwa mereka tidak mengaitkan sukacita terutama dengan ekspresi fisik dan

komunal, tetapi ekspresi fisik dan komunal itu merupakan pancaran dari sukacita

yang ada di dalam hati.

Bagi jemaat gereja-gereja yang memiliki gaya ibadah yang lebih

konvensional, pandangan terhadap hal bersukacita juga kental berkaitan dengan

perasaan tenang dan damai dalam menghadapi permasalahan. Ucapan syukur dan

pengharapan dalam segala situasi, kendati masalah hadir, adalah cara mereka

mendefinisikan sukacita. Dengan miripnya kedua definisi ini, tampaknya pandangan

tentang hal bersukacita bukanlah suatu hal yang patut dipermasalahkan dari segi gaya

ibadah. Dalam kata-kata Foster,

Joy is not found in singing a particular kind of music or in getting with the right kind
or group or even in exercising the charismatic gifts of the Spirit, good as all these may
be.29

Lebih lanjut Foster juga menuliskan, “Joy is found in obedience.”30

29
Ibid., 242.
30
Loc.cit.

44
C. Sukaria dan Masalah

Bagaimana sukaria dalam kehidupan sehari-hari? Benarkah kita dituntut

untuk bersukaria senantiasa, walaupun masalah menghadang dan berbagai

ketidakmenentuan dalam hidup terjadi? Kita mengetahui bahwa ketika Paulus

menuliskan surat Filipi, Paulus berada dalam penjara dan nyawanya terancam,

demikian pula jemaat Filipi berada dalam masa penganiayaan; tetapi justru dalam

surat inilah paling banyak kita menemukan kata “sukacita”, yaitu sebanyak empat

belas kali, lebih banyak daripada yang ditemukan di semua tulisan Paulus

digabungkan. Ketika Paulus menuliskan “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!

Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!” (Flp. 4:4), tidakkah pembaca menangkap di

sini makna yang sama kuatnya dan mendesaknya sebagaimana yang didapati dari

pembacaan kitab Ulangan?

Kata “sukacita” bisa disamakan dengan “sukaria” karena keduanya

digunakan untuk menerjemahkan sejumlah kata bermakna serupa, baik dalam bahasa

Ibrani maupun Yunani. Dalam kitab Ulangan versi TB, dua kali kata sukacita

digunakan: Ul. 28:48 dan Ul. 33:18, pada keduanya “sukacita” diterjemahkan dari

xmf dan turunannya. Dalam NASB, nampaknya lebih jelas pembedaan antara
“sukacita” yang adalah kata benda “joy” dan “sukaria” atau “bersukacita” yang

adalah kata kerja “rejoice”.

Dalam tafsirannya atas Filipi 1:4, Gerald F. Hawthorne mengutarakan,

For Paul joy is more than a mood or an emotion. Joy is an understanding of existence
that encompasses both elation and depression, that can accept with creative submission

45
events which bring delight or dismay because joy allows one to see beyond any
particular event to the sovereign Lord who stands above all events and ultimately has
control over them. Joy, to be sure, “includes within itself readiness for martyrdom”, but
equally, the opportunity to go on living and serving. 31

Jelas bahwa sukacita yang Paulus maksudkan tidak terkekang oleh masalah dan

kenyataan hidup, tetapi sukacita itu adalah sukacita yang berdiri tegak melampaui

segala permasalahan hidup atau, dalam kata-kata Karl Barth yang dikutip Hawthorne,

“joy is a defiant ‘nevertheless’”32. Hasil wawancara yang telah dilakukan pun secara

konstan menunjukkan pengaitan sukacita dengan hadirnya kedamaian kendati

berbagai masalah yang ada. Tim Hansel, dalam bukunya The Hidden Adventure,

mengutarakan,

Joy ... defies circumstances. It can coexist with doubt, ambiguity, and pain. It is a
contentedness beyond circumstances, an indestructible kind of confidence that says
everything’s all right even when everything looks, feels, and tastes all wrong.33

Nehemia 8:11 mengingatkan kita, “... sukacita karena TUHAN adalah

perlindunganmu!” atau, “... your rejoicing in the LORD is your strength” (TNK),

senada dengan, “... the joy of the LORD is your strength” (NASB). Dalam versi-versi

Bahasa Indonesia, terjemahan BIMK34 nampaknya lebih memuaskan, “... kegembiraan

yang diberikan TUHAN kepada kalian akan menguatkan kalian.”

31
Gerald F. Hawthorne, Philippians (WBC 43; Waco: Word Books, 1983), 18.
32
Ibid., 17.
33
Tim Hansel, The Hidden Adventure (New York: Guideposts, 1987), 133.
34
Bahasa Indonesia Masa Kini, sebelumnya disebut BIS, Bahasa Indonesia Sehari-hari. Sejak Lembaga
Alkitab Indonesia menerbitkan versi BISD (Bahasa Indonesia Sederhana), BIS dirujuk sebagai BIMK.

46
D. Disiplin Rohani

Ketika sukaria dikaitkan bukan saja dengan kesulitan-kesulitan dalam hidup,

melainkan juga dengan disiplin rohani, Foster memberikan pandangan yang menarik,

Joy is the end result of the Spiritual Disciplines’ functioning in our lives. God brings
about the transformation of our lives through the Disciplines, and we will not know
genuine joy until there is a transforming work within us.35

Tak heran TUHAN memerintahkan umat Israel bersukaria. Memang sukacita kita juga

dapati sebagai salah satu bagian dari buah roh (Gal. 5:22) dan dihasilkan dari

perubahan yang mendasar di dalam kehidupan. Upaya untuk memanipulasi

manifestasi sukacita akan menjadi sia-sia belaka. Sukacita adalah bukti juga bahwa

seseorang memiliki keintiman dengan Allah dan hubungan itu tidak menjadi rutinitas

belaka. Mengejar sukacita, dengan demikian, berarti tidak merasa puas sekedar

berkenalan dengan Allah, tetapi mendisplinkan diri untuk mengenal Allah dengan

lebih baik dan lebih dalam, dengan keintiman yang merasuk hingga ke jiwa dan

memampukan orang bertahan melalui masa-masa yang sulit sekalipun.

E. Sukaria dan Dampaknya bagi Sesama

Sukaria memancar dari ibadah kepada Allah, melalui kita, kepada sesama.

Hal kedua dalam hidup yang sukaria adalah dampak yang dihasilkannya, yaitu ibadah

harus membawa jemaat kepada perhatian kepada sesama. Ketika kita berbicara

ibadah dalam pengertian seperti kebaktian Minggu, elemen-elemen utama yang

disodorkan kepada jemaat adalah khotbah dan pujian. Adakah khotbah dan pujian –

35
Foster, Ibid., 242.

47
tentu juga bersama keseluruhan liturgi – membawa jemaat kepada kesadaran

dibutuhkannya tindak lanjut dari ibadah itu kepada kehidupan sehari-hari yang

membawa dampak bagi orang lain?

Sukacita yang sejati akan memancar dengan konstan dari kehidupan

seseorang, kendati segala permasalahan yang dihadapinya. Hidup yang demikian bisa

menjadi suatu alat penginjilan sentrifugal sehingga membawa orang di sekitarnya

kepada suatu pertanyaan yang dapat menjadi titik picu kepada suatu perbincangan

bahkan pengenalan terhadap Allah yang kita sembah. Sukacita yang sejati dapat

menjadi alat pengenalan terhadap Allah.

Ketika sukacita seorang Kristen membawa orang lain mengenal Allah

melalui Tuhan Yesus, bukankah itu menambah sukacita semua pihak yang terlibat –

Allah, orang Kristen itu sendiri, Gereja, serta orang yang dimenangkan bagi Tuhan

itu? Itu adalah bentuk yang paling sederhana yang bisa dicerminkan dari pola yang

TUHAN tuntut dari umat Israel di Ulangan agar bersukaria bersama janda dan orang

asing sehingga melalui umat Israel bangsa-bangsa lain pun mengenal kebaikan Allah.

Tetapi bukan itu saja. Hidup yang bersukacita juga akan melimpah dengan

ucapan syukur sehingga luapan ucapan syukur itu akan berimbas baik dalam interaksi

pribadi kita dengan orang lain maupun dalam kerelaan hati kita memberi secara

material kepada orang yang memang membutuhkannya. Flp. 4:5 melanjutkan,

“Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Ini juga perlu dilihat sebagai

bagian dari pengejawantahan sikap hati yang bersukaria.

Hansel menuliskan bahwa tujuan Allah memberi kita sukacita adalah untuk

memampukan kita melayani. Secara alami, kinerja kita dalam menjalani kehidupan

48
bisa tetap baik, bahkan dalam kondisi terburuk pun. Segala yang terjadi pada kita

akan bisa kita lihat sebagai pengalaman yang kaya dan berwarna-warni ketika kita

mengerti tujuan akhir dari semua yang kita alami36. Sukacita akan menjaga stabilitas

kehidupan kita.

Gereja perlu mengajarkan jemaat untuk bersukaria senantiasa sehingga

meluap ucapan syukur yang melimpah kepada orang-orang di sekitar kita, orang-

orang Kristen dan nama Allah dipermuliakan senantiasa.

Patut dicatat bahwa Foster mengelompokkan kedua belas disiplin rohani

yang ditulisnya ke dalam tiga bagian: disiplin internal, disiplin eksternal dan disiplin

komunal; dan beliau memasukkan sukacita sebagai sebuah disiplin komunal. Sukacita

adalah wujud ucapan syukur Gereja bersama-sama. Sebagaimana orang Israel

diperintahkan untuk bersukacita dan berbagi dengan sesama ketika mereka datang ke

Bait Allah, demikian pula orang-orang Kristen di masa kini harus memperhatikan

kehidupan bersama sebagai sebuah perayaan, sebagai sebuah ajang sukacita dan

bukan sebuah beban. Maka di dalam kehidupan berjemaat yang demikian kita akan

mendapati diri kita saling menopang, saling mendukung satu sama lain sehingga kita

masing-masing menjadi lebih kuat dan bertumbuh semakin akrab baik dengan satu

sama lain maupun dengan Tuhan. Itulah hal yang sangat penting dalam kehidupan

Kristen dan tidak mungkin itu terjadi tanpa sukacita yang sejati, yang memancar dari

dalam hati yang mengenal Tuhan dengan akrab.

36
Hansel, op.cit., 140.

49
BAB IV

PENUTUP

A. Risalah

Berikut adalah risalah pembahasan yang telah dilakukan:

1. Di dalam kitab Ulangan, umat Israel diperintahkan untuk bersukaria sebagai

bagian dari ibadah mereka yang dilakukan tiga kali setiap tahun di suatu tempat

yang akan TUHAN perintahkan. Dalam ibadah itu, satu sikap yang TUHAN

tekankan adalah bersukaria. TUHAN sangat serius dengan kehendak-Nya agar

umat Israel bersukaria sehingga bukan saja semua itu diutarakan dalam bentuk

perintah, melainkan juga umat Israel diberi sejumlah kelonggaran dalam

menjalankan ibadah mereka seperti diperbolehkan menguangkan benda-benda

yang hendak dipersembahkan agar memudahkan perjalanan ke tempat yang

TUHAN pilih dan uang itu kelak boleh dibelikan benda-benda yang

menyenangkan hati mereka, termasuk minuman yang memabukkan, walaupun

ini tidak berarti mereka diizinkan melakukan tindakan asusila. Kehormatan

TUHAN tetap harus dijaga.

2. Yang terpenting dalam ibadah adalah sukacita dan sukacita itu harus juga

memiliki dampak dengan memancar kepada orang-orang di sekitar mereka,

yaitu janda, anak yatim, orang Lewi dan bahkan orang-orang asing. Ini

dimaksudkan agar semakin banyak orang yang menikmati berkat yang TUHAN

50
berikan kepada manusia dan semakin banyak orang yang mengagungkan nama

TUHAN dan beribadah kepada-Nya.

3. Sukaria bangsa Israel mendatangkan sukacita juga bagi orang-orang lain dan

pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi TUHAN. Tetapi ternyata Israel telah

gagal.

4. Setelah kematian Tuhan Yesus, penyembahan di satu tempat yang terpusat

tidak lagi dibutuhkan. Dengan terbelahnya tabir yang memisahkan ruang

mahakudus dan ruang kudus, seluruh dunia ini dan seluruh kehidupan seorang

percaya berada di hadirat Allah. Kita harus senantiasa hidup dengan penuh

sukacita, sebagaimana Paulus serukan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi.

5. Sukacita bukanlah keadaan emosi belaka. Sukacita adalah kemampuan berdiri

tegak dalam damai, kendati datangnya masalah kehidupan yang berat sekalipun

karena kita mengetahui bahwa di balik dan melalui itu semua Allah berkarya

bagi kita.

6. Sukacita adalah bukti bahwa seseorang memiliki keintiman dengan Allah dan

hubungan itu tidak menjadi rutinitas belaka. Mengejar sukacita mendisplinkan

diri untuk mengenal Allah dengan lebih baik dan lebih dalam, dengan

keintiman yang merasuk hingga ke jiwa.

7. Sukacita tumbuh dari disiplin rohani, maka tak heran TUHAN memerintahkan

umat Israel untuk bersukacita. Tanpa disiplin, tanpa upaya yang sungguh-

sungguh, sukacita tak akan muncul dengan sendirinya. Sukacita bukanlah rasa

senang belaka yang muncul karena pengaruh situasi. Sukacita muncul melalui

disiplin yang teguh di dalam menapaki jalan kehidupan bersama TUHAN.

51
8. Sukacita adalah sebuah disiplin komunal. Gereja harus menjadi sebuah

komunitas yang mewadahi dan memfasilitasi perwujudan sukacita ini.

Pembinaan yang dilakukan seharusnya secara spontan menghasilkan sukacita

yang memancar dari dalam diri orang-orang Kristen. Sukacita ini memancar

keluar bukan saja dari diri orang-orang yang terlibat di dalam Gereja,

melainkan juga memancar keluar dari dalam Gereja kepada komunitas di

sekitarnya, kepada orang-orang di sekitarnya.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bersukaria di sini? Dan apa

alasannya? Apakah perintah ini masih relevan bagi kita sekarang, Gereja masa kini?

Jika masih relevan, apakah ada evaluasi-evaluasi yang harus Gereja lakukan untuk

menyikapinya?

B. Kesimpulan

Menjawab pertanyaan-pertanyaan pertama, “Apa sebenarnya yang dimaksud

dengan bersukaria di sini? Dan apa alasannya?”

1. Sukaria adalah puncak, prestasi dan piala dari segala disiplin rohani. Karena

itulah TUHAN memerintahkan umat Israel untuk bersukaria dan Paulus

mendorong jemaat Filipi untuk bersukacita.

2. Sukaria adalah bukti dari hati dan hidup yang tidak puas sekedar berjumpa

dengan Allah, tetapi juga rindu untuk menjadi akrab dan memiliki hubungan

yang intim dengan Allah.

52
Menjawab pertanyaan berikutnya, “Apakah perintah ini masih relevan bagi

kita sekarang, Gereja masa kini?”

3. Hubungan pribadi yang baik dengan Allah akan membawa kita kepada suatu

ibadah yang berkualitas yang berdampak pada hidup yang disadari seluruhnya

berada di hadapan Allah. Melalui kehidupan yang demikian akan memancar

sukacita sejati yang berdampak baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama. Jadi

ya, perintah ini masih relevan bagi kita, bagi Gereja masa kini.

4. Bagi diri sendiri, sukaria memampukan manusia berdiri tegak melampaui

segala kesulitan dan permasalahan hidup maupun juga kesenangan, karena

dimampukan memandang dengan iman kepada Allah yang ada di balik segala

yang terjadi. Dengan demikian, emosi dan ritme kehidupan pun menjadi lebih

stabil dan kinerja dapat dipertahankan dengan baik.

5. Bagi orang lain, sukaria seorang Kristen dapat menjadi alat penginjilan

sentrifugal yang menarik orang kepadanya dan kepada Allah sehingga nama

Allah dipermuliakan.

C. Saran

Dan terakhir, “Jika masih relevan, apakah ada evaluasi-evaluasi yang harus

Gereja lakukan untuk menyikapinya?”

6. Walaupun jemaat menyadari sukacita adalah suatu karakteristik kristiani, tetapi

nampaknya kurang ada kesadaran bahwa sukacita yang meluap dari hati

seorang Kristen adalah suatu puncak dari kedisiplinan yang mapan dan

hubungan dewasa dengan Tuhan. Hal ini telah menjadi landasan dan kekuatan

53
bagi banyak orang Kristen sepanjang sejarah Gereja, tetapi nampaknya kurang

diperhatikan dalam pembinaan jemaat sekarang ini. Gereja perlu membina

jemaat, membangun ibadah dan memupuk kerohanian jemaat dengan satu

tujuan untuk membuat jemaat bersukaria di dalam Tuhan, bukannya merasa

tersiksa atau terwajibkan untuk terlibat di dalam kegiatan-kegiatan itu.

7. Gereja perlu menyadari kembali, menilai kembali dan mengevaluasi kembali

dirinya, keberadaannya dan program-programnya agar ibadah dan pemuridan

yang diadakan benar-benar membawa orang kepada suatu kenikmatan dan

sukacita hidup di hadirat Tuhan.

8. Gereja perlu dengan sengaja menggali kembali esensi mendasar yang seringkali

dilupakan ini, meneruskan dari generasi ke generasi, bahwa kehidupan Kristen

adalah suatu petualangan yang penuh sukacita.

54
DAFTAR PUSTAKA

Block, Daniel I. “The Grace of Torah: The Mosaic Prescription to for Life (Deut. 4:1-

8; 6:20-25),” Bibliotheca Sacra 645 (January-March 2005): 3-22.

———. “The Joy of Worship: The Mosaic Invitation to The Presence of God (Deut.

12:1-4),” Bibliotheca Sacra 646 (April-June 2005): 131-149.

Carmichael, Calum M. The Laws of Deuteronomy. Ithaca: Cornell University Press,

1974.

Craigie, Peter C. The Book of Deuteronomy. NICOT. Grand Rapids: Eerdmans, 1976.

Christensen, Duane L. Deuteronomy 1:1 – 21:9. WBC 6A. Rev. Nashville: Thomas

Nelson, 2001.

———. Deuteronomy 21:10 – 34:12. WBC 6B. Nashville: Thomas Nelson, 2002.

Dumbrell, William J. The Faith of Israel: Its Expression in the Books of the Old

Testament. Leicester: Apollos, 1993.

Foster, Richard. Celebration of Discipline: the Path to Spiritual Growth. Rev.

London: Hodder & Sthoughton, 1999.

Hansel, Tim. The Hidden Adventure: The Remarkable Things Ordinary People Can

Do When They Let God Use Them! New York: Guideposts, 1987.

Hawthorne, Gerald F. Philippians. WBC 43. Waco: Word Books, 1983.

Piper, John. Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist. Rev. Sisters,

Oregon: Multnomah, 2003.

55
von Rad, Gerhard. Studies in Deuteronomy. Chicago: Henry Regnery Company,

1953.

Strawn, Brent A. “Keep/Observe/Do - Carefully - Today! The Rhetoric of Repetition

in Deuteronomy”. Dalam A God So Near, ed. Brent A. Strawn; Nancy R.

Bowen. Winona Lake: Eisenbrauns, 2003.

Strong, James; Kohlenberger, John R., III. The New Strong’s Exhaustive

Concordance of the Bible. Nashville: Nelson, 1984.

Vriezen, Th.C. Agama Israel Kuno. Rev. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Diterjemahkan dari De godsdienst van Israël. Arnhem: W. De Haan, 1963.

Weinfeld, Moshe. Deuteronomy and the Deuteronomic School. Oxford: Clarendon

Press, 1983.

Wigram, George V. The Englishman’s Hebrew and Chaldee Concordance of the Old

Testament. Cetakan ke-2. Grand Rapids, Michigan: Baker Book House,

1982.

56
LAMPIRAN 1

PRAYER TO EVERY GOD37

May the fury of my lord’s heart be quieted toward me.


May the god who is not known be quieted toward me;
May the goddess who is not know n be quieted toward me.
May the god whom I know or do not know be quieted toward me;
May the goddess whom I know or do not know be quieted toward me.
May the heart of my god be quieted toward me;
May the heart of my goddess be quieted toward me.
May my god and my goddess be quieted toward me.
May the god [who has become angry with me] be quieted toward me;
May the goddess [who has become angry with me] be quieted toward me.
[Lines 11-18 cannot be restored with certainty.]
In ignorance I have eaten that forbidden of my god;
In ignorance I have set foot on that prohibited by my goddess.
O Lord, my transgressions are many; great are my sins.
O my god, (my) transgressions are many; great are (my) sins;
O my godddess, (my) transgressions are many; great are (my) sins.
O god, whom I know or do not know, (my) transgressions are many; great are (my)
sins;
O goddess, whom I know or do not know, (my) transgressions are many; great are
(my) sins;
The transgressions that I have committed, indeed I do not know;
The sin that I have done, indeed I do not know.
The forbidden thing that I have eaten, indeed I do not know.
The prohibited (place) on which I have set foot, indeed I do not know.

37
Daniel I. Block, “The Grace of Torah: The Mosaic Prescription for Life,” Bibliotheca Sacra 162
(January-March 2005): 10-12, mengutip F.J. Stephens, dalam Prichard, Ancient Near Eastern Texts
Relating to the Old Testament, 392-92 dengan keterangan Stephens, “This prayer is addressed to no
particular god, but to all gods in general, even those who may be unknown. The purpose of the prayer
is to claim relief from suffering, which the writer understands is the result of some infraction ofdivine
law. He bases his claim on the fact that he does not even know what god he may have offended.
Moreover, he claims, the whole human race is by nature ignorant of the divine will, and consequently
is constantly committing sin. He therefore ought not to be singled out for punishment.”

57
The lord in the anger of his heart looked at me;
The god in the rage of his heart confronted me;
When the goddess was angry with me, she made me become ill.
The god whom I know or do not know has oppressed me;
The goddess whom I know or do not kno whas placed suffering upon me.
Although I am constantly looking for help, no one takes me by the hand;
When I weep they do not come to my side.
I utter laments, but no one hears me;
I am troubled;
I am overwhelmed;
I cannot see.
O my god, merciful one, I address to you the prayer,
“Ever incline to me”;
I kiss the feet of my goddess;
I crawl before you.
[Lines 41-49 are mostly broken and cannot be restored with certainty.]
How long, o my goddess, whow I know or do not know before your hostile heart will
be quieted?
Man is dumb; he knows nothing;
Mankind, everyone that exists – what does he know?
Whether he is committing sin or doing good, he does not even know.
O my lord, do not cast your servant down;
He is plunged into the waters of a swamp; take him by the hand.
The sin that I have done, turn into goodness;
The transgression that I have committed let the wind carry away;
My many misdeeds strip off like a garment.
O my god, (my) transgressions are seven times seven; remove my transgressions;
O my goddess, (my) transgressions are seven times seven; remove my transgressions;
O god whom I know or do not know, (my) transgressions are seven times seven;
remove my transgressions;
O goddess whom I know or do not know, (my) transgressions are seven times seven;
remove my transgressions.
Remove my transgressions (and) I will sing your praise.
May your heart, like the heart of a real mother, be quieted toward me;
Like a real mother (and) a real father may it be quieted toward me.

58
LAMPIRAN 2

ANGKET

Tolong jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah dengan spontan dan jujur di tempat


yang disediakan.
Please provide a spontaneous and honest answer in the spaces below.

1. Apakah Anda menganggap diri Anda seorang yang bersukacita?


Do you consider yourself a joyous person?
_____

2. Apakah Anda mengalami sukacita dalam ibadah?


(Mis.: kebaktian, misa, persekutuan doa, kelompok kecil)
Do you consider that you have joy in worshiping God?
(e.g.: Sunday service, mass, prayer service, small group)
_____

3. Seberapa sering Anda mengikuti ibadah-ibadah di bawah ini:


How often have you been involved in these events:
Misa/Kebaktian (Sabtu/Minggu) di
Mass/Service (Saturday/Sunday) at
Persekutuan doa
Prayer service ________________________
Kelompok kecil
Small group ________________________
Persekutuan kantor (di Indonesia, biasanya setiap Jumat)
Office fellowship ________________________

4. Apakah Anda bersaat teduh? Jika ya, seberapa sering?


Do you have quiet time? How often?
_______________________________________________________________

59
5. Apakah Anda bersukacita dalam bersaat teduh?
Kalau boleh, tolong jabarkan sedikit jawaban Anda.
Do you find joy in having quiet time?
Please elaborate in a couple of word, if you'd like to.
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

6. Apakah menurut Anda ibadah bisa menjadi suatu ajang bersukacita?


Ataukah identik dengan kemurungan atau hal-hal lainnya?
Do you think Sunday service, mass, prayer, etc. can be joyous?
Or has it been identical with mourning and melancholy?
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

7. Apakah menurut Anda (jawaban Anda di no. 6) seharusnya menjadi suatu


ajang bersukacita?
Do you think (you answer in no. 6) should be joyous?
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

8. Bagaimana Anda mendefinisikan bersukacita?


How do you define joy?
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

9. Bagaimana Anda menemukan sukacita dalam hidup Anda? (mis. dengan ke


kafe, jalan-jalan dengan teman-teman, dll.) Tolong jabarkan sedikit.
How do you find joy in your life? (e.g. going to café, hanging out with friends,
etc.). Please elaborate your answer.
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

60
10. Bagaimana Anda menemukan sukacita (dalam pengertian rohani) dalam
hidup Anda? Apakah ini mungkin terjadi?
How do you find the religious kind of joy in your life? Is it attainable?
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

11. Menurut Anda, apa yang Anda butuhkan untuk masuk surga?
What do you need to enter heaven?
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

12. Kapankah pertama kali Anda ke gereja?


When was the first time you attended a mass/church service?
_______________________________________________________________

13. Bagaimana Anda mengelompokkan banyak jenis gereja yang ada di Jakarta?
(mis. Katholik, Karismatik, …)
_______________________________________________________________

61
LAMPIRAN 3

HASIL ANGKET

Jumlah responden: 36

Jawaban atas pertanyaan: “Menurut Anda, apa yang Anda butuhkan untuk masuk
surga?” – dikategorikan berdasarkan kata kunci:

4 5
3

Keterangan:
1 – “Tuhan Yesus”, “karya Kristus”, “iman”, “anugerah” – 27 orang
2 – “iman dan perbuatan baik” – 5 orang
3 – “perbuatan baik”, “setia melayani” – 2 orang
4 – “berubah menjadi lebih baik” – 1 orang
5 – “selalu berdoa di setiap kesempatan” – 1 orang

62
Kata kunci yang digunakan untuk mendefinisi “sukaria” oleh ke-27 orang yang
termasuk dalam kategori 1 di atas:

10
Jumlah Responden
8

0
1 2 3 4

Keterangan:
1 – bukan berarti tidak ada masalah
2 – ungkapan syukur karena pengharapan dan jaminan keselamatan,
bukan karena keadaan, mewujud dalam tindakan dan ekspresi wajah
3 – ketenangan dalam segala situasi, menyadari kehadiran Allah senantiasa
4 – perasaan senang karena masalah terpecahkan

63