Anda di halaman 1dari 22

Latar Belakang

Saat ini telah banyak penggunaan berbagai macam bahan untuk keperluan kesehatan. Bahan-bahan tersebut dapat berupa bahan yang mudah dicari, digunakan, maupun yang sulit penggunaannya. Salah satu bahan yang kuat dan cukup elastis adalah polimer, yang bermanfaat untuk keperluan dalam bidang kesehatan. Salah satu kegunaan polimer dalam kesehatan adalah pada bidang kedokteran gigi. Polimer sendiri memiliki ciri-ciri khusus dan sifat-sifat yang dimilikinya yang membedakannya dengan bahan yang lain. Namun, tidak mudah dan tidak boleh sembarangan dalam penggunaan polimer. Ada syarat-syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan, diantaranya proses pembentukan polimer tersebut dan berat molekul polimer yang dapat digunakan. Untuk itu harus ada perhitungan yang lebih baik untuk mengetahui berat molekul polimer yang dapat digunakan, yang akan dijelaskan pada makalah ini.

Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah proses terbentuknya polimer (polimerisasi)?

2. Bagaimanakah menghitung berat molekul rata-rata polimer?

Tujuan
Dapat mengetahui proses polimerisasi dan menghitung nilai berat molekul polimer serta pengaruhnya terhadap kualitas bahan.

Manfaat
1. Mengetahui proses polimerisasi suatu polimer
Page 1

2. Mengetahui berat molekul polimer


3. Sebagai indikator proses pembuatan polimer

Batasan Masalah
Kami membatasi makalah kami hanya pada penghitungan nilai berat molekul polimer sebagai indikator proses pembuatan polimer.

Pembahasan
Page 2

Polimer
Material yang terdapat di alam dapat terbagi menjadi beberapa jenis bergantung pada molekul pembentuknya. Salah satu diantaranya yaitu molekul makro (makromolekul) yang terbagi menjadi dua jenis, yaitu : 1. Material biologis (makromolekul alam) Contoh : karet alam, wool, selulosa, sutera dan asbes 2. Material non biologis (makromolekul sintetik) Contoh : plastik, serat sintetik, elastomer sintetik Polimer termasuk dalam kelompok material non biologis (makromolekul sintetik). Polimer sudah menjadi material yang bermanfaat bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari misalnya pemakaian teflon dan pembuatan plastik. Selain itu polimer juga bermanfaat dalam bidang medis. Polimer sendiri tersusun atas satu atau beberapa unit struktural sederhana yang terbentuk atas beberapa struktur monomer. Unit monomer tersebut berhubungan satu dengan lainnya sepanjang rantai polimer oleh ikatan kovalen. Molekul polimer disebut dengan molekul makro karena memiliki berat molekul lebih dari 5000. Dalam beberapa contoh, berat molekul polimer dapat mencapai 50 juta.

Polimerisasi
Untuk membuat polimer diperlukan sebuah proses yang harus dilakukan. Secara singkat proses terbentuknya polimer yaitu : Monomer polimerisasi polimer

Proses polimerisasi terbagi menjadi dua, yaitu polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi.
Page 3

1. Polimerisasi adisi : polimerisasi yang disertai dengan pemutusan ikatan rangkap

diikuti oleh adisi monomer sehingga produk polimer mengandung semua atom yang ada pada monomer awal. Contoh polimerisasi adisi adalah sebagai berikut :

Etilena

Polietilena

2. Polimerisasi kondensasi : polimerisasi yang disertai dengan pembentukan molekul kecil (H2O, NH3).

Contoh polimerisasi kondensasi adalah sebagai berikut :

Derajat Polimerisasi
Derajat polimerisasi adalah nomor unit dari suatu monomer yang bergabung dengan rantai polimer selama masa rantai tersebut masih ada. Pada polimerisasi terdapat transfer reaksi yang berpengaruh terhadap temperatur (derajat polimerisasi) polimer dan berat molekulnya. Jika transfer reaksi terkontrol dengan baik maka akan ditemukan pemotongan berat molekul suatu polimer dan adanya peningkatan temperatur.

Page 4

Faktor yang mempengaruhi transfer reaksi polimer salah satunya karena lebih tingginya aktivitas energy pada transfer reaksi menyebabkan lamanya penggabungan rata-rata transfer yang akan digunakan dalam penambahan monomer, sehingga mempengaruhi berat molekul.

Berat Molekul Polimer


Polimer sebagai salah satu bahan yang dapat digunakan pada aplikasi medis memiliki sifat khas tertentu, salah satunya yaitu memiliki berat molekul (BM). Berat Molekul polimer nantinya digunakan untuk indikator pembuatan polimer agar terbentuk polimer yang sempurna. Selain itu berat molekul polimer juga berguna untuk mengetahui ketahanan produk polimer yang dibuat, sehingga tidak asal dalam pembuatannya. Polimer memiliki distribusi panjang rantai (ribuan) yang masing-masing memiliki berat molekul dalam rentang nilai tertentu. Rentang nilai tersebut biasanya bervariasi yang menunjukkan adanya distribusi berat molekul polimer. Berat molekul merupakan variabel yang penting sebab berhubungan langsung dengan sifat kimia polimer. Umumnya polimer dengan berat molekul tinggi mempunyai sifat yang lebih kuat. Berat molekul polimer ditentukan dari jumlah monomer pembentuknya dan merupakan hasil kali derajat polimerisasi dengan berat molekul monomer. Polimer sendiri biasa disebut juga polidispersi. Polidispersi adalah banyaknya hamburan yang artinya satu molekul yang dibentuk dari molekul yang sama tetapi berat molekul tidak sama. Nilai berat molekul suatu polimer bergantung pada besarnya ukuran yang digunakan dalam metode pengukurannya.

Metode Pengukuran
Page 5

Ada beberapa metode pengukuran yang digunakan untuk menentukan berat molekul suatu polimer, dalam hal ini adalah berat molekul rata-rata jumlah dan berat molekul rata-rata berat. Sebelum mencari nilai rata-ratanya, terlebih dahulu mencari berat total dari suatu polimer yang dirumuskan sebagai berikut :

W N M

: Jumlah berat dari setiap bagian molekul polimer : Jumlah mol : Berat molekul

Dari rumus diatas dapat dicari berat molekul rata-rata suatu polimer.

Berat Molekul Rata-rata Jumlah


Berat molekul rata rata jumlah ( Mn), adalah bilangan atau ukuran jumlah molekul dari setiap berat polimer yang diperoleh dari perhitungan bilangan atau jumlah molekul dari setiap berat dalam polimer yang bersangkutan. Berat total suatu contoh polimer adalah jumlah berat dari setiap jenis molekul yang ada. Dalam pengukuran berat molekul rata rata jumlah semua molekul yang terdispersi dianggap memiliki berat yang sama pada suatu rantai polimer, namun antara rantai polimer yang satu dengan rantai polimer yang lain memiliki jumlah molekul yang berbeda sesuai dengan derajat polimerisasi dari suatu proses polimer. Secara matematis dapat ditulis:

Page 6

Dimana Mn = berat polimer per mol

Berat Molekul Rata-rata Berat


Berat molekul rata rata berat (Mw) adalah suatu parameter penentuan berat molekul

polimer dimana nilainya dihitung berdasarkan pada massa dan polarisibilitas jenis polimer yang ada. Polimer dengan massa yang lebih besar maka kontribusinya ke pengukuran menjadi lebih besar. Pada perhitungan Mw tiap molekul memiliki kontribusi masing-masing karena diperoleh dari akar nilai massa. Metode ini menjumlahkan fraksi berat masing masing jenis dikalikan jumlah molekulnya. Nilai ini dikenal dengan berat molekul rata-rata berat (Mw) yang secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Polimer terdiri dari berbagai macam jenis, dan masing-masing jenis polimer tersebut tentunya memiliki berat molekul yang berbeda-beda.

Page 7

Contoh soal :

1. Suatu sampel polimer yang terdiri dari 3 mol dengan berat molekul 20.000 dan 2 mol dengan berat molekul 70.000, hitunglah nilai dari: a. Berat molekul rata - rata jumlah dan b. Berat molekul rata - rata berat

2. Suatu sampel polimer yang terdiri atas 9 mol dengan berat molekul 30.000 dan 5 mol

dengan berat molekul 50.000. Hitunglah :

a. Berat molekul rata rata jumlah b. Berat molekul rata-rata berat

Page 8

Berdasarkan dua contoh soal diatas, nilai Mw selalu lebih besar dari Mn. Hal ini karena setiap molekul mempunyai kontribusi yang sama berapapun beratnya sedangkan pada metode hamburan cahaya., molekul besar mempunyai kontribusi yang besar pula karena menghamburkan cahaya lebih efektif. Jika molekul molekul polimer terdispersi dalam ruang luas, maka masing masing molekul dalam satu rantai polimer memiliki bobot yang berbeda semakin banyak, namun jumlahnya sama sehingga menyebabkan Mw dalam suatu sampel lebih besar dari Mn . Atau dengan kata lain sistem yang memiliki suatu daerah berat molekul dikatakan sebagai polidispersi (Mw> Mn ). Jika berat masing masing berat molekul yang terdispersi dalam suatu sistem adalah sama, maka Mw = Mn , disebut sistim monodispersi.

Untuk menghitung nilai Mn dan Mw dapat dilakukan dengan berbagai metode pengukuran, dimana masing-masing memiliki metode yang berbeda-beda. Metode-metode tersebut yaitu:
1. Berat Molekul Rata-rata Jumlah (Mn)

a. Osmometri b. Analisis Gugus Ujung

Page 9

2. Berat Molekul Rata-rata Berat (Mw) a. Hamburan Cahaya b. Ultrasentrifugasi c. Viskositas

Berat Molekul Rata-rata Jumlah


Osmometri
Metode ini didasarkan pada prinsip osmosis. Osmosis dapat dikatakan sebagai pelewatan pelarut melalui selaput aldatiris atau membrane semipermiabel dan pelarut murni ke dalam larutan atau larutan encer ke larutan yang lebih pekat. Caranya, pelarut akan dipisahkan dari larutan polimer dengan menggunakan suatu penghalang, sehingga hanya pelarut saja yang dapat lewat sedangkan zat terlarut tertahan didalam penghalang yang dilengkapi dengan membran semipermiabel.

Prinsip Kerja Osmometer

Page 10

Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif yang bergantung kepada jumlah partikel terlarut yang ada, maka osmometri menghasilkan harga rata-rata berat molekul. Tekanan osmotik (P) suatu larutan adalah tekanan luar yang harus digunakan untuk mencegah lewatnya pelarut berlebih melalui selaput ardatiris ke dalam larutan. Selaput ardatiris hanya dapat melewatkan pelarut sedangkan zat terlarut tidak dapat tembus. Berikut adalah gambar dari sebuah osmometri :

Osmometri

Mula-mula tinggi larutan pelarut sama, setelah dibiarkan beberapa saat osmosis terjadi ketika pelarut pindah ke larutan melalui membrane semipermiabel, sehingga tinggi larutan naik, tetapi pada suatu saat kenaikan berhenti karena sistem mengalami keseimbangan. Pada keadaan ini selisih ketinggian pelarut dan larutan ialah massa molekul relatif polimer yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
Page 11

: Tekanan Osmosis

C : Konsentrasi Larutan R : Tetapan gas ideal 0,082 L atm mol-1K-1 = 8,314 Jmol-1K-1 T : Suhu (Kelvin) B : Koefisien Visial M : Massa Molekul relative polimer

Kelemahan metode osmometri ialah ada beberapa jenis polimer yang tidak ikut terukur, yakni jenis yang memiliki berat molekul yang rendah, dikarenakan polimer dengan berat molekul rendah tersebut akan terdifusi melewati membran. Akibatnya, jumlah berat molekul rata - rata jumlah yang terukur bukan menyatakan harga keseluruhan dari berat molekul polimer sampel. Kelemahan lain dari metode ini adalah sulit untuk memilih selaput yang cocok, dan harga osmometer yang mahal.

Analisis Gugus Ujung


Jika suatu polimer diketahui mengandung jumlah tertentu gugus ujung per molekulnya. Maka jumlah gugus itu dapat ditentukan dalam sejumlah massa polimer dengan metode analisis. Dari informasi ini massa satu mol polimer dapat ditentukan dan berat molekul rata-rata polimer juga dapat ditentukan. Prinsip analisis gugus ujung ialah memanfaatkan gugus - gugus ujung dari polimer, yang umumnya berupa gugus - gugus fungsi. Analisis gugus ujung merupakan teknik analisis polimer untuk mengetahui massa molekul satu sampel atau sistem dengan menghitung jumlah rantainya.
Page 12

Jumlah rantai tersebut adalah hal yang penting, karena itu terdapat beberapa kekurangan dari metode ini, diantaranya : tidak baik digunakan untuk polimer yang tidak linier dan cabang yang jumlah cabangnya harus diketahui jumlahnya; harus diketahui dengan pasti mekanisme polimerisasi yang terjadi; tidak efektif digunakan untuk yang memiliki dua gugus ujung atau lebih untuk satu polimer, karena yang terukur hanya satu gugus ujung saja dan untuk beberapa gugus ujung yang berbeda dalam satu rantai polimer, hanya terhitung satu gugus ujung saja, sedangkan gugus ujung yang lain tidak terhitung serta hanya efektif untuk mengukur polimer polimer yang memiliki berat molekul 5000 - 10000. Rumus yang digunakan untuk menentukan berat molekul dari analisis gugus ujung ini adalah :
Berat molekul = 1 / mol polimer per gram

Contoh soal :

Andaikan 1 gram poliester yang diambil mengandung 1 gugus COOH per molekul polimer. Jika CM2 larutan baku natrium hidroksida 0,01 mol dm3 diperlukan untuk menetralkan sampel tersebut. Berapa massa molekul relatif poliester tersebut? Mol NaOH yang dipakai

Maka jumlah mol gugus COOH = 10-4, karena tiap molekul polimer mengandung 1 gugus COOH, jumlah mol polimer yang ada = 10-4 mol. Berat 10-4 mol polimer tersebut adalah 1 gram. Maka 1 mol polimer beratnya 1/10-4 gram = 104 gram. Dengan demikian massa molekul polimer = 10.000.

Page 13

Berat Molekul Rata-rata Berat

Hamburan Cahaya

Hamburan cahaya (light scatering) adalah metode analisis polimer untuk menentukan berat molekul satu contoh dengan melihat jumlah cahaya yang dihamburkan oleh partikel partikel dalam larutan. Prinsip kerjanya didasarkan pada fakta bahwa cahaya, ketika melewati suatu pelarut atau larutan melepaskan energi yang diakibatkan oleh absorbsi, konversi ke panas dan hamburan. Jika seberkas sinar ditembuskan kedalam cairan yang tak menyerap sinar, maka sebagian sinar dihamburkan. Jika cairan pelarut dibuat tak homogen oleh penambahan molekul nisbi maka hamburan tambahan akan terjadi. Peningkatan hamburan dapat dihubungkan dengan konsentrasi larutan dan massa molekul nisbi zat terlarut, dibuat dalam persamaan
Debye:

Page 14

Skema alat yang digunakan pada metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah :

Sinar lampu uap raksa A ditembuskan melalui filter pemonokromatis B, lalu memasuki sel kaca C yang berisi larutan polimer. Sinar yang dilewatkan diserap dalam penangkap sinar D, intensitas sinar hamburan diukur dengan membiarkan jatuh pada photo multiplier E yang dipasang pada lengan yang dapat bergerak sehingga sinar hamburan dapat dibuat pada berbagai berkas datang. Multiplier lalu diukur dengan galvanometer. Hamburan sinar dapat dipakai untuk menentukan massa molekul polimer > 1.000.000. Kelemahan dari metode ini adalah mahalnya alat dan kerumitan metode secara keseluruhan. Kelebihannya yaitu metode ini adalah cara yang berguna dan luwes serta dapat digunakan untuk rentang berat molekul yang cukup lebar (bahkan sampai lebih dari satu juta).

Page 15

Untuk lebih jelasnya mengenai metode ini dalam mencari nilai Mw, dapat digunakan plot Zimm yang terlihat pada gambar berikut :

Ultrasentrifugasi
Ultrasentrifugasi merupakan metode penentuan bobot molekul dengan cara melibatkan pemutaran larutan polimer pada kecepatan tertentu. Metode ini lebih banyak dipakai untuk menentukan berat molekul polimer alam seperti protein. Tekniknya didasarkan pada prinsip bahwa molekul molekul di bawah pengaruh medan sentrifugal yang kuat, mendistribusi diri menurut besarnya secara tegak lurus terhadap sumbu putar, suatu proses yang disebut sedimentasi dan lajunya proposional dengan massa molekul.
Proses sedimentasi sendiri terbagi menjadi dua untuk dapat menentukan nilai Mw, yaitu :

Page 16

1. Kesetimbangan sedimentasi

Kesetimbangan sedimentasi dilakukan dengan pemutaran terhadap larutan polimer dengan kecepatan rendah dalam waktu tertentu sampai tercapai kesetimbangan antara sedimentasi dan difusi. Berat molekul rata - rata berat dirumuskan sebagai berikut:

C1 dan C2 r1 dan r2

: konsentrasi : jarak dari pusat rotasi ke titik pengamatan didalam sel : volume spesifik polimer

: massa jenis larutan


: kecepatan sudut rotasi

2. Kecepatan Sedimentasi

Metode ini dilakukan dengan menggunakan kecepatan tinggi (70000 rpm) untuk menghasilkan sedimentasi. Besarnya sedimentasi diukur dengan menggunakan laju sedimentasi. Laju sedimentasi (s) adalah tetapan sedimentasi yang dihubungkan dengan massa partikel. Besarnya laju sedimentasi (s) dirumuskan:

Page 17

Nilai Mw dapat dihitung, yaitu :

Dimana D adalah besarnya koefisien difusi yang didapat dari :

Sentrifugasi dilakukan dalam suatu lubang terbuka dalam satu rangkaian sel dalam rotor, kedudukannya diberi jendela jendela sedemikian dan bisa dipakai untuk mengamati perubahan konsentrasi dalam larutan polimer. Komponen komponen dasar ultrasentrifugal sebagai berikut:

Page 18

Viskositas
Untuk mendapatkan nilai rata-rata molekul polimer dengan metode ini yaitu dengan membandingkan antara viskositas larutan polimer terhadap viskositas pelarut murni. Viskositas sendiri menyatakan kekentalan dari suatu larutan polimer. Alat yang digunakan adalah viscometer Ostwald. Prinsip kerjanya adalah pengukuran waktu yang diperlukan pelarut atau larutan polimer untuk mengalir diantara 2 tanda x dan y. Volume cair harus tetap karena ketika cairan mengalir kebawah melalui pipa kapiler A, cairan harus mendorong cairan naik ke B. Akibatnya volume cairan berbeda masuk percobaan, maka cairan yang didorong menaiki tabung B akan berubah pula. Dasar teori Viskositas yang digunakan untuk massa molekul polimer ialah jika viskositas larutan polimer adalah dan viskositas pelarut murni ialah o maka viskositas jenis SP.

Persamaannya :

Persamaan ini menggambarkan peningkatan viskositas yang disebabkan oleh polimer. C adalah konsentrasi larutan polimer. Harga SP disebut viskositas tereduksi dan diberi lambang [ ] untuk pelarutan terbatas. Rumusnya :

Page 19

Karena massa jenis berbagai larutan yang dipakai hampir sama dengan massa jenis pelarut maka dapat diandaikan viskositas tiap larutan hasil pengenceran berbanding lurus dengan waktu alirnya dan pesamaannya adalah:

Jika dihitung harga h SP dan h SP/c kemudian diekstrapolasi ke konsentrasi awal (Co)

akan menghasilkan harga [h ]. Dengan demikian dapat dihitung massa molekul polimer dengan persamaan :

M = Massa molekul rata-rata polimer K dan a untuk beberapa pelarut dan polimer tertentu yang nilainya diketahui

Kelebihan metode viskometri daripada metode lain adalah lebih cepat dan mudah, alatnya murah dan perhitungannya lebih sederhana dan kekurangan dari metode viskometri adalah bukan metode mutlak.

Page 20

Kesimpulan

Jadi proses polimerisasi dan menghitung nilai berat molekul polimer dapat mempengaruhi terhadap kualitas bahan.

Berat molekul merupakan variabel yang penting sebab berhubungan langsung dengan sifat kimia polimer

Untuk mengukur berat molekul dapat digunakan dengan beberapa metode pengukuran yaitu sebagai berikut :
I. II. III. IV. V. Osmometri Analisis gugus ujung Hamburan cahaya Ultrasentrifugasi Viskositas

Page 21

Page 22