Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PROBLEM BASED LEARNING 2 ``Direktur Rumah Sakit Baru `` BLOK CHEM 4

Tutor : dr. Tendi Novara, SpAn, MSi.Med Disusun oleh : KELOMPOK 11

Khoirul Anam Sarah Maulina Oktavia Ryan Aprilian Putri Asep Cevy Saputra Sylviana Kuswandi Aris Wibowo Benza Asa Dizaraka Gesa Gestana A. Shabrina Resi Putri Bellindra Putra H. Anggia Puspitasari

G1A009003 G1A009015 G1A009025 G1A009047 G1A009066 G1A009108 G1A009119 G1A009124 G1A009126 G1A009135 G1A008058

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO

BAB I PENDAHULUAN PBL yang kedua di blok CHEM 4 ini berjudul Direktur Rumah Sakit Baru. Diskusi ini lebih menekankan pada pengetahuan mahasiswa dalam hal manajemen rumah sakit dan cara pembayaran pelayanan kesehatan. Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Rumah sakit merupakan suatu unit usaha jasa yang memberikan jasa pelayanan sosial di bidang medis klinis. Pengelolaan usaha rumah sakit memiliki keunikan tersendiri karena sealin sebagai unit bisnis, rumah sakit juga memiliki tujuan sosial. Rumah sakit sebagai suatu layanan jasa memang menyediakan berbagai macam bentuk pelayanan. Antara lain jasa konsultasi dengan dokter-dokter ahli, jasa rawat inap, jasa rawat jalan dengan pemberian obat-obatan, jasa pemeriksaan laboratorium jasa radiologi, jasa fisioterapi, ada pula kantin yang disediakan oleh rumah sakit guna memenuhi kebutuhan keluarga pasien. Selain itu, rumah sakit sendiri perlu adanya pengelolaan yang baik, seperti menejerial pelayanan, menejerial administrasi, dan lain sebagainya sebagai bentuk apresiasi dalam hal kesehatan di masyarakat.

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BARU

Info I

Dokter X diangkat menjadi direktur baru RS Y di Kabupaten Z. RS Y merupakan RS Umum Negeri yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten. RS Y merupakan RS tipe D dengan kapasitas 100 tempat tidur, dengan akreditasi penuh. Indikator pelayanan RS Y menunjukkan BOR sebesar 91 % dengan ALOS 7,1 hari. Pergantian manajemen di RS Y bertujuan untuk memperbaiki kinerja RS, karena disinyalir kinerja RS menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas pelayanan yang diberikan pada pasien.. Hal ini ditunjukkan salah satunya dengan menurunnya tingkat kepuasan pasien dari 78 % pada tahun lalu menjadi 61 % pada tahun ini. Segera setelah resmi dilantik menjadi direktur, Dokter X melakukan identifikasi awal mengenai masalah yang membuat turunnya tingkat kepuasan pasien di RS Y. Setelah menggali informasi lebih lanjut ternyata didapatkan dua sumber utama penyebab turunnya kepuasan pasien yaitu permasalahan di instalasi rawat jalan dimana terdapat waktu tunggu yang sangat lama bagi pasien dan waktu kontak dengan dokter yang sangat singkat sehingga pasien merasa tidak nyaman. Permasalahan lain yang mengemuka adalah adanya keluhan dari pasien rawat inap bahwa biaya yang dihabiskan untuk mondok di RS Y dirasakan semakin mahal dibandingkan dengan RS swasta yang juga ada di Kabupaten Z.

PERTANYAAN PANDUAN 1. Apakah masalah utama yang dihadapi oleh RS Y? Identifikasi masalah lain yang timbul di RS Y? 2. Mengapa tingkat kepuasan pasien penting pada manajemen RS ? Jelaskan berbagai indikator kualitas pelayanan RS yang lain !

3. Apakah yang dimaksud dengan RS tipe D? Bagaimanakah klasifikasi RS di Indonesia? 4. Apakah yang dimaksud dengan BOR dan ALOS? Termasuk dalam kategori indikator apakah BOR dan ALOS ? Bagaimanakah BOR dan ALOS pada RS Y? 5. Apa yang dimaksud dengan akreditasi RS? Bagaimanakah klasifikasi akreditasi RS? Parameter apa sajakah yang dinilai dalam akreditasi RS? 6. Untuk mengatasi permasalahan di RS Y apa yang harus segera dilakukan oleh dokter X?

JAWABAN 1. Masalah yang dihadapi RS Y , yaitu : a. Waktu tunggu yang sangat lama b. Waktu kontak dokter pasien yang singkat c. Biaya sangat mahal

2.

Rumah sakit adalah penyedia layanan jasa kesehatan. Kepuasan pasien merupakan strategi pemasaran yang akan menjual jasa layanan terhadap pasien dan keluarganya. Selain itu, pasien berhak mendapat mendapat pelayanan jasa berkualitas. Indikator Mutu Rumah Sakit : a. Indikator Efisiensi dan Efektifitas b. Indikator Kepuasan Pasien c. Indikator Keselamatan Pasien d. Indikator Cakupan Pelayanan Rumah Sakit e. Indikator Mutu Pelayanan Medis

a. Indikator Mutu pelayanan RS dan cara mengukurnya Mutu asuhan Kesehatan Sebuah RS akan selalu terkait dengan : 1. Aspek Struktur

Struktur adalah semua masukan (input) untuk sistem pelayanan sebuah RS yang meliputi tenaga, peralatan, dana, dan sebagianya. Jika Struktur RS tertata baik, akan lebih menjamin mutu Asuhanya. Baik atau tidaknya dapat diukur dari tingkat kewajaran, kuantitas, biaya (efisiensi), mutu dari masing-masing komponen struktur. 2. Aspek Proses Proses adalah semua kegiatan dokter dan tenaga profesi lainya yang mengadakan interaksi secara professional dengan pasienya. Onteraksi ini diukur dalam bentuk penilaian tentang penyakit pasien, penegakan diagnosis, rencana tindakan pengobatan, indikasi tindakan, penanganan penyakit, dan prosedur pengobatan. Dalam hal ini, semakin patuh tenaga profesi menjalankan standart of good practice yang telah diterima dan diakui oleh masing-masing ikatan profesi akan semakin tinggi pula mutu asuhan terhadap pasien. Baik tidaknya diukur melalui tiga aspek yaitu relevan atau tidaknya proses, efektifitasnya, dan kualitas interaksi terhadap pasien. Aspek Outcome Outcome adalah hasil akhir kegiatan dokter dan tenaga profesi lainya di RS terhadap pasien. Indikator mutu pelayanan medis meliputi : 1. Angka Infeksi Nosokomial 2. Angka Kematian Kasar 3. Kematian Pasca bedah 4. Kematian Ibu Melahirlan (MDR) 5. Kematian Bayi Baru Lahir (IDR) 6. NDR (Net Death Rate diatas 48 jam) 7. ADR (Anasthesia Death Rate) 8. PODR (Post Operation Death Rate) 9. POIR (Post Operation Infection Rate)

b. Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat efisiensi RS :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Unit Cost untuk Rawat Jalan Jumlah penderita yang mengalami Dekubitus Jumlah penderita yang jatuh dari tempat tidur BOR BTO (Bed Turn Over) TOI (Turn Over Interval) ALOS Normal Tissue Removal Rate

c. Indikator mutu yang berkaitan dengan tingkat kepuasan pasien 1. 2. 3. 4. 5. Jumlah keluhan dari pasien/keluarganya Surat pembaca di Koran Surat Kaleng Surat masuk di kotak saran Survei tingkat kepuasan pengguna pelayanan RS

3. Klasifikasi Rumah Sakit I. Berdasarkan Kepemilikan a. RS Pemerintah - RS Pusat - RS Provinsi - RS Kabupaten b. c. RS BUMN/ABRI RS Swasta - PMDN : Sumber dana dalam negeri - PMA : Sumber dana luar negeri II. Berdasarkan Jenis pelayanan a. RS Umum b. RS Khusus : Mata, paru, kusta, rehabilitasi, jantung, anak, bersalin. c. RS Jiwa

III. Berdasarkan Kelas a. Kelas A Pelayanan spesialistik yang luas Pelayanan sub spesialistik

b. Kelas B Minimal 11 pelayanan sepesialis dan subspesialis Kelas B pendidikan Kelas B non Pendidikan

c. Kelas C Minimal, 4 pelayanan spesialistik (Bedah, Interna, Anak, kebidanan) d. Kelas D Pelayanan Medis Dasar

4.

BOR dan ALOS a. BOR (Bed Occupancy Rate) Persentase pemakaian temoat tidur pada satuan waktu tertentu. Merupakan Indikator tinggi atau rendahnya tinggkat pemanfaatan tempat tidur di Rumah Sakit. Standar nasional : 75 85% Rumus BOR : Jumlah Hari perawatan di RS selama waktu tertentu x 100 % Jumlah tempat tidur x 365

b. ALOS (Average Long Of Stay) Rata-rata lama perawatan seorang pasien, nilai ini sebagai parameter efesiensi rumah Sakit dan untuk mengukur mutu palayanan Rumah sakit. Nilai standar Nasional : 7 10 hari Nilai standar Jawa tengah : 6 9 hari Rumus ALOS : Jumlah Hari perawatan pasien dalam 1 th Jumlah pasien keluar di RS (Hidup + mati)

Jika melihat nilai BOR yang terdapat pada RS Y yaitu 92% maka Nilai BOR melebihi standart nasional yang seharusnya 75%-85%. Sedangkan Nilai ALOS pada RS Y telah memenuhi Standart yaitu 7,3 hari. Jika kita lihat disini, nilai BOR yang melebihi standar merupakan hal yang perlu diperhatikan. Karena Jika nilai BOR meningkat maka akan menunjukan jumlah pasien yang meningkat pula. Maka dengan keadaan seperti itu dapat saja terjadi ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah pasien. Sebagai Dampaknya, terjadilah waktu tunggu yang sangat lama namun waktu bertemu dokter sangat singkat.

5.

Akreditasi rumah sakit adalah suatu pengakuan yang diberikan oleh pemerintah pada rumah sakit karena telah memenuhi standar yang ditentukan. Klasifikasi : a. Istimewa b. Penuh c. Bersyarat : 5 tahun : 3 tahun : 1 tahun

d. Tidak Akreditasi Parameter : a. Pelayanan kesehatan dasar 1. 2. 3. 4. 5. Administrasi dan manajemen (24 parameter) Pelayanan medis (18 parameter) Pelayanan gawat darurat (31 parameter) Rekam medis (16 parameter) Pelayanan perawatan (23 parameter)

b. Pelayanan kesehatan lanjut 1 1. 2. 3. Pelayanan farmasi ( 16 parameter) Keselamatan kerja, kebakaran kewaspadaan bencana (27 parameter) Pelayanan radiologi (18 parameter)

4. 5. 6. 7.

Pelayanan laboratorium (23 parameter) Pelayanan kamar operasi (25 parameter) Pelayanan pengendalian infeksi ( 17 parameter) Pelayanan perinatal infeksi (17 parameter)

c. Pelayanan kesehatan lanjut 2 1. 2. 3. 4. Pelayanan rehabilitasi medis ( 16 parameter) Pelayanan gizi (17 parameter) Pelayanan intensif ( 17 parameter) Pelayanan darah (15 parameter)

6.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh manager adalah melakukan perencanaan yang berupa: a. Analisis situasi Mengumpulkan data-data mengenai rumah sakit dan data yang dibutuhkan. Dapat berupa data primer maupun data sekunder. b. Indentifikasi masalah dan prioritas Setelah mengumpulkan data, lalu menganalisis hal-hal yang menjadi masalah serta menentukan prioritas masalah. c. Menentukan tujuan program Merencanakan tujuan dari program yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah yang ditemukan. d. Menentukan hambatan dan kelemahan program Mengkaji hambatan yang pernah, yang diprediksi akan muncul dan mungkin akan ada saat pelaksanaan. e. Menyusun rencana kerja operasional Menyusun dan menerapkan alternative penyelesaian masalah.

Info II Dokter X membentuk tim untuk meneliti penyebab dari turunnya tingkat kepuasan pasien. Tim menemukan bahwa memang terdapat waktu tunggu yang cukup panjang, rata-rata 15 menit dan waktu kontak dokter-pasien cukup singkat yaitu 5 menit di instalasi rawat jalan RS Y. Dari hasil penelitian juga didapatkan bahwa klinik yang memberikan kontribusi terbesar pada masalah ini adalah klinik umum. Dari analisis penyebab masalah didapatkan bahwa ternyata terdapat

ketidakseimbangan antara jumlah kunjungan pasien dengan ketersediaan tenaga medis yang ada. Hal ini memaksa dokter untuk melakukan pemeriksaan secara lebih cepat. Tim menyarankan dilakukan penambahan kapasitas instalasi rawat jalan, terutama pada klinik umum.

Tim juga menemukan bahwa tingginya biaya mondok di RS Y disebabkan oleh rata-rata lama perawatan yang lebih lama dibandingkan dengan RS lain untuk jenis penyakit sama. Lamanya masa mondok ini disebabkan oleh banyaknya variasi yang dilakukan dokter berkaitan dengan standar terapi yang diberikan kepada pasien. Untuk itu tim menyarankan disusun clinical practice guideline yang baru yang bisa dijadikan acuan bagi seluruh dokter.

PANDUAN PERTANYAAN 1. Apakah permasalahan kualitas pada kasus diatas? Mengapa hal tersebut merupakan suatu permasalahan kualitas? Apakah definisi kualitas terutama pada bidang pelayanan kesehatan? 2. Dari permasalahan pana nomor 1, ranah (domain) kualitas apa yang tidak terpenuhi dalam pelayanan kesehatan? Ranah (domain) kualitas apa sajakah yang ada dalam pelayanan kesehatan ? 3. Dalam kasus diatas apakah dokter X telah menerapkan Continous Quality Improvement? Tunjukkan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh dokter X yang mengacu pada CQI! Apa yang dimaksud dengan CQI ? Apakah prinsipnya ?

4. Dalam melakukan analisis masalah tools quality manajemen apakah yang bisa digunakan pada kasus diatas?

JAWABAN 1. Kualitas adalah sejauh mana pelayanan kesehatan sesuai dengan keinginan dan kepuasan pasien. Yang menjadi masalah kualitas di RS Y adalah : a. b. c. d. e. Kapasitas tempat tidur yang kurang Ketidakseimbangan jumlah pasien dan tenaga medis RS Waktu kontak dokter pasien yang singkat Waktu tunggu yang lama Tindakan yang berlebihan membuat biaya perawatan menjadi mahal

2.

Ranah (domain) kualitas dalam pelayanan kesehatan yaitu : a. Patient safety : pelayanan kesehatan yang paling utama adalah memperhatikan keselamatan pasien dan tidak melakukan tindakan yang tidak perlu yang sekiranya memberikan kerugian untuk keselamatan pasien. b. c. Effective : mampu mengembalikan kondisi pasien seoptimal mungkin Patient-centered : menghargai pasien sebagai subjek yg mempunyai otoritas terhadap tubuhnya menghargai nilai-nilai yang dianut pasien ketika memberikan pelayanan kesehatan d. e. Timely : diberikan pada saat yang tepat Efficient : memberikan pelayanan yang mampu memberikan hasil terbaik dengan penggunaan sumber daya yg terkecil f. Equitable : tidak membedakan latar belakang pasien, siapapun yg membutuhkan berhak menerima. Semua ranah (domain) kualitas dalam pelayanan kesehatan telah dilanggar oleh RS Y. Mulai dari kapasitas tempat tidur yang kurang, hingga tindakan yang berlebihan pada pasien.

3.

CQI (continous Quality Improvement) adalah suatu konsep manajemen mutu yang berusaha melakukan peningkatan kualitas secara terus menerus, konsisten dan menyeluruh yang berfokus pd kepuasan konsumen Dr. X telah melakukan CQI, langkahnya adalah : a. b. c. d. e. Mengetahui apa masalahnya Membentuk tim untuk mengidentifikasi masalah Mencari alternatifsolusi untuk masalah Mengetahui apa saja sumber variasinya Memilih solusi yang tepat

$. Tools Quality Manajement : a. Flowchart b. Pareto diagram c. Cause and effect d. Control chart : Alur kerja untuk memahami proses : Melihat masalah dari frekuensi dan tingkat keparahan : Analisis penyebab masalah (Fish Bone analysis) : Menilai variasi yang kuantitatif

Info III Mahalnya biaya di RS Y juga menimbulkan keluhan dari PT. ASKES yang anggotanya juga banyak memanfaatkan jasa pelayanan medis di RS Y. Selama ini PT ASKES mengganti semua biaya yang diklaim di oleh RS di belakang setelah dilakukan perawatan. Dokter yang bekerja di RS Y dibayar sesuai dengan jumlah pasien dan jumlah tindakan serta prosedur yang diberikan. Semakin banyak pasien, semakin lama pasien dirawat, atau semakin banyakan tindakan yang diberikan, dokter akan mendapatkan penghasilan lebih banyak.

PANDUAN PERTANYAAN 1. Apa yang menjadi masalah pada kasus diatas? 2. Jenis sistem pembayaran apakah yang diterapkan oleh RS Y

3. Apakah dokter X harus mengubah sistem pembayaran yang dilakukan di RS Y? Alternatif apakah yang tersedia? Apa kerugian dan keuntungan masing-masing alternatif?

JAWABAN 1. Permasalahannya adalah PT ASKES harus menanggung mahalnya biaya pelayanan kesehatan di RS Y, padahal itu dikarenakan tindakan berlebihan yang dilakukan oleh dokter-dokter RS Y 2. Sistem pembayaran yang diterapkan oleh RS Y adalah Fee For Service . Dimana pembayaran atas pelayanan kesehatan dihitung sesuai jumlah tindakan yang telah dilakukan dokter dan dibayarkan setelah proses pelayanan dilakukan.

Kelebihannya, baik dilakukan untuk pelayanan yang jarang dilakukan. Kekurangannya, dokter akan melakukan tindakan berlebihan. 3. Alternatif sistem pembayaran lainnya antara lain : a. Salary Sistem pembayaran dengan menggunakan sistem gaji. Dimana uang yang diberikan pada dokter jumlahnya tetap dalam satu periode. Dan jumlahnya disesuaikan dengan umur pasien yang ditangani, spesialisasi yang diambil, lokasi bekerja dan tanggung jawab yang dipegang. Keuntungannya, jumlah yang dibayarkan tetap. Kekurangannya : dokter tidak memberikan pelayanan yang maksimal, dokter suka merujuk pasien, dan harus sering dimonitor untuk evaluasi. b. Per Diem (Daily Payment) Sistem pembayaran dimana pembayaran dilakukan berdasarkan lama hari perawatan pasien di rumah sakit, di dalamnya termasuk biaya untuk obat, dokter, dan lain-lain. Kekurangannya, akan membuat provider meningkatkan lama rawat inap pasien dan mengurangi kualitas perawatan pasien.

c.

Case Payment Sistem pembayaran, dimana pihak asuransi membayarkan sejumlah uang di awal kepada provider, dan pihak provider harus menggunakan uang tersebut secara efektif dan efisien bagi pelayanan kesehatan seluruh pasien yang datang. Keuntungannya, mengurangi tindakan-tindakan berlebihan yang akan dilakukan oleh pihak provider. Kekurangannya, dokter tidak memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal, pasien dipulangkan sebelum waktunya, perubahan kode diagnosis.

BAB III KESIMPULAN

Kesimpulan yang kami dapat dari PBL.2 adalah sebagai berikut :

1. Masalah yang dihadapi RS Y , yaitu : a) Waktu tunggu yang sangat lama b) Waktu kontak dokter pasien yang singkat c) Biaya sangat mahal 2. Perlu di susun CQI (continous Quality Improvement) yaitu suatu konsep

manajemen mutu yang berusaha melakukan peningkatan kualitas secara terus menerus, konsisten dan menyeluruh. 3. Indikator Mutu Rumah Sakit adalah Efisiensi, efektivitas, kepuasan pasien, keselamatan pasie, cakupan pelayanan RS, dan mutu pelayanan medis. 4. Ranah (domain) kualitas dalam pelayanan kesehatan yaitu patient safety, effecvtive, patient-centered, timely, efficient,dan equitable. Dalam kasus ini semua ranah kualitas di langgar oleh RS Y. 5. RS menerapkan system pembayaran adalah Fee For Service . Dimana pembayaran atas pelayanan kesehatan dihitung sesuai jumlah tindakan yang telah dilakukan dokter dan dibayarkan setelah proses pelayanan dilakukan alternative pembayaran lainnya : salary, per diem, dan case payment.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar A., 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan Ed 3. Binarupa Aksara. Jakarta. Buchbinder, S.B, N.H. Shanks.2007. Introduction to Healthcare Management. Jones and Bartlett Publishers, Boston. Muninjaya, A.A Gde. 2004. Manajemen Kesehatan. Edisi 2. Jakarta : EGC. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.