Ukuran dan Warna seperti contoh

jurnal
Ukuran dan Warna seperti contoh

ISSN 1410-6515
Ukuran dan Warna seperti contoh Ukuran dan Warna seperti contoh

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 09/Nomor 03/September/2006
EDITORIAL
Percepatan Pendidikan Dokter Spesialis: Salah Satu Cara Penting untuk Mengatasi Masalah Pemerataan Pelayanan Kesehatan

Vol 09. No. 03 h.107-165 9 3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2006

MAKALAH KEBIJAKAN
Contracting Out Pelayanan Kesehatan: Sebuah Alternatif Solusi Keterbatasan Kapasitas Sektor Publik

ARTIKEL PENELITIAN
Decision Space dalam Program Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2006 Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000: Studi Kasus di Dua RSUD Provinsi Jawa Timur Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Regulasi Perizinan Rumah Sakit Umum Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2006 Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Indonesia dan Negeri Pulau Pinang Malaysia

Ukuran dan Warna seperti contoh

RESENSI
Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation

KORESPONDENSI
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas
JMPK Tahun 09 Nomor 03 Hlm. Yogyakarta 107-165 September 2006 ISSN 1410-6515 Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Ukuran dan Warna seperti contoh

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management

Diterbitkan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 4 kali setahun (triwulan). Misi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan adalah menyebarluaskan dan mendiskusikan berbagai tulisan ilmiah mengenai manajemen dan kebijakan dalam lingkup pelayanan kesehatan. Dengan demikian jurnal ini ditujukan sebagai media komunikasi bagi kalangan yang mempunyai perhatian terhadap ilmu manajemen dan kebijakan pelayanan kesehatan antara lain para manajer dan pengambil kebijakan di organisasi-organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit pemerintah dan swasta, dinas kesehatan, Departemen Kesehatan, pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat, BKKBN, pengelola industri obat, dan asuransi kesehatan, serta para peneliti, pengajar, dan ilmuwan yang tertarik dengan aplikasi ilmu manajemen dan kebijakan dalam sektor kesehatan. Isi jurnal berupa artikel kebijakan atau hasil penelitian yang berkaitan dengan manajemen rumah sakit, manajemen pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan, dan masalah-masalah yang relevan dengan manajemen dan kebijakan kesehatan.

Pemimpin Redaksi Laksono Trisnantoro

Editor Abdul Razak Thaha Bhisma Murti Johana E. Prawitasari I. Riwanto Tjahjono Kuntjoro Sri Werdati Yulita Hendrartini Yodi Mahendradhata

Mitra Bestari (Peer Reviewer) A.A.Gde Muninjaya M. Ahmad Djojosugito Ali Ghufron Mukti Bambang Purwanto Hari Kusnanto Josef Mubasysyir Hasanbasri Sri Suryawati Triono Soendoro

Sekretaris Redaksi Hilaria Lestari Budiningsih

Penerbit Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, FK UGM, Yogyakarta STT: 2398/SK/DITJEN PPG/STT/1998 Harga langganan untuk satu tahun (4 kali terbit/triwulan) Pulau Jawa Rp100.000,00 Luar Pulau Jawa Rp125.000,00 (Sudah termasuk ongkos kirim) Bank BNI 46 Cabang UGM Yogyakarta No Rek.: 0038603369 a.n Laksono Trisnantoro/Seminar Bukti Transfer mohon di fax sebagai bukti berlangganan Alamat surat-menyurat menyangkut naskah, langganan keagenan dan pemasangan iklan: Sekretariat Redaksi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan d/a Gedung KPTU Lantai 3, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281 Telp/Fax: 0274-547490, 549425 Email: hiillary@yahoo.com Web-site: www.jmpk-online.net

ii

The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 09/Nomor 03/September/2006

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Daftar Isi
Editorial
Percepatan Pendidikan Dokter Spesialis: Salah Satu Cara Penting untuk Mengatasi Masalah Pemerataan Pelayanan Kesehatan 107

Makalah Kebijakan
Contracting Out Pelayanan Kesehatan: Sebuah Alternatif Solusi Keterbatasan Kapasitas Sektor Publik Bhisma Murti
109

Artikel Penelitian
Decision Space dalam Program Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati
Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000: Studi Kasus di Dua RSUD Provinsi Jawa Timur Hanevi Djasri Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Regulasi Perizinan Rumah Sakit Umum Inni Hikmatin, Hanevi Djasri, Adi Utarini Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2006 Tisa Harmana, Wiku B. Adisasmito Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Yaslis Ilyas Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Indonesia dan Negeri Pulau Pinang Malaysia Zulfendri Resensi Buku Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation Korespondensi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas 118

121

129

134

146

156

163

164

i

A per 100.32 Sp. serta berbagai macam sistem pelayanan kesehatan pada tiap negara. Vol. namun dasar Ilmu Kedokteran dan evidence based medicine dalam praktik klinisnya harus tetap mengacu pada pedoman universal. dihubungkan dengan persentase penduduk miskin justru didapatkan hasil hubungan yang negatif. Hal ini akan memperbesar kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa.A) di DKI Jakarta adalah 443 (5. namun sekaligus dipengaruhi oleh hukum pasar. penyesuaian standar global dengan local wisdom sangat bervariasi. data IDAI (2005) menunjukkan bahwa jumlah dokter spesialis anak (Sp. kondisi sosial ekonomi. Dikhawatirkan dana pelayanan rumah sakit bagi masyarakat miskin akan terserap di daerah yang ada spesialis dan peralatan mediknya. Cara ini dianggap penting karena pendidikan spesialis saat ini dirasakan lambat dan lulusannya banyak yang tidak cocok untuk bekerja di daerah-daerah yang kekurangan spesialis. Dalam standar global WFME rasio antara kurikulum inti dengan kurikulum pilihan dapat berkisar antara 60% – 80% dengan 20% – 40%2. maka semakin banyak tersedia dokter spesialis.29 Sp. Derajad asosiasi sekitar 0. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 107 . Dalam konteks pendidikan spesialis untuk daerah-daerah tertentu ada beberapa pertanyaan penting: (1) Apa yang disebut sebagai kompetensi spesialis dalam suasana global yang mempunyai teknologi tinggi dengan kekurangan dokter spesialis yang terutama di daerah terpencil atau yang ekonominya kurang. Sementara itu. Paradoks penyebaran dokter spesialis ini merupakan hal serius karena membahayakan pemerataan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin yang saat ini didanai pemerintah pusat melalui program Askeskin. maka semakin sedikit jumlah spesialis.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. 3 September 2006 l 107 . Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) menganjurkan setiap program pendidikan dokter spesialis mengacu pada Global Standards in Postgraduate Medical Education yang dikeluarkan oleh World Federation for Medical Education (WFME. Dalam praktiknya.9. (3) Apakah ada kompetensi perilaku dan budaya yang perlu dibahas dalam pendidikan?. budaya. Modifikasi boleh dilakukan dengan catatan setiap negara bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Postgraduate Medical Training Program (PMPT) ini mendukung tujuan nasional pelayanan kesehatan. Walaupun ada perbedaan dalam tradisi mengajar.000 penduduk) sementara di Provinsi Papua hanya 7 (0. dan (4) Bagaimanakah metode pendidikan untuk percepatan penambahan jumlah spesialis. sistem pelayanan kesehatan diharapkan sebagai sektor sosial yang penuh nilai kemanusiaan. 2003). Dalam konteks paradoks. Sebagai gambaran paradoks ada kenyataan bahwa semakin besar kekuatan ekonomi di suatu wilayah. (2) Apakah ada suatu kompetensi medik yang minimal mengingat kebutuhan yang berbeda di berbagai daerah?. Dengan mengingat pedoman gobal ini maka ada dua standar yang perlu dipertimbangkan yaitu: basic standard yang harus dipenuhi dan terlihat pada proses evaluasi. Standar internasional dapat dimodifikasi berdasarkan kebutuhan dengan prioritas regional. spektrum kesehatan dan penyakit.000 penduduk). nasional dan institusional. Sebagai gambaran timpangnya penyebaran. Keduanya dapat bertentangan. Dalam konteks ini maka terbuka peluang untuk pengembangan kurikulum yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dan mutu pelayanan di berbagai daerah. Diharapkan ada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Harapan menyatakan bahwa dokter seharusnya seperti Ibu Teresa yang dekat dengan masyarakat miskin. Salah satu hal penting adalah kebijakan pemerintah daerah dan pusat dalam hal rekrutmen calon spesialis dan kerja sama dengan perguruan tinggi dan rumah sakit pendidikan. Diharapkan akan ada percepatan pendidikan residensi dengan mengacu pada kebutuhan lokal namun tidak mengabaikan kompetensi dasar klinik sesuai dengan standar internasional.108 Editorial PERCEPATAN PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS: SALAH SATU CARA PENTING UNTUK MENGATASI MASALAH PEMERATAAN PELAYANAN KESEHATAN Saat ini di Indonesia terdapat kekurangan akut dalam hal jumlah spesialis yang merupakan paradoks dalam sistem pelayanan kesehatan. 09. No. Secara kompetensi medik. Bagaimana cara mengatasi paradoks penyebaran spesialis ini? Salah satu cara adalah percepatan pendidikan dokter spesialis. Kenyataan menyatakan sebaliknya seperti yang diteliti oleh Ilyas1.A per 100. Semakin banyak masyarakat miskin. dan standard for quality development.

2. Yogyakarta 2006. Vol. Dengan kecocokan ini diharapkan seumur hidup dokter spesialis akan berkarier di tempatnya tanpa harus pindah ke daerah lain. 09. 3 September 2006 . Fakultas Kedokteran UGM. 2005. trisnantoro@yahoo. Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatn. Y. Mimeo. Emilia. 09(03)/ September: 145-54.. Ilyas Y. Sunarto.Andreasta Meliala: Peranan Pemerintah Daerah Dalam Mengatasi Maldistribusi Tenaga Dokter kebijakan yang merekrut spesialis berdasarkan kecocokan profil individu dokter dengan keadaan ekonomi dan budaya rumah sakit yang akan ditempatinya.. Kerja sama antara pemerintah daerah/pusat dengan fakultas kedokteran diharapkan mampu untuk melakukan inovasi-inovasi yang baik agar hasil pendidikan dokter spesialis tersebut dapat cocok bekerja di tempatnya. O. 108 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. termasuk kompeten dalam berinteraksi dengan sistem sosial dan budaya setempat.com) KEPUSTAKAAN 1. (Laksono Trisnantoro. No. Tantangan Pendidikan Spesialis Anak.

Contracting memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar atau pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. contracting merangsang kompetisi di antara penyedia pelayanan dalam pasar terkelola.2. considered insensitive of the cost implications of allocative decisions. contracting stimulates competition among providers in managed markets. induces cost awareness among providers and purchasers. 3 September 2006 l 109 . Surakarta. Jawa Tengah ABSTRACT Contracting out is the practice of public sector or private firms of employing and financing an outside agent to perform some specific task rather than managing it themselves. Vol. dan bahwa penyedia swasta (atau mandiri) lebih efisien daripada penyedia publik.1. Sebagaimana model penyediaan pelayanan kesehatan apapun. and tightly links payment to performance of the provider. dan motivasi yang buruk di kalangan pegawai negeri. All these factors contribute to efficiency. Universitas Sebelas Maret. 09. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 109 . But in light of the limited absorptive capacity of the public sector. Selain itu. Monitoring and evaluation is an indispensible instrument for contracting out to exhibit its relative advantages. public. In addition. Menurut teori ekonomi klasik. a shift that would translate in efficiency gains in contrast to the old highly-centralized. pelayanan kesehatan. private. serta menyesuaikan harga-harga untuk memenuhi permintaan dan PENGANTAR Sejak dekade 1980-an terdapat dorongan kebijakan internasional yang kuat untuk memperkenalkan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang dan mengurangi peran negara. Contracting out clearly separates the roles of purchaser and provider. mendorong kesadaran biaya di antara penyedia maupun pembeli pelayanan. According to classical economic theory. contracting meningkatkan tanggung jawab manajerial desentralisasi. struktur tipikal di sektor pemerintah atau publik di negaranegara berkembang tidak selalu kondusif untuk memperluas akses.5 Di sisi lain. managed competition Keywords: contracting. dan memperbaiki transparansi dalam negosiasi. bureaucratic structure. Kata kunci: contracting. Fakultas Kedokteran. No. Providers are forced to minimize production cost and adjust the prices to meet the demand and requirements of purchasers. and enhances transparency in negotiations. keperluan pembeli pelayanan. suatu pergeseran yang akan menghasilkan efisiensi dibandingkan dengan struktur birokratik lama yang sangat sentralistis. Alasan mengontrakkan adalah bahwa penyedia pelayanan publik kurang memiliki motivasi untuk menggunakan sumber daya dengan efisien. campur tangan politik. it is an alternative strategy worth considering for increasing the coverage and the quality of services in developing countries such as Indonesia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. contracting out approach is not a panacea to all health problems. Selain itu. As is the case with any model. Monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk menunjukkan keunggulan relatif contracting out. swasta. AN ALTERNATIVE SOLUTION TO THE CAPACITY CONSTRAINT OF PUBLIC SECTOR Bhisma Murti Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. managed market ABSTRAK Contracting out merupakan praktik yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk menyediakan pelayanan tertentu daripada mengelolanya sendiri. pemerintah.4 Sebagai contoh. sebagian besar fasilitas kesehatan di Kamboja menunjukkan kinerja yang buruk karena kekurangan dana. sumber daya yang tidak memadai. penggunaan sumber daya tidak efisien. yang tidak peka terhadap implikasi biaya dari setiap keputusan alokasi. meningkatkan kualitas pelayanan. kekakuan pemanfaatan tenaga kerja.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No.3. The rationale for contracting is that public providers lack the incentive to use resources efficiently. manajemen tidak adekuat. contracting out merupakan sebuah alternatif strategi yang pantas dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. and that private (or autonomous) providers are more efficient than public providers. health services.117 Makalah Kebijakan CONTRACTING OUT PELAYANAN KESEHATAN: SEBUAH ALTERNATIF SOLUSI KETERBATASAN KAPASITAS SEKTOR PUBLIK CONTRACTING OUT FOR HEALTH SERVICE. Alasan yang melatari dorongan itu adalah tidak memadainya sumbersumber daya pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan universal.1 Upaya untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik umumnya gagal karena terbentur oleh keterbatasan kapasitas pemerintah. contracting would promote decentralization managerial responsibility. Semua ini memberikan sumbangan ke arah efisiensi. Tetapi sehubungan dengan keterbatasan kapasitas absorbsi di sektor pemerintah. Penyedia pelayanan dipaksa untuk meminimalkan biaya produksi. maupun memastikan efisiensi penggunaan dana. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. pendekatan kontrak bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk semua masalah kesehatan.

sektor swasta berkembang dengan pesat dalam penyediaan pelayanan kesehatan. 6 Tetapi menurut Palmer sebagaimana dikutip Waters. contracting dapat dibedakan menjadi (Rosen seperti dikutip Waters et al. Secara teoretis contracting out memberikan sejumlah keuntungan. No. (2) pelayanan penunjang (ancillary services). quality. of a defined quantity. untuk kondisi permasalahan dan jenis pelayanan bagaimana contracting out tepat untuk diterapkan? Makalah ini menyajikan definisi contracting.3 Dengan konteks keterbatasan kapasitas pemerintah di satu pihak dalam memperluas akses pelayanan kesehatan dan pesatnya perkembangan sektor swasta di lain pihak..Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . mengupas alasan rasional melakukan contracting. dan (3) manajemen. menguraikan sejumlah kasus pengalaman implementasi contracting di negaranegara lain. disertai aturan pembayaran. contracting adalah suatu mekanisme pembelian yang digunakan untuk mendapatkan pelayanan tertentu. Pertanyaannya. dan periode waktu pemberian pelayanan oleh sebuah penyedia pelayanan swasta atas nama pemerintah. Dengan contracting out. Depkes Kontrak Pembayaran M&E Mengelola & membayar NGO M Pelayanan Penerima pelayanan (Beneficiary) Mengelola & membayar Gambar 1. dalam format yang mengikat secara hukum. et al. from a specific provider. Mills2 membagi dua jenis pelayanan yang dikontrakkan: (1) pelayanan klinis. kuantitas. menyajikan jenis pelayanan. et al. (3) franchising. salah satu isu kebijakan reformasi kesehatan yang hangat dibicarakan akhirakhir ini adalah model penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang disebut contracting out. Berdasarkan desain perjanjian kontrak itu sendiri. Kontrak formal (formal contracting) menyebutkan dengan eksplisit jenis.6: (1) pelayanan kesehatan. pihak pemerintah tidak menyediakan sendiri pelayanan kesehatan. biasanya berdasarkan kepercayaan (trust) dan hubungan jangka panjang. contracting out adalah praktik yang dilakukan oleh sektor pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk melakukan sejumlah tugas-tugas tertentu daripada mengelolanya sendiri. DEFINISI Harding dan Preker8 mendefinisikan contracting “a purchasing mechanism used to acquire a specified service. dengan kuantitas dan kualitas tertentu. Artinya. 3 September 2006 . 110 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pavignani dan Colombo10 memberikan batasan contracting out “the practice of public sector or private firms of employing and financing an outside agent to perform some specific task rather than managing it themselves”..7 Mengontrakkan pelayanan sektor publik merupakan praktik lumrah di negara-negara maju.3 mendefinisikan contracting out “the implementation of an agreement between the government (purchaser) and providers in which providers are paid for the provision of defined services to specified target populations for defined results”.menerus selama suatu periode. contracting dibedakan menjadi1. melainkan melakukan kontrak dengan agen luar yang disebut kontraktor untuk menyediakan barang atau pelayanan kesehatan kepada penerima pelayanan (beneficiary). dengan cara mengaitkan pembiayaan pemerintah dan kinerja penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan.6 ada juga kontrak “informal” (informal contracting) yang berisikan perjanjian implisit antara pemerintah dan agen sektor swasta. (2) pelayanan nonklinis. at an agreedon price. Contracting Pelayanan Berdasarkan jenis pelayanan kesehatan yang dikontrakkan. Liu. Global Fund. didukung dengan kesepakatan kontrak. (2) contracting in. Gambar 1 menyajikan pola umum contracting pelayanan. Vol. pemerintah dapat memobilisasi sumber daya sektor swasta untuk kepentingan tercapainya tujuan-tujuan kesehatan nasional. Artinya. dari suatu penyedia pelayanan tertentu. for a specified period”.6 Dengan contracting out. MDGs). Berbeda dengan transaksi sesaat antara pembeli dan penjual. dan mengulas sejumlah isu berkaitan dengan contracting pelayanan kesehatan. Timbul minat untuk memobilisasi sumber-sumber daya sektor swasta dalam rangka memperluas dan meningkatkan skala pelayanan kesehatan (misalnya. PEPFAR. dapatkah model contracting out diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan? Jika ya jawabannya.9: (1) contracting out. istilah “contracting” mengandung arti sebuah hubungan terus .. 09. serta kemampuannya untuk dikontrakkan. dan harga yang disepakati. selama suatu periode waktu tertentu. (4) leasing.

09. Tetapi contracting in bisa juga berarti memasukkan manajemen swasta dari luar untuk menjalankan pelayanan pemerintah. kepada organisasi swasta. untuk melengkapi pelayanan yang dilakukan oleh rumah sakit sendiri. yang beroperasi di luar fasilitas pemerintah atau publik. Hukuman terhadap kinerja buruk merupakan kejadian langka.11 Desentralisasi pengambilan keputusan membuat para penyedia pelayanan kesehatan lebih leluasa untuk membuat keputusan alokasi yang lebih efisien daripada yang dihasilkan Perhatikan.9 Leasing adalah bentuk contracting yaitu pemerintah mengadakan fasilitas atau peralatan dari sumber luar berdasarkan persetujuan sewa. yang ditunjukkan oleh kontraktor. Waktu pembayaran 9.7. Vol. Kontraktor memiliki tanggung jawab penuh dalam hal manajemen internal untuk menyediakan pelayanan. atau pelayanan spesialistik (radiologi) di dalam rumah sakit. kontraktor dalam contracting in adalah bagian atau divisi dari organisasi itu sendiri. No. Desain dan Mekanisme Kerja Contracting Out menyediakan barang atau pelayanan. Gambar 2 menyajikan desain dan mekanisme kerja contracting. bukan memiliki fasilitas atau peralatan itu. Metode pembayaran 7. Dengan kata lain. menentukan upah dan gaji. 3 September 2006 l 111 . Model contracting out membedakan dengan jelas peran pihak pembayar dan penyedia pelayanan. yang didukung oleh sistem monitoring dan evaluasi (M&E). Kualitas pelayanan 4. contracting out memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar atau pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. etc) subcontracted for the provision of goods or services”. pemerintah mengontrakkan fungsi-fungsi dinas kesehatan seperti pelayanan preventif dasar. Pemecahan masalah perselisihan 12. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. Jenis pelayanan 2. tercantum dalam perjanjian kontrak. Sebagai contoh. Sebagai contoh.1 MENGAPA CONTRACTING OUT? Terdapat sejumlah alasan teoretis untuk melakukan contracting out.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Artinya. memecat pekerja. a number of doctors. Harga 8.hasil tertentu. M&E merupakan instrumen yang sangat vital dalam contracting out. Sistem M&E 10. Sebagai contoh. contracting in adalah melakukan subkontrak kepada sebuah divisi yang berada di bawah struktur organisasi yang bersangkutan (misalnya sebuah rumah sakit. untuk memberikan pelayananpelayanan tertentu yang akan dibayar oleh pasien dari suatu populasi. Syarat pembayaran 6. sehingga tanggung jawab dan akuntabilitas manajerial di pihak pemberi pelayanan maupun di pihak pembayar akan meningkat. Kuantitas pelayanan 3. Pavignani dan Colombo10 mendefinsikan contracting in “a subdivision of the parent organization (such as a hospital. tetapi biasanya bersifat sangat umum. dan keadilan. Artinya. sejumlah doktor. kualitas. efisiensi. Meskipun fasilitas-fasilitas itu diawasi departemen kesehatan.11 Akibatnya. Indikator kinerja mencakup akses. Penerima pelayanan (beneficiary) 5. Durasi 11. normatif. yang selama ini kerap terjadi adalah sebagian besar fasilitasfasilitas kesehatan khususnya rumah sakit pemerintah.10. Franchising adalah suatu bentuk contracting yaitu pemerintah memberikan hak kepada kontraktor (hak tersebut bisa eksklusif atau noneksklusif). Dengan demikian. Karakteristik penting lainnya adalah adanya keterikatan yang jelas antara pembayaran (payment) dan kinerja (performance) pemberi pelayanan3. staf di sektor pemerintah tidak berkepentingan untuk menunjukkan kinerja yang baik. dan tidak efektif. dibiayai melalui alokasi anggaran (disebut global budget) yang tidak secara langsung berhubungan dengan jumlah maupun kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan. karakteristik kunci dalam contracting adalah adanya pernyataan eksplisit tentang elemen-elemen kontrak yang disepakati oleh pihak pemberi kontrak dan kontraktor untuk diwujudkan dalam periode waktu tertentu. dan sebagainya) untuk Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sebuah rumah sakit menyewa perusahaan swasta untuk menjalankan pekerjaan kebersihan dan penyediaan makanan (catering) di dalam fasilitas rumah sakit tersebut. maupun mengadakan dan mendistribusikan barang dan pelayanan. Di banyak negara berkembang. baik dalam mengangkat pekerja. Elemen-elemen kontrak: 1. Pertama. atau kampanye pendidikan kesehatan. sebuah rumah sakit pemerintah mengontrak sebuah organisasi swasta untuk menyediakan prosedurprosedur rutin (pelayanan laboratorium). Syarat penghentian kontrak Pembayar Pembayaran Kontrak Pemberi pelayanan M&E Pelayanan Penerima pelayanan (beneficiary) Gambar 2. contracting out adalah implementasi dari suatu perjanjian antara pemerintah (pembeli) dan penyedia pelayanan yaitu penyedia pelayanan dibayar untuk memberikan pelayanan tertentu kepada populasi sasaran tertentu dengan hasil .

bukannya price setting seperti dalam situasi monopoli). No.4 Pemerintah dapat memanfaatkan contracting out untuk penyediaan pelayanan kelompok masyarakat rawan di daerah-daerah yang kurang atau tidak mendapatkan pelayanan (unserved atau underserved). dan berbagai isu lainnya. Baik pemberi kontrak maupun kontraktor memfokuskan kepada pencapaian hasil-hasil yang terukur dengan objektif. sebab tingkat konsentrasi rumah sakit di California lebih rendah daripada negara bagian lainnya. kebutuhan kesehatan. contracting out mendorong terjadinya efisiensi teknis. contracting out memaparkan para penyedia pelayanan kepada pasar kompetitif. Dengan demikian. penelitian Keeler et al.16 Implikasi dari efisiensi teknis di tingkat mikro. 13 Di sisi lain. dan pembiayaan.15 Gambar 3A menunjukkan keadaan yang adopsi teknologi menurunkan biaya produksi. Modal (K) Isocost= Rp 1. Hubungan kontraktual dalam contracting out mendorong para manajer penyedia maupun pembeli pelayanan untuk sadar terhadap biaya tinggi. Sebaliknya. Teknologi meningkatkan biaya produksi Gambar 3.10 Keterikatan pembayaran dengan kinerja membuat penyedia pelayanan kesehatan bekerja dengan lebih keras. regulasi. Salah satu cara penyedia pelayanan meminimalkan biaya produksi adalah mengadopsi teknologi inovatif. penetapan standar mutu.13 Kompetisi memaksa pemberi pelayanan untuk menyesuaikan harga (disebut price taking. 09.12 Kedua. Struktur pasar memberikan pengaruh besar terhadap perilaku penyedia pelayanan. Menurut teori ekonomi klasik.10. sehingga barang atau pelayanan yang dihasilkan menjadi lebih murah. yaitu keadaan yang kuantitas output tertentu diproduksi dengan kombinasi biaya terendah. Dalam pasar kompetitif sempurna.17 Kelima. di pihak pembayar/ pembeli pelayanan maupun kontraktor penyedia pelayanan.11 Dengan cara demikian. melalui birokrasi yang sangat sentralistis dan kurang peka terhadap implikasi biaya dari keputusankeputusan alokasi. contracting out dalam lingkungan pasar kompetitif membawa kepada alokasi sumber daya yang lebih efisien daripada yang dapat diharapkan dari ekonomi terpimpin (command economy) ataupun solusi nonpasar di tingkat makro.3 Ketiga. baik dalam pelayanan maupun harga. para manajer akan berusaha meminimalkan biaya produksi. Gambar 3 menyajikan perubahan biaya produksi sebagai implikasi penerapan teknologi inovatif. contracting out mendorong perencanaan yang lebih baik. Vol. pemberi kontrak maupun kontraktor terdorong untuk membuat perencanaan dengan lebih baik. perlu diidentifikasi dengan jelas. seperti dikutip Waters dan Hussey14 menunjukkan. Implikasinya.. kompetisi menimbulkan tekanan kepada pemberi pelayanan pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kinerja.000 Modal (K) Isocost= Rp 1. contracting juga menumbuhkan pasar dan merangsang kompetisi. untuk menghasilkan tingkat output yang sama. artinya optimum dari perspektif masyarakat keseluruhan. bukannya meningkatkan ongkos produksi.4. sehingga pemerintah dapat lebih memfokuskan kepada peran penting stewardship . dengan asumsi tidak ada perubahan kualitas pelayanan.12. populasi sasaran pelayanan.000 E E’ E E’ Isocost= Rp 750. bidding kompetitif akan menghasilkan tingkat harga yang secara sosial optimum.000. seperti perencanaan. Perubahan Teknologi Mengakibatkan Penurunan (A) atau Peningkatan (B) Biaya Produksi Manajer penyedia pelayanan tentu memilih teknologi yang menurunkan. kuantitas pelayanan.2..000.8. 3 September 2006 . Sebab dengan contracting. Gambar 3B menunjukkan keadaan yang adopsi teknologi membuat produk menjadi lebih mahal tanpa meningkatkan kualitas. contracting out mendorong terjadinya efisiensi alokatif.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: .000 Q=100 Q=100 Pekerja (L) 0 A. Contoh.200. contracting out mengurangi kerepotan pemerintah dalam pemberian pelayanan. kualitas pelayanan. contracting membantu pemerintah mengatasi keterbatasan 112 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pembeli pelayanan.000 0 Q=100 Q=100 Pekerja (L) Isocost= Rp 1. daya tanggap (responsiveness). yaitu situasi yang input ataupun output digunakan sebaik mungkin dalam ekonomi sedemikian sehingga tidak mungkin lagi dicapai pertambahan output ataupun kesejahteraan yang lebih baik. Keempat. harga pelayanan medik rumah sakit lebih murah di California. Teknologi menurunkan biaya produksi B. Dengan demikian memperbaiki keadilan akses pelayanan.. Tanpa menurunkan kualitas yang sudah disepakati dalam perjanjian kontrak.

dan jika ya. Tingkat pertumbuhan Kurva datar. makin cepat pula terjadi dampak marginal yang makin menurun (diminishing return). Berikut disajikan Tabel 1 tentang jenis pelayanan dan kemampuannya untuk dikontrakkan. dan rendahnya komitmen manajer. apakah karena efektivitas penggunaan dana menjadi negatif setelah titik saturasi.20 Tetapi benarkah demikian? Temuan kontroversial akhir-akhir ini menunjukkan. Oliviera-Cruz et al. tambahan sumber daya merupakan prasyarat untuk mengurangi keterbatasan kapasitas absorbsi. dan prosedur. yang diperlukan untuk memperbaiki kapasitas absorpsi. dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak bersifat tetap.23 JENIS PELAYANAN DAN TINGKAT KEMAMPUANNYA UNTUK DIKONTRAKKAN Menjawab pertanyaan di awal artikel ini tentang dapatkah model contracting out diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan. rendahnya kemampuan dan motivasi staf. kapasitas absorpsi. aliran bantuan luar negeri memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan negara resipien.18 Victora et al . kapasitas absorpsi adalah derajat kemampuan membelanjakan tambahan dana dengan efektif. kapasitas absorpsi dapat ditingkatkan dengan mengurangi sumber daya. untuk kondisi permasalahan dan jenis pelayanan bagaimana contracting out tepat untuk diterapkan. dan makin cepat terjadi saturasi (kejenuhan). manfaat marginal dari pertambahan aliran bantuan akan menjadi negatif!20 Menurut de Renzio20. kapasitas absorpsi berhubungan erat dengan beberapa isu institusional dan administratif. Tetapi. seperti ber”tele-tele”nya (over-cumbersome) aturan. hambatan kapasitas absorpsi terjadi juga karena kurangnya dana. bisa berubah dalam jangka pendek. 3 September 2006 l 113 . efektivitas bantuan luar negeri terhadap pertumbuhan tergantung kualitas institusi dan kebijakan negara penerima donor. Demikian pula Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) mengasumsikan. Vol. bukan sebaliknya. Asumsi yang digunakan lembaga donor. tujuan-tujuan pembangunan kesehatan dapat dicapai dengan lebih cepat jika skala intervensi kesehatan ditingkatkan (scaling-up). Reformasi struktural dan peningkatan kapasitas institusi yang dibutuhkan untuk memperbaiki manajemen dan melawan korupsi. larangan rekrutmen (kekakuan penggunaan tenaga kerja). lalu aliran sumber daya perlu dikurangi atau distop? Vademoortele dan Roy 23 tidak berpendapat demikian. Jadi. (2) hambatan institusional dan kebijakan. sebab “hujan bantuan” akan membuat sistem berada di bawah tekanan alias “kewalahan” atau “kedodoran”. Ketidakmemadaian penyerapan dan inefisiensi bukan merupakan keadaan yang berdiri sendiri.21 Sebagaimana disajikan Gambar 4. Contoh hambatan teknis dan manajerial. seperti disebutkan di muka. “the degree to which additional funds can be effectively spent”.2. Kapasitas Absorpsi Aliran Bantuan Oleh Sektor Publik De Renzio20 menyebut sejumlah kemungkinan faktor penyebab keterbatasan kapasitas absorpsi: (1) hambatan makroekonomi (misalnya. semuanya membutuhkan uang ekstra. (4) Hambatan yang ditimbulkan oleh perilaku donor. dampak nol Dampak negatif Dampak positif. 09. melainkan sangat saling tergantung. “Dutch Disease Effect”). No. yaitu sekitar 15% .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan “absorptive capacity” 3. kontrak yang tidak memungkinkan pemecatan staf.3 Titik saturasi bantuan Aliran bantuan (%PDB) Gambar 4. Artinya. Artinya. Pertanyaannya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. tetapi pertambahan marginal menurun 15% 45% (3) Hambatan teknis dan manajerial. “aid saturation point”. 19 mendefinisikan kapasitas absorpsi. makin besar dan cepat peningkatan aliran bantuan. regulasi. Penyerapan dana yang tidak memadai memang mengakibatkan inefisiensi.22 mengatakan. sampai pada titik saturasi tertentu.45% dari PDB.

3 September 2006 . MTBS. contracting pelayanan kesehatan mulai dilakukan di sejumlah negara berpendapatan menengah maupun rendah. yang dilatih oleh staf proyek (di Madagaskar).. NGO= Non-Government Organization (Sumber: Marek et al)25 Menurut Marek et al . “In 114 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. lembaga penelitian lokal. Tulis Marek. 25 contracting out di Senegal dan Madagaskar berhasil menurunkan malnutrisi dan memanfaatkan keterlibatan masyarakat. Jenis Pelayanan yang Dikontrakkan pada Masing-Masing Proyek Jenis pelayanan yang dikontrakkan Pemberian pelayanan Pelatihan Senegal GIE Konsultan lokal. Di Senegal. dengan indikator monitoring antara lain: (1) persen anak yang ditimbang setiap bulan di antara kohor penerima pelayanan. program DOTS untuk tuberkulosis) Pelayanan yang kuantitas kebutuhannya dapat didefinisikan dengan jelas (misalnya. wanita hamil.25 tentang faktor-faktor yang melatari keberhasilan proyek contracting out di kedua negara tersebut. jenis pelayanan yang dikontrakkan tidak hanya pelayanan kesehatan tetapi juga manajemen. CNW= Commnity Nutrition Worker. Tabel 1. supervisi. sejak 1948 National Health Service (NHS) di Inggris telah melakukan negosiasi. biasanya tidak memiliki pekerjaan. imunisasi dengan antigen tunggal. Untuk memonitor kualitas pelayanan dibangun sistem informasi manajemen yang sederhana tetapi efektif. universitas Manajemen proyek Agetip Secaline keseluruhan (Project’s Unit) GIE= Groupement d’Interet Economique. dan wanita menyusui. Di Madagascar. dengan kriteria eligibilitas yang jelas. No.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . pelayanan nutrisi dikontrakkan kepada CNW. dengan fokus pemberian pelayanan untuk populasi rawan. konsultan lokal atau lembaga pelatihan lokal (di Senegal). pelayanan nonklinis) PENGALAMAN CONTRACTING DI NEGARA LAIN Mengontrakkan pelayanan kesehatan merupakan hal lumrah di negara-negara maju. ANC) Lebih sulit dikontrakkan Pelayanan majemuk yang melibatkan berbagai penyakit (misalnya. tinggal di lingkungan komunitas sasaran. sebuah unit proyek dibentuk oleh pemerintah dengan nama Secaline sebagai pelaksana proyek keseluruhan. manajemen terpadu balita sakit) Pelayanan yang kuantitas kebutuhannya tidak dapat didefinisikan dengan jelas (misalnya. CNW). Senegal dan Madagascar mengontrak NGO untuk memberikan program pelayanan gizi komunitas dalam skala besar di daerah sangat miskin perkotaan maupun pedesaan yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. seperti anak-anak. kunjungan rawat jalan) Pelayanan yang penyediaan maupun hasilnya sulit diukur Pelayanan tanpa protokol yang jelas dan standar Pelayanan yang secara teknis kompleks (misalnya. dan riset. Dalam 15 tahun terakhir. pelayanan nutrisi dikontrakkan kepada Groupement d’Interet Economique (GIE). pelayanan klinis) Korelasi pelayanan dengan hasil Ketersediaan petunjuk teknis Kompleksitas teknis Pelayanan yang berhubungan erat dengan hasil Pelayanan yang memiliki protokol yang jelas dan standar Pelayanan yang secara teknis sederhana (misalnya.25 Kedua proyek bertujuan memperbaiki keadilan akses pelayanan. NGO lokal dikontrak melalui tender. dan Inggris. Tabel 2. 09. merumuskan dan membuat perjanjian kontrak dengan General Practitioners (GP) sebagai kontraktor independen. Di Senegal dan Madagascar. Sebagai contoh. Vol. untuk memberikan pelayanan kesehatan primer. et al. Jenis Pelayanan dan Kemampuannya untuk Dikontrakkan Karakteristik pelayanan Pelayanan tunggal versus pelayanan majemuk Tingkat kebutuhan Lebih mudah dikontrakkan Pelayanan tunggal (misalnya.24 Demikian pula pendekatan kontrak pelayanan kesehatan merupakan model yang lumrah dilakukan dalam sistem managed care di AS . Agetip ditunjuk melalui tender nonkompetitif sebagai pelaksana proyek keseluruhan atas nama pemerintah. (2) persen wanita yang menghadiri tes mingguan pendidikan kesehatan dan gizi. (3) Seleksi pekerja gizi komunitas ( Community Nutriition Workers. lembaga pelatihan lokal GIE atau NGO Konsultan lokal. lembaga penelitian lokal Madagascar CNW - Supervisi Riset operasional NGO Konsultan lokal. Tabel 2 menyajikan. biasanya seorang wanita dari desa sasaran. Kanada. Di Madagaskar. Finlandia. pelatihan. 6.. (2) Seleksi NGO/ GIE yang akan melakukan supervisi. Tiap-tiap GIE terdiri dari empat kawula muda. misalnya AS. Di Senegal. Kontrak yang diberikan kepada NGO dan GIE menyebutkan dengan eksplisit pekerjaan yang harus dilakukan dan kinerja yang diharapkan. Kedua proyek membuktikan bahwa pelayanan gizi preventif dapat dikontrakkan kepada tenaga kerja nonspesialis. Belanda. Sebagai contoh. Proses bidding mencakup tiga area: (1) Pelaksanaan keseluruhan proyek.

NGO memberikan pelayanan lebih banyak. pelayanan yang dikontrakkan menghasilkan cakupan antenatal. maupun efisiensi penggunaan sumber daya. Di Asia Tenggara. dan pembayaran dilakukan otomatis tanpa mengaitkan dengan kinerja. Marek et al. tetapi dengan unit cost yang jauh lebih rendah. rumah sakit misi yang dikontrak pemerintah bekerja dengan lebih efisien. sebab secara metodologis kesimpulan tersebut ditarik berdasarkan survei cross-sectional tanpa kontrol. sebagaimana dikutip Waters et al .6 Pemberi pelayanan swasta dipilih melalui bidding kompetitif berdasarkan proposal teknis dan proposal keuangan. cakupan imunisasi. klaim keberhasilan proyek di Senegal dan Madagascar tersebut harus ditanggapi dengan kritis. Dana Asuransi Sosial Costa Rica (CCSS) membeli pelayanan kesehatan primer dari Koperasi Costa Rica. penyedia Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. melakukan evaluasi apakah contracting out memberikan pelayanan lebih banyak dan berkualitas untuk dana yang dikeluarkan. pada tahun 1999 Departemen Kesehatan di Kamboja melakukan contracting out dan contracting in dengan NGO dan perusahaan swasta nirlaba untuk memberikan paket pelayanan kesehatan esensial di 12 rumah sakit distrik. as well as local associations. No. disebut COOPESALUD. melakukan program kampanye pendidikan keluarga berencana. Abramson26 menyimpulkan. dan dibayar per kapita yang diliput sesuai harga bidding. M&E yang dilakukan CCSS superfisial. pemerintah El Salvador dan Guatemala melakukan eksperimen. 6 membandingkan biaya dan kualitas di dua rumah sakit pemerintah dan dua rumah sakit misi di pedalaman yang menerima hibah jumlah besar dari pemerintah.26 Abramson26 menganalisis M&E yang dilakukan CCSS. understood. can be mobilized and organized if the rules of the game are clear. Project Management Unit (PMU) tidak menganalisis data yang diperoleh dari NGO. Project Management Unit (PMU) membuat kontrak atas nama pemerintah dan Bank Pembangunan dengan NGO untuk penyediaan pelayanan kesehatan primer.1 BEBERAPA ISU DALAM CONTRACTING Pengalaman penerapan contracting out di negara-negera berkembang beragam. Artinya. 40% of medical doctors are unemployed. Bukti awal menunjukkan. especially in urban areas where unemployment rates are high.6 Di El Salva- dor.5. pendekatan tersebut memberikan alternatif yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan.27: (1) biaya transaksi. M&E perlu diperbaiki jika model contracting out akan diteruskan. atas nama pemerintah. Kesimpulannya.. menggunakan desain eksperimen random . Temuantemuan Abramson menunjukkan. Selain itu ditemukan kelemahan M&E “internal” oleh kontraktor dan keengganan pemerintah untuk mempertahankan model. PHRplus. dan melatih petugas kesehatan dalam kesehatan reproduksi. This untapped pool of human resources. meskipun pendekatan kontrak bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk memecahkan masalah nutrisi yang dihadapi Afrika. yang lebih tinggi. tetapi dengan biaya lebih banyak pula. and transparent”.25 menyimpulkan. bukan pada efektivitas dan kualitas perlakuan.14. menandatangani kontrak dengan NGO dan organisasi swasta sukarela (Private Voluntary Organizaion. dengan adanya kompetisi. (4) kompleksitas penentuan harga. 09. kedua rumah sakit misi memberikan pelayanan dengan kualitas serupa dengan rumah sakit pemerintah. In Madagsacar. for example. Bagaimanapun. data M&E yang dikumpulkan CCSS tidak mampu memberikan kepada pembeli pelayanan informasi yang langsung berkaitan dengan tujuan kontrak maupun kinerja kontraktor. dan kualitas pelayanan. Di Amerika Tengah. Vol. serta biaya out-of-pocket yang lebih rendah daripada pelayanan pemerintah. 17 Temuan evaluasi menunjukkan. tahun 1999 tiga buah direktorat kesehatan provinsi mengontrak NGO untuk mendistribusikan alat kontrasepsi.10. Mengontrakkan fungsi pelatihan petugas kesehatan kepada NGO terbukti efektif. Mills et al . Sebuah perusahaan swasta yang didanai oleh USAID melakukan supervisi terhadap kontrak. and the unemployed are often highly educated and can put their skills to the service of the community if they are given a chance. Pertama. Eksperimen terkontrol menunjukkan. penggunaan pelayanan kesehatan. and traditional NGOs. institutions. Di bagian Afrika lainnya. Indikator dalam kontrak tidak mengukur hasil secara kuantitatif. PVO) untuk penyediaan pelayanan kesehatan primer di daerah dengan cakupan pelayanan kesehatan formal rendah. Di Republik Dominika. didasarkan pada cakupan populasi. (2) kapasitas pemerintah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan many African countries. Para kritikus mencatat beberapa masalah berkaitan dengan contracting out 6. Sebuah lembaga riset independen. 3 September 2006 l 115 . competition for service providers exists. (5) monitoring dan evaluasi (M&E). (3) kapasitas pemberi pelayanan. 1. menurut teori.

Pemerintah dapat memanfaatkan model contracting out untuk penyediaan pelayanan kesehatan populasi rawan. dan manajerial.3 KESIMPULAN Contracting out merupakan praktik yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk menyediakan pelayanan tertentu daripada mengelolanya sendiri. Dengan menggunakan paradigma pasar terkelola (managed market). implementasi. penulisan. sehingga mendorong terjadinya efisiensi teknis. pemerintah tidak akan dapat menegakkan kontrak dengan efektif. di banyak negara berkembang. pemberi pelayanan dapat menunjukkan perilaku oportunistik (“aji mumpung”). dan penyedia pelayanan menggunakan kekuatan monopolinya untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi daripada jika terdapat sejumlah kompetitor. ataupun penyelesaian masalah perselisihan. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. negosiasi. 116 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan lisensi regulasi. menganggarkan 13%-17% dari anggaran total proyek untuk membiayai monitoring dan evaluasi. biaya modal (startup cost) yang besar untuk memenuhi kebutuhan pelayanan sesuai perjanjian kontrak. secara teoretis mengontrakkan pelayanan publik kepada penyedia swasta membawa kepada efisiensi yang lebih baik daripada dilakukan sendiri oleh pemerintah. sehingga mempengaruhi efisiensi dan keadilan alokasi sumber daya. dan tidak memperoleh hasil strategis yang diharapkan. Kontrak jangka panjang juga berarti mengunci danadana publik hanya untuk suatu penggunaan tertentu. maka pemerintah akan terlalu tinggi membayar kontraktor. dan biaya total pelayanan yang akan dikontrakkan. merupakan opsi yang feasible untuk penerapan tahap awal contracting out. 09. Sebab contracting memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar/ pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan.25 Ketiga. Sebagai contoh. misalnya pelayanan nonklinis atau pelayanan klinis yang tunggal dan sederhana. misalnya. 3 September 2006 . maka sifat kompetisi terbatas. merupakan alasan yang rasional untuk mempertimbangkan pendekatan tersebut sebagai sebuah model alternatif untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan. Jadi diperlukan studi biaya sebelum perjanjian kontrak pelayanan. terjadinya epidemi. No. Implikasi dari rendahnya kompetisi. kontrak akan diberikan kepada penyedia pelayanan yang suboptimal. pelaksanaan contracting out pelayanan preventif di Senegal dan Madagaskar. Sebagai contoh. berkaitan dengan desain. Mengontrakkan penyediaan jenis pelayanan tertentu. Keterbatasan kompetisi bisa terjadi karena faktor politis. khususnya yang bertempat tinggal di daerah terpencil. Vol. jika jumlah penyedia pelayanan sedikit. Tetapi fakta keterbatasan kapasitas absorpsi pemerintah di banyak negara berkembang dan tersedianya teori yang kuat. Kelima. pendekatan kontrak memang bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk semua masalah kesehatan. Kedua.. Monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk menunjukkan keunggulan relatif contracting out. Jika pemerintah tidak mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk M&E terhadap kinerja kontraktor. dengan demikian memperbaiki keadilan akses pelayanan. dalam contracting pelayanan bukan tidak mungkin terjadi hubungan yang tidak diinginkan atau “kolusi” antara pembeli dan penyedia pelayanan. kualifikasi pendidikan tinggi yang dibutuhkan dari petugas kesehatan profesional. dengan demikian membuang-buang sumber daya. pelayanan akan berusaha meminimalkan biaya produksi. Keempat.. hubungan kontraktual biasanya bersifat jangka panjang agar biaya transaksi dapat ditekan rendah.14 Jika pemerintah menaksir terlalu tinggi kebutuhan sumber daya yang diperlukan untuk menyediakan suatu pelayanan. Penawaran kompetitif akan memaksa pemberi pelayanan untuk meminimalkan biaya dalam memproduksi pelayanan dengan kualitas yang sudah ditetapkan. Keenam. pemberi kontrak tidak memiliki informasi yang cukup tentang unit cost. atau mengendorkan semangat untuk berkinerja efisien. dan membatasi fleksibilitas realokasi untuk keperluan lain pada keadaan tidak terduga (misalnya. tipikal di negara-negara berkembang dengan tingkat korupsi tinggi. bencana alam). volume kerja. Tetapi jika terjadi biaya transaksi yang tinggi. ekonomi. maka pemerintah tidak dapat memperoleh efisiensi yang diharapkan dari contracting. merupakan barier pendatang baru untuk memasuki maupun keluar dari pasar kompetitif. M&E merupakan instrumen vital dalam contracting. Sebagaimana model penyediaan pelayanan kesehatan apapun. pilih-pilih pasien (disebut adverse selection ). M&E kontrak. Akibat yang tidak diharapkan.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: .

Soeters. Health Policy and Planning. F . Vol. Improving government health services through contract management: a case from Cambodia.. Scaling up versus absortive capacity: Challenges and opportunities for reaching the MDGs in Africa. The World Bank Group – Private Sector and Infrastructure Network. J. 2003. Mills. The World Bank Group. Bose.org. R. I. V. Sheaff.. 14(4): 382-9. S. 19(5): 292-301. 16. 6.. World Bank. Contracting for Health Services. Folland. PHRPlus Project unded by USAID. A.. X.. The economics of health and health care. Briceno. International Journal of Development. Delivery of priority health services: searching for synergies within the vertical versus horizobtal debate. K.. Journal of International Development.org.. A. Goodman. 1999. Diakses April 2006. Kurowski. Inc. Banda. Working with the private sector for child health.. experiences.. Health Policy and Planning... Folland. A . 14.. 27.. Harding.. NJ: Prentice Hall. R. Victora. Clewer. Hanson.. K. 4. Peters. “Make or buy” decisions in the production of health care goods and services: new insights from institutional economics and organizational theory. Briefing Paper.K. R.. Stano. 2004.G. 2001. 2001. Mills. Hatt. and growth: Revising the evidence.E. T.2006. 9. Yamamoto. Expanding access to priority health interventions: A framework for understanding the constraints to scaling up. 2003. 19.. T. NJ: Prentice Hall. Health Policy and Planning. Perkins. V. 2003. J. 5. 11. Diallo.. Yamamoto. Vandermoortele. Marek. Bulletin of World Health Organization. Private Participation in Health Services. L. Ndiaye. 13. 15: 1. Contracting out for primary health services: evidence of its effects and a framework for evaluation. J. 78(6): 779-790. www. S. 09. M.phrplus.uk. Vaughn. Mills. Franchising in health: Emerging models... Monitoring and evaluation of contracts for health service delivery in Costa Rica. 2004. 25. The World Bank Group – Private Sector and Infrastructure Network.C. P. 3 September 2006 l 117 . Manchester. To contract or not to contract? Issues for low and middle income countries. V. The economics of health and health care. Private health: Policy and regulatory options for private participation. D. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan... Bitran. 20. 2004. 13(1): 32-40. Cercone. B. Stano.a review of methods and experiences. R.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan KEPUSTAKAAN 1. 15. Gauri. 26. Burnside. 2. 2006. Marek. Loevinsohn. Ranson. Hotchkiss. Achieving universal coverage with health interventions.14. Separating financing from provision: evidence from 10 years of partnership with health cooperatives in Costa Rica. E.. 18(1): 74-83. H. Contracting Out of Health Services in Developing Countries.. 15: 67-86. 2003.. S. Travis. 2000. A. De Renzio. R. 18(4): 404-11. A. Pavignani. C. Contracting for the delivery of primary health care in Cambodia: Desaign and initial experience of a large pilot-test. 2005. 23. 2003. C. Rogo. Ruster. 2004. Ruster J . K. Making sense of MDG costing. 12. http://www. B. A. 2006. 1998. Inc. 2003. and challenges in primary care. Washington DC. Lancet. N.. Contracting-out of primary health care: Rationale and evidence from of El Salvador. Griffiths.. Harding. DC: World Bank. Policy Research Working Paper 3251. 8. R.. Bitran. 17. Liu.odi.R. J. A.. Bryce. 364: 1563-48. S. Overseas Development Institute. J. Englewood Cliffs.C. D. 2004 22.. A. No. Aids.. Health Policy and Planning.. Lloyd. www. 18(2): 127-37. 3. UK: The University of Manchester. Preker. D. Oliviera-Cruz. Goodman. C. Pake. Preker.. Waters.9(1):25-30.. Englewood Cliffs. Oliviera-Cruz. J. B.S. A. 10. 21. Contracting.P.B. 70: 175-84. Waters. 7. PHRplus Project (USAID funded). Diakses Oktober 2005. W. Hussey. P. From compeition to cooperation: service agreements in primary care. A... 2003. New York: Bureau for Development Policy. Colombo. 24. Roy. 1999. A. Economics of health care management. Health Policy. 1998. 2006. H. 1993. London: Prentice Hall. Abramson. Mc. 18. Health Policy and Planning. C. policies.who. C. Health Policy and Planning.. Dollar.. 1994. Washington. Successful contracting of prevention services: fighting malnutrition in Senegal and Madagascar. Health Policy and Planning.org. D. Pricing health services for puirchasers. P. S. Washington. DC: The World Bank. Rakotosalama. A. 2004. Hanson.

karena mereka hanya sebagai pelaksana kegiatan saja. Bantul. 3 September 2006 . This was consistent with the study conducted by PMPK FK UGM. maternal and child health programmer. Departement of Health has established special menu for maternal and child health program activities. Dilakukan wawancara mendalam dan diskusi informal kepada Kepala Dinas. sehingga kegiatan yang ada tidak sesuai dengan kebutuhannya. decision space ABSTRAK Latar Belakang: Pada tahun 2006 program kesehatan ibu dan anak mendapat anggaran dana dekonsentrasi yang paling besar di antara program-program yang lain. Oleh karenanya. Kata Kunci: dana dekonsentrasi. Subjek dan metode: Subjek penelitian adalah anggaran dana dekonsentrasi program KIA. within deconcentration budget for maternal and child health programme. Subjects and methods: The subject of this study was budget of deconcentration fund for maternal and child health programme. Provinsi DIY mempunyai decision space yang sedang dan Kabupaten PENGANTAR Status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan negaranegara tetangga seperti Singapura. Hasil: Pusat mempunyai decision space yang lebar. gubernur dan atau perangkat pusat di daerah yang mendapat pelimpahan wewenang. Dana tersebut akan dialokasikan dan didistribusikan kepada kabupaten/kota dan dipergunakan untuk membiayai kegiatan nonfisik.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. had strict or pressed decision space. Districts simply act as an implementer of activities. Vol. Berdasar konsep perimbangan keuangan pusat dan daerah1 dana dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. moderate and narrow decision space. districts or towns have limited decision space. decision space Keywords: deconsentration fund. pemerintah mengalokasikan dana yang sangat besar dalam bentuk dana dekonsentrasi kepada provinsi. Yogyakarta. 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati Dinas Kesehatan Bantul. material and child health. Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai kegiatan nonfisik. Adanya aturan yang cukup rigid ini membuat kabupaten/kota tidak mempunyai decision space yang lebar. 03 September l 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati: Decision Space dalam Program . Province of Yogyakarta Spesial Territory and District of Bantul have wide. Penentuan besaran dana dekonsentrasi dilakukan oleh menteri keuangan dengan memperhatikan pertimbangan menteri teknis dan atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen.120 Artikel Penelitian DECISION SPACE DALAM PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK TAHUN 2006 DECISION SPACE IN MATERNAL AND CHILD HEALTH PROGRAM. Halaman 118 . District. dan lain lain. sedang angka kematian bayi adalah 23 per 1000 kelahiran hidup. Metode penelitian adalah case study di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY (Kabupaten Bantul). and budgeted for maternal and child health services since 2006.000 kelahiran hidup. Hal ini bisa dilihat dari draf Surat Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Pengelolaan Anggaran Dana Dekonsentrasi Program Upaya Kesehatan Masyarakat Dalam Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Tahun Anggaran 2006. kesehatan ibu dan anak. Departemen kesehatan telah menentukan menu utama kegiatan program kesehatan ibu dan anak serta penetapan alokasi dana untuk provinsi. Kesimpulan: Pada era desentralisasi ini ternyata terjadi sentralisasi anggaran. and the method was a case study in Bantul District. Result: Centers. and head of public health service. Untuk itu.2 Aturan keuangan pusat dan daerah dalam satu sisi untuk mendukung pelaksanaan pembangunan 118 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. The activities presented was not consistent with their need. In-depth interviews and informal discussions were conducted with head of health service of Bantul District. 09. Conclusion: Centralization of budget occurred within decentralization era. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh PMPK FK UGM. Malaysia.. As a consequence of this strict rule. Programmer KIA Dinas dan Kepala Puskesmas.. respectively. Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan. pada tahun 2006. and determining allocation of its funds for provinces. Target yang akan dicapai untuk angka kematian ibu tahun 2015 adalah 125 per 100. Yogyakarta. Kabupaten mempunyai decision space yang sempit dalam anggaran dekon program KIA. Daerah Istimewa Yogyakarta ABSTRACT Background: The central government recently drew up a budget from deconcentration fund for health sector in 2005. selain itu juga merupakan program dalam MDG. Yogyakarta Special Territory. No. pemerintah memberikan prioritas utama dalam akselerasi penurunan angka kematian ibu dan bayi. cause they’re simply act as implementer of activities. Bantul mempunyai decision space yang sempit.

... subkegiatan bahkan sampai satuan anggaran. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan adanya dana dekonsentrasi yang sangat besar cukup mengejutkan bagi Kabupaten Bantul.. 09.. Vol. semua narasumber dari provinsi. seperti voucher ibu hamil (bumil) yang sasarannya adalah keluarga miskin (gakin). BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan kajian studi kasus dengan analisis deskriptif dengan lokasi penelitian di Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)... karena di lapangan voucher itu dibagikan juga kepada bumil yang mempunyai askeskin.. bahkan ada kegiatan yang pembiayaannya sudah ada dari gakin mendapat anggaran lagi dari dana dekonsentrasi......... Kriteria atau dasar provinsi dalam membagi anggaran ke kabupaten tidak jelas. untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan di kabupaten. hampir setiap hari kami didatangi perangkat desa. tapi faktanya BPS di wilayah kami belum ada yang tahu tentang program tersebut. karena pada waktu itu pemberitahuan dari pusat juga sangat mendadak dan waktu yang diberikan untuk usulan kegiatan juga tidak lama.... Unit analisis adalah anggaran dana dekonsentrasi kabupaten.” (responden 4) “.. sedang di sisi lain untuk memfasilitasi proses pembangunan di daerah yang dijalankan di bawah skema otonomi daerah.. jika ada pelatihan provinsi sering mendadak memberi tahu.. Decision space adalah berbagai macam fungsi dan kegiatan yang daerah tersebut mempunyai kewenangan yang dapat meningkatkan pilihan mereka..” ( responden 1 ) “.. pengaturan yang sedemikian rigid ini membuat kabupaten tidak dapat mengalokasikan untuk kegiatan yang menjadi kebutuhannya. Provinsi terpaksa membagi dana dekonsentrasi ke setiap kabupaten seperti itu.... supaya kita tahu tujuan dan output yang diharapkan. serta bumil yang mampu.. program voucher bumil membingungkan. kegiatan yang ada tidak sesuai kebutuhan ... dapat diketahui bahwa decision space Kabupaten Bantul sempit.. Bahkan ada beberapa kegiatan yang justru double funding.... No. Provinsi membagi anggaran mulai dari menu kegiatan.. Provinsi DIY sedang dan pemerintah pusat (Departemen Kesehatan) lebar.. puskesmas khan tempat pelayanan .. 3 September 2006 l 119 . Proses pengaturan oleh pusat tidak dimaksudkan untuk mengembalikan sentralisme otoriter........ dan mencarikan tempat untuk pertemuan. kabupaten hanya sebagai pelaksana. semua yang ngatur provinsi.. Dilakukan triangulasi kepada Programmer KIA Provinsi dan Kepala Puskesmas.. terlebih pada subkegiatan. serta Koordinator KIA Puskesmas. Dalam era desentralisasi ini idealnya daerah harus mempunyai kewenangan dan decision space yang luas dalam transfer anggaran kesehatan. karena itu akan menunjukkan derajat desentralisasi mereka.. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam. Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan saja.... Objek penelitian adalah Kepala Dinas dan Programmer KIA.... semua yang ngatur provinsi.” (responden 2) “ . Adapun variabel yang dinilai meliputi penentuan pagu anggaran dan menu kegiatan....... Artinya. meskipun jumlah alokasi anggaran itu tidak dapat diketahui secara pasti.. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan... Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Bossert3 yang digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan desentralisasi kesehatan di berbagai negara.. Kita akan usulkan pada provinsi agar pengelolaan dana dekonsentrasi tahun depan tidak seperti sekarang. kabupaten benar-benar nggak punya kewenangan dalam dana dekonsentrasi ini..... sehingga saya sering dimarahi oleh teman puskesmas.. seperti Tabel 1....... seperti pernyataan di bawah ini: “.......” (responden 3) “.... kami hanya memanggil puskesmas sebagai peserta pelatihan...... katanya provinsi sudah mensosialisasikan program voucher bumil ke BPS. puskesmas maupun bumilnya sendiri untuk menanyakan program tersebut..... Konsep perimbangan dimaksudkan agar terjadi keadilan dalam pembagian sumber daya bagi kepentingan nasional dan daerah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan nasional.. dana dekonsentrasi yang besar itu pun ternyata masih belum dapat membiayai semua kebutuhan kegiatan dalam akselerasi angka kematian ibu dan bayi.mengapa dinas provinsi selalu mendadak memberi tahu jika ada pelatihan. selaku programmer di kabupaten saya pusing... kita akan minta TOR-nya pada provinsi. karena hal ini akan menunjukkan derajat desentralisasi daerah.... sementara kegiatan lain tidak terbiayai. Idealnya dalam era desentralisasi ini ruang keputusan dan kewenangan yang dimiliki daerah harus lebar.. Hal ini jelas menunjukkan bahwa derajat otonomi Kabupaten Bantul dalam dana dekonsentrasi program KIA kecil.. Hasil di atas didukung oleh beberapa pernyataan responden tentang dana dekonsentrasi program KIA.. ” (responden 5) Jika dilihat dari peta decision space..

Pembagian anggaran untuk setiap jenis transfer anggaran sebaiknya mempunyai dasar atau kriteria yang jelas dalam bentuk formula agar unsur pemerataan dan keadilan dapat terpenuhi. sub kegiatan sampai satuan anggaran - Menentukan menu dan pagu anggaran - Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong dan Bengkulu Utara Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Parigi Moutong - Mengelola sepenuhnya (Block grant) - - Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh PMPK FK UGM4 di enam provinsi proyek DHS yaitu Provinsi Riau. 4. Peta Decision Space Dana Dekonsentrasi Program KIA di Provinsi DHS Tahun 2006 Provinsi/ Kabupaten Provinsi Riau Kabupaten Kampar Sempit Sebagai pelaksana Sedang Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan Menentukan pagu anggaran Lebar - Narrow Moderate Wide - - Provinsi - Kabupaten/Kota Pelaksana Merubah menu.2004. Jakarta. 3 September 2006 . Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan. Peta Decision Space Dana Dekonsentrasi Program KIA di Provinsi DIY Tahun 2006 Transfer Dana Dekon Program KIA Pusat Tabel 2. Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Di Indonesia. Sci. Yani. Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat & Pemerintah Daerah. Menentukan pagu anggaran dan menerima usulan kabupaten Mengajukan usulan kegiatan dan anggaran Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan Menentukan pagu anggaran dan menerima usulan dari kabupaten Membuat usulan menu kegiatan KIA Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan - - - Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Sebagai pelaksana - - - Provinsi Bali Kabupaten Buleleng Sebagai pelaksana - KEPUSTAKAAN 1. 120 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2002. Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Universitas Gadjah Mada. No. A.. T. Raja Grafindo Persada.47(10). Bossert.2006. Sulawsi Tenggara.Dewi Marhaeni Diah Herawati: Decision Space dalam Program . Sulawesi Tengah dan Bali. yang kegiatan itu diterima tidak sesuai dengan kebutuhan daerah. Sulawesi Utara. 2. Ada kegiatan yang double funding. 3. Med. Penerbit Fermana. sehingga derajat otonomi kabupaten dalam dana dekonsentrasi program KIA juga sempit. Analyzing the Decentralization Of Health Systems in Developing Countries: Decision Space. Alokasi anggaran dekon diubah menjadi anggaran desentralisasi yang bisa langsung ke sektor kesehatan di kabupaten/ kota seperti DAK. Review Pasca Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Program KIA Di Provinsi Proyek DHS. Kewenangan dan decision space yang dimiliki kabupaten sempit. Innovations And Performance. Bengkulu. 09. Vol. sementara kegiatan yang lain tidak terbiayai. Tabel 1. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pada era desentralisasi ini jelas terlihat adanya sentralisasi anggaran dalam dana dekonsentrasi program KIA. Bandung. Undang-Undang No 33 Tahun 2004. 1998. Gambaran decision space dalam anggaran dana dekonsentrasi di kabupaten/kota dari enam provinsi tersebut sebagai berikut: tiga kabupaten mempunyai decison space sempit dua kabupaten mempunyai decision space sedang satu kabupaten mempunyai decision space lebar Provinsi mempunyai decision space sedang Adapun mapping tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Menentukan kegiatan. Soc. Saran Pemerintah pusat agar mendesain kembali mekanisme transfer dana dekonsentrasi yang lebih memberdayakan kabupaten..

128 Artikel Penelitian PENERAPAN CLINICAL GOVERNANCE MELALUI ISO 9000: STUDI KASUS DI DUA RSUD PROVINSI JAWA TIMUR CLINICAL GOVERNANCE IMPLEMENTATION USING ISO 9000: CASE STUDIES IN TWO PUBLIC HOSPITALS IN EAST JAVA Hanevi Djasri Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan. yaitu bahwa setiap upaya medis harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. sistem manajemen mutu. yaitu bahwa upaya peningkatan mutu harus dilaksanakan secara sistematik. Terdapat kemungkinan bahwa rumah sakit yang telah memiliki sistem manajemen mutu yang komprehensif seperti sistem manajemen mutu ISO 9000 telah berhasil menerapkan dasar-dasar clinical governance. dan (7) Pengukuran efektivitas. perawat dan tenaga klinik yang lain.1 Clinical governance timbul karena berbagai kenyataan buruk dalam sistem pelayanan kesehatan seperti tingginya kasus malpraktik. Sebagaimana sistem governance di manajemen. (4) resources allocation. No. Di samping itu. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 121 . (5) Komunikasi. 09. komprehensif dan berkesinambungan. mutu pelayanan klinis Keywords: clinical governance. Hasil: Kedua RSUD menunjukkan hasil yang mirip. (4) Alokasi sumber daya. Seluruh standar clinical governance yang terdiri dari standar: (1) Akuntabilitas pelayanan klinis. Objective: Determine the impact of an ISO 9000 quality management system implementation on the clinical governance implementation and on clinical quality improvement activity in the hospital. Metode: Studi kasus di dua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jawa Timur dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi dokumen mutu rumah sakit. Tujuan: Menilai apakah sistem manajemen mutu ISO 9000 di rumah sakit dapat mendukung penerapan konsep dasar clincial governance dan mendukung terlaksananya kegiatan-kegiatan clinical governance. (5) communication. secara umum telah diterapkan dan mendapat dukungan dari sistem manajemen mutu ISO 9000. (2) policy and strategy. (2) continuous quality improvement. clinical governance muncul karena “putus-asanya” pemerintah dan manajer sarana pelayanan kesehatan di Inggris dalam mengimplementasi pendekatan total quality management (TQM) atau continuous quality improvement (CQI) untuk pelayanan kesehatan dengan alasan tidak dapat diterima secara luas karena para staf klinik menilai TQM dan CQI tersebut terlalu “berbau” manajemen tanpa identifikasi peran yang jelas untuk para kliniki dalam meningkatkan mutu tersebut. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. There is a possibility that hospital with a comprehensive quality management system like ISO 9000 has succeeded to put in place the basic concept of clinical governance into practice. (6) Pengembangan dan pelatihan profesional. Conclusion and suggestion: ISO 9000 quality management system implementation with focus to clinical care can help to present clinical governance in hospital. Kata Kunci: clinical governance. (6) professional development. (7) effective measurement. (3) organizational structure. clinical care quality ABSTRAK Latar belakang: Peningkatan mutu pelayanan klinis melalui penerapan clinical governance dilakukan dengan cara memadukan pendekatan manajemen organisasi dan manajemen klinis secara bersama. etik. Result: The two hospitals had comparable result. FK UGM. 3 September 2006 l 121 . Baik dan buruknya proses pelayanan klinik dipengaruhi oleh penampilan kerja para dokter. Pengembangan ini dipelopori oleh National Health Service (NHS) Inggris pada dekade 90-an dengan menggunakan istilah clinical governance.2 Konsep dasar dari clinical governance adalah: (1) accountability. Kesimpulan dan saran: Penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000 secara sungguh-sungguh di bidang pelayanan klinis dapat membantu terwujudnya clinical governance di rumah sakit. (3) Struktur organisasi. (2) Kebijakan dan strategi. Method: Case study in two public hospital at East Java Province. Analisis dan penyajian hasil dilakukan secara deskriptif.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. PENGANTAR Rumah Sakit (RS) adalah lembaga yang terutama memberikan pelayanan klinik. moral dan berbasis pada bukti terkini dan terpercaya ( evidence-based medicine ). All basic clinical governance standard: (1) clinical care accountability. were implemented and were supported by ISO 9000 quality management system. Vol. sehingga mutu pelayanan klinik merupakan indikator penting bagi baik-buruknya RS. Interview and document analysis were used for data collection. ISO 9000. Yogyakarta ABSTRACT Background: Clinical governance implementation to improve clinical quality can be done through integration of organizational management and clinical management. quality management system. ISO 9000. saat ini dikembangkan sistem governance di bidang klinik.

Hasil studi ini diharapkan dapat digunakan oleh para pengambil keputusan di RS dalam menetapkan kebijakan implementasi clinical governance maupun implementasi sistem manajemen mutu ISO 9000. yaitu RS yang telah memiliki sistem manajemen mutu yang komprehensif. yang mengisyaratkan agar setiap upaya medis selalu didasarkan pada standard tertinggi yang diakui secara profesional. perawat senior dan wakil manajemen (management representatif). ketua komite medis. Instrumen untuk wawancara dikembangkan dari standard clinical governance untuk Western Australian Health Service. Setiap pertanyaan terdiri dari pertanyaan untuk menilai sejauh mana standar clinical governance telah tercapai dan apa peran dari sistem manajemen mutu ISO 9000. Secara spesifik. melalui pengumpulan data yang bertumpu pada wawancara mendalam serta analisis dokumen. 5) komunikasi. 3) struktur organisasi. Data RS di Indonesia yang telah memiliki sertifikasi ISO 9000 tidak tersedia. 7) pengukuran efektivitas. Subjek atau peserta wawancara mendalam juga dipilih secara purposive. 4) alokasi sumber daya yang dibutuhkan.6 Instrumen wawancara ini terdiri dari 7 standar. l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2006 . kamar bedah.4 Di Indonesia belum terdapat catatan resmi tentang RS yang telah menerapkan konsep dasar clinical governance . maka terdapat kemungkinan bahwa ada beberapa RS di Indonesia yang telah menerapkan dasar-dasar clinical governance. 6) pengembangan dan pelatihan profesional. dan (4) memfasilitasi dan menciptakan lingkungan yang menjamin terlaksananya pelaksanaan pelayanan kesehatan yang bermutu. Studi kasus di dua buah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dilakukan untuk menilai apakah sistem manajemen mutu ISO 9000 yang dikembangkan di sebuah RS dapat mendukung penerapan konsep dasar clincial governance. laboratorium. farmasi. ICU. dan sebagainya) yang terdiri dari: direktur. manajemen kinerja klinik yang buruk. rawat inap. dan mekanisme untuk memonitor outcome pelayanan. apakah sistem manajemem mutu ISO 9000 dapat memberikan dasar-dasar bagi terlaksananya kegiatan clinical governance. termasuk pelayanan klinik. berada dilokasi yang relatif dekat. dengan cara memadukan pendekatan manajemen organisasi dan manajemen klinik secara bersama-sama5. atau apabila ada. masing-masing standar terdiri dari 2-5 pertanyaan. kepala atau koordinator unit pelayanan klinik. Dasar pemilihan keempat RS tersebut adalah sama-sama RS milik pemerintah daerah (kabupaten/ kota) dengan kelas yang sama. yang mendukung peningkatan mutu seluruh pelayanan. belum diketahui bagaimana cara penerapannya. pengukuran outcome. radiologi. maka dilakukan triangulasi dengan membandingkan hasil yang didapat pada wawancara terhadap data yang terdapat dalam dokumen dan rekaman/catatan RS yang terkait kegiatan clinical governance. No. Istilah “clinical governance” disetiap pertanyaan diganti dengan istilah “peningkatan mutu pelayanan klinik” karena tidak seluruh staf telah memahami arti dari clinical governance (sehingga istilah clinical governance dan peningkatan mutu pelayanan klinik digunakan secara bergantian dalam artikel ini). Untuk memperkuat pengambilan data yang diperoleh dari wawancara mendalam. sehingga memiliki sumber daya dan pasar yang mirip. yaitu RSUD A dan RSUD B. Data yang berasal dari wawancara dan analisis dokumen diolah secara kualitatif untuk menilai sejauh mana konsep dasar clinical governance di dua RSUD tersebut telah diterapkan dan sejauh mana sistem manajemen mutu ISO 9000:2000 membantu penerapan tersebut. Keduanya terletak di Provinsi 122 Jawa Timur dan telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000 untuk seluruh unit pelayanannya. Dokumen terutama berasal dari dokumen-dokumen ISO 9000 milik RS yang terdiri dari dokumen manual mutu. dokumen prosedur kerja dan dokumen rekaman mutu. melalui penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000.3 Kegiatan untuk menerapkan konsep dasar clinical governance terdiri dari kegiatan: audit klinik. Vol. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penilaian penerapan konsep dasar clinical governance dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. manajemen risiko klinik. gawat darurat. Standar tersebut terdiri dari: 1) akuntabilitas pelayanan klinik. menyediakan data klinik dengan mutu yang baik. yaitu para staf RS yang bertanggung jawab (key person) terhadap satu atau lebih unit pelayanan klinik (pelayanan klinik yang dimaksud adalah pelayanan: rawat jalan. praktik berdasarkan evidens.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 (3) high quality standard of care . sehingga pemilihan RS yang telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000 pada penelitian ini dipilih secara purposive sebanyak dua buah RSUD. 2) kebijakan dan strategi. 09. dokter spesialis. Namun apabila dilihat bahwa prinsip dasar dalam penerapan clinical governance adalah melalui pengembangan sebuah sistem manajemen mutu. kamar bersalin.

hanya terbatas pada kegiatan audit klinik dan penyusunan standar pelayanan medis yang bersifat evidence-based. 3 September 2006 l 123 . namun terdapat tanggung jawab direktur untuk meningkatkan mutu pelayanan secara umum. Staf ini masih merangkap tugas sebagai staf medis fungsional. maka sebenarnya peningkatan mutu pelayanan klinik telah menjadi kegiatan utama dan menjadi tanggung jawab direktur (Gambar 1: Peta Proses Pelayanan RSUD). Akuntabilitas pelayanan klinik Tanggung jawab dari direktur untuk peningkatan mutu pelayanan klinik (menerapkan clinical governance) tidak terlihat secara khusus. Kedua RSUD menunjukkan hasil yang hampir sama. analisa dan perbaikan Evaluasi data dan pelaporan Audit mutu internal Pengukuran kepuasan pasien Penanganan pasien pulang paksa Tindakan koreksi dan pencegahan Proses Realisasi Pelayanan Kesehatan Pelayanan radiologi Pelayanan radiologi Pelayanan laboratorium Pelayanan laboratorium Persyaratan pelanggan Pelayanan kamar operasi Pelayanan adm terpadu Pelayanan rawat jalan Pelayanan ICU Pelayanan rawat inap Penanganan jenasah Pelayanan rawat darurat Pelayanan kamar operasi Pelayanan adm terpadu Kepuasan pelanggan Perbaikan mutu berkelanjutan Gambar 1: Peta Proses Pelayanan di RSUD Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pemetaan tersebut muncul setelah RSUD menerapkan ISO 9000. RSUD A telah menerapkan sistem manajemen ISO 9000 sejak 1. kemungkinan besar karena kedua RSUD menggunakan konsultan ISO 9000 yang sama. Uraian tugas dari panitia peningkatan mutu ini tidak mencakup tanggung jawab penerapan dan pengorganisasian dari seluruh kegiatan clinical governance.5 tahun lalu serta telah mendapatkan sertifikat sejak 6 bulan lalu dan RSUD B telah menerapkan sistem manajemen ISO 9000 sejak 1 tahun lalu dan pada saat penelitian dilakukan sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan sertifikat. Tanggung jawab manajemen Visi. Bila dilihat dari pemetaan proses pelayanan yang menjadi dasar untuk merencanakan peningkatan mutu. Vol. Panitia peningkatan mutu terbentuk sejak RSUD mengikuti program akreditasi KARS Depkes RI beberapa tahun lalu. 09. Misi dan Kebijakan Mutu Komunikasi internal Sasaran Mutu Job Descreption Rapat tinjauan manajemen Manajemen sumber daya Pengelolaan pegawai Penetapan kompetesi karyawan Pendidikan dan pelatihan Pemeliharaan sarana Sanitasi lingkungan Pengukuran. Staf khusus yang diberikan tanggung jawab untuk menerapkan dan mengorganisir kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik (penerapan clinical governance) terdapat di komite medis yaitu di panitia peningkatan mutu. No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan di dua RSUD di Provinsi Jawa Timur pada bulan Juli-Agustus 2005. ISO 9000 hanya membakukan dokumen-dokumen yang diperlukan. Penilaian penerapan standar clinical governance dan sejauh mana sistem manajemen ISO 9000 berperan dalam hal tersebut di kedua RSUD disajikan sebagai berikut: Standar 1.

sentinel event dan analisisnya menggunakan root cause analysis atau kerangka kerja yang lain. 09. namum belum terdapat prosedur untuk melepaskan informasi pasien. dan prosedur kredensial. manajemen komplain pasien dan penyusunan feedback dari kuesioner pasien. Uraian tugas dan tanggung jawab peningkatan mutu pelayanan termasuk di pelayanan klinik disusun setelah penerapan ISO 9000. termasuk di unit-unit pelayanan klinik. Struktur organisasi Meskipun telah ada komite medis yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu pelayanan klinik (penerapan clinical governance) dengan uraian tugas yang menggambarkan tanggung jawab komite medis yang cukup luas dalam penerapkan konsep clinical governance namun tidak seluruh kegiatan clinical governance masuk di dalam uraian tugas tersebut. Kebijakan dan strategi Meskipun belum terdapat dokumen kebijakan dan strategi yang dikhususkan untuk penerapan clinical governance. Sebenarnya ISO 9000 memiliki pesyaratan tentang pengendalian produk/pelayanan tidak sesuai (terkait dengan manajemen risiko) namun di kedua RSUD hal ini baru diterapkan untuk pelayanan nonklinik saja. Penerapan pilar ini telah dimulai sejak proses akreditasi RS. dan prosedur identifikasi risiko klinik beserta analisis dan tindak lanjutnya. 3 September 2006 . Keterlibatan para staf dalam kegiatan clinical governance terbatas pada kegiatan yang telah berjalan. Beberapa kebijakan dan prosedur telah memperlihatkan penerapan pilar ini. dan kliniki lain) serta perwakilan dari staf manajemen telah tersusun sejak sebelum penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000. yaitu: • Fokus kepada pelanggan. Pengembangan dan pengelolaan staf profesional. Namun secara umum uraian tugas dan tanggung jawab kegiatan peningkatan mutu pelayanan ada pada wakil manajemen (management representative) yang bertugas menjamin kesesuaian dan efektivitas kegiatan peningkatan mutu. antara lain adanya prosedur: pendokumentasian persetujuan pasien (consent). rawat inap. Namun lebih dikuatkan dengan penerapan ISO 9000. perawat. dan prosedur untuk mendapatkan informasi terkini seperti protokol medis ataupun clinical pathways . Manajemen risiko klinik. dan prosedur pengukuran sasaran mutu pelayanan klinik. laboratorium. 124 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kegiatan ini telah rutin dijalankan oleh komite medis jauh sebelum penerapan ISO 9000. sedangkan proses ISO 9000 hanya membakukan format penulisan yang berbeda dan dorongan yang lebih kuat untuk pelaksanaannya. Struktur komite medis yang terdiri dari para kliniki (dokter. kamar operasi. Namun dengan ISO 9000 keterlibatan tersebut menjadi lebih baik karena adanya prosedur komunikasi internal yang lebih baik. Kebijakan dan prosedur yang mendukung penerapan pilar ini antara lain: prosedur • • penyusunan standar pelayanan medis yang telah mempertimbangkan adanya evidencebased dan standar pelayanan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. Kebijakan dan strategi ini disusun pada saat implementasi ISO 9000. akan tetapi belum terdapat prosedur untuk: audit klinik ataupun review rekam medis. yaitu kegiatan audit klinik dan penyusunan standar praktik berdasarkan evidence-based . dan sebagainya). Telah terdapat prosedur untuk orientasi. Komite medis melaporkan dan memberikan rekomendasi kepada direktur untuk perbaikan mutu pelayanan klinik. membuka informasi kepada pasien dan keluarga mengenai serious clinical incident atau sentinel events. namun keempat pilar dari kerangka kerja clinical governance secara menyeluruh belum diterapkan. Standar 2. namun belum terdapat prosedur untuk pengukuran kinerja klinik untuk masing-masing staf.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 Uraian tugas dan tanggung jawab untuk kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik terdapat di seluruh unit pelayanan klinik (rawat jalan. Vol. No. namun telah terdapat dokumen kebijakan dan strategi untuk peningkatan mutu pelayanan secara umum termasuk peningkatan mutu pelayanan klinik. Beberapa prosedur yang ada tersebut telah disusun sejak proses akreditasi. training staf. Di kedua RSUD ini belum terdapat kebijakan dan prosedur yang terkait dengan manajemen risiko klinik seperti: prosedur pelaporan adanya clinical incident. • Pengukuran dan evaluasi kinerja klinik. Kebijakan dan strategi tersebut telah sesuai/ relevan dengan tujuan dan sasaran dari organisasi. radiologi. Penerapan pilar ini khususnya untuk pengukuran dan evaluasi kinerja klinik (sasaran mutu pelayanan klnik) banyak didorong penerapan ISO 9000. Standar 3.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Standar 4. Alokasi sumber daya yang diperlukan Kedua RSUD telah menyediakan sumber daya yang ditetapkan untuk mendukung kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik, namun sumber daya dalam bentuk informasi (sistem informasi) masih dalam proses pengembangan, sehingga tidak seluruh data-data yang terkait dengan pelayanan klinik dapat diperoleh. Sistem manajemen ISO 9000 berperan dalam memberikan kerangka kerja yang jelas untuk menetapkan sumber daya yang dibutuhkan. Standar 5. Komunikasi Belum terdapat bukti bahwa kebijakan peningkatan mutu pelayanan klinik dan strategi pencapaiannya dikomunikasikan dengan tepat kepada para staf dan juga kepada publik (masyarakat/pasien). Hal ini berakibat tidak seluruh staf mengerti dan mematuhi kewajiban untuk menerapkan clinical governance . Sebenarnya dokumen mutu ISO 9000 milik RS temasuk dokumen rekaman mutu ISO 9000 dapat menjadi referensi mengenai penerapan peningkatan mutu pelayanan klinik yang ada di RS. Standar ISO 9000 sebenarnya mensyaratkan agar RS mempunyai sistem komunikasi yang diatur dengan baik untuk memastikan bahwa konsep peningkatan mutu pelayanan (termasuk pelayanan klinik) telah di sosialisasikan kepada seluruh staf RS, namun komunikasi belum dilakukan kepada para stakeholders dan konsumen (pasien/keluarga). Standar 6. Pengembangan dan pelatihan profesional Seluruh staf klinik, terutama dokter spesialis telah mendapatkan informasi yang cukup mengenai pelatihan ataupun pengembangan profesi, namun keputusan untuk menghadiri kegiatan tersebut diserahkan kepada mereka dan RS hanya mendukung dalam bentuk pemberian izin. Pelatihan dan pengembangan profesional yang diikuti umumnya mengenai pengetahuan klinik dan sangat jarang mengenai manajemen klinik. Tidak tersedia catatan tentang keikutsertaan dalam program pelatihan dan pengembangan serta tindak lanjut sesudah pelatihan, yang tersedia hanya catatan kehadiran untuk perawat. Terdapat program orientasi bagi staf baru, namun program ini terbatas, tidak meliputi para dokter dan dokter spesialis. Materi program orientasi juga tidak memuat konsep clinical governanace. Program pengembangan dan pelatihan telah ada sejak akreditasi RS, namun dengan penerapan ISO

9000 maka program ini ditata ulang kembali sesuai dengan klausul ISO 9000 tentang sumber daya manusia termasuk penentuan program pelatihan dan monitoring dan evaluasinya bagi para staf. Standar 7. Pengukuran efektivitas Kedua RSUD telah memiliki sasaran mutu untuk setiap unit pelayanannya, termasuk pelayanan klinik. Beberapa indikator klinik yang digunakan seperti: angka kematian, waktu tunggu (respon time) di instalasi gawat darurat, ketepatan hasil pemerikasaan di laboratorium, dan angka infeksi nasokomial di rawat inap. Sasaran mutu pelayanan klinik tersebut telah ditentukan targetnya dan diukur pencapaiannya secara berkala. Hasil pencapaian dianalisis untuk kemudian disusun rencana tindak lanjut, sehingga proses countinuous improvement berjalan. Hasil dari pencapaian kinerja klinik ini telah dimasukkan ke dalam laporan tahunan kegiatan RS, namun belum diletakkan secara khusus pada bagian clinical governance. Peran ISO 9000 adalah dengan mewajibkan seluruh unit/bagian memiliki sasaran mutu dengan target pencapainnya masing-masing, dengan adanya kewajiban menjalankan proses audit internal maka ISO 9000 mendorong adanya laporan dan tindak lanjut dari pencapaian sasaran mutu atau indikator kinerja. PEMBAHASAN Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di RS Pandangan RS terhadap mutu pelayanannya telah mengalami evolusi, yang semula mutu pelayanan tidak diperhatikan (era tanpa mutu) hingga kini menjadi hal yang utama (era manajemen mutu terpadu) yaitu keterlibatan manajemen puncak sangat besar dan menentukan. Era ini dapat didefinisikan sebagai sistem manajemen strategi dan integratif yang melibatkan semua manajer dan karyawan, serta menggunakan metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperbaiki secara berkesinambungan proses-proses RS agar dapat memenuhi dan melebihi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan, dikenal sebagai TQM. Rumah sakit (RS) yang benar-benar akan melaksanakan TQM harus berusaha menyusun sistem manajemen mutu yang baik yang dapat dikembangkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengadopsi standar sistem manajemen mutu ISO 9000. Standar ini telah dikembangkan sejak tahun 1970-an hingga diterbitkannya standar sistem manajemen mutu versi pertama yaitu standar ISO 9000:1987 yang memuat peraturan dan model

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l

125

Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000

yang ketat dan cepat untuk dapat diikuti oleh sebuah organisasi.7 Versi terbaru standar sistem manajemen mutu yaitu standar ISO 9000:2000 didasarkan pada delapan prinsip manajemen mutu yang berintegrasi dalam klausul-klausulnya8 dan dapat diterapkan di RS, yaitu: fokus kepada pelanggan, kelangsungan hidup RS sangat tergantung bagaimana pandangan pelanggan/pasien terhadap RS. Perlu dipastikan adanya keseimbangan antara kepuasan pelanggan dengan pihak lain yang berkepentingan, seperti pemilik, karyawan, pemasok, pemodal, masyarakat, dan negara. Kepemimpinan, merupakan kemampuan dari pemimpin RS untuk menciptakan visi, serta menciptakan dan memelihara lingkungan internal agar semua staf tetap terlibat dalam mencapai sasaran. Keterlibatan staf, dalam semua tingkatan untuk aktif dalam melihat peluang dalam peningkatan kompetensi, pengetahuan, dan pengalaman. Pendekatan proses, didefinisikan sebagai kumpulan aktivitas yang saling berhubungan atau mempengaruhi yang terdapat perubahan dari input menjadi output. Ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu apakah input memadai, apakah proses yang dilakukan efektif dan efisien dan adakah langkah penambahan nilai dari input, serta apakah output yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan. Pendekatan sistem untuk pengelolaan, sistem merupakan kumpulan dari proses, sehingga diperlukan pengidentifikasian, pemahaman, dan pengelolaan sistem dari proses yang saling terkait untuk mencapai dan meningkatkan sasaran organisasi. Peningkatan berkesinambungan, untuk menjamin adanya peningkatan yang terus-menerus setelah terlebih dahulu dilakukan proses stabilisasi terhadap hasil yang telah dicapai. Pembuatan keputusan berdasarkan fakta, keberadaan data dan informasi yang akurat, dapat dipercaya, mudah diakses, serta kegiatan menganalisis data dan informasi dengan menggunakan metode dan teknik statistik yang benar akan membuat keputusan yang tepat. Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok, dimulai dengan mengidentifiaksi dan menyeleksi pemasok, hingga memberikan masukan serta menghargai adanya peningkatan presetasi dari pemasok. Penerapan Clinical Governance melalui sistem manajemen ISO 9000 Meski sebelumnya telah disinggung “putus asanya” pengambil keputusan dan manajer sarana pelayanan kesehatan di Inggris untuk

mengimplementasikan TQM pada pelayanan kliniknya, namun apabila dilihat dari delapan prinsip manajemen mutu di atas dan membandingkannya dengan prinsip dasar dan standar clinical governance , maka sebenarnya pengambil keputusan dan manajer tersebut bukannya “putusasa” namun melakukan modifikasi TQM/sistem manajemen mutu ISO 9000 secara lebih detail agar dapat diimplementasikan dalam bidang klinik dan menjadi dasar dari konsep clinical governance. Hal ini juga terlihat dari hasil penelitan di atas yang memperlihatkan peran sistem manajemen mutu ISO 9000 dalam penerapan dasar-dasar clinical governance. Penerapan clinical governance membutuhkan perubahan budaya dan juga struktur organisasi serta dukungan dari para praktisi, juga perlu adanya sumber daya untuk mendukung para praktisi terlibat dalam kegiatan peningkatan mutu yang tidak saja menggunakan pedekatan peningkatan mutu tradisional (misalnya dengan pelaksanaan audit atau pemberian insentif) tetapi juga menggunakan pendekatan yang mendorong pembelajaran organisasi dan saling berbagi pengalaman.9 Seluruh konsep tersebut: perubahan budaya, keterlibatan seluruh staf, dukungan sumber daya dan pembelajaran organisasi merupakan konsepkonsep yang juga diterapkan di ISO 9000. Untuk membangun clinical governance juga diperlukan adanya proses pelayanan klinik dengan ciri: fokus kepada pasien, menggunakan pendekatan peningkatan mutu yang terintegrasi, melibatkan team work multidisplin yang efektif, saling berbagi informasi, dan adanya budaya keterbukaan dan saling mendukung untuk belajar dari kesalahan10; Berbagai konsep pelaksanaan proses tersebut pada dasarnya juga menjadi proses yang dipersyaratkan oleh standar ISO 9000. Secara jelas peran ISO 9000 dapat dilihat dari hasil penelitian di atas dan penerapan clinical governance menurut pendapat Halligans dan Donaldson2 sebagai berikut: Membangun kepemimpinan yang efektif: yaitu dengan menyusun visi, nilai, dan metode untuk meningkatkan mutu pelayanan klinik serta disosialisasikan dengan efektif ke seluruh staf (klinik). Di samping itu, juga dilakukan dengan memberdayakan team-work, membangun budaya keterbukaan dan budaya untuk selalu mempertanyakan/mencari kebenaran, serta memastikan bahwa hal-hal tersebut di atas terlaksana dalam kegiatan sehari-hari dalam setiap pelayanan kesehatan.

126

l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam penerapan standar clinical governance dalam akuntabilitas pelayanan klinik, yaitu dengan menegaskan tanggung jawab pemimpin (direktur) dalam kegiatan peningkatan mutu serta dengan menunjuk wakil manajemen (management representatif) yang bertanggung jawab dalam teamwork peningkatan mutu dan efektivitas sistem manajemen mutu termasuk budaya keterbukaan dan integrasi kegiatan mutu dalam kegiatan sehari-hari. Merancang pelayanan yang baik: adalah suatu hal yang penting untuk melihat dan mengevaluasi kembali bagaimana proses pelayanan klinik yang selama ini diberikan. Rumah Sakit (RS) yang akan mewujudkan clinical governance dapat memulai dari sesuatu yang baru atau memodifikasi pelayanan kepada pasien secara spesifik. Hal ini termasuk bagaimana melihat persyaratan pasien, bagaimana proses pelayanan kesehatan dirancang untuk memenuhi persyaratan tersebut (tanpa menyampingkan persyaratan operasional), dan bagaimana rancangan dan proses pelayanan tersebut dapat dikoordinasikan serta diuji-coba untuk memastikan tidak ada masalah. Bagian integral lainnya adalah proses manajemen untuk menilai bagaimana rancangan tersebut dapat dievaluasi dan diitingkatkan kinerjanya. Peran ISO 9000 dalam membangun akuntabilitas pelayanan klinik juga dilakukan dengan memetakan proses pelayanan. Melalui peta proses pelayanan tersebut dapat dilihat dan dievaluasi proses pelayanan klinik yang diberikan, untuk selanjutnya dapat ditingkatkan kinerja pelayanan klinik. Menyusun rencana mutu: clinical governance tidak dapat dilakukan hanya dengan mengerjakan apa yang “kelihatan/kira-kira” benar. Rumah Sakit (RS) harus memiliki rencana untuk meningkatkan mutu pelayanan kliniknya, rencana tersebut harus berdasarkan penilaian yang objektif akan kebutuhan pelanggan/pasien, risiko klinik, persyaratan dari regulasi yang ada, kemampuan staf, kebutuhan pelatihan, dan perbandingan terhadap kinerja pelayanan klinik yang telah diberikan selama ini dengan standar kinerja yang terbaik. Fokus kepada pasien: RS harus memahami bagaimana informasi dan umpan-balik yang berasal dari lapangan terutama dari pasien dapat digunakan untuk mengukur dan meningkatkan mutu pelayanan. Peran serta pasien akan mempengaruhi proses yang kemudian akan dapat meningkatkan mutu/kinerja, sehingga seluruh staf harus mengambil fokus kepada

pasien dalam setiap pekerjaan mereka, mulai dari dokter yang mendiskusikan pilihan terapi kepada pasien, perawat yang memastikan bahwa pasien dapat mengerti mengenai tujuan perawatan yang diberikan, hingga manajer RS yang mengalokasikan waktu di bangsal untuk melihat pelaksanaan pelayanan klinik diberikan dan mendengar komentar pasien. Hasil penelitian di atas juga memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam kedua hal ini, terutama dengan mendukung standar kebijakan dan strategi dari peningkatan mutu pelayanan klinik/clinical governance, yaitu dengan mengharuskan RS memiliki kebijakan mutu yang menjadi acuan dalam penyusunan sasaran atau target mutu di setiap unit pelayanan termasuk pelayanan klinik. Penetapan sasaran ini menggunakan pendekatan fokus kepada pasien (persyaratan pelanggan) dan regulasi yang ada. Orang biasa yang mengerjakan hal luar biasa: Para staf yang bekerja di RS harus menunjukkan kemampuan untuk memberikan konstribusi yang terbaik secara individu maupun bersama dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Salah satu langkah untuk menuju hal ini adalah dengan pendidikan dan pelatihan. Namun tidak hanya sekedar hal tersebut, perlu ada upaya untuk memastikan bahwa para staf merasa di hargai, ada peran mereka dalam keputusan kebijakan mengenai clinical governance, dan manajemen terbukti telah mencoba untuk mengatasi masalah-masalah mereka serta memperhatikan mereka dengan mencari ideide untuk melakukan peningkatan dan inovasi dalam bidang pelayanan klinik. Para staf juga memerlukan dukungan teknis yang tepat, misalnya akses kepada evidence-based, terakhir perlu membangun budaya yang bebas dari budaya saling menyalahkan dan mendorong kepada penilaian terbuka terhadap kesalahan dan kegagalan. Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam penerapan standar clinical governance untuk pengembangan dan pelatihan profesional, yaitu dengan mengharuskan RS menilai, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pengembangan dan pelatihan bagi para stafnya. Di samping itu, ISO 9000 berperan dalam membangun keterlibatan staf dalam peningkatan mutu, yaitu melalui kebijakan yang dituangkan didalam dokumen manual mutu yang mengatakan bahwa seluruh staf turut terlibat dalam upaya peningkatan mutu. Namun demikian, penelitian di atas belum mendapatkan bukti bahwa ISO 9000 dapat berperan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l

127

dan implementasi. pemahaman: RS harus membangun cara memilih.au/safetyandquality/ 7. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Aspek Strategis Manajemen Rumah-Sakit: Antara Misi Sosial dan Tekanan Pasar. Seminar Menuju Pelayanan Rumah Sakit Yang Bermutu Melalui Good Clinical Governance. hasil penelitian di atas belum menunjukkan adanya penerapan standar komunikasi yang efektif untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan klinik. 2001. 09. Andi Offset. Suardi. 2000. L. Campbell. London. No. MMR UGM. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Magister Manajemen Rumahsakit Universitas Gadjah Mada dan WHO-Alliance for Health Policy and Systems Research yang telah menyediakan dana dan fasilitas dalam penelitian ini. BMJ. Memastikan adanya keberhasilan: kemampuan untuk mengukur mutu dari pelayanan yang dilakukan adalah hal penting dalam implementasi clinical governance. 3 September 2006 . Quality and Safety Health Care Journal. I.health. Swage. Clinical Governance Standards for Western Australian Health Services Information Series No.gov. ISO 9000 dalam penelitian di atas memperlihatkan peran dalam penerapan standar pengukuran efektivitas. up to date. KESIMPULAN DAN SARAN Sistem manajemen mutu ISO 9000 dapat membantu penerapan konsep dasar clinical governance di RS terutama dalam penerapan standar: akuntabilitas pelayanan klinik.wa. dan menggunakan secara efektif informasi dan data untuk mendukung keputusan yang terkait dengan kebijakan dan proses pelayanan klinik. maka RS dapat menggunakan sistem manejemen mutu ISO 9000 untuk menerapkan konsep dasar clinical governance. 2005. Available from Web: http:/ /www. Campbell. 2003. analisis. PPM. 128 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Roland. mengelola. mengukurnya secara berkala. standar pengembangan dan pelatihan profesional. 16-18 Desember 2003 4. Jakarta. Clinical governance in health care practice. Sistem manajemen mutu ISO 9000 belum berperan secara efektif dalam membangun nonblame culture dan budaya lain yang diperlukan untuk mendukung penerapan clinical governance dan penerapan standar komunikasi dalam peningkatan mutu pelayanan klinik. 3. Donaldson. efektivitas dari inovasi dan sebagainya. Sistem manejemen mutu ISO 9000:2000: Penerapannya untuk mencapai TQM. Trisnantoro. Namun demikian.11:9–14. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut. Implementing clinical governance: turning vision into reality. 9. ISO 9001:2000 Quality Management Systems Requirements. 2002. dan indikator strategis seperti jumlah inovasi.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 dengan efektif dalam membangun non-blame culture dan budaya lain yang diperlukan untuk mendukung penerapan clinical governance. 1. kebijakan untuk keterlibatan seluruh staf dalam upaya peningkatan mutu. 5. Halligans. menetapkan target kinerja. 2001. namun perlu adanya upaya yang bersungguh-sungguh dalam penerapan standar ISO 9000 dalam pelayanan klinik. dan Wilin. Dwiprahasto. jumlah test yang terpaksa harus diulang. Yogyakarta. 2005. Yogyakarta. Utarini. Siswihanto. yaitu dengan menetapkan sasaran mutu termasuk sasaran mutu pelayanan klinik. pengorganisasian. tetapi efektivitas komunikasi pelayanan klinik juga dipengaruhi oleh sistem informasi yang saat ini sedang dibangun di kedua RSUD. 2000. Implementing clinical governance in English primary care groups/trusts: reconciling quality improvement and quality assurance. Clinical Governance: a convincing strategy for quality improvement?” Journal of Management in Medicine.15(3):188-201.4. 6. Clinical governance: konsep. Informasi dan data tersebut harus dipastikan valid. Modul Program Pengembangan Eksekutif. 2. Geneva. dan disajikan sedimikian rupa hingga mudah dipahami agar dapat menjadi petunjuk yang baik.. misalnya mengukur waktu tunggu. Government of Western Australia. meski sebenarnya ISO 9000 telah mengatur mengenai persyaratan komunikasi. Vol. KEPUSTAKAAN 1. Jakarta. 8. standar kebijakan dan strategi. Departement of Health. Internasional Standard Organization (ISO). melakukan analisis dan melaksanakan tindak lanjut dan perbaikan berkelanjutan.322:1413–7. 10. 2 Desember 2004. Butterworth-Heinemann. Informasi. Ed. dan penerapan standar pengukuran efektivitas pelayanan. Informasi ini merupakan hal yang penting bagi para staf untuk menunjukan seberapa baik mereka bekerja dan apakah masih ada kemungkinan untuk meningkatkan kinerja tersebut.

requiring evaluation of its implementation at the district level.0%. pemerintah sebagai pelaksana penyedia pelayanan kesehatan juga perlu mengembangkan model. Vol. strategi dan instrumen untuk membangun kemitraan antara lembaga pelayanan pemerintah (umumnya melalui puskesmas) dengan lembaga pelayanan selain puskesmas (misal rumah sakit pemerintah) dan pelayanan swasta khususnya dalam menjalankan program-program pemerintah. Proporsi terkecil adalah pada aspek governance dan manajemen. patient rights and hospital ethics. Out of four components evaluated in the licensing standard. sehingga memerlukan evaluasi implementasinya di tingkat kabupaten. effectiveness. menggunakan observasi dan wawancara mendalam dalam pengumpulan datanya. dua dari tiga rumah sakit swasta yang diteliti mempunyai izin dan satu diantaranya tidak mempunyai izin namun tetap operasional. Enam PENGANTAR Dalam reformasi kesehatan. Hospital licensing for public and private hospitals is one of the regulatory activities.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. No. Hanevi Djasri2. i. strategi implementasi serta instrumen berbagai kegiatan regulasi pelayanan kesehatan. employing observation and in-depth interview in two district hospitals and four private hospitals. yang bertujuan untuk menjamin keselamatan pasien.0% seperti yang seharusnya dipersyaratkan.e. two out of three private hospitals did have a license and one hospital was still in operation even without a license. hence. only patient right and hospital ethics that reached optimum level. Effectiveness was measured by hospital adherence to licensing standard. rumah sakit. meskipun ketiganya belum memenuhi persyaratan. hanya komponen hak pasien dan etika rumah sakitlah yang mencapai tingkat optimal. hospital licensing. studi kasus Keywords : health service regulation. efektivitas.e. hak pasien dan etika rumah sakit. Result: Compliance toward hospital licensing at district and private hospitals did not reach 100% as it should be. primarily delegated to the district level The shift of responsibility. Method: This is a descriptive study with embedded case study design. This study showed that implementation of hospital licensing regulation was not effective.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kesimpulan: Meskipun rumah sakit belum memenuhi persyaratan perizinan. case study research ABSTRAK Latar belakang: Dalam konteks good governance. Kata Kunci: regulasi pelayanan kesehatan. Instrumen yang digunakan berupa cek-lis yang dikembangkan dari standar perizinan rumah sakit. Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi perizinan rumah sakit belum efektif. terdiri dari empat komponen utama yaitu governance dan manajemen. Mechanisms for licensing of public hospitals have not yet been developed. terdiri dari dua rumah sakit kabupaten dan 4 rumah sakit swasta telah dipilih dari 1 kotamadia dan 1 kabupaten di DIY. Dari keempat komponen yang dinilai. Metode: Dilakukan penelitian studi kasus deskriptif dengan rancangan studi kasus terpancang. Kedua. services. 09. 3 September 2006 l 129 . yaitu 64.1 Beragamnya jenis dan kepemilikan fasilitas kesehatan mempunyai dua implikasi utama. pelayanan dan fasilitas fisik. Hasil: Kepatuhan terhadap perizinan rumah sakit di rumah sakit pemerintah dan swasta tidak mencapai 100.e. pemerintah mempunyai peran penting dalam regulasi.133 Artikel Penelitian STUDI KASUS DESKRIPTIF EFEKTIVITAS PELAKSANAAN REGULASI PERIZINAN RUMAH SAKIT UMUM DESCRIPTIVE STUDY ON THE EFFECTIVENESS OF HOSPITAL LICENSING REGULATION Inni Hikmatin1. i. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: In the context of good governance. government plays an important regulatory role to ensure patient safety. was problematic. i. 64. from mainly the central level to the district level. terutama di negaranegara sedang berkembang yang bukti-bukti terkininya masih terbatas. Objective: This study aimed to describe effectiveness of hospital licensing regulation in Yogyakarta Province. terutama didelegasikan ke tingkat kabupaten. perizinan rumah sakit. located in two districts. Pertama. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan rumah sakit untuk memenuhi standar perizinan di Provinsi DIY. Perizinan rumah sakit untuk rumah sakit pemerintah dan swasta merupakan salah satu aktivitas regulasi. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 129 . public-private mix menjadi komponen penting dalam setiap kebijakan kesehatan pemerintah di berbagai tingkatan dan dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen. governance and management. evaluated using a check-list developed from the 4 components in the licensing standard. Conclusion: Despite hospital non-compliance to the licensing standard. Adi Utarini3 Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM Yogyakarta 3 Magister Manajemen Rumah Sakit UGM. Hal ini tidaklah mudah dilakukan.0%. peran pemerintah sebagai regulator membutuhkan pengembangan model. aspect that was valued. and physical facilities. The lowest score was governance and management component. Perizinan untuk rumah sakit pemerintah belum diatur. Pendelegasian wewenang ini menimbulkan beberapa permasalahan.

Alat penelitian yang digunakan adalah checklist/instrumen perizinan rumah sakit untuk menilai kepatuhan rumah sakit terhadap pemenuhan persyaratan dalam standar perizinan. lintas sektor dan organisasi profesi. Kenyataannya. pelaksanaan kebijakan regulasi pemerintah saat ini tentang perizinan pelayanan kesehatan. Data yang disajikan pada makalah ini merupakan unit analisis terpancang pada tingkat rumah sakit. manajemen rumah sakit.90 4. Sumber: Profil Dinas Kesehatan Provinsi Tahun 2005 130 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.40 8. kerja sama lintas program. Penelitian ini mendeskripsikan efektivitas pelaksanaan regulasi perizinan rumah sakit umum dengan mengukur kepatuhan rumah sakit terhadap standar perizinan rumah sakit. serta pokok pertanyaan penelitian ini berkenaan dengan mengapa dan bagaimana. serta belum ada pembagian peran yang jelas antara dinas kesehatan kabupaten-kota dan provinsi.68 40. dengan latar belakang fisik bangunan/arsitektur. regulasi perizinan belum terfokus pada aspek profesionalisme melainkan administratif.30 2.70 26. dengan rancangan multikasus terpancang. 3 September 2006 . Pemilihan rumah sakit mempertimbangkan kepemilikan (swasta atau pemerintah) dan kelas (C dan D). BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif.80 3.34 29. Tabel 1. termasuk perizinan rumah sakit. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan proporsi pemenuhan terhadap persyaratan dalam standar perizinan rumah sakit. Aspek regulasi belum berjalan secara optimal. peneliti tidak memiliki peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diteliti.00 18. belum mencerminkan mutu pelayanan yang diberikan ataupun keamanan bagi masyarakat.01 3. Sebagai regulator.74 0. Alasan pemilihan studi kasus karena fokus penelitiannya terletak pada fenomena-fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata.3 Unit analisis dalam penelitian ini adalah dinas kesehatan kabupaten/ kota. dengan kriteria kabupaten yang telah memiliki Perda perizinan sarana pelayanan kesehatan dan telah mengeluarkan izin sarana (Kabupaten Bantul).05 TOI 3.10 8.00 65.96 1. 09. dkk. baik milik pemerintah ataupun milik swasta.90 3. serta kabupaten yang belum memiliki Perda perizinan (kotamadia). antara lain dinas kesehatan berperan melakukan pengawasan dan regulasi berbagai jenis fasilitas pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit. Dokumentasi berbentuk foto juga diambil untuk memperkuat data.63 NDR 0.20 2.Inni Hikmatin.00 * Terakreditasi 5 pelayanan.90 4.57 3.00 2. dan menangani regulasi pelayanan di dinas kesehatan provinsi.13 63. lembaga masyarakat masih sangat terbatas. Pemilihan dinas kesehatan di tingkat kabupaten dilakukan secara purposif. Dengan desentralisasi kesehatan. maka fungsi dinas kesehatan sebagai penetap kebijakan dan regulator bidang kesehatan harus semakin dikembangkan.40 0.: Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Perizinan merupakan salah satu mekanisme regulasi mutu pelayanan untuk menjamin bahwa lembaga pelayanan atau individu tenaga kesehatan tersebut dapat memenuhi standar kompetensi minimal untuk melindungi keselamatan publik.23 56.28 GDR 0. Vol.62 2. Tim penilai terdiri dari tiga orang. No. Penilaian instrumen ini dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara terhadap pihak rumah sakit. Data Karakteristik Enam Rumah Sakit yang Diteliti RS 1 2 3 4 5 6 Izin/Akreditasi* -/+/-/+ -/+ +/+ -/- Kepemilikan ABRI Swasta Pemerintah Pemerintah Swasta Swasta Tipe RS C D C C D D Jumlah TT 65 50 124 131 111 16 BOR 59.02 0.21 LOS (hari) 5.60 56.49 4.

Regulasi lisensi dikembangkan untuk menjamin bahwa individu dan/ Tabel 2. hak pasien dan etika rumah sakit telah memenuhi persyaratan perizinan.42 90. aspek yang lain belum memenuhi.80 76.43 RS 4 80. terendah di rumah sakit enam. rumah sakit keenam hanya mencapai lebih kurang separoh dari persyaratan pada aspek governance dan manajemen serta pelayanan. 4 Perizinan rumah sakit merupakan regulasi eksternal yang diterapkan bagi seluruh rumah sakit (pemerintah ataupun swasta) yang bertujuan untuk melindungi keselamatan masyarakat melalui penerapan standar input minimal yang harus dipenuhi sejak pendirian. 3 September 2006 l 131 . Padahal selama ini kebijakan atau peraturan perizinan rumah sakit adalah bagi rumah sakit swasta.58 64.00 94.92 85. 09.77%). Rumah sakit tersebut berimbang dalam hal kelas rumah sakit (C dan D). justru belum diatur. serta untuk menetapkan bahwa pihak yang mengajukan izin pendirian rumah sakit mempunyai kualifikasi. Perizinan bagi rumah sakit pemerintah.00 77. lembaga pelayanan yang berizin mampu memenuhi persyaratan perizinan. latar belakang dan sumber daya yang memadai untuk memenuhi standar tersebut.99 100.97 89.99 Rumah Sakit RS 3 78. 100 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 86.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejumlah enam rumah sakit diteliti. Di antara enam rumah sakit tersebut.62 87. maka aspek sosial. namun bervariasi dalam hal kapasitas tempat tidur.27 100.04 Aspek governance & manajemen Aspek sosial. Dengan demikian. Tampak bahwa kesenjangan antarrumah sakit yang terbesar terdapat pada aspek governance dan manajemen (antara rumah sakit 4 dan 6).00 84.04 89. dengan variasi antara 78% 90%. Vol. 3 berada di wilayah kotamadia dan 3 berada di Kabupaten Bantul. Tingkat Pemenuhan (%) Dalam Setiap Komponen Standar Perizinan Rumah Sakit Apabila dilihat dari empat aspek dalam komponen standar perizinan rumah sakit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak seluruh rumah sakit yang telah operasional mempunyai izin dan rumah sakit yang berizin pun belum dapat memenuhi 100% persyaratan perizinan.17 RS 6 49.00 89. seharusnya seluruh lembaga pelayanan yang operasional mempunyai izin. hak pasien dan etika rumah sakit Aspek fisik dan bangunan rumah sakit Aspek pelayanan & klasifikasi rumah sakit Rata-rata tingkat kepatuhan rumah sakit terhadap persyaratan perizinan RS 1 52.00 89. kepemilikan (pemerintah dan swasta). penyelenggaraan hingga monitoring rumah sakit.92 79.5 Berdasarkan pemahaman di atas.19 78.08 53. dan aspek pelayanan dan klasifikasi rumah sakit (antara rumah sakit 3 dan 6). sedangkan bagi yang belum memenuhi persyaratan tentunya belum memperoleh izin.29 100. dengan pencapaian terendah pada governance dan manajemen.43%) dan terendah di rumah sakit milik swasta (71. Tingkat Pemenuhan (%) Rumah Sakit Terhadap Persyaratan Perizinan Standar Aspek governance & manajemen Aspek sosial.05 85.33 100.00 86.59 RS 5 61.60 100.03 71. Terdapat rumah sakit yang kapasitas tempat tidurnya tidak memenuhi persyaratan minimal (yaitu hanya 16 tempat tidur). tidak satu pun rumah sakit yang 100% memenuhi persyaratan perizinan rumah sakit.78 Dari enam rumah sakit yang diteliti. hak pasien dan etika RS Aspek fisik dan bangunan RS Aspek pelayanan & klassifikasi RS Gambar 1.85 RS 2 61.84 81. PEMBAHASAN Lisensi (perizinan) adalah suatu proses pemberian izin oleh pemerintah kepada individu dan/ atau lembaga pelayanan kesehatan untuk melaksanakan misinya.02 83. No. Rerata kepatuhan tertinggi justru terdapat pada rumah sakit umum milik pemerintah (90.77 100. sedangkan ketiga atau lembaga pelayanan kesehatan tersebut telah memenuhi standar minimal untuk melindungi keselamatan publik dan tenaga kesehatan. dapat dikatakan bahwa implementasi regulasi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

3 September 2006 . kapasitas. Untuk melaksanakan Undang-Undang No. No. dan regulatory enforcement. Direction bertujuan untuk mengarahkan fungsi pelayanan kesehatan melalui penyusunan. denda. dan diseminasi standar. KESIMPULAN DAN SARAN Melalui penilaian kepatuhan terhadap standar perizinan rumah sakit. Dengan demikian. perizinan tidak hanya dilakukan pada awal mulainya suatu rumah sakit (izin pendirian dan izin penyelenggaraan). penetapan. serta masyarakat terhadap standar dan prosedur. Vol. Informasi terkait dengan pemahaman pihak regulator. Untuk meningkatkan efektivitasnya. Ketiga unsur tersebut harus ada dalam suatu sistem regulasi pelayanan kesehatan. simetris tidaknya informasi yang dimiliki setiap pihak. namun tetap diperbolehkan untuk operasional. harus diantisipasi mekanisme khusus bagi rumah sakit untuk melakukan tindakan koreksi tersebut. penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi perizinan rumah sakit belum dilaksanakan secara efektif. baik secara administratif maupun dari aspek pemenuhan standarnya. serta struktur organisasinya. dkk. detection. perlu dipertimbangkan pemberian kembali izin operasional rumah sakit dan kesempatan bagi rumah sakit untuk memperbaikinya. pemahaman dan keterampilan sumber daya manusia terhadap standar dan pelaksanaan penilaian. 09. sampai dengan persyaratan perizinan dapat dipenuhi kembali. RS 4 dan RS 5) adalah rumah sakit yang telah terakreditasi oleh KARS (dua RS pemerintah dan satu rumah sakit swasta). rumah sakit keenam mempunyai kepatuhan yang terendah dalam memenuhi persyaratan perizinan serta tidak lagi memenuhi persyaratan kapasitas tempat tidur rumah sakit. Kapasitas menyangkut ketersediaan sumber daya di pihak regulator. media dan asosiasi profesi dan sumber-sumber konflik. Dalam kondisi demikian. kredibilitas dan efektivitas sistem sanksi. Agar peran regulasi pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan secara efektif. otoritas dan konteks. pemahaman departemen kesehatan. Hal ini dapat menjelaskan mengapa tingkat kepatuhannya relatif tinggi. monitoring laporan.Inni Hikmatin. akan tetapi rumah sakit tidak dapat secara penuh memberikan pelayanannya. sehingga diperlukan mekanisme evaluasi dan monitoring yang harus selalu dilakukan secara rutin dan berkala untuk mengetahui apakah proses penyelenggaraan pelayanan kesehatan tersebut masih tetap memberikan pelayanan sesuai standar atau ada perubahan dalam perjalanannya. sedangkan konteks dapat dikaitkan dengan konteks politik. kekuatan lembaga konsumen. Sebagai contoh. maupun intervensi manajemen.: Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan perizinan bagi rumah sakit umum swasta pun belum efektif. Izin suatu pelayanan kesehatan bisa diterbitkan setelah dilakukan kunjungan inspeksi dan ternyata memang sebuah pelayanan kesehatan tersebut telah memenuhi persyaratan ataupun standar perizinan maka izin untuk melakukan pelayanan kesehatan bisa segera diterbitkan. dinas kesehatan provinsi dan kabupaten terhadap faktor-faktor di atas dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas regulasi pelayanan. Detection adalah kegiatan penilaian atau pengukuran kinerja pelayanan kesehatan dengan cara inspeksi. menarik untuk dicermati bahwa ketiga rumah sakit tersebut pun belum dapat mencapai 100% persyaratan dalam standar perizinan rumah sakit. terdapat empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam desain dan implementasi regulasi. serta transparansi informasinya. Berbagai mekanisme ini perlu dikembangkan dengan tujuan tetap menjaga keselamatan pasien dan memberi kesempatan pada rumah sakit untuk perbaikan. pelayananpelayanan tertentu (seperti halnya rawat jalan) dapat tetap dilaksanakan. Monitoring bermanfaat untuk mengetahui apakah setiap saat rumah sakit tetap memenuhi persyaratan perizinan serta apabila tidak lagi memenuhi persyaratan tersebut. pihak yang diregulasi. umpan balik penilaian dan monitoring perizinan. Di antara enam rumah sakit tersebut. baik di daerah yang telah memiliki Perda dan mengeluarkan izin sarana ataupun yang belum memiliki Perda. Walshe6 menyatakan bahwa peran regulasi pelayanan kesehatan meliputi direction. Di beberapa negara. tiga rumah sakit dengan tingkat kepatuhan tinggi (yaitu RS 3. informasi yang jelas tentang prosedur dan mekanisme perizinan bagi di pihak dinas kesehatan 132 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.7. Meskipun demikian. perlu diperhatikan aspek desain regulasi perizinan rumah sakit. Otoritas meliputi kejelasan mengenai otoritas pihak yang meregulasi dan diregulasi. sosial ekonomi dan budaya. 32/2004 9 dalam konteks good governance di bidang kesehatan10. sedangkan regulatory enforcement dilakukan dengan penerapan sanksi.8 Faktor tersebut adalah informasi. dan investigasi. kejelasan antara peran pemerintah pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten). akan tetapi perlu dikembangkan pula mekanisme dan persyaratan untuk monitoring perizinan. pembatasan layanan. Tahap berikutnya setelah izin diterbitkan adalah melihat proses pelayanan dan menilai kinerja institusi pelayanan kesehatan tersebut.

Gilson. 15(4): 347-8. L. A. 2004. The new Public/Private Mix In Health: Exploring The Changing Landscape. Licensing. 2000. Accreditation and Certification: Approaches To Health Services Quality.. Sage Publications. Quality Assurance Methodology Refinement Series. Yin. USA. & Thomas. van. Departemen Kesehatan. L. Soderlund. Health Policy and Planning. Utarini. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. P. No. 1994. 3. Gadjah Mada University Press. kapasitas dinas kesehatan kabupaten untuk melakukan survei dan monitoring perizinan. Jakarta. C. Alternatif Strategi Pelaksanaan Peran Regulasi Pascadesentralisasi Di Daerah. Trisnantoro. 9.. 2. Bethesda MD. 15 (4): 368377.. In: Soderlund. Do they work? Regulating For-Profit Providers in Zimbabwe. V. Departemen Kesehatan. Health Policy and Planning. Kumaranayake. C dan D. 5. Regulating Healthcare. Draft Standar Perizinan Rumah Sakit Umum Klas B. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2003. Philadelphia. S.K. London. Health Sector Regulation – Understanding the Range of Responses from Government. & Ostenberg. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi Dalam Manajemen Rumah Sakit. 6. 8. L.R. Tangcharoensathien. 1999. Hongoro. N. Open University. KEPUSTAKAAN 1. serta otoritas perizinan rumah sakit. 3 September 2006 l 133 . 2004. Quality Assurance Project. A Prescription for Improvement. 2000. Introduction: Intervening in The Public/Private Mix. 09.L. R. 4. 2003. Case Study Research: Design and Methods. 10. 2005. Mendoza-Arana and Goudge (eds). 2004. 7. Walshe. Vol. Geneva: Alliance For Health Policy And Systems Research. K. Yogyakarta.. A.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai regulator dan rumah sakit. 7(2): 61-8. Rooney.

3 September 2006 . kemampuan Perencanaan.e: Commitment of decision makers. Sedangkan faktor PAD tidak mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak. 25/1999 dan disempurnakan oleh UU No.542. Kantor Dinas Kesehatan. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.00 per kapita per tahun.Pontianak District fiscal year 2006 is Rp47.99% from total APBD. No. Vol. BPKD. RSUD dan Kantor Bappeda.145 Tisa Harmana. Dana Perimbangan. Content of the data were verified and analyzed using triangulation method. This study was conducted in city of Mempawah. 134 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.542.00 per kapita per tahun. 09. 03 September l 2006 Halaman 134 . Depok 1 ABSTRACT Background: District health financing patterns varied among many local governments in Indonesia associated to the size of the budget and its allocation. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa total anggaran untuk pembiayaan kesehatan bersumber pada APBD Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 adalah Rp47. Faktor-faktor pembiayaan kesehatan daerah dihubungkan dengan besarnya jumlah anggaran dan alokasi pembiayaan. Program Intervention Chosen. Rubini Kabupaten Pontianak 2 Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan. other Legal Income. local government funds. i.000.00 or 8. Planning Ability. Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besaran pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui pemanfaatan alokasi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006. from April to May 2006.542. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dan diverifikasi dengan menggunakan metode triangulasi. alokasi anggaran kesehatan daerah Key words : health decentralization. The main source of district health financing is from local government funds (APBD). laporan kesehatan daerah.99% dari total APBD. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah membawa perubahan kepada semua bidang pembangunan tidak terkecuali kesehatan. dkk. district health account.60. dan Keseimbangan antara Mata Anggaran. Universitas Indonesia. City and District Health Offices. Results: The results of the study showed factors associated with district health budget allocation of Pontianak District year 2006. Kata Kunci : desentralisasi kesehatan. Health Problem Priority. Adisasmito2 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Informasi Alur Pembiayaan. Pembiayaan kesehatan per kapita per tahun di Kabupaten Pontianak tahun 2006 berdasarkan belanja publik adalah sebesar Rp34. This value is still under World Bank standard i. Method: This was a qualitative study to find out factors associated to district health financing and budget allocation in Pontianak District which based on APBD fiscal year 2006. Wiku B.e Rp51. Funds Allocation. Primary data was collected by indepth interview and secondary data was collected from documentation in DPRD.000.22 dan No. Penelitian dilakukan di Kota Mempawah Kabupaten Pontianak selama 1 PENGANTAR Kebijakan otonomi daerah yang mulai diberlakukan melalui Undang-Undang (UU) No. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak tahun 2006 adalah : Komitmen Daerah.579. Fakultas Kesehatan Masyarakat. The Original District Income (PAD) was not associated with district health budget allocation in Pontianak District. Prioritas Masalah Kesehatan. Pontianak. Menurut Mardiasmo1 perubahan pada bidang kesehatan secara garis besar terdiri dari dua hal yaitu : 1) perubahan dalam sistem dan proses organisasional yang terdiri dari pembangunan kebijakan kesehatan (health policy development).000.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No.000. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam dan data sekunder didapatkan dari penelusuran dokumen yang berada di DPRD.60.00. kemampuan Advokasi.00 per capita/year bulan.579. pemilihan Intervensi Program. Sumber utama pembiayaan kesehatan daerah berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). yaitu mulai awal April sampai awal Mei 2006. Information of Financing Flow. distric health budget allocation ABSTRAK Latar Belakang: Pembiayaan kesehatan daerah mempunyai pola yang berbeda pada banyak pemerintah daerah di Indonesia.00 atau 8. Lain-lain Pendapatan yang Sah. and Balancing Budget Alocation.542. pembiayaan kesehatan daerah. kemampuan Perencanaan.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Artikel Penelitian FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN KESEHATAN DAERAH BERSUMBER ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN 2006 FACTORS ASSOCIATED WITH LOCAL HEALTH FINANCING FROM LOCAL GOVERMENT BUDGET OF PONTIANAK DISTRICT 2006 Tisa Harmana1. Advocacy. nilai ini masih jauh dari nilai standar yang ditetapkan oleh World Bank sebesar Rp51. Conclusion: The results showed total budget for health originating from local government funds (APBD) . Funds allocated per capita/year is Rp34. Local General Hospital and Local Development Office. BPKD.

Indonesia berada pada peringkat 102 di antara 190 negara di dunia dan pada tahun 2003 peringkat Indonesia turun menjadi peringkat ke-112.951. Kasus kematian ibu melahirkan pada tahun 2002 sebanyak 20 kasus. tahun 2004 balita dengan status gizi buruk 1.933. efisiensi dan kualitas pelayanan.83% dari total pembiayaan kesehatan daerah. di Kabupaten Sleman tahun 2002 APBD memberikan kontribusi 74. sedangkan untuk Provinsi Kalimantan Barat.911.158 26.03% dari total pembiayaan kesehatan daerah dan pada tahun 2003 APBD memberikan kontribusi 82. No.64% dari total pembiayaan kesehatan daerah. Tabel 1 menunjukkan perbandingan alokasi APBD bidang kesehatan Kabupaten Pontianak tahun 2003-2005. untuk wilayah Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat APBD tahun 2004 memberikan kontribusi 69.358 21. jika dibandingkan setelah era otonomi pada tahun 2003 menunjukkan bahwa rata-rata pembiayaan kesehatan Indonesia berkisar US$ 12 sampai US$ 18 per kapita per tahun. tahun 2004 sebanyak 71 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Juli terdapat 49 kasus. Perbandingan Alokasi APBD Bidang Kesehatan Kabupaten Pontianak Tahun 2003-2005 Tahun Anggaran 2003 2004 2005 Total APBD (ribuan Rp) 315. di Kabupaten Tangerang APBD memberikan kontribusi 74. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. perencanaan dan alokasi sumber daya ( planning and resource allocation).7 di Kota Depok APBD memberikan kontribusi 50% dari total pembiayaan kesehatan daerah 8. Profil kesehatan pada Kabupaten Pontianak disebutkan bahwa kasus kematian bayi pada tahun 2001 sebanyak 75 kasus. tahun 2002 sebanyak 110 kasus. Angka kematian bayi tahun 2003 terdapat 47.6 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi sumber yang memiliki proporsi yang berimbang dengan sumber-sumber lain dan bahkan di beberapa daerah menjadi sumber terbesar dalam pembiayaan kesehatan daerah. tahun 2003 sebanyak 102 kasus. namun masih tertinggal jauh dibanding status kesehatan negara-negara tetangga ASEAN. Status gizi masyarakat tahun 2003 gizi balita buruk 1.26 Sumber : Diolah dari APBD tahun 2003-2005.24% dari total pembiayaan kesehatan daerah 6.76 8.223 Alokasi Anggaran Kesehatan (ribuan Rp) 21.5 Kebijakan otonomi khususnya desentralisasi kesehatan menuntut adanya perbaikan sistem pembiayaan dan manajemen keuangan daerah yang masalah pembiayaan kesehatan daerah selalu menjadi hambatan utama dalam mewujudkan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan kebutuhan penghitungan dan informasi (needs assesment and information). 09. Kebijakan otonomi yang belum begitu siap diterima oleh beberapa daerah di Indonesia membawa implikasi pada menurunnya alokasi anggaran kesehatan.342 % 6.801. Thailand 29 per 1000 kelahiran hidup dan Philipina 36 per 1000 kelahiran hidup. koordinasi antarsektoral ( intersectoral coordination) dan partisipasi masyarakat (public participation). 2) keadilan. Pembiayaan kesehatan belum dapat memperbaiki indikator kesehatan masyarakat secara umum. tahun 2004 sebanyak 11 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Juli sebanyak 6 kasus.676 326. Vol. APBD memberikan kontribusi 49. jika dibandingkan dengan Malaysia hanya 11 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini didukung data dari WHO tahun 20003 bahwa Indonesia pada tahun 1998 mempunyai angka kematian bayi yang masih tinggi yaitu 48 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini bisa disebabkan oleh pembiayaan yang tidak cukup dan berdampak pada kualitas dari pelayanan kesehatan. Proporsi alokasi kesehatan terhadap APBD di satu sisi telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 6% pada tahun 2003 menjadi 8% pada tahun 2005.20% dari total pembiayaan kesehatan daerah9.865. Dampak yang ada menurut Departemen Kesehatan (Depkes)4 dari hasil pengukuran indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) tahun 2000.90 6. pembiayaan dan manajemen keuangan (financing and financial management).10 Alokasi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari APBD Kabupaten Pontianak mengalami peningkatan dari tahun 2003 sampai tahun 2005 terhadap total APBD kabupaten. Hal ini merujuk kepada data Health World Report 20002 bahwa total pembiayaan kesehatan Indonesia pada tahun 1997 sebelum era otonomi sekitar US$ 21 per kapita per tahun. 3 September 2006 l 135 .267 323. Status kesehatan penduduk Indonesia setelah pembangunan kesehatan selama tiga dekade lalu mengalami kemajuan yang cukup pesat.14 per 1000 kelahiran hidup dengan umur harapan hidup pada tahun 2002 di Kabupaten Pontianak adalah 61.412. tahun 2003 tercatat 22 kasus. Di Kabupaten Lampung Selatan. perencanaan dan manajemen sumber daya manusia (human resources planning and management). Tabel 1.24% sedangkan tahun 2005 sampai bulan Juli ditemukan 284 kasus anak dengan gizi buruk. HDI yang diperoleh adalah urutan ke-27 dari 30 provinsi yang ada di Indonesia.62 tahun.16%.

00 atau sekitar 81.09% dari total belanja APBD. Penelitian dilaksanakan di Kota Mempawah sebagai pusat pelayanan administratif dan Ibukota Kabupaten Pontianak selama satu bulan yaitu dimulai pada awal bulan April sampai dengan awal bulan Mei 2006. BPKD.22% dari total pendapatan. Pendapatan daerah melalui sebesar Rp21.586. dkk. Meskipun pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak per kapita per tahun pada tahun 2005 telah diketahui.617.07% dari total pendapatan. skala prioritas masalah kesehatan.500.027.182.000. yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan data sekunder yang diperoleh dari DPRD.00 per kapita per tahun.000. tetapi faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan pada tahun 2006 serta pemanfaatan alokasi APBD terhadap pembiayaan sektor kesehatan yang dimulai dari sumber-sumber pembiayaan sampai dengan bagaimana biaya tersebut digunakan dan kepada siapa biaya tersebut diperuntukkan masih belum diketahui.00 atau sekitar 1. keseimbangan alokasi antara mata anggaran.483.787. Berdasarkan penjelasan di atas.00 yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).485. 3 September 2006 . dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. kecamatan sampai tingkat kabupaten. sedangkan anggaran belanja adalah sebesar Rp528. yang terdiri dari variabel: komitmen daerah. No. Data yang telah dikumpulkan diverifikasi dan dianalisis menggunakan metode triangulasi. 2.Tisa Harmana.00 atau sekitar 15. Kemampuan perencanaan/proses RASK.71% dari total pendapatan. Gambaran APBD Kabupaten Pontianak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pontianak untuk tahun anggaran 2006 terdiri dari anggaran pendapatan sebesar Rp531.000. Informan dari tim anggaran eksekutif berasal dari instansi BPKD yang merupakan sekretaris tim dan dari instansi BAPPEDA adalah anggota tim bidang operasional pemeliharaan dan belanja modal. sedangkan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp6. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam.00 atau sekitar 0.273. RSUD dan kantor Bappeda untuk mendapatkan dokumen daerah yang berkaitan dengan penelitan. 09. Anggaran belanja terdiri dari belanja aparatur daerah sebesar Rp84.289. Perencanaan terdokumentasi ke dalam Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) yang diajukan oleh setiap instansi termasuk dinas kesehatan dan RSUD sebagai sektor utama kesehatan.629.00 atau sekitar 2.000. 1 orang dari panitia anggaran legislatif (DPRD) dan 3 orang dari instansi pengusul (2 orang dari Dinas Kesehatan dan 1 orang dari RSUD dr.00 atau sekitar 94.103.757.954. sedangkan standar pembiayaan kesehatan di negara-negara berkembang menurut World Bank dalam proyek Health Workforce Services (HWS)5 yaitu sebesar Rp51.00. maka sangat penting dilakukan penelitian untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak tahun 2006 dan menganalisis pemanfaatan alokasi dari pembiayaan kesehatan daerah bersumber APBD tahun anggaran 2006. 29/2002.391. sedangkan belanja bagi hasil dan bantuan keuangan sebesar Rp15.9% dari dan belanja pelayanan publik sebesar Rp428.1% dari total belanja.140.000. Vol. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. 2.000. kemampuan advokasi.000. Lain-lain pendapatan yang sah 5.000. Kemampuan Perencanaan Dari wawancara mendalam diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 antara lain : 1.Rubini).00 atau sekitar 4. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besaran pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui pemanfaatan alokasi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak pada tahun 2005 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2005 yang berjumlah 725. Informan berjumlah 6 orang yang terdiri dari 2 orang dari tim anggaran eksekutif (BPKD dan BAPPEDA). kantor dinas kesehatan. melalui proses buttom up planning pada Musyawarah Rencana Pengembangan (Musrenbang) dari tingkat desa. dana perimbangan sebesar Rp503.586.000.00. dan belanja tidak tersangka sebesar Rp500.662 jiwa adalah sebesar Rp37. Informasi alur pembiayaan Perencanaan yang dilakukan di Kabupaten Pontianak mengacu kepada Keputusan Menteri Dalam Negeri No.103. intervensi program. Dana perimbangan 4. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 3.500.89% dari total belanja APBD. Pengumpulan data terbagi menjadi dua. Hasil wawancara mendalam kepada para informan dari tim anggaran eksekutif dan panitia anggaran legislatif menjelaskan bahwa perencanaan 136 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

sehingga banyaknya intervensi yang dilakukan akan menambah nominal usulan dalam dokumen RASK. Keseimbangan antara mata anggaran dimaksudkan bahwa setiap adanya investasi maka biaya operasional dan pemeliharaan harus disiapkan dan hal ini tertuang dalam dokumen perencanaan yang pada RASK akan diklasifikasi menurut mata Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sumber anggaran. melihat skala prioritas. Hubungan komitmen daerah dengan kemampuan perencanaan / proses RASK ini bahwa komitmen daerah merupakan bentuk pernyataan para pengambil kebijakan dalam menentukan proporsi anggaran. Kemampuan perencanaan dalam hal ini proses RASK dikontribusi oleh beberapa variabel yaitu: komitmen daerah. pagu. ketika penentuan prioritas masalah terjadi diikuti dengan tindakan intervensi. Hubungan prioritas masalah dengan besaran RASK dijelaskan bahwa semakin banyak program prioritas yang tertuang di dalam RASK semakin besar nominal RASK yang diusulkan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan perencanaan mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD. sesuai kondisi dan keadaan terakhir sebelum anggaran disahkan oleh DPRD. aspirasi masyarakat dan visi misi daerah maupun pusat tentang kesehatan serta mengantisipasi alokasi dana dari DAK. Pemimpin yang benar-benar menguasai bidangnya akan sangat membantu proses perencanaan karena apapun yang diusulkan oleh instansinya dia mengerti seberapa besar dan pentingnya masalah tersebut. intervensi masalah dan keseimbangan antara mata anggaran. namun tidak dapat dikatakan perencanaan yang disusun dan terdokumentasi dalam RASK oleh instansi pengusul dalam hal ini dinas kesehatan dan RSUD telah baik. serta dokumen perencanaan lainnya. Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) merupakan informasi perencanaan anggaran terdokumentasi secara jelas dan tegas yang menyatakan nominal anggaran. Implikasi belanja modal harus diimbangi dengan biaya operasional dan pemeliharaan. Pada penelitian yang dilakukan Dharmawan11 menyatakan bahwa pada tingkat pemberian besaran nominal rupiah yang diperlukan dipengaruhi oleh RASK dinas kesehatan sebagai satu-satunya sumber informasi yang dapat memberikan besaran pengalokasian APBD. sehingga ketika mempertahankan kegiatan yang akan dihapus oleh tim anggaran dapat melakukan pembelaan dengan memberi alasan yang tepat atau dengan kata lain dapat memberikan justifikasi dan disinilah peran advokasi bermain. Demikian juga dengan intervensi masalah. namun tidak ada pagu dana yang ditetapkan secara pasti artinya anggaran dibuat pagu sementara melalui history budgeting tadi. Hubungan kemampuan advokasi dengan proses RASK dapat dijelaskan bahwa advokasi yang dilakukan adalah kegiatan “follow up” dari instansi pengusul terhadap komitmen daerah yang ada sehingga besaran RASK akan bertambah jika advokasi yang dilakukan diterima para pengambil kebijakan sebagai sesuatu yang mendesak dan berdampak luas terhadap masyarakat. Vol. sehingga delapan program yang ada pada RASK diakomodir semuanya ke dalam DASK. Tidak menutup kemungkinan perencanaan yang baik akan memperoleh anggaran lebih besar jika dianggap kegiatan atau program yang diusulkan merupakan sesuatu yang mendesak.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan yang diusulkan oleh dinas kesehatan dan RSUD dinilai baik karena telah sesuai dengan Kebijakan Umum Anggaran (KUA). Peran pimpinan dalam proses perencanaan juga menjadi hal yang patut diperhatikan karena kepemimpinan dapat memberi motivasi dan kepercayaan. prioritas masalah. sehingga dengan diketahuinya proporsi tersebut nilai nominal atau besaran RASK akan dapat diketahui oleh instansi pengusul. No. sehingga pada kedua item ini juga nominalnya berubah menjadi lebih besar. dan belanja modal yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus NonDana Reboisasi (DAK Non-DR) yang pada saat penyusunan RASK (September 2005) belum diketahui besaran alokasinya. 09. kemudian baru bulan November dimasukkan setelah pagu DAK Non-DR keluar. Hasil telaah dokumen menjelaskan bahwa nominal DASK ternyata lebih besar dari RASK. Dengan adanya pagu sementara dari tim anggaran menciptakan tantangan tersendiri bagi tim perencanaan dari instansi pengusul agar dalam membuat perencanaan dapat mengakomodasi azas kewajaran dan kesesuaian antara dokumen perencanaan yang dimulai dari KUA. fungsi anggaran dan pelaksana anggaran. Besarnya nominal DASK dapat disebabkan adanya kenaikan gaji. Penetapan jumlah anggaran di Kabupaten Pontianak berdasarkan history budgeting yaitu jumlah anggaran tahun lalu ditambah 10%. berkala. kemampuan advokasi. sehingga tidak terdokumentasi dalam RASK tetapi tercatat pada dokumen rencana definitif DAK Non-DR bidang kesehatan dan langsung di masukkan ke dalam DASK. tunjangan. penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) baru kemudian penyesuaian biaya perjalanan dinas akibat kenaikan BBM. 3 September 2006 l 137 .

Vol. 3 September 2006 .Tisa Harmana. semua informan menyatakan setuju bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak baik lembaga legislatif dan eksekutifnya memiliki komitmen yang baik kepada sektor kesehatan. Keputusan ini akan mengakomodasi seberapa besar proporsi pembiayaan kesehatan yang akan dialokasikan melalui APBD kabupaten. Kebijakan Umum Anggaran (KUA) ini tidak terlepas dari dokumen perencanaan daerah yaitu Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). namun ada tanggapan dari informan lain bahwa tidak ada intervensi dan belum tentu terjadi perubahan namun hal itu masih dimungkinkan. sehingga menjadi sebuah kebijakan publik yang tertuang dalam nota kesepakatan antara Bupati Pontianak dengan DPRD Kabupaten Pontianak. dkk. Rencana Strategi (Renstra) dan hasil Musrenbang. dan Vollini8. sehingga keputusan atau keluarannya merupakan kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif.35% untuk Dinas PU (infrastruktur) jika dibanding total pembiayaan kesehatan yang hanya 8. juga memperhatikan aspirasi masyarakat yang dihasilkan dari proses musrenbang dari tingkat desa sampai dengan tingkat kabupaten.36% untuk Dinas Pendidikan dan 23. Menurut Dharmawan11 perlu adanya advokasi kepada aparat pemerintah baik dimulai dari tingkat desa. maka sebenarnya Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Pontianak belum mewujudkan komitmen secara nyata dalam bentuk besaran anggaran.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah anggaran masing-masing. 29/2002. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil telaah dan olahan dokumen data sekunder yang menghasilkan proporsi alokasi APBD yang memiliki tren meningkat dari tahun ke tahun.99% dari total APBD dan menduduki urutan ketiga dalam jumlah anggaran yang dialokasikan. Skala prioritas masalah Hasil penelitian menyebutkan bahwa penentuan skala prioritas masalah kesehatan di Kabupaten Pontianak khususnya dari instansi pengusul baik Dinas Kesehatan dan RSUD adalah berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM). berikut dapat dijelaskan variabel-variabel tersebut: a.99%. khusus untuk tahun 2006 sebesar 7. Komitmen daerah Pemerintah Kabupaten Pontianak memberikan pengaruh kepada pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD kabupaten. b. Standar Pelayanan Minimal (SPM) dijadikan dasar penentuan skala prioritas karena merupakan cara untuk menjamin dan mendukung kewenangan untuk penyelenggaraan pelayanan oleh daerah. Keputusan bersama ini disampaikan dalam KUA yang ditanda tangani Bupati dan Ketua DPRD. juga sekaligus merupakan akuntabilitas daerah. sehingga peneliti berpendapat bahwa kebijakan publik yang dihasilkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak dalam hal ini komitmen daerah terhadap keputusan sektor kesehatan telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan teori yang ada. 138 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Teori yang dikemukakan oleh Dunn12 bahwa kebijakan publik merupakan hasil-hasil keputusan eksekutif sebagai respon terhadap lingkungannya. kecamatan sampai dengan DPRD agar kesadaran akan kebutuhan pembangunan kesehatan meningkat. Departemen Kesehatan RI 2 juga menyebutkan kemampuan advokasi dinas kesehatan berpengaruh terhadap pembiayaan kesehatan. Advokasi Hasil wawancara mendalam kepada informan menunjukkan adanya pengaruh kemampuan advokasi yang dilakukan instansi pengusul terhadap besaran alokasi dana khususnya bidang kesehatan seperti diungkapkan oleh tiga orang informan. hal ini dikemukakan oleh beberapa peneliti antara lain Gani13 Irwansyah7. Lestari9. Akan tetapi. No. Penelitian lain juga mengatakan bahwa komitmen daerah menjadi salah satu faktor penentu dalam pembiayaan kesehatan.71% dari total APBD jika hanya dihitung dari dinas kesehatan dan RSUD namun secara agregat pembiayaan kesehatan daerah termasuk instansi di luar Dinas Kesehatan dan RSUD adalah sebesar 8. c. Komitmen Daerah Dari hasil wawancara mendalam. 09. karena pernyataan atau komitmen yang ada baik secara tertulis maupun tidak tertulis menjadi sebuah kebijakan publik bahwa kebijakan yang diambil telah melalui tahapantahapan tertentu dengan mengacu kepada Kepmendagri No. Penetapan standar pelayanan minimal daerah harus mengacu kepada indikator-indikator pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Departemen Kesehatan RI2 juga menyatakan bahwa salah satu faktor yang menentukan kecukupan alokasi anggaran kesehatan di daerah adalah skala prioritas bidang kesehatan di mata para pimpinan daerah dalam hal ini komitmen daerah. meski kesehatan berada di urutan ketiga setelah pendidikan dan infrastruktur namun kesenjangannya sangat jauh yaitu 36.

Program yang dilaksanakan di Kabupaten Pontianak antara lain penyuluhan kesehatan. Hasil dari penentuan program prioritas akan dituangkan ke dalam RASK.437. Belanja modal hanya dialokasikan pada belanja publik saja yaitu sebesar Rp10. perbaikan gizi. aspirasi masyarakat. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hal tersebut dikarenakan kegiatan yang ada pada program ini merupakan kegiatan operasional terbesar yang ada di Dinas Kesehatan kemudian dari kegiatan investasi yang merupakan penunjang pelayanan kesehatan masyarakat berupa pengadaan obat. Hal ini dirasakan sudah cukup sesuai dengan UU No. Intervensi ini merupakan penjabaran dari skala prioritas yang ada. Besarnya alokasi pada BAU dikarenakan akumulasi dari belanja publik Rp1. Keseimbangan Antara Mata Anggaran Menurut informan. 32/2004 Pasal 22 bahwa dalam menyelenggarakan otonomi. walaupun dari segi jumlah program lebih sedikit dari yang ditentukan namun Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak khususnya. pelayanan kesehatan masyarakat. jika pada KUA dan skala prioritas mementingkan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan maka belanja modal akan menjadi lebih besar dan belanja operasional pemeliharaan menjadi penunjangnya. Intervensi Program Menurut informan bahwa dalam menetapkan intervensi program harus berpedoman pada renstra.19%. Telaah dokumen RASK menghasilkan ada 8 program dan 23 kegiatan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan.00 dan belanja aparatur Rp22. pencegahan dan pemberantasan penyakit.357.550.000. Dinas Kesehatan telah menyelaraskan arahan dari pusat dan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah. alat kesehatan serta pembangunan dan rehab puskesmas. penting sekali untuk menetapkan prioritas masalah. melainkan terpenuhinya pembiayaan pada setiap mata anggaran berdasarkan KUA dan skala prioritas. 29/2004 sekaligus hakekat dari desentralisasi yaitu peran serta masyarakat dalam pembangunan.40% dan terkecil pada belanja modal (BM) sebesar 21. tetapi hal ini juga menimbulkan tantangan baru untuk menciptakan intervensi yang “cost effective”. Hasil pengolahan data sekunder dengan format District Health Account (DHA) menghasilkan alokasi terbesar pada Belanja Administrasi Umum (BAU) sebesar 49. penyediaan dan pengelolaan air bersih dan diklat aparatur negara. keseimbangan antara mata anggaran bukan merupakan pembagian proporsi sama rata pada setiap jenis mata anggaran. 09. sehingga akhirnya alokasi APBD semakin besar yang diserap. pustu dan polindes terdapat pada program ini. serta standar pelayanan minimal bidang kesehatan.449. namun tidak cukup untuk membuat program-program kesehatan efektif dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan. 3 September 2006 l 139 . penyehatan lingkungan pemukiman. Program yang ada jika mengacu pada sistem district health account menjadi 9 program dari 19 program yang telah ditentukan pemerintah pusat. pengawasan obat dan makanan. Gani14 menyatakan program-program kesehatan yang dilaksanakan berkembang atas dasar daftar masalah kesehatan yang ada.820. Program pelayanan kesehatan masyarakat mendapat porsi paling besar yaitu 43. No.000. minimal berdasarkan kewenangan wajib dan standar pelayanan minimal menyebabkan pembiayaan yang terbatas harus dapat mengakomodir program-program kesehatan tersebut. Dalam keadaan pembiayaan yang sangat terbatas. selain itu besarnya BAU juga bisa disebabkan acuan perencanaan terhadap KUA Dinas Kesehatan poin (1) pemerataan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar yang berisikan e. daerah mempunyai kewajiban meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.034.00 yang terdiri dari gaji dan tunjangan pegawai. semakin banyak program yang dipilih untuk diintervensi yang terdokumentasi dalam RASK menyebabkan besaran alokasi RASK akan bertambah.79%.000. d.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Renstra juga dijadikan acuan karena skala prioritas yang ada harus dapat mendukung visi dan misi dari pemerintah daerah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intervensi yang sesuai dengan skala prioritas masalah akan mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber dari APBD Kabupaten Pontianak. pelayanan kesehatan rujukan rumah sakit.00 dan tidak ada alokasi pada belanja aparatur. sehingga RASK merupakan dokumentasi yang penting dalam mengakomodasi program-program yang diprioritaskan dan nantinya akan menentukan intervensi serta besaran alokasi pada APBD. sehingga kesesuaian antara skala prioritas dengan rencana strategis menjadi penting agar tercapai tujuan yang dikehendaki yaitu mewujudkan “Kabupaten Pontianak Sehat 2008”. Pelaksanaan program secara menyeluruh. Hasil Musrenbang juga menjadi acuan karena merupakan wujud dari perencanaan dengan melibatkan aspirasi masyarakat sesuai dengan yang diatur dalam Kepmendagri No. Vol.

03% selisihnya dengan BM. Tabel 2. Perencanaan dan manajemen anggaran investasi biasanya terpisah dari perencanaan dan manajemen anggaran operasional dan pemeliharaan.28 7.542. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber pendapatan dalam APBD sesuai dengan UU No. Oleh sebab itu. perencana harus memahami kekhususan pendanaan tersebut. 33/2004.542 Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pontianak khususnya yang berasal dari kesehatan relatif kecil.575 7.000 % 0. Lain-lain pendapatan yang sah bantuan dari Pemerintah Pusat (HWS) Total : Jumlah (ribuan Rp) 0 35. Peningkatan biaya investasi yang diikuti adanya biaya operasional dan pemeliharaan sehingga jumlah BOP tidak jauh berbeda dengan proporsi BM.Tisa Harmana.738.86 100. Menurut peneliti. memberikan implikasi setiap adanya peningkatan selalu diikuti pemeliharaan. Dalam melakukan investasi sering implikasi biaya operasional dan biaya pemeliharaan investasi tersebut tidak diperhitungkan.80 18. No.DAK Bidang Lingkungan Hidup . 09. Berdasarkan sumber pendapatan porsi terbesar penyumbang pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak adalah Dana Alokasi Umum (DAU). barang habis pakai dari dua instansi yaitu dinas kesehatan dan RSUD. poin (2) peningkatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana nonmedik penunjang.33/2004 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2. setiap perencanaan investasi harus selalu disertai dengan perhitungan implikasi biaya operasional dan pemeliharaan yang diperlukan. Kecilnya PAD yang dimiliki oleh Kabupaten Pontianak hanya 4. sehingga PAD ini tidak memberikan pengaruh yang berarti kepada pembiayaan kesehatan daerah karena sistem keuangan di daerah tidak menganut proporsi anggaran berdasarkan setoran PAD tetapi 140 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. serta DAK sangat besar porsinya. DAK Non-DR : . Pembiayaan Kesehatan Daerah Berdasarkan Sumber Pendapatan Sumber Dana Sesuai UU No. hal ini dapat disebabkan belum tergalinya potensi PAD yang riil dimiliki daerah dan belum optimalnya pengelolaan kekayaan daerah. Hal ini disebabkan perencana di instansi pengusul baik dinas kesehatan dan RSUD telah memahami jika mengalokasikan dana untuk belanja modal perlu juga mengikutsertakan alokasi belanja operasional pemeliharaan. serta KUA dari instansi pengusul baik dinas kesehatan dan RSUD. sehingga PAD menurut salah seorang informan memang tidak berpengaruh terhadap pembiayaan kesehatan karena pemda tidak menerapkan setoran PAD berbanding dengan pembiayaan.34 14.82% atau hanya 7. sebaliknya dana perimbangan yang terdiri dari DAU.608.000 1. setiap perencanaan belanja modal selalu diikuti dengan operasional pemeliharaan. gaji/upah.088.DAK Bidang Infrastruktur 3. DAU b. sementara pada PAD tidak memberikan kontribusi kepada kegiatan kesehatan. dkk. pada KUA dinas kesehatan poin (2) Peningkatan jumlah jaringan dan kualitas fasilitas kesehatan dan pada KUA RSUD poin (1) peningkatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit.07% dari total pendapatan APBD. Seperti dalam anggaran kesehatan yang bersumber dari DAK. tetapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut diperlukan pembiayaan yang termasuk dalam belanja operasional dan juga dimungkinkan untuk pembiayaan kelompok belanja pemeliharaan. Jika menelaah dokumen KUA dapat disimpulkan bahwa BM dan BOP yang dianggarkan memang mengacu kepada KUA dinas kesehatan dan KUA RSUD.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah kegiatan administrasi proyek.575 310. Jadi keseimbangan antara mata anggaran sangat dipengaruhi oleh KUA dan tertuang dalam skala prioritas dan akan mempengaruhi jumlah pembiayaan kesehatan yang dituangkan dalam dokumen perencanaan (RASK). Hal ini akan memberikan dampak meningkatnya jumlah alokasi anggaran pada APBD dan tidak terlepas dari skala prioritas.253 9. 3 September 2006 . 3. Tabel 2 menunjukkan pembiayaan kesehatan daerah berdasarkan sumber pendapatan.734. Vol.00 3.41 0.00 73.14 Di Kabupaten Pontianak. karena hal ini akan berpengaruh kepada keseimbangan mata anggaran.DAK Bidang Kesehatan . Perencanaan dengan sistem anggaran berbasis kinerja dituntut kehandalan perencana dalam membuat perencanaan suatu kegiatan yang comprehenshif dengan memperhatikan ketentuanketentuan yang sesuai dengan kegiatan tersebut. akibatnya banyak investasi yang tidak dapat berjalan dengan baik. Dana Perimbangan : a. BOP yang dialokasikan pada APBD untuk pembiayaan kesehatan sebesar 28. sehingga harapan dari pernyataan Gani14 telah sesuai dengan kenyataan yang ada di Kabupaten Pontianak.289 47.560. yaitu dialokasikan untuk kegiatan yang termasuk dalam kelompok belanja modal.65 3.

status wilayah.960. perdagangan dengan mobilisasi penduduk yang tinggi serta memiliki objek pajak yang banyak. 33/2004 memberikan kontribusi sebesar 7. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Lestari 9 bahwa PAD menjadi penyumbang terbesar dalam pembiayaan kesehatan di Tangerang tahun 2003 yaitu sebesar Rp39. Dana perimbangan menentukan besar kecilnya alokasi untuk pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak.14%. Fiscal gap didapat dari formulasi fiscal needs dibandingkan dengan fiscal capacity.00 dari total pembiayaan sebesar Rp80. menjaga agar tidak terlalu besar fiscal gap yang terjadi. Hal ini dapat menjadi salah satu sumber untuk peningkatan pembiayaan kesehatan. selain itu PAD dari sektor kesehatan yang dihasilkan dari retribusi kesehatan yang disetorkan ke pemda memang dikembalikan kepada instansi bersangkutan sebanyak 60% dari total setoran tetapi uang pengembalian dialokasikan dari DAU dalam bentuk uang lembur dan kompensasi pelayanan kesehatan. Melihat jumlah PAD yang relatif kecil jika dibandingkan dengan dana perimbangan sebagai sumber pendapatan APBD.86% dari total pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD tahun anggaran 2006.838.377.00 atau 48. status kesehatan akses air bersih. Lain-Lain Pendapatan Yang Sah Hasil penelitian menunjukkan bahwa item lainlain pendapatan yang sah sesuai struktur APBD menurut UU No. Dana Alokasi Umum (DAU) yang diberikan kepada daerah ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN.1 Pendapatan Asli Daerah (PAU) ini sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga pemerataan dan perimbangan keuangan antar daerah. sumber DAK tidak saja berasal dari DAK Non-DR bidang Kesehatan. maka dapat dikatakan bahwa PAD belum mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak. namun untuk DAK Non-DR bidang kesehatan daerah masih perlu menyampaikan usulan dan data awal agar pada perhitungan formulasi penentuan alokasi DAK melalui kriteria umum.71% dari total APBD Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 dengan DAU sebagai sumber pendapatan terbesar. 4. sedangkan Kabupaten Pontianak masih didominasi pertanian dan perikanan. Hal ini karena walaupun pemerintah pusat telah memiliki formula tertentu dalam penetapannya daerah juga harus pro aktif untuk memperoleh dana tersebut di pusat. Jika membandingkan PAD Kabupaten Pontianak yang kecil dengan Kabupaten Tangerang. akses pelayanan kesehatan dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan besaran alokasi DAK Non-DR pada tahun 2005 melalui kriteria umum.900. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Sariasih15 yang menyatakan bahwa ada hubungan antara variabel fiskal. diharapkan setelah kegiatan HWS ini selesai pemerintah daerah dapat mengalokasi dana APBD Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kriteria khusus dan kriteria teknis dapat maksimal. Wawancara mendalam kepada para informan juga menyatakan bahwa sumber pendapatan terbesar dari DAU yang merupakan salah satu bagian dari dana perimbangan. Dana Perimbangan Hasil penelitian melalui telaah dan olahan data sekunder menunjukkan bahwa dana perimbangan menjadi sumber pendapatan yang paling besar memberikan kontribusi terhadap pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 yaitu sebesar 92. 5.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan anggaran berbasis kinerja sesuai Kepmendagri No. Pendapatan tersebut didapat dari dana hibah pemerintah pusat kepada daerah dalam bentuk proyek pengembangan sumber daya kesehatan atau HWS. 3 September 2006 l 141 . karena Kabupaten Tangerang merupakan daerah pinggiran ibu kota Indonesia yang banyak dijadikan kawasan industri.64% sehingga PAD sangat mempengaruhi pembiayaan di Tangerang pada tahun 2003. Semakin besar dana perimbangan khususnya DAU maka semestinya semakin besar pula alokasi kesehatan. serta menyisakan sedikit sumber daya alam berupa hutan yang sudah “gundul” sehingga secara agregat menyebabkan PAD yang ada masih kecil.34% dari total pembiayaan kesehatan daerah. dan kriteria teknis.231. Dana Alokasi Khusus (DAK) seperti yang terlihat pada Tabel 2 menunjukkan alokasi DAK adalah sebesar 18. Kegiatan HWS ini berlangsung selama lima tahun dimulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. kriteria khusus. 29/2002. tetapi juga berasal dari DAK Non-DR bidang Lingkungan Hidup dan DAK Non-DR Infrastruktur. Vol.000. Pendapatan Asli Daerah (PAU) untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan masing-masing sebesar 10% dan 90%. No. 33/2004 menghasilkan dana perimbangan memberikan kontribusi terbesar yaitu 94. Besarnya kontribusi dana perimbangan terhadap pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 disebabkan jumlah pendapatan pada APBD sesuai struktur APBD yang diatur UU No. 09.

000.22% dan kelompok belanja pelayanan publik sebesar Rp25.437. dinas kependudukan.105. Pembiayaan untuk belanja pelayanan publik hampir berimbang dengan belanja aparatur sehingga tujuan dari desentralisasi.093.00 Rp47. pembiayaan kesehatan bersumber dari APBD kabupaten masih perlu ditingkatkan lagi.542.00 Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak tahun 2006 terdiri dari dua kelompok yaitu. tenaga kerja dan transmigrasi. dinas pendidikan.449.437.Rubini. kelompok belanja aparatur sebesar Rp22. 3 September 2006 . dinas sosial.093.000. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah secara agregat menjadi sumber pembiayaan kesehatan daerah. dkk.00 Rp25.542. sehingga kesinambungan informasi ini sangat dibutuhkan. Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang tersebar di seluruh satuan kerja di lingkungan Pemerintah Daerah jika hanya memperhatikan kegiatan kesehatan dengan kelompok belanja pelayanan publik maka hanya 9 satuan kerja yang melakukan kegiatan kesehatan berbasis pelayanan publik yaitu dinas kesehatan. serta adanya paradigma baru dari perubahan sistem anggaran pada era desentralisasi yaitu APBD harus berorientasi pada kepentingan publik belum tercapai dengan optimal. energi dan sumber daya mineral. RSUD dr. tetapi bila dikaitkan dengan kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota se-Indonesia. sehingga alur pembiayaan yang memuat jumlah dana.093. (3) pendapatan dari pajak dan retribusi. Data pembiayaan kesehatan daerah saat ini dapat diolah melalui format DHA yang merupakan jabaran dari National Health Account (NHA).00 % 47. migas. Tabel 3 berikut menunjukkan besaran alokasi pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Kabupaten. No.. 6. Untuk dapat mengatasi permasalahan ini maka Kabupaten Pontianak mendapat tambahan alokasi dana pembiayaan kesehatan dari proyek HWS. Sisanya hanya melakukan kegiatan kesehatan yang berkaitan dengan aparatur yaitu perawatan dan pengobatan lokal dan GCU. Tabel 3. Pemerintah daerah dalam otonomi mempunyai empat sumber pendapatan untuk membiayai kegiatan yaitu: (1) alokasi dari pusat dalam bentuk DAU dan DAK.449. Pembiayaan Kesehatan Kabupaten Pontianak Berdasarkan Kelompok Belanja Belanja Aparatur Pelayanan Publik Jumlah (ribuan Rp) Rp22. Informasi Alur Pembiayaan Hasil penelitian melalui wawancara mendalam dengan para informan diketahui alur pembiayaan kesehatan diharapkan menjadi pedoman pada level pengambilan kebijakan pembiayaan kesehatan daerah.Tisa Harmana. catatan sipil dan keluarga berencana.22 52. dinas lingkungan hidup. Hasil wawancara mendalam diketahui bahwa sektor kesehatan merupakan sektor prioritas dalam pembangunan Kabupaten Pontianak setelah pendidikan dan infrastruktur.78%.78 100. Azwar16 mengatakan jumlah dana yang tersedia di daerah dalam bentuk APBD mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah.33/ 2004 yang terdiri dari PAD. dan (4) pinjaman dalam negeri dan luar negeri. prioritas pembangunan daerah dan berdasarkan visi pembangunan kesehatan Kabupaten Pontianak. pengelola dana sampai ke mana saja dana tersebut dialokasikan terekam dalam sistem DHA. Vol. 09. Kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota se-Indonesia dalam rangka desentralisasi di bidang kesehatan yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2000 menyatakan bahwa secara bertahap proporsi anggaran kesehatan akan ditingkatkan sehingga sesuai dengan kebutuhan standar WHO yaitu minimal 5% dari PDRB atau setara dengan minimal 15% dari APBD. sumber dana. walaupun secara fakta di lapangan PAD belum mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak. Struktur pendapatan APBD sesuai UU No. (2) anggaran perimbangan atau bagi hasil yang diperoleh dari pertambangan.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah sebesar 15% sesuai dengan kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota seIndonesia dalam rangka desentralisasi di bidang kesehatan yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2000 yang menyatakan bahwa secara bertahap proporsi anggaran kesehatan akan ditingkatkan sehingga sesuai dengan kebutuhan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu minimal 5% dari Product Domestic Regional Bruto (PDRB) atau setara dengan minimal 15% dari APBD.105.000. dinas pekerjaan umum. hasil hutan dan perikanan.00 terhadap jumlah penduduk Kabupaten Pontianak tahun 2005 142 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.00 atau 47.105.00 atau 52. Jika dianalisis jumlah belanja pelayanan publik sebesar Rp25. UPT Panti Sosial (PTSW) dan sekretariat daerah.

Rubini dan dana yang berada di sektor nonkesehatan yaitu instansi lain yang melakukan kegiatan kesehatan. Jika melihat kewenangan wajib maka pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak bersumber APBD tahun anggaran 2006 telah dapat membiayai seluruh kewenangan wajib yang berjumlah 9.542.60. atau sebesar 85.2 Informasi alur pembiayaan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah karena adanya alur informasi ini pihak perencana dan pihak pengambil kebijakan dapat menganalisis apakah kebijakan dibidang kesehatan telah dapat mengakomodasi dan memecahkan permasalahan kesehatan di Kabupaten Pontianak.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebanyak 725662 jiwa maka jumlah per kapita per tahun menjadi Rp34. Dari 9 kewenangan wajib yang mendapatkan alokasi pembiayaan di Kabupaten Pontianak tahun 2006. yaitu: pendidikan.18%) dari total pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006. 25/ 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang kemudian digantikan dengan UU No. yaitu dana yang berada di sektor kesehatan yakni Dinas Kesehatan dan RSUD dr.579. dan dari hasil penelitian diketahui bahwa semua fungsi teralokasikan pembiayaannya. 09.00. Analisis Pembiayaan Kesehatan Kabupaten Pontianak Otonomi daerah yang diatur dalam UU No. Hasil wawancara mendalam diperoleh informasi tentang sektor-sektor yang menjadi prioritas. pelayanan kesehatan jiwa.75% (Dinas Kesehatan 69. yang sektor nonkesehatan adalah instansi di luar Dinas kesehatan dan RSUD yang melakukan kegiatan kesehatan. No. infrastruktur dan kesehatan.313. 32/2004 dan UU No.Rubini. pelayanan kesehatan anak pra sekolah. 22/ 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 7.000. pelayanan KB. sehingga dapat dikatakan bahwa Kabupaten Pontianak belum menempatkan pembangunan kesehatan sebagai arus pembangunannya.45% atau sebesar Rp13. Total seluruh pembiayaan kesehatan yang bersumber pada APBD sebesar Rp47. proporsi terbesar dialokasikan untuk menyelenggarakan kewenangan wajib pelayanan kesehatan dasar yaitu sebesar 54.500. Pembiayaan kesehatan berdasarkan fungsi pelayanan kesehatan berdasarkan pedoman DHA terdiri dari 12 fungsi. pelayanan imunisasi. Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 merupakan salah satu implikasi desentralisasi yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk memenuhi kewajiban seperti yang tercantum dalam UU No. Pembiayaan kesehatan daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2006 dibagi menjadi dua kelompok. Alokasi terbesar berada di sektor kesehatan dibandingkan dengan sektor nonkesehatan dengan perbandingan 85.542.71% dari total APBD.24% untuk sektor nonkesehatan. sehingga persentasi dana yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak adalah sebesar 8. Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. yaitu Dinas Kesehatan dan RSUD dr.00.76% untuk sektor kesehatan dan 14. Salah satu faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah adalah kemampuan menyajikan informasi alur pembiayaan kesehatan daerah termasuk informasi sumber-sumber dana yang ada sampai bagaimana penggunaan dana tersebut terhadap pencapaian program-program kesehatan. 32/2004 Pasal 22.57% dan RSUD 16. 3 September 2006 l 143 .00 yang terdiri dari jenis pelayanan KIA.99% dari total APBD Kabupaten Pontianak Tahun Anggaran 2006 dan jika hanya memperhitungkan pada sektor utama saja. pelayanan pengobatan/perawatan. Angka ini masih jauh di bawah standar WHO. sehingga apa saja program yang dilaksanakan akan dimasukkan ke dalam fungsi perencanaan sesuai pedoman penyusunan DHA. pelayanan kesehatan kerja dan pelayanan kesehatan usia lanjut. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Gani16 yang menjelaskan bahwa sumber biaya kesehatan di daerah dibagi dalam dua kelompok yaitu sektor kesehatan dan sektor nonkesehatan.33/ 2004 membawa implikasi pada perubahan berbagai sektor dalam sistem sosial masyarakat termasuk sektor kesehatan. Fungsi yang mendapatkan porsi terbesar adalah fungsi perencanaan dengan alokasi 26.96% yang besarnya fungsi perencanaan ini disebabkan salah satu kegiatan dalam fungsi ini adalah pelaksanaan program.664. maka persentase dana yang dialokasikan pada pembiayaan kesehatan adalah sebesar 7. Hal ini dibuktikan dengan hasil olahan data sekunder yang menempatkan sektor kesehatan di Kabupaten Pontianak menempati tiga besar dalam skala prioritas pembangunan menurut jumlah alokasi anggaran.

000.10.Tisa Harmana. 144 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.78% sedangkan belanja aparatur 47. Kepmendagri No.250.00 per kapita per tahun. sehingga dana dari sumber-sumber lain seperti APBN dan dekon belum diakumulasi dan diperhitungkan.579.00 per kapita per tahun. externalitasnya rendah.516. UPPD Sungai Raya dan Pelabuhan Rasau Jaya Rp3.000. Apabila dihitung berdasarkan belanja publik menjadi Rp34. Kegiatan GCU ini tidak dapat dikatakan sebagai indikator kinerja bahwa kinerja PEMDA tidak baik dengan mengalokasikan dana untuk GCU. Berdasarkan hasil penelitian tentang pembiayaan kesehatan di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2006 diketahui bahwa ternyata pengalokasian anggaran kesehatan menyebar keseluruh satuan kerja yang ada di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak. alasan lain nilai per kapita Kabupaten Pontianak masih rendah bisa terjadi karena pada penelitian ini hanya mengambil sumber dari APBD saja. akan tetapi pada kasus ini terjadi disalokasi sumber daya. Kegiatan kesehatan yang dilakukan berupa perawatan dan pengobatan lokal. 29/2002 menjelaskan proporsi yang ideal adalah belanja publik 70% sedangkan belanja aparatur 30%. yang alokasi terbesar dari total pembiayaan kesehatan daerah berada di Dinas Kesehatan sebagai sektor utama sebesar Rp33.00 atau 69. Kegiatan GCU yang dilakukan di RSUD milik pemda pada sisi lain juga menguntungkan bagi pihak RSUD karena biaya GCU dijadikan PAD kesehatan. Hal ini terjadi karena setiap satuan kerja melakukan kegiatan kesehatan yaitu perawatan dan pengobatan lokal serta pemeriksaan kesehatan atau General Check Up (GCU) di RSUD dr. merupakan usaha kesehatan perorangan dan bukan paket kegiatan esensial yang harus dibiayai.00 per kapita per tahun.00 per kapita per tahun maka pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak belum memenuhi standar. dimulai dari pejabat eselon IV (setingkat kepala seksi) sampai dengan pejabat eselon II (setingkat kepala dinas sampai Sekda) dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Pontianak. Hal ini perlu menjadi perhatian para praktisi kesehatan di lapangan.22% dari total pembiayaan kesehatan daerah.99% dari total APBD tahun anggaran 2006. Hasil olahan data sekunder juga menunjukkan bahwa daerah belum menempatkan alur pembiayaan kesehatan pada belanja publik.01% yang semuanya adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).184. Ini erat kaitannya dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD. 09. Vol.60.Rubini sebagai sektor utama kesehatan maka pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak adalah sebesar Rp56.00 atau 0. 3 September 2006 . Nilai ini adalah perhitungan secara total dari pembiayaan kesehatan daerah baik dari sektor kesehatan maupun sektor nonkesehatan. sehingga masih terjadi kesenjangan yang lebar. sehingga jika dibandingkan dengan standar WHO sebesar Rp51. kegiatan GCU yang dilakukan merupakan pemborosan sumber daya. dkk. Permasalahan ini juga masih perlu dicermati oleh para pengambil kebijakan sebagai bahan pertimbangan dalam membelanjakan sumber daya.57% dan terkecil berada di unit kerja UPT LLK-UKM. No.000. sehingga pemilihan kegiatan sebaiknya difokuskan pada pelayanan esensial.22. Jika hanya diperhitungkan dari sektor kesehatan saja yaitu dari Dinas Kesehatan dan RSUD dr. SKB.441. Sebenarnya hal ini perlu digarisbawahi karena dampak ke depan adalah menciptakan aparatur atau SDM yang sehat baik secara fisik maupun mental spiritual. Hal ini bisa dilihat dari proporsi belanja publik dan aparatur yang tidak berbeda jauh atau bisa dikatakan hampir berimbang yaitu: belanja publik sebesar 52.076. sehingga lebih mengarah kepada public oriented. namun dana GCU tersebut disalurkan melalui satuan kerja masing-masing (lihat Tabel 2). Gani 14 mengatakan pelayanan kesehatan yang memiliki externalitas tinggi berupa public goods serta merupakan paket pelayanan esensial wajib dibiayai oleh pembiayaan pemerintah. namun hasil yang diinginkan dari kegiatan ini adalah memberikan peningkatan kinerja aparatur dalam melayani publik atau masyarakat demikian alasan yang disampaikan salah satu informan pada wawancara mendalam. Jika kita merujuk kepada keterbatasan sumber daya dalam hal ini dana APBD. perlu adanya “improve” baru agar dapat mendongkrak jumlah alokasi anggaran.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah tahun 2005 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pontianak sebesar Rp65. sehingga diharapkan dapat terciptanya good governance . namun kegiatan GCU yang dilaksanakan oleh semua instansi yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pontianak merupakan kegiatan yang tidak semestinya dibiayai pemerintah karena bukan merupakan public goods. Rubini. General Check Up (GCU) ini dilakukan untuk pejabat eselon. Jika digunakan standar 15% APBD maka pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak juga belum memenuhi standar karena baru mencapai nilai 8. serta GCU ini merupakan kegiatan bagi aparatur pemerintah bukan pelayanan publik.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Raja Grafindo Persada. Indonesia. Dharmawan. 2. Jakarta. 2003. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Pemerintah Kabupaten Pontianak diharapkan tetap konsisten dalam memegang komitmennya terhadap sektor kesehatan yang merupakan salah satu prioritas pembangunan melalui peningkatan jumlah alokasi anggaran walaupun secara bertahap sehingga dapat mencapai 15% dari total APBD sesuai kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia. 1998. Universitas Indonesia. namun demikian belum dapat dikatakan kinerja sektor kesehatan itu belum baik karena mengingat sumber daya yang terbatas dalam hal ini alokasi anggaran. Andi Offset. Depok. Irwansyah. Gani. Gani. Indonesia. Tesis. No. Vol. Mempawah. Saran Hendaknya melakukan pelatihan tentang DHA bagi pihak instansi pengusul baik Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak dan RSUD dr. 2002. Volini. A. Analisis Keputusan Menteri Keuangan No. Indonesia. DHA Kabupaten Ketapang. Indonesia. Indonesia. 15.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Faktor komitmen daerah. KEPUSTAKAAN 1. P. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. 3. N. Depok. Lestari. Yogyakarta. Analisis Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dalam Pelaksanaan Desentralisasi Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Sukabumi. Tesis. Reformasi Pendanaan Kesehatan. 4. Analisis Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Pemerintah di Kabupaten Tangerang. Analisis Biaya Program Kesehatan Masyarakat dalam Kebijakan Desentralisasi. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang. Departemen Kesehatan RI Konseptual Framework Provincial Health Account (PHA). 7. 3 September 2006 l 145 . 14. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2003. Biro Keuangan Departemen Kesehatan RI.N. 9.2003. 12. Yogyakarta. 2005. 2004. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. agar dapat dijadikan pedoman dan bahan advokasi kepada para pengambil kebijakan di daerah. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Tesis.02/2004 Sebagai Model Penetapan Dana Alokasi Khusus Non Dana Reboisasi Tahun Anggaran 2005 Bidang Kesehatan. Sariasih. 2000. Depok. edisi kedua. 2005. N. PAD. 2002. 2004. Dunn. Ketapang Kalimantan Barat. Universitas Indonesia. Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Pengantar Analisis Kebijakan Publik.Rubini agar dapat membuat informasi alur pembiayaan dengan menggunakan format dan pedoman DHA beserta analisisnya setiap tahun secara berkesinambungan. informasi alur pembiayaan kesehatan. 2003. Analisis Pembiayaan Kesehatan Bersumber Pemerintah di Kabupaten Lampung Selatan. Gadjah Mada University Press. prioritas masalah kesehatann dan pemilihan intervensi program. Depkes RI. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. 8. Penelitian lanjutan dengan desain dan metode berbeda terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah sangat diperlukan untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut juga bisa mempengaruhi pembiayaan kesehatan di tempat yang berbeda. Soewondo. Thabrany. Fakultas Kesehatan Masyarakat. A. H. Jakarta.I. Mardiasmo. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak. Kalimantan Barat. W. Departemen Kesehatan RI. Gani. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Tesis. 2003. Depok. 09. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. alokasi mata anggaran. Studi Pembiayaan Kesehatan di Yogyakarta dan Lampung. Konsep dan Klarifikasi Biaya. Tesis. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Universitas Indonesia.505/KMK. Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak per kapita per tahun jika dilihat dari belanja publik yang bersumber pada APBD tahun 2006 belum mencapai nilai standar yang ditetapkan oleh WHO. lain-lain pendapatan sah merupakan faktor-faktor yang memberikan kontribusi dalam pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak. 10. 5. kemampuan advokasi. 13. Jakarta. 16. kemampuan perencanaan. 2001. Analisis Pembiayaan Kesehatan Bersumber Pemerintah di Kota Depok.W. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. T. A. Universitas Indonesia. 2005. 2003. District Health Account (DHA) bersumber Pemerintah. A. 6. 11. Proposal HWS Kabupaten Pontianak 2006.

Additionally data about socio-economic of city/district are taken from District and Municipality Profile 2004 published by Kompas. Perlu dikembangkan intervensi manajemen yang komprehensif untuk mendistribusikan dokter spesialis ke RSUD diseluruh kabupaten Indonesia. Unit analisis penelitian adalah kabupaten/kota. District General Hospital ABSTRAK Latar Belakang: Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kelangkaan dokter spesialis di Indonesia. d) daerah dengan jumlah kematian bayi lebih kecil mempunyai rasio dokter spesialis 3. Indonesia ABSTRACT Background: Many factors cause the scarcity of specialist doctors in Indonesia. 2) Specialist doctors tend to work in city area.8. Hasil: Dari analisis data kuantitatif ditemukan: a) distribusi dokter spesialis tidak merata pada kabupaten dan kota. melalui 3 tahapan: analisis univariat. Data diambil dari Badan Pusat Statistik dan Biro Personalia. Rerata dokter spesialis daerah kota lebih besar 10 kali lipat dari daerah kabupaten. c) Area with higher PDRB per capita has ratio 10.0 version through 3 steps: univariate analysis. data tentang sosio-ekonomi kota/ kabupaten diambil dari Buku terbitan Kompas berjudul Profil Daerah. Kesimpulan: 1. 2.09 higher than area with lower density population. Penelitian ini bertujuan untuk menggali determinan distribusi Dokter Spesialis di RSUD kabupaten/kota di Indonesia. Selain itu. jumlah kematian bayi rendah. analisis bivariat dan analisis multivariat.6% kota yang mempunyai rasio DSP yang cukup (6 DSP/100. Kata Kunci: dokter spesialis. 3. bivariate analysis and multivariate analysis. Only 11. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kelangkaan dokter spesialis di Indonesia. Rendahnya rasio tersebut disebabkan oleh rendahnya jumlah lulusan dokter spesialis (DSP) setiap tahunnya.62 times than area with lower PDRB per capita. 6 specialist doctors per 100. antara lain: a) terbatasnya lembaga pendidikan yang mampu menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis.000 penduduk pada daerah kota 8. 3) The comprehensive management intervertion to distribute specialist doctor to all district general hospitals in Indonesia must be developed by the central government. lower infant mortality rate.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. Vol.000 number of population in city is 8. c) mahal dan lamanya waktu pendidikan dokter spesialis. Analysis was done using Program Stata 7. distribution.6% from total city/district has minimal ratio. dan kepadatan penduduk tinggi. distribusi.10 kali lebih tinggi daripada daerah dengan jumlah kematian bayi lebih besar.4 sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0.000 number of population. PENGANTAR Rasio jumlah tenaga dokter spesialis terhadap penduduk di Indonesia jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rasio di negara-negara maju maupun di negara-negara ASEAN lainnya. d) area with higher density population has specialist doctor’s ratio 21. Sumber data penelitian ini adalah data sekunder. Metodologi: Rancangan penelitian ini adalah studi penampang.10 higher than area with high IMR area. b) the average number of specialist doctors per 100. Kabupaten dan Kota tahun 2004. Departemen Kesehatan R. b) terbatasnya jumlah mahasiswa yang dapat diterima oleh lembaga pendidikan yang ada.62 kali lebih tinggi daripada daerah dengan dengan PDRB per kapita lebih kecil. seperti Aceh 146 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 03 September l 2006 Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Halaman 146 .8 per 100. The Purpose of this research is to answer: “What are factors that determine the specialist doctor’s distribution in City and District Indonesia?” Methodology: The design of this research is a survey on secondary data. d) daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 21. No. Dokter spesialis lebih memilih untuk berkeja dan tinggal daerah perkotaan. Analisis dilakukan dengan Program Stata versi 7.I. Data were collected from Central of Statistic Bureau and Personnel Bureau of Ministry of Health R. Result: From quantitative analysis we find that: a) there are maldistribution of specialist doctors between city and district.0. dan e) singkatnya program masa bakti dokter spesialis untuk daerah tertentu. Universitas Indonesia.09 kali lebih tinggi daripada daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar.155 Artikel Penelitian DETERMINAN DISTRIBUSI DOKTER SPESIALIS DI KOTA/KABUPATEN INDONESIA DETERMINANT FACTORS OF DOCTOR’S DISTRIBUTION IN CITY/DISTRICT INDONESIA Yaslis Ilyas Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. Conclusion: 1) Determinant factor of specialist doctor’s distribution in city/district are high PDRB per capita.4 meanwhile in district 0. and high density population. Hanya 11. c) daerah dengan PDRB per kapita lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 10. banyak rumah sakit swasta maupun pemerintah di tingkat kotamadia dan kabupaten di Indonesia yang masih membutuhkan tenaga dokter spesialis. e) area with lower infant mortality rate (IMR) has specialist doctor’s ratio 3. Determinan distribusi dokter spesialis di kota/ kabupaten dan signifikan adalah: PDRB per kapita tinggi. b) rerata dokter spesialis per 100.000 number of population.000 penduduk). Rumah Sakit Umum Daerah Keywords: specialist doctor. 3 September 2006 . 09.I. Oleh karena itu.

data dan informasi tentang distribusi dokter spesialis sangatlah terbatas. baik yang berstatus PNS dengan beasiswa maupun dokter spesialis dengan biaya mandiri. P value pada perhitungan OR menggunakan P Wald.0. Kedua. maka digunakan t-test equal varian. sementara pada data kabupaten/kota bila p<0. A/Menkes/SK/VIII/2000. DKI Jakarta. Analisis dilakukan dengan Program Stata versi 7. Cut off pada data kontinum dianalisis dengan ROC untuk mencari cut off yang mempunyai sensitifitas dan spesifisitas maksimum. Data di entri dengan Program Epi Info versi 5. analisis multivariat: melakukan modelling dengan regresi logistik. Sejumlah dokter spesialis berstatus PNS. Setelah itu. Depkes RI. analisis univariat dengan mendeskripsikan : nilai rerata.1 Pengumpulan data dilakukan dengan menentukan variabel yang diperlukan dalam penelitian ini. yang berisi ketentuan tentang Pendayagunaan Dokter dan Dokter Gigi Spesialis.1. Sumber data penelitian ini adalah data sekunder. Setelah daftar variabel dibuat kemudian data sekunder dicari dari sumber data di Depkes RI. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Variabel Penelitian Total populasi data kabupaten/kota yaitu 369 pada tahun 2002. Sejumlah masalah mengenai penempatan dokter spesialis dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) telah diobservasi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI)2 antara lain: a. Hasilnya adalah model regresi logistik. melalui tiga tahapan. No. Uji t-test yang digunakan tergantung uji normalitas dan uji varian . interaksi. serta confounding.25. Rendahnya tingkat sosio ekonomi kabupaten merupakan faktor penting yang membuat enggannya atau ditolaknya program penempatan dokter spesialis. serta sumber lainnya. Gorontalo. dilakukan saringan untuk mencari variabel kandidat dengan menggunakan batas p<0. yang mendapatkan beasiswa. b. Selain itu. d. Terbatasnya jumlah dokter spesialis ini. Jumlah kabupaten/ kota yang tidak dianalisis adalah kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Lulusan dokter spesialis yang mendapat beasiswa dari pemerintah tetap tidak mau bekerja kembali di kabupaten tempat mereka bekerja sebelumnya. serta membuat distribusi frekuensi. nilai minimal dan maksimal. Modelling dilakukan dengan membuat dua kategori pada variabel independen. walaupun mau ditempatkan di rumah sakit kabupaten. Vol. diperberat dengan tidak ditaatinya program masa bakti selama dua tahun oleh dokter spesialis untuk bekerja di rumah sakit pemerintah di seluruh kotamadia dan kabupaten di Indonesia. variabel disebut bermakna bila p<0. dan diuji multikolinearitas.05. Pada data provinsi. Lulusan dokter spesialis menolak untuk ditempatkan di kabupaten karena status PNS akan berubah menjadi pegawai daerah. Sayangnya.1210/Menkes/SK/X/1999. baik berupa publikasi resmi ataupun data yang diambil dari sistem pencatatan melalui print out di komputer. Kalimantan Timur. 3 September 2006 l 147 . Sepengetahuan penulis. 09. Status ini berakibat terhadap mobilitas dokter spesialis setelah menyelesaikan masa bakti. data tentang sosio ekonomi kota/kabupaten diambil dari buku terbitan Kompas berjudul Profil Daerah. Banyak lulusan dokter spesialis yang mengingkari janji untuk bekerja di rumah sakit kabupaten sesuai dengan Permenkes No. Data diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Biro Personalia. c. analisis bivariat: mencari koefisien korelasi. Terakhir. Jumlah record kota/kabupaten yang dapat dianalisis yaitu 291. Kabupaten dan Kota Tahun 2004.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tiga bulan ekuivalen untuk satu tahun dan daerah crash program seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) enam bulan equivalen untuk satu tahun. Hal ini berakibat terhadap laju pertambahan lulusan dokter spesialis yang tidak sesuai dengan kebutuhan tenaga dokter spesialis di masyarakat. 1207. Bangka Belitung. standar deviasi. Beberapa lulusan dokter spesialis. BPS. Jika uji varian menunjukkan tidak ada perbedaan varian dan data terdistribusi normal. Distribusi dokter spesialis begitu penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit di kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Artikel penelitian ini bertujuan untuk menjawab: “Apakah faktor-faktor yang menentukan distribusi dokter spesialis di kota maupun kabupaten di Indonesia?” BAHAN DAN CARA PENELITIAN Rancangan penelitian ini adalah studi penampang. Pertama. Jika tidak memenuhi kedua syarat tersebut digunakan t-test unequal varian. Odds Rasio (OR) dan uji t-test. e. Unit analisis penelitian adalah kabupaten/ kota. belum pernah ada publikasi penelitian yang mendalam tentang distribusi dokter spesialis di Indonesia. tetapi meninggalkan tugas setelah bekerja tidak lebih dari tiga bulan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. bersedia membayar pinalti untuk mengembalikan dana sebesar 10 sampai dengan 20 kali beasiswa sesuai dengan Permenkes No.04 dan Program Excell for Windows.

148 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tabel 1 menyampaikan jumlah populasi dan sampel penelitian pada setiap provinsi di Indonesia.000 Penduduk. † Kota Batu di Jatim. dan Papua. Pakistan dan Nepal. dengan jumlah dokter spesialis maksimal 29.1 0. Kabupaten yang diekslusi ini karena tidak tersedianya data jumlah dokter spesialis. tidak ada jumlah penduduknya sehingga rasio DSP-nya missing. Vol. 3 September 2006 . ** Sumber: Profil Kesehatan Provinsi. Jumlah dokter spesialis baru ada 9.000 penduduk. Sebagian besar dokter spesialis bekerja di Jakarta sebanyak 2. 30% perawat bekerja di empat kota besar dengan jumlah penduduk <15% dari total populasi. Tabel 2.8 orang. bahwa pada tahun 2002 rerata rasio dokter spesialis per kabupaten/kota adalah 2. 09. anestesi dan radiologi. dengan jumlah maksimal 205 dokter spesialis.8 0. penyakit dalam. Tampak.000 penduduk. Jumlah Kota/Kabupaten dan Sampel Penelitian Tiap Provinsi di Indonesia Tahun 2002 Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur (Jatim) Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Total Populasi Kota/ kabupaten 20 20 15 16 10 10 4 10 3 5 24 35 5 38 6 9 8 15 10 14 11 12 5 9 24 6 3 5 3 14 369 Sampel Kota/ kabupaten 15 19 15 16 10 0 4 10 0 0 24 35 5 37 * 6 9 7 14 10 6 11 0 5 7 18 5 0 0 3 0 292 * Kota Batu di Jatim.205 dokter spesialis di seluruh Indonesia dan sebagian besar rumah sakit swasta sangat kekurangan dokter spesialis yang bekerja purna waktu. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2002 Tahun Jenis tenaga medis Rasio Dokter spesialis * Jumlah Dokter spesialis ** Rerata Minimal Maksimal N† 2002 2. bedah. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang disampaikan Karnadihardja dan Lukman3 bahwa dokter spesialis bertumpuk di kotakota besar di pulau Jawa.000 tetapi ada juga kabupaten yang sama sekali tidak mempunyai dokter spesialis.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Maluku.000 penduduk.0 29. Hal yang sama juga terjadi di Bangladesh 35% dokter. informasi mengenai distribusi dokter spesialis terlihat pada Tabel 2. Rasio Dokter Spesialis Per 100. No. Secara umum. Sebagai contoh: di Nicaragua 50% profesional bekerja di ibukota negara Managua yang jumlah penduduknya hanya 15% dari total populasi.5 Pada analisis data penelitian ini digunakan cut of point rasio dokter spesialis adalah 6 per 100.0 205 292 Keterangan: * dihitung per 100. Dari hasil analisis data. walaupun mempunyai kebijakan perencanaan dan distribusi tenaga kesehatan sentralisasi di tingkat nasional. Bila kita lihat dari jumlah dokter spesialis per kabupaten/kota jumlahnya juga sangat timpang yang reratanya 7. Kecenderungan berkumpulnya profesional kesehatan di kota-kota besar merupakan masalah utama yang banyak dihadapi oleh negara-negara berkembang. Informasi yang juga menarik Tabel 1.1 per 100.441 orang yang merupakan 27% dari jumlah spesialis yang ada di Indonesia. Selain itu. 4 Masalah kesenjangan distribusi profesional kesehatan juga menjadi masalah utama negara berkembang lainnya seperti: India. distribusi dokter spesialis masih sangat tidak merata dan jumlahnya juga tidak memadai. sedangkan di daerah luar Jawa masih sangat sedikit. dengan rincian sebagai berikut: dokter spesialis anak. satu kota di Jawa Timur yaitu Batu data jumlah penduduk tidak tersedia sehingga tidak dapat menghitung rasio DSP.3 per 100. tidak ada jumlah penduduknya sehingga rasio DSP-nya missing. kebidanan.3 291 2002 7.

6 100. dan lapangan kerja yang lebih atraktif.000 Penduduk Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dari 33 sampel penelitian dengan dokter spesialis cukup diketahui berstatus kotamadia atau kota besar.0 pemahaman kepada kita bahwa kecukupan dokter spesialis hanya terdapat pada daerah perkotaan di Indonesia. sejumlah variabel bebas yaitu: faktor Human Developmen Index. Nama Kota Dengan Rasio Dokter Spesialis ³ 6 per 100.4 11.9 Hal ini tentunya berakibat buruk terhadap kinerja sistem kesehatan nasional. % penduduk miskin. meningkatnya waktu tunggu. dan under-utilisasi dari tenaga yang ada. diketahui bahwa hanya 11.000). No.6% dari jumlah kabupaten/kota yang mempunyai rasio minimal 6 dokter spesialis per 100. berkurangnya jumlah tempat tidur rumah sakit.000. jumlah kematian balita. Dari data ini juga diketahui betapa timpangnya distribusi dokter spesialis. Jumlah Kabupaten/Kota dan Persentasenya Dengan Rasio Dokter Spesialis Sebanyak 6 Dokter Spesialis per 100. penutupan sebagian fasilitas rawat inap. Ada sejumlah kabupaten yang sama sekali tidak mempunyai dokter spesialis. kepadatan penduduk.7. Kota besar lebih memberikan peluang kepada profesional kesehatan untuk berkembang.05.000 penduduk. % melek huruf.9 Hubungan Variabel Bebas dengan Distribusi Dokter Spesialis 1. termasuk rendahnya kualitas dan produktivitas pelayanan kesehatan. Vol.000 Penduduk Tahun 2002 Klasifikasi < 6 dokter spesialis > 6 dokter spesialis Total N 258 33 292 % 88. 20041. life expectancy dan jumlah kematian ibu bersalin berhubungan dengan * Sumber: Profil Daerah Kabupaten & Kota Jilid 1-4. Gambar 1 memperlihatkan nama kota-kota dengan rasio dokter spesialis dengan jumlah penduduk yang sudah cukup (=6 dokter spesialis/100. 3 September 2006 l 149 . Kompas.8 Selanjutnya. pendidikan. tetapi ada kota yang dokter spesialisnya berlebihan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan adalah rendahnya kabupaten/kota yang mempunyai rasio dokter spesialis minimal 6 per 100. fasilitas untuk keluarga. Tabel 3. t-test Pada analisis bivariat tampak pada p<0. Temuan ini juga telah diketahui secara luas bahwa profesional kesehatan lebih cenderung tinggal dan bekerja di kota-kota besar. Dari data yang ada. Temuan ini memberikan 35 30 P lo t A r e a 25 20 15 10 5 0 PE SA BA BA NG N AT D A AN AC EH G SI AN TA R M ED AN SI BO LG A TE BI NJ BI PA AI DA NG N G T IN PA G G I NJ AN SO G BU L KI OK TT IN G P G I PA A D AN Y G TA A K N J UM BU UN H G PI NA NG DU M BE AI NG KU LU M ET SU R O KA BU M I C IM AH CI RE I M AG BO N E S E LA N M G AR SA AN LA G PR T O B O IG A LI N G PA SU G O RU AN M AD IU M AL N AN G KE D E N D IR PA I SA M R AT A PO RA PA NT M LA IA N G K A NA K BA RA N YA JA R BA N J BA R AR U M AS IN M Gambar 1. 09.6. % angka beban.

Daerah ini mempunyai prevalen bayi berat badan lahir rendah yang tinggi dan angka kesakitan penyakit kronis yang tinggi.4. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota.05 .107 0. bahkan amat jelek.000 0.4 20. ditemukan bahwa kota/ kabupaten dengan distribusi dokter spesialis cukup mempunyai nilai rerata variabel bebas yang lebih baik dari pada kabupaten/kota dengan distribusi dokter spesialis yang kurang.4.3 14.8.000 maldistribusi dokter spesialis di Indonesia.0 34.000 0.400.000) N=33 71.8 8. Kemudian dilakukan analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa variabel HDI lebih bermakna dibanding life expectancy. Tampaknya. Dari analisis ini.620 * * * * * * * * ** distribusi dokter spesialis (Tabel 5).1. karaktersitik daerah yang lebih maju (perkotaan) mempunyai dokter spesialis yang jauh lebih besar dari daerah yang kurang maju dalam dalam hal ini kabupaten.000 penduduk di daerah kotamadia lebih besar 10 kali lipat dari jumlah rerata dokter spesialis di daerah kabupaten.3 96.7).0 DSP kurang (<6 per 100.017 0.5 3832. dilakukan uji koleniaritas memeriksa kemungkinan adanya multikolinieritas antara variabel bebas.1 0.3 89. 150 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Ras kulit non white umumnya tinggal di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan. jumlah rerata dokter spesialis per 100.000. Kondisi Tabel 6.5 881.5 4.5.3 68.600. rerata dokter spesialis per 100.000.2 63.1 18. 3 September 2006 .6 52. sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0.7 4. No. Dari hasil uji (lihat lampiran 2). 09. faktor yang berhubungan dengan distribusi jumlah dokter spesialis bertambah banyak dengan PDRB per kapita.3 11.000 0.3 9.0 18.000 Penduduk di Kabupaten dan Kota Jenis wilayah Kabupaten Kota Rerata rasio DSP 0.4 17. Pada p<0.147 0. Uji T-Test Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi DSP.000 0. Faktor Karakteristik Wilayah Kalau dianalisis distribusi dokter spesialis berdasarkan variabel independen kota dan kabupaten.000) N=258 65.367. COGME Teenth Report10 menyebutkan ciri-ciri daerah yang mempunyai kekurangan tenaga kesehatan. Ciri lainnya adalah daerah miskin.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Tabel 5. Tabel 6 memperlihatkan hasil analisis bivariat Odds Ratio (OR) antara sejumlah variabel bebas dengan distribusi dokter spesialis. Tampak. Tahun 2002 (Variabel Kontinyu) Variabel independen DSP cukup (° 6 per 100.011 0. 2.000.360.4 P 0. Distribusi Rerata Dokter Spesialis per 100.5 66.9 Model Regresi Logistik Distribusi Dokter Spesialis Sebelum dilakukan analisis model regresi logistik.000. terlihat ada multikolinearitas antara variabel HDI dengan life expectancy (r=0.0 6.000 penduduk pada daerah perkotaan 8.000 0. maka didapatkan distribusi dokter spesialis masih menumpuk di perkotaan (Tabel 6). Vol.017 0. ** p<0. Daerah yang kekurangan tenaga juga mempunyai status kesehatan yang jelek. 3. Artinya.8 10.0 P Human Development Index % melek huruf % penduduk miskin Jumlah kematian balita Kepadatan penduduk % angka beban Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin PDRB per kapita Jumlah kematian bayi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Ket: * p<0. tampaknya sesuai dengan yang dialami oleh negara lain baik negara sedang berkembang maupun negara maju.

09.9 tahun) Rendah (< 68.228.12%) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rendah (<9.51 Rujukan 1. Hal ini sejalan dengan pendapat Egger.000 * 286 Selanjutnya.276 290 0.65) Persentase angka beban Rendah (< 63 %) Tinggi (> 63 %) Persentase melek huruf Tinggi (>95.674. No.672 ribu rupiah) PDRB per kapita Tinggi (> 3.004 * 253 Jumlah kematian balita Rendah (< 11 orang) Tinggi (> 11 orang) 10) Life expectancy Tinggi (> 68.10 kali lebih tinggi daripada daerah dengan jumlah kematian bayi lebih besar. daerah dengan jumlah kematian bayi lebih kecil mempunyai rasio dokter spesialis 3. dilakukan analisis logistik regresi. Dengan ciriciri sosial maupun ekonomi sebagai berikut: PDRB per kapita tinggi. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota.011 * 291 0.044 rupiah) Kepadatan penduduk Tinggi (>993. Faktor yang berpengaruh sangat besar terhadap distribusi dokter spesialis adalah kepadatan penduduk karena OR-nya lebih besar.9%) Rendah (< 95. Daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 21.067 ** 194 0.265 240 0.08 Rujukan 5.22 Rujukan 12.9 jiwa/km2) Rendah (<993. dan 3) kepadatan penduduk tinggi. dengan menggunakan metode forward selection didapatkan model akhir seperti terlihat pada Tabel 7.9 %) Persentase penduduk miskin Sedikit (<24.9 jiwa/km2) Jumlah kematian bayi Rendah (<9 orang) Tinggi (°9 orang) 0.65) Rendah (<68.96 Rujukan 21.12%) Banyak (>24.000 * 291 8) 0.50 Rujukan 13. 3 September 2006 l 151 .674.78 Rujukan 3.000 * 284 0.05 9) 0. Terakhir.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 7. dkk11: faktor penentu distribusi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.000 * OR 32. Tahun 2002 Variabel 1) P 0.06 Rujukan 3.228.004 * 284 0. sedangkan faktor yang paling kecil pengaruhnya terhadap distribusi dokter spesialis adalah angka kematian bayi. 2) jumlah kematian bayi rendah.014 * 290 0.09 kali lebih tinggi daripada daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar.45 Rujukan 1.30 Rujukan 3. Dokter spesialis cenderung memilih bekerja di daerah perkotaan dengan prospek pendapatan yang lebih baik dan fasilitas sosial yang lebih baik.672 ribu rupiah) Tinggi ( > 9. Hasil analisis ini memberikan informasi bahwa determinan distribusi dokter spesialis yang cukup di kota/kabupaten dan signifikan adalah: 1) PDRB per kapita tinggi.62 kali lebih tinggi daripada daerah dengan PDRB per kapita lebih kecil. kepadatan penduduk tinggi dan jumlah kematian bayi yang rendah.9 tahun) 11) Jumlah kematian ibu bersalin Rendah (<7 orang) Tinggi (°7 orang) Keterangan: * p< 0.56 Rujukan 284 2) 3) 4) 5) 6) 7) Human Development Index Tinggi (>68.19 Rujukan 5.044 rupiah) Rendah (<3. Odds Rasio Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi DSP. Vol. Dari hasil analisis ini dapat diketahui secara jelas bahwa determinan distribusi dokter spesialis adalah karakteristik daerah perkotaan. Dari Tabel 7 juga dapat diartikan bahwa daerah dengan PDRB per kapita lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 10.

9 jiwa/km ) Rendah (<993. 3 September 2006 . Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi Dokter Spesialis.34 57. Ketiga.363 1.206 152 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dibutuhkan suatu peraturan setingkat Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden tentang penempatan dokter spesialis. Untuk itu.97 -5. disimpulkan bahwa selama ini dokter spesialis cenderung hanya bekerja pada daerah yang sudah mapan seperti perkotaan. KESIMPULAN DAN SARAN Sebaran dokter spesialis tidak merata pada kabupaten dan kota.504 0. untuk menjamin penempatan dokter spesialis di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia maka setiap dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikannya masih diperlukan adanya Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) sebagai kompensasi dari beasiswa pendidikan dokter spesialis. Model Akhir Hasil Analisis Multivariat. Dokter spesialis cenderung hanya ingin bekerja di kota-kota besar.14 P>|z| 0. Analisis Tingkat Kabupaten Tahun 2002 Variabel PDRB per kapita Jumlah kematian bayi Kepadatan penduduk Konstanta model * ROC model 89. Depkes RI.62 3.029 0. sedang dan miskin dengan menggunakan indikator PDRB per kapita. bahkan tidak mempunyai dokter spesialis. insentif dan tunjangan serta kualitas manajemen tenaga kesehatan oleh lembaga yang mempunyai otoritas.9 jiwa/km ) 2 2 OR 10. Dengan demikian.30 dan n = 253 Kategori Tinggi (> 3. Rerata dokter spesialis daerah kota lebih besar 10 kali lipat dari daerah kabupaten.228. 09. Dengan kebijakan ini dapat diharapkan minat dan kesediaan dokter spesialis untuk ditempatkan didaerah.8. Pertama. Besaran insentif finasial yang atraktif dan fasilitas kerja yang cukup d. Kategori atau klasifikasi daerah kaya. Untuk dapat mendistribusikan dokter spesialis pada daerah yang kurang mapan biasanya kabupaten kepulauan.44 B 2.75 88. 10 Dengan demikian.09 95% CI OR 1. dapat dijamin pemerataan dokter spesialis diseluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Terakhir. untuk dapat menjalankan wewenang distribusi dokter spesialis perlu basis legal yang kuat.16 7. Tabel 8.10 21. Hanya 11. Kebijakan ini lebih dapat menjamin terdistribusinya dokter spesialis lebih merata ke seluruh RSUD di Indonesia.511 z 2.000 penduduk). minimal empat spesialis dasar yaitu : dokter spesialis bedah.4 sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0.000 0. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu bekerja sama untuk memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis dengan perioritas putera asli daerah. Izin praktik pada kota penempatan g. Dinkes Provinsi dan Dinkes kabupaten/kota dalam mengelola dokter spesialis. Kedua. pulau atau daratan perlu kebijakan insentif khusus. Vol. adanya kejelasan wewenang dan hirarkhi antara lembaga yaitu: Depkes RI. c.25 5. Sisanya masih banyak kabupaten yang kekurangan. Komponen kebijakan yang harus diperhatikan pada peraturan ini antara lain: a.205 1.044 rupiah) Rendah (<9 orang) Tinggi (°9 orang) Tinggi (>993. Sanksi jelas.19 2.21 8. Di samping itu.28 1.079 0. Pemerintah cq Depkes RI perlu mengembangkan kebijakan dasar yang berkaitan dengan penempatan dokter spesialis. anak. tegas dan dilaksanakan terhadap dokter spesialis yang tidak memenuhi janjinya.044 rupiah) Rendah (<3.000 penduduk pada daerah kota 8. Status kepegawaian PNS atau swasta f.6% kota yang mempunyai rasio DSP yang cukup (6 DSP/100.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia profesional kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor dan kompleks antara lain: gaji atau imbalan.228. Lama wajib kerja dokter spesialis e. kebijakan dan wewenang penempatan dokter spesialis pada masa WKDS bersifat terpusat dikendalikan oleh Departemen Kesehatan. Hirarkhi otonomi manajemen dokter spesialis Depkes RI (Pusat). Dinkes Provinsi dan Dinkes kabupaten/kotamadia b.000 -6. No. kebidanan dan penyakit dalam.333 3. Peraturan ini hendaknya secara jelas dan tegas memuat ketentuan-ketentuan atau komponen yang berkaitan dengan distribusi dokter spesialis setelah menyelesaikan pendidikannya.025 0. Rerata dokter spesialis per 100. Peraturan ini sebaiknya memberikan insentif kepada dokter spesialis untuk bersedia ditempatkan pada RSUD kabupaten.049 SE (B) 1.

D.who. Ketiga. Lipson. b.” Health Policy and Planning. 6. Jakarta. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu bekerja sama untuk memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis dengan perioritas putera asli daerah. 9. KEPUSTAKAAN 1. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Stilwell. Jakarta. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. 11. From State to Market: the Nicaraguan Labour Market for Health Personnel. Lukman. Physician Distribution and Health Chalengges in Rural and Inner City Areas. 09.” 2002 (http://www. Martinez. 3 September 2006 l 153 . Adams. O. fasilitas kerja. Perlu dikembangkan intervensi manajemen yang komprehensif untuk mendistribusikan dokter spesialis ke RSUD di seluruh kabupaten Indonesia. Vol. “Imbalances in the Health Workforce: Briefing Paper. Pertama. Penerbit Buku Kompas.pdf) Geneva. 1998. Kepadatan penduduk tinggi. Nigenda. 2000.int/healthservices-delivery/disc paper/right imbalancesbriefing. J. P.pdf) Geneva. 13(4): 345-58.who. Jilid 3. “Rethinking Human Resources: an Agenda for Milenium.Jilid 2. Zurn.. O : “Achieving the Right Balance: The Role of Policymaking in Managing Health Resources for Health Problem”. PDRB per kapita tinggi.. 8.. pemerintah perlu membuat Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden sebagai basis legal Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS). Jilid 4.. Dal Poz. Jumlah kematian bayi rendah dan c. Realisasi Penempatan Dokter Spesialis per Provinsi Januari-Desember 2004. Penerbit Buku Kompas. Jilid 1. 4. Jakarta.int/hrh/ documents/en/imbalances-briefing. 1998. 2000 (http://www. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2. 5.. No. tunjangan kesehatan dan sosial. Karnadihardja.USA. W.T. perlu pemberian insentif finansial. Adams. D. M. WHO) 10.15(3):312-318. rumah dan mobil yang layak untuk dokter spesialis selama masa WKDS di RSUD kabupaten. B. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Antisipasi Terhadap Krisis Ketenagaan Dokter spesialis di Indonesia Menjelang Tahun 2003. Martinau . Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Penerbit Buku Kompas. Departemen Kesehatan RI. H.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Determinan distribusi dokter spesialis di kota/ kabupaten dan signifikan adalah: a. K. Departement of Health and Human Services.. Health Policy and Planning.. Egger. G. Dokter spesialis lebih memilih untuk berkeja dan tinggal daerah perkotaan. Machado. WHO) (Issues in Health services Delivery Discussion Paper No:2). COGME Teenth Report. Depkes RI. 2004. Kedua. 3. Penerbit Buku Kompas. Jakarta 7.

rasio beban tanggungan.000 penduduk di kabupaten/kota. 3 September 2006 . PDRB per kapita pada tabel PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menurut provinsi (rupiah).Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Lampiran 1. kelompok umur. tahun 2002 Le2 Data Informasi Kemiskinan 2003 Data Informasi Kemiskinan 2003 Persentase melek huruf tahun 2002 Melek2 Human Development Index tahun 2002 Ipm2 Data Informasi Kemiskinan 2003 Persentase angka beban tahun 2002 Deprat Profil kesehatan tiap provinsi Jumlah kematian bayi tahun 2002 Imrj2 Profil kesehatan tiap provinsi Jumlah kematian balita tahun 2002 Jumlah kematian ibu hamil tahun 2002 Kepadatan penduduk tahun 2002 Akabaj2 Profil kesehatan tiap provinsi Profil kesehatan tiap provinsi Mmrj2 Densit2 154 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 09. kematian bayi. Kategori: < 6 kurang > 6 cukup Sumber data BPS BPS BPS BPS Profil kesehatan tiap provinsi Rasio Dokter spesialis tahun 2002 Rasdsp2 Klasifikasi rasio dokter spesialis tahun 2002 Sp6 Independen variabel Pendapatan asli daerah tahun 2002 Pad Pendapatan asli daerah. tahun 20002003 Persentase penduduk miskin pada tabel jumlah dan persentase penduduk miskin. dihitung biaya estimasi untuk tahun 2002. P2. No. kabupaten dan kota tahun 2002 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tabel IPM dan komponennya menurut provinsi. kabupaten dan kota tahun 2002 Persentase angka beban pada tabel jumlah penduduk menurut jenis kelamin. dan garis kemiskinan menurut Provinsi.000/ jumlah penduduk pada tahun 2002) Klasifikasi rasio dokter spesialis pada tahun 2002 berdasarkan cut off 6 dokter spesialis per 100. P1. Data sebelum tahun 2002. baik dengan cara present value atau future value. kabupaten dan kota tahun 2002 Persentase angka melek huruf pada tabel IPM dan komponennnya menurut provinsi. BPS. Vol. kematian bayi. dan kematian balita menurut kabupaten/kota Jumlah balita yang mati pada tabel kelahiran bayi. Definisi Operasional Variabel Analisis Kabupaten/Kota Nama variabel Kode provinsi Nama provinsi Nama kabupaten/kota Jenis wilayah Dependen variabel Jumlah Dokter spesialis tahun 2002 Variabel Kodeprop Namaprop Namakab Kab_kota Dsp2 Definisi Kode provinsi Nama provinsi Nama kabupaten/kota Jenis kabupaten/kota Jumlah dokter spesialis pada tahun 2002 pada tabel rasio tenaga medis terhadap penduduk menurut kabupaten/kota Dihitung dengan rumus: (Jumlah dokter spesialis tahun 2002 x 100. dan kematian balita menurut kabupaten/kota Jumlah kematian maternal pada tabel jumlah kematian ibu maternal menurut kabupaten/kota Dihitung dengan rumus: jumlah penduduk tahun 2002/luas wilayah tahun 2002 Profil Daerah 20012003. Kabupaten dan Kota Tahun 2002 Harapan hidup pada tabel IPM dan komponennnya menurut provinsi. 2000-2003 Data Informasi Kemiskinan 2003 PDRB per kapita tahun 2002 Pdrbkapi Persentase penduduk miskin tahun 2003 Miskin3 Life expectancy. menurut kabupaten/kota Jumlah bayi (umur 0-1 tahun) yang mati pada tabel kelahiran bayi. kutipan data Pemda PDRB Kabupaten dan Kota di Indonesia.

1 1.0 -0.2 -0.0 0.0 0.1 -0.2 0.1 0.0 1.0 -0.5 0.2 0.0 * r > 0.0 0.1 -0.6 1.1 1.3 0.3 1.0 0.7 0.1 -0.0 -0. 09.2 -0.0 -0.1 0.2 -0.2 0.0 0.2 -0.3 1.1 0.6 berarti ada korelasi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.2 0.0 -0.0 -0.0 0.1 1. Vol.0 0.1 -0. Index Human Development Index Persentase angka beban Persentase melek huruf Persentase penduduk miskin Pendapatan Asli Daerah PDRB per kapita Kepadatan penduduk Jumlah kematian bayi Jumlah kematian balita Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin Persentase angka beban Persentase melek huruf Persentase penduduk miskin PendaKepapatan PDRB datan per kapita penduAsli Daerah duk Jumlah kematian bayi Jumlah kematian balita Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin 1.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lampiran 2. No.0 -0.2 0.2 0.0 -0.3 0.2 -0.0 0. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2002 Human Dev.2 0. Multikolinearitas Antara Variabel Sosial Ekonomi Dan Kesehatan.1 1.0 0.0 -0.2 0.1 0. 3 September 2006 l 155 .0 0.5 -0.2 -0.2 0.1 0.0 0.1 0.2 -0.0 1.1 -0.2 0.0 0.1 -0.3 1.

Di Kota Medan. hasil analisis situasi menunjukkan.3 Khusus di Provinsi Sumatera Utara.4 Metode: Penelitian komparasi regulasi pelayanan dokter spesialis melalui kajian terhadap peraturan perundangundangan tentang praktik kedokteran yang difokuskan pada sistem registrasi dan perizinan praktik kedokteran. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Background: Tendency of Indonesian citizen to obtan medical care to abroad. surat izin praktik kedokteran hanya diberlakukan untuk paling banyak tiga tempat dan surat izin praktik hanya berlaku untuk satu praktik. Every application for annual practice certificate must be attached with competence test result to acknowledge the development of medical doctor in every year. The punishment for violation of the law starting with warning until fine strictly implemented. registration.4 Method: A comparative study on doctor specialist’s service by investigation of regulation on medical practice focused on registration system and medical practice license. Data collecting method done by investigate act regulations about registration system and license of medical practice and interview with two chiefs of private hospital about doctor specialist management in hospital and a chief of Health District at each research location.2. according the consideration decided by Health Minister in Medical Act 50 year 19716 and Act 586 year 19987.00 PM. Government officers are “kingdom’s hand and feet” work in the hospital from 08. such as Malaysia and Singapore shows a serious problem in quality of health services in Indonesia. begitu juga sebaliknya. besides frequent malpractice and wrong diagnosis by health officer.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. Berbeda dengan di Indonesia. The health office only act as technical executor that is doing supervision and construction on private medical practice and in the government hospital. Hospital supervision done based on complaint from society can be processed immediately. bahwa dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta.00. In Medan. Peran Jabatan Kesihatan Pulau Pinang hanya sebatas pelaksanaan teknis yaitu melakukan pengawasan dan Keywords: regulation. Vol. No. Unit analisis adalah registrasi dan lisensi praktik kedokteran di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. memberikan kesempatan kepada dokter spesialis yang terbatas jumlahnya untuk berpraktik lebih dari tiga tempat melalui nota tugas yang dikeluarkan oleh Dinkes Kota Medan yang berlaku per tiga bulan dan setelah itu dapat diperpanjang. dan adanya krisis ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di samping semakin seringnya muncul dugaan malpraktik dan salah diagnosis oleh petugas kesehatan. while in Penang Island were valid for 1 year and need to be extent every 31st December in the same year. Different with in Indonesia. medical practice 156 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. serta masih lemahnya pelaksanaan regulasi pelayanan kesehatan. But.1.3 In North Sumatra Province.00 AM until 05. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. situational analysis shows the lack of preparation of North Sumatera facing globalization era especially in health sector. Conclusion: It can be concluded that the implementation of medical practice regulation in Penang Island is better than Medan. 3 September 2006 . Result: Research results show that medical practice license at Medan were valid for five years. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa surat izin praktik kedokteran di Kota Medan berlaku untuk lima tahun. in Penang Island.1. Setiap mengajukan untuk memperoleh sertifikat praktik tahunan tersebut harus melampirkan hasil tes kompetensi sehingga diketahui perkembangan kompetensi tenaga dokter setiap tahunnya. medical practitioner license were valid only for one place.162 Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Artikel Penelitian REGULASI DOKTER SPESIALIS STUDI KOMPARASI REGULASI PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MEDAN INDONESIA DAN NEGERI PULAU PINANG MALAYSIA REGULATION DOCTOR SPECIALIST COMPARATION STUDY HEALTH CARE REGULATION IN MEDAN AND PENANG ISLAND Zulfendri Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Lokasi penelitian di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang.2. medical practice license were given only for at most three places and.00 – 17. masih kurangnya kesiapan Provinsi Sumatera Utara menghadapi era globalisasi terutama dalam bidang kesehatan. Research locations were Medan and Penang Island. Namun berdasarkan Permenkes 1419 Tahun 20045. besarnya biaya yang hilang. license. large costs loss and crisis of society about the quality of health service. 09. ABSTRAK Latar belakang: Meningkatnya kecenderungan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Singapura menunjukkan adanya masalah yang serius dalam mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. sedangkan di Negeri Pulau Pinang perizinan praktik kedokteran hanya berlaku selama satu tahun saja dan harus diperpanjang setiap tanggal 31 Desember dalam tahun yang sama. Permenkes 1419 year 20045 gave opportunity to some specialists to practice more than three places on duty note issued by Dinkes Medan which valid for three months and can be extended. 03 September l 2006 Halaman 156 . di Negeri Pulau Pinang. the doctor whom works in government (kingdom) hospital cannot work in the private sector and also in the contrary. Metode pengumpulan data dilakukan pengkajian peraturan perundangundangan tentang sistem registrasi dan perizinan praktik kedokteran dan wawancara terhadap dua orang pimpinan rumah sakit swasta tentang manajemen dokter spesialis di rumah sakit dan satu orang pejabat Dinkes tentang pelaksanaan registrasi dan perizinan di masing-masing lokasi penelitian.

Sistem regulasi yang ada dapat digunakan sebagai landasan untuk pembuatan suatu kebijakan yang baru dengan mempertimbangkan segala aspek yang dapat merugikan masyarakat banyak. 2) besarnya costs yang hilang. sehingga ada kemungkinan terjadinya konflik antara tradisi dan budaya dokter spesialis. dan masyarakat Riau ke Malaka. registrasi. 3 September 2006 l 157 . kalaupun ada belum dijalankan secara konsisten. Undang-Undang (UU) No. Pendekatan seperti ini disebut sebagai pendekatan sosial. perizinan dan sertifikasi. standar pelayanan medik yang memadai.9 Menurut Ogus (dalam Kumaranayake dkk)10 bahwa regulasi dalam sektor kesehatan yang menekankan pada pengembangan berbagai standar yaitu dengan memastikan level minimum dari kualitas dan keselamatan baik standar profesi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pembinaan terhadap praktik kedokteran swasta dan di rumah sakit pemerintah. Pada tahun 2003 diperkirakan bahwa rata-rata 1000 orang warga Medan berobat ke Penang setiap bulannya dan dilaporkan bahwa setiap tahunnya kedua negara tersebut mendapat devisa sekitar 400 juta dollar AS dari warga Indonesia yang berobat. Sebagaimana dikemukakan oleh Trisnantoro1 bahwa perlu diperketat aturan kerja profesional dokter yang tidak memberikan toleransi terjadinya error. sehingga tidak memberikan toleransi terjadinya kesalahan. Analisis situasi pada Sistem Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 4 menyebutkan bahwa setiap tahunnya dilaporkan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang berobat ke luar negeri (Penang/ Malaysia dan Singapura). sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesihatan dalam Medical ACT 50 tahun 19716 dan ACT 586 tahun 19987. keahlian dan kewenangan yang secara terus-menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan berkelanjutan”.10 regulasi terjadi apabila pemerintah berusaha mengontrol atau mempengaruhi aktivitas-aktivitas individu atau Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 29/20048 tentang Praktik Kedokteran yang dilatarbelakangi bahwa : “. Sebagaimana dikemukakan oleh Trisnantoro1 pada kolom editorial Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan (JMPK) bahwa masyarakat Kota Medan banyak yang berobat ke Pulau Penang. Sejak diundangkannya UU Praktik Kedokteran (UUPK) tersebut menggambarkan bahwa regulasi terhadap pola kerja dokter semakin meningkat. dkk. standar pelayanan ataupun standar perizinan lembaga. Kata Kunci: regulasi.penyelenggaraan praktik kedokteran yang merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh dokter dan dokter gigi yang memiliki etik dan moral yang tinggi. standar kompetensi. 3) adanya krisis ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di samping semakin sering muncul dugaan malpraktik dan salah diagnosis oleh petugas kesehatan. praktik kedokteran PENGANTAR Sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) otonomi daerah. Dari keadaan ini ada beberapa poin yang dapat disimpulkan yaitu: 1) masih kurangnya kesiapan Provinsi Sumatera Utara menghadapi era globalisasi terutama dalam bidang kesehatan. Adanya sanksi yang jelas terhadap pelanggaran undang-undang mulai dari surat amaran (teguran) sampai kompaun (denda) yang dilaksanakan secara tegas.. Supervisi terhadap rumah sakit dilakukan berdasarkan setiap ada pengaduan dari masyarakat dan segera ditindaklanjuti. perizinan. “untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima pelayanan kesehatan. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan regulasi praktik kedokteran di negeri Pulau Pinang lebih baik dibandingkan dengan Kota Medan. Menurut Kumaranayake.4 Ketidakmampuan rumah sakit Indonesia bersaing di era globalisasi tidak terlepas dari kelemahan peraturan pemerintah yang mengatur pelayanan kesehatan seperti. memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk menyusun dan menetapkan suatu kebijakan dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan daerahnya. serta masih lemahnya pelaksanaan regulasi pelayanan kesehatan. masyarakat Kalimantan Barat banyak yang berobat ke Kuching. No. standar profesi. Vol. artinya aturan-aturan cara kerja profesional dokter semakin diperketat karena pekerjaan profesional dokter erat kaitannya dengan hidup dan penghidupan manusia. dapat dibedakan dengan pendekatan ekonomi yaitu melihat peran regulasi dalam kaitannya dengan mekanisme pasar. Di Indonesia pada saat ini penyelenggaraan praktik kedokteran dikaitkan dengan mutu pelayanan kesehatan merupakan masalah yang serius dan salah satu faktor penyebab meningkatnya kecenderungan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Untuk mengukur mutu tenaga kesehatan sebagai tenaga profesional salah satu strategi adalah bagaimana penataan tenaga kesehatan melalui sistem registrasi. dan dokter gigi. 09. diperlukan pengaturan mengenai penyelenggaraan praktik kedokteran”. Adanya suatu tradisi baru yang dikandung dalam UUPK sedang mengalami proses adaptasi terhadap tradisi yang selama ini berlaku bagi kalangan profesional kedokteran. dokter.

Peraturan Pemerintah No. Saving and Repeal 3. Keputusan Dirjen Binkesmas No. Peraturan Pemerintah No. 15/200212 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan. Berdasarkan latar belakang penelitian. 1419/200515 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi 11.1/198817 tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik 5. Medical Regulation 1974 Tentang Regulations. Selanjutnya Walshe11 menyatakan bahwa regulasi sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus oleh lembaga publik untuk mengawasi aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.1170A/199920 tentang Masa Bakti Tenaga Medik. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang-undangan yang terkait dengan registrasi dan perizinan praktik kedokteran.3.916/199719 tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik. Peraturan Menteri Kesehatan No. Peraturan Menteri Kesehatan No.06. 3. 1/ 200524 tentang No.1540/200221 tentang Penempatan Tenaga Medik. Selama era desentralisasi hanya satu peraturan daerah yang dimiliki oleh Kota Medan yaitu Perda No. Keputusan Menteri Kesehatan No. Lokasi penelitian di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. Peraturan Daerah No. No. kuantitas. Identifikasi Peraturan Perundang-Undangan yang Terkait dengan Registrasi dan Perizinan Praktik Kedokteran Hasil identifikasi beberapa peraturan perundangundangan yang terkait pada pelaksanaan registrasi dan lisensi tenaga dokter yaitu: 1. 09. Vol.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan lembaga melalui harga. Di Negeri Pulau Pinang. Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No. 9. Untuk melengkapi informasi dilakukan wawancara terhadap dua orang pimpinan rumah sakit swasta dan satu orang pejabat dinkes di masingmasing lokasi penelitian. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No. maka permasalahan penelitian yaitu “ bagaimana regulasi sistem registrasi dan lisensi praktik kedokteran menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Kota Medan dan di Negeri Pulau Penang tahun 2006” BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi komparasi mengenai regulasi sistem registrasi dan perizinan dokter spesialis di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang.HK. kualitas dan distribusi.32/199618 tentang Tenaga Kesehatan 6. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang terkait dengan praktik kedokteran tentang registrasi dan lisensi bagi praktik tenaga dokter di Kota Medan maupun di Negeri Pulau Pinang dapat diuraikan sebagai berikut: Registrasi dan Lisensi Praktik Kedokteran Dasar perundang-undangan tentang registrasi dan lisensi tenaga dokter di Kota Medan pada dasarnya masih merujuk pada peraturan perundangundangan yang berasal dari pusat seperti peraturan pemerintah dan peraturan menteri kesehatan karena belum memiliki peraturan yang bersifat operasional tentang pengaturan praktik kedokteran. sedangkan Keputusan Walikota Medan No. 50/200113 hanya mengatur tentang Pelayanan Pengobatan Dasar Gratis di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. Undang-Undang No.664/198215 tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik Dasar. Peraturan Menteri Kesehatan No. Regulation 1993 tentang Medical Setting of Examination For Provisional Registrations 158 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 15/2002 12 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan di Kota Medan. 2. 3 September 2006 .5. Unit analisis adalah regulasi sistem registrasi dan lisensi praktik kedokteran di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. 920/198614 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. 2/2005 tentang Penetapan Besarnya Biaya Registrasi Dokter dan Kedokteran Gigi. ACT 50/19716 tentang Medical ACT 2. 29/20048 Tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi 10. 4.5797 16 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Bidang Spesialistik. beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan registrasi dan lisensi tenaga dokter meliputi: 1. 8. Permenkes No.00. 7. 1/ 200522 tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi 12. 13.

5. Registrasi dan Lisensi Praktik Kedokteran Sejak diundangkannya UU No. 29/20048 tentang Praktik Kedokteran terjadi perubahan kebijakan dalam hal registrasi maupun registrasi ulang bagi dokter. Permohonan perizinan ditujukan kepada kepala daerah dengan melengkapi persyaratan. dokter wajib mengajukan permohonan kepada KKI 4. 4. namun dalam pelaksanaannya sebagian besar dapat diselesaikan dalam satu bulan dan masih ada sampai 1. 2/200524 yaitu sebesar Rp250. Belum optimalnya pemberian surat izin praktik dikaitkan dengan penempatan kerja dokter. Registrasi dokter dan dokter gigi berpedoman pada Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. 7. Vol. Surat Izin Praktik (SIP) Dokter hanya diberikan untuk paling banyak tiga tempat. 29/2004 8 bahwa kewenangan registrasi dokter berada pada Konsil Kedokteran Indonesia yang berkedudukan di ibu kota negara dan sebelumnya merupakan kewenangan dinas kesehatan provinsi. 09. dapat disimpulkan sebagai berikut: Registrasi Praktik Kedokteran 1. Dari berbagai peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai rujukan yang terkait dengan pelaksanaan registrasi dan perizinan (lisensi) tenaga dokter di Kota Medan. 6. b) Surat Praktik Dokter Spesialis sebesar Rp100. tugas dan wewenang) 8. 1 tahun 200522 5. surat persetujuan atasan). 8.000. keputusan penempatan (khusus pegawai negeri sipil. Untuk memperoleh STR. Biaya penyelesaian SIP di Kota Medan disesuaikan dengan peraturan daerah No. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDK) di tingkat Provinsi dapat dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia atas usul Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Perizinan Praktik Kedokteran Hasil wawancara tentang pelaksanaan pemberian izin praktik dokter oleh Dinas Kesehatan Kota Medan tentang perizinan praktik kedokteran yaitu sebagai berikut: 1. Peraturan Konsil Kedokteran Malaysia Tahun 1986 tentang Medical (Instrumens) (Exemptions) ACT 586/19987 tentang Private Healthcare Facilities and Services ACT Negara Malaysia telah memiliki peraturan tentang praktik kedokteran yaitu sejak tahun 1971. Surat Izin Praktik (SIP) tersebut berlaku untuk waktu lima tahun dan harus diperbaharui apabila habis masa berlakunya. 15 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan yaitu. Bahwa registrasi dokter spesialis tetap dilaksanakan di pusat cq Biro Kepegawaian Departemen Kesehatan 11.00. 3. serta satu Surat Izin Praktik hanya berlaku untuk satu tempat praktik. 9. No. Adanya kewajiban dari dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota melaporkan tenaga-tenaga dokter yang telah mendapat registrasi kepada menteri kesehatan 10. Pelaksanaan registrasi bagi dokter dikaitkan dengan penempatan dokter 7. Konsil Kedokteran Indonesia (kedudukan.000. Biaya proses registrasi secara formal telah diatur pada Keputusan KKI No. 1 tahun 200522 2. Berdasarkan UU No. Izin Praktik dapat diberikan setelah sejumlah persyaratan dipenuhi antara lain surat penugasan. fungsi. 5. Untuk perizinan (lisensi) dokter tetap dilaksanakan dan diberikan oleh pejabat dinkes di kabupaten/kota. 3 September 2006 l 159 . 2.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. sedangkan Indonesia baru pertama kali memiliki UUPK yaitu sejak diundangkannya UU No. Penyelesaian SIP berdasarkan ketentuan Perda No.00.00. Proses penyelesaian registrasi tenaga dokter selambat-lambatnya tiga bulan setelah permohonan diterima oleh KKI 6.000. 12. Tata cara memperoleh STR berdasarkan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No. Belum optimalnya pemberian surat rekomendasi dari organisasi profesi tentang kemampuan profesional seorang dokter (keilmuan dan keahlian klinis). a) SIP Dokter Umum sebesar Rp50. Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter 3. 15/200113 harus selesai selama tiga minggu sejak tanggal permohonan diterima di kantor Dinas Kesehatan. 29/20048 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi. bagi dokter disebut Surat Izin Praktik (SIP).5 bulan. Dinas Kesehatan Medan saat Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bentuk surat izin. Dalam rangka registrasi dokter oleh dinkes provinsi selain diberikan surat penugasan (SP) juga diberikan kartu registrasi 9.

maupun organisasi profesi. ini telah memiliki program komputer yang dapat membantu dalam pelaksanaan sistem pencatatan izin praktik dokter. Dinas Kesehatan Kota Medan belum optimal melaksanakan pembinaan dan pengawasan dengan melakukan pemantauan masa berlakunya SP dan SIP. Dan surat tugas tersebut berlaku untuk jangka waktu tiga bulan dan dapat diperbaharui. Registrasi sementara bagi praktisi kedokteran yang berasal dari luar Malaysia dan berlaku selama tiga tahun c. Dari berbagai hal yang terkandung dalam ACT (50)/197116 yang membedakan dengan peraturan perundang-undangan Indonesia yaitu: a. Masalah biaya registrasi praktik kedokteran secara formal ditentukan dalam peraturan 1974 yaitu: (a) biaya registrasi sementara sebesar 20 ringgit. Di dinas kesehatan terdapat unit khusus yang mengurus perizinan yaitu seksi perizinan dan akreditasi sarana pelayanan. (b) biaya registrasi penuh sebesar 100 ringgit. Di Negeri Pulau Pinang. 3 September 2006 . dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Dalam melaksanakan yuridiksi kedisiplinan. Hal ini dikarenakan tidak adanya dana operasional untuk pengiriman SIP tersebut kepada yang bersangkutan. 1419/2005. Dinas kesehatan kabupaten/kota juga memberikan surat tugas atau nota tugas kepada dokter spesialis dan dokter gigi spesialis tertentu di rumah sakit dalam rangka memenuhi kebutuhan. 09. Sertifikat Tahunan /Izin praktik dokter hanya berlaku selama satu tahun dan harus di perpanjang kembali setiap tanggal 31 Desember dalam tahun berjalan e. Hal ini disebabkan kekurangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap praktik kedokteran. b. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai acuan yang terkait dengan registrasi dan perizinan (lisensi) tenaga dokter dan hasil wawancara kepada pejabat kesehatan di Negeri Pulau Pinang. Registrasi Praktik Kedokteran diatur dalam peraturan 1974 l. namun pelaporan hanya didasarkan jika ada permintaan hasil rekapitulasi tenaga dokter yang telah memperoleh SIP baik oleh menkes. konsil dapat menjatuhi hukuman i. Undang-Undang Praktik Kedokteran berpedoman kepada ACT (5)/197116 yang terdiri dari tujuh bagian dan 44 pasal. (c) biaya sertifikat tahunan sebesar 50 ringgit. 13. 14.2 Surat Izin Praktik (SIP) yang telah selesai.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan 10. dan (d) sertifikat praktik temporer sebesar 50 ringgit. Adanya komite pemeriksaan awal terhadap pelanggaran kedisiplinan profesi kedokteran dengan prosedur yang jelas sebagaimana yang tercantum pada ACT (50)/1971 pasal 36 s/d pasal 386 dan Peraturan 1974 pasal 261 k. 160 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Uji kompetensi dilaksanakan kepada setiap dokter yang mengajukan permohonan sertifikat registrasi baik registrasi sementara maupun registrasi penuh serta sertifikat tahunan yang diselenggarakan oleh dewan komite yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Malaysia f. Registrasi penuh yaitu seseorang telah memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai yang dinyatakan oleh konsil d. No. Konsil Kedokteran Malaysia memiliki yuridiksi kedisiplinan h. Untuk memperoleh rekomendasi kompetensi harus mengikuti beberapa pengujian baik secara tertulis maupun lisan yang dikeluarkan oleh Dewan Kualifikasi yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Malaysia g. diambil sendiri oleh yang bersangkutan. Vol. Diberikan kesempatan kepada dokter yang dinyatakan melakukan pelanggaran kedispilinan oleh Konsil untuk melakukan banding terhadap keputusan konsil tersebut j. Registrasi sementara semata-mata untuk tujuan mendapatkan pengalaman dan sebagai syarat terdaftar sebagai registrasi penuh 2. 12. Penentuan Anggota Konsil Kedokteran Malaysia melalui seleksi berdasarkan permohonan pencalonan anggota Konsil sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan pada peraturan 1974 m. gubernur. 11. Kewajiban melakukan pelaporan hasil rekapitulasi daftar izin praktik belum terlaksana dilakukan secara periodik. dinkes provinsi. Pemberian surat tugas ini merujuk pada Permenkes No.

untuk perpanjangan dan pemutusan kerja sama antara rumah sakit dan dokter belum sepenuhnya berdasarkan informasi appraisial kinerja. Swasta “X” Medan Rekruitmen Izin praktik Kredensial belum optimal • Memiliki STR • Memiliki SIP • Surat/Nota Tugas • SIP belaku 5 tahun dan dapat diperpanjang Dokter spesialis • • • Tidak ada yang bekerja secara full time Sebagian besar part timer Sebagian Besar PNS Lamanya kontrak Sistem pembayaran terhadap dokter penetapan besarnya jasa medis Batas waktu kurang jelas Perpanjangan/pemutusan kontrak kerja hanya sekedar formalitas saja Fee for service • Berdasarkan tarif rumah sakit • ditentukan oleh dokternya sendiri • • Disesuaikan dengan waktu dokter • Keberadaan dokter di RS sesuai jadwal RS menyediakan ruang dan fasilitas alat • Pengaturan waktu praktik konsultasi Kepemilikan tempat praktik konsultasi Pembinaan terhadap dokter spesialis Peran komite medik Sistem kerja spesialis Pelaksanaan audit klinit Tidak ada Belum optimal Umumnya masih bekerja secara individual Belum rutin / insidentil RS. sehingga memudahkan pasien untuk bertemu dan berkonsultasi dengan dokter. Swasta “Y” Negeri Pulau Pinang Kredensial • Registrasi penuh • Sertifikat praktik tahuan hanya berlaku untuk satu tahun dan dapat diperpanjang per 31 Desember dalam tahun yang berjalan • Sebagian besar bekerja secara full timer • part timer • Tidak ada dokter pemerintah (kerajaan) dan hanya dokter swasta • Setiap tahun diperbaharui • Perpanjangan/ pemutusan kontrak kerja berdasarkan informasi appraisal kinerja Fee for service • Berdasarkan tarif RS yang telah ditetapkan antara pihak RS dengan dokter dalam bentuk paket • Kesepakatan antara dokter dengan RS • Dokter tetap berada di lingkungan RS • RS menyediakan ruang dan fasilitas alat • Dokter mengkontrak salah satu ruangan rumah sakit untuk praktik konsultasi Tidak ada Optimal Umumnya bekerja secara tim Bersifat rutin Pada umumnya rumah sakit swasta di Medan mempekerjakan dokter yang berstatus PNS yang bekerja secara part timer dan sebagai konsultan. Di Kota Medan. terdapat prosedur tahapan penyelenggaraan penyelidikan jika terdapat pengaduan / informasi pelanggaran disiplin kedokteran. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. KESIMPULAN Belum optimalnya peraturan daerah yang mendukung regulasi registrasi dan perizinan praktik dokter.00 – 17. 09. Di Negeri Pulau Pinang. Perbandingan antara Manajemen Dokter Spesialis di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang RS. Depkes.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan n. Dinas kesehatan belum membuat laporan registrasi tenaga dokter secara periodik kepada Pemerintah Daerah. dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta.00. Pada umumnya dokter yang bekerja di rumah sakit swasta bekerja secara full timer. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. Penyelenggaraan penyelidikan dilakukan oleh Komite penyelidikan awal yang dibentuk oleh Konsil. 3 September 2006 l 161 . Di Negeri Pulau Pinang pelaksanaan perpanjangan dan pemutusan hubungan kerja dilakukan berdasarkan informasi penilaian kinerja dokter yang dilaksanakan setiap tahun. Manajemen Dokter Spesialis di Rumah Sakit Berdasarkan hasil wawancara terhadap Direktur Pelayanan Medik Rumah Sakit Swasta “X” di Medan dan CEO Rumah Sakit Swasta “Y” di Negeri Pulau Pinang dapat disimpulkan sebagai berikut (Tabel 1). Dinkes Provinsi. Tabel 1. Pada peraturan 1974. No. dan KKI. begitu juga sebaliknya. Vol.

Permenkes No. BPP. Departemen Kesehatan. 1996. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah PP No. Pemerintahan Kota Medan.1540 Tahun 2002 tentang Penempatan Tenaga Medik.5797 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Bidang Spesialistik. 1419 tahun 2005 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi. 2002.916 Tahun 1997 Tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik. 1986. Dirjen Pelayanan Medik. Walshe K. Mpembeni. Jakarta. 8. Dinkes Provinsi. Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. Belum optimalnya Dinas kesehatan Kabupaten/ Kota dalam mengantisipasi terhadap perubahan kebijakan wewenang registrasi dokter.. 17. Organisasi profesi belum optimal dalam melaksanakan program Pendidikan Profesi Berkelanjutan. 2004. 2005. Tentang Privat Healthcare Facilities and Services ACT. 2005. 21. Jakarta. Kumaranayake. 9. 8(03)September:119-20. 50 Tahun 2001 Tentang Pelayanan Pengobatan Dasar Gratis di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit.. Jakarta. Permenkes No. 3 September 2006 . 20. No. Dirjen Pelayanan Medik. 14. R. 11. Dinas kesehatan belum melakukan pemantauan SP dan SIP secara optimal. 13. Departemen Kesehatan. Departemen Kesehatan.3. 2002. Dirjen Pelayanan Medik. Sistem Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Antara Misi Sosial dan Tekanan Pasar. 2. Konsil Kedokteran Indonesia. Permenkes No.1 Tahun 1988 Tentang Izin Praktik bagi Tenaga Medik.32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan.00 KEPUSTAKAAN 1. Jakarta. Vol. Jakarta.00. Keputusan Dirjen Binkesmas No. Dirjen Pelayanan Medik. Published by MDC Publishers SDN BHD.HK. Di Negeri Pulau Pinang pelaksanaan pengujian kompetensi dilaksanakan setiap pengajuan surat praktik tahunan sedangkan di Medan dilaksanakan setiap lima tahun dan dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta. P. 2004.. 10. Undang Undang No. Menyambut Undang-Undang Praktik Kedokteran: Apakah Berjalan. 2005.664 Tahun 1982 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik Dasar. Departemen Kesehatan.920 Tahun 1986 Tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. Kajian Perijinan dan Sertifikasi Tenaga Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Jakarta.1170A Tahun 1999 Tentang Masa Bakti Tenaga Medik.06. Konsil Kedokteran Indonesia. Kepmenkes No. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara. 162 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Konsil Kedokteran Indonesia. Health Policy and Planning. Jakarta. Trisnantoro. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No. Penelitian Faktor Penyebab dan dampak Meningkatnya Masyarakat Berobat Ke Luar Negeri. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Waktu untuk memproses SIP dan SP belum sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh peraturan. 4. 22. 2 Tahun 2005 Tentang Penetapan Besarnya Biaya Registrasi Dokter dan Kedokteran Gigi. 2005. BMJ. How Do Countries Regulate The Health Sector? Evidence from Tanzania and Zimbabwe. 5. PERDA No. 23.. 2002. Published by MDC Publishers SDN BDH. 2005. The Rise of Regulation in the NHS. 15. Pemko Kota Medan. 6. 1997. Sumatera Utara. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM. Mujinja. 1 Tahun 2005 Tentang No. 16. Lake. Departemen Kesehatan. Departemen Kesehatan. 2005. Departemen Kesehatan. Manajemen dokter spesialis belum optimal dilaksanakan di rumah sakit swasta Medan. Jakarta. L.. Keputusan Walikota No.00 – 17. 18. 1999. Konsil Kedokteran Indonesia. 7. 2001. Jakarta. 1988. Provincial Health Proct II (PHP II) North Sumatera Province.5. Departemen Kesehatan. Yogyakarta. Departemen Kesehatan. 1 Tahun 2005 Tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi. Jakarta. Jakarta. 12. S. 1982. 2005. Hongoro. begitu juga sebaliknya. Jakarta. Trisnantoro. L. 2004. Dinkes Provinsi. L. Dinkes Provinsi.Provinsi Sumatera Utara. 2004. 15 Tahun 2002 Tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan di Kota Medan. Tentang Medical ACT. 3. Penerbit Yustisia. ACT 586 Tahun 1998. 2000. 09. C. ACT 50 Tahun 1971. 19. Departemen Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan No. Dinas kesehatan kabupaten/kota belum memiliki sumber daya manusia yang berkompetensi dalam melakukan pembinaan dan pemantauan praktik dokter.

Block Jones and Bartlett Publisher 2006 D i abad ke dua puluh ini telah terjadi revolusi besar di bidang pelayanan kesehatan. cara penyampaiannya yang singkat. No. 03 September l 2006 Halaman 163 . Buku ini juga membahas masalah metodologi epidemiologi. efektivitas. manajemen kesehatan lingkungan. Buku Healthcare Outcomes Management mengeksplorasi telaah kritis terhadap manajemen dan perencanaan outcome pelayanan kesehatan dengan menggunakan pendekatan biopsikososial sebagai kerangka diskusi. informatika.163 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Pengarang Penerbit Tahun : : : : Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation Dale J. optimalitas. dan ukuran yang tidak terlalu tebal membuat buku ini bisa menjadi teman dalam perjalanan. Diawali dengan sejarah singkat mengenai manajemen mutu. Dilihat dari isinya buku ini pantas untuk menjadi sebuah textbook untuk mahasiswa S2 di bidang kesehatan masyarakat. akseptabilitas. Melalui buku ini penulis mengajak Pembaca untuk memahami model biopsikososial dari proses pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan relevansinya dengan evaluasi sistematik terhadap intervensi pelayanan kesehatan. 09. Meskipun buku ini menggunakan pendekatan biopsikososial. Godfrey. dan fokus-fokus lainnya dalam pelayanan kesehatan. Vol.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pembaca diajak kembali untuk mengingat kembali teori-teori manajemen mutu dari Berwick. berbagai desain evaluasi pelayanan kesehatan. Meskipun begitu. serta adanya pergeseran orientasi ke arah hak-hak pasien mendorong munculnya kebutuhan akan manajemen dan perencanaan pelayanan kesehatan yang lebih canggih dan sistematik. Ditemukannya berbagai jenis terapi medis baru. Pembahasan laporan mengenai pelayanan kesehatan di abad 21 oleh Institute of Medicine. termasuk perlunya perubahan dalam system pelayanan kesehatan disajikan secara menyeluruh. enak dibaca. dan Roessner. etika dan kesetaraan pasien. semakin bertambahnya fasilitas dan tenaga kesehatan. Pembahasan dalam buku ini banyak menceritakan sistem pelayanan kesehatan di Amerika karena penulis adalah seorang dokter keluarga di AS yang telah menjalankan praktik klinisnya secara penuh selama 17 tahun. Prinsip-prinsip tersebut antara lain efikasi. Trisasi drtrisasi@yahoo. legitimasi dan kesetaraan. tetapi sudut pandang biomedis juga ikut disajikan sebagai pembanding antara pendekatan biomedis dan pendekatan biospikososial. Prinsip-prinsip Donabedian untuk peningkatan mutu mendapatkan tempat khusus dalam Bab 2. efisiensi. cost-effectiveness .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 09 No. 3 September 2006 l 163 .

. pembagian variabel menjadi variabel bebas dan terikat.3 Tulisan menyebutkan ada 8 variabel (motivasi.1 Pemilihan variabel yang dikembangkan dari teori LW. Masalah penempatan dokter spesialis ikatan dinas juga ditemukan pada penelitian Ilyas. Penelitian ini menggabungkan pendekatan kuantitatif (kuesioner) serta kualitatif (wawancara mendalam dan data sekunder). Green (faktor predisposing. Kesimpulan dan saran kebijakan yang terinci dan operasional dapat dikembangkan dari deskripsi tersebut. 09 / No. Mustikowati. Untuk itu diperlukan penulisan deskripsi univariat (distribusi frekuensi pertanyaan dan pengelompokkan variabelnya) dan deskripsi bivariat dalam bentuk tabel silang. Mustikowati yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas dan dimuat di Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. No. Kesulitan akan muncul bila variabel yang diambil adalah variabel kualitatif dan komposit. Secara umum tulisan ini sudah menggambarkan latar belakang dan perumusan masalah. reward . maka perkenankanlah saya memberikan tanggapan. Statistik nonparametri dapat dipakai karena jumlah sampel hanya 24 orang. 3 September 2006 . Andreasta Meliala Dimuat di JMPK Vol. Apakah 20 item ini adalah item pertanyaan? Apabila ya.. 02/ Juni 2005. komitmen. Dari judul penelitian (”Faktor-Faktor yang Mempengaruhi . hubungan atau perbedaan merupakan tiga kata yang lazim dipergunakan dalam penelitian kuantitatif tetapi memberikan konsekuensi yang berbeda pada analisis datanya. DKI Jakarta. Model distribusi dokter spesialis 164 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Determinan distribusi dokter spesialis adalah: PDRB per kapita tinggi.6% (33 kota/kabupaten) yang mencukupi (6 orang dokter spesialis per 100. Uji coba kuesioner dilakukan untuk meyakinkan peneliti akan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian.165 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. karir dan punishment) dan kuesioner dijabarkan dalam 20 item.”) menyiratkan hal itu. Pemakaian metode kuantitatif dulu kemudian diperdalam dengan metode kualitatif atau sebaliknya menjawab tujuan penelitian yang berbeda. Sulsel. tetapi juga harus memberikan masukan untuk memperbaiki kinerja kebijakan itu sendiri. pembahasan serta kesimpulan dan sarannya. 3 Untuk tesis (derajat S2/ magister) idealnya dilakukan uji coba kuesioner berikut uji validitas dan reliabilitasnya. Permasalahan yang diangkat masih menarik dan up to date karena merupakan isu lama yang belum tuntas pemecahannya. Saya perkirakan penelitian ini bersifat deskriptif analitik walaupun tidak disebutkan hipotesis dan ujinya. Walaupun uji validitas dan reliabilitas sudah tersedia dalam software statistik seperti SPSS tetapi tetap diperlukan kemampuan konseptual si peneliti dalam menelaah hasilnya karena software hanyalah alat bantu.4 Pengelompokkan variabel menjadi tinggi. Walaupun ideal tetapi tidak mudah menggabungkan dua pendekatan tersebut. 03 September l 2006 Halaman 164 . bipolar dan sebagainya).Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 09 No.000 jiwa).. Guttman. sosial budaya.. 09 / No. sarana daerah... Bali. Laksono Trisnantoro.com Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas Tulisan : SR. penerimaan daerah.. DIY. kepadatan penduduk tinggi dan ciri perkotaan.. perbedaan semantik. IMR rendah. Sulut. Sulteng.5 Di tahun 2002 hanya 26. Bisa dimaklumi bila hal tersebut tidak dituliskan secara lengkap dalam jurnal karena keterbatasan format. Kaltim) dan 11. Penelitian terapan seperti kebijakan kesehatan tidak cukup hanya membuktikan hipotesis dengan menerapkan metode penelitian sebaik mungkin.6% provinsi (Sumbar. Pengaruh.”). enabling dan reinforcing ) memberikan pemahaman yang komprehensif. tujuan penelitian. serta penarikan kesimpulan (”faktor enabling yang paling dominan adalah . Bogardus. konsep dan variabel penelitian. perlu pemahaman tentang indeks dan skala (skala Likert. hasil penelitian. 02 /Juni 2006 Setelah membaca tulisan Saudara SR. sedang dan rendah dengan mean dan standar deviasi sebenarnya harus diuji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov. Vol.. Variabel yang bersifat kualitatif harus diukur (dikuantifikasi) dengan suatu teknik pengukuran yang lazim dikembangkan di dalam Ilmu Sosial. 2. 09.2 Selain itu. rasanya sangat kurang memadai 8 variabel yang bersifat komposit diterjemahkan hanya dalam 20 item pertanyaan. Kuesioner penelitian diharapkan sudah diujicobakan serta diuji validitas dan reliabilitasnya.

09. Jakarta. 2005. Jakarta. Singarimbun. dan Penyakit Dalam Rp 30 juta – Rp 35 juta. LP3ES. Studi Pengembangan Model Penempatan Dokter Spesilais di RSUD di Indonesia. Yaslis dkk. adanya insentif. Rendahnya produksi dokter spesialis di Fakultas Kedokteran juga perlu dikaji. Ilyas. Masri dan Sofian Effendi (editor). Ghalia Indonesia. Tidak disangkal lagi bahwa ”harga dan posisi tawar ” dokter spesialis sangat tinggi karena kelangkaan supply sementara demand sangat tinggi. Purnawan. Bukan tidak mungkin nantinya permasalahan kelangkaan dokter spesialis terpaksa dijawab dengan import dokter spesialis dari luar negeri. 5. Fakultas Kesehatan Masyarakat & Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 1995: 62-80. 3. kemungkinan pengembangan karier. Pengantar Analisis Data. 2. Makalah pada Seminar Nasional Tahun Keempat Desentralisasi Kesehatan. Makasar tanggal 6 – 8 Juni 2005. Tetapi biaya tersebut cepat kembali dengan pendapatan perbulan dokter spesialis PNS ditambah praktek pribadi yang sangat menggiurkan: Spesialis Anak Rp20 juta – Rp 40 juta. Hal tersebut akan menjadi kenyataan karena globalisasi dan perdagangan bebas (AFTA/ NAFTA) sudah menyerbu kita. M. Semarang. 1988: 383 – 404. jaminan peningkatan pendapatan. rujukan keahlian dapat terlaksana dan berjenjang. Bedah Rp15 juta –Rp 30 juta. Cetakan ketiga. KEPUSTAKAAN 1.Rp125 juta. Nazir. Modul Perkuliahan Metode Penelitian Kualitatif.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan diharapkan menjamin adanya equity distribusi di setiap RSUD. Metode Penelitian. Utarini. 3 September 2006 l 165 . Vol. Rineka Cipta. Pembenahan seharusnya dilakukan pada dua sisi tersebut. 122-146. Edisi Revisi. rasa keadilan dalam penempatan. Biaya pendidikan dokter spesialis sangat tinggi yaitu Rp 300 juta – Rp 400 juta dengan uang ”ketok pintu” sebesar Rp 50 juta . Magister Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. No. fasilitas dan sanksi serta dorongan untuk memilih status swasta daripada PNS. 1991:95 – 121. Cetakan pertama. Jawa Tengah E-mail: chriswardani_surya@yahoo. Jakarta. A. rasa aman terhadap pekerjaan. Obsgyn Rp 30 juta – Rp 50 juta. Metode Penelitian Survei. Chriswardani Suryawati. Junadi. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful