Anda di halaman 1dari 5

STANDART PELABUHAN Sebanyak 24 fasilitas pelabuhan di Indonesia dinyatakan telah menerapkan standar International Ship and Port Facility

Security (ISPS) Code secara penuh. Artinya, fasilitas ke-24 pelabuhan tersebut telah sesuai dengan standar keselamatan dan keamanan yang dikeluarkan oleh International Maritime Organization (IMO). Hal itu berdasarkan penilaian United State Coast Guard (USCG) Juni 2008 lalu terhadap 25 pelabuhan di Indonesia. Dengan lolosnya ke 24 pelabuhan itu, maka kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan tersebut diizinkan untuk langsung menyinggahi pelabuhanpelabuhan di Amerika Serikat. Sedangkan kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan yang belum lolos ISPS Code, level pengamannya akan lebih diperketat sehingga menimbulkan biaya operasional lebih tinggi. "Baru 24 yang lolos ISPS code, tinggal satu lagi yaitu fasilitas Pelabuhan Semarang Convention Cruises," papar Kepala Bagian Hukum & Humas Ditjen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Umar Aris di Jakarta, Selasa (2/9). Fasilitas pelabuhan yang telah lolos ISPS Code adalah Pelabuhan Banjarmasin, Belawan International Container Terminal, Belawan Multipurpose Terminal, British Petroleum Arco Ardjuna, Caltex Oil Terminal Dumai, Chevron Santan Marine Terminal, DUKS PT Semen Padang, Jakarta International Container Terminal, Dermaga Jamrud Pelindo III Tanjung Perak, dan Newmont Nusa Tenggara. Selain itu, Pelindo II Conventional Terminal Jakarta, Pertamina Unit Pengolahan II Dumai, PErtamina Unit Pengolahan V Balikpapan, PT Badak Bontang Natural Gas Liquefaction, PT Indomico Mandiri Bontang, PT Multimas Nabati Asaha, PT Pelindo I Cabang Dumai, PT Pelindo II Cabang Padang, PT Pertamina Unit Pemasaran III Jakarta, PT Pupuk Kaltim Bontang, PT Terminal Petikemas Surabaya, Semarang International Container Terminal, Senipah Terminal Total Indonesia Balikpapan, dan Terminal Petikemas Koja. Adapun pelabuhan Semarang Convention Cruises, belum dilakukan penilaian oleh USCG karena pada saat penilaian, pelabuhan itu sedang melakukan revitalisasi sistem dan tidak ada kapal yang tengah berlabuh. Standar keamanan yang dinilai USCG meliputi kepastian bahwa di setiap pintu masuk ke kapal dijaga oleh para penjaga, adanya deklarasi keamanan, dan penjaga keamanan swasta yang diterima oleh Kapten USCG di pelabuhan ketika berada di perairan Indonesia. Saat ini pelabuhan umum di Indonesia berjumlah 725 pelabuhan, terdiri dari 111 pelabuhan yang diselenggarakan PT Pelabuhan Indonesia, dan 614 pelabuhan yang

diselenggarakan UPT Pemerintah. Terkait pengurangan jumlah pelabuhan terbuka dari total 141 pelabuhan menjadi 25 pelabuhan, Umar mengatakan jumlah hasil penciutan bisa saja berubah. "Sekarang masih dalam tahap&tahap proses pengkajian dengan instansi terkait, seperti Departemen Perdagangan dan pemerintah daerah masing-masing, belum ada legitimasinya," jelasnya. Proses pengurangan pelabuhan terbuka, imbuh dia, perlu ada kesiapan dan koordinasi antara Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, dan pelabuhan yang memiliki kewenangan masing-masing. Pengurangan pelabuhan terbuka bagi perdagangan luar negeri dilakukan untuk mencapai efisiensi, kelancaran arus barang, kemudahan pengawasan, serta pemberdayaan armada nasional sesuai azas Cabotage. Adapun mengenai masalah pelayanan di pelabuhan, selain Ditjen Perhubungan Laut terdapat instansi lain yang juga memiliki kewenangan baik dari sisi pelayanan, seperti kelancaran arus barang dan akses jalan. (Slv/OL-2) Sebuah pemandangan aktivitas bongkar muat yang super sibuk tampak tak jauh dari perairan Batam, Provinsi Riau. Sekitar 40 km dari situ, PSA International, operator pelabuhan yang berbasis di Singapura, mengelola pelabuhan laut Pasir Panjang dan beberapa pelabuhan kontainer, dengan kemampuan penanganan jumlah kargo hingga 63,2 juta TEU (twenty foot equivalent container units). PSA International saat ini memang merupakan operator pelabuhan terbesar dunia. Dan angka kargo tadi adalah sebuah rekor tertinggi penanganan kargo yang pernah dicatatkan oleh operator pelabuhan dunia pada tahun 2008. Kabarnya, dari aktivitas nan sibuk di perairan mereka inilah negeri jiran Singapura mampu membangun negara kecilnya dengan infrastrukturnya yang modern. Sebuah mimpi yang juga diidam-idamkan oleh pemerintah Indonesia , dan sejumlah daerah yang memiliki perairan strategis, untuk bisa memiliki pelabuhan besar sekelas Singapura. Maklum, tak sekadar fungsi distribusi arus barang, pelabuhan juga dipandang memiliki nilai ekonomis untuk mengembangkan sektor-sektor yang terkait dalam jasa pelayanan di pelabuhan. Jadi, tak perlu heran jika saat ini banyak daerah yang berambisi untuk bisa mengembangkan operasional pelabuhan mereka ke standar pelayanan pelabuhan internasional. Atau buat daerah yang memiliki garis pantai, kini bersiap-siap membangun pelabuhan berkelas internasional. Sebut saja pelabuhan yang dibangun di kota Sabang, provinsi Aceh dipastikan beroperasi pada 2012 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan perdagangan

dan pelabuhan bebas Sabang. Harapannya, pelabuhan ini bisa menjadi titik awal kawasan Sabang sebagai daerah pertumbuhan ekonomi maritim di Aceh Rencana lainnya adalah mengembangkan Pulau Enggano yang berjarak sekitar 193 km dari Kota Bengkulu sebagai pelabuhan samudera internasional dan tempat pengisian bahan bakar kapal asing. Gubernur Bengkulu, Agusrin Maryono Najamudin berpendapat bahwa Enggano merupakan pulau terluar yang sangat strategis sebagai penghubung jalur internasional. Tak ketinggalan pula Tanjung Priuk, yang berambisi menjadi pelabuhan yang berstatus internatonal hub port. Kabarnya, investor asal Belanda tertarik berinvestasi di sini untuk menjadikan Tanjung Priok menjadi pelabuhan berkapasitas besar seperti di Singapura. Pentingnya peningkatan status buat Tanjung Priuk ini, seperti disampaikan Wakil Ketua Komite Tetap Perhubungan Laut Kadin Indonesia Anwar Satta, dilihat dari makin padatnya arus keluar masuk barang di pelabuhan ini. Perkembangan aktivitas petikemas naik dari 300 ribu TEUs kontainer menjadi 5 juta TEUs kontainer tahun ini. Memiliki standar pelayanan internasional bukanlah mimpi para pemangku kuasa di daerah saja. Pemerintah pun berharap sejumlah pelabuhannya memiliki standar pelayanan yang sama dengan Singapura. Sejumlah ancang-ancang memang sudah dilakukan pemerintah pusat untuk mengejar status tersebut untuk sejumlah pelabuhan utamanya. Salah satunya yang juga masuk dalam program 100 hari pemerintahan SBY, adalah pegoperasian seluruh pelabuhan kelas I, yang berjumlah 13 pelabuhan di seluruh Indonesia selama 24 jam penuh setiap hari mulai tahun depan. Ini dilakukan untuk memperlancar arus ekspor dan impor, serta penerapan National Single Windows (NSW). Menurut Dirjen Perhubungan Laut Dephub Sunaryo, pengoperasian pelabuhan kelas I selama 24 jam akan melengkapi program 100 hari pemerintah, dan akan diawali oleh empat pelabuhan utama mulai awal tahun 2010. Empat pelabuhan utama itu, yakni Tanjung Priok Jakarta, Makassar, Belawan Medan, dan Tanjung Perak Surabaya. Dukungan operasi 24 jam juga disampaikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Depkeu, yang amat terkait dalam penerapan sistem tersebut. Bahkan Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi memastikan realisasi operasional 24 jam ini bisa diberlakukan pada 4 Januari 2010, khusus untujk empat pelabuhan utama. Mulai berlaku kira-kira 4 Januari kalau kita inginnya. Empat pelabuhan itu, yaitu di Priok, Belawan, Makasar, dan Perak, katanya saat ditemui wartawan di kantor Depkeu (15/12). Saat ini pihaknya tinggal menunggu peraturan menteri, yang kabarnya sudah disiapkan oleh menteri keuangan. Soal penerapan operasi 24 jam ini, sempat menjadi sorotan, karena dianggap sebagai salah satu program 100 hari yang kurang memuaskan persiapannya. Kepala Unit Kerja Presiden untuk Program Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto dalam keterangan pers seusai mengikuti sidang kabinet paripurna di Istana Wapres,

Jakarta (17/12) menyebutkan, untuk bisa segera teralisasi, perlu dilakukan sinkronisasi antara Departemen Keuangan dan Departemen Perhubungan, terutama terkait dengan pekerjaan administrasi pelabuhan, syahbandar, bea dan cukai, operator crane, dan jasajasa lainnya. Namun Kuntoro juga menyebut bahwa jalan keluar sudah diputuskan, sehingga hal itu sudah bisa diselesaikan sebelum tenggat waktu 1 Februari 2010. Menanggapi ketidakpuasan tersebut, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan bahwa kesiapan departemen perhubungan sudah tak perlu diragukan lagi untuk program tersebut. Menurut saya kalau di sini (Dephub) masih on track, ujarnya saat dihubungi Investor. Persoalannya, kata Bambang, lagi-lagi masalah sinergi. Untuk tugas yang menjadi porsi bersama ini, memang masih ada yang harus disamakan dengan masing-masing institusi. Kalau kita kan tinggal perintahkan adpel (administrator pelabuhan) untuk tingkatkan menjadi 24 jam operasi, sudah bisa. Kalau yang lain sudah ok, kita tinggal bilang ok 24 jam, tandasnya. Untuk efektifitas operasional di pelabuhan sendiri sebetulnya masih ada persoalan lain, yakni infrastruktur di pelabuhan. Selain dermaga yang dianggap masih relatif sempit dan perairan pelabuhan yang dangkal, saat ini sebagian besar untuk kegiatan bongkar muat, sejumlah pelabuhan di dalam negeri masih mengandalkan crane kapal yang relatif kuno. Seharusnya, seperti yang disampaikan oleh dirut Pelindo II Richard Jose Lino, di dermaga itu berjejer crane-crane sehingga bongkar muat jauh lebih cepat. Jika dengan crane kapal dalam satu jam paling banyak 8-10 boks kontainer bisa dipindahkan, maka dengan crane dermaga bisa diangkut 22-25 kontainer. Investasi yang cukup besar memang dibutuhkan untuk bisa mengembangkan pelabuhan dalam negeri bisa mampu menyaingi performa pelabuhan negeri jiran. Namun sebelum investasi baru keburu banyak dibenamkan di bisnis ini, pemerintah bakal menyiapkan semacam cetak biru tata kelola kepelabuhanan nasional. Pemerintah akan menyiapkan pelabuhan sebagai bagian dari tata kelola logistik nasional. Kelak, akan diminta kesiapan dari semua instansi untuk saling berkoordinasi dan bekerja sama dalam memfasilitasi arus barang. Bambang Susantono menyebut National Single Windows sebagai salah satu sistem logistik nasional yang sudah diterapkan. Pasalnya untuk bisa menerapkan sistem ini, dilibatkan sejumlah infratsruktur termasuk pelabuhan, kereta api, dan jalan raya. Pemerintah juga bakal mengkaji kembali kriteria sebuah standar pelabuhan, semisal standar pelabuhan internasional. Itu yang sedang dikaji oleh dirjen perhubungan laut, semua nanti akan membentuk kriteria, dan kriteria itu akan menyangkut juga kesiapan dan koordinasi dengan pemerintah daerah, sehingga akan keluar apa yang akan kita sebut dengan pelabuhan internasional, ujarnya.

Jadi, nanti sebuah pelabuhan akan bisa ditetapkan berstandar internasional atau tidak, akan dilihat dari banyak sisi. Salah satunya adalah kesiapan pasar di kawasan pendukung pelabuhan tersebut. Jadi bisa saja sebuah pelabuhan diberi status pelabuhan internasional, namun jika kemudian tidak mampui berkembang, maka statusnya akan dikaji ulang.