Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN

ACARA III

PENGENALAN ALAT TANAM (TRANSPLENTER DAN SEEDER)

ACARA III PENGENALAN ALAT TANAM (TRANSPLENTER DAN SEEDER) Disusun Oleh: Nama NIM Rombongan : B Kelompok

Disusun Oleh:

Nama

NIM

Rombongan : B

Kelompok

: Arif Ardiawan : A1L008062

: 4

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI PURWOKERTO

2010

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selain proses pengolahan tanah. Proses lainnya yang cukup memerlukan biaya besar adalah penanaman. Karena selain membutuhkan pekerja yang cukup juga teknik penanaman akan menentukan keberhasilan budidaya. Proses penanaman padi memerlukan tanaga kerja sekitar 20% dari keseluruhan proses budidaya tanaman padi. Hal ini menunjukan sangatlah diperlukan alat tanam padi mekanis mengingat semakin sedikitnya tenaga yang tersedia dalam bidang pertanian. Proses penanaman benih dengan menggunakan alat tanam,maka mekanisme kerja alat akan mempengaruhi penempatan benih di dalam tanah. Oleh karena itu, dengan adanya alat tanam padi dan alat tanam biji-bijian akan membantu para petani untuk lebih efisien dalam usaha tani Tanaman budidaya untuk kebutuhan pangan manusia dihasilkan dan disiapkan dengan menggunakan tenaga otot-otot manusia. Kemudian tenaga otot hewani digunakan untuk meringankan tenaga otot manusia. Dengan ditemukannya besi, diciptakan perkakas yang selanjutnya mengurangi tenaga otot manusia. Yang disebut dengan mesin peralatan pertanian. Petani yang memiliki lahan cukup luas seringkali menghadapi hambatan dalam setiap kegiatan budidaya karena keterbatasan sumberdaya terutama tenaga kerja di bidang pertanian serta didukung dengan masih rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja pertanian tersebut. Hal ini karena hampir sebagian besar tenaga kerja pertanian saat ini sudah memasuki usia non produktif sementara generasi muda lebih banyak terjun di sektor lain baik industri maupun sektor informal sebagai akibat dari rendahnya minat mereka untuk terjun langsung ke lahan pertanian, apalagi dengan sistem pertanian tradisional. Oleh karenanya keberadaan mesin pertanian dapat meningkatkan produktifitas dan efektifitas kerja.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui bagian-bagian utama alat tanam bibit padi (transplanter) dan alat tanam biji-bijian (seeder).

2. Mengetahui prinsip kerja transplanter dan seeder.

3. Menghitung persentase kerusakan benih pada seeder.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Penanaman merupakan usaha penempatan biji atau benih di dalam tanah

pada kedalaman tertentu atau menyebarkan biji di atas permukaan tanah atau menanamkan di dalam tanah untuk memperoleh perkecambahan dan tegakan yang baik. Perkecambahan dan pertumbuhan biji dipengaruhi suatu faktor, yaitu:

1. Jumlah biji yang ditanam.

2. Daya hidup biji.

3. Perlakuan terhadap biji.

4. Keseragaman ukuran biji.

5. Kedalaman penanaman.

6. Jenis tanah yang ditanami.

7. Kelembaban tanah.

8. Mekanisme peletakan biji ke dalam tanah.

9. Keseragaman penyebaran biji.

10. Tipe alat pembuka paliran.

11. Pencegahan jangan sampai tanah yanglepas sampai di bawah biji.

12. Keseragaman penutupan biji dalam tanah.

13. Tipe alat penutup.

14. Derajat tekanan dan kepadatan tanah di sekitar biji.

15. Kebersihan dan kondisi persemaian.

16. Waktu tanam dalam kaitannya dengan musim.

17. Suhu tanah.

18. Tipe penyaliran tanah.

19. Kondisi kerak tanah.

20. Penilaian yang baik, keterampilan, dan perhatian operator.

Pada dasarnya alat tanam padi dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu tipe bibit tanpa tanah dan tipe bibit dengan tanah. Alat tanam pada tipe bibit tanpa

tanah,

yaitu bibit disemaiakan di tempat pembibitan di lahan seperti pada

umumnya, setelah bibit memiliki 4-6 daun, bibit dicabut kemudian tanah yang

melekat pada akarnya dicuci, kemudian diletakan pada kotak bibit dan siap untuk ditanam. Alat tanam pada tipe bibit tanpa tanah mempergunakan bibit yang akan disemaikan langsung pada kotak persemaiannya dan tanahnya tidak perlu dibersihkan dulu pada saat ditanam di lahan. Jenis ini ada 2 macam, yaitu transplanter roda dua dan transplanter roda empat.

A.

Transplanter

Transplanter merupakan alat penanam bibit dengan jumlah, kedalaman, jarak dan kondisi penanaman yang seragam. Secara umum ada dua jenis mesin tanam bibit padi, dibedakan berdasarkan cara penyemaian dan persiapan bibit padinya. Yang pertama, yaitu mesin yang memakai bibit yang ditanam/disemai di lahan (washed root seedling). Mesin ini memiliki kelebihan yaitu dapat dipergunakan tanpa harus mengubah cara persemaian bibit yang biasa dilakukan secara tradisional sebelumnya. Namun demikian waktu yang dibutuhkan untuk mengambil bibit cukup lama, sehingga kapasitas kerja total mesin menjadi kecil. Yang kedua adalah mesin tanam yang memakai bibit yang secara khusus disemai pada kotak khusus. Mesin jenis ini mensyaratkan perubahan total dalam pembuatan bibit. Persemaian harus dilakukan pada kotak persemaian bermedia tanah, dan bibit dipelihara dengan penyiraman, pemupukan hingga pengaturan suhu. Persemaian dengan cara ini, di Jepang, banyak dilakukan oleh pusat koperasi pertanian, sehingga petani tidak perlu repot mempersiapkan bibit padi sendiri. Penyemaian bibit dengan cara ini dapat memberikan keseragaman pada bibit dan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Mesin ini dapat bekerja lebih cepat, akurat dan stabil. Bila dilhat dari jenis sumber tenaga untuk menggerakkan mesin, terdapat tiga jenis mesin tanam bibit yaitu alat tanam yang dioperasikan secara manual, mesin tanam yang digerakkan oleh traktor dan mesin tanam yang memiliki sumber tenaga atau enjin sendiri. Mesin yang diproduksi oleh IRRI atau beberapa produksi China adalah tipe manual. Semua jenis mesin produksi Jepang dan beberapa produksi China adalah memiliki sumber tenaga sendiri. Mesin yang

digerakkan oleh traktor, sebelumnya diproduksi di Jepang, tetapi belakangan ini sudah jarang dipergunakan. Berdasarkan sistem pendukungnya, mesin ini dapat dibedakan menjadi yang bergerak dengan roda, dan yang bergerak dengan roda dan dilengkapai dengan papan pengapung. Jenis mesin yang manapun dipergunakan, permukaan lahan sawah harus datar dan rata, kedalam air harus rata, demikian juga kekerasan tanah juga harus sama, karena hal ini akan memberikan kestabilan operasi. Jika tidak, akan banyak terjadi kegagala penancapan bibit, sehingga akan butuh waktu yang cukup lama untuk penyulaman secara manual.

B.

Seeder

Alat penanam (seeder) berfungsi untuk meletakkan benih yang akan ditanam pada kedalaman dan jumlah tertentu dengan keseragaman yang relatif tinggi. Sebagian besar alat penanam dilengkapi dengan alat penutup tanah. Bila benih dengan menggunakan alat tanam dengan menggunakan alat tanam, maka mekanisme kerja alat akan mempengaruhi penempatan benih di dalam tanam, yaitu berpengaruh pada kedalaman tanam, jumlah benih tiap lubang, jarak antar lubang dalam baris, dan jarak antar baris. Di samping itu ada kemungkinan kerusakan benih dalam proses aliran benih dalam alat tanam. Benih tanaman yang berupa biji-bijian ada bermacam-macam, seperti kacang tanah, jagung, kedelai, kacang hijau,dll, yang masing-masing memiki bentuk, ukuran, kekuatan agronomis yang berbeda-beda. Untuk itu diperlukan alat tanam yang memiliki kekuatan tanam yang bebrbeda pula. Beberapa sifat fisis benih yang mempengaruhi alat tanam, yaitu ukuran, bentuk, keseragaman bentukdan ukuran, density per satuan volume, dan tekanan terhadap tekanan dan gesekan. Penebaran benih dan pola pertanaman dengan alat penanam (seeder) ini dapat digolongkan menjadi 5 macam diantaranya :

Broadcasting (benih disebar pada permukaan tanah)

Drill seedling (benih dijatuhkan secara random dan diletakkan pada kedalaman tertentu dalam alur sehingga diperoleh jalur tanaman tertentu).

Pesicion drilling (benih ditanam secara tunggal dengan interval yang sama dengan alur)

Hill dropping (kelompok benih dijatuhkan secara random dengan interval yang hampir sama dengan alur)

Chezktow planting (benih diletakkan pada tempat tertentu sehingga diperoleh lajur tanaman dengan dua arah yang sama) Mesin atau peralatan yang digunakan sebagai penanaman benih adalah sebagai berikut :

1). Mesin tanam sebar (broadcast seeder)

Pada alat ini benih penjatahan benih dari hoper melalui satu lubang variabel (variable orifice). Suatu agitator ditempatkan diatas lubang variabel tersebut untuk menceaah macet karena benih-benih saling mengunci (seed bridging), juga agar aliran benih dapat kontinyu. Kadang-kadang suatau roda bercoak (fluted wheel) digunakan sebagai penjatah benih. Benih hasil penjatahan ini kemudian dijatuhkan pada piringan yang berputar. Karena bentuk dari piringan ini, benih tersebut akan dipercepat dan dilempar mendatar karena akanya gaya sentrifugal. Lebar sebaran tergantung pada diamter piringan, bentuk penghalang, dan desitas dari benih. Dua buah disk berputar dengan arah putaran yang berlawanan (counter disk spinning) dapat dipergunakan agar jangkauan sebaran lebih lebar. Laju benih dikontrol dari ukuran bukaan, kecepatan maju traktor, lebar sebaran. Centrifugal spreader merupakan alat yang cukup fleksibel karena dapat dipergunakan untuk menyebar benih, pupuk, pestisida dan material lain yang berupa butiran. Setelah operasi tanam sebar kemudian dilakukan operasi pengolahan tanah kedua untuk menutup benih dengan tanah.

2) Mesin tanam acak dalam lajur (drill seeder)

Mesin tanam benih secara acak dalam lajur, biasanya pada setiap alur tanam, benih dijatah dari hoper oleh suatu silinder bercoak yang digerakkan dengan roda tanah (ground wheel). Jumlah benih per satuan waktu atau laju benih

dikontrol melalui lebar bukaan yang dapat diatur. Benih tersebut melewati tabung penyalur benih jatuh secara gravitasi ke lubang tanam yang dibuat oleh pembuka alur, bisa berupa disk atau bentuk lain. Umumnya jarak antar benih berkisar antara 150 – 400 mm. Metoda penutupan benih dapat dilakukan dengan rantai tarik, yang ditempatkan dibelakang pembuka alur (furrow opener). Setelah benih tertutup tanah, maka tanah diatas dan disamping benih tersebut akan diperkeras menggunakan roda tekan. Jenis-jenis pembuka alur dan roda tekan.

3) Mesin tanam presisi dalam lajur (precision seeder)

Mesin tanam presisi (memberikan penempatan yang tepat dari setiap benih pada interval yang sama dalam setiap alur tanam. Jarak antar alur tanam atau sering juga disebut jarak antar barisan, umumny dibuat cukup lebar untuk keperluan penyiangan. Mesin tanam presisi tersedia dalam bermacam-macam variasi. Dimana sumber tenaga tarik yang digunakan dapat menggunakan orang, hewan, traktor roda-2 maupun trator 4-roda. Secara umum ada 4 bagian utama yang selalu ada dalam alat tanam presisi, yaitu 1) pembuka alur (furrow opener) untuk mengontrol kedalaman tanam, 2) penjatah benih (metering seed) untuk menjaga interval jarak benih dalam alur dapat seragam, 3) penutup alur, untuk menutup alur tanam, dan 4) roda tekan (pressing wheel), untuk memadatkan tanah disekitar benih agar kontak antara benih dan tanah cukup baik.

III.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1.

Transplanter.

2.

Seeder.

3.

Timbangan.

4.

Benih jagung / kacang-kacangan.

 

B.

Prosedur Kerja

1.

Diamati dan digambar bagian-bagian alat tanam yang digunakan.

2.

Dicatat spesifikasi alat tanam yang digunakan.

3.

Dicatat prinsip kerja alat tanam (transplanter dan seeder).

4.

Dihitung persentase kerusakan benih:

a. Ditimbang benih sebelum dimasukan ke dalam hooper.

b. Dimasukan benih ke dalam hooper, kemudian dengan cara memutar roda penggerak, benih akan keluar dan kemudian ditampung dalam

kantong plastik.

c. Ditimbang benih yang rusak.

d. Dihitung persentase benih yang rusak dengan persamaan berikut:

Persentase Kerusakan Benih =

benih yang rusak. d. Dihitung persentase benih yang rusak dengan persamaan berikut: Persentase Kerusakan Benih =

x 100