P. 1
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

|Views: 2,839|Likes:
Dipublikasikan oleh rinieee

More info:

Published by: rinieee on Apr 06, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/18/2013

pdf

text

original

Ukuran dan Warna seperti contoh

jurnal
Ukuran dan Warna seperti contoh

ISSN 1410-6515
Ukuran dan Warna seperti contoh Ukuran dan Warna seperti contoh

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 09/Nomor 03/September/2006
EDITORIAL
Percepatan Pendidikan Dokter Spesialis: Salah Satu Cara Penting untuk Mengatasi Masalah Pemerataan Pelayanan Kesehatan

Vol 09. No. 03 h.107-165 9 3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2006

MAKALAH KEBIJAKAN
Contracting Out Pelayanan Kesehatan: Sebuah Alternatif Solusi Keterbatasan Kapasitas Sektor Publik

ARTIKEL PENELITIAN
Decision Space dalam Program Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2006 Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000: Studi Kasus di Dua RSUD Provinsi Jawa Timur Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Regulasi Perizinan Rumah Sakit Umum Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2006 Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Indonesia dan Negeri Pulau Pinang Malaysia

Ukuran dan Warna seperti contoh

RESENSI
Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation

KORESPONDENSI
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas
JMPK Tahun 09 Nomor 03 Hlm. Yogyakarta 107-165 September 2006 ISSN 1410-6515 Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Ukuran dan Warna seperti contoh

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management

Diterbitkan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 4 kali setahun (triwulan). Misi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan adalah menyebarluaskan dan mendiskusikan berbagai tulisan ilmiah mengenai manajemen dan kebijakan dalam lingkup pelayanan kesehatan. Dengan demikian jurnal ini ditujukan sebagai media komunikasi bagi kalangan yang mempunyai perhatian terhadap ilmu manajemen dan kebijakan pelayanan kesehatan antara lain para manajer dan pengambil kebijakan di organisasi-organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit pemerintah dan swasta, dinas kesehatan, Departemen Kesehatan, pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat, BKKBN, pengelola industri obat, dan asuransi kesehatan, serta para peneliti, pengajar, dan ilmuwan yang tertarik dengan aplikasi ilmu manajemen dan kebijakan dalam sektor kesehatan. Isi jurnal berupa artikel kebijakan atau hasil penelitian yang berkaitan dengan manajemen rumah sakit, manajemen pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan, dan masalah-masalah yang relevan dengan manajemen dan kebijakan kesehatan.

Pemimpin Redaksi Laksono Trisnantoro

Editor Abdul Razak Thaha Bhisma Murti Johana E. Prawitasari I. Riwanto Tjahjono Kuntjoro Sri Werdati Yulita Hendrartini Yodi Mahendradhata

Mitra Bestari (Peer Reviewer) A.A.Gde Muninjaya M. Ahmad Djojosugito Ali Ghufron Mukti Bambang Purwanto Hari Kusnanto Josef Mubasysyir Hasanbasri Sri Suryawati Triono Soendoro

Sekretaris Redaksi Hilaria Lestari Budiningsih

Penerbit Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, FK UGM, Yogyakarta STT: 2398/SK/DITJEN PPG/STT/1998 Harga langganan untuk satu tahun (4 kali terbit/triwulan) Pulau Jawa Rp100.000,00 Luar Pulau Jawa Rp125.000,00 (Sudah termasuk ongkos kirim) Bank BNI 46 Cabang UGM Yogyakarta No Rek.: 0038603369 a.n Laksono Trisnantoro/Seminar Bukti Transfer mohon di fax sebagai bukti berlangganan Alamat surat-menyurat menyangkut naskah, langganan keagenan dan pemasangan iklan: Sekretariat Redaksi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan d/a Gedung KPTU Lantai 3, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281 Telp/Fax: 0274-547490, 549425 Email: hiillary@yahoo.com Web-site: www.jmpk-online.net

ii

The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 09/Nomor 03/September/2006

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Daftar Isi
Editorial
Percepatan Pendidikan Dokter Spesialis: Salah Satu Cara Penting untuk Mengatasi Masalah Pemerataan Pelayanan Kesehatan 107

Makalah Kebijakan
Contracting Out Pelayanan Kesehatan: Sebuah Alternatif Solusi Keterbatasan Kapasitas Sektor Publik Bhisma Murti
109

Artikel Penelitian
Decision Space dalam Program Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati
Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000: Studi Kasus di Dua RSUD Provinsi Jawa Timur Hanevi Djasri Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Regulasi Perizinan Rumah Sakit Umum Inni Hikmatin, Hanevi Djasri, Adi Utarini Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2006 Tisa Harmana, Wiku B. Adisasmito Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Yaslis Ilyas Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Indonesia dan Negeri Pulau Pinang Malaysia Zulfendri Resensi Buku Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation Korespondensi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas 118

121

129

134

146

156

163

164

i

Dalam praktiknya. serta berbagai macam sistem pelayanan kesehatan pada tiap negara. dihubungkan dengan persentase penduduk miskin justru didapatkan hasil hubungan yang negatif. Diharapkan ada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) menganjurkan setiap program pendidikan dokter spesialis mengacu pada Global Standards in Postgraduate Medical Education yang dikeluarkan oleh World Federation for Medical Education (WFME. namun dasar Ilmu Kedokteran dan evidence based medicine dalam praktik klinisnya harus tetap mengacu pada pedoman universal. Sebagai gambaran timpangnya penyebaran. Derajad asosiasi sekitar 0. dan standard for quality development. Sementara itu. Hal ini akan memperbesar kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa. Kenyataan menyatakan sebaliknya seperti yang diteliti oleh Ilyas1. Walaupun ada perbedaan dalam tradisi mengajar. Dalam konteks pendidikan spesialis untuk daerah-daerah tertentu ada beberapa pertanyaan penting: (1) Apa yang disebut sebagai kompetensi spesialis dalam suasana global yang mempunyai teknologi tinggi dengan kekurangan dokter spesialis yang terutama di daerah terpencil atau yang ekonominya kurang. Dikhawatirkan dana pelayanan rumah sakit bagi masyarakat miskin akan terserap di daerah yang ada spesialis dan peralatan mediknya. 2003). Paradoks penyebaran dokter spesialis ini merupakan hal serius karena membahayakan pemerataan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin yang saat ini didanai pemerintah pusat melalui program Askeskin. Modifikasi boleh dilakukan dengan catatan setiap negara bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Postgraduate Medical Training Program (PMPT) ini mendukung tujuan nasional pelayanan kesehatan. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 107 . Keduanya dapat bertentangan.A per 100. penyesuaian standar global dengan local wisdom sangat bervariasi. Vol. Dalam konteks ini maka terbuka peluang untuk pengembangan kurikulum yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dan mutu pelayanan di berbagai daerah. Bagaimana cara mengatasi paradoks penyebaran spesialis ini? Salah satu cara adalah percepatan pendidikan dokter spesialis. spektrum kesehatan dan penyakit. 3 September 2006 l 107 . Salah satu hal penting adalah kebijakan pemerintah daerah dan pusat dalam hal rekrutmen calon spesialis dan kerja sama dengan perguruan tinggi dan rumah sakit pendidikan.000 penduduk). 09. maka semakin banyak tersedia dokter spesialis. Dengan mengingat pedoman gobal ini maka ada dua standar yang perlu dipertimbangkan yaitu: basic standard yang harus dipenuhi dan terlihat pada proses evaluasi. Cara ini dianggap penting karena pendidikan spesialis saat ini dirasakan lambat dan lulusannya banyak yang tidak cocok untuk bekerja di daerah-daerah yang kekurangan spesialis. No. Semakin banyak masyarakat miskin. maka semakin sedikit jumlah spesialis. (2) Apakah ada suatu kompetensi medik yang minimal mengingat kebutuhan yang berbeda di berbagai daerah?. Secara kompetensi medik. Harapan menyatakan bahwa dokter seharusnya seperti Ibu Teresa yang dekat dengan masyarakat miskin.A) di DKI Jakarta adalah 443 (5. (3) Apakah ada kompetensi perilaku dan budaya yang perlu dibahas dalam pendidikan?.29 Sp.32 Sp. Dalam konteks paradoks. Sebagai gambaran paradoks ada kenyataan bahwa semakin besar kekuatan ekonomi di suatu wilayah. sistem pelayanan kesehatan diharapkan sebagai sektor sosial yang penuh nilai kemanusiaan.A per 100. Diharapkan akan ada percepatan pendidikan residensi dengan mengacu pada kebutuhan lokal namun tidak mengabaikan kompetensi dasar klinik sesuai dengan standar internasional.9. Dalam standar global WFME rasio antara kurikulum inti dengan kurikulum pilihan dapat berkisar antara 60% – 80% dengan 20% – 40%2. kondisi sosial ekonomi. budaya.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. dan (4) Bagaimanakah metode pendidikan untuk percepatan penambahan jumlah spesialis.108 Editorial PERCEPATAN PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS: SALAH SATU CARA PENTING UNTUK MENGATASI MASALAH PEMERATAAN PELAYANAN KESEHATAN Saat ini di Indonesia terdapat kekurangan akut dalam hal jumlah spesialis yang merupakan paradoks dalam sistem pelayanan kesehatan. data IDAI (2005) menunjukkan bahwa jumlah dokter spesialis anak (Sp. namun sekaligus dipengaruhi oleh hukum pasar. Standar internasional dapat dimodifikasi berdasarkan kebutuhan dengan prioritas regional.000 penduduk) sementara di Provinsi Papua hanya 7 (0. nasional dan institusional.

com) KEPUSTAKAAN 1. (Laksono Trisnantoro. 2005. No. 09(03)/ September: 145-54. Emilia. Sunarto. Vol. Y. Ilyas Y.. 108 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Andreasta Meliala: Peranan Pemerintah Daerah Dalam Mengatasi Maldistribusi Tenaga Dokter kebijakan yang merekrut spesialis berdasarkan kecocokan profil individu dokter dengan keadaan ekonomi dan budaya rumah sakit yang akan ditempatinya. Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia. Yogyakarta 2006. Kerja sama antara pemerintah daerah/pusat dengan fakultas kedokteran diharapkan mampu untuk melakukan inovasi-inovasi yang baik agar hasil pendidikan dokter spesialis tersebut dapat cocok bekerja di tempatnya. 09. trisnantoro@yahoo. termasuk kompeten dalam berinteraksi dengan sistem sosial dan budaya setempat. Fakultas Kedokteran UGM. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatn. O.. 2. Tantangan Pendidikan Spesialis Anak. Dengan kecocokan ini diharapkan seumur hidup dokter spesialis akan berkarier di tempatnya tanpa harus pindah ke daerah lain. 3 September 2006 . Mimeo.

Fakultas Kedokteran.3. Universitas Sebelas Maret. manajemen tidak adekuat. Surakarta. penggunaan sumber daya tidak efisien. managed competition Keywords: contracting.2. private. dan memperbaiki transparansi dalam negosiasi. Sebagaimana model penyediaan pelayanan kesehatan apapun. In addition. serta menyesuaikan harga-harga untuk memenuhi permintaan dan PENGANTAR Sejak dekade 1980-an terdapat dorongan kebijakan internasional yang kuat untuk memperkenalkan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang dan mengurangi peran negara. health services. and tightly links payment to performance of the provider. Alasan yang melatari dorongan itu adalah tidak memadainya sumbersumber daya pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan universal. induces cost awareness among providers and purchasers. kekakuan pemanfaatan tenaga kerja. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 109 . contracting merangsang kompetisi di antara penyedia pelayanan dalam pasar terkelola. contracting would promote decentralization managerial responsibility. keperluan pembeli pelayanan.1 Upaya untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik umumnya gagal karena terbentur oleh keterbatasan kapasitas pemerintah. pelayanan kesehatan. contracting out approach is not a panacea to all health problems. a shift that would translate in efficiency gains in contrast to the old highly-centralized. Contracting memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar atau pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. yang tidak peka terhadap implikasi biaya dari setiap keputusan alokasi. Semua ini memberikan sumbangan ke arah efisiensi. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. As is the case with any model. mendorong kesadaran biaya di antara penyedia maupun pembeli pelayanan. pendekatan kontrak bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk semua masalah kesehatan. dan bahwa penyedia swasta (atau mandiri) lebih efisien daripada penyedia publik. meningkatkan kualitas pelayanan. Alasan mengontrakkan adalah bahwa penyedia pelayanan publik kurang memiliki motivasi untuk menggunakan sumber daya dengan efisien. Selain itu. Kata kunci: contracting. sebagian besar fasilitas kesehatan di Kamboja menunjukkan kinerja yang buruk karena kekurangan dana. and enhances transparency in negotiations. Providers are forced to minimize production cost and adjust the prices to meet the demand and requirements of purchasers. struktur tipikal di sektor pemerintah atau publik di negaranegara berkembang tidak selalu kondusif untuk memperluas akses.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. campur tangan politik. contracting meningkatkan tanggung jawab manajerial desentralisasi. Contracting out clearly separates the roles of purchaser and provider. No. bureaucratic structure. Vol. The rationale for contracting is that public providers lack the incentive to use resources efficiently. AN ALTERNATIVE SOLUTION TO THE CAPACITY CONSTRAINT OF PUBLIC SECTOR Bhisma Murti Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. According to classical economic theory. public. Selain itu. suatu pergeseran yang akan menghasilkan efisiensi dibandingkan dengan struktur birokratik lama yang sangat sentralistis.5 Di sisi lain. Penyedia pelayanan dipaksa untuk meminimalkan biaya produksi. and that private (or autonomous) providers are more efficient than public providers.1. contracting stimulates competition among providers in managed markets. But in light of the limited absorptive capacity of the public sector. 3 September 2006 l 109 . Jawa Tengah ABSTRACT Contracting out is the practice of public sector or private firms of employing and financing an outside agent to perform some specific task rather than managing it themselves. sumber daya yang tidak memadai. swasta.4 Sebagai contoh. pemerintah. Monitoring and evaluation is an indispensible instrument for contracting out to exhibit its relative advantages. All these factors contribute to efficiency. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. contracting out merupakan sebuah alternatif strategi yang pantas dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk menunjukkan keunggulan relatif contracting out. Tetapi sehubungan dengan keterbatasan kapasitas absorbsi di sektor pemerintah. 09. considered insensitive of the cost implications of allocative decisions. maupun memastikan efisiensi penggunaan dana. managed market ABSTRAK Contracting out merupakan praktik yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk menyediakan pelayanan tertentu daripada mengelolanya sendiri. dan motivasi yang buruk di kalangan pegawai negeri.117 Makalah Kebijakan CONTRACTING OUT PELAYANAN KESEHATAN: SEBUAH ALTERNATIF SOLUSI KETERBATASAN KAPASITAS SEKTOR PUBLIK CONTRACTING OUT FOR HEALTH SERVICE. it is an alternative strategy worth considering for increasing the coverage and the quality of services in developing countries such as Indonesia. Menurut teori ekonomi klasik.

dengan kuantitas dan kualitas tertentu. dan (3) manajemen. Pertanyaannya. sektor swasta berkembang dengan pesat dalam penyediaan pelayanan kesehatan. (2) pelayanan nonklinis. serta kemampuannya untuk dikontrakkan. Artinya. Pavignani dan Colombo10 memberikan batasan contracting out “the practice of public sector or private firms of employing and financing an outside agent to perform some specific task rather than managing it themselves”.3 Dengan konteks keterbatasan kapasitas pemerintah di satu pihak dalam memperluas akses pelayanan kesehatan dan pesatnya perkembangan sektor swasta di lain pihak. didukung dengan kesepakatan kontrak. disertai aturan pembayaran.6: (1) pelayanan kesehatan.6 ada juga kontrak “informal” (informal contracting) yang berisikan perjanjian implisit antara pemerintah dan agen sektor swasta. quality.6 Dengan contracting out.menerus selama suatu periode. contracting dapat dibedakan menjadi (Rosen seperti dikutip Waters et al. dan periode waktu pemberian pelayanan oleh sebuah penyedia pelayanan swasta atas nama pemerintah. Secara teoretis contracting out memberikan sejumlah keuntungan. Liu. for a specified period”. Contracting Pelayanan Berdasarkan jenis pelayanan kesehatan yang dikontrakkan.. Kontrak formal (formal contracting) menyebutkan dengan eksplisit jenis. 110 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. menyajikan jenis pelayanan. istilah “contracting” mengandung arti sebuah hubungan terus . dan mengulas sejumlah isu berkaitan dengan contracting pelayanan kesehatan. Depkes Kontrak Pembayaran M&E Mengelola & membayar NGO M Pelayanan Penerima pelayanan (Beneficiary) Mengelola & membayar Gambar 1. MDGs). Mills2 membagi dua jenis pelayanan yang dikontrakkan: (1) pelayanan klinis. Vol. 6 Tetapi menurut Palmer sebagaimana dikutip Waters. untuk kondisi permasalahan dan jenis pelayanan bagaimana contracting out tepat untuk diterapkan? Makalah ini menyajikan definisi contracting. dalam format yang mengikat secara hukum. (3) franchising. contracting out adalah praktik yang dilakukan oleh sektor pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk melakukan sejumlah tugas-tugas tertentu daripada mengelolanya sendiri. from a specific provider. dan harga yang disepakati. kuantitas. (4) leasing. PEPFAR. contracting dibedakan menjadi1. Gambar 1 menyajikan pola umum contracting pelayanan. of a defined quantity. biasanya berdasarkan kepercayaan (trust) dan hubungan jangka panjang. menguraikan sejumlah kasus pengalaman implementasi contracting di negaranegara lain. Berdasarkan desain perjanjian kontrak itu sendiri.9: (1) contracting out.. pihak pemerintah tidak menyediakan sendiri pelayanan kesehatan.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . contracting adalah suatu mekanisme pembelian yang digunakan untuk mendapatkan pelayanan tertentu. Artinya. dari suatu penyedia pelayanan tertentu. at an agreedon price. Berbeda dengan transaksi sesaat antara pembeli dan penjual.. dapatkah model contracting out diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan? Jika ya jawabannya. DEFINISI Harding dan Preker8 mendefinisikan contracting “a purchasing mechanism used to acquire a specified service. dengan cara mengaitkan pembiayaan pemerintah dan kinerja penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan. Timbul minat untuk memobilisasi sumber-sumber daya sektor swasta dalam rangka memperluas dan meningkatkan skala pelayanan kesehatan (misalnya. et al. melainkan melakukan kontrak dengan agen luar yang disebut kontraktor untuk menyediakan barang atau pelayanan kesehatan kepada penerima pelayanan (beneficiary). 3 September 2006 . Dengan contracting out. salah satu isu kebijakan reformasi kesehatan yang hangat dibicarakan akhirakhir ini adalah model penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang disebut contracting out. selama suatu periode waktu tertentu. No. Global Fund. pemerintah dapat memobilisasi sumber daya sektor swasta untuk kepentingan tercapainya tujuan-tujuan kesehatan nasional. et al. (2) contracting in. 09. (2) pelayanan penunjang (ancillary services).3 mendefinisikan contracting out “the implementation of an agreement between the government (purchaser) and providers in which providers are paid for the provision of defined services to specified target populations for defined results”. mengupas alasan rasional melakukan contracting.7 Mengontrakkan pelayanan sektor publik merupakan praktik lumrah di negara-negara maju.

atau pelayanan spesialistik (radiologi) di dalam rumah sakit.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Artinya. maupun mengadakan dan mendistribusikan barang dan pelayanan. Artinya. karakteristik kunci dalam contracting adalah adanya pernyataan eksplisit tentang elemen-elemen kontrak yang disepakati oleh pihak pemberi kontrak dan kontraktor untuk diwujudkan dalam periode waktu tertentu. Sebagai contoh. Sistem M&E 10.11 Akibatnya. Elemen-elemen kontrak: 1. a number of doctors. Dengan kata lain. etc) subcontracted for the provision of goods or services”. M&E merupakan instrumen yang sangat vital dalam contracting out. sebuah rumah sakit pemerintah mengontrak sebuah organisasi swasta untuk menyediakan prosedurprosedur rutin (pelayanan laboratorium). untuk memberikan pelayananpelayanan tertentu yang akan dibayar oleh pasien dari suatu populasi. Dengan demikian. Indikator kinerja mencakup akses. contracting out memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar atau pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. Sebagai contoh. yang didukung oleh sistem monitoring dan evaluasi (M&E). sehingga tanggung jawab dan akuntabilitas manajerial di pihak pemberi pelayanan maupun di pihak pembayar akan meningkat. dibiayai melalui alokasi anggaran (disebut global budget) yang tidak secara langsung berhubungan dengan jumlah maupun kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan. Pertama.1 MENGAPA CONTRACTING OUT? Terdapat sejumlah alasan teoretis untuk melakukan contracting out. Model contracting out membedakan dengan jelas peran pihak pembayar dan penyedia pelayanan. 09. dan tidak efektif. bukan memiliki fasilitas atau peralatan itu. kepada organisasi swasta. Meskipun fasilitas-fasilitas itu diawasi departemen kesehatan. Metode pembayaran 7. Waktu pembayaran 9. kualitas. tetapi biasanya bersifat sangat umum. Pemecahan masalah perselisihan 12.11 Desentralisasi pengambilan keputusan membuat para penyedia pelayanan kesehatan lebih leluasa untuk membuat keputusan alokasi yang lebih efisien daripada yang dihasilkan Perhatikan. No. dan sebagainya) untuk Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pemerintah mengontrakkan fungsi-fungsi dinas kesehatan seperti pelayanan preventif dasar. memecat pekerja.9 Leasing adalah bentuk contracting yaitu pemerintah mengadakan fasilitas atau peralatan dari sumber luar berdasarkan persetujuan sewa. contracting in adalah melakukan subkontrak kepada sebuah divisi yang berada di bawah struktur organisasi yang bersangkutan (misalnya sebuah rumah sakit. Pavignani dan Colombo10 mendefinsikan contracting in “a subdivision of the parent organization (such as a hospital. normatif. Tetapi contracting in bisa juga berarti memasukkan manajemen swasta dari luar untuk menjalankan pelayanan pemerintah. yang ditunjukkan oleh kontraktor. sejumlah doktor. dan keadilan. baik dalam mengangkat pekerja. yang selama ini kerap terjadi adalah sebagian besar fasilitasfasilitas kesehatan khususnya rumah sakit pemerintah. Franchising adalah suatu bentuk contracting yaitu pemerintah memberikan hak kepada kontraktor (hak tersebut bisa eksklusif atau noneksklusif). Karakteristik penting lainnya adalah adanya keterikatan yang jelas antara pembayaran (payment) dan kinerja (performance) pemberi pelayanan3. staf di sektor pemerintah tidak berkepentingan untuk menunjukkan kinerja yang baik. kontraktor dalam contracting in adalah bagian atau divisi dari organisasi itu sendiri. Di banyak negara berkembang. tercantum dalam perjanjian kontrak. Desain dan Mekanisme Kerja Contracting Out menyediakan barang atau pelayanan. efisiensi. Sebagai contoh.7. yang beroperasi di luar fasilitas pemerintah atau publik. Vol. Durasi 11. contracting out adalah implementasi dari suatu perjanjian antara pemerintah (pembeli) dan penyedia pelayanan yaitu penyedia pelayanan dibayar untuk memberikan pelayanan tertentu kepada populasi sasaran tertentu dengan hasil . sebuah rumah sakit menyewa perusahaan swasta untuk menjalankan pekerjaan kebersihan dan penyediaan makanan (catering) di dalam fasilitas rumah sakit tersebut. Syarat pembayaran 6.hasil tertentu. Kontraktor memiliki tanggung jawab penuh dalam hal manajemen internal untuk menyediakan pelayanan. Penerima pelayanan (beneficiary) 5. Syarat penghentian kontrak Pembayar Pembayaran Kontrak Pemberi pelayanan M&E Pelayanan Penerima pelayanan (beneficiary) Gambar 2. Kualitas pelayanan 4. Hukuman terhadap kinerja buruk merupakan kejadian langka. Jenis pelayanan 2. untuk melengkapi pelayanan yang dilakukan oleh rumah sakit sendiri. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. Gambar 2 menyajikan desain dan mekanisme kerja contracting. menentukan upah dan gaji.10. 3 September 2006 l 111 . atau kampanye pendidikan kesehatan. Harga 8. Kuantitas pelayanan 3.

No.000. contracting out dalam lingkungan pasar kompetitif membawa kepada alokasi sumber daya yang lebih efisien daripada yang dapat diharapkan dari ekonomi terpimpin (command economy) ataupun solusi nonpasar di tingkat makro. harga pelayanan medik rumah sakit lebih murah di California. contracting out mendorong terjadinya efisiensi alokatif. Perubahan Teknologi Mengakibatkan Penurunan (A) atau Peningkatan (B) Biaya Produksi Manajer penyedia pelayanan tentu memilih teknologi yang menurunkan. Modal (K) Isocost= Rp 1. Menurut teori ekonomi klasik. contracting out mengurangi kerepotan pemerintah dalam pemberian pelayanan. Hubungan kontraktual dalam contracting out mendorong para manajer penyedia maupun pembeli pelayanan untuk sadar terhadap biaya tinggi. melalui birokrasi yang sangat sentralistis dan kurang peka terhadap implikasi biaya dari keputusankeputusan alokasi.. Vol. kuantitas pelayanan.000 Modal (K) Isocost= Rp 1. Teknologi meningkatkan biaya produksi Gambar 3. kualitas pelayanan. Baik pemberi kontrak maupun kontraktor memfokuskan kepada pencapaian hasil-hasil yang terukur dengan objektif. regulasi. untuk menghasilkan tingkat output yang sama.2.11 Dengan cara demikian. sehingga barang atau pelayanan yang dihasilkan menjadi lebih murah.000 E E’ E E’ Isocost= Rp 750.000 Q=100 Q=100 Pekerja (L) 0 A. penelitian Keeler et al. contracting out mendorong perencanaan yang lebih baik.10 Keterikatan pembayaran dengan kinerja membuat penyedia pelayanan kesehatan bekerja dengan lebih keras. dengan asumsi tidak ada perubahan kualitas pelayanan.3 Ketiga.15 Gambar 3A menunjukkan keadaan yang adopsi teknologi menurunkan biaya produksi. baik dalam pelayanan maupun harga.4 Pemerintah dapat memanfaatkan contracting out untuk penyediaan pelayanan kelompok masyarakat rawan di daerah-daerah yang kurang atau tidak mendapatkan pelayanan (unserved atau underserved). dan pembiayaan. Gambar 3B menunjukkan keadaan yang adopsi teknologi membuat produk menjadi lebih mahal tanpa meningkatkan kualitas. Salah satu cara penyedia pelayanan meminimalkan biaya produksi adalah mengadopsi teknologi inovatif. contracting out mendorong terjadinya efisiensi teknis.10. penetapan standar mutu.12 Kedua.. sehingga pemerintah dapat lebih memfokuskan kepada peran penting stewardship . Struktur pasar memberikan pengaruh besar terhadap perilaku penyedia pelayanan. bidding kompetitif akan menghasilkan tingkat harga yang secara sosial optimum.200.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . perlu diidentifikasi dengan jelas.17 Kelima. Dengan demikian memperbaiki keadilan akses pelayanan. Implikasinya.. bukannya meningkatkan ongkos produksi. seperti perencanaan.8. di pihak pembayar/ pembeli pelayanan maupun kontraktor penyedia pelayanan. Tanpa menurunkan kualitas yang sudah disepakati dalam perjanjian kontrak. para manajer akan berusaha meminimalkan biaya produksi. pemberi kontrak maupun kontraktor terdorong untuk membuat perencanaan dengan lebih baik. artinya optimum dari perspektif masyarakat keseluruhan. Teknologi menurunkan biaya produksi B. Keempat. sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pembeli pelayanan. yaitu situasi yang input ataupun output digunakan sebaik mungkin dalam ekonomi sedemikian sehingga tidak mungkin lagi dicapai pertambahan output ataupun kesejahteraan yang lebih baik.000. Gambar 3 menyajikan perubahan biaya produksi sebagai implikasi penerapan teknologi inovatif. Dengan demikian. Dalam pasar kompetitif sempurna. 09. contracting membantu pemerintah mengatasi keterbatasan 112 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. contracting out memaparkan para penyedia pelayanan kepada pasar kompetitif. populasi sasaran pelayanan. Sebab dengan contracting.000 0 Q=100 Q=100 Pekerja (L) Isocost= Rp 1. dan berbagai isu lainnya. 13 Di sisi lain. sebab tingkat konsentrasi rumah sakit di California lebih rendah daripada negara bagian lainnya. seperti dikutip Waters dan Hussey14 menunjukkan. yaitu keadaan yang kuantitas output tertentu diproduksi dengan kombinasi biaya terendah. Contoh. Sebaliknya.4. daya tanggap (responsiveness). 3 September 2006 . contracting juga menumbuhkan pasar dan merangsang kompetisi.12. kompetisi menimbulkan tekanan kepada pemberi pelayanan pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kinerja.13 Kompetisi memaksa pemberi pelayanan untuk menyesuaikan harga (disebut price taking.16 Implikasi dari efisiensi teknis di tingkat mikro. kebutuhan kesehatan. bukannya price setting seperti dalam situasi monopoli).

Artinya.22 mengatakan. Penyerapan dana yang tidak memadai memang mengakibatkan inefisiensi. 19 mendefinisikan kapasitas absorpsi. semuanya membutuhkan uang ekstra. 3 September 2006 l 113 . Demikian pula Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) mengasumsikan. seperti ber”tele-tele”nya (over-cumbersome) aturan. Vol. kapasitas absorpsi berhubungan erat dengan beberapa isu institusional dan administratif. untuk kondisi permasalahan dan jenis pelayanan bagaimana contracting out tepat untuk diterapkan. efektivitas bantuan luar negeri terhadap pertumbuhan tergantung kualitas institusi dan kebijakan negara penerima donor. seperti disebutkan di muka. Jadi. bukan sebaliknya. apakah karena efektivitas penggunaan dana menjadi negatif setelah titik saturasi. lalu aliran sumber daya perlu dikurangi atau distop? Vademoortele dan Roy 23 tidak berpendapat demikian. dan jika ya. tujuan-tujuan pembangunan kesehatan dapat dicapai dengan lebih cepat jika skala intervensi kesehatan ditingkatkan (scaling-up). kontrak yang tidak memungkinkan pemecatan staf. Contoh hambatan teknis dan manajerial. yang diperlukan untuk memperbaiki kapasitas absorpsi. kapasitas absorpsi dapat ditingkatkan dengan mengurangi sumber daya.21 Sebagaimana disajikan Gambar 4. tetapi pertambahan marginal menurun 15% 45% (3) Hambatan teknis dan manajerial. dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak bersifat tetap.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan “absorptive capacity” 3. kapasitas absorpsi adalah derajat kemampuan membelanjakan tambahan dana dengan efektif. Ketidakmemadaian penyerapan dan inefisiensi bukan merupakan keadaan yang berdiri sendiri. Pertanyaannya. regulasi. Berikut disajikan Tabel 1 tentang jenis pelayanan dan kemampuannya untuk dikontrakkan. melainkan sangat saling tergantung. Oliviera-Cruz et al. Tingkat pertumbuhan Kurva datar. larangan rekrutmen (kekakuan penggunaan tenaga kerja). makin cepat pula terjadi dampak marginal yang makin menurun (diminishing return). rendahnya kemampuan dan motivasi staf. Tetapi.23 JENIS PELAYANAN DAN TINGKAT KEMAMPUANNYA UNTUK DIKONTRAKKAN Menjawab pertanyaan di awal artikel ini tentang dapatkah model contracting out diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan. dampak nol Dampak negatif Dampak positif. dan rendahnya komitmen manajer. yaitu sekitar 15% . sebab “hujan bantuan” akan membuat sistem berada di bawah tekanan alias “kewalahan” atau “kedodoran”. (2) hambatan institusional dan kebijakan. Asumsi yang digunakan lembaga donor. aliran bantuan luar negeri memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan negara resipien. (4) Hambatan yang ditimbulkan oleh perilaku donor. dan prosedur. dan makin cepat terjadi saturasi (kejenuhan). Artinya. hambatan kapasitas absorpsi terjadi juga karena kurangnya dana. “aid saturation point”. tambahan sumber daya merupakan prasyarat untuk mengurangi keterbatasan kapasitas absorbsi. No.3 Titik saturasi bantuan Aliran bantuan (%PDB) Gambar 4. sampai pada titik saturasi tertentu. kapasitas absorpsi.45% dari PDB.18 Victora et al . Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. bisa berubah dalam jangka pendek. makin besar dan cepat peningkatan aliran bantuan.2. “the degree to which additional funds can be effectively spent”. “Dutch Disease Effect”). manfaat marginal dari pertambahan aliran bantuan akan menjadi negatif!20 Menurut de Renzio20. 09. Kapasitas Absorpsi Aliran Bantuan Oleh Sektor Publik De Renzio20 menyebut sejumlah kemungkinan faktor penyebab keterbatasan kapasitas absorpsi: (1) hambatan makroekonomi (misalnya.20 Tetapi benarkah demikian? Temuan kontroversial akhir-akhir ini menunjukkan. Reformasi struktural dan peningkatan kapasitas institusi yang dibutuhkan untuk memperbaiki manajemen dan melawan korupsi.

biasanya tidak memiliki pekerjaan. NGO= Non-Government Organization (Sumber: Marek et al)25 Menurut Marek et al . 25 contracting out di Senegal dan Madagaskar berhasil menurunkan malnutrisi dan memanfaatkan keterlibatan masyarakat. Di Madagascar. pelayanan nutrisi dikontrakkan kepada CNW. dengan indikator monitoring antara lain: (1) persen anak yang ditimbang setiap bulan di antara kohor penerima pelayanan. Finlandia. universitas Manajemen proyek Agetip Secaline keseluruhan (Project’s Unit) GIE= Groupement d’Interet Economique. Agetip ditunjuk melalui tender nonkompetitif sebagai pelaksana proyek keseluruhan atas nama pemerintah. Kanada. Senegal dan Madagascar mengontrak NGO untuk memberikan program pelayanan gizi komunitas dalam skala besar di daerah sangat miskin perkotaan maupun pedesaan yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta.. dan wanita menyusui. dengan kriteria eligibilitas yang jelas. Di Senegal. program DOTS untuk tuberkulosis) Pelayanan yang kuantitas kebutuhannya dapat didefinisikan dengan jelas (misalnya. Di Senegal dan Madagascar. 3 September 2006 . sebuah unit proyek dibentuk oleh pemerintah dengan nama Secaline sebagai pelaksana proyek keseluruhan. 09. CNW= Commnity Nutrition Worker. pelayanan nutrisi dikontrakkan kepada Groupement d’Interet Economique (GIE).25 Kedua proyek bertujuan memperbaiki keadilan akses pelayanan. Belanda. Tulis Marek. misalnya AS. Jenis Pelayanan yang Dikontrakkan pada Masing-Masing Proyek Jenis pelayanan yang dikontrakkan Pemberian pelayanan Pelatihan Senegal GIE Konsultan lokal. supervisi. Tabel 1. Tabel 2. yang dilatih oleh staf proyek (di Madagaskar). Di Madagaskar.25 tentang faktor-faktor yang melatari keberhasilan proyek contracting out di kedua negara tersebut. manajemen terpadu balita sakit) Pelayanan yang kuantitas kebutuhannya tidak dapat didefinisikan dengan jelas (misalnya. 6. Sebagai contoh. dan Inggris.. dan riset. seperti anak-anak. ANC) Lebih sulit dikontrakkan Pelayanan majemuk yang melibatkan berbagai penyakit (misalnya. Tabel 2 menyajikan. biasanya seorang wanita dari desa sasaran. lembaga pelatihan lokal GIE atau NGO Konsultan lokal. MTBS. Kedua proyek membuktikan bahwa pelayanan gizi preventif dapat dikontrakkan kepada tenaga kerja nonspesialis.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . pelayanan klinis) Korelasi pelayanan dengan hasil Ketersediaan petunjuk teknis Kompleksitas teknis Pelayanan yang berhubungan erat dengan hasil Pelayanan yang memiliki protokol yang jelas dan standar Pelayanan yang secara teknis sederhana (misalnya. konsultan lokal atau lembaga pelatihan lokal (di Senegal). (2) persen wanita yang menghadiri tes mingguan pendidikan kesehatan dan gizi. “In 114 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kunjungan rawat jalan) Pelayanan yang penyediaan maupun hasilnya sulit diukur Pelayanan tanpa protokol yang jelas dan standar Pelayanan yang secara teknis kompleks (misalnya. lembaga penelitian lokal. untuk memberikan pelayanan kesehatan primer. CNW). pelatihan. No. Jenis Pelayanan dan Kemampuannya untuk Dikontrakkan Karakteristik pelayanan Pelayanan tunggal versus pelayanan majemuk Tingkat kebutuhan Lebih mudah dikontrakkan Pelayanan tunggal (misalnya. Dalam 15 tahun terakhir. merumuskan dan membuat perjanjian kontrak dengan General Practitioners (GP) sebagai kontraktor independen. (2) Seleksi NGO/ GIE yang akan melakukan supervisi. Vol. Di Senegal. Sebagai contoh. et al. tinggal di lingkungan komunitas sasaran. wanita hamil. sejak 1948 National Health Service (NHS) di Inggris telah melakukan negosiasi. contracting pelayanan kesehatan mulai dilakukan di sejumlah negara berpendapatan menengah maupun rendah. Untuk memonitor kualitas pelayanan dibangun sistem informasi manajemen yang sederhana tetapi efektif.24 Demikian pula pendekatan kontrak pelayanan kesehatan merupakan model yang lumrah dilakukan dalam sistem managed care di AS . Kontrak yang diberikan kepada NGO dan GIE menyebutkan dengan eksplisit pekerjaan yang harus dilakukan dan kinerja yang diharapkan. Tiap-tiap GIE terdiri dari empat kawula muda. pelayanan nonklinis) PENGALAMAN CONTRACTING DI NEGARA LAIN Mengontrakkan pelayanan kesehatan merupakan hal lumrah di negara-negara maju. lembaga penelitian lokal Madagascar CNW - Supervisi Riset operasional NGO Konsultan lokal. NGO lokal dikontrak melalui tender. Proses bidding mencakup tiga area: (1) Pelaksanaan keseluruhan proyek. (3) Seleksi pekerja gizi komunitas ( Community Nutriition Workers. dengan fokus pemberian pelayanan untuk populasi rawan. imunisasi dengan antigen tunggal. jenis pelayanan yang dikontrakkan tidak hanya pelayanan kesehatan tetapi juga manajemen.

09.10. data M&E yang dikumpulkan CCSS tidak mampu memberikan kepada pembeli pelayanan informasi yang langsung berkaitan dengan tujuan kontrak maupun kinerja kontraktor. No. dan melatih petugas kesehatan dalam kesehatan reproduksi. 6 membandingkan biaya dan kualitas di dua rumah sakit pemerintah dan dua rumah sakit misi di pedalaman yang menerima hibah jumlah besar dari pemerintah. NGO memberikan pelayanan lebih banyak. (5) monitoring dan evaluasi (M&E).6 Pemberi pelayanan swasta dipilih melalui bidding kompetitif berdasarkan proposal teknis dan proposal keuangan.6 Di El Salva- dor. pemerintah El Salvador dan Guatemala melakukan eksperimen. can be mobilized and organized if the rules of the game are clear. tahun 1999 tiga buah direktorat kesehatan provinsi mengontrak NGO untuk mendistribusikan alat kontrasepsi. atas nama pemerintah. Mengontrakkan fungsi pelatihan petugas kesehatan kepada NGO terbukti efektif. klaim keberhasilan proyek di Senegal dan Madagascar tersebut harus ditanggapi dengan kritis.5. didasarkan pada cakupan populasi. penyedia Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bagaimanapun. Bukti awal menunjukkan.1 BEBERAPA ISU DALAM CONTRACTING Pengalaman penerapan contracting out di negara-negera berkembang beragam. Kesimpulannya. serta biaya out-of-pocket yang lebih rendah daripada pelayanan pemerintah. menggunakan desain eksperimen random . PVO) untuk penyediaan pelayanan kesehatan primer di daerah dengan cakupan pelayanan kesehatan formal rendah. cakupan imunisasi. (4) kompleksitas penentuan harga. pada tahun 1999 Departemen Kesehatan di Kamboja melakukan contracting out dan contracting in dengan NGO dan perusahaan swasta nirlaba untuk memberikan paket pelayanan kesehatan esensial di 12 rumah sakit distrik. Para kritikus mencatat beberapa masalah berkaitan dengan contracting out 6. understood. Abramson26 menyimpulkan. M&E yang dilakukan CCSS superfisial. for example. melakukan program kampanye pendidikan keluarga berencana.14. meskipun pendekatan kontrak bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk memecahkan masalah nutrisi yang dihadapi Afrika. This untapped pool of human resources.25 menyimpulkan. Di Republik Dominika. yang lebih tinggi. Di Asia Tenggara. 17 Temuan evaluasi menunjukkan. Vol. Sebuah lembaga riset independen. Temuantemuan Abramson menunjukkan. dengan adanya kompetisi. 40% of medical doctors are unemployed. maupun efisiensi penggunaan sumber daya. bukan pada efektivitas dan kualitas perlakuan. sebagaimana dikutip Waters et al . penggunaan pelayanan kesehatan. Project Management Unit (PMU) tidak menganalisis data yang diperoleh dari NGO. tetapi dengan biaya lebih banyak pula.. rumah sakit misi yang dikontrak pemerintah bekerja dengan lebih efisien. pendekatan tersebut memberikan alternatif yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan. 1. disebut COOPESALUD. Pertama. dan dibayar per kapita yang diliput sesuai harga bidding. institutions. kedua rumah sakit misi memberikan pelayanan dengan kualitas serupa dengan rumah sakit pemerintah. Di bagian Afrika lainnya. 3 September 2006 l 115 . PHRplus. melakukan evaluasi apakah contracting out memberikan pelayanan lebih banyak dan berkualitas untuk dana yang dikeluarkan. M&E perlu diperbaiki jika model contracting out akan diteruskan. especially in urban areas where unemployment rates are high. dan kualitas pelayanan.27: (1) biaya transaksi. Project Management Unit (PMU) membuat kontrak atas nama pemerintah dan Bank Pembangunan dengan NGO untuk penyediaan pelayanan kesehatan primer. tetapi dengan unit cost yang jauh lebih rendah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan many African countries. sebab secara metodologis kesimpulan tersebut ditarik berdasarkan survei cross-sectional tanpa kontrol. menandatangani kontrak dengan NGO dan organisasi swasta sukarela (Private Voluntary Organizaion. as well as local associations. In Madagsacar. Artinya. (2) kapasitas pemerintah. and the unemployed are often highly educated and can put their skills to the service of the community if they are given a chance. dan pembayaran dilakukan otomatis tanpa mengaitkan dengan kinerja. menurut teori. Indikator dalam kontrak tidak mengukur hasil secara kuantitatif. pelayanan yang dikontrakkan menghasilkan cakupan antenatal. Sebuah perusahaan swasta yang didanai oleh USAID melakukan supervisi terhadap kontrak.26 Abramson26 menganalisis M&E yang dilakukan CCSS. Marek et al. and traditional NGOs. and transparent”. Mills et al . Dana Asuransi Sosial Costa Rica (CCSS) membeli pelayanan kesehatan primer dari Koperasi Costa Rica. Di Amerika Tengah. competition for service providers exists. Selain itu ditemukan kelemahan M&E “internal” oleh kontraktor dan keengganan pemerintah untuk mempertahankan model. (3) kapasitas pemberi pelayanan. Eksperimen terkontrol menunjukkan.

dan penyedia pelayanan menggunakan kekuatan monopolinya untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi daripada jika terdapat sejumlah kompetitor. negosiasi. dengan demikian membuang-buang sumber daya. M&E merupakan instrumen vital dalam contracting. merupakan barier pendatang baru untuk memasuki maupun keluar dari pasar kompetitif. Mengontrakkan penyediaan jenis pelayanan tertentu. pendekatan kontrak memang bukan merupakan panasea (=obat mujarab bagi segala penyakit) untuk semua masalah kesehatan. Monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk menunjukkan keunggulan relatif contracting out. 3 September 2006 . Pemerintah dapat memanfaatkan model contracting out untuk penyediaan pelayanan kesehatan populasi rawan. maka sifat kompetisi terbatas. pemberi kontrak tidak memiliki informasi yang cukup tentang unit cost. Sebagai contoh. ataupun penyelesaian masalah perselisihan. Implikasi dari rendahnya kompetisi. Keenam. No. berkaitan dengan desain. dengan demikian memperbaiki keadilan akses pelayanan. misalnya pelayanan nonklinis atau pelayanan klinis yang tunggal dan sederhana. Keterbatasan kompetisi bisa terjadi karena faktor politis. pemberi pelayanan dapat menunjukkan perilaku oportunistik (“aji mumpung”). implementasi. dan biaya total pelayanan yang akan dikontrakkan.3 KESIMPULAN Contracting out merupakan praktik yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk menyediakan pelayanan tertentu daripada mengelolanya sendiri. pelaksanaan contracting out pelayanan preventif di Senegal dan Madagaskar. khususnya yang bertempat tinggal di daerah terpencil. tipikal di negara-negara berkembang dengan tingkat korupsi tinggi. Kelima. merupakan alasan yang rasional untuk mempertimbangkan pendekatan tersebut sebagai sebuah model alternatif untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan. 116 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan manajerial. menganggarkan 13%-17% dari anggaran total proyek untuk membiayai monitoring dan evaluasi. misalnya. dan lisensi regulasi.25 Ketiga. Akibat yang tidak diharapkan. jika jumlah penyedia pelayanan sedikit. pilih-pilih pasien (disebut adverse selection ). di banyak negara berkembang. pelayanan akan berusaha meminimalkan biaya produksi.Bhisma Murti: Contracting Out Pelayanan Kesehatan: . Keempat. maka pemerintah tidak dapat memperoleh efisiensi yang diharapkan dari contracting. ekonomi. Kontrak jangka panjang juga berarti mengunci danadana publik hanya untuk suatu penggunaan tertentu. dan membatasi fleksibilitas realokasi untuk keperluan lain pada keadaan tidak terduga (misalnya. Tetapi jika terjadi biaya transaksi yang tinggi. volume kerja. sehingga mendorong terjadinya efisiensi teknis. pemerintah tidak akan dapat menegakkan kontrak dengan efektif. biaya modal (startup cost) yang besar untuk memenuhi kebutuhan pelayanan sesuai perjanjian kontrak. serta mengaitkan pembayaran dengan kinerja penyedia pelayanan. Sebab contracting memisahkan dengan jelas peran sebagai pembayar/ pembeli dan peran sebagai penyedia pelayanan. Dengan menggunakan paradigma pasar terkelola (managed market). Kedua. secara teoretis mengontrakkan pelayanan publik kepada penyedia swasta membawa kepada efisiensi yang lebih baik daripada dilakukan sendiri oleh pemerintah. Tetapi fakta keterbatasan kapasitas absorpsi pemerintah di banyak negara berkembang dan tersedianya teori yang kuat.14 Jika pemerintah menaksir terlalu tinggi kebutuhan sumber daya yang diperlukan untuk menyediakan suatu pelayanan. bencana alam). Sebagaimana model penyediaan pelayanan kesehatan apapun. Penawaran kompetitif akan memaksa pemberi pelayanan untuk meminimalkan biaya dalam memproduksi pelayanan dengan kualitas yang sudah ditetapkan. Jadi diperlukan studi biaya sebelum perjanjian kontrak pelayanan. merupakan opsi yang feasible untuk penerapan tahap awal contracting out. Sebagai contoh. dan tidak memperoleh hasil strategis yang diharapkan. hubungan kontraktual biasanya bersifat jangka panjang agar biaya transaksi dapat ditekan rendah. M&E kontrak. kualifikasi pendidikan tinggi yang dibutuhkan dari petugas kesehatan profesional. penulisan. dalam contracting pelayanan bukan tidak mungkin terjadi hubungan yang tidak diinginkan atau “kolusi” antara pembeli dan penyedia pelayanan.. 09. terjadinya epidemi. maka pemerintah akan terlalu tinggi membayar kontraktor. Jika pemerintah tidak mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk M&E terhadap kinerja kontraktor.. sehingga mempengaruhi efisiensi dan keadilan alokasi sumber daya. kontrak akan diberikan kepada penyedia pelayanan yang suboptimal. atau mengendorkan semangat untuk berkinerja efisien. Vol.

J.. 364: 1563-48. The economics of health and health care. International Journal of Development. A. 19.P. Contracting Out of Health Services in Developing Countries. experiences.S. NJ: Prentice Hall.who. 1993. Diakses Oktober 2005. 24. Cercone. Successful contracting of prevention services: fighting malnutrition in Senegal and Madagascar. S. V... Mc. Marek. 17. S. Folland. D. 27. PHRPlus Project unded by USAID. Griffiths.org.. Achieving universal coverage with health interventions. J. NJ: Prentice Hall. Making sense of MDG costing. Dollar. A. Ruster J . 7. 1998.. 1999. Inc. Contracting for Health Services.. 23. A. Mills. Colombo.. 2003. 1998. Franchising in health: Emerging models.. Kurowski. 70: 175-84.. J. Travis. 2004. Marek. Diakses April 2006.uk... V. J. R. Washington DC. 2004. Economics of health care management.. 5. Health Policy and Planning. Health Policy and Planning. 2003.K.2006. R. K. P. Englewood Cliffs. Vandermoortele. Health Policy. R. Ndiaye. Vaughn. Banda. A. Contracting. E. 21. 15: 1.. Briefing Paper. The World Bank Group – Private Sector and Infrastructure Network. The World Bank Group. Harding. Oliviera-Cruz. London: Prentice Hall. A. Bryce.. www. A . 2004 22. Bitran. 2003. S.org. The economics of health and health care. 13(1): 32-40. 2006. Clewer. No. Inc.. Mills. L. 15: 67-86. www. Waters. Diallo. and growth: Revising the evidence. Waters.. Washington. 2. Rogo. S. Mills. R.R. 25. H. Gauri. 2000. 4.E. Liu. 3. Loevinsohn. Preker. and challenges in primary care. A. Separating financing from provision: evidence from 10 years of partnership with health cooperatives in Costa Rica. S.. M. F . C. H. Vol. D. UK: The University of Manchester. Hanson. Folland. B. Ruster. World Bank. C. A. Improving government health services through contract management: a case from Cambodia. 2003. Health Policy and Planning.. Aids.. Hatt. Englewood Cliffs. 20.. D. 9. 6. X. Policy Research Working Paper 3251. Goodman.. 2004. Sheaff. Abramson. Ranson. policies. DC: World Bank. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. R.. “Make or buy” decisions in the production of health care goods and services: new insights from institutional economics and organizational theory. 10. 2003.. 1999. Health Policy and Planning. 14. Scaling up versus absortive capacity: Challenges and opportunities for reaching the MDGs in Africa. 12.G. DC: The World Bank. 18(4): 404-11. Contracting for the delivery of primary health care in Cambodia: Desaign and initial experience of a large pilot-test. 2003. Bitran. 15. J. N. 2001. T. 2006. Health Policy and Planning. 19(5): 292-301. Overseas Development Institute. Lancet.. PHRplus Project (USAID funded). P. Journal of International Development.. T.. C.. 18(1): 74-83. 2004. Briceno.. J. 11. Washington. A.. 2006. Harding. 14(4): 382-9. 2004. K. A. Pavignani. Burnside..9(1):25-30. B. 13. Perkins. 09. Manchester.. Peters.. Hanson. Stano.. Health Policy and Planning. Expanding access to priority health interventions: A framework for understanding the constraints to scaling up. A. C. From compeition to cooperation: service agreements in primary care. Stano. Yamamoto. 1994. 18.. B. Health Policy and Planning.B. 2001. Private Participation in Health Services. Private health: Policy and regulatory options for private participation.. W. V. Bose. 2003.odi. Hussey. Pake. Hotchkiss..org. Oliviera-Cruz. De Renzio. P. The World Bank Group – Private Sector and Infrastructure Network. Yamamoto. Monitoring and evaluation of contracts for health service delivery in Costa Rica. Goodman. K. D. 2005. 26. http://www. I. Working with the private sector for child health. Soeters.a review of methods and experiences.C.phrplus. R. A.C. Contracting out for primary health services: evidence of its effects and a framework for evaluation. 8. 16.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan KEPUSTAKAAN 1. Victora. Preker. Rakotosalama. 18(2): 127-37. To contract or not to contract? Issues for low and middle income countries.14. 78(6): 779-790. 3 September 2006 l 117 . New York: Bureau for Development Policy... Roy. Bulletin of World Health Organization. Lloyd. C. Pricing health services for puirchasers. Delivery of priority health services: searching for synergies within the vertical versus horizobtal debate. Contracting-out of primary health care: Rationale and evidence from of El Salvador.

gubernur dan atau perangkat pusat di daerah yang mendapat pelimpahan wewenang. Kesimpulan: Pada era desentralisasi ini ternyata terjadi sentralisasi anggaran. No. material and child health. Dilakukan wawancara mendalam dan diskusi informal kepada Kepala Dinas.120 Artikel Penelitian DECISION SPACE DALAM PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK TAHUN 2006 DECISION SPACE IN MATERNAL AND CHILD HEALTH PROGRAM. 3 September 2006 . Provinsi DIY mempunyai decision space yang sedang dan Kabupaten PENGANTAR Status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan negaranegara tetangga seperti Singapura.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. and budgeted for maternal and child health services since 2006. Result: Centers. 03 September l 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati: Decision Space dalam Program .. Bantul. Berdasar konsep perimbangan keuangan pusat dan daerah1 dana dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. respectively. maternal and child health programmer. kesehatan ibu dan anak. Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan.. within deconcentration budget for maternal and child health programme. Daerah Istimewa Yogyakarta ABSTRACT Background: The central government recently drew up a budget from deconcentration fund for health sector in 2005. Vol. Dana tersebut akan dialokasikan dan didistribusikan kepada kabupaten/kota dan dipergunakan untuk membiayai kegiatan nonfisik.2 Aturan keuangan pusat dan daerah dalam satu sisi untuk mendukung pelaksanaan pembangunan 118 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Untuk itu. had strict or pressed decision space. cause they’re simply act as implementer of activities. sedang angka kematian bayi adalah 23 per 1000 kelahiran hidup. District. pemerintah mengalokasikan dana yang sangat besar dalam bentuk dana dekonsentrasi kepada provinsi. Subjects and methods: The subject of this study was budget of deconcentration fund for maternal and child health programme. Adanya aturan yang cukup rigid ini membuat kabupaten/kota tidak mempunyai decision space yang lebar. decision space Keywords: deconsentration fund. and head of public health service. Metode penelitian adalah case study di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY (Kabupaten Bantul). Subjek dan metode: Subjek penelitian adalah anggaran dana dekonsentrasi program KIA. In-depth interviews and informal discussions were conducted with head of health service of Bantul District. pada tahun 2006. selain itu juga merupakan program dalam MDG. Yogyakarta. Yogyakarta Special Territory. Departemen kesehatan telah menentukan menu utama kegiatan program kesehatan ibu dan anak serta penetapan alokasi dana untuk provinsi. The activities presented was not consistent with their need. Yogyakarta. Hasil: Pusat mempunyai decision space yang lebar. Bantul mempunyai decision space yang sempit. and determining allocation of its funds for provinces. karena mereka hanya sebagai pelaksana kegiatan saja. Departement of Health has established special menu for maternal and child health program activities. Kata Kunci: dana dekonsentrasi. dan lain lain. districts or towns have limited decision space. Malaysia. moderate and narrow decision space. This was consistent with the study conducted by PMPK FK UGM. decision space ABSTRAK Latar Belakang: Pada tahun 2006 program kesehatan ibu dan anak mendapat anggaran dana dekonsentrasi yang paling besar di antara program-program yang lain. Districts simply act as an implementer of activities. sehingga kegiatan yang ada tidak sesuai dengan kebutuhannya. Province of Yogyakarta Spesial Territory and District of Bantul have wide. Programmer KIA Dinas dan Kepala Puskesmas. Oleh karenanya. 09. Target yang akan dicapai untuk angka kematian ibu tahun 2015 adalah 125 per 100. Kabupaten mempunyai decision space yang sempit dalam anggaran dekon program KIA. Hal ini bisa dilihat dari draf Surat Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Pengelolaan Anggaran Dana Dekonsentrasi Program Upaya Kesehatan Masyarakat Dalam Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Tahun Anggaran 2006. Halaman 118 . pemerintah memberikan prioritas utama dalam akselerasi penurunan angka kematian ibu dan bayi. As a consequence of this strict rule. and the method was a case study in Bantul District.000 kelahiran hidup. Penentuan besaran dana dekonsentrasi dilakukan oleh menteri keuangan dengan memperhatikan pertimbangan menteri teknis dan atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh PMPK FK UGM. Conclusion: Centralization of budget occurred within decentralization era. 2006 Dewi Marhaeni Diah Herawati Dinas Kesehatan Bantul. Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai kegiatan nonfisik.

......” ( responden 1 ) “. 09. No. hampir setiap hari kami didatangi perangkat desa.. Hasil di atas didukung oleh beberapa pernyataan responden tentang dana dekonsentrasi program KIA. karena itu akan menunjukkan derajat desentralisasi mereka.. semua narasumber dari provinsi. program voucher bumil membingungkan.......... Decision space adalah berbagai macam fungsi dan kegiatan yang daerah tersebut mempunyai kewenangan yang dapat meningkatkan pilihan mereka. Artinya.. serta Koordinator KIA Puskesmas.. seperti Tabel 1. puskesmas maupun bumilnya sendiri untuk menanyakan program tersebut. serta bumil yang mampu. Bahkan ada beberapa kegiatan yang justru double funding.. kabupaten hanya sebagai pelaksana.....Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan nasional... seperti pernyataan di bawah ini: “. katanya provinsi sudah mensosialisasikan program voucher bumil ke BPS. dan mencarikan tempat untuk pertemuan. bahkan ada kegiatan yang pembiayaannya sudah ada dari gakin mendapat anggaran lagi dari dana dekonsentrasi... BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan kajian studi kasus dengan analisis deskriptif dengan lokasi penelitian di Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)...... kami hanya memanggil puskesmas sebagai peserta pelatihan.” (responden 3) “... untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan di kabupaten.. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan adanya dana dekonsentrasi yang sangat besar cukup mengejutkan bagi Kabupaten Bantul. puskesmas khan tempat pelayanan . Konsep perimbangan dimaksudkan agar terjadi keadilan dalam pembagian sumber daya bagi kepentingan nasional dan daerah. jika ada pelatihan provinsi sering mendadak memberi tahu. kabupaten benar-benar nggak punya kewenangan dalam dana dekonsentrasi ini... meskipun jumlah alokasi anggaran itu tidak dapat diketahui secara pasti....... Kita akan usulkan pada provinsi agar pengelolaan dana dekonsentrasi tahun depan tidak seperti sekarang.. karena pada waktu itu pemberitahuan dari pusat juga sangat mendadak dan waktu yang diberikan untuk usulan kegiatan juga tidak lama. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan...... Provinsi DIY sedang dan pemerintah pusat (Departemen Kesehatan) lebar. seperti voucher ibu hamil (bumil) yang sasarannya adalah keluarga miskin (gakin).. Kriteria atau dasar provinsi dalam membagi anggaran ke kabupaten tidak jelas... supaya kita tahu tujuan dan output yang diharapkan.. sedang di sisi lain untuk memfasilitasi proses pembangunan di daerah yang dijalankan di bawah skema otonomi daerah.......” (responden 4) “.... terlebih pada subkegiatan.... kegiatan yang ada tidak sesuai kebutuhan . Adapun variabel yang dinilai meliputi penentuan pagu anggaran dan menu kegiatan..” (responden 2) “ . Provinsi membagi anggaran mulai dari menu kegiatan.. Hal ini jelas menunjukkan bahwa derajat otonomi Kabupaten Bantul dalam dana dekonsentrasi program KIA kecil. tapi faktanya BPS di wilayah kami belum ada yang tahu tentang program tersebut. Dilakukan triangulasi kepada Programmer KIA Provinsi dan Kepala Puskesmas. semua yang ngatur provinsi. karena di lapangan voucher itu dibagikan juga kepada bumil yang mempunyai askeskin. subkegiatan bahkan sampai satuan anggaran.......... Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan saja.... karena hal ini akan menunjukkan derajat desentralisasi daerah......... dana dekonsentrasi yang besar itu pun ternyata masih belum dapat membiayai semua kebutuhan kegiatan dalam akselerasi angka kematian ibu dan bayi. pengaturan yang sedemikian rigid ini membuat kabupaten tidak dapat mengalokasikan untuk kegiatan yang menjadi kebutuhannya.. Vol... 3 September 2006 l 119 . Unit analisis adalah anggaran dana dekonsentrasi kabupaten.mengapa dinas provinsi selalu mendadak memberi tahu jika ada pelatihan.... Proses pengaturan oleh pusat tidak dimaksudkan untuk mengembalikan sentralisme otoriter. ” (responden 5) Jika dilihat dari peta decision space. dapat diketahui bahwa decision space Kabupaten Bantul sempit. Provinsi terpaksa membagi dana dekonsentrasi ke setiap kabupaten seperti itu.. Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Bossert3 yang digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan desentralisasi kesehatan di berbagai negara. Idealnya dalam era desentralisasi ini ruang keputusan dan kewenangan yang dimiliki daerah harus lebar.. selaku programmer di kabupaten saya pusing... Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam.. semua yang ngatur provinsi.. kita akan minta TOR-nya pada provinsi. sehingga saya sering dimarahi oleh teman puskesmas.. Dalam era desentralisasi ini idealnya daerah harus mempunyai kewenangan dan decision space yang luas dalam transfer anggaran kesehatan. sementara kegiatan lain tidak terbiayai. Objek penelitian adalah Kepala Dinas dan Programmer KIA..

Kabupaten hanya sebagai pelaksana kegiatan. Analyzing the Decentralization Of Health Systems in Developing Countries: Decision Space. Gambaran decision space dalam anggaran dana dekonsentrasi di kabupaten/kota dari enam provinsi tersebut sebagai berikut: tiga kabupaten mempunyai decison space sempit dua kabupaten mempunyai decision space sedang satu kabupaten mempunyai decision space lebar Provinsi mempunyai decision space sedang Adapun mapping tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. A. Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat & Pemerintah Daerah. Raja Grafindo Persada. Ada kegiatan yang double funding. Sulawsi Tenggara.2004. yang kegiatan itu diterima tidak sesuai dengan kebutuhan daerah. 2002. Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Di Indonesia. Pembagian anggaran untuk setiap jenis transfer anggaran sebaiknya mempunyai dasar atau kriteria yang jelas dalam bentuk formula agar unsur pemerataan dan keadilan dapat terpenuhi. Med.2006. 1998. sub kegiatan sampai satuan anggaran - Menentukan menu dan pagu anggaran - Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong dan Bengkulu Utara Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Parigi Moutong - Mengelola sepenuhnya (Block grant) - - Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh PMPK FK UGM4 di enam provinsi proyek DHS yaitu Provinsi Riau. 09.Dewi Marhaeni Diah Herawati: Decision Space dalam Program . Vol.. Bandung. Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Universitas Gadjah Mada. 3. Peta Decision Space Dana Dekonsentrasi Program KIA di Provinsi DIY Tahun 2006 Transfer Dana Dekon Program KIA Pusat Tabel 2.47(10). Sulawesi Utara. Penerbit Fermana. Menentukan kegiatan.. Menentukan pagu anggaran dan menerima usulan kabupaten Mengajukan usulan kegiatan dan anggaran Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan Menentukan pagu anggaran dan menerima usulan dari kabupaten Membuat usulan menu kegiatan KIA Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan - - - Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Sebagai pelaksana - - - Provinsi Bali Kabupaten Buleleng Sebagai pelaksana - KEPUSTAKAAN 1. Alokasi anggaran dekon diubah menjadi anggaran desentralisasi yang bisa langsung ke sektor kesehatan di kabupaten/ kota seperti DAK. 4. Soc. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pada era desentralisasi ini jelas terlihat adanya sentralisasi anggaran dalam dana dekonsentrasi program KIA. Sulawesi Tengah dan Bali. No. Kewenangan dan decision space yang dimiliki kabupaten sempit. sementara kegiatan yang lain tidak terbiayai. Saran Pemerintah pusat agar mendesain kembali mekanisme transfer dana dekonsentrasi yang lebih memberdayakan kabupaten. Bengkulu. T. Innovations And Performance. Tabel 1. 2. Bossert. 3 September 2006 . Undang-Undang No 33 Tahun 2004. 120 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Review Pasca Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Program KIA Di Provinsi Proyek DHS. sehingga derajat otonomi kabupaten dalam dana dekonsentrasi program KIA juga sempit. Peta Decision Space Dana Dekonsentrasi Program KIA di Provinsi DHS Tahun 2006 Provinsi/ Kabupaten Provinsi Riau Kabupaten Kampar Sempit Sebagai pelaksana Sedang Menentukan pagu anggaran dan menu kegiatan Menentukan pagu anggaran Lebar - Narrow Moderate Wide - - Provinsi - Kabupaten/Kota Pelaksana Merubah menu. Sci. Yani. Jakarta.

3 September 2006 l 121 . Metode: Studi kasus di dua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jawa Timur dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi dokumen mutu rumah sakit. All basic clinical governance standard: (1) clinical care accountability. ISO 9000. mutu pelayanan klinis Keywords: clinical governance. Kata Kunci: clinical governance. (6) professional development.1 Clinical governance timbul karena berbagai kenyataan buruk dalam sistem pelayanan kesehatan seperti tingginya kasus malpraktik. (4) resources allocation. moral dan berbasis pada bukti terkini dan terpercaya ( evidence-based medicine ). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. clinical care quality ABSTRAK Latar belakang: Peningkatan mutu pelayanan klinis melalui penerapan clinical governance dilakukan dengan cara memadukan pendekatan manajemen organisasi dan manajemen klinis secara bersama. were implemented and were supported by ISO 9000 quality management system. clinical governance muncul karena “putus-asanya” pemerintah dan manajer sarana pelayanan kesehatan di Inggris dalam mengimplementasi pendekatan total quality management (TQM) atau continuous quality improvement (CQI) untuk pelayanan kesehatan dengan alasan tidak dapat diterima secara luas karena para staf klinik menilai TQM dan CQI tersebut terlalu “berbau” manajemen tanpa identifikasi peran yang jelas untuk para kliniki dalam meningkatkan mutu tersebut. Sebagaimana sistem governance di manajemen. quality management system. dan (7) Pengukuran efektivitas. There is a possibility that hospital with a comprehensive quality management system like ISO 9000 has succeeded to put in place the basic concept of clinical governance into practice. Tujuan: Menilai apakah sistem manajemen mutu ISO 9000 di rumah sakit dapat mendukung penerapan konsep dasar clincial governance dan mendukung terlaksananya kegiatan-kegiatan clinical governance. sistem manajemen mutu. (2) policy and strategy. Result: The two hospitals had comparable result. saat ini dikembangkan sistem governance di bidang klinik. (3) organizational structure. Hasil: Kedua RSUD menunjukkan hasil yang mirip. PENGANTAR Rumah Sakit (RS) adalah lembaga yang terutama memberikan pelayanan klinik. secara umum telah diterapkan dan mendapat dukungan dari sistem manajemen mutu ISO 9000. (2) Kebijakan dan strategi.128 Artikel Penelitian PENERAPAN CLINICAL GOVERNANCE MELALUI ISO 9000: STUDI KASUS DI DUA RSUD PROVINSI JAWA TIMUR CLINICAL GOVERNANCE IMPLEMENTATION USING ISO 9000: CASE STUDIES IN TWO PUBLIC HOSPITALS IN EAST JAVA Hanevi Djasri Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan. Conclusion and suggestion: ISO 9000 quality management system implementation with focus to clinical care can help to present clinical governance in hospital. No. (5) Komunikasi. yaitu bahwa setiap upaya medis harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Objective: Determine the impact of an ISO 9000 quality management system implementation on the clinical governance implementation and on clinical quality improvement activity in the hospital. sehingga mutu pelayanan klinik merupakan indikator penting bagi baik-buruknya RS. Pengembangan ini dipelopori oleh National Health Service (NHS) Inggris pada dekade 90-an dengan menggunakan istilah clinical governance.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. Kesimpulan dan saran: Penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000 secara sungguh-sungguh di bidang pelayanan klinis dapat membantu terwujudnya clinical governance di rumah sakit. yaitu bahwa upaya peningkatan mutu harus dilaksanakan secara sistematik. Interview and document analysis were used for data collection. Method: Case study in two public hospital at East Java Province. (4) Alokasi sumber daya. ISO 9000. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 121 . (2) continuous quality improvement. (3) Struktur organisasi. (6) Pengembangan dan pelatihan profesional. Seluruh standar clinical governance yang terdiri dari standar: (1) Akuntabilitas pelayanan klinis. etik. 09. Vol. Terdapat kemungkinan bahwa rumah sakit yang telah memiliki sistem manajemen mutu yang komprehensif seperti sistem manajemen mutu ISO 9000 telah berhasil menerapkan dasar-dasar clinical governance. Yogyakarta ABSTRACT Background: Clinical governance implementation to improve clinical quality can be done through integration of organizational management and clinical management. komprehensif dan berkesinambungan. Baik dan buruknya proses pelayanan klinik dipengaruhi oleh penampilan kerja para dokter. FK UGM. Di samping itu. (5) communication. Analisis dan penyajian hasil dilakukan secara deskriptif.2 Konsep dasar dari clinical governance adalah: (1) accountability. (7) effective measurement. perawat dan tenaga klinik yang lain.

dan mekanisme untuk memonitor outcome pelayanan. Istilah “clinical governance” disetiap pertanyaan diganti dengan istilah “peningkatan mutu pelayanan klinik” karena tidak seluruh staf telah memahami arti dari clinical governance (sehingga istilah clinical governance dan peningkatan mutu pelayanan klinik digunakan secara bergantian dalam artikel ini). praktik berdasarkan evidens.4 Di Indonesia belum terdapat catatan resmi tentang RS yang telah menerapkan konsep dasar clinical governance . manajemen risiko klinik. Namun apabila dilihat bahwa prinsip dasar dalam penerapan clinical governance adalah melalui pengembangan sebuah sistem manajemen mutu. yang mengisyaratkan agar setiap upaya medis selalu didasarkan pada standard tertinggi yang diakui secara profesional. yaitu RS yang telah memiliki sistem manajemen mutu yang komprehensif. 2) kebijakan dan strategi. manajemen kinerja klinik yang buruk. apakah sistem manajemem mutu ISO 9000 dapat memberikan dasar-dasar bagi terlaksananya kegiatan clinical governance.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 (3) high quality standard of care . masing-masing standar terdiri dari 2-5 pertanyaan. Hasil studi ini diharapkan dapat digunakan oleh para pengambil keputusan di RS dalam menetapkan kebijakan implementasi clinical governance maupun implementasi sistem manajemen mutu ISO 9000. Standar tersebut terdiri dari: 1) akuntabilitas pelayanan klinik. maka dilakukan triangulasi dengan membandingkan hasil yang didapat pada wawancara terhadap data yang terdapat dalam dokumen dan rekaman/catatan RS yang terkait kegiatan clinical governance. yaitu para staf RS yang bertanggung jawab (key person) terhadap satu atau lebih unit pelayanan klinik (pelayanan klinik yang dimaksud adalah pelayanan: rawat jalan. dengan cara memadukan pendekatan manajemen organisasi dan manajemen klinik secara bersama-sama5. 5) komunikasi. Secara spesifik. No. 4) alokasi sumber daya yang dibutuhkan. kamar bersalin. termasuk pelayanan klinik.3 Kegiatan untuk menerapkan konsep dasar clinical governance terdiri dari kegiatan: audit klinik. radiologi. rawat inap. 3) struktur organisasi. Vol. ketua komite medis. Subjek atau peserta wawancara mendalam juga dipilih secara purposive. gawat darurat. belum diketahui bagaimana cara penerapannya. dokter spesialis. dan (4) memfasilitasi dan menciptakan lingkungan yang menjamin terlaksananya pelaksanaan pelayanan kesehatan yang bermutu. perawat senior dan wakil manajemen (management representatif). yang mendukung peningkatan mutu seluruh pelayanan. melalui penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000. Studi kasus di dua buah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dilakukan untuk menilai apakah sistem manajemen mutu ISO 9000 yang dikembangkan di sebuah RS dapat mendukung penerapan konsep dasar clincial governance. melalui pengumpulan data yang bertumpu pada wawancara mendalam serta analisis dokumen. atau apabila ada. 6) pengembangan dan pelatihan profesional. maka terdapat kemungkinan bahwa ada beberapa RS di Indonesia yang telah menerapkan dasar-dasar clinical governance. kamar bedah. kepala atau koordinator unit pelayanan klinik. berada dilokasi yang relatif dekat. Dokumen terutama berasal dari dokumen-dokumen ISO 9000 milik RS yang terdiri dari dokumen manual mutu. 7) pengukuran efektivitas. sehingga memiliki sumber daya dan pasar yang mirip. Untuk memperkuat pengambilan data yang diperoleh dari wawancara mendalam. ICU. laboratorium. Dasar pemilihan keempat RS tersebut adalah sama-sama RS milik pemerintah daerah (kabupaten/ kota) dengan kelas yang sama. Data yang berasal dari wawancara dan analisis dokumen diolah secara kualitatif untuk menilai sejauh mana konsep dasar clinical governance di dua RSUD tersebut telah diterapkan dan sejauh mana sistem manajemen mutu ISO 9000:2000 membantu penerapan tersebut.6 Instrumen wawancara ini terdiri dari 7 standar. pengukuran outcome. l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Data RS di Indonesia yang telah memiliki sertifikasi ISO 9000 tidak tersedia. Keduanya terletak di Provinsi 122 Jawa Timur dan telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000 untuk seluruh unit pelayanannya. farmasi. yaitu RSUD A dan RSUD B. sehingga pemilihan RS yang telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000 pada penelitian ini dipilih secara purposive sebanyak dua buah RSUD. dokumen prosedur kerja dan dokumen rekaman mutu. 09. Instrumen untuk wawancara dikembangkan dari standard clinical governance untuk Western Australian Health Service. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penilaian penerapan konsep dasar clinical governance dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. dan sebagainya) yang terdiri dari: direktur. menyediakan data klinik dengan mutu yang baik. 3 September 2006 . Setiap pertanyaan terdiri dari pertanyaan untuk menilai sejauh mana standar clinical governance telah tercapai dan apa peran dari sistem manajemen mutu ISO 9000.

09. Vol. Akuntabilitas pelayanan klinik Tanggung jawab dari direktur untuk peningkatan mutu pelayanan klinik (menerapkan clinical governance) tidak terlihat secara khusus. Penilaian penerapan standar clinical governance dan sejauh mana sistem manajemen ISO 9000 berperan dalam hal tersebut di kedua RSUD disajikan sebagai berikut: Standar 1.5 tahun lalu serta telah mendapatkan sertifikat sejak 6 bulan lalu dan RSUD B telah menerapkan sistem manajemen ISO 9000 sejak 1 tahun lalu dan pada saat penelitian dilakukan sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan sertifikat. Tanggung jawab manajemen Visi. No. Pemetaan tersebut muncul setelah RSUD menerapkan ISO 9000. namun terdapat tanggung jawab direktur untuk meningkatkan mutu pelayanan secara umum. kemungkinan besar karena kedua RSUD menggunakan konsultan ISO 9000 yang sama. RSUD A telah menerapkan sistem manajemen ISO 9000 sejak 1. Staf khusus yang diberikan tanggung jawab untuk menerapkan dan mengorganisir kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik (penerapan clinical governance) terdapat di komite medis yaitu di panitia peningkatan mutu. hanya terbatas pada kegiatan audit klinik dan penyusunan standar pelayanan medis yang bersifat evidence-based. Misi dan Kebijakan Mutu Komunikasi internal Sasaran Mutu Job Descreption Rapat tinjauan manajemen Manajemen sumber daya Pengelolaan pegawai Penetapan kompetesi karyawan Pendidikan dan pelatihan Pemeliharaan sarana Sanitasi lingkungan Pengukuran. 3 September 2006 l 123 . Staf ini masih merangkap tugas sebagai staf medis fungsional. Bila dilihat dari pemetaan proses pelayanan yang menjadi dasar untuk merencanakan peningkatan mutu. ISO 9000 hanya membakukan dokumen-dokumen yang diperlukan. maka sebenarnya peningkatan mutu pelayanan klinik telah menjadi kegiatan utama dan menjadi tanggung jawab direktur (Gambar 1: Peta Proses Pelayanan RSUD). Kedua RSUD menunjukkan hasil yang hampir sama.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan di dua RSUD di Provinsi Jawa Timur pada bulan Juli-Agustus 2005. Uraian tugas dari panitia peningkatan mutu ini tidak mencakup tanggung jawab penerapan dan pengorganisasian dari seluruh kegiatan clinical governance. analisa dan perbaikan Evaluasi data dan pelaporan Audit mutu internal Pengukuran kepuasan pasien Penanganan pasien pulang paksa Tindakan koreksi dan pencegahan Proses Realisasi Pelayanan Kesehatan Pelayanan radiologi Pelayanan radiologi Pelayanan laboratorium Pelayanan laboratorium Persyaratan pelanggan Pelayanan kamar operasi Pelayanan adm terpadu Pelayanan rawat jalan Pelayanan ICU Pelayanan rawat inap Penanganan jenasah Pelayanan rawat darurat Pelayanan kamar operasi Pelayanan adm terpadu Kepuasan pelanggan Perbaikan mutu berkelanjutan Gambar 1: Peta Proses Pelayanan di RSUD Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Panitia peningkatan mutu terbentuk sejak RSUD mengikuti program akreditasi KARS Depkes RI beberapa tahun lalu.

radiologi. dan prosedur untuk mendapatkan informasi terkini seperti protokol medis ataupun clinical pathways . 124 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sebenarnya ISO 9000 memiliki pesyaratan tentang pengendalian produk/pelayanan tidak sesuai (terkait dengan manajemen risiko) namun di kedua RSUD hal ini baru diterapkan untuk pelayanan nonklinik saja. perawat. dan kliniki lain) serta perwakilan dari staf manajemen telah tersusun sejak sebelum penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000. dan prosedur pengukuran sasaran mutu pelayanan klinik. 09. namun telah terdapat dokumen kebijakan dan strategi untuk peningkatan mutu pelayanan secara umum termasuk peningkatan mutu pelayanan klinik. manajemen komplain pasien dan penyusunan feedback dari kuesioner pasien. Kebijakan dan prosedur yang mendukung penerapan pilar ini antara lain: prosedur • • penyusunan standar pelayanan medis yang telah mempertimbangkan adanya evidencebased dan standar pelayanan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. namun belum terdapat prosedur untuk pengukuran kinerja klinik untuk masing-masing staf. Struktur komite medis yang terdiri dari para kliniki (dokter. Telah terdapat prosedur untuk orientasi. sentinel event dan analisisnya menggunakan root cause analysis atau kerangka kerja yang lain. Penerapan pilar ini telah dimulai sejak proses akreditasi RS. akan tetapi belum terdapat prosedur untuk: audit klinik ataupun review rekam medis. antara lain adanya prosedur: pendokumentasian persetujuan pasien (consent). rawat inap. Namun secara umum uraian tugas dan tanggung jawab kegiatan peningkatan mutu pelayanan ada pada wakil manajemen (management representative) yang bertugas menjamin kesesuaian dan efektivitas kegiatan peningkatan mutu. Beberapa kebijakan dan prosedur telah memperlihatkan penerapan pilar ini. Struktur organisasi Meskipun telah ada komite medis yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu pelayanan klinik (penerapan clinical governance) dengan uraian tugas yang menggambarkan tanggung jawab komite medis yang cukup luas dalam penerapkan konsep clinical governance namun tidak seluruh kegiatan clinical governance masuk di dalam uraian tugas tersebut. namum belum terdapat prosedur untuk melepaskan informasi pasien. sedangkan proses ISO 9000 hanya membakukan format penulisan yang berbeda dan dorongan yang lebih kuat untuk pelaksanaannya. namun keempat pilar dari kerangka kerja clinical governance secara menyeluruh belum diterapkan.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 Uraian tugas dan tanggung jawab untuk kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik terdapat di seluruh unit pelayanan klinik (rawat jalan. termasuk di unit-unit pelayanan klinik. • Pengukuran dan evaluasi kinerja klinik. Manajemen risiko klinik. 3 September 2006 . Pengembangan dan pengelolaan staf profesional. Di kedua RSUD ini belum terdapat kebijakan dan prosedur yang terkait dengan manajemen risiko klinik seperti: prosedur pelaporan adanya clinical incident. Beberapa prosedur yang ada tersebut telah disusun sejak proses akreditasi. Komite medis melaporkan dan memberikan rekomendasi kepada direktur untuk perbaikan mutu pelayanan klinik. Uraian tugas dan tanggung jawab peningkatan mutu pelayanan termasuk di pelayanan klinik disusun setelah penerapan ISO 9000. dan prosedur identifikasi risiko klinik beserta analisis dan tindak lanjutnya. dan sebagainya). Kegiatan ini telah rutin dijalankan oleh komite medis jauh sebelum penerapan ISO 9000. Vol. laboratorium. yaitu: • Fokus kepada pelanggan. Kebijakan dan strategi Meskipun belum terdapat dokumen kebijakan dan strategi yang dikhususkan untuk penerapan clinical governance. membuka informasi kepada pasien dan keluarga mengenai serious clinical incident atau sentinel events. dan prosedur kredensial. Standar 2. No. Keterlibatan para staf dalam kegiatan clinical governance terbatas pada kegiatan yang telah berjalan. kamar operasi. Namun lebih dikuatkan dengan penerapan ISO 9000. Standar 3. Namun dengan ISO 9000 keterlibatan tersebut menjadi lebih baik karena adanya prosedur komunikasi internal yang lebih baik. training staf. Kebijakan dan strategi tersebut telah sesuai/ relevan dengan tujuan dan sasaran dari organisasi. yaitu kegiatan audit klinik dan penyusunan standar praktik berdasarkan evidence-based . Kebijakan dan strategi ini disusun pada saat implementasi ISO 9000. Penerapan pilar ini khususnya untuk pengukuran dan evaluasi kinerja klinik (sasaran mutu pelayanan klnik) banyak didorong penerapan ISO 9000.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Standar 4. Alokasi sumber daya yang diperlukan Kedua RSUD telah menyediakan sumber daya yang ditetapkan untuk mendukung kegiatan peningkatan mutu pelayanan klinik, namun sumber daya dalam bentuk informasi (sistem informasi) masih dalam proses pengembangan, sehingga tidak seluruh data-data yang terkait dengan pelayanan klinik dapat diperoleh. Sistem manajemen ISO 9000 berperan dalam memberikan kerangka kerja yang jelas untuk menetapkan sumber daya yang dibutuhkan. Standar 5. Komunikasi Belum terdapat bukti bahwa kebijakan peningkatan mutu pelayanan klinik dan strategi pencapaiannya dikomunikasikan dengan tepat kepada para staf dan juga kepada publik (masyarakat/pasien). Hal ini berakibat tidak seluruh staf mengerti dan mematuhi kewajiban untuk menerapkan clinical governance . Sebenarnya dokumen mutu ISO 9000 milik RS temasuk dokumen rekaman mutu ISO 9000 dapat menjadi referensi mengenai penerapan peningkatan mutu pelayanan klinik yang ada di RS. Standar ISO 9000 sebenarnya mensyaratkan agar RS mempunyai sistem komunikasi yang diatur dengan baik untuk memastikan bahwa konsep peningkatan mutu pelayanan (termasuk pelayanan klinik) telah di sosialisasikan kepada seluruh staf RS, namun komunikasi belum dilakukan kepada para stakeholders dan konsumen (pasien/keluarga). Standar 6. Pengembangan dan pelatihan profesional Seluruh staf klinik, terutama dokter spesialis telah mendapatkan informasi yang cukup mengenai pelatihan ataupun pengembangan profesi, namun keputusan untuk menghadiri kegiatan tersebut diserahkan kepada mereka dan RS hanya mendukung dalam bentuk pemberian izin. Pelatihan dan pengembangan profesional yang diikuti umumnya mengenai pengetahuan klinik dan sangat jarang mengenai manajemen klinik. Tidak tersedia catatan tentang keikutsertaan dalam program pelatihan dan pengembangan serta tindak lanjut sesudah pelatihan, yang tersedia hanya catatan kehadiran untuk perawat. Terdapat program orientasi bagi staf baru, namun program ini terbatas, tidak meliputi para dokter dan dokter spesialis. Materi program orientasi juga tidak memuat konsep clinical governanace. Program pengembangan dan pelatihan telah ada sejak akreditasi RS, namun dengan penerapan ISO

9000 maka program ini ditata ulang kembali sesuai dengan klausul ISO 9000 tentang sumber daya manusia termasuk penentuan program pelatihan dan monitoring dan evaluasinya bagi para staf. Standar 7. Pengukuran efektivitas Kedua RSUD telah memiliki sasaran mutu untuk setiap unit pelayanannya, termasuk pelayanan klinik. Beberapa indikator klinik yang digunakan seperti: angka kematian, waktu tunggu (respon time) di instalasi gawat darurat, ketepatan hasil pemerikasaan di laboratorium, dan angka infeksi nasokomial di rawat inap. Sasaran mutu pelayanan klinik tersebut telah ditentukan targetnya dan diukur pencapaiannya secara berkala. Hasil pencapaian dianalisis untuk kemudian disusun rencana tindak lanjut, sehingga proses countinuous improvement berjalan. Hasil dari pencapaian kinerja klinik ini telah dimasukkan ke dalam laporan tahunan kegiatan RS, namun belum diletakkan secara khusus pada bagian clinical governance. Peran ISO 9000 adalah dengan mewajibkan seluruh unit/bagian memiliki sasaran mutu dengan target pencapainnya masing-masing, dengan adanya kewajiban menjalankan proses audit internal maka ISO 9000 mendorong adanya laporan dan tindak lanjut dari pencapaian sasaran mutu atau indikator kinerja. PEMBAHASAN Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di RS Pandangan RS terhadap mutu pelayanannya telah mengalami evolusi, yang semula mutu pelayanan tidak diperhatikan (era tanpa mutu) hingga kini menjadi hal yang utama (era manajemen mutu terpadu) yaitu keterlibatan manajemen puncak sangat besar dan menentukan. Era ini dapat didefinisikan sebagai sistem manajemen strategi dan integratif yang melibatkan semua manajer dan karyawan, serta menggunakan metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperbaiki secara berkesinambungan proses-proses RS agar dapat memenuhi dan melebihi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan, dikenal sebagai TQM. Rumah sakit (RS) yang benar-benar akan melaksanakan TQM harus berusaha menyusun sistem manajemen mutu yang baik yang dapat dikembangkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengadopsi standar sistem manajemen mutu ISO 9000. Standar ini telah dikembangkan sejak tahun 1970-an hingga diterbitkannya standar sistem manajemen mutu versi pertama yaitu standar ISO 9000:1987 yang memuat peraturan dan model

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l

125

Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000

yang ketat dan cepat untuk dapat diikuti oleh sebuah organisasi.7 Versi terbaru standar sistem manajemen mutu yaitu standar ISO 9000:2000 didasarkan pada delapan prinsip manajemen mutu yang berintegrasi dalam klausul-klausulnya8 dan dapat diterapkan di RS, yaitu: fokus kepada pelanggan, kelangsungan hidup RS sangat tergantung bagaimana pandangan pelanggan/pasien terhadap RS. Perlu dipastikan adanya keseimbangan antara kepuasan pelanggan dengan pihak lain yang berkepentingan, seperti pemilik, karyawan, pemasok, pemodal, masyarakat, dan negara. Kepemimpinan, merupakan kemampuan dari pemimpin RS untuk menciptakan visi, serta menciptakan dan memelihara lingkungan internal agar semua staf tetap terlibat dalam mencapai sasaran. Keterlibatan staf, dalam semua tingkatan untuk aktif dalam melihat peluang dalam peningkatan kompetensi, pengetahuan, dan pengalaman. Pendekatan proses, didefinisikan sebagai kumpulan aktivitas yang saling berhubungan atau mempengaruhi yang terdapat perubahan dari input menjadi output. Ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu apakah input memadai, apakah proses yang dilakukan efektif dan efisien dan adakah langkah penambahan nilai dari input, serta apakah output yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan. Pendekatan sistem untuk pengelolaan, sistem merupakan kumpulan dari proses, sehingga diperlukan pengidentifikasian, pemahaman, dan pengelolaan sistem dari proses yang saling terkait untuk mencapai dan meningkatkan sasaran organisasi. Peningkatan berkesinambungan, untuk menjamin adanya peningkatan yang terus-menerus setelah terlebih dahulu dilakukan proses stabilisasi terhadap hasil yang telah dicapai. Pembuatan keputusan berdasarkan fakta, keberadaan data dan informasi yang akurat, dapat dipercaya, mudah diakses, serta kegiatan menganalisis data dan informasi dengan menggunakan metode dan teknik statistik yang benar akan membuat keputusan yang tepat. Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok, dimulai dengan mengidentifiaksi dan menyeleksi pemasok, hingga memberikan masukan serta menghargai adanya peningkatan presetasi dari pemasok. Penerapan Clinical Governance melalui sistem manajemen ISO 9000 Meski sebelumnya telah disinggung “putus asanya” pengambil keputusan dan manajer sarana pelayanan kesehatan di Inggris untuk

mengimplementasikan TQM pada pelayanan kliniknya, namun apabila dilihat dari delapan prinsip manajemen mutu di atas dan membandingkannya dengan prinsip dasar dan standar clinical governance , maka sebenarnya pengambil keputusan dan manajer tersebut bukannya “putusasa” namun melakukan modifikasi TQM/sistem manajemen mutu ISO 9000 secara lebih detail agar dapat diimplementasikan dalam bidang klinik dan menjadi dasar dari konsep clinical governance. Hal ini juga terlihat dari hasil penelitan di atas yang memperlihatkan peran sistem manajemen mutu ISO 9000 dalam penerapan dasar-dasar clinical governance. Penerapan clinical governance membutuhkan perubahan budaya dan juga struktur organisasi serta dukungan dari para praktisi, juga perlu adanya sumber daya untuk mendukung para praktisi terlibat dalam kegiatan peningkatan mutu yang tidak saja menggunakan pedekatan peningkatan mutu tradisional (misalnya dengan pelaksanaan audit atau pemberian insentif) tetapi juga menggunakan pendekatan yang mendorong pembelajaran organisasi dan saling berbagi pengalaman.9 Seluruh konsep tersebut: perubahan budaya, keterlibatan seluruh staf, dukungan sumber daya dan pembelajaran organisasi merupakan konsepkonsep yang juga diterapkan di ISO 9000. Untuk membangun clinical governance juga diperlukan adanya proses pelayanan klinik dengan ciri: fokus kepada pasien, menggunakan pendekatan peningkatan mutu yang terintegrasi, melibatkan team work multidisplin yang efektif, saling berbagi informasi, dan adanya budaya keterbukaan dan saling mendukung untuk belajar dari kesalahan10; Berbagai konsep pelaksanaan proses tersebut pada dasarnya juga menjadi proses yang dipersyaratkan oleh standar ISO 9000. Secara jelas peran ISO 9000 dapat dilihat dari hasil penelitian di atas dan penerapan clinical governance menurut pendapat Halligans dan Donaldson2 sebagai berikut: Membangun kepemimpinan yang efektif: yaitu dengan menyusun visi, nilai, dan metode untuk meningkatkan mutu pelayanan klinik serta disosialisasikan dengan efektif ke seluruh staf (klinik). Di samping itu, juga dilakukan dengan memberdayakan team-work, membangun budaya keterbukaan dan budaya untuk selalu mempertanyakan/mencari kebenaran, serta memastikan bahwa hal-hal tersebut di atas terlaksana dalam kegiatan sehari-hari dalam setiap pelayanan kesehatan.

126

l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam penerapan standar clinical governance dalam akuntabilitas pelayanan klinik, yaitu dengan menegaskan tanggung jawab pemimpin (direktur) dalam kegiatan peningkatan mutu serta dengan menunjuk wakil manajemen (management representatif) yang bertanggung jawab dalam teamwork peningkatan mutu dan efektivitas sistem manajemen mutu termasuk budaya keterbukaan dan integrasi kegiatan mutu dalam kegiatan sehari-hari. Merancang pelayanan yang baik: adalah suatu hal yang penting untuk melihat dan mengevaluasi kembali bagaimana proses pelayanan klinik yang selama ini diberikan. Rumah Sakit (RS) yang akan mewujudkan clinical governance dapat memulai dari sesuatu yang baru atau memodifikasi pelayanan kepada pasien secara spesifik. Hal ini termasuk bagaimana melihat persyaratan pasien, bagaimana proses pelayanan kesehatan dirancang untuk memenuhi persyaratan tersebut (tanpa menyampingkan persyaratan operasional), dan bagaimana rancangan dan proses pelayanan tersebut dapat dikoordinasikan serta diuji-coba untuk memastikan tidak ada masalah. Bagian integral lainnya adalah proses manajemen untuk menilai bagaimana rancangan tersebut dapat dievaluasi dan diitingkatkan kinerjanya. Peran ISO 9000 dalam membangun akuntabilitas pelayanan klinik juga dilakukan dengan memetakan proses pelayanan. Melalui peta proses pelayanan tersebut dapat dilihat dan dievaluasi proses pelayanan klinik yang diberikan, untuk selanjutnya dapat ditingkatkan kinerja pelayanan klinik. Menyusun rencana mutu: clinical governance tidak dapat dilakukan hanya dengan mengerjakan apa yang “kelihatan/kira-kira” benar. Rumah Sakit (RS) harus memiliki rencana untuk meningkatkan mutu pelayanan kliniknya, rencana tersebut harus berdasarkan penilaian yang objektif akan kebutuhan pelanggan/pasien, risiko klinik, persyaratan dari regulasi yang ada, kemampuan staf, kebutuhan pelatihan, dan perbandingan terhadap kinerja pelayanan klinik yang telah diberikan selama ini dengan standar kinerja yang terbaik. Fokus kepada pasien: RS harus memahami bagaimana informasi dan umpan-balik yang berasal dari lapangan terutama dari pasien dapat digunakan untuk mengukur dan meningkatkan mutu pelayanan. Peran serta pasien akan mempengaruhi proses yang kemudian akan dapat meningkatkan mutu/kinerja, sehingga seluruh staf harus mengambil fokus kepada

pasien dalam setiap pekerjaan mereka, mulai dari dokter yang mendiskusikan pilihan terapi kepada pasien, perawat yang memastikan bahwa pasien dapat mengerti mengenai tujuan perawatan yang diberikan, hingga manajer RS yang mengalokasikan waktu di bangsal untuk melihat pelaksanaan pelayanan klinik diberikan dan mendengar komentar pasien. Hasil penelitian di atas juga memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam kedua hal ini, terutama dengan mendukung standar kebijakan dan strategi dari peningkatan mutu pelayanan klinik/clinical governance, yaitu dengan mengharuskan RS memiliki kebijakan mutu yang menjadi acuan dalam penyusunan sasaran atau target mutu di setiap unit pelayanan termasuk pelayanan klinik. Penetapan sasaran ini menggunakan pendekatan fokus kepada pasien (persyaratan pelanggan) dan regulasi yang ada. Orang biasa yang mengerjakan hal luar biasa: Para staf yang bekerja di RS harus menunjukkan kemampuan untuk memberikan konstribusi yang terbaik secara individu maupun bersama dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Salah satu langkah untuk menuju hal ini adalah dengan pendidikan dan pelatihan. Namun tidak hanya sekedar hal tersebut, perlu ada upaya untuk memastikan bahwa para staf merasa di hargai, ada peran mereka dalam keputusan kebijakan mengenai clinical governance, dan manajemen terbukti telah mencoba untuk mengatasi masalah-masalah mereka serta memperhatikan mereka dengan mencari ideide untuk melakukan peningkatan dan inovasi dalam bidang pelayanan klinik. Para staf juga memerlukan dukungan teknis yang tepat, misalnya akses kepada evidence-based, terakhir perlu membangun budaya yang bebas dari budaya saling menyalahkan dan mendorong kepada penilaian terbuka terhadap kesalahan dan kegagalan. Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa ISO 9000 berperan dalam penerapan standar clinical governance untuk pengembangan dan pelatihan profesional, yaitu dengan mengharuskan RS menilai, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pengembangan dan pelatihan bagi para stafnya. Di samping itu, ISO 9000 berperan dalam membangun keterlibatan staf dalam peningkatan mutu, yaitu melalui kebijakan yang dituangkan didalam dokumen manual mutu yang mengatakan bahwa seluruh staf turut terlibat dalam upaya peningkatan mutu. Namun demikian, penelitian di atas belum mendapatkan bukti bahwa ISO 9000 dapat berperan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l

127

1. 2000. mengukurnya secara berkala. L. Memastikan adanya keberhasilan: kemampuan untuk mengukur mutu dari pelayanan yang dilakukan adalah hal penting dalam implementasi clinical governance. up to date. 16-18 Desember 2003 4. Implementing clinical governance: turning vision into reality. 2001. Clinical governance in health care practice.4. Trisnantoro. 2000. Suardi. 3. Seminar Menuju Pelayanan Rumah Sakit Yang Bermutu Melalui Good Clinical Governance. misalnya mengukur waktu tunggu. Roland.Hanevi Djasri: Penerapan Clinical Governance Melalui ISO 9000 dengan efektif dalam membangun non-blame culture dan budaya lain yang diperlukan untuk mendukung penerapan clinical governance. namun perlu adanya upaya yang bersungguh-sungguh dalam penerapan standar ISO 9000 dalam pelayanan klinik.. mengelola. analisis. Namun demikian. dan implementasi. Informasi dan data tersebut harus dipastikan valid. Butterworth-Heinemann. 2005. 2001. 10. Sistem manajemen mutu ISO 9000 belum berperan secara efektif dalam membangun nonblame culture dan budaya lain yang diperlukan untuk mendukung penerapan clinical governance dan penerapan standar komunikasi dalam peningkatan mutu pelayanan klinik. 2002. Campbell. yaitu dengan menetapkan sasaran mutu termasuk sasaran mutu pelayanan klinik. pemahaman: RS harus membangun cara memilih.wa. Utarini. kebijakan untuk keterlibatan seluruh staf dalam upaya peningkatan mutu. Clinical Governance Standards for Western Australian Health Services Information Series No. Jakarta. 2. London. Campbell. ISO 9001:2000 Quality Management Systems Requirements. dan penerapan standar pengukuran efektivitas pelayanan.health. 9. BMJ. Government of Western Australia. Vol. Clinical governance: konsep. Informasi. I. dan Wilin. Quality and Safety Health Care Journal. menetapkan target kinerja. 2005. 5. dan menggunakan secara efektif informasi dan data untuk mendukung keputusan yang terkait dengan kebijakan dan proses pelayanan klinik. Geneva. maka RS dapat menggunakan sistem manejemen mutu ISO 9000 untuk menerapkan konsep dasar clinical governance.gov. Implementing clinical governance in English primary care groups/trusts: reconciling quality improvement and quality assurance. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Magister Manajemen Rumahsakit Universitas Gadjah Mada dan WHO-Alliance for Health Policy and Systems Research yang telah menyediakan dana dan fasilitas dalam penelitian ini. KEPUSTAKAAN 1. Donaldson. Ed. 09. No. ISO 9000 dalam penelitian di atas memperlihatkan peran dalam penerapan standar pengukuran efektivitas. Sistem manejemen mutu ISO 9000:2000: Penerapannya untuk mencapai TQM. dan indikator strategis seperti jumlah inovasi. 8. standar pengembangan dan pelatihan profesional.322:1413–7.15(3):188-201. tetapi efektivitas komunikasi pelayanan klinik juga dipengaruhi oleh sistem informasi yang saat ini sedang dibangun di kedua RSUD. Clinical Governance: a convincing strategy for quality improvement?” Journal of Management in Medicine. Siswihanto. standar kebijakan dan strategi. Informasi ini merupakan hal yang penting bagi para staf untuk menunjukan seberapa baik mereka bekerja dan apakah masih ada kemungkinan untuk meningkatkan kinerja tersebut.11:9–14. efektivitas dari inovasi dan sebagainya. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut. Departement of Health. hasil penelitian di atas belum menunjukkan adanya penerapan standar komunikasi yang efektif untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan klinik. MMR UGM. pengorganisasian. Available from Web: http:/ /www. melakukan analisis dan melaksanakan tindak lanjut dan perbaikan berkelanjutan. 6. Dwiprahasto. dan disajikan sedimikian rupa hingga mudah dipahami agar dapat menjadi petunjuk yang baik. PPM. Jakarta. Halligans. Yogyakarta. 2003. 2 Desember 2004. Internasional Standard Organization (ISO). 128 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta. jumlah test yang terpaksa harus diulang. Swage. Aspek Strategis Manajemen Rumah-Sakit: Antara Misi Sosial dan Tekanan Pasar. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Andi Offset. KESIMPULAN DAN SARAN Sistem manajemen mutu ISO 9000 dapat membantu penerapan konsep dasar clinical governance di RS terutama dalam penerapan standar: akuntabilitas pelayanan klinik. Modul Program Pengembangan Eksekutif.au/safetyandquality/ 7. meski sebenarnya ISO 9000 telah mengatur mengenai persyaratan komunikasi. 3 September 2006 .

1 Beragamnya jenis dan kepemilikan fasilitas kesehatan mempunyai dua implikasi utama. Kedua. i. Result: Compliance toward hospital licensing at district and private hospitals did not reach 100% as it should be. Hospital licensing for public and private hospitals is one of the regulatory activities.e. i. Conclusion: Despite hospital non-compliance to the licensing standard. Mechanisms for licensing of public hospitals have not yet been developed. pemerintah sebagai pelaksana penyedia pelayanan kesehatan juga perlu mengembangkan model. Dari keempat komponen yang dinilai. pemerintah mempunyai peran penting dalam regulasi. only patient right and hospital ethics that reached optimum level. terutama di negaranegara sedang berkembang yang bukti-bukti terkininya masih terbatas. public-private mix menjadi komponen penting dalam setiap kebijakan kesehatan pemerintah di berbagai tingkatan dan dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen. No.e. peran pemerintah sebagai regulator membutuhkan pengembangan model.0% seperti yang seharusnya dipersyaratkan. 09.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. governance and management.0%. two out of three private hospitals did have a license and one hospital was still in operation even without a license. Metode: Dilakukan penelitian studi kasus deskriptif dengan rancangan studi kasus terpancang. government plays an important regulatory role to ensure patient safety. menggunakan observasi dan wawancara mendalam dalam pengumpulan datanya. efektivitas. studi kasus Keywords : health service regulation. terutama didelegasikan ke tingkat kabupaten. Out of four components evaluated in the licensing standard. This study showed that implementation of hospital licensing regulation was not effective. 03 September l 2006 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 129 . Perizinan rumah sakit untuk rumah sakit pemerintah dan swasta merupakan salah satu aktivitas regulasi. meskipun ketiganya belum memenuhi persyaratan. patient rights and hospital ethics. requiring evaluation of its implementation at the district level. Hasil: Kepatuhan terhadap perizinan rumah sakit di rumah sakit pemerintah dan swasta tidak mencapai 100. Objective: This study aimed to describe effectiveness of hospital licensing regulation in Yogyakarta Province. hospital licensing. Enam PENGANTAR Dalam reformasi kesehatan. rumah sakit. Kesimpulan: Meskipun rumah sakit belum memenuhi persyaratan perizinan. effectiveness. Instrumen yang digunakan berupa cek-lis yang dikembangkan dari standar perizinan rumah sakit.133 Artikel Penelitian STUDI KASUS DESKRIPTIF EFEKTIVITAS PELAKSANAAN REGULASI PERIZINAN RUMAH SAKIT UMUM DESCRIPTIVE STUDY ON THE EFFECTIVENESS OF HOSPITAL LICENSING REGULATION Inni Hikmatin1. hanya komponen hak pasien dan etika rumah sakitlah yang mencapai tingkat optimal. Pertama. Method: This is a descriptive study with embedded case study design. terdiri dari empat komponen utama yaitu governance dan manajemen. 64. Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi perizinan rumah sakit belum efektif. and physical facilities.0%. primarily delegated to the district level The shift of responsibility. employing observation and in-depth interview in two district hospitals and four private hospitals. aspect that was valued. The lowest score was governance and management component. strategi dan instrumen untuk membangun kemitraan antara lembaga pelayanan pemerintah (umumnya melalui puskesmas) dengan lembaga pelayanan selain puskesmas (misal rumah sakit pemerintah) dan pelayanan swasta khususnya dalam menjalankan program-program pemerintah. Kata Kunci: regulasi pelayanan kesehatan. was problematic. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan rumah sakit untuk memenuhi standar perizinan di Provinsi DIY. Perizinan untuk rumah sakit pemerintah belum diatur. services. Adi Utarini3 Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM Yogyakarta 3 Magister Manajemen Rumah Sakit UGM. Effectiveness was measured by hospital adherence to licensing standard. terdiri dari dua rumah sakit kabupaten dan 4 rumah sakit swasta telah dipilih dari 1 kotamadia dan 1 kabupaten di DIY. pelayanan dan fasilitas fisik. yang bertujuan untuk menjamin keselamatan pasien. yaitu 64. sehingga memerlukan evaluasi implementasinya di tingkat kabupaten. 3 September 2006 l 129 . Hal ini tidaklah mudah dilakukan. case study research ABSTRAK Latar belakang: Dalam konteks good governance. hence. evaluated using a check-list developed from the 4 components in the licensing standard. strategi implementasi serta instrumen berbagai kegiatan regulasi pelayanan kesehatan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. perizinan rumah sakit.e. from mainly the central level to the district level. located in two districts. Pendelegasian wewenang ini menimbulkan beberapa permasalahan. dua dari tiga rumah sakit swasta yang diteliti mempunyai izin dan satu diantaranya tidak mempunyai izin namun tetap operasional. i. Hanevi Djasri2. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: In the context of good governance. hak pasien dan etika rumah sakit. Proporsi terkecil adalah pada aspek governance dan manajemen. Vol.

Pemilihan dinas kesehatan di tingkat kabupaten dilakukan secara purposif.49 4.74 0. Alat penelitian yang digunakan adalah checklist/instrumen perizinan rumah sakit untuk menilai kepatuhan rumah sakit terhadap pemenuhan persyaratan dalam standar perizinan.28 GDR 0. kerja sama lintas program. antara lain dinas kesehatan berperan melakukan pengawasan dan regulasi berbagai jenis fasilitas pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit.00 2.21 LOS (hari) 5.: Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan Perizinan merupakan salah satu mekanisme regulasi mutu pelayanan untuk menjamin bahwa lembaga pelayanan atau individu tenaga kesehatan tersebut dapat memenuhi standar kompetensi minimal untuk melindungi keselamatan publik.70 26. belum mencerminkan mutu pelayanan yang diberikan ataupun keamanan bagi masyarakat. 09.00 18.57 3.63 NDR 0.80 3. 3 September 2006 .96 1. baik milik pemerintah ataupun milik swasta.10 8. Sebagai regulator.34 29. Alasan pemilihan studi kasus karena fokus penelitiannya terletak pada fenomena-fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata. peneliti tidak memiliki peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diteliti. serta pokok pertanyaan penelitian ini berkenaan dengan mengapa dan bagaimana. Penelitian ini mendeskripsikan efektivitas pelaksanaan regulasi perizinan rumah sakit umum dengan mengukur kepatuhan rumah sakit terhadap standar perizinan rumah sakit.01 3.3 Unit analisis dalam penelitian ini adalah dinas kesehatan kabupaten/ kota.00 * Terakreditasi 5 pelayanan. Dengan desentralisasi kesehatan.90 3.20 2.23 56.60 56. Data yang disajikan pada makalah ini merupakan unit analisis terpancang pada tingkat rumah sakit.13 63. dengan latar belakang fisik bangunan/arsitektur. serta belum ada pembagian peran yang jelas antara dinas kesehatan kabupaten-kota dan provinsi. termasuk perizinan rumah sakit. Dokumentasi berbentuk foto juga diambil untuk memperkuat data. dan menangani regulasi pelayanan di dinas kesehatan provinsi.68 40. Aspek regulasi belum berjalan secara optimal. pelaksanaan kebijakan regulasi pemerintah saat ini tentang perizinan pelayanan kesehatan. manajemen rumah sakit. lintas sektor dan organisasi profesi. Data Karakteristik Enam Rumah Sakit yang Diteliti RS 1 2 3 4 5 6 Izin/Akreditasi* -/+/-/+ -/+ +/+ -/- Kepemilikan ABRI Swasta Pemerintah Pemerintah Swasta Swasta Tipe RS C D C C D D Jumlah TT 65 50 124 131 111 16 BOR 59.90 4. dengan rancangan multikasus terpancang. Tim penilai terdiri dari tiga orang. serta kabupaten yang belum memiliki Perda perizinan (kotamadia). No. maka fungsi dinas kesehatan sebagai penetap kebijakan dan regulator bidang kesehatan harus semakin dikembangkan. dkk. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan proporsi pemenuhan terhadap persyaratan dalam standar perizinan rumah sakit.05 TOI 3. Kenyataannya.00 65. regulasi perizinan belum terfokus pada aspek profesionalisme melainkan administratif. Vol.Inni Hikmatin.90 4. Tabel 1. Pemilihan rumah sakit mempertimbangkan kepemilikan (swasta atau pemerintah) dan kelas (C dan D). lembaga masyarakat masih sangat terbatas. Sumber: Profil Dinas Kesehatan Provinsi Tahun 2005 130 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penilaian instrumen ini dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara terhadap pihak rumah sakit.30 2.40 0.62 2.02 0. dengan kriteria kabupaten yang telah memiliki Perda perizinan sarana pelayanan kesehatan dan telah mengeluarkan izin sarana (Kabupaten Bantul).40 8.

60 100. hak pasien dan etika rumah sakit telah memenuhi persyaratan perizinan. tidak satu pun rumah sakit yang 100% memenuhi persyaratan perizinan rumah sakit. Tampak bahwa kesenjangan antarrumah sakit yang terbesar terdapat pada aspek governance dan manajemen (antara rumah sakit 4 dan 6). Rerata kepatuhan tertinggi justru terdapat pada rumah sakit umum milik pemerintah (90. sedangkan bagi yang belum memenuhi persyaratan tentunya belum memperoleh izin. latar belakang dan sumber daya yang memadai untuk memenuhi standar tersebut.29 100.03 71. kepemilikan (pemerintah dan swasta).00 84. No. dengan pencapaian terendah pada governance dan manajemen.33 100. Rumah sakit tersebut berimbang dalam hal kelas rumah sakit (C dan D).5 Berdasarkan pemahaman di atas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak seluruh rumah sakit yang telah operasional mempunyai izin dan rumah sakit yang berizin pun belum dapat memenuhi 100% persyaratan perizinan.84 81.42 90. serta untuk menetapkan bahwa pihak yang mengajukan izin pendirian rumah sakit mempunyai kualifikasi.85 RS 2 61.02 83.00 77. rumah sakit keenam hanya mencapai lebih kurang separoh dari persyaratan pada aspek governance dan manajemen serta pelayanan.78 Dari enam rumah sakit yang diteliti.59 RS 5 61.99 100. Padahal selama ini kebijakan atau peraturan perizinan rumah sakit adalah bagi rumah sakit swasta. sedangkan ketiga atau lembaga pelayanan kesehatan tersebut telah memenuhi standar minimal untuk melindungi keselamatan publik dan tenaga kesehatan. penyelenggaraan hingga monitoring rumah sakit.04 89.27 100. Tingkat Pemenuhan (%) Rumah Sakit Terhadap Persyaratan Perizinan Standar Aspek governance & manajemen Aspek sosial.97 89.08 53.58 64. aspek yang lain belum memenuhi. 09.43%) dan terendah di rumah sakit milik swasta (71. dan aspek pelayanan dan klasifikasi rumah sakit (antara rumah sakit 3 dan 6). Di antara enam rumah sakit tersebut.43 RS 4 80. Tingkat Pemenuhan (%) Dalam Setiap Komponen Standar Perizinan Rumah Sakit Apabila dilihat dari empat aspek dalam komponen standar perizinan rumah sakit. Regulasi lisensi dikembangkan untuk menjamin bahwa individu dan/ Tabel 2.77%). hak pasien dan etika RS Aspek fisik dan bangunan RS Aspek pelayanan & klassifikasi RS Gambar 1. 4 Perizinan rumah sakit merupakan regulasi eksternal yang diterapkan bagi seluruh rumah sakit (pemerintah ataupun swasta) yang bertujuan untuk melindungi keselamatan masyarakat melalui penerapan standar input minimal yang harus dipenuhi sejak pendirian.19 78. namun bervariasi dalam hal kapasitas tempat tidur.92 79.04 Aspek governance & manajemen Aspek sosial. hak pasien dan etika rumah sakit Aspek fisik dan bangunan rumah sakit Aspek pelayanan & klasifikasi rumah sakit Rata-rata tingkat kepatuhan rumah sakit terhadap persyaratan perizinan RS 1 52. 3 September 2006 l 131 . 100 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 86. PEMBAHASAN Lisensi (perizinan) adalah suatu proses pemberian izin oleh pemerintah kepada individu dan/ atau lembaga pelayanan kesehatan untuk melaksanakan misinya. 3 berada di wilayah kotamadia dan 3 berada di Kabupaten Bantul.77 100.00 94. Dengan demikian. lembaga pelayanan yang berizin mampu memenuhi persyaratan perizinan.62 87.00 89.17 RS 6 49.92 85. Terdapat rumah sakit yang kapasitas tempat tidurnya tidak memenuhi persyaratan minimal (yaitu hanya 16 tempat tidur). seharusnya seluruh lembaga pelayanan yang operasional mempunyai izin. dapat dikatakan bahwa implementasi regulasi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.05 85. terendah di rumah sakit enam.00 89. maka aspek sosial.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejumlah enam rumah sakit diteliti.99 Rumah Sakit RS 3 78. Vol. Perizinan bagi rumah sakit pemerintah. justru belum diatur.80 76.00 86. dengan variasi antara 78% 90%.

akan tetapi perlu dikembangkan pula mekanisme dan persyaratan untuk monitoring perizinan. pelayananpelayanan tertentu (seperti halnya rawat jalan) dapat tetap dilaksanakan. Hal ini dapat menjelaskan mengapa tingkat kepatuhannya relatif tinggi. Kapasitas menyangkut ketersediaan sumber daya di pihak regulator. Berbagai mekanisme ini perlu dikembangkan dengan tujuan tetap menjaga keselamatan pasien dan memberi kesempatan pada rumah sakit untuk perbaikan. sedangkan konteks dapat dikaitkan dengan konteks politik. kejelasan antara peran pemerintah pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten). tiga rumah sakit dengan tingkat kepatuhan tinggi (yaitu RS 3. penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi perizinan rumah sakit belum dilaksanakan secara efektif. menarik untuk dicermati bahwa ketiga rumah sakit tersebut pun belum dapat mencapai 100% persyaratan dalam standar perizinan rumah sakit. Tahap berikutnya setelah izin diterbitkan adalah melihat proses pelayanan dan menilai kinerja institusi pelayanan kesehatan tersebut. Direction bertujuan untuk mengarahkan fungsi pelayanan kesehatan melalui penyusunan. 3 September 2006 . otoritas dan konteks. simetris tidaknya informasi yang dimiliki setiap pihak. sedangkan regulatory enforcement dilakukan dengan penerapan sanksi. namun tetap diperbolehkan untuk operasional. serta transparansi informasinya. Dengan demikian. monitoring laporan. terdapat empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam desain dan implementasi regulasi. umpan balik penilaian dan monitoring perizinan. dan diseminasi standar. KESIMPULAN DAN SARAN Melalui penilaian kepatuhan terhadap standar perizinan rumah sakit. RS 4 dan RS 5) adalah rumah sakit yang telah terakreditasi oleh KARS (dua RS pemerintah dan satu rumah sakit swasta). Untuk meningkatkan efektivitasnya. perlu dipertimbangkan pemberian kembali izin operasional rumah sakit dan kesempatan bagi rumah sakit untuk memperbaikinya. Informasi terkait dengan pemahaman pihak regulator. dan investigasi. rumah sakit keenam mempunyai kepatuhan yang terendah dalam memenuhi persyaratan perizinan serta tidak lagi memenuhi persyaratan kapasitas tempat tidur rumah sakit. Walshe6 menyatakan bahwa peran regulasi pelayanan kesehatan meliputi direction. dan regulatory enforcement. Izin suatu pelayanan kesehatan bisa diterbitkan setelah dilakukan kunjungan inspeksi dan ternyata memang sebuah pelayanan kesehatan tersebut telah memenuhi persyaratan ataupun standar perizinan maka izin untuk melakukan pelayanan kesehatan bisa segera diterbitkan. Agar peran regulasi pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan secara efektif. Ketiga unsur tersebut harus ada dalam suatu sistem regulasi pelayanan kesehatan. pemahaman departemen kesehatan.8 Faktor tersebut adalah informasi. Untuk melaksanakan Undang-Undang No. harus diantisipasi mekanisme khusus bagi rumah sakit untuk melakukan tindakan koreksi tersebut. pihak yang diregulasi. sehingga diperlukan mekanisme evaluasi dan monitoring yang harus selalu dilakukan secara rutin dan berkala untuk mengetahui apakah proses penyelenggaraan pelayanan kesehatan tersebut masih tetap memberikan pelayanan sesuai standar atau ada perubahan dalam perjalanannya. Vol. No. media dan asosiasi profesi dan sumber-sumber konflik. baik di daerah yang telah memiliki Perda dan mengeluarkan izin sarana ataupun yang belum memiliki Perda.7. 32/2004 9 dalam konteks good governance di bidang kesehatan10. Monitoring bermanfaat untuk mengetahui apakah setiap saat rumah sakit tetap memenuhi persyaratan perizinan serta apabila tidak lagi memenuhi persyaratan tersebut. akan tetapi rumah sakit tidak dapat secara penuh memberikan pelayanannya.Inni Hikmatin.: Studi Kasus Deskriptif Efektivitas Pelaksanaan perizinan bagi rumah sakit umum swasta pun belum efektif. maupun intervensi manajemen. sampai dengan persyaratan perizinan dapat dipenuhi kembali. serta struktur organisasinya. Meskipun demikian. pembatasan layanan. kredibilitas dan efektivitas sistem sanksi. Di antara enam rumah sakit tersebut. dkk. Detection adalah kegiatan penilaian atau pengukuran kinerja pelayanan kesehatan dengan cara inspeksi. penetapan. Dalam kondisi demikian. perlu diperhatikan aspek desain regulasi perizinan rumah sakit. sosial ekonomi dan budaya. baik secara administratif maupun dari aspek pemenuhan standarnya. 09. denda. detection. informasi yang jelas tentang prosedur dan mekanisme perizinan bagi di pihak dinas kesehatan 132 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. perizinan tidak hanya dilakukan pada awal mulainya suatu rumah sakit (izin pendirian dan izin penyelenggaraan). kapasitas. dinas kesehatan provinsi dan kabupaten terhadap faktor-faktor di atas dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas regulasi pelayanan. Otoritas meliputi kejelasan mengenai otoritas pihak yang meregulasi dan diregulasi. Di beberapa negara. Sebagai contoh. pemahaman dan keterampilan sumber daya manusia terhadap standar dan pelaksanaan penilaian. kekuatan lembaga konsumen. serta masyarakat terhadap standar dan prosedur.

Accreditation and Certification: Approaches To Health Services Quality. 2003. S. Do they work? Regulating For-Profit Providers in Zimbabwe. Mendoza-Arana and Goudge (eds). Licensing. Departemen Kesehatan. 2003. P. In: Soderlund. 2004. Utarini. A. 09. & Ostenberg. R. Gadjah Mada University Press. & Thomas.. 7. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 1994. 15(4): 347-8. Quality Assurance Project. 6. 2004. 7(2): 61-8. K. Bethesda MD.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai regulator dan rumah sakit.K. 4. N. Walshe. 1999. Trisnantoro. Quality Assurance Methodology Refinement Series.. KEPUSTAKAAN 1. Yin. Health Policy and Planning.R. Departemen Kesehatan. 15 (4): 368377. serta otoritas perizinan rumah sakit. Soderlund. 2. No. van. London. C dan D. L.. Tangcharoensathien. L. USA. Geneva: Alliance For Health Policy And Systems Research. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi Dalam Manajemen Rumah Sakit. 2000. Regulating Healthcare. Kumaranayake. 2000. Yogyakarta.L. 8. Draft Standar Perizinan Rumah Sakit Umum Klas B. 10. 2005. Open University. Gilson. Health Policy and Planning. Health Sector Regulation – Understanding the Range of Responses from Government. 5. A. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. A Prescription for Improvement. Vol. 3 September 2006 l 133 . Rooney. 9. kapasitas dinas kesehatan kabupaten untuk melakukan survei dan monitoring perizinan.. Hongoro. Introduction: Intervening in The Public/Private Mix. The new Public/Private Mix In Health: Exploring The Changing Landscape. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Alternatif Strategi Pelaksanaan Peran Regulasi Pascadesentralisasi Di Daerah. V. 3. Case Study Research: Design and Methods. 2004. C. Philadelphia. Sage Publications. L.

09. Vol. No.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Artikel Penelitian FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN KESEHATAN DAERAH BERSUMBER ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN 2006 FACTORS ASSOCIATED WITH LOCAL HEALTH FINANCING FROM LOCAL GOVERMENT BUDGET OF PONTIANAK DISTRICT 2006 Tisa Harmana1. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam dan data sekunder didapatkan dari penelusuran dokumen yang berada di DPRD.00 per capita/year bulan. local government funds. Primary data was collected by indepth interview and secondary data was collected from documentation in DPRD. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. The Original District Income (PAD) was not associated with district health budget allocation in Pontianak District. Advocacy. Informasi Alur Pembiayaan.579.000. Kantor Dinas Kesehatan.542. Prioritas Masalah Kesehatan.22 dan No. Results: The results of the study showed factors associated with district health budget allocation of Pontianak District year 2006. Content of the data were verified and analyzed using triangulation method. Depok 1 ABSTRACT Background: District health financing patterns varied among many local governments in Indonesia associated to the size of the budget and its allocation. 3 September 2006 . Fakultas Kesehatan Masyarakat.00 atau 8. from April to May 2006.542. Dana Perimbangan. Kata Kunci : desentralisasi kesehatan. Universitas Indonesia.99% dari total APBD. RSUD dan Kantor Bappeda. Conclusion: The results showed total budget for health originating from local government funds (APBD) . Planning Ability. Adisasmito2 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Information of Financing Flow. Local General Hospital and Local Development Office. Program Intervention Chosen. 25/1999 dan disempurnakan oleh UU No.145 Tisa Harmana. Health Problem Priority. Funds allocated per capita/year is Rp34. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah membawa perubahan kepada semua bidang pembangunan tidak terkecuali kesehatan. Funds Allocation. and Balancing Budget Alocation. kemampuan Advokasi. 134 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sumber utama pembiayaan kesehatan daerah berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Data yang telah dikumpulkan dianalisis dan diverifikasi dengan menggunakan metode triangulasi.579.542. Lain-lain Pendapatan yang Sah. Menurut Mardiasmo1 perubahan pada bidang kesehatan secara garis besar terdiri dari dua hal yaitu : 1) perubahan dalam sistem dan proses organisasional yang terdiri dari pembangunan kebijakan kesehatan (health policy development).000. alokasi anggaran kesehatan daerah Key words : health decentralization.000. Rubini Kabupaten Pontianak 2 Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa total anggaran untuk pembiayaan kesehatan bersumber pada APBD Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 adalah Rp47. Method: This was a qualitative study to find out factors associated to district health financing and budget allocation in Pontianak District which based on APBD fiscal year 2006. This value is still under World Bank standard i. City and District Health Offices. Faktor-faktor pembiayaan kesehatan daerah dihubungkan dengan besarnya jumlah anggaran dan alokasi pembiayaan. Pembiayaan kesehatan per kapita per tahun di Kabupaten Pontianak tahun 2006 berdasarkan belanja publik adalah sebesar Rp34. This study was conducted in city of Mempawah. district health account.60.60. i. BPKD. The main source of district health financing is from local government funds (APBD).Pontianak District fiscal year 2006 is Rp47. Penelitian dilakukan di Kota Mempawah Kabupaten Pontianak selama 1 PENGANTAR Kebijakan otonomi daerah yang mulai diberlakukan melalui Undang-Undang (UU) No. kemampuan Perencanaan.00 or 8.000.00 per kapita per tahun. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak tahun 2006 adalah : Komitmen Daerah. kemampuan Perencanaan. dan Keseimbangan antara Mata Anggaran. BPKD.00 per kapita per tahun. laporan kesehatan daerah. dkk.99% from total APBD. Pontianak. pembiayaan kesehatan daerah.e Rp51.00.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No.542. nilai ini masih jauh dari nilai standar yang ditetapkan oleh World Bank sebesar Rp51. other Legal Income.e: Commitment of decision makers. Sedangkan faktor PAD tidak mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak. 03 September l 2006 Halaman 134 . Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besaran pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui pemanfaatan alokasi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006. yaitu mulai awal April sampai awal Mei 2006. pemilihan Intervensi Program. distric health budget allocation ABSTRAK Latar Belakang: Pembiayaan kesehatan daerah mempunyai pola yang berbeda pada banyak pemerintah daerah di Indonesia. Wiku B.

di Kabupaten Sleman tahun 2002 APBD memberikan kontribusi 74. Angka kematian bayi tahun 2003 terdapat 47.158 26.20% dari total pembiayaan kesehatan daerah9.24% dari total pembiayaan kesehatan daerah 6. Indonesia berada pada peringkat 102 di antara 190 negara di dunia dan pada tahun 2003 peringkat Indonesia turun menjadi peringkat ke-112.16%.865. Tabel 1.62 tahun. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. jika dibandingkan dengan Malaysia hanya 11 per 1000 kelahiran hidup. No. APBD memberikan kontribusi 49. 3 September 2006 l 135 .358 21. untuk wilayah Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat APBD tahun 2004 memberikan kontribusi 69. Perbandingan Alokasi APBD Bidang Kesehatan Kabupaten Pontianak Tahun 2003-2005 Tahun Anggaran 2003 2004 2005 Total APBD (ribuan Rp) 315. tahun 2003 sebanyak 102 kasus. Tabel 1 menunjukkan perbandingan alokasi APBD bidang kesehatan Kabupaten Pontianak tahun 2003-2005. perencanaan dan alokasi sumber daya ( planning and resource allocation).5 Kebijakan otonomi khususnya desentralisasi kesehatan menuntut adanya perbaikan sistem pembiayaan dan manajemen keuangan daerah yang masalah pembiayaan kesehatan daerah selalu menjadi hambatan utama dalam mewujudkan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. namun masih tertinggal jauh dibanding status kesehatan negara-negara tetangga ASEAN. koordinasi antarsektoral ( intersectoral coordination) dan partisipasi masyarakat (public participation). Hal ini bisa disebabkan oleh pembiayaan yang tidak cukup dan berdampak pada kualitas dari pelayanan kesehatan. Thailand 29 per 1000 kelahiran hidup dan Philipina 36 per 1000 kelahiran hidup.03% dari total pembiayaan kesehatan daerah dan pada tahun 2003 APBD memberikan kontribusi 82.6 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi sumber yang memiliki proporsi yang berimbang dengan sumber-sumber lain dan bahkan di beberapa daerah menjadi sumber terbesar dalam pembiayaan kesehatan daerah. tahun 2004 balita dengan status gizi buruk 1. Hal ini didukung data dari WHO tahun 20003 bahwa Indonesia pada tahun 1998 mempunyai angka kematian bayi yang masih tinggi yaitu 48 per 1000 kelahiran hidup.90 6. Proporsi alokasi kesehatan terhadap APBD di satu sisi telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 6% pada tahun 2003 menjadi 8% pada tahun 2005. perencanaan dan manajemen sumber daya manusia (human resources planning and management). Di Kabupaten Lampung Selatan. 2) keadilan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan kebutuhan penghitungan dan informasi (needs assesment and information).83% dari total pembiayaan kesehatan daerah. jika dibandingkan setelah era otonomi pada tahun 2003 menunjukkan bahwa rata-rata pembiayaan kesehatan Indonesia berkisar US$ 12 sampai US$ 18 per kapita per tahun.342 % 6.412. efisiensi dan kualitas pelayanan.911. Vol. Status kesehatan penduduk Indonesia setelah pembangunan kesehatan selama tiga dekade lalu mengalami kemajuan yang cukup pesat. HDI yang diperoleh adalah urutan ke-27 dari 30 provinsi yang ada di Indonesia. Hal ini merujuk kepada data Health World Report 20002 bahwa total pembiayaan kesehatan Indonesia pada tahun 1997 sebelum era otonomi sekitar US$ 21 per kapita per tahun.24% sedangkan tahun 2005 sampai bulan Juli ditemukan 284 kasus anak dengan gizi buruk. 09.801.7 di Kota Depok APBD memberikan kontribusi 50% dari total pembiayaan kesehatan daerah 8.64% dari total pembiayaan kesehatan daerah.76 8. Profil kesehatan pada Kabupaten Pontianak disebutkan bahwa kasus kematian bayi pada tahun 2001 sebanyak 75 kasus.14 per 1000 kelahiran hidup dengan umur harapan hidup pada tahun 2002 di Kabupaten Pontianak adalah 61. Status gizi masyarakat tahun 2003 gizi balita buruk 1.933. Kasus kematian ibu melahirkan pada tahun 2002 sebanyak 20 kasus. Dampak yang ada menurut Departemen Kesehatan (Depkes)4 dari hasil pengukuran indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) tahun 2000.26 Sumber : Diolah dari APBD tahun 2003-2005. tahun 2003 tercatat 22 kasus.267 323.223 Alokasi Anggaran Kesehatan (ribuan Rp) 21. sedangkan untuk Provinsi Kalimantan Barat. tahun 2004 sebanyak 71 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Juli terdapat 49 kasus. pembiayaan dan manajemen keuangan (financing and financial management). Kebijakan otonomi yang belum begitu siap diterima oleh beberapa daerah di Indonesia membawa implikasi pada menurunnya alokasi anggaran kesehatan.676 326. tahun 2004 sebanyak 11 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Juli sebanyak 6 kasus. Pembiayaan kesehatan belum dapat memperbaiki indikator kesehatan masyarakat secara umum.951.10 Alokasi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari APBD Kabupaten Pontianak mengalami peningkatan dari tahun 2003 sampai tahun 2005 terhadap total APBD kabupaten. di Kabupaten Tangerang APBD memberikan kontribusi 74. tahun 2002 sebanyak 110 kasus.

2. sedangkan belanja bagi hasil dan bantuan keuangan sebesar Rp15.289. BPKD. Perencanaan terdokumentasi ke dalam Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) yang diajukan oleh setiap instansi termasuk dinas kesehatan dan RSUD sebagai sektor utama kesehatan.00 yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).662 jiwa adalah sebesar Rp37.Tisa Harmana. Kemampuan perencanaan/proses RASK.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah Pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak pada tahun 2005 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2005 yang berjumlah 725. RSUD dan kantor Bappeda untuk mendapatkan dokumen daerah yang berkaitan dengan penelitan. Dana perimbangan 4.027.391.629. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 3.000. melalui proses buttom up planning pada Musyawarah Rencana Pengembangan (Musrenbang) dari tingkat desa. 29/2002. Informasi alur pembiayaan Perencanaan yang dilakukan di Kabupaten Pontianak mengacu kepada Keputusan Menteri Dalam Negeri No.000. Hasil wawancara mendalam kepada para informan dari tim anggaran eksekutif dan panitia anggaran legislatif menjelaskan bahwa perencanaan 136 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kemampuan Perencanaan Dari wawancara mendalam diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 antara lain : 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.09% dari total belanja APBD. kecamatan sampai tingkat kabupaten. tetapi faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan pada tahun 2006 serta pemanfaatan alokasi APBD terhadap pembiayaan sektor kesehatan yang dimulai dari sumber-sumber pembiayaan sampai dengan bagaimana biaya tersebut digunakan dan kepada siapa biaya tersebut diperuntukkan masih belum diketahui. dan belanja tidak tersangka sebesar Rp500. Lain-lain pendapatan yang sah 5.00.71% dari total pendapatan. Gambaran APBD Kabupaten Pontianak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pontianak untuk tahun anggaran 2006 terdiri dari anggaran pendapatan sebesar Rp531. sedangkan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp6.617.Rubini). Pendapatan daerah melalui sebesar Rp21. maka sangat penting dilakukan penelitian untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak tahun 2006 dan menganalisis pemanfaatan alokasi dari pembiayaan kesehatan daerah bersumber APBD tahun anggaran 2006. yang terdiri dari variabel: komitmen daerah. dkk. Data yang telah dikumpulkan diverifikasi dan dianalisis menggunakan metode triangulasi.485. yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan data sekunder yang diperoleh dari DPRD. intervensi program.140.000.586. 09. Penelitian dilaksanakan di Kota Mempawah sebagai pusat pelayanan administratif dan Ibukota Kabupaten Pontianak selama satu bulan yaitu dimulai pada awal bulan April sampai dengan awal bulan Mei 2006.00 atau sekitar 81. kemampuan advokasi.00 atau sekitar 1.103. Anggaran belanja terdiri dari belanja aparatur daerah sebesar Rp84. Vol. Informan dari tim anggaran eksekutif berasal dari instansi BPKD yang merupakan sekretaris tim dan dari instansi BAPPEDA adalah anggota tim bidang operasional pemeliharaan dan belanja modal. Berdasarkan penjelasan di atas.00 atau sekitar 4. skala prioritas masalah kesehatan.273.182. 2.000.00. 3 September 2006 .500. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. 1 orang dari panitia anggaran legislatif (DPRD) dan 3 orang dari instansi pengusul (2 orang dari Dinas Kesehatan dan 1 orang dari RSUD dr.500.89% dari total belanja APBD. Pengumpulan data terbagi menjadi dua.00 atau sekitar 0.1% dari total belanja. Informan berjumlah 6 orang yang terdiri dari 2 orang dari tim anggaran eksekutif (BPKD dan BAPPEDA). No.757.9% dari dan belanja pelayanan publik sebesar Rp428.00 atau sekitar 94. keseimbangan alokasi antara mata anggaran.000.07% dari total pendapatan.954.000.586. sedangkan anggaran belanja adalah sebesar Rp528.000.00 per kapita per tahun.00 atau sekitar 2.787. Meskipun pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak per kapita per tahun pada tahun 2005 telah diketahui.103.000.483.22% dari total pendapatan. sedangkan standar pembiayaan kesehatan di negara-negara berkembang menurut World Bank dalam proyek Health Workforce Services (HWS)5 yaitu sebesar Rp51. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besaran pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui pemanfaatan alokasi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006. kantor dinas kesehatan. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam.00 atau sekitar 15.000. dana perimbangan sebesar Rp503.

tunjangan. Hubungan kemampuan advokasi dengan proses RASK dapat dijelaskan bahwa advokasi yang dilakukan adalah kegiatan “follow up” dari instansi pengusul terhadap komitmen daerah yang ada sehingga besaran RASK akan bertambah jika advokasi yang dilakukan diterima para pengambil kebijakan sebagai sesuatu yang mendesak dan berdampak luas terhadap masyarakat. Pemimpin yang benar-benar menguasai bidangnya akan sangat membantu proses perencanaan karena apapun yang diusulkan oleh instansinya dia mengerti seberapa besar dan pentingnya masalah tersebut. dan belanja modal yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus NonDana Reboisasi (DAK Non-DR) yang pada saat penyusunan RASK (September 2005) belum diketahui besaran alokasinya. sehingga pada kedua item ini juga nominalnya berubah menjadi lebih besar. sehingga banyaknya intervensi yang dilakukan akan menambah nominal usulan dalam dokumen RASK. kemudian baru bulan November dimasukkan setelah pagu DAK Non-DR keluar. Hasil telaah dokumen menjelaskan bahwa nominal DASK ternyata lebih besar dari RASK. sehingga delapan program yang ada pada RASK diakomodir semuanya ke dalam DASK. pagu. Hubungan komitmen daerah dengan kemampuan perencanaan / proses RASK ini bahwa komitmen daerah merupakan bentuk pernyataan para pengambil kebijakan dalam menentukan proporsi anggaran. sehingga dengan diketahuinya proporsi tersebut nilai nominal atau besaran RASK akan dapat diketahui oleh instansi pengusul. sehingga ketika mempertahankan kegiatan yang akan dihapus oleh tim anggaran dapat melakukan pembelaan dengan memberi alasan yang tepat atau dengan kata lain dapat memberikan justifikasi dan disinilah peran advokasi bermain. Keseimbangan antara mata anggaran dimaksudkan bahwa setiap adanya investasi maka biaya operasional dan pemeliharaan harus disiapkan dan hal ini tertuang dalam dokumen perencanaan yang pada RASK akan diklasifikasi menurut mata Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hubungan prioritas masalah dengan besaran RASK dijelaskan bahwa semakin banyak program prioritas yang tertuang di dalam RASK semakin besar nominal RASK yang diusulkan. Peran pimpinan dalam proses perencanaan juga menjadi hal yang patut diperhatikan karena kepemimpinan dapat memberi motivasi dan kepercayaan. prioritas masalah. Besarnya nominal DASK dapat disebabkan adanya kenaikan gaji. Kemampuan perencanaan dalam hal ini proses RASK dikontribusi oleh beberapa variabel yaitu: komitmen daerah. aspirasi masyarakat dan visi misi daerah maupun pusat tentang kesehatan serta mengantisipasi alokasi dana dari DAK. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan perencanaan mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD. berkala. Vol. 3 September 2006 l 137 .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan yang diusulkan oleh dinas kesehatan dan RSUD dinilai baik karena telah sesuai dengan Kebijakan Umum Anggaran (KUA). serta dokumen perencanaan lainnya. intervensi masalah dan keseimbangan antara mata anggaran. Tidak menutup kemungkinan perencanaan yang baik akan memperoleh anggaran lebih besar jika dianggap kegiatan atau program yang diusulkan merupakan sesuatu yang mendesak. penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) baru kemudian penyesuaian biaya perjalanan dinas akibat kenaikan BBM. kemampuan advokasi. Pada penelitian yang dilakukan Dharmawan11 menyatakan bahwa pada tingkat pemberian besaran nominal rupiah yang diperlukan dipengaruhi oleh RASK dinas kesehatan sebagai satu-satunya sumber informasi yang dapat memberikan besaran pengalokasian APBD. No. Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) merupakan informasi perencanaan anggaran terdokumentasi secara jelas dan tegas yang menyatakan nominal anggaran. melihat skala prioritas. ketika penentuan prioritas masalah terjadi diikuti dengan tindakan intervensi. namun tidak ada pagu dana yang ditetapkan secara pasti artinya anggaran dibuat pagu sementara melalui history budgeting tadi. Penetapan jumlah anggaran di Kabupaten Pontianak berdasarkan history budgeting yaitu jumlah anggaran tahun lalu ditambah 10%. sehingga tidak terdokumentasi dalam RASK tetapi tercatat pada dokumen rencana definitif DAK Non-DR bidang kesehatan dan langsung di masukkan ke dalam DASK. sumber anggaran. sesuai kondisi dan keadaan terakhir sebelum anggaran disahkan oleh DPRD. namun tidak dapat dikatakan perencanaan yang disusun dan terdokumentasi dalam RASK oleh instansi pengusul dalam hal ini dinas kesehatan dan RSUD telah baik. fungsi anggaran dan pelaksana anggaran. Dengan adanya pagu sementara dari tim anggaran menciptakan tantangan tersendiri bagi tim perencanaan dari instansi pengusul agar dalam membuat perencanaan dapat mengakomodasi azas kewajaran dan kesesuaian antara dokumen perencanaan yang dimulai dari KUA. Implikasi belanja modal harus diimbangi dengan biaya operasional dan pemeliharaan. 09. Demikian juga dengan intervensi masalah.

Menurut Dharmawan11 perlu adanya advokasi kepada aparat pemerintah baik dimulai dari tingkat desa. Rencana Strategi (Renstra) dan hasil Musrenbang.99%. Lestari9.99% dari total APBD dan menduduki urutan ketiga dalam jumlah anggaran yang dialokasikan.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah anggaran masing-masing. Komitmen daerah Pemerintah Kabupaten Pontianak memberikan pengaruh kepada pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD kabupaten. c. sehingga peneliti berpendapat bahwa kebijakan publik yang dihasilkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak dalam hal ini komitmen daerah terhadap keputusan sektor kesehatan telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan teori yang ada. 138 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penetapan standar pelayanan minimal daerah harus mengacu kepada indikator-indikator pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. meski kesehatan berada di urutan ketiga setelah pendidikan dan infrastruktur namun kesenjangannya sangat jauh yaitu 36. 3 September 2006 .35% untuk Dinas PU (infrastruktur) jika dibanding total pembiayaan kesehatan yang hanya 8. dkk. namun ada tanggapan dari informan lain bahwa tidak ada intervensi dan belum tentu terjadi perubahan namun hal itu masih dimungkinkan. dan Vollini8. karena pernyataan atau komitmen yang ada baik secara tertulis maupun tidak tertulis menjadi sebuah kebijakan publik bahwa kebijakan yang diambil telah melalui tahapantahapan tertentu dengan mengacu kepada Kepmendagri No. Teori yang dikemukakan oleh Dunn12 bahwa kebijakan publik merupakan hasil-hasil keputusan eksekutif sebagai respon terhadap lingkungannya. Vol. No. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil telaah dan olahan dokumen data sekunder yang menghasilkan proporsi alokasi APBD yang memiliki tren meningkat dari tahun ke tahun. berikut dapat dijelaskan variabel-variabel tersebut: a. Departemen Kesehatan RI2 juga menyatakan bahwa salah satu faktor yang menentukan kecukupan alokasi anggaran kesehatan di daerah adalah skala prioritas bidang kesehatan di mata para pimpinan daerah dalam hal ini komitmen daerah. 09. Penelitian lain juga mengatakan bahwa komitmen daerah menjadi salah satu faktor penentu dalam pembiayaan kesehatan.36% untuk Dinas Pendidikan dan 23. 29/2002.71% dari total APBD jika hanya dihitung dari dinas kesehatan dan RSUD namun secara agregat pembiayaan kesehatan daerah termasuk instansi di luar Dinas Kesehatan dan RSUD adalah sebesar 8. Kebijakan Umum Anggaran (KUA) ini tidak terlepas dari dokumen perencanaan daerah yaitu Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). juga memperhatikan aspirasi masyarakat yang dihasilkan dari proses musrenbang dari tingkat desa sampai dengan tingkat kabupaten. Keputusan bersama ini disampaikan dalam KUA yang ditanda tangani Bupati dan Ketua DPRD. sehingga keputusan atau keluarannya merupakan kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif.Tisa Harmana. Keputusan ini akan mengakomodasi seberapa besar proporsi pembiayaan kesehatan yang akan dialokasikan melalui APBD kabupaten. semua informan menyatakan setuju bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak baik lembaga legislatif dan eksekutifnya memiliki komitmen yang baik kepada sektor kesehatan. Komitmen Daerah Dari hasil wawancara mendalam. Advokasi Hasil wawancara mendalam kepada informan menunjukkan adanya pengaruh kemampuan advokasi yang dilakukan instansi pengusul terhadap besaran alokasi dana khususnya bidang kesehatan seperti diungkapkan oleh tiga orang informan. Departemen Kesehatan RI 2 juga menyebutkan kemampuan advokasi dinas kesehatan berpengaruh terhadap pembiayaan kesehatan. sehingga menjadi sebuah kebijakan publik yang tertuang dalam nota kesepakatan antara Bupati Pontianak dengan DPRD Kabupaten Pontianak. Akan tetapi. Standar Pelayanan Minimal (SPM) dijadikan dasar penentuan skala prioritas karena merupakan cara untuk menjamin dan mendukung kewenangan untuk penyelenggaraan pelayanan oleh daerah. hal ini dikemukakan oleh beberapa peneliti antara lain Gani13 Irwansyah7. maka sebenarnya Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Pontianak belum mewujudkan komitmen secara nyata dalam bentuk besaran anggaran. kecamatan sampai dengan DPRD agar kesadaran akan kebutuhan pembangunan kesehatan meningkat. b. khusus untuk tahun 2006 sebesar 7. juga sekaligus merupakan akuntabilitas daerah. Skala prioritas masalah Hasil penelitian menyebutkan bahwa penentuan skala prioritas masalah kesehatan di Kabupaten Pontianak khususnya dari instansi pengusul baik Dinas Kesehatan dan RSUD adalah berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

namun tidak cukup untuk membuat program-program kesehatan efektif dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan. No. selain itu besarnya BAU juga bisa disebabkan acuan perencanaan terhadap KUA Dinas Kesehatan poin (1) pemerataan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar yang berisikan e. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intervensi yang sesuai dengan skala prioritas masalah akan mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber dari APBD Kabupaten Pontianak.820. minimal berdasarkan kewenangan wajib dan standar pelayanan minimal menyebabkan pembiayaan yang terbatas harus dapat mengakomodir program-program kesehatan tersebut. Hasil dari penentuan program prioritas akan dituangkan ke dalam RASK.357. Hal tersebut dikarenakan kegiatan yang ada pada program ini merupakan kegiatan operasional terbesar yang ada di Dinas Kesehatan kemudian dari kegiatan investasi yang merupakan penunjang pelayanan kesehatan masyarakat berupa pengadaan obat.19%. jika pada KUA dan skala prioritas mementingkan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan maka belanja modal akan menjadi lebih besar dan belanja operasional pemeliharaan menjadi penunjangnya.00 yang terdiri dari gaji dan tunjangan pegawai. Intervensi Program Menurut informan bahwa dalam menetapkan intervensi program harus berpedoman pada renstra.00 dan tidak ada alokasi pada belanja aparatur.550. 3 September 2006 l 139 . alat kesehatan serta pembangunan dan rehab puskesmas.437.034. Program pelayanan kesehatan masyarakat mendapat porsi paling besar yaitu 43. Vol. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. keseimbangan antara mata anggaran bukan merupakan pembagian proporsi sama rata pada setiap jenis mata anggaran. melainkan terpenuhinya pembiayaan pada setiap mata anggaran berdasarkan KUA dan skala prioritas. Keseimbangan Antara Mata Anggaran Menurut informan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Renstra juga dijadikan acuan karena skala prioritas yang ada harus dapat mendukung visi dan misi dari pemerintah daerah. Dalam keadaan pembiayaan yang sangat terbatas. Belanja modal hanya dialokasikan pada belanja publik saja yaitu sebesar Rp10. Gani14 menyatakan program-program kesehatan yang dilaksanakan berkembang atas dasar daftar masalah kesehatan yang ada.79%. pelayanan kesehatan rujukan rumah sakit.00 dan belanja aparatur Rp22. Hasil pengolahan data sekunder dengan format District Health Account (DHA) menghasilkan alokasi terbesar pada Belanja Administrasi Umum (BAU) sebesar 49.40% dan terkecil pada belanja modal (BM) sebesar 21. aspirasi masyarakat. Hasil Musrenbang juga menjadi acuan karena merupakan wujud dari perencanaan dengan melibatkan aspirasi masyarakat sesuai dengan yang diatur dalam Kepmendagri No.000. 29/2004 sekaligus hakekat dari desentralisasi yaitu peran serta masyarakat dalam pembangunan. pelayanan kesehatan masyarakat. Hal ini dirasakan sudah cukup sesuai dengan UU No. pencegahan dan pemberantasan penyakit. Program yang ada jika mengacu pada sistem district health account menjadi 9 program dari 19 program yang telah ditentukan pemerintah pusat. tetapi hal ini juga menimbulkan tantangan baru untuk menciptakan intervensi yang “cost effective”. Telaah dokumen RASK menghasilkan ada 8 program dan 23 kegiatan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. penyediaan dan pengelolaan air bersih dan diklat aparatur negara. pustu dan polindes terdapat pada program ini. serta standar pelayanan minimal bidang kesehatan. 09.000. Intervensi ini merupakan penjabaran dari skala prioritas yang ada. Dinas Kesehatan telah menyelaraskan arahan dari pusat dan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah.000. walaupun dari segi jumlah program lebih sedikit dari yang ditentukan namun Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak khususnya. semakin banyak program yang dipilih untuk diintervensi yang terdokumentasi dalam RASK menyebabkan besaran alokasi RASK akan bertambah. Pelaksanaan program secara menyeluruh. sehingga kesesuaian antara skala prioritas dengan rencana strategis menjadi penting agar tercapai tujuan yang dikehendaki yaitu mewujudkan “Kabupaten Pontianak Sehat 2008”. d. daerah mempunyai kewajiban meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. 32/2004 Pasal 22 bahwa dalam menyelenggarakan otonomi. perbaikan gizi. Besarnya alokasi pada BAU dikarenakan akumulasi dari belanja publik Rp1. penyehatan lingkungan pemukiman. sehingga akhirnya alokasi APBD semakin besar yang diserap. Program yang dilaksanakan di Kabupaten Pontianak antara lain penyuluhan kesehatan. sehingga RASK merupakan dokumentasi yang penting dalam mengakomodasi program-program yang diprioritaskan dan nantinya akan menentukan intervensi serta besaran alokasi pada APBD.449. penting sekali untuk menetapkan prioritas masalah. pengawasan obat dan makanan.

Oleh sebab itu.000 % 0. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber pendapatan dalam APBD sesuai dengan UU No.80 18. 09. Lain-lain pendapatan yang sah bantuan dari Pemerintah Pusat (HWS) Total : Jumlah (ribuan Rp) 0 35. DAK Non-DR : . 3 September 2006 . sehingga harapan dari pernyataan Gani14 telah sesuai dengan kenyataan yang ada di Kabupaten Pontianak. tetapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut diperlukan pembiayaan yang termasuk dalam belanja operasional dan juga dimungkinkan untuk pembiayaan kelompok belanja pemeliharaan. setiap perencanaan investasi harus selalu disertai dengan perhitungan implikasi biaya operasional dan pemeliharaan yang diperlukan. perencana harus memahami kekhususan pendanaan tersebut. Vol.14 Di Kabupaten Pontianak.82% atau hanya 7.088. 3.608. Hal ini disebabkan perencana di instansi pengusul baik dinas kesehatan dan RSUD telah memahami jika mengalokasikan dana untuk belanja modal perlu juga mengikutsertakan alokasi belanja operasional pemeliharaan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2.DAK Bidang Lingkungan Hidup . Perencanaan dengan sistem anggaran berbasis kinerja dituntut kehandalan perencana dalam membuat perencanaan suatu kegiatan yang comprehenshif dengan memperhatikan ketentuanketentuan yang sesuai dengan kegiatan tersebut. sebaliknya dana perimbangan yang terdiri dari DAU. Kecilnya PAD yang dimiliki oleh Kabupaten Pontianak hanya 4.00 3. Dalam melakukan investasi sering implikasi biaya operasional dan biaya pemeliharaan investasi tersebut tidak diperhitungkan. Dana Perimbangan : a.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah kegiatan administrasi proyek. pada KUA dinas kesehatan poin (2) Peningkatan jumlah jaringan dan kualitas fasilitas kesehatan dan pada KUA RSUD poin (1) peningkatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit. sementara pada PAD tidak memberikan kontribusi kepada kegiatan kesehatan.DAK Bidang Kesehatan .542.65 3. Berdasarkan sumber pendapatan porsi terbesar penyumbang pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak adalah Dana Alokasi Umum (DAU). No. Pembiayaan Kesehatan Daerah Berdasarkan Sumber Pendapatan Sumber Dana Sesuai UU No.734. BOP yang dialokasikan pada APBD untuk pembiayaan kesehatan sebesar 28.289 47. setiap perencanaan belanja modal selalu diikuti dengan operasional pemeliharaan. Seperti dalam anggaran kesehatan yang bersumber dari DAK.575 310.07% dari total pendapatan APBD.03% selisihnya dengan BM.000 1.DAK Bidang Infrastruktur 3. barang habis pakai dari dua instansi yaitu dinas kesehatan dan RSUD. poin (2) peningkatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana nonmedik penunjang. memberikan implikasi setiap adanya peningkatan selalu diikuti pemeliharaan.738. DAU b. Perencanaan dan manajemen anggaran investasi biasanya terpisah dari perencanaan dan manajemen anggaran operasional dan pemeliharaan.575 7.560. akibatnya banyak investasi yang tidak dapat berjalan dengan baik. Tabel 2. Menurut peneliti. dkk. serta KUA dari instansi pengusul baik dinas kesehatan dan RSUD.34 14. 33/2004.253 9. Hal ini akan memberikan dampak meningkatnya jumlah alokasi anggaran pada APBD dan tidak terlepas dari skala prioritas. sehingga PAD ini tidak memberikan pengaruh yang berarti kepada pembiayaan kesehatan daerah karena sistem keuangan di daerah tidak menganut proporsi anggaran berdasarkan setoran PAD tetapi 140 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. karena hal ini akan berpengaruh kepada keseimbangan mata anggaran.41 0.00 73. Jika menelaah dokumen KUA dapat disimpulkan bahwa BM dan BOP yang dianggarkan memang mengacu kepada KUA dinas kesehatan dan KUA RSUD. yaitu dialokasikan untuk kegiatan yang termasuk dalam kelompok belanja modal.86 100.33/2004 1. serta DAK sangat besar porsinya. Tabel 2 menunjukkan pembiayaan kesehatan daerah berdasarkan sumber pendapatan.28 7. Peningkatan biaya investasi yang diikuti adanya biaya operasional dan pemeliharaan sehingga jumlah BOP tidak jauh berbeda dengan proporsi BM. gaji/upah.542 Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pontianak khususnya yang berasal dari kesehatan relatif kecil. Jadi keseimbangan antara mata anggaran sangat dipengaruhi oleh KUA dan tertuang dalam skala prioritas dan akan mempengaruhi jumlah pembiayaan kesehatan yang dituangkan dalam dokumen perencanaan (RASK). sehingga PAD menurut salah seorang informan memang tidak berpengaruh terhadap pembiayaan kesehatan karena pemda tidak menerapkan setoran PAD berbanding dengan pembiayaan. hal ini dapat disebabkan belum tergalinya potensi PAD yang riil dimiliki daerah dan belum optimalnya pengelolaan kekayaan daerah.Tisa Harmana.

838. 33/2004 menghasilkan dana perimbangan memberikan kontribusi terbesar yaitu 94. sedangkan Kabupaten Pontianak masih didominasi pertanian dan perikanan.00 dari total pembiayaan sebesar Rp80. serta menyisakan sedikit sumber daya alam berupa hutan yang sudah “gundul” sehingga secara agregat menyebabkan PAD yang ada masih kecil. Dana Alokasi Khusus (DAK) seperti yang terlihat pada Tabel 2 menunjukkan alokasi DAK adalah sebesar 18. Dana Alokasi Umum (DAU) yang diberikan kepada daerah ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN. karena Kabupaten Tangerang merupakan daerah pinggiran ibu kota Indonesia yang banyak dijadikan kawasan industri. perdagangan dengan mobilisasi penduduk yang tinggi serta memiliki objek pajak yang banyak. Dana perimbangan menentukan besar kecilnya alokasi untuk pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak. 29/2002. dan kriteria teknis. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Lestari 9 bahwa PAD menjadi penyumbang terbesar dalam pembiayaan kesehatan di Tangerang tahun 2003 yaitu sebesar Rp39. Vol. selain itu PAD dari sektor kesehatan yang dihasilkan dari retribusi kesehatan yang disetorkan ke pemda memang dikembalikan kepada instansi bersangkutan sebanyak 60% dari total setoran tetapi uang pengembalian dialokasikan dari DAU dalam bentuk uang lembur dan kompensasi pelayanan kesehatan.86% dari total pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD tahun anggaran 2006.1 Pendapatan Asli Daerah (PAU) ini sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga pemerataan dan perimbangan keuangan antar daerah.00 atau 48.71% dari total APBD Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 dengan DAU sebagai sumber pendapatan terbesar.231.377. sumber DAK tidak saja berasal dari DAK Non-DR bidang Kesehatan.960. Pendapatan tersebut didapat dari dana hibah pemerintah pusat kepada daerah dalam bentuk proyek pengembangan sumber daya kesehatan atau HWS. No. Dana Perimbangan Hasil penelitian melalui telaah dan olahan data sekunder menunjukkan bahwa dana perimbangan menjadi sumber pendapatan yang paling besar memberikan kontribusi terhadap pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 yaitu sebesar 92.900. tetapi juga berasal dari DAK Non-DR bidang Lingkungan Hidup dan DAK Non-DR Infrastruktur. Wawancara mendalam kepada para informan juga menyatakan bahwa sumber pendapatan terbesar dari DAU yang merupakan salah satu bagian dari dana perimbangan.000. Melihat jumlah PAD yang relatif kecil jika dibandingkan dengan dana perimbangan sebagai sumber pendapatan APBD. diharapkan setelah kegiatan HWS ini selesai pemerintah daerah dapat mengalokasi dana APBD Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 5. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Sariasih15 yang menyatakan bahwa ada hubungan antara variabel fiskal. maka dapat dikatakan bahwa PAD belum mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak. 09.64% sehingga PAD sangat mempengaruhi pembiayaan di Tangerang pada tahun 2003.34% dari total pembiayaan kesehatan daerah. akses pelayanan kesehatan dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan besaran alokasi DAK Non-DR pada tahun 2005 melalui kriteria umum. 3 September 2006 l 141 . kriteria khusus dan kriteria teknis dapat maksimal. Hal ini karena walaupun pemerintah pusat telah memiliki formula tertentu dalam penetapannya daerah juga harus pro aktif untuk memperoleh dana tersebut di pusat. Pendapatan Asli Daerah (PAU) untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan masing-masing sebesar 10% dan 90%. 33/2004 memberikan kontribusi sebesar 7. Hal ini dapat menjadi salah satu sumber untuk peningkatan pembiayaan kesehatan. kriteria khusus.14%. status wilayah. Fiscal gap didapat dari formulasi fiscal needs dibandingkan dengan fiscal capacity. Besarnya kontribusi dana perimbangan terhadap pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 disebabkan jumlah pendapatan pada APBD sesuai struktur APBD yang diatur UU No. Lain-Lain Pendapatan Yang Sah Hasil penelitian menunjukkan bahwa item lainlain pendapatan yang sah sesuai struktur APBD menurut UU No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan anggaran berbasis kinerja sesuai Kepmendagri No. Semakin besar dana perimbangan khususnya DAU maka semestinya semakin besar pula alokasi kesehatan. namun untuk DAK Non-DR bidang kesehatan daerah masih perlu menyampaikan usulan dan data awal agar pada perhitungan formulasi penentuan alokasi DAK melalui kriteria umum. status kesehatan akses air bersih. Kegiatan HWS ini berlangsung selama lima tahun dimulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Jika membandingkan PAD Kabupaten Pontianak yang kecil dengan Kabupaten Tangerang. 4. menjaga agar tidak terlalu besar fiscal gap yang terjadi.

dinas pendidikan. hasil hutan dan perikanan. Azwar16 mengatakan jumlah dana yang tersedia di daerah dalam bentuk APBD mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah. 3 September 2006 . dinas kependudukan. dinas lingkungan hidup. tetapi bila dikaitkan dengan kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota se-Indonesia. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah secara agregat menjadi sumber pembiayaan kesehatan daerah.542. serta adanya paradigma baru dari perubahan sistem anggaran pada era desentralisasi yaitu APBD harus berorientasi pada kepentingan publik belum tercapai dengan optimal. Untuk dapat mengatasi permasalahan ini maka Kabupaten Pontianak mendapat tambahan alokasi dana pembiayaan kesehatan dari proyek HWS.00 atau 52. Pemerintah daerah dalam otonomi mempunyai empat sumber pendapatan untuk membiayai kegiatan yaitu: (1) alokasi dari pusat dalam bentuk DAU dan DAK. dinas sosial. catatan sipil dan keluarga berencana. Informasi Alur Pembiayaan Hasil penelitian melalui wawancara mendalam dengan para informan diketahui alur pembiayaan kesehatan diharapkan menjadi pedoman pada level pengambilan kebijakan pembiayaan kesehatan daerah. Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang tersebar di seluruh satuan kerja di lingkungan Pemerintah Daerah jika hanya memperhatikan kegiatan kesehatan dengan kelompok belanja pelayanan publik maka hanya 9 satuan kerja yang melakukan kegiatan kesehatan berbasis pelayanan publik yaitu dinas kesehatan. pengelola dana sampai ke mana saja dana tersebut dialokasikan terekam dalam sistem DHA.105.449.Rubini.093. UPT Panti Sosial (PTSW) dan sekretariat daerah. Tabel 3 berikut menunjukkan besaran alokasi pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Kabupaten.105. (2) anggaran perimbangan atau bagi hasil yang diperoleh dari pertambangan. Sisanya hanya melakukan kegiatan kesehatan yang berkaitan dengan aparatur yaitu perawatan dan pengobatan lokal dan GCU.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah sebesar 15% sesuai dengan kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota seIndonesia dalam rangka desentralisasi di bidang kesehatan yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2000 yang menyatakan bahwa secara bertahap proporsi anggaran kesehatan akan ditingkatkan sehingga sesuai dengan kebutuhan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu minimal 5% dari Product Domestic Regional Bruto (PDRB) atau setara dengan minimal 15% dari APBD.22% dan kelompok belanja pelayanan publik sebesar Rp25.00 Rp47. kelompok belanja aparatur sebesar Rp22. dinas pekerjaan umum.78 100.00 atau 47. Pembiayaan untuk belanja pelayanan publik hampir berimbang dengan belanja aparatur sehingga tujuan dari desentralisasi. Pembiayaan Kesehatan Kabupaten Pontianak Berdasarkan Kelompok Belanja Belanja Aparatur Pelayanan Publik Jumlah (ribuan Rp) Rp22.00 % 47. (3) pendapatan dari pajak dan retribusi. energi dan sumber daya mineral.000.000. Data pembiayaan kesehatan daerah saat ini dapat diolah melalui format DHA yang merupakan jabaran dari National Health Account (NHA). Kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan Walikota se-Indonesia dalam rangka desentralisasi di bidang kesehatan yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2000 menyatakan bahwa secara bertahap proporsi anggaran kesehatan akan ditingkatkan sehingga sesuai dengan kebutuhan standar WHO yaitu minimal 5% dari PDRB atau setara dengan minimal 15% dari APBD.449. pembiayaan kesehatan bersumber dari APBD kabupaten masih perlu ditingkatkan lagi.542. dkk.00 terhadap jumlah penduduk Kabupaten Pontianak tahun 2005 142 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. migas.00 Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak tahun 2006 terdiri dari dua kelompok yaitu.78%. Tabel 3. Struktur pendapatan APBD sesuai UU No. dan (4) pinjaman dalam negeri dan luar negeri. walaupun secara fakta di lapangan PAD belum mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak.105. 09.437.. tenaga kerja dan transmigrasi. sehingga alur pembiayaan yang memuat jumlah dana.00 Rp25. 6.22 52. No.437. RSUD dr. Hasil wawancara mendalam diketahui bahwa sektor kesehatan merupakan sektor prioritas dalam pembangunan Kabupaten Pontianak setelah pendidikan dan infrastruktur. Jika dianalisis jumlah belanja pelayanan publik sebesar Rp25.Tisa Harmana. sumber dana.093.093.33/ 2004 yang terdiri dari PAD. sehingga kesinambungan informasi ini sangat dibutuhkan.000. prioritas pembangunan daerah dan berdasarkan visi pembangunan kesehatan Kabupaten Pontianak.

sehingga dapat dikatakan bahwa Kabupaten Pontianak belum menempatkan pembangunan kesehatan sebagai arus pembangunannya. Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 merupakan salah satu implikasi desentralisasi yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk memenuhi kewajiban seperti yang tercantum dalam UU No. 22/ 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. Pembiayaan kesehatan berdasarkan fungsi pelayanan kesehatan berdasarkan pedoman DHA terdiri dari 12 fungsi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebanyak 725662 jiwa maka jumlah per kapita per tahun menjadi Rp34. dan dari hasil penelitian diketahui bahwa semua fungsi teralokasikan pembiayaannya. Hasil wawancara mendalam diperoleh informasi tentang sektor-sektor yang menjadi prioritas. Pembiayaan kesehatan daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2006 dibagi menjadi dua kelompok. Total seluruh pembiayaan kesehatan yang bersumber pada APBD sebesar Rp47. pelayanan kesehatan anak pra sekolah. Angka ini masih jauh di bawah standar WHO.664. yaitu Dinas Kesehatan dan RSUD dr. proporsi terbesar dialokasikan untuk menyelenggarakan kewenangan wajib pelayanan kesehatan dasar yaitu sebesar 54. sehingga apa saja program yang dilaksanakan akan dimasukkan ke dalam fungsi perencanaan sesuai pedoman penyusunan DHA. 32/2004 dan UU No. pelayanan pengobatan/perawatan. Alokasi terbesar berada di sektor kesehatan dibandingkan dengan sektor nonkesehatan dengan perbandingan 85.000. 09.75% (Dinas Kesehatan 69. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Gani16 yang menjelaskan bahwa sumber biaya kesehatan di daerah dibagi dalam dua kelompok yaitu sektor kesehatan dan sektor nonkesehatan.Rubini. Hal ini dibuktikan dengan hasil olahan data sekunder yang menempatkan sektor kesehatan di Kabupaten Pontianak menempati tiga besar dalam skala prioritas pembangunan menurut jumlah alokasi anggaran.57% dan RSUD 16. Jika melihat kewenangan wajib maka pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak bersumber APBD tahun anggaran 2006 telah dapat membiayai seluruh kewenangan wajib yang berjumlah 9.96% yang besarnya fungsi perencanaan ini disebabkan salah satu kegiatan dalam fungsi ini adalah pelaksanaan program. 25/ 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang kemudian digantikan dengan UU No. Vol. yang sektor nonkesehatan adalah instansi di luar Dinas kesehatan dan RSUD yang melakukan kegiatan kesehatan. 32/2004 Pasal 22. Analisis Pembiayaan Kesehatan Kabupaten Pontianak Otonomi daerah yang diatur dalam UU No. Salah satu faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah adalah kemampuan menyajikan informasi alur pembiayaan kesehatan daerah termasuk informasi sumber-sumber dana yang ada sampai bagaimana penggunaan dana tersebut terhadap pencapaian program-program kesehatan.60.00. pelayanan kesehatan jiwa. 7. pelayanan KB. yaitu dana yang berada di sektor kesehatan yakni Dinas Kesehatan dan RSUD dr.45% atau sebesar Rp13. infrastruktur dan kesehatan.542.24% untuk sektor nonkesehatan. Fungsi yang mendapatkan porsi terbesar adalah fungsi perencanaan dengan alokasi 26. sehingga persentasi dana yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak adalah sebesar 8. atau sebesar 85. No.2 Informasi alur pembiayaan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah karena adanya alur informasi ini pihak perencana dan pihak pengambil kebijakan dapat menganalisis apakah kebijakan dibidang kesehatan telah dapat mengakomodasi dan memecahkan permasalahan kesehatan di Kabupaten Pontianak.33/ 2004 membawa implikasi pada perubahan berbagai sektor dalam sistem sosial masyarakat termasuk sektor kesehatan.579.18%) dari total pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006.00 yang terdiri dari jenis pelayanan KIA.500. Dari 9 kewenangan wajib yang mendapatkan alokasi pembiayaan di Kabupaten Pontianak tahun 2006. pelayanan kesehatan kerja dan pelayanan kesehatan usia lanjut. yaitu: pendidikan.Rubini dan dana yang berada di sektor nonkesehatan yaitu instansi lain yang melakukan kegiatan kesehatan. 3 September 2006 l 143 .00.542. pelayanan imunisasi. maka persentase dana yang dialokasikan pada pembiayaan kesehatan adalah sebesar 7. Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.71% dari total APBD.76% untuk sektor kesehatan dan 14.99% dari total APBD Kabupaten Pontianak Tahun Anggaran 2006 dan jika hanya memperhitungkan pada sektor utama saja.313.

: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah tahun 2005 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pontianak sebesar Rp65. Permasalahan ini juga masih perlu dicermati oleh para pengambil kebijakan sebagai bahan pertimbangan dalam membelanjakan sumber daya. 144 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. externalitasnya rendah. General Check Up (GCU) ini dilakukan untuk pejabat eselon.000.60. 09. namun kegiatan GCU yang dilaksanakan oleh semua instansi yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pontianak merupakan kegiatan yang tidak semestinya dibiayai pemerintah karena bukan merupakan public goods. Jika kita merujuk kepada keterbatasan sumber daya dalam hal ini dana APBD.78% sedangkan belanja aparatur 47. Vol.57% dan terkecil berada di unit kerja UPT LLK-UKM.Rubini sebagai sektor utama kesehatan maka pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak adalah sebesar Rp56. 29/2002 menjelaskan proporsi yang ideal adalah belanja publik 70% sedangkan belanja aparatur 30%. merupakan usaha kesehatan perorangan dan bukan paket kegiatan esensial yang harus dibiayai. dkk. Hal ini bisa dilihat dari proporsi belanja publik dan aparatur yang tidak berbeda jauh atau bisa dikatakan hampir berimbang yaitu: belanja publik sebesar 52.516. alasan lain nilai per kapita Kabupaten Pontianak masih rendah bisa terjadi karena pada penelitian ini hanya mengambil sumber dari APBD saja. Jika hanya diperhitungkan dari sektor kesehatan saja yaitu dari Dinas Kesehatan dan RSUD dr.00 per kapita per tahun. No. Sebenarnya hal ini perlu digarisbawahi karena dampak ke depan adalah menciptakan aparatur atau SDM yang sehat baik secara fisik maupun mental spiritual.076. Kepmendagri No. sehingga pemilihan kegiatan sebaiknya difokuskan pada pelayanan esensial. Hasil olahan data sekunder juga menunjukkan bahwa daerah belum menempatkan alur pembiayaan kesehatan pada belanja publik. Ini erat kaitannya dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber pada APBD. kegiatan GCU yang dilakukan merupakan pemborosan sumber daya. yang alokasi terbesar dari total pembiayaan kesehatan daerah berada di Dinas Kesehatan sebagai sektor utama sebesar Rp33.441.Tisa Harmana. Rubini. 3 September 2006 .00 per kapita per tahun. sehingga lebih mengarah kepada public oriented. Kegiatan GCU ini tidak dapat dikatakan sebagai indikator kinerja bahwa kinerja PEMDA tidak baik dengan mengalokasikan dana untuk GCU.00 atau 0.01% yang semuanya adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). dimulai dari pejabat eselon IV (setingkat kepala seksi) sampai dengan pejabat eselon II (setingkat kepala dinas sampai Sekda) dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Pontianak. Jika digunakan standar 15% APBD maka pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak juga belum memenuhi standar karena baru mencapai nilai 8. sehingga jika dibandingkan dengan standar WHO sebesar Rp51. Kegiatan GCU yang dilakukan di RSUD milik pemda pada sisi lain juga menguntungkan bagi pihak RSUD karena biaya GCU dijadikan PAD kesehatan.00 per kapita per tahun.00 atau 69. sehingga masih terjadi kesenjangan yang lebar.184. UPPD Sungai Raya dan Pelabuhan Rasau Jaya Rp3. Hal ini perlu menjadi perhatian para praktisi kesehatan di lapangan.579. sehingga dana dari sumber-sumber lain seperti APBN dan dekon belum diakumulasi dan diperhitungkan. namun dana GCU tersebut disalurkan melalui satuan kerja masing-masing (lihat Tabel 2).10. perlu adanya “improve” baru agar dapat mendongkrak jumlah alokasi anggaran.22. serta GCU ini merupakan kegiatan bagi aparatur pemerintah bukan pelayanan publik. Berdasarkan hasil penelitian tentang pembiayaan kesehatan di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2006 diketahui bahwa ternyata pengalokasian anggaran kesehatan menyebar keseluruh satuan kerja yang ada di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak. sehingga diharapkan dapat terciptanya good governance . Apabila dihitung berdasarkan belanja publik menjadi Rp34.000.000. Hal ini terjadi karena setiap satuan kerja melakukan kegiatan kesehatan yaitu perawatan dan pengobatan lokal serta pemeriksaan kesehatan atau General Check Up (GCU) di RSUD dr. Kegiatan kesehatan yang dilakukan berupa perawatan dan pengobatan lokal.00 per kapita per tahun maka pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak belum memenuhi standar. namun hasil yang diinginkan dari kegiatan ini adalah memberikan peningkatan kinerja aparatur dalam melayani publik atau masyarakat demikian alasan yang disampaikan salah satu informan pada wawancara mendalam.99% dari total APBD tahun anggaran 2006. Nilai ini adalah perhitungan secara total dari pembiayaan kesehatan daerah baik dari sektor kesehatan maupun sektor nonkesehatan. SKB. akan tetapi pada kasus ini terjadi disalokasi sumber daya. Gani 14 mengatakan pelayanan kesehatan yang memiliki externalitas tinggi berupa public goods serta merupakan paket pelayanan esensial wajib dibiayai oleh pembiayaan pemerintah.250.22% dari total pembiayaan kesehatan daerah.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 14. Tesis. DHA Kabupaten Ketapang. Proposal HWS Kabupaten Pontianak 2006. Vol. Thabrany. 2. 5. Indonesia. Analisis Pembiayaan Kesehatan Daerah Bersumber Pemerintah di Kabupaten Tangerang. 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Saran Hendaknya melakukan pelatihan tentang DHA bagi pihak instansi pengusul baik Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak dan RSUD dr. No. edisi kedua. H.N. Universitas Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Tesis. alokasi mata anggaran. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.W. Mempawah. Analisis Keputusan Menteri Keuangan No. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Faktor komitmen daerah. Mardiasmo. 2005. District Health Account (DHA) bersumber Pemerintah. 2005. informasi alur pembiayaan kesehatan. A. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Indonesia. namun demikian belum dapat dikatakan kinerja sektor kesehatan itu belum baik karena mengingat sumber daya yang terbatas dalam hal ini alokasi anggaran. Indonesia. Departemen Kesehatan RI Konseptual Framework Provincial Health Account (PHA). Irwansyah. 3 September 2006 l 145 . Jakarta. Tesis. Gani. A.2003. Dunn. Indonesia. Studi Pembiayaan Kesehatan di Yogyakarta dan Lampung.505/KMK. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 16. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Pemerintah Kabupaten Pontianak diharapkan tetap konsisten dalam memegang komitmennya terhadap sektor kesehatan yang merupakan salah satu prioritas pembangunan melalui peningkatan jumlah alokasi anggaran walaupun secara bertahap sehingga dapat mencapai 15% dari total APBD sesuai kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Soewondo. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang. 2003. 13. Lestari. 09. 4. Ketapang Kalimantan Barat. Jakarta. Tesis. Depok. Analisis Pembiayaan Kesehatan Bersumber Pemerintah di Kota Depok. Reformasi Pendanaan Kesehatan.Rubini agar dapat membuat informasi alur pembiayaan dengan menggunakan format dan pedoman DHA beserta analisisnya setiap tahun secara berkesinambungan. Depok. 2003. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. A. N.I. Departemen Kesehatan RI. N. 2003. Dharmawan. Yogyakarta. 6. 8. 2004. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. A. Gani. 2002. kemampuan advokasi. prioritas masalah kesehatann dan pemilihan intervensi program. Depok. 2005. Universitas Indonesia. Andi Offset. Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. lain-lain pendapatan sah merupakan faktor-faktor yang memberikan kontribusi dalam pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak. Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak per kapita per tahun jika dilihat dari belanja publik yang bersumber pada APBD tahun 2006 belum mencapai nilai standar yang ditetapkan oleh WHO. Analisis Biaya Program Kesehatan Masyarakat dalam Kebijakan Desentralisasi. Indonesia. Volini. Raja Grafindo Persada. Analisis Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dalam Pelaksanaan Desentralisasi Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Sukabumi. agar dapat dijadikan pedoman dan bahan advokasi kepada para pengambil kebijakan di daerah. 2002. 2001. 2000. KEPUSTAKAAN 1. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2003. 11. Universitas Indonesia. Gadjah Mada University Press. Analisis Pembiayaan Kesehatan Bersumber Pemerintah di Kabupaten Lampung Selatan. 12. kemampuan perencanaan. Yogyakarta. 3. Jakarta.02/2004 Sebagai Model Penetapan Dana Alokasi Khusus Non Dana Reboisasi Tahun Anggaran 2005 Bidang Kesehatan. Penelitian lanjutan dengan desain dan metode berbeda terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah sangat diperlukan untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut juga bisa mempengaruhi pembiayaan kesehatan di tempat yang berbeda. PAD. P. 15. 1998. W. Depkes RI. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Konsep dan Klarifikasi Biaya. 2004. Universitas Indonesia. Kalimantan Barat. Gani. Tesis. 2003. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Sariasih. 7. Depok. 9. T. Biro Keuangan Departemen Kesehatan RI. Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak.

3) The comprehensive management intervertion to distribute specialist doctor to all district general hospitals in Indonesia must be developed by the central government. c) Area with higher PDRB per capita has ratio 10. Metodologi: Rancangan penelitian ini adalah studi penampang. Rerata dokter spesialis daerah kota lebih besar 10 kali lipat dari daerah kabupaten. Oleh karena itu.10 kali lebih tinggi daripada daerah dengan jumlah kematian bayi lebih besar.09 higher than area with lower density population.62 times than area with lower PDRB per capita. bivariate analysis and multivariate analysis. d) area with higher density population has specialist doctor’s ratio 21. Data diambil dari Badan Pusat Statistik dan Biro Personalia. Kesimpulan: 1. Conclusion: 1) Determinant factor of specialist doctor’s distribution in city/district are high PDRB per capita. analisis bivariat dan analisis multivariat. Hasil: Dari analisis data kuantitatif ditemukan: a) distribusi dokter spesialis tidak merata pada kabupaten dan kota. dan kepadatan penduduk tinggi. Departemen Kesehatan R. Perlu dikembangkan intervensi manajemen yang komprehensif untuk mendistribusikan dokter spesialis ke RSUD diseluruh kabupaten Indonesia. Sumber data penelitian ini adalah data sekunder.000 number of population. c) daerah dengan PDRB per kapita lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 10. Indonesia ABSTRACT Background: Many factors cause the scarcity of specialist doctors in Indonesia.4 sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0.6% from total city/district has minimal ratio. dan e) singkatnya program masa bakti dokter spesialis untuk daerah tertentu. c) mahal dan lamanya waktu pendidikan dokter spesialis.000 penduduk pada daerah kota 8.000 penduduk). Analysis was done using Program Stata 7. Additionally data about socio-economic of city/district are taken from District and Municipality Profile 2004 published by Kompas. Analisis dilakukan dengan Program Stata versi 7. b) rerata dokter spesialis per 100. PENGANTAR Rasio jumlah tenaga dokter spesialis terhadap penduduk di Indonesia jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rasio di negara-negara maju maupun di negara-negara ASEAN lainnya. d) daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 21. distribution. 2.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. banyak rumah sakit swasta maupun pemerintah di tingkat kotamadia dan kabupaten di Indonesia yang masih membutuhkan tenaga dokter spesialis. Dokter spesialis lebih memilih untuk berkeja dan tinggal daerah perkotaan. Kabupaten dan Kota tahun 2004. 2) Specialist doctors tend to work in city area.62 kali lebih tinggi daripada daerah dengan dengan PDRB per kapita lebih kecil. and high density population. data tentang sosio-ekonomi kota/ kabupaten diambil dari Buku terbitan Kompas berjudul Profil Daerah.10 higher than area with high IMR area.0 version through 3 steps: univariate analysis.I. e) area with lower infant mortality rate (IMR) has specialist doctor’s ratio 3. Universitas Indonesia. 3 September 2006 . 3. Rumah Sakit Umum Daerah Keywords: specialist doctor. Result: From quantitative analysis we find that: a) there are maldistribution of specialist doctors between city and district. Selain itu. No. antara lain: a) terbatasnya lembaga pendidikan yang mampu menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis. 09.6% kota yang mempunyai rasio DSP yang cukup (6 DSP/100. lower infant mortality rate.8.4 meanwhile in district 0. Kata Kunci: dokter spesialis. Hanya 11. Unit analisis penelitian adalah kabupaten/kota. 03 September l 2006 Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Halaman 146 .09 kali lebih tinggi daripada daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar.0. Penelitian ini bertujuan untuk menggali determinan distribusi Dokter Spesialis di RSUD kabupaten/kota di Indonesia. The Purpose of this research is to answer: “What are factors that determine the specialist doctor’s distribution in City and District Indonesia?” Methodology: The design of this research is a survey on secondary data. d) daerah dengan jumlah kematian bayi lebih kecil mempunyai rasio dokter spesialis 3. b) the average number of specialist doctors per 100. District General Hospital ABSTRAK Latar Belakang: Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kelangkaan dokter spesialis di Indonesia.I. b) terbatasnya jumlah mahasiswa yang dapat diterima oleh lembaga pendidikan yang ada. distribusi. Only 11.000 number of population. jumlah kematian bayi rendah. melalui 3 tahapan: analisis univariat. 6 specialist doctors per 100.8 per 100. seperti Aceh 146 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Data were collected from Central of Statistic Bureau and Personnel Bureau of Ministry of Health R. Rendahnya rasio tersebut disebabkan oleh rendahnya jumlah lulusan dokter spesialis (DSP) setiap tahunnya.155 Artikel Penelitian DETERMINAN DISTRIBUSI DOKTER SPESIALIS DI KOTA/KABUPATEN INDONESIA DETERMINANT FACTORS OF DOCTOR’S DISTRIBUTION IN CITY/DISTRICT INDONESIA Yaslis Ilyas Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. Vol. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kelangkaan dokter spesialis di Indonesia. Determinan distribusi dokter spesialis di kota/ kabupaten dan signifikan adalah: PDRB per kapita tinggi.000 number of population in city is 8.

Pada data provinsi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Variabel Penelitian Total populasi data kabupaten/kota yaitu 369 pada tahun 2002. baik berupa publikasi resmi ataupun data yang diambil dari sistem pencatatan melalui print out di komputer. Sumber data penelitian ini adalah data sekunder. dilakukan saringan untuk mencari variabel kandidat dengan menggunakan batas p<0. 1207. Unit analisis penelitian adalah kabupaten/ kota.0. Odds Rasio (OR) dan uji t-test. Modelling dilakukan dengan membuat dua kategori pada variabel independen. Jika tidak memenuhi kedua syarat tersebut digunakan t-test unequal varian. yang berisi ketentuan tentang Pendayagunaan Dokter dan Dokter Gigi Spesialis.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tiga bulan ekuivalen untuk satu tahun dan daerah crash program seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) enam bulan equivalen untuk satu tahun.1210/Menkes/SK/X/1999. analisis univariat dengan mendeskripsikan : nilai rerata. 09. sementara pada data kabupaten/kota bila p<0. data dan informasi tentang distribusi dokter spesialis sangatlah terbatas. serta confounding. c. diperberat dengan tidak ditaatinya program masa bakti selama dua tahun oleh dokter spesialis untuk bekerja di rumah sakit pemerintah di seluruh kotamadia dan kabupaten di Indonesia. No. e. Data diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Biro Personalia. Status ini berakibat terhadap mobilitas dokter spesialis setelah menyelesaikan masa bakti. Banyak lulusan dokter spesialis yang mengingkari janji untuk bekerja di rumah sakit kabupaten sesuai dengan Permenkes No. Sejumlah masalah mengenai penempatan dokter spesialis dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) telah diobservasi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI)2 antara lain: a. P value pada perhitungan OR menggunakan P Wald. Selain itu. Kalimantan Timur. serta membuat distribusi frekuensi. Gorontalo. maka digunakan t-test equal varian. Terbatasnya jumlah dokter spesialis ini. d. Lulusan dokter spesialis menolak untuk ditempatkan di kabupaten karena status PNS akan berubah menjadi pegawai daerah. Kedua. standar deviasi. Pertama. Sayangnya. Rendahnya tingkat sosio ekonomi kabupaten merupakan faktor penting yang membuat enggannya atau ditolaknya program penempatan dokter spesialis. Data di entri dengan Program Epi Info versi 5. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1 Pengumpulan data dilakukan dengan menentukan variabel yang diperlukan dalam penelitian ini.04 dan Program Excell for Windows. Lulusan dokter spesialis yang mendapat beasiswa dari pemerintah tetap tidak mau bekerja kembali di kabupaten tempat mereka bekerja sebelumnya. yang mendapatkan beasiswa. Cut off pada data kontinum dianalisis dengan ROC untuk mencari cut off yang mempunyai sensitifitas dan spesifisitas maksimum. Hasilnya adalah model regresi logistik.1. Sepengetahuan penulis.25. DKI Jakarta. Distribusi dokter spesialis begitu penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit di kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Artikel penelitian ini bertujuan untuk menjawab: “Apakah faktor-faktor yang menentukan distribusi dokter spesialis di kota maupun kabupaten di Indonesia?” BAHAN DAN CARA PENELITIAN Rancangan penelitian ini adalah studi penampang. Sejumlah dokter spesialis berstatus PNS. BPS. Jumlah record kota/kabupaten yang dapat dianalisis yaitu 291. 3 September 2006 l 147 . Vol. Jika uji varian menunjukkan tidak ada perbedaan varian dan data terdistribusi normal. Beberapa lulusan dokter spesialis. Jumlah kabupaten/ kota yang tidak dianalisis adalah kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. analisis multivariat: melakukan modelling dengan regresi logistik. walaupun mau ditempatkan di rumah sakit kabupaten. b. Kabupaten dan Kota Tahun 2004. Setelah itu.05. Depkes RI. variabel disebut bermakna bila p<0. analisis bivariat: mencari koefisien korelasi. Bangka Belitung. Analisis dilakukan dengan Program Stata versi 7. belum pernah ada publikasi penelitian yang mendalam tentang distribusi dokter spesialis di Indonesia. nilai minimal dan maksimal. tetapi meninggalkan tugas setelah bekerja tidak lebih dari tiga bulan. Setelah daftar variabel dibuat kemudian data sekunder dicari dari sumber data di Depkes RI. baik yang berstatus PNS dengan beasiswa maupun dokter spesialis dengan biaya mandiri. serta sumber lainnya. dan diuji multikolinearitas. Hal ini berakibat terhadap laju pertambahan lulusan dokter spesialis yang tidak sesuai dengan kebutuhan tenaga dokter spesialis di masyarakat. Uji t-test yang digunakan tergantung uji normalitas dan uji varian . A/Menkes/SK/VIII/2000. melalui tiga tahapan. Terakhir. interaksi. bersedia membayar pinalti untuk mengembalikan dana sebesar 10 sampai dengan 20 kali beasiswa sesuai dengan Permenkes No. data tentang sosio ekonomi kota/kabupaten diambil dari buku terbitan Kompas berjudul Profil Daerah.

Secara umum. dengan jumlah dokter spesialis maksimal 29.8 0. Sebagian besar dokter spesialis bekerja di Jakarta sebanyak 2. Sebagai contoh: di Nicaragua 50% profesional bekerja di ibukota negara Managua yang jumlah penduduknya hanya 15% dari total populasi.3 per 100. Tabel 2. Pakistan dan Nepal. Jumlah Kota/Kabupaten dan Sampel Penelitian Tiap Provinsi di Indonesia Tahun 2002 Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur (Jatim) Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Total Populasi Kota/ kabupaten 20 20 15 16 10 10 4 10 3 5 24 35 5 38 6 9 8 15 10 14 11 12 5 9 24 6 3 5 3 14 369 Sampel Kota/ kabupaten 15 19 15 16 10 0 4 10 0 0 24 35 5 37 * 6 9 7 14 10 6 11 0 5 7 18 5 0 0 3 0 292 * Kota Batu di Jatim. bedah. No.205 dokter spesialis di seluruh Indonesia dan sebagian besar rumah sakit swasta sangat kekurangan dokter spesialis yang bekerja purna waktu. 30% perawat bekerja di empat kota besar dengan jumlah penduduk <15% dari total populasi. Dari hasil analisis data.8 orang. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2002 Tahun Jenis tenaga medis Rasio Dokter spesialis * Jumlah Dokter spesialis ** Rerata Minimal Maksimal N† 2002 2. 148 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1 per 100.441 orang yang merupakan 27% dari jumlah spesialis yang ada di Indonesia. † Kota Batu di Jatim.3 291 2002 7.000 tetapi ada juga kabupaten yang sama sekali tidak mempunyai dokter spesialis.1 0.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Maluku.000 penduduk. satu kota di Jawa Timur yaitu Batu data jumlah penduduk tidak tersedia sehingga tidak dapat menghitung rasio DSP.5 Pada analisis data penelitian ini digunakan cut of point rasio dokter spesialis adalah 6 per 100. 3 September 2006 . kebidanan. penyakit dalam. dengan jumlah maksimal 205 dokter spesialis. bahwa pada tahun 2002 rerata rasio dokter spesialis per kabupaten/kota adalah 2. Selain itu.000 penduduk. anestesi dan radiologi. walaupun mempunyai kebijakan perencanaan dan distribusi tenaga kesehatan sentralisasi di tingkat nasional. distribusi dokter spesialis masih sangat tidak merata dan jumlahnya juga tidak memadai. tidak ada jumlah penduduknya sehingga rasio DSP-nya missing.000 Penduduk. tidak ada jumlah penduduknya sehingga rasio DSP-nya missing. Bila kita lihat dari jumlah dokter spesialis per kabupaten/kota jumlahnya juga sangat timpang yang reratanya 7. 4 Masalah kesenjangan distribusi profesional kesehatan juga menjadi masalah utama negara berkembang lainnya seperti: India.0 205 292 Keterangan: * dihitung per 100. Tabel 1 menyampaikan jumlah populasi dan sampel penelitian pada setiap provinsi di Indonesia. Jumlah dokter spesialis baru ada 9. Tampak. Hal yang sama juga terjadi di Bangladesh 35% dokter. Kabupaten yang diekslusi ini karena tidak tersedianya data jumlah dokter spesialis. Kecenderungan berkumpulnya profesional kesehatan di kota-kota besar merupakan masalah utama yang banyak dihadapi oleh negara-negara berkembang.0 29. dan Papua. sedangkan di daerah luar Jawa masih sangat sedikit. Vol. Rasio Dokter Spesialis Per 100. 09.000 penduduk. Informasi yang juga menarik Tabel 1. dengan rincian sebagai berikut: dokter spesialis anak. ** Sumber: Profil Kesehatan Provinsi. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang disampaikan Karnadihardja dan Lukman3 bahwa dokter spesialis bertumpuk di kotakota besar di pulau Jawa. informasi mengenai distribusi dokter spesialis terlihat pada Tabel 2.

Nama Kota Dengan Rasio Dokter Spesialis ³ 6 per 100. % melek huruf. % penduduk miskin. meningkatnya waktu tunggu.05. 09.000 Penduduk Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. life expectancy dan jumlah kematian ibu bersalin berhubungan dengan * Sumber: Profil Daerah Kabupaten & Kota Jilid 1-4.6% dari jumlah kabupaten/kota yang mempunyai rasio minimal 6 dokter spesialis per 100. dan lapangan kerja yang lebih atraktif. jumlah kematian balita. Temuan ini memberikan 35 30 P lo t A r e a 25 20 15 10 5 0 PE SA BA BA NG N AT D A AN AC EH G SI AN TA R M ED AN SI BO LG A TE BI NJ BI PA AI DA NG N G T IN PA G G I NJ AN SO G BU L KI OK TT IN G P G I PA A D AN Y G TA A K N J UM BU UN H G PI NA NG DU M BE AI NG KU LU M ET SU R O KA BU M I C IM AH CI RE I M AG BO N E S E LA N M G AR SA AN LA G PR T O B O IG A LI N G PA SU G O RU AN M AD IU M AL N AN G KE D E N D IR PA I SA M R AT A PO RA PA NT M LA IA N G K A NA K BA RA N YA JA R BA N J BA R AR U M AS IN M Gambar 1.6 100. Tabel 3.000). kepadatan penduduk.0 pemahaman kepada kita bahwa kecukupan dokter spesialis hanya terdapat pada daerah perkotaan di Indonesia. Kota besar lebih memberikan peluang kepada profesional kesehatan untuk berkembang. tetapi ada kota yang dokter spesialisnya berlebihan.9 Hubungan Variabel Bebas dengan Distribusi Dokter Spesialis 1. No. 20041.000 penduduk. pendidikan. % angka beban. diketahui bahwa hanya 11. t-test Pada analisis bivariat tampak pada p<0.8 Selanjutnya. dan under-utilisasi dari tenaga yang ada. 3 September 2006 l 149 .7.000 Penduduk Tahun 2002 Klasifikasi < 6 dokter spesialis > 6 dokter spesialis Total N 258 33 292 % 88. fasilitas untuk keluarga.4 11. sejumlah variabel bebas yaitu: faktor Human Developmen Index. Ada sejumlah kabupaten yang sama sekali tidak mempunyai dokter spesialis.000.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan adalah rendahnya kabupaten/kota yang mempunyai rasio dokter spesialis minimal 6 per 100.9 Hal ini tentunya berakibat buruk terhadap kinerja sistem kesehatan nasional. termasuk rendahnya kualitas dan produktivitas pelayanan kesehatan. Jumlah Kabupaten/Kota dan Persentasenya Dengan Rasio Dokter Spesialis Sebanyak 6 Dokter Spesialis per 100. berkurangnya jumlah tempat tidur rumah sakit. Gambar 1 memperlihatkan nama kota-kota dengan rasio dokter spesialis dengan jumlah penduduk yang sudah cukup (=6 dokter spesialis/100. penutupan sebagian fasilitas rawat inap. Kompas. Temuan ini juga telah diketahui secara luas bahwa profesional kesehatan lebih cenderung tinggal dan bekerja di kota-kota besar. Dari 33 sampel penelitian dengan dokter spesialis cukup diketahui berstatus kotamadia atau kota besar. Vol.6. Dari data yang ada. Dari data ini juga diketahui betapa timpangnya distribusi dokter spesialis.

2. Artinya. tampaknya sesuai dengan yang dialami oleh negara lain baik negara sedang berkembang maupun negara maju.367. rerata dokter spesialis per 100.000 penduduk pada daerah perkotaan 8.05 .000 0. maka didapatkan distribusi dokter spesialis masih menumpuk di perkotaan (Tabel 6).1 0.0 18.000 0. Tahun 2002 (Variabel Kontinyu) Variabel independen DSP cukup (° 6 per 100. Ciri lainnya adalah daerah miskin. 3. dilakukan uji koleniaritas memeriksa kemungkinan adanya multikolinieritas antara variabel bebas. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota.000 0.000. No.000. terlihat ada multikolinearitas antara variabel HDI dengan life expectancy (r=0. Kondisi Tabel 6. Daerah yang kekurangan tenaga juga mempunyai status kesehatan yang jelek. faktor yang berhubungan dengan distribusi jumlah dokter spesialis bertambah banyak dengan PDRB per kapita. karaktersitik daerah yang lebih maju (perkotaan) mempunyai dokter spesialis yang jauh lebih besar dari daerah yang kurang maju dalam dalam hal ini kabupaten.8 10.7).1 18.8 8. Pada p<0.1. Faktor Karakteristik Wilayah Kalau dianalisis distribusi dokter spesialis berdasarkan variabel independen kota dan kabupaten. ditemukan bahwa kota/ kabupaten dengan distribusi dokter spesialis cukup mempunyai nilai rerata variabel bebas yang lebih baik dari pada kabupaten/kota dengan distribusi dokter spesialis yang kurang. bahkan amat jelek. Ras kulit non white umumnya tinggal di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan.3 9.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Tabel 5.3 89.0 P Human Development Index % melek huruf % penduduk miskin Jumlah kematian balita Kepadatan penduduk % angka beban Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin PDRB per kapita Jumlah kematian bayi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Ket: * p<0.0 DSP kurang (<6 per 100.000) N=33 71.000 0.000.5 66.0 34. Vol.4.017 0.000) N=258 65. Daerah ini mempunyai prevalen bayi berat badan lahir rendah yang tinggi dan angka kesakitan penyakit kronis yang tinggi. Tabel 6 memperlihatkan hasil analisis bivariat Odds Ratio (OR) antara sejumlah variabel bebas dengan distribusi dokter spesialis. 150 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dari analisis ini.620 * * * * * * * * ** distribusi dokter spesialis (Tabel 5). ** p<0.9 Model Regresi Logistik Distribusi Dokter Spesialis Sebelum dilakukan analisis model regresi logistik.017 0.3 11. jumlah rerata dokter spesialis per 100.4 P 0.107 0.4.000 0. Tampak.147 0.5 3832.000 penduduk di daerah kotamadia lebih besar 10 kali lipat dari jumlah rerata dokter spesialis di daerah kabupaten. COGME Teenth Report10 menyebutkan ciri-ciri daerah yang mempunyai kekurangan tenaga kesehatan. Kemudian dilakukan analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa variabel HDI lebih bermakna dibanding life expectancy. 09.0 6. sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0.4 20.000 Penduduk di Kabupaten dan Kota Jenis wilayah Kabupaten Kota Rerata rasio DSP 0.000 maldistribusi dokter spesialis di Indonesia. Distribusi Rerata Dokter Spesialis per 100. 3 September 2006 .360.011 0.4 17.3 68.3 14.3 96.600.8.5.000. Dari hasil uji (lihat lampiran 2).5 881.5 4.2 63.6 52. Tampaknya. Uji T-Test Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi DSP.400.7 4.

12%) Banyak (>24.672 ribu rupiah) PDRB per kapita Tinggi (> 3.067 ** 194 0.228.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 7. Odds Rasio Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi DSP.004 * 284 0.12%) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rendah (<9.014 * 290 0.50 Rujukan 13.96 Rujukan 21.674. dan 3) kepadatan penduduk tinggi.674. Vol. Tahun 2002 Variabel 1) P 0. kepadatan penduduk tinggi dan jumlah kematian bayi yang rendah.78 Rujukan 3.9 jiwa/km2) Rendah (<993.19 Rujukan 5.265 240 0.000 * 284 0.044 rupiah) Rendah (<3. No.62 kali lebih tinggi daripada daerah dengan PDRB per kapita lebih kecil. 09. Hal ini sejalan dengan pendapat Egger. Dokter spesialis cenderung memilih bekerja di daerah perkotaan dengan prospek pendapatan yang lebih baik dan fasilitas sosial yang lebih baik.9 tahun) Rendah (< 68.08 Rujukan 5. Terakhir. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota.65) Rendah (<68. Dari hasil analisis ini dapat diketahui secara jelas bahwa determinan distribusi dokter spesialis adalah karakteristik daerah perkotaan.011 * 291 0.9 jiwa/km2) Jumlah kematian bayi Rendah (<9 orang) Tinggi (°9 orang) 0. Dengan ciriciri sosial maupun ekonomi sebagai berikut: PDRB per kapita tinggi.000 * 286 Selanjutnya.9 tahun) 11) Jumlah kematian ibu bersalin Rendah (<7 orang) Tinggi (°7 orang) Keterangan: * p< 0.672 ribu rupiah) Tinggi ( > 9. Hasil analisis ini memberikan informasi bahwa determinan distribusi dokter spesialis yang cukup di kota/kabupaten dan signifikan adalah: 1) PDRB per kapita tinggi.10 kali lebih tinggi daripada daerah dengan jumlah kematian bayi lebih besar.65) Persentase angka beban Rendah (< 63 %) Tinggi (> 63 %) Persentase melek huruf Tinggi (>95.56 Rujukan 284 2) 3) 4) 5) 6) 7) Human Development Index Tinggi (>68.000 * 291 8) 0.000 * OR 32.228.09 kali lebih tinggi daripada daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar. dkk11: faktor penentu distribusi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Faktor yang berpengaruh sangat besar terhadap distribusi dokter spesialis adalah kepadatan penduduk karena OR-nya lebih besar.004 * 253 Jumlah kematian balita Rendah (< 11 orang) Tinggi (> 11 orang) 10) Life expectancy Tinggi (> 68. daerah dengan jumlah kematian bayi lebih kecil mempunyai rasio dokter spesialis 3. sedangkan faktor yang paling kecil pengaruhnya terhadap distribusi dokter spesialis adalah angka kematian bayi. dengan menggunakan metode forward selection didapatkan model akhir seperti terlihat pada Tabel 7.30 Rujukan 3. dilakukan analisis logistik regresi.06 Rujukan 3. 2) jumlah kematian bayi rendah. Dari Tabel 7 juga dapat diartikan bahwa daerah dengan PDRB per kapita lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 10.05 9) 0.9%) Rendah (< 95.044 rupiah) Kepadatan penduduk Tinggi (>993.45 Rujukan 1.22 Rujukan 12. 3 September 2006 l 151 .9 %) Persentase penduduk miskin Sedikit (<24.276 290 0.51 Rujukan 1. Daerah dengan kepadatan peduduk lebih besar mempunyai rasio dokter spesialis 21.

21 8. insentif dan tunjangan serta kualitas manajemen tenaga kesehatan oleh lembaga yang mempunyai otoritas. sedang dan miskin dengan menggunakan indikator PDRB per kapita.75 88.228.000 penduduk pada daerah kota 8. Rerata dokter spesialis per 100. Peraturan ini hendaknya secara jelas dan tegas memuat ketentuan-ketentuan atau komponen yang berkaitan dengan distribusi dokter spesialis setelah menyelesaikan pendidikannya.029 0.10 21.504 0. Dinkes Provinsi dan Dinkes kabupaten/kotamadia b.9 jiwa/km ) 2 2 OR 10. Di samping itu. KESIMPULAN DAN SARAN Sebaran dokter spesialis tidak merata pada kabupaten dan kota. 3 September 2006 .09 95% CI OR 1. Ketiga. Dengan kebijakan ini dapat diharapkan minat dan kesediaan dokter spesialis untuk ditempatkan didaerah. untuk dapat menjalankan wewenang distribusi dokter spesialis perlu basis legal yang kuat.19 2. Pertama. Depkes RI. Peraturan ini sebaiknya memberikan insentif kepada dokter spesialis untuk bersedia ditempatkan pada RSUD kabupaten. Sanksi jelas.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia profesional kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor dan kompleks antara lain: gaji atau imbalan.4 sedangkan pada daerah kabupaten sebesar 0. dapat dijamin pemerataan dokter spesialis diseluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Rerata dokter spesialis daerah kota lebih besar 10 kali lipat dari daerah kabupaten.44 B 2.000 0.511 z 2. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Distribusi Dokter Spesialis. anak. Untuk itu. Model Akhir Hasil Analisis Multivariat.333 3.8. Pemerintah cq Depkes RI perlu mengembangkan kebijakan dasar yang berkaitan dengan penempatan dokter spesialis. Hirarkhi otonomi manajemen dokter spesialis Depkes RI (Pusat).363 1. Kedua.206 152 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.97 -5.25 5.025 0. Izin praktik pada kota penempatan g.044 rupiah) Rendah (<3.14 P>|z| 0.228. Kebijakan ini lebih dapat menjamin terdistribusinya dokter spesialis lebih merata ke seluruh RSUD di Indonesia. pulau atau daratan perlu kebijakan insentif khusus. Lama wajib kerja dokter spesialis e. Besaran insentif finasial yang atraktif dan fasilitas kerja yang cukup d. Vol.62 3.30 dan n = 253 Kategori Tinggi (> 3.000 -6. Dokter spesialis cenderung hanya ingin bekerja di kota-kota besar.044 rupiah) Rendah (<9 orang) Tinggi (°9 orang) Tinggi (>993. Untuk dapat mendistribusikan dokter spesialis pada daerah yang kurang mapan biasanya kabupaten kepulauan. Komponen kebijakan yang harus diperhatikan pada peraturan ini antara lain: a.049 SE (B) 1. Dengan demikian. adanya kejelasan wewenang dan hirarkhi antara lembaga yaitu: Depkes RI. kebidanan dan penyakit dalam.34 57. No. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu bekerja sama untuk memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis dengan perioritas putera asli daerah.000 penduduk). Tabel 8. disimpulkan bahwa selama ini dokter spesialis cenderung hanya bekerja pada daerah yang sudah mapan seperti perkotaan. 09. c. Sisanya masih banyak kabupaten yang kekurangan.28 1. kebijakan dan wewenang penempatan dokter spesialis pada masa WKDS bersifat terpusat dikendalikan oleh Departemen Kesehatan.079 0.9 jiwa/km ) Rendah (<993. tegas dan dilaksanakan terhadap dokter spesialis yang tidak memenuhi janjinya. Status kepegawaian PNS atau swasta f.6% kota yang mempunyai rasio DSP yang cukup (6 DSP/100. untuk menjamin penempatan dokter spesialis di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia maka setiap dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikannya masih diperlukan adanya Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) sebagai kompensasi dari beasiswa pendidikan dokter spesialis. Dinkes Provinsi dan Dinkes kabupaten/kota dalam mengelola dokter spesialis. 10 Dengan demikian.16 7. Kategori atau klasifikasi daerah kaya. minimal empat spesialis dasar yaitu : dokter spesialis bedah. Terakhir. Hanya 11. Analisis Tingkat Kabupaten Tahun 2002 Variabel PDRB per kapita Jumlah kematian bayi Kepadatan penduduk Konstanta model * ROC model 89. bahkan tidak mempunyai dokter spesialis. dibutuhkan suatu peraturan setingkat Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden tentang penempatan dokter spesialis.205 1.

Machado. Vol. tunjangan kesehatan dan sosial. Dal Poz. Stilwell. 9. Realisasi Penempatan Dokter Spesialis per Provinsi Januari-Desember 2004.pdf) Geneva.USA.. O : “Achieving the Right Balance: The Role of Policymaking in Managing Health Resources for Health Problem”. Jilid 3. D. K. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. 2000 (http://www. Dokter spesialis lebih memilih untuk berkeja dan tinggal daerah perkotaan. “Imbalances in the Health Workforce: Briefing Paper. 13(4): 345-58. Profil Daerah Kabupaten dan Kota.” 2002 (http://www. Jilid 4. 2000. 1998. PDRB per kapita tinggi. WHO) (Issues in Health services Delivery Discussion Paper No:2). 3.. 5. Departemen Kesehatan RI. Jakarta 7. Jumlah kematian bayi rendah dan c. Penerbit Buku Kompas.int/hrh/ documents/en/imbalances-briefing. Martinau . H. Penerbit Buku Kompas. fasilitas kerja.15(3):312-318. 1998. COGME Teenth Report. 2. 8. Jakarta. perlu pemberian insentif finansial.T. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. KEPUSTAKAAN 1. Perlu dikembangkan intervensi manajemen yang komprehensif untuk mendistribusikan dokter spesialis ke RSUD di seluruh kabupaten Indonesia. Zurn. No. Departement of Health and Human Services.. pemerintah perlu membuat Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden sebagai basis legal Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS).. 09. G.who. 3 September 2006 l 153 . Depkes RI.int/healthservices-delivery/disc paper/right imbalancesbriefing. Penerbit Buku Kompas. b. O. Lukman.who.Jilid 2.pdf) Geneva. Adams. 6. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu bekerja sama untuk memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis dengan perioritas putera asli daerah.” Health Policy and Planning. Jilid 1. Nigenda.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Determinan distribusi dokter spesialis di kota/ kabupaten dan signifikan adalah: a. 4. Penerbit Buku Kompas. 11. Egger. From State to Market: the Nicaraguan Labour Market for Health Personnel. 2004. Martinez. W. Health Policy and Planning. Lipson. Kepadatan penduduk tinggi. Antisipasi Terhadap Krisis Ketenagaan Dokter spesialis di Indonesia Menjelang Tahun 2003. Physician Distribution and Health Chalengges in Rural and Inner City Areas.. J.. “Rethinking Human Resources: an Agenda for Milenium. Jakarta. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. WHO) 10. Kedua. Jakarta. P. B. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Karnadihardja. rumah dan mobil yang layak untuk dokter spesialis selama masa WKDS di RSUD kabupaten. D.. Adams. Ketiga. Pertama. M.

Vol. dan kematian balita menurut kabupaten/kota Jumlah kematian maternal pada tabel jumlah kematian ibu maternal menurut kabupaten/kota Dihitung dengan rumus: jumlah penduduk tahun 2002/luas wilayah tahun 2002 Profil Daerah 20012003. kabupaten dan kota tahun 2002 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tabel IPM dan komponennya menurut provinsi. menurut kabupaten/kota Jumlah bayi (umur 0-1 tahun) yang mati pada tabel kelahiran bayi. Data sebelum tahun 2002. tahun 20002003 Persentase penduduk miskin pada tabel jumlah dan persentase penduduk miskin. kematian bayi. P1. dan garis kemiskinan menurut Provinsi. dan kematian balita menurut kabupaten/kota Jumlah balita yang mati pada tabel kelahiran bayi. Definisi Operasional Variabel Analisis Kabupaten/Kota Nama variabel Kode provinsi Nama provinsi Nama kabupaten/kota Jenis wilayah Dependen variabel Jumlah Dokter spesialis tahun 2002 Variabel Kodeprop Namaprop Namakab Kab_kota Dsp2 Definisi Kode provinsi Nama provinsi Nama kabupaten/kota Jenis kabupaten/kota Jumlah dokter spesialis pada tahun 2002 pada tabel rasio tenaga medis terhadap penduduk menurut kabupaten/kota Dihitung dengan rumus: (Jumlah dokter spesialis tahun 2002 x 100. No.Yaslis Ilyas: Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia Lampiran 1. baik dengan cara present value atau future value. Kategori: < 6 kurang > 6 cukup Sumber data BPS BPS BPS BPS Profil kesehatan tiap provinsi Rasio Dokter spesialis tahun 2002 Rasdsp2 Klasifikasi rasio dokter spesialis tahun 2002 Sp6 Independen variabel Pendapatan asli daerah tahun 2002 Pad Pendapatan asli daerah. P2. kutipan data Pemda PDRB Kabupaten dan Kota di Indonesia. PDRB per kapita pada tabel PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menurut provinsi (rupiah). kabupaten dan kota tahun 2002 Persentase angka beban pada tabel jumlah penduduk menurut jenis kelamin.000/ jumlah penduduk pada tahun 2002) Klasifikasi rasio dokter spesialis pada tahun 2002 berdasarkan cut off 6 dokter spesialis per 100. kelompok umur. BPS. Kabupaten dan Kota Tahun 2002 Harapan hidup pada tabel IPM dan komponennnya menurut provinsi. kematian bayi. kabupaten dan kota tahun 2002 Persentase angka melek huruf pada tabel IPM dan komponennnya menurut provinsi. 2000-2003 Data Informasi Kemiskinan 2003 PDRB per kapita tahun 2002 Pdrbkapi Persentase penduduk miskin tahun 2003 Miskin3 Life expectancy. 09.000 penduduk di kabupaten/kota. dihitung biaya estimasi untuk tahun 2002. tahun 2002 Le2 Data Informasi Kemiskinan 2003 Data Informasi Kemiskinan 2003 Persentase melek huruf tahun 2002 Melek2 Human Development Index tahun 2002 Ipm2 Data Informasi Kemiskinan 2003 Persentase angka beban tahun 2002 Deprat Profil kesehatan tiap provinsi Jumlah kematian bayi tahun 2002 Imrj2 Profil kesehatan tiap provinsi Jumlah kematian balita tahun 2002 Jumlah kematian ibu hamil tahun 2002 Kepadatan penduduk tahun 2002 Akabaj2 Profil kesehatan tiap provinsi Profil kesehatan tiap provinsi Mmrj2 Densit2 154 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2006 . rasio beban tanggungan.

1 -0. Vol.3 1.0 0. Multikolinearitas Antara Variabel Sosial Ekonomi Dan Kesehatan.0 0.0 0.0 0.2 0.1 1.1 0.2 0.0 0.2 -0.1 0.0 -0.2 0.0 0.0 -0.0 -0.2 -0. Analisis Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2002 Human Dev.0 -0.1 -0.1 1.2 -0.0 1.2 0.2 -0.0 1.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lampiran 2.0 -0.1 1. 3 September 2006 l 155 .0 -0.0 -0.2 0.0 0.1 0.1 -0.1 0.0 0. No.2 -0.5 0.0 0.2 0.1 0.2 -0.0 -0.2 0. Index Human Development Index Persentase angka beban Persentase melek huruf Persentase penduduk miskin Pendapatan Asli Daerah PDRB per kapita Kepadatan penduduk Jumlah kematian bayi Jumlah kematian balita Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin Persentase angka beban Persentase melek huruf Persentase penduduk miskin PendaKepapatan PDRB datan per kapita penduAsli Daerah duk Jumlah kematian bayi Jumlah kematian balita Life expectancy Jumlah kematian ibu bersalin 1.0 * r > 0.2 0.1 0.1 -0.6 1.5 -0.1 1.7 0.2 -0.3 0.3 1.2 0.0 0.6 berarti ada korelasi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1 -0.3 0. 09.0 0.0 0.0 -0.2 0.1 -0.3 1.

00 – 17. bahwa dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta.4 Method: A comparative study on doctor specialist’s service by investigation of regulation on medical practice focused on registration system and medical practice license.00 AM until 05. Permenkes 1419 year 20045 gave opportunity to some specialists to practice more than three places on duty note issued by Dinkes Medan which valid for three months and can be extended. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Background: Tendency of Indonesian citizen to obtan medical care to abroad. besarnya biaya yang hilang.4 Metode: Penelitian komparasi regulasi pelayanan dokter spesialis melalui kajian terhadap peraturan perundangundangan tentang praktik kedokteran yang difokuskan pada sistem registrasi dan perizinan praktik kedokteran.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. while in Penang Island were valid for 1 year and need to be extent every 31st December in the same year. surat izin praktik kedokteran hanya diberlakukan untuk paling banyak tiga tempat dan surat izin praktik hanya berlaku untuk satu praktik. Every application for annual practice certificate must be attached with competence test result to acknowledge the development of medical doctor in every year.00. Vol. serta masih lemahnya pelaksanaan regulasi pelayanan kesehatan. 3 September 2006 . besides frequent malpractice and wrong diagnosis by health officer. the doctor whom works in government (kingdom) hospital cannot work in the private sector and also in the contrary. medical practitioner license were valid only for one place. Unit analisis adalah registrasi dan lisensi praktik kedokteran di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. large costs loss and crisis of society about the quality of health service. Lokasi penelitian di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. such as Malaysia and Singapore shows a serious problem in quality of health services in Indonesia.2. The punishment for violation of the law starting with warning until fine strictly implemented. registration. in Penang Island. medical practice license were given only for at most three places and.2. Different with in Indonesia. Result: Research results show that medical practice license at Medan were valid for five years. medical practice 156 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. In Medan. Setiap mengajukan untuk memperoleh sertifikat praktik tahunan tersebut harus melampirkan hasil tes kompetensi sehingga diketahui perkembangan kompetensi tenaga dokter setiap tahunnya. No. di Negeri Pulau Pinang. Metode pengumpulan data dilakukan pengkajian peraturan perundangundangan tentang sistem registrasi dan perizinan praktik kedokteran dan wawancara terhadap dua orang pimpinan rumah sakit swasta tentang manajemen dokter spesialis di rumah sakit dan satu orang pejabat Dinkes tentang pelaksanaan registrasi dan perizinan di masing-masing lokasi penelitian. But.00 PM. sedangkan di Negeri Pulau Pinang perizinan praktik kedokteran hanya berlaku selama satu tahun saja dan harus diperpanjang setiap tanggal 31 Desember dalam tahun yang sama. Conclusion: It can be concluded that the implementation of medical practice regulation in Penang Island is better than Medan. Government officers are “kingdom’s hand and feet” work in the hospital from 08. Peran Jabatan Kesihatan Pulau Pinang hanya sebatas pelaksanaan teknis yaitu melakukan pengawasan dan Keywords: regulation. masih kurangnya kesiapan Provinsi Sumatera Utara menghadapi era globalisasi terutama dalam bidang kesehatan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa surat izin praktik kedokteran di Kota Medan berlaku untuk lima tahun. situational analysis shows the lack of preparation of North Sumatera facing globalization era especially in health sector. hasil analisis situasi menunjukkan.162 Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Artikel Penelitian REGULASI DOKTER SPESIALIS STUDI KOMPARASI REGULASI PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MEDAN INDONESIA DAN NEGERI PULAU PINANG MALAYSIA REGULATION DOCTOR SPECIALIST COMPARATION STUDY HEALTH CARE REGULATION IN MEDAN AND PENANG ISLAND Zulfendri Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Namun berdasarkan Permenkes 1419 Tahun 20045. dan adanya krisis ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di samping semakin seringnya muncul dugaan malpraktik dan salah diagnosis oleh petugas kesehatan. memberikan kesempatan kepada dokter spesialis yang terbatas jumlahnya untuk berpraktik lebih dari tiga tempat melalui nota tugas yang dikeluarkan oleh Dinkes Kota Medan yang berlaku per tiga bulan dan setelah itu dapat diperpanjang. Data collecting method done by investigate act regulations about registration system and license of medical practice and interview with two chiefs of private hospital about doctor specialist management in hospital and a chief of Health District at each research location. license. The health office only act as technical executor that is doing supervision and construction on private medical practice and in the government hospital. 09.1. 03 September l 2006 Halaman 156 . Research locations were Medan and Penang Island. Berbeda dengan di Indonesia.1.3 In North Sumatra Province. Di Kota Medan. begitu juga sebaliknya. ABSTRAK Latar belakang: Meningkatnya kecenderungan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Singapura menunjukkan adanya masalah yang serius dalam mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. according the consideration decided by Health Minister in Medical Act 50 year 19716 and Act 586 year 19987. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. Hospital supervision done based on complaint from society can be processed immediately.3 Khusus di Provinsi Sumatera Utara.

perizinan dan sertifikasi. Pada tahun 2003 diperkirakan bahwa rata-rata 1000 orang warga Medan berobat ke Penang setiap bulannya dan dilaporkan bahwa setiap tahunnya kedua negara tersebut mendapat devisa sekitar 400 juta dollar AS dari warga Indonesia yang berobat. Menurut Kumaranayake. dokter. masyarakat Kalimantan Barat banyak yang berobat ke Kuching. Adanya sanksi yang jelas terhadap pelanggaran undang-undang mulai dari surat amaran (teguran) sampai kompaun (denda) yang dilaksanakan secara tegas. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan regulasi praktik kedokteran di negeri Pulau Pinang lebih baik dibandingkan dengan Kota Medan. Untuk mengukur mutu tenaga kesehatan sebagai tenaga profesional salah satu strategi adalah bagaimana penataan tenaga kesehatan melalui sistem registrasi.penyelenggaraan praktik kedokteran yang merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh dokter dan dokter gigi yang memiliki etik dan moral yang tinggi. dapat dibedakan dengan pendekatan ekonomi yaitu melihat peran regulasi dalam kaitannya dengan mekanisme pasar. Di Indonesia pada saat ini penyelenggaraan praktik kedokteran dikaitkan dengan mutu pelayanan kesehatan merupakan masalah yang serius dan salah satu faktor penyebab meningkatnya kecenderungan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. “untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima pelayanan kesehatan. kalaupun ada belum dijalankan secara konsisten.. sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesihatan dalam Medical ACT 50 tahun 19716 dan ACT 586 tahun 19987. No. 3 September 2006 l 157 . memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk menyusun dan menetapkan suatu kebijakan dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan daerahnya. Adanya suatu tradisi baru yang dikandung dalam UUPK sedang mengalami proses adaptasi terhadap tradisi yang selama ini berlaku bagi kalangan profesional kedokteran.9 Menurut Ogus (dalam Kumaranayake dkk)10 bahwa regulasi dalam sektor kesehatan yang menekankan pada pengembangan berbagai standar yaitu dengan memastikan level minimum dari kualitas dan keselamatan baik standar profesi. 2) besarnya costs yang hilang. sehingga tidak memberikan toleransi terjadinya kesalahan. Undang-Undang (UU) No. sehingga ada kemungkinan terjadinya konflik antara tradisi dan budaya dokter spesialis. Dari keadaan ini ada beberapa poin yang dapat disimpulkan yaitu: 1) masih kurangnya kesiapan Provinsi Sumatera Utara menghadapi era globalisasi terutama dalam bidang kesehatan. Kata Kunci: regulasi. registrasi. serta masih lemahnya pelaksanaan regulasi pelayanan kesehatan.10 regulasi terjadi apabila pemerintah berusaha mengontrol atau mempengaruhi aktivitas-aktivitas individu atau Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. praktik kedokteran PENGANTAR Sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) otonomi daerah. Sebagaimana dikemukakan oleh Trisnantoro1 pada kolom editorial Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan (JMPK) bahwa masyarakat Kota Medan banyak yang berobat ke Pulau Penang. Pendekatan seperti ini disebut sebagai pendekatan sosial. dan dokter gigi. 09. Supervisi terhadap rumah sakit dilakukan berdasarkan setiap ada pengaduan dari masyarakat dan segera ditindaklanjuti. Vol. standar pelayanan ataupun standar perizinan lembaga. standar kompetensi. artinya aturan-aturan cara kerja profesional dokter semakin diperketat karena pekerjaan profesional dokter erat kaitannya dengan hidup dan penghidupan manusia. Analisis situasi pada Sistem Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 4 menyebutkan bahwa setiap tahunnya dilaporkan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang berobat ke luar negeri (Penang/ Malaysia dan Singapura). 29/20048 tentang Praktik Kedokteran yang dilatarbelakangi bahwa : “. keahlian dan kewenangan yang secara terus-menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan berkelanjutan”. Sejak diundangkannya UU Praktik Kedokteran (UUPK) tersebut menggambarkan bahwa regulasi terhadap pola kerja dokter semakin meningkat. 3) adanya krisis ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di samping semakin sering muncul dugaan malpraktik dan salah diagnosis oleh petugas kesehatan. diperlukan pengaturan mengenai penyelenggaraan praktik kedokteran”.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pembinaan terhadap praktik kedokteran swasta dan di rumah sakit pemerintah. Sebagaimana dikemukakan oleh Trisnantoro1 bahwa perlu diperketat aturan kerja profesional dokter yang tidak memberikan toleransi terjadinya error. standar pelayanan medik yang memadai. perizinan.4 Ketidakmampuan rumah sakit Indonesia bersaing di era globalisasi tidak terlepas dari kelemahan peraturan pemerintah yang mengatur pelayanan kesehatan seperti. dkk. Sistem regulasi yang ada dapat digunakan sebagai landasan untuk pembuatan suatu kebijakan yang baru dengan mempertimbangkan segala aspek yang dapat merugikan masyarakat banyak. dan masyarakat Riau ke Malaka. standar profesi.

ACT 50/19716 tentang Medical ACT 2. kuantitas. Saving and Repeal 3. kualitas dan distribusi. maka permasalahan penelitian yaitu “ bagaimana regulasi sistem registrasi dan lisensi praktik kedokteran menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Kota Medan dan di Negeri Pulau Penang tahun 2006” BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi komparasi mengenai regulasi sistem registrasi dan perizinan dokter spesialis di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. Berdasarkan latar belakang penelitian. 3 September 2006 . 1419/200515 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi 11. Selanjutnya Walshe11 menyatakan bahwa regulasi sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus oleh lembaga publik untuk mengawasi aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.5. 2. 8. 9.664/198215 tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik Dasar.1170A/199920 tentang Masa Bakti Tenaga Medik. Lokasi penelitian di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. Peraturan Menteri Kesehatan No. 3. 2/2005 tentang Penetapan Besarnya Biaya Registrasi Dokter dan Kedokteran Gigi. Peraturan Daerah No.916/199719 tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik.1/198817 tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik 5. sedangkan Keputusan Walikota Medan No. 15/200212 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan. 7. 1/ 200524 tentang No. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No.06.1540/200221 tentang Penempatan Tenaga Medik. Peraturan Pemerintah No. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang-undangan yang terkait dengan registrasi dan perizinan praktik kedokteran. 50/200113 hanya mengatur tentang Pelayanan Pengobatan Dasar Gratis di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Keputusan Menteri Kesehatan No. Unit analisis adalah regulasi sistem registrasi dan lisensi praktik kedokteran di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang. Peraturan Menteri Kesehatan No.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan lembaga melalui harga. Undang-Undang No. Vol. Permenkes No.32/199618 tentang Tenaga Kesehatan 6. Untuk melengkapi informasi dilakukan wawancara terhadap dua orang pimpinan rumah sakit swasta dan satu orang pejabat dinkes di masingmasing lokasi penelitian. 4. Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No. Medical Regulation 1974 Tentang Regulations.HK. Di Negeri Pulau Pinang. Regulation 1993 tentang Medical Setting of Examination For Provisional Registrations 158 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan No. 920/198614 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. 15/2002 12 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan di Kota Medan.00. 1/ 200522 tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi 12. 09. beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan registrasi dan lisensi tenaga dokter meliputi: 1. Identifikasi Peraturan Perundang-Undangan yang Terkait dengan Registrasi dan Perizinan Praktik Kedokteran Hasil identifikasi beberapa peraturan perundangundangan yang terkait pada pelaksanaan registrasi dan lisensi tenaga dokter yaitu: 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang terkait dengan praktik kedokteran tentang registrasi dan lisensi bagi praktik tenaga dokter di Kota Medan maupun di Negeri Pulau Pinang dapat diuraikan sebagai berikut: Registrasi dan Lisensi Praktik Kedokteran Dasar perundang-undangan tentang registrasi dan lisensi tenaga dokter di Kota Medan pada dasarnya masih merujuk pada peraturan perundangundangan yang berasal dari pusat seperti peraturan pemerintah dan peraturan menteri kesehatan karena belum memiliki peraturan yang bersifat operasional tentang pengaturan praktik kedokteran. 29/20048 Tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi 10.3. Peraturan Pemerintah No. Keputusan Dirjen Binkesmas No. No. 13. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No.5797 16 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Bidang Spesialistik. Selama era desentralisasi hanya satu peraturan daerah yang dimiliki oleh Kota Medan yaitu Perda No.

29/20048 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi. a) SIP Dokter Umum sebesar Rp50. sedangkan Indonesia baru pertama kali memiliki UUPK yaitu sejak diundangkannya UU No. Bentuk surat izin. 15/200113 harus selesai selama tiga minggu sejak tanggal permohonan diterima di kantor Dinas Kesehatan. 1 tahun 200522 5. Bahwa registrasi dokter spesialis tetap dilaksanakan di pusat cq Biro Kepegawaian Departemen Kesehatan 11. Registrasi dokter dan dokter gigi berpedoman pada Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. 29/20048 tentang Praktik Kedokteran terjadi perubahan kebijakan dalam hal registrasi maupun registrasi ulang bagi dokter. dokter wajib mengajukan permohonan kepada KKI 4. Permohonan perizinan ditujukan kepada kepala daerah dengan melengkapi persyaratan. tugas dan wewenang) 8. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDK) di tingkat Provinsi dapat dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia atas usul Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.000. Belum optimalnya pemberian surat rekomendasi dari organisasi profesi tentang kemampuan profesional seorang dokter (keilmuan dan keahlian klinis). 6. Izin Praktik dapat diberikan setelah sejumlah persyaratan dipenuhi antara lain surat penugasan. bagi dokter disebut Surat Izin Praktik (SIP). 12. 2/200524 yaitu sebesar Rp250. 3. 5. No. Registrasi dan Lisensi Praktik Kedokteran Sejak diundangkannya UU No. Surat Izin Praktik (SIP) Dokter hanya diberikan untuk paling banyak tiga tempat. Dinas Kesehatan Medan saat Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. b) Surat Praktik Dokter Spesialis sebesar Rp100. Konsil Kedokteran Indonesia (kedudukan.000. fungsi.000.00. Dalam rangka registrasi dokter oleh dinkes provinsi selain diberikan surat penugasan (SP) juga diberikan kartu registrasi 9. 1 tahun 200522 2. Dari berbagai peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai rujukan yang terkait dengan pelaksanaan registrasi dan perizinan (lisensi) tenaga dokter di Kota Medan.00. surat persetujuan atasan). Berdasarkan UU No. dapat disimpulkan sebagai berikut: Registrasi Praktik Kedokteran 1.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4.00. 09. Biaya proses registrasi secara formal telah diatur pada Keputusan KKI No. Tata cara memperoleh STR berdasarkan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No. keputusan penempatan (khusus pegawai negeri sipil. Untuk memperoleh STR. 5. 2. 8. Proses penyelesaian registrasi tenaga dokter selambat-lambatnya tiga bulan setelah permohonan diterima oleh KKI 6. 3 September 2006 l 159 . Biaya penyelesaian SIP di Kota Medan disesuaikan dengan peraturan daerah No. Perizinan Praktik Kedokteran Hasil wawancara tentang pelaksanaan pemberian izin praktik dokter oleh Dinas Kesehatan Kota Medan tentang perizinan praktik kedokteran yaitu sebagai berikut: 1. Belum optimalnya pemberian surat izin praktik dikaitkan dengan penempatan kerja dokter. Pelaksanaan registrasi bagi dokter dikaitkan dengan penempatan dokter 7. namun dalam pelaksanaannya sebagian besar dapat diselesaikan dalam satu bulan dan masih ada sampai 1.5 bulan. 7. 9. Surat Izin Praktik (SIP) tersebut berlaku untuk waktu lima tahun dan harus diperbaharui apabila habis masa berlakunya. 15 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan yaitu. Penyelesaian SIP berdasarkan ketentuan Perda No. Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter 3. serta satu Surat Izin Praktik hanya berlaku untuk satu tempat praktik. Untuk perizinan (lisensi) dokter tetap dilaksanakan dan diberikan oleh pejabat dinkes di kabupaten/kota. Peraturan Konsil Kedokteran Malaysia Tahun 1986 tentang Medical (Instrumens) (Exemptions) ACT 586/19987 tentang Private Healthcare Facilities and Services ACT Negara Malaysia telah memiliki peraturan tentang praktik kedokteran yaitu sejak tahun 1971. Adanya kewajiban dari dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota melaporkan tenaga-tenaga dokter yang telah mendapat registrasi kepada menteri kesehatan 10. Vol. 4. 29/2004 8 bahwa kewenangan registrasi dokter berada pada Konsil Kedokteran Indonesia yang berkedudukan di ibu kota negara dan sebelumnya merupakan kewenangan dinas kesehatan provinsi.

2 Surat Izin Praktik (SIP) yang telah selesai. gubernur. dan (d) sertifikat praktik temporer sebesar 50 ringgit. Masalah biaya registrasi praktik kedokteran secara formal ditentukan dalam peraturan 1974 yaitu: (a) biaya registrasi sementara sebesar 20 ringgit. ini telah memiliki program komputer yang dapat membantu dalam pelaksanaan sistem pencatatan izin praktik dokter. Uji kompetensi dilaksanakan kepada setiap dokter yang mengajukan permohonan sertifikat registrasi baik registrasi sementara maupun registrasi penuh serta sertifikat tahunan yang diselenggarakan oleh dewan komite yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Malaysia f. Di Negeri Pulau Pinang. Dinas Kesehatan Kota Medan belum optimal melaksanakan pembinaan dan pengawasan dengan melakukan pemantauan masa berlakunya SP dan SIP. Di dinas kesehatan terdapat unit khusus yang mengurus perizinan yaitu seksi perizinan dan akreditasi sarana pelayanan. Konsil Kedokteran Malaysia memiliki yuridiksi kedisiplinan h. Registrasi sementara bagi praktisi kedokteran yang berasal dari luar Malaysia dan berlaku selama tiga tahun c. Sertifikat Tahunan /Izin praktik dokter hanya berlaku selama satu tahun dan harus di perpanjang kembali setiap tanggal 31 Desember dalam tahun berjalan e. No. (b) biaya registrasi penuh sebesar 100 ringgit. (c) biaya sertifikat tahunan sebesar 50 ringgit. Undang-Undang Praktik Kedokteran berpedoman kepada ACT (5)/197116 yang terdiri dari tujuh bagian dan 44 pasal. 1419/2005. Untuk memperoleh rekomendasi kompetensi harus mengikuti beberapa pengujian baik secara tertulis maupun lisan yang dikeluarkan oleh Dewan Kualifikasi yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Malaysia g. Hal ini disebabkan kekurangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap praktik kedokteran. Diberikan kesempatan kepada dokter yang dinyatakan melakukan pelanggaran kedispilinan oleh Konsil untuk melakukan banding terhadap keputusan konsil tersebut j. Dalam melaksanakan yuridiksi kedisiplinan. namun pelaporan hanya didasarkan jika ada permintaan hasil rekapitulasi tenaga dokter yang telah memperoleh SIP baik oleh menkes. 12. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai acuan yang terkait dengan registrasi dan perizinan (lisensi) tenaga dokter dan hasil wawancara kepada pejabat kesehatan di Negeri Pulau Pinang. 3 September 2006 . Hal ini dikarenakan tidak adanya dana operasional untuk pengiriman SIP tersebut kepada yang bersangkutan. Pemberian surat tugas ini merujuk pada Permenkes No. Penentuan Anggota Konsil Kedokteran Malaysia melalui seleksi berdasarkan permohonan pencalonan anggota Konsil sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan pada peraturan 1974 m. Registrasi Praktik Kedokteran diatur dalam peraturan 1974 l. Dinas kesehatan kabupaten/kota juga memberikan surat tugas atau nota tugas kepada dokter spesialis dan dokter gigi spesialis tertentu di rumah sakit dalam rangka memenuhi kebutuhan. 160 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. maupun organisasi profesi. Registrasi penuh yaitu seseorang telah memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai yang dinyatakan oleh konsil d. Registrasi sementara semata-mata untuk tujuan mendapatkan pengalaman dan sebagai syarat terdaftar sebagai registrasi penuh 2. Dari berbagai hal yang terkandung dalam ACT (50)/197116 yang membedakan dengan peraturan perundang-undangan Indonesia yaitu: a. diambil sendiri oleh yang bersangkutan. 14. Dan surat tugas tersebut berlaku untuk jangka waktu tiga bulan dan dapat diperbaharui. dinkes provinsi. Kewajiban melakukan pelaporan hasil rekapitulasi daftar izin praktik belum terlaksana dilakukan secara periodik. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. 09. 11.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan 10. Adanya komite pemeriksaan awal terhadap pelanggaran kedisiplinan profesi kedokteran dengan prosedur yang jelas sebagaimana yang tercantum pada ACT (50)/1971 pasal 36 s/d pasal 386 dan Peraturan 1974 pasal 261 k. konsil dapat menjatuhi hukuman i. 13. Vol. b.

Di Negeri Pulau Pinang pelaksanaan perpanjangan dan pemutusan hubungan kerja dilakukan berdasarkan informasi penilaian kinerja dokter yang dilaksanakan setiap tahun. 3 September 2006 l 161 . Di Negeri Pulau Pinang. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Swasta “X” Medan Rekruitmen Izin praktik Kredensial belum optimal • Memiliki STR • Memiliki SIP • Surat/Nota Tugas • SIP belaku 5 tahun dan dapat diperpanjang Dokter spesialis • • • Tidak ada yang bekerja secara full time Sebagian besar part timer Sebagian Besar PNS Lamanya kontrak Sistem pembayaran terhadap dokter penetapan besarnya jasa medis Batas waktu kurang jelas Perpanjangan/pemutusan kontrak kerja hanya sekedar formalitas saja Fee for service • Berdasarkan tarif rumah sakit • ditentukan oleh dokternya sendiri • • Disesuaikan dengan waktu dokter • Keberadaan dokter di RS sesuai jadwal RS menyediakan ruang dan fasilitas alat • Pengaturan waktu praktik konsultasi Kepemilikan tempat praktik konsultasi Pembinaan terhadap dokter spesialis Peran komite medik Sistem kerja spesialis Pelaksanaan audit klinit Tidak ada Belum optimal Umumnya masih bekerja secara individual Belum rutin / insidentil RS. Vol.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan n. No.00 – 17. Di Kota Medan. Depkes. Pada umumnya dokter yang bekerja di rumah sakit swasta bekerja secara full timer. Manajemen Dokter Spesialis di Rumah Sakit Berdasarkan hasil wawancara terhadap Direktur Pelayanan Medik Rumah Sakit Swasta “X” di Medan dan CEO Rumah Sakit Swasta “Y” di Negeri Pulau Pinang dapat disimpulkan sebagai berikut (Tabel 1). dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta. KESIMPULAN Belum optimalnya peraturan daerah yang mendukung regulasi registrasi dan perizinan praktik dokter. Dinas kesehatan belum membuat laporan registrasi tenaga dokter secara periodik kepada Pemerintah Daerah. Penyelenggaraan penyelidikan dilakukan oleh Komite penyelidikan awal yang dibentuk oleh Konsil. Dinkes Provinsi. sehingga memudahkan pasien untuk bertemu dan berkonsultasi dengan dokter. begitu juga sebaliknya. Perbandingan antara Manajemen Dokter Spesialis di Kota Medan dan Negeri Pulau Pinang RS. Tabel 1. Pada peraturan 1974. dan KKI.00. untuk perpanjangan dan pemutusan kerja sama antara rumah sakit dan dokter belum sepenuhnya berdasarkan informasi appraisial kinerja. Swasta “Y” Negeri Pulau Pinang Kredensial • Registrasi penuh • Sertifikat praktik tahuan hanya berlaku untuk satu tahun dan dapat diperpanjang per 31 Desember dalam tahun yang berjalan • Sebagian besar bekerja secara full timer • part timer • Tidak ada dokter pemerintah (kerajaan) dan hanya dokter swasta • Setiap tahun diperbaharui • Perpanjangan/ pemutusan kontrak kerja berdasarkan informasi appraisal kinerja Fee for service • Berdasarkan tarif RS yang telah ditetapkan antara pihak RS dengan dokter dalam bentuk paket • Kesepakatan antara dokter dengan RS • Dokter tetap berada di lingkungan RS • RS menyediakan ruang dan fasilitas alat • Dokter mengkontrak salah satu ruangan rumah sakit untuk praktik konsultasi Tidak ada Optimal Umumnya bekerja secara tim Bersifat rutin Pada umumnya rumah sakit swasta di Medan mempekerjakan dokter yang berstatus PNS yang bekerja secara part timer dan sebagai konsultan. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. 09. terdapat prosedur tahapan penyelenggaraan penyelidikan jika terdapat pengaduan / informasi pelanggaran disiplin kedokteran.

Undang Undang No. Jakarta. BMJ. Trisnantoro. 13. L. Trisnantoro. The Rise of Regulation in the NHS.HK. Departemen Kesehatan. 1997. P. Organisasi profesi belum optimal dalam melaksanakan program Pendidikan Profesi Berkelanjutan. Keputusan Walikota No. 2004. Departemen Kesehatan. 1996.. Dirjen Pelayanan Medik. 2004. 4. Pemko Kota Medan. Peraturan Pemerintah PP No.3.664 Tahun 1982 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara.916 Tahun 1997 Tentang Izin Praktik Bagi Tenaga Medik. Departemen Kesehatan. Departemen Kesehatan.00. 2. Permenkes No. 2004. Health Policy and Planning. Jakarta. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No.5. 2005.1 Tahun 1988 Tentang Izin Praktik bagi Tenaga Medik. Departemen Kesehatan. 18. Sistem Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. 2002. 1419 tahun 2005 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi.5797 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Bidang Spesialistik. Jakarta. 2005. Departemen Kesehatan. Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No. Jakarta. 15. Penelitian Faktor Penyebab dan dampak Meningkatnya Masyarakat Berobat Ke Luar Negeri. Di Negeri Pulau Pinang pelaksanaan pengujian kompetensi dilaksanakan setiap pengajuan surat praktik tahunan sedangkan di Medan dilaksanakan setiap lima tahun dan dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah (kerajaan) tidak diperbolehkan bekerja di sektor swasta. 2004. Pegawai pemerintah yang merupakan “kaki tangan kerajaan” bekerja di rumah sakit sejak pukul 08. Dinkes Provinsi. How Do Countries Regulate The Health Sector? Evidence from Tanzania and Zimbabwe.. 8. Hongoro.00 KEPUSTAKAAN 1. Penerbit Yustisia. 11. PERDA No. Konsil Kedokteran Indonesia.Zulfendri: Regulasi Dokter Spesialis: Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Waktu untuk memproses SIP dan SP belum sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh peraturan. 12. 6. Dinas kesehatan belum melakukan pemantauan SP dan SIP secara optimal. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM. Departemen Kesehatan. 1 Tahun 2005 Tentang No. Departemen Kesehatan. 20. BPP. Peraturan Menteri Kesehatan No. Kepmenkes No. begitu juga sebaliknya.06. Provincial Health Proct II (PHP II) North Sumatera Province. 14. 1982. Mpembeni. 1986. S. 3 September 2006 . L. Dirjen Pelayanan Medik. Konsil Kedokteran Indonesia. Kumaranayake. 2002. 10. Tentang Privat Healthcare Facilities and Services ACT. Sumatera Utara. Lake. Vol. ACT 50 Tahun 1971. Jakarta. Dinkes Provinsi. 2005. Konsil Kedokteran Indonesia. 50 Tahun 2001 Tentang Pelayanan Pengobatan Dasar Gratis di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. 19. 22.Provinsi Sumatera Utara. 2005. Jakarta. L. 2 Tahun 2005 Tentang Penetapan Besarnya Biaya Registrasi Dokter dan Kedokteran Gigi.920 Tahun 1986 Tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. Jakarta. C. Departemen Kesehatan. ACT 586 Tahun 1998. Peraturan Pemerintah No. Yogyakarta. 16.. Jakarta. 2000.. 09. Dirjen Pelayanan Medik. 1999. R. Mujinja. 2002. Antara Misi Sosial dan Tekanan Pasar. Walshe K. Konsil Kedokteran Indonesia. 2005. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi. 2005.32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan. 1 Tahun 2005 Tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi. Keputusan Dirjen Binkesmas No. 7. Published by MDC Publishers SDN BHD. 21. Jakarta. Departemen Kesehatan. Dinas kesehatan kabupaten/kota belum memiliki sumber daya manusia yang berkompetensi dalam melakukan pembinaan dan pemantauan praktik dokter. Jakarta. Pemerintahan Kota Medan. Menyambut Undang-Undang Praktik Kedokteran: Apakah Berjalan. Belum optimalnya Dinas kesehatan Kabupaten/ Kota dalam mengantisipasi terhadap perubahan kebijakan wewenang registrasi dokter. 162 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kajian Perijinan dan Sertifikasi Tenaga Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Jakarta.. 8(03)September:119-20. Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit. 3. 5. Dirjen Pelayanan Medik. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia No.1540 Tahun 2002 tentang Penempatan Tenaga Medik. 15 Tahun 2002 Tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Perizinan di Bidang Kesehatan di Kota Medan.00 – 17. Manajemen dokter spesialis belum optimal dilaksanakan di rumah sakit swasta Medan. 2001. 17. 9. Permenkes No. Permenkes No. Dinkes Provinsi.1170A Tahun 1999 Tentang Masa Bakti Tenaga Medik. Tentang Medical ACT. Published by MDC Publishers SDN BDH. No. Jakarta. 1988. 2005. 23.

cara penyampaiannya yang singkat. Meskipun buku ini menggunakan pendekatan biopsikososial. etika dan kesetaraan pasien. informatika. efektivitas. Godfrey. cost-effectiveness . Prinsip-prinsip tersebut antara lain efikasi. dan ukuran yang tidak terlalu tebal membuat buku ini bisa menjadi teman dalam perjalanan. tetapi sudut pandang biomedis juga ikut disajikan sebagai pembanding antara pendekatan biomedis dan pendekatan biospikososial. Pembahasan dalam buku ini banyak menceritakan sistem pelayanan kesehatan di Amerika karena penulis adalah seorang dokter keluarga di AS yang telah menjalankan praktik klinisnya secara penuh selama 17 tahun. Buku Healthcare Outcomes Management mengeksplorasi telaah kritis terhadap manajemen dan perencanaan outcome pelayanan kesehatan dengan menggunakan pendekatan biopsikososial sebagai kerangka diskusi. Block Jones and Bartlett Publisher 2006 D i abad ke dua puluh ini telah terjadi revolusi besar di bidang pelayanan kesehatan. termasuk perlunya perubahan dalam system pelayanan kesehatan disajikan secara menyeluruh.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 09 No. optimalitas. Prinsip-prinsip Donabedian untuk peningkatan mutu mendapatkan tempat khusus dalam Bab 2. Ditemukannya berbagai jenis terapi medis baru. dan fokus-fokus lainnya dalam pelayanan kesehatan. Vol. Melalui buku ini penulis mengajak Pembaca untuk memahami model biopsikososial dari proses pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan relevansinya dengan evaluasi sistematik terhadap intervensi pelayanan kesehatan. legitimasi dan kesetaraan.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. enak dibaca. No. Diawali dengan sejarah singkat mengenai manajemen mutu. semakin bertambahnya fasilitas dan tenaga kesehatan. Pembahasan laporan mengenai pelayanan kesehatan di abad 21 oleh Institute of Medicine. berbagai desain evaluasi pelayanan kesehatan. efisiensi. Meskipun begitu. Trisasi drtrisasi@yahoo.163 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Pengarang Penerbit Tahun : : : : Healthcare Outcomes Management: Strategies for Planning and Evaluation Dale J. Buku ini juga membahas masalah metodologi epidemiologi. serta adanya pergeseran orientasi ke arah hak-hak pasien mendorong munculnya kebutuhan akan manajemen dan perencanaan pelayanan kesehatan yang lebih canggih dan sistematik. 03 September l 2006 Halaman 163 . Pembaca diajak kembali untuk mengingat kembali teori-teori manajemen mutu dari Berwick. Dilihat dari isinya buku ini pantas untuk menjadi sebuah textbook untuk mahasiswa S2 di bidang kesehatan masyarakat. manajemen kesehatan lingkungan. akseptabilitas. 09. 3 September 2006 l 163 . dan Roessner.

Guttman.. Penelitian ini menggabungkan pendekatan kuantitatif (kuesioner) serta kualitatif (wawancara mendalam dan data sekunder). Masalah penempatan dokter spesialis ikatan dinas juga ditemukan pada penelitian Ilyas. IMR rendah. pembahasan serta kesimpulan dan sarannya. Untuk itu diperlukan penulisan deskripsi univariat (distribusi frekuensi pertanyaan dan pengelompokkan variabelnya) dan deskripsi bivariat dalam bentuk tabel silang. reward .000 jiwa).5 Di tahun 2002 hanya 26. perlu pemahaman tentang indeks dan skala (skala Likert.. pembagian variabel menjadi variabel bebas dan terikat. Kesulitan akan muncul bila variabel yang diambil adalah variabel kualitatif dan komposit. Uji coba kuesioner dilakukan untuk meyakinkan peneliti akan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Kesimpulan dan saran kebijakan yang terinci dan operasional dapat dikembangkan dari deskripsi tersebut.... 09.3 Tulisan menyebutkan ada 8 variabel (motivasi. No. 2. Permasalahan yang diangkat masih menarik dan up to date karena merupakan isu lama yang belum tuntas pemecahannya. 3 Untuk tesis (derajat S2/ magister) idealnya dilakukan uji coba kuesioner berikut uji validitas dan reliabilitasnya. Statistik nonparametri dapat dipakai karena jumlah sampel hanya 24 orang. Walaupun ideal tetapi tidak mudah menggabungkan dua pendekatan tersebut. bipolar dan sebagainya). penerimaan daerah. Bali. 02/ Juni 2005. Apakah 20 item ini adalah item pertanyaan? Apabila ya. tujuan penelitian. Secara umum tulisan ini sudah menggambarkan latar belakang dan perumusan masalah. Kaltim) dan 11. sarana daerah. 09 / No. Kuesioner penelitian diharapkan sudah diujicobakan serta diuji validitas dan reliabilitasnya.1 Pemilihan variabel yang dikembangkan dari teori LW. sedang dan rendah dengan mean dan standar deviasi sebenarnya harus diuji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov.. 03 September l 2006 Halaman 164 .”) menyiratkan hal itu. Vol. 09 / No. kepadatan penduduk tinggi dan ciri perkotaan.. hubungan atau perbedaan merupakan tiga kata yang lazim dipergunakan dalam penelitian kuantitatif tetapi memberikan konsekuensi yang berbeda pada analisis datanya. Sulteng.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 09 No.4 Pengelompokkan variabel menjadi tinggi. Green (faktor predisposing. karir dan punishment) dan kuesioner dijabarkan dalam 20 item. Sulsel. Saya perkirakan penelitian ini bersifat deskriptif analitik walaupun tidak disebutkan hipotesis dan ujinya..2 Selain itu. 3 September 2006 . Variabel yang bersifat kualitatif harus diukur (dikuantifikasi) dengan suatu teknik pengukuran yang lazim dikembangkan di dalam Ilmu Sosial. rasanya sangat kurang memadai 8 variabel yang bersifat komposit diterjemahkan hanya dalam 20 item pertanyaan. Laksono Trisnantoro. hasil penelitian. Dari judul penelitian (”Faktor-Faktor yang Mempengaruhi . serta penarikan kesimpulan (”faktor enabling yang paling dominan adalah . Mustikowati. Sulut. Model distribusi dokter spesialis 164 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penelitian terapan seperti kebijakan kesehatan tidak cukup hanya membuktikan hipotesis dengan menerapkan metode penelitian sebaik mungkin.6% provinsi (Sumbar. komitmen. Determinan distribusi dokter spesialis adalah: PDRB per kapita tinggi. DKI Jakarta.165 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. maka perkenankanlah saya memberikan tanggapan. Bisa dimaklumi bila hal tersebut tidak dituliskan secara lengkap dalam jurnal karena keterbatasan format. tetapi juga harus memberikan masukan untuk memperbaiki kinerja kebijakan itu sendiri. sosial budaya. Walaupun uji validitas dan reliabilitas sudah tersedia dalam software statistik seperti SPSS tetapi tetap diperlukan kemampuan konseptual si peneliti dalam menelaah hasilnya karena software hanyalah alat bantu.. DIY. 02 /Juni 2006 Setelah membaca tulisan Saudara SR.6% (33 kota/kabupaten) yang mencukupi (6 orang dokter spesialis per 100. Pengaruh. Bogardus.com Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas Tulisan : SR. Mustikowati yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Penempatan Dokter Spesialis Ikatan Dinas dan dimuat di Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. perbedaan semantik. Pemakaian metode kuantitatif dulu kemudian diperdalam dengan metode kualitatif atau sebaliknya menjawab tujuan penelitian yang berbeda. Andreasta Meliala Dimuat di JMPK Vol. konsep dan variabel penelitian.”). enabling dan reinforcing ) memberikan pemahaman yang komprehensif.

Cetakan pertama. 1988: 383 – 404. Makalah pada Seminar Nasional Tahun Keempat Desentralisasi Kesehatan. Hal tersebut akan menjadi kenyataan karena globalisasi dan perdagangan bebas (AFTA/ NAFTA) sudah menyerbu kita. jaminan peningkatan pendapatan. Studi Pengembangan Model Penempatan Dokter Spesilais di RSUD di Indonesia. rasa aman terhadap pekerjaan. Bedah Rp15 juta –Rp 30 juta. Makasar tanggal 6 – 8 Juni 2005. Metode Penelitian. 1991:95 – 121. 122-146. Metode Penelitian Survei.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Yaslis dkk. kemungkinan pengembangan karier. Pengantar Analisis Data. Jakarta. Purnawan. rujukan keahlian dapat terlaksana dan berjenjang. 5. Ghalia Indonesia. dan Penyakit Dalam Rp 30 juta – Rp 35 juta. Fakultas Kesehatan Masyarakat & Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Cetakan ketiga. Tetapi biaya tersebut cepat kembali dengan pendapatan perbulan dokter spesialis PNS ditambah praktek pribadi yang sangat menggiurkan: Spesialis Anak Rp20 juta – Rp 40 juta. Rendahnya produksi dokter spesialis di Fakultas Kedokteran juga perlu dikaji. Biaya pendidikan dokter spesialis sangat tinggi yaitu Rp 300 juta – Rp 400 juta dengan uang ”ketok pintu” sebesar Rp 50 juta .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan diharapkan menjamin adanya equity distribusi di setiap RSUD. Pembenahan seharusnya dilakukan pada dua sisi tersebut. Bukan tidak mungkin nantinya permasalahan kelangkaan dokter spesialis terpaksa dijawab dengan import dokter spesialis dari luar negeri. 2005. Jakarta. Jawa Tengah E-mail: chriswardani_surya@yahoo. Masri dan Sofian Effendi (editor). 4. KEPUSTAKAAN 1. Vol. Utarini. No.Rp125 juta. Rineka Cipta. Magister Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. LP3ES. 09. Modul Perkuliahan Metode Penelitian Kualitatif. M. Semarang. Jakarta. Nazir. Tidak disangkal lagi bahwa ”harga dan posisi tawar ” dokter spesialis sangat tinggi karena kelangkaan supply sementara demand sangat tinggi. A. Singarimbun. 1995: 62-80. Edisi Revisi. Junadi. Chriswardani Suryawati. 3 September 2006 l 165 . fasilitas dan sanksi serta dorongan untuk memilih status swasta daripada PNS. 2. rasa keadilan dalam penempatan. Obsgyn Rp 30 juta – Rp 50 juta. 3. adanya insentif. Ilyas.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->