Langit Makin Mendung Cerpen: Kipandjikusmin LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka

. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja. ―Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.” Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw.. “Daulat, ya Tuhan.” “Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!” “Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.” “Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.” “Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.” Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!” Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang. “Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.” “Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih. “Tentang apa?” “Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.” “Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula. “Bagaimana, ya Tuhan?” “Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.” “Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?” “Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.” “Dan yang mati?” “Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.” “Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut. “Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.” “Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!” “Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!” “Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!” Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan. “Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!” “Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom). “Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.” “Tidak bisa mereka disogok?” “Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!” “Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).

Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.” “Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira). Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. Di sini kita hanya kenal dua macam angka. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Mendadak. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif. Ya. Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi. “Ke tempat jasadku diistirahatkan. sekian. jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim. “Benda apa di sana?” Nabi keheranan. hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. Tapi pandai-pandai otaknya. “Akhir kata saudara-saudara.” . “Bukan. saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga. Nabi Adam as.*** Sesaat sebelum berangkat. telah ditandatangani naskahnya. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu.” Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. harus berjabat tangan. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. agar mereka scmua mau ditarik ke pihak Tuhan. kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara. “Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang. mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. satu dan tak berhingga. Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi. surga sibuk sekali.” “Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak. Dan masih banyak lainnya. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. ya Rasul. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga. Medinah. “Wahai yang terpuji. Selamat jalan Muhammad.

Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?” “Hampir sama. Muhammad dan Jibril terpental ke bawah.” Berbisik sedih. di mana mereka bersembahyang Jumat?” . Neraka bertambah tiga penghuni lagi. “Jibril. kecuali Cinanya tentu.H. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Ayo. Aku ingin lihat orangorang kapir itu dari dekat. Jakarta namanya. sayang. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri. neraka lapis ke berapa di sana gerangan?” “Paduka salah duga. paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira. Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Ada sedikit gangguan komunikasi …. (Berdoa).” “Tak pernah kudengar nama itu. 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.” terdengar siaran radio Moskow. “Sayang.“Orang-orang malang.” “Adakah umatku di Malaysia?” “Hampir semua.” “Kalau begitu. hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?” “Bukan. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka.” “90 persen. buroq!” Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu. semoga Tuhan mengampuni mereka.” wajah nabi berseri. Tapi ngakunya sudah bebas B. tanpa sisa. kapirlah bangsa di bawah ini!” “Sama sekali tidak.” “Ai. mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas. Malaysia. Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. “Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar. Mana lebih durhaka. “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. tanpa suara.

walau bumi hancur sekalipun!” Suara Nabi mengguntur dahsyat. “Ya. Dalam catatan Abubakar di surga.“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis. hanya berubah ingatan. Betapapun Islam. amien. mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!” “Aneh.” sahut Nabi dengan rendah hati. Nabi tengadah ke atas. ya Muhammad?” “Seperti telah tersurat di kitab Allah.” .” “Ayo Jibril. ia ada dan tetap ada. di puncak-puncak gunung. disambut tertawa riuh rendah.” “Apa peduliku dengan nabi palsu!” “Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!” “Nasakom. Gaungnya terdengar sampai ke surga. “Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi. “rencana risetku di Kairo. dan berpusar-pusar di laut lepas. Aku terlalu rindu pada Medinah!” “Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?” “Tidak. segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini.” “Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang seagama!” “Aneh!” “Memang aneh. Islam terancam. nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad. menggema di bumi. Gilakah mereka?” “Tidak. amien. disambut takzim ucapan serentak: “Amien. di lembah-lembah. di kebun-kebun karet. Kau bilang umatku takluk. “Sabda Allah tak akan kalah. tidak di tempat ini!” jawabnya tegas. jadi tempat inilah sumbernya.

namun tak berani bertanya. Flu tak bisa disogok. Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan.” “Jadi tidak berbahaya?” “Tidak Pak. Jenderal. Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR. Pak!” “Akh. “Zeg. iblis-iblis gemetar menutup telinga. segelap langit mendung di kiri-kanannya. tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem. Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu. Pelayan-pelayan istana geger. Wajahnya gelap. “Naiklah. Kata orang. Komunisto-phobi. sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri. *** Musim hujan belum datang-datang juga. Pak. agen-agen Naspro mati kutu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menterisampai presiden diterjang semena-mena. menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda. pusingpusing dan muntah-muntah. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan. serangannya membabi buta tidak pandang bulu.Neraka guncang. Flu ini bikin mati orang apa tidak?” “Tidak. kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa. mari kita berangkat ya Rasulullah!” Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. ya!” Namun. kamu. . Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang. Jibril menatap penuh tanda tanya. Komunis yang berbahaya.

Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.” Acara bebas dimulai. Wah. mereka kuasai seenak udelnya sendiri. saudarasaudara. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao. saudara-saudara. Menertawakan kebodohan nekolim). Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Pers nekolim gembar-gembor. Baik buat ginjalnya. “Semoga lekas sembuh. “Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya. “Saudara-saudara. Mungkin sebentar lagi mati. Dokter pribadinya berbisik. Soekarno tetap segar-bugar. Pesta diadakan. dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.” Terlampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadisgadis daerah Menteng Spesial diundang. seperti negaranya Tengku. Tanggung manjur. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat. (Hadirin tertawa. (Tidak lupa. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles. Siapa bilang Bapak dari Blitar . Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.” “Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek. Rupanya berkat khasiat obat kuat. si sakit berangsur-angsur sembuh. “Tak apa. “Baik. katanya Soekarno sedang sakit keras. Pemimpin Besar kami sakit keras. ya!” Bergaya burung unta. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim „Malaysia‟ hancur lebur jadi debu. baik. hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.” Kawan Mao di singgasananya tcrsenyum-senyum. pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit). tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). (Tepuk tangan gegup gempita.“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor. Tapi kalian mengiringi. Bahkan hampir mati katanya. Insya Allah. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama. (Tepuk tangan lagi). Kawan nan setia: tertanda Mao. Soekarno belum mau mati.

” “Mati?” “Ya. beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.” “Itu tandanya hampir mati.” “Tapi kami belum siap.” Nada-nada sumbang bau champagne. Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis. Pesta diakhiri dengan lagu langgam „Kembang Kacang‟ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun. Sebentar-sebentar kiai mengucap „alhamdulillah‟ secara otomatis. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.Bapak ini dari Prambanan Siapa bilang rakyatMalaysia yang kelaparan …! “Mari kita bergembira…. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya. Mendung makin tebal di langit. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu. sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.” “Tunggu saja tanggal mainnya!” “Nah. bintang-bintang bersinar guram satu-satu. “Gembira sekali nampaknya dia. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas. Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri. cari kamar sewa. sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing! *** .” “Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution. Kemudian tamu-tamu permisi pamit. “Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.) Mereka berpisah. mati. Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga.

Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku. bebas dan aman. di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Gerak kita cepat!” “Akh. seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.” “Buat apa?” “Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita. Mari kita keliling lagi.” Jibril sambil mengepakkan sayap.” “Aku tahu!” “Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Tuhan memberkatimu Jibril. . Meluas seketika.Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Betapapun durhaka. ya. Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung. “Tapi ajarannya tidak. nabi palsu hampir mati. busuk dan mesum.” Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil. sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet. Salah kena garuk razia gelandangan!” “Lebih baik sebagai ruh.” “Tapi tetap di luar manusia?” “Ya. kota ini mulai kucintai.” mendengus kesal. “Apa benar yang paduka risaukan?” “Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!” “Paduka harap ingat. “Allahuakbar. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng. Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.” “Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas. Kau betul.

Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan. Dengarlah penuturan hamba. Bedak-bedak penutup bopeng. Batu.Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan.” “Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!” “Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Senja terkapar menurun. “Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya. kencing dan cebok. bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Paduka lihat?” “Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak. mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggelenggelengkan kepala. Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina. “Ai.” “Di negeri dengan rakyat Islam terbesar. laangkah kotor bangsa ini. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung. Kemaluannya penuh borok. “Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi. Ketiak berkeringat amoniak. binatang hina yang melata. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada. hamba tetap sadar. Tidakkah Abu Bakar. masih main akrobat di ranjang reot. diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Di bawah-bawah gerbong. Kelak akan lahir sebuah sajak. Satu kubik 200 rupiah. lalat-lalat pesta mengisap nanah. Rasul. beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Lagipula…. mana batu!!” “Batu-batu mahal di sini. gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan. begini bunyinya : Pelacur-pelacur kota Jakarta . cuci lendir. Di kamar lain.” “Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?” “Tidak Paduka. Hansip repot-repot … “Apa yang Paduka renungi. sayang bila hanya untuk melempari pezinapezina.” kata si Nabi palsu. Sekilas bau jengkol mengambang. Mereka harus dilempari batu sampai mati.

Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas. ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. menyelak di tengah. raja copet!” “Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik. tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana. Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya. ya Rasul. “Betul. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu. Tapi itu rutin–. Tukangtukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. ada copet tertangkap basah. Di depan toko buku „Remaja‟ suasana meriak kemelut. bisa diimpor!” “Mereka perlu menghemat devisa.” “Mereka tak punya pedang.” “Lalu dengan apa bangsa ini berperang?” . Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut. “Dia jagoan Senen. Orang sini menyebutnya copet atau jambret. anak buah Syafii.” “Toh.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja. melongo. Hari naas selalu berarti tinju-tinju.” “Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu.Naikkan tarifmu dua kali dan mereka akan kelabakan mogoklah satu bulan dan mereka akan puyeng lalu mereka akan berzina dengan istri saudaranya “Penyair gila! Cabul!” “Kenyataan yang bicara. Mendadak sesosok baju hijau muncul.

dunia sudah tua!” “Padahal Kiamat masih lama. meskipun kotor. sebagian lagi dari Amerika. ya Muhammad. sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan. Mari kita ikuti dia.” . Nabi!” “Banyak waktu untuk apa?” “Untuk mengisi kesepian kita di sorga. betul.“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga. “Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.” “Hamba berperasaan sama. Begundal raja-raja angkara murka. “Siapa dia? Mengapa begitu gembira?” “Jenderal-jenderal menamakannya Durno.” Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger.” “Betul. Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.” “Sama jahat keduanya pasti!” “Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.” “Negara kapir itu?” “Ya.” “Sebetulnya siapa menurut kamu?” “Dia hanya Togog.” “Masih banyak waktu ya.” “Ssst! Surat apa di tangannya itu?” “Dokumen.” Kedua elang terbang di gelap malam. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.” “Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh. Negara penyembah harta dan dolar. “Ya.

Pak.” . Lebih-lebih intel AD. Angannya mengawang.” Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. “Nah. tiba-tiba senyum sendiri. Sekali ini betul-betul makan tangan.” “Ooh.” “Jadi kapan selesai?” “Seminggu lagi. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.” Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan. baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan. calon baginda kita!” Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. top secret. Yang Mulia. begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya. mereka orang-orang Inggris dan Amerika. Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi.” “Tapi ini otentik apa tidak. Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?” “Baik. pasti beres. nemu jimat gratis. eh. kan begitu. Itu kode! “Apa kabar Yang Mulia Togog?” “Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas. Baginda Tua hampir mati. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia.” “Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!” “Bukan. Semua demi revolusi yang belum selesai!” “Betul. “Hidup Togog.“Dokumen?” “Dokumen Gilchrist. hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer. raja muda togog segera naik takhta. putra mahkota! Hidup Togog. “Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satriasatria pengaman Baginda Raja.

Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya. Tanda kematian tak kunjung tampak. saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. hai Togog. makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya. melahap tanpa mengunyah lagi. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato.” “Siapa mereka?” “Siapa lagi? Natuurlijk de— ‗our local army friends‘. pincang sedikit cuma. ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. jenderal kapir mau coup. Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Kata orang dia banyak injeksi H-3. Jelas toh?” Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. asal uang lembur….” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jarijarinya. Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Gimana?” “Besok juga bisa. tak mungkin Pak. “Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan. Soekarno tidak jadi lumpuh. obat pemulih tenaga kuda. “Soekarno hampir mati lumpuh. “Jangan-jangan dokumen itu palsu. bukti-bukti lengkap di tangan partai!” *** Sayang. sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.” “Bagus. “Akh.” PBR marah-marah. Soalnya begini.“Kenapa begitu lama?” “Demi security. kau rajin meng-up-grade otak. Kata pembantu saya. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.” . jimat tulen. Togog meluruskan seragam-dewannya. makin gemar menyanyi. Pak.

“ Soekarno tunduk. Sekarang!” “Persetan dengan tengah malam. altjid…!” “Akh. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. kenapa CIA dicampuradukkan!” “Begini. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. Tiba-tiba PBR naik pitam. jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!” “Apa katanya?” “Biasa. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika. lagi-lagi dia. Pembantu-pembantu saya bilang.” . de bekendste op vrije voeten gesteld. Mereka telah berkomplot. Hanoi bisa bernapas sekarang. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!” “Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas. “Ya.” “Gilchrist toh orang Inggris. tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‗our local army friends‘. “Kita.” “Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?” “Lebih dari itu. panggil Duta Cina kemari. siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan. Dia tidak berbahaya lagi.” “Dunia tahu. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. “Togog. Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –.“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?” “Sudah pak. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barangbarang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.” “Kenapa begitu?” “Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Pak.

Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!” “Kami tidak memaksa. Bung! Kalau mau stop konfrontasi. Mereka berangkul-rangkulan. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. “Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” “Tidak mungkin!” PBR meradang.” PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso.” “Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Dia cuma pakai piyama. “tentaramu belum bisa merawatnya. silakan. betul or tidak. Ngerti. sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking. tidak?” (Cina itu mengangguk). Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu. pak! Konfrontasi mesti jalan terus. jangan begitu kawan Haji Togog. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. “Ah. mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi. “Betul. kawan. baik. “Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia.” “Baik. . Dan PBR senang pada kepintarannya.” Togog mendongkol. “Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.” Menggertak. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. sahabat Ketua Mao. lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Malam ini saya berangkat. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Anda kan orang beragama!” “Masa bodoh. Akh.” “Gimana ini. “Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak. Gog?” “Akur. Ngerti tuh?” “Buat apa bom atom. Togog?” “Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini.

Benderabendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. kata Bapak kemarin.” “Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?” “Maaf PYM hal ini kurang jelas.” Rakyat bersorak kegirangan. diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa. Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus. penjual obat pinggir jalan. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. Waspadalah saudara-saudara. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!” Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.” “Lalu CIA dengan ‗our local army friends‘ nya mau apa?” “Konfrontasi harus mereka hentikan. . Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar. “Tapi jangan gentar. Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. ia berpidato. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara. Saya rela berkorban jiwa raga.” “Yani ragu-ragu?” “Begitulah. Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.” “Bagaimana itu?” “Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan.“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC. “Saudara-saudara. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.” “Tapi Yani jenderal terbaik. Sekali lagi tetaplah waspada. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.

mana yang benar?” “Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?” “Pak Yani. di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. “Padahal saudara-saudara.” “Jadi Yani akan bunuh Yani. jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong. Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. bergaya tukang copet. Tanya saja Jenderal Saboer!” . bekicot. tentu. bicara politik. singkong. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari.” Suara sember. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Yang datang membanjir hanya tekstil. sandal. Kamu tahu apa. “Katanya Dewan Jenderal mau coup. Tentara kami sudah mogok berperang. Gimana.Setelah bosan mereka bubar satu-satu. pepsodent. Yang lain-lain tidak heran atau marah. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. nih?” “Aaah! Sudahlah. jagung. jangan ditunda-tunda.” “Dia nggak takut mati?” “Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. tikus. “Kawan-kawan seporos. korek api. dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. “Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk. Ubi. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras. harap bom atom segera dipaketkan. Rencana nekolim bisa dibocorin. Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan. Sekarang Yani mau dibunuh. tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina. senter. *** Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.

MELIBAS: Jakarta). 2004. Namun rakyat tidak heran atau marah. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang. sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. . Lengkap dengan sekalian potretnya. dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. rakyat sudah tidak percaya lagi. Hati mereka bagai mencari. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak). Sayang. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi. betapa pun langit makin mendung. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Guna mencegah darah tingginya kumat. Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. dia memang tak makan daging. tapi roti panggang bikinan Perancis di HI.“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering).” Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. *** (Dikutip dari: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin: 1741. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.

B.wordpress. LMM dan Kipandjikusmin tetap saja menjadi sebuah fenomena dalam dinamika sejarah sastra Indonesia. bahkan divonis satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun karena dianggap melakukan penodaan agama (pasal 156a KUHP). H.http://sawali. bermaksud mengungkit-ungkit “luka lama” tentang polemik antara kubu yang pro dan kontra terhadap keberadaan LMM. Kantor majalah Sastra diberangus dan dicoreti dindingnya dengan berbagai hujatan dan hinaan. Ratusan eksemplar majalah Sastra di berbagai toko. Saya juga tak bermaksud mengaitkannya dengan “heboh nabi baru” dalam isu mutakhir Indonesia saat ini yang juga disinggung-singgung dalam LMM. Tulisan ini saya angkat sebagai topik tanpa memiliki tendensi apa-apa.com/2007/11/16/langit-makin-mendung-cerpen-multiwajah-yangkontroversial/ Pernah membaca cerpen “Langit Makin Mendung” (LMM) karya Kipandjikusmin? Bagaimana kesan Sampeyan? Benci. agen dan pengecer di kota Medan disita oleh Pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Cerpen yang pernah dimuat di majalah Sastra No. 8 (edisi Agustus) tahun 1968 itu telah mengundang reaksi umat Islam. Jassin harus berurusan dengan pihak yang berwajib. 39 tahun sudah “heboh sastra” itu berlangsung. atau justru diam-diam mengaguminya? Ya. Redaktur majalah Sastra. Apalagi. Namun. Anggap saja tulisan ini sebagai nostalgia “tragik” yang menimpa seorang penulis berbakat –Kipandjikusmin– yang akhirnya harus terdepak dari “singgasana” sastra Indonesia akibat “menghamba” pada liarnya imajinasi dan ke-”kenes”-annya dalam mengangkat persoalan-persoalan religi yang peka dan rentan konflik. geram. Toh sejarah sastra Indonesia juga telah mencatatnya dalam “dokumen hitam” sebagai wujud “konflik” yang (nyaris) tak pernah berujung antara kebenaran “imajinasi” dalam teks sastra dan kebenaran objektif dalam realitas kehidupan. . cerpen itulah yang pernah membikin “heboh” jagad sastra Indonesia karena dinilai telah melanggar batas kepantasan sebagai sebuah teks cerpen yang ingin mengungkap persoalan-persoalan religi.

Tak disangka. Cerpen diakhiri dengan sebuah sindiran halus tapi pedas. tetapi justru segala macam perilaku lacur. dugaan itu keliru setelah majalah Ekpress pimpinan Goenawan Mohammad (1970) berhasil mewawancarainya. Ada banyak dimensi yang ingin dihadirkan di sana. Hati mereka bagai mentari. Politik. Jassin dalam membela LMM dan Kipandjikusmin di pengadilan– Kipandjikusmin adalah pseudonim H. Selama 6 tahun menjalani wajib dinas di Jakarta. Soekarno disebutnya sebagai “nabi palsu yang hampir mati”. membangun sebuah desain cerpen yang liar. Jassin sendiri. budaya. sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. LMM mampu membombardir imajinasi pembaca dan hanyut dalam emosi purba. dan kejahatan tumbuh subur. dll. Sputnik hancur lebur tak keruan. Kipandjikusmin juga pernah menyatakan bahwa dia tidak bermaksud menghina agama Islam. agama. Kepada Usamah – redaktur pelaksana Ekspress– penulis misterius itu mengaku bahwa nama aslinya adalah Soedihartono yang menempuh pendidikan di Akademi Pelayaran Nasional. Muhammad diizinkan turun oleh Tuhan setelah memberi argumen bahwa hal itu merupakan keperluan mendesak untuk mencari sebab kenapa akhir-akhir ini umatnya lebih banyak yang dijebloskan ke neraka. Lewat gaya bertuturnya yang kenes. selain menertawakan kebodohan di masa rezim Soekarno. LMM bisa dibilang sebagai sebuah cerpen multiwajah. Di angkasa biru.W. Lewat dialog antara Muhammad dan Jibril maupun lewat fragmen-fragmen yang berdiri sendiri. melalui harian Kami (22 Oktober 1968).B. Lewat cerpen ini. Dua tahun sebelumnya. sosial. bahkan mungkin juga geram. Dalam penyamaran itulah. “gemas”. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan lapang dada. nista. Upacara pelepasan pun diadakan di sebuah lapangan terbang. Tujuan sebenarnya adalah semata-mata hasrat pribadinya untuk mengadakan komunikasi langsung dengan Tuhan. bahkan juga militer. Soebandrio yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri disindirnya sebagai “Durno” sekaligus “Togog”. sorga. maksiat. awan empuk itu berada di langit-langit.B. satire. Muhammad dan Jibril terpelanting ke segumpal awan yang empuk. Nabi Muhammad S. Kipandjikusmin menyindir elite politik dengan cara culas. Dengan menunggangi buroq dan didampingi Jibril. Hanya itu. ekonomi. menegangkan. Muhammad dan Jibril menyamar sebagai elang. sekaligus menghanyutkan. tampak benar bagaikan mozaik yang saling bertempelan. Nabi Adam yang dianggap sebagai pinisepuh swargaloka didapuk memberi pidato pelepasan. bukan? Dalam penafsiran awam saya. dan sarat kritik. Begini bunyinya: “Rakyat rata-rata memang pemaaf serta baik hati. Ada yang menduga –melihat kegigihan H. . sebuah sindiran yang persis menancap di ulu hati kepribadian manusia negeri ini. betapapun langit makin mendung. meluncurlah Muhammad. LMM bertutur tentang Nabi Muhammad yang turun kembali ke bumi.Tak banyak yang tahu siapa sesungguhnya Kipandjikusmin itu. Muhammad berkeliling dan mengawasi tingkah polah manusia dengan bertengger di puncak Monas (yang dalam cerpen itu disebut “puncak menara emas bikinan pabrik Jepang”) dan juga di atas lokalisasi pelacuran di daerah Senen. mereka berpapasan dengan pesawat sputnik Rusia yang sedang berpatroli. Namun.” Sebuah cerpen yang sungguh-sungguh “liar” imajinasi. Tabrakan pun tak terhindar. Kipandjikusmin memotret wajah bopeng tanah air masa itu: negeri yang meski 90 persen Muslim. Untuk menghindari kemungkinan tak terduga.A. Sedangkan.

masih main akrobat di ranjang reot. yang konon makin ramai saja. Petisi dibikin. Tapi itu rutin–. ―Refreshing sangat perlu. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas. beratus tahun tanpa henti. Tukangtukang becak memimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai.‖ Membaca petisi para nabi. Simak saja beberapa penuturannya berikut ini! LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Di depan toko buku ‗Remaja‘ suasana meriak kemelut. cuci lendir. tak peduli terhadap nasib rakyat yang dijerat kemiskinan dan kelaparan). Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadisgadis daerah Menteng Spesial diundang. tanpa memikirkan risiko penyakit kelamin). ada copet tertangkap basah. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaranMu. . Kami bukan malaikat atau burung perkutut. ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Si copet diseret keluar dibawa entah ke mana. Ketiak berkeringat amoniak. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Sekilas bau jengkol mengambang. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung. Kemaluannya penuh borok. Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. kencing dan cebok. Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala. tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Mendadak sesosok baju hijau muncul. menyelak di tengah. mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi. Di bawah-bawah gerbong. (Kritik terhadap rezim Orde Lama yang suka bernafsi-nafsi dan memanjakan nafsu hedonis. Senja terkapar menurun. (Satire bagi kalangan wong cilik yang suka mengumbar nafsu birahi. diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah. Hari naas selalu berarti tinju-tinju. beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. lalat-lalat pesta mengisap nanah.Paragraf pembukanya saja sudah cukup mampu membangkitkan “aura fanatisme” keagamaan bagi pembaca yang terbiasa membaca teks-teks sastra konvensional. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw… (Tuhan dipersonifikasikan dengan gaya bertuturnya yang kenes: “menggeleng-gelengkan kepala …”) Acara bebas dimulai. Arabia. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia….

Penuturan-penuturannya lugas dan tidak terjebak pada narasi yang melingkar-lingkar.(Suasana main hakim sendiri sebagai potret ketidakpercayaan rakyat terhadap supremasi hukum). bagaimana? *** . Sayang. Sesuatu yang abstrak bisa dikonkretkan lewat diksi yang bernas dan jernih. LMM secara literer bisa dibilang sebagai teks sastra yang kaya ide. bisa jadi akan mampu menahbiskan Kipandjikusmin sebagai sastrawan “papan atas” seandainya tidak sembrono dan gegabah dalam mempersonifikasikan Tuhan. Perilaku para elite penguasa yang dinilai korup dan culas tak luput dari bidikan Kipandjikusmin lewat gaya ucapnya yang khas. Muhammad. atau Jibril. tetapi juga subtil. Kekayaan ide. Terlepas dari kontroversi yang telah memancing emosi “fanatisme” umat Islam. Masih banyak ungkapan dan idiom menarik dalam LMM yang terkesan vulgar. mampu membawa imajinasi pembaca pada suasana “tragis” yang berlangsung ketika negeri ini dipimpin oleh Panglima Besar Revolusi (PBR) Soekarno. lugas dan apa adanya. imajinasinya yang liar dan mencengangkan. Nah. “talenta” Kipandjikusmin telah terbunuh sebelum benar-benar mampu bertahta dalam singgasana sastra Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful