Ukuran dan Warna seperti contoh

jurnal
Ukuran dan Warna seperti contoh

ISSN 1410-6515
Ukuran dan Warna seperti contoh Ukuran dan Warna seperti contoh

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 09/Nomor 03/September/2006
EDITORIAL
Percepatan Pendidikan Dokter Spesialis: Salah Satu Cara Penting untuk Mengatasi Masalah Pemerataan Pelayanan Kesehatan

Vol 09. No. 03 h.107-165 9 3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2006

MAKALAH KEBIJAKAN
Contracting Out Pelayanan Kesehatan: Sebuah Alternatif Solusi Keterbatasan Kapasitas Sektor Publik

ARTIKEL PENELITIAN
Decision Space dalam Program Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2006 Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000: Studi Kasus di Dua RSUD Provinsi Jawa Timur Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Regulasi Perizinan Rumah Sakit Umum Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2006 Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Indonesia dan Negeri Pulau Pinang Malaysia

Ukuran dan Warna seperti contoh

RESENSI
Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation

KORESPONDENSI
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas
JMPK Tahun 09 Nomor 03 Hlm. Yogyakarta 107-165 September 2006 ISSN 1410-6515 Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Ukuran dan Warna seperti contoh

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management

Diterbitkan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 4 kali setahun (triwulan). Misi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan adalah menyebarluaskan dan mendiskusikan berbagai tulisan ilmiah mengenai manajemen dan kebijakan dalam lingkup pelayanan kesehatan. Dengan demikian jurnal ini ditujukan sebagai media komunikasi bagi kalangan yang mempunyai perhatian terhadap ilmu manajemen dan kebijakan pelayanan kesehatan antara lain para manajer dan pengambil kebijakan di organisasi-organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit pemerintah dan swasta, dinas kesehatan, Departemen Kesehatan, pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat, BKKBN, pengelola industri obat, dan asuransi kesehatan, serta para peneliti, pengajar, dan ilmuwan yang tertarik dengan aplikasi ilmu manajemen dan kebijakan dalam sektor kesehatan. Isi jurnal berupa artikel kebijakan atau hasil penelitian yang berkaitan dengan manajemen rumah sakit, manajemen pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan, dan masalah-masalah yang relevan dengan manajemen dan kebijakan kesehatan.

Pemimpin Redaksi Laksono Trisnantoro

Editor Abdul Razak Thaha Bhisma Murti Johana E. Prawitasari I. Riwanto Tjahjono Kuntjoro Sri Werdati Yulita Hendrartini Yodi Mahendradhata

Mitra Bestari (Peer Reviewer) A.A.Gde Muninjaya M. Ahmad Djojosugito Ali Ghufron Mukti Bambang Purwanto Hari Kusnanto Josef Mubasysyir Hasanbasri Sri Suryawati Triono Soendoro

Sekretaris Redaksi Hilaria Lestari Budiningsih

Penerbit Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, FK UGM, Yogyakarta STT: 2398/SK/DITJEN PPG/STT/1998 Harga langganan untuk satu tahun (4 kali terbit/triwulan) Pulau Jawa Rp100.000,00 Luar Pulau Jawa Rp125.000,00 (Sudah termasuk ongkos kirim) Bank BNI 46 Cabang UGM Yogyakarta No Rek.: 0038603369 a.n Laksono Trisnantoro/Seminar Bukti Transfer mohon di fax sebagai bukti berlangganan Alamat surat-menyurat menyangkut naskah, langganan keagenan dan pemasangan iklan: Sekretariat Redaksi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan d/a Gedung KPTU Lantai 3, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281 Telp/Fax: 0274-547490, 549425 Email: hiillary@yahoo.com Web-site: www.jmpk-online.net

ii

The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 09/Nomor 03/September/2006

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Daftar Isi
Editorial
Percepatan Pendidikan Dokter Spesialis: Salah Satu Cara Penting untuk Mengatasi Masalah Pemerataan Pelayanan Kesehatan 107

Makalah Kebijakan
Contracting Out Pelayanan Kesehatan: Sebuah Alternatif Solusi Keterbatasan Kapasitas Sektor Publik Bhisma Murti
109

Artikel Penelitian
Decision Space dalam Program Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati
Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000: Studi Kasus di Dua RSUD Provinsi Jawa Timur Hanevi Djasri Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Regulasi Perizinan Rumah Sakit Umum Inni Hikmatin, Hanevi Djasri, Adi Utarini Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2006 Tisa Harmana, Wiku B. Adisasmito Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Yaslis Ilyas Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Indonesia dan Negeri Pulau Pinang Malaysia Zulfendri Resensi Buku Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation Korespondensi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas 118

121

129

134

146

156

163

164

i

No. 3 September 2006 l 107 . Modifikasi boleh dilakukan dengan catatan setiap negara bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Postgraduate Medical Training Program (PMPT) ini mendukung tujuan nasional pelayanan kesehatan. maka semakin sedikit jumlah spesialis. Harapan menyatakan bahwa dokter seharusnya seperti Ibu Teresa yang dekat dengan masyarakat miskin. Keduanya dapat bertentangan. Kenyataan menyatakan sebaliknya seperti yang diteliti oleh Ilyas1. spektrum kesehatan dan penyakit.000 penduduk). penyesuaian standar global dengan local wisdom sangat bervariasi.32 Sp. Hal ini akan memperbesar kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa. dihubungkan dengan persentase penduduk miskin justru didapatkan hasil hubungan yang negatif.A) di DKI Jakarta adalah 443 (5. kondisi sosial ekonomi. Bagaimana cara mengatasi paradoks penyebaran spesialis ini? Salah satu cara adalah percepatan pendidikan dokter spesialis.108 Editorial PERCEPATAN PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS: SALAH SATU CARA PENTING UNTUK MENGATASI MASALAH PEMERATAAN PELAYANAN KESEHATAN Saat ini di Indonesia terdapat kekurangan akut dalam hal jumlah spesialis yang merupakan paradoks dalam sistem pelayanan kesehatan. Dikhawatirkan dana pelayanan rumah sakit bagi masyarakat miskin akan terserap di daerah yang ada spesialis dan peralatan mediknya. Sebagai gambaran paradoks ada kenyataan bahwa semakin besar kekuatan ekonomi di suatu wilayah. namun sekaligus dipengaruhi oleh hukum pasar. sistem pelayanan kesehatan diharapkan sebagai sektor sosial yang penuh nilai kemanusiaan. Standar internasional dapat dimodifikasi berdasarkan kebutuhan dengan prioritas regional. 09. budaya. Diharapkan akan ada percepatan pendidikan residensi dengan mengacu pada kebutuhan lokal namun tidak mengabaikan kompetensi dasar klinik sesuai dengan standar internasional. Paradoks penyebaran dokter spesialis ini merupakan hal serius karena membahayakan pemerataan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin yang saat ini didanai pemerintah pusat melalui program Askeskin. (3) Apakah ada kompetensi perilaku dan budaya yang perlu dibahas dalam pendidikan?. nasional dan institusional. Dengan mengingat pedoman gobal ini maka ada dua standar yang perlu dipertimbangkan yaitu: basic standard yang harus dipenuhi dan terlihat pada proses evaluasi.29 Sp. Sebagai gambaran timpangnya penyebaran. Sementara itu. Dalam konteks pendidikan spesialis untuk daerah-daerah tertentu ada beberapa pertanyaan penting: (1) Apa yang disebut sebagai kompetensi spesialis dalam suasana global yang mempunyai teknologi tinggi dengan kekurangan dokter spesialis yang terutama di daerah terpencil atau yang ekonominya kurang.000 penduduk) sementara di Provinsi Papua hanya 7 (0. Dalam praktiknya. Cara ini dianggap penting karena pendidikan spesialis saat ini dirasakan lambat dan lulusannya banyak yang tidak cocok untuk bekerja di daerah-daerah yang kekurangan spesialis.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No.9. maka semakin banyak tersedia dokter spesialis. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) menganjurkan setiap program pendidikan dokter spesialis mengacu pada Global Standards in Postgraduate Medical Education yang dikeluarkan oleh World Federation for Medical Education (WFME. Vol. Dalam konteks ini maka terbuka peluang untuk pengembangan kurikulum yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dan mutu pelayanan di berbagai daerah. namun dasar Ilmu Kedokteran dan evidence based medicine dalam praktik klinisnya harus tetap mengacu pada pedoman universal. Walaupun ada perbedaan dalam tradisi mengajar. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 107 .A per 100. Semakin banyak masyarakat miskin. dan (4) Bagaimanakah metode pendidikan untuk percepatan penambahan jumlah spesialis. data IDAI (2005) menunjukkan bahwa jumlah dokter spesialis anak (Sp. Derajad asosiasi sekitar 0.A per 100. Salah satu hal penting adalah kebijakan pemerintah daerah dan pusat dalam hal rekrutmen calon spesialis dan kerja sama dengan perguruan tinggi dan rumah sakit pendidikan. Dalam konteks paradoks. Secara kompetensi medik. (2) Apakah ada suatu kompetensi medik yang minimal mengingat kebutuhan yang berbeda di berbagai daerah?. Diharapkan ada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dalam standar global WFME rasio antara kurikulum inti dengan kurikulum pilihan dapat berkisar antara 60% – 80% dengan 20% – 40%2. dan standard for quality development. serta berbagai macam sistem pelayanan kesehatan pada tiap negara. 2003).

. No. Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia. (Laksono Trisnantoro. Fakultas Kedokteran UGM. Tantangan Pendidikan Spesialis Anak.. 2005. 09(03)/ September: 145-54. Vol. 3 September 2006 . 2. Mimeo. Y. Ilyas Y. 108 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dengan kecocokan ini diharapkan seumur hidup dokter spesialis akan berkarier di tempatnya tanpa harus pindah ke daerah lain. termasuk kompeten dalam berinteraksi dengan sistem sosial dan budaya setempat. Sunarto. 09. Yogyakarta 2006. Kerja sama antara pemerintah daerah/pusat dengan fakultas kedokteran diharapkan mampu untuk melakukan inovasi-inovasi yang baik agar hasil pendidikan dokter spesialis tersebut dapat cocok bekerja di tempatnya.Andreasta Meliala: Peranan Pemerintah Daerah Dalam Mengatasi Maldistribusi Tenaga Dokter kebijakan yang merekrut spesialis berdasarkan kecocokan profil individu dokter dengan keadaan ekonomi dan budaya rumah sakit yang akan ditempatinya. Emilia. O. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatn.com) KEPUSTAKAAN 1. trisnantoro@yahoo.

managed market ABSTRAK Contracting out merupakan praktik yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk menyediakan pelayanan tertentu daripada mengelolanya sendiri. suatu pergeseran yang akan menghasilkan efisiensi dibandingkan dengan struktur birokratik lama yang sangat sentralistis. contracting stimulates competition among providers in managed markets. The rationale for contracting is that public providers lack the incentive to use resources efficiently. kekakuan pemanfaatan tenaga kerja. All these factors contribute to efficiency. Kata kunci: contracting. pelayanan kesehatan. But in light of the limited absorptive capacity of the public sector. and enhances transparency in negotiations. health services. Contracting memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar atau pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. dan motivasi yang buruk di kalangan pegawai negeri. AN ALTERNATIVE SOLUTION TO THE CAPACITY CONSTRAINT OF PUBLIC SECTOR Bhisma Murti Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. Alasan mengontrakkan adalah bahwa penyedia pelayanan publik kurang memiliki motivasi untuk menggunakan sumber daya dengan efisien. contracting out approach is not a panacea to all health problems. induces cost awareness among providers and purchasers. Providers are forced to minimize production cost and adjust the prices to meet the demand and requirements of purchasers. and that private (or autonomous) providers are more efficient than public providers. Monitoring and evaluation is an indispensible instrument for contracting out to exhibit its relative advantages. swasta. meningkatkan kualitas pelayanan. Surakarta. serta menyesuaikan harga-harga untuk memenuhi permintaan dan PENGANTAR Sejak dekade 1980-an terdapat dorongan kebijakan internasional yang kuat untuk memperkenalkan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang dan mengurangi peran negara. mendorong kesadaran biaya di antara penyedia maupun pembeli pelayanan.117 Makalah Kebijakan CONTRACTING OUT PELAYANAN KESEHATAN: SEBUAH ALTERNATIF SOLUSI KETERBATASAN KAPASITAS SEKTOR PUBLIK CONTRACTING OUT FOR HEALTH SERVICE.1 Upaya untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik umumnya gagal karena terbentur oleh keterbatasan kapasitas pemerintah. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pendekatan kontrak bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk semua masalah kesehatan. Alasan yang melatari dorongan itu adalah tidak memadainya sumbersumber daya pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan universal. public.5 Di sisi lain. Semua ini memberikan sumbangan ke arah efisiensi. private. sumber daya yang tidak memadai.1. managed competition Keywords: contracting. sebagian besar fasilitas kesehatan di Kamboja menunjukkan kinerja yang buruk karena kekurangan dana. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 109 . maupun memastikan efisiensi penggunaan dana.4 Sebagai contoh.2. Menurut teori ekonomi klasik. According to classical economic theory.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. contracting would promote decentralization managerial responsibility. Sebagaimana model penyediaan pelayanan kesehatan apapun. campur tangan politik. Monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk menunjukkan keunggulan relatif contracting out. keperluan pembeli pelayanan. struktur tipikal di sektor pemerintah atau publik di negaranegara berkembang tidak selalu kondusif untuk memperluas akses. pemerintah. 3 September 2006 l 109 . bureaucratic structure. Tetapi sehubungan dengan keterbatasan kapasitas absorbsi di sektor pemerintah. considered insensitive of the cost implications of allocative decisions.3. 09. No. As is the case with any model. penggunaan sumber daya tidak efisien. and tightly links payment to performance of the provider. In addition. contracting out merupakan sebuah alternatif strategi yang pantas dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu. Contracting out clearly separates the roles of purchaser and provider. Jawa Tengah ABSTRACT Contracting out is the practice of public sector or private firms of employing and financing an outside agent to perform some specific task rather than managing it themselves. a shift that would translate in efficiency gains in contrast to the old highly-centralized. Selain itu. Universitas Sebelas Maret. manajemen tidak adekuat. dan bahwa penyedia swasta (atau mandiri) lebih efisien daripada penyedia publik. it is an alternative strategy worth considering for increasing the coverage and the quality of services in developing countries such as Indonesia. contracting merangsang kompetisi di antara penyedia pelayanan dalam pasar terkelola. yang tidak peka terhadap implikasi biaya dari setiap keputusan alokasi. Penyedia pelayanan dipaksa untuk meminimalkan biaya produksi. Fakultas Kedokteran. Vol. dan memperbaiki transparansi dalam negosiasi. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. contracting meningkatkan tanggung jawab manajerial desentralisasi.

6 ada juga kontrak “informal” (informal contracting) yang berisikan perjanjian implisit antara pemerintah dan agen sektor swasta. contracting adalah suatu mekanisme pembelian yang digunakan untuk mendapatkan pelayanan tertentu. Secara teoretis contracting out memberikan sejumlah keuntungan.6 Dengan contracting out. Depkes Kontrak Pembayaran M&E Mengelola & membayar NGO M Pelayanan Penerima pelayanan (Beneficiary) Mengelola & membayar Gambar 1. dan harga yang disepakati.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . contracting dibedakan menjadi1. Timbul minat untuk memobilisasi sumber-sumber daya sektor swasta dalam rangka memperluas dan meningkatkan skala pelayanan kesehatan (misalnya. Contracting Pelayanan Berdasarkan jenis pelayanan kesehatan yang dikontrakkan. kuantitas. selama suatu periode waktu tertentu.3 Dengan konteks keterbatasan kapasitas pemerintah di satu pihak dalam memperluas akses pelayanan kesehatan dan pesatnya perkembangan sektor swasta di lain pihak. menyajikan jenis pelayanan.menerus selama suatu periode. contracting out adalah praktik yang dilakukan oleh sektor pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk melakukan sejumlah tugas-tugas tertentu daripada mengelolanya sendiri.. 09. dapatkah model contracting out diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan? Jika ya jawabannya. Artinya. pemerintah dapat memobilisasi sumber daya sektor swasta untuk kepentingan tercapainya tujuan-tujuan kesehatan nasional. Gambar 1 menyajikan pola umum contracting pelayanan. dalam format yang mengikat secara hukum.. Vol. Pertanyaannya. MDGs). 110 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pihak pemerintah tidak menyediakan sendiri pelayanan kesehatan. Artinya. salah satu isu kebijakan reformasi kesehatan yang hangat dibicarakan akhirakhir ini adalah model penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang disebut contracting out. of a defined quantity. melainkan melakukan kontrak dengan agen luar yang disebut kontraktor untuk menyediakan barang atau pelayanan kesehatan kepada penerima pelayanan (beneficiary). menguraikan sejumlah kasus pengalaman implementasi contracting di negaranegara lain. mengupas alasan rasional melakukan contracting. PEPFAR. No.. dan periode waktu pemberian pelayanan oleh sebuah penyedia pelayanan swasta atas nama pemerintah. at an agreedon price. serta kemampuannya untuk dikontrakkan.3 mendefinisikan contracting out “the implementation of an agreement between the government (purchaser) and providers in which providers are paid for the provision of defined services to specified target populations for defined results”. dan (3) manajemen. istilah “contracting” mengandung arti sebuah hubungan terus . Kontrak formal (formal contracting) menyebutkan dengan eksplisit jenis.7 Mengontrakkan pelayanan sektor publik merupakan praktik lumrah di negara-negara maju. (4) leasing. Berbeda dengan transaksi sesaat antara pembeli dan penjual. DEFINISI Harding dan Preker8 mendefinisikan contracting “a purchasing mechanism used to acquire a specified service. 6 Tetapi menurut Palmer sebagaimana dikutip Waters. (2) pelayanan nonklinis. et al. from a specific provider. quality. for a specified period”. Mills2 membagi dua jenis pelayanan yang dikontrakkan: (1) pelayanan klinis. untuk kondisi permasalahan dan jenis pelayanan bagaimana contracting out tepat untuk diterapkan? Makalah ini menyajikan definisi contracting. contracting dapat dibedakan menjadi (Rosen seperti dikutip Waters et al. Berdasarkan desain perjanjian kontrak itu sendiri. disertai aturan pembayaran. Global Fund. didukung dengan kesepakatan kontrak. biasanya berdasarkan kepercayaan (trust) dan hubungan jangka panjang. Liu. dari suatu penyedia pelayanan tertentu. dengan kuantitas dan kualitas tertentu. et al. dengan cara mengaitkan pembiayaan pemerintah dan kinerja penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan.6: (1) pelayanan kesehatan. dan mengulas sejumlah isu berkaitan dengan contracting pelayanan kesehatan. Dengan contracting out.9: (1) contracting out. sektor swasta berkembang dengan pesat dalam penyediaan pelayanan kesehatan. (3) franchising. Pavignani dan Colombo10 memberikan batasan contracting out “the practice of public sector or private firms of employing and financing an outside agent to perform some specific task rather than managing it themselves”. 3 September 2006 . (2) pelayanan penunjang (ancillary services). (2) contracting in.

maupun mengadakan dan mendistribusikan barang dan pelayanan.9 Leasing adalah bentuk contracting yaitu pemerintah mengadakan fasilitas atau peralatan dari sumber luar berdasarkan persetujuan sewa.11 Akibatnya. etc) subcontracted for the provision of goods or services”. Pertama. Penerima pelayanan (beneficiary) 5. 3 September 2006 l 111 .7. atau pelayanan spesialistik (radiologi) di dalam rumah sakit. Model contracting out membedakan dengan jelas peran pihak pembayar dan penyedia pelayanan. Durasi 11. Kontraktor memiliki tanggung jawab penuh dalam hal manajemen internal untuk menyediakan pelayanan. yang beroperasi di luar fasilitas pemerintah atau publik. Hukuman terhadap kinerja buruk merupakan kejadian langka. Waktu pembayaran 9. Jenis pelayanan 2. a number of doctors. untuk memberikan pelayananpelayanan tertentu yang akan dibayar oleh pasien dari suatu populasi. Gambar 2 menyajikan desain dan mekanisme kerja contracting. Sebagai contoh. Di banyak negara berkembang. contracting out memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar atau pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. Syarat pembayaran 6. Harga 8. Pavignani dan Colombo10 mendefinsikan contracting in “a subdivision of the parent organization (such as a hospital. normatif. Dengan demikian. memecat pekerja.11 Desentralisasi pengambilan keputusan membuat para penyedia pelayanan kesehatan lebih leluasa untuk membuat keputusan alokasi yang lebih efisien daripada yang dihasilkan Perhatikan. No. dibiayai melalui alokasi anggaran (disebut global budget) yang tidak secara langsung berhubungan dengan jumlah maupun kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan. karakteristik kunci dalam contracting adalah adanya pernyataan eksplisit tentang elemen-elemen kontrak yang disepakati oleh pihak pemberi kontrak dan kontraktor untuk diwujudkan dalam periode waktu tertentu. Kuantitas pelayanan 3. sehingga tanggung jawab dan akuntabilitas manajerial di pihak pemberi pelayanan maupun di pihak pembayar akan meningkat. baik dalam mengangkat pekerja. contracting in adalah melakukan subkontrak kepada sebuah divisi yang berada di bawah struktur organisasi yang bersangkutan (misalnya sebuah rumah sakit. kepada organisasi swasta. yang ditunjukkan oleh kontraktor. Sebagai contoh. atau kampanye pendidikan kesehatan. Syarat penghentian kontrak Pembayar Pembayaran Kontrak Pemberi pelayanan M&E Pelayanan Penerima pelayanan (beneficiary) Gambar 2.1 MENGAPA CONTRACTING OUT? Terdapat sejumlah alasan teoretis untuk melakukan contracting out. Metode pembayaran 7. dan sebagainya) untuk Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kualitas pelayanan 4. efisiensi. staf di sektor pemerintah tidak berkepentingan untuk menunjukkan kinerja yang baik. Meskipun fasilitas-fasilitas itu diawasi departemen kesehatan. Karakteristik penting lainnya adalah adanya keterikatan yang jelas antara pembayaran (payment) dan kinerja (performance) pemberi pelayanan3. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. Indikator kinerja mencakup akses. Elemen-elemen kontrak: 1. contracting out adalah implementasi dari suatu perjanjian antara pemerintah (pembeli) dan penyedia pelayanan yaitu penyedia pelayanan dibayar untuk memberikan pelayanan tertentu kepada populasi sasaran tertentu dengan hasil . bukan memiliki fasilitas atau peralatan itu. untuk melengkapi pelayanan yang dilakukan oleh rumah sakit sendiri. Artinya. menentukan upah dan gaji. Tetapi contracting in bisa juga berarti memasukkan manajemen swasta dari luar untuk menjalankan pelayanan pemerintah. sebuah rumah sakit pemerintah mengontrak sebuah organisasi swasta untuk menyediakan prosedurprosedur rutin (pelayanan laboratorium).hasil tertentu. Desain dan Mekanisme Kerja Contracting Out menyediakan barang atau pelayanan. Vol. dan tidak efektif. kontraktor dalam contracting in adalah bagian atau divisi dari organisasi itu sendiri. Sistem M&E 10. kualitas.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Artinya. yang selama ini kerap terjadi adalah sebagian besar fasilitasfasilitas kesehatan khususnya rumah sakit pemerintah. yang didukung oleh sistem monitoring dan evaluasi (M&E).10. pemerintah mengontrakkan fungsi-fungsi dinas kesehatan seperti pelayanan preventif dasar. Dengan kata lain. tetapi biasanya bersifat sangat umum. sejumlah doktor. Pemecahan masalah perselisihan 12. Franchising adalah suatu bentuk contracting yaitu pemerintah memberikan hak kepada kontraktor (hak tersebut bisa eksklusif atau noneksklusif). tercantum dalam perjanjian kontrak. 09. sebuah rumah sakit menyewa perusahaan swasta untuk menjalankan pekerjaan kebersihan dan penyediaan makanan (catering) di dalam fasilitas rumah sakit tersebut. dan keadilan. Sebagai contoh. M&E merupakan instrumen yang sangat vital dalam contracting out.

sehingga barang atau pelayanan yang dihasilkan menjadi lebih murah.15 Gambar 3A menunjukkan keadaan yang adopsi teknologi menurunkan biaya produksi. dan pembiayaan. yaitu keadaan yang kuantitas output tertentu diproduksi dengan kombinasi biaya terendah. di pihak pembayar/ pembeli pelayanan maupun kontraktor penyedia pelayanan. 09.8.000. Dengan demikian.12.. Perubahan Teknologi Mengakibatkan Penurunan (A) atau Peningkatan (B) Biaya Produksi Manajer penyedia pelayanan tentu memilih teknologi yang menurunkan. Salah satu cara penyedia pelayanan meminimalkan biaya produksi adalah mengadopsi teknologi inovatif.17 Kelima. dengan asumsi tidak ada perubahan kualitas pelayanan. No. baik dalam pelayanan maupun harga. kualitas pelayanan.. regulasi. dan berbagai isu lainnya. contracting membantu pemerintah mengatasi keterbatasan 112 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. contracting out mendorong terjadinya efisiensi alokatif.10 Keterikatan pembayaran dengan kinerja membuat penyedia pelayanan kesehatan bekerja dengan lebih keras. Contoh. bukannya price setting seperti dalam situasi monopoli). contracting out mendorong terjadinya efisiensi teknis. kuantitas pelayanan. perlu diidentifikasi dengan jelas. Dalam pasar kompetitif sempurna. penetapan standar mutu. para manajer akan berusaha meminimalkan biaya produksi.13 Kompetisi memaksa pemberi pelayanan untuk menyesuaikan harga (disebut price taking. Teknologi meningkatkan biaya produksi Gambar 3. kebutuhan kesehatan. melalui birokrasi yang sangat sentralistis dan kurang peka terhadap implikasi biaya dari keputusankeputusan alokasi.10.000 Modal (K) Isocost= Rp 1. sehingga pemerintah dapat lebih memfokuskan kepada peran penting stewardship . sebab tingkat konsentrasi rumah sakit di California lebih rendah daripada negara bagian lainnya. Gambar 3 menyajikan perubahan biaya produksi sebagai implikasi penerapan teknologi inovatif. Gambar 3B menunjukkan keadaan yang adopsi teknologi membuat produk menjadi lebih mahal tanpa meningkatkan kualitas. kompetisi menimbulkan tekanan kepada pemberi pelayanan pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kinerja. contracting out dalam lingkungan pasar kompetitif membawa kepada alokasi sumber daya yang lebih efisien daripada yang dapat diharapkan dari ekonomi terpimpin (command economy) ataupun solusi nonpasar di tingkat makro.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: .11 Dengan cara demikian. daya tanggap (responsiveness). seperti dikutip Waters dan Hussey14 menunjukkan. 13 Di sisi lain. Sebaliknya. seperti perencanaan.000 E E’ E E’ Isocost= Rp 750.000 0 Q=100 Q=100 Pekerja (L) Isocost= Rp 1. penelitian Keeler et al. Struktur pasar memberikan pengaruh besar terhadap perilaku penyedia pelayanan. sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pembeli pelayanan.200.000 Q=100 Q=100 Pekerja (L) 0 A. Keempat. bukannya meningkatkan ongkos produksi. artinya optimum dari perspektif masyarakat keseluruhan. Sebab dengan contracting. Teknologi menurunkan biaya produksi B. Dengan demikian memperbaiki keadilan akses pelayanan. bidding kompetitif akan menghasilkan tingkat harga yang secara sosial optimum. Hubungan kontraktual dalam contracting out mendorong para manajer penyedia maupun pembeli pelayanan untuk sadar terhadap biaya tinggi.000.3 Ketiga. 3 September 2006 .4. Tanpa menurunkan kualitas yang sudah disepakati dalam perjanjian kontrak. contracting out mendorong perencanaan yang lebih baik. pemberi kontrak maupun kontraktor terdorong untuk membuat perencanaan dengan lebih baik.12 Kedua. yaitu situasi yang input ataupun output digunakan sebaik mungkin dalam ekonomi sedemikian sehingga tidak mungkin lagi dicapai pertambahan output ataupun kesejahteraan yang lebih baik. Modal (K) Isocost= Rp 1. Implikasinya. Baik pemberi kontrak maupun kontraktor memfokuskan kepada pencapaian hasil-hasil yang terukur dengan objektif. populasi sasaran pelayanan.2. Menurut teori ekonomi klasik. contracting out mengurangi kerepotan pemerintah dalam pemberian pelayanan. harga pelayanan medik rumah sakit lebih murah di California. Vol. contracting juga menumbuhkan pasar dan merangsang kompetisi. contracting out memaparkan para penyedia pelayanan kepada pasar kompetitif..4 Pemerintah dapat memanfaatkan contracting out untuk penyediaan pelayanan kelompok masyarakat rawan di daerah-daerah yang kurang atau tidak mendapatkan pelayanan (unserved atau underserved). untuk menghasilkan tingkat output yang sama.16 Implikasi dari efisiensi teknis di tingkat mikro.

19 mendefinisikan kapasitas absorpsi. makin cepat pula terjadi dampak marginal yang makin menurun (diminishing return).23 JENIS PELAYANAN DAN TINGKAT KEMAMPUANNYA UNTUK DIKONTRAKKAN Menjawab pertanyaan di awal artikel ini tentang dapatkah model contracting out diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan. kapasitas absorpsi.45% dari PDB. Tingkat pertumbuhan Kurva datar.2. kapasitas absorpsi berhubungan erat dengan beberapa isu institusional dan administratif. Contoh hambatan teknis dan manajerial. dan rendahnya komitmen manajer. Artinya. untuk kondisi permasalahan dan jenis pelayanan bagaimana contracting out tepat untuk diterapkan. larangan rekrutmen (kekakuan penggunaan tenaga kerja). tetapi pertambahan marginal menurun 15% 45% (3) Hambatan teknis dan manajerial. kapasitas absorpsi adalah derajat kemampuan membelanjakan tambahan dana dengan efektif. seperti disebutkan di muka.3 Titik saturasi bantuan Aliran bantuan (%PDB) Gambar 4. sebab “hujan bantuan” akan membuat sistem berada di bawah tekanan alias “kewalahan” atau “kedodoran”. apakah karena efektivitas penggunaan dana menjadi negatif setelah titik saturasi. Artinya. “the degree to which additional funds can be effectively spent”. tambahan sumber daya merupakan prasyarat untuk mengurangi keterbatasan kapasitas absorbsi. 3 September 2006 l 113 . hambatan kapasitas absorpsi terjadi juga karena kurangnya dana.20 Tetapi benarkah demikian? Temuan kontroversial akhir-akhir ini menunjukkan. manfaat marginal dari pertambahan aliran bantuan akan menjadi negatif!20 Menurut de Renzio20. dampak nol Dampak negatif Dampak positif. tujuan-tujuan pembangunan kesehatan dapat dicapai dengan lebih cepat jika skala intervensi kesehatan ditingkatkan (scaling-up). 09. yaitu sekitar 15% . Vol. bukan sebaliknya. Ketidakmemadaian penyerapan dan inefisiensi bukan merupakan keadaan yang berdiri sendiri. Kapasitas Absorpsi Aliran Bantuan Oleh Sektor Publik De Renzio20 menyebut sejumlah kemungkinan faktor penyebab keterbatasan kapasitas absorpsi: (1) hambatan makroekonomi (misalnya. Asumsi yang digunakan lembaga donor. Tetapi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan “absorptive capacity” 3. kapasitas absorpsi dapat ditingkatkan dengan mengurangi sumber daya. Berikut disajikan Tabel 1 tentang jenis pelayanan dan kemampuannya untuk dikontrakkan. makin besar dan cepat peningkatan aliran bantuan. (4) Hambatan yang ditimbulkan oleh perilaku donor. dan makin cepat terjadi saturasi (kejenuhan). “Dutch Disease Effect”). dan jika ya. Pertanyaannya. efektivitas bantuan luar negeri terhadap pertumbuhan tergantung kualitas institusi dan kebijakan negara penerima donor. Reformasi struktural dan peningkatan kapasitas institusi yang dibutuhkan untuk memperbaiki manajemen dan melawan korupsi. lalu aliran sumber daya perlu dikurangi atau distop? Vademoortele dan Roy 23 tidak berpendapat demikian. regulasi. “aid saturation point”. rendahnya kemampuan dan motivasi staf. melainkan sangat saling tergantung. semuanya membutuhkan uang ekstra. Jadi. (2) hambatan institusional dan kebijakan. aliran bantuan luar negeri memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan negara resipien. dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak bersifat tetap. No. Penyerapan dana yang tidak memadai memang mengakibatkan inefisiensi. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. bisa berubah dalam jangka pendek. yang diperlukan untuk memperbaiki kapasitas absorpsi.21 Sebagaimana disajikan Gambar 4. Oliviera-Cruz et al. dan prosedur.18 Victora et al .22 mengatakan. kontrak yang tidak memungkinkan pemecatan staf. Demikian pula Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) mengasumsikan. sampai pada titik saturasi tertentu. seperti ber”tele-tele”nya (over-cumbersome) aturan.

Di Senegal dan Madagascar.25 tentang faktor-faktor yang melatari keberhasilan proyek contracting out di kedua negara tersebut. Di Madagaskar. sejak 1948 National Health Service (NHS) di Inggris telah melakukan negosiasi. universitas Manajemen proyek Agetip Secaline keseluruhan (Project’s Unit) GIE= Groupement d’Interet Economique. pelayanan nutrisi dikontrakkan kepada CNW. NGO lokal dikontrak melalui tender. Agetip ditunjuk melalui tender nonkompetitif sebagai pelaksana proyek keseluruhan atas nama pemerintah. MTBS.25 Kedua proyek bertujuan memperbaiki keadilan akses pelayanan. Di Senegal. dan wanita menyusui. program DOTS untuk tuberkulosis) Pelayanan yang kuantitas kebutuhannya dapat didefinisikan dengan jelas (misalnya. kunjungan rawat jalan) Pelayanan yang penyediaan maupun hasilnya sulit diukur Pelayanan tanpa protokol yang jelas dan standar Pelayanan yang secara teknis kompleks (misalnya.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . Untuk memonitor kualitas pelayanan dibangun sistem informasi manajemen yang sederhana tetapi efektif. contracting pelayanan kesehatan mulai dilakukan di sejumlah negara berpendapatan menengah maupun rendah. Kedua proyek membuktikan bahwa pelayanan gizi preventif dapat dikontrakkan kepada tenaga kerja nonspesialis. Tabel 2. et al. lembaga penelitian lokal. Finlandia. untuk memberikan pelayanan kesehatan primer. No. ANC) Lebih sulit dikontrakkan Pelayanan majemuk yang melibatkan berbagai penyakit (misalnya. tinggal di lingkungan komunitas sasaran. Tabel 1. seperti anak-anak. biasanya seorang wanita dari desa sasaran. Di Senegal. merumuskan dan membuat perjanjian kontrak dengan General Practitioners (GP) sebagai kontraktor independen. Di Madagascar. wanita hamil. pelayanan klinis) Korelasi pelayanan dengan hasil Ketersediaan petunjuk teknis Kompleksitas teknis Pelayanan yang berhubungan erat dengan hasil Pelayanan yang memiliki protokol yang jelas dan standar Pelayanan yang secara teknis sederhana (misalnya. 6. dengan fokus pemberian pelayanan untuk populasi rawan. Kontrak yang diberikan kepada NGO dan GIE menyebutkan dengan eksplisit pekerjaan yang harus dilakukan dan kinerja yang diharapkan. supervisi. Dalam 15 tahun terakhir. manajemen terpadu balita sakit) Pelayanan yang kuantitas kebutuhannya tidak dapat didefinisikan dengan jelas (misalnya. misalnya AS. 25 contracting out di Senegal dan Madagaskar berhasil menurunkan malnutrisi dan memanfaatkan keterlibatan masyarakat.. Kanada. Tiap-tiap GIE terdiri dari empat kawula muda. (2) persen wanita yang menghadiri tes mingguan pendidikan kesehatan dan gizi. konsultan lokal atau lembaga pelatihan lokal (di Senegal). CNW). CNW= Commnity Nutrition Worker. biasanya tidak memiliki pekerjaan. Tabel 2 menyajikan. Proses bidding mencakup tiga area: (1) Pelaksanaan keseluruhan proyek. lembaga penelitian lokal Madagascar CNW - Supervisi Riset operasional NGO Konsultan lokal. 09. imunisasi dengan antigen tunggal.. pelayanan nonklinis) PENGALAMAN CONTRACTING DI NEGARA LAIN Mengontrakkan pelayanan kesehatan merupakan hal lumrah di negara-negara maju.24 Demikian pula pendekatan kontrak pelayanan kesehatan merupakan model yang lumrah dilakukan dalam sistem managed care di AS . sebuah unit proyek dibentuk oleh pemerintah dengan nama Secaline sebagai pelaksana proyek keseluruhan. pelatihan. NGO= Non-Government Organization (Sumber: Marek et al)25 Menurut Marek et al . Sebagai contoh. Jenis Pelayanan dan Kemampuannya untuk Dikontrakkan Karakteristik pelayanan Pelayanan tunggal versus pelayanan majemuk Tingkat kebutuhan Lebih mudah dikontrakkan Pelayanan tunggal (misalnya. Vol. (2) Seleksi NGO/ GIE yang akan melakukan supervisi. 3 September 2006 . dan riset. (3) Seleksi pekerja gizi komunitas ( Community Nutriition Workers. dengan indikator monitoring antara lain: (1) persen anak yang ditimbang setiap bulan di antara kohor penerima pelayanan. “In 114 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Belanda. dan Inggris. Sebagai contoh. lembaga pelatihan lokal GIE atau NGO Konsultan lokal. dengan kriteria eligibilitas yang jelas. Tulis Marek. Senegal dan Madagascar mengontrak NGO untuk memberikan program pelayanan gizi komunitas dalam skala besar di daerah sangat miskin perkotaan maupun pedesaan yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. jenis pelayanan yang dikontrakkan tidak hanya pelayanan kesehatan tetapi juga manajemen. pelayanan nutrisi dikontrakkan kepada Groupement d’Interet Economique (GIE). Jenis Pelayanan yang Dikontrakkan pada Masing-Masing Proyek Jenis pelayanan yang dikontrakkan Pemberian pelayanan Pelatihan Senegal GIE Konsultan lokal. yang dilatih oleh staf proyek (di Madagaskar).

as well as local associations. NGO memberikan pelayanan lebih banyak. pendekatan tersebut memberikan alternatif yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan.6 Pemberi pelayanan swasta dipilih melalui bidding kompetitif berdasarkan proposal teknis dan proposal keuangan. tetapi dengan unit cost yang jauh lebih rendah. Sebuah lembaga riset independen. cakupan imunisasi. 6 membandingkan biaya dan kualitas di dua rumah sakit pemerintah dan dua rumah sakit misi di pedalaman yang menerima hibah jumlah besar dari pemerintah. Eksperimen terkontrol menunjukkan. dan melatih petugas kesehatan dalam kesehatan reproduksi. Indikator dalam kontrak tidak mengukur hasil secara kuantitatif. In Madagsacar. rumah sakit misi yang dikontrak pemerintah bekerja dengan lebih efisien. and the unemployed are often highly educated and can put their skills to the service of the community if they are given a chance. (3) kapasitas pemberi pelayanan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan many African countries. dan kualitas pelayanan. Selain itu ditemukan kelemahan M&E “internal” oleh kontraktor dan keengganan pemerintah untuk mempertahankan model. Bukti awal menunjukkan. bukan pada efektivitas dan kualitas perlakuan. Kesimpulannya. and traditional NGOs. This untapped pool of human resources. Sebuah perusahaan swasta yang didanai oleh USAID melakukan supervisi terhadap kontrak. Abramson26 menyimpulkan. Di Asia Tenggara. 1. pemerintah El Salvador dan Guatemala melakukan eksperimen. understood. Marek et al. melakukan evaluasi apakah contracting out memberikan pelayanan lebih banyak dan berkualitas untuk dana yang dikeluarkan. menggunakan desain eksperimen random . dengan adanya kompetisi..1 BEBERAPA ISU DALAM CONTRACTING Pengalaman penerapan contracting out di negara-negera berkembang beragam. dan dibayar per kapita yang diliput sesuai harga bidding. M&E yang dilakukan CCSS superfisial. disebut COOPESALUD. PVO) untuk penyediaan pelayanan kesehatan primer di daerah dengan cakupan pelayanan kesehatan formal rendah. Artinya. Pertama. meskipun pendekatan kontrak bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk memecahkan masalah nutrisi yang dihadapi Afrika. maupun efisiensi penggunaan sumber daya. No. Project Management Unit (PMU) tidak menganalisis data yang diperoleh dari NGO.5. for example. (5) monitoring dan evaluasi (M&E). didasarkan pada cakupan populasi. sebagaimana dikutip Waters et al . yang lebih tinggi.27: (1) biaya transaksi. and transparent”. can be mobilized and organized if the rules of the game are clear.14. kedua rumah sakit misi memberikan pelayanan dengan kualitas serupa dengan rumah sakit pemerintah. pada tahun 1999 Departemen Kesehatan di Kamboja melakukan contracting out dan contracting in dengan NGO dan perusahaan swasta nirlaba untuk memberikan paket pelayanan kesehatan esensial di 12 rumah sakit distrik.26 Abramson26 menganalisis M&E yang dilakukan CCSS. Vol. penyedia Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan pembayaran dilakukan otomatis tanpa mengaitkan dengan kinerja. PHRplus. melakukan program kampanye pendidikan keluarga berencana.10. especially in urban areas where unemployment rates are high. Di Amerika Tengah. atas nama pemerintah. pelayanan yang dikontrakkan menghasilkan cakupan antenatal. tahun 1999 tiga buah direktorat kesehatan provinsi mengontrak NGO untuk mendistribusikan alat kontrasepsi. Mengontrakkan fungsi pelatihan petugas kesehatan kepada NGO terbukti efektif. klaim keberhasilan proyek di Senegal dan Madagascar tersebut harus ditanggapi dengan kritis. Project Management Unit (PMU) membuat kontrak atas nama pemerintah dan Bank Pembangunan dengan NGO untuk penyediaan pelayanan kesehatan primer. Para kritikus mencatat beberapa masalah berkaitan dengan contracting out 6. menurut teori. sebab secara metodologis kesimpulan tersebut ditarik berdasarkan survei cross-sectional tanpa kontrol. Mills et al .25 menyimpulkan. tetapi dengan biaya lebih banyak pula. (2) kapasitas pemerintah. (4) kompleksitas penentuan harga. competition for service providers exists. 09. 3 September 2006 l 115 . 40% of medical doctors are unemployed. institutions. Bagaimanapun. serta biaya out-of-pocket yang lebih rendah daripada pelayanan pemerintah. menandatangani kontrak dengan NGO dan organisasi swasta sukarela (Private Voluntary Organizaion. Temuantemuan Abramson menunjukkan. Di Republik Dominika. Dana Asuransi Sosial Costa Rica (CCSS) membeli pelayanan kesehatan primer dari Koperasi Costa Rica. data M&E yang dikumpulkan CCSS tidak mampu memberikan kepada pembeli pelayanan informasi yang langsung berkaitan dengan tujuan kontrak maupun kinerja kontraktor. Di bagian Afrika lainnya.6 Di El Salva- dor. penggunaan pelayanan kesehatan. 17 Temuan evaluasi menunjukkan. M&E perlu diperbaiki jika model contracting out akan diteruskan.

dan membatasi fleksibilitas realokasi untuk keperluan lain pada keadaan tidak terduga (misalnya. Pemerintah dapat memanfaatkan model contracting out untuk penyediaan pelayanan kesehatan populasi rawan. kualifikasi pendidikan tinggi yang dibutuhkan dari petugas kesehatan profesional. terjadinya epidemi. M&E kontrak.14 Jika pemerintah menaksir terlalu tinggi kebutuhan sumber daya yang diperlukan untuk menyediakan suatu pelayanan. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. khususnya yang bertempat tinggal di daerah terpencil. maka pemerintah akan terlalu tinggi membayar kontraktor.. misalnya pelayanan nonklinis atau pelayanan klinis yang tunggal dan sederhana. 3 September 2006 . Keenam. Sebagaimana model penyediaan pelayanan kesehatan apapun. Keterbatasan kompetisi bisa terjadi karena faktor politis. misalnya. Dengan menggunakan paradigma pasar terkelola (managed market). Tetapi jika terjadi biaya transaksi yang tinggi. dengan demikian memperbaiki keadilan akses pelayanan. pemberi kontrak tidak memiliki informasi yang cukup tentang unit cost. dan tidak memperoleh hasil strategis yang diharapkan. pelaksanaan contracting out pelayanan preventif di Senegal dan Madagaskar. ekonomi. 116 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: .25 Ketiga. atau mengendorkan semangat untuk berkinerja efisien. Penawaran kompetitif akan memaksa pemberi pelayanan untuk meminimalkan biaya dalam memproduksi pelayanan dengan kualitas yang sudah ditetapkan. pelayanan akan berusaha meminimalkan biaya produksi. hubungan kontraktual biasanya bersifat jangka panjang agar biaya transaksi dapat ditekan rendah. Kedua. menganggarkan 13%-17% dari anggaran total proyek untuk membiayai monitoring dan evaluasi. Kontrak jangka panjang juga berarti mengunci danadana publik hanya untuk suatu penggunaan tertentu. merupakan opsi yang feasible untuk penerapan tahap awal contracting out. dan biaya total pelayanan yang akan dikontrakkan.3 KESIMPULAN Contracting out merupakan praktik yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk menyediakan pelayanan tertentu daripada mengelolanya sendiri. secara teoretis mengontrakkan pelayanan publik kepada penyedia swasta membawa kepada efisiensi yang lebih baik daripada dilakukan sendiri oleh pemerintah. biaya modal (startup cost) yang besar untuk memenuhi kebutuhan pelayanan sesuai perjanjian kontrak. merupakan barier pendatang baru untuk memasuki maupun keluar dari pasar kompetitif. kontrak akan diberikan kepada penyedia pelayanan yang suboptimal. Vol. Jadi diperlukan studi biaya sebelum perjanjian kontrak pelayanan. Akibat yang tidak diharapkan. Mengontrakkan penyediaan jenis pelayanan tertentu.. sehingga mempengaruhi efisiensi dan keadilan alokasi sumber daya. pendekatan kontrak memang bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk semua masalah kesehatan. Sebagai contoh. Monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk menunjukkan keunggulan relatif contracting out. pemberi pelayanan dapat menunjukkan perilaku oportunistik (“aji mumpung”). 09. dan manajerial. jika jumlah penyedia pelayanan sedikit. pilih-pilih pasien (disebut adverse selection ). dan penyedia pelayanan menggunakan kekuatan monopolinya untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi daripada jika terdapat sejumlah kompetitor. di banyak negara berkembang. ataupun penyelesaian masalah perselisihan. maka pemerintah tidak dapat memperoleh efisiensi yang diharapkan dari contracting. Sebab contracting memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar/ pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. negosiasi. Kelima. merupakan alasan yang rasional untuk mempertimbangkan pendekatan tersebut sebagai sebuah model alternatif untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan. dan lisensi regulasi. tipikal di negara-negara berkembang dengan tingkat korupsi tinggi. No. maka sifat kompetisi terbatas. penulisan. Tetapi fakta keterbatasan kapasitas absorpsi pemerintah di banyak negara berkembang dan tersedianya teori yang kuat. dengan demikian membuang-buang sumber daya. Jika pemerintah tidak mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk M&E terhadap kinerja kontraktor. sehingga mendorong terjadinya efisiensi teknis. Keempat. implementasi. volume kerja. Implikasi dari rendahnya kompetisi. bencana alam). M&E merupakan instrumen vital dalam contracting. Sebagai contoh. pemerintah tidak akan dapat menegakkan kontrak dengan efektif. berkaitan dengan desain. dalam contracting pelayanan bukan tidak mungkin terjadi hubungan yang tidak diinginkan atau “kolusi” antara pembeli dan penyedia pelayanan.

K.org. 14(4): 382-9. Dollar.R.org. Washington DC. 1998. 2003. 78(6): 779-790. Health Policy and Planning. K. The economics of health and health care. J. Bitran. Ranson.. Health Policy and Planning. Soeters. 1998. A. S.. R. and growth: Revising the evidence. Economics of health care management. Marek. From compeition to cooperation: service agreements in primary care. Cercone. Victora. R. Bryce. E. Kurowski. Monitoring and evaluation of contracts for health service delivery in Costa Rica. 9. D. 4. Contracting out for primary health services: evidence of its effects and a framework for evaluation. policies. 18(1): 74-83. V. D. 27. Improving government health services through contract management: a case from Cambodia. Franchising in health: Emerging models. DC: World Bank.. 2006. Sheaff. 2001. 11. T. Harding.. S.. A..Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan KEPUSTAKAAN 1. 2006. The World Bank Group – Private Sector and Infrastructure Network. 2003.. New York: Bureau for Development Policy. 19. A. 18. C. No. 364: 1563-48. C. Marek. Vandermoortele. Loevinsohn. S.. 2001. 1999. H. Vaughn. Mills. Private health: Policy and regulatory options for private participation.9(1):25-30.G. Harding. UK: The University of Manchester. A. and challenges in primary care. 09.. De Renzio. 12. Hotchkiss. 21. Lloyd. 19(5): 292-301. 6. The World Bank Group – Private Sector and Infrastructure Network.2006. Mills.. Aids. Stano.C. K. London: Prentice Hall. 7. NJ: Prentice Hall. 18(2): 127-37. 2003.. 2.. Diakses Oktober 2005. Burnside.. Bose. Vol.B. 1999.. Health Policy. J. 1994. T. A. Stano. www. Briceno.. 20.. C.. 18(4): 404-11.odi. Peters. Folland. J. Ruster J ..K. Gauri. Folland. Englewood Cliffs. 2004. 2004. Health Policy and Planning. 2005. H. Inc.phrplus. C. DC: The World Bank. Hussey.. 70: 175-84. Griffiths. A.. www. V. Rakotosalama. http://www. D. 13. Pake. W. 25. D. Banda. Travis. Goodman. J. A. Hatt. 2003. V. 8.. Contracting. 14.. 13(1): 32-40..14. S. Health Policy and Planning... Waters. A. 2006. Ruster. A. Mills. Diallo. Ndiaye. The World Bank Group. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. A. Contracting for Health Services. Contracting for the delivery of primary health care in Cambodia: Desaign and initial experience of a large pilot-test. J. Successful contracting of prevention services: fighting malnutrition in Senegal and Madagascar. 23. Expanding access to priority health interventions: A framework for understanding the constraints to scaling up. 16.a review of methods and experiences. R. Health Policy and Planning. Making sense of MDG costing. Working with the private sector for child health. Hanson. Private Participation in Health Services. 17. NJ: Prentice Hall. Oliviera-Cruz. Perkins. Bitran. 3.. “Make or buy” decisions in the production of health care goods and services: new insights from institutional economics and organizational theory.. B. Roy. 2004. Washington.. J. Pricing health services for puirchasers. Hanson. L. Preker. Washington. PHRPlus Project unded by USAID. B. Liu. 2003. P.. R.E. Englewood Cliffs. Achieving universal coverage with health interventions. B. Policy Research Working Paper 3251. Contracting-out of primary health care: Rationale and evidence from of El Salvador. Waters. Scaling up versus absortive capacity: Challenges and opportunities for reaching the MDGs in Africa. To contract or not to contract? Issues for low and middle income countries. 26.. 5. Abramson. P. 2004. N. R. Oliviera-Cruz. Contracting Out of Health Services in Developing Countries. P.. 3 September 2006 l 117 . PHRplus Project (USAID funded). Health Policy and Planning. Goodman. A . Briefing Paper. 15. Bulletin of World Health Organization. Rogo. Yamamoto. experiences. International Journal of Development... 2003. Colombo. Inc. 15: 1.S..C. 2003. Pavignani. The economics of health and health care. Journal of International Development.org. 2000. Lancet. F .. Overseas Development Institute...who. Separating financing from provision: evidence from 10 years of partnership with health cooperatives in Costa Rica. 2004. X. A. 2004 22. 24. Mc.. Diakses April 2006.P. Health Policy and Planning.uk. 10. S. Delivery of priority health services: searching for synergies within the vertical versus horizobtal debate. I. R. Yamamoto. M. C. World Bank. Manchester. Clewer. 1993. Preker. 15: 67-86.

Hal ini bisa dilihat dari draf Surat Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Pengelolaan Anggaran Dana Dekonsentrasi Program Upaya Kesehatan Masyarakat Dalam Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Tahun Anggaran 2006. Daerah Istimewa Yogyakarta ABSTRACT Background: The central government recently drew up a budget from deconcentration fund for health sector in 2005. districts or towns have limited decision space. Districts simply act as an implementer of activities. Target yang akan dicapai untuk angka kematian ibu tahun 2015 adalah 125 per 100. moderate and narrow decision space. maternal and child health programmer. Subjek dan metode: Subjek penelitian adalah anggaran dana dekonsentrasi program KIA. 09. Kabupaten mempunyai decision space yang sempit dalam anggaran dekon program KIA.000 kelahiran hidup. Metode penelitian adalah case study di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY (Kabupaten Bantul). Hasil: Pusat mempunyai decision space yang lebar. Kesimpulan: Pada era desentralisasi ini ternyata terjadi sentralisasi anggaran. cause they’re simply act as implementer of activities. 03 September l 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati: Decision Space dalam Program . and head of public health service. Penentuan besaran dana dekonsentrasi dilakukan oleh menteri keuangan dengan memperhatikan pertimbangan menteri teknis dan atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. 3 September 2006 . Yogyakarta. Province of Yogyakarta Spesial Territory and District of Bantul have wide. Yogyakarta Special Territory. Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan. Dilakukan wawancara mendalam dan diskusi informal kepada Kepala Dinas. had strict or pressed decision space. Dana tersebut akan dialokasikan dan didistribusikan kepada kabupaten/kota dan dipergunakan untuk membiayai kegiatan nonfisik. Result: Centers.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. Malaysia. No. Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai kegiatan nonfisik. Kata Kunci: dana dekonsentrasi. sedang angka kematian bayi adalah 23 per 1000 kelahiran hidup. District. Halaman 118 . within deconcentration budget for maternal and child health programme. Oleh karenanya. Berdasar konsep perimbangan keuangan pusat dan daerah1 dana dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. and budgeted for maternal and child health services since 2006.120 Artikel Penelitian DECISION SPACE DALAM PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK TAHUN 2006 DECISION SPACE IN MATERNAL AND CHILD HEALTH PROGRAM. Conclusion: Centralization of budget occurred within decentralization era.2 Aturan keuangan pusat dan daerah dalam satu sisi untuk mendukung pelaksanaan pembangunan 118 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Untuk itu. Bantul. Vol. material and child health. decision space Keywords: deconsentration fund. pemerintah memberikan prioritas utama dalam akselerasi penurunan angka kematian ibu dan bayi. Adanya aturan yang cukup rigid ini membuat kabupaten/kota tidak mempunyai decision space yang lebar. In-depth interviews and informal discussions were conducted with head of health service of Bantul District. dan lain lain. Bantul mempunyai decision space yang sempit. and determining allocation of its funds for provinces. Departement of Health has established special menu for maternal and child health program activities. karena mereka hanya sebagai pelaksana kegiatan saja. Yogyakarta. Programmer KIA Dinas dan Kepala Puskesmas. Provinsi DIY mempunyai decision space yang sedang dan Kabupaten PENGANTAR Status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan negaranegara tetangga seperti Singapura. As a consequence of this strict rule. pemerintah mengalokasikan dana yang sangat besar dalam bentuk dana dekonsentrasi kepada provinsi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh PMPK FK UGM. gubernur dan atau perangkat pusat di daerah yang mendapat pelimpahan wewenang. kesehatan ibu dan anak. Departemen kesehatan telah menentukan menu utama kegiatan program kesehatan ibu dan anak serta penetapan alokasi dana untuk provinsi. respectively. selain itu juga merupakan program dalam MDG. decision space ABSTRAK Latar Belakang: Pada tahun 2006 program kesehatan ibu dan anak mendapat anggaran dana dekonsentrasi yang paling besar di antara program-program yang lain. The activities presented was not consistent with their need. and the method was a case study in Bantul District... Subjects and methods: The subject of this study was budget of deconcentration fund for maternal and child health programme. 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati Dinas Kesehatan Bantul. pada tahun 2006. This was consistent with the study conducted by PMPK FK UGM. sehingga kegiatan yang ada tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Bossert3 yang digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan desentralisasi kesehatan di berbagai negara... untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan di kabupaten.. Hasil di atas didukung oleh beberapa pernyataan responden tentang dana dekonsentrasi program KIA.... serta bumil yang mampu. No.... 3 September 2006 l 119 . Proses pengaturan oleh pusat tidak dimaksudkan untuk mengembalikan sentralisme otoriter...” (responden 2) “ ... seperti pernyataan di bawah ini: “. Kriteria atau dasar provinsi dalam membagi anggaran ke kabupaten tidak jelas. Hal ini jelas menunjukkan bahwa derajat otonomi Kabupaten Bantul dalam dana dekonsentrasi program KIA kecil... sementara kegiatan lain tidak terbiayai.... Idealnya dalam era desentralisasi ini ruang keputusan dan kewenangan yang dimiliki daerah harus lebar... Unit analisis adalah anggaran dana dekonsentrasi kabupaten... pengaturan yang sedemikian rigid ini membuat kabupaten tidak dapat mengalokasikan untuk kegiatan yang menjadi kebutuhannya. Konsep perimbangan dimaksudkan agar terjadi keadilan dalam pembagian sumber daya bagi kepentingan nasional dan daerah. Vol...... Adapun variabel yang dinilai meliputi penentuan pagu anggaran dan menu kegiatan.. kabupaten hanya sebagai pelaksana... BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan kajian studi kasus dengan analisis deskriptif dengan lokasi penelitian di Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).. 09.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan nasional. Kita akan usulkan pada provinsi agar pengelolaan dana dekonsentrasi tahun depan tidak seperti sekarang. puskesmas khan tempat pelayanan .... selaku programmer di kabupaten saya pusing.mengapa dinas provinsi selalu mendadak memberi tahu jika ada pelatihan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam...... Provinsi membagi anggaran mulai dari menu kegiatan. dapat diketahui bahwa decision space Kabupaten Bantul sempit. kegiatan yang ada tidak sesuai kebutuhan ... semua yang ngatur provinsi.. bahkan ada kegiatan yang pembiayaannya sudah ada dari gakin mendapat anggaran lagi dari dana dekonsentrasi. hampir setiap hari kami didatangi perangkat desa. jika ada pelatihan provinsi sering mendadak memberi tahu... terlebih pada subkegiatan. karena pada waktu itu pemberitahuan dari pusat juga sangat mendadak dan waktu yang diberikan untuk usulan kegiatan juga tidak lama... kabupaten benar-benar nggak punya kewenangan dalam dana dekonsentrasi ini. Objek penelitian adalah Kepala Dinas dan Programmer KIA. seperti voucher ibu hamil (bumil) yang sasarannya adalah keluarga miskin (gakin).. karena itu akan menunjukkan derajat desentralisasi mereka. kita akan minta TOR-nya pada provinsi.... Dilakukan triangulasi kepada Programmer KIA Provinsi dan Kepala Puskesmas. supaya kita tahu tujuan dan output yang diharapkan. tapi faktanya BPS di wilayah kami belum ada yang tahu tentang program tersebut. Artinya. karena hal ini akan menunjukkan derajat desentralisasi daerah..... meskipun jumlah alokasi anggaran itu tidak dapat diketahui secara pasti...... program voucher bumil membingungkan.... dan mencarikan tempat untuk pertemuan.” (responden 3) “. Bahkan ada beberapa kegiatan yang justru double funding... serta Koordinator KIA Puskesmas....... sedang di sisi lain untuk memfasilitasi proses pembangunan di daerah yang dijalankan di bawah skema otonomi daerah. dana dekonsentrasi yang besar itu pun ternyata masih belum dapat membiayai semua kebutuhan kegiatan dalam akselerasi angka kematian ibu dan bayi... sehingga saya sering dimarahi oleh teman puskesmas... Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. seperti Tabel 1.” (responden 4) “. Dalam era desentralisasi ini idealnya daerah harus mempunyai kewenangan dan decision space yang luas dalam transfer anggaran kesehatan.. Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan saja....... subkegiatan bahkan sampai satuan anggaran..” ( responden 1 ) “... semua yang ngatur provinsi... Decision space adalah berbagai macam fungsi dan kegiatan yang daerah tersebut mempunyai kewenangan yang dapat meningkatkan pilihan mereka. Provinsi DIY sedang dan pemerintah pusat (Departemen Kesehatan) lebar.... puskesmas maupun bumilnya sendiri untuk menanyakan program tersebut.. katanya provinsi sudah mensosialisasikan program voucher bumil ke BPS. karena di lapangan voucher itu dibagikan juga kepada bumil yang mempunyai askeskin..... semua narasumber dari provinsi.. kami hanya memanggil puskesmas sebagai peserta pelatihan..... Provinsi terpaksa membagi dana dekonsentrasi ke setiap kabupaten seperti itu. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan adanya dana dekonsentrasi yang sangat besar cukup mengejutkan bagi Kabupaten Bantul. ” (responden 5) Jika dilihat dari peta decision space....

Med. 120 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pembagian anggaran untuk setiap jenis transfer anggaran sebaiknya mempunyai dasar atau kriteria yang jelas dalam bentuk formula agar unsur pemerataan dan keadilan dapat terpenuhi. Tabel 1. sub kegiatan sampai satuan anggaran - Menentukan menu dan pagu anggaran - Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong dan Bengkulu Utara Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Parigi Moutong - Mengelola sepenuhnya (Block grant) - - Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh PMPK FK UGM4 di enam provinsi proyek DHS yaitu Provinsi Riau. 3 September 2006 .2006. Sulawsi Tenggara. Sulawesi Tengah dan Bali. Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat & Pemerintah Daerah. 2002. 3. Menentukan kegiatan. Peta Decision Space Dana Dekonsentrasi Program KIA di Provinsi DHS Tahun 2006 Provinsi/ Kabupaten Provinsi Riau Kabupaten Kampar Sempit Sebagai pelaksana Sedang Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan Menentukan pagu anggaran Lebar - Narrow Moderate Wide - - Provinsi - Kabupaten/Kota Pelaksana Merubah menu. Peta Decision Space Dana Dekonsentrasi Program KIA di Provinsi DIY Tahun 2006 Transfer Dana Dekon Program KIA Pusat Tabel 2. Kewenangan dan decision space yang dimiliki kabupaten sempit.. Vol. Undang-Undang No 33 Tahun 2004. Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan. Review Pasca Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Program KIA Di Provinsi Proyek DHS.47(10). sehingga derajat otonomi kabupaten dalam dana dekonsentrasi program KIA juga sempit.. Ada kegiatan yang double funding. Bengkulu. 4. Saran Pemerintah pusat agar mendesain kembali mekanisme transfer dana dekonsentrasi yang lebih memberdayakan kabupaten. Sulawesi Utara. Menentukan pagu anggaran dan menerima usulan kabupaten Mengajukan usulan kegiatan dan anggaran Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan Menentukan pagu anggaran dan menerima usulan dari kabupaten Membuat usulan menu kegiatan KIA Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan - - - Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Sebagai pelaksana - - - Provinsi Bali Kabupaten Buleleng Sebagai pelaksana - KEPUSTAKAAN 1. Soc. sementara kegiatan yang lain tidak terbiayai. Alokasi anggaran dekon diubah menjadi anggaran desentralisasi yang bisa langsung ke sektor kesehatan di kabupaten/ kota seperti DAK. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pada era desentralisasi ini jelas terlihat adanya sentralisasi anggaran dalam dana dekonsentrasi program KIA. Jakarta. Bandung. 2. Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Universitas Gadjah Mada. Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Di Indonesia. T. yang kegiatan itu diterima tidak sesuai dengan kebutuhan daerah.Dewi Marhaeni Diah Herawati: Decision Space dalam Program .2004. Sci. Analyzing the Decentralization Of Health Systems in Developing Countries: Decision Space. Penerbit Fermana. Bossert. 09. 1998. Yani. Innovations And Performance. Raja Grafindo Persada. A. No. Gambaran decision space dalam anggaran dana dekonsentrasi di kabupaten/kota dari enam provinsi tersebut sebagai berikut: tiga kabupaten mempunyai decison space sempit dua kabupaten mempunyai decision space sedang satu kabupaten mempunyai decision space lebar Provinsi mempunyai decision space sedang Adapun mapping tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 121 . (2) policy and strategy. There is a possibility that hospital with a comprehensive quality management system like ISO 9000 has succeeded to put in place the basic concept of clinical governance into practice. Interview and document analysis were used for data collection. were implemented and were supported by ISO 9000 quality management system. etik. Pengembangan ini dipelopori oleh National Health Service (NHS) Inggris pada dekade 90-an dengan menggunakan istilah clinical governance. (3) organizational structure. Tujuan: Menilai apakah sistem manajemen mutu ISO 9000 di rumah sakit dapat mendukung penerapan konsep dasar clincial governance dan mendukung terlaksananya kegiatan-kegiatan clinical governance. Kesimpulan dan saran: Penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000 secara sungguh-sungguh di bidang pelayanan klinis dapat membantu terwujudnya clinical governance di rumah sakit. (3) Struktur organisasi. 3 September 2006 l 121 . moral dan berbasis pada bukti terkini dan terpercaya ( evidence-based medicine ). yaitu bahwa setiap upaya medis harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Seluruh standar clinical governance yang terdiri dari standar: (1) Akuntabilitas pelayanan klinis. Conclusion and suggestion: ISO 9000 quality management system implementation with focus to clinical care can help to present clinical governance in hospital. Metode: Studi kasus di dua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jawa Timur dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi dokumen mutu rumah sakit. (5) communication. FK UGM. Di samping itu. Objective: Determine the impact of an ISO 9000 quality management system implementation on the clinical governance implementation and on clinical quality improvement activity in the hospital. (4) resources allocation. (2) Kebijakan dan strategi. yaitu bahwa upaya peningkatan mutu harus dilaksanakan secara sistematik. PENGANTAR Rumah Sakit (RS) adalah lembaga yang terutama memberikan pelayanan klinik. sistem manajemen mutu. (4) Alokasi sumber daya. Baik dan buruknya proses pelayanan klinik dipengaruhi oleh penampilan kerja para dokter. clinical governance muncul karena “putus-asanya” pemerintah dan manajer sarana pelayanan kesehatan di Inggris dalam mengimplementasi pendekatan total quality management (TQM) atau continuous quality improvement (CQI) untuk pelayanan kesehatan dengan alasan tidak dapat diterima secara luas karena para staf klinik menilai TQM dan CQI tersebut terlalu “berbau” manajemen tanpa identifikasi peran yang jelas untuk para kliniki dalam meningkatkan mutu tersebut. ISO 9000. clinical care quality ABSTRAK Latar belakang: Peningkatan mutu pelayanan klinis melalui penerapan clinical governance dilakukan dengan cara memadukan pendekatan manajemen organisasi dan manajemen klinis secara bersama. perawat dan tenaga klinik yang lain. (5) Komunikasi. All basic clinical governance standard: (1) clinical care accountability.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. mutu pelayanan klinis Keywords: clinical governance. Analisis dan penyajian hasil dilakukan secara deskriptif.1 Clinical governance timbul karena berbagai kenyataan buruk dalam sistem pelayanan kesehatan seperti tingginya kasus malpraktik. komprehensif dan berkesinambungan. Vol. saat ini dikembangkan sistem governance di bidang klinik. quality management system. 09. (2) continuous quality improvement. Result: The two hospitals had comparable result. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. (6) Pengembangan dan pelatihan profesional.128 Artikel Penelitian PENERAPAN CLINICAL GOVERNANCE MELALUI ISO 9000: STUDI KASUS DI DUA RSUD PROVINSI JAWA TIMUR CLINICAL GOVERNANCE IMPLEMENTATION USING ISO 9000: CASE STUDIES IN TWO PUBLIC HOSPITALS IN EAST JAVA Hanevi Djasri Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan. Terdapat kemungkinan bahwa rumah sakit yang telah memiliki sistem manajemen mutu yang komprehensif seperti sistem manajemen mutu ISO 9000 telah berhasil menerapkan dasar-dasar clinical governance. No. (7) effective measurement. secara umum telah diterapkan dan mendapat dukungan dari sistem manajemen mutu ISO 9000. Kata Kunci: clinical governance. Yogyakarta ABSTRACT Background: Clinical governance implementation to improve clinical quality can be done through integration of organizational management and clinical management. dan (7) Pengukuran efektivitas. Sebagaimana sistem governance di manajemen.2 Konsep dasar dari clinical governance adalah: (1) accountability. sehingga mutu pelayanan klinik merupakan indikator penting bagi baik-buruknya RS. Method: Case study in two public hospital at East Java Province. ISO 9000. Hasil: Kedua RSUD menunjukkan hasil yang mirip. (6) professional development.

6) pengembangan dan pelatihan profesional. menyediakan data klinik dengan mutu yang baik. perawat senior dan wakil manajemen (management representatif).3 Kegiatan untuk menerapkan konsep dasar clinical governance terdiri dari kegiatan: audit klinik. yaitu RSUD A dan RSUD B. kamar bedah. manajemen kinerja klinik yang buruk. Secara spesifik. Studi kasus di dua buah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dilakukan untuk menilai apakah sistem manajemen mutu ISO 9000 yang dikembangkan di sebuah RS dapat mendukung penerapan konsep dasar clincial governance. Data yang berasal dari wawancara dan analisis dokumen diolah secara kualitatif untuk menilai sejauh mana konsep dasar clinical governance di dua RSUD tersebut telah diterapkan dan sejauh mana sistem manajemen mutu ISO 9000:2000 membantu penerapan tersebut. 3 September 2006 . yang mengisyaratkan agar setiap upaya medis selalu didasarkan pada standard tertinggi yang diakui secara profesional. praktik berdasarkan evidens. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penilaian penerapan konsep dasar clinical governance dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. apakah sistem manajemem mutu ISO 9000 dapat memberikan dasar-dasar bagi terlaksananya kegiatan clinical governance. pengukuran outcome. termasuk pelayanan klinik. kamar bersalin. radiologi. No. Data RS di Indonesia yang telah memiliki sertifikasi ISO 9000 tidak tersedia. Keduanya terletak di Provinsi 122 Jawa Timur dan telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000 untuk seluruh unit pelayanannya. dan sebagainya) yang terdiri dari: direktur. maka terdapat kemungkinan bahwa ada beberapa RS di Indonesia yang telah menerapkan dasar-dasar clinical governance. yaitu para staf RS yang bertanggung jawab (key person) terhadap satu atau lebih unit pelayanan klinik (pelayanan klinik yang dimaksud adalah pelayanan: rawat jalan. Istilah “clinical governance” disetiap pertanyaan diganti dengan istilah “peningkatan mutu pelayanan klinik” karena tidak seluruh staf telah memahami arti dari clinical governance (sehingga istilah clinical governance dan peningkatan mutu pelayanan klinik digunakan secara bergantian dalam artikel ini). Subjek atau peserta wawancara mendalam juga dipilih secara purposive. kepala atau koordinator unit pelayanan klinik. Hasil studi ini diharapkan dapat digunakan oleh para pengambil keputusan di RS dalam menetapkan kebijakan implementasi clinical governance maupun implementasi sistem manajemen mutu ISO 9000. ICU. ketua komite medis. 2) kebijakan dan strategi. Setiap pertanyaan terdiri dari pertanyaan untuk menilai sejauh mana standar clinical governance telah tercapai dan apa peran dari sistem manajemen mutu ISO 9000. 3) struktur organisasi. dan (4) memfasilitasi dan menciptakan lingkungan yang menjamin terlaksananya pelaksanaan pelayanan kesehatan yang bermutu. 5) komunikasi. atau apabila ada. dan mekanisme untuk memonitor outcome pelayanan.6 Instrumen wawancara ini terdiri dari 7 standar. 09. dokumen prosedur kerja dan dokumen rekaman mutu. Vol. belum diketahui bagaimana cara penerapannya. farmasi. rawat inap. melalui pengumpulan data yang bertumpu pada wawancara mendalam serta analisis dokumen. 4) alokasi sumber daya yang dibutuhkan. 7) pengukuran efektivitas. yang mendukung peningkatan mutu seluruh pelayanan. Dasar pemilihan keempat RS tersebut adalah sama-sama RS milik pemerintah daerah (kabupaten/ kota) dengan kelas yang sama. maka dilakukan triangulasi dengan membandingkan hasil yang didapat pada wawancara terhadap data yang terdapat dalam dokumen dan rekaman/catatan RS yang terkait kegiatan clinical governance. manajemen risiko klinik. l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Namun apabila dilihat bahwa prinsip dasar dalam penerapan clinical governance adalah melalui pengembangan sebuah sistem manajemen mutu. gawat darurat. yaitu RS yang telah memiliki sistem manajemen mutu yang komprehensif. Untuk memperkuat pengambilan data yang diperoleh dari wawancara mendalam. melalui penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000. Instrumen untuk wawancara dikembangkan dari standard clinical governance untuk Western Australian Health Service. berada dilokasi yang relatif dekat. sehingga memiliki sumber daya dan pasar yang mirip. dengan cara memadukan pendekatan manajemen organisasi dan manajemen klinik secara bersama-sama5. masing-masing standar terdiri dari 2-5 pertanyaan.4 Di Indonesia belum terdapat catatan resmi tentang RS yang telah menerapkan konsep dasar clinical governance .Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 (3) high quality standard of care . Standar tersebut terdiri dari: 1) akuntabilitas pelayanan klinik. Dokumen terutama berasal dari dokumen-dokumen ISO 9000 milik RS yang terdiri dari dokumen manual mutu. dokter spesialis. laboratorium. sehingga pemilihan RS yang telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000 pada penelitian ini dipilih secara purposive sebanyak dua buah RSUD.

Pemetaan tersebut muncul setelah RSUD menerapkan ISO 9000. namun terdapat tanggung jawab direktur untuk meningkatkan mutu pelayanan secara umum. Panitia peningkatan mutu terbentuk sejak RSUD mengikuti program akreditasi KARS Depkes RI beberapa tahun lalu. hanya terbatas pada kegiatan audit klinik dan penyusunan standar pelayanan medis yang bersifat evidence-based. Vol. Staf ini masih merangkap tugas sebagai staf medis fungsional. Akuntabilitas pelayanan klinik Tanggung jawab dari direktur untuk peningkatan mutu pelayanan klinik (menerapkan clinical governance) tidak terlihat secara khusus. kemungkinan besar karena kedua RSUD menggunakan konsultan ISO 9000 yang sama. 09. Penilaian penerapan standar clinical governance dan sejauh mana sistem manajemen ISO 9000 berperan dalam hal tersebut di kedua RSUD disajikan sebagai berikut: Standar 1. ISO 9000 hanya membakukan dokumen-dokumen yang diperlukan.5 tahun lalu serta telah mendapatkan sertifikat sejak 6 bulan lalu dan RSUD B telah menerapkan sistem manajemen ISO 9000 sejak 1 tahun lalu dan pada saat penelitian dilakukan sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan sertifikat. analisa dan perbaikan Evaluasi data dan pelaporan Audit mutu internal Pengukuran kepuasan pasien Penanganan pasien pulang paksa Tindakan koreksi dan pencegahan Proses Realisasi Pelayanan Kesehatan Pelayanan radiologi Pelayanan radiologi Pelayanan laboratorium Pelayanan laboratorium Persyaratan pelanggan Pelayanan kamar operasi Pelayanan adm terpadu Pelayanan rawat jalan Pelayanan ICU Pelayanan rawat inap Penanganan jenasah Pelayanan rawat darurat Pelayanan kamar operasi Pelayanan adm terpadu Kepuasan pelanggan Perbaikan mutu berkelanjutan Gambar 1: Peta Proses Pelayanan di RSUD Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Misi dan Kebijakan Mutu Komunikasi internal Sasaran Mutu Job Descreption Rapat tinjauan manajemen Manajemen sumber daya Pengelolaan pegawai Penetapan kompetesi karyawan Pendidikan dan pelatihan Pemeliharaan sarana Sanitasi lingkungan Pengukuran. maka sebenarnya peningkatan mutu pelayanan klinik telah menjadi kegiatan utama dan menjadi tanggung jawab direktur (Gambar 1: Peta Proses Pelayanan RSUD). Tanggung jawab manajemen Visi. No. RSUD A telah menerapkan sistem manajemen ISO 9000 sejak 1. Kedua RSUD menunjukkan hasil yang hampir sama. 3 September 2006 l 123 . Bila dilihat dari pemetaan proses pelayanan yang menjadi dasar untuk merencanakan peningkatan mutu. Staf khusus yang diberikan tanggung jawab untuk menerapkan dan mengorganisir kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik (penerapan clinical governance) terdapat di komite medis yaitu di panitia peningkatan mutu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan di dua RSUD di Provinsi Jawa Timur pada bulan Juli-Agustus 2005. Uraian tugas dari panitia peningkatan mutu ini tidak mencakup tanggung jawab penerapan dan pengorganisasian dari seluruh kegiatan clinical governance.

124 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan kliniki lain) serta perwakilan dari staf manajemen telah tersusun sejak sebelum penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000. namum belum terdapat prosedur untuk melepaskan informasi pasien. Komite medis melaporkan dan memberikan rekomendasi kepada direktur untuk perbaikan mutu pelayanan klinik. Sebenarnya ISO 9000 memiliki pesyaratan tentang pengendalian produk/pelayanan tidak sesuai (terkait dengan manajemen risiko) namun di kedua RSUD hal ini baru diterapkan untuk pelayanan nonklinik saja. Kebijakan dan prosedur yang mendukung penerapan pilar ini antara lain: prosedur • • penyusunan standar pelayanan medis yang telah mempertimbangkan adanya evidencebased dan standar pelayanan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. Pengembangan dan pengelolaan staf profesional. membuka informasi kepada pasien dan keluarga mengenai serious clinical incident atau sentinel events. Penerapan pilar ini telah dimulai sejak proses akreditasi RS. Telah terdapat prosedur untuk orientasi. Kebijakan dan strategi ini disusun pada saat implementasi ISO 9000. sedangkan proses ISO 9000 hanya membakukan format penulisan yang berbeda dan dorongan yang lebih kuat untuk pelaksanaannya. namun belum terdapat prosedur untuk pengukuran kinerja klinik untuk masing-masing staf. Penerapan pilar ini khususnya untuk pengukuran dan evaluasi kinerja klinik (sasaran mutu pelayanan klnik) banyak didorong penerapan ISO 9000. Struktur organisasi Meskipun telah ada komite medis yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu pelayanan klinik (penerapan clinical governance) dengan uraian tugas yang menggambarkan tanggung jawab komite medis yang cukup luas dalam penerapkan konsep clinical governance namun tidak seluruh kegiatan clinical governance masuk di dalam uraian tugas tersebut. sentinel event dan analisisnya menggunakan root cause analysis atau kerangka kerja yang lain. Kebijakan dan strategi Meskipun belum terdapat dokumen kebijakan dan strategi yang dikhususkan untuk penerapan clinical governance. dan prosedur pengukuran sasaran mutu pelayanan klinik. Di kedua RSUD ini belum terdapat kebijakan dan prosedur yang terkait dengan manajemen risiko klinik seperti: prosedur pelaporan adanya clinical incident. Standar 2. yaitu kegiatan audit klinik dan penyusunan standar praktik berdasarkan evidence-based . Namun dengan ISO 9000 keterlibatan tersebut menjadi lebih baik karena adanya prosedur komunikasi internal yang lebih baik. dan prosedur identifikasi risiko klinik beserta analisis dan tindak lanjutnya. laboratorium. Vol. Kegiatan ini telah rutin dijalankan oleh komite medis jauh sebelum penerapan ISO 9000. No. dan sebagainya). Beberapa kebijakan dan prosedur telah memperlihatkan penerapan pilar ini. Kebijakan dan strategi tersebut telah sesuai/ relevan dengan tujuan dan sasaran dari organisasi. akan tetapi belum terdapat prosedur untuk: audit klinik ataupun review rekam medis. manajemen komplain pasien dan penyusunan feedback dari kuesioner pasien. • Pengukuran dan evaluasi kinerja klinik. rawat inap. antara lain adanya prosedur: pendokumentasian persetujuan pasien (consent). Manajemen risiko klinik. termasuk di unit-unit pelayanan klinik. kamar operasi. Namun lebih dikuatkan dengan penerapan ISO 9000. training staf. 09. Keterlibatan para staf dalam kegiatan clinical governance terbatas pada kegiatan yang telah berjalan. dan prosedur kredensial. namun keempat pilar dari kerangka kerja clinical governance secara menyeluruh belum diterapkan.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 Uraian tugas dan tanggung jawab untuk kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik terdapat di seluruh unit pelayanan klinik (rawat jalan. Struktur komite medis yang terdiri dari para kliniki (dokter. yaitu: • Fokus kepada pelanggan. 3 September 2006 . Beberapa prosedur yang ada tersebut telah disusun sejak proses akreditasi. perawat. namun telah terdapat dokumen kebijakan dan strategi untuk peningkatan mutu pelayanan secara umum termasuk peningkatan mutu pelayanan klinik. Namun secara umum uraian tugas dan tanggung jawab kegiatan peningkatan mutu pelayanan ada pada wakil manajemen (management representative) yang bertugas menjamin kesesuaian dan efektivitas kegiatan peningkatan mutu. Standar 3. radiologi. dan prosedur untuk mendapatkan informasi terkini seperti protokol medis ataupun clinical pathways . Uraian tugas dan tanggung jawab peningkatan mutu pelayanan termasuk di pelayanan klinik disusun setelah penerapan ISO 9000.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Standar 4. Alokasi sumber daya yang diperlukan Kedua RSUD telah menyediakan sumber daya yang ditetapkan untuk mendukung kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik, namun sumber daya dalam bentuk informasi (sistem informasi) masih dalam proses pengembangan, sehingga tidak seluruh data-data yang terkait dengan pelayanan klinik dapat diperoleh. Sistem manajemen ISO 9000 berperan dalam memberikan kerangka kerja yang jelas untuk menetapkan sumber daya yang dibutuhkan. Standar 5. Komunikasi Belum terdapat bukti bahwa kebijakan peningkatan mutu pelayanan klinik dan strategi pencapaiannya dikomunikasikan dengan tepat kepada para staf dan juga kepada publik (masyarakat/pasien). Hal ini berakibat tidak seluruh staf mengerti dan mematuhi kewajiban untuk menerapkan clinical governance . Sebenarnya dokumen mutu ISO 9000 milik RS temasuk dokumen rekaman mutu ISO 9000 dapat menjadi referensi mengenai penerapan peningkatan mutu pelayanan klinik yang ada di RS. Standar ISO 9000 sebenarnya mensyaratkan agar RS mempunyai sistem komunikasi yang diatur dengan baik untuk memastikan bahwa konsep peningkatan mutu pelayanan (termasuk pelayanan klinik) telah di sosialisasikan kepada seluruh staf RS, namun komunikasi belum dilakukan kepada para stakeholders dan konsumen (pasien/keluarga). Standar 6. Pengembangan dan pelatihan profesional Seluruh staf klinik, terutama dokter spesialis telah mendapatkan informasi yang cukup mengenai pelatihan ataupun pengembangan profesi, namun keputusan untuk menghadiri kegiatan tersebut diserahkan kepada mereka dan RS hanya mendukung dalam bentuk pemberian izin. Pelatihan dan pengembangan profesional yang diikuti umumnya mengenai pengetahuan klinik dan sangat jarang mengenai manajemen klinik. Tidak tersedia catatan tentang keikutsertaan dalam program pelatihan dan pengembangan serta tindak lanjut sesudah pelatihan, yang tersedia hanya catatan kehadiran untuk perawat. Terdapat program orientasi bagi staf baru, namun program ini terbatas, tidak meliputi para dokter dan dokter spesialis. Materi program orientasi juga tidak memuat konsep clinical governanace. Program pengembangan dan pelatihan telah ada sejak akreditasi RS, namun dengan penerapan ISO

9000 maka program ini ditata ulang kembali sesuai dengan klausul ISO 9000 tentang sumber daya manusia termasuk penentuan program pelatihan dan monitoring dan evaluasinya bagi para staf. Standar 7. Pengukuran efektivitas Kedua RSUD telah memiliki sasaran mutu untuk setiap unit pelayanannya, termasuk pelayanan klinik. Beberapa indikator klinik yang digunakan seperti: angka kematian, waktu tunggu (respon time) di instalasi gawat darurat, ketepatan hasil pemerikasaan di laboratorium, dan angka infeksi nasokomial di rawat inap. Sasaran mutu pelayanan klinik tersebut telah ditentukan targetnya dan diukur pencapaiannya secara berkala. Hasil pencapaian dianalisis untuk kemudian disusun rencana tindak lanjut, sehingga proses countinuous improvement berjalan. Hasil dari pencapaian kinerja klinik ini telah dimasukkan ke dalam laporan tahunan kegiatan RS, namun belum diletakkan secara khusus pada bagian clinical governance. Peran ISO 9000 adalah dengan mewajibkan seluruh unit/bagian memiliki sasaran mutu dengan target pencapainnya masing-masing, dengan adanya kewajiban menjalankan proses audit internal maka ISO 9000 mendorong adanya laporan dan tindak lanjut dari pencapaian sasaran mutu atau indikator kinerja. PEMBAHASAN Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di RS Pandangan RS terhadap mutu pelayanannya telah mengalami evolusi, yang semula mutu pelayanan tidak diperhatikan (era tanpa mutu) hingga kini menjadi hal yang utama (era manajemen mutu terpadu) yaitu keterlibatan manajemen puncak sangat besar dan menentukan. Era ini dapat didefinisikan sebagai sistem manajemen strategi dan integratif yang melibatkan semua manajer dan karyawan, serta menggunakan metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperbaiki secara berkesinambungan proses-proses RS agar dapat memenuhi dan melebihi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan, dikenal sebagai TQM. Rumah sakit (RS) yang benar-benar akan melaksanakan TQM harus berusaha menyusun sistem manajemen mutu yang baik yang dapat dikembangkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengadopsi standar sistem manajemen mutu ISO 9000. Standar ini telah dikembangkan sejak tahun 1970-an hingga diterbitkannya standar sistem manajemen mutu versi pertama yaitu standar ISO 9000:1987 yang memuat peraturan dan model

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l

125

Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000

yang ketat dan cepat untuk dapat diikuti oleh sebuah organisasi.7 Versi terbaru standar sistem manajemen mutu yaitu standar ISO 9000:2000 didasarkan pada delapan prinsip manajemen mutu yang berintegrasi dalam klausul-klausulnya8 dan dapat diterapkan di RS, yaitu: fokus kepada pelanggan, kelangsungan hidup RS sangat tergantung bagaimana pandangan pelanggan/pasien terhadap RS. Perlu dipastikan adanya keseimbangan antara kepuasan pelanggan dengan pihak lain yang berkepentingan, seperti pemilik, karyawan, pemasok, pemodal, masyarakat, dan negara. Kepemimpinan, merupakan kemampuan dari pemimpin RS untuk menciptakan visi, serta menciptakan dan memelihara lingkungan internal agar semua staf tetap terlibat dalam mencapai sasaran. Keterlibatan staf, dalam semua tingkatan untuk aktif dalam melihat peluang dalam peningkatan kompetensi, pengetahuan, dan pengalaman. Pendekatan proses, didefinisikan sebagai kumpulan aktivitas yang saling berhubungan atau mempengaruhi yang terdapat perubahan dari input menjadi output. Ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu apakah input memadai, apakah proses yang dilakukan efektif dan efisien dan adakah langkah penambahan nilai dari input, serta apakah output yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan. Pendekatan sistem untuk pengelolaan, sistem merupakan kumpulan dari proses, sehingga diperlukan pengidentifikasian, pemahaman, dan pengelolaan sistem dari proses yang saling terkait untuk mencapai dan meningkatkan sasaran organisasi. Peningkatan berkesinambungan, untuk menjamin adanya peningkatan yang terus-menerus setelah terlebih dahulu dilakukan proses stabilisasi terhadap hasil yang telah dicapai. Pembuatan keputusan berdasarkan fakta, keberadaan data dan informasi yang akurat, dapat dipercaya, mudah diakses, serta kegiatan menganalisis data dan informasi dengan menggunakan metode dan teknik statistik yang benar akan membuat keputusan yang tepat. Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok, dimulai dengan mengidentifiaksi dan menyeleksi pemasok, hingga memberikan masukan serta menghargai adanya peningkatan presetasi dari pemasok. Penerapan Clinical Governance melalui sistem manajemen ISO 9000 Meski sebelumnya telah disinggung “putus asanya” pengambil keputusan dan manajer sarana pelayanan kesehatan di Inggris untuk

mengimplementasikan TQM pada pelayanan kliniknya, namun apabila dilihat dari delapan prinsip manajemen mutu di atas dan membandingkannya dengan prinsip dasar dan standar clinical governance , maka sebenarnya pengambil keputusan dan manajer tersebut bukannya “putusasa” namun melakukan modifikasi TQM/sistem manajemen mutu ISO 9000 secara lebih detail agar dapat diimplementasikan dalam bidang klinik dan menjadi dasar dari konsep clinical governance. Hal ini juga terlihat dari hasil penelitan di atas yang memperlihatkan peran sistem manajemen mutu ISO 9000 dalam penerapan dasar-dasar clinical governance. Penerapan clinical governance membutuhkan perubahan budaya dan juga struktur organisasi serta dukungan dari para praktisi, juga perlu adanya sumber daya untuk mendukung para praktisi terlibat dalam kegiatan peningkatan mutu yang tidak saja menggunakan pedekatan peningkatan mutu tradisional (misalnya dengan pelaksanaan audit atau pemberian insentif) tetapi juga menggunakan pendekatan yang mendorong pembelajaran organisasi dan saling berbagi pengalaman.9 Seluruh konsep tersebut: perubahan budaya, keterlibatan seluruh staf, dukungan sumber daya dan pembelajaran organisasi merupakan konsepkonsep yang juga diterapkan di ISO 9000. Untuk membangun clinical governance juga diperlukan adanya proses pelayanan klinik dengan ciri: fokus kepada pasien, menggunakan pendekatan peningkatan mutu yang terintegrasi, melibatkan team work multidisplin yang efektif, saling berbagi informasi, dan adanya budaya keterbukaan dan saling mendukung untuk belajar dari kesalahan10; Berbagai konsep pelaksanaan proses tersebut pada dasarnya juga menjadi proses yang dipersyaratkan oleh standar ISO 9000. Secara jelas peran ISO 9000 dapat dilihat dari hasil penelitian di atas dan penerapan clinical governance menurut pendapat Halligans dan Donaldson2 sebagai berikut: Membangun kepemimpinan yang efektif: yaitu dengan menyusun visi, nilai, dan metode untuk meningkatkan mutu pelayanan klinik serta disosialisasikan dengan efektif ke seluruh staf (klinik). Di samping itu, juga dilakukan dengan memberdayakan team-work, membangun budaya keterbukaan dan budaya untuk selalu mempertanyakan/mencari kebenaran, serta memastikan bahwa hal-hal tersebut di atas terlaksana dalam kegiatan sehari-hari dalam setiap pelayanan kesehatan.

126

l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam penerapan standar clinical governance dalam akuntabilitas pelayanan klinik, yaitu dengan menegaskan tanggung jawab pemimpin (direktur) dalam kegiatan peningkatan mutu serta dengan menunjuk wakil manajemen (management representatif) yang bertanggung jawab dalam teamwork peningkatan mutu dan efektivitas sistem manajemen mutu termasuk budaya keterbukaan dan integrasi kegiatan mutu dalam kegiatan sehari-hari. Merancang pelayanan yang baik: adalah suatu hal yang penting untuk melihat dan mengevaluasi kembali bagaimana proses pelayanan klinik yang selama ini diberikan. Rumah Sakit (RS) yang akan mewujudkan clinical governance dapat memulai dari sesuatu yang baru atau memodifikasi pelayanan kepada pasien secara spesifik. Hal ini termasuk bagaimana melihat persyaratan pasien, bagaimana proses pelayanan kesehatan dirancang untuk memenuhi persyaratan tersebut (tanpa menyampingkan persyaratan operasional), dan bagaimana rancangan dan proses pelayanan tersebut dapat dikoordinasikan serta diuji-coba untuk memastikan tidak ada masalah. Bagian integral lainnya adalah proses manajemen untuk menilai bagaimana rancangan tersebut dapat dievaluasi dan diitingkatkan kinerjanya. Peran ISO 9000 dalam membangun akuntabilitas pelayanan klinik juga dilakukan dengan memetakan proses pelayanan. Melalui peta proses pelayanan tersebut dapat dilihat dan dievaluasi proses pelayanan klinik yang diberikan, untuk selanjutnya dapat ditingkatkan kinerja pelayanan klinik. Menyusun rencana mutu: clinical governance tidak dapat dilakukan hanya dengan mengerjakan apa yang “kelihatan/kira-kira” benar. Rumah Sakit (RS) harus memiliki rencana untuk meningkatkan mutu pelayanan kliniknya, rencana tersebut harus berdasarkan penilaian yang objektif akan kebutuhan pelanggan/pasien, risiko klinik, persyaratan dari regulasi yang ada, kemampuan staf, kebutuhan pelatihan, dan perbandingan terhadap kinerja pelayanan klinik yang telah diberikan selama ini dengan standar kinerja yang terbaik. Fokus kepada pasien: RS harus memahami bagaimana informasi dan umpan-balik yang berasal dari lapangan terutama dari pasien dapat digunakan untuk mengukur dan meningkatkan mutu pelayanan. Peran serta pasien akan mempengaruhi proses yang kemudian akan dapat meningkatkan mutu/kinerja, sehingga seluruh staf harus mengambil fokus kepada

pasien dalam setiap pekerjaan mereka, mulai dari dokter yang mendiskusikan pilihan terapi kepada pasien, perawat yang memastikan bahwa pasien dapat mengerti mengenai tujuan perawatan yang diberikan, hingga manajer RS yang mengalokasikan waktu di bangsal untuk melihat pelaksanaan pelayanan klinik diberikan dan mendengar komentar pasien. Hasil penelitian di atas juga memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam kedua hal ini, terutama dengan mendukung standar kebijakan dan strategi dari peningkatan mutu pelayanan klinik/clinical governance, yaitu dengan mengharuskan RS memiliki kebijakan mutu yang menjadi acuan dalam penyusunan sasaran atau target mutu di setiap unit pelayanan termasuk pelayanan klinik. Penetapan sasaran ini menggunakan pendekatan fokus kepada pasien (persyaratan pelanggan) dan regulasi yang ada. Orang biasa yang mengerjakan hal luar biasa: Para staf yang bekerja di RS harus menunjukkan kemampuan untuk memberikan konstribusi yang terbaik secara individu maupun bersama dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Salah satu langkah untuk menuju hal ini adalah dengan pendidikan dan pelatihan. Namun tidak hanya sekedar hal tersebut, perlu ada upaya untuk memastikan bahwa para staf merasa di hargai, ada peran mereka dalam keputusan kebijakan mengenai clinical governance, dan manajemen terbukti telah mencoba untuk mengatasi masalah-masalah mereka serta memperhatikan mereka dengan mencari ideide untuk melakukan peningkatan dan inovasi dalam bidang pelayanan klinik. Para staf juga memerlukan dukungan teknis yang tepat, misalnya akses kepada evidence-based, terakhir perlu membangun budaya yang bebas dari budaya saling menyalahkan dan mendorong kepada penilaian terbuka terhadap kesalahan dan kegagalan. Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam penerapan standar clinical governance untuk pengembangan dan pelatihan profesional, yaitu dengan mengharuskan RS menilai, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pengembangan dan pelatihan bagi para stafnya. Di samping itu, ISO 9000 berperan dalam membangun keterlibatan staf dalam peningkatan mutu, yaitu melalui kebijakan yang dituangkan didalam dokumen manual mutu yang mengatakan bahwa seluruh staf turut terlibat dalam upaya peningkatan mutu. Namun demikian, penelitian di atas belum mendapatkan bukti bahwa ISO 9000 dapat berperan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l

127

Clinical governance in health care practice. ISO 9001:2000 Quality Management Systems Requirements. jumlah test yang terpaksa harus diulang. Roland. 6. 2005. Informasi. Internasional Standard Organization (ISO). Informasi ini merupakan hal yang penting bagi para staf untuk menunjukan seberapa baik mereka bekerja dan apakah masih ada kemungkinan untuk meningkatkan kinerja tersebut. Sistem manejemen mutu ISO 9000:2000: Penerapannya untuk mencapai TQM. 3 September 2006 . Sistem manajemen mutu ISO 9000 belum berperan secara efektif dalam membangun nonblame culture dan budaya lain yang diperlukan untuk mendukung penerapan clinical governance dan penerapan standar komunikasi dalam peningkatan mutu pelayanan klinik.4. Butterworth-Heinemann. Swage. tetapi efektivitas komunikasi pelayanan klinik juga dipengaruhi oleh sistem informasi yang saat ini sedang dibangun di kedua RSUD. mengelola. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Magister Manajemen Rumahsakit Universitas Gadjah Mada dan WHO-Alliance for Health Policy and Systems Research yang telah menyediakan dana dan fasilitas dalam penelitian ini.gov. up to date. L. Donaldson. dan indikator strategis seperti jumlah inovasi. 2005. pemahaman: RS harus membangun cara memilih. hasil penelitian di atas belum menunjukkan adanya penerapan standar komunikasi yang efektif untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan klinik. Jakarta. I. kebijakan untuk keterlibatan seluruh staf dalam upaya peningkatan mutu. Yogyakarta. Memastikan adanya keberhasilan: kemampuan untuk mengukur mutu dari pelayanan yang dilakukan adalah hal penting dalam implementasi clinical governance. Jakarta. dan menggunakan secara efektif informasi dan data untuk mendukung keputusan yang terkait dengan kebijakan dan proses pelayanan klinik. Siswihanto. 3. London. 2003. MMR UGM. misalnya mengukur waktu tunggu. KEPUSTAKAAN 1. 2000. 5. Clinical governance: konsep. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut.wa. Geneva. 16-18 Desember 2003 4.15(3):188-201. Ed. BMJ. Quality and Safety Health Care Journal. Utarini. Modul Program Pengembangan Eksekutif. Implementing clinical governance: turning vision into reality. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Campbell. yaitu dengan menetapkan sasaran mutu termasuk sasaran mutu pelayanan klinik. Clinical Governance Standards for Western Australian Health Services Information Series No. 2001. 9. Dwiprahasto. menetapkan target kinerja. 128 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. standar pengembangan dan pelatihan profesional. dan penerapan standar pengukuran efektivitas pelayanan. Seminar Menuju Pelayanan Rumah Sakit Yang Bermutu Melalui Good Clinical Governance. 8. Suardi. standar kebijakan dan strategi. Informasi dan data tersebut harus dipastikan valid. 10. Aspek Strategis Manajemen Rumah-Sakit: Antara Misi Sosial dan Tekanan Pasar. ISO 9000 dalam penelitian di atas memperlihatkan peran dalam penerapan standar pengukuran efektivitas. KESIMPULAN DAN SARAN Sistem manajemen mutu ISO 9000 dapat membantu penerapan konsep dasar clinical governance di RS terutama dalam penerapan standar: akuntabilitas pelayanan klinik. melakukan analisis dan melaksanakan tindak lanjut dan perbaikan berkelanjutan.322:1413–7. 2 Desember 2004. Andi Offset. dan disajikan sedimikian rupa hingga mudah dipahami agar dapat menjadi petunjuk yang baik. maka RS dapat menggunakan sistem manejemen mutu ISO 9000 untuk menerapkan konsep dasar clinical governance. PPM.au/safetyandquality/ 7. 2000. Departement of Health. meski sebenarnya ISO 9000 telah mengatur mengenai persyaratan komunikasi. 1. Trisnantoro. Government of Western Australia. 2. Yogyakarta. 09. Clinical Governance: a convincing strategy for quality improvement?” Journal of Management in Medicine.. dan Wilin. Halligans. pengorganisasian.health. 2002. dan implementasi.11:9–14. Vol. namun perlu adanya upaya yang bersungguh-sungguh dalam penerapan standar ISO 9000 dalam pelayanan klinik. Available from Web: http:/ /www. Implementing clinical governance in English primary care groups/trusts: reconciling quality improvement and quality assurance. 2001. efektivitas dari inovasi dan sebagainya. mengukurnya secara berkala. Campbell. Namun demikian.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 dengan efektif dalam membangun non-blame culture dan budaya lain yang diperlukan untuk mendukung penerapan clinical governance. No. analisis.

perizinan rumah sakit. Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi perizinan rumah sakit belum efektif.e. Instrumen yang digunakan berupa cek-lis yang dikembangkan dari standar perizinan rumah sakit. hanya komponen hak pasien dan etika rumah sakitlah yang mencapai tingkat optimal. employing observation and in-depth interview in two district hospitals and four private hospitals.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. 64. two out of three private hospitals did have a license and one hospital was still in operation even without a license.1 Beragamnya jenis dan kepemilikan fasilitas kesehatan mempunyai dua implikasi utama. terutama di negaranegara sedang berkembang yang bukti-bukti terkininya masih terbatas. i. primarily delegated to the district level The shift of responsibility. Kata Kunci: regulasi pelayanan kesehatan. No. hospital licensing. from mainly the central level to the district level. Conclusion: Despite hospital non-compliance to the licensing standard. hence. requiring evaluation of its implementation at the district level. public-private mix menjadi komponen penting dalam setiap kebijakan kesehatan pemerintah di berbagai tingkatan dan dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen. Method: This is a descriptive study with embedded case study design. Perizinan rumah sakit untuk rumah sakit pemerintah dan swasta merupakan salah satu aktivitas regulasi. Kedua. Hal ini tidaklah mudah dilakukan. sehingga memerlukan evaluasi implementasinya di tingkat kabupaten. Effectiveness was measured by hospital adherence to licensing standard. Pertama. 3 September 2006 l 129 . Mechanisms for licensing of public hospitals have not yet been developed. peran pemerintah sebagai regulator membutuhkan pengembangan model. strategi dan instrumen untuk membangun kemitraan antara lembaga pelayanan pemerintah (umumnya melalui puskesmas) dengan lembaga pelayanan selain puskesmas (misal rumah sakit pemerintah) dan pelayanan swasta khususnya dalam menjalankan program-program pemerintah. pemerintah sebagai pelaksana penyedia pelayanan kesehatan juga perlu mengembangkan model. Hasil: Kepatuhan terhadap perizinan rumah sakit di rumah sakit pemerintah dan swasta tidak mencapai 100. Vol. Result: Compliance toward hospital licensing at district and private hospitals did not reach 100% as it should be. Metode: Dilakukan penelitian studi kasus deskriptif dengan rancangan studi kasus terpancang. Kesimpulan: Meskipun rumah sakit belum memenuhi persyaratan perizinan. terdiri dari dua rumah sakit kabupaten dan 4 rumah sakit swasta telah dipilih dari 1 kotamadia dan 1 kabupaten di DIY. only patient right and hospital ethics that reached optimum level.133 Artikel Penelitian STUDI KASUS DESKRIPTIF EFEKTIVITAS PELAKSANAAN REGULASI PERIZINAN RUMAH SAKIT UMUM DESCRIPTIVE STUDY ON THE EFFECTIVENESS OF HOSPITAL LICENSING REGULATION Inni Hikmatin1. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan rumah sakit untuk memenuhi standar perizinan di Provinsi DIY. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 129 . aspect that was valued. i.0% seperti yang seharusnya dipersyaratkan. governance and management.e. rumah sakit. hak pasien dan etika rumah sakit. i. evaluated using a check-list developed from the 4 components in the licensing standard. case study research ABSTRAK Latar belakang: Dalam konteks good governance. government plays an important regulatory role to ensure patient safety. yaitu 64. terdiri dari empat komponen utama yaitu governance dan manajemen. Enam PENGANTAR Dalam reformasi kesehatan. Perizinan untuk rumah sakit pemerintah belum diatur. pemerintah mempunyai peran penting dalam regulasi.0%. Hospital licensing for public and private hospitals is one of the regulatory activities. Dari keempat komponen yang dinilai. Out of four components evaluated in the licensing standard. services. efektivitas. meskipun ketiganya belum memenuhi persyaratan. studi kasus Keywords : health service regulation. menggunakan observasi dan wawancara mendalam dalam pengumpulan datanya.e. effectiveness.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. was problematic.0%. strategi implementasi serta instrumen berbagai kegiatan regulasi pelayanan kesehatan. Pendelegasian wewenang ini menimbulkan beberapa permasalahan. and physical facilities. The lowest score was governance and management component. 09. Hanevi Djasri2. Objective: This study aimed to describe effectiveness of hospital licensing regulation in Yogyakarta Province. Adi Utarini3 Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM Yogyakarta 3 Magister Manajemen Rumah Sakit UGM. pelayanan dan fasilitas fisik. patient rights and hospital ethics. terutama didelegasikan ke tingkat kabupaten. This study showed that implementation of hospital licensing regulation was not effective. dua dari tiga rumah sakit swasta yang diteliti mempunyai izin dan satu diantaranya tidak mempunyai izin namun tetap operasional. Proporsi terkecil adalah pada aspek governance dan manajemen. located in two districts. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: In the context of good governance. yang bertujuan untuk menjamin keselamatan pasien.

serta belum ada pembagian peran yang jelas antara dinas kesehatan kabupaten-kota dan provinsi.00 65. Sebagai regulator. lintas sektor dan organisasi profesi. Dokumentasi berbentuk foto juga diambil untuk memperkuat data.49 4.30 2. 09. termasuk perizinan rumah sakit.96 1.20 2.10 8. dengan latar belakang fisik bangunan/arsitektur. Tim penilai terdiri dari tiga orang.00 18.63 NDR 0.02 0. Alat penelitian yang digunakan adalah checklist/instrumen perizinan rumah sakit untuk menilai kepatuhan rumah sakit terhadap pemenuhan persyaratan dalam standar perizinan. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif. pelaksanaan kebijakan regulasi pemerintah saat ini tentang perizinan pelayanan kesehatan. manajemen rumah sakit.01 3. kerja sama lintas program.57 3.21 LOS (hari) 5.70 26.34 29. maka fungsi dinas kesehatan sebagai penetap kebijakan dan regulator bidang kesehatan harus semakin dikembangkan.05 TOI 3.90 3.3 Unit analisis dalam penelitian ini adalah dinas kesehatan kabupaten/ kota.00 2. dan menangani regulasi pelayanan di dinas kesehatan provinsi. dengan rancangan multikasus terpancang.23 56.62 2. lembaga masyarakat masih sangat terbatas.40 0.28 GDR 0. Aspek regulasi belum berjalan secara optimal. belum mencerminkan mutu pelayanan yang diberikan ataupun keamanan bagi masyarakat. Kenyataannya. No. serta pokok pertanyaan penelitian ini berkenaan dengan mengapa dan bagaimana. baik milik pemerintah ataupun milik swasta. Penilaian instrumen ini dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara terhadap pihak rumah sakit. Pemilihan dinas kesehatan di tingkat kabupaten dilakukan secara purposif. Data Karakteristik Enam Rumah Sakit yang Diteliti RS 1 2 3 4 5 6 Izin/Akreditasi* -/+/-/+ -/+ +/+ -/- Kepemilikan ABRI Swasta Pemerintah Pemerintah Swasta Swasta Tipe RS C D C C D D Jumlah TT 65 50 124 131 111 16 BOR 59. serta kabupaten yang belum memiliki Perda perizinan (kotamadia). Sumber: Profil Dinas Kesehatan Provinsi Tahun 2005 130 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2006 . Data yang disajikan pada makalah ini merupakan unit analisis terpancang pada tingkat rumah sakit. Tabel 1. Penelitian ini mendeskripsikan efektivitas pelaksanaan regulasi perizinan rumah sakit umum dengan mengukur kepatuhan rumah sakit terhadap standar perizinan rumah sakit. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan proporsi pemenuhan terhadap persyaratan dalam standar perizinan rumah sakit. dkk. regulasi perizinan belum terfokus pada aspek profesionalisme melainkan administratif. Alasan pemilihan studi kasus karena fokus penelitiannya terletak pada fenomena-fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata.90 4.: Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Perizinan merupakan salah satu mekanisme regulasi mutu pelayanan untuk menjamin bahwa lembaga pelayanan atau individu tenaga kesehatan tersebut dapat memenuhi standar kompetensi minimal untuk melindungi keselamatan publik.40 8. antara lain dinas kesehatan berperan melakukan pengawasan dan regulasi berbagai jenis fasilitas pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit. peneliti tidak memiliki peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diteliti. Pemilihan rumah sakit mempertimbangkan kepemilikan (swasta atau pemerintah) dan kelas (C dan D).74 0. Vol.00 * Terakreditasi 5 pelayanan.Inni Hikmatin.90 4. Dengan desentralisasi kesehatan.13 63.80 3. dengan kriteria kabupaten yang telah memiliki Perda perizinan sarana pelayanan kesehatan dan telah mengeluarkan izin sarana (Kabupaten Bantul).60 56.68 40.

77%). No.04 89. 3 berada di wilayah kotamadia dan 3 berada di Kabupaten Bantul. tidak satu pun rumah sakit yang 100% memenuhi persyaratan perizinan rumah sakit.80 76.33 100.00 77. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak seluruh rumah sakit yang telah operasional mempunyai izin dan rumah sakit yang berizin pun belum dapat memenuhi 100% persyaratan perizinan. kepemilikan (pemerintah dan swasta).62 87. Perizinan bagi rumah sakit pemerintah.43 RS 4 80.00 89.58 64. 4 Perizinan rumah sakit merupakan regulasi eksternal yang diterapkan bagi seluruh rumah sakit (pemerintah ataupun swasta) yang bertujuan untuk melindungi keselamatan masyarakat melalui penerapan standar input minimal yang harus dipenuhi sejak pendirian.99 100. Di antara enam rumah sakit tersebut. rumah sakit keenam hanya mencapai lebih kurang separoh dari persyaratan pada aspek governance dan manajemen serta pelayanan. 09. dengan variasi antara 78% 90%.00 89.99 Rumah Sakit RS 3 78.00 94. Rerata kepatuhan tertinggi justru terdapat pada rumah sakit umum milik pemerintah (90. penyelenggaraan hingga monitoring rumah sakit. terendah di rumah sakit enam.17 RS 6 49. namun bervariasi dalam hal kapasitas tempat tidur. Terdapat rumah sakit yang kapasitas tempat tidurnya tidak memenuhi persyaratan minimal (yaitu hanya 16 tempat tidur).78 Dari enam rumah sakit yang diteliti. Rumah sakit tersebut berimbang dalam hal kelas rumah sakit (C dan D). aspek yang lain belum memenuhi. Dengan demikian. dan aspek pelayanan dan klasifikasi rumah sakit (antara rumah sakit 3 dan 6).42 90.03 71. 3 September 2006 l 131 .43%) dan terendah di rumah sakit milik swasta (71. PEMBAHASAN Lisensi (perizinan) adalah suatu proses pemberian izin oleh pemerintah kepada individu dan/ atau lembaga pelayanan kesehatan untuk melaksanakan misinya.92 79.19 78. Padahal selama ini kebijakan atau peraturan perizinan rumah sakit adalah bagi rumah sakit swasta.60 100. seharusnya seluruh lembaga pelayanan yang operasional mempunyai izin. 100 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 86.97 89. dengan pencapaian terendah pada governance dan manajemen.27 100.02 83. serta untuk menetapkan bahwa pihak yang mengajukan izin pendirian rumah sakit mempunyai kualifikasi. latar belakang dan sumber daya yang memadai untuk memenuhi standar tersebut.00 84.05 85. Tampak bahwa kesenjangan antarrumah sakit yang terbesar terdapat pada aspek governance dan manajemen (antara rumah sakit 4 dan 6). sedangkan ketiga atau lembaga pelayanan kesehatan tersebut telah memenuhi standar minimal untuk melindungi keselamatan publik dan tenaga kesehatan. Tingkat Pemenuhan (%) Dalam Setiap Komponen Standar Perizinan Rumah Sakit Apabila dilihat dari empat aspek dalam komponen standar perizinan rumah sakit. lembaga pelayanan yang berizin mampu memenuhi persyaratan perizinan. Tingkat Pemenuhan (%) Rumah Sakit Terhadap Persyaratan Perizinan Standar Aspek governance & manajemen Aspek sosial. dapat dikatakan bahwa implementasi regulasi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5 Berdasarkan pemahaman di atas.08 53. maka aspek sosial.92 85.59 RS 5 61. sedangkan bagi yang belum memenuhi persyaratan tentunya belum memperoleh izin.29 100. hak pasien dan etika rumah sakit Aspek fisik dan bangunan rumah sakit Aspek pelayanan & klasifikasi rumah sakit Rata-rata tingkat kepatuhan rumah sakit terhadap persyaratan perizinan RS 1 52. hak pasien dan etika rumah sakit telah memenuhi persyaratan perizinan.77 100.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejumlah enam rumah sakit diteliti.00 86.04 Aspek governance & manajemen Aspek sosial. hak pasien dan etika RS Aspek fisik dan bangunan RS Aspek pelayanan & klassifikasi RS Gambar 1.85 RS 2 61. Vol. justru belum diatur.84 81. Regulasi lisensi dikembangkan untuk menjamin bahwa individu dan/ Tabel 2.

Detection adalah kegiatan penilaian atau pengukuran kinerja pelayanan kesehatan dengan cara inspeksi. Untuk meningkatkan efektivitasnya. informasi yang jelas tentang prosedur dan mekanisme perizinan bagi di pihak dinas kesehatan 132 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. serta struktur organisasinya. kejelasan antara peran pemerintah pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten). KESIMPULAN DAN SARAN Melalui penilaian kepatuhan terhadap standar perizinan rumah sakit. denda. dan regulatory enforcement.8 Faktor tersebut adalah informasi. simetris tidaknya informasi yang dimiliki setiap pihak. pemahaman dan keterampilan sumber daya manusia terhadap standar dan pelaksanaan penilaian. sedangkan konteks dapat dikaitkan dengan konteks politik. baik di daerah yang telah memiliki Perda dan mengeluarkan izin sarana ataupun yang belum memiliki Perda. serta masyarakat terhadap standar dan prosedur. akan tetapi perlu dikembangkan pula mekanisme dan persyaratan untuk monitoring perizinan.Inni Hikmatin.7. akan tetapi rumah sakit tidak dapat secara penuh memberikan pelayanannya. Untuk melaksanakan Undang-Undang No. baik secara administratif maupun dari aspek pemenuhan standarnya. pembatasan layanan. Vol. umpan balik penilaian dan monitoring perizinan. Ketiga unsur tersebut harus ada dalam suatu sistem regulasi pelayanan kesehatan. sedangkan regulatory enforcement dilakukan dengan penerapan sanksi. sosial ekonomi dan budaya. menarik untuk dicermati bahwa ketiga rumah sakit tersebut pun belum dapat mencapai 100% persyaratan dalam standar perizinan rumah sakit. Dengan demikian. harus diantisipasi mekanisme khusus bagi rumah sakit untuk melakukan tindakan koreksi tersebut. penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi perizinan rumah sakit belum dilaksanakan secara efektif. Di antara enam rumah sakit tersebut. sampai dengan persyaratan perizinan dapat dipenuhi kembali. Di beberapa negara. perlu diperhatikan aspek desain regulasi perizinan rumah sakit. Direction bertujuan untuk mengarahkan fungsi pelayanan kesehatan melalui penyusunan. kredibilitas dan efektivitas sistem sanksi. pelayananpelayanan tertentu (seperti halnya rawat jalan) dapat tetap dilaksanakan. Otoritas meliputi kejelasan mengenai otoritas pihak yang meregulasi dan diregulasi. perizinan tidak hanya dilakukan pada awal mulainya suatu rumah sakit (izin pendirian dan izin penyelenggaraan). namun tetap diperbolehkan untuk operasional. 32/2004 9 dalam konteks good governance di bidang kesehatan10. Walshe6 menyatakan bahwa peran regulasi pelayanan kesehatan meliputi direction. media dan asosiasi profesi dan sumber-sumber konflik. dinas kesehatan provinsi dan kabupaten terhadap faktor-faktor di atas dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas regulasi pelayanan. Berbagai mekanisme ini perlu dikembangkan dengan tujuan tetap menjaga keselamatan pasien dan memberi kesempatan pada rumah sakit untuk perbaikan. dan investigasi. Monitoring bermanfaat untuk mengetahui apakah setiap saat rumah sakit tetap memenuhi persyaratan perizinan serta apabila tidak lagi memenuhi persyaratan tersebut. dkk. serta transparansi informasinya. terdapat empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam desain dan implementasi regulasi. rumah sakit keenam mempunyai kepatuhan yang terendah dalam memenuhi persyaratan perizinan serta tidak lagi memenuhi persyaratan kapasitas tempat tidur rumah sakit. Agar peran regulasi pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan secara efektif. tiga rumah sakit dengan tingkat kepatuhan tinggi (yaitu RS 3.: Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan perizinan bagi rumah sakit umum swasta pun belum efektif. Kapasitas menyangkut ketersediaan sumber daya di pihak regulator. kapasitas. Tahap berikutnya setelah izin diterbitkan adalah melihat proses pelayanan dan menilai kinerja institusi pelayanan kesehatan tersebut. detection. 3 September 2006 . RS 4 dan RS 5) adalah rumah sakit yang telah terakreditasi oleh KARS (dua RS pemerintah dan satu rumah sakit swasta). otoritas dan konteks. kekuatan lembaga konsumen. pihak yang diregulasi. Hal ini dapat menjelaskan mengapa tingkat kepatuhannya relatif tinggi. penetapan. 09. perlu dipertimbangkan pemberian kembali izin operasional rumah sakit dan kesempatan bagi rumah sakit untuk memperbaikinya. dan diseminasi standar. Izin suatu pelayanan kesehatan bisa diterbitkan setelah dilakukan kunjungan inspeksi dan ternyata memang sebuah pelayanan kesehatan tersebut telah memenuhi persyaratan ataupun standar perizinan maka izin untuk melakukan pelayanan kesehatan bisa segera diterbitkan. pemahaman departemen kesehatan. Dalam kondisi demikian. maupun intervensi manajemen. Informasi terkait dengan pemahaman pihak regulator. sehingga diperlukan mekanisme evaluasi dan monitoring yang harus selalu dilakukan secara rutin dan berkala untuk mengetahui apakah proses penyelenggaraan pelayanan kesehatan tersebut masih tetap memberikan pelayanan sesuai standar atau ada perubahan dalam perjalanannya. Sebagai contoh. Meskipun demikian. monitoring laporan.

Rooney.. Health Policy and Planning. 2. C. No. Health Sector Regulation – Understanding the Range of Responses from Government. 7. van.. 2005.K.L. 6. The new Public/Private Mix In Health: Exploring The Changing Landscape. USA. Kumaranayake. In: Soderlund. Case Study Research: Design and Methods.. C dan D. 2000. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 1994. N. L. 15 (4): 368377. 5. L. 8. 7(2): 61-8. Departemen Kesehatan. Do they work? Regulating For-Profit Providers in Zimbabwe. Alternatif Strategi Pelaksanaan Peran Regulasi Pascadesentralisasi Di Daerah. London. serta otoritas perizinan rumah sakit. Bethesda MD. Trisnantoro. 2004. & Thomas. 2004. Quality Assurance Methodology Refinement Series. Yogyakarta. L. Sage Publications. P. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 10. Hongoro.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai regulator dan rumah sakit. K. kapasitas dinas kesehatan kabupaten untuk melakukan survei dan monitoring perizinan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. A. A Prescription for Improvement. Regulating Healthcare. Vol. Gilson. 3 September 2006 l 133 . A. 3. S. Yin. Introduction: Intervening in The Public/Private Mix. 09. Philadelphia. Open University. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi Dalam Manajemen Rumah Sakit. & Ostenberg.. Soderlund. Walshe. 2000. 15(4): 347-8. Quality Assurance Project. Tangcharoensathien. R. Geneva: Alliance For Health Policy And Systems Research. Gadjah Mada University Press. 4. Departemen Kesehatan. 2004. Accreditation and Certification: Approaches To Health Services Quality.R. KEPUSTAKAAN 1. V. 9. Licensing. 2003. Health Policy and Planning. 1999. Mendoza-Arana and Goudge (eds). 2003. Utarini. Draft Standar Perizinan Rumah Sakit Umum Klas B. Jakarta.

Health Problem Priority. 134 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kata Kunci : desentralisasi kesehatan. Funds Allocation. The main source of district health financing is from local government funds (APBD). pemilihan Intervensi Program. nilai ini masih jauh dari nilai standar yang ditetapkan oleh World Bank sebesar Rp51. from April to May 2006. Kantor Dinas Kesehatan. City and District Health Offices.579.99% dari total APBD. Local General Hospital and Local Development Office. kemampuan Perencanaan. Pembiayaan kesehatan per kapita per tahun di Kabupaten Pontianak tahun 2006 berdasarkan belanja publik adalah sebesar Rp34.00 per kapita per tahun. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dan diverifikasi dengan menggunakan metode triangulasi. Advocacy.60.542. Conclusion: The results showed total budget for health originating from local government funds (APBD) .e Rp51. Lain-lain Pendapatan yang Sah. pembiayaan kesehatan daerah.000. BPKD. Primary data was collected by indepth interview and secondary data was collected from documentation in DPRD. Planning Ability. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam dan data sekunder didapatkan dari penelusuran dokumen yang berada di DPRD. Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besaran pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui pemanfaatan alokasi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006. 3 September 2006 . Rubini Kabupaten Pontianak 2 Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan.60. dkk.579.Pontianak District fiscal year 2006 is Rp47. Dana Perimbangan. 03 September l 2006 Halaman 134 . Information of Financing Flow. Pontianak. kemampuan Advokasi. This study was conducted in city of Mempawah. and Balancing Budget Alocation.22 dan No. yaitu mulai awal April sampai awal Mei 2006. kemampuan Perencanaan. Program Intervention Chosen.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Artikel Penelitian FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN KESEHATAN DAERAH BERSUMBER ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN 2006 FACTORS ASSOCIATED WITH LOCAL HEALTH FINANCING FROM LOCAL GOVERMENT BUDGET OF PONTIANAK DISTRICT 2006 Tisa Harmana1. local government funds. 25/1999 dan disempurnakan oleh UU No. This value is still under World Bank standard i. Depok 1 ABSTRACT Background: District health financing patterns varied among many local governments in Indonesia associated to the size of the budget and its allocation. Fakultas Kesehatan Masyarakat. BPKD. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah membawa perubahan kepada semua bidang pembangunan tidak terkecuali kesehatan.542. Wiku B.000. Prioritas Masalah Kesehatan.00 per capita/year bulan.542.00 atau 8. Method: This was a qualitative study to find out factors associated to district health financing and budget allocation in Pontianak District which based on APBD fiscal year 2006. Menurut Mardiasmo1 perubahan pada bidang kesehatan secara garis besar terdiri dari dua hal yaitu : 1) perubahan dalam sistem dan proses organisasional yang terdiri dari pembangunan kebijakan kesehatan (health policy development). Sedangkan faktor PAD tidak mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak. alokasi anggaran kesehatan daerah Key words : health decentralization. No.145 Tisa Harmana.000. RSUD dan Kantor Bappeda. Adisasmito2 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Faktor-faktor pembiayaan kesehatan daerah dihubungkan dengan besarnya jumlah anggaran dan alokasi pembiayaan. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa total anggaran untuk pembiayaan kesehatan bersumber pada APBD Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 adalah Rp47. distric health budget allocation ABSTRAK Latar Belakang: Pembiayaan kesehatan daerah mempunyai pola yang berbeda pada banyak pemerintah daerah di Indonesia. laporan kesehatan daerah. district health account. i. Informasi Alur Pembiayaan.00 per kapita per tahun. Universitas Indonesia. Content of the data were verified and analyzed using triangulation method. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak tahun 2006 adalah : Komitmen Daerah. Penelitian dilakukan di Kota Mempawah Kabupaten Pontianak selama 1 PENGANTAR Kebijakan otonomi daerah yang mulai diberlakukan melalui Undang-Undang (UU) No. Vol.542.00 or 8.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No.99% from total APBD. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.000.00. other Legal Income. dan Keseimbangan antara Mata Anggaran. Sumber utama pembiayaan kesehatan daerah berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). The Original District Income (PAD) was not associated with district health budget allocation in Pontianak District.e: Commitment of decision makers. Funds allocated per capita/year is Rp34. Results: The results of the study showed factors associated with district health budget allocation of Pontianak District year 2006. 09.

tahun 2004 sebanyak 71 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Juli terdapat 49 kasus. tahun 2004 balita dengan status gizi buruk 1.26 Sumber : Diolah dari APBD tahun 2003-2005. tahun 2004 sebanyak 11 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Juli sebanyak 6 kasus. Dampak yang ada menurut Departemen Kesehatan (Depkes)4 dari hasil pengukuran indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) tahun 2000. efisiensi dan kualitas pelayanan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2) keadilan.412.83% dari total pembiayaan kesehatan daerah. Vol. di Kabupaten Sleman tahun 2002 APBD memberikan kontribusi 74.801. Hal ini bisa disebabkan oleh pembiayaan yang tidak cukup dan berdampak pada kualitas dari pelayanan kesehatan.676 326.358 21. Pembiayaan kesehatan belum dapat memperbaiki indikator kesehatan masyarakat secara umum.64% dari total pembiayaan kesehatan daerah. Hal ini merujuk kepada data Health World Report 20002 bahwa total pembiayaan kesehatan Indonesia pada tahun 1997 sebelum era otonomi sekitar US$ 21 per kapita per tahun. Kasus kematian ibu melahirkan pada tahun 2002 sebanyak 20 kasus.5 Kebijakan otonomi khususnya desentralisasi kesehatan menuntut adanya perbaikan sistem pembiayaan dan manajemen keuangan daerah yang masalah pembiayaan kesehatan daerah selalu menjadi hambatan utama dalam mewujudkan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. di Kabupaten Tangerang APBD memberikan kontribusi 74. perencanaan dan alokasi sumber daya ( planning and resource allocation).911. Kebijakan otonomi yang belum begitu siap diterima oleh beberapa daerah di Indonesia membawa implikasi pada menurunnya alokasi anggaran kesehatan.267 323. jika dibandingkan dengan Malaysia hanya 11 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini didukung data dari WHO tahun 20003 bahwa Indonesia pada tahun 1998 mempunyai angka kematian bayi yang masih tinggi yaitu 48 per 1000 kelahiran hidup.20% dari total pembiayaan kesehatan daerah9. Di Kabupaten Lampung Selatan. untuk wilayah Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat APBD tahun 2004 memberikan kontribusi 69. tahun 2002 sebanyak 110 kasus.933.951. No. Angka kematian bayi tahun 2003 terdapat 47. Profil kesehatan pada Kabupaten Pontianak disebutkan bahwa kasus kematian bayi pada tahun 2001 sebanyak 75 kasus.10 Alokasi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari APBD Kabupaten Pontianak mengalami peningkatan dari tahun 2003 sampai tahun 2005 terhadap total APBD kabupaten. Tabel 1. Proporsi alokasi kesehatan terhadap APBD di satu sisi telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 6% pada tahun 2003 menjadi 8% pada tahun 2005.62 tahun. koordinasi antarsektoral ( intersectoral coordination) dan partisipasi masyarakat (public participation). Status kesehatan penduduk Indonesia setelah pembangunan kesehatan selama tiga dekade lalu mengalami kemajuan yang cukup pesat. APBD memberikan kontribusi 49. Indonesia berada pada peringkat 102 di antara 190 negara di dunia dan pada tahun 2003 peringkat Indonesia turun menjadi peringkat ke-112. perencanaan dan manajemen sumber daya manusia (human resources planning and management). jika dibandingkan setelah era otonomi pada tahun 2003 menunjukkan bahwa rata-rata pembiayaan kesehatan Indonesia berkisar US$ 12 sampai US$ 18 per kapita per tahun.865. Tabel 1 menunjukkan perbandingan alokasi APBD bidang kesehatan Kabupaten Pontianak tahun 2003-2005.7 di Kota Depok APBD memberikan kontribusi 50% dari total pembiayaan kesehatan daerah 8.24% dari total pembiayaan kesehatan daerah 6. 3 September 2006 l 135 . tahun 2003 tercatat 22 kasus. sedangkan untuk Provinsi Kalimantan Barat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan kebutuhan penghitungan dan informasi (needs assesment and information).24% sedangkan tahun 2005 sampai bulan Juli ditemukan 284 kasus anak dengan gizi buruk.03% dari total pembiayaan kesehatan daerah dan pada tahun 2003 APBD memberikan kontribusi 82. Perbandingan Alokasi APBD Bidang Kesehatan Kabupaten Pontianak Tahun 2003-2005 Tahun Anggaran 2003 2004 2005 Total APBD (ribuan Rp) 315. 09. pembiayaan dan manajemen keuangan (financing and financial management).342 % 6. Thailand 29 per 1000 kelahiran hidup dan Philipina 36 per 1000 kelahiran hidup. HDI yang diperoleh adalah urutan ke-27 dari 30 provinsi yang ada di Indonesia.158 26.16%.14 per 1000 kelahiran hidup dengan umur harapan hidup pada tahun 2002 di Kabupaten Pontianak adalah 61.6 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi sumber yang memiliki proporsi yang berimbang dengan sumber-sumber lain dan bahkan di beberapa daerah menjadi sumber terbesar dalam pembiayaan kesehatan daerah. Status gizi masyarakat tahun 2003 gizi balita buruk 1.223 Alokasi Anggaran Kesehatan (ribuan Rp) 21.76 8. tahun 2003 sebanyak 102 kasus. namun masih tertinggal jauh dibanding status kesehatan negara-negara tetangga ASEAN.90 6.

Meskipun pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak per kapita per tahun pada tahun 2005 telah diketahui.000.954. 29/2002.00 atau sekitar 15. Pendapatan daerah melalui sebesar Rp21. No.00. Perencanaan terdokumentasi ke dalam Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) yang diajukan oleh setiap instansi termasuk dinas kesehatan dan RSUD sebagai sektor utama kesehatan. Vol. Dana perimbangan 4.483.00 atau sekitar 2. Anggaran belanja terdiri dari belanja aparatur daerah sebesar Rp84.273.000.027. kantor dinas kesehatan. Lain-lain pendapatan yang sah 5.000. kemampuan advokasi.629.71% dari total pendapatan.000. BPKD.00 atau sekitar 0.103. Informan berjumlah 6 orang yang terdiri dari 2 orang dari tim anggaran eksekutif (BPKD dan BAPPEDA).757.485.1% dari total belanja. kecamatan sampai tingkat kabupaten.787.000. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah.00 atau sekitar 81. dkk. Berdasarkan penjelasan di atas. dan belanja tidak tersangka sebesar Rp500.000.000.000. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besaran pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui pemanfaatan alokasi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006.182. RSUD dan kantor Bappeda untuk mendapatkan dokumen daerah yang berkaitan dengan penelitan.140.09% dari total belanja APBD.662 jiwa adalah sebesar Rp37. Gambaran APBD Kabupaten Pontianak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pontianak untuk tahun anggaran 2006 terdiri dari anggaran pendapatan sebesar Rp531. sedangkan anggaran belanja adalah sebesar Rp528.500. Hasil wawancara mendalam kepada para informan dari tim anggaran eksekutif dan panitia anggaran legislatif menjelaskan bahwa perencanaan 136 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Tisa Harmana.00 atau sekitar 4.586.07% dari total pendapatan. intervensi program. sedangkan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp6.00 yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).00 atau sekitar 1. Informan dari tim anggaran eksekutif berasal dari instansi BPKD yang merupakan sekretaris tim dan dari instansi BAPPEDA adalah anggota tim bidang operasional pemeliharaan dan belanja modal. skala prioritas masalah kesehatan.89% dari total belanja APBD. Pengumpulan data terbagi menjadi dua. Data yang telah dikumpulkan diverifikasi dan dianalisis menggunakan metode triangulasi. Kemampuan perencanaan/proses RASK. 2.Rubini).586.00 atau sekitar 94. Penelitian dilaksanakan di Kota Mempawah sebagai pusat pelayanan administratif dan Ibukota Kabupaten Pontianak selama satu bulan yaitu dimulai pada awal bulan April sampai dengan awal bulan Mei 2006.22% dari total pendapatan.391.00 per kapita per tahun.500.617. sedangkan belanja bagi hasil dan bantuan keuangan sebesar Rp15. yang terdiri dari variabel: komitmen daerah. tetapi faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan pada tahun 2006 serta pemanfaatan alokasi APBD terhadap pembiayaan sektor kesehatan yang dimulai dari sumber-sumber pembiayaan sampai dengan bagaimana biaya tersebut digunakan dan kepada siapa biaya tersebut diperuntukkan masih belum diketahui. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 3. dana perimbangan sebesar Rp503.000.9% dari dan belanja pelayanan publik sebesar Rp428.103. maka sangat penting dilakukan penelitian untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak tahun 2006 dan menganalisis pemanfaatan alokasi dari pembiayaan kesehatan daerah bersumber APBD tahun anggaran 2006. Kemampuan Perencanaan Dari wawancara mendalam diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 antara lain : 1. keseimbangan alokasi antara mata anggaran.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak pada tahun 2005 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2005 yang berjumlah 725. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. 09. yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan data sekunder yang diperoleh dari DPRD. 1 orang dari panitia anggaran legislatif (DPRD) dan 3 orang dari instansi pengusul (2 orang dari Dinas Kesehatan dan 1 orang dari RSUD dr. 2. Informasi alur pembiayaan Perencanaan yang dilakukan di Kabupaten Pontianak mengacu kepada Keputusan Menteri Dalam Negeri No.00. sedangkan standar pembiayaan kesehatan di negara-negara berkembang menurut World Bank dalam proyek Health Workforce Services (HWS)5 yaitu sebesar Rp51. melalui proses buttom up planning pada Musyawarah Rencana Pengembangan (Musrenbang) dari tingkat desa.289. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam. 3 September 2006 .

kemudian baru bulan November dimasukkan setelah pagu DAK Non-DR keluar. dan belanja modal yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus NonDana Reboisasi (DAK Non-DR) yang pada saat penyusunan RASK (September 2005) belum diketahui besaran alokasinya. sumber anggaran. sehingga ketika mempertahankan kegiatan yang akan dihapus oleh tim anggaran dapat melakukan pembelaan dengan memberi alasan yang tepat atau dengan kata lain dapat memberikan justifikasi dan disinilah peran advokasi bermain. Dengan adanya pagu sementara dari tim anggaran menciptakan tantangan tersendiri bagi tim perencanaan dari instansi pengusul agar dalam membuat perencanaan dapat mengakomodasi azas kewajaran dan kesesuaian antara dokumen perencanaan yang dimulai dari KUA. aspirasi masyarakat dan visi misi daerah maupun pusat tentang kesehatan serta mengantisipasi alokasi dana dari DAK. Peran pimpinan dalam proses perencanaan juga menjadi hal yang patut diperhatikan karena kepemimpinan dapat memberi motivasi dan kepercayaan. ketika penentuan prioritas masalah terjadi diikuti dengan tindakan intervensi. Pada penelitian yang dilakukan Dharmawan11 menyatakan bahwa pada tingkat pemberian besaran nominal rupiah yang diperlukan dipengaruhi oleh RASK dinas kesehatan sebagai satu-satunya sumber informasi yang dapat memberikan besaran pengalokasian APBD. sesuai kondisi dan keadaan terakhir sebelum anggaran disahkan oleh DPRD. namun tidak ada pagu dana yang ditetapkan secara pasti artinya anggaran dibuat pagu sementara melalui history budgeting tadi. Hubungan kemampuan advokasi dengan proses RASK dapat dijelaskan bahwa advokasi yang dilakukan adalah kegiatan “follow up” dari instansi pengusul terhadap komitmen daerah yang ada sehingga besaran RASK akan bertambah jika advokasi yang dilakukan diterima para pengambil kebijakan sebagai sesuatu yang mendesak dan berdampak luas terhadap masyarakat. sehingga pada kedua item ini juga nominalnya berubah menjadi lebih besar. melihat skala prioritas. Tidak menutup kemungkinan perencanaan yang baik akan memperoleh anggaran lebih besar jika dianggap kegiatan atau program yang diusulkan merupakan sesuatu yang mendesak. kemampuan advokasi. Penetapan jumlah anggaran di Kabupaten Pontianak berdasarkan history budgeting yaitu jumlah anggaran tahun lalu ditambah 10%. sehingga dengan diketahuinya proporsi tersebut nilai nominal atau besaran RASK akan dapat diketahui oleh instansi pengusul. namun tidak dapat dikatakan perencanaan yang disusun dan terdokumentasi dalam RASK oleh instansi pengusul dalam hal ini dinas kesehatan dan RSUD telah baik. Implikasi belanja modal harus diimbangi dengan biaya operasional dan pemeliharaan. serta dokumen perencanaan lainnya. Vol. intervensi masalah dan keseimbangan antara mata anggaran. Kemampuan perencanaan dalam hal ini proses RASK dikontribusi oleh beberapa variabel yaitu: komitmen daerah. Besarnya nominal DASK dapat disebabkan adanya kenaikan gaji. No. Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) merupakan informasi perencanaan anggaran terdokumentasi secara jelas dan tegas yang menyatakan nominal anggaran. Keseimbangan antara mata anggaran dimaksudkan bahwa setiap adanya investasi maka biaya operasional dan pemeliharaan harus disiapkan dan hal ini tertuang dalam dokumen perencanaan yang pada RASK akan diklasifikasi menurut mata Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan yang diusulkan oleh dinas kesehatan dan RSUD dinilai baik karena telah sesuai dengan Kebijakan Umum Anggaran (KUA). 09. sehingga banyaknya intervensi yang dilakukan akan menambah nominal usulan dalam dokumen RASK. Hubungan prioritas masalah dengan besaran RASK dijelaskan bahwa semakin banyak program prioritas yang tertuang di dalam RASK semakin besar nominal RASK yang diusulkan. fungsi anggaran dan pelaksana anggaran. prioritas masalah. 3 September 2006 l 137 . Hubungan komitmen daerah dengan kemampuan perencanaan / proses RASK ini bahwa komitmen daerah merupakan bentuk pernyataan para pengambil kebijakan dalam menentukan proporsi anggaran. tunjangan. Pemimpin yang benar-benar menguasai bidangnya akan sangat membantu proses perencanaan karena apapun yang diusulkan oleh instansinya dia mengerti seberapa besar dan pentingnya masalah tersebut. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan perencanaan mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD. berkala. pagu. sehingga delapan program yang ada pada RASK diakomodir semuanya ke dalam DASK. Hasil telaah dokumen menjelaskan bahwa nominal DASK ternyata lebih besar dari RASK. sehingga tidak terdokumentasi dalam RASK tetapi tercatat pada dokumen rencana definitif DAK Non-DR bidang kesehatan dan langsung di masukkan ke dalam DASK. Demikian juga dengan intervensi masalah. penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) baru kemudian penyesuaian biaya perjalanan dinas akibat kenaikan BBM.

juga memperhatikan aspirasi masyarakat yang dihasilkan dari proses musrenbang dari tingkat desa sampai dengan tingkat kabupaten. dkk. sehingga peneliti berpendapat bahwa kebijakan publik yang dihasilkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak dalam hal ini komitmen daerah terhadap keputusan sektor kesehatan telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan teori yang ada. 29/2002. sehingga keputusan atau keluarannya merupakan kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif. sehingga menjadi sebuah kebijakan publik yang tertuang dalam nota kesepakatan antara Bupati Pontianak dengan DPRD Kabupaten Pontianak. Kebijakan Umum Anggaran (KUA) ini tidak terlepas dari dokumen perencanaan daerah yaitu Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Keputusan bersama ini disampaikan dalam KUA yang ditanda tangani Bupati dan Ketua DPRD. kecamatan sampai dengan DPRD agar kesadaran akan kebutuhan pembangunan kesehatan meningkat. c. khusus untuk tahun 2006 sebesar 7. semua informan menyatakan setuju bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak baik lembaga legislatif dan eksekutifnya memiliki komitmen yang baik kepada sektor kesehatan.99% dari total APBD dan menduduki urutan ketiga dalam jumlah anggaran yang dialokasikan.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah anggaran masing-masing. Departemen Kesehatan RI 2 juga menyebutkan kemampuan advokasi dinas kesehatan berpengaruh terhadap pembiayaan kesehatan. Penetapan standar pelayanan minimal daerah harus mengacu kepada indikator-indikator pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Akan tetapi. Komitmen daerah Pemerintah Kabupaten Pontianak memberikan pengaruh kepada pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD kabupaten.36% untuk Dinas Pendidikan dan 23. Lestari9. Komitmen Daerah Dari hasil wawancara mendalam. meski kesehatan berada di urutan ketiga setelah pendidikan dan infrastruktur namun kesenjangannya sangat jauh yaitu 36.99%. 09.71% dari total APBD jika hanya dihitung dari dinas kesehatan dan RSUD namun secara agregat pembiayaan kesehatan daerah termasuk instansi di luar Dinas Kesehatan dan RSUD adalah sebesar 8. 3 September 2006 . b. Keputusan ini akan mengakomodasi seberapa besar proporsi pembiayaan kesehatan yang akan dialokasikan melalui APBD kabupaten. maka sebenarnya Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Pontianak belum mewujudkan komitmen secara nyata dalam bentuk besaran anggaran.35% untuk Dinas PU (infrastruktur) jika dibanding total pembiayaan kesehatan yang hanya 8. Vol. Advokasi Hasil wawancara mendalam kepada informan menunjukkan adanya pengaruh kemampuan advokasi yang dilakukan instansi pengusul terhadap besaran alokasi dana khususnya bidang kesehatan seperti diungkapkan oleh tiga orang informan. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil telaah dan olahan dokumen data sekunder yang menghasilkan proporsi alokasi APBD yang memiliki tren meningkat dari tahun ke tahun. Teori yang dikemukakan oleh Dunn12 bahwa kebijakan publik merupakan hasil-hasil keputusan eksekutif sebagai respon terhadap lingkungannya. Skala prioritas masalah Hasil penelitian menyebutkan bahwa penentuan skala prioritas masalah kesehatan di Kabupaten Pontianak khususnya dari instansi pengusul baik Dinas Kesehatan dan RSUD adalah berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM).Tisa Harmana. berikut dapat dijelaskan variabel-variabel tersebut: a. hal ini dikemukakan oleh beberapa peneliti antara lain Gani13 Irwansyah7. Standar Pelayanan Minimal (SPM) dijadikan dasar penentuan skala prioritas karena merupakan cara untuk menjamin dan mendukung kewenangan untuk penyelenggaraan pelayanan oleh daerah. juga sekaligus merupakan akuntabilitas daerah. Departemen Kesehatan RI2 juga menyatakan bahwa salah satu faktor yang menentukan kecukupan alokasi anggaran kesehatan di daerah adalah skala prioritas bidang kesehatan di mata para pimpinan daerah dalam hal ini komitmen daerah. karena pernyataan atau komitmen yang ada baik secara tertulis maupun tidak tertulis menjadi sebuah kebijakan publik bahwa kebijakan yang diambil telah melalui tahapantahapan tertentu dengan mengacu kepada Kepmendagri No. Menurut Dharmawan11 perlu adanya advokasi kepada aparat pemerintah baik dimulai dari tingkat desa. No. namun ada tanggapan dari informan lain bahwa tidak ada intervensi dan belum tentu terjadi perubahan namun hal itu masih dimungkinkan. Rencana Strategi (Renstra) dan hasil Musrenbang. Penelitian lain juga mengatakan bahwa komitmen daerah menjadi salah satu faktor penentu dalam pembiayaan kesehatan. 138 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan Vollini8.

alat kesehatan serta pembangunan dan rehab puskesmas. Pelaksanaan program secara menyeluruh.000. penyediaan dan pengelolaan air bersih dan diklat aparatur negara. penting sekali untuk menetapkan prioritas masalah. semakin banyak program yang dipilih untuk diintervensi yang terdokumentasi dalam RASK menyebabkan besaran alokasi RASK akan bertambah. daerah mempunyai kewajiban meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.550. aspirasi masyarakat.00 dan belanja aparatur Rp22. pelayanan kesehatan masyarakat. 29/2004 sekaligus hakekat dari desentralisasi yaitu peran serta masyarakat dalam pembangunan. Intervensi Program Menurut informan bahwa dalam menetapkan intervensi program harus berpedoman pada renstra. sehingga akhirnya alokasi APBD semakin besar yang diserap.437. Keseimbangan Antara Mata Anggaran Menurut informan. 32/2004 Pasal 22 bahwa dalam menyelenggarakan otonomi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Renstra juga dijadikan acuan karena skala prioritas yang ada harus dapat mendukung visi dan misi dari pemerintah daerah. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.820.00 yang terdiri dari gaji dan tunjangan pegawai. 3 September 2006 l 139 . Gani14 menyatakan program-program kesehatan yang dilaksanakan berkembang atas dasar daftar masalah kesehatan yang ada. Hasil pengolahan data sekunder dengan format District Health Account (DHA) menghasilkan alokasi terbesar pada Belanja Administrasi Umum (BAU) sebesar 49.357.000. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intervensi yang sesuai dengan skala prioritas masalah akan mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber dari APBD Kabupaten Pontianak. minimal berdasarkan kewenangan wajib dan standar pelayanan minimal menyebabkan pembiayaan yang terbatas harus dapat mengakomodir program-program kesehatan tersebut. keseimbangan antara mata anggaran bukan merupakan pembagian proporsi sama rata pada setiap jenis mata anggaran. sehingga kesesuaian antara skala prioritas dengan rencana strategis menjadi penting agar tercapai tujuan yang dikehendaki yaitu mewujudkan “Kabupaten Pontianak Sehat 2008”. Dalam keadaan pembiayaan yang sangat terbatas. Hasil dari penentuan program prioritas akan dituangkan ke dalam RASK. serta standar pelayanan minimal bidang kesehatan. Program pelayanan kesehatan masyarakat mendapat porsi paling besar yaitu 43. Belanja modal hanya dialokasikan pada belanja publik saja yaitu sebesar Rp10. Besarnya alokasi pada BAU dikarenakan akumulasi dari belanja publik Rp1. pencegahan dan pemberantasan penyakit. selain itu besarnya BAU juga bisa disebabkan acuan perencanaan terhadap KUA Dinas Kesehatan poin (1) pemerataan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar yang berisikan e. Program yang ada jika mengacu pada sistem district health account menjadi 9 program dari 19 program yang telah ditentukan pemerintah pusat. Hal tersebut dikarenakan kegiatan yang ada pada program ini merupakan kegiatan operasional terbesar yang ada di Dinas Kesehatan kemudian dari kegiatan investasi yang merupakan penunjang pelayanan kesehatan masyarakat berupa pengadaan obat. Hasil Musrenbang juga menjadi acuan karena merupakan wujud dari perencanaan dengan melibatkan aspirasi masyarakat sesuai dengan yang diatur dalam Kepmendagri No. walaupun dari segi jumlah program lebih sedikit dari yang ditentukan namun Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak khususnya. tetapi hal ini juga menimbulkan tantangan baru untuk menciptakan intervensi yang “cost effective”. jika pada KUA dan skala prioritas mementingkan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan maka belanja modal akan menjadi lebih besar dan belanja operasional pemeliharaan menjadi penunjangnya. Dinas Kesehatan telah menyelaraskan arahan dari pusat dan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah. namun tidak cukup untuk membuat program-program kesehatan efektif dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan.000. pelayanan kesehatan rujukan rumah sakit. Vol. pengawasan obat dan makanan.449. pustu dan polindes terdapat pada program ini. melainkan terpenuhinya pembiayaan pada setiap mata anggaran berdasarkan KUA dan skala prioritas. d.79%.40% dan terkecil pada belanja modal (BM) sebesar 21. Hal ini dirasakan sudah cukup sesuai dengan UU No. No.19%. sehingga RASK merupakan dokumentasi yang penting dalam mengakomodasi program-program yang diprioritaskan dan nantinya akan menentukan intervensi serta besaran alokasi pada APBD.034. Intervensi ini merupakan penjabaran dari skala prioritas yang ada. penyehatan lingkungan pemukiman. 09. Telaah dokumen RASK menghasilkan ada 8 program dan 23 kegiatan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan.00 dan tidak ada alokasi pada belanja aparatur. Program yang dilaksanakan di Kabupaten Pontianak antara lain penyuluhan kesehatan. perbaikan gizi.

088.000 1. dkk. Perencanaan dan manajemen anggaran investasi biasanya terpisah dari perencanaan dan manajemen anggaran operasional dan pemeliharaan. perencana harus memahami kekhususan pendanaan tersebut. Peningkatan biaya investasi yang diikuti adanya biaya operasional dan pemeliharaan sehingga jumlah BOP tidak jauh berbeda dengan proporsi BM.DAK Bidang Lingkungan Hidup . akibatnya banyak investasi yang tidak dapat berjalan dengan baik. setiap perencanaan investasi harus selalu disertai dengan perhitungan implikasi biaya operasional dan pemeliharaan yang diperlukan. Hal ini disebabkan perencana di instansi pengusul baik dinas kesehatan dan RSUD telah memahami jika mengalokasikan dana untuk belanja modal perlu juga mengikutsertakan alokasi belanja operasional pemeliharaan. Hal ini akan memberikan dampak meningkatnya jumlah alokasi anggaran pada APBD dan tidak terlepas dari skala prioritas. 3 September 2006 . sebaliknya dana perimbangan yang terdiri dari DAU. Dana Perimbangan : a. tetapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut diperlukan pembiayaan yang termasuk dalam belanja operasional dan juga dimungkinkan untuk pembiayaan kelompok belanja pemeliharaan. Berdasarkan sumber pendapatan porsi terbesar penyumbang pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak adalah Dana Alokasi Umum (DAU). memberikan implikasi setiap adanya peningkatan selalu diikuti pemeliharaan. 3. DAK Non-DR : . 33/2004.734.33/2004 1. Jika menelaah dokumen KUA dapat disimpulkan bahwa BM dan BOP yang dianggarkan memang mengacu kepada KUA dinas kesehatan dan KUA RSUD. gaji/upah. Dalam melakukan investasi sering implikasi biaya operasional dan biaya pemeliharaan investasi tersebut tidak diperhitungkan.03% selisihnya dengan BM. sehingga PAD menurut salah seorang informan memang tidak berpengaruh terhadap pembiayaan kesehatan karena pemda tidak menerapkan setoran PAD berbanding dengan pembiayaan.542 Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pontianak khususnya yang berasal dari kesehatan relatif kecil.00 3. poin (2) peningkatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana nonmedik penunjang. DAU b. serta KUA dari instansi pengusul baik dinas kesehatan dan RSUD.14 Di Kabupaten Pontianak. Oleh sebab itu.575 310. setiap perencanaan belanja modal selalu diikuti dengan operasional pemeliharaan. Tabel 2 menunjukkan pembiayaan kesehatan daerah berdasarkan sumber pendapatan. Menurut peneliti.07% dari total pendapatan APBD. Tabel 2. sementara pada PAD tidak memberikan kontribusi kepada kegiatan kesehatan.542. sehingga PAD ini tidak memberikan pengaruh yang berarti kepada pembiayaan kesehatan daerah karena sistem keuangan di daerah tidak menganut proporsi anggaran berdasarkan setoran PAD tetapi 140 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2.86 100.28 7.DAK Bidang Infrastruktur 3.34 14. sehingga harapan dari pernyataan Gani14 telah sesuai dengan kenyataan yang ada di Kabupaten Pontianak. yaitu dialokasikan untuk kegiatan yang termasuk dalam kelompok belanja modal. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber pendapatan dalam APBD sesuai dengan UU No.289 47.575 7. karena hal ini akan berpengaruh kepada keseimbangan mata anggaran.560. pada KUA dinas kesehatan poin (2) Peningkatan jumlah jaringan dan kualitas fasilitas kesehatan dan pada KUA RSUD poin (1) peningkatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit. Perencanaan dengan sistem anggaran berbasis kinerja dituntut kehandalan perencana dalam membuat perencanaan suatu kegiatan yang comprehenshif dengan memperhatikan ketentuanketentuan yang sesuai dengan kegiatan tersebut.608. barang habis pakai dari dua instansi yaitu dinas kesehatan dan RSUD. No. Lain-lain pendapatan yang sah bantuan dari Pemerintah Pusat (HWS) Total : Jumlah (ribuan Rp) 0 35.738.000 % 0. Kecilnya PAD yang dimiliki oleh Kabupaten Pontianak hanya 4. Pembiayaan Kesehatan Daerah Berdasarkan Sumber Pendapatan Sumber Dana Sesuai UU No. BOP yang dialokasikan pada APBD untuk pembiayaan kesehatan sebesar 28.82% atau hanya 7. Jadi keseimbangan antara mata anggaran sangat dipengaruhi oleh KUA dan tertuang dalam skala prioritas dan akan mempengaruhi jumlah pembiayaan kesehatan yang dituangkan dalam dokumen perencanaan (RASK). hal ini dapat disebabkan belum tergalinya potensi PAD yang riil dimiliki daerah dan belum optimalnya pengelolaan kekayaan daerah.41 0. serta DAK sangat besar porsinya. Seperti dalam anggaran kesehatan yang bersumber dari DAK.253 9.00 73. 09.DAK Bidang Kesehatan .80 18.65 3. Vol.Tisa Harmana.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah kegiatan administrasi proyek.

900. kriteria khusus dan kriteria teknis dapat maksimal. No. 5. selain itu PAD dari sektor kesehatan yang dihasilkan dari retribusi kesehatan yang disetorkan ke pemda memang dikembalikan kepada instansi bersangkutan sebanyak 60% dari total setoran tetapi uang pengembalian dialokasikan dari DAU dalam bentuk uang lembur dan kompensasi pelayanan kesehatan.000. Pendapatan Asli Daerah (PAU) untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan masing-masing sebesar 10% dan 90%.1 Pendapatan Asli Daerah (PAU) ini sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga pemerataan dan perimbangan keuangan antar daerah. namun untuk DAK Non-DR bidang kesehatan daerah masih perlu menyampaikan usulan dan data awal agar pada perhitungan formulasi penentuan alokasi DAK melalui kriteria umum. Dana Perimbangan Hasil penelitian melalui telaah dan olahan data sekunder menunjukkan bahwa dana perimbangan menjadi sumber pendapatan yang paling besar memberikan kontribusi terhadap pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 yaitu sebesar 92. perdagangan dengan mobilisasi penduduk yang tinggi serta memiliki objek pajak yang banyak.86% dari total pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD tahun anggaran 2006. Besarnya kontribusi dana perimbangan terhadap pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 disebabkan jumlah pendapatan pada APBD sesuai struktur APBD yang diatur UU No.377. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Sariasih15 yang menyatakan bahwa ada hubungan antara variabel fiskal. tetapi juga berasal dari DAK Non-DR bidang Lingkungan Hidup dan DAK Non-DR Infrastruktur. Fiscal gap didapat dari formulasi fiscal needs dibandingkan dengan fiscal capacity.64% sehingga PAD sangat mempengaruhi pembiayaan di Tangerang pada tahun 2003. Dana perimbangan menentukan besar kecilnya alokasi untuk pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak. 29/2002. Hal ini dapat menjadi salah satu sumber untuk peningkatan pembiayaan kesehatan. 4. diharapkan setelah kegiatan HWS ini selesai pemerintah daerah dapat mengalokasi dana APBD Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sumber DAK tidak saja berasal dari DAK Non-DR bidang Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan anggaran berbasis kinerja sesuai Kepmendagri No. Hal ini karena walaupun pemerintah pusat telah memiliki formula tertentu dalam penetapannya daerah juga harus pro aktif untuk memperoleh dana tersebut di pusat. status wilayah. 33/2004 memberikan kontribusi sebesar 7. sedangkan Kabupaten Pontianak masih didominasi pertanian dan perikanan.838. status kesehatan akses air bersih. maka dapat dikatakan bahwa PAD belum mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak. 3 September 2006 l 141 .00 dari total pembiayaan sebesar Rp80. kriteria khusus. 33/2004 menghasilkan dana perimbangan memberikan kontribusi terbesar yaitu 94.231. dan kriteria teknis.34% dari total pembiayaan kesehatan daerah. serta menyisakan sedikit sumber daya alam berupa hutan yang sudah “gundul” sehingga secara agregat menyebabkan PAD yang ada masih kecil. Semakin besar dana perimbangan khususnya DAU maka semestinya semakin besar pula alokasi kesehatan. Jika membandingkan PAD Kabupaten Pontianak yang kecil dengan Kabupaten Tangerang. Lain-Lain Pendapatan Yang Sah Hasil penelitian menunjukkan bahwa item lainlain pendapatan yang sah sesuai struktur APBD menurut UU No. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Lestari 9 bahwa PAD menjadi penyumbang terbesar dalam pembiayaan kesehatan di Tangerang tahun 2003 yaitu sebesar Rp39.00 atau 48. Wawancara mendalam kepada para informan juga menyatakan bahwa sumber pendapatan terbesar dari DAU yang merupakan salah satu bagian dari dana perimbangan. Kegiatan HWS ini berlangsung selama lima tahun dimulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. menjaga agar tidak terlalu besar fiscal gap yang terjadi.960.71% dari total APBD Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 dengan DAU sebagai sumber pendapatan terbesar. Pendapatan tersebut didapat dari dana hibah pemerintah pusat kepada daerah dalam bentuk proyek pengembangan sumber daya kesehatan atau HWS. Vol. karena Kabupaten Tangerang merupakan daerah pinggiran ibu kota Indonesia yang banyak dijadikan kawasan industri. Dana Alokasi Umum (DAU) yang diberikan kepada daerah ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN.14%. Dana Alokasi Khusus (DAK) seperti yang terlihat pada Tabel 2 menunjukkan alokasi DAK adalah sebesar 18. 09. akses pelayanan kesehatan dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan besaran alokasi DAK Non-DR pada tahun 2005 melalui kriteria umum. Melihat jumlah PAD yang relatif kecil jika dibandingkan dengan dana perimbangan sebagai sumber pendapatan APBD.

pembiayaan kesehatan bersumber dari APBD kabupaten masih perlu ditingkatkan lagi.093. Jika dianalisis jumlah belanja pelayanan publik sebesar Rp25. 09. UPT Panti Sosial (PTSW) dan sekretariat daerah. migas.105. tenaga kerja dan transmigrasi. Data pembiayaan kesehatan daerah saat ini dapat diolah melalui format DHA yang merupakan jabaran dari National Health Account (NHA). Sisanya hanya melakukan kegiatan kesehatan yang berkaitan dengan aparatur yaitu perawatan dan pengobatan lokal dan GCU. kelompok belanja aparatur sebesar Rp22. (3) pendapatan dari pajak dan retribusi. Kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota se-Indonesia dalam rangka desentralisasi di bidang kesehatan yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2000 menyatakan bahwa secara bertahap proporsi anggaran kesehatan akan ditingkatkan sehingga sesuai dengan kebutuhan standar WHO yaitu minimal 5% dari PDRB atau setara dengan minimal 15% dari APBD. dkk. Pemerintah daerah dalam otonomi mempunyai empat sumber pendapatan untuk membiayai kegiatan yaitu: (1) alokasi dari pusat dalam bentuk DAU dan DAK.000. Tabel 3 berikut menunjukkan besaran alokasi pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Kabupaten. walaupun secara fakta di lapangan PAD belum mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak. Pembiayaan untuk belanja pelayanan publik hampir berimbang dengan belanja aparatur sehingga tujuan dari desentralisasi.105.093.542.00 atau 52.000. Untuk dapat mengatasi permasalahan ini maka Kabupaten Pontianak mendapat tambahan alokasi dana pembiayaan kesehatan dari proyek HWS.33/ 2004 yang terdiri dari PAD.00 Rp25.437. Vol.00 terhadap jumlah penduduk Kabupaten Pontianak tahun 2005 142 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sehingga kesinambungan informasi ini sangat dibutuhkan. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah secara agregat menjadi sumber pembiayaan kesehatan daerah. 3 September 2006 . Pembiayaan Kesehatan Kabupaten Pontianak Berdasarkan Kelompok Belanja Belanja Aparatur Pelayanan Publik Jumlah (ribuan Rp) Rp22.437. sumber dana. No. Informasi Alur Pembiayaan Hasil penelitian melalui wawancara mendalam dengan para informan diketahui alur pembiayaan kesehatan diharapkan menjadi pedoman pada level pengambilan kebijakan pembiayaan kesehatan daerah. serta adanya paradigma baru dari perubahan sistem anggaran pada era desentralisasi yaitu APBD harus berorientasi pada kepentingan publik belum tercapai dengan optimal.542. dinas kependudukan.Rubini.093.Tisa Harmana..: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah sebesar 15% sesuai dengan kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota seIndonesia dalam rangka desentralisasi di bidang kesehatan yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2000 yang menyatakan bahwa secara bertahap proporsi anggaran kesehatan akan ditingkatkan sehingga sesuai dengan kebutuhan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu minimal 5% dari Product Domestic Regional Bruto (PDRB) atau setara dengan minimal 15% dari APBD. Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang tersebar di seluruh satuan kerja di lingkungan Pemerintah Daerah jika hanya memperhatikan kegiatan kesehatan dengan kelompok belanja pelayanan publik maka hanya 9 satuan kerja yang melakukan kegiatan kesehatan berbasis pelayanan publik yaitu dinas kesehatan.449. RSUD dr.00 atau 47. catatan sipil dan keluarga berencana.00 % 47. sehingga alur pembiayaan yang memuat jumlah dana. dinas sosial. prioritas pembangunan daerah dan berdasarkan visi pembangunan kesehatan Kabupaten Pontianak.00 Rp47. dinas pekerjaan umum.00 Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak tahun 2006 terdiri dari dua kelompok yaitu.000. energi dan sumber daya mineral.22% dan kelompok belanja pelayanan publik sebesar Rp25. (2) anggaran perimbangan atau bagi hasil yang diperoleh dari pertambangan. hasil hutan dan perikanan.105. Struktur pendapatan APBD sesuai UU No. tetapi bila dikaitkan dengan kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota se-Indonesia. Hasil wawancara mendalam diketahui bahwa sektor kesehatan merupakan sektor prioritas dalam pembangunan Kabupaten Pontianak setelah pendidikan dan infrastruktur.78 100.449. dinas pendidikan.22 52. dinas lingkungan hidup. dan (4) pinjaman dalam negeri dan luar negeri. 6. Azwar16 mengatakan jumlah dana yang tersedia di daerah dalam bentuk APBD mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah.78%. pengelola dana sampai ke mana saja dana tersebut dialokasikan terekam dalam sistem DHA. Tabel 3.

76% untuk sektor kesehatan dan 14. 3 September 2006 l 143 . yaitu: pendidikan. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Gani16 yang menjelaskan bahwa sumber biaya kesehatan di daerah dibagi dalam dua kelompok yaitu sektor kesehatan dan sektor nonkesehatan.33/ 2004 membawa implikasi pada perubahan berbagai sektor dalam sistem sosial masyarakat termasuk sektor kesehatan.000. pelayanan imunisasi. pelayanan KB.2 Informasi alur pembiayaan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah karena adanya alur informasi ini pihak perencana dan pihak pengambil kebijakan dapat menganalisis apakah kebijakan dibidang kesehatan telah dapat mengakomodasi dan memecahkan permasalahan kesehatan di Kabupaten Pontianak. pelayanan kesehatan anak pra sekolah.579. maka persentase dana yang dialokasikan pada pembiayaan kesehatan adalah sebesar 7.57% dan RSUD 16.Rubini dan dana yang berada di sektor nonkesehatan yaitu instansi lain yang melakukan kegiatan kesehatan.500. Angka ini masih jauh di bawah standar WHO. Alokasi terbesar berada di sektor kesehatan dibandingkan dengan sektor nonkesehatan dengan perbandingan 85.00. Dari 9 kewenangan wajib yang mendapatkan alokasi pembiayaan di Kabupaten Pontianak tahun 2006. pelayanan pengobatan/perawatan. pelayanan kesehatan jiwa.00. Hal ini dibuktikan dengan hasil olahan data sekunder yang menempatkan sektor kesehatan di Kabupaten Pontianak menempati tiga besar dalam skala prioritas pembangunan menurut jumlah alokasi anggaran.542. atau sebesar 85.60. sehingga dapat dikatakan bahwa Kabupaten Pontianak belum menempatkan pembangunan kesehatan sebagai arus pembangunannya. sehingga persentasi dana yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak adalah sebesar 8.664. Pembiayaan kesehatan berdasarkan fungsi pelayanan kesehatan berdasarkan pedoman DHA terdiri dari 12 fungsi.24% untuk sektor nonkesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebanyak 725662 jiwa maka jumlah per kapita per tahun menjadi Rp34. Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.96% yang besarnya fungsi perencanaan ini disebabkan salah satu kegiatan dalam fungsi ini adalah pelaksanaan program. Salah satu faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah adalah kemampuan menyajikan informasi alur pembiayaan kesehatan daerah termasuk informasi sumber-sumber dana yang ada sampai bagaimana penggunaan dana tersebut terhadap pencapaian program-program kesehatan. No. 22/ 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.45% atau sebesar Rp13. Total seluruh pembiayaan kesehatan yang bersumber pada APBD sebesar Rp47. Hasil wawancara mendalam diperoleh informasi tentang sektor-sektor yang menjadi prioritas.71% dari total APBD.99% dari total APBD Kabupaten Pontianak Tahun Anggaran 2006 dan jika hanya memperhitungkan pada sektor utama saja. yang sektor nonkesehatan adalah instansi di luar Dinas kesehatan dan RSUD yang melakukan kegiatan kesehatan. Jika melihat kewenangan wajib maka pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak bersumber APBD tahun anggaran 2006 telah dapat membiayai seluruh kewenangan wajib yang berjumlah 9. Fungsi yang mendapatkan porsi terbesar adalah fungsi perencanaan dengan alokasi 26.Rubini. Vol.00 yang terdiri dari jenis pelayanan KIA. yaitu dana yang berada di sektor kesehatan yakni Dinas Kesehatan dan RSUD dr. yaitu Dinas Kesehatan dan RSUD dr. Analisis Pembiayaan Kesehatan Kabupaten Pontianak Otonomi daerah yang diatur dalam UU No. proporsi terbesar dialokasikan untuk menyelenggarakan kewenangan wajib pelayanan kesehatan dasar yaitu sebesar 54. sehingga apa saja program yang dilaksanakan akan dimasukkan ke dalam fungsi perencanaan sesuai pedoman penyusunan DHA.542. 09. pelayanan kesehatan kerja dan pelayanan kesehatan usia lanjut. Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 merupakan salah satu implikasi desentralisasi yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk memenuhi kewajiban seperti yang tercantum dalam UU No. 32/2004 dan UU No. 7. 32/2004 Pasal 22.313.75% (Dinas Kesehatan 69.18%) dari total pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006. dan dari hasil penelitian diketahui bahwa semua fungsi teralokasikan pembiayaannya. infrastruktur dan kesehatan. Pembiayaan kesehatan daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2006 dibagi menjadi dua kelompok. 25/ 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang kemudian digantikan dengan UU No.

01% yang semuanya adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).250. Kegiatan GCU yang dilakukan di RSUD milik pemda pada sisi lain juga menguntungkan bagi pihak RSUD karena biaya GCU dijadikan PAD kesehatan. Kegiatan GCU ini tidak dapat dikatakan sebagai indikator kinerja bahwa kinerja PEMDA tidak baik dengan mengalokasikan dana untuk GCU. namun hasil yang diinginkan dari kegiatan ini adalah memberikan peningkatan kinerja aparatur dalam melayani publik atau masyarakat demikian alasan yang disampaikan salah satu informan pada wawancara mendalam. sehingga jika dibandingkan dengan standar WHO sebesar Rp51. sehingga masih terjadi kesenjangan yang lebar.00 per kapita per tahun maka pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak belum memenuhi standar. SKB. Apabila dihitung berdasarkan belanja publik menjadi Rp34.00 per kapita per tahun.076. externalitasnya rendah.00 per kapita per tahun. Hasil olahan data sekunder juga menunjukkan bahwa daerah belum menempatkan alur pembiayaan kesehatan pada belanja publik.78% sedangkan belanja aparatur 47.57% dan terkecil berada di unit kerja UPT LLK-UKM.Tisa Harmana. 3 September 2006 . Rubini.00 per kapita per tahun. Hal ini bisa dilihat dari proporsi belanja publik dan aparatur yang tidak berbeda jauh atau bisa dikatakan hampir berimbang yaitu: belanja publik sebesar 52. sehingga lebih mengarah kepada public oriented. Gani 14 mengatakan pelayanan kesehatan yang memiliki externalitas tinggi berupa public goods serta merupakan paket pelayanan esensial wajib dibiayai oleh pembiayaan pemerintah. sehingga dana dari sumber-sumber lain seperti APBN dan dekon belum diakumulasi dan diperhitungkan.22% dari total pembiayaan kesehatan daerah. namun kegiatan GCU yang dilaksanakan oleh semua instansi yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pontianak merupakan kegiatan yang tidak semestinya dibiayai pemerintah karena bukan merupakan public goods. Jika digunakan standar 15% APBD maka pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak juga belum memenuhi standar karena baru mencapai nilai 8.10. yang alokasi terbesar dari total pembiayaan kesehatan daerah berada di Dinas Kesehatan sebagai sektor utama sebesar Rp33. Kegiatan kesehatan yang dilakukan berupa perawatan dan pengobatan lokal. serta GCU ini merupakan kegiatan bagi aparatur pemerintah bukan pelayanan publik. dkk.000.441.60. sehingga pemilihan kegiatan sebaiknya difokuskan pada pelayanan esensial. kegiatan GCU yang dilakukan merupakan pemborosan sumber daya. namun dana GCU tersebut disalurkan melalui satuan kerja masing-masing (lihat Tabel 2).Rubini sebagai sektor utama kesehatan maka pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak adalah sebesar Rp56. Hal ini perlu menjadi perhatian para praktisi kesehatan di lapangan.00 atau 69. No.516. Ini erat kaitannya dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD. UPPD Sungai Raya dan Pelabuhan Rasau Jaya Rp3. Sebenarnya hal ini perlu digarisbawahi karena dampak ke depan adalah menciptakan aparatur atau SDM yang sehat baik secara fisik maupun mental spiritual. Berdasarkan hasil penelitian tentang pembiayaan kesehatan di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2006 diketahui bahwa ternyata pengalokasian anggaran kesehatan menyebar keseluruh satuan kerja yang ada di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak.00 atau 0. 09.184. akan tetapi pada kasus ini terjadi disalokasi sumber daya. Kepmendagri No. alasan lain nilai per kapita Kabupaten Pontianak masih rendah bisa terjadi karena pada penelitian ini hanya mengambil sumber dari APBD saja.22. 29/2002 menjelaskan proporsi yang ideal adalah belanja publik 70% sedangkan belanja aparatur 30%. Jika kita merujuk kepada keterbatasan sumber daya dalam hal ini dana APBD. Nilai ini adalah perhitungan secara total dari pembiayaan kesehatan daerah baik dari sektor kesehatan maupun sektor nonkesehatan. perlu adanya “improve” baru agar dapat mendongkrak jumlah alokasi anggaran. Hal ini terjadi karena setiap satuan kerja melakukan kegiatan kesehatan yaitu perawatan dan pengobatan lokal serta pemeriksaan kesehatan atau General Check Up (GCU) di RSUD dr. Jika hanya diperhitungkan dari sektor kesehatan saja yaitu dari Dinas Kesehatan dan RSUD dr.000.579.000.99% dari total APBD tahun anggaran 2006. merupakan usaha kesehatan perorangan dan bukan paket kegiatan esensial yang harus dibiayai. General Check Up (GCU) ini dilakukan untuk pejabat eselon. Permasalahan ini juga masih perlu dicermati oleh para pengambil kebijakan sebagai bahan pertimbangan dalam membelanjakan sumber daya.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah tahun 2005 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pontianak sebesar Rp65. 144 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. dimulai dari pejabat eselon IV (setingkat kepala seksi) sampai dengan pejabat eselon II (setingkat kepala dinas sampai Sekda) dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Pontianak. sehingga diharapkan dapat terciptanya good governance .

KEPUSTAKAAN 1. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. 5. Mardiasmo. 15. T. Yogyakarta. Analisis Keputusan Menteri Keuangan No.505/KMK. A.I. District Health Account (DHA) bersumber Pemerintah. No. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kemampuan advokasi. 2002. 2005. 11. informasi alur pembiayaan kesehatan. Penelitian lanjutan dengan desain dan metode berbeda terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah sangat diperlukan untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut juga bisa mempengaruhi pembiayaan kesehatan di tempat yang berbeda. Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Andi Offset. 2003. 2002. Tesis. Gani.02/2004 Sebagai Model Penetapan Dana Alokasi Khusus Non Dana Reboisasi Tahun Anggaran 2005 Bidang Kesehatan. agar dapat dijadikan pedoman dan bahan advokasi kepada para pengambil kebijakan di daerah. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. 2003. P. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang. Soewondo. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 8. Analisis Pembiayaan Kesehatan Bersumber Pemerintah di Kota Depok. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Studi Pembiayaan Kesehatan di Yogyakarta dan Lampung. 2003. Lestari. PAD. Kalimantan Barat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Faktor komitmen daerah. DHA Kabupaten Ketapang. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Analisis Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dalam Pelaksanaan Desentralisasi Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Sukabumi. Dharmawan. Indonesia. Reformasi Pendanaan Kesehatan. Depkes RI. Departemen Kesehatan RI Konseptual Framework Provincial Health Account (PHA). Vol. 1998. 2003. A. Pemerintah Kabupaten Pontianak diharapkan tetap konsisten dalam memegang komitmennya terhadap sektor kesehatan yang merupakan salah satu prioritas pembangunan melalui peningkatan jumlah alokasi anggaran walaupun secara bertahap sehingga dapat mencapai 15% dari total APBD sesuai kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia. Raja Grafindo Persada. Tesis. Depok. Tesis. 2003. namun demikian belum dapat dikatakan kinerja sektor kesehatan itu belum baik karena mengingat sumber daya yang terbatas dalam hal ini alokasi anggaran. 7. Thabrany. Yogyakarta. 4. Proposal HWS Kabupaten Pontianak 2006. Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak per kapita per tahun jika dilihat dari belanja publik yang bersumber pada APBD tahun 2006 belum mencapai nilai standar yang ditetapkan oleh WHO. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. lain-lain pendapatan sah merupakan faktor-faktor yang memberikan kontribusi dalam pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak. 13. Depok. Analisis Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Pemerintah di Kabupaten Tangerang. Indonesia. prioritas masalah kesehatann dan pemilihan intervensi program.W. 3. Volini. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 2004. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. 6. Indonesia. Gani. Sariasih. Universitas Indonesia. Ketapang Kalimantan Barat. 3 September 2006 l 145 . Saran Hendaknya melakukan pelatihan tentang DHA bagi pihak instansi pengusul baik Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak dan RSUD dr. 12. Dunn. 2004. Gadjah Mada University Press. 10. Jakarta. Irwansyah. Tesis. Konsep dan Klarifikasi Biaya. A. Universitas Indonesia. N. Indonesia. 2005. Mempawah. 14. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Analisis Biaya Program Kesehatan Masyarakat dalam Kebijakan Desentralisasi. Biro Keuangan Departemen Kesehatan RI. Universitas Indonesia. 9. Analisis Pembiayaan Kesehatan Bersumber Pemerintah di Kabupaten Lampung Selatan. A. 2001. Tesis. W. H. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Depok.2003. 16. Indonesia. Universitas Indonesia. alokasi mata anggaran. Gani. Depok. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2. N. edisi kedua.N. Fakultas Kesehatan Masyarakat. kemampuan perencanaan. 2000. 2005.Rubini agar dapat membuat informasi alur pembiayaan dengan menggunakan format dan pedoman DHA beserta analisisnya setiap tahun secara berkesinambungan. 09. Jakarta.

melalui 3 tahapan: analisis univariat. Perlu dikembangkan intervensi manajemen yang komprehensif untuk mendistribusikan dokter spesialis ke RSUD diseluruh kabupaten Indonesia. 6 specialist doctors per 100.09 higher than area with lower density population. e) area with lower infant mortality rate (IMR) has specialist doctor’s ratio 3.000 number of population. Sumber data penelitian ini adalah data sekunder. 2.0. c) mahal dan lamanya waktu pendidikan dokter spesialis. banyak rumah sakit swasta maupun pemerintah di tingkat kotamadia dan kabupaten di Indonesia yang masih membutuhkan tenaga dokter spesialis. dan e) singkatnya program masa bakti dokter spesialis untuk daerah tertentu. Hanya 11. distribution.10 kali lebih tinggi daripada daerah dengan jumlah kematian bayi lebih besar. Additionally data about socio-economic of city/district are taken from District and Municipality Profile 2004 published by Kompas.000 penduduk pada daerah kota 8. analisis bivariat dan analisis multivariat. Indonesia ABSTRACT Background: Many factors cause the scarcity of specialist doctors in Indonesia. seperti Aceh 146 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Only 11.09 kali lebih tinggi daripada daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar. Analysis was done using Program Stata 7. Vol. 03 September l 2006 Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Halaman 146 . Result: From quantitative analysis we find that: a) there are maldistribution of specialist doctors between city and district. 3) The comprehensive management intervertion to distribute specialist doctor to all district general hospitals in Indonesia must be developed by the central government.I.62 times than area with lower PDRB per capita. Kesimpulan: 1. jumlah kematian bayi rendah. The Purpose of this research is to answer: “What are factors that determine the specialist doctor’s distribution in City and District Indonesia?” Methodology: The design of this research is a survey on secondary data.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. b) rerata dokter spesialis per 100. antara lain: a) terbatasnya lembaga pendidikan yang mampu menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis.0 version through 3 steps: univariate analysis.000 penduduk). Determinan distribusi dokter spesialis di kota/ kabupaten dan signifikan adalah: PDRB per kapita tinggi.6% from total city/district has minimal ratio.155 Artikel Penelitian DETERMINAN DISTRIBUSI DOKTER SPESIALIS DI KOTA/KABUPATEN INDONESIA DETERMINANT FACTORS OF DOCTOR’S DISTRIBUTION IN CITY/DISTRICT INDONESIA Yaslis Ilyas Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. Analisis dilakukan dengan Program Stata versi 7.6% kota yang mempunyai rasio DSP yang cukup (6 DSP/100. 3 September 2006 . Data were collected from Central of Statistic Bureau and Personnel Bureau of Ministry of Health R. Kata Kunci: dokter spesialis. Universitas Indonesia. PENGANTAR Rasio jumlah tenaga dokter spesialis terhadap penduduk di Indonesia jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rasio di negara-negara maju maupun di negara-negara ASEAN lainnya.I. Oleh karena itu. Rumah Sakit Umum Daerah Keywords: specialist doctor.4 meanwhile in district 0. Conclusion: 1) Determinant factor of specialist doctor’s distribution in city/district are high PDRB per capita. Rerata dokter spesialis daerah kota lebih besar 10 kali lipat dari daerah kabupaten. 2) Specialist doctors tend to work in city area. Kabupaten dan Kota tahun 2004. 09.8 per 100. and high density population.10 higher than area with high IMR area. d) daerah dengan jumlah kematian bayi lebih kecil mempunyai rasio dokter spesialis 3. Hasil: Dari analisis data kuantitatif ditemukan: a) distribusi dokter spesialis tidak merata pada kabupaten dan kota. d) area with higher density population has specialist doctor’s ratio 21. c) daerah dengan PDRB per kapita lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 10.000 number of population. b) terbatasnya jumlah mahasiswa yang dapat diterima oleh lembaga pendidikan yang ada. Selain itu. Departemen Kesehatan R. d) daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 21. bivariate analysis and multivariate analysis. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kelangkaan dokter spesialis di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali determinan distribusi Dokter Spesialis di RSUD kabupaten/kota di Indonesia. c) Area with higher PDRB per capita has ratio 10. Rendahnya rasio tersebut disebabkan oleh rendahnya jumlah lulusan dokter spesialis (DSP) setiap tahunnya. Unit analisis penelitian adalah kabupaten/kota.62 kali lebih tinggi daripada daerah dengan dengan PDRB per kapita lebih kecil. 3. Data diambil dari Badan Pusat Statistik dan Biro Personalia.000 number of population in city is 8. District General Hospital ABSTRAK Latar Belakang: Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kelangkaan dokter spesialis di Indonesia. data tentang sosio-ekonomi kota/ kabupaten diambil dari Buku terbitan Kompas berjudul Profil Daerah.4 sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0. distribusi. lower infant mortality rate. Metodologi: Rancangan penelitian ini adalah studi penampang. No. Dokter spesialis lebih memilih untuk berkeja dan tinggal daerah perkotaan. dan kepadatan penduduk tinggi. b) the average number of specialist doctors per 100.8.

DKI Jakarta. Lulusan dokter spesialis yang mendapat beasiswa dari pemerintah tetap tidak mau bekerja kembali di kabupaten tempat mereka bekerja sebelumnya. yang berisi ketentuan tentang Pendayagunaan Dokter dan Dokter Gigi Spesialis. interaksi.1 Pengumpulan data dilakukan dengan menentukan variabel yang diperlukan dalam penelitian ini. belum pernah ada publikasi penelitian yang mendalam tentang distribusi dokter spesialis di Indonesia.25. 3 September 2006 l 147 . e. Distribusi dokter spesialis begitu penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit di kabupaten/kota di seluruh Indonesia. melalui tiga tahapan. Setelah itu. Odds Rasio (OR) dan uji t-test. variabel disebut bermakna bila p<0. Hal ini berakibat terhadap laju pertambahan lulusan dokter spesialis yang tidak sesuai dengan kebutuhan tenaga dokter spesialis di masyarakat. Banyak lulusan dokter spesialis yang mengingkari janji untuk bekerja di rumah sakit kabupaten sesuai dengan Permenkes No. analisis multivariat: melakukan modelling dengan regresi logistik. Terbatasnya jumlah dokter spesialis ini.04 dan Program Excell for Windows. analisis univariat dengan mendeskripsikan : nilai rerata.1. Jika tidak memenuhi kedua syarat tersebut digunakan t-test unequal varian. Depkes RI. Unit analisis penelitian adalah kabupaten/ kota. Kalimantan Timur.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tiga bulan ekuivalen untuk satu tahun dan daerah crash program seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) enam bulan equivalen untuk satu tahun. Data diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Biro Personalia. No. Kabupaten dan Kota Tahun 2004. tetapi meninggalkan tugas setelah bekerja tidak lebih dari tiga bulan. serta membuat distribusi frekuensi. c. Artikel penelitian ini bertujuan untuk menjawab: “Apakah faktor-faktor yang menentukan distribusi dokter spesialis di kota maupun kabupaten di Indonesia?” BAHAN DAN CARA PENELITIAN Rancangan penelitian ini adalah studi penampang. Sumber data penelitian ini adalah data sekunder. Sepengetahuan penulis. data tentang sosio ekonomi kota/kabupaten diambil dari buku terbitan Kompas berjudul Profil Daerah. baik berupa publikasi resmi ataupun data yang diambil dari sistem pencatatan melalui print out di komputer. Bangka Belitung. Cut off pada data kontinum dianalisis dengan ROC untuk mencari cut off yang mempunyai sensitifitas dan spesifisitas maksimum. sementara pada data kabupaten/kota bila p<0. b. maka digunakan t-test equal varian. Terakhir. baik yang berstatus PNS dengan beasiswa maupun dokter spesialis dengan biaya mandiri. Uji t-test yang digunakan tergantung uji normalitas dan uji varian . serta confounding.05. Hasilnya adalah model regresi logistik. Rendahnya tingkat sosio ekonomi kabupaten merupakan faktor penting yang membuat enggannya atau ditolaknya program penempatan dokter spesialis. Sejumlah masalah mengenai penempatan dokter spesialis dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) telah diobservasi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI)2 antara lain: a. Jika uji varian menunjukkan tidak ada perbedaan varian dan data terdistribusi normal. Pada data provinsi. Data di entri dengan Program Epi Info versi 5. Analisis dilakukan dengan Program Stata versi 7. 09. bersedia membayar pinalti untuk mengembalikan dana sebesar 10 sampai dengan 20 kali beasiswa sesuai dengan Permenkes No. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. yang mendapatkan beasiswa. diperberat dengan tidak ditaatinya program masa bakti selama dua tahun oleh dokter spesialis untuk bekerja di rumah sakit pemerintah di seluruh kotamadia dan kabupaten di Indonesia. Selain itu. Kedua. Modelling dilakukan dengan membuat dua kategori pada variabel independen. Vol. data dan informasi tentang distribusi dokter spesialis sangatlah terbatas. nilai minimal dan maksimal. dilakukan saringan untuk mencari variabel kandidat dengan menggunakan batas p<0. 1207. BPS. P value pada perhitungan OR menggunakan P Wald. A/Menkes/SK/VIII/2000. serta sumber lainnya. d. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Variabel Penelitian Total populasi data kabupaten/kota yaitu 369 pada tahun 2002. Beberapa lulusan dokter spesialis. Pertama. Status ini berakibat terhadap mobilitas dokter spesialis setelah menyelesaikan masa bakti. Setelah daftar variabel dibuat kemudian data sekunder dicari dari sumber data di Depkes RI. Gorontalo. Jumlah kabupaten/ kota yang tidak dianalisis adalah kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Sayangnya. walaupun mau ditempatkan di rumah sakit kabupaten. Sejumlah dokter spesialis berstatus PNS.1210/Menkes/SK/X/1999. analisis bivariat: mencari koefisien korelasi. standar deviasi. Jumlah record kota/kabupaten yang dapat dianalisis yaitu 291.0. dan diuji multikolinearitas. Lulusan dokter spesialis menolak untuk ditempatkan di kabupaten karena status PNS akan berubah menjadi pegawai daerah.

No. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2002 Tahun Jenis tenaga medis Rasio Dokter spesialis * Jumlah Dokter spesialis ** Rerata Minimal Maksimal N† 2002 2.000 penduduk.3 per 100.000 penduduk. Dari hasil analisis data. kebidanan. 3 September 2006 . Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang disampaikan Karnadihardja dan Lukman3 bahwa dokter spesialis bertumpuk di kotakota besar di pulau Jawa. Jumlah dokter spesialis baru ada 9.3 291 2002 7. Informasi yang juga menarik Tabel 1. † Kota Batu di Jatim. bahwa pada tahun 2002 rerata rasio dokter spesialis per kabupaten/kota adalah 2. Tampak.1 per 100. Kabupaten yang diekslusi ini karena tidak tersedianya data jumlah dokter spesialis. Hal yang sama juga terjadi di Bangladesh 35% dokter. walaupun mempunyai kebijakan perencanaan dan distribusi tenaga kesehatan sentralisasi di tingkat nasional. dengan jumlah dokter spesialis maksimal 29. sedangkan di daerah luar Jawa masih sangat sedikit. Bila kita lihat dari jumlah dokter spesialis per kabupaten/kota jumlahnya juga sangat timpang yang reratanya 7. Sebagian besar dokter spesialis bekerja di Jakarta sebanyak 2. anestesi dan radiologi.0 205 292 Keterangan: * dihitung per 100.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Maluku. dengan rincian sebagai berikut: dokter spesialis anak.5 Pada analisis data penelitian ini digunakan cut of point rasio dokter spesialis adalah 6 per 100. bedah.8 orang. Sebagai contoh: di Nicaragua 50% profesional bekerja di ibukota negara Managua yang jumlah penduduknya hanya 15% dari total populasi. tidak ada jumlah penduduknya sehingga rasio DSP-nya missing. distribusi dokter spesialis masih sangat tidak merata dan jumlahnya juga tidak memadai. Kecenderungan berkumpulnya profesional kesehatan di kota-kota besar merupakan masalah utama yang banyak dihadapi oleh negara-negara berkembang. satu kota di Jawa Timur yaitu Batu data jumlah penduduk tidak tersedia sehingga tidak dapat menghitung rasio DSP. dan Papua. dengan jumlah maksimal 205 dokter spesialis.000 Penduduk. Secara umum.8 0. informasi mengenai distribusi dokter spesialis terlihat pada Tabel 2.441 orang yang merupakan 27% dari jumlah spesialis yang ada di Indonesia. tidak ada jumlah penduduknya sehingga rasio DSP-nya missing. 09. Selain itu. 148 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. penyakit dalam. Jumlah Kota/Kabupaten dan Sampel Penelitian Tiap Provinsi di Indonesia Tahun 2002 Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur (Jatim) Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Total Populasi Kota/ kabupaten 20 20 15 16 10 10 4 10 3 5 24 35 5 38 6 9 8 15 10 14 11 12 5 9 24 6 3 5 3 14 369 Sampel Kota/ kabupaten 15 19 15 16 10 0 4 10 0 0 24 35 5 37 * 6 9 7 14 10 6 11 0 5 7 18 5 0 0 3 0 292 * Kota Batu di Jatim.000 tetapi ada juga kabupaten yang sama sekali tidak mempunyai dokter spesialis. Tabel 1 menyampaikan jumlah populasi dan sampel penelitian pada setiap provinsi di Indonesia.0 29. Vol. 4 Masalah kesenjangan distribusi profesional kesehatan juga menjadi masalah utama negara berkembang lainnya seperti: India. ** Sumber: Profil Kesehatan Provinsi.1 0. 30% perawat bekerja di empat kota besar dengan jumlah penduduk <15% dari total populasi.205 dokter spesialis di seluruh Indonesia dan sebagian besar rumah sakit swasta sangat kekurangan dokter spesialis yang bekerja purna waktu.000 penduduk. Tabel 2. Rasio Dokter Spesialis Per 100. Pakistan dan Nepal.

dan lapangan kerja yang lebih atraktif. % penduduk miskin. pendidikan. Temuan ini memberikan 35 30 P lo t A r e a 25 20 15 10 5 0 PE SA BA BA NG N AT D A AN AC EH G SI AN TA R M ED AN SI BO LG A TE BI NJ BI PA AI DA NG N G T IN PA G G I NJ AN SO G BU L KI OK TT IN G P G I PA A D AN Y G TA A K N J UM BU UN H G PI NA NG DU M BE AI NG KU LU M ET SU R O KA BU M I C IM AH CI RE I M AG BO N E S E LA N M G AR SA AN LA G PR T O B O IG A LI N G PA SU G O RU AN M AD IU M AL N AN G KE D E N D IR PA I SA M R AT A PO RA PA NT M LA IA N G K A NA K BA RA N YA JA R BA N J BA R AR U M AS IN M Gambar 1. % melek huruf.000).7.6. dan under-utilisasi dari tenaga yang ada. Tabel 3. Jumlah Kabupaten/Kota dan Persentasenya Dengan Rasio Dokter Spesialis Sebanyak 6 Dokter Spesialis per 100. Gambar 1 memperlihatkan nama kota-kota dengan rasio dokter spesialis dengan jumlah penduduk yang sudah cukup (=6 dokter spesialis/100. life expectancy dan jumlah kematian ibu bersalin berhubungan dengan * Sumber: Profil Daerah Kabupaten & Kota Jilid 1-4. Nama Kota Dengan Rasio Dokter Spesialis ³ 6 per 100.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan adalah rendahnya kabupaten/kota yang mempunyai rasio dokter spesialis minimal 6 per 100. 3 September 2006 l 149 .8 Selanjutnya. Vol. penutupan sebagian fasilitas rawat inap.6 100.0 pemahaman kepada kita bahwa kecukupan dokter spesialis hanya terdapat pada daerah perkotaan di Indonesia. % angka beban.000. diketahui bahwa hanya 11. tetapi ada kota yang dokter spesialisnya berlebihan. Kompas.9 Hal ini tentunya berakibat buruk terhadap kinerja sistem kesehatan nasional. t-test Pada analisis bivariat tampak pada p<0.000 penduduk. sejumlah variabel bebas yaitu: faktor Human Developmen Index. termasuk rendahnya kualitas dan produktivitas pelayanan kesehatan. 09. Ada sejumlah kabupaten yang sama sekali tidak mempunyai dokter spesialis. kepadatan penduduk. Dari data ini juga diketahui betapa timpangnya distribusi dokter spesialis.05.000 Penduduk Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.6% dari jumlah kabupaten/kota yang mempunyai rasio minimal 6 dokter spesialis per 100. 20041. meningkatnya waktu tunggu.4 11. Dari data yang ada.000 Penduduk Tahun 2002 Klasifikasi < 6 dokter spesialis > 6 dokter spesialis Total N 258 33 292 % 88. fasilitas untuk keluarga.9 Hubungan Variabel Bebas dengan Distribusi Dokter Spesialis 1. Kota besar lebih memberikan peluang kepada profesional kesehatan untuk berkembang. No. Dari 33 sampel penelitian dengan dokter spesialis cukup diketahui berstatus kotamadia atau kota besar. Temuan ini juga telah diketahui secara luas bahwa profesional kesehatan lebih cenderung tinggal dan bekerja di kota-kota besar. berkurangnya jumlah tempat tidur rumah sakit. jumlah kematian balita.

Kondisi Tabel 6.000 Penduduk di Kabupaten dan Kota Jenis wilayah Kabupaten Kota Rerata rasio DSP 0.1 0. Ras kulit non white umumnya tinggal di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan. ** p<0.3 14.1 18.4. tampaknya sesuai dengan yang dialami oleh negara lain baik negara sedang berkembang maupun negara maju.2 63.0 34.000 penduduk pada daerah perkotaan 8.107 0.4. Uji T-Test Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi DSP.000.7).600.3 9.5 66. faktor yang berhubungan dengan distribusi jumlah dokter spesialis bertambah banyak dengan PDRB per kapita.3 11.000 0.8 8. 150 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.147 0.0 P Human Development Index % melek huruf % penduduk miskin Jumlah kematian balita Kepadatan penduduk % angka beban Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin PDRB per kapita Jumlah kematian bayi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Ket: * p<0.367.3 96. Daerah yang kekurangan tenaga juga mempunyai status kesehatan yang jelek.05 . Faktor Karakteristik Wilayah Kalau dianalisis distribusi dokter spesialis berdasarkan variabel independen kota dan kabupaten.000 penduduk di daerah kotamadia lebih besar 10 kali lipat dari jumlah rerata dokter spesialis di daerah kabupaten.0 18. 2.000) N=258 65.4 20.8 10. Kemudian dilakukan analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa variabel HDI lebih bermakna dibanding life expectancy. rerata dokter spesialis per 100.5 3832. ditemukan bahwa kota/ kabupaten dengan distribusi dokter spesialis cukup mempunyai nilai rerata variabel bebas yang lebih baik dari pada kabupaten/kota dengan distribusi dokter spesialis yang kurang. bahkan amat jelek.000.5 881. Tampaknya.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Tabel 5.000 0.017 0. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota. Tampak. Vol.011 0. terlihat ada multikolinearitas antara variabel HDI dengan life expectancy (r=0.1. Tahun 2002 (Variabel Kontinyu) Variabel independen DSP cukup (° 6 per 100. 3.000. sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0.9 Model Regresi Logistik Distribusi Dokter Spesialis Sebelum dilakukan analisis model regresi logistik. jumlah rerata dokter spesialis per 100.000.000 0. 09. Distribusi Rerata Dokter Spesialis per 100. Daerah ini mempunyai prevalen bayi berat badan lahir rendah yang tinggi dan angka kesakitan penyakit kronis yang tinggi.620 * * * * * * * * ** distribusi dokter spesialis (Tabel 5).000) N=33 71.5 4. Artinya.0 DSP kurang (<6 per 100.6 52.4 17.000 0.400.017 0. 3 September 2006 . maka didapatkan distribusi dokter spesialis masih menumpuk di perkotaan (Tabel 6). Dari analisis ini. No.8.3 89. COGME Teenth Report10 menyebutkan ciri-ciri daerah yang mempunyai kekurangan tenaga kesehatan.4 P 0.3 68.5. dilakukan uji koleniaritas memeriksa kemungkinan adanya multikolinieritas antara variabel bebas.000 maldistribusi dokter spesialis di Indonesia. Ciri lainnya adalah daerah miskin.360. Tabel 6 memperlihatkan hasil analisis bivariat Odds Ratio (OR) antara sejumlah variabel bebas dengan distribusi dokter spesialis.0 6.7 4. Dari hasil uji (lihat lampiran 2). karaktersitik daerah yang lebih maju (perkotaan) mempunyai dokter spesialis yang jauh lebih besar dari daerah yang kurang maju dalam dalam hal ini kabupaten. Pada p<0.000 0.

Faktor yang berpengaruh sangat besar terhadap distribusi dokter spesialis adalah kepadatan penduduk karena OR-nya lebih besar.9%) Rendah (< 95.06 Rujukan 3.12%) Banyak (>24.000 * 286 Selanjutnya. daerah dengan jumlah kematian bayi lebih kecil mempunyai rasio dokter spesialis 3.014 * 290 0.9 jiwa/km2) Jumlah kematian bayi Rendah (<9 orang) Tinggi (°9 orang) 0. Hasil analisis ini memberikan informasi bahwa determinan distribusi dokter spesialis yang cukup di kota/kabupaten dan signifikan adalah: 1) PDRB per kapita tinggi.044 rupiah) Rendah (<3. Odds Rasio Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi DSP.65) Persentase angka beban Rendah (< 63 %) Tinggi (> 63 %) Persentase melek huruf Tinggi (>95. No.05 9) 0. Terakhir.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 7. Hal ini sejalan dengan pendapat Egger.067 ** 194 0. 2) jumlah kematian bayi rendah.044 rupiah) Kepadatan penduduk Tinggi (>993.9 tahun) 11) Jumlah kematian ibu bersalin Rendah (<7 orang) Tinggi (°7 orang) Keterangan: * p< 0.78 Rujukan 3.000 * OR 32.265 240 0. 3 September 2006 l 151 .56 Rujukan 284 2) 3) 4) 5) 6) 7) Human Development Index Tinggi (>68. dkk11: faktor penentu distribusi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.9 %) Persentase penduduk miskin Sedikit (<24. sedangkan faktor yang paling kecil pengaruhnya terhadap distribusi dokter spesialis adalah angka kematian bayi. dilakukan analisis logistik regresi.672 ribu rupiah) PDRB per kapita Tinggi (> 3. kepadatan penduduk tinggi dan jumlah kematian bayi yang rendah.000 * 284 0. dan 3) kepadatan penduduk tinggi.51 Rujukan 1.08 Rujukan 5. Vol.674.000 * 291 8) 0.228. Dari Tabel 7 juga dapat diartikan bahwa daerah dengan PDRB per kapita lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 10.22 Rujukan 12. Dari hasil analisis ini dapat diketahui secara jelas bahwa determinan distribusi dokter spesialis adalah karakteristik daerah perkotaan.62 kali lebih tinggi daripada daerah dengan PDRB per kapita lebih kecil. Daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 21.672 ribu rupiah) Tinggi ( > 9.12%) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rendah (<9.10 kali lebih tinggi daripada daerah dengan jumlah kematian bayi lebih besar.228. 09.276 290 0. Tahun 2002 Variabel 1) P 0. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota.96 Rujukan 21. Dokter spesialis cenderung memilih bekerja di daerah perkotaan dengan prospek pendapatan yang lebih baik dan fasilitas sosial yang lebih baik.65) Rendah (<68.09 kali lebih tinggi daripada daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar.011 * 291 0.30 Rujukan 3.19 Rujukan 5. dengan menggunakan metode forward selection didapatkan model akhir seperti terlihat pada Tabel 7.45 Rujukan 1.9 tahun) Rendah (< 68.004 * 253 Jumlah kematian balita Rendah (< 11 orang) Tinggi (> 11 orang) 10) Life expectancy Tinggi (> 68.674.50 Rujukan 13.004 * 284 0.9 jiwa/km2) Rendah (<993. Dengan ciriciri sosial maupun ekonomi sebagai berikut: PDRB per kapita tinggi.

029 0.9 jiwa/km ) 2 2 OR 10.228. Kedua.62 3.34 57. Hanya 11. Sanksi jelas. Kebijakan ini lebih dapat menjamin terdistribusinya dokter spesialis lebih merata ke seluruh RSUD di Indonesia. No. bahkan tidak mempunyai dokter spesialis. Pertama. Untuk itu. Dengan kebijakan ini dapat diharapkan minat dan kesediaan dokter spesialis untuk ditempatkan didaerah. Izin praktik pada kota penempatan g. dapat dijamin pemerataan dokter spesialis diseluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). KESIMPULAN DAN SARAN Sebaran dokter spesialis tidak merata pada kabupaten dan kota. anak. Di samping itu. insentif dan tunjangan serta kualitas manajemen tenaga kesehatan oleh lembaga yang mempunyai otoritas.4 sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0. 10 Dengan demikian.19 2. Pemerintah cq Depkes RI perlu mengembangkan kebijakan dasar yang berkaitan dengan penempatan dokter spesialis. Besaran insentif finasial yang atraktif dan fasilitas kerja yang cukup d.228.16 7. Analisis Tingkat Kabupaten Tahun 2002 Variabel PDRB per kapita Jumlah kematian bayi Kepadatan penduduk Konstanta model * ROC model 89. Dengan demikian. Sisanya masih banyak kabupaten yang kekurangan. Vol. 3 September 2006 . Dokter spesialis cenderung hanya ingin bekerja di kota-kota besar. Tabel 8. Terakhir.8.09 95% CI OR 1.30 dan n = 253 Kategori Tinggi (> 3. Dinkes Provinsi dan Dinkes kabupaten/kotamadia b.000 penduduk pada daerah kota 8.10 21. 09.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia profesional kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor dan kompleks antara lain: gaji atau imbalan. Komponen kebijakan yang harus diperhatikan pada peraturan ini antara lain: a.21 8. minimal empat spesialis dasar yaitu : dokter spesialis bedah. c. Kategori atau klasifikasi daerah kaya.000 -6. Peraturan ini hendaknya secara jelas dan tegas memuat ketentuan-ketentuan atau komponen yang berkaitan dengan distribusi dokter spesialis setelah menyelesaikan pendidikannya. sedang dan miskin dengan menggunakan indikator PDRB per kapita.206 152 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. adanya kejelasan wewenang dan hirarkhi antara lembaga yaitu: Depkes RI. kebidanan dan penyakit dalam.14 P>|z| 0.205 1.044 rupiah) Rendah (<9 orang) Tinggi (°9 orang) Tinggi (>993.079 0. Depkes RI. dibutuhkan suatu peraturan setingkat Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden tentang penempatan dokter spesialis.504 0. Lama wajib kerja dokter spesialis e. Peraturan ini sebaiknya memberikan insentif kepada dokter spesialis untuk bersedia ditempatkan pada RSUD kabupaten. untuk dapat menjalankan wewenang distribusi dokter spesialis perlu basis legal yang kuat. Untuk dapat mendistribusikan dokter spesialis pada daerah yang kurang mapan biasanya kabupaten kepulauan.25 5.333 3.75 88.28 1. Hirarkhi otonomi manajemen dokter spesialis Depkes RI (Pusat).049 SE (B) 1.025 0. kebijakan dan wewenang penempatan dokter spesialis pada masa WKDS bersifat terpusat dikendalikan oleh Departemen Kesehatan. Rerata dokter spesialis per 100. untuk menjamin penempatan dokter spesialis di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia maka setiap dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikannya masih diperlukan adanya Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) sebagai kompensasi dari beasiswa pendidikan dokter spesialis.9 jiwa/km ) Rendah (<993. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu bekerja sama untuk memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis dengan perioritas putera asli daerah. Model Akhir Hasil Analisis Multivariat. tegas dan dilaksanakan terhadap dokter spesialis yang tidak memenuhi janjinya.000 penduduk).44 B 2.363 1. Dinkes Provinsi dan Dinkes kabupaten/kota dalam mengelola dokter spesialis.97 -5. Ketiga. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi Dokter Spesialis. pulau atau daratan perlu kebijakan insentif khusus.000 0.6% kota yang mempunyai rasio DSP yang cukup (6 DSP/100. disimpulkan bahwa selama ini dokter spesialis cenderung hanya bekerja pada daerah yang sudah mapan seperti perkotaan. Rerata dokter spesialis daerah kota lebih besar 10 kali lipat dari daerah kabupaten.511 z 2. Status kepegawaian PNS atau swasta f.044 rupiah) Rendah (<3.

Lukman. Nigenda. 9.” 2002 (http://www. PDRB per kapita tinggi. Karnadihardja.. fasilitas kerja. From State to Market: the Nicaraguan Labour Market for Health Personnel. 09. Jakarta. Penerbit Buku Kompas. 13(4): 345-58. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. 2000. “Rethinking Human Resources: an Agenda for Milenium... 2004. Machado. WHO) 10. D. 5.. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Martinau . Departemen Kesehatan RI. 6. Martinez. W. rumah dan mobil yang layak untuk dokter spesialis selama masa WKDS di RSUD kabupaten. COGME Teenth Report. H. 3. G.who. 3 September 2006 l 153 . Physician Distribution and Health Chalengges in Rural and Inner City Areas. Depkes RI.USA. 4. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Health Policy and Planning. O.. Lipson.int/healthservices-delivery/disc paper/right imbalancesbriefing.15(3):312-318.who. 2000 (http://www. Dal Poz. O : “Achieving the Right Balance: The Role of Policymaking in Managing Health Resources for Health Problem”.T. Penerbit Buku Kompas. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Egger. KEPUSTAKAAN 1. pemerintah perlu membuat Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden sebagai basis legal Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS). tunjangan kesehatan dan sosial. Stilwell.Jilid 2. Jilid 3. Antisipasi Terhadap Krisis Ketenagaan Dokter spesialis di Indonesia Menjelang Tahun 2003. Ketiga. Perlu dikembangkan intervensi manajemen yang komprehensif untuk mendistribusikan dokter spesialis ke RSUD di seluruh kabupaten Indonesia. Adams. M. 11. Kedua.pdf) Geneva. Departement of Health and Human Services. No. 8. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu bekerja sama untuk memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis dengan perioritas putera asli daerah. “Imbalances in the Health Workforce: Briefing Paper. Penerbit Buku Kompas. D. J. perlu pemberian insentif finansial. Jumlah kematian bayi rendah dan c. Jakarta 7. Penerbit Buku Kompas. Jilid 1. K.int/hrh/ documents/en/imbalances-briefing. Jakarta. Realisasi Penempatan Dokter Spesialis per Provinsi Januari-Desember 2004. P. Vol. 1998. Dokter spesialis lebih memilih untuk berkeja dan tinggal daerah perkotaan..” Health Policy and Planning. b. 2. Jakarta. WHO) (Issues in Health services Delivery Discussion Paper No:2). Pertama. Kepadatan penduduk tinggi. 1998.pdf) Geneva. Zurn.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Determinan distribusi dokter spesialis di kota/ kabupaten dan signifikan adalah: a. B. Adams. Jilid 4. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan..

000 penduduk di kabupaten/kota. kabupaten dan kota tahun 2002 Persentase angka melek huruf pada tabel IPM dan komponennnya menurut provinsi. kematian bayi. Definisi Operasional Variabel Analisis Kabupaten/Kota Nama variabel Kode provinsi Nama provinsi Nama kabupaten/kota Jenis wilayah Dependen variabel Jumlah Dokter spesialis tahun 2002 Variabel Kodeprop Namaprop Namakab Kab_kota Dsp2 Definisi Kode provinsi Nama provinsi Nama kabupaten/kota Jenis kabupaten/kota Jumlah dokter spesialis pada tahun 2002 pada tabel rasio tenaga medis terhadap penduduk menurut kabupaten/kota Dihitung dengan rumus: (Jumlah dokter spesialis tahun 2002 x 100. 3 September 2006 . dan garis kemiskinan menurut Provinsi. kematian bayi. Vol. Data sebelum tahun 2002. dihitung biaya estimasi untuk tahun 2002.000/ jumlah penduduk pada tahun 2002) Klasifikasi rasio dokter spesialis pada tahun 2002 berdasarkan cut off 6 dokter spesialis per 100. 09. kutipan data Pemda PDRB Kabupaten dan Kota di Indonesia. rasio beban tanggungan. tahun 20002003 Persentase penduduk miskin pada tabel jumlah dan persentase penduduk miskin. baik dengan cara present value atau future value. P2. P1. kabupaten dan kota tahun 2002 Persentase angka beban pada tabel jumlah penduduk menurut jenis kelamin. dan kematian balita menurut kabupaten/kota Jumlah balita yang mati pada tabel kelahiran bayi. kabupaten dan kota tahun 2002 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tabel IPM dan komponennya menurut provinsi.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Lampiran 1. No. dan kematian balita menurut kabupaten/kota Jumlah kematian maternal pada tabel jumlah kematian ibu maternal menurut kabupaten/kota Dihitung dengan rumus: jumlah penduduk tahun 2002/luas wilayah tahun 2002 Profil Daerah 20012003. Kabupaten dan Kota Tahun 2002 Harapan hidup pada tabel IPM dan komponennnya menurut provinsi. Kategori: < 6 kurang > 6 cukup Sumber data BPS BPS BPS BPS Profil kesehatan tiap provinsi Rasio Dokter spesialis tahun 2002 Rasdsp2 Klasifikasi rasio dokter spesialis tahun 2002 Sp6 Independen variabel Pendapatan asli daerah tahun 2002 Pad Pendapatan asli daerah. BPS. 2000-2003 Data Informasi Kemiskinan 2003 PDRB per kapita tahun 2002 Pdrbkapi Persentase penduduk miskin tahun 2003 Miskin3 Life expectancy. tahun 2002 Le2 Data Informasi Kemiskinan 2003 Data Informasi Kemiskinan 2003 Persentase melek huruf tahun 2002 Melek2 Human Development Index tahun 2002 Ipm2 Data Informasi Kemiskinan 2003 Persentase angka beban tahun 2002 Deprat Profil kesehatan tiap provinsi Jumlah kematian bayi tahun 2002 Imrj2 Profil kesehatan tiap provinsi Jumlah kematian balita tahun 2002 Jumlah kematian ibu hamil tahun 2002 Kepadatan penduduk tahun 2002 Akabaj2 Profil kesehatan tiap provinsi Profil kesehatan tiap provinsi Mmrj2 Densit2 154 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. menurut kabupaten/kota Jumlah bayi (umur 0-1 tahun) yang mati pada tabel kelahiran bayi. PDRB per kapita pada tabel PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menurut provinsi (rupiah). kelompok umur.

0 -0.1 0.1 -0.0 * r > 0.2 0.1 1.0 -0.2 0.5 0.1 1.2 0.1 1.5 -0.0 -0.1 0.0 1.3 1.0 0.6 berarti ada korelasi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.2 0.1 0.2 0.0 0.2 -0.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lampiran 2. Multikolinearitas Antara Variabel Sosial Ekonomi Dan Kesehatan.3 0. 09.1 -0.1 -0.0 -0. No.2 -0.2 0. Vol.1 0.0 0.0 0.0 -0.6 1.2 -0.3 1.2 -0.2 0.0 0.2 -0.0 -0.0 1. 3 September 2006 l 155 .7 0.2 0.2 0.0 0. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2002 Human Dev.0 -0.0 -0.2 -0.0 0.3 1.0 0.1 0.1 -0.0 0.0 -0.1 -0.2 -0.2 0.1 -0. Index Human Development Index Persentase angka beban Persentase melek huruf Persentase penduduk miskin Pendapatan Asli Daerah PDRB per kapita Kepadatan penduduk Jumlah kematian bayi Jumlah kematian balita Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin Persentase angka beban Persentase melek huruf Persentase penduduk miskin PendaKepapatan PDRB datan per kapita penduAsli Daerah duk Jumlah kematian bayi Jumlah kematian balita Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin 1.3 0.1 0.0 0.0 0.1 1.0 0.

2. while in Penang Island were valid for 1 year and need to be extent every 31st December in the same year. medical practitioner license were valid only for one place. No. Different with in Indonesia.00 PM.3 In North Sumatra Province. Peran Jabatan Kesihatan Pulau Pinang hanya sebatas pelaksanaan teknis yaitu melakukan pengawasan dan Keywords: regulation. bahwa dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta. serta masih lemahnya pelaksanaan regulasi pelayanan kesehatan. Research locations were Medan and Penang Island. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Background: Tendency of Indonesian citizen to obtan medical care to abroad. besides frequent malpractice and wrong diagnosis by health officer. situational analysis shows the lack of preparation of North Sumatera facing globalization era especially in health sector.3 Khusus di Provinsi Sumatera Utara.162 Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Artikel Penelitian REGULASI DOKTER SPESIALIS STUDI KOMPARASI REGULASI PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MEDAN INDONESIA DAN NEGERI PULAU PINANG MALAYSIA REGULATION DOCTOR SPECIALIST COMPARATION STUDY HEALTH CARE REGULATION IN MEDAN AND PENANG ISLAND Zulfendri Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.00 AM until 05. Vol. Government officers are “kingdom’s hand and feet” work in the hospital from 08. in Penang Island.1.2. besarnya biaya yang hilang. medical practice 156 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. the doctor whom works in government (kingdom) hospital cannot work in the private sector and also in the contrary. The punishment for violation of the law starting with warning until fine strictly implemented. In Medan.4 Method: A comparative study on doctor specialist’s service by investigation of regulation on medical practice focused on registration system and medical practice license. Di Kota Medan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa surat izin praktik kedokteran di Kota Medan berlaku untuk lima tahun. memberikan kesempatan kepada dokter spesialis yang terbatas jumlahnya untuk berpraktik lebih dari tiga tempat melalui nota tugas yang dikeluarkan oleh Dinkes Kota Medan yang berlaku per tiga bulan dan setelah itu dapat diperpanjang. hasil analisis situasi menunjukkan. according the consideration decided by Health Minister in Medical Act 50 year 19716 and Act 586 year 19987. Conclusion: It can be concluded that the implementation of medical practice regulation in Penang Island is better than Medan. begitu juga sebaliknya.00. license. Setiap mengajukan untuk memperoleh sertifikat praktik tahunan tersebut harus melampirkan hasil tes kompetensi sehingga diketahui perkembangan kompetensi tenaga dokter setiap tahunnya. medical practice license were given only for at most three places and.4 Metode: Penelitian komparasi regulasi pelayanan dokter spesialis melalui kajian terhadap peraturan perundangundangan tentang praktik kedokteran yang difokuskan pada sistem registrasi dan perizinan praktik kedokteran. masih kurangnya kesiapan Provinsi Sumatera Utara menghadapi era globalisasi terutama dalam bidang kesehatan. Permenkes 1419 year 20045 gave opportunity to some specialists to practice more than three places on duty note issued by Dinkes Medan which valid for three months and can be extended.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. registration. The health office only act as technical executor that is doing supervision and construction on private medical practice and in the government hospital. ABSTRAK Latar belakang: Meningkatnya kecenderungan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Singapura menunjukkan adanya masalah yang serius dalam mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. 3 September 2006 . But. Lokasi penelitian di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. Berbeda dengan di Indonesia.1.00 – 17. such as Malaysia and Singapore shows a serious problem in quality of health services in Indonesia. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. Namun berdasarkan Permenkes 1419 Tahun 20045. di Negeri Pulau Pinang. Result: Research results show that medical practice license at Medan were valid for five years. Data collecting method done by investigate act regulations about registration system and license of medical practice and interview with two chiefs of private hospital about doctor specialist management in hospital and a chief of Health District at each research location. 09. Hospital supervision done based on complaint from society can be processed immediately. Unit analisis adalah registrasi dan lisensi praktik kedokteran di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. 03 September l 2006 Halaman 156 . large costs loss and crisis of society about the quality of health service. sedangkan di Negeri Pulau Pinang perizinan praktik kedokteran hanya berlaku selama satu tahun saja dan harus diperpanjang setiap tanggal 31 Desember dalam tahun yang sama. surat izin praktik kedokteran hanya diberlakukan untuk paling banyak tiga tempat dan surat izin praktik hanya berlaku untuk satu praktik. Every application for annual practice certificate must be attached with competence test result to acknowledge the development of medical doctor in every year. dan adanya krisis ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di samping semakin seringnya muncul dugaan malpraktik dan salah diagnosis oleh petugas kesehatan. Metode pengumpulan data dilakukan pengkajian peraturan perundangundangan tentang sistem registrasi dan perizinan praktik kedokteran dan wawancara terhadap dua orang pimpinan rumah sakit swasta tentang manajemen dokter spesialis di rumah sakit dan satu orang pejabat Dinkes tentang pelaksanaan registrasi dan perizinan di masing-masing lokasi penelitian.

standar kompetensi. Sebagaimana dikemukakan oleh Trisnantoro1 bahwa perlu diperketat aturan kerja profesional dokter yang tidak memberikan toleransi terjadinya error. Kata Kunci: regulasi. perizinan dan sertifikasi. Adanya sanksi yang jelas terhadap pelanggaran undang-undang mulai dari surat amaran (teguran) sampai kompaun (denda) yang dilaksanakan secara tegas. Pada tahun 2003 diperkirakan bahwa rata-rata 1000 orang warga Medan berobat ke Penang setiap bulannya dan dilaporkan bahwa setiap tahunnya kedua negara tersebut mendapat devisa sekitar 400 juta dollar AS dari warga Indonesia yang berobat. standar pelayanan medik yang memadai. Adanya suatu tradisi baru yang dikandung dalam UUPK sedang mengalami proses adaptasi terhadap tradisi yang selama ini berlaku bagi kalangan profesional kedokteran. Menurut Kumaranayake. standar pelayanan ataupun standar perizinan lembaga. Undang-Undang (UU) No. 3) adanya krisis ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di samping semakin sering muncul dugaan malpraktik dan salah diagnosis oleh petugas kesehatan. Sebagaimana dikemukakan oleh Trisnantoro1 pada kolom editorial Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan (JMPK) bahwa masyarakat Kota Medan banyak yang berobat ke Pulau Penang. Untuk mengukur mutu tenaga kesehatan sebagai tenaga profesional salah satu strategi adalah bagaimana penataan tenaga kesehatan melalui sistem registrasi. Di Indonesia pada saat ini penyelenggaraan praktik kedokteran dikaitkan dengan mutu pelayanan kesehatan merupakan masalah yang serius dan salah satu faktor penyebab meningkatnya kecenderungan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. registrasi. No. sehingga tidak memberikan toleransi terjadinya kesalahan. 2) besarnya costs yang hilang. dkk. sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesihatan dalam Medical ACT 50 tahun 19716 dan ACT 586 tahun 19987.10 regulasi terjadi apabila pemerintah berusaha mengontrol atau mempengaruhi aktivitas-aktivitas individu atau Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Analisis situasi pada Sistem Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 4 menyebutkan bahwa setiap tahunnya dilaporkan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang berobat ke luar negeri (Penang/ Malaysia dan Singapura). 09. serta masih lemahnya pelaksanaan regulasi pelayanan kesehatan. perizinan.9 Menurut Ogus (dalam Kumaranayake dkk)10 bahwa regulasi dalam sektor kesehatan yang menekankan pada pengembangan berbagai standar yaitu dengan memastikan level minimum dari kualitas dan keselamatan baik standar profesi.penyelenggaraan praktik kedokteran yang merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh dokter dan dokter gigi yang memiliki etik dan moral yang tinggi. praktik kedokteran PENGANTAR Sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) otonomi daerah. masyarakat Kalimantan Barat banyak yang berobat ke Kuching. Dari keadaan ini ada beberapa poin yang dapat disimpulkan yaitu: 1) masih kurangnya kesiapan Provinsi Sumatera Utara menghadapi era globalisasi terutama dalam bidang kesehatan. Pendekatan seperti ini disebut sebagai pendekatan sosial. 29/20048 tentang Praktik Kedokteran yang dilatarbelakangi bahwa : “. dokter.4 Ketidakmampuan rumah sakit Indonesia bersaing di era globalisasi tidak terlepas dari kelemahan peraturan pemerintah yang mengatur pelayanan kesehatan seperti. “untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima pelayanan kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pembinaan terhadap praktik kedokteran swasta dan di rumah sakit pemerintah. sehingga ada kemungkinan terjadinya konflik antara tradisi dan budaya dokter spesialis. diperlukan pengaturan mengenai penyelenggaraan praktik kedokteran”. artinya aturan-aturan cara kerja profesional dokter semakin diperketat karena pekerjaan profesional dokter erat kaitannya dengan hidup dan penghidupan manusia. memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk menyusun dan menetapkan suatu kebijakan dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan daerahnya. 3 September 2006 l 157 . Supervisi terhadap rumah sakit dilakukan berdasarkan setiap ada pengaduan dari masyarakat dan segera ditindaklanjuti. kalaupun ada belum dijalankan secara konsisten. standar profesi. dan dokter gigi. Vol. keahlian dan kewenangan yang secara terus-menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan berkelanjutan”. Sejak diundangkannya UU Praktik Kedokteran (UUPK) tersebut menggambarkan bahwa regulasi terhadap pola kerja dokter semakin meningkat. dan masyarakat Riau ke Malaka. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan regulasi praktik kedokteran di negeri Pulau Pinang lebih baik dibandingkan dengan Kota Medan.. dapat dibedakan dengan pendekatan ekonomi yaitu melihat peran regulasi dalam kaitannya dengan mekanisme pasar. Sistem regulasi yang ada dapat digunakan sebagai landasan untuk pembuatan suatu kebijakan yang baru dengan mempertimbangkan segala aspek yang dapat merugikan masyarakat banyak.

Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No. 9. 1/ 200522 tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi 12.5797 16 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Bidang Spesialistik.06. Untuk melengkapi informasi dilakukan wawancara terhadap dua orang pimpinan rumah sakit swasta dan satu orang pejabat dinkes di masingmasing lokasi penelitian. Peraturan Daerah No. Peraturan Pemerintah No. kuantitas.664/198215 tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik Dasar.00. 29/20048 Tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi 10. Medical Regulation 1974 Tentang Regulations.3. 2/2005 tentang Penetapan Besarnya Biaya Registrasi Dokter dan Kedokteran Gigi. Peraturan Menteri Kesehatan No. Undang-Undang No. 1/ 200524 tentang No. ACT 50/19716 tentang Medical ACT 2. 7. 13. 15/2002 12 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan di Kota Medan.1170A/199920 tentang Masa Bakti Tenaga Medik. Peraturan Menteri Kesehatan No. sedangkan Keputusan Walikota Medan No. Vol. Di Negeri Pulau Pinang.1540/200221 tentang Penempatan Tenaga Medik. Berdasarkan latar belakang penelitian. Identifikasi Peraturan Perundang-Undangan yang Terkait dengan Registrasi dan Perizinan Praktik Kedokteran Hasil identifikasi beberapa peraturan perundangundangan yang terkait pada pelaksanaan registrasi dan lisensi tenaga dokter yaitu: 1.HK. Peraturan Pemerintah No. Selama era desentralisasi hanya satu peraturan daerah yang dimiliki oleh Kota Medan yaitu Perda No.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan lembaga melalui harga. kualitas dan distribusi. 920/198614 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik.5. 2. 4. Lokasi penelitian di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang.1/198817 tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik 5. 1419/200515 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi 11. Permenkes No. beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan registrasi dan lisensi tenaga dokter meliputi: 1. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No. 15/200212 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan. 3 September 2006 . Keputusan Menteri Kesehatan No. 8. 09. Unit analisis adalah regulasi sistem registrasi dan lisensi praktik kedokteran di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. 50/200113 hanya mengatur tentang Pelayanan Pengobatan Dasar Gratis di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang-undangan yang terkait dengan registrasi dan perizinan praktik kedokteran.916/199719 tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik. Keputusan Dirjen Binkesmas No. No. Peraturan Menteri Kesehatan No. Saving and Repeal 3.32/199618 tentang Tenaga Kesehatan 6. Regulation 1993 tentang Medical Setting of Examination For Provisional Registrations 158 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang terkait dengan praktik kedokteran tentang registrasi dan lisensi bagi praktik tenaga dokter di Kota Medan maupun di Negeri Pulau Pinang dapat diuraikan sebagai berikut: Registrasi dan Lisensi Praktik Kedokteran Dasar perundang-undangan tentang registrasi dan lisensi tenaga dokter di Kota Medan pada dasarnya masih merujuk pada peraturan perundangundangan yang berasal dari pusat seperti peraturan pemerintah dan peraturan menteri kesehatan karena belum memiliki peraturan yang bersifat operasional tentang pengaturan praktik kedokteran. maka permasalahan penelitian yaitu “ bagaimana regulasi sistem registrasi dan lisensi praktik kedokteran menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Kota Medan dan di Negeri Pulau Penang tahun 2006” BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi komparasi mengenai regulasi sistem registrasi dan perizinan dokter spesialis di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. 3. Selanjutnya Walshe11 menyatakan bahwa regulasi sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus oleh lembaga publik untuk mengawasi aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

a) SIP Dokter Umum sebesar Rp50. 7. Izin Praktik dapat diberikan setelah sejumlah persyaratan dipenuhi antara lain surat penugasan. Registrasi dan Lisensi Praktik Kedokteran Sejak diundangkannya UU No. 9. tugas dan wewenang) 8. Biaya proses registrasi secara formal telah diatur pada Keputusan KKI No. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDK) di tingkat Provinsi dapat dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia atas usul Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Surat Izin Praktik (SIP) Dokter hanya diberikan untuk paling banyak tiga tempat. Berdasarkan UU No. 2/200524 yaitu sebesar Rp250. sedangkan Indonesia baru pertama kali memiliki UUPK yaitu sejak diundangkannya UU No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. Dari berbagai peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai rujukan yang terkait dengan pelaksanaan registrasi dan perizinan (lisensi) tenaga dokter di Kota Medan. dapat disimpulkan sebagai berikut: Registrasi Praktik Kedokteran 1. Dalam rangka registrasi dokter oleh dinkes provinsi selain diberikan surat penugasan (SP) juga diberikan kartu registrasi 9.00. Untuk memperoleh STR. Bahwa registrasi dokter spesialis tetap dilaksanakan di pusat cq Biro Kepegawaian Departemen Kesehatan 11. 15/200113 harus selesai selama tiga minggu sejak tanggal permohonan diterima di kantor Dinas Kesehatan. Konsil Kedokteran Indonesia (kedudukan. Biaya penyelesaian SIP di Kota Medan disesuaikan dengan peraturan daerah No.000.5 bulan. Vol. 29/20048 tentang Praktik Kedokteran terjadi perubahan kebijakan dalam hal registrasi maupun registrasi ulang bagi dokter. Dinas Kesehatan Medan saat Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 29/2004 8 bahwa kewenangan registrasi dokter berada pada Konsil Kedokteran Indonesia yang berkedudukan di ibu kota negara dan sebelumnya merupakan kewenangan dinas kesehatan provinsi. 2. 29/20048 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Surat Izin Praktik (SIP) tersebut berlaku untuk waktu lima tahun dan harus diperbaharui apabila habis masa berlakunya. Bentuk surat izin. Registrasi dokter dan dokter gigi berpedoman pada Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. Tata cara memperoleh STR berdasarkan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No. 15 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan yaitu. Adanya kewajiban dari dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota melaporkan tenaga-tenaga dokter yang telah mendapat registrasi kepada menteri kesehatan 10.00. 6. b) Surat Praktik Dokter Spesialis sebesar Rp100. namun dalam pelaksanaannya sebagian besar dapat diselesaikan dalam satu bulan dan masih ada sampai 1. fungsi. Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter 3.00. 1 tahun 200522 2. keputusan penempatan (khusus pegawai negeri sipil. 4. dokter wajib mengajukan permohonan kepada KKI 4. Belum optimalnya pemberian surat izin praktik dikaitkan dengan penempatan kerja dokter. Permohonan perizinan ditujukan kepada kepala daerah dengan melengkapi persyaratan.000. Belum optimalnya pemberian surat rekomendasi dari organisasi profesi tentang kemampuan profesional seorang dokter (keilmuan dan keahlian klinis). No. Perizinan Praktik Kedokteran Hasil wawancara tentang pelaksanaan pemberian izin praktik dokter oleh Dinas Kesehatan Kota Medan tentang perizinan praktik kedokteran yaitu sebagai berikut: 1. Penyelesaian SIP berdasarkan ketentuan Perda No. 1 tahun 200522 5. 3. Peraturan Konsil Kedokteran Malaysia Tahun 1986 tentang Medical (Instrumens) (Exemptions) ACT 586/19987 tentang Private Healthcare Facilities and Services ACT Negara Malaysia telah memiliki peraturan tentang praktik kedokteran yaitu sejak tahun 1971. Pelaksanaan registrasi bagi dokter dikaitkan dengan penempatan dokter 7. 12. Untuk perizinan (lisensi) dokter tetap dilaksanakan dan diberikan oleh pejabat dinkes di kabupaten/kota. serta satu Surat Izin Praktik hanya berlaku untuk satu tempat praktik. Proses penyelesaian registrasi tenaga dokter selambat-lambatnya tiga bulan setelah permohonan diterima oleh KKI 6. 5. 09. surat persetujuan atasan). bagi dokter disebut Surat Izin Praktik (SIP). 3 September 2006 l 159 . 5. 8.000.

Registrasi sementara bagi praktisi kedokteran yang berasal dari luar Malaysia dan berlaku selama tiga tahun c. Di dinas kesehatan terdapat unit khusus yang mengurus perizinan yaitu seksi perizinan dan akreditasi sarana pelayanan. Vol. (c) biaya sertifikat tahunan sebesar 50 ringgit. dan (d) sertifikat praktik temporer sebesar 50 ringgit. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. 09. Dan surat tugas tersebut berlaku untuk jangka waktu tiga bulan dan dapat diperbaharui. ini telah memiliki program komputer yang dapat membantu dalam pelaksanaan sistem pencatatan izin praktik dokter. Registrasi Praktik Kedokteran diatur dalam peraturan 1974 l. Dinas kesehatan kabupaten/kota juga memberikan surat tugas atau nota tugas kepada dokter spesialis dan dokter gigi spesialis tertentu di rumah sakit dalam rangka memenuhi kebutuhan. No. 13. Sertifikat Tahunan /Izin praktik dokter hanya berlaku selama satu tahun dan harus di perpanjang kembali setiap tanggal 31 Desember dalam tahun berjalan e. Uji kompetensi dilaksanakan kepada setiap dokter yang mengajukan permohonan sertifikat registrasi baik registrasi sementara maupun registrasi penuh serta sertifikat tahunan yang diselenggarakan oleh dewan komite yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Malaysia f. Diberikan kesempatan kepada dokter yang dinyatakan melakukan pelanggaran kedispilinan oleh Konsil untuk melakukan banding terhadap keputusan konsil tersebut j. Adanya komite pemeriksaan awal terhadap pelanggaran kedisiplinan profesi kedokteran dengan prosedur yang jelas sebagaimana yang tercantum pada ACT (50)/1971 pasal 36 s/d pasal 386 dan Peraturan 1974 pasal 261 k. 1419/2005. namun pelaporan hanya didasarkan jika ada permintaan hasil rekapitulasi tenaga dokter yang telah memperoleh SIP baik oleh menkes. b. Konsil Kedokteran Malaysia memiliki yuridiksi kedisiplinan h. 3 September 2006 . Kewajiban melakukan pelaporan hasil rekapitulasi daftar izin praktik belum terlaksana dilakukan secara periodik. Dalam melaksanakan yuridiksi kedisiplinan. Dari berbagai hal yang terkandung dalam ACT (50)/197116 yang membedakan dengan peraturan perundang-undangan Indonesia yaitu: a. maupun organisasi profesi. 14. Hal ini disebabkan kekurangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap praktik kedokteran. Hal ini dikarenakan tidak adanya dana operasional untuk pengiriman SIP tersebut kepada yang bersangkutan. diambil sendiri oleh yang bersangkutan. Penentuan Anggota Konsil Kedokteran Malaysia melalui seleksi berdasarkan permohonan pencalonan anggota Konsil sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan pada peraturan 1974 m. Pemberian surat tugas ini merujuk pada Permenkes No.2 Surat Izin Praktik (SIP) yang telah selesai. Masalah biaya registrasi praktik kedokteran secara formal ditentukan dalam peraturan 1974 yaitu: (a) biaya registrasi sementara sebesar 20 ringgit. 12. (b) biaya registrasi penuh sebesar 100 ringgit. Untuk memperoleh rekomendasi kompetensi harus mengikuti beberapa pengujian baik secara tertulis maupun lisan yang dikeluarkan oleh Dewan Kualifikasi yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Malaysia g. Registrasi penuh yaitu seseorang telah memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai yang dinyatakan oleh konsil d. konsil dapat menjatuhi hukuman i. gubernur. 160 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dinkes provinsi. Di Negeri Pulau Pinang. Registrasi sementara semata-mata untuk tujuan mendapatkan pengalaman dan sebagai syarat terdaftar sebagai registrasi penuh 2. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai acuan yang terkait dengan registrasi dan perizinan (lisensi) tenaga dokter dan hasil wawancara kepada pejabat kesehatan di Negeri Pulau Pinang. Dinas Kesehatan Kota Medan belum optimal melaksanakan pembinaan dan pengawasan dengan melakukan pemantauan masa berlakunya SP dan SIP.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan 10. Undang-Undang Praktik Kedokteran berpedoman kepada ACT (5)/197116 yang terdiri dari tujuh bagian dan 44 pasal. 11.

Di Kota Medan. Depkes. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pada umumnya dokter yang bekerja di rumah sakit swasta bekerja secara full timer.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan n. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. begitu juga sebaliknya. 3 September 2006 l 161 . dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta. KESIMPULAN Belum optimalnya peraturan daerah yang mendukung regulasi registrasi dan perizinan praktik dokter.00 – 17. No.00. sehingga memudahkan pasien untuk bertemu dan berkonsultasi dengan dokter. Dinas kesehatan belum membuat laporan registrasi tenaga dokter secara periodik kepada Pemerintah Daerah. Pada peraturan 1974. Swasta “Y” Negeri Pulau Pinang Kredensial • Registrasi penuh • Sertifikat praktik tahuan hanya berlaku untuk satu tahun dan dapat diperpanjang per 31 Desember dalam tahun yang berjalan • Sebagian besar bekerja secara full timer • part timer • Tidak ada dokter pemerintah (kerajaan) dan hanya dokter swasta • Setiap tahun diperbaharui • Perpanjangan/ pemutusan kontrak kerja berdasarkan informasi appraisal kinerja Fee for service • Berdasarkan tarif RS yang telah ditetapkan antara pihak RS dengan dokter dalam bentuk paket • Kesepakatan antara dokter dengan RS • Dokter tetap berada di lingkungan RS • RS menyediakan ruang dan fasilitas alat • Dokter mengkontrak salah satu ruangan rumah sakit untuk praktik konsultasi Tidak ada Optimal Umumnya bekerja secara tim Bersifat rutin Pada umumnya rumah sakit swasta di Medan mempekerjakan dokter yang berstatus PNS yang bekerja secara part timer dan sebagai konsultan. Penyelenggaraan penyelidikan dilakukan oleh Komite penyelidikan awal yang dibentuk oleh Konsil. 09. Perbandingan antara Manajemen Dokter Spesialis di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang RS. Manajemen Dokter Spesialis di Rumah Sakit Berdasarkan hasil wawancara terhadap Direktur Pelayanan Medik Rumah Sakit Swasta “X” di Medan dan CEO Rumah Sakit Swasta “Y” di Negeri Pulau Pinang dapat disimpulkan sebagai berikut (Tabel 1). Vol. Tabel 1. Dinkes Provinsi. terdapat prosedur tahapan penyelenggaraan penyelidikan jika terdapat pengaduan / informasi pelanggaran disiplin kedokteran. Di Negeri Pulau Pinang. dan KKI. Swasta “X” Medan Rekruitmen Izin praktik Kredensial belum optimal • Memiliki STR • Memiliki SIP • Surat/Nota Tugas • SIP belaku 5 tahun dan dapat diperpanjang Dokter spesialis • • • Tidak ada yang bekerja secara full time Sebagian besar part timer Sebagian Besar PNS Lamanya kontrak Sistem pembayaran terhadap dokter penetapan besarnya jasa medis Batas waktu kurang jelas Perpanjangan/pemutusan kontrak kerja hanya sekedar formalitas saja Fee for service • Berdasarkan tarif rumah sakit • ditentukan oleh dokternya sendiri • • Disesuaikan dengan waktu dokter • Keberadaan dokter di RS sesuai jadwal RS menyediakan ruang dan fasilitas alat • Pengaturan waktu praktik konsultasi Kepemilikan tempat praktik konsultasi Pembinaan terhadap dokter spesialis Peran komite medik Sistem kerja spesialis Pelaksanaan audit klinit Tidak ada Belum optimal Umumnya masih bekerja secara individual Belum rutin / insidentil RS. Di Negeri Pulau Pinang pelaksanaan perpanjangan dan pemutusan hubungan kerja dilakukan berdasarkan informasi penilaian kinerja dokter yang dilaksanakan setiap tahun. untuk perpanjangan dan pemutusan kerja sama antara rumah sakit dan dokter belum sepenuhnya berdasarkan informasi appraisial kinerja.

00 – 17.00. Published by MDC Publishers SDN BDH. 1419 tahun 2005 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Trisnantoro. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Provincial Health Proct II (PHP II) North Sumatera Province. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No.3. Jakarta. 7. Departemen Kesehatan. Jakarta. Organisasi profesi belum optimal dalam melaksanakan program Pendidikan Profesi Berkelanjutan. Departemen Kesehatan. Permenkes No.. No. Menyambut Undang-Undang Praktik Kedokteran: Apakah Berjalan. 2 Tahun 2005 Tentang Penetapan Besarnya Biaya Registrasi Dokter dan Kedokteran Gigi. Dinas kesehatan belum melakukan pemantauan SP dan SIP secara optimal. 20. Jakarta. 2005. 13. Undang Undang No. Manajemen dokter spesialis belum optimal dilaksanakan di rumah sakit swasta Medan. Dinkes Provinsi. 2001. Jakarta. Jakarta. 11. Published by MDC Publishers SDN BHD. L. R. Walshe K. Trisnantoro. begitu juga sebaliknya. The Rise of Regulation in the NHS.916 Tahun 1997 Tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik. Jakarta. 1982. Departemen Kesehatan. Sumatera Utara. Health Policy and Planning. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. Jakarta. Departemen Kesehatan.664 Tahun 1982 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik Dasar. Jakarta. 21. 162 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5797 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Bidang Spesialistik.1540 Tahun 2002 tentang Penempatan Tenaga Medik. Tentang Medical ACT. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. Vol.32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan. Di Negeri Pulau Pinang pelaksanaan pengujian kompetensi dilaksanakan setiap pengajuan surat praktik tahunan sedangkan di Medan dilaksanakan setiap lima tahun dan dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta. L. Peraturan Menteri Kesehatan No. Sistem Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Departemen Kesehatan. Kumaranayake.5. Konsil Kedokteran Indonesia..00 KEPUSTAKAAN 1. Konsil Kedokteran Indonesia. Dirjen Pelayanan Medik. 1999. 15. Antara Misi Sosial dan Tekanan Pasar.920 Tahun 1986 Tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. Penelitian Faktor Penyebab dan dampak Meningkatnya Masyarakat Berobat Ke Luar Negeri. 2. BPP. 2004. Jakarta. Jakarta. 2004. Departemen Kesehatan. ACT 586 Tahun 1998. Dirjen Pelayanan Medik. S. Departemen Kesehatan. 12. Permenkes No. Departemen Kesehatan. 2004. PERDA No. Dirjen Pelayanan Medik. Dinkes Provinsi.. Dirjen Pelayanan Medik. 8. 15 Tahun 2002 Tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan di Kota Medan. 2002. ACT 50 Tahun 1971.06. 3 September 2006 . Jakarta. 9. 16. 1986. 3. 2005. 2002. 14. Hongoro. 2005. 1 Tahun 2005 Tentang No. Dinkes Provinsi. 1988. Jakarta. Peraturan Pemerintah No. P. 17. Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara. 2005. Peraturan Pemerintah PP No. Departemen Kesehatan. Konsil Kedokteran Indonesia. 2002. 1997. Penerbit Yustisia. 2000. 18. 2004. 10. 50 Tahun 2001 Tentang Pelayanan Pengobatan Dasar Gratis di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. 2005. Pemko Kota Medan. 6. Dinas kesehatan kabupaten/kota belum memiliki sumber daya manusia yang berkompetensi dalam melakukan pembinaan dan pemantauan praktik dokter.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Waktu untuk memproses SIP dan SP belum sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh peraturan.1 Tahun 1988 Tentang Izin Praktik bagi Tenaga Medik. 1 Tahun 2005 Tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi. 09. 22. How Do Countries Regulate The Health Sector? Evidence from Tanzania and Zimbabwe. 8(03)September:119-20.1170A Tahun 1999 Tentang Masa Bakti Tenaga Medik. Yogyakarta. Departemen Kesehatan.HK.. 2005. 23.. Mujinja. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM. Pemerintahan Kota Medan. Belum optimalnya Dinas kesehatan Kabupaten/ Kota dalam mengantisipasi terhadap perubahan kebijakan wewenang registrasi dokter. Lake. Keputusan Dirjen Binkesmas No. 5. C. Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit. 19. BMJ. Tentang Privat Healthcare Facilities and Services ACT. 1996. 2005. Kajian Perijinan dan Sertifikasi Tenaga Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Kepmenkes No.Provinsi Sumatera Utara. Konsil Kedokteran Indonesia. 4. Permenkes No. Mpembeni. Keputusan Walikota No. Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No. L.

termasuk perlunya perubahan dalam system pelayanan kesehatan disajikan secara menyeluruh. cost-effectiveness . efektivitas. akseptabilitas. Prinsip-prinsip tersebut antara lain efikasi.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. informatika. Block Jones and Bartlett Publisher 2006 D i abad ke dua puluh ini telah terjadi revolusi besar di bidang pelayanan kesehatan. etika dan kesetaraan pasien. No. dan ukuran yang tidak terlalu tebal membuat buku ini bisa menjadi teman dalam perjalanan. Trisasi drtrisasi@yahoo. Dilihat dari isinya buku ini pantas untuk menjadi sebuah textbook untuk mahasiswa S2 di bidang kesehatan masyarakat. legitimasi dan kesetaraan. Prinsip-prinsip Donabedian untuk peningkatan mutu mendapatkan tempat khusus dalam Bab 2. optimalitas.163 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Pengarang Penerbit Tahun : : : : Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation Dale J. Melalui buku ini penulis mengajak Pembaca untuk memahami model biopsikososial dari proses pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan relevansinya dengan evaluasi sistematik terhadap intervensi pelayanan kesehatan. Meskipun buku ini menggunakan pendekatan biopsikososial. Meskipun begitu. Diawali dengan sejarah singkat mengenai manajemen mutu. Vol. dan fokus-fokus lainnya dalam pelayanan kesehatan. tetapi sudut pandang biomedis juga ikut disajikan sebagai pembanding antara pendekatan biomedis dan pendekatan biospikososial. Pembaca diajak kembali untuk mengingat kembali teori-teori manajemen mutu dari Berwick. 3 September 2006 l 163 . Pembahasan laporan mengenai pelayanan kesehatan di abad 21 oleh Institute of Medicine. Buku Healthcare Outcomes Management mengeksplorasi telaah kritis terhadap manajemen dan perencanaan outcome pelayanan kesehatan dengan menggunakan pendekatan biopsikososial sebagai kerangka diskusi. enak dibaca. efisiensi. 09. Ditemukannya berbagai jenis terapi medis baru. cara penyampaiannya yang singkat. Buku ini juga membahas masalah metodologi epidemiologi. Pembahasan dalam buku ini banyak menceritakan sistem pelayanan kesehatan di Amerika karena penulis adalah seorang dokter keluarga di AS yang telah menjalankan praktik klinisnya secara penuh selama 17 tahun. 03 September l 2006 Halaman 163 . manajemen kesehatan lingkungan. semakin bertambahnya fasilitas dan tenaga kesehatan. dan Roessner. serta adanya pergeseran orientasi ke arah hak-hak pasien mendorong munculnya kebutuhan akan manajemen dan perencanaan pelayanan kesehatan yang lebih canggih dan sistematik. Godfrey. berbagai desain evaluasi pelayanan kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 09 No.

Green (faktor predisposing. 09 / No. DIY. perbedaan semantik.1 Pemilihan variabel yang dikembangkan dari teori LW... Secara umum tulisan ini sudah menggambarkan latar belakang dan perumusan masalah.6% provinsi (Sumbar. No. hubungan atau perbedaan merupakan tiga kata yang lazim dipergunakan dalam penelitian kuantitatif tetapi memberikan konsekuensi yang berbeda pada analisis datanya. kepadatan penduduk tinggi dan ciri perkotaan. Penelitian ini menggabungkan pendekatan kuantitatif (kuesioner) serta kualitatif (wawancara mendalam dan data sekunder). Permasalahan yang diangkat masih menarik dan up to date karena merupakan isu lama yang belum tuntas pemecahannya.com Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas Tulisan : SR. perlu pemahaman tentang indeks dan skala (skala Likert.2 Selain itu.”) menyiratkan hal itu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 09 No. Untuk itu diperlukan penulisan deskripsi univariat (distribusi frekuensi pertanyaan dan pengelompokkan variabelnya) dan deskripsi bivariat dalam bentuk tabel silang. komitmen. Vol.”).165 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. Mustikowati yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas dan dimuat di Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol.4 Pengelompokkan variabel menjadi tinggi.. 09 / No. Sulteng. Penelitian terapan seperti kebijakan kesehatan tidak cukup hanya membuktikan hipotesis dengan menerapkan metode penelitian sebaik mungkin. Bogardus. rasanya sangat kurang memadai 8 variabel yang bersifat komposit diterjemahkan hanya dalam 20 item pertanyaan. Kuesioner penelitian diharapkan sudah diujicobakan serta diuji validitas dan reliabilitasnya. Bisa dimaklumi bila hal tersebut tidak dituliskan secara lengkap dalam jurnal karena keterbatasan format. konsep dan variabel penelitian. Uji coba kuesioner dilakukan untuk meyakinkan peneliti akan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Variabel yang bersifat kualitatif harus diukur (dikuantifikasi) dengan suatu teknik pengukuran yang lazim dikembangkan di dalam Ilmu Sosial. sosial budaya. Masalah penempatan dokter spesialis ikatan dinas juga ditemukan pada penelitian Ilyas. sarana daerah. 3 September 2006 . Sulsel.3 Tulisan menyebutkan ada 8 variabel (motivasi. reward . Mustikowati. Kaltim) dan 11. 2..5 Di tahun 2002 hanya 26. tetapi juga harus memberikan masukan untuk memperbaiki kinerja kebijakan itu sendiri. Laksono Trisnantoro. bipolar dan sebagainya). Dari judul penelitian (”Faktor-Faktor yang Mempengaruhi . maka perkenankanlah saya memberikan tanggapan. Walaupun ideal tetapi tidak mudah menggabungkan dua pendekatan tersebut.. Pemakaian metode kuantitatif dulu kemudian diperdalam dengan metode kualitatif atau sebaliknya menjawab tujuan penelitian yang berbeda.. hasil penelitian. serta penarikan kesimpulan (”faktor enabling yang paling dominan adalah . Apakah 20 item ini adalah item pertanyaan? Apabila ya. Bali. Pengaruh.6% (33 kota/kabupaten) yang mencukupi (6 orang dokter spesialis per 100. Sulut.000 jiwa). Guttman.. DKI Jakarta.. 3 Untuk tesis (derajat S2/ magister) idealnya dilakukan uji coba kuesioner berikut uji validitas dan reliabilitasnya. Statistik nonparametri dapat dipakai karena jumlah sampel hanya 24 orang. 03 September l 2006 Halaman 164 . 02/ Juni 2005. 02 /Juni 2006 Setelah membaca tulisan Saudara SR. pembahasan serta kesimpulan dan sarannya. Kesimpulan dan saran kebijakan yang terinci dan operasional dapat dikembangkan dari deskripsi tersebut. Determinan distribusi dokter spesialis adalah: PDRB per kapita tinggi. tujuan penelitian. Saya perkirakan penelitian ini bersifat deskriptif analitik walaupun tidak disebutkan hipotesis dan ujinya. penerimaan daerah. karir dan punishment) dan kuesioner dijabarkan dalam 20 item. IMR rendah. enabling dan reinforcing ) memberikan pemahaman yang komprehensif. 09. Model distribusi dokter spesialis 164 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kesulitan akan muncul bila variabel yang diambil adalah variabel kualitatif dan komposit. pembagian variabel menjadi variabel bebas dan terikat.. Walaupun uji validitas dan reliabilitas sudah tersedia dalam software statistik seperti SPSS tetapi tetap diperlukan kemampuan konseptual si peneliti dalam menelaah hasilnya karena software hanyalah alat bantu. sedang dan rendah dengan mean dan standar deviasi sebenarnya harus diuji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov. Andreasta Meliala Dimuat di JMPK Vol.

Pembenahan seharusnya dilakukan pada dua sisi tersebut.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan diharapkan menjamin adanya equity distribusi di setiap RSUD. Tetapi biaya tersebut cepat kembali dengan pendapatan perbulan dokter spesialis PNS ditambah praktek pribadi yang sangat menggiurkan: Spesialis Anak Rp20 juta – Rp 40 juta. Jakarta. Ghalia Indonesia. adanya insentif. 122-146. Metode Penelitian Survei.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3. Studi Pengembangan Model Penempatan Dokter Spesilais di RSUD di Indonesia. Bukan tidak mungkin nantinya permasalahan kelangkaan dokter spesialis terpaksa dijawab dengan import dokter spesialis dari luar negeri. 4. 1988: 383 – 404. A. Ilyas. Obsgyn Rp 30 juta – Rp 50 juta. Singarimbun. rasa keadilan dalam penempatan. Rendahnya produksi dokter spesialis di Fakultas Kedokteran juga perlu dikaji. Cetakan ketiga. Jakarta. Pengantar Analisis Data. Biaya pendidikan dokter spesialis sangat tinggi yaitu Rp 300 juta – Rp 400 juta dengan uang ”ketok pintu” sebesar Rp 50 juta . Jawa Tengah E-mail: chriswardani_surya@yahoo. jaminan peningkatan pendapatan. No. Fakultas Kesehatan Masyarakat & Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. rujukan keahlian dapat terlaksana dan berjenjang.Rp125 juta. Magister Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Modul Perkuliahan Metode Penelitian Kualitatif. Yaslis dkk. Tidak disangkal lagi bahwa ”harga dan posisi tawar ” dokter spesialis sangat tinggi karena kelangkaan supply sementara demand sangat tinggi. 2. Rineka Cipta. 2005. Nazir. kemungkinan pengembangan karier. LP3ES. Makasar tanggal 6 – 8 Juni 2005. Jakarta. Purnawan. M. 5. Hal tersebut akan menjadi kenyataan karena globalisasi dan perdagangan bebas (AFTA/ NAFTA) sudah menyerbu kita. dan Penyakit Dalam Rp 30 juta – Rp 35 juta. Semarang. fasilitas dan sanksi serta dorongan untuk memilih status swasta daripada PNS. 09. Metode Penelitian. 3 September 2006 l 165 . KEPUSTAKAAN 1. 1995: 62-80. 1991:95 – 121. Masri dan Sofian Effendi (editor). Makalah pada Seminar Nasional Tahun Keempat Desentralisasi Kesehatan. Chriswardani Suryawati. Vol. Junadi. Bedah Rp15 juta –Rp 30 juta. Cetakan pertama. Edisi Revisi. rasa aman terhadap pekerjaan. Utarini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful