Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pengganti Air Susu Ibu (PASI) adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi serta pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur antara 4 dan 6 bulan (Soetjiningsih, 1997 : 182). Tingginya angka kematian bayi dan anak metupakan ciri yang umum dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Salah satu penyebab yang menonjol di antaranya adlah karena keadaan gizi yang kurang baik atau bahkan buruk. Oleh karena gizi merupakan unsur yang sangat penting bagi pembentukan tubuh manusia yang berkualitas maka perlu dibahas tentang cara pemberian pengganti ASI pada bayi dimana golongan ini merupakan generasi yang akan mengisi masa depan. Makanan bayi sejak di kandungan sampai lahir, tumbuh dan berkembang secara normal memerlukan pemenuhan kebutuhan akan pangan dan zat gizi disamping pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Berbagai jenis susu buatan atau susu formula telah diciptakan oleh para ahli untuk memenuhi kebutuhan giz bayi. Keuntungan dan kerugian tentang penggunaan jenis susu tersebut akan dibahas dalam makalah ini. Komposisi gizi air susu ibu (ASI) yang merupakan makanan bayi yang terbaik dan sulit tandingannya dipelajari dari berbagai aspek. Lebih jauh, kenyataan di lapangan tentang pemberian makanan kepada bayi dan anak dapat dikemukakan untuk memberikan gambaran masalah-masalah apa yang perlu memperoleh perhatian yang proporsional, demikian pula alternatif yang mungkin dapat didasarkan dalam menggalakkan cara-cara memberi makanan bayi dan anak secara baik juga disajikan dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Apakah pengertian penganti air susu ibu (PASI) ? Apa sajakah macam susu ternak sebagai makanan bayi? Bagaimanakah sejarah susu formula? Bagaiman cara pemberian susu formula?

5. 6.

Bagaimanakah cara pembersihan alat PASI? Apakah Resiko Pemberian Susu Formula Untuk Bayi dan Anak-Anak?

1.3 Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Untuk mengetahui pengertian PASI Untuk mengetahui macam susu ternak sebagai makanan bayi Untuk mengetahui sejarah susu formula Untuk mengetahui cara pemberian susu formula Untuk mengetahui cara pembersihan alat PASI Untuk mengetahui Resiko Pemberian Susu Formula Untuk Bayi dan Anak-Anak

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengganti Air Susu Ibu (PASI) Walaupun ASI adalah makanan paling ideal bagi bayi, namun tidak semua ibu dapat memberikan ASI pada bayinya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut. a. Jumlah dan mutu ASI kurang memadai sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi. b. Tidak selamnya seorang ibu bersama-sama dengan bayinya. Pada umumnya, faktor pekerjaan akan memisahkan ibu dan bayi untuk sementara waktu atau karena alas an yang lainnya c. Faktor kesehatan ibu yang kurang memadai, misalnya ibu menderita suatu penyakit yang dikhawatirkan dapat menular kepada bayinya d. Dengan alas an estetika, seorang ibu akan lebih mementingkan keindahan tubuhnya dari pada kesehatan anaknya Untuk alasan-alasan tersebut, pada umumnya bayi harus diberi makanan pengganti ASI (PASI) berupa susu formula. Akan tetapi, harus diperhatikan bahwa susu formula dapat diberi kepada bayi, setelah berumur sekurang-kurangnya 4 bulan atau apabila memungkinkan 6 bulan. Apabila produksi ASI sangat rendah, Anda sebagai orang tua harus mengupayakan agar produksi ASI dapat tercukupi kebutuhan bayi. Berbagai cara dapat dilakukan, antara lain Anda dapat berkonsultasi dengan dokter Anda atau mengunjungi laktasi terdekat. Dengan niat dan semangat yang tinggi produksi ASI akan berjalan dengan berjalan lancer dan kebutuhan bayi akan Anda penuhi. Pada umumnya, susu formula untuk bayi terbuatdari susu sapi yang susunan zat gizinya diubah sedemikian rupa sehingga dapat diberikan kepada bayi tanpa menimbulkan efek samping. Beberapa alas an pemakaian susu sapi sebagai bahan baku susu formula seperti berikut. a. Susu sapi mempunyai susunan zat gizi yang baik dan lengkap b. Sapi perah dapat memproduksi susu dalam jumlah yang banyak (rata-rata 500 liter / tahun) sehingga dari segi komersial dapat dipelihara untuk diambil produksi susunya

Walaupun memiliki susunan zat gizi yang cukup baik, susu sapi hanya ideal untuk anak sapi, bukan untuk bayi manusia. Oleh karena itu, sebelum digunakan untuk makanan bayi, ususnan zat gizi susu sapi harus diubah agar cocok untuk bayi. Oleh karena itu, hanya ASI yang paling ideal untuk bayi manusia maka perubahan yang dilakukan pada komponen gizi sapi harus mendekati susunan zat gizi ASI. Meskipun para ahli teknologi pangan telah berusaha untuk memperbaiki susunan zat gizi susu sapi agar komposisinya mendekati susunan zat gizi ASI, sampai saat ini usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang baik.

2.2 Sejarah Susu Formula Penemuan-penemuan dalam bidang biologi pada abad ke-19 seperti proses pemanasan susu sapi untuk diminum, merupakan awal dari pembuatan susu formula. Susu sapi untuk bayi yang pertama-tama dipasarkan pada tahun 1867 oleh ahli kimia Jerman von Liebig, dinamakan makanan bayi komplit. Susu formula ini terbuat dari campuran susu sapi, tepung terigu, dan tepung malt, dimasak dengan dicampur sedikit kalium dan karbohidrat untuk mengurangi rasa asam. Pada waktu itu pasaran susu formula ini sangat maju, sehingga pengusaha-pengusaha lainnya ingin juga membuat susu formula. Maka muncullah banyak susu-susu formula lainnya, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu: a) Susu tepung yang ditambahkan serealia dan gula, misalnya Nettles Food dan Horlicks Milk b) Yang terdiri dari susu sapi bercampur malt dari karbohidrat, misal Mellins Food, dan c) Pure (bubur) serealia yang dimakan bersama susu sapi, misalnya Eskays Food, Imperial Granum, dan Robinsons Patent Barley. Susu formula tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan, karena mengandung sedikit karbohidrat yang mudah larut. Untuk mengatasi ini, ditambah larutan sereal sehingga kasein susu tersebut dapat lebih mudah diabsorpsi. Perhatian para ahli terhadap zat-zat gizi pada waktu itu masih sangat kurang. Suatu perkembangan yang sangat penting terjadi ketika Heubner dan Rubner menemukan metode Kalori metrik. Dengan teknik ini dibuka tabir penelitian metabolisme pada bayi dan mulai memperhitungkan makanan bayi yang cukup memenuhi kebutuhan energi.

Setelah ditemukan teknologi pengawetan, susu sapi yang diuapkan airnya, menjadi yang paling umum dipergunakan untuk makanan bayi. Pada tahun 1956, Borden mengembangkan suatu metoda mengkonsentrasikan susu sapi segar dengan penguapan vacuum, dan diawetkan dengan penambahan gula. Hasil produk ini kemudian dikenal sebagai susu kental manis. Myenberg lalu memodifikasi teknik dengan mensterilisasi susu yang tidak ditambah gula pada temperature 200-240F. sampai tahun 1930, susu yang dibuat dengan cara ini sangat popular di kalangan masyarakat Eropa. Cara-cara modern pembuatan susu formula dimulai tahun 1915, ketika Gerstenberger dan teman-temannya mengembangkan susu artifisial yang mana lemak di dalam susu tersebut disesuaikan mendekati air susu ibu. Campuran cairan susu formula tersebut mengandung 4,6% lemak, 6,5% karbohidrat dan 0,9% protein. Empat tahun kemudian dibuktikan bahwa susu formula ini baik untuk bayi. Susu formula ini diberi nama SMA singkatan dari Syntetic Milk Adapted. Berbagai macam susu formula yang beredar di pasar sekarang adalah modifikasi formula dari SMA ini. Di samping kemajuan teknologi yang dicapai, penyakit kekurangan gizi seperti rickets, Skurvi dan anemia umu dijumpai pada bayi-bayi yang diberi makan susu formula. Ternyata minyak ikan efektif mencegah penyakit rickets. Kemudian susu formula ditambah vitamin D, dan sesudah itu rickets tidak lagi merupakan masalah. Northtrup dari Hase menemukan banyak bayi yang menderita skurvi karena kekurangan vitamin C, setelah diberinya buah-buahan segar, skurvi hilang. Mulai tahun 1948, vitamin C ditambahkan ke dalam susu formula. Pada awal tahun 1950-an ditemukan bahwa vitamin C berperan terhadap terjadinya anemia pada bayi. Vitamin C berfungsi meningkatkan absorpsi zat besi yang berasal dari makanan. Kekurangan zat besi menyebabkan terjadinya anemia. Karena itu pada tiap susu formula yang beredar di pasar sekarang ini hamper selalu disortifikasi dengan vitamin C dan zat besi. Dahulu susu formula umumnya dalam bentuk tepung, dan dipergunakan di rumah-rumah sakit. Mulai tahun 1950, susu formula cair yang pekat mulai beredar di pasaran dan menjadi sangat popular pada tahun 1960 di Amerika Serikat, sebanyak 80% susu formula dalah dalam bentuk cairan pekat. Susu formula yang cair pekat ini kemudian berkembang menjadi ready to eat formula yaitu makanan bayi yang siap dimakan, dan hanya ditambahkan air sebelum diberikan kepada bayi.

Karena pasaran makanan ini mantap (walaupun terjadi resesi dunia, pasaran susu formula tetap stabil), maka banyak industry makanan memproduksi berbagai macam susu formula. Dan pada waktu sekarang puluhan macam susu formula dapat ditemui di took atau di pasar.

2.3 Susu Ternak sebagai Makanan Bayi a. Komposisi ASI dan susu sapi Susu sapi Komposisi susu sapi berbeda dengan komposisi ASI (table 6.1). Perbedaan yang penting terdapat pada konsentrasi protein dan mineral yang lebih tinggi dan laktosa yang lebih rendah. Lagipula pada susu sapi rasio antara protein whey dan kasein (20/80). Jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rasio tersebut pada ASI (60/40). Walaupun baik protein whey maupun kasein merupakan protein berkualitas tinggi, akan tetapi kasein di bawah pengatuh asam lambung menggumpal sehingga lebih sukar di cerna oleh enzimenzimnya. Perbedaan terdapat pula pada asam lemaknya, ASI lebih banyak mengandung asam lemak tidak jenuh hingga mudah dicerna sedangkan tidak demikian dengan lemak susu sapi. ASI banyak mengandung asam linoleic., asam lemak esensial bagi manusia,. Asam lemak susu sapi yang tidak diserap mengikat kalsium dan mungkin berbagai trace elements hingga dapat menghalang-halangi masuknya zat-zat tadi. Kandungan kolesterol ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kolesterol yang terdapat pada susu sapi. Adapun mengenai vitamin-vitaminnya, vitamin dari golongan B lebih banyak terdapat pada susu sapi karena sapi dapat mensintesisnya. Walaupun demikian ASI mengandung cukup vitamin yang dibutuhkanoleh bayi. Kadar besi dan fluor baik pada susu sapi maupun pada ASI terdapat rendah hingga tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi. Formula bayi Pada aumumnya formula bayi dibuat dari susu sapi yang diubah komposisinya hingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI. Alasan dipakainya susu sapi sebagai bahan dasar mungkin oleh banyaknya susu yang dapat dihasilkan oleh peternak sapi perah Table 6.1 : KOMPOSISI ASI DAN SUSU SAPI

Analisa Rata-rata

Asi tiap 100 ml

Susu Sapi tiap 100 ml

Protein (g) Kaseine Whei Lemak (g) Karbohidrat (g) Abu (g) Energy (Kkal) Mineral Natrium (mg) Kalium (mg) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Magnesium (mg) Besi Seng Mangan Tembaga Selenium Khlorida Iodium

1.1 0.4 0.7 4.5 6.8 0.2 72

3.3 2.7 0.6 3.7 4.9 0.7 6.6

16 51 34 14 4 50 300-500 0.7-1.5 40 1.3-5 39 3

51 137 117 92 12 50 300-500 2-4 30 0.5-5 103 4.7

Nutricia Vademecum (1984)

dan harganya yang relative murah. Seperti halnya dengan ASI bagi bayi, susu sapi sangat baik bagi anak sapi, jadi bukan untuk bayi manusia. Maka dari itu sebelum merupaka pengganti ASI, komposisi susu sapi harus diubah dahulu hingga mendekati susunan yang terdapat pada ASI. Para ahli gizi dan dokter anak memberi petunjuk bagaimana mengubah susunan susu sapi hingga dapat diberikan pada bayi tanpa ada efek sampingnya. Berbagai macam formula bayi dengan berbagai macam merek dagang beredar di Indonesia, bahakan dengan berbagai macam sendok ukuran yang terdapat dalm kaleng masing-masing. Maka dari itu ibu harus waspada dalam memilih formula bayi sebagai pengganti ASI, jika perlu tanyakan pada dokter anak.

Europen Society for Paediatric Gastroenterology and Nutrition (ESPGAN) Commite on Nutrition dalam publikasinya pada tahun 1977 membagi formula bayi dalam 2 jenis, formula awal dan formula lanjutan. Starting formula dalam bentu bubuk ( di Eropa dan Amerika Serikat dipsarkan pula dalm bentuk cair)setelah ditambah dengan sejumlahair sesuai dengan petinjuk prosedurnya dan jika pmberian sehari-harinya cukup, harus dapat memnuhi kebutuhan energy dan zat-zat gizi esensial bagi bayi sampai umur 4-6 bulan, dan bersama dengan makanan tambahannya seperti buah, bubur susu, dan nasi tim, sampai umur 1 tahun. Formula awal dibagi dalam 2 golongan formula adaptasi dan formula lengkap a. Formula adaptasi ( adapted berarti disesuaikan dengan kebutuhan bagi bayi baru lahir) untuk bayi baru lahir sampai umur 6 bulan. Susuna formula adaptasi sangat mendekati susunan ASI (table 6.2) dan sangat baik bagi bayi baru lahir sampai umur 4 bulan. Pada umur dibawah 3-4 bulan fungsi saluran pencernaan dan ginjal belum sempurna hingga pengganti ASInya harus mengandung zat-zat gizi yang mudah dicerna dan tidak mengandung mineral yang berlebihan maupun kurang. Komposisi yang dianjurkan oleh ESPGAN (1977) setelah bubuk formula tersbut dicairkan sesuai petunjuk prosedurnya ialah: Lemak : Kadar lemak disarankan antara 2,7-4,1 g tiap 100 ml. komposisi asam lemaknya harus sedemikian hingga bayi umur 1 bulan dapat menyerap sedikitnya 85 %. Disarankan juga bahwa 3-6 % dari kandungan energy harus terdiri dari asam linoleic.

Protein : Kadar protein harus berkisar antara 1,2 dan 1,9 g/100 ml. dengan rasio lakalbumin/ kasein kurang lebih 60/40. Oleh karena kandungan protein dari pada formula ini relative rendah maka komposisi asam aminonya harus identic atau hampir identic dengan yang terdapat dalam protein ASI. Protein yang demikianlah yang dapat dipergunakan seluruhnya oleh bayi pada minggu-minggu pertama setelah dilahirkan. Pemberian protein yang terlalu tinggidapat menyebabkan tingginya ureum, amoniak serta asam amino tertentu dalam darah. Perbedaanantara protein ASI dan susu sapi terletak pada kandungannya (susu sapi mengandung 3,3 g/100 ml sedangkan ASI hanya 1,1 g/100 ml) dan rasio ini antara protein whey dan kaseinnya : pada ASI 60/40, sedangkan pada susu sapi 20/80. Ada yang berpendapat bahwa kualitas kasein susu sapi lebih baik dari pada kesein susu sapi. Kadar sitein, salah satu asam amino

yangmengandung welirang (sulfer) terdapat rendah, hanya sepersepuluh dari pada yang terdapat dalam susu ibu. Bayi baru lahir dan terutama yang dilahirkan sebagi premature belum dapat mengubah asam amino metionin menjasi sistein, hingga pemberian susu sapi tanpa diubah terlebih dahulu dapat menyebabkan defisiensi relatis sistein. Penambahan protein whey akan memperbaiki susuan asam aminonya hingga mendekati kandungan sistein yang terdapat dalam ASI.

Karbohidrat : Disarankan untuk formula ini kandungan karbohidrat antara 5,4 dan 8,2 g/100 ml. dianjurkan supaya sebagai karbohidrat hanya atau hampir seluruhnya memakai laktosa, selebohnya glukosa atau dekstrin-maltosa. Tidak dibenarkan dalam pembentukan formula ini untuk memakai tepung atau madu, maupun diasamkan karena belum diketahui efek sampingnya dalam jagka pendek maupun dalam jangka panjang. Laktosa dalam usus dicerna oleh enzim lactase dan diserap sebagai glukosa dan galatosa. Walaupun aktivitas lactase pada bayi lahir sudah memuaskan, sebagian masukan laktosa akan mengalami proses fermentasi oleh kuman-kuman usus besar dan diubah menjadi asam laktat, asam lemak dengan berat molekul rendah. Dengan demikian laktosa merupakan factor penting untuk menurunkan pH tinja. PH yang rendah ini disertai kapasitas buffer yang rendah pula karena rendahnya kandungan protein dan fosfat, memberi dampak yang baik untuk menekan pertumbuhan Escherichia Coli dalam usu bayi yang mendapat ASI.

Mineral : Seperti dapat dilihat pada table 6.1 konsentrasi sebagian besar mineral dalam susu sapi seperti natrium, kalium, kalsium, forfor, magnesium, khlorida, lebih tinggi 3-4 kali dibandingkan dengan yang terdapat dalam ASI. Pada pembuatan formula adaptasi kandungan berbagai mineral harus diturunkan hingga jumlahnya berkisar antara 0,25 dan 0,34 g/100 ml. kandungan mineral dalam susu formula adaptasi memang rendah dan mendekati yang terdapat pada ASI (table 6.2). penurunan kadar mineral diperlukan sangat oleh karena bayi baru lahir belum dapat mengekskresi dengan sempurna kelebihannya. Dengan kandungan mineral yang rendah dapat dihindarkan : Gangguan keseimbangan air dan dehidrasi hipertonik Timbulnya hipertensi dikemudian hari

Sebaliknya kandungan besi dan fluor dalam susu sapi rendah hingga dalam pembuatan formula ini justru harus ditambahkan Vitamin : Biasanya sebagian vitamin ditambahkan pada pembuatan formula demikian hingga dapat menculupi kebutuhan sehari-harinya.

Energy : Yang Banyaknya energy dalam formula demikian biasanya disesuaikan dengan jumlah energy yang terdapat pada ASI (table 6.3) Pemberian formula adaptasi dapat diteruskan sampai umur 12 bulan jika makanan tambahannya seperti bubur susu, nasi tim, sayuran, buah-buahan cukup dan berkualitas baik untuk menambah beberapa zat gizi seperti mineral, protein dan energy bagi bayi yang sedang bertumbuh cepat dan bertambah aktivitasnya formula adaptasi yang beredar di Indonesi a diantaranya dapat dilihat pada table 6.4

b. Formula awal lengkap (complete starting formula) berarti susunan zat gizinya lengkap dan pemberiannya dapat dimulai setelah bayi dilahirkan. Berbeda dengan foemula adaptasi yang diuraikan terlebih dahulu, pada formula yang disebut

Table 6.2 : Analisa Rata-rata Berbagai Formula Adaptasi zat gizi Lemak Protein Whey Kesein Kerbohidrat Energy Mineral Na Formula Adaptasi* 3.4 - 3.64 1.5 - 1.6 0.9 0.96 0.6 0.64 7.2 7.4 67 67.6 0.25 0.3 15 24 ASI** 3.0 5.5 1.1 1.4 0.7 0.9 0.4 0.5 6.6 7.1 65 70 0.2 10 4.4 61 0.8 50 Susu Sapi** 3.2 3.1 0.6 2.5

K Ca P Cl Mg Fe Cu Za Mn I

55 72 44.4 60 28.3 34 37 41 4.6 53 0.5 1.3 40 52 0.32 0.4 7 15.8 6.9 7.15

40 30 10 30 4 0.2

150 114 90 102 12 0.1

*menurut brosur masing-masing produsen. **dikutip dari Nutricia Vademecum, 1984.

Table 6.3 : Analisa Rata-rata Formula Adaptasi Tiap 100 g Bubuk Merek dagang Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Mineral (g) Energy (Kkal) Bebelac 1 Bimbi Dumex sb Enfamil Morinaga BMT Nan Nutrilon S26 Vitalac 12.0 12.0 12.0 11.7 13.0 11.4 11.8 12.0 12.0 21.1 23.2 27.0 28.9 27.0 25.8 28.3 28.0 28.0 61.2 47.3 56.5 55.1 55.1 57.9 55.1 56.0 55.0 1.8 1.5 2.0 2.3 2.2 1.9 2.1 2.0 2.0 483 446.7 517 525 515 509 522 524 523

Menurut brosur tiap-tiap produsen. Tiap liter formula adapted mengandung 130 135 g bubuk. belakangan ini terdapat kadar protein yang lebih tinggi dan rasio antara fraksi-fraksi proteinnya tidak disesuaikan dengan rasio yangterdapat dalam susu ibu. Lagi pula kadar sebagian besar mineralnya lebih tinggi dibandingkan dengan formula adaptasi. Keuntungan dari formula bayi ini terletak pada harganya. Berhubugan pembuatannya

tidak begitu rumit maka ongkos pembuatannya juga lebih murah hingga dapat dipasarkan dengan harga yang lebih rendah. Dalam pengalaman penulis dengan memberi formula bayi demikian, walupun dimulai langusng setelah bayi dilahirkan, tidak pernah ditemukan kesulitan. Jika keadaan ekonomi tidak memungkinkan untuk membeli formula mahal, maka formula demikian dapat dipakai. Di satu rumah sakit di Australia (hubungan pribadi) untuk menghemat biaya bayi diberi formula adaptasi sampai umur 3 bulan untuk kemudian diganti dengan formula lengkap ini. Formula bayi lengkap yangberedar di Indonesia di antaranya Lactogen 1 (Nestle), New Camelpo (Nutricia), dan SGM 1 (Sari Husada), table 6.5 memperlihatkan analisa ratarata ketiga formula tersebut. c. Formula follow-up (dengan follow-up diartikan lanjutan, menganti formula yang sedang dipakai dengan formula tersebut). Formula demiian diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. Telah diuraikan terlebih dahulu, bahwa formula adaptasi dibuat sedemikian, hingga tidak memberatkan fungsi pencernaan dan ginjal yang pada waktu lahir belum sempurna. Maka dari itu dalam formula adaptasi zat-zat gizinya cukup untuk pertumbuhan yang normal dan mencegah timbulnya penyakit-penyakit gizi disebabkan oleh kekurangan maupun kelebihan masukan zat-zat tersebut. Oleh sebab pada umur 4-5 bulan fungsi organ-organ sudah memadai maka kelebihan zat gizi dapat dikeluarkan legi oleh ginjal. Lagipula dengan pertumbuhan yang cepat dan aktivitas fisik yang bertambah. Maka formula bayi adaptasi tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan bayi diatas 6 bulan. Terkecuali jika bayi demekian mendapat pula makanan tambahan seperti makanan padat yang memenuhi syarat Badan Kesehatan Sedunia (WHO). Rekomendasi/ syarat bagi pembuatan formula lanjuta ialah jika diencerkan menurut petunjuk pembuatannya dan diberikan dalam jumlah yang cukup, walaupun bayi tersebut menolak makanan padat, masih menunjang pertumbuhannya. Perbedaan diantara formula adaptasi dan formula lanjutan terletak pada perbedaan kadar beberapa zat gizinya. Formula lanjutan mengandung protein yang lebih tinggi sedangkan rasio fraksi proteinnya tidak mengikuti rasio yang terdapat pada ASI, kadar beberapa mineral lebih tinggi. Pada table 6.6 dapat dilihat analisa rata-rata berbagai susu lanjutan yang beredar di Indonesia.

Table 6.4 : Formula Adaptasi yang Beredar di Indonesia Merek Dagang Bebelac 1 Bimbi Dumex sb Enfamil Morinaga BMT Nan Nutrilon S26 Vitalac Produsen Ujempf Citra pangantama Dumex Mead Johnson Morinaga Nestle Nutricia Wyeth Sari Husada Negara Belanda selandia baru Denmark U.S.A Jepang Swiss Belanda U.S.A Indonesia

Table 6.5 : Analisa Rata-rata Formula Bayi Lengkap Tiap 100 Gram Bubuk Zat Gizi Protein lemak karbohidrat mineral energy Lactogen 1 12.8 25.6 55.8 2.9 504 New camelpo 14.5 23.9 53.5 3.4 502 SGM 1 13.0 25.0 56.0 3.0 501

Menurut brosur masing-masing produsen.

Table 6.6 : Analisa rata-rata Formula Follow-Up (Susu Bayi Lanjutan) Tiap 100 g Bubuk Merek dagang Protein (g) Lemak (g) Bebelac 2 Chilmil Dumex sl Enfapro Lactogen2 18.0 18.0 18.0 19.0 21.6 22.0 20.0 20.0 18.5 18.9 52.9 55.0 55.0 56.4 51.6 Karbohidrat (g) Mineral (g) 4.1 4.0 4.0 4.1 4.9 Energy (Kkal) 482 472 472 468 463

Nestlac Nutrima Promil SGM2

21.6 18.3 20.0 20.0

19.0 19.0 18.0 18.0

51.6 56.3 55.0 54.7

4.8 3.9 5.0 4.3

464 469 460 461

Menurut brosur masing-masing produsen. Pertumbuhan yang cepat memerlukan protein ekstra sebagai zat pembangun dan juga berbagai mineral lebih banyak, maka dibuat formula demikian. Formula lanjutan dapat diberikan pada anak dari umur diatas 6 bulan sampai 3 tahun.

b. Jenis-jenis susu 1. Jenis Susu Utuh Segar Susu yang diperoleh dari sapi, kerbau maupu kambing, harus didihkan lebih dahulu, diaduk terus menerus agar bakteri pathogen musnah, serta lebih mudah dicerna. Setiap usaha harus dilakukan untuk memperoleh susu dari sumber yang bersih dan higenis. Susu utuh harus diencerkan sebelum diberikan kepada bayi berumur satu atau dua bulan pertama agar beban ginjal dapat dikurangi pada waktu mencerna larutan-larutan yang terkandung dalam susu tersebut.

Tabel Jumlah Setiap Kali Makan dengan Asumsi 5x Makan Sehari Komposisi Susu cair (ml) Air (ml) Gula (gr) K kal Protein (gr) Berat bayi (kg) 3 70 20 5 64 2,1 4 100 20 10 103 3,0 5 150 0 10 135 4,5 6 180 0 10 153 5,4

Pada susu kerbau yang kadar lemaknya tinggi, perlu dikurangi dengan memasak susu, mendinginkan dan membuang lapisan bagian permukaan (langitlangit).

Alas an penambahan gula lebih baik dari pada penambahan lemak untuk memberi tambahan kalori makanan bayi, karena bayi akan lebih banyak mengalami kesulitan penyerapan lemak dari pada gula. Bila tambahan tambahan kalori berasala dari lemak, maka akan melewati kapasitas pencernaan bayi dan terjadilah gangguan alat pencernaan. Juga kare diketahui bahwa ASI mengandung lebih tinggi karbohidrat dan lebih rendah lemak dari susu sapi nampaknya logis dalam mengadakan modifikasi susu sapi dilakukan dengan penambahan karbohidrat. Jenis gula yang terdapat dalam susu sapi adalah gula laktosa, tetapi karena harga laktosa sangat tinggi serta sulit didapat, maka sukrosa (gula pasir) biasanya ditambahkan ke dalam susu sapi yang telah diencerkan untuk mendapatkan total kalori 67kal/100 ml. Madu, karena kandungannya yang tinggi akan monosakarida (fruktosa) dan disakarida (sukrosa) mudah diserap bila dibandingkan dengan polisakarida (dekstrin atau pati). 2. Bila Menggunakan Susu Bubuk dengan Lemak

Tabel Jumlah Setiap Kali Makan dengan Asumsi 5x Makan Sehari Komposisi Susu bubuk dengan lemak Air (ml) Gula (gr) K kal Protein 9 (gr) Berat Bayi (kg) 3 12 90 10 98 2,6 4 15 120 10 112 3,3 5 20 150 10 136 4,4 6 20 180 15 156 4,4

Campur susu bubuk dengan gula, tambahkan sedikit air dingin yang telah masak, campur dengan sempurna dan tambahkan sedkit air lagi. 3. Susu Skim Bubuk Biasannya energy dan kadar lemak susu skim rendah serta tidak mengandung vitamin A atau D. karena itu bila akan digunakan ditambah dengan minyak makan (biasanya minyak nabati) dan vitamin A. Para ibu harus dapat diyakinkan bahwa penamabahan minyak tresebut tidak menyebabkan diare atau sakit perut.

Tabel Jumlah Susu Skim Bubuk Setiap Kali Makan dengan Asumsi 5x Makan Sehari Komposisi Susu skim (gr) Air (ml) Minyak (ml) Gula (gr) K kal Protein (gr) Berat bayi (kg) 3 17 90 5 5 90 2,5 4 10 120 10 5 120 3,6 5 15 150 10 5 138 5,4 6 15 180 10 10 182 5,4

4. Susu Utuh Evaporasi / Filled Milk Filled milk merupakan susu dimana lemaknya telah diganti dengan lemak lain seperti misalnya dengan minyak kelapa. Kegunaan filled milk sebaiknya dihindari atau andai kata digunakan harus ditambahnya minya, gula dan vitamin A.

Tabel Jumlah Setiap Kali Makan dengan Asumsi 5x Makan Sehari Komposisi Susu utuh evaporated (ml) Air (ml) Gula (gr) K kal Protein (gr) Berat Bayi (kg) 3 30 60 10 81 2,1 4 40 80 10 95 2,8 5 75 75 10 142 5,3 6 90 90 10 162 7,0

5. Yoghurt atau Susu Asam Gunakan yoghurt yang digunakan dari susu utuh, sebaiknya diberikan menggunakan sendok yoghurt. Biasanya kandungan laktosanya lebih rendah dari susu segar, tetapi lebih mudah dicerna dan disuap. Yoghurt sedikit kemungkinannya dapat mendukung kemungkinan mikroba pathogen dan dapat disimpan lebih lama dari pada susu segar bila disimpan dalam suhu kamar tanpa pendinginan. Tabel Jumlah Setiap Kali Makan dengan Asumsi 5x Makan Sehari

Komposisi Yoghurt (ml) Air (ml) Gula (gr) K kal Protein (gr)

Berat Bayi (kg) 3 70 20 5 64 2,1 4 100 20 10 103 3,0 5 150 0 10 135 4,5 6 180 0 10 153 5,4

6. Susu Kental Manis Jenis susu ini lebih banyak digunakan orang, karena dianggap lebih praktis dan relative murah harganya. Disamping itu, susu yang belum terpakai dapat disimpan selama beberapa hari (kadar sukrosanya 40%). Namun demikian, penggunan susu kental manis seharusnya harus dihindari, kecuali kalau sudah terpaksa karena tidak ada bahan lagi. Hal ini disebabkan : a. Para ibu cenderung untuk terlalu banyak mengencerkan karena terlalu manis b. Rasio protein atau energy sangat rendah c. Dapat menyebabkan kebusukan gigi bila diberikan sampai masa gigi tumbuh d. Kadar lemak serta vitamin A sering sangat rendah. Karena itu perlu ditambahkan vitamin A.

Tabel Jumlah Setiap Kali Makan dengan Asumsi 5x Makan Sehari Berat Bayi (kg) 3 25 65 81 2,0 4 30 90 98 2,4 5 40 110 130 3,2 6 50 130 163 4,0

Komposisi Susu Kental manis (ml) Air (ml) K kal Protein (gr)

Tabel Niali Gizi rata-rata dalam susu kental manis (SKM) dan Air Susu Ibu (ASI) No Gizi SKM tidak diencerkan 1 2 3 4 5 6 Sukrosa Lemak Protein Laktosa Vitamin A Vitamin B1 42 9 8,3 11,8 2,14 0,005 6 1,3 1,2 1,7 0,306 0,0007 3,8 1,2 7 0,53 0,0016 SKM diencerkan ** ASI *

2.4 Cara Pemberian Susu Botol Masalah utama pemberian susu formula terletak pada persiapannya, yaitu karena adanya bahya pengencera yang trerlalu banyak serta terjadinya pencemaran. Karena itu penting sekali diakan demonstrasi yang praktis, mula-mula dilakukan para pelaksana kesehatan dan kemudian oleh para ibu. Hal ini harus dilakukan di dalam rumah. Faktor-faktor yang banyak mempengaruhi keberhasilan pemberian susu formula adalah : peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi. Beberapa peralatan pemberian makanan pada bayi yang perlu dipertimbangkan adalah : a. Sendok teh, biasanya mengandung paling sedikit resiko pencemaran. b. Cangkir, dianjurkan digunakan secepat mungkin segera setelah bayi dapat minum, yaitu sekitar 4-5 bulan. c. Botol, sangat mudah tercemar, botol yang akan digunakan dipilih yang terbuat dari gelas (bukan plastic) dengan mulut yang lebar, sehingga mudah dibersihkan dan mempunyai skala takaran dalam milliliter. d. Putting karet, sangat mudah tercemar, sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan panas. Lubang pada putting botol sedemikian rupa sehingga tetesan-tetesan dapat mengalir dengan lancer bila botol diletakkan terbalik

2.5 Cara Pembersihan Alat Dalam usaha membersihkan peralatan, disarankan untuk dilakukan cara yang paling murahdan praktis, karena biasanya di beberapa daerah supai air menjadi sangat terbatas cucilah dengan sabun, atau deterjen dengan menggunakan sikat, bila mungkin gosok dengan putting karet dengan garam. Sterilkan dengan cara memanaskannya dalam air mendidih dan letakkan alat-alat itu termasuk putting dalam air. Tutup dan didihkan selama 5-10 menit. Biarkan tutupnya rapat sampai dapat digunakan. Bila tidak mungkin mendidihkannya setiap kali setelah pemberian makanan, maka didihkan paling sedikit satu atau dua kali sehari. Dengan mendidihkan dua atau tiga kali sehari botol putingnya, maka dapat mengurangi jumlah peluang terjadinya kontaminasi.

2.6 Resiko Pemberian Susu Formula Untuk Bayi dan Anak-Anak 1. Meningkatkan resiko asma

Sebuah penelitian di Arizona, Amerika Serikat yang menggunakan sampel 1.246 bayi sehat menunjukkan hubungan yang kuat antara menyusui dan gangguan pernafasan pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah umur 6 tahun yang tidak disusui sama sekali, akan memiliki resiko gangguan pernafasan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang disusui.

Penelitian pada 2.184 anak yang dilakukan oleh Hospital for Sick Children di Toronto, Kanada menunjukkan bahwa resiko asma dan gangguan pernapasan mencapai angka 50% lebih tinggi pada bayi yang diberi susu formula, dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI sampai dengan usia 9 bulan atau lebih.

Para peneliti di Australia Barat melakukan penelitian terhadap 2602 anak-anak untuk melihat peningkatan resiko asma dan gangguan pernafasan pada 6 tahun pertama. Anak-anak yang tidak mendapatkan ASI beresiko 40% lebih tinggi terkena asma dan gangguan pernafasan dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan. Para peneliti ini merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan untuk mengurangi resiko terkena asma dan gangguan pernafasan.

Para ahli melihat pada 29 penelitian terbaru untuk mengevaluasi dampak melindungi terhadap asma dan penyakit pernapasan atopik lainnya yang diberikan oleh ASI.

Setelah menggunakan kriteria penilaian yang ketat, terdapat 15 penelitian yang memenuhi persyaratan untuk dievaluasi, dan ke-15 penelitian tersebut menunjukkan manfaat/efek melindungi yang diberikan oleh ASI dari resiko asma. Para ahli menyimpulkan, tidak menyusui atau memberikan ASI pada bayi akan meningkatkan resiko asma dan penyakit pernafasan atopik.

2. Meningkatkan resiko alergi

Anak-anak di Finlandia yang mendapatkan ASI lebih lama memiliki resiko lebih rendah untuk terkena penyakit atopik, eksim, alergi makanan dan gangguan pernafasan karena alergi. Pada usia 17 tahun, resiko gangguan pernafasan karena alergi pada mereka yang tidak mendapatkan ASI (atau mendapat ASI dalam jangka waktu pendek) adalah 65%, sementara pada mereka yang disusui lebih lama hanya 42%.

Bayi yang memiliki riwayat asma/gangguan pernafasan karena memiliki riwayat alergi dari keluarganya, diteliti untuk penyakit dermatitis atopik dalam tahun pertama kehidupannya. Menyusui eksklusif selama tiga bulan pertama diakui dapat melindungi bayi dari penyakit dermatitis.

Pengaruh dari konsumsi harian ibu akan vitamin C dan E pada komposisi anti-oksidan di ASI sebagai zat yang melindungi bayi dari kemungkinan terkena penyakit atopik diteliti. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang menderita penyakit atopik dipantau selama 4 hari, kemudian diambil sampel ASI dari ibu yang memiliki bayi dengan usia 1 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C sehari-hari pada makanan ibu dapat meningkatkan kadar vitamin C pada ASI. Semakin tinggi kadar vitamin C pada ASI dapat menurunkan risiko terkena penyakit atopik pada bayi.

3. Menghambat perkembangan kognitif

Untuk menentukan dampak dari memberikan ASI eksklusif dengan perkembangan kognitif pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah, digunakanlah metode Bayley scale of infant development ketika bayi berumur 13 bulan dan Wechler Preschool and Primary Scales of Intelligence pada anak ketika berumur 5 tahun. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah memberikan ASI secara eksklusif

(tanpa tambahan vitamin/supplemen apapun) pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah terbukti memberikan keuntungan yang signifikan pada perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik yang lebih baik.

Menyusui terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang, karena memiliki pengaruh positif pada pendidikan dan perkembangan kognitif di masa kanak-kanak, tegas sebuah penelitian di Inggris. Analisis regresi yang dilakukan pada sebuah penelitian menyatakan bahwa menyusui secara signifikan berkorelasi positif dengan pendidikan dan kecerdasan.

439 anak sekolah di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1991 1993 serta memiliki berat badan lahir rendah (di bawah 1,500 gram) diberikan beberapa jenis tes kognitif. Hasilnya, anak-anak yang memiliki berat badan lahir rendah dan tidak pernah disusui cenderung memiliki nilai/hasil tes yang rendah pada tes IQ, kemampuan verbal, kemampuan visual dan motorik dibandingkan mereka yang disusui/mendapatkan ASI.

Penelitian pada anak-anak yang lahir dari keluarga miskin di Filipina membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI sampai umur 12-18 bulan memiliki nilai yang lebih tinggi pada nonverbal intelligence test. Efek seperti ini akan lebih besar dampaknya pada bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (1.6 dan 9.8 poin lebih tinggi). Para peneliti menyimpulkan, bahwa memberikan ASI/menyusui dalam jangka waktu yang lama sangatlah penting, apalagi setelah mengenalkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), terutama untuk bayi berat badan lahir rendah.

4. Meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)

Anak-anak di Brazil yang tidak disusui/mendapatkan ASI beresiko 16,7 kali lebih tinggi terkena pneumonia dibandingkan anak-anak yang semasa bayinya disusui secara eksklusif.

Untuk menentukan faktor-faktor resiko dalam mendeteksi ISPA pada balita, sebuah rumah sakit di India membandingkan 201 kasus dengan 311 kunjungan pemeriksaan. Menyusui adalah salah satu dari sekian faktor yang dapat menurunkan tingkat risiko ISPA pada balita.

Beberapa sumber yang digunakan untuk meneliti hubungan antara menyusui dan resiko ISPA pada bayi yang lahir cukup bulan. Analisis dari data-data yang diteliti menunjukkan pada negara-negara berkembang, bayi yang diberikan susu formula

mengalami 3 kali lebih sering gangguan pernafasan yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan atau lebih. 5. Meningkatkan resiko oklusi gigi pada anak

Salah satu keuntungan menyusui adalah membuat gigi anak tumbuh rapih dan teratur. Penelitian yang dilakukan pada 1.130 balita (usia 3-5 tahun) untuk mengetahui dampak dari tipe pemberikan makanan dan aktivitas menghisap yang tidak tepat terhadap pertumbuhan gigi yang kurang baik. Aktivitas menghisap yang kurang baik (menghisap botol) memberikan dampak yang substansial pada kerusakan gigi/oklusi gigi pada anak. Terjadinya posterior cross-bite pada gigi anak lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang menggunakan botol susu serta anak-anak yang suka mengempeng. Persentase terkena cross-bite pada anak ASI yang menyusu langsung 13% lebih kecil dibandingkan mereka yang menyusu dari botol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa semakin awal bayi menyusu dari botol dua kali lebih besar besar terkena risiko maloklusi/kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu langsung/tidak menyusu dari botol.

6. Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi

Pada kasus tercemarnya susu formula dengan Enterobacter Sakazakii di Belgia, ditemukan 12 bayi yang menderita Necrotizing Enetrocolitis (NEC) dan 2 bayi yang meninggal setelah mengkonsumsi susu formula yang tercemar bakteri tersebut.

Sebuah kasus di Amerika Serikat menyebutkan bahwa seorang bayi berusia 20 hari meninggal dunia karena menderita panas, tachyardiadan mengalami penurunan fungsi pembuluh darah setelah diberikan susu formula yang tercemar bakteri ESakazakii di NICU.

7. Meningkatkan resiko kurang gizi / gizi buruk

Pada tahun 2003 ditemukan bayi yang mengkonsumsi susu formula berbahan dasar kedelai di Israel harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat encephalopathy. Dua diantaranya meninggal akibat cardiomyopathy. Analisis dari kasus ini menyebutkan bahwa tingkat tiamin pada susu formula tidak dapat

diidentifikasikan. Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula berbasis kedelai sering ditemukan gejala kekurangan tiamin, yang harus ditangani oleh terapi tiamin. 8. Meningkatkan resiko kanker pada anak-anak

Pusat Studi Kanker Anak di Inggris melakukan penelitian terhadap 3.500 kasus kanker anak dan hubungannya dengan menyusui. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengurangan tingkat resiko terkena leukemia dan kanker lain apabila seorang anak memperoleh ASI ketika bayi. Studi pada 117 kasus acute lymphotic leukemia yang dilakukan di United Arab Emirates menunjukkan bahwa menyusui secara eksklusif selama 6 bulan atau lebih akan meminimalkan resiko terkena kanker leukemia dan lymphoma (getah bening) pada anak.

Tidak menyusui adalah salah satu penyebab terbesar kanker pada ibu. Suatu penelitian mengemukakan tingkat kerusakan genetis yang signifikan pada bayi usia 9-12 bulan yang sama sekali tidak disusui. Para peneliti menyimpulkan bahwa kerusakan genetis berperan penting dalam pembentukan kanker pada anak atau setelah anak-anak tsb tumbuh dewasa.

Sebuah penelitian yang menggunakan bukti-bukti atas dampak menyusui pada risiko terkena leukemia mempelajari 111 kasus yang 32 diantaranya mengemukakan hal tersebut. Dari 32 kasus ini dipelajari 10 kasus utama dan ditemukan 4 kasus yang mengemukakan hubungan antara menyusui dan leukemia. Kesimpulan yang diambil adalah: semakin lama menyusui/memberikan ASI pada bayi, semakin kecil risiko terkena leukemia. Mereka mencatat, diperlukan dana sebesar USD 1,4M tiap tahunnya untuk mengobati anak-anak yang terkena leukemia.

9. Meningkatkan resiko penyakit kronis

Penyakit kronis dapat dipicu oleh respon auto-imun tubuh anak ketika mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. Ivarsson dan tim-nya melakukan penelitian terhadap pola menyusui 627 anak yang terkena penyakit kronis dan 1.254 anak sehat untuk melihat dampak menyusui pada konsumsi makanan yang mengandung protein gluten serta resiko terkena penyakit kronis. Secara mengejutkan ditemukan bukti bahwa 40% anak-anak bawah umur dua tahun (baduta) yang disusui/mendapatkan ASI berisiko lebih kecil terhadap penyakit kronis, walaupun mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten.

Rasa terbakar pada saat BAB dan penyakit Crohn adalah penyakit gastrointestinal kronis yang sering terjadi pada bayi susu formula. Suatu meta-analisis pada 17 kasus yang mendukung hipotesis bahwa menyusui mengurangi resiko penyakit Crohn dan ulcerative colitis.

Untuk memperjelas dampak dari pemberian MPASI yang terlalu dini (contoh: dampak dari menyusui dibandingkan tidak menyusui; lama menyusui; dampak menyusui dan hubungannya dengan pemberian makanan yang mengandung protein gluten) pada resiko penyakit kronis, para peneliti melihat kembali literatur tentang menyusui dan penyakit kronis. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang menderita penyakit kronis hanya mendapatkan ASI/disusui dalam jangka waktu pendek. Sementara anak-anak yang disusui lebih lama resiko terkena penyakit kronis ini 52% lebih rendah. Para peneliti mendefinisikan 2 mekanisme perlindungan yang diberikan ASI, yaitu: (1) melanjutkan pemberian ASI/menyusui menghambat penyerapan gluten pada tubuh, (2) ASI melindungi tubuh dari infeksi intestinal. Infeksi dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh bayi sehingga gluten dapat masuk ke dalam lamina propria. Penelitian yang lain menyebutkan bahwa IgA dapat menurunkan respon antibody terhadap gluten yang dicerna.

10. Meningkatkan resiko diabetes

Untuk memastikan hubungan antara konsumsi susu sapi (dan susu formula bayi berbahan dasar susu sapi) dan respon antibodi bayi pada protein susu sapi, peneliti di Italia mengukur respon antibodi pada 16 bayi ASI dan 12 bayi usia 4 bulan yang mengkonsumsi susu formula. Bayi susu formula meningkatkan antibodi beta-casein yang bisa menyebabkan diabetes type 1, dibandingkan dengan bayi ASI. Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan beresiko lebih rendah terhadap diabetes type 1, karena ASI dapat mencegah pembentukan anti-bodi beta-casein.

Studi yang dilakukan pada 46 suku Indian Kanada yang menderita diabetes tipe II dicocokkan dengan 92 jenis control penyakit diabetes. Kemudian dibandingkanlah resiko pre dan post-natal dari suku Indian yang disusui dan yang tidak disusui.

Menariknya, ditemukan suatu fakta baru bahwa ASI dapat menurunkan resiko terkena penyakit diabetes tipe II.

Penggunaan susu formula, makanan pengganti ASI dan susu sapi yang lebih dini pada bayi, adalah factor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terkena diabetes tipe I ketika dewasa. Sebayak 517 anak Swedia dan 286 anak Lithuania usia 15 tahun yang didiagnosa menderita penyakit diabetes tipe I dibandingkan dengan pasien nondiabets. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan ASI secara eksklusif sekurangnya 5 bulan dan dilanjutkan sampai usia 7 atau 9 bulan (dengan MP-ASI) dapat mengurangi resiko terkena diabetes.

Data yang didapatkan dari 868 anak penderita diabetes asal Cekoslovakia dan 1466 kunjungan dar pasien yang terkena diabetes, mengkonfirmasi bahwa resiko terkena diabetes tipe I dapat dikurangi dengan memperpanjang lama/periode menyusui. Menyusui bayi selama 12 bulan atau lebih mengurangi risiko terkena diabetes tipe I secara signifikan.

11. Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular

Untuk mempertegas hubungan antara gizi bagi bayi dengan resiko kesehatan setelah dewasa, peneliti dari Inggris mengukur tekanan darah pada sampel 216 remaja usia 13 sampai 16 tahun yang lahir prematur. Mereka yang mengkonsumsi susu formula pada awal kehidupannya memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan ASI ketika bayi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada bayi yang lahir prematur maupun cukup bulan, ASI dapat mengendalikan tekanan darah pada batas normal sampai mereka tumbuh dewasa.

Sebuah penelitian di UK mengevaluasi tingkat kolesterol pada 1.500 anak dan remaja usia 13-16 tahun dan menyimpulkan bahwa ASI mencegah penyakit kardiovaskular karena dapat mengurangi kadar total kolesterol dan kadar LDL (low-density lipid cholesterol). Hasil penelitian ini menyebutkan, bayi yang memperoleh ASI terbukti dapat mengendalikan metabolisme pengolahan lemak di tubuh dengan baik, yang menyebabkan kadar kolesterol yang rendah dan menghindarkan dari resiko penyakit kardiovaskular.

Sebuah studi di Inggris yang meneliti 4.763 anak-anak usia 7,5 tahun menyebutkan bahwa anak-anak berusia 7 tahun dan tidak pernah mendapatkan ASI memiliki kecenderungan tekanan systolic dan diastolic yang lebih tinggi dibandingkan anak-

anak yang mendapatkan ASI semasa bayinya. Ada pengurangan sebesar 0.2mmHg setiap 3 bulan apabila anak mendapatkan ASI eksklusif. Para peneliti menyarankan pemberian ASI eksklusif sekurangnya 3 bulan, karena terbukti dapat mengurangi 1% populasi orang-orang yang menderita penyakit tenakan darah tinggi, dan mengurangi 1,5% tingkat kematian penduduk karena darah tinggi. 12. Meningkatkan resiko obesitas

Untuk menentukan dampak pemberian makanan bayi pada obesitas masa kanakkanak, studi besar di Skotlandia meneliti indeks massa tubuh dari 32.200 anak usia 39-42 bulan. Setelah eliminasi faktor-faktor yang bias, status sosial ekonomi, berat lahir dan jenis kelamin, prevalensi obesitas secara signifikan lebih tinggi pada anakanak diberi susu formula, mengarah pada kesimpulan bahwa pemberian susu formula terkait dengan peningkatan risiko obesitas.

Dalam rangka untuk menentukan faktor yang terkait dengan pengembangan kelebihan berat badan dan obesitas, 6.650 anak-anak usia sekolah di Jerman yang berusia antara lima sampai 14 tahun diperiksa. Mengkonsumsi ASI ditemukan sebagai pelindung terhadap obesitas. Efek perlindungan ini lebih besar pada bayi yang secara eksklusif disusui ASI.

Tindak lanjut aktif dari 855 pasang ibu dan bayi di Jerman digunakan untuk menentukan hubungan antara tidak menyusui dan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Setelah dua tahun tindak lanjut, 8,4 persen dari anak-anak kelebihan berat badan dan 2,8 persen sangat kelebihan berat badan: 8,9 persen tidak pernah disusui, sementara 62,3 persen disusui selama paling sedikit enam bulan. Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif lebih dari tiga bulan dan kurang dari enam bulan memiliki 20 persen pengurangan resiko, sementara mereka yang telah ASI eksklusif selama paling sedikit enam bulan memiliki 60 persen pengurangan resiko untuk menjadi gemuk dibandingkan kepada mereka yang diberi susu formula.

13. Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan

Tujuh ratus tujuh puluh enam bayi dari New Brunswick, Kanada, diteliti untuk mengetahui hubungan antara pernapasan dan penyakit gastrointestinal dengan menyusui selama enam bulan pertama kehidupan. Meskipun angka pemberian ASI

ekslusif rendah, hasil menunjukkan efek perlindungan yang signifikan terhadap total penyakit selama enam bulan pertama kehidupan. Bagi mereka yang disusui ASI , insidensi infeksi gastrointestinal adalah 47 per persen lebih rendah; tingkat penyakit pernapasan adalah 34 persen lebih rendah daripada mereka yang tidak disusui.

Perbandingan antara bayi yang menerima ASI terutama selama 12 bulan pertama kehidupan dan bayi yang secara eksklusif diberikan susu formula atau disusui ASI selama selama tiga bulan atau kurang, menemukan bahwa penyakit diare dua kali lebih tinggi untuk bayi yang diberikan susu formula dibandingkan mereka yang disusui ASI.

Dukungan menyusui di Belarus secara signifikan mengurangi insiden infeksi gastrointestinal sampai dengan 40 persen.

14. Meningkatkan resiko kematian

Dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif, anak-anak yang sebagian disusui ASI memiliki 4,2 kali peningkatan risiko kematian karena untuk penyakit diare. Tidak disusui dikaitkan dengan 14,2 kali peningkatan risiko kematian akibat penyakit diare pada anak-anak di Brazil.

Bayi di Bangladesh yang disusui secara sebagian atau tidak disusui sama sekali, memiliki resiko kematian 2,4 kali lebih besar akibat infeksi saluran pernafasan akut dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pada anak-anak yang mendapatkan campuran lebih banyak ASI dibandingkan susu formula, resiko kematian karena pernapasan akut infeksi yang sama dengan anak-anak ASI eksklusif.

Para peneliti meneliti 1.204 bayi yang meninggal antara 28 hari dan satu tahun dari penyebab selain dari anomali bawaan atau tumor ganas dan 7.740 anak-anak yang masih hidup di satu tahun untuk menghitung angka kematian dan apakah bayi tersebut mendapatkan ASI serta efek durasi-respons. Anak-anak yang tidak pernah disusui memiliki 21 persen lebih besar resiko kematian dalam periode pasca-neonatal daripada mereka yang disusui. Semakin lama disusui, semakin rendah resikonya. Mendukung kegiatan menyusui memiliki potensi untuk mengurangi sekitar 720 kematian pasca-neonatal di Amerika Serikat setiap tahun. Di Kanada ini akan mengurangi sekitar 72 kematian.

Penelitian penting dari Ghana dirancang untuk mengevaluasi apakah waktu yang tepat untuk inisiasi menyusui dan praktek menyusui berhubungan dengan resiko kematian bayi. Studi ini melibatkan 10.947 bayi yang selamat melewati hari kedua dan yang ibunya dikunjungi selama periode neonatal. Menyusui dimulai pada hari pertama pada 71 persen bayi dan 98,7 persen dimulai pada hari ketiga. Menyusui dilakukan secara eksklusif oleh 70 persen selama periode neonatal. Resiko kematian neonatal empat kali lipat lebih tinggi pada bayi yang diberi susu berbasis cairan atau makanan padat selain ASI. Terdapat tanda bahwa respondosis terhadap resiko peningkatan kematian bayi dibandingkan dengan inisiasi menyusui yang tertunda dari satu jam pertama sampai tujuh hari. Inisiasi setelah hari pertama terkait dengan 2,4 kali lipat peningkatan risiko kematian. Penulis menyimpulkan bahwa 16 persen kematian bayi dapat dicegah jika semua bayi disusui sejak hari pertama dan 22 persen dapat dicegah bila menyusui dimulai selama satu jam pertama.

15. Meningkatkan resiko otitis media dan infeksi saluran telinga

Jumlah otitis media akut meningkat secara signifikan dengan menurunnya durasi dan eksklusivitas menyusui. Bayi Amerika yang diberikan ASI eksklusif selama empat bulan atau lebih mengalami penurunan 50 persen dibandingkan dengan bayi yang tidak disusui. Penurunan sebesar 40 persen kejadian dilaporkan berasal dari bayi ASI yang diberikan tambahan (makanan/susu formula) lain sebelum usia empat bulan.

Antara usia enam dan 12 bulan insiden pertama otitis media lebih besar untuk bayi susu formula daripada untuk bayi ASI eksklusif. Untuk bayi ASI eksklusif insidensi ini meningkat dari 25 persen menjadi 51 persen dibandingkan kenaikan dari 54 persen menjadi 76 persen untuk bayi ang hanya diberikan susu formula. Para penulis menyimpulkan bahwa menyusui bahkan untuk jangka pendek (tiga bulan) akan secara signifikan mengurangi episode dari otitis media selama masa kanak-kanak.

16. Meningkatkan resiko efek samping kontaminasi lingkungan

Sebuah studi Belanda menunjukkan bahwa pada usia enam tahun, perkembangan kognitif dipengaruhi oleh paparan pra-lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB) dan

dioksin. Efek buruk paparan pra-lahir pada hasil neurologis juga ditunjukkan dalam kelompok susu formula tetapi tidak dalam kelompok yang diberikan ASI. Meskipun terjadi paparan PCB mealui ASI, studi ini menemukan bahwa pada usia 18 bulan, 42 bulan, dan pada usia enam tahun suatu efek yang menguntungkan dari menyusui ASI terlihat pada kualitas gerakan, dalam hal kelancaran, dan dalam tes perkembangan kognitif. Data memberikan bukti bahwa paparan PCB saat pra-lahir telah memberikan efek negatif secara halus pada neurologis dan perkembangan kognitif anak sampai usia sekolah. Penelitian ini juga memberikan bukti menyusui ASI melawan perkembangan merugikan dari efek PCB dan dioksin.

Penelitian yang lain dilakukan di Belanda untuk menentukan efek paparan pra- lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB), mempelajari bayi yang disusui ASI dan bayi yang diberikan susu formula pada saat mereka berusia sembilan tahun. Dengan mengukur latency pendengaran P300 (waktu reaksi terhadap rangsangan yang masuk, yang diketahui dipengaruhi secara negatif oleh PCB) mereka menemukan bahwa mereka yang diberi susu formula atau yang disusui ASI selama kurang dari enam sampai 16 minggu, mengalami latency yag loebih besar dan mekanisme melambat di tengah sistem saraf yang mengevaluasi dan memproses rangsangan. Di sisi lain, proses menyusui mempercepat mekanisme ini.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. pengertian PASI (pengganti air susu ibu) adalah susu yang diberikan kepada anak berbentuk susu formula. 2. sejarah PASI Susu formula terbuat dari susu sapi atau susu kedelai atau protein hidrolisa, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral diperuntukkan sebagai makanan bayi. Formula ini dibuat aman dikonsumsi atau bebas dari mikroorganisme yang pathogen dan dipertahankan stabilitasnya. Zat-zat gizi yang dikandungnya disusun sedemikian rupa sehingga mendekati komposisi ASI. Teknologi pembuatannya dikembangkan terus menerus, tetapi walaupun dipergunakan teknologi yang super modern, tidak ada satupun susu formula yang menyamai ASI. Oleh karena itu, ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi. Susu formula tidak dapat dipergunakan untuk pengganti ASI, tapi dipergunakan sebagai pelengkap makanan bayi. Khusus bagi ibu-ibu yang tidak dapat menyusui anaknya karena berbagai alas an, maka susu formula dapat diberikan kepada bayi untuk memenuhi kebutuhan terhadap kesehatan dan pertumbuhannya. 3. komposisi : 4. jenis-jenis PASI 5. cara pemberian PASI 6. cara membersihkan botol susu 7. resiko pemberian PASI 3.2 Saran-saran 1. bagi para ibu yang masih mampu memberikan asi kepada anaknya, sebaiknya diberikan asi saja. Selain lebih sehat asi juga banyak memiliki keuntungan dibading pasi. 2. Asi lebih hemat dan praktis dibandingkan harga pasi yang mahal.

DAFTAR RUJUKAN Krisnatuti, Diah. 2000. Menyiapkan Makanan Pendambing ASI. Puspa Swara : Jakarta. Mahdin, Husaini. 1986. Makanan Bayi Bergizi. Gajahmada University Press : Yogyakarta. Suhardjo. 2007. Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak. Kanisius : Yogyakarta. Winarno, FG. 1987. Gizi dan Makanan. PT New Aqua Press : Jakarta.