Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia, karena termasuk rangking 10 penyakit terbanyak, yaitu tetap berkisar antara peringkat 2-3. Dari 5 jenis penyakit gigi dan mulut yang terdapat pada masyarakat penyakit karies gigi menduduki peringkat teratas (16,38%), disusul kelainan pulpa (29,30%), kelainan gusi dan periodontal (31,66%), kelainan dentofasial dan maloklusi (11,51%), serta monilis dan stomatis (11,15%). Kunjungan penderita ke puskesmas rata-rata sudah dalam keadaan lanjut untuk berobat, sehingga dapat diartikan tingkat kesadaran pada umumnya untuk berobat sedini mungkin masih belum dapat dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari rasio tambal cabut ratarata masih cukup tinggi (Suwelo, 1992 cyt cahyati, 2008). Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme dalam rongga mulut yang mengubah karbohidrat menjadi asam. Proses karies ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menimbulkan rasa nyeri. Banyak faktor yang berhubungan dengan karies gigi, baik faktor langsung yang ada dalam mulut, maupun faktor tidak langsung yang merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat terjadinya karies. Faktor luar ini antara lain adalah usia, jenis kelamin, keadaan penduduk dan lingkungan, kesadaran dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan gigi. Sampai sekarang, karies masih merupakan masalah kesehatan baik di negara maju maupun di negara-negara bekembang. Data dari Bank WHO (2000) yang diperoleh dari enam wilayah WHO (AFRO, AMRO, EMRO, EURO, SEARO, WPRO) menunjukkan bahwa rerata pengalaman karies (DMFT) pada anak usia 12 tahun berkisar 2,4. Indeks karies di Indonesia sebagai salah satu negara SEARO (South East Asia Regional Offices) saat ini berkisar 2.2, untuk kelompok usia yang sama. Kelompok 12 tahun ini merupakan indikator kritis, karena sekitar 76.97% karies menyerang pada usia tersebut. Di negara

berkembang lainnya indeks karies 1,2 sedangkan indeks target WHO untuk tahun 2010 adalah 1,0. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 2004), prevelansi karies di Indonesia mencapai 90,05% dan ini tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Karies menjadi salah satu bukti tidak terawatnya kondisi gigi dan mulut masyarakat Indonesia. Untuk mendapatkan data tentang status karies seseorang digunakan indeks karies agar penilaian yang diberikan pemeriksa sama atau seragam. Ada beberapa indeks karies yang biasa digunakan salah satunya adalah Indeks DMF. Indeks ini diperkenalkan oleh Klein H, Palmer CE, Knutson JW pada tahun 1938 untuk mengukur pengalaman seseorang terhadap karies gigi. Pemeriksaannya meliputi pemeriksaan pada gigi (DMFT). Semua gigi diperiksa kecuali gigi molar tiga karena gigi molar tiga biasanya tidak tumbuh, sudah dicabut atau tidak berfungsi. Indeks ini tidak menggunakan skor; pada kolom yang tersedia langsung diisi kode D (gigi yang karies), M (gigi yang hilang) dan F (gigi yang ditumpat) dan kemudian dijumlahkan sesuai kode. 1.2. Tujuan 1. mempelajari cara pengukuran perhitungan tingkat karies gigi dengan menggunakan indeks DMFT 2. menghitung indeks karies gigi pada mahasiswa fkg unair angkatan 2009 1.3. Manfaat 1. mengetahui cara pengukuran dan perhitungan tingkat karies gigi dengan menggunakan indeks DMFT 2. mengetahui tingkat keparahan karies gigi pada mahasiswa fkg unair angkatan 2009 melalui hasil perhitungan indeks DMFT

Dapus Cahyati WR, 2008. Karies gigi pada anak TK (Study kasus di kecamatan tembalang kota semarang). KEMAS, 4(1); 14-15.