Anda di halaman 1dari 26

ADMINISTRATOR RUMAH SAKIT DALAM PERANNYA SEBAGAIPUBLIC LEADERSHIP ( Sutopo Patria Jati)1 PENDAHULUAN Public Leadership memegang peran

penting terutama dalam menghadapi tuntutan reformasi di suatu negara karena tuntutan perubahan dan reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan tersebut tidak dapat lagi menggunakan pendekatan kepemimpinan yang tradisional, birokratis dan otoriter. Pendekatan kepemimpinan yang perlu terus dicari bentuknya yang tepat dalam masa reformasi adalah kepemimpinan yang selain dilandasi oleh penguasaan pengetahuan dan keahlian yang memadai juga mampu merumuskan visi , misi, meningkatkanteam- building, partisipasi dan pemberdayaan terhadap semua faktor kunci. Berkaitan dengan hal tersebut maka organisasi public termasuk Rumah Sakit (RS) setidaknya harus mampu merekrut dan mempertahankan sumber daya manusia yang handal, atas dasar tuntutan itu maka organisasi publik/RS memerlukan peran pemimpin dan manajer yang juga handal dan mampu bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola perubahan dan reformasi tersebut secara tepat. Berdasarkan pemikiran tersebut pula maka reformasi administrasi pemerintahan khususnya adminstrasi RS difokuskan penyelarasan antara konsep debirokratisasi dan desentralisasi dengan model pendekatan manajemen yang lebih terbuka, adaptif, partisipatif, fleksibel dan responsive Peran penting pemimpin terkait dengan proses reformasi juga dinyatakan oleh seorang peneliti di Bulgaria sebagai berikut: "Leadership plays an important role in the implementation of reform because it involves two of the most important aspects of reform: change and people. Changing organization is really about changing people's behavior, so organizations undergoing reform need leadership. Leaders can help diffuse and maintain the new values necessary for public sector reform" (Pavel Pavlov & Polya Katsamunska, 2002:The Relationship of Leadership and New Public Management in Central Government: Bulgarian Specifics) BEBERAPA PENDEKATAN TEORI KEPEMIMPINAN Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa kepemimpinan itu merupakan gabungan interaksi antar beberapa elemen yang kompleks terutama elemen pemimpin, anak buah dan situasi., yaitu :

1. Pendekatan Sifat Kepemimpinan Sejak mulai jaman Yunani dan Romawi konsep berlaku konsep bahwa pemimpin adalah dilahirkan bukan dibuat yang dikenal sebagai teori great man, dimana seorang itu dilahirkan telah membawa atau tidak membawa beberapa ciri atau sifat yang diperlukan bagi seorang pemimpin. 2. Pendekatan Perilaku Pendekatan perilaku berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemipin tersebut. Dalam mengelola organisasi ada dua hal yang sangat menonjol , yaitu mengelola organisasi dengan lebih mengutamakan aspek yang berhubungan dengan tugas; atau mengelola organisasi dengan lebih mengutamakan aspek yang berhubungan dengan hubungan antar orang, perasaan, emosi, kebutuhan dan kepercayaan (trust); atau mengelola organisasi dengan memperhatikan kedua aspek tersebut secara bersama-sama. Ada beberapa konsep perilaku dari hasil studi kepemimpinan yang dikenal antara lain : a. Studi Kepemimpinan Universitas Iowa Dikemukan oleh Ronald Lippit dan Ralp K. White yang membagi 3 gaya kepemipinan yaitu : Otoriter, otokratis, diktator dengan ciri lebih mengutamakan orientasi pada tugas Demokratis dengan ciri orientasi pada tugas dan pada orang adalah seimbang Liberal dengan ciri lebih mengutamakan orientasi pada orang b. Studi Kepemipinan Universitas Ohio Hasil studi ini membedakan dua macam perilaku kepemimpinan , yaitu initiating structure dan consideration. Dalam studi lebih lanjut oleh Fleisman dan Harris menemukan bahwa keluhan yang timbul dari para pegawai sangat sedikit apabila pemimpin sekaligus berperilaku strukutr tugas dan tenggang rasa yang sama-sama tinggi. Sebaliknya keluhan akan muncul sangat banyak apabila pemimpin sekaligus berperilaku struktur tugas dan tenggang rasa dengan derajat yang sama-sama rendah. Kesimpulannya adalah kedua tipe kepemipinan tersebut dianggap tidak saling berhubungan. c. Studi Kepemimpinan Universitas Michigan

Penelitian ini membagi dua macam perilaku pemimpin yaitu the job- centered dan the employeecentered. Kedua tipe perilaku pemimpin tersebut dianggap saling berhubungan, artinya jika pemimpin lebih tinggi terpusat pada tugas maka berakibat perilakunya yang terpusat pada pegawai akan lebih rendah (model kontinuum ). d. Empat sistem manajemen Dikemukakan oleh Rensis Likert yang membagi perilaku pemimpin menjadi empat sistem manajemen, yaitu : sistem 1 adalah explotative authorative; sistem 2 adalah benelovent authorative; sistem 3 concultative leadership dan sistem 4 adalah participative-group leadership. Perbedaan sistem 1 dan sistem 4 yang ekstrem tersebut diperinci lebih lanjut oleh James A. Stoner kedalam beberapa ciri meliputi : proses kepemimpinan, proses komunikasi, proses saling mempengaruhi, proses pembuatan keputusan, proses penentuan tujuan dan proses kontrol. 3. Pendekatan Kontingensi Tiap organisasi mempunyai ciri khusus dan unik bahkan untuk organisasi yang sejenis akan menghadapi masalah yang berbeda pada aspek lingkungan , watak serta perilaku. Oleh karena itu tidak mungkin dipimpin dengan perilaku yang tunggal (one best way), atas dasar pemikiran ini maka muncul pendekatan kontingensi atau situasional. Menurut Hoise dan kawan-kawan terdapat dua macam variabel yang membantu menentukan gaya kepemimpinan yang efektif , yatiu : a. Ciri-ciri pribadi bawahan ( personal characteristic of ordinates ) b. Dorongan dari lingkungan dan tuntutan di tempat kerja (environmental pressures and demand in the workplace) Salah satu model yang dikenal adalah yang dikemukakan oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard yaitu model kepemipinan situasional, yang didasarkan pada saling pengaruh antara : 1) sejumlah petunjuk dan pengarahan (perilaku tugas) yang pimpinan berikan; 2) sejumlah dukungan emosi (perilaku hubungan) dari pemimpin; dan 3) tingkat kesiapan ( kematangan ) yang ditunjukkan para bawahan dalam melaksanakan tugas. Selanjutnya mereka membagi gaya kepemimpinan menjadi :

Telling dengan ciri adalah tinggi tugas dan rendah hubungan Selling dengan ciri adalah tinggi tugas dan tinggi hubungan Participating dengan ciri adalah tinggi hubungan dan rendah tugas Delegating dengan ciri adalah rendah hubungan dan rendah tugas PEMBAGIAN JENIS PUBLIC LEADERSHIP Jenis Public Leadership menurut beberapa penelitian dapat dibagi menjadi tiga kelompok , yaitu : 1. Kelompokpertama adalah tipe pemimpin publik yang sering dijumpai dan memiliki ciri pemimpin yang secara konstan bersedia menghadapi dan menerima perubahan penting manakala diperlukan 2. Kelompokkedua adalah pemimpin yang bersifat adekuat karena mampu membuat prognosis dari perubahan dan bisa mengantisipasi masa depan 3. Kelompokketiga adalah pemimpin strategik yang tidak hanya mampu membuat prognosis perubahan akan tetapi juga mampu melakukan tindakan persiapan secara inovatif dan kreatif. Perkembangan dalam pembagian jenis kepemimpinan publik ini tidak terlepas dari adanya konsep baru dalam penyelenggaran pengelolaan organisasi publik yang berubah secara radikal sekitar tahun 1990-an di Amerika. Salah satu terminologi baru yang diperkenalkan oleh Osborn and Gaebler adalah entrepreneurial government, yang mempertimbangkan adanya perubahan lingkungan yang makin kompetitif sehingga manajemen organisasi publik termasuk manajemen di RS juga dituntut makin efektif. Arah perubahan baru tersebut yang semakin memisahkan peran pembuat kebijakan dengan pelaksana kebijakan dari organisasi publik serta tuntuan untuk mengimplentasikan metode dan teknik manajemen private sector ke dalam manajemen publik yang menyebabkan perubahan konsep penyelenggaran pengelolaan organisasi publik/RS yang mengutamakan pada beberapa pendekatan sebagai berikut: o Measure performance; focus on results and fund outcomes rather than inputs o Be driven by goals missions not by rules and regulations o Promote competition into service delivery among service providers o Empower rather than serve patients by transferring control from the bireaucracy

to the community o Meet the needs of the customer and not of the bureaucracy by redefining clients as customers and giving them choices o Prevent problems by anticipating them before they arise, rather than offering services after the fact o Earn money rather than spending all the time o Decentralize authority and promote participatory management o Choose market mechanisms in preference to bireaucratic mechanisms o Catalyze all sectors / public, private and voluntary / in order to solve community problems KOMPETENSI, PENGETAHUAN & SKILL ADMINSTRATOR RUMAH SAKIT DALAM PENDEKATAN PUBLIC LEADERSHIP Berdasarkan beberapa pendapat dari hasil penelitian disebutkan bahwa paling tidak ada enam buah kombinasi dari kompetensi, pengetahuan dan skill dari para eksekutif yang memiliki jabatan adminstratif yang seharusnya dikembangkan dalam kepemimpinan publik kepada agar penyelenggaran pelayanan publik dapat efektif, antara lain adalah : 1.Managerial competence. Kebutuhan utamanya adalah kepemimpinan untuk : Set the goals of the administrative unit and develop action program; provide the resources needed for achieving the goals set; determine the priorities and apply the most effective methods for accomplishing the administrative activities; organize the work and distribute it; monitor and control employees' performance; coordinate the work among employees within the administrative unit and with other organizational units; stimulate and promote employee's' professional and personal development; monitor, control and appraise the employees' performance. 2.Being competent in knowing and using laws and other normative acts.Kebutuhan utamanya adalah kepemimpinan untuk : Have knowledge of laws related to the field he/she works; apply the norms of laws correctly; have a specific knowledge of the job and the internal normative documents orders, instructions and procedures which refer to successful job performance; constantly upgrade his/her knowledge of the

changes in legislation related to the job performance; know and explain, if necessary, mission and goals of the administrative in it he/she manages. 3.Communicative competence. Kebutuhan utamanya adalah kepemimpinan untuk : Create conditions for improving the communication in the administration; use flexible and appropriate techniques for presenting ideas and programs; manage the information effectively so that it is rendered to other employees on time; create atmosphere of fair and equal treatment for all employees as a conduction for establishing favorable social and psychological climate. 4.Competence related to changes and change management. Kebutuhan utamanya adalah kepemimpinan untuk : Research and apply the uptodate methods of work in public administration used by the most developed countries; generate and present new ideas for improving performance; manage the resistance to changes. 5.Competence to work with patients as customers of public/hospital services. Kebutuhan utamanya adalah kepemimpinan untuk : Be polite, kind and accurate in serving the customers; have a good understanding of customers' needs; be capable of explaining complex solutions and the customers' rights in a clear and unbiased way; provide high level of customer servicing that leads to enhancing the image of administration. 6.Computer competence. Kebutuhan utamanya adalah kepemimpinan untuk : Know and apply the computer software needed for job performance; use the information technologies for improving the performance, increase the effectiveness and the spread of information /develop information and communication environment in the state administration for introducing ehospital BEBERAPA ATRIBUT PENTING DARI ADMINSTRATOR RUMAH SAKIT SEBAGAI PUBLIC LEADERSHIP Sebelum mengidentifikasi beberapa atribut penting dari public leadership, terlebih dahulu harus dipahami tentang perbedaan utama antara seorangmanager dan seoranglead er, seperti yang terangkum dalam enam aspek berikut ini :

Managers do things right, while leaders do the right thing. Managers maintain the status quo, while leaders move others to committed change. Managers follow established rules upanddown the "chain of command", while leaders challenge the status quo. Managers control financial, human and technological resources, while leaders enable other to act with enhanced creativity, enthusiasm, and initiative Managers establish timetable to monitor work and, if necessary, coerce subordinates, while leaders lead others to lead themselves. Managers stress consistency and reliability, while leaders develop strategies to inspire a shared vision for the future and align stakeholders with the larger vision Berdasarkan hasil penelitian dariGovernment Leadership Survey dibuktikan bahwa keahlian teknis bukan menjadi atribut terpenting dalam public leadership, mereka menyimpulkan beberapa atribut kepemimpinan publik terpenting yang harus dimiliki para eksekutif senior dari lembaga publik termasuk di RS, yaitu meliputi Table1: Critical Attributes for Senior Executives No Leadership attributes % Rating attribute as highly important 1 Adaptability/flexibility 72% 2 Accountability 69% 3 Vision and strategic thinking 64% 4 Customer orientation 58% 5 Commitment to public service 55% 6 Management of financial resources 44% 7 Ability to establish networks and alliances 41% 8 Value of cultural diversity 39% 9 Management of information technology 37%

Sumber : Pavlov Pavel & Polya Katsamunska, 2002:The Relationship of Leadership and New Public Management in Central Government: Bulgarian Specifics PRINSIPPRINSIP ADMINSTRATOR RUMAH SAKIT SEBAGAI PUBLIC LEADERSHIP University of Missouri mencoba mengembangkan model tentang prinsipprinsip yang harus dimiliki oleh kepemimpinan publik, antara lain meliputi : 1. The greater the consensus there is within the group about the goals, the higher the probably there will be change. 2. In situations perceived as crisis, it is easier to develop consensus than in situations in which the need is seen as less urgent 3. Leadership is multidirectional in the flow of influence. 4. There are many people (perhaps all of the people some of the time) who do not want to be leaders. 5. The criticisms of leaders have increased especially in the mass media in recent years and decades.. 6. Criticisms of public (and many private) leaders has become very personal. 7. Leadership of a highly visible nature or long duration will almost always draw strong public and private criticism. 8. The act of leadership is often hard to define exactly about when it begins and ends. 9. Leadership is situation specific. 10. Leadership is not a specific style or process. 11. The voluntary settings in which leadership generally occurs can be categorized into the following types:(1.) political/public/governmental, (2.) business,(3.) organizational, (4.) community, and, (5.) informal groups. 12. The ability to work effectively in organizational settings is often an important part of leadership. 13. Much of good public leadership activities occur outside of the public setting. 14. Normally, the leader has many similar attitudes, beliefs and other characteristics in common with his/her supporters. 15. Once an individual has been successful as a leader, they are more likely to accept or seek other opportunities to become a leader. 16. The titles of "leader" and "true leadership" are not always the same in the public mind. 17. The change or legacy of a good leader will last long after the leader has left the role.. 18. Official positions do not necessarily produce leadership.. 19.Official positions may provide a "springboard" for leadership. 20. Time in office and other forms of public exposure may enhance the possibilities of leadership. 21. Many types of leadership, especially long term or political leadership, require the ability to separate personality and issues. Sedangkan berdasarkan sifat dan karakteristik personal yang direkomendasikan

University of Michigan agar kepemimpinan publik / RS menjadi efektif antara lain Menurut Miller (1996) pengertian dan sekaligus menjadi prinsip dalamleadership adalah : L = liste ni n g E = empowering viewpoint A = a m b it i o n D = d es i re E = ex a m p l e R = re sp e c t S = se l f este e m H = h e a rt I = in i t i a t ive P = p at i e n c e LEADERSHIP SYLE DARI ADMINSITRATOR RUMAH SAKIT Leadership Style diartikan sebagai Gaya kepemimpinan dari pemimpin puncak dan gaya keseluruhan yang ada dalam organisasi (Bradach, 1996, h. 6). Bradach menyatakanstyl e terkait dengan bagaimana suatu pekerjaan dapat diterima dalam organisasi, termasuk bagaimana menejemen mempergunakan waktunya ( berkeliling atau dengan rapat pertemuan ), kemana manajer akan memfokuskan perhatiannya (internal atau eksternal organisasi ), dan bagaimana mereka mengambil keputusan (partisipatif atautop-down).Style juga berkaitan dengan tindakan-tndakan simbolik seperti pembagian jenis pekerjaan ( untuk pekerja atau rekan bisnis ), penggunaan ruang makan yang eksklusif untuk para eksekutif, atau ketertarikan terhadap adanya umpan balik. Gaya kepemimpinan juga meliputi kegiatan bagaimana seorang pemimpin mendistribusikan kekuasan mereka. Kekuasaan didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi secara langsung pada sikap dan perilaku orang lain kearah tujuan yang diiinginkan (Yuki,1994). Menggunakan disain taksonomi dari French dan Raven, kekuasaan meliputi antara lain :

Legitimate power: kewenangan resmi dari seorang pemimpin untuk memastikan pemenuhan permintaan

Coercive power : pengendalian oleh pemimpin melalui hukuman Reward power : pengendalian oleh pemimpin melalui pemberian penghargaan Expert power : kemampuan menguasai pengetahuan dan keahlian dari seorang pemimpin Referent power : kepatuhan dari bawahan dan kebutuhan untuk merujuk kepada pemimpinnya Informational power : pengendalian dan akses terhadap informasi dari seorang pemimpin. Budaya organisasi tercermin dalam bagaimana gaya kepemimpinannya (The Conference Board, 1989). Perusahaan yang didominasi oleh gaya perintah & kontrol akan memiliki karakterstik komunikasi yang top-down, pengawasan yang otoriter, peraturan kerja yang kaku, dan hubungan antara pekerja dan manajer yang adversary. Kondisi lingkungan ini membutuhkan kombinasi antara hukuman dan penghargaan yang berprinsip jika memberikan satu inchi akan memperoleh satu meter , akan menciptakan gaya manajemen yang kaku dan angkuh (The Conference Board, 1989). Gaya kepemipinan administrator RS yang dinilai dapat lebih mendorong dan fokus pada komitmen pekerjanya memiliki ciri antara lain : terdapat komunikasi dua arah, pengambilan keputusan yang partisipatif, peraturan kerja dan tim yang fleksibel, dan hubungan kerja yang kooperatif antar pekerja dan menejemen. Komunikasi dapat menjadi sarana memodifikasi perilaku, mempengaruhi perubahan, memproduksi informasi, dan sarana untuk mencapai tujuan. Komunikasi yang efektif sangat penting bagi administrator RS karena dua alasan : Komunkasi adalah suatu proses untuk memadukan berbagai fungsi manajemen : perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan pengendalian. Komunikasi adalah kegiatan dimana pemimpin mencurahkan sebagian besar waktunya. PENUTUP

Terkait dengan peran penting administrator/leader untuk mengelola lembaga public secara good governance, dan memfasilitasi semua kepentingan publik melalui keterbukaan, kejujuran dan

legitimasi (Stewart and Robinson, 1998). Maka administrator RS sebagai seorang public leadership di RS juga dituntut agar mampu memberikan pelayanan kepada publik/pasien secara responsif dan efisien disebabkan publik/pasien tersebut bukan hanya sebagai warga negara melainkan juga dipandang sebagaicustomer danuser dari pelayanan publik.. DAFTAR REFERENSI Sutarto, Dasar-dasar Kepemimpinan Administrasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2001 Pavlov Pavel & Polya Katsamunska, 2002 :The Relationship of Leadership and New Public Management in Central Government: Bulgarian Specifics, h t t p : //un p an 1 . un . o rg Maret 2005 Aditama, Tri Yoga, Manajemen Adminstrasi Rumah Sakit, Edisi Kedua, UIP, Jakarta, 2002 Leadership - an exploration of issues relating to leadership in the public domain, http://northernirelandexecutive.org/, Maret 2005 BAB IIPEMBAHASAN A. Pelayanan Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat, disingkat Puskesmas, adalah Organisasifungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh,terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran sertaaktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat.Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayananuntuk masyarakat luas guna mencapai derajad kesehatan yang optimal, tanpamengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan.Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisiDinas Kesehatan Kabupaten/Kota.Secara umum, mereka harus memberikan pelayananpreventif, promotif, kuratif sampai dengan rehabilitatif baik melalui upaya kesehatanperorangan (UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM). Puskesmas dapatmemberikan pelayanan rawat inap selain pelayanan rawat jalan. Hal ini disepakati olehpuskesmas dan dinas kesehatan yang bersangkutan. Dalam memberikan pelayanan dimasyarakat, puskesmas biasanya memiliki subunit pelayanan seperti puskesmaspembantu, puskesmas keliling, posyandu, pos kesehatan desa maupun pos bersalindesa (polindes).Untuk menjamin akuntabilitas pelayanan, Puskesmas wajib melaksanakanSistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Melalui SP2TP,Puskesmas diwajibkan mengumpulkan data transaksi pelayanan baik pelayanan UKPmaupun UKM secara rutin. Melalui berbagai program yang terselenggara, merekadiwajibkan membuat laporan bulanan ke dinas kesehatan melalui format LB1 (laporanbulanan 1) yang berisi morbiditas penyakit, LB2 yang berisi laporan pencatatan danpenggunaan obat, LB3 dan LB4 yang lebih banyak memuat tentang programpuskesmas Setiap puskesmas mempunyai pelayanan didalam gedung atau diluar gedung,menurut jumlah sasaran dan wilayah kerjanya. Sesuai status puskesmas, perawatanatau non perawatan, bisa melaksanakan kegiatan pokok, maupun pengembangan,tergantung kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya material. Berikutringkasan 9 (sembilan) program pokok sebagai contoh perbandingan pelayananmenurut paparan pengalaman pribadi selama bertugas mengabdi keliling puskesmas. 1 . Program Promosi Kesehatan (Promkes) :

y Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM), Sosialisasi Program Kesehatan, SurveyPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Penilaian Strata Posyandu 2 . Program Pencegahan Penyakit Menular (P 2 M) : y Surveilens Terpadu Penyakit (STP), Pelacakan Kasus: TBC, Kusta, DBD, Malari, FluBurung, Infeksi Saluran Peranafasan Akut (ISPA), Diare, Infeksi Menular Seksual(IMS), Penyuluhan Penyakit Menular 3 . Program Pengobatan : y Pengobatan Dalam Gedung : Poli Umum, Poli Gigi (Rawat Jalan), Apotek,, UnitGawat Darurat (UGD), Perawatan Penyakit (Rawat Inap), Pertolongan Persalinan(Kebidanan) y Pengobatan Luar Gedung : Rujukan Kasus, Pelayanan Puskesmas Keliling (Puskel) 4 . Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) : y ANC ( Antenatal Care ), PNC ( Post Natal Care ), Pertolongan Persalinan, Rujukan IbuHamil Risiko Tinggi, Pelayanan Neonatus, Kemitraan Dukun Bersalin, ManajemenTerpadu Balita Sakit (MTBS) 5. Program Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana (KB) : y Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), Imunisasi Calon Pengantin (TTCatin), Pelayanan KB Pasangan Usia Subur (PUS), Penyuluhan KB 6 . Program Upaya Peningkatan Gizi Masyrakat : Penimbangan Bayi Balita, Pelacakan dan Perawatan Gizi Buruk, Stimulasi danDeteksi Dini Tumbuh Kembang Anak, Penyuluhan Gizi 7 . Program Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan :

y Pengawasan Kesehatan Lingkungan : SPAL (saluran pembuangan air limbah),SAMI-JAGA (sumber air minum-jamban keluarga), Pemeriksaan Sanitasi : TTU(tempat-tempat umum), Institusi Perkantoran, Survey Jentik Nyamuk (SJN) 8 . Program Pelayanan Kesehatan Komunitas : y Kesehatan Mata, Kesehatan Jiwa, Kesehatan Lansia, Kesehatan Olahraga,Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas), Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) 9 . Program Pencatatan dan Pelaporan : y Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) disebut jugaSistem Informasi dan Manajemen Puskesmas (SIMPUS)Para pakar mengatakan, manajemen adalah art and science to organize, toarrange the members or employee in order to reach the goasl of organization . Seni danilmu menata, mengatur, menggerakkan para anggota atau karyawan untuk mencapaitujuan organisasi, memang menjadi tantangan setiap manajer. Bagaimana seni dan ilmuitu bisa diwujudkan dan dikembangkan bergantung kepada kreatifitas para pimpinanorganisasi, karena setiap organisasi mempunyai tujuan sesuai visi dan misi organisasi.Pembenahan organisasi manajemen puskesmas, juga memerlukan seni danpengetahuan untuk memahami hal-hal apa yang terlibat dalam mencapai tujuan sertaapa yang menghambat pencapaian tujuan institusi. Berdasarkan analisis pengalamandari berbagai sumber informasi, ada tujuh konsep (7 K) yang dikembangkan untukmembenahi kinerja manajemen puskesmas.1. KOMUNIKASI : y Menyampaikan apa yang akan dibenahi memerlukan seni komunikasi agar tidakmenimbulkan salah persepsi atau miskomunikasi, baik secara interpersonal ataulewat pertemuan organisasi seperti minilokakarya (minlok) puskesmas . KOORDINASI : y Menggabungkan berbagai karakter yang berbeda dalam organisasi, memerlukanketerpaduan lintas program dan lintas sektor untuk mendukung pencapaian target.3. KOMITMEN : y Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan penuhsikap profesional dan dedikasi tinggi, sesuai standar profesi, untuk memberikan yangterbaik.4. KONSISTEN : y Apa yang telah disepakati juga harus secara cepat dan tepat dijalankan bersama-sama, sesuai tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing staf/pegawai yangproporsional.5. KONTINYU :

y Aktifitas harus terus berkelanjutan dalam menjalankan kegiatan yang sudahdiarahkan. Terus menerus mempunyai inisiatif, aktif dan kreatif dalam menjalankantugas6. KONSEKUEN : y Sanggup menjalankan amanah dengan sikap penuh tanggung jawab menurut tugasyang telah diembankan untuk dapat mengembangkan potensi diri setiap pegawai7. KOOPERATIF : y Kerjasama menyeluruh antara unit organisasi maupun dengan unit kerja lainnyayang dapat mendukung kemajuan organisasi. Apakah tujuh konsep tersebut hanya sekadar teori yang seringkali sulitdijalankan? Semua itu berpulang kembali pada seni dan keilmuan dari masing-masingmanajer puskesmas. Para kepala puskesmas juga perlu mendapatkan dukungan bersama para staf untuk pembenahan kinerja manajemen yang telah menjadi tujuanorgananisasi.Pelayanan medik dasar merupakan kontak pertama pelayanan kesehatan disarana kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar manusia dalam mempertahankan danmeningkatkan kesehatan serta menanggulangi penyakit untuk kelangsungan hidupmanusia. Di Indonesia saat ini terdapat hampir 53 jenis sarana kesehatan yang ada,namun belum semuanya tertata baik standar penyelenggaraan pelayanan dasar maupun proses pelaksanaan perijinannya.Dalam upaya meningkatkan mutu perlu dilakukan pemantauan secara berkalaterhadap aspek-aspek yang mempengaruhi kinerja sarana kesehatan dalammemberikan pelayanan kesehatan serta bagaimana pembinaan yang dilakukan olehinstitusi terkait.Sesuai dengan keberadaan sarana kesehatannya, maka pemantauan aspek-aspek yang mempengaruhi mutu yankes ini bisa dilakukan oleh institusi terkait sesuaikewenangannya (eksternal) maupun oleh pihak institusi sarana kesehatan itu sendiri(internal).Sampai saat ini upaya penigkatan mutu yang sudah dilakukan yaitu rumah sakitberupa akreditasi, puskesmas melalui stratifikasi maupun penilaian kinerja puskesmas.Sedangkan untuk sarana pelayanan kesehatan dasar lainnya belum dilakukan secaramaksimal. Untuk itulah perlu diupayakan bersama secara kontinyu, agar apa yangdiharapkan bisa menjadi acuan bagi peningkatan mutu penyelenggaraan pelayanankesehatan medik dasar

Gerakan Puskesmas Modern


PENGEMBANGAN PUSKEMAS Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 alenia 4 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakan program pembangunan nasional secara berkelanjutan, terencana dan terarah. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Tujuan terselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemamuan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Keberhasilan pembangunan kesehatan berperan penting dalam peningkatan mutu dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Puskesmas adalah penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang tingkat pertama.

Sejak diperkenalkannya konsep puskesmas pada tahun 1968, berbagai hasil telah banyak dicapai. Angka kematian ibu dan kematian bayi telah berhasil diturunkan dan sementara itu umur harapan hidup rata-rata bangsa Indonesia telah meningkat secara bermakna. Pada saat ini Puskesmas telah didirikan hampir diseluruh pelosok tanah air. Untuk menjangkau seluruh wilayah kerjanya, Puskesmas diperkuat dengan puskesmas pembantu serta puskesmas keliling. Kecuali itu untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan, puskesmas dilengkapi dengan fasilitas rawat inap. Sekalipun berbagai hasil telah banyak dicapai, namun dalam pelaksanaannya puskesmas masih menghadapi berbagai masalah antara lain: Visi, misi dan fungsi puskesmas belum dirumuskan secara jelas, sehingga pelaksanaan program puskesmas dan keterkaitannya dengan program pembangunan kesehatan secara keseluruhan belum optimal. Beban kerja puskesmas sebagai unit pelaksana tehnis Dinas Kesehatan Kab/ kota terlalu berat. Pertama, karena rujukan kesehatan ke dan dari Dinas Kesehatan Kab/kota kurang berjalan. Kedua, karena Dinas Kesehatan Kab/kota yang sebenarnya bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan secara menyeluruh di wilayah Kab/kota lebih banyak melaksanakan tugas-tugas administrasi. Sistem manajemen puskesmas yakni perencanaan (P1) yang diselenggarakan melalui mekanisme perencanaan mikro yang kemudian menjadi perencanaan tingkat puskesmas, penggerakan pelaksanaan (P2) yang diselenggarakan melalui mekanisme lokakarya mini serta pengawasan, pengendalian dan penilaian (P3) yang diselenggarakan melalui mekanisme stratifikasi puskesmas yang kemudian menjadi penilaian kinerja puskesmas dengan berlakunya prinsip otonomi perlu disesuaikan. Pengelolaan kegiatan puskesmas meskipun telah ditetapkan merupakan aparat daerah tetapi masih terlalu bersifat sentralistik. Puskesmas dan daerah tidak memiliki keleluasaan menetapkan kebijakan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, yang tentu saja dinilai tidak sesuai lagi dengan era desentralisasi. Kegiatan yang dilaksanakan puskesmas kurang berorientasi pada masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat setempat. Selama ini setiap puskesmas dimanapun berada menyelenggarakan upaya kesehatan yang sama. Keterlibatan masyarakat yang merupakan andalan penyelenggaraan pe;layanan kesehatan tingkat pertama belum dikembangkan secara optimal. Sampai saat ini puskesmas kurang berhasil menumbuhkan inisiatif dan rasa memiliki serta belum mampu mendorong kontribusi sumber daya dari masyarakat dalam penyelenggaraan upaya puskesmas. Sistem pembiayaan puskesmas belum mengantisipasi arah perkembangan depan, yakni sistem pembiayaan pra-upaya untuk pelayanan kesehatan perorangan. Menyadari keberhasilan puskesmas adalah penting dalam rangka mewujudkan isi pembangunan kesehatan di Indonesia yakni Indonesia Sehat 2010, maka berbagai masalah dan atau kekurangan puskesmas di atas perlu segera diatasi. Pengertian Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kab/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. 1. Unit Pelaksana Teknis Sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kab/kota (UPTD), puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan kab/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di

Indonesia. 2. Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar tewujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. 3. Pertanggung jawaban Penyelenggaraan Penanggung jawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan diwilayah kab/kota adalah dinas kesehatan kab/kota, sedangkan puskesmas bertanggung jawab hanya untuk sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kab/kota sesuai dengan kemampuannya. 4. Wilayah Kerja Secara nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas, dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung kepada dinas kesehatan kab/kota. Visi Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Indikator kecamatan sehat yang ingin dicapai mencakup 4 indikator yakni: Lingkungan sehat Perilaku sehat Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu Derajat kesehatan penduduk kecamatan Misi Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut adalah: Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan diwilayah kerjanya Puskesmas akan selalu menggerakan pembangunan sektor lain yang diselenggarakan diwilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan, yaitu pembangunan yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat diwilayah kerjanya Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya makin berdaya dibidang kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan menuju kemandirian untuk hidup sehat Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota masyarakat. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta

lingkungannya Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya pemeliharaan dan peningkatan yang dilakukan puskesmas mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan Tujuan Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010. E. Fungsi 1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan Puskesmas selalu berupaya menggerakan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha diwilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Disamping itu puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan diwilayahnya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan 2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat. 3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggungjawab puskesmas meliputi: Pelayanan kesehatan perorangan Pelayanan kesehatan masyarakat F. Kedudukan Kedudukan puskesmas dibedakan menurut keterkaitannya dengan Sistem Kesehatan Nasional, Sistem Kesehatan Kab/kota dan Sistem Pemerintahan Daerah. 1. Sistem Kesehatan Nasional Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan Nasional adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. 2. Sistem Kesehatan Kab/Kota Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan kab/kota adalah sebagai unit pelaksana teknis

dinas kesehatan kab/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan kabupaten/kota di wilayah kerjanya. 3. Sistem Pemerintahan Daerah Kedudukan puskesmas dalam sistem pemerintahan daerah adalah sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kab/kota yang merupakan unit struktural pemerintah daerah kab/kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan 4. Antar Sarana Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Diwilayah kerja puskesmas terdapat berbagai organisasi pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta seperti praktek dokter, praktek dokter gigi, praktek bidan dan lain sebagainya. Kedudukan puskesmas diantara berbagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama ini adalah sebagai mitra dan sebagai pembina pada upaya kesehatan yang berbasis dan bersumber daya masyarakat seperti posyandu, pos obat desa dan pos UKK G. Organisasi 1. Struktur Organisasi Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas masing-masing puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas di satu kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan kab/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan peraturan daerah. Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas sebagai berikut: Kepala Puskesmas Unit Tata Usaha yang bertanggungjawab membantu kepala puskesmas dalam mengelola: Data dan informasi Perencanaan dan penilaian Keuangan Umum dan kepegawaian Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas Upaya Kesehatan Masyarakat, termasuk pembinaan terhadap UKBM Upaya Kesehatan Perorangan Jaringan pelayanan puskesmas: Unit Puskesmas Pembantu Unit Puskesmas Keliling Unit Bidan Desa/Komunitas 2. Kriteria Personalia Kriteria personalia yang mengisi struktur organisasi puskesmas disesuaikan dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing unit puskesmas. Khusus untuk kepala puskesmas kriteria tersebut dipersyaratkan harus seorang sarjana dibidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup kesehatan masyarakat. 3. Eselon Kepala Puskesmas Kepala puskesmas adalah penanggungjawab pembangunan kesehatan ditingkat kecamatan. Sesuai dengan tanggungjawab tersebut dan besarnya peran kepala puskesmas dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan ditingkat kecamatan maka jabatan kepala puskesmas setingkat eselon III-B. Dalam keadaan tidak tersedia tenaga yang memenuhi syarat untuk menjabat jabatan eselon III-B ditunjuk pejabat sementara yang sesuai dengan kriteria kepala puskesmas yakni sarjana dibidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup bidang kesehatan masyarakat, dengan kewenangan yang setara dengan pejabat tetap.

H. Tata Kerja 1. Dengan Kantor Kecamatan Dalam melaksanakan fungsinya puskesmas berkoordinasi dengan kantor kecamatan melalui pertemuan berkala yang diselenggarakan ditingkat kecamatan. Koordinasi tersebut mencakup perencanaan, penggerakan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta penilaian. Dalam hal pelaksanaan fungsi penggalian sumberdaya masyarakat oleh puskesmas, koordinasi dengan kantor kecamatan mencakup pula kegiatan fasilitasi. 2. Dengan Dinas Kesehatan Kab/Kota Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kab/Kota . Dengan demikian secara teknis dan administratif puskesmas bertanggungjawab kepada Dinas Kesehatan Kab/Kota. Sebaliknya Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggungjawab membina serta memberikan bantuan administratif dan teknis kepada puskesmas. 3. Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Sebagai mitra pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta, puskesmas menjalin kerjasama termasuk penyelenggaraan rujukan dan memantau kegiatan yang diselenggarakan. Sedangkan sebagai pembina upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat, puskesmas melaksanakan bimbingan teknis, pemberdayaan dan rujukan sesuai kebutuhan 4. Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, puskesmas menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai pelayanan kesehatan rujukan. Untuk upaya kesehatan perorangan jalinan kerjasama tersebut diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan perorangan seperti rumah sakit dan berbagai balai kesehatan masyarakat. Sedangkan untuk upaya kesehatan masyarakat jalinan kerjasama diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat rujukan seperti Dinas Kesehatan Kab/Kota. Kerjasama tersebut diselenggarakan melalui penerapan konsep rujukan yang menyeluruh dalam koordinasi Dinas Kesehatan Kab/Kota. Dengan Lintas Sektor Tanggungjawab puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota. Untuk hasil yang optimal penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada ditingkat kecamatan. Diharapkan disatu pihak penyelenggaraan pembangunan kesehatan dikecamatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai sektor terkait, sedangkan dipihak lain pembangunan yang diselenggarakan oleh sektor lain ditingkat kecamatan berdampak positif terhadap kesehatan. Dengan Masyarakat Sebagai penanggungjawab penyelenggaraan pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya, puskesmas memerlukan dukungan aktif dari masyarakat sebagai objek dan subjek pembangunan. Dukungan aktif tersebut diwujudkan melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas (BPP) yang menghimpun berbagai potensi masyarakat. BPP berperan sebagai mitra puskesmas dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan. I. Badan Penyantun Puskesmas Badan Penyantun Puskesmas adalah suatu organisasi yang menghimpun tokoh-tokoh masyarakat peduli kesehatan yang berperan sebagai mitra kerja puskesmas dalam menyelenggarakan upaya pembangunan kesehatan diwilayah kerja puskesmas. Fungsi dari Badan Penyantun Puskesmas adalah:

Melayani pemenuhan kebutuhan penyelenggaraan pembangunan kesehatan oleh Puskesmas Memperjuangkan kepentingan kesehatan dan keberhasilan pembangunan kesehatan oleh puskesmas Melaksanakan tinjauan kritis dan memberikan masukan tentang kinerja puskesmas J. Upaya Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas yakni terwujudnya kecamatan sehat menuju Indonesia sehat, maka puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat,yang keduanya jika ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokan menjadi dua yakni: 1. Upaya kesehatan wajib Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib itu adalah: Upaya promosi kesehatan Upaya kesehatan lingkungan Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana Upaya perbaikan gizi masyarakat Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular Upaya pengobatan 2. Upaya kesehatan pengembangan Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan dimasyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari dafta upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada yakni: Upaya kesehatan sekolah Upaya kesehatan olah raga Upaya perawatan kesehatan masyarakat Upaya kesehatan kerja Upaya kesehatan gigi dan mulut Upaya kesehatan jiwa Upaya kesehatan mata Upaya kesehatan usia lanjut Upaya pembinaan pengobatan tradisional Upaya laboratorium medis dan laboratorium kesehatan masyarakat serta upaya pencatatan dan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini merupakan pelayanan penunjang dan setiap upaya wajib dan upaya pengembangan puskesmas. Perawatan kesehatan masyarakat merupakan pelayanan penunjang baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Apabila perawatan kesehatan masyarakat menjadi permasalahan spesifik di daerah tersebut maka dapat dijadikan sebagai salah satu upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dapat pula bersifat upaya inovasi, yakni upaya lain diluar upaya puskesmas tersebut diatas yang sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka mempercepat tercapainya visi puskesmas. Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh puskesmas bersama Dinas

Kesehatan Kab/Kota dengan mempertimbangkan masukan dari BPP. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan wajib puskesmas telah terlaksana secara optimal dalam arti target cakupan serta peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan upaya kesehatan pengembangan pilihan puskesmas ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota. Dalam keadaan tertentu upaya kesehatan pengembangan puskesmas dapat pula ditetapkan sebagai penugasan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota. Apabila puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat, maka Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggungjawab dan wajib menyelenggarakannya. Untuk itu Dinas Kesehatan Kab/Kota perlu melengkapi dengan berbagai unit fungsional lainnya. Dalam keadaan tertentu, masyarakat membutuhkan pula pelayanan rawat inap, untuk ini di puskesmas dapat dikembangkan pelayanan rawat inap tersebut yang dalam pelaksanaannya harus memperhatikan berbagai persyaratan tenaga, sarana dan prasarana sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, dibeberapa daerah tertentu telah muncul pula kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan medik spesialistik. Dalam keadaan ini apabila ada kemampuan di puskesmas dapat dikembangkan pelayanan medik spesialistik tersebut baik dalam bentuk rawat inap maupun rawat jalan. Keberadaan pelayanan medik spesialistik di puskesmas hanya dalam rangka mendekatkan pelayanan rujukan kepada masyarakat yang membutuhkan. Status dokter dan atau tenaga spesialis yang bekerja di puskesmas dapat sebagai tenaga konsulen atau tenaga tetap fungsional puskesmas yang diatur oleh Dinas kesehatan Kab/Kota setempat. Perlu diingat meskipun puskesmas menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik dan memiliki tenaga spesialis, kedudukan dan fungsi puskesmas tetap sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya. K. Azas Penyelenggaraan Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus menerapkan azas penyelenggaraan puskesmas secara terpadu. Azas penyelenggaraan puskesmas tersebut dikembangkan dari ketiga fungsi puskesmas. Dasar pemikirannya adalah pentingnya menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi puskesmas dalam menyelenggarakan setiap upaya puskesmas, baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Azas penyelenggaraan puskesmas yang dimaksud adalah: 1. Azas pertanggungjawaban wilayah Azas penyelenggaraan puskesmas yang pertama adalah pertanggungjawaban wilayah. Dalam arti puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya. Untuk ini puskesmas harus melaksanakan berbagai kegiatan antara lain sebagai berikut: Menggerakkan pembangunan berbagai sektor tingkat kecamatan sehingga berwawasan kesehatan. Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya. Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang diselenggarakan oleh masyarakat dan dunia usaha diwilayah kerjanya. Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama secara merata dan terjangkau diwilayah kerjanya. Diselenggarakannya upaya kesehatan strata pertama oleh puskesmas pembantu, puskesmas

keliling bidan desa serta berbagai upaya kesehatan diluar gedung puskesmas lainnya pada dasarnya merupakan realisasi dari pelaksanaan azas pertanggungjawaban wilayah. 2. Azas Pemberdayaan Masyarakat Azas pemberdayaan masyarakat artinya puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya puskesmas. Untuk ini berbagai potensi madsyarakat perlu dihimpun melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas (BPP). Beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan oleh puskesmas dalam rangka pemberdayaan masyarakat antara lain: Upaya kesehatan ibu dan anak: Posyandu, Polindes, Bina Keluarga Balita (BKB) Upaya pengobatan: Posyandu, Pos Obat Desa (POD) Upaya perbaikan gizi: Posyandu, Panti pemulihan gizi, Keluarga sadar gizi (Kadarzi) Upaya kesehatan sekolah: Dokter kecil, penyertaan guru dan orang tua murid, Saka Bakti Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Poskentren) Upaya kesehatan lingkungan: Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan (DPKL) Upaya kesehatan usia lanjut: Posyandu usila, panti wreda Upaya kesehatan kerja: Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) Upaya kesehatan jiwa: Posyandu, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Upaya pembinaan pengobatan tradisional: Taman obat keluarga (Toga), Pembinaan pengobatan tradisional (Batra) Upaya pembiayaan dan jaminan kesehatan (inovasi): Dana sehat, Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), mobilisasi dana keagamaan 3. Azas Keterpaduan Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya serta diperolehnya hasil yang optimal penyelenggaraan setiap upaya puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu. Jika mungkin sejak dari tahap perencanaan. Ada dua macam keterpaduan yang perlu diperhatikan : Keterpaduan lintas program Keterpaduan lintas program adalah upaya memadukan penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan yang menjadi tanggungjawab puskesmas Keterpaduan lintas sektor Keterpaduan lintas sektor adalah upaya memadukan penyelenggaraan upaya puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi) dengan berbagai program dari sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha Azas Rujukan Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki oleh puskesmas terbatas. Padahal puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat dengan berbagai permasalahan kesehatannya. Untuk membantu puskesmas menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya puskesmas harus ditopang oleh azas rujukan. Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik. Baik secara vertikal maupun secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan yang sama. Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas ada dua macam rujukan yang dikenal yakni: Rujukan upaya kesehatan perorangan Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu

puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu. Sebaliknya pasien pasca rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke puskesmas. Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam: Rujukan kasus untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan medis dan lain sebagainya. Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap Rujukan ilmu pengetahuan Rujukan upaya kesehatan masyarakat Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan, dan bencana. Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka puskesmas wajib merujuknya ke Dinas Kesehatan Kab/Kota. Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam: Rujukan sarana dan logistik Rujukan tenaga Rujukan operasional L. Pembiayaan Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang menjadi tanggungjawab puskesmas, perlu ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup. Pada saat ini ada beberapa sumber pembiayaan puskesmas yaitu: 1. Pemerintah Sesuai dengan azas desentralisasi, sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah terutama adalah pemerintah kab/kota. Disamping itu puskesmas masih menerima dana yang berasal dari pemerintah provinsi dean pemerintah pusat. Dana yang disediakan oleh pemerintah dibedakan atas dua macam yaitu: Dana anggaran pembangunan yang mencakup dana pembangunan gedung, pengadaan peralatan serta pengadaan obat Dana anggaran rutin yang mencakup gaji karyawan, pemeliharaan gedung dan peralatan, pembelian barang habis pakai serta biaya operasional Setiap tahun kedua anggaran tersebut disusun oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota untuk seterusnya dibahas bersama DPRD Kab/Kota. Puskesmas diberikan kesempatan mengajukan kebutuhan untuk kedua anggaran tersebut melalui Dinas kesehatan Kab/Kota. Penanggungjawab penggunaan anggaran yang diterima oleh puskesmas adalah kepala puskesmas, sedangkan administrasi keuangan dilakukan oleh pemegang keuangan puskesmas yakni staf yang ditetapkan oleh Dinas KesehatanKab/Kota atas usulan kepala puskesmas. Penggunaan dana sesuai dengan usulan kegiatan yang telah disetujui dengan memperhatikan berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Pendapatan Puskesmas Sesuai dengan kebijakan pemerintah, masyarakat dikenakan kewajiban membiayai upaya kesehatan perorangan yang dimanfaatkannya, yang besarnya ditentukan oleh Peraturan Daerah masing-masing (retribusi). Pada saat ini ada beberapa kebujakan yang terkait dengan pemnfaatan dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan ini yakni: Seluruhnya disetor ke kas daerah

Untuk ini secara berkala puskesmas menyetor seluruh dana retribusi yang diterima ke kas daerah melalui Dinas Kesehatan Kab/Kota Sebagian dimanfaatkan secara langsung oleh puskesmas Beberapa daerah tertentu membenarkan puskesmas menggunakan sebagian dari dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan, yang lazimnya berkisar antara 25 50% dari total dana retribusi yang diterima. Penggunaan dana hanya dibenarkan untuk membiayai kegiatan operasional puskesmas. Penggunaan dana tersebut secara berkala dipertanggungjawabkan oleh puskesmas cke pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kab/Kota Seluruhnya dimanfaatkan secara langsung oleh puskesmas Beberapa daerah tertentu lainnya membenarkan puskesmas menggunakan seluruh dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan untuk membiayai kegiatan operasional puskesmas. Dahulu puskesmas yang menerapkan model pemanfaatan dana seperti ini disebut puskesmas swadana. Pada saat ini sesuai dengan kebijakan dasar puskesmas yang juga harus menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat yang dananya ditanggung oleh pemerintah diubah menjadi puskesmas swakelola. Dengan perkataan lain puskesmas tidak mungkin sepenuhnya menjadi swadana. Pemerintah tetap berkewajiban menyediakan dana yakni untuk membiayai upaya kesehatan masyarakat yang memang menjadi tanggungjawab pemerintah.

3. Sumber Lain Pada saat ini puskesmas juga menerima dana dari beberapa sumber lain seperti: PT ASKES yang peruntukannya sebagai imbal jasa pelayanan yang diberikan kepada para peserta ASKES. Dana tersebut dibagikan kepada para pelaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku. PT Jamsostek yang peruntukannya juga sebagai imbal jasa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta jamsostek. Dana tersebut juga dibagikan kepada para pelaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jamkesmas/Jamkesda Untuk membantu masyarakat miskin, pemerintah menyalurkan dana secara langsung ke puskesmas. Pengelolaan dana ini mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan. Apabila sistem Jaminan Kesehatan Nasional telah berlaku akan terjadi perubahan pada sistem pembiayaan kesehatan. Sesuai dengan konsep yang telah disusun direncanakan pada masa yang akan datang pemerintah hanya bertanggungjawab untuk membiayai upaya kesehatan masyarakat, sedangkan untuk upaya kesehatan perorangan dibiayai melalui Sistem Jaminan Kesehatan Nasional, kecuali untuk penduduk miskin yang tetap ditanggung oleh pemerintah dalam bentuk pembayaran premi. Dalam keadaan seperti ini apabila puskesmas tetap diberikan kesempatan menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan, maka puskesmas akan menerima pembayaran dalam bentuk kapitasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional. Untuk itu puskesmas harus dapat mengelola dana kapitasi tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga disatu pihak dapat memenuhi kebutuhan peserta Jaminan Kesehatan Nasional dan pihak lain tetap memberikan keuntungan bagi puskesmas. Tetapi apabila puskesmas hanya bertanggungjawab menye;lenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka puskesmas hanya akan menerima dan mengelola dana yang berasal dari pemerintah M. Sisteim Informasi Kesehatan

Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) adalah suatu tatanan yang menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam melaksanakan manajemen puskesmas dalam mencapai sasaran kegiatannya. Sumber informasi dalam Sistem Informasi Manajemen Puskesmas meliputi: SP2TP terdiri: kartu individu, rekam kesehatan keluarga dan buku register, laporan bulanan, tahunan dan KLB. Survey lapangan Laporan Lintas sektor Laporan sarana kesehatan swasta Tujuan Umum Meningkatnya kualitas manajemen puskesmas secara lebih berhasilguna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang. Tujuan Khusus Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) adalah: Sebagai dasar penyusunan perencanaan tingkat puskesmas (PTP). Sebagai dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (lokakarya mini) Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (PWS dan Stratifikasi Puskesmas) Untuk mengatasi berbagai hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas Mekanisme SIMPUS adalah: 1. Data SP2TP diolah, disajikan dan diinterpretasikan sesuai dengan pedoman pengelolaan dan pemanfaatan data SP2TP serta pedoman dari masing-masing program yang ada ( seperti program ISPA, Malaria, Imunisasi, Kesehatan Lingkungan, KIA, Gizi, Perkesmas dan sebagainya) 2. Pengolahan, analisis, interpretasi dan penyajian dilakukan oleh para penanggungjawab kegiatan di puskesmas dan pengelola program disemua jenjang administrasi. 3. Informasi yang diperoleh dari pengolahan dan interpretasi data SP2TP dan sumber lainnya, dapat bersifat kualitatif dan bersifat kuantitatif Pemanfaatan SIMPUS adalah: 1. Informasi yang diperoleh dari SP2Tpdan informasi lainnya dimanfaatkan untuk memperbaiki proses manajemen di tingkat puskesmas, sebagai bahan untuk penyusunan rencana kerja operasional puskesmas, bahan penyusunan rencana tahunan puskesmasw, bahan pemantauan dan evaluasi hasil kegiatan puskesmas serta sebagai bahan untuk menentukan prioritas pemecahan masalah dan rencana tindak lanjutnya. 2. Informasi dari SP2TP dan sumber lainnya akan membantu Dinas Kesehatan Kab/Kota dalam penyusunan perencanaan tahunan, penilaian kinerja puskesmas berdasarkan bebankerja dan pencapaian hasil kegiatan puskesmas, sebagai bahan untuk pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan program diwilayahnya, untuk menentukan prioritas masalah dan upaya pemecahan dan tindak lanjutnya.