Anda di halaman 1dari 49

KEBIJAKANDANSTRATEGI PEMBANGUNANPERKOTAANNASIONAL (KSPN)

20102025
Revisi5Desember2010

DITPERKOTAANPERDESAANBAPPENAS DITBINAPROGRAMCIPTAKARYAPU

DAFTARISI
PENGANTAR DAFTARISI BABIPENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang.. 1.2 MaksuddanTujuan... 1.3 LandasanHukum BABIIISUSTRATEGISDANTANTANGANPEMBANGUNAN PERKOTAAN 2.1 IsuStrategisKotaKotadiIndonesia.. 2.2 TantanganPembangunanPerkotaan BABIIIKONSEPSIDASARKEBIJAKANDANSTRATEGI PEMBANGUNANPERKOTAANNASIONAL 3.1 KonsepsiDasarKebijakandanStrategiPerkotaanNasional 3.2 PrinsipdasarPembangunanPerkotaan.... 3.3 VisidanMisiPembangunanPerkotaan. BABIVKEBIJAKANDANSTRATEGIPERKOTAAN20102025 4.1 ArahKebijakanPembangunanPerkotaan... 4.2 Kebijakan,StrategiPerkotaanNasionaldanIndikator.... BABV KEBIJAKANPENDUKUNGKSPN,POSISIHUKUMKSPNDAN MEKANISMEKOORDINASIPENGENDALIANKSPN 5.1 KebijakanPendukungKSPN.................................... 5.2 KedudukanHukumKSPN.................................................................. 5.3 MekanismeKoordinasiPengendalianKSPN....... BABVIPENUTUP LAMPIRAN:TabelKSI(KebijakanStrategi_Indikator) Glossary Hal. i iii 1 2 2 4 9 10 10 11 18 19 29 29 32 35 36 46

BABI PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang

Merujuk hasil Sensus BPS tahun 2000, menyebutkan jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 205,1 juta jiwa, dan pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 234,2 juta. Data tersebut telah menempatkan Indonesia sebagai negara keempat terbesar setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Gambaranumumpenyebarannyaadalah,sekitar60%penduduk(140juta)tinggal di pulau Jawa, dengan kepadatan 1.003 jiwa/km2 . Diperkirakan sekitar 50% penduduk (114 juta) tinggal di kawasan perkotaan, dengan tingkat pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu 5,89%/tahun, sementara tingkat pertumbuhan nasional ratarata hanya 1,17%/tahun. Pada tahun 2025, diperkirakan jumlah penduduk perkotaan akan mencapai 152 juta (65%) dan sisanya tersebar di kawasanperdesaanyangmencakup82,3%luaswilayah. Kepadatan penduduk kotakota sangat bervariasi, dari yang terpadat seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta mencapai 11.500 18.500 jiwa per km2. Beberapa contoh kota yang kepadatannya sedang seperti Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makassar, Denpasar, Malang, Bogor mencapai 50008000 jiwa per km2,danbeberapacontohkotakotadengankepadatanrendahsepertiPalembang, Banda Aceh, Manado, Jambi, Kupang, Ambon, Balikpapan hanya mencapai 1000 3000jiwaperkm2. Pertambahan penduduk perkotaan, pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pertumbuhan alamiah dan perpindahan penduduk dari kawasan perdesaan ke kawasan perkotaan (urbanisasi). Faktor kedua itulah yang lebih dominan, dan telah menyebabkan munculnya tekanan kebutuhan perluasan kawasan permukiman di kawasan pinggiran kota. Namun demikian, urbanisasi juga diartikansebagaiperubahanpolahiduppendudukdipermukimanperdesaan,dari agrariskenonagraris. Sejauh ini, urbanisasi masih sering dianggap sebagai hal negatif, namun pada kenyataannya urbanisasi adalah sebuah hal yang akan terus terjadi seiring pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Oleh sebab itu, urbanisasi perlu dikelola agar dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan perkotaan. Disamping urbanisasi, beberapa faktor luar telah memberi tekanan pada kotakota di Indonesiauntukmampuberkinerjalebihoptimal,antaralainadalah: 1

1) Persainganglobalyangsemakinmenuntutkotakotauntukmampubersaing sebagaitempatberaktivitasyangkompetitifdanbertarafinternasional, 2) Desentralisasi dan Demokratisasi tata pemerintahan kota yang mempengaruhiefektifitaskebijakannasional,dan 3) Dampakperubahaniklimterhadapkehidupanmanusia,terutamadirasakan oleh kelompok miskin, seperti tidak teraturnya pola tanam, biaya hidup yangsemakintinggi,bencanaalamdanpenyebaranpenyakitendemikyang menimbulkanmasalahkerentananpendudukperkotaan. 1.2 MaksuddanTujuan

Maksud 1) KSPN disusun dalam rangka mengangkat peran perkotaan sebagai salah satubasispembangunan. 2) KSPN disusun dalam rangka mengisi prioritas pembangunan perkotaan sejalandengankebijakandanRTRWN. 3) KSPN disusun untuk memperbaharui kebijakan dan strategi petkotaan sebelumnya,termasukPermenPUNo494/PRT/M/2005tentangKSNP. 4) KSPNdisusunsebagaiacuannasionaldalampenyusunanKSPWPulaubesar dan gugusan pulaupulau, dan selanjutnya dijabarkan lebih rinci pada penyusunan KSPD untuk setiap kotakota di Indonesia. Selanjutnya KSPD akanmenjadiarahanpembangunanperkotaanperkota. Tujuan 1. Mewujudkan kota yang mampu memenuhi kesejahteraan rakyat secara berkeadilan. 2. Mewujudkankotayangmampumendorongpertumbuhanekonomiregional dannasionalyangberdayasaingglobal. 3. Mewujudkan kota yang mandiri dan berkelanjutan melalui pengembangan ekonomilokal. 4. Mewujudkankotayangmampumemberikanrasaamandannyaman. 5. Mewujudkan kota yang ramah lingkungan, berketahanan iklim dan berkelanjutan. 1.3 LandasanHukum UndangUndang 1. UUNo17Tahun2007tentangRPJPNasional20052025 2. UUNo26Tahun2007PenataanRuang 3. UUNo32Tahun2004tentangPemerintahDaerah 2

4. UUNo33Tahun2004tentangPerimbanganKeuanganPusatDaerah 5. UUNo17Tahun2003tentangKeuanganNegara 6. UUNo19Tahun2004tentangKehutanan 7. UUNo27Tahun2007PengelolaanWilayahPesisir&Pulaupulaukecil 8. UUNo23Tahun2006tentangAdministrasiKependudukan 9. UUNo25Tahun2007tentangPenanamanModal 10. UUNo23Tahun2007tentangPerKeretaapian 11. UUNo24Tahun2007tentangPenanggulanganBencana 12. UUNo20Tahun2008tentangUMKM 13. UUNo14Tahun2008tentangKeterbukaanPublik 14. UUNo32Tahun2009tentangLingkunganHidup 15. UUNo10Tahun2009tentangKepariwisataan 16. UUNo.4Tahun1992tentangPerumahandanPermukiman 17. UUNo.16tahun1985tentangRumahSusun 18. UUNo.22Tahun2009tentangLaluLintasAngkutandanJalan 19. UUNo.18tahun2008tentangPengelolaanPersampahan 20. UUNo.7tahun2004tentangSumberDayaAir 21. UUNo.28tahun2002tentangBangunanGedung PeraturanPemerintah 1. PP5/2010RPJMN20102014 2. PP26/2008RTRWN 3. PP15/2010PenyelenggaraanPenataanruang 4. PP65/2005PedomanSPM 5. PP28/2007PembagianKewenangan&UrusanPemerintah 6. PP34/2009PengelolaanKawasanPerkotaan 7. PP42/2008PengelolaanSDA 8. PP57/2009PengelolaanPerkembanganKependudukan 9. PP16/2005PengembanganSistemPenyediaanAirMinum 10. PP72/2009LaluLintas&AngkutanKeretaApi 11. PPNo.41Tahun1993tentangAngkutanJalan 12. PPNo.43Tahun1993tentangPrasaranadaLaluLintasJalan 13. PP 80 tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap BangunBerdiriSendiri

BAB2 ISUSTRATEGISDANTANTANGAN PEMBANGUNANPERKOTAANDIINDONESIA


2.1 IsuStrategisPembangunanKotadiIndonesia

Berdasarkan hasil yang didapat dari berbagai diskusi tentang isu strategis perkotaan, menghasilkan rumusan isu strategis perkotaan di Indonesia yang selanjutnya dirangkum menjadi delapan kelompok, meliputi: 1) Peran kota yang belumoptimalsebagaibasispembangunan,2)Ketimpanganwilayah,3)Rendahnya modal sosial masyarakat perkotaan, 4) Rendahnya ekonomi kota dan kapasitas fiskal, 5) Belum optimalnya penyediaan prasarana saranautilitas perkotaan, 6) Dampak perubahan iklim, kualitas lingkungan, dan bencana, 7) Kurangnya penyelenggaraan tata ruang dan penatagunaan tanah, dan 8) Belum optimalnya tata kelola pemerintah kota. Adapun rincian kedelapan kelompok isu strategis tersebutadalahsebagaiberikut: 1. Kotabelumberperansebagaibasispembangunan,ditunjukkandengan: a. Belum optimalnya pemerintah kota dalam mewujudkan lingkungan fisikmaupunsosialekonomiyangkondusifdanmeningkatkandayasaing hingga ke tingkat global. Hal mana dapat dilihat dari kinerja layanan publikyangmasihjauhdarimemadai. b. Belum optimalnya kegiatan pembangunan kota sebagai upaya pengembangan ekonomi lokal, peningkatan kesejahteraan rakyat dan penghapusan kemiskinan. Hal mana dapat dilihat dari rendahnya modal sosialmasyarakatdanrendahnyakesejahteraanmasyarakat. 2. Ketimpanganwilayah: a. Ketimpangan penyebaran jumlah penduduk kotakota di Indonesia sangat tinggi, bahkan antar kawasan metropolitan yang ada, artinya jumlah penduduk di kawasan Jabodetabek jauh melampaui kawasan metropolitan lainnya. Berikut ini gambaran umum jumlah penduduk di tiga kawasan metropolitan terbesar, diantara ke delapan kawasan metropolitandiIndonesiaadalah: b. Jabodetabek,denganjumlahpenduduk2009mencapai26,5jutajiwa, sedangkanJakartasebagaikotaintisebesar8,8jutajiwa(33%), 4

c. Gerbangkertosusilo,denganjumpahpenduduk2009mencapai7,5juta jiwa,sedangkanSurabayasebagaikotaintisebesar2,7jutajiwa(36% terhadapjumlahpendudukkawasanmetropolitan,atau14%terhadap jumlahpendudukPropinsiJawaTimur). d. Mebidang, dengan jumlah penduduk 2009 mencapai 4,6 juta jiwa, sementaraMedansebagaikotaintisebesar2,1jutajiwa(45%). e. Selanjutnya,Palembang,Bandung,Semarang,Surabaya,Makassardan Denpasar,denganjumlahpendudukdikawasanmetropolitanmaupun di kota inti yang jauh lebih kecil dari ukuran ketiga kawasan metropolitanterbesaritu. f. Terjadiketimpanganinvestasiantarkota,yangterkonsentrasidikota kota metropolitan. Dilain pihak hubungan antara desa kota masih bersifatlebihmenguntungkankotakarenadesabelummendapatkannilai tambahdaripembangunanekonomitersebut. g. Keterbatasan kemampuan pemerintah kota dalam menciptakan kemudahanaksesterhadaplapangankerjadanmengakomodasiangkatan kerjayangjumlahnyaterusmeningkat. 3. Masihrendahnyamodalsosialyangditunjukkandengan: a. Tingginyakemiskinanperkotaandanrendahnyaetoskerja. b. Tingginyakerawanansosialdiperkotaan. c. Rendahnya pelibatan masyarakat dalam perencanaan dan monitoring pembangunankotasehinggarentanterhadapkonflikhorizontal. d. Belum termanfaatkannya potensi budaya/kearifan lokal dalam pembangunansehinggamemudarnyanilainilaibudaya. e. Kualitas sumber daya manusia dan tingkat kesejahteraan masyarakat perkotaan yang masih rendah, sehingga sebagian besar pendatang bekerjadisektorinformal. f. Keterbatasan aksesibilitas warga terhadap pelayanan dasar (Prasarana SaranaUtilitas/PSU). g. Keterbatasanpeluangpemanfaatanasetsosialbudaya, h. Keterbatasan kemampuan kota untuk mengantisipasi dan memfasilitasi pertambahanpendudukperkotaan,dan i. Meningkatnya pengaruh sosial budaya internasional dan modernitas yangmengakibatkanlunturnyakaraktersosialbudayalokal. j. Belumterakomodasinyamasalahkemanusiaan(humanbeing)termasuk isugender,perlindungananak,orangcacat,danlanjutusia. 5

4.

Ekonomikotadankapasitasfiskal a. Rendahnya manajemen perkotaan untuk mendukung kinerja perekonomiankota,halinidapatdilihatdariregulasiyangbelumefisien danefektif. b. Rendahnya kapasitas fiskal pada sebagian besar kotakota penting di Indonesia,termasuk kategori sedang dan rendah, hal ini dapat berdampak pada kurang siapnya kotakota untuk bersaing di tingkat nasional,bahkanditingkatglobal. Berikut ini beberapa contoh data indeks kapasitas fiskal Propinsi, Kabupaten dan Kota, berdasarkan PMK No 224/2008, menunjukkan bahwaternyataDKIJakartasangattinggi,sebaliknyasebagianbesarkota kotapentingdiIndonesiajustrumasukdalamkatagorisedang/rendah: 1. DKIJakarta(7,010/sangattinggi), 2. KotaDenpasar(2,6733/sangattinggi) 3. KotaPalangkaraya(2,1805/sangattinggi) 4. KotaSamarinda(2,2250/sangattinggi) 5. KotaTernate(2,9931/sangattinggi) 6. KotaBandung(1,0691/tinggi), 7. KotaBanjarmasin(1,7577/tinggi) 8. KotaManado(1,0073/tinggi) 9. KotaMedan(0,6322/sedang), 10. kotaSemarang(0,8855/sedang), 11. kotaPadang(0,9045/sedang), 12. PropDIYogyakarta(0,5366/sedang) 13. KotaSurabaya(0,7038/sedang) 14. KotaMalang(0,6255/sedang) 15. KotaPontianak(0,7994/sedang) 16. KotaKupang(0,8406/sedang) 17. KotaJayapura(0,5026/sedang) 18. kotaPalembang(0,4817/rendah), 19. kotaBandarLampung(0,3559/rendah), 20. KotaBogor(0,4160/rendah) c. Kegiatan sektor informal perkotaan sudah menunjukan kemampuannya untuk menciptakan lapangan pekerjaan terutama untuk 6

golonganmasyarakatmenengahkebawah.Namunhinggasaatinisektor informalmasihbelumdikeloladenganoptimalolehpemerintahkota. d. Belum adanya keberpihakan/insentif khusus terhadap investasi yang mengusungbudayasetempat. e. Belumdikembangkannyasecaraoptimalekonomilokaldiperkotaan. 5. PrasaranaSaranaUtilitas(PSU),PerumahandanPermukiman a) Prasarana Sarana dan Utilitas Kota (PSU), perumahan dan permukiman, semakin tidak memadai bagi warga kota sehingga mengakibatkanpenurunankualitashidupmasyarakatperkotaan. 1) Kualitas dan kuantitas angkutan umum yang kurang memadai sehingga menyebabkan peningkatan penggunaan kendaraan pribadi dan sepeda motor yang menjadi salah satu penyebab kemacetanlalulintas. 2) Kurangdiperhatikannyapenyediaanfasilitaspejalankakidanjalur bersepedayangmemadaiuntukmendukungmobilitaspenduduk. b) Belum optimalnya penyediaan perumahan dan permukiman perkotaanyanglayakdanterjangkau 1) Masihbesarnyaangkabacklogrumahdiperkotaan 2) Semakinmeningkatnyalingkunganperumahankumuh 3) Semakin mahalnya harga lahan diperkotaan sehingga menyebabkanhargarumahyangsemakinsulitdijangkauterutama olehmasyarakatberpenghasilanrendah. 4) Pengembangan perumahan belum sepenuhnya terintegrasi dengansistemperkotaan. c) Penyediaan energi listrik yang semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan dunia usaha sehingga kota belum optimal meningkatkanfungsinyadalamaktivitasekonomi. d) Kondisi keterpaduan tataruang, khususnya antara pusatpusat aktivitas dan jaringan transportasi antar moda (TransitOriented Development)belummendukungsistempergerakanyangefisien. e) Semakin mahalnya harga lahan di perkotaan dalam pemenuhan kebutuhan PSU dan kurangnya penyediaan perumahan yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah sehingga mengakibatkan meningkatnyakawasankumuh. f) Keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam memenuhikebutuhanPSUyangsemakinmeningkat. 7

6.

BelumEfisiennyaPenataanRuangKota a) Belum diterapkannya pengendalian tata ruang untuk mengatasi urbansprawl. b) Belummempertimbangkanefisiensipemanfaatanlahankotasebagai basispengendaliantataruangkota. c) Belum teridentifikasinya lahanlahan terlantar di perkotaan dan belum adanyakebijakandalampemanfaatanlahanterlantar. d) Pengembangan perkotaan belum memperhatikan arsitektur perkotaan/urban design dan identitas kota yang mencirikan budaya setempat. e) Meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman perkotaan. f) Belum memadainya kinerja administrasi pertanahan dan belum kuatnyakepastianhukumhakatastanah(securetenure)diIndonesia. Lingkungan,MitigasiBencanadanDampakPerubahanIklim a. Menurunnya kualitas lingkungan permukiman perkotaan seperti pencemaranudara,airdantanahsehinggadapatmempengaruhikualitas hidupmanusia. b. Pencegahan, mitigasi dan penanganan pascabencana, baik yang alamisepertigempa,tsunami,angintopandandampakperubahaniklim, maupunyangbuatanmanusiasepertikebakarandanbanjir,masihbelum terintegrasi ke dalam sistem perencanaan, pembangunan dan pengelolaankawasanperkotaan. c. Fenomena perubahan iklim dapat menimbulkan kerentanan sosial ekonomimasyarakat.

7.

8.

TatakeloladanKelembagaan a. Masih langkanya kepemimpinan kota yang visioner dan berorientasi kepadakepentinganmasyarakatluas. b. Kapasitas kelembagaan masih belum memadai untuk menerjemahkan visimisipembangunankotakedalamtindakannyata,seperti:koordinasi antarinstansiyangefektif,sistemrekrutmen,peraturanyangberkualitas denganpenerapanyangbaik. c. Terbatasnya penerapan prinsipprinsip tatapemerintahan yang baik (good governance) meliputi: transparansi, akuntabilitas, partisipasi dan efisiensi serta efektifitas, yang juga terkait dengan terbatasnya upaya 8

pencegahan dan penindakan terhadap kemungkinan munculnya praktek KKN(Korupsi,kolusidannepotisme). d. Belum optimalnya kerjasama pusatdaerah, antar wilayah dan antar pihakmaupunkerjasamaekonomiantarapemerintahswastayangefektif dansekaligusmampumelindungikepentinganpublik. e. Masih terbatasnya kapasitas sumber daya manusia di kota/kabupaten, khususnyayangterlibatdalamperencanaandanpembangunankota. 2.2 1. Persaingan global menuntut kota agar mampu berperan sebagai tempatberaktivitasyangkompetitifdanbertarafinternasional,seperti: a. atraktifbagiinvestasi, b. memilikihoteldansaranakonvensibertarafinternasional, c. menarikuntukdikunjungi, d. memilikifasilitashiburandankeindahanvisual, e. amandannyamanuntukdikunjungimaupundihuni, f. mendorong masyarakat kota untuk meningkatkan produktifitas dan kreativitasdalammendorongpengembanganekonomilokal. Desentralisasi dan Demokratisasi tata pemerintahan yang dapat mempengaruhiefektifitaskebijakannasionalsehingga: a. perlunya ditingkatkan kapasitas teknis dan finansial daerah, terutama pada kotakota yang diarahkan untuk menjadi pusat pertumbuhanwilayah, b. perlunya diperkuat kerjasama antar kota maupun antara kota dengandaerahdisekitarnya,dan c. perlunya ditingkatkan peran pemerintah provinsi sebagai wakil pemerintahpusatdalammendorongpembangunanperkotaan. Dampakperubahaniklimsepertibencanaalam,penyebaranpenyakit endemik,gagalpanenkarenapolamusimberubah,dapatmenimbulkan masalahkerentananpendudukperkotaan,sehingga: a. perlunyaditingkatkandayadukungkotasepertiketersediaanbahan pangansertakesiapsiagaanmenghadapibencana,dan b. diperlukannya pengarusutamaan dampak perubahan iklim dalam penyediaansaranadanprasaranaperkotaan. TantanganPembangunanPerkotaan

2.

3.

BAB3 KONSEPSIDASARKSPNSEBAGAISTRATEGI PEMBANGUNANPERKOTAANNASIONAL


3.1 KonsepsidasarKebijakandanStrategiPerkotaanNasional Konsep yang dibangun pada penyusunan KSPN ini adalah pembangunan berbasis perkotaan (Urbanled development policy), yang memandang urbanisasi sebagai fenomena yang perlu dikelola agar dapat berkontribusi secara positif terhadap pembangunannasional,danmemastikanbahwa: a. Optimalisasi potensi kota melalui peningkatan produktivitas dalam meningkatkannilaitambahekonomi. b. Peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi antara kota dan desa dengan melakukan intervensi affirmative action terhadap desa agar desa tetap memilikiposisitawaryangmemadai. c. Mendorongpeningkatanketerampilanagarpendudukmampumeningkatkan kinerjasecaraberkeadilan. 3.2 PrinsipdasarPembangunanPerkotaan Terdapat empat Prinsip dasar pembangunan dan pengelolaan perkotaan, yang akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan perwujudan Kebijakan dan StrategiPerkotaanNasional,yaitu: 1) Kota merupakan entitas sosiospasial artinya fisik dan ruang mencerminkankondisisosial,ekonomi,danbudayamasyarakat.Olehkarena itu upaya pembangunan kota tidak dapat lepas dari upaya pengembangan masyarakatnya. 2) Kotamerupakanbagiandarilingkungansekitarnya,baiklingkunganyang bersifat alami seperti hutan, sungai, daerah aliran sungai, teluk, laut, dan pegunungan, maupun lingkungan buatan seperti kawasan perdesaan atau perkotaan.Olehkarenaitukotatidakhanyamengakomodasikebutuhanbagi masyarakat dan lingkungan di dalamnya, tetapi juga harus berkontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sehingga pembangunankotaharusmempertimbangkankondisigeografisdanhistoris setempat. 10

3)

Kotakota Indonesia bersifat terbuka, artinya memberikan kesempatan yangsamabagisetiapwarga,sepertigolongankayamaupunmiskin,aslidan pendatang,perbedaanagama,suku,maupunidentitaspribadilainnya. Kota harus mampu berkompetisi dalam perkembangan ekonomi global denganmemanfaatkanpotensisosialbudayadankreatifitaslokal.

4)

3.3 VisiMisiPembangunanPerkotaan VisiPembangunanPerkotaanNasional: Terwujudnya Kota yang mandiri, produktif, layak huni dan berkelanjutan serta memenuhi kesejahteraan rakyatnya secara berkeadilanpadatahun2025 MisiPembangunanPerkotaanNasional: Misi1: Mengupayakansecarabertahap,terusmenerus,konsistendanterpaduagar kotakota di Indonesia pada tahun 2025 dapat memenuhi standar pelayanan perkotaan (SPP) yang ditetapkan melalui peraturan pemerintah. Misi2: Mengarahkan kotakota kecil dan menengah secara bertahap, terus menerus, konsisten dan terpadu untuk menjadi kotakota yang berperan sebagai pendorong bagi pertumbuhan ekonomi maupun peningkatan kesejahteraanmasyarakatdiwilayahnyasecarabertahapdalamperiode waktu2010hingga2025. Misi3: Mendorong kotakota metropolitan dan besar yang memiliki potensi khusussecarabertahap,terusmenerus,konsistendanterpaduuntukdapat memiliki kelengkapan sarana, prasarana (termasuk transportasi umum massal) serta mampu bersaing di tingkat internasional dalam periode waktu2010hingga2025. BagaimanamewujudkanketigaMisidiatas? Berikut ini ditampilkan Skenario pentahapan pencapaian Kebijakan dan Strategi Perkotaan Nasional, yang digambarkan dengan Persentase, dengan maksud agar

11

memudahkandalampelaksanaanmonitoringdanevaluasi,karenaadapenggunaan indikatoryangdapatdiukur.

Gambar3.1:SkemaPencapaianSasaranNasional

Prioritas pencapaian atau target pencapaian per lima tahunan sesuai pembagian periodeRPJMNadalah: 1) 30%padaakhirperiodeRPJMNII(2014), 2) 60%padaakhirperiodeRPJMNIII(2019),dan 3) 100%padaakhirperiodeRPJMNIV(2024), Adapunpenjelasanatastargetdiatasadalahsebagaiberikut: 12

Tabel

PrioritasKota
PERIODE SKENARIO MISI1 MISI2 KotadiIndonesia Kotakotakecildan memenuhistandar menengahsebagai pelayananperkotaan pendorongpertumbuhan (SPP) ekonomiregional 30%kotasudahmemenuhi 13%kotadari178PKN SPP,dengankebijakan sebagaipusatregional. sebagaiberikut: Pembangunankotaper K3Mengedepankan wilayah(KSPW): aspeksosialbudaya Sumatera: K4Pengembangan JawaBali:..... ekonomilokal K5Pemenuhan Kalimantan:. PrasaranaSarana Sulawesi:.. UtilitasPermukiman NusaTenggara:. K7Pengendalian kualitasLingkungan, Maluku:.. mitigasiresiko Papua:. bencanadankesiapan dengankebijakansebagai menghadapidampak berikut: perubahaniklim K4Pengembangan K8Meningkatkan ekonomilokal kapasitasSDM, K5Pemenuhan kelembagaan,dan PrasaranaSarana mendorongtata UtilitasPermukiman pemerintahanyang K7Pengendalian baik,sertamunculnya kualitasLingkungan, kepemimpinanyang mitigasiresiko visioner bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner MISI3 Mendorongkotakota metropolitandanbesar mampubersaingdi tingkatinternasional 7%dari38kotaPKNdan 26kotaPKSNsebagaikota internasional. Pembangunankotaper wilayah(KSPW):

Periode RPJMNII (2010 2014)

Sumatera: JawaBali: Kalimantan: Sulawesi:. NusaTenggara: Maluku: Papua:..


dengankebijakansebagai berikut: K1Menempatkankota sebagaibasis pembangunan K2Pemerataan pembangunankota, dengankonsentrasi padabeberapapusat pertumbuhantertentu K6Pengendaliantata ruangdanpertanahan K7Pengendalian kualitasLingkungan, mitigasiresiko bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner 12%masukkedalam kategoriinternasionaldari

Periode 60%kotakotasudah RPJMNIII mampumemenuhiSPP

18%dari178PKWakan menjadipusatregional.

13

(2014 2019)

dengankebijakansebagai berikut: K1Menempatkankota sebagaibasis pembangunan K2Pemerataan pembangunankota, dengankonsentrasi padabeberapapusat pertumbuhantertentu K6Pengendaliantata ruangdanpertanahan K7Pengendalian kualitasLingkungan, mitigasiresiko bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner Periode 20%kotamenjadikota 100%kotakotasudah 30%menjadikotapusat RPJMN IVmemenuhiSPP(jumlah regionaldari178kotaPKW. internasional(dari38kota (2019 kotatergantungpada Pembangunankotaper PKNdan26kotaPKSN 2024) yangbelummasukdalam penambahanjumlahkota wilayah(KSPW): kategorikota otonombaru),dengan Sumatera:. internasional). kebijakansebagaiberikut: JawaBali:.. Pembangunankotaper K3Mengedepankan aspeksosialbudaya Kalimantan:.. wilayah(KSPW): K4Pengembangan Sulawesi: Sumatera:. ekonomilokal NusaTenggara:.. JawaBali:. K5Pemenuhan Maluku: Kalimantan:. PrasaranaSarana UtilitasPermukiman Papua:.. Sulawesi:..

(jumlahkotatergantung padapenambahanjumlah kotaotonombaru),dengan kebijakansebagaiberikut: K3Mengedepankan aspeksosialbudaya K4Pengembangan ekonomilokal K5Pemenuhan PrasaranaSarana UtilitasPermukiman K7Pengendalian kualitasLingkungan, mitigasiresiko bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner

Pembangunankotaper wilayah(KSPW):

Sumatera:.. JawaBali:.. Kalimantan:.. Sulawesi: NusaTenggara:... Maluku: Papua:..


dengankebijakansebagai berikut: K4Pengembangan ekonomilokal K5Pemenuhan PrasaranaSarana UtilitasPermukiman K7Pengendalian kualitasLingkungan, mitigasiresiko bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner

38kotaPKNdan26kota PKSN. Pembangunankotaper wilayah(KSPW):

Sumatera:. JawaBali:. Kalimantan: Sulawesi:. NusaTenggara: Maluku:. Papua:

14

K7Pengendalian kualitasLingkungan, mitigasiresiko bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner

dengankebijakansebagai berikut: K4Pengembangan ekonomilokal K5Pemenuhan PrasaranaSarana UtilitasPermukiman K7Pengendalian kualitasLingkungan, mitigasiresiko bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner

NusaTenggara:. Maluku:. Papua:


dengankebijakansebagai berikut: K1Menempatkankota sebagaibasis pembangunan K2Pemerataan pembangunankota, dengankonsentrasi padabeberapapusat pertumbuhantertentu K6Pengendaliantata ruangdanpertanahan K7Pengendalian kualitasLingkungan, mitigasiresiko bencanadankesiapan menghadapidampak perubahaniklim K8Meningkatkan kapasitasSDM, kelembagaan,dan mendorongtata pemerintahanyang baik,sertamunculnya kepemimpinanyang visioner

PeriodeRPJMII(20102014): Skenariopertumbuhanperkotaanpadaperiodeiniadalahsebagaiberikut: 1) 30%kotasudahmemenuhiSPP(StandarPelayananPerkotaan). 2) 7% sudah mulai memasuki statusnya sebagai kota internasional. Kota internasionaljugaberfungsisebagaikotapusatregional, 3) 13%kotaakanmemasukistatusnyasebagaipusatregional,dan 4) 10%, bukan kota internasional maupun pusat regional, namun sudah memenuhiSPP. KotaLokal Setiap kota harus dapat memenuhi standar pelayanan perkotaan sehingga pendudukkotatersebutdapatmemperolehpelayanansehariharidarikota tersebut sedangkan kota dapat menjaga kualitas menjadi kota yang sehat dannyamanmenjaditempattinggalbagipenduduknya. 15

KotaRegional Ke13kotapusatregional(diantarake178kotakotaPKW).Kotakotaitu diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja lebih banyak, meningkatkan kapasitas infrastruktur, meningkatkan kapasitas kelembagaan, sehingga dapat meredam dorongan urbanisasi ke metropolitanJabodetabek.Ke13kotakotapusatregionalitu,diperkirakan akan diikuti dengan ke8 yang akan memasuki status kota internasional, seperti: Banda Aceh, Palembang, Malang, Pontianak, Banjarmasin, Kupang, Ambon,danPalu. KotaInternasional Ke7kotainternasionaldiatasadalahdiantarake38kotakotaPKNmaupun diantara ke26 kotakota PKSN, meliputi: Jakarta, Medan, Batam, Bandung, Denpasar, Makasar, dan Bitung. Bilamana ke6 kota (diluar Jakarta) akan mampu tumbuh sebagai kota internasional, maka diharapkan fenomena primacy Jabodetabek akan menurun, artinya tekanan urbanisasi/penambahan penduduk dari daerah lain menuju Jabodetabek akanmenurun,danberpindahtujuannyamenyebarke6kotainternasional danke13kotapusatregionalsecaraseimbang. PeriodeRPJMIII(20152019): Skenariopertumbuhanperkotaanpadaperiodeiniadalah: 1) 60%kotakotasudahmampumemenuhiSPP. 2) 12% dari 38 kota PKN dan 26 kota PKSN, (bertambah 5 kota), masuk kedalam kategori internasional. Kotakota mana saja yang akan memasuki status atau rangking sebagai kota internasional, akan ditentukan oleh kinerjanya sendiri. Namun demikian, sebagai antisipasi awal tentang tambahan ke5 kota yang diperkirakan akan siap memasuki status sebagai kota internasional adalah: Sabang, Yogyakarta, Surabaya, Mataram, Balikpapan. Ke5 kotakota itu, juga akan diukur kinerjanya dengan ke12 indikator yang telah dipakai untuk mengukur kinerja ke7 kota yang telah memasukistatuskotainternasionallebihdulu. 3) 18%diantaranyaakanmenjadipusatregional(bertambah5kota). 4) 30% sisanya, bukan kota internasional maupun pusat regional, namun sudahmemenuhiSPP. PeriodeRPJMNIV(20202024): Skenario pertumbuhan perkotaan pada periode ini adalah 100% kotakota sudah memenuhiSPP,denganrinciansebagaiberikut: 1) 20%kotamenjadikotainternasional 2) 30%kotamenjadikotapusatregional 16

3) 50% kota, bukan kota internasional maupun pusat regional, namun sudah memenuhiSPP BiladikaitkandenganPP26tahun2008,makamasihakanadasekitar144kota yang masuk dalam PKW namun belum akan memenuhi SPP. Delapan kota tambahan yang akan memasuki status kota internasional, tentu saja akan tergantung pada kinerjanya. Namun demikian, sebagai antisipasi awal, diharapkan sebagai berikut: Banda Aceh, Palembang, Malang, Pontianak, Banjarmasin,Kupang,Ambon,danPalu. 3.4 Indikator Indikatorkinerjakotakota: Dalammemonitorkinerjakota,akandiukurdengan12Indikatorsbb: 1) Berkembangnyainvestasi,baikdaridalamnegerimaupunluarnegeri, 2) BerkembangnyavolumewisatawanLuarNegeri, 3) Pelabuhanlautdanudaramelayaniruteinternasional, 4) Memilikihotelbintanglima, 5) Sistemlogistikdenganstandardinternasional, 6) Terdapatsistemangkutanmassaldalamkota(buswaymaupunkeretaapi), 7) Pendapatan/kapitatinggi, 8) PDRBtinggi, 9) Kelembagaan, meliputi Birokrasi pelayanan publik yang efisien dan transparan,danJasakeuanganyangsiapmelayanitransaksieksporimport, 10)Pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) termasuk pengunaaninternet,11)Kapasitassupplylistrikmeningkatdanstabil, 11)Pengangguranmenurun. Disampingitu,jugadipertimbangkanpengunaanindikatorindikatoryangtelah dipakai oleh World Competition Report 2008 maupun Tata kelola Ekonomi Daerah KPPOD 2008. Serangkaian indikator yang telah dipakai dalam World Competition Report 2008 adalah: 1) Infrastuktur, 2) Penerapan teknologi, 3) SDM pendidikan tinggi & keahlian, 4) Kelembagaan. Sedangkan indikator KPPOD 2008 meliputi: 1) Iklim dunia usaha, 2) Infrastuktur fisik daerah, 3) Wawasanpengembanganusaha,4)Kemitraanpublikdanduniausaha.

17

BAB4 KEBIJAKANDANSTRATEGIPERKOTAAN20102025
ArahKebijakanPembangunanPerkotaan Arah Kebijakan Pembangunan Perkotaan Indonesia jangka panjang hingga tahun 2025,disistematisasikandalamurutanperansebagaiberikut: A. DuaKebijakanpertama(K1danK2),diposisikansebagaiKebijakanmakro yang memayungi keseluruhan Kebijakan Perkotaan di Indonesia, dengan pertimbanganbahwaisupermasalahanyangmenghasilkankeduaKebijakan pertama, selalu muncul di setiap forum pertemuan Stakeholder selama proses penyusunan KSPN ini berlangsung, yaitu sejak Lokakarya Regional hinggaSeminarNasionalKSPN.KeduaKebijakanpertamaituadalah:K1= Penguatan peran kota sebagai basis pembangunan nasional dan menjamin pemenuhan kesejahteraan warga (Urban led development policy), dan K2 = Menjaminpemerataanpembangunannamunterkonsentrasipadabeberapa pusatpertumbuhantertentu(Desentralizingurbanconcentration). B. LimaKebijakanberikutnya(K3sdK7),diposisikansebagaiKebijakanuntuk menjawab semua permasalahan perkotaan yang ada dan telah mendesak untuk segera diatasi, terutama di kotakota besar dan metropolitan, meliputi: K3 = Mengedepankan aspek sosial budaya, K4 = Pengembangan ekonomilokal,K5=PemenuhanPSUpermukiman,K6=Pengendaliantata ruang,K7=PengendaliankualitasLingkungan,mitigasiresikobencanadan kesiapanmenghadapidampakperubahaniklim. C. Kebijakan kedelapan/terakhir (K8), diposisikan sebagai landasan yang memungkinkan atau bahkan menjamin ketujuh Kebijakan diatas dapat diterapkandanefektif.K8=Tatakeloladankelembagaan. Kedelapan Kebijakan Perkotaan, diikuti dengan rincian Strategi dan Indikator sebagai penjabaran maupun tindaklanjut dari masingmasing kebijakan tersebut, diuraikansebagaiberikut: 4.1

18

KebijakandanStrategiPerkotaanNasional KEBIJAKANke1: Meningkatkan peran kota sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi lokal, regional dan nasional, serta peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasankemiskinan(urbanleddevelopmentpolicy) Penjelasan: Kebijakan ini memanfaatkan fenomena perpindahan penduduk dari perdesaan ke perkotaan (urbanisasi) yang selama ini dianggap sebagai hal yang negatif namun perludikelolaagardapatmenjadibasispengembanganekonomiyangberkeadilan yaitu menekankan pada peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan. Selainitu,agarmampuberdayasaingdieraglobalisasimakakotaharusberperan sebagaipusatpertumbuhanregionaldannasional. Kebijakanke1dijabarkankedalam5Strategi,sebagaiberikut: STRATEGI: 1. Penetapanprioritaskotakotayangmenjadikonsentrasipertumbuhan ekonomi,ditingkatregionaldannasional,sebagaipendorongpertumbuhan wilayahsekaligusmenjaminpeningkatankesejahteraanwarga. 2. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya untuk pembangunan perkotaan dan wilayah sekitarnya, terutama dalam penyediaan pelayanan dasar perkotaandanprasaranasaranautilitasyangmenunjangkegiatanekonomi perkotaan. 3. Peningkatan iklim usaha dan iklim investasi melalui penghapusan hambatanhambatan dalam perijinan dan penurunan biaya ekonomi tinggi sertapemberianinsentif. 4. Promosiyangkonsistendanterpadukepadaaparaturpemerintahandi berbagai tingkatan akan pentingnya peran kota sebagai suatu kesatuan sistemyangperludikelolabersama. 5. Penyeimbangan hubungan kota desa yang dapat meningkatkan nilai tambahdengancaramendorongkegiatanekonomidiperdesaan.. IndikatorPencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran) 19

4.2

KEBIJAKANke2: Menyebarkan pusatpusat pertumbuhan perkotaan untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antarwilayah dan memastikan hubungan kota desayangsalingmenguntungkan(decentralizedconcentration). Penjelasan: Kebijakandiatasdimaksudkanuntukmenjawabkecenderungankotametropolitan khususnyaJakartayangsemakinbesarsehinggaketimpanganpembangunanantar wilayahsemakintinggi.Mengingatterbatasnyasumberdayauntukpembangunan, diperlukan distribusi sumber daya yang lebih merata namun strategis. Kebijakan tersebut diharapkan dapat lebih efektif dalam meningkatkan daya saing ekonomi regional. Kebijakanke2dijabarkankedalam4Strategiberikutini: STRATEGI: 1. Penetapandanpengembangankotakotayangmemilikifungsikhusus seperti:kotadiwilayahperbatasan,pesisir,pulauterpencil, pusatkegiatan wisata,sektorkreatif,agropolitan,danminapolitan. 2. PercepatanpembangunankotakotadiluarpulauJawadanSumatera. 3. Peningkatan efisiensi sistem logistik antar kota maupun antara kota desa,dalammeningkatkankelancaranarusbarangdanjasa. 4. Pengembangantransportasimultimodauntukkotakotayangditetapkan sebagaikonsentrasipertumbuhan. 5. Penerapaninsentifdisinsentiffiskal,dalammendorongpengembangan kegiatanswastapadapusatpusatyangtelahditetapkan. IndikatorPencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran) KEBIJAKANke3: Mengedepankan pembangunan manusia dan sosialbudaya dalam pembangunanperkotaan 20

Penjelasan: Kegiatan pembangunan perkotaan saat ini masih berorientasi kepada pembangunan fisik, oleh karena itu pembangunan perkotaan di masa mendatang perlulebihberorientasikepadaupayapengembangankualitasmasyarakat,melalui penguatan modal sosial sehingga dapat mengurangi tingkat kerawanan sosial sepertikriminalitas,kenakalanremaja,dannarkoba.Dengandemikiandiharapkan manusia Indonesia menjadi lebih siap untuk tinggal, beraktivitas dan meningkatkankesejahteraannyaterutamadikawasanperkotaan. Kebijakanke3dijabarkankedalam7Strategiberikutini: STRATEGI: 1. Pemberian Insentif bagi kotakota yang mampu mengembangkan pola pembangunan prasarana sarana dan utilitas berbasis komunitas. 2. Peningkatan partisipasi masyarakat dan penguatan modal sosialdalampembangunanperkotaan,agardapatmeningkatkanrasa kepemilikanwargaterhadaphasilpembangunanperkotaan. 3. Pelestarian dan pemanfaatan warisan dan nilai budaya dalam mempertahankankearifanlokaldankarakteristikwilayahsetempat. 4. Penguatan sumber daya manusia perkotaan terutama bagi masyarakat kurang mampu, melalui pendidikan formal seperti penguatan kualitas dan kuantitas sekolah kejuruan maupun pendidikannonformalsepertibalaipelatihankerja. 5. Peningkatan pengelolaan administrasi kependudukan dan catatan sipil dalam mewujudkan rencana pembangunan yang tepat guna. 6. Penyediaan jaring pengaman sosial (JPS) bagi setiap warga kota terutama kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan, dalam upayamengurangikerentanansosialdanekonomi. 7. Penghargaan, bantuan teknis dan finansial bagi kotakota yang mampu mewujudkan kota yang nyaman dan layak huni bagi semua golonganmasyarakat. IndikatorPencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran) 21

KEBIJAKANke4: Mendorong kota dan wilayah sekitarnya agar mampu mengembangkan ekonomilokaldanmeningkatkankapasitasfiskal Penjelasan: Tingginya kemiskinan baik di perkotaan maupun perdesaan diharapkan dapat diatasi melalui pengembangan ekonomi lokal. Dengan menurunnya tingkat kemiskinan diharapkan akan berdampak pada peningkatan kapasitas fiskal kota, sehingga menjadi kota yang mandiri dan lebih cepat dalam memenuhi standar pelayananperkotaan. Kebijakanke4diatasdijabarkankedalam8Strategiberikutini: STRATEGI: 1. Pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan, melalui penguatan ekonomiinformal,industrikreatifdanpariwisata. 2. Penetapan produk unggulan sebagai identitas kota baik untuk pasar ekspormaupunpasardomestikyangberbasiskepadapotensiekonomilokal. 3. Peningkataniklimusahadanaksespembiayaanyangdapatmendorong pengembangan usaha serta peningkatan produktivitas kelompok usaha mikro kecil dan menengah, melalui harmonisasi/deregulasi peraturan perundangan,insentifusaha,daninovasisumbersumberpembiayaan. 4. Penguatankemitraanantarapemerintahkotadankomunitasterutama terkait akses pada kredit modal, pemberian subsidi pendidikan, dan kesehatan. 5. Peningkatan peran pemerintah provinsi dalam mendorong kerja sama antar pemerintah kota melalui pengembangan dan integrasi ekonomi lokal yangbersifatlintaswilayah. 6. Pengendalianfaktorfaktorpenyebabekonomibiayatinggidalamupaya peningkatandayatarikinvestasidaerah. 7. Peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan daerah dalam upaya pengembanganekonomilokal. 22

8. PemberianInsentifbagikotakotayangmemfasilitasiupayapeningkatan kapasitaspelakukegiatanekonomiinformal. Indikatorpencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran) KEBIJAKANke5: Memacu pemenuhan kebutuhan prasarana, sarana, dan utilitas kota serta penyediaan perumahan dan permukiman yang layak, terjangkau, sesuai karakteristikmasyarakat,lingkungansekitardantipologikota. Penjelasan: Saat ini kondisi prasarana sarana utilitas kota masih belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas, oleh sebab itu kebijakan kelima ini dilakukan untuk memastikan penyediaan prasarana sarana utilitas (PSU), termasuk Teknologi informasi dan Komunikasi (TIK) untuk mendukung sistem kotakota serta pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau untuk mengatasi permukiman kumuh. Prasarana sarana utilitas juga harus sesuai dengan kondisi spesifikdaerahdenganmemperhatikankondisigeografis,sosial,danekonomi. Penyediaan sarana prasarana kota juga diorientasikan pada pendekatan transit orienteddevelopment,yaitupembangunankawasanperkotaanyangberbasispada sistem angkutan umum yang terintegrasi dengan tata guna lahan sehingga menghasilkanmobilisasipendudukperkotaanyangefisien. Kebijakanke5diatas,dijabarkankedalamke14Strategiberikutini: STRATEGI: 1. Percepatan penyediaan prasarana sarana utilitas pada kotakota yang telahditetapkansebagaipusatpertumbuhanregionaldannasional. 2. Penyediaan prasarana sarana dan utilitas yang dapat meningkatkan interaksimasyarakatdanbudayasetempat. 3. Peningkatan kemudahan akses bagi golongan masyarakat yang memiliki keterbatasan melalui penyediaan prasarana sarana dan utilitas yang sesuai kebutuhan. Termasuk didalamnya golongan marjinal adalah perempuan,lanjutusia,anakanak,kaumdifabeldanetnisminoritas. 4. PenyediaanPSUdanperumahanpermukimanyangramahlingkungan, terintegrasi dan berkelanjutan, melalui inovasi pengembangan teknologi, mekanisme insentifdisinsentif dan efisiensi pengelolaan serta pelibatan peransertamasyarakat. 23

5. Percepatan penyediaan perumahanpermukiman yang layak dan mudah diakses, khususnya bagi anggota masyarakat berpenghasilan menengahkebawah. 6. Penyediaanjaringanhijaukotayangmemilikiinterkonektivitasyangbaik bagiwargaperkotaan. 7. Penyelenggaraansistemtransportasiumumperkotaanantarmodayang efisien, ramah lingkungan dan terpadu dengan tata guna lahan, melalui penyelenggaraan angkutan umum masal (Bus Rapid Transit/BRT), penggunaan bahan bakar gas untuk angkutan umum, angkutan kereta api umum untuk perkotaan metropolitan dan peningkatan prasarana dan fasilitaspendukungtransportasi. 8. Mendorong penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan untukmendukungkegiatanperkotaan. 9. Pengelolaan prasarana sarana yang terpadu, efisien dan responsif terhadapkebutuhanmasyarakat. 10. Penguatan mekanisme pembangunan prasarana sarana utilitas yang akan diserahkankepadadaerah. 11. Bantuanteknisdanfinansialdengankurunwaktutertentubagiupaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkotaan, termasuk dalam pembangunan sistem angkutan massal bagi kotakota besar, pemenuhankebutuhanperumahandanpermukimanyanglayak,terjangkau danberkelanjutan 12. Penghargaan dan insentif bagi kota yang berhasil mendorong pemenuhan kebutuhan akan perumahan yang layak, terjangkau dan berkelanjutanmaupunbagiupayaperbaikankawasanpermukimankumuh 13. Penghargaan dan insentif bagi kotakota yang berhasil mengelola sampahdanlimbahkotanyadenganbaik. 14. Penghargaan dan insentif bagi kotakota yang berhasil mengelola transportasiperkotaandenganbaik. IndikatorPencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran) 24

KEBIJAKANke6: Mendorongterwujudnyakotakotapadatlahan(compactcity)yangdidukung oleh pemanfaatan ruang perkotaan yang efisien serta penatagunaan tanah perkotaanyangberkeadilan Penjelasan: Selama ini pola pertumbuhan tata ruang kota cenderung melebar (urban sprawling),untukitudiperlukanpenerapaninstrumenpencegahansepertiurban growthboundariessecaraterencanadankonsistendanpenataankotayangpadat lahan, dengan menggunakan mekanisme insentif disinsentif misalnya insentif untukpembangunansawahlestari,sertadisinsentifuntukkonversilahan,misalnya insentif keringan/pembebasan pajak untuk sawah, cagar budaya serta disinsentif untukkonversilahan. Tataruangjugaharusmemastikanterpenuhinyakebutuhanmasyarakat,mencegah pertumbuhan kotayang melebar, serta terpenuhinya ruang publik dan ruang terbuka hijau di dalam kota. Untuk mengatasi isu manajemen pertanahan, diperlukan reformasi manajemen pertanahan sehingga mampu mempermudah kegiatan pembangunan kota. Kualitas dan kedetailan RTRW Kota juga diperlukan agar dapat dijadikan acuan dalam penatagunaan tanah (sesuai dengan PP No.4 tahun2005tentangpenatagunaantanah). Kebijakanke6,dijabarkankedalam6Strategiberikutini: STRATEGI: 1. Perencanaan tata ruangkota yang padatlahandengan memperhatikan ketujuhaspekyaitu:yangmengoptimalkanpemanfaatanlahandidalamkota yang masih belum efisien (infill development), yang mengintegrasikan sistem angkutan umum dengan penggunaan tanah/peruntukan tanah sehingga menghasilkan mobilisasi penduduk kota yang efisien (transit orienteddevelopment),yangmendekatkanantarapermukimandenganpusat kegiatanperkotaan(mixedlanduse),yangmeremajakankawasankotatanpa merugikan penghuninya (urban renewal), yang senantiasa meningkatkan fungsi kawasan kota agar lebih produktif (urban redevelopment) dan yang mampu menahan pertumbuhan melebar pada kawasan pinggiran kota (urbangrowthboundaries)sertaberbasismitigasibencana. 2. Pengembanganinstrumenperpajakansebagaisalahsatucarayangdapat mempermudahpengendalianpemanfaatanruang. 3. Penyediaan lahan di perkotaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah seperti permukiman, prasaranasaranautilitas,danruangpublik. 25

IndikatorPencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran) KEBIJAKANke7: Mendorong kotakota dalam meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan siap menghadapi perubahan iklim serta adaptif terhadap kemungkinan bencana Penjelasan: Kotakota di Indonesia pada umumnya mengalami penurunan kondisi lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan perkotaan yang masif, tidak ramah lingkungan, tidak siap terhadap perubahan iklim, serta rawan terhadap bencana. Oleh karena itu kegiatan pembangunan perkotaan perlu mengantisipasi dampak perubahan iklimdanadaptifterhadappotensibencana. Perubahan iklim diindikasikan oleh empat hal yaitu kenaikan temparatur udara (global warming) yang berdampak pada ketersediaan air baku, kenaikan permukaan air yang dapat berdampak pada banjir, perubahan cuaca yang dapat berdampak pada pola tanam dan penyebaran penyakit seperti ISPA dan deman berdarah,sertaperubahaniklimekstrimsepertikebakaranhutan,angintopan,dan lainsebagainya. Sedangkan bencana dapat disebabkan oleh dua hal yaitu sebagai dampak perubahan iklim seperti banjir, longsor, dan epidemik yang dominan terjadi di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, dan kedua yang disebabkan oleh faktor geografisdangeologissepertigempabumi,gunungberapi,maupuntsunami. Kebijakanke7diatasdijabarkankedalam4Strategiberikutini: 26

4. Penetapan lokasi perumahan dan permukiman yang sesuai RTRW dan ZoningRegulationsertapencegahanalihfungsilahan. 5. Memudahkan investasi pembangunan perkotaan dengan cara optimalisasi pengurusanhakatastanah. 6. Penggunaanmekanismeinsentifdandisinsentifdaripemerintahpusat ke Pemerintah daerah yang mampu mewujudkan kotakota yang padat lahan seperti pemberian bantuan teknis dan finansial terutama bagi pembangunanprasaranasaranadanutilitasperkotaan. 7. Peningkatan kualitas pelayanan dan sistem informasi pertanahan seperti perbaikan proses sertifikasi hak atas tanah dalam upaya mempermudahprosespembangunanperkotaan.

STRATEGI: 1. Penerapan mekanisme pengendalian yang kuat terhadap kegiatan pembangunan kota agar tidak merusak lingkungan melalui mekanisme insentifdisinsentif. 2. Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan pelibatan aktif masyarakat dalam mewujudkan lingkungan permukiman yang sehat dan adaptifdalamterhadapbencanadanperubahaniklim. 3. Dukunganteknisdanfinansialbagikotakotayangmampumewujudkan perbaikan kualitas lingkungan kota yang sehat dan siap menghadapi kemungkinanbencanasertaperubahaniklim. 4. Percepatan penyusunan regulasi khususnya dalam bidang transportasi dalam upaya mengurangi efek rumah kaca melalui penguranganemisiCO2. IndikatorPencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran) KEBIJAKANke8: Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, Kelembagaan, dan menerapkan prinsipprinsip tatapemerintahan yangbaik, serta mendorong munculnyakepemimpinanyangvisioner Penjelasan: Dalammewujudkantatapemerintahankotayangbaik,dibutuhkankepemimpinan kota yang visioner dan dapat memunculkan inovasiinovasi dalam pengelolaan perkotaan, kelembagaan yang baik, serta kapasitas SDM yang memadai baik aparaturpemerintahmaupunmasyarakat. Kepemimpinan yang visioner antara lain ditunjukkan dengan pemikiran yang berwawasanjauhkedepan,memilikikemampuandalammemanfaatkanteknologi, keberpihakan kepada masyarakat miskin, dan mampu berkoordinasi dengan semuagolongan. Kebijakanke8dijabarkankedalam6Strategiberikutini: 27

STRATEGI: 1. Percepatan penguatan kapasitas aparatur dan kelembagaan kota melalui bimbingan teknis, pelatihan dan optimalisasi penerapan penilaian kinerja. 2. Pengembangan kerjasama antarkota dan daerah, antarnegara, maupun antarapemerintah,swastadanmasyarakat. 3. Peningkatan kapasitas warga kota untuk terlibat dalam perencanaan, pembangunan,monitoring,danevaluasipembangunanperkotaan. 4. Peningkatan kualitas administasi kependudukan, agar kegiatan pembangunan dapat dirancang sesuai dengan komposisi demografi masyarakatperkotaansecaraakuratdantepatguna. 5. Bantuanteknisdaninsentifdisinsentifbagiterwujudnyabirokrasiyang responsifterhadappelayananmasyarakat. 6. Penghargaannasionalbagipemimpinkotabaikformalmaupuninformal, yang berhasil melakukan inovasi dalam pemecahan berbagai masalah di perkotaan. IndikatorPencapaian:(dapatdilihatpadaTabelLampiran)

28

BABV KEBIJAKANPENDUKUNGKSPN,POSISIHUKUMKSPNDAN MEKANISMEKOORDINASIPENGENDALIANKSPN


5.1 KebijakanPendukungKSPN DalamrangkapenerapanKSPN,diperlukanbeberapakebijakanteknispendukung daribeberapaKementerian/Lembagameliputi: 1) Kebijakan mengenai standar pelayanan perkotaan yang mampu menunjukkankinerjapelayananpemerintahkota. 2) Kebijakan mengenai mekanisme insentifdisinsentif yang mampu menumbuhkankinerjadaninovasipembangunanperkotaan. 3) Kebijakan mengenai sistem angkutan massal antar moda dalam kota dan antar kota yang terintegrasi dan menjamin efisiensi pergerakan orang dan barang. 4) Kebijakan mengenai peran dan mekanisme pusat dalam memberikan bantuanprasaranasaranautilitas(PSU). 5) Kebijakan mengenai peran kotakota yang akan disiapkan untuk mampu berdayasaingglobal. 6) Kebijakan mengenai pengembangan ekonomi lokal yang mampu mengoptimalkanpemanfaatansumberdayasetempat. 7) Kebijakan mengenai percepatan penyediaan perumahan bagi masyarakat menengahkebawahdiperkotaan. 8) Kebijakanmengenaikotakotadiwilayahperbatasandanpesisir. 5.2 PosisiHukumKSPN KSPN berfungsi sebagai dokumen baru perencanaan tingkat nasional jangka panjanghinggatahun2025yangmengintegrasikanperencanaanspasialdannon spasial dalam kegiatan pembangunan perkotaan secara nasional. Oleh karena itu posisi KSPN akan diusulkan untuk diposisikan di antara RPJPN dan RPJMN, khususnya untuk memperjelas sub bab 4.1.5 didalam RPJPN yang terkait dengan peran kota di dalam pembangunan. Selain itu, KSPN diusulkan untuk menjadi PeraturanPresidenatauPeraturanPemerintah. 29

Adapunbeberapapertimbangannyaadalahsebagaiberikut 1. UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN belum menempatkan Kota menjadi basispembangunan,karenaselamainipembangunankotamasihdipandang sebagai bagian dari pembangunan wilayah. KSPN mencoba memulai perspektif baru yaitu menempatkan kota sebagai basis pembangunan (Urban Led Development) sebagaimana dapat dilihat pada Kebijakan pertamaKSPN. 2. Perlu adanya tambahan penjelasan dalam UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN,yangmenguraikanamanatpembangunankotayangadildanmerata. Pertimbangan ini dapat dikaitkan dengan UU tersebut, terutama pada sub subbab4.1.5RPJPNyangmemuat8butir(butir5,6,7,8,9,11,12,13).Dalam hal ini, ke8 butir diatas dianggap belum cukup dijawab hanya dengan Rencana Tata Ruang, karena Rencana Tata Ruang hanya menjadi acuan kebijakan spasial saja. Mengingat KSPN adalah Kebijakan Perkotaan yang mencakup seluruh aspek perkotaan yaitu sosial budaya, ekonomi, sarana prasarana,tataruang,lingkungan,dankelembagaan. 3. Pada bab III, pasal 7 ayat 1 UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN tersebut, Pemerintah akan melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPN, maka KSPN mempunyai kesempatan menjadi output baru karena dianggap ada kebutuhan baru, dalam rangka memperkuat RPJPNsehinggadinilaicukuplayaksekiranyamenjadiprodukhukumbaru setara Peraturan Presiden, menjadi acuan baru pembangunan kotakota secaranasional. Diagram5.1 POSISIKSPN Penataan Ruang UU 26 / 2007 UU 17 / 2007 RTRWN PP 26 / 2008 SPPN (PP 15/2010) KSPN PerPres ........ RPJMN II PerPres 5 / 2010

RPJPN

30

Kebijakan Pendukung yang dibutuhkan, untuk memperlancar penyusunan KSPDditiapKota: 1) Penerapan KSPN di tingkat Daerah melalui penyusunan Kebijakan dan strategi perkotaan daerah (KSPD), untuk itu perlu diperkuat dengan SKBMen.PPN/KaBappenasbersamaMendagriyangmenjadiacuanbaru dalam penyusunan RPJMD ke3 (20152019) maupun Renstra SKPD periode20152019.Dasarpertimbangannyaadalah:HinggaRPJMNke2 (20102014) maupun RPJMD ke2 , belum ada acuan yang rinci mengenai penjabaran Kebijakan dan Strategi Perkotaan. Dengan kata lain,yangsudahadahanyaacuanrencanaspasial(RTRWNdanRTRW Propinsi/Kota/Kabupaten), artinya penempatan peran kota sebagai entitas sosial masih belum nyata. Oleh karena itu dinilai perlunya rujukanbaruyangdapatmelengkapiyaituKSPNuntuktingkatnasional dan KSPD untuk tingkat lokal/daerah, agar peran Kota sebagai basis pembangunanlebihkuatdalamprosespenganggaran. 2) Sejalan dengan butir 1 diatas, diusulkan segera dilakukan revisi SE DirjenCipta Karya Pr02.03Dc/496/2005 19 Desember 2005, tentang Panduan Penyusunan RPIJM, agar lebih ramping, dan fokus dalam penyusunanRPIJMDsertasekaligusmemberiruangcukupuntukperan KSPN sebagai acuan hukum baru dalam penyusunan atau revisi penyempurnaanRPIJMD. Diagram5.2 POSISIKSPD

RPJPN
UU 17/2007

RPJMN
(PP 5-02010)

UU 26/2007

KSPN
PP /P P

RPJMD RPJPD
Perda

KSPD
Perda..

RTRW Kota

RPIJM

31

5.3 MekanismeKoordinasiPengendalianKSPN MekanismeKoordinasiantarKementerian,dilakukandenganmemanfaatkan peran TKPPN (Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional) yang selanjutnyamemanfaatkanForumKotasebagaisaranapublik. KegiatanKoordinasitahunan,dilakukandengantujuanuntukmemantaudan mengevaluasi kinerja setiap kebijakan pendukung KSPN, maupun KSPN itu sendiriyangdiukurmelaluisejumlahIndikatoryangtelahdisepakati. TahapankegiatanKoordinasiKSPNadalahsebagaiberikut: 1. PembentukanseperangkatKebijakanPendukungKSPN 1) KebijakanStandarPelayananPerkotaan(SPP). 2) KebijakanInsentifdisinsentif. 3) Kebijakansistemangkutanmassalantarmodadalamkotadan antarkota. 4) Kebijakanbantuanprasaranasaranautilitas(PSU). 5) Kebijakanuntukmampuberdayasaingglobal. 6) Kebijakanpengembanganekonomilokal. 7) Kebijakanpenyediaanperumahanbagimasyarakatmenengah miskin. 8) Kebijakankotakotadiwilayahperbatasandanpesisir. 9) Dll. Ke8Kebijakanpendukungdiatasbisabertambah,sesuaimasukan darisetiapanggotaTKPPN. 2. PenyusunanKSPDpadasemuaKota(diutamakankotakota strategis,sepertiPKN,PKSN,PKWyangberjumlah242kota),yaitu: JumlahkotaPKN: 38kota JumlahkotaPKSN: 26kota JumlahkotaPKW: 178kota Diusulkan untuk segera disusun KSPD untuk semua kotakota diatas, dimulaidenganproyekpercontohanpadatahun20102011,kemudian disusul dengan pelaksanaan pada kotakota lainnya, dan diharapkan dapatdiselesaikanpadaakhir2014. 32

3.

PenyelenggaraanacaraKoordinasiTahunanmelaluiForumKota, denganTKPPNsebagaipemrakarsakegiatan. Waktu: setiapbulanMaret,sebelumacaraMusrengbangnasional mulai2011s/d2024 AgendaKoordinasi: 1) PenyusunanKebijakanPendukung(bilabelumdibuat)dan MonitoringKemajuanpenerapanKebijakanPendukung(bila sudahdibuat) 2) Kinerja pencapaian setiap Indikator KSPN/KSPD, dengan impilkasi ada Masukan kepada Pemerintah Kota untuk menyusunKebijakanpelaksanaanyangdibutuhkan

3) TKPPNmemberikanAward,InsentifdanDisinsentif MekanismeKoordinasi:

1) Terkait dengan Agenda ke1: TKPPN, Melalui FORUM KOTA, meminta Kementerian terkait menyusun Kebijakan pendukung KSPN,jikasudahdibuat,makasetiaptahundilakukanmonitoring dan evaluasi kinerjanya. Secara paralel, TKPPN menerima masukan dari Stakeholder diluar Pemerintah, untuk dibuatkan Kebijakan pelaksanaan baru sesuai kewenangan Kementerian terkait. TKPPN FORUM KOTA

Stakeholder diluar Pemerintah

Kementerian Terkait selaku anggota TKPPN

33

2) Terkait dengan Agenda ke2: TKPPN meminta setiap Pemerintah Kota mempresentasikan kinerja Indikator KSPN/KSPD, disertai dengantinjauanolehReviewerindependensebagaipenyeimbang TKPPN FORUM KOTA Pemerintah Reviewer Kota 3) PemberianAward,InsentifdanDisinsentif

TKPPN

Dari hasil Koordinasi agenda ke-2 diatas

FORUM KOTA

Award, insentif, disinsentif kepada Pemerintah Kota

Penutup:
HasilKoordinasiKSPN,menjadibahanLaporanTKPPNkepadaPemerintah Pusat,yangdisampaikanpadaacaraMusrenbangnasional.

34

BAB6 PENUTUP
Secara umum, kebijakan perkotaan kedepannya akan dibagi dua, yaitu : Pertama, Peraturan Presiden untuk KSPN dan Kedua, SKB 3 Menteri yaitu Kementerian Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Dalam Negeri untuk pedomanpenyusunanRenstraSKPD. Di dalam pelaksanaan KSPN ini berdasarkan kebijakan yang terpilih, maka target kotakota yang ada berdasarkan periode RPJMN II (2014), RPJMN III (2019), dan RPJMNIV(2024),adalahsebagaiberikut:

35

LAMPIRAN

KEBIJAKANSTRATEGIPERKOTAAN&INDIKATOR
Kebijakan ke1: Meningkatkan peran kota sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi lokal, regional dan nasional, serta peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan (urbanleddevelopmentpolicy)

Strategi
1. Penetapankotakotayangmenjadi konsentrasipertumbuhan ekonomi,ditingkatregionaldan nasional,sebagaipendorong pertumbuhanwilayahsekaligus menjaminpeningkatankesejahteraan warga. 2. Optimalisasipemanfaatansumber dayauntukpembangunan perkotaandanwilayahsekitarnya, terutamadalampenyediaan pelayanandasarperkotaandan prasaranasaranautilitasyang menunjangkegiatanekonomi perkotaan. 3. Peningkataniklimusahadaniklim investasimelaluipenghapusan hambatanhambatandalamperijinan danpenurunanbiayaekonomitinggi sertapemberianinsentif. 4. Promosiyangkonsistendanterpadu kepadaaparaturpemerintahandi berbagaitingkatanakanpentingnya perankotasebagaisuatukesatuan sistemyangperludikelolabersama. 5. Peningkatanketerkaitankegiatan ekonomikotadesadengancara mendorongindustripengolahan sumberdayaalamdikotakecildan menengah.

Indikator
JumlahkotakotaPKN,PKSN,PKWyang sudahmemenuhiSPPdanSPM. PersentasepertumbuhanPDRBdanPADdi perkotaan. Persentasepenurunanjumlah penganggurandiperkotaan. Presentasepeningkataninvestasiterutama dikotakotabesardansedang.

JumlahSOP/institusi/UnitPelayanan Terpadu(UPT)untukpelaksanaanOSS (OneStopServices)diperkotaan. Jumlahkotayangmempunyaiforumkota yangberperanaktifsebagaimedia konsultasi,promosidanpartisipasisemua stakeholderperkotaan. Presentasepeningkatanjumlahkegiatan pengolahansumberdayaalamdikotakecil danmenengah.

36

Kebijakanke2:menyebarkanpusatpusatpertumbuhan perkotaanuntukmengatasiketimpanganpembangunanantar wilayahdanmemastikanhubungankotadesayangsaling menguntungkan(decentralizedconcentration).


Strategi

Indikator

1. Percepatanpengembangan Jumlahkotakotadenganfungsikhusus kotakotayangmemilikifungsi yangmemilikipertumbuhanPDRB khususseperti:kotadiwilayah menonjolpadasektorunggulan. perbatasan,pesisir,pulauterpencil, pusatkegiatanwisata,sektor Persentasekotadenganfungsikhusus kreatif,agropolitan,dan yangtergolongwilayahtertinggal minapolitan. denganindeksketertinggalanyang semakinmembaik. 2. Peningkatanefisiensisistem Presentasepeningkatansaranadan logistikantarkotamaupun prasaranaangkutanbarangdikotakota antarakotadesa,dalam besardanmenengahyangmelayaniantara meningkatkankelancaranarus kotamaupunantarkotadesa. barangdanjasa. 3. Pengembangantransportasi Jumlahrencanainduktransportasiyang multimodaterutamauntukkota sudahdilegalisasidisetiapkotaterutama kotayangditetapkansebagai untukkotakotayangditetapkansebagai konsentrasipertumbuhan. konsentrasipertumbuhan. Presentasepeningkatanberalihnya penggunaangkutanpribadikeangkutan umum. 4. Penerapaninsentif Presentasepeningkataninvestasiswastadi disinsentiffiskal,dalam perkotaan. mendorongpengembangan kegiatanswastapadapusatpusat yangtelahditetapkan.

Kebijakanke3:mengedepankanpembangunanmanusiadan sosialbudayadalampembangunanperkotaan

Strategi
1. Peningkatanjumlahkotakota yangmampumemenuhiprasarana saranadanutilitasmelalui pendekatanpembangunan

Indikator
Presentasepeningkataninsentifuntukkota yangmampumengembangkanpola pembangunanprasaranasaranautilitas yangberbasiskomunitas. 37

berbasiskomunitas,diantaranya melaluipemberianinsentif. Jumlahkotakotayangmampu membangunprasaranasaranautilitasyang berbasiskomunitas. 2. Peningkatanpartisipasi Persentasepenurunangejolaksosialyang masyarakatdanpenguatan timbulsebagaidampakpembangunankota modalsosialdalam yangbelummelibatkanmasyarakat. pembangunanperkotaan,agar Tersusunnyapedomanpenguatanperan meningkatkanrasakepemilikan lembagamasyarakatdalampembangunan wargaterhadaphasilpembangunan perkotaan. perkotaan. Presentasepeningkatanpartisipasi masyarakatdalamprosespembangunan (perencanaan,pelaksanaandanevaluasi). 3. Pelestariandanpemanfaatan warisandannilaibudayadalam mempertahankankearifanlokal dankarakteristikwilayahsetempat Presentasepeningkatanjumlahperdadan pedomandaripemerintahterkait pelestariandanpengelolaanwarisan budayalokaldiperkotaan. Jumlahdaerahyangmemilikiperdatentang pelestariandanpengelolaanwarisan budayalokal. Peningkatanpresentasemasyarakatyang mengikutikegiatankegaiatansenidan budaya. Presentasepeningkatanjumlahkunjungan wisatawankekawasanbersejarahdan bernilaibudayadiperkotaan. 4. Penguatansumberdaya Presentasepeningkatanjumlahsiswaserta manusiaperkotaanterutama jumlahdanjenissekolahkejuruandan bagimasyarakatkurangmampu, balailatihankerja. melaluipendidikanformal sepertipenguatankualitasdan Presentasepeningkatansubsidipendidikan kuantitassekolahkejuruan kejuruandanbalailatihankerjaterutama maupunpendidikannonformal bagimasyakatkurangmampu. sepertibalaipelatihankerja. 5. Peningkatanpengelolaan JumlahkotayangmemberikanNomor administrasikependudukan,dan IndukKependudukan(NIK)daneKTP catatansipildalammewujudkan berbasisperekamansidikjarikepada rencanapembangunanyangtepat setiappenduduk. guna. Jumlahkotayangmemilikidan menerapkanSistemInformasiAdministrasi kependudukan. 6. Penyediaanjaringpengaman Persentasepeningkatanjumlahpenduduk sosialbagisetiapwargakota, miskinyangmemilikijaminankesehatan. terutamabagikelompok masyarakatyangmemiliki Persentasepeningkatanjumlahpenduduk keterbatasandalamupaya miskinyangdilayaniolehpuskesmas/RS. 38

mengurangikerentanansosialdan ekonomi. 7. Penghargaan,bantuanteknis danfinansialbagikotakota untukmewujudkankotayang nyamandanlayakhunibagisemua golonganmasyarakat.

Persentasepeningkatanjumlahpenduduk miskinyangmendapatkanbantuansosial (RASKIN,beasiswa,dll). Presentasepeningkatanjumlahkotayang menerimapenghargaankarenamampu mewujudkankotanyamandanlayakhuni. Presentasepeningkatanjumlahkotayang menerimabantuanteknisdanfinansial untukmewujudkankotanyamandanlayak huni.

Kebijakan ke4: mendorong kota dan wilayah sekitarnya agar mampu mengembangkan ekonomi lokal dan meningkatkan kapasitasfiskal.

Strategi
1. Pengembanganekonomilokal yangberkelanjutan,melalui penguatanekonomiinformal, industrikreatifdanpariwisata.

Indikator
Jumlahkotayangmemilikikebijakan pelaksanaandanperencanaan pengembanganekonomilokal. Jumlahlokasibagikegiatansektorinformal disetiapkota. Presentasepeningkataninsentifberupa subsidiusaha,penurunantingkatsuku bunga,danpeningkatanjumlahpelatihan kewirausahaan. Presentasepeningkatanlajupertumbuhan PDRBdanPADpadasektorsektorekonomi informal,industrikreatifdanpariwisata. Jumlahkotayangmampumelaksanakan programpengembanganprodukunggulan kota. Presentasepertumbuhaneksporproduk produkunggulankota. Presentasepeningkatanindeksiklim investasi. Peningkatanjumlahdanjenispelatihan dalammeningkatkanKemampuan KewirausahaanUMKMK. Presentasepeningkatansubsidiuntuk usahamikro(koperasi/UKM). Jumlahwaralabalokal/UKMyangterdaftar (memilikiSuratTandaPendaftaran Waralaba). Jumlahpedoman/PERDAyangsudah dievaluasiterkaitdenganpengembangan usahaUKMsepertiinsentifusahadan 39

2. Penetapanprodukunggulan sebagaiidentitaskotabaikuntuk pasarekspormaupunpasar domestikyangberbasiskepada potensiekonomilokal. 3. Peningkataniklimusahadan aksespembiayaanyangdapat mendorongpengembangan usahasertapeningkatan produktivitaskelompokusaha mikrokecildanmenengah, melaluiharmonisasi/deregulasi peraturanperundangan,insentif usaha,daninovasisumbersumber pembiayaan.

sumberpembiayaan. JumlahUKMmitrabinaanyangdiberikan bimbinganteknis,promosi/pemasaran, kemitraanusaha,saranadagang/sarana usahaproduktif,sertifikasi,fasilitasi, pendaftaransertaaksesjaringan Pembiayaan. 4. Penguatankemitraanantara Presentasepeningkatanjumlahkredit pemerintahkotadankomunitas modalUKM. terutamaterkaitaksespadakredit modal. 5. Peningkatanperanpemerintah Jumlahregulasi/kebijakanyangdisusun provinsidalammendorongkerja dandisahkanolehpemerintahprovinsi samaantarpemerintahkotamelalui terkaitdengankerjasamapengembangan pengembangandanintegrasi ekonomidaerah. ekonomilokalyangbersifatlintas wilayah. Jumlahkerjasamaantarpemerintahkota yangdifasilitasiolehpemerintahprovinsi 6. Pengendalianfaktorfaktor TerevaluasinyaPERDAyangmenyebabkan penyebabekonomibiayatinggi ekonomibiayatinggi dalamupayapeningkatandayatarik investasidaerah. 7. Peningkatankapasitas Presentasepeningkatankapasitasfiskal pengelolaankeuangandaerah kotaberdasarkanPMKyangditerbitkan dalamupayapengembangan setiaptahun. ekonomilokal. 8. Pemberianinsentifbagikota Presentasejumlahkotayangmenerima kotayangmemfasilitasiupaya insentifdaripemerintahpusatterkait peningkatankapasitaspelaku pengembangansektorinformal. kegiatanekonomiinformal.

Kebijakanke5:memacupemenuhankebutuhanprasarana,sarana, dan utilitas kota serta penyediaan perumahan dan permukiman yanglayak,terjangkau,sesuaikarakteristikmasyarakat,lingkungan sekitardantipologikota.

Strategi
1. Percepatanpenyediaan prasaranasaranautilitaspada kotakotayangtelahditetapkan sebagaipusatpertumbuhan regionaldannasional. 2. Penyediaanprasaranasarana danutilitasyangmemadaidan inklusifsesuaikarakteristik masyarakat.

Indikator
PersentaseterpenuhinyaStandar PelayananPerkotaandanStandar PelayananMinimaldipusatpertumbuhan regionaldannasional. PersentaseterpenuhinyaStandar PelayananPerkotaan(SPP)danStandar PelayananMinimal(SPM)yangsesuai karakteristikdanmemperhatikangolongan 40

3. Penyediaanprasaranasarana danutilitasyangdapat meningkataninteraksi masyarakatdalamsuatu komunitas 4. Peningkatankemudahanakses bagigolonganmasyarakatyang memilikiketerbatasanmelalui penyediaanprasaranasaranadan utilitasyangsesuaikebutuhan. Termasukdidalamnyagolongan marjinaladalahperempuan,lanjut usia,anakanak,kaumdifabeldan etnisminoritas. 5. Penerapanprinsipramah lingkungandanberkelanjutan dalampenyediaanprasarana saranautilitas,danperumahan, melaluiinovasipengembangan teknologi,mekanismeinsentif disinsentifdanefisiensi pengelolaan. 6. Percepatanpenyediaan perumahanpermukimanyang layakdanmudahdiakses, khususnyabagianggotamasyarakat berpenghasilanmenengahke bawah.

yangmemilikiketerbatasan.

Jumlahinovasipenerapanteknologi baru/tepatgunayangramahlingkungan padasaranaprasaranaumumdan perumahan.

JumlahkotayangsudahmemilikiStrategi PembangunanPermukimandan InfrastrukturPerkotaan(SPPIK).

RencanaPembangunandanPengembangan PerumahandanPermukimandiDaerah (RP4D). 7. Penyediaanjaringanhijaukota PresentasepeningkatanRTHkotayang yangmemilikiinterkonektivitas memilikiinterkonektivitasyangbaikbagi yangbaikbagiwargaperkotaan. wargakota. 8. Penyelenggaraansistem Presentasepeningkatanjumlahpengguna transportasiumumperkotaan angkutanumumdanpresentase antarmodayangefisien,ramah penurunanpenggunakendaraanpribadi. lingkungandanterpadudengan Presentasepeningkatanpenggunaanbahan tatagunalahan,melalui bakargasuntukangkutanumum. penyelenggaraanangkutanumum masal(busrapidtransit/brt), penggunaanbahanbakargasuntuk angkutanumum,danangkutan keretaapiumumuntukperkotaan metropolitan. 9. Mendorongpenggunaan Presentasepeningkatansumbersumber sumberenergialternatifyang energialternatifsepertimatahari,arus ramahlingkunganuntuk angin,danarusair. mendukungkegiatanperkotaan 41

10. Pengelolaanprasarana saranayangterpadu,efisiendan responsifterhadapkebutuhan masyarakat. 11. Penguatanmekanisme pembangunanprasaranasarana utilitasyangakandiserahkan kepadadaerah. 12. Bantuanteknisdan finansialdengankurunwaktu tertentubagiupayapemenuhan kebutuhansaranadanprasarana perkotaan,termasukdalam pembangunansistemangkutan massalbagikotakotabesar, pemenuhankebutuhanperumahan danpermukimanyanglayak, terjangkaudanberkelanjutan 13. Penghargaandan insentifbagikotakotayang berhasilmendorongpemenuhan kebutuhanakanperumahanyang layak,terjangkaudan berkelanjutanmaupunbagiupaya upayaperbaikankawasan permukimankumuh 14. Penghargaandan insentifbagikotakotayang berhasilmengelolasampahdan limbahkotanyadenganbaik.

Tersedianyasarana/wadahbagi pengaduanmasyarakatterhadap pengelolaanprasaranasaranautilitas. Terlaksananyamekanismeyangmenjamin kelancaranpenyerahanprasaranasarana utilitasdaripemerintahpusatke pemerintahdaerah. Presentasepeningkatanjumlahbantuan teknisPemerintahdanalokasidananya padakurunwaktutertentu,dalam membantumemenuhiPSUperkotaan.

Presentasepeningkatanjumlahkotakota yangmendapatpenghargaankarena berhasildalampengelolaanPSU.

Jumlahpenghargaandaninsentifyang diberikanterkaitkinerjapengelolaan sampahdanlimbahperkotaan.

Kebijakan ke6: mendorong terwujudnya kotakota padatlahan (compact city) yang didukung oleh pemanfaatan ruang dan lahan perkotaan yang efisien serta penatagunaan tanah perkotaanyangberkeadilan

Strategi

Indikator

1. Perencanaantataruangkota Terbentuknyakotakotapadatlahanyang yangpadatlahanyang menerapkankeenamaspektersebut. memastikankeenamaspekyaitu optimalisasipemanfaatanlahan(in filldevelopment),integrasisistem angkutanumumantarmoda dengantatagunalahan(transit orienteddevelopment), mendekatkankawasan permukimandenganpusatkegiatan 42

perkotaan(mixedlanduse), meremajakankawasankotatanpa merugikanpenghuninya(urban renewal),meningkatkanfungsi kawasankotaagarlebihproduktif (urbanredevelopment)danmampu menahanpertumbuhanmelebar padakawasanpinggirankota (urbangrowthboundaries). 2. Pengembanganinstrumen perpajakansebagaisalahsatucara yangdapatmempermudah implementasirencanatataguna lahanperkotaan. 3. Penyediaanlahandiperkotaan untukmemenuhikebutuhan masyarakatberpenghasilan menengahkebawahseperti permukiman,prasaranasarana utilitas,danruangpublik.

Terevaluasinyamekanismeinsentif disinsentifdalamimplemetasidan pengendalianpemanfaatanruang perkotaanterutamakawasanpinggiran kotauntukmengatasimasalahurban sprawl. Tersedianyalahanbagipermukiman, prasaranasaranautilitasdanruangpublik bagiMBRdiperkotaanyangdapat diakomodirdaralRencanaTataRuang. Terbentuknyakonsolidasilahanbagi pembangunanprasaranasaranautilitas, perumahandanruangpublik. 4. Percepatanprosespengurusan Terselenggaranyaprosespengurusanhak hakatastanahsertapengurangan atastanahyangmudah,cepatdanakurat. ketimpangankepemilikandan optimalisasipemanfaatan penggunaantanahagar memudahkaninvestasi pembangunanperkotaansekaligus memastikanterpenuhinya kesejahteraanmasyarakat perkotaan. 5. Penggunaanmekanisme Jumlahinsentifberupabantuanteknisdan insentifdandisinsentifdari financial,ataudisinsentifberupateguran pemerintahpusatkepemerintah dariPemerintahpusatkepemerintah daerahyangmampumewujudkan daerah. kotakotayangpadatlahanseperti pemberianbantuanteknisdan finansialterutamabagi pembangunanprasaranasarana danutilitasperkotaan. 6. Peningkatankualitas Terselenggaranyasisteminformasi pelayanandansisteminformasi pertanahanyangmudahdiaksespublik. pertanahansepertiperbaikan prosessertifikasihakatastanah dalamupayamempermudahproses pembangunanperkotaan. 43

Kebijakanke7:mendorongkotakotadalammeningkatkankualitas kesehatan lingkungan dan siap menghadapi perubahan iklim serta adaptifterhadapkemungkinanbencana

Strategi
15. Penerapanmekanisme pengendalianyangkuatterhadap kegiatanpembangunankotaagar tidakmerusaklingkunganmelalui mekanismeinsentifdisinsentif.

Indikator

Jumlahkotayangsudahmemilikidan menerapkanPerdadanrencanaaksi pengelolaanlingkungandanmitigasi bencanatermasukkotapesisir. Jumlahkotayangmemilikirencanatata ruangberbasismitigasibencanadan adaptasiperubahaniklim. 16. Peningkatankapasitas Terselenggaranyaprosespengurusanhak pemerintahdaerahdan atastanahyangmudah,cepatdanakurat pelibatanaktifmasyarakatdalam Terselenggaranyaregulasiterkait mewujudkanlingkungan penguranganemisiCO2. permukimanyangsehatdanadaptif Terlaksananyapengawasandan terhadapbencanadanperubahan penindakanhukumterkaitpengelolaan iklim. limbahperkotaanmeliputiindustri,rumah sakit,rumahtangga. 17. Peningkatanpromosi Jumlahkegiatanpromosidansosialisasi mengenaipentingnyamewujudkan mengenaikesehatanlingkungandan lingkunganhunianyangsehat, mitigasibencanadisetiapkota. bebaspolusidankotayangsiap terhadapkemungkinanbencana sertaberbagaiimplikasidari fenomenaperubahaniklim. 18. Dukunganteknisdan Terlaksananyapenilaianterhadapkualitas finansialbagikotakotayang lingkunganhidupsecaraberkaladi mampumewujudkanperbaikan perkotaan. kualitaslingkungankotayangsehat dansiapmenghadapikemungkinan bencanasertaperubahaniklim. 19. Percepatanpenyusunan TersusunnyaRegulasibidangtransportasi regulasikhususnyadalambidang kotayangmewajibkan/memberikan transportasidalamupaya insentifpenggunaanalattransportasi penguranganefekrumahkaca ramahlingkungansecarabertahap. melaluipenguranganemisico2. 44

Kebijakan ke8:meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kelembagaan, dan penerapan prinsipprinsip tata pemerintahan yang baik, serta mendorong munculnya kepemimpinan yang visioner

Strategi
1. Percepatanpenguatan kapasitasaparaturdan kelembagaankotamelalui bimbinganteknis,pelatihandan optimalisasipenerapanpenilaian kinerja.

Indikator
Tersusunnyadanterlaksananyaindekstata kelolapemerintahkota. Presentasepeningkatankotapemenang PKPD(PenilaianKinerjaPemerintah daerah). Presentasepeningkatanjumlahbimbingan teknis,pelatihandanpenilaiankinerja aparaturPemerintahkota. Terbentuknyaforumkotayangbersifat multistakeholderdanindependenyang berpengaruhpadatatakelola pemerintahankota. JumlahKerjasamaPengelolaanKawasan Perkotaanyangefektif. Tersusunnyasisteminformasikawasan perkotaanyangterintegrasidanefektif. Presentasepeningkatanpartisipasi masyarakatdalamprosespembangunandi perkotaan.

2. Pengembangankerjasama antarkotadandaerah,antarnegara, maupunantarapemerintah,swasta danmasyarakat.

3. Peningkatankapasitaswarga kotauntukterlibatdalam perencanaan,pembangunan, monitoring,danevaluasi pembangunanperkotaan. 4. Peningkatankualitas administasikependudukan,agar kegiatanpembangunandapat dirancangsesuaidengankomposisi demografimasyarakatperkotaan secaraakuratdantepatguna. 5. Insentifdandisinsentifbagi terwujudnyabirokrasiyang responsiveterhadappelayanan masyarakat.

Terciptanyaedatabasekependudukan yangdikeluarkanBPSyangdipakaioleh semuaKementrian,danditerapkanuntuk berbagaikeperluan,seperti Pemilu/Pilkada,penetapanpemberian DAU,penetapankapasitasfiscal,dll. Tersusundanterlaksananyamekanisme insentifdisinsentifdalammendukung terwujudnyatatakelolapemerintahan yangbaik.

45

GLOSSARY:
a. KSPN:adalahKebijakandanStrategiPerkotaanNasional b. KSPwilayah:adalahKebijakandanStrategiPerkotaanwilayahPulaubesar c. KSPD:adalahKebijakandanStrategiPerkotaanDaerah,untuksetiapkota. d. KawasanPerkotaan:adalahwilayahyangmempunyaikegiatanutamabukan pertaniandengansusunanfungsikawasansebagaitempatpermukiman perkotaan,pemusatandandistribusipelayananjasapemerintahan,pelayanan sosial,dankegiatanekonomi. e. Kawasanmetropolitanadalahkawasanperkotaanyangterdiriatassebuah kawasanperkotaanyangberdirisendiriataukawasanperkotaanintidengan kawasanperkotaandisekitarnyayangsalingmemilikiketerkaitanfungsional yangdihubungkandengansistemjaringanprasaranawilayahyangterintegrasi denganjumlahpenduduksecarakeseluruhansekurangkurangnya1.000.000 (satujuta)jiwa.Kawasanmegapolitanadalahkawasanyangterbentukdari2 (dua)ataulebihkawasanmetropolitanyangmemilikihubunganfungsionaldan membentuksebuahsistem. f. Perkotaan:adalahsuatuentitassosiospasialyangmencerminkankondisi sosial,ekonomi,danbudayamasyarakat,dimanasuatuupayapembangunannya tidakdapatlepasdariupayapengembanganmasyarakatnya. g. Kota padat lahan (compact city): adalah kota yang semua lahan di dalamnya telah difungsikan secara optimal sesuai kebutuhan, tidak ada lagi lahan yang tidur dan tidak berfungsi. Kota padat lahan mampu menjamin sistem pergerakan manusia dan barang serta jasa secara efisien, dan sekaligus menghindari kecenderungan perkembangan yang melebar hingga melampaui batas administrasi kota (urban sprawl). Kota padat lahan juga menjamin kawasan pinggiran kota yang masuk ke dalam daerah Kabupaten lain, tidak tumbuhmenjadipusatpusatkegiatanyangjustrusemakinmembutuhkanlahan yanglebihlebardikawasandaerahKabupatenlainnyaitu. h. Daya dukung kota: adalah ukuran kapasitas suatu kota untuk mendukung besaran intensitas kegiatan perkotaan, baik menyangkut keruangan, sumber dayamanusia,sumberdayaalamsepertiketersediaanairbaku, PSUterutama energy listrik yang kapasitasnya mampu menampung intensitas kegiatan perkotaan,dankelembagaanyangresponsivesertaRegulasiyangmemadai. i. Urbanisasi: mencakup 2 pengertian, yaitu: a) Perpindahan penduduk dari kawasan perdesaan ke kawasan perkotaan, baik secara permanen atau musimanatautidakpermanen,danb)perubahanpolahidupmasyarakatyang semula bergantung pada sektor non perkotaan (Pertanian, perkebunan, 46

kehutanan, perikanan, dll) menuju ke sektor perkotaan. Kegiatan sektor non perkotaan, dicirikan dengan permukiman yang menyebar secara tidak beraturanmendekatilokasibekerjanya,sepertisawah,kebun,pantai.Kegiatan sektorperkotaanmeliputisektorjasa,baikyangmasukkatagoriformalmaupun non formal), dicirikan dengan permukiman yang terkonsentrasi pada suatu kawasan. Perubahan pola hidup itu yang terjadi di kawasan permukiman perdesaan, kemudian kawasan perdesaan tsb berubah fungsinya menjadi kawasan perkotaan. Gejalanya sering terjadi di kawasan pinggiran kota, sehingga administrasi pemerintahannya ikut berubah, semula desa dikepalai seorangKepalaDesa,menjadiKelurahandikepalaiolehseorangLurah. j. MultimodaTransportasi:adalahsistemangkutanumumpenumpangperkotaan yang terintegrasi, terutama secara manajemen, untuk melayani kebutuhan pergerakan manusia dari mulai titik asal pergerakannya, yaitu rumah, sampai ke titik transit yang berupa sub pusat kota, hingga ke titik akhir pergerakan, yaitutempatkerjanyasecaraefisien.Padatitikasal,bisadilayanidenganjenis kendaran angkutan umum kecil bermotor/tidak bermotor, termasuk sepeda/sepedamotor,becak,bentor.Kemudianmulaidarititiktransitmulaidi kawasan permukiman sampai terminal kecil/sedang dilayani dengan jenis kendaraan kecil, kemudian baru masuk ke jalur arteri kota yang dilayani dengan angkutan massal. Sistem layanan itu juga didukung dengn manajemen yang terintegrasi, sehingga penumpang tidak harus antri membeli tiket pada setiapterminal,karenasatutiketbisaberlakuuntukdipakaikemanasajapada kurunwaktutertentu.

k. Multi moda: moda (jenis) angkutan umum orang dan atau barang lebih dari satu,yangsatusamalaindikelolasecaraterintegrasi. l.

Pertanahan yang berkeadilan: adalah kepemilikan tanah dalam kota yang melindungi kelompok masyarakat kecil untuk memanfaatkan dan menghidupkanfungsinyasesuaikebutuhannya.

m. RTRWN:RencanaTataRuangWilayahNasional n. RPJMN:RencanaPembangunanJangkaMenengahNasional o. RPIJMD:RencanaPengembanganInvestasiJangkaMenengahDaerah p. UMKM:UsahaMikroKecildanMenengah q. Urban Sprawl: perluasan kawasan perkotaan yang meluas secara horizontal, melampaui wilayah administrasi kota atau memasuki wilayah adminsitrasi Kabupatentetangganya,sehinggamenyulitkanpengendaliannya.

47