Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA TERAPAN

Uji nilai Permanganate secara Titrimetri dalam Sampel Air Minum Isi Ulang

Oleh: REZKI PRATAMA 02043/2008 Dosen Drs. Zul Afkar M.S Laboratorium Kimia Analitik 25 Mei 2010

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2010

Uji Nilai Permanganat secara Titrimetri dalam Sampel Air Minum Isi Ulang
I.Tujuan Tujuan percobaan ini adalah menentukan nilai uji permanganate secara titrimetri dalam sampel air minum isi ulang. II. Teori Dasar Kecenderungan pemakaian air minum isi ulang (AMIU) oleh masyarakat terutama di perkotaan semakin meningkat. Namun demikian kualitasnya masih perlu dikaji dalam rangka pengamanan kualitas airnya yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian kualitas air minum dari depot air minum isi ulang di Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Tujuan: adalah untuk mengetahui proses pengolahan air minum di depot AMIU, kualitas air minum isi ulang dari depot AMIU yang banyak beredar saat ini dan mengetahui kondisi kesehatan lingkungan dan jumlah konsumsi serta pendapat konsumen terhadap air minum dari depot AMIU. Metodologi: Jumlah sampel depot air minum adalah 38, sedangkan untuk sampel air setiap depot diambil 1 sampel air baku dan 1 sampel air minum sehingga jumlah sampel air seluruhnya adalah 76. Parameter kualitas air yang diperiksa meliputi parameter fisik, kimia, dan bakteriologi sesuai dengan Permenkes 416 tahun 1990 untuk air baku (air bersih) dan Kepmenkes 907 tahun 2002 untuk air minum. Pemeriksaan sampel air berdasarkan Standard Method for Examination Water and Wastewater dilakukan di laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Jakarta. Untuk mengetahui kondisi higiene sanitasi depot dilakukan wawancara terhadap pengusaha/operator depot air minum. Hasil: 1. Hasil wawancara terhadap pengusaha depot menunjukkan sumber air di depot air minum adalah mata air (89,5%) yang berasal dari Bogor (60,5%). Proses penyaringan dilakukan dengan menggunakan catridge yang berisi pasir dan karbon aktif (50%) sebagai filter, ada juga yang hanya menggunakan mikro filter (10,5%) dan menggunakan keduanya (39,5%). Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa seluruh sampel, baik air baku maupun air minum untuk parameter kimia dan fisik masih memenuhi persyaratan kesehatan kecuali pH. Dari hasil pengukuran pH menunjukkan 6 sampel air baku (13,2 %) tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan Permenkes 416 tahun 1990 dan 3 sampel air minum (7,9%) tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan Kepmenkes 907 tahun 2002. 2. Untuk parameter bakteriologi (total coli dan fecal coli), 12 sampel (31,6%) dari seluruh sampel air baku yang diperiksa tidak memenuhi persyaratan kandungan total coli

menurut Permenkes 416 tahun 1990 dan 11 sampel (28,9 %) tidak memenuhi persyaratan kandungan fecal coli. Untuk air minum, dari 38 sampel yang diperiksa terdapat 11 sampel (28,9%) tidak memenuhi persyaratan kandungan total coli dan 7 sampel (18,4%) tidak memenuhi persyaratan kandungan fecal coli. menurut Kepmenkes 907 tahun 2002. Dari hasil wawancara menunjukkan hanya 42,1% depot yang memeriksakan air baku maupun air minum hasil pengolahan ke laboratorium. Kondisi kesehatan lingkungan depot AMIU sudah cukup baik yaitu ditunjukkan dengan tidak adanya sampah yang berserakan (89,5%), adanya saluran limbah (89,5%), dan bahan lantai depot terbuat dari keramik (84,2%). Air minum hasil Mesin Reverse Osmosis Victoria adalah amat sangat tahan disimpan dalam jangka waktu yang lama, itu adalah disebabkan air tersebut sudah benar-benar hygienis dan terbebas dari Bakteri serta Virus. Untuk penyimpanan tidak diharuskan ditempat teduh, sebab air hasil Pemurnian Reverse Osmosis Victoria adalah amat tahan dijemur sekalipun untuk jangka waktu yang lama. Air minum hasil pemurnian Victoria Reverse Osmosis diolah tanpa mengandung Bahan kimia ataupun Pengawet, tetapi adalah diolah dengan sistim Pemisahan/Desalination. Kualitas air baku menentukan proses yang akan dilakukan untuk menghasilkan air yang siap diminum. Oleh karena itu pengambilan contoh air dari lokasi pengoperasian sangat dibutuhkan untuk desain alat. Jika kualitas air berubah-ubah sebaiknya dipilih lokasi yang paling stabil kualitasnya dan kalau perlu dibangun stasiun pengambilan air baku. Dengan demikian peralatan dapat bekerja secara efektif dan efisien. Air asin yang akan diolah oleh membran harus jernih, oleh karena itu pada kasuskasus dimana air tidak jernih atau keruh perlu dilakukan pengolahan awal atau pretreatmen karena pretreatmen yang terpasang terbatas kemampuannya.

III. Pelaksanaan Percobaan 1. Alat dan bahan a. Alat : Erlenmeyer 250 ml Labu ukur 250 ml dan 100 ml Stopwatch Pemanas hot plate Gelas ukur 5 ml Pipet ukur 5 ml Gelas piala 100 ml Thermometer

b. Bahan : Asam sulfat 8 N KMnO4 0.01 M Asam oksalat 0.1 N Air minum isi ulang

2. Prosedur kerja a. Pipet 10 ml asam oksalat 0.01 N ke dalam Erlenmeyer b. Tambah aquades 90 ml campurkan c. Tambah 5 ml H2S04 4 ml d. Panaskan sampai mendidih dalam hot plate e. Titrasi dalam keadaan panas- panas dengan KMnO4 0.01 N yang akan dipakai untuk titrasi sampel hingga merah sangat muda (x) ml

Faktor KMnO4 =

Pemeriksaan sampel. a. Ukur sampel 100 masukkan ke dalam Erlenmeyer b. Tambah 5 ml H2SO4, 4 N panaskan sampai mendidih c. Tambah 10 ml asam oksalat 0.01 N, tunggu sampai warna hilang d. Titrasi dengan KMnO4 .01 N.sampai warna merah sangat muda, misalnya x ml

Perhitungan :

[
= a b c d f

= volume KMnO4 0.01 yang dibutuhkan pada titrasi = Normalitas KMnO4 yang sebenarnya (0.01N) = Normalitas asam oksalat ( 0.01N) = Volume control ( 50 ml) = Faktor pengenceran contoh uji

Perhitungan hasil praktikum:

Faktor KMnO4 =

= 14.2

Nilai permanganate dalam sampel uji adalah:

[
=

] ]

[ [

] ]

] ]

[
=

- 89654.26

IV. Pembahasan Dalam penentuan kadar permanganate dalam paraktikum ini , praktikan menggunakan sampel air minum kemasan isi ulang. Metode yang praktikan lakukan adalah dengan menggunakan titrasi permanganometri dimana larutan di titer dengan larutan standar KMnO4 0.01 N. titik akhir ditandai dengan larutan berubah menjadi kemerahan atau merah muda. Percobaan ini dilakukan dengan pekerjaan awal adalah menetapkan factor KMnO4 yang digunakan dalam pemeriksaan sampel. Praktikan menguji dengan mentitrasi asam oksalat yang sudah dicampur dengan H2SO4 dan memanaskannya sampai mendidih di atas hotplate dengan menggunakan permanganate 0.01 molar. Titik akhir dicapai saat larutan dlam Erlenmeyer berwarna merah muda. Tujuan dari titrasi penetapan kadar permanganate ini adalah untuk mencari factor tetapan yang tepat sama untuk menguji permanganate. Hal ini bertujuan agar hasil uji kualitas sampel yang diinginkan mempunyai nilai kosntan dengan uji sampel yang akan diperiksa. Untuk pengujian sampel dilakukan dengan menguji sampel 100 ml dengan cara yang sama dengan penetapan factor KMnO4. Dititrasi dengan KMnO4 yang sudah ditentukan dalam factor ini. Disini praktikan menentukan bahwa factor KMnO4 yang digunakan adalah 14.2. Uji permanganate bertujuan apakah dalam suatu sampel air minum isi ulang masih terkandung komponen- komponen yang berbahaya bagi kesehatan. Seperti derajat keasaman yang disebapkan oleh limbah tertentu dan zat kimia lain yang tidak terdeteksi atau terlewatkan waktu penyaringan. Angka uji permanganate yang ditetapkan oleh SNI adalah tidak boleh melebihi 7000. Jika angka melebihi dalam penggunaan suatu bahan konsumsi makanan maka sampel makanan tersebut tidak layak digunakan.

Dalam praktikum ini praktikan mendapatkan angka yang sangat besar untuk nilai uji permanganate. Dan hasinya pun bernilai negative. Disini praktikan dapat simpulkan bahwa kesalahan yang menimbulkan galat ini terjadi karena reagen yang digunakan konsentrasinya tidak tepat. Dan prosedur lain yang menunjang seperti keterbatasan kondisi alat dan factor kehati-hatian. V. kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan untuk menguji nilai pemanganat dalam sampel air minum yang diberikan praktikan menggunakan teknik analisis dengan titrasi permanganometri, dimana titik akhir dicapai saat larutan berwarna merah muda dalam Erlenmeyer. Dilihat dari hasil SNI praktikan tidak dapat menyimpulkan apakah sampel air minum isi ulang yang digunakan memenuhi nstandar atau tidak. Hal ini karena dalam praktikum tidak dapat siambil data secara jelas karena factor kesalahan , dan kesalahan yang fatal adalah penetapan konsentrasi reagen yang digunakan.

Daftar Pustaka www.chemist-try.com diakses: 31 Mei 2010 www./ Ansnt.air minum/ isi ulang diakses: 31 mei 2010 www./PP. daur ulang/isi limbah/.:31 mei 2010