Anda di halaman 1dari 112

Antioksidan dalam Kosmetik (Potongan Laporan Praktikum Analisis Kosmetik)

30 May

Kulit manusia merupakan suatu barrier yang melindungi bagian dalam dalam tubuh dari lingkungannya. Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat terlepas dari paparan sinar matahari serta substansisubstansi lain dalam lingkungannya yang seringkali merangsang produksi radikal bebas dalam kulit. Radikal bebas tersebut memiliki daya oksidatif yang sangat kuat sehingga mereka dapat dengan cepat berinteraksi dan mengoksidasi segala sesuatu yang ada di sekitarnya seperti DNA, lipid, protein, dan lainlain. Hal tersebut berpotensi mengakibatkan rusaknya membran sel hingga menyebabkan kematian sel atau disorganisasi dalam tubuh manusia. Selain itu, sebagian besar organisme termasuk manusia dan mikroba yang hidup di permukaan kulit manusia senantiasa memproduksi oksigen radikal sebagai hasil dari proses metabolisme. Sekitar 23% oksigen dalam level mitokondria dikonversi menjadi oksigen radikal. Sebagian radikal tersebut memang berguna bagi manusia untuk melawan virus dan bacteria pathogen namun sebagian yang lainnya sangat berbahaya dan harus segera dinetralkan sebelum mengalami reaksi lebih lanjut dengan substansi lainnya. Untuk menghindari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas, kulit memerlukan perlindungan dari senyawasenyawa antioksidan yaitu senyawa yang dalam konsentrasi relatif kecil dapat menghambat atau mengurangi daya oksidasi suatu senyawa oksidator yang berada dalam konsentrasi relatif tinggi (Gutteridge, 1994). Dewasa ini, penggunaan senyawa antioksidan baik secara sistemik maupun lokal semakin digemari karena dipercaya dapat mencegah berbagai macam penyakit serta melindungi kulit dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Penggunaan antioksidan topical banyak ditemui pada sediaan kosmetik, terutama yang ditujukan untuk perawatan dan anti aging. Dalam sediaan kosmetik, semua senyawa antioksidan bekerja seperti rantai pelindung dalam artian semua senyawa tersebut bekerja secara sinergis dan saling melindungi satu sama lain dari

kerusakan yang mungkin terjadi ketika menetralkan radikal bebas. Sehingga, seringkali senyawasenyawa antioksidan tersebut hanya efeksit jika digunakan secara bersamasama (dalam bentuk kombinasi dengan senyawa lain). Oleh karenanya, dalam menetapkan aktivitas antioksidan suatu sediaan kosmetik seringkali tidak diperlukan analisis aktivitas senyawa antioksidan tunggal, cukup dilakukan penetapan aktivitas antioksidan sediaan kosmetik tersebut tanpa perlu diisolasi senyawa antioksidannya. Secara sederhana, antioksidan dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yakni antioksidan primer (chain breaking antioxidant) dan antioksidan sekunder (preventative antioxidant) (Madhavi, 1996). Antioksidan primer bekerja dengan cara sebagai berikut: L. + AH LH + A. Antioksidan AH menetralkan radikal bebas L. dengan melepaskan proton radikal dan kemudian menjadi radikal baru A. yang relatif lebih stabil daripada radikal L. sehingga relatif tidak membahayakan. Sedangkan antioksidan sekunder bekerja dengan cara menurunkan kecepatan reaksi oksidasi. Sebagai contoh, chelator logam (missal: ironsequesterants) yang dapat menurunkan kecepatan reaksi Fenton dalam membentuk hidroksil radikal: Fe2+ + H2O2 Fe3+ + .OH + OHFungsi utama antioksidan adalah untuk menekan aktivitas radikal bebas dengan menghambat pembentukannya dan/atau membentuk radikal baru yang lebih stabil (scavenging). Aktivitas antioksidan yang bekerja dengan cara membentuk radikal baru yang stabil tergantung pada reaktivitas dan konsentrasi antioksidan. Dalam suatu medium multiphase seperti emulsi (misal: body lotion), lokalisasi antioksidan dalam interfase sangat penting dan menentukan efektivitasnya (Apak, 2007). Aktivitas antioksidan suatu senyawa dapat ditetapkan melalui metode Transfer Atom Hidrogen (HAT) atau Transfer Elektron (ET). Prinsip metode HAT adalah dengan memanfaatkan kontrol kinetic, termasuk kompetisi yang terjadi antara antioksidan dan substrat memperebutkan peroksil radikal yang akhirnya akan mendekomposisi senyawa azo. Metode ET dilakukan berdasarkan reaksi reduksi yang dialami oleh oksidan sehingga akan mengubah warnanya (ketika tereduksi). Contoh metode HAT antara lain ABTS/TEAC, CUPRAC, DPPH, FolinCiocalteu, dan Metode FRAP. Masingmasing metode tersebut menggunakan reagen redoks kromogenik dan standar potensial yang berbeda. Metode DPPH tepat digunakan untuk menganalisis senyawa antiaoksidan yang larut dalam pelarut organik, khususnya alkohol. Metode ini banyak digunakan untuk mengukur dan membandingkan aktivitas antioksidan senyawasenyawa fenolik. Namun, metode ini memiliki kelemahan karena perubahan absorbansi DPPH pada panjang gelombang 517 nm (lambda max) sengat sensitif terhadapa cahaya, oksigen, perubahan pH, dan tipe pelarut. Kelemahan lainnya adalah karena adanya pengaruh faktor sterik (molekul berukuran keil memiliki kesempatan yang lebih besar untuk beraksi dengan senyawa radikal), serta sempitnya daerah kurva konsentrasi versus absorbansi yang linier. Selian itu, senyawa karetenoid dapat emngacaukan pembacaan absorbansi DPPH pada panjang gelombang sekitar 515nm.

Share this:

Email

Kosmetik, Antioksidan Dan Anti Aging


November 11, 2011 Info Kecantikan, Info Kesehatan Siapa yang tidak mau selalu terlihat cantik dan awet muda? Selain dari makanan, kosmetik juga merupakan kebutuhan dasar agar terlihat cantik dan awet muda. Pada masa sekarang ini tidak sedikit kosmetik mempunyai fungsi ganda, selain untuk tata rias, juga sebagai produk perawatan kulit. Kita tinggal di kawasan tropis, yang selalu terpapar sinar matahari. Hal ini merangsang produksi rasikal bebas di kulit. Seiring bertambahnya usia, kadang produksi antioksidan antioksidan alami tidak mencukupi. Agar terhindar dari kerusakan akibat radikal bebas, kulit perlu perlindungan antioksidan. Antioksidan Topikal Penggunaan senyawa antioksidan topikal banyak digemari karena praktis penggunaannya. Pada umumnya banyak ditemukan pada kosmetik yang ditujukan untuk perawatan dan anti aging. ALA, Antioksidan Universal Asam Lipoat Alfa (ALA) disebut sebagai antioksidan universal karena sifatnya yang larut dalam air dan lemak. ALA bekerja dengan meningkatkan energi dalam sel untuk berkembang. Efek dari perkembangan sel yang baik akan memperlambat proses penuaan. Retinol, Mencegah Keriput Retinol adalah senyawa yang biasa terdapat dalam kosmetik anti aging. Retinol mengandung vitamin A, yang sangat baik untuk mencegah penuaan dini. Yang perlu diperhatikan, jangan menggunakan retinol dalam dosis berlebih dan jangka waktu yang lama karena retinol mengandung asam retinoat yang dapat menimbulkan kemerahan dan pengelupasan kulit. Vitamin B, Nutrisi Sel Vitamin B adalah asupan yang sangat disukai oleh kulit. Karena dengan asupan vitamin B yang cukup akan menjaga kulit dari kerusakan akibat radiasi sinar matahari. Selain itu vitamin B juga dapat mencegah terbentuknya keriput pada kulit. Vitamin C, Pemelihara Elastisitas Kulit Vitamin C sangat baik untuk kulit dan tubuh secara keseluruhan. Vitamin C bekerja sebagai antioksidan, dengan cara mencegah oksidasi serat penyusun kulit yaitu kolagen dan elastin. Peningkatan kadar kolagen ini menyebabkan kekenyalan, kelenturan serta kehalusan kulit meningkat. Vitamin E, Pelembab Plus Plus Pada kosmetik, vitamin E biasanya terdapat pada produk pelembab dan antioksidan. Kerja vitamin E ini adalah menjaga ikatan air di kulit, sehingga kekenyalan dan kelenturan kulit terjaga. Catechin, Pencerah Wajah Polifenol Catechin atau Epigallocatechin-3-galate terbukti bekerja dengan menghambat pembentukan melanin (pigmen) pada kulit, sehingga kulit tampak cerah. Minyak Zaitun Minyak zaitun biasa digunakan untuk minyak mandi atau dioleskan untuk pelembab kulit. Pemakaian minyak zaitun pada kulit mampu mencegah keriput, kanker kulit dan mengurangi kerusakan kulit yang disebabkan paparan radikal bebas. Sumber : OTC Digest Oktober 2011 Related posts:

Kosmetik, wanita mana yang tidak mengenalnya. Kosmetik merupakan kebutuhan pokok para wanita. Kosmetika digunakan untuk tatarias ataupun untuk perawatan kulit. Namun, tidak semua wanita mengenal kandungan kosmetik yang dipakai. Dengan mengenal dan mengerti kandungan kosmetik membuat kita lebih teliti dalam membeli dan memakai kosmetik.

1. ANTIOKSIDAN Berfungsi melindungi kulit dari radikal bebas (unsur-unsur pada lingkungan yang dapat merusak sel-sel kulit). Bahan yang mengandung antioksidan: teh hijau, ekstrak anggur, vitamin C dan E. 2. ALPHA HIDROXY ACID (AHA) AHA dapat meluruhkan kulit mati pada permukaan kulit sehingga produksi kulit baru menjadi lebih cepat. Sehingga kulit akan tampak lebih cerah, menghaluskan tampilan kulit yang berkerut/kasar. 3. BETA HIDROXY ACID (BHA) Memiliki sifat ang sama dengan AHA, hanya lebih lembut sehingga lebih sesuai untuk kulit yang sensitif terhadap AHA. Penggunaan BHA sebaiknya pada malam hari.Dianjurkan untuk menggunakan tabir surya selama anda menggunakan AHA dan BHA untuk menghindari kulit menjadi kemerahan. 4. ASAM LIPOAT ALFA (ALA) Disebut sebagai antioksidan universal karena larut dalam air maupun lemak, 400x lebih kuat daripada kombinasi vitamin C dan E. Bila anda mengkonsumsinya dalam bentuk kapsul suplemen atau mengoleskannya sebagai lotion, asam lipoat alfa meningkatkan produksi energi disel seperti membantu mitokondria mengubah makanan menjadi energi. Semakin tinggi tingkat energi dalam sel, semakin lama anda menjadi muda. Bermanfaat mengurangi lingkaran dan bengkak di bawah mata, mengubah rona wajah yang kusam, lembek dan pucat mejadi bercahaya mengecilkan pori-pori yang membesar dan menjadikan kulit lebih lembut dapat mencegah dan menyembunyikan luka parut melindungi dari serangan radikal bebas dan mencegah berkembangnya masalahmasalah peradangan Pagi hari produk yang mengandung ALA dipakai sebelum mengaplikasikan pelembab dan tata rias. Pada malam hari gabungkan dengan vitamin C ester. Vitamin C ester : Larut dalam lemak, PH netral, tidak asam, sehingga tidak menimbulkan iritasi dan tidak pedih. Kemampuan untuk larut dalam lemak menyebabkan jenis vitamin C ini mampu menembus permukaan kulit dengan cepat dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang dapat dicapai oleh vitamin C yang larut dalam air (asam askorbat-L). Manfatnya dapat digunakan pada kulit sensitive, membantu melindungi dari kerusakan akibat radikal bebas dan peradangan.

5. CERAMIN Bermanfaat meningkatkan kadar kelembapan kulit sehingga kulit terasa lebih kenyal dan garis-garis halus pada wajah menjadi lebih samar. 6. COENZYME Q10 Bahan ini terdapat dalam kulit kita sendiri yang berguna untuk mempertahankan elastisitas dan kelembapan kulit. Bahan ini ditambahkan dalam produk kosmetik untuk menggantikan sek-sel kulit yang hilang karena proses penuaan. Produk ini lebih sesuai untuk kulit menua yang pada umumnya bermasalah dengan elastisitas (pengenduran) serta timbulnya garis-garis kerut. 7. L-CARNITINE Bermanfaat mencegah kerusakan radikal bebas. 8. KINETIN Bermanfaat mempertahankan kadar kelembapan, sebagai antioksidan, mencerahkan, dan meratakan warna kulit. Keunggulan pada sifatnya yang lembut sehingga timbul iritasi kecil kemungkinannya. 9. NTP Complex (DMAE) Manfaat : Meningkatkan rona kulit Menjaga kekencangan wajah dan leher Mengurangi garis-garis dan kerutan Saat DMAE diaplikasikan ke kulit, efeknya hampir sekejap terjadi. Beberapa orang akan merasakan pedih saat NTP complex mulai berkerja. Tetapi NTP complex masih tetap berkerja, walaupun tidak ada sensasi yang anda rasakan. 10. Polynylphosphatidyl Choline (PPC) Berfungsi : Emolien (pelembut)alami Antiperadangan yang ampuh Membantu menyembuhkan kulit kering, pecah-pecah, meradang, bila dipakai secara topical. 11. TITANIUMDIOXIDE, PARSOL Bahan ini berkerja sebagai tabir surya sehingga melindungi kulit dari sinar ultraviolet A dan B yang merupakan factor pengganggu kecantikan kulit seperti penuaan dan pengeringan kulit. Sumber : Majalah Diagnosis, Agustus 2007 Perricone, Nicholas.2007. The Perricone Prescription. Jakarta : Serambi Categories kosmetik

Kosmetik anti keriput memang sangat digemari oleh kaum perempuan saat ini. Tetapi kerut atau keriput dapat juga muncul pada perempuan muda yang biasa disebut penuaan dini (premature aging). Sinar UV dianggap sebagai penyebab utama terjadinya penuaan dini. Oleh sebab itu, kosmetika dan perawatan tubuh yang berfungsi sebagai anti kerut atau anti keriput banyak digunakan untuk mencegah dan menghilangkan dampak penuaan dini. Gejala Penuaan. Kerut atau keriput merupakan gejala utama penuaan pada kulit dan usia bukanlah penyebab utama. Hanya garis tawa (laugh lines) yang merupakan dampak alami dari penuaan. Garis-garis di sekitar sudut mata seperti juga kerut antara hidung dan bibir bagian atas disebabkan serat elastis dalam kulit berkurang sehingga menyebabkan kulit mengendur dan melipat menjadi kerut atau keriput. Sebagian besar garis-garis wajah dan kerut atau keriput disebabkan oleh pemaparan berlebihan terhadap sinar UV, baik UVA yang bertanggung jawab atas noda gelap, kerut atau keriput dan melanoma maupun UVB yang bertanggung jawab atas kulit terbakar serta karsinoma. Terjadinya Kerut atau Keriput. Berkurangnya ketebalan dermis sebanyak 20% pada orang tua berkaitan dengan hilangnya serat elastin dan kolagen. Kolagen dan elastin adalah komponen utama lapisan dermis. Hilangnya serat-serat ini berdampak buruk terhadap kelembaban dan ketegangan kulit sehingga menimbulkan kerut atau keriput. Kolagen merupakan komponen utama di epidermis, dengan 75% berat kering dan 18 hingga 30% volume lapisan epidermis. Kolagen kaya akan asam amino hidroksiprolin, hidroksilisin dan glisin. Fibroblast dermis memproduksi prekursor yang dikenal sebagai pro kolagen. Pro kolagen ini mengandung terdiri dari 300 hingga 400 asam amino tambahan pada setiap cabangnya, tambahan ini dipindahkan setelah sekresi menghasilkan molekul kolagen. Vitamin C dan tembaga merupakan contoh kofaktor yang diperlukan dalam biosintesis kolagen. Produksi kolagen merupakan proses dinamis meliputi sintesis berkelanjutan oleh fibroblast dan penguraian oleh enzim collagenase. Sinar UV dapat merusak kulit dengan meningkatkan produksi enzim proteolitik (collagenase) yang menguraikan kolagen pada lapisan dermis kulit. Sedangkan, serat elastin hanya 4% dari berat kering dan 1% volume lapisan dermis. Serat ini lebih tebal pada bagian bawah dermis dan lebih tipis saat mencapai epidermis. Elastin berbeda dengan kolagen secara struktur dan kimia. Elastin mengandung asam amino yaitu desmosine. Anti kerut atau anti keriput. Untuk menghilangkan dampak dari sinar UV dan sebagai anti kerut atau anti keriput, telah tersedia banyak kosmetik yang mengandung antioksidan. Fungsi dari antioksidan adalah menangkap radikal bebas dalam kulit akibat sinar UV dan polusi. Molekul antioksidan berfungsi sebagai sumber hidrogen labil yang akan berkaitan dengan radikal bebas. Dalam proses tersebut, antioksidan mengikat energi yang akan digunakan untuk pembentukan radikal bebas baru sehingga reaksi oksidasi berhenti. Antioksidan mengorbankan dirinya untuk teroksidasi oleh radikal bebas sehingga melindungi protein atau asam amino penyusun kolagen dan elastin. Diantara antioksidan yang paling sering digunakan adalah vitamin C yang telah terbukti secara ilmiah. Vitamin C terbukti menekan proses pigmentasi kulit sehingga banyak juga digunakan sebagai bahan pemutih kulit wajah (whitening).

Disamping juga mencegah proses pembentukan bintik kecil kulit (freckle), bintik coklat kulit (brownspots) serta memulihkan efek kantong mata (eye-sack). Proses pencerahan kulit dengan vitamin C dianggap lebih aman dibanding bahan lain seperti hidroquinone sehingga cocok bagi kulit perempuan di Asia. Fungsi utama Vitamin C pada kulit adalah sebagai antioksidan kuat yang melindungi kulit terhadap pengaruh negatif faktor luar seperti polusi, sinar UV matahari, iklim, AC, asap rokok dan sebagainya. Vitamin C juga merangsang pembentukan dan peningkatan produksi kolagen kulit yang akan menjaga kelenturan serta kehalusan kulit (anti aging dan anti wrinkle). Dengan vitamin C maka kulit akan lebih cerah secara alamiah (brightening effect) tanpa efek samping yang merugikan untuk tubuh anda. twp

Mengenal dan Menangkal Radikal Bebas


Kata Kunci: antioksidan, karotenoid, likopen, radikal bebas, senyawa reaktif oksigen, Stres oksidatif, trifenilmetan, vitamin C, vitamin E Ditulis oleh Rani Sauriasari pada 22-01-2006 Sampai permulaan abad ke 20, tidak seorangpun percaya bahwa suatu senyawa bernama radikal bebas dapat berada dalam keadaan bebas. Para ilmuwan masih menggunakan istilah radikal bebas untuk suatu kelompok atom yang membentuk suatu molekul. Perubahan terjadi ketika pada abad ke 20 seorang Rusia bernama Moses Gomberg yang lahir di Blisavetgrad pada tahun 1866, membuat radikal bebas organik pertama dari trifenilmetan, senyawa hidrokarbon yang digunakan sebagai bahan dasar berbagai zat pewarna. Berdasarkan penelitian Gomberg dan ilmuwan lainnya, istilah radikal bebas kemudian diartikan sebagai molekul yang relatif tidak stabil, mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan di orbit luarnya. Molekul tesebut bersifat reaktif dalam mencari pasangan elektronnya. Jika sudah terbentuk dalam tubuh maka akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru yang akhirnya jumlahnya terus bertambah. Oksigen yang kita hirup akan diubah oleh sel tubuh secara konstan menjadi senyawa yang sangat reaktif, dikenal sebagai senyawa reaktif oksigen yang diterjemahkan dari reactive oxygen species(ROS), satu bentuk radikal bebas. Perisitiwa ini berlangsung saat proses sintesa energi oleh mitokondria atau proses detoksifikasi yang melibatkan enzim sitokrom P-450 di hati. Produksi ROS secara fisiologis ini merupakan konsekuensi logis dalam kehidupan aerobik. Sebagian ROS berasal dari proses fisiologis tersebut (ROS endogen) dan lainnya adalah ROS eksogen, seperti berbagai polutan lingkungan (emisi kendaraan bermotor dan industri, asbes, asap roko, dan lain-lain), radiasi ionisasi, infeksi bakteri, jamur dan virus, serta paparan zat kimia (termasuk obat) yang bersifat mengoksidasi. Ada berbagai jenis ROS, contohnya adalah superoksida anion, hidroksil, peroksil, hidrogen peroksida, singlet oksigen, dan lain sebagainya. Pada Gambar 1 contoh produksi ROS pada proses sintesa energi dalam mitokondria, netralisasi oleh antioksidan enzimatis dan efeknya terhadap saraf motorik.

Gambar 1. Produksi ROS pada proses sintesa energi dalam mitokondria, netralisasi oleh antioksidan enzimatis dan efeknya terhadap saraf motorik (sumber: www.als.ca/if_you_have_als/als_introduction_diagnosis.aspx). Pada kenyatannya, segala sesuatu dalam hidup ini memang diciptakan sang pencipta alam secara seimbang. Sistem defensif dianugerahkan terhadap setiap sel berupa perangkat antioksidan enzimatis (glutathione, ubiquinol, catalase, superoxide dismutase,hydroperoxidase, dan lain sebagainya). Antioksidan enzimatis endogen ini pertama kali dikemukakan oleh J.M. Mc Cord dan I. Fridovich (ilmuwan Amerika pada tahun 1968) yang menemukan enzim antioksidan alami dalam tubuh manusia dengan nama superoksida dismutase (SOD). Hanya dalam waktu singkat setelah teori tersebut disampaikan, selanjutnya ditemukan enzim-enzim antioksidan endogen lainnya seperti glutation peroksidase dan katalase yang mengubah hidrogen peroksidase menjadi air dan oksigen. Sebenarnya radikal bebas, termasuk ROS, penting artinya bagi kesehatan dan fungsi tubuh yang normal dalam memerangi peradangan, membunuh bakteri, dan mengendalikan tonus otot polos pembuluh darah dan organ-organ dalam tubuh kita. Namun bila dihasilkan melebihi batas kemampuan proteksi antioksidan seluler, maka dia akan menyerang sel itu sendiri. Struktur sel yang berubah turut merubah fungsinya, yang akan mengarah pada proses munculnya penyakit. Stres oksidatif (oxidative stress) adalah ketidakseimbangan antara radikal bebas (prooksidan) dan antioksidan yang dipicu oleh dua kondisi umum:

Kurangnya antioksidan Kelebihan produksi radikal bebas

Keadaan stress oksidatif membawa pada kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan hingga ke organ tubuh, menyebabkan terjadinya percepatan proses penuaan dan munculnya penyakit. Berbagai penyakit yang telah diteliti dan diduga kuat berkaitan dengan aktivitas radikal bebas mencakup lebih dari 50, di antaranya adalah stroke, asma, diabetes mellitus, berbagai penyakit radang usus, penyumbatan kronis pembuluh darah di jantung, parkinson, hingga AIDS. Teori penuaan dan radikal bebas pertama kali digulirkan oleh Denham Harman dari University of Nebraska Medical Center di Omaha, AS pada 1956 yang menyatakan bahwa tubuh mengalami penuaan karena serangan oksidasi dari zat-zat perusak. Kanker dan tumor banyak disepakati para ilmuwan sebagai penyakit yang berawal dari mutasi gen atau DNA sel. Radikal bebas dan reaksi oksidasi berantai yang dihasilkan jelas berperan pada proses mutasi ini. Bahaya lainnya yang ditimbulkan radikal bebas adalah bila bereaksi dengan low-density lipoprotein (LDL)cholesterol menjadi bentuk yang reaktif, dikenal faktual sebagai faktor resiko penyakit jantung. Dugaan bahwa radikal bebas tersebar di mana-mana, pada setiap kejadian pembakaran seperti merokok, memasak, pembakaran bahan bakar pada mesin dan kendaraan bermotor. Paparan sinar ultraviolet yang terus-menerus, pestisida dan pencemaran lain di dalam makanan kita, bahkan karena olah raga yang berlebihan, menyebabkan tidak adanya pilihan selain tubuh harus melakukan tindakan protektif. Langkah yang tepat untuk menghadapi gempuran radikal bebas

adalah dengan mengurangi paparannya atau mengoptimalkan pertahanan tubuh melalui aktivitas antioksidan. Pemahaman ilmiah tentang hubungan radikal bebas dengan antioksidan baru muncul pada tiga hingga empat dekade terakhir ini. Hingga kini, berbagai uji kimiawi, biokimia, klinis dan epidemiologi banyak mendukung efek protektif antioksidan terhadap penyakit akibat stres oksidatif Selain jenis antioksidan enzimatis seperti yang disebut di awal, dikenal pula jenis antioksidan nonenzimatis. Jenis ini dapat berupa golongan vitamin, seperti vitamin C, vitamin E serta golongan senyawa fitokimia. Suplemen vitamin banyak beredar di pasaran dalam berbagai dosis. Namun perlu diketahui, hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh. Beberapa antioksidan dalam dosis tertentu bisa berubah sifat menjadi prooksidan. Selain itu masalah dosis bersifat normatif, tergantung dari kondisi individu itu sendiri. Individu yang memang selalu berada dalam lingkungan yang memicu keadaan stres oksidatif, bisa mengkonsumsi suplemen vitamin. Sementara individu yang hidupnya relatif tenang, tidak memerlukannya, karena asupan dari makanan sehari-hari yang berkualitas sudah mencukupi. Vitamin E dan C dikenal sebagai antioksidan yang potensial dan banyak dikonsumsi. Penelitian yang terbaru berdasarkan hasil studi epidemiologi menunjukkan asupan sehari vitamin E lebih dari 400 IU akan meningkatkan resiko kematian dan harus dihindari. Sementara dosis konsumsi vitamin E bagi orang dewasa normal cukup 8-10 IU per hari. Selama ini di pasaran suplemen vitamin E dan C umumnya dijual dalam dosis relatif tinggi. Beberapa produk mengandung vitamin C 1000 mg per tablet. Padahal, kecukupan gizi vitamin C per hari bagi orang dewasa yang hidup tenang, tidak stres atau kondisi lain yang tidak sehat, adalah sekitar 60-75 mg per hari. Untuk mereka yang tinggal di kota besar yang penuh polusi seperti Jakarta, dosis 500 mg bisa diterima. Vitamin C dan E memang sudah lebih dulu dikenal sebagai jenis antioksidan yang efektif, namun keberadaan senyawa fitokimia sebagai satu alternatif senyawa antioksidan menjadi daya tarik luar biasa bagi para peneliti belakangan ini. Katakanlah, senyawa fenolik. Senyawa ini terdistribusi luas dalam berjuta spesies tumbuh-tumbuhan dan sejauh ini telah tercatat lebih dari 8000 struktur senyawa fenolik diketahui. Komponen fenolik merupakan bagian integral dari diet makanan manusia, terkandung dalam sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, dan sebagainya. Walaupun asupan fenolik bervariasi tergantung lokasi geografi, diperkirakan asupan manusia seharinya berkisar 20 mg- 1 g, melebihi vitamin E. Berbagai hasil penelitian membuktikan senyawa fenolik kurkumin dari kunyit dan polifenol katekin dari teh bersifat protektif terhadap kanker lambung dan usus. Atau contoh lainnya adalah isoflavon yang banyak terdapat pada kedelai, ginseng, buah dan sayur, dapat menurunkan risiko kanker payudara. Senyawa lainnya adalah senyawa karotenoid. Amerika Serikat mencatat kanker prostat sebagai penyebab kematian kedua setelah kanker paru-paru di negaranya. Vogt TM dan rekan melaporkan kadar likopen dalam serum warga kulit hitam AS lebih rendah dibandingkan kulit

putih. Hal ini patut diperhitungkan, mengingat tingginya kejadian kanker prostat di kalangan warga kulit hitam. Penduduk negara mediteranian, seperti Italia, Yunani, Spanyol, Mesir, Siprus dan Maroko memiliki tradisi mengkonsumsi tomat. Studi epidemiologi di beberapa daerah di Italia dan Yunani menunjukkan angka kejadian yang rendah untuk penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker seperti kolon, payudara, dan prostat. Tomat dikenal kaya dengan senyawa karotenoid, terutama likopen. Kandungan terbesarnya dalam tomat adalah dalam bentuk trans, namun dalam proses pemasakan berubah menjadi bentuk sis. Hal ini diduga juga terjadi secara in vivo. Likopen merupakan senyawa yang amat sulit larut dalam air. Dalam tomat sendiri, likopen berikatan dengan membran dan tidak mudah lepas. Selama proses pemasakan, ikatan tersebut melemah. Ini yang menjadi penyebab kandungan likopen pada tomat yang dimasak lebih banyak dibandingkan tomat segar. Struktur kimia likopen membuatnya sebagai senyawa nonpolar yang jauh lebih mudah larut dalam minyak. Tradisi masakan mediteranian yang kerap berbahan tomat yang dimasak dengan minyak zaitun (olive oil) ternyata menghasilkan pelepasan likopen secara optimal dan membuatnya lebih efisien penyerapannya, sehingga mudah masuk ke jaringan dan sel. Hingga saat ini, studi epidemiologi yang telah dilakukan secara konsisten menunjukkan hubungan terbalik antara konsumsi sayuran dan buah-buahan dengan resiko penyakit kardiovaskuler dan beberapa jenis kanker. Fakta ini membuat salah satu pusat penelitian kanker di Amerika yaitu National Cancer Institute dan European School of Oncology Task Force on Diet, Nutrition and Cancer merekomendasikan konsumsi buah dan sayuran 5 kali atau lebih dalam sehari untuk mencegah terjadinya penyakit kanker. Hal yang sama juga dilakukan pemerintah Jepang yang dikenal begitu gencar melakukan promosi kesehatan. Kenko Nihon 21 mencantumkan target konsumsi sayuran bagi orang jepang : lebih dari 350 gr sehari. Dengan kondisi alam yang subur, kekayaan varietas tanaman dan tradisi makanan kaya rempah, manusia Indonesia pun tentu sangat mungkin menerapkannya. Daftar bacaan 1. Encyclopaedia Britannica. 2. Emerit, Free Radical and Aging, , Birkhauser, England. 3. John H. Weisburger,Lycopene and tomato products in health promotion, American Health Foundation, 2002. 4. M.A. Soobrattee, V.S. Neergheen, et.al, Phenolic as potential antioxidant therapeutic agents: Mechanism and actions, Mutation Research, 579(1-2):200-13, 2005

Antioksidan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Model pengisian ruang antioksidan glutation. Bola kuning merupakan atom sulfur yang memberikan aktivitas antioksidan, manakala bola merah, biru, putih, dan kelabu mewakili atom oksigen, nitrogen, hidrogen, dan karbon secara berturut-turut. Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi.[1] Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah.[2] Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya.[2] Radikal bebas adalah spesies yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi.[rujukan?] Protein lipida dan DNA dari sel manusia yang sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik.[rujukan?] Kondisi oksidasi dapat menyebabkan kerusakan protein dan DNA, kanker, penuaan, dan penyakit lainnya.[3] Komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik.[rujukan?] Senyawa-senyawa golongan tersebut banyak terdapat dialam, terutama pada tumbuh-tumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas.[4] Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan pangan, antara lain vitamin E, vitamin C, dan karotenoid.[2]

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Hal penting mengenai antioksidan 2 Sumber antioksidan 3 Penggolongan Antioksidan berdasarkan sumbernya o 3.1 Antioksidan alami

4 Penggolongan Antioksidan berdasarkan mekanisme kerjanya o 4.1 Antioksidan primer 4.1.1 Contoh o 4.2 Antioksidan Sekunder 4.2.1 Contoh o 4.3 Antioksidan Tersier 4.3.1 Contoh 5 Metode pengujian antioksidan o 5.1 Metode DPPH o 5.2 Metode CR 6 Catatan tambahan 7 Referensi 8 Pranala luar

[sunting] Hal penting mengenai antioksidan


Antioksidan diharapkan aman dalam penggunaan atau tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), tersedia dengan harga cukup terjangkau, dan tahan terhadap proses pengolahan produk .[3] Antioksidan penting dalam melawan radikal bebas, tetapi dalam kapasitas berlebih menyebabkan kerusakan sel.[3]

[sunting] Sumber antioksidan


Berdasarkan asalnya, antioksidan terdiri atas antioksigen yang berasal dari dalam tubuh (endogen) dan dari luar tubuh (eksogen).[2] Adakalanya sistem antioksidan endogen tidak cukup mampu mengatasi stres oksidatif yang berlebihan.[2] Stres oksidatif merupakan keadaan saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah spesi oksigen reaktif.[2] Oleh karena itu, diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk mengatasinya.[2]

[sunting] Penggolongan Antioksidan berdasarkan sumbernya


Ada dua macam antioksidan berdasarkan sumbernya, yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintetik .[5]

[sunting] Antioksidan alami


Antioksidan alami biasanya lebih diminati, karena tingkat keamanan yang lebih baik dan manfaatnya yang lebih luas dibidang makanan, kesehatan dan kosmetik.[5] Antioksidan alami dapat ditemukan pada sayuran, buah-buahan, dan tumbuhan berkayu.[5] Metabolit sekunder dalam tumbuhan yang berasal dari golongan alkaloid, flavonoid, saponin, kuinon, tanin, steroid/ triterpenoid.[5] Quezada et al. (2004) menyatakan bahwa fraksi alkaloid pada daun Peumus boldus dapat berperan sebagai antioksidan.[6] Zin et al. (2002) menyatakan bahwa golongan

senyawa yang aktif sebagai antioksidan pada batang, buah, dan daun mengkudu berasal dari golongan flavonoid. Gingseng yang berperan sebagai antioksidan, antidiabetes, antihepatitis, antistres, dan antineoplastik, mengandung saponin glikosida (steroid glikosida).[7] Uji aktivitas antioksidan yang dilakukan pada daun Ipomea pescaprae menunjukkan keberadaan senyawa kuinon, kumarin, dan furanokumarin.[8] Tanin yang banyak terdapat pada teh dipercaya memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi.[rujukan?] Sementara itu, Iwalokum et al.(2007)menyatakan bahwa Pleurotus ostreatus yang mengandung triterpenoid, tanin, dan sterois glikosida dapat berperan sebagai antioksidan dan antimikrob.[9]

[sunting] Penggolongan Antioksidan berdasarkan mekanisme kerjanya


Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dibedakan menjadi antioksidan primer yang dapat bereaksi dengan radikal bebas atau mengubahnya menjadi produk yang stabil , dan antioksidan sekunder atau antioksidan preventif yang dapat mengurangi laju awal reaksi rantai serta antioksidan tersier.[5] Mekanisme kerja antioksidan selular menurut Ong et al. (1995) antara lain, antioksidan yang berinteraksi langsung dengan oksidan, radikal bebas, atau oksigen tunggal; mencegah pembentukan jenis oksigen reaktif; mengubah jenis oksigen rekatif menjadi kurang toksik; mencegah kemampuan oksigen reaktif; dan memperbaiki kerusakan yang timbul.[10]

[sunting] Antioksidan primer


Antioksidan primer berperan untuk mencegah pembentukan radikal bebas baru dengan memutus reaksi berantai dan mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil.[5] [sunting] Contoh Contoh antioksidan primer, ialah enzim superoksida dimustase (SOD), katalase, dan glutation dimustase.[5]

[sunting] Antioksidan Sekunder


Antioksidan sekunder berfungsi menangkap senyawa radikal serta mencegah terjadinya reaksi berantai.[5] [sunting] Contoh Contoh antioksidan sekunder diantaranya yaitu vitamin E, Vitamin C, dan -karoten.[5]

[sunting] Antioksidan Tersier


Antioksidan tersier berfungsi memperbaiki kerusakan sel dan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas.[5] [sunting] Contoh

Contohnya yaitu enzim yang memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksida reduktase.[5]

[sunting] Metode pengujian antioksidan


Beberapa metode uji yang digunakan untuk melihat aktivitas antioksidan [11].

[sunting] Metode DPPH


Salah satu metode yang digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan adalah metode DPPH.[rujukan?] Metode DPPH didasarkan pada kemampuan antioksidan untuk menghambat radikal bebas dengan mendonorkan atom hidrogen.[11] Perubahan warna ungu DPPH menjadi ungu kemerahan dimanfaatkan untuk mengetahui aktivitas senyawa antioksidan.[12] Metode ini menggunakan kontrol positif sebagai pembanding untuk mengetahui aktivitas antioksidan sampel. Kontrol positif ini dapat berupa tokoferol, BHT, dan vitamin C.[12] Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidra-zil (DPPH) sebagai radikal bebas. Prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh DPPH dari senyawa antioksidan , misalnya troloks, yang mengubahnya menjadi 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin.[12]

[sunting] Metode CR
Larutan Ce(IV) sulfat yang diberikan pada sampel akan menyerang senyawa antioksidan.[3] Senyawa antioksidan dapat berperan sebagai pemindah elektron, maka perusakan struktur oleh elektron reaktif yang berasal dari oksidator kuat seperti Ce(IV) tidak terjadi.[3] Metode ini berdasarkan spektrofotometri yang pengukurannya dilakukan pada panjang gelombang 320 nm.[3] Panjang gelombang ini digunakan untuk mengukur Ce(IV) yang tidak bereaksi dengan kuersetin dan senyawa flavonoid lain.[3] Kapasitas reduksi Ce(IV) pada sampel dapat diukur konsentrasi dan pH larutan yang sesuai membuat Ce (IV) hanya mengoksidasi antioksidan , dan bukan senyawa organik lain yang mungkin teroksidasi.[3] Hal ini membuat penentuan panjang gelombang maksimum dan nilai pH larutan penting untuk diketahui dan dijaga selama pengukuran agar tidak terjadi pergeseran panjang gelombang selama pengukuran.[3]

[sunting] Catatan tambahan


Antioksidan digunakan luas sebagai bahan kandungan suplemen makanan dengan harapan dapat membantu menjaga kesehatan dan mencegah penyakit-penyakit seperti kanker dan sakit jantung koroner.[13] Walaupun kajian awal mensugestikan bahwa suplemen antioksidan mungkin dapat meningkatkan kesehatan, uji klinis lebih lanjut dalam skala besar tidak berhasil mendeteksi adanya keuntungan-keuntungan tersebut.[13] Sebaliknya, asupan suplemen yang berlebihan malah dapat membahayakan tubuh.[13] Selain itu, senyawa-senyawa antioksidan juga digunakan secara luas untuk keperluan industri, misalnya sebagai zat pengawet makanan dan kosmetik.[13]

[sunting] Referensi

1. ^ (Inggris) Schuler P. 1990. Natural Antioxidant Exploited Comercially. Di dalam: Food Antioxidants. Husdont BJF, editor. New York: Elsevier Applied Science. 2. ^ a b c d e f g (Inggris) Halliwel B, Aeschbach R., Lolinger J, Auroma O I. 1995. Toxicology. J Food Chem 33: 601. 3. ^ a b c d e f g h i (Inggris) Ozyurt D et all. 2005. Determination of total antioxidant capacity by a new spectrophotometric method based on Ce(IV) reducing capacity measurement. [1]. Diakses tanggal 18 Mei 2010 4. ^ Ramle SFM, Kawamura F, Sulaiman O, Hashim R. 2008. Study on antioxidant activities, total phenolic compound, and antifungal properties of some Malaysian timbers from selected hardwoods species. International Conference of Environmental Research and Technology: 472-475 5. ^ a b c d e f g h i j k (Inggris) Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall. 6. ^ (Inggris)Quezada M, Asencio M, Valle JM, Aguilera JM. 2004. AAntioxidant activity of crude extract, alkaloid fraction, and flavonoid faction from Boldo Peumus boldus Molina) Leaves. Food Sci 69: C371-C376. 7. ^ (Inggris)Lee TW, Johnken RM, Allison RR, Brien KF, Dobs LJ. 2005. Radioprotective potential of gingseng. Mutagenesis 4:273-243. 8. ^ Agustiningrum D. 2004. Isolasi dan uji aktivitas antioksidan senyawa bioaktif dari daun Ipomoea pescaprea [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan , Institut Pertanian Bogor. 9. ^ (Inggris)Iwalokum BA, Usen UA, Otunba AA, Olukoya DK. 2007. Comparative phytochemical evaluation, antimicrobial and antioxidant properties of Pleurotus ostreatus. African Biotechno 6:1732-1739. 10. ^ (Inggris)Ong ASH, Niki E, Packer L. 1995. Nutrition, Lipids, and Desease. Hlmn 17.ISBN:0935315640.Illnois: AOCS Champaign Pr. 11. ^ a b (Inggris)Apak R, Guclu K, Ozyurek M, Celik SE, Karademir SE. 2007. Comparitive evaluation of various total antioksidant capacity assay applied to phenolic compounds with the CUPRAC assay. Molecules 12:1496-1547. 12. ^ a b c (Inggris) Ohtani II et al. 2000. New antioxidant from the African medicinal herb Thonginia sanguinea'. J Nat Prod 63: 676-679. 13. ^ a b c d (Inggris)Bjelakovic G, et al. (2007). "Mortality in randomized trials of antioxidant supplements for primary and secondary prevention: systematic review and meta-analysis". JAMA 297 (8): 84257. doi:10.1001/jama.297.8.842. PMID 17327526.

[sunting] Pranala luar

Uji Antioksidan
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Aktifitas antioksidan tidak dapat diukur secara langsung, melainkan melalui efek antioksidan dalam mengontrol proses oksidasi. Banyak metode yang bisa digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan. Pada pengukuran aktifitas antioksidan perlu diperhatikan sumber radikal bebas dan substrat. Hal ini dikarenakan antioksidan mungkin dapat melindungi lipid dari kerusakan oleh radikal bebas, namun di waktu yang sama dapat mempercepat kerusakan molekul sel lainnya. Untuk mengatasi masalah ini dapat digunakan beberapa metode pengukuran aktifitas antioksidan untuk mengevaluasi efek dari antioksidan. Berikut ini adalah metode yang sering digunakan untuk mengukur aktifitas total antioksidan total suatu senyawa:

1.Uji DPPH DPPH atau 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (,-difenil-pikrilhidrazil) merupakan suatu radikal bebas yang stabil dan tidak membentuk dimer akibat delokalisasi dari elektron bebas pada seluruh molekul. Delokalisasi elektron bebas ini juga mengakibatkan terbentuknya warna ungu pada larutan DPPH sehingga bisa diukur absorbansinya pada panjang gelombang sekitar 520 nm. Ketika larutan DPPH dicampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, maka warna ungu dari larutan akan hilang seiring dengan tereduksinya DPPH. Uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode ini berdasarkan dari hilangnya warna ungu akibat tereduksinya DPPH oleh antioksidan. Intensitas warna dari larutan uji diukur melalui spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang sekitar 520 nm. Hasil dari uji ini diinterpretasikan sebagai EC50, yaitu jumlah antioksidan yang diperlukan untuk menurunkan konsentrasi awal DPPH sebesar 50%. Pada metode ini

Jenis-Jenis Masker Wajah Beragam jenis masker ditawarkan di pasaran. Agar tak salah pilih, yuk kenali jenis-jenis masker dan cara memilihnya. 1. Masker Bubuk Penggunaan masker bubuk dicampur dengan air hingga kental, lalu diaplikasikan pada wajah. Masker ini mempunyai tingkat kerapatan tinggi, sehingga tidak cocok untuk kulit sensitif atau yang mengalami iritasi dan peradangan. Sebab, kerapatan masker bubuk dikhawatirkan menghambat pernafasan kulit dan memperburuk permasalahan kulit. Masker ini lebih cocok untuk kulit normal. 2. Tissue Mask Masker ini berupa lembaran tisu basah. Masker jenis ini cocok untuk kulit kering, terutama yang sering terpapar sinar matahari. Sebab, kandungan air dalam tissue mask bisa membantu melembabkan kulit. Masker tisu juga baik untuk kulit meradang, iritasi, atau sensitif, karena kerapatannya tidak terlalu tinggi. Masker jenis ini sangat praktis, sehingga bisa dipakai sendiri di rumah. Masker ini bisa dipakai sampai dua kali pemakaian, asal cara penyimpanannya benar, yaitu disimpan di dalam lemari es, bukan frezzer, setelah dipakai.

3. Gel Mask Masker gel memiliki kandungan air yang relatif tinggi, sehingga akan memberi rasa dingin dan lembab pada wajah. Karena itu masker gel bagus untuk kulit kering. Sebaliknya, mask gel tidak disarankan untuk kulit yang iritasi atau ada luka terbuka. Sebab, bahan gelnya yang bersifat lengket, memberi sedikit kesempatan bagi kulit untuk bernafas. Selain itu, luka terbuka bisa bertambah parah karena ikut tertarik saat masker dikelupas. 4. Masker Topeng Masker topeng berbentuk seperti wajah, dengan lubang dibagian mata dan mulut. Teksturnya lentur sehingga bisa menyesuaikan lekuk-lekuk wajah. Cara pemakaiannya sangat praktis karena bisa langsung ditempelkan pada wajah. Selain itu masker topeng bisa digunakan berulang-ulang yaitu 2-5 kali. 5. Clay Mask Clay Mask ada yang berbentuk bubuk, ada juga yang tisu. Clay mask berguna untuk mengurangi kadar minyak di wajah. Karena itu, clay mask cocok untuk kulit berminyak. Tanda kulit berminyak adalah mudah berjerawat. Tapi saat jerawat meradang sebaiknya tidak langsung memakai masker. Sebaiknya obati peradangan lebih dulu. 6. Peel Off Mask Masker peel off adalah masker yang dipasang pada wajah, kemudian diangkat, apapun bentuk bahannya. Jadi bukan masker yang dibersihkan dengan air. Masker peel off bisa dibuat dari

bubuk atau gel yang dicampur air. Masker peel off dari bubuk memiliki tingkat kerapatan lebih tinggi ketimbang gel. Karena itu, untuk kulit sensitif sebaiknya memilih masker peel off dari bahan gel. 7. Cream Mask Cream mask adalah gabungan untuk perawatan tertentu seperti facial. Biasanya cream mask digunakan di awal sebelum facial. Cream mask baik untuk kulit kering, karena fungsi masker ini bisa untuk mengangkat sel kulit mati dan mengurangi kekeringan di kulit. 8. Gold Mask Gold mask adalah gabungan butiran emas, krim, dan lotion. Gunanya untuk melembabkan dan mengenyalkan kulit, sehingga cocok untuk mereka yang mengalami penuaan dini. Selain itu, fungsi gold mask yang paling dominan adalah mencerahkan kulit. Gold mask juga ada yang berbentuk tisu, jadi tinggal pilih saja mana yang cocok. Meski manfaatnya cukup banyak, bukan berarti masker bisa digunakan setiap hari. Sebaiknya gunakan masker dua minggu sekali untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit. Sebenarnya kulit itu memiliki waktu untuk melakukan regenerasi yaitu setiap 14-28 hari. Jadi, sebaiknya beri kesempatan pada kulit untuk meregenerasi sel-selnya. Selain itu, dengan memakai masker setiap dua minggu sekali, kulit tidak akan terbebani dan mendapat kesempatan memperbaiki selselnya. Untuk masker yang sudah instan, perlu di uji cocok tidaknya. Coba dulu dibagian telinga, bila dalam waktu 24 jam tidak ada perubahan berarti cocok. Sebaliknya bila terjadi reaksi, sebaiknya segera dihentikan. Sumber : Tabloid Mingguan Kecantikan,, Kesehatan dan Fitnes, CANTIQ, Edisi 201 II Juni 2011 Posted by Prasko, S. Si.T, M.H at Selasa, Juni 21, 2011 Labels: Aneka Masker Wajah, Jenis Masker, Jenis Masker Wajah, Jambu

Biji, Buah

dan Daunnya Berkhasiat


Jambu biji merupakan tanaman dari genus Psidium dan terbagi atas banyak spesies. Tanaman ini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah, beberapa tempat di kepulauan Karibia, serta Afrika Utara. Namun kini tanaman ini telah dibudidayakan di berbagai tempat di dunia, khususnya di daerah tropis dan subtropis. Spesies jambu biji yang paling banyak ditemui adalah spesies jambu biji apel (Psidium guajava), yang merupakan komoditas jambu biji yang lazim untuk dipasarkan. Buah

jambu biji layak menyandang gelar "superfruit", oleh karena banyaknya kandungan gizi yang terkandung di dalamnya.

Buah jambu biji kaya akan vitamin A dan C, serta bila bijinya ikut dimakan, maka termasuk pula kandungan asam lemak tak jenuh omega-3 dan omega-6 dan juga serat makanan dalam jumlah tinggi. Kandungan vitamin C buah jambu biji spesies Psidium guajava setara dengan 4 kalinya kandungan vitamin C pada jeruk. Akan tetapi kandungan vitamin C ini sangat tergantung pada spesies jambu tersebut, sebagai contohnya spesies jambu biji Psidium littorale var. cattleianum hanya mengandung 30-40 mg vitamin C per 100 gram buah, atau hanya sepersepuluh dari kandungan spesies jambu biji lainnya. Namun persentase kandungan vitamin C spesies ini masih tergolong tinggi, yakni 62%, pada Dietary Reference Intake. Jambu biji mengandung baik karotenoid dan polifenol, yakni kelompok antioksidan utama, yang menjadikannya buah yang memiliki kandungan antioksidan tinggi. Oleh karena pigmen tanaman ini terdapat di warna buah, maka buah jambu biji yang berwarna merah atau kekuningan memiliki manfaat lebih sebagai sumber antioksidan dibandingkan dengan buah yang berwarna kehijauan. Selain buahnya yang mengandung nilai gizi tinggi, daun jambu biji juga memiliki manfaat yang tidak kalah besarnya. Ekstrak daun dan batang jambu biji memiliki khasiat terhadap kanker, infeksi bakteri, inflamasi, dan nyeri (1,2). Minyak atsiri daun jambu biji memiliki khasiat anti kanker kuat secara in vitro (3). Dalam pengobatan tradisonal, daun jambu biji digunakan untuk mengobati diare, serta diabetes.

Mengcopy artikel ini tanpa izin melanggar hak cipta.


Referensi 1. OJEWOLE, J.A. (2006): Antiinflammatory and analgesic effects of Psidium guajava Linn. (Myrtaceae) leaf aqueous extract in rats and mice. Methods and Findings in Experimental and Clinical Pharmacology 28(7): 441446.

2. CHEN, KUAN-CHOU; HSIEH, CHIU-LAN; PENG, CHIUNG-CHI; HSIEH-LI, HSIU-MEI; CHIANG, HAN-SUN; HUANG, KUAN-DAR & PENG, ROBERT Y. (2007): Brain derived metastatic prostate cancer DU-145 cells are effectively inhibited in vitro by guava (Psidium gujava L.) leaf extracts. Nutr. Cancer 58(1): 93106. 3. MANOSROI, J.; DHUMTANOM, P. & MANOSROI, A. (2006): Anti-proliferative activity of essential oil extracted from Thai medicinal plants on KB and P388 cell lines. Cancer Letters 235(1): 114120.

Herba Lainnya:
Oregano, Herba Kuliner Sehat Kurma, Buah yang Bergizi dan Menyehatkan

Kamis, 14 Mei 2009


Produk dan Khasiat Jambu Biji (Psidium guajava L)

(kesimpulan) Potensi jambu biji di Indonesia untuk dijadikan obat alternatif terhadap berbagai penyakit memiliki peluang sangat besar, karena mudah ditemukan dan harganya relatif terjangkau. Jambu biji (Psidium guajava L.) juga dikenal dengan nama Glima Breueh (Aceh), Masiambu (Nias), Jambu Biawas, Jambu Biji, Jambu Pertukal, Jambu Susu, Jambu Klutuk (Sunda). Jambu biji dalam bahasa inggris sering disebut Lambo Guava, Common Guava, Yellow Guava, atau Apple Guava. Namun belum banyak yang mengetahui bahwa selain sebagai sumber vitamin C, jambu biji juga merupakan obat untuk mengatasi berbagai penyakit seperti diabetes melitus, demam berdarah, dan diare.

Tanaman jambu biji berasal dari Brazilia Amerika Tengah. Jambu biji yang berkembang di Indonesia terdiri dari beberapa varietas yaitu: Jambu Sukun (jambu tanpa biji, tumbuh secara partenokarpi dan bila tumbuh dekat dengan jambu biji akan cenderung berbiji kembali), Jambu Bangkok, Jambu Susu, Jambu Merah, Jambu Pasar Minggu, Jambu Sari, Jambu Apel, Jambu Palembang, dan Jambu Merah Getas. Tanaman jambu biji merupakan tanaman buah jenis perdu, dengan batang yang memiliki kulit kayu bersisik coklat kehijauan, bunganya berwarna putih dan wangi, daun tumbuh menyilang dengan tangkai yang pendek, panjang daun hingga 15 cm. Buah jambu biji berbentuk bulat atau oval. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 9 meter. Selain buahnya, bagian dari tanaman ini yang sering digunakan sebagai obat yaitu daunnya. Daun jambu biji biasa digunakan sebagai minuman seperti halnya teh. KOMPOSISI Buah Jambu Biji Buah jambu biji mengandung berbagai zat yang berfungsi sebagai penghambat berbagai jenis penyakit, diantaranya jenis flavonoid, minyak atsiri, dan juga terdapat saponin berkombinasi dengan asam oleanolat, Morin-3-O--L-lyxopyranoside, dan morin-3-O--Larabopyranoside dan flavonoid, guaijavarin, dan quercetin. Komposisi kimia jambu biji sebagai berikut: Proximates Water (g) 80.80 / Energy (kcal) 68 / Energy (kj) 285 / Protein (g) 2.55 / Total lipid (fat) (g) 0.95 / Ash (g) 1.39 / Carbohydrate, by difference (g) 14.32 / Fiber, total dietary (g) 5.4 / Sugars, total (g) 8.92 Minerals Calcium, Ca (mg) 18 / Iron, Fe (mg) 0.26 / Magnesium, Mg (mg) 22 / Phosphorus, P (mg) 40 / Potassium, K (mg) 417 / Sodium, Na (mg) 2 / Zinc, Zn (mg) 0.23 / Copper, Cu (mg) 0.230 / Manganese, Mn (mg) 0.150 / Selenium, Se (mcg) 0.6 Vitamins Vitamin C, total ascorbic acid (mg) 228.3 / Thiamin (mg) 0.067 / Riboflavin (mg) 0.040 Niacin (mg) 1.084 / Pantothenic acid (mg) 0.451 / Vitamin B-6 (mg) 0.110 / Folate, total (mcg) 49 / Folic acid (mcg) 0 / Folate, food (mcg) 49 / Folate, DFE (mcg) DFE 49 / Vitamin B-12 (mcg) 0.00 / Vitamin B-12, added (mcg) 0.00 / Vitamin A, IU IU 624 / Vitamin A, RAE (mcg) RAE 31 / Retinol (mcg) 0 0 0 / Vitamin E (alpha-tocopherol) (mg) 0.73 / Vitamin E, added (mg) 0.00 / Vitamin K (phylloquinone) (mcg) 2.6 Lipids Fatty acids, total saturated (g) 0.272 / Fatty acids, total monounsaturated (g) 0.087 / Fatty acids, total polyunsaturated (g) 0.401 / Cholesterol (mg) 0 Amino acids Tryptophan (g) 0.022 / Threonine (g) 0.096 / Isoleucine (g) 0.093 / Leucine (g) 0.171 / Lysine (g) 0.072 / Methionine (g) 0.016 / Phenylalanine (g) 0.006 / Tyrosine (g) 0.031 / Valine (g) 0.087 / Arginine (g) 0.065 / Histidine (g) 0.022 / Alanine (g) 0.128 / Aspartic acid (g) 0.162 / Glutamic acid (g) 0.333 / Glycine (g) 0.128 / Proline (g) 0.078 / Serine (g) 0.075

Other Alcohol, ethyl (g) 0.0 / Caffeine (mg) 0 / Theobromine (mg) 0 / Carotene, beta (mcg) 374 Carotene, alpha (mcg) 0 / Cryptoxanthin, beta (mcg) 0 / Lycopene (mcg) 5204 / Lutein + zeaxanthin (mcg) 0 Kandungan karbohidrat yang dihasilkan 100 gram jambu biji sebesar 14,32 gram; ditetapkan berdasarkan perhitungan Carbohydrate by difference yang dilakukan dengan cara menghitung selisih pengurangan total kandungan jambu biji dikurangi kandungan total lemak, total protein, air, dan mineral. Dari 14.32 gram karbohidrat dihasilkan 285 kj kalori. Selain itu buah jambu biji juga mengandung beberapa jenis minyak atsiri. Kandungan minyak atsiri sebagai berikut: hexanal 65.9% / -butyrolactone (7.6%) / (E)-2-hexenal (7.4%) / (E)-2-hexenal (7.4%) / (E,E)2,4-hexadienal (2.2%) / (Z)-3-hexenal (2%) / (Z)-2-hexenal (1%) / (Z)-3-hexenyl acetate (1.3%) / phenol (1.6%) / -caryophyllene (24.1%) / nerolidol (17.3%) / 3-phenylpropyl acetate (5.3%) / caryophyllene oxide (5.1%). Daun Jambu Biji Daun jambu biji mengandung total minyak 6% dan minyak atsiri 0,365%, 3,15% resin, 8,5% tannin, dan lain-lain. Komposisi utama minyak atsiri yaitu -pinene, -pinene limonene, menthol, terpenyl acetate, isopropyl alcohol, longicyclene, caryophyllene, - bisabolene, caryophyllene oxide, -copanene, farnesene, humulene, selinene, cardinene and curcumene. Minyak atsiri dari daun jambu biji juga mengandung nerolidiol, -sitosterol, ursolic, crategolic, dan guayavolic acids. Selain itu juga mengandung minyak atsiri yang kaya akan cineol dan empat triterpenic acids sebaik ketiga jenis flavonoid yaitu; quercetin, 3-L-4-4-arabinofuranoside (avicularin) dan 3-L-4-pyranoside dengan aktivitas anti bakteri yang tinggi. SEBAGAI OBAT Diabetes Melitus Ekstrak buah dan daun jambu biji mengandung guava polyphenol yang bersifat anti oksidan. Konsumsi ekstrak jambu biji tidak menurunkan kandungan glukosa dalam darah pada jangka waktu cepat setelah pemberian glukosa. Tetapi kandungan glukosa dalam darah menurun dalam jangka waktu lama setelah pemberian ekstrak jambu biji. Penurunan kandungan glukosa dalam darah disebabkan karena adanya stimulasi sekresi insulin setelah mengkonsumsi ekstrak buah jambu biji dalam jangka waktu lama. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kandungan insulin dalam darah setelah pemberian ekstrak jambu biji. Penelitian menggunakan jus jambu biji yang dilarutkan dalam air konsentrasi 25% yang dikonsumsi selama 32 minggu. Diare Daun jambu biji mengandung tanin dan zat lain seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan vitamin. Ekstrak daun jambu

biji dalam etanol, aseton, dan air dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare yaitu Staphylococcus aureus dan E. Coli. Ekstrak etanol daun jambu biji daging buah putih memiliki kemampuan hambat bakteri yang lebih besar daripada jambu biji daging buah merah (KHM terhadap Escherichia coli (60mg/ml vs >100mg/ml), Shigella dysenteriae (30mg/ml vs 70mg/ml), Shigella flexneri (40mg/ml vs 60mg/ml), dan Salmonella typhi (40mg/ml vs 60mg/ml). Efektivitas ekstrak daun jambu biji daging buah putih dibandingkan dengan yang berwarna merah sebagai anti-diare berdasarkan aktivitas antimikroba, konsistensi feses, berat feses, waktu diare, dan uji waktu lintas usus. Demam Berdarah Ekstrak daun jambu biji dipastikan bisa menghambat pertumbuhan virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD). Bahan itu juga mampu meningkatkan jumlah trombosit hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa efek samping. Pada penelitian tersebut digunakan hewan model mencit dengan pemberian oral ekstrak daun jambu biji terbukti dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah. Selain itu ekstrak daun jambu biji terbukti dapat meningkatkan jumlah sel hemopoetik terutama megakriosit pada preparat dan kultur sumsum tulang mencit. Peningkatan tersebut diperkirakan dapat tercapai dalam tempo delapan hingga 48 jam setelah ekstrak daun jambu biji dikonsumsi. Pada uji keamanan (toksisitas) ekstrak daun jambu biji termasuk zat yang praktis tidak toksik. Ekstrak daun jambu biji dijadikan obat antivirus dengue berupa suplemen dalam bentuk kapsul dan sirup untuk menghambat pertumbuhan virus penyebab demam berdarah karena mengandung kelompok senyawa tanin dan flavonoid yang dinyatakan sebagai quersetin. Quersetin dan rutin merupakan senyawa-senyawa flavonoid yang biasa ditemukan dalam kelas Angiosermae. Quersetin adalah senyawa golongan flavonoid jenis flavonol dan flavon, senyawa ini banyak terdapat pada tanaman famili myrtaceae dan solanacea. Telah dikenal sejumlah glikosida flavonol yaitu turunan dari quersetin, diantaranya adalah quersetin3-Lrhamonoside atau quersitrin yang digunakan untuk pewarna tekstil, quersetin3-rutinoside yang biasa disebut rutin dan quersetin 3 glukoside atau isoquersitrin yang berkhasiat diantaranya untuk mengobati kerapuhan pembuluh kapiler pada manusia. Senyawa rutin terdapat dalam tanaman tembakau dari famili Solanaceae dan Eucalyptus macrorynh dari familia Myrtaceae. Quersetin dalam ekstrak daun jambu biji dapat menghambat aktivitas enzim reverse trancriptase yaitu enzim yang diperlukan oleh virus untuk mereplikasi diri, sehingga Quersetin dapat menghambat pertumbuhan virus berinti RNA. Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavovirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3 dan 4. Struktur antigen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Variasi genetik berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotipe dapat mencapai 2,6-11,0% pada tingkat nukleotida dan 1,3-7,7% untuk tingkat protein. PRODUK OLAHAN

Bubur Bubur (Puree) merupakan produk antara dari pengolahan buah-buahan dan merupakan bahan baku industri jus, sirup serta industri pangan lainnya. Produk berbentuk bubur akan memudahkan dalam transportasi, mutu produk lebih konsisten dan daya simpan lebih lama sehingga kontinuitas bahan baku untuk industri lanjutan dapat terjamin. Pasta Pasta jambu biji atau keju jambu biji dibuat dengan cara menguapkan daging buah dicampur gula, yang dimakan sebagai kue manis. Pengalengan Dehidrasi irisan-irisan bagian luar buah tanpa biji untuk dijadikan produk yang dikalengkan. Dikupas, dibelah dua dan direbus dalam sirup encer, kemudian dikalengkan, serta sari buah dan nektar juga diawetkan secara demikian. Teh Daun jambu biji mengandung banyak phenolic phytokimia yang dapat menghambat reaksi peroksidasi di dalam tubuh sehingga dapat mencegah dari berbagai penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan jantung. Ekstrak teh daun jambu biji dapat menghambat aktifitas radikal bebas, sehingga teh daun jambu biji dapat dijadikan suplemen minuman kesehatan. Tepung Tepung jambu biji merupakan sumber yang baik untuk vitamin C dan pektin.Tepung jambu biji dapat digunakan untuk membuat minuman instan, suplemen dalam makanan bayi, dan berbagai produk lainnya. Tepung jambu biji diperoleh dengan cara mengeringkan bubur jambu biji. Ada tiga metode dalam pengeringan jambu biji, yaitu: Freeze drying, Spray Drying, dan Tunnel Drying PUSTAKA Abreu P.R.C. et.al. 2006. Guava extract (Psidium guajava) alters the labelling of blood constituents with technetium-99m. Journal of Zhejiang University SCIENCE B, 7(6). Bassols, F; Demole, EP. (1994) The occurrence of pentane-2-thiol in guava fruit. Journal of Essential Oil Research 6(5). Burkill, H.M. 1997. The useful plants of West Tropical Africa. Edition 2. Vol.4. Families M-R. Royal Botanic Gardens Kew. Chopda, Chetan A.; and Barrett, Diane. na. Optimization of guava juice and powder production.

California: Department of Food Science and Technology University of California Davis. Conde Garcia, E.A.; Nascimento, V.T.; dan Santiago Santos, A.B. 2003. Inotropic effects of extracts of Psidium guajava L. (guava) leaves on the guinea pig atrium. Brazilian Journal of Medical and Biological Research 36. Harborne. 1987. Metode Fitokimia. Penuntun cara modern menganalisi tumbuhan. Terjemahan Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Penerbit ITB. Bandung. Heyne, K.1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya. I Ketut Adnyana; dkk. 2004. Efek ekstrak daun jambu biji daging buah putih dan jambu biji daging buah merah sebagai antidiare. Acta Pharmaceutica Indonesia XXIX (1). Info Ristek. 2006. Khasiat dan Produk Olahan Jambu Biji (Psidium guajava L.). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (LIPI), Jakarta. Vol.4, No.3, 2006. Kemal Prihatman. 2000. TTG Budidaya Pertanian Jambu Biji/ Jambu Batu. Jakarta: Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Lucas, E.; Olorunnisola, A.; and Adewole, N. 2006. Preliminary Evaluation of Guava (Psidium guajava L.) Tree Branches for Truss Fabrication in Nigeria. The CIGR Ejournal. Manuscript BC 05 010. VIII. (May). Marcello M. Almeida; 2004. Drying of cubic guava pieces in spouted bed-part 1: fluid dynamic study. Proceedings of the 14th International Drying Symposium (IDS 2004)So Paulo, Brazil, 22-25 August 2004, vol. C. Oliver-Bever. 1986. Bep: Medicinal Plants in tropical West Africa. Cambridge: Cambridge University Press. Paniandy, J. C.; Chane-Ming, J.; Pieribattesti, J. C. 2000. Chemical composition of the essential oil and headspace solid-phase microextraction of the guava fruit (Psidium guajava L.). Journal of Essential Oil Research, 12(2). Qian He dan Nihorimbere Venant. 2004. Antioksidant power of phytochemicals from Psidium guajava leaf. J Zhejiang Univ SCI, 5(6). Robert E. Paull dan Ching Cheng Chen.na. Guava. Honolulu: Department of Tropical Plant and Soil Sciences University of Hawaii at Manoa. Rosangela de Oliveira Teixeira1, et. Al. 2003. Assessment of two medicinal plants, Psidium guajavaL. And Achillea millefoliumL., in in vitro and in vivo assays. Genetics and Molecular Biology, 26 (4).

Sunagawa, Masonari; et.al. 2004. Plasma insulin concentration was increased by long-term ingestion of guava juice in spontaneous non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM) rats. Journal of Health Science, 50(6). Vieira; et. Al. 2001. Microbicidal Effect of Medicinal Plant Extract (Psidium guajava L. and Carica papaya L.) upon Bacteria Isolated from Fish Muscle and Known to Induce Diarrhea in Children. Revista do Instituto de Medicina Tropical de Sao Paulo, May Jun 2001, 43(3). Widyastuti Y.E., Paimin F.B. 1993. Mengenal Buah Unggul Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya. Yuliani,Sri; Udarno, Laba; dan Hayani, Eni. 2003. Kadar tanin dan Quersetin Tiga Tipe Daun Jambu Biji (Psidium guajava). Buletin TRO XIV (1). Zakaria, Muhamad bin & Mohd, Mustafa Ali. 1994. Traditional Malay Medicinal Plants. Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd. Terkait : News Non Penelitian Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

inShare0 Apa DOI itu?


ADVERTISEMENT

Cari Artikel

Berlangganan

Arsip

Help

Laporan Penelitian Akademis


ADVERTISEMENT ADVERTISEMENT

Toko Rekan KeSimpulan

Tele
Optik
Kamera

Selam
Kesehatan
Pendidikan

Pertanian

SURVEI
1 MENIT
KeSimpulan.com

Rekomendasi di Facebook

Pendahuluan Fitokimia : Tanin, ekstraksi dan identiffikasi


TANIN Apa itu? Tanin adalah campuran polifenol yang dalam tumbuhan membentuk glikosida yang jika terhidrolis terurai menjadi aglikon dan glikon simplisianya terdiri dari: - daun jambu mede (Anacardii folium - daun jambu biji (Psidii folium - daun teh (Theae folium - kulit buah manggis (Garnicia fructus cortex - buah pinang (Areca Catechu fructus dan masi banyak lagi lo!

oke, mari kita ke bagian ekstraksi.. mmm.. harusnya kita tau dulu si sifat-sifat dari si tanin ini. Namun karena keterbatasan waktu (a.k.a penulis belum sempet baca) makanya yang penulis cantumkan yang penulis ingat saja ya. Mohon maafff.. >,< Tanin bersifat polar dalam bentuk glikosidanya. Tanin juga mengendap dengan protein dan logam-logam berat. Kedua sifat ini sangat berpengaruh terhadap cara ekstraksi dan identifikasi senyawa tanin. adapun cara ekstraksinya adalah sbagai berikut.. cek it out.. 1. Serbuk simplisia diekstraksi dengan etanol 80%. Kenapa etanol? karena TM nya cukup rendah sehingga mudah diuapkan. Etanol juga merupakan pelarut yang polar sehingga efektif dalam menarik tanin. 2. Ekstrak etanol kemudian diuapkan di atas waterbath 3. Sisa penguapan kemudian dilarutkan dalam air panas dan diaduk. Kenapa air panas? karena untuk meningkatkan kelarutan si tanin tersebut, selain itu untuk menyari senyawa yang lebih polar lagi dalam ekstrak tersebut 4. Dinginkan dan kemudian disentrifuge, lalu lapisan diatas didekantasi 5. Tambahkan NaCl 10%, saring. Kenapa NaCl? karena untuk memisahkan pengotor yang berupa protein atau senyawa amida. NaCl membuat larutan menjadi jenuh sehingga proteinprotein mengendap.

Ekstrak pastinya akan diidentifikasi kandungannya. Untuk tanin, apa saja identifikasinya? Cara identifikasi setiap senyawa berkaitan dengan bagaimana sifatnya. Untuk tanin, ada 5 macam identifikasi yang dapat digunakan : 1. ditambah dengan gelatin. Cek endapan coklat hitam. Tanin akan dan dapat mengendapkan gelatin (protein) 2. ditambah dengan NaCl-gelatin. NaCl membuat larutan menjadi jenuh sehingga terjadi salting out atau penggusiran gelatin dari larutan. Hal ini menyebabkan endapan coklat hitam menjadi lebih banyak dibandingkan reaksi no 1 3. ditambah Pb(II)Asetat, positif bila terdapat endapan putih hingga coklat terang. Reaksi ini harus dilakukan pada suasana asam lemah dengan pH berkisar antara 3-6. Jika terlalu basa, ditakutkan ada endapan pengecoh yang berupa Pb(OH)2 4. FeCl3 3%. Larutan ini ditambah dengan ekstrak tanin untuk membedakan tanin terhidrolisis (gallotanin) dan tanin terkondensasi (proantosianin). Pada tanin terhidrolisis, larutan akan berubah warna menjadi biru - biru kehitaman, sedangkan pada tanin terkondensasi berubah menjadi hijau. 5. Test fluorosensi. Ekstrak tanin+NaOH untuk membuat tanin berubah menjadi asam fenolat yang mempunyai gugus kromofor sehingga dapat terbaca di spektro 365nm warna hijau terang. Untuk memisahkan adanya gugus kromofor lain yang (mungkin) dapat mengganggu ditambahkan petroleum eter pada ekstrak NaOH-tanin dan diambil larutan petroleum eter sebelum dispekrto.

Selesai! akan ada penetapan kadar kok.. tapi nanti.. tunggu saja tanggal mainnya doakan pretest praktikum fitokim saya berhasil ya.. :) 15 Magnesium (Mg) g/100 g 1,50 Tanin merupakan astrigen, polifenol tanaman berasa pahit yang dapat mengikat dan mengendapkan protein. Umumnya tanin digunakan untuk aplikasi di bidang pengobatan, misalnya untuk pengobatan diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir. Kemampuan Sarang Semut secara empiris untuk pengobatan ambeien (wasir) dan mimisan diduga kuat berkaitan dengan kandungan taninnya. Seperti dalam tabel di atas tumbuhan Sarang Semut kaya akan antioksidan tokoferol (vitamin E) sekitar 313 ppm dan beberapa mineral penting untuk tubuh seperti kalsium, natrium, kalium, seng, besi, fosfor, dan magnesium. Analisis antioksidan dari ekstrak kasar tumbuhan Sarang Semut dengan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas antioksidan sedang, yaitu diperoleh nilai IC50 sebesar 48,6 ppm. Sementara alfatokoferol yang merupakan antioksidan kuat dengan nilai IC50 diperoleh angka sebesar 5,1 ppm. IC50 merupakan konsentrasi dari antioksidan yang dapat meredam atau menghambat 50% radikal bebas. Semakin kecil nilai IC50 dari suatu antioksidan maka semakin kuat antioksidan tersebut. Alfatokoferol pada konsentrasi 12 ppm telah mampu meredam radikal bebas sebanyak 96% dan persentase inhibisi ini tetap konstan untuk konsentrasi yang lebih tinggi dari 12 ppm. Hasil penelitian ini mempunyai makna bahwa alfa-tokoferol pada konsentrasi rendah pun telah memiliki aktivitas peredam radikal bebas hingga mendekati 100%. Dalam sistem metabolisme tubuh, Kalsium berfungsi dalam kerja jantung, impuls saraf, dan pembekuan darah. Besi berfungsi dalam pembentukan hemoglobin, transpor oksigen, aktivator enzim. Fosfor berfungsi dalam penyerapan kalsium dan produksi energi. Natrium memiliki peranan dalam kesetimbangan elektrolit, volume cairan tubuh, dan impuls saraf. Kalium berfungsi dalam ritme jantung, impuls saraf, dan keseimbangan asam-basa. Seng memiliki fungsi dalam sintesis protein, fungsi seksual, penyimpanan insulin, metabolisme karbohidrat, dan penyembuhan luka. Sementara Magnesium memiliki peranan dalam fungsi tulang, hati, otot, transfer air intraseluler, keseimbangan basa, dan aktivitas neuromuskuler. Fungsi-fungsi mineral tersebut dapat menjelaskan beberapa khasiat lain dari Sarang Semut, misalnya khasiatnya dalam membantu mengatasi berbagai macam penyakit/gangguan jantung, melancarkan haid dan mengobati keputihan, melancarkan peredaran darah, mengobati migrain (sakit kepala sebelah), gangguan fungsi ginjal dan prostat, memulihkan kesegaran dan stamina tubuh, serta memulihkan gairah seksual. Hasil analisis penghambatan aktivitas enzim xanthine oxidase oleh ekstrak tumbuhan Sarang

Semut menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan ini dapat menghambat aktivitas enzim xanthine oxidase dengan aktivitas yang setara dengan allopurinol, obat komersial yang digunakan untuk pengobatan asam urat. Diduga senyawa inhibitor xanthine oxidase yang bertanggung jawab dalam mekanisme ini adalah senyawa dari golongan flavonoid. Fenomena ini yang kemungkinan dapat memperkuat khasiat tumbuhan Sarang Semut untuk pengobatan rematik yang telah terbukti secara empiris. (Sumber: Buku "Gempur Penyakit dengan Sarang Semut" Penulis Dr. Ir. Ahkam Subroto, Hendro Saputro)

What are phytochemicals?


Phytochemicals are non-nutritive plant chemicals that have protective or disease preventive properties. They are nonessential nutrients, meaning that they are not required by the human body for sustaining life. It is well-known that plant produce these chemicals to protect themselves but recent research demonstrate that they can also protect humans against diseases. There are more than thousand known phytochemicals. Some of the well-known phytochemicals are lycopene in tomatoes, isoflavones in soy and flavanoids in fruits.

How do phytochemicals work?


There are many phytochemicals and each works differently. These are some possible actions:

Antioxidant - Most phytochemicals have antioxidant activity and protect our cells against oxidative damage and reduce the risk of developing certain types of cancer. Phytochemicals with antioxidant activity: allyl sulfides (onions, leeks, garlic), carotenoids (fruits, carrots), flavonoids (fruits, vegetables), polyphenols (tea, grapes). Hormonal action - Isoflavones, found in soy, imitate human estrogens and help to reduce menopausal symptoms and osteoporosis. Stimulation of enzymes - Indoles, which are found in cabbages, stimulate enzymes that make the estrogen less effective and could reduce the risk for breast cancer. Other phytochemicals, which interfere with enzymes, are protease inhibitors (soy and beans), terpenes (citrus fruits and cherries). Interference with DNA replication - Saponins found in beans interfere with the replication of cell DNA, thereby preventing the multiplication of cancer cells. Capsaicin, found in hot peppers, protects DNA from carcinogens. Anti-bacterial effect - The phytochemical allicin from garlic has anti-bacterial properties.

Physical action - Some phytochemicals bind physically to cell walls thereby preventing the adhesion of pathogens to human cell walls. Proanthocyanidins are responsible for the anti-adhesion properties of cranberry. Consumption of cranberries will reduce the risk of urinary tract infections and will improve dental health.

How do we get enough phytochemicals?


Foods containing phytochemicals are already part of our daily diet. In fact, most foods contain phytochemicals except for some refined foods such as sugar or alcohol. Some foods, such as whole grains, vegetables, beans, fruits and herbs, contain many phytochemicals. The easiest way to get more phytochemicals is to eat more fruit (blueberries, cranberries, cherries, apple,...) and vegetables (cauliflower, cabbage, carrots, broccoli,...). It is recommended take daily at least 5 to 9 servings of fruits or vegetable. Fruits and vegetables are also rich in minerals, vitamins and fibre and low in saturated fat.

Future of phytochemicals
Phytochemicals are naturally present in many foods but it is expected that through bioengineering new plants will be developed, which will contain higher levels. This would make it easier to incorporate enough phytochemicals with our food. If you like this page, please click on the +1 button at the top right. Thanks a lot! Privacy policy, disclaimer

Flavonoid
Posted on December 17, 2011 by ikakusumaningarum Flavonoid adalah senyawa yang tersusun dari 15 atom karbon dan terdiri dari 2 cincin benzen yang dihubungkan oleh 3 atom karbon yang dapat membentuk cincin ketiga. Flavonoid dibagi menjadi 3 macam, yaitu: 1. Flavonoid yang memiliki cincin ketiga berupa gugus piran. Flavonoid ini disebut flavan atau fenilbenzopiran. Turunan flavan banyak digunakan sebagai astringen (turunan tanin). 1. Flavonoid yang memiiliki cincin ketiga berupa gugus piron. Flavonoid ini disebut flavon atau fenilbenzopiron. Turunan flavon adalah jenis flavonoid yang paling banyak memiliki aktivitas farmakologi.

1. Flavonoid yang memiiliki cincin ketiga berupa gugus pirilium. Flavonoid ini disebut flavilium atau antosian. Turunan pirilium biasa digunakan sebagai pewarna alami. Kata flavonoid memiliki 2 arti yang berbeda, yaitu C6C5C6 dan benzopiron. Flavonoid biasanya dideteksi dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 340-370 nm dan senyawa ini akan berfuoresensi kuning oranye. Penomoran flavonoid Akhiran genin menunjukkan nama sebuah aglikon. Misalnya, 5,7,4-trihidroksiflavon disebun apigenin. Jika apigenin terikat dengan gula dan menjadi glikosida, maka namanya berubah menjadi apiin. Baik apiin maupun apigenin terdapat pada Apium graveolens. Macam-macam flavonoid Kuersetin pada Allium cepa. Nama kimianya adalah 5,7,3,4-tetrahidroksiflavonol. Digunakan sebagai vitamin P yang dapat menurunkan permeabilitas dan kerapuhan pembuluh darah. Luteolin pada Sonchus arvensis. Nama kimianya adalah 5,7,3,4-tetrahidroksiflavon. Kaemferid pada Kaempferia galanga. Nama kimianya adalah 5,7-dihidroksi-4-metoksiflavonol. Sinersetin pada Ortosiphon stamineus. Nama kimianya adalah 5,6,7,3,4-pentametoksiflavon. Rutin. Nama kimianya adalah 5,7,3,4-tetrahidroksiflavonol-3-Oglukosilramnosida. Miresetin pada Anacardium occidentale. Nama kimianya adalah 5,7,3,4,5pentahidroksiflavonol. Rantai lateral pada flavon dapat berputar, sedangkan pada flavan tidak dapat berputar. Sifat Fisik/Kelarutan Flavonoid 1. Flavonoid polimetil atau polimetoksi larut dalam heksan, petroleum eter (PE), kloroform, eter, etil asetat, dan etanol. Contoh: sinersetin (nonpolar). 2. Aglikon flavonoid polihidroksi tidak larut dalam heksan, PE dan kloroform; larut dalam eter, etil asetat dan etanol; dan sedikit larut dalam air. Contoh: kuersetin (semipolar). 3. Glikosida flavonoid tidak larut dalam heksan, PE, kloroform, eter; sedikit larut dalam etil asetat dan etanol; serta sangat larut dalam air. Contoh: rutin. Keberadaan flavonoid dalam tumbuhan

Flavonoid tersebar luas pada tumbuhan tapi jarang terdapat pada bakteri, jamur dan lumut. Dalam dunia tumbuhan, flavonoid tersebar luas dalam suku Rutaceae, Papilionaceae (kacangkacangan), Labiatae (Ortosiphon), Compositae (contoh: Sonchus arvensis), Anacardiaceae, Apiaceae/Umbeliferae (seledri, pegagan, wortel), dan Euphorbiaceae (contoh: daun singkong). Pada tingkat organ, flavonoid tersebar pada seluruh bagian tanaman seperti biji, bunga, daun, dan batang. Pada tingkat jaringan, flavonoid banyak terdapat pada jaringan palisade. Pada tingkat seluler, flavonoid bisa terdapat pada dinding sel, kloroplas, atau terlarut dalam sitoplasma. Pada paku-pakuan, flavonoidnya berupa flavonoid polimetoksi sehingga hanya terdapat pada dinding sel dan tidak terdapat pada sitoplasma karena sitoplasma mengandung banyak air sehingga bersifat polar dan tidak dapat melarutkan flavonoid polimetoksi. Kestabilan Flavonoid Secara fisis, flavonoid bersifat stabil. Namun, secara kimiawi ada 2 jenis flavonoid yang kurang stabil, yaitu: 1. Flavonoid O-glikosida; dimana glikon dan aglikon dihubungkan oleh ikatan eter (R-OR). Flavonoid jenis ini mudah terhidrolisis. 2. Flavonoid C-glikosida; dimana glikon dan aglikon dihubungkan oleh ikatan C-C. Flavonoid jenis ini sukar terhidrolisis, tapi mudah berubah menjadi isomernya. Misalnya viteksin, dimana gulanya mudah berpindah ke posisi 8. Perlu diketahui, kebanyakan gula terikat pada posisi 5 dan 8, jarang terikat pada cincin B atau C karena kedua cincin tersebut berasal dari jalur sintesis tersendiri, yaitu jalur sinamat.

Share this:

Twitter Facebook

SENYAWA FLAVONOID
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagian besar senyawa organik bahan alam adalah senyawa-senyawa aromatic. Senyawasenyawa ini tersebar luas sebagai zat warna alam yang menyebabkan warna pada bunga, kayu pohon tropis, bermacam-macam kapang dan lumut termasuk zat alizarin. Senyawa aromatik ini mengandung cincin karboaromatik yaitu cincin aromatic yang hanya terdiri dari atom karbon seperti benzene, naftalen dan antrasen. Cincin karboaromatik ini biasanya tersubstitusi oleh satu atau lebih gugus hidroksil atau gugus lainnya yang ekivalen ditinjau dari biogenetiknya. Oleh karena itu senyawa bahan alam aromatic ini sering disebut

sebagai senyawa-senyawa fenol walaupun sebagian diantaranya bersifat netral karena tidak mengandung gugus fenol dalam keadaan bebas. Dalam makalah ini akan diuraikan tentang sejarah flavonoid, macam-macam flavonoid dari yang sederhana sampai ke senyawa kompleks flavonoid, gugus fungsi yang terdapat pada flavonoid, sintesis dan isolasi flavonoid, sifat-sifat flavonoid, serta tumbuhan-tumbuhan yang mengandung flavonoid. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah ini, yaitu: 1. Bagaimana sejarah senyawa flavonoid itu dan klasifikasinya? 2. Bagaimanakah sifat-sifat kimia dan fisika dari flavonoid dibandingkan dengan golongan terpen? 3. Gugus fungsi apa yang terdapat pada flavonoid? 4. Pada tumbuhan apa sajakah flavonoid berada? 5. Bagaimana cara isolasi dan identifikasi dari senyawa flavonoid? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui sejarah dari senyawa flavonoid dan klasifikasinya. 2. Untuk mengetahui sifat-sifat kimia dan fisika dari senyawa flavonoid dan membandingkannya dengan terpen. 3. Untuk mengetahui gugus fungsi apa saja yang terdapat pada flavonoid 4. Untuk mengetahui tumbuh-tumbuhan yang mengandung flavonoid. 5. Untuk mengetahui isolasi dan identifikasi dari senyawa flavonoid. D. Manfaat Penulisan Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, untuk menambah wawasan dan sebagai bahan pelajaran untuk dapat mendeskripsikan senyawa flavonoid.

BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Senyawa Flavonoid

Ilmu kimia senyawa-senyawa fenol yang ditemukan di alam mengalami kemajuan yang pesat setelah Kekule berhasil menetapkan struktur cincin aromatic. Bahkan, struktur dari beberapa senyawa fenol telah dapat ditetapkan sejak abad ke-19. Oleh karena itu, ilmu kimia senyawasenyawa fenol kadang-kadang dianggap sudah usang. Akan tetapi topic-topik yang menarik mengenai senyawa-senyawa itu terus menerus muncul dengan adanya penemuan-penemuan baru. Dengan demikian, senyawa-senyawa fenol dapat dianggap sebagai cabang dari ilmu kimia bahan alam yang terus berkembang. Sifat-sifat kimia dari senyawa fenol adalah sama, akan tetapi dari segi biogenetic senyawasenyawa ini dapat dibedakan atas dua jenis utama, yaitu: 1. Senyawa fenol yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimat. 2. Senyawa fenol yang berasal dari jalur asetat-malonat. Ada juga senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur biosintesa ini yaitu senyawa-senyawa flanonoida. Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna kuning atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu. Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti minyak zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal. Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji, pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan. Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986) menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi alat komunikasi (molecular messenger} dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat positif (menstimulasi). B. Klasifikasi Senyawa Flavonoid Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan tersebar luas. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid, dengan struktur kimia dan peran biologi yang

sangat beragam Senyawa ini dibentuk dari jalur shikimate dan fenilpropanoid, dengan beberapa alternatif biosintesis. Flavonoid banyak terdapat dalam tumbuhan hijau (kecuali alga), khususnya tumbuhan berpembuluh. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar, bunga, buah buni dan biji. Kirakira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuh-tumbuhan diubah menjadi flavonoid. Flavonoid merupakan turunan fenol yang memiliki struktur dasar fenilbenzopiron (tokoferol), dicirikan oleh kerangka 15 karbon (C6-C3-C6) yang terdiri dari satu cincin teroksigenasi dan dua cincin aromatis. Substitusi gugus kimia pada flavonoid umum- nya berupa hidroksilasi, metoksilasi, metilasi dan glikosilasi. Klasifikasi flavonoid sangat beragam, di antaranya ada yang mengklasifikasikan flavonoid menjadi flavon, flavonon, isoflavon, flavanol, flavanon, antosianin, dan kalkon. Lebih dari 6467 senyawa flavonoid telah diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat. Kebanyakan flavonoid berbentuk monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer (biflavonoid), trimer, tetramer, dan polimer. Istilah flavonoid diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoida yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3 diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C). Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan di alam sehingga sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoida dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku leguminosae. Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida mempunyai beberapa cirri struktur yaitu: cincin A dari struktur flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu pada posisi 2,4 dan 6. Cincin B flavonoida mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta aau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosiklik dalam senyawa trisiklis. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantaipropana (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoida, yaitu: 1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana Beberapa senyawa flavonoida yang ditemukan di alam adalah sebagai berikut:

a. Antosianin

Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam tumbuhan.

Secara kimia antosianin merupakan turunan suatu struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi. Antosianin tidak mantap dalam larutan netral atau basa. Karena itu antosianin harus diekstraksi dari tumbuhan dengan pelarut yang mengandung asam asetat atau asam hidroklorida (misalnya metanol yang mengandung HCl pekat 1%) dan larutannya harus disimpan di tempat gelap serta sebaiknya didinginkan. Antosianidin ialah aglikon antosianin yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin terdapat enam jenis secara umum, yaitu : sianidin, pelargonidin, peonidin, petunidin, malvidin dan delfinidin. Antosianidin adalah senyawa flavonoid secara struktur termasuk kelompok flavon. Glikosida antosianidin dikenal sebagai antosianin. Nama ini berasal dari bahasa Yunani antho-, bunga dan kyanos-, biru. Senyawa ini tergolong pigmen dan pembentuk warna pada tanaman yang ditentukan oleh pH dari lingkungannya. Senyawa paling umum adalah antosianidin, sianidin yang terjadi dalam sekitar 80 persen dari pigmen daun tumbuhan, 69 persen dari buah-buahan dan 50 persen dari bunga. Kebanyakan warna bunga merah dan biru disebabkan antosianin. Bagian bukan gula dari glukosida itu disebut suatu antosianidin dan merupakan suatu tipe garam flavilium. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya, dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam-basa. Istilah garam flavilium berasal dari nama untuk flavon, yang merupakan senyawa tidak berwarna. Adisi gugus hidroksil menghasilkan flavonol, yang berwarna kuning.

Dalam pengidentifikasian antosianin atau flavonoid yang kepolarannya rendah, daun segar atau daun bunga jangan dikeringkan tetapi harus digerus dengan MeOH. Ekstraksi hampir segera terjadi seperti terbukti dari warna larutan. Flavonoid yang kepolarannya rendah dan yang kadang-kadang terdapat pada bagian luar tumbuhan, paling baik diisolasi hanya dengan merendam bahan tumbuhan segar dalam heksana atau eter selama beberapa menit. Stabilitas Antosianin Antosianin secara umum mempunyai stabilitas yang rendah. Pada pemanasan yang tinggi, kestabilan dan ketahanan zat warna antosianin akan berubah dan mengakibatkan kerusakan. Selain mempengaruhi warna antosianin, pH juga mempengaruhi stabilitasnya, dimana dalam suasana asam akan berwarna merah dan suasana basa berwarna biru. Antosianin lebih stabil dalam suasana asam daripada dalam suasana alkalis ataupun netral. Zat warna ini juga tidak stabil dengan adanya oksigen dan asam askorbat. Asam askorbat kadang melindungi antosianin tetapi ketika antosianin menyerap oksigen, asam askorbat akan menghalangi terjadinya oksidasi. Pada kasus lain, jika enzim menyerang asam askorbat yang akan menghasilkan hydrogen peroksida yang mengoksidasi sehingga antosianin mengalami perubahan warna. Warna pigmen antosianin merah, biru, violet, dan biasanya dijumpai pada bunga, buah-buahan dan sayur-sayuran. Dalam tanaman terdapat dalam bentuk glikosida yaitu membentuk ester dengan monosakarida (glukosa, galaktosa, ramnosa dan kadang-kadang pentosa). Sewaktu

pemanasan dalam asam mineral pekat, antosianin pecah menjadi antosianidin dan gula. Pada pH rendah (asam) pigmen ini berwarna merah dan pada pH tinggi berubah menjadi violet dan kemudian menjadi biru. Pada umumnya, zat-zat warna distabilkan dengan penambahan larutan buffer yang sesuai. Jika zat warna tersebut memiliki pH sekitar 4 maka perlu ditambahkan larutan buffer asetat, demikian pula zat warna yang memiliki pH yang berbeda maka harus dilakukan penyesuaian larutan buffer. Warna merah bunga mawar dan biru pada bunga jagung terdiri dari pigmen yang sama yaitu sianin. Perbedaannya adalah bila pada bunga mawar pigmennya berupa garam asam sedangkan pada bunga jagung berupa garam netral. Konsentrasi pigmen juga sangat berperan dalam menentukan warna. Pada konsentrasi yang encer antosianin berwarna biru, sebaliknya pada konsentrasi pekat berwarna merah dan konsentrasi biasa berwarna ungu. Adanya tanin akan banyak mengubah warna antosianin. Dalam pengolahan sayur-sayuran adanya antosianin dan keasaman larutan banyak menentukan warna produk tersebut. Misalnya pada pemasakan bit atau kubis merah. Bila air pemasaknya mempunyai pH 8 atau lebih (dengan penambahan soda) maka warna menjadi kelabu violet tetapi bila ditambahkan cuka warna akan mejadi merah terang kembali. Tetapi jarang makanan mempunyai pH yang sangat tinggi. Dengan ion logam, antosianin membentuk senyawa kompleks yang berwarna abu-abu violet. Karena itu pada pengalengan bahan yang mengandung antosianin, kalengnya perlu mendapat lapisan khusus (lacquer). b. Flavonol flavonol lazim sebagai konstituen tanaman yang tinggi, dan terdapat dalam berbagai bentuk terhidroksilasi. Flavonol alami yang paling sederhana adalah galangin, 3,5,7 trihidroksiflavon; sedangkan yang paling rumit, hibissetin adalah 3,5,7,8,3,4,5 heptahidroksiflavon. Bentuk khusus hidroksilasi (C6(A)-C3-C6(B), dalam mana C6 (A) adalah turunan phloroglusional, dan cincin B adalah 4-atau 3,4-dihidroksi, diperoleh dalam 2 flavonol yang paling lazim yaitu kaempferol dan quirsetin. Hidroksiflavonol, seperti halnya hidroksi flavon, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai glikosida. Flavonol kebanyakan terdapat sebagai 3-glikosida. Meskipun flavon, flavonol, dan flavanon pada umumnya terdistribusi melalui tanaman tinggi tetapi tidak terdapat hubungan khemotakson yang jelas. Genus Melicope mengandung melisimpleksin dan ternatin, dan genus citrus mengandung nobiletin, tangeretin dan 3,4,5,6,7-pentametoksiflavon. Struktur flavonol Flavonol Alam

c. Flavonon d. Khalkon polihidroksi khalkon terdapat dalam sejumlah tanaman, namun terdistribusinya di alam tidak lazim. Alasan pokok bahwa khalkon cepat mengalami isomerasi menjadi flavanon dalam satuan keseimbangan. Bila khalkon 2,6-dihidroksilasi, isomer flavanon mngikat 5 gugus hidroksil, dan stabilisasi mempengaruhi ikatan hydrogen 4-karbonil-5-hidroksil maka menyebabkan keseimbangan khalkon-flavon condong ke arah flavanon. Hingga khalkon yang terdapat di alam memiliki gugus 2,4-hidroksil atau gugus 2-hidroksil-6-glikosilasi. Struktur khalkon Beberapa khalkon misalnya merein, koreopsin, stillopsin, lanseolin yang terdapat dalam tanaman, terutama sebagai pigmen daun bunga berwarna kuning, kebanyakan terdapat dalam tanaman Heliantheaetribe, Coreopsidinae subtribe, dan family Compositea. e. Auron (Cincin A COCO CH2 Cincin B) Auron atau system cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :

e. Dihidroflavonol

f. Dihidrokhalkon

Meskipun dihidrokhalkon jarang terdapat di alam, namun satu senyawa yang penting yaitu phlorizin merupakan konstituen umum family Rosaceae juga terdapat dalam jenis buah-buahan seperti apel dan pear. Phlorizin telah lama dikenal dalam bidang farmasi, ia memiliki kesanggupan menghasilkan kondisi seperti diabetes. Phlorizin merupakan -D-glukosida phloretin. Phloretin mudah terurai oleh alkali kuat menjadi phloroglusional dan asam p-hidroksihidrosinamat. Jika glukosida phlorizin dipecah dengan alkali dengan cara yang sama, maka ternyata sisa glukosa tidak dapat terlepas dan dihasilkan phloroglusinol -O-glukosida. g. Flavon Flavon mudah dipecah oleh alkali menghasilkan diasil metan atau tergantung pada kondisi reaksi, asam benzoate yang diturunkan dari cincin A. flavon stabil terhadap asam kuat dan eternya mudah didealkilasi dengan penambahan HI atau HBr, atau dengan aluminium klorida dalam pelarut inert. Namun demikian, selama demetilasi tata ulang sering teramati; oleh pengaruh asam kuat dapat menyebabkan pembukaan cincin pada cara yang lain. Sebagai contoh demetilasi 5,8-dimetoksiflavon dengan HBr dalam asam asetat menghasilkan 5,6 dihidroksiflavon (persamaan 1). Dalam keadaan khusus pembukaan lanjut dapat terjadi (persamaan 2). Demetilasi gugus 5-metoksi dalam polimetoksiflavon segera terjadi pada kondisi yang cocok, sehingga 5-hidroksi-polimetoksiflavon mudah dibuat.

Flavon alam

2. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana Isoflavon terdiri atas struktur dasar C6-C3-C6, secara alami disintesa oleh tumbuh-tumbuhan dan senyawa asam amino aromatik fenilalanin atau tirosin. Biosintesa tersebut berlangsung secara bertahap dan melalui sederetan senyawa antara yaitu asam sinnamat, asam kumarat, calkon, flavon dan isoflavon. Berdasarkan biosintesa tersebut maka isoflvon digolongkan sebagai senyawa metabolit sekunder. Isoflavon termasuk dalam kelompok flavonoid (1,2diarilpropan) dan merupakan kelompok yang terbesar dalam kelompok tersebut. Meskipun isoflavon merupakan salah satu metabolit sekunder, tetapi ternyata pada mikroba seperti bakteri, algae, jamur dan lumut tidak mengandung isoflavon, karena mikroba tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mensintesanya. Jenis senyawa isoflavon di alam sangat bevariasi. Diantaranya telah berhasil diidentifikasi struktur kimianya dan diketahui fungsi fisiologisnya, misalnya isoflavon, rotenoid dan kumestan, serta telah dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan. Berbagai potensi senyawa isoflavon untuk keperluan kesehatan antara lain: 1. Anti-inflamasi Mekanisme anti-inflamasi terjadi melalui efek penghambatan jalur metabolisme asam arachidonat, pembentukan prostaglandin, pelepasan histamin, atau aktivitas radical scavenging suatu molekul. Melalui mekanisme tersebut, sel lebih terlindung dari pengaruh negatif, sehingga dapat meningkatkan viabilitas sel. Senyawa flavonoid yang dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi adalah toksifolin, biazilin, haematoksilin, gosipin, prosianidin, nepritin, dan lain-lain. 2. Anti-tumor/Anti-kanker Senyawa isoflavon yang berpotensi sebagai antitumor/antikanker adalah genistein yang merupakan isoflavon aglikon (bebas). Genistein merupakan salah satu komponen yang banyak terdapat pada kedelai dan tempe. Penghambatan sel kanker oleh genistein, melalui mekanisme sebagai berikut : (1) penghambatan pembelahan/proliferasi sel (baik sel normal, sel yang terinduksi oleh faktor pertumbuhan sitokinin, maupun sel kanker payudara yang terinduksi dengan nonil-fenol atau bi-fenol A) yang diakibatkan oleh penghambatan pembentukan membran sel, khususnya penghambatan pembentukan protein yang mengandung tirosin; (2) penghambatan aktivitas enzim DNA isomerase II; (3) penghambatan regulasi siklus sel; (4) sifat antioksidan dan anti-angiogenik yang disebabkan oleh sifat reaktif terhadap senyawa radikal bebas; (5) sifat mutagenik pada gen endoglin (gen transforman faktor pertumbuhan betha atau TGF). Mekanisme tersebut dapat berlangsung apabila konsentrasi genestein lebih besar dari 5M. 3. Anti-virus Mekanisme penghambatan senyawa flavonoida pada virus diduga terjadi melalui penghambatan sintesa asam nukleat (DNA atau RNA) dan pada translasi virion atau pembelahan dari

poliprotein. Percobaan secara klinis menunjukkan bahwa senyawa flavonoida tersebut berpotensi untuk penyembuhan pada penyakit demam yang disebabkan oleh rhinovirus, yaitu dengan cara pemberian intravena dan juga terhadap penyakit hepatitis B. Berbagai percobaan lain untuk pengobatan penyakit liver masih terus berlangsung. 4. Anti-allergi Aktivitas anti-allergi bekerja melalui mekanisme sebagai berikut : (1) penghambatan pembebasan histamin dari sel-sel mast, yaitu sel yang mengandung granula, histamin, serotonin, dan heparin; (2) penghambatan pada enzim oxidative nukleosid-3,5 siklik monofast fosfodiesterase, fosfatase, alkalin, dan penyerapan Ca; (3) berinteraksi dengan pembentukan fosfoprotein. Senyawa-senyawa flavonoid lainnya yang digunakan sebagai anti-allergi antara lain terbukronil, proksikromil, dan senyawa kromon. 5. Penyakit kardiovaskuler Berbagai pengaruh positif isoflavon terhadap sistem peredaran darah dan penyakit jantung banyak ditunjukkan oleh para peneliti pada aspek berlainan. Khususnya isoflavon pada tempe yang aktif sebagai antioksidan, yaitu 6,7,4- trihidroksi isoflavon (Faktor-II), terbukti berpotensi sebagai anti kotriksi pembuluh darah (konsentrasi 5g/ml) dan juga berpotensi menghambat, pembentukan LDL (low density lipoprotein). Dengan demikian isoflavon dapat mengurangi terjadinya arterosclerosis pada pembuluh darah. Pengaruh isoflavon terhadap penurunan tekanan darah dan resiko CVD (cardio vascular deseases) banyak dihubungkan dengan sifat hipolipidemik dan hipokholesteremik senyawa isoflavon. 6. Estrogen dan Osteoporosis Pada wanita menjelang menopause, produksi estrogen menurun sehingga menimbulkan berbagai gangguan. Estrogen tidak saja berfungsi dalam sistem reproduksi, tetapi juga berfungsi untuk tulang, jantung, dan mungkin juga otak. Dalam melakukan kerjanya, estrogen membutuhkan reseptor estrogen (ERs) yang dapat on/off di bawah kendali gen pada kromosom yang disebut _-ER. Beberapa target organ seperti pertumbuhan dada, tulang, dan empedu responsif terhadap _-ER tersebut. Isoflavon, khususnya genistein, dapat terikat dengan _-ER. Walaupun ikatannya lemah, tetapi dengan -ER mempunyai ikatan sama dengan estrogen. Senyawa isoflavon terbukti mempunyai efek hormonal, khususnya efek estrogenik. Efek estrogenik ini terkait dengan struktur isoflavon yang dapat ditransformasikan menjadi equol. Dimana equol mempunyai struktur fenolik yang mirip dengan hormon estrogen. Mengingat hormon estrogen berpengaruh pula terhadap metabolisme tulang, terutama proses kalsifikasi, maka adanya isoflavon yang bersifat estrogenik dapat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses kalsifikasi. Dengan kata lain, isoflavon dapat melindungi proses osteoporosis pada tulang sehingga tulang tetap padat dan masif. 7. Anti kolesterol Efek isoflavon terhadap penurunan kolesterol terbukti tidak saja pada hewan percobaan seperti tikus dan kelinci, tetapi juga manusia. Pada penelitian dengan menggunakan tepung kedelai sebagai perlakuan, menunjukkan bahwa tidak saja kolesterol yang menurun, tetapi juga trigliserida VLDL (very low density lipoprotein) dan LDL (low density lipoprotein). Di sisi lain, tepung kedelai dapat meningkatkan HDL (high density lipoprotein) (Amirthaveni dan Vijayalakshmi, 2000). Mekanisme lain penurunan kolesterol oleh isoflavon dijelaskan melalui pengaruh peningkatan katabolisme sel lemak untuk pembentukan energi yang berakibat pada penurunan kandungan kolesterol. 3. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana

neoflavonoid meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergoin Penggolongan Flavonoid Berdasarkan Jenis Ikatan 1. Flavonoid O-Glikosida Pada senyawa ini gugus hidroksil flavonoid terikat pada satu gula atau lebih dengan ikatan hemiasetal yang tidak tahan asam, pengaruh glikosida ini nenyebabkan flavonoid kurang reaktif dan lebih mudah larut dalam air. Gula yang paling umum terlibat adalah glukosa disamping galaktosa, ramilosa, silosa, arabinosa, fruktosa dan kadang-kadang glukoronat dan galakturonat. Disakarida juga dapat terikat pada flavonoid misalnya soforosa, gentibiosa, rutinosa dan lainlain. 2. Flavonoid C-Glikosida Gugus gula terikat langsung pada inti benzen dengan suatu ikatan karbon-karbon yang tahan asam. Lazim di temukan gula terikat pada atom C nomor 6 dan 8 dalam inti flavonoid. Jenis gula yang terlibat lebih sedikit dibandingkan dengan O-glikosida. Gula paling umum adalah galaktosa, raminosa, silosa, arabinosa. 3. Flavonoid Sulfat Senyawa flavonoid yang mengandung satu ion sulfat atau lebih yang terikat pada OH fenol atau gula, Secara teknis termasuk bisulfate karena terdapat sebagai garam yaitu flavon O-SO3K. Banyak berupa glikosida bisulfat yang terikat pada OH fenol yang mana saja yang masih bebas atau pada guIa. Umumnya hanya terdapat pada Angiospermae yang mempunyai ekologi dengan habitat air. 4. Biflavonoid Senyawa ini mula-mula ditemukan oleh Furukawa dari ekstrak daun G. biloba berupa senyawa berwarna kuning yang dinamai ginkgetin (I-4, I-7-dimetoksi, II-4, I-5, II-5, II-7-tetrahidroksi [I-3, II-8] biflavon). Biflavonoid (atau biflavonil, flavandiol) merupakan dimer flavonoid yang dibentuk dari dua unit flavon atau dimer campuran antara flavon dengan flavanon dan atau auron. Struktur dasar biflavonoid adalah 2,3-dihidroapigeninil-(I- 3,II-3)-apigenin. Senyawa ini memiliki ikatan interflavanil C-C antara karbon C-3 pada masing-masing flavon. Beberapa biflavonoid dengan ikatan interflavanil C- O-C juga ada. Biflavonoid terdapat pada buah, sayuran, dan bagian tumbuhan lainnya.. Hingga kini jumlah biflavonoid yang diisolasi dan dikarakterisasi dari alam terus bertambah, namun yang diketahui bioaktivitasnya masih terbatas. Biflavonoid yang paling banyak diteliti adalah ginkgetin, isoginkgetin, amentoflavon, morelloflavon, robustaflavon, hinokiflavon, dan ochnaflavon. Senyawa- senyawa ini memiliki struktur dasar yang serupa yaitu 5,7,4-trihidroksi flavanoid, tetapi berbeda pada sifat dan letak ikatan antar flavanoid. Gambar di atas menunjukkan struktur dasar fenol, flavanoid dan biflavanoid. Sistem cincin bisiklis dinamai cincin A dan C, sedangkan cincin unisiklis dinamai cincin B. Kedua unit monomer biflavonoid ditandai dengan angka Romawi I dan II. Posisi angka pada masingmasing monomer dimulai dari cincin yang mengandung atom oksigen, posisi ke-9 dan ke-10 menunjukkan karbon pada titik penyatuan Senyawa biflavonid berperan sebagai antioksidan, anti-inflamasi, anti kanker, anti alergi, antimikrobia, antifungi, antibakteri, antivirus, pelindung terhadap iradiasi UV, vasorelaksan, penguat jantung, anti hipertensi, anti pembekuan darah, dan mempengaruhi metabolisme enzim. Sebagian besar peran di atas dapat dipenuhi oleh berbagai senyawa biflavonoid yang diekstraksi dari berbagai spesies Selaginella.

Seperti yang telah dikemukakan di atas biflavonoid merupakan flavonoid dimer yang biasanya terlibat adalah flavon dan flavonon yang secara biosintesis mempunyai pola oksigenasi yang sederhana, 5, 7, 4' dan ikatan antar flavonoid berupa C-C atau eter. Biflavonoid jarang ditemukan sebagai glikosida dan penyebarannya terbatas umumnya pada paku-pakuan, Gimnospermae, Angiospermae. Salah satu struktur flavonoid yang bernilai tinggi sebagai bahan obat adalah biflavonoid. Di Asia Timur biflavonoid banyak dihasilkan dari daun Ginkgo biloba L. dengan kandungan utama ginkgetin Di Afrika sub Sahara biflavonoid banyak dihasilkan dari biji Garcinia cola Heckel dengan kandungan utama kolaviron. Di Eropa biflavonoid banyak dihasilkan dari herba Hypericum perforatum L. dengan kandungan utama amentoflavon. Selaginella Pal. Beauv. (Selaginellaceae Reichb.) sangat berpotensi sebagai sumber biflavonoid. Tumbuhan ini dapat menghasilkan berbagai jenis biflavonoid, tergantung spesiesnya, serta memiliki sebaran yang bersifat kosmopolitan sehingga dapat dibudidayakan hampir di seluruh permukaan bumi. C. Biosintesa flavonoid Pola biosintesa pertama kali disarankan oleh Birch, yaitu: pada tahap-tahap pertama biosintesa flavonoida suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3(C2+C2+C2). Kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugusgugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan. Cincin A dari struktur flavonoid berasal dari jalur poliketida, yaitu kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propane berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat). Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintesa utama untuk cincin aromatic yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. Sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon dari rantai propane dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti ikatan rangkap, gugus hidroksil, gugus karbonil dan sebagainya. Jalur sintesis flavonoid bermula dari produk glikolisis yaitu fosfoenol piruvat. Selanjutnya, produk tersebut akan memasuki alur shikimat untuk menghasilkan fenilalanin sebagai materi awal untuk alur metabolic fenil propanoid. Alur tersebut akan menghasilkan 4-coumaryl-coA, yang akan bergabung dengan malonyl-coA untuk menghasilkan struktur sejati flavonoid. Flavonoid yang pertama kali terbentuk pada biosintesis ini disebut khalkon. Bentuk lain diturunkan dari khalkon melalui berbagai alur dan rangkaian proses enzimatik, seperti:flavanol, flavan-3-ols, proantosianidin(tannin). D. Identifikasi flavonoid Sebagian besar senyawa flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosidanya, dimana unit flavonoid terikat pada suatu gula. Glikosida adalah kombinasi antara gula dan suatu alcohol yang saling berikatan melalui ikatan glikosida. Pada prinsipnya, ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alcohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula, sama seperti adisi alcohol kepada aldehid yang dikatalis oleh asam menghasilkan suatu asetal. Pada hidrolisis oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alcohol yang sebanding dan alcohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. Residu gula dari glikosida flavonoid alam adalah glukosa tersebut masinbg-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida. Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organic seperti eter, benzene, kloroform dan aseton. Flavonoid nerupakan metabolit sekunder dalam tumbuhan yang mempunyai variasi struktur

yang beraneka ragam, namun saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama. Jalur biosintesis flavonoid dimulai dari pertemuan alur asetat malonat dan alur sikimat membentuk khalkon, dari bentuk khalkon ini diturunkan menjadi bentuk lanjut menjadi berbagai bentuk lewat alur antar ubah posisi, dehidrogenasi, denetilasi dan lain-lain. Kenudian daripada itu menghasilkan bentuk sekunder dihidrokalkon, flavon, auron, isoflavon (penurunan selanjutnya membentuk peterokarpon dan rotenoid) dan dehidroflavonol (penurunan selanjutnya antosianidin, flavonol, epikatekin ) . Dari bentuk-bentuk sekunder tersebut akan terjadi nodifikasi lebih lanjut pada berbagai tahap dan menghasilkan penambahan / pengurangan hidroksilasi, metilenasi, ortodihidroksil, metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid, dimerisasi, pembentukan bisulfat, dan yang terpenting glikolisasi gugus hidroksil E. Senyawa Flavonoid Pada Tumbuhan Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepungsari, nektar, bunga, buah dan biji. Hanya sedikit catatan yang melaporkan flavonoid pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang, propilis (sekresi lebah), sayap kupu-kupu, yang mana dianggap bukan hasil biosintesis melainkan dari tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut, Penyebaran flavonoid terbatas pada golongan tumbuhan dengan tingkat biovita atau yang lebih tinggi, golongan tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang asal-usulnya lebih baru dibanding golongan tumbuhan yang tidak mengandung flavonoid (500 - 3000 juta tahun), segi penting dari penyebaran flavonoid ini adalah adanya kecenderungan kuat bahwa tumbuhan yang secara takson berkaitan akan menghasilkan jenis flavonoid yang serupa. Senyawa antosianin sering dihubungkan dengan warna bunga tumbuhan. Sianidin umumnya terdapat pada suku Gramineae. Senyawa biflavonoid banyak terdapat pada subdivisi Gymnospernae sedang isoflavonoid pada suku leguminosae. Pada tumbuhan yang mempunyai morfologi sederhana seperti lumut, paku, dan paku ekor kuda mengandung senyawa flavonoid O-GIikosida, flavonol, flavonon, Khalkon, dihidrokhalkon, CGl ikosida . Angiospermae mengandung senyawa flavonoid kompleks yang lebih banyak. F. Sifat Fisika dan Kimia Senyawa Flavonoid Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena merupakan senyawa polihidroksi(gugus hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti metanol, etanol, aseton, air, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil formamida. Disamping itu dengan adanya gugus glikosida yang terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung menyebabkan flavonoid mudah larut dalam air. Pemisahan senyawa golongan flavonoid berdasarkan sifat kelarutan dalam berbagai macam pelarut dengan polaritas yang meningkat adalah sebagai berikut : 1. Flavonoid bebas dan aglikon,dalam eter . 2. O-Glikosida,dalam etil asetat. 3. C-Glikosida dan leukoantosianin dalam butanol dan amil alkohoI. Oleh karena itu banyak keuntungan ekstraksi dengan polaritas yang meningkat. G. Isolasi dan Identifikasi Flavonoid 1. Isolasi Dengan metanol Terhadap bahan yang telah dihaluskan, ekstraksi dilakukan dalam dua tahap. Pertama dengan metanol:air (9:1) dilanjutkan dengan metanol:air (1:1) lalu dibiarkan 6-12 jam. Penyaringan dengan corong buchner, lalu kedua ekstrak disatukan dan diuapkan hingga 1/3 volume mula-

muIa, atau sampai semua metanol menguap dengan ekstraksi menggunakan pelarut heksan atau kloroform (daIam corong pisah) dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolarannya rendah, seperti lemak, terpen, klorofil, santifil dan lain-lain . 2. Isolasi Dengan Charaux Paris Serbuk tanaman diekstraksi dengan metanol,lalu diuapkan sampai kental dan ekstrak kental ditambah air panas dalam volume yang sama, Ekstrak air encer lalu ditambah eter, lakukan ekstraksi kocok, pisahkan fase eter lalu uapkan sampai kering yang kemungkinan didapat bentuk bebas. Fase air dari hasil pemisahan ditambah lagi pelarut etil. asetat diuapkan sampai kering yang kemungkinan didapat Flavonoid O Glikosida. Fase air ditambah lagi pelarut n butanol, setelah dilakukan ekstraksi, lakukan pemisahan dari kedua fase tersebut. Fase nbutanol diuapkan maka akan didapatkan ekstrak n - butanol yang kering, mengandung flavonoid dalam bentuk C-glikosida dan leukoantosianin. Dari ketiga fase yang didapat itu langsung dilakukan pemisahan dari komponen yang ada dalam setiap fasenya dengan mempergunakan kromatografi koLom. Metode ini sangat baik dipakai dalam mengisolasi flavonoid dalam tanaman karena dapat dilakukan pemisahan flavonoid berdasarkan sifat kepolarannya. 3. Isolasi dengan beberapa pelarut. Serbuk kering diekstraksi dengan kloroform dan etanol, kemudian ekstrak yang diperoleh dipekatkan dibawah tekanan rendah. Ekstrak etano lpekat dilarutkan dalam air lalu diekstraksi gojog dengan dietil eter dan n-butanol, sehingga dengan demikian didapat tiga fraksi yaitu fraksi kloroform, butanol dan dietil eter. ldentifikasi Dengan Reaksi warna 1. Uji WILSTATER Uji ini untuk mengetahui senyawa yang mempunyai inti benzopiron. Warna-warna yang dihasilkan dengan reaksi Wilstater adalah sebagai berikut: - Jingga Daerah untuk golongan flavon. - Merah krimson untuk golongan fLavonol. - Merah tua untuk golongan flavonon. 2. Uji BATE SMITH MATECALVE Reaksi warna ini digunakan untuk menuniukkan adanya senyawa leukoantosianin, reaksi positif jika terjadi warna merah yang intensif atau warna ungu.

BAB III PENUTUP Senyawa flavonoida adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di

alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru. Dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai propana (C3) sehingga bentuk susunan C6-C3-C6. susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa Flavonoid yaitu : a. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana b. Isoflavonoid atau 1,2- diarilpropana c. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoid yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1.3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C). Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sering sekali disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku Leguminosae. Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu posisi 2,4,6. cincin B flavonoid mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta atau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosikllis dalam senyawa trisiklis. Beberapa senyawa flavonoida adalah sebagai berikut : Cincin A COCH2CH2 Cincin B Hidrokalkon Cincin A COCH2CHOH Cincin B Flavanon, kalkon Cincin A COCH2CO Cincin B Flavon Cincin A CH2COCO Cincin B Antosianin Cincin A COCOCH2 Cincin B - Auron Pola biosintesis pertama kali disarankan oleh Birch, yaitu : pada tahap tahap pertama biosintesa flavonoida suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3(C2+C2+C2).kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan. Cincin A dari struktur flavonoida berasal dari jalur poliketida, yaitu kondensasidari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat). Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintes utamadari cincin aromatik yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. Sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon dari rantai propana dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti pada ikatan rangkap, gugus hidroksi, gugus karbonil, dan sebagainya. Sebagai besar senyawa flavonoida alam ditemukan dalam bentuk glikosida, dimana unit flavonoid terikat pada sutatu gula. Glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu

alkohol yang saling berikatanmelalui ikatan glikosida. Pada prinsipnya, ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alkohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula sama seperti adisi alkohol kepada aldehida yang dikatalisa oleh asam menghasilkan suatu asetal. Pada hidrolisa oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alkohol yang sebanding dan alkohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. Residu gula dari glikosida flavonoida alam adalah glukosa, ramnosa, galaktosa dan gentiobiosa sehingga glikosida tersebut masing-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida. Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organik seperti eter, benzen, kloroform dan aseton. Antioksidan alami terdapat dalam bagian daun, buah, akar, batang dan biji dari tumbuhtumbuhan obat. Bagian tersebut umumnya mengandung senyawa fenol dan polifenol. Polifenol dan turunannya telah lama dikenal memiliki aktivitas antibakteri, antimelanogenesis, antioksidan dan antimutagen. Sebagai antioksidan polifenol berperan sebagai penangkap radikal bebas penyebab peroksidasi lipid yang dapat menimbulkan kerusakan pada bahan makanan, selain itu senyawa antioksidan berfungsi mencegah kerusakan sel dan DNA akibat adanya senyawa radikal bebas. Senyawa flavonoid yang merupakan salah satu golongan dari polifenol sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih digunakan secara terbatas. Hal ini dikarenakan senyawa flavonoid tidak stabil terhadap perubahan pengaruh oksidasi, cahaya, dan perubahan kimia, sehingga apabila teroksidasi strukturnya akan berubah dan fungsinya sebagai bahan aktif akan menurun bahkan hilang dan kelarutannya rendah. Kestabilan dan kelarutan dapat ditingkatkan dengan cara mengubah senyawa flavonoid menjadi bentuk glikosida melalui reaksi kimia maupun enzimatik dengan bantuan enzim transferase. Senyawa-senyawa flavanoid yang umumnya bersifat antioksidan dan banyak yang telah digunakan sebagai salah satu komponen bahan baku obat-obatan. Bahkan, berdasarkan penelitian di Jepang, ditemukan molekul isoflavon di dalam tempe. Oleh karena molekul isoflavon bersifat antioksidan maka tempe merupakan sumber pangan yang baik untuk menjaga kesehatan, selain kandungan gizinya tinggi. Senyawa-senyawa flavonoid dan turunannya dari tanaman nangka-nangkaan memiliki fungsi fisiologi tertentu. Ada dua kategori fungsi fisiologi senyawa flavonoid tanaman nangkanangkaan berdasarkan sebarannya di Indonesia. Tanaman nangka-nangkaan yang tumbuh di Indonesia bagian barat, produksi senyawa flavanoid diduga berfungsi sebagai bahan kimia untuk mengatasi serangan penyakit (sebagai antimikroba atau antibakteri) bagi tanaman. Sedangkan yang tumbuh di Indonesia bagian timur, produksi senyawa flavanoid berfungsi sebagai alat pertahanan (antivirus). Dengan menggunakan pendekatan fungsi fisiologi ini, uji biologi artoindonesianin dan kerabatnya dilakukan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan S. Scheller, dkk yang menguji efektifitas antikanker dari ekstrak etanol propolis (EEP) pada mencit yang diinduksi dengan ehrlich carcinoma cells menunjukkan, mencit yang bisa bertahan hidup lebih banyak setelah diberi EEP. Efek antikanker EEP terhadap Ehrlich Carcinoma cells ini berkaitan dengan kandungan flavonoid pada propolis. Flavonoid mempengaruhi tahapan metabolisme sel kanker misalnya dengan cara menghambat penggabungan timidin, uridin, dan leucin dengan sel kanker tersebut sehingga dapat menghambat sintesis DNA sel kanker. Peranan flavonoid sebagai antikanker juga diperkuat oleh eksperimen lain yang menggunakan hidrokarbon aromatic polisiklik sebagai penginduksi kanker.

Mekanisme penghambatan terhadap hidrokarbon aromatic polisiklik berkaitan dengan penghambatan stimulasi metabolik yang diinduksi oleh hidrokarbon aromatic polisiklik dan memengaruhi aktivitas beberapa sel promoter. Flavonoid ini merupakan sua tu zat yang banyak terdapat pada tumbuhan, tetapi dalam propolis berada dalam bentuk terkonsentrasi. Dengan sistem metabolismenya, lebah membuat flavonoid dari tumbuhan itu lebih efektif. Jadi lebah seolah-olah menjadi perantara flavonoid dengan manusia dan hewan. Senyawa flavonoid yang ditemukan pada EEP antara lain betulinol, quersetin, isovanilin, galangin, isalpinin, kaemferol, rhamnetin, isohmnetin, pinocembrin, pinostrobin dan pinobaksin. Saat ini propolis tersedia dalam bentuk tablet, salep, kapsul, krim, dll. Penggunaan propolis bisa pada orang sehat maupun sakit. Pada orang sehat penggunaan propolis dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sedangkan pada orang yang sedang sakit penggunaannya bila digabungkan dengan obat sintesis bisa meningkatkan efeknya misalnya bisa meningkatkan efek penisilin.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Biflavonoid. Online: http://www.scribd.com/doc/12754372/D090115AHMBifavonoidxxx, diakses tanggal 30 Oktober 2010. Hernawati. 2010. Perbaikan Kinerja Reproduksi Akibat Pemberian Isoflavon dari Tanaman Kedelai. Online: http://file.upi.edu/Direktori/D%20%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20BIOLOGI/197003311997022%20%20HERNAWATI/FILE%2012.pdf, diakses tanggal 30 Oktober 2010. Lenny, Sofia. 2006. Senyawa Flavonoid, Fenil Propanoid dan Alkaloid. Online:http://www.pdfsearcher.com/SENYAWA-FLAVONOID,-FENIL-PROPANOID-DAN-ALKALOID.html, diakses tanggal 30 Oktober 2010. Sastrohamidjojo, Hardjono. 1996. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

CATATAN: klo mau strukturnyaminta lewat email: ekha_mifta@ymail.com Diposkan oleh mifta's blog di 06:46 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

puaskah anda setelah membaca blog ini About Me

mifta's blog saya bukan siapa-siapa tidak ada yang istimewa dari saya.............. manusia dengan penuh keterbatasan..............itulah saya......... Lihat profil lengkapku

Labels

pendidikan (2)

Blog Archive

2011 (1) o Maret (1) PEMBUATAN NATA DE COCO 2010 (3) o November (1) SENYAWA FLAVONOID o Januari (2) Makalah Pembelajaran makalah kimia pangan

2009 (5) o Mei (5) refraktometer Perkembangan Intelektual Metode Pembelajaran MAKALAH BIOGEOKIMIA Ekstraksi Kontinu Minyak Nabati 2008 (1) o November (1) haloooo smua slam kenal...darikyu padamyu.... bua...

Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogge

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI SUSU (Psidium guajava L. Susu) DAN DAUN JAMBU MERAH GETAS (Psidium guajava L. Merah getas) TERHADAP Staphylococcus epidermidis SERTA PROFIL KROMATOGRAFINYA Oleh : Nuraeni 04017009 ABSTRAK Telah dilakukan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun jambu biji susu (Psidium guajava L. Susu) dan daun jambu merah getas (Psidium guajava L. Merah getas) terhadap Staphylococcus epidermidis. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktifitas antibakteri ekstrak etanol daun jambu biji susu (Psidium guajava L. Susu) dan daun jambu merah getas (Psidium guajava L. Merah getas) terhadap Staphylococcus epidermidis serta untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung didalam daun jambu biji susu (Psidium guajava L. Susu) dan daun jambu merah getas (Psidium guajava L. Merah getas). Pembuatan ekstrak etanol daun jambu biji dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 80%, Staphylococcus epidermidis diuji dengan metode dilusi cair dengan dibuat variasi konsentrasi akhir

ekstrak, yaitu 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,13%, 1,56%, 0,78%, 0,39%, dan 0,20%. Identifikasi golongan senyawa dengan metode uji tabung, Kromatrografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Kertas (KKt) dengan fase diam silika gel GF 254, kertas Whatmann No1, fase gerak Etil asetat : Metanol : Air (100 : 13,5 : 10), Toluen : Etil asetat (93 : 70), Toluen : Etil asetat (93 : 7). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji susu (Psidium guajava L. Susu) memiliki aktifitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dengan nilai KBM 0,78% dan ekstrak etanol daun jambu merah getas (Psidium guajava L. Merah getas) 1,56%. Hasil uji tabung menunjukkan bahwa daun jambu biji susu dan daun jambu biji merah getas mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin. Hasil KLT menunjukkan adanya alkaloid pada daun jambu biji susu dan daun jambu biji merah getas. Hasil KKt menunjukkan bahwa daun jambu biji susu dan daun jambu biji merah getas mengandung senyawa flavonoid, saponin. Kata kunci : Psidium guajava L. Susu, Psidium guajava L. Merah getas, Antibakteri, KLT, KKt, Uji tabung

Setiap orang membutuhkan antioksidan untuk mencegah kerusakan tubuh akibat radikal bebas yang dapat mencetuskan penuaan, penyakit degeneratif, dan kematian dini. Buah mangga termasuk pemasok antioksidan beta-karoten sekaligus penyedia provitamin A yang unggul. Mangga adalah sumber penting beta-karoten, salah satu jenis karotenoid (pigmen tanaman yang berwarna kuning hingga merah) yang memiliki aktivitas provitamin A. Artinya, ketika dikonsumsi, beta-karoten dalam mangga akan diubah menjadi vitamin A. Di samping beraktivitas provitamin A, beta-karoten mempunyai aktivitas antioksidan. Antioksidan ialah senyawa penetral radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul tak stabil yang terus-menerus menyerang tubuh dari luar (karena sinar matahari, polusi, asap rokok) dan dari dalam (disebabkan oleh metabolisme dan kehidupan normal). Molekul ini mengalami suatu reaksi berantai yang menimbulkan jutaan radikal bebas baru yang merusak protein, sel, jaringan, dan organ tubuh. Ia menyebabkan penuaan, perubahan degeneratif, radang, dan penyakit, yang membuat lama hidup lebih singkat. Sederhananya, cara radikal bebas merusak sel tubuh sama dengan proses oksigen membuat kertas putih berubah warna menjadi kuning atau mentega menjadi tengik. Antioksidan mencegah kerusakan tubuh dengan melindungi protein, sel, jaringan, dan organ sasaran radikal bebas. Antioksidan sudah terbukti secara ilmiah menghambat penuaan, penyakit jantung, berbagai kanker, dan kebutaan, serta memperkuat sistem imun. Beta-karoten

Mangga tergolong buah yang sarat beta-karoten dan vitamin A. Penelitian yang dilaporkan oleh Setiawan dan tiga koleganya memperlihatkan bahwa mangga mengandung beta-karoten sebanyak 553 g per 100 g bagian segar yang dapat dimakan, "cuma kalah" dari salak (2997 g), jambu biji (984 g), dan semangka merah (592 g). Sebagai penyedia vitamin A, mangga juga termasuk yang layak diandalkan sebab dengan mengonsumsinya sebanyak 6-7 buah besar sehari, kebutuhan vitamin A orang dewasa tiap hari dapat dicukupi. Karena kaya akan beta-karoten dan vitamin A, makan mangga diduga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Itu didasarkan atas riset yang dilakukan the Institute of Nutritional Science, the University of Potsdam, Jerman, yang menemukan bahwa bayi tikus percobaan yang makanannya diberi tambahan beta-karoten dan vitamin A ternyata memiliki kadar protein pembentuk sistem kekebalan lebih tinggi. Studi-studi epidemiologis menunjukkan, tingginya asupan (intake) karotenoid berhubungan dengan rendahnya risiko penyakit jantung. Osganian dan kawan kawan meneliti kaitan antara asupan makanan kaya karotenoid dan risiko PAK (penyakit arteri koroner) pada 73.286 perawat perempuan selama 12 tahun terus-menerus. Selama kurun waktu tersebut, mereka menemukan 998 kasus baru PAK. Setelah dilakukan adjustment untuk umur, kebiasaan merokok, dan faktor-faktor risiko PAK lainnya, para peneliti menemukan hubungan signifikan antara tingginya asupan beta-karoten dan alfa-karoten dengan rendahnya risiko PAK. Asupan beta-karoten subyek penelitian bersumber dari makanan sarat beta-karoten seperti mangga, aprikot, wortel, bayam, brokoli, dan cabai, sedangkan asupan alfa-karoten berasal dari antara lain wortel, jagung, dan labu kuning. Riset lain yang dilakukan Klipstein-Grobusch dan kawan kawan terhadap 4.802 warga Belanda selama empat tahun terus-menerus menemukan, ada penurunan signifikan risiko infarksi myocardial pada subyek-subyek yang mengonsumsi beta-karoten paling tinggi daripada yang mengonsumsi beta-karoten terendah. Mangga, aprikot, wortel, bayam, brokoli, dan cabai adalah buah dan sayuran yang kaya akan beta-karoten. Namun, bioavailabilitas beta-karoten yang dijumpai dalam buah berwarna kuning kemerah-merahan seperti mangga dan aprikot jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bioavailabilitas beta-karoten yang terdapat pada sayuran berwarna kuning kejingga-jinggaan dan sayuran berdaun hijau seperti wortel, cabai, bayam, brokoli. Artinya, beta-karoten dalam buah lebih mudah digunakan oleh tubuh daripada beta-karoten pada sayuran. Mangga dan aprikot merupakan buah-buahan yang sarat antioksidan beta-karoten sekaligus pemasok provitamin A yang dapat diandalkan untuk menurunkan risiko penyakit jantung. Dibandingkan dengan aprikot, mangga lebih unggul sebab tergolong buah lokal yang murah saat ketersediaannya berlimpah, sedangkan aprikot termasuk buah imporyang lebih sukar dijumpai

di pasarsehingga berharga jauh lebih mahal. Sayang, mangga adalah buah musiman sehingga biasanya hanya tersedia melimpah di pasaran sekitar 2-3 bulan. Mangga gedong Anda tentu ingin memperoleh mangga dengan kualitas paling baik. Pilihlah mangga yang tua/matang, berwarna hijau kekuning-kuningan atau kuning kemerah-merahan dengan aroma harum. Tanda-tanda mangga sudah tua adalah bagian pangkal buah penuh membulat, bagian ujung tidak terlalu runcing, serta bagian permukaan kulit buah licin (dilapisi lilin) dan getah terlihat jernih. Mangga matang mempunyai daging buah lunak dan rasa manis. Hindarilah memilih mangga yang terlalu keras atau terlampau lembek, ada goresan, memar, atau berbau fermentasi. Bila Anda menginginkan mangga yang memiliki kandungan beta-karoten lebih tinggi, pilihlah mangga gedong. Mangga jenis ini banyak tumbuh di daerah Cirebon dan Majalengka, Jawa Barat. Studi yang dilaporkan Rosmalina & Permaesih dari Pusat Litbang Gizi dan Makanan Depkes RI menunjukkan bahwa dalam setiap 100 gram mangga gedong terkandung beta-karoten sebesar 215 g. Kadar beta-karoten pada mangga gedong itu hampir 2,5 kali lipat kadar beta-karoten yang terdapat dalam mangga golek (90,5 g), sekitar 16 kali lipat mangga indramayu (13,5 g), dan sekitar 17 kali lipat mangga harum manis (12,5 g). (Kompas) tidak ada komentar

Manfaat Royal Jelly & Madu Untuk Kebugaran Tubuh

Jul 10, '07 12:53 PM untuk semuanya

Madu ternyata tak cuma nikmat diminum. Si kental manis asam ini juga baik untuk kesehatan tubuh pengonsumsinya. Bahkan, ia sudah mulai dilirik sebagai bahan obat. Padahal, sebenarnya madu merupakan cadangan pakan bergizi tinggi bagi anak-anak lebah. Wajar kalau kemudian madu dimasukkan ke dalam kelompok bahan makanan bergizi oleh manusia.

Sebagian masyarakat Indonesia yakin kalau madu merupakan cairan alami yang enak dan manis. Kita juga beranggapan, madu kental itu sebagai "makanan istimewa" untuk kebugaran tubuh. Serta katanya, mampu menjaga lestarinya kemampuan seksual seseorang. Menurut sumber kepustakaan, setiap 1.000 g madu bernilai 3.280 kalori. Nilai kalori 1 kg madu sama dengan 50 butir telur atau 5,575 l susu, atau 1,680 kg daging. Sebetulnya, khasiat madu amat berkaitan dengan kandungan gulanya yang tinggi. Yakni fruktosa 41%, glukosa 35%, dan sukrosa 1,9%. Serta unsur kan-dungan lainnya, seperti tepung sari ditambah berbagai enzim pencernaan. Lalu ada vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, antibiotika, dan lainnya. Meski sama manisnya, perlakuan tubuh manusia terhadap madu yang manis itu berbeda dibandingkan dengan gula atau gula pasir. Madu dapat diproses langsung menjadi glukogen, sedangkan gula harus diproses terlebih dulu oleh enzim pencernaan di usus. Dengan demikian tubuh manusia bisa lebih cepat merasakan manfaat madu dibandingkan dengan gula pasir. Dari beberapa hal itu, rasanya bisa disimpulkan kalau madu bisa memberikan manfaat sangat penting dalam kehidupan manusia. Madu peternak lebih baik * Madu memang sudah dikenal sebagai sumber pakan berkhasiat, konon sejak ribuan tahun lalu. Dalam penggunaan sehari-hari, selain diminum dan dicicipi langsung, madu biasanya dipakai dalam industri susu bubuk, pabrik jamu, juga industri bahan makanan, misalnya untuk campuran roti, kue-kue, dan lainnya. Termasuk pula sebagai salah satu bahan makanan dalam kaleng, sirup, dan sebagainya. Sayangnya, konsumen umumnya masih buta tentang mutu madu yang baik. Apalagi berbagai kemasan madu yang ada di pasaran jarang mencantumkan kandungan apa saja yang terdapat pada madu dalam botol itu. Seandainya dicantumkan pada kemasan, tetap saja sulit untuk mengetahui benar tidaknya kandungan 11 unsurnya, sebagai parameter yang ditentukan dalam Standar Industri Indonesia atau SII 0156-86. Penelitian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Balai Besar Penelitian dan Industri Hasil Pertanian Bogor pada 1991 menyimpulkan, mutu madu produksi Indonesia, umumnya masih berada di bawah ketentuan SII. Lebih mengejutkan lagi, hasil penelitian yang dilakukan Laboratorium FMIPA Universitas Brawijaya Malang pernah menyimpulkan bahwa mutu madu produksi petani peternak secara umum, lebih baik dibandingkan dengan madu yang dijual di toko-toko, dengan segala kemewahan merek dan kemasannya. Di sinilah perlunya peran para ahli untuk memberikan berbagai syarat madu yang memenuhi standar secara jelas dan ringkas, sehingga mudah diserap masyarakat luas. Di lain pihak perlu adanya itikad baik dan kejujuran dari para produsen serta penjual madu, sehingga berbagai macam madu yang beredar di pasaran tidak membingungkan kualitasnya.

Bukan "susu ratu" * Dalam perkembangan lebih lanjut, manusia menemukan produk lebah yang lebih hebat dibandingkan dengan madu, yaitu royal jelly alias "susu ratu". Dalam beberapa penelitian, royal jelly memberikan petunjuk katanya bisa menggantikan sel-sel tubuh yang mati, serta memelihara kebugaran tubuh. Juga disebut-sebut - lagi-lagi katanya mampu mempertahankan keperkasaan lelaki. Bahkan, beberapa ahli lebah madu di Eropa kini kabarnya sedang meneliti kemungkinan royal jelly untuk mengobati penderita leukemia, kanker, dan AIDS. Madu konon bisa menggantikan antibiotika bagi pasien pengidap kanker, juga menyembuhkan efek sampingan prosedur kuratif, dan obat rematik. Sedangkan venom atau racun lebah dapat untuk mengobati prostatitis kronis dan wasir. Juga dapat merehabilitasi pasien berpenyakit jantung, penyakit kulit, tukak lambung, luka bakar, dan sebagainya. Dalam suatu seminar internasional di Swis, tahun 1995, para peneliti dan ahli apiterapi juga ahli farmasi menyatakan dirinya siap bekerja sama secara internasional, untuk mengembangkan produksi obat-obatan dari produk lebah madu dan royal jelly. Royal jelly yang disebut "susu ratu" sebetulnya bukan susu. Apalagi madu yang dihasilkan sang ratu lebah. Itu sebetulnya bahan makanan khusus untuk ratu lebah. Diduga karena terus-menerus makan royal jelly, queen bee itu bisa berumur antara 5 - 6 tahun. Sejak 1922, seorang peneliti dari Prancis telah merekomendasikan royal jelly untuk pengobatan. Meski begitu sampai saat ini berbagai unsur yang terkandung di dalamnya belum bisa diketahui seluruhnya. Royal jelly yang manis agak kecut tetap merupakan misteri yang menggoda para ilmuwan. Selebihnya, masih banyak laporan penelitian tentang berbagai produk lebah yang menunjukkan hasil positif untuk pengobatan, baik setelah mengonsumsi madu, tepung sari atau polen, maupun royal jelly. Sayangnya, kenyataan itu sulit diterima organisasi kesehatan dan perguruan tinggi kedokteran di beberapa negara dengan alasan kurangnya bukti ilmiah. Setidaknya, begitulah antara lain pernyataan pakar apiterapi dari Jerman. (Intisari, Depkes.go.id) tidak ada komentar

Mango - The King Of Fruits

Jul 6, '07 8:12 PM untuk semuanya

Botanically it is known as Magnifera Indica. Mangoes are native to Malaysia and India and it has been in cultivation in India for at least 4000years. In nineteenth century traders introduced the fruit to the West Indies, Africa and South America. Arab merchants took it to Persia and Egypt. Now mangoes are cultivated in large scale in different countries like India, china, Malaysia, Indonesia, Australia, and West Indies. Mango tree blossom and bear fruit in regions where there is a good rain fall for four months followed by dry weather. Rain, fog, or cloudy weather at the time of flowering affects fertilisation and fruit yielding.

Mangoes are very nutritious and excellent source of carotene as compared to other fruits. 100 gms of edible portion of the mango contain about 1990ug of beta-carotene (vitamin A), which is much higher than in other fruits. The total carotenoids in mango increase with the stage of ripening. Eating mangoes in the season may provide a store of vitamin A in the liver, sufficient to last for the rest of the year and highly beneficial for the prevention of vitamin A deficient disorders like night blindness. Mangoes, both ripe and unripe are very good sources of vitamin C. 16mg of vitamin C is present in 100 gms of mango. Both vitamins A and C are anti oxidants and help to prevent free radical injury and thus reduce the risk of certain cancers. Ripe mango provides a good source of calories. A ripe mango supplies 74kcal per 100 gms (mainly derived from fructose). Raw mango has fewer calories compared to ripe mango. The ripe mango fruit is also a good source of potassium and only traces of sodium makes it suitable for hypertensive patients. Those on potassium restricted diet like renal failure diet, should avoid mangoes. Mangoes are typically curved fruits with green, pinkish gold or red skin and glorious orange, highly perfumed flesh surrounding a very large hairy edible flat seed. There are number of varieties of this fruit are available. They can be round, oval, kidney shaped. Each of these has its own flavour, taste, and pulp consistency. Popular varieties available in India include the alphonso, jeengira, dussehri, totapuri, neelam, banganapalli, and suvarnarekha.
Nutritive value of mango per 100 gm* Nutrients Protein (gm) Fat (gm) Minerals (gm) Fibre (gm) Carbohydrates (gm) Ripe mango 0.6 0.4 0.4 0.7 16.9 Green or raw mango 0.7 0.1 0.4 1.2 10.1

Energy (kcal) Vitamin C (mg) Total carotene (mcg) Beta carotene (mcg) Potassium (mg) Sodium (mg) Calcium (mg) Iron (mg) Phosphorous (mg)

74 16 2,210 1,990 205 26 14 1.3 16

44 3 90 NA 83 43 10 0.33 19

* Source: National Institute of Nutrition

Colour is not necessarily an indication of ripeness in a mango. Some varieties remain green even when they are ripe, while others turn golden or bright red or a combination. Buy unblemished fruit with no black marks on the skin. The best way to select is firm and aromatic fruit. Storage: Ripe mangoes can be stored for days to weeks depending on the variety. Mango slices can be canned, dried and made pulp out of it. Raw mangoes are used mainly for drying and these can be used for pickles and chutneys.

This delicious fruit is best to eat it just as a ripe fruit. Mangoes make an exotic addition to fruits salads and can be pureed to make sorbets and ice creams. Milk shakes, juices, jam, jellies, pickles, mango papad, sweet meat are the usual preparation. Small ripe mangoes can also be made mouth-watering curries with the addition of coconut and buttermilk. Prawns and fish tastes well with the raw sour mangoes. The raw mango pickle and chutney is famous for its tongue twilling taste. Peeled unripe mangoes are cut into small thin pieces and dries in the sun after seasoning with turmeric powder. This dried material known as amchur is used as such or as a powder. Amchur is used as a souring agent in Indian cookery. The mango seeds are also edible it is collected in the season and dried in the shade and powdered and stored to make many dishes. Small raw mangoes can be steamed and put in salt solution in porcelain jars for a period of four to five months. Later mango as required can be taken and smashed with green chillies and a drop of oil and can be eaten as chutney. Tender mango leaves; bark and stem are also used for anti bacterial properties in India and other countries.

(bawarchi.com)

tidak ada komentar

Manfaat Buah Semangka

Jul 2, '07 6:53 PM untuk semuanya

BEGITU populernya buah semangka (Citrus vulgaris), sampaisampai kreator lagu pop Rinto Harahap menciptakan perumpamaan buah semangka berdaun sirih dalam salah satu tembangnya. Ya, rasaya semua orang kenal semangka. Siapa sangka, buah yang menyegarkan ini punya beragam khasiat, salah satunya sebagai obat kuat. Daging buah semangka ada yang berwarna kuning, ada pula yang merah. Di pasaran, si merah jauh lebih populer. Lagi pula, ia lebih kaya gizi dan sarat akan senyawa fitokimiawi. Cara terbaik dan paling praktis untuk menikmati buah asal benua Afrika ini adalah langsung mengonsumsinya dalam keadaan masih segar. Ini memperkecil kemungkinan rusaknya kandungan gizi dan khasiat semangka sehingga tubuh kita bisa memetik manfaatnya secara utuh. Sebaliknya, jus semangka yang diolah dengan juicer akan kehilangan banyak serat. Mengolah semangka jadi sajian kreatif seperti memadukannya dengan puding, cake, atau es krim boleh juga. Akan tetapi, sebaiknya tidak menambahkan bahan yang justru dapat merusak nilai sehat yang ada dalam semangka. Misalnya, tidak menambahkan sirup, susu kental manis, atau cream secara berlebihan. Makan tempat Para peng-gemar buah-buahan sangat menyukai semangka tanpa biji. Wajar saja sebab ia begitu praktis, bisa langsung dimakan tanpa hambatan apa pun. Kalaupun ada biji, biasanya sangat sedikit dan tidak berkembang sempurna (kempis) sehingga saat tertelan sekalipun, tidak masalah. Sebaliknya, ketika mengonsumsi semangka biasa, orang sedikit repot dengan kehadiran bijibijinya.

Semangka lokal unggul (berbiji) yang mudah ditemukan adalah jenis semangka Sengkaling. Dinamai demikian karena jenis semangka impor ini awalnya dibudidayakan secara besar-besaran 20 tahun lalu di daerah Sengkaling Malang Jawa Timur. Ukurannya tanggung (2-4 kg), daging buah berwarna merah cenderung pucat, rasanya manis renyah, tidak terlalu berair. Setelah matang, dagingnya merekah dan agak masir (sandy). Sementara itu, semangka tanpa biji bukannya tanpa biji sama sekali. Jika dibelah, dagingnya berwarna merah menyala dengan sedikit biji-biji kempis. Ukurannya sedang (rata-rata 4 kg) dengan cita rasa sangat manis. Varietas yang mudah ditemukan di pasar swalayan adalah sugar baby. Semangka kuning yang banyak beredar di pasaran adalah jenis yellow baby. Warna dagingnya kuning cerah dengan kulit lebih pucat dibanding sugar baby. Sesekali, semangka new dragon hadir juga di pasar swalayan. Selain legit, daging buah varietas asal Taiwan ini sangat padat sehingga beratnya bisa mencapai 9 kg! Semangka termasuk makanan fungsional (functional food) karena ia rendah kalori meskipun rasanya manis. Buah ini juga banyak mengandung air, bebas lemak, kaya betakaroten, vitamin C, dan likopen yang berkhasiat obat. Keunggulan ini menjadikan semangka aman dinikmati seberapa pun Anda suka. Meski rasanya manis, kandungan kalori semangka hanya 28 kalori per 100 gram. Wajar saja sebab kadar gula pada buah ini tak lebih dari 5%. Bandingkan dengan belimbing yang samasama berair, ternyata memiliki kandungan energi 36 kalori. Kombinasi kadar gula terbatas dan kadar air berlimpah menjadikan semangka cocok bagi pelaku diet rendah kalori. Apalagi, buah yang satu ini bersifat makan tempat (bulky) di dalam lambung sehingga mengenyangkan. Semangka sangat baik bagi pengidap hipertensi. Kandungan air dan kaliumnya yang tinggi bisa menetralisasi tekanan darah. Beberapa literatur menyebutkan, semangka juga mempergiat kerja jantung. Sejumlah antioksidannya termasuk betakaroten dan vitamin C membantu sel-sel tubuh tetap sehat. Buah ini juga dapat diandalkan sebagai makanan diuretika, guna merangsang keluarnya air seni lebih deras. Ia efektif melawan gangguan buang air kecil (Sunda: jeungjeuriheun) dan mencegah timbulnya kencing batu. Makan semangka juga baik untuk menurunkan demam dan mencegah sariawan. Warna merah pada semangka menandakan tingginya kadar likopen, salah satu komponen karotenoid seperti halnya betakaroten. Dibandingkan antioksidan lainnya, seperti vitamin C dan E, kekuatan likopen dalam memerangi radikal bebas jauh lebih ampuh. Radikal bebas merupakan hasil sampingan metabolisme. Setiap saat tubuh menghasilkan radikal bebas. Berbeda dari molekul lain yang stabil karena atom-atomnya saling berpasangan, radikal bebas selalu gelisah gara-gara salah satu atomnya tidak memiliki pasangan. Atom sebatang kara itu adalah hidrogen sehingga ia selalu kelayapan berburu mangsa berupa oksigen.

Repotnya, radikal bebas sangat gemar menyerobot istri orang dengan mempreteli oksigen dalam sel, yang sesungguhnya sudah memiliki pasangan tetap. Akibatnya, kesegaran sel menyusut, loyo, dan aus. Jika perusakan sel oleh radikal bebas berlangsung tak terkendali, baik karena pola makan yang kacau, polusi atau pikiran negatif, kekebalan tubuh akan menurun. Kerusakan sel akibat ulah radikal bebas ini dapat teramati secara fisik, seperti kulit kering, suram, dan kendur. Dengan likopen yang terdapat dalam semangka, radikal bebas bisa terlumpuhkan dengan segera. Bahkan, likopen dibantu zat antioksidan lain dalam semangka, yakni betkaroten, mampu menyegarkan kembali sel-sel layu yang sudah terlanjur rusak gara-gara kehadiran radikal bebas. Khasiat lain, likopen semangka mampu menumpas bibit kanker. Bagi kaum wanita, makan semangka setiap hari dapat menurunkan risiko kanker mulut rahim. Likopen juga membantu mengurangi risiko terkena kanker rongga mulut, kanker lambung, kanker usus besar, bahkan kanker prostat sekalipun. Berapa banyak semangka yang harus dihabiskan guna mendapatkan manfaat tersebut? Cukup menghabiskan 1/8 - 1/2 bagian buah semangka (tergantung ketajaman warna merah semangka dan besarnya buah), yang menyumbangkan 15-20 mg likopen. Mengusir loyoitas Khasiat likopen tak hanya sampai di situ. Ia juga jagoan mengusir loyoitas. Di India, para pakar pernah meneliti 30 laki-laki tidak subur, yang berusia 23-45 tahun. Mereka memiliki masalah dengan sperma, yakni berjumlah terbatas, berstruktur tidak normal atau gerakannya loyo. Sehari dua kali mereka diberi makanan kaya likopen yang masing-masing menyumbangkan 20 mg likopen (setara 1/2 bagian semangka) selama 3 bulan berturut-turut. Hasilnya, rata-rata jumlah sperma mereka meningkat 67%, struktur sperma mengalami perbaikan sebanyak 63%, dan kegesitan sperma melonjak hingga 73%. Yang mengejutkan, enam di antara laki-laki yang tadinya tidak subur tersebut ternyata sukses menghamili istrinya! Buah sarat khasiat itu juga tak hanya menyuburkan sperma, tapi juga mampu membangkitkan gairah seksual laki-laki. Dalam semangka tersimpan senyawa sitrulin yang memiliki efek afrosidiak sama hebatnya dengan viagra, tapi sama sekali tanpa efek samping. Sitrulin adalah sejenis asam amino yang mendorong tubuh memproduksi nitrit oksida lebih banyak, suatu zat pemicu ereksi. Hanya, karena kadar sitrulin dalam semangka itu tidak begitu tinggi, untuk mendapatkan efek afrosidiaknya kaum pria harus berani menghabiskan 3 buah sehari! Tak sanggup? Tak apalah. Yang jelas, mencoba menghadirkan semangka dalam menu sehari-hari pun sudah cukup berarti untuk kesehatan. Akan tetapi, ingat, jangan coba-coba mencari semangka berdaun sirih seperti dikatakan Rinto!

(pikiran-rakyat.com)

tidak ada komentar

Manfaat Bee Pollen

Jul 2, '07 6:10 PM untuk semuanya

Bee Pollen merupakan salah satu jenis Produk Perlebahan mempunyai multi manfaat sebagai makanan dan kesehatan. Tepung sari ini berupa butiran sangat kecil yang diolah secara alami oleh lebah, dikumpulkan dari arther bunga jantan bercampur dengan nectar yang dihisap dan liur lebah yang disimpan di kantung yang berada antara kedua kaki belakang lebah. (Dr. Zen Djaja, Medical Consultant High Desert Malang, dr. Ivan Hoesada, dr. Sugiowantono, dr. Imelda T, drg. Bambang S.p BM). Bee Pollen mengandung 18 jenis asam amino (protein) essensial, asam lemak essensial, 14 jenis mineral, vitamin A, B, C, D dan E, hormon pertumbuhan, hormon reproduksi serta sebagai substansi lainnya berupa jenis alkolid yang menjadi khasiat dalam melakukan dalam melakukan stabilisasi metabolisme sel dan pertumbuhan sel normal (regenerasi rehabilitasi) pada umumnya. Melihat kandungan bee pollen kaya akan asam amino essensial dimana sangat berguna untuk membangun dan memperbaiki sel-sel tubuh kita, maka kerap disebut INTISARI KEHIDUPAN. Berbagai manfaat Bee Pollen tanpa membahayakan obat lain, InsyaAllah: Memperlambat penuaan/memperlembut kulit dan untuk lulur, memperlancar metabolisme metabolisme tubuh serta menstabilkan jantung dan mengurangi kolesterol, mengobati luka dalam (bekas operasi, sakit organ dalam), merangsang syaraf kembali normal, meningkatkan fungsi hati dan pencernaan, mengobati gangguan lambung, usus, diabetes, imsomnia, penyempitan pembuluh darah, mencegah pendarahan otak, mencegah kanker, anti oksidan, sembelit, meningkatkan stamina, fungsi jantung, mencegah penyakit tua sebelum waktunya dan untuk kecantikan. Mengobati rahim dan menyuburkan kandungan, mensuplai gizi bagi kecerdasan otak janin. Sebagai zat makanan dan obat alami bagi terapi diet, Bee Pollen adalah makanan kesehatan (healthy food) yang berasal dari tepung sari bunga pilihan.

Semuanya penting bagi sistem tubuh manusia dalam jumlah yang seimbang, aman dan tanpa efek samping dikonsumsi untuk segala usia pria dan wanita. Bee pollen yang kaya akan gizi sangat efektif untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit, baik ringan atau berat. DENGAN IZIN ALLAH TAALA. (pernikmuslim.com) tidak ada komentar

Research Reveals New Melon Health Benefits

Jun 28, '07 5:23 PM untuk semuanya

Watermelon has always been a good source of vitamins A and C, and provides potassium and fiber. But now consumers have even more reasons to enjoy a sweet slice of the tasty fruit. Findings from USDA scientists indicate that watermelon contains high levels of lycopenean antioxidant that may help the body fight cancer and prevent disease. Found only in select fruits and vegetables, lycopene is very effective at trapping cancer-promoting agents called freeoxygen radicals. A study conducted by Harvard University researchers found that men who ate lycopene-rich diets of tomatoes and tomato products had a much lower risk of developing certain cancers, especially prostrate cancer. A cup and a half of watermelon contains about 14 or 15 milligrams of lycopene, a higher level of this antioxidant than is contained in many other fresh fruits or vegetables, according to USDA research by plant physiologist Dr. Penelope Perkins-Veazie. Lycopene is found only in red

watermelon varieties. In fact, it gives watermelon its red color and in some cases, the redder the watermelon, the more lycopene it contains. We think there are a lot of potential uses for watermelon that havent been explored yet, said Perkins-Veazie. Watermelon can be a functional foodone that may help prevent certain diseases. On this National Watermelon Promotion Board sponsored research project, Perkins-Veazie is working with a team of scientists from the USDA-ARS, Oklahoma State University and Texas A&M University at the South Central Agricultural Research Lab in Lane, Okla. We have always known that watermelon offers a number of benefits, said William Watson, executive director of the NWPB. But as lycopene continues to emerge as a possible important, effective agent in disease prevention, we saw an opportunity to explore other health benefits our product could offer. In addition to lycopene, watermelon offers a host of other health benefits. It is fat-free, yet delivers 100 percent on the critical energy component found in functional foods. Were pulling out all the stops on this years national publicity campaign so we can reach consumers with this exciting news, said Heidi McIntyre, NWPB director of marketing. This new effort includes a health and wellness brochure that will be offered to consumers via our website. (txfb.org) tidak ada komentar

The Benefits of Bee Pollen

Jun 27, '07 3:11 PM untuk semuanya

Bee pollen is one of natures healthiest and most powerful superfoods. Its been used as a dietary supplement for thousands of years. The early Egyptian and early Chinese civilizations both used it as a physical rejuvenator and medicine. The Greek physician Hippocrates, recognized as the father of modern medicine, used pollen as a healing substance over 2,500 years ago. Today natural health practitioners often refer to bee pollen as an herbal fountain of youth that can be used for everything from weight loss to cancer prevention. It may be nature's most perfect food... Bee pollen has been shown to help people: * lose weight * increase energy, vitality and stamina

* enhance the immune system * relieve allergy and asthma symptoms * improve sexual function * correct digestion problems * slow the aging process * prevent cancer and other diseases One thing is certain: people who consume high-quality bee pollen almost always experience an increase in energy, zest, and physical endurance. This is precisely why thousands of world-class athletes supplement their diets with this natural substance. What is Bee Pollen? It's the dust-sized seed found on the stamen of all flower blossoms. The pollen collects on the legs of honeybees as they move from flower to flower looking for nectar. The bees secrete nectar and special enzymes into the flower pollen to create what we know as bee pollen. The pollen is usually collected by placing a special device at the entrance of beehives that brushes it from the hind legs of the bees into a collection vessel. Whats in Bee Pollen? Bee pollen contains an incredible array of vitamins, minerals, amino acids, enzymes, coenzymes, and hormones. It is especially rich in B vitamins and antioxidants, including lycopene, selenium, beta carotene, vitamin C, vitamin E, and several flavanoids. It is composed of 55% carbohydrates, 35% protein, 3% vitamins and minerals, 2% fatty acids, and 5% other substances. Overall, it's one of the most nutritionally complete natural substances found on earth. What Will Bee Pollen Do for Me? When you first start taking bee pollen you may feel a significant increase in your energy right away, definitely within a week or so. Over time the consistent use of pollen will improve your energy, stamina, and endurance. You'll also probably notice a greater feeling of general wellbeing. Over the long-term, regular consumption of bee pollen will help alleviate many different health problems, slow down the aging process, and improve your quality of life. What's the Best Pollen to Take? Bee pollen is available in powdered forms, granules, tablets and capsules. Capsules usually contain other bee hive products such as royal jelly, propolis and honey. Pollens that come from multiple sources contain more nutrients than single source pollens. Because of the negative

effects of air pollution the highest-quality bee pollens comes from extremely clean natural environments. (bee-pollen-health.com) style="font-size:10;"> tidak ada komentar

Khasiat Ganda dalam Buah Anggur & Bijinya

Jun 25, '07 1:45 PM untuk semuanya

Karena lebih nyaman dikonsumsi, anggur tanpa biji lebih banyak dicari. Namun, perlukah kita membatasi diri hanya mau mengkonsumsi buah anggur tanpa biji, bila ternyata mengunyah serta biji-bijinya justru memperkaya khasiatnya? Anggur diperkirakan merupakan tanaman tertua yang dibudidayakan manusia. Buktinya, dalam mumi di Mesir yang telah berusia lebih dari 3.000 tahun ditemukan biji-biji anggur yang diduga merupakan bekal kematian. Atasi Gangguan Pembuluh Darah & Kanker Perjalanan anggur sebagai makanan obat ternyata telah berawal pada zaman Mesir kuno. Selain disajikan sebagai buah meja di lingkungan Kekaisaran Yunani dan Mesir Kuno, buah anggur telah dimanfaatkan sebagai bagian dalam pengobatan alami gangguan pencernaan. Kini kita tahu mengapa anggur memiliki khasiat tersebut, yaitu karena kandungan magnesiumnya yang melimpah. Magnesium memang vital bagi tubuh kita sebagai penggiat fungsi sistem pencernaan. Selain karena magnesiumnya, manfaat anggur juga sebagai penggelontor kotoran (buang air besar) lantaran kandungan serat kasarnya yang malimpah dalam kulit buah. Kemampuan anggur sebagai pembersih usus makin baik karena magnesium dan kandungan seratnya masih diperkaya dengan zat pencahar ringan (laksatif) yang terdapat dalam buah anggur. Demikian penegasan Dr Bernard Jensen, penulis buku laris Eating Right For Health, Vitality, and Longevity dalam bukunya yang lain yakni Foods That Heal. Walaupun bermanfaat, mengkonsumsi anggur bersama kulit buah dan bijinya bisa membuat iritasi pada penderita gangguan lambung. Karena itu, bila pencernaan Anda sensitif sebaiknya berhati-hati mengosumsi biji-biji anggur. Latihlah pencernaan Anda dengan mengosumsinya dalam jumlah terbatas dulu, sambil mengamati reaksinya. Jus buah anggur berbiji yang diproses menggunakan juice extractor, sehingga minum serat kasar tetapi kaya senyawa OPC, paling disarankan bagi Anda yang memiliki sistem pencernaan sensitif.

Rajin mengosumsi anggur atau jus anggur bisa membangkitkan semangat, menghilangkan rasa lelah, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Dikatakan Dr Jensen hal ini sebagai dampak kemampuan jus anggur membersihkan hati/liver dan menggiatkan fungsi ginjal. Secara alami, buah anggur merupakan makanan pembentuk basa (alkaline forming). Sifat membentuk basa dengan kandungan air berlimpah dalam anggur menjadikan pembuluh darah memiliki kemampuan lebih besar dalam menggelontor timbunan toksin dan lemak dalam pembuluh darah. Kondisi ini mencegah terjadinya penyempitan/penyumbatan pembuluh darah. Anggur juga mengandung enzim yang bersifat tonik penggiat fungsi empedu. Peningkatan fungsi empedu akan meningkatkan efisiensi pengubahan lemak mejadi asam empedu, yang akan dibuang ke luar tubuh, sehingga mencegah terjadinya lonjakan kadar lemak darah (hiperlipidemia). Karena itu, rajin menyantap anggur dan mengosumsi jus anggur amat disarankan bagi pengidap hipertensi, serta kadar kolesterol/trigleserida darah berlebihan. Dalam butir-butir buah anggur tersimpan banyak gula buah alami, yang merupakan energi siap pakai. Anggur berwarna gelap seperti anggur merah, anggur biru, dan anggur ungu sangat kaya akan zat besi, yaitu mineral penyusun sel-sel darah merah yang merupakan pengangkut sumber energi. Kombinasi antara melimpahnya gula buah alami dan zat besi membuat kita bertenaga kembali setelah mengunyah dengan baik buah anggur atau minum jus anggur dalam jumlah cukup. Menurut Dr Jensen, menyantap anggur atau minum jus anggur segar satu kali setiap hari selama seminggu berturut-turut bisa membantu menggiatkan tubuh menguras racun. Untuk tujuan ini, Dr Jensen menganjurkan agar anggur dikonsumsi secara tunggal (boleh dikombinasikan dengan buah anggur jenis berbeda, misalnya anggur merah dan anggur hijau), tetapi tidak dikonsumsi bersamaan dengan buah-buahan lainnya. Anggur Berlimpah Senyawa Antikanker Tanaman anggur paling rentan terhadap serangan kapang, terutama kapang cendawan atau kapang jelaga, yang secara awam sering disebut "jamur". Meskipun mengganggu asimilasi daun, sehingga mengganggu perkembangan optimal buah-buah anggur, serangan kapang justru mendatangkan keuntungan. Secara alami tanaman anggur akan membentuk antibodi 3,5,4trihidroksi-trans-stibena, yang populer dengan nama resveratrol. Ketika kita mengonsumsi anggur, resveratrol turut masuk ke dalam tubuh kita dan meningkatkan konsentrasi antibodi, sehingga menggenjot sistem kekebalan tubuh kita. Konsentrasi tinggi resveratrol dalam tubuh telah diteliti mampu menikam perkembangan pesat sel tak sehat, balk berupa tumor maupun kanker. Keampuhan resveratrol alami dalam buah anggur ini sudah terbukti lewat kemampuannya mengganyang sel-sel kanker dalam tiga tahapan. Bila anggur lebih dini dikonsumsi, resveratrol sudah akan beraksi meredam kerusakan DNA dalam sel pada tahap awal pertunasan sel benih kanker. Kalau pun perkembangan sel kanker telah beranjak lebih lanjut, dari sel normal berangsur-angsur menjadi sel kanker, resveratrol tetap masih mampu menaklukkannya. Bahkan, bila sel kanker telah tumbuh subur dan menyebar, resveratrol bisa tetap giat melemahkannya. Namun tentu saja

kekuatan pertumbuhan sel kanker tak mampu hanya diredam dengan resveratrol dan buah anggur semata. Untuk itu, diperlukan pola makan kaya bahan makanan nabati mentah (raw food) yang berlimpah zat-zat antioksidan. Kandungan senyawa antikanker ini umumnya banyak terdapat dalam buah anggur berwarna gelap, terutama anggur merah, anggur biru, dan anggur ungu. Kandungan resveratrol tertinggi terdapat di bagian kulit buah anggur! Ekstrak Biji Anggur Ampuh Perangi Penuaan Kita umumnya lebih menyukai anggur tanpa biji. Kalau sedang "sial" mendapatkan anggur berbiji, orang akan meludahkan biji-bijinya setiap kali mereka mengunyah buah anggur. Padahal, sama seperti daging buahnya, biji-biji anggur pun berlimpah senyawa berkhasiat. Mineral mikro yang sudah lebih dulu diketahui banyak terdapat dalam biji anggur terutama anggur merah adalah seng dan mangan. Kedua mineral mikro tersebut terutama amat penting untuk menjaga libido seks pria, menjaga kesuburan pria. Manfaat lain seng dan mangan bagi kesehatan pria adalah mencegah dan membantu mengatasi peradangan prostat. Belakangan banyak dijual suplemen ekstrak biji anggur merah, yang diklaim bisa mengerem laju penuaan, mencegah penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) termasuk mencegah stroke dan serangan jantung. Selain itu, juga dikatakan dapat merangsang pembentukan jaringan kolagen yang akan menggantikan kulit tua atau rusak. Senyawa yang dipromosikan khasiatnya tersebut adalah proantosianidin (proanthocyanidin), populer dengan istilah OPC. Penemuan OPC sebenarnya sudah terjadi pada 1947. Waktu itu Dr Jacques Masquelier dari Bordeaux University, Prancis, mendapat tugas dari pemerintah untuk menyelidiki apakah warna merah pada kulit ari kacang tanah bersifat racun, karena kebanyakan ternak kurang menyukainya. Ternyata bukannya bersifat racun, Dr Masquelier justru menemukan pigmen warna merah pada kulit ari kacang tanah yang kemudian ia sebut proanthocyanidin itu justru berkhasiat antioksidan sangat kuat. Dari sini ia memanfaatkan hasil penelitiannya tersebut sebagai materi disertasi doktoralnya. Setahun kemudian ia berhasil mengisolasi OPC dari kulit batang pinus. Baru pada tahun 1970, ia menemukan OPC dari biji-biji anggur. Istilah proantosianidin merupakan gabungan dari kata "pro" dan "antosianin". Antosianin adalah pigmen warna merah yang muncul pada tanaman ketika buah matang atau daun-daun menua kemudian gugur. Pro sama artinya dengan pra, maksudnya sebelum atau bahan baku. Jadi, secara harfiah proantosianidin berarti bahan baku pembentukan pigmen merah antosianin. Yang menarik dari penelitiannya, lebih lanjut Dr Masquelier menemukan kekuatan antioksidan OPC 20 kali vitamin C dan 50 kali vitamin E! Lebih dahsyat dari kekuatan antioksidan yang dipunyai vitamin A, C, dan E. Dr Masquelier menduga kekuatan ini bersumber dari banyaknya jumlah ikatan rangkap atom karbon dalam rantai molekul OPC. Keunikan komposisi molekulnya menjadikan OPC mampu melumpuhkan jauh lebih banyak radikal bebas. Karena itu, biji anggur menjanjikan kemampuan lebih baik dalam meredam penuaan dan menggiatkan peremajaan sel.

Aktivitas OPC menjadikan sel-sel darah merah cukup mengandung oksigen, sehingga terhindar dari perlengketan satu sama lain. Dengan demikian, aliran oksigen dan nutrisi dalam pembuluh darah berlangsung lancar. Selain sel kulit akan terjaga kesegarannya, kondisi ini juga membuat organ-organ tubuh tetap sehat, serta mengurangi risiko stroke dan serangan jantung. Dibandingkan dengan suplemen antioksidan vitamin A dan E, suplemen ekstrak biji anggur lebih aman. OPC bersifat larut dalam air, sehingga kelebihan dosis asupan OPC akan dibuang ke luar dari tubuh terutama bersama urine. Dosis optimum suplemen ekstrak biji anggur yang dianjurkan adalah 150-200 mg per hari, yang dibagi dalam 2-3 kali minum. Utamakan suplemen ekstrak biji anggur yang mengandung setidaknya 95 persen OPC. Suplemen yang mengandung kurang dari jumlah, biasanya paling banyak 85 persen, diduga bukan berasal dari OPC biji anggur tetapi dari batang pohon pinus. Perhatikan label kemasan. Suplemen ekstrak biji anggur yang baik diolah dari buah anggur tanaman organik dan ditanam dalam lingkungan tanpa polusi. Lebih baik bila Anda bisa mendapatkan produk dengan jaminan tidak mengandung residu bahan berbahaya. Karena OPC menggiatkan fungsi obat-obatan antialergi, maka sebaiknya suplemen ekstrak biji anggur diminum 2 jam setelah minum obat antialergi. (Majalah Nirmala, cybermed.cbn.net.id) tidak ada komentar

Grape Seed Antioxidant Dietary Vitamin Supplements Grape Seed Health Nutrition Benefits Evidence

Jun 25, '07 1:27 PM untuk semuanya

Scientists have studied grape seed for the following health problems: Natural Antioxidants Studies have found grape seed to be one of the best antioxidant, which may help prevent or relieve symptoms of certain conditions, such as vision problems associated with diabetes and wound healing. The safety of long-term use of grape seed is unknown, and more studies are needed to provide definitive answers. Cardiovascular Heart Health Studies suggest grape seed may help improve blood circulation, prevent atherosclerosis (clogging of the arteries), lower blood pressure and improve blood cholesterol levels. Some

research shows that consumption of grape seed and grape skin in combination, such as in red wine, grape juice or a commercially available vitamin supplement products, may be more beneficial than grape seed alone. Further research is needed. Retinopathy and High Blood Pressure Several small studies suggest that grape seed may slow the progression of retinopathy (damage to the retina caused by diabetes or high blood pressure). Further research is needed in this area. Swelling after surgery or after an injury Some studies suggest that taking grape seed may decrease swelling that occurs after surgery or after an injury. Further research is needed in this area. Sun Exposure protection A small study of healthy female volunteers suggests that Seresis, a pill containing grape seed extract in combination with other ingredients, may help to reduce the severity of a sunburn. Seresis contains carotenoids (beta-carotene and lycopene), vitamins C and E, selenium and proanthocyanidines, the proposed active ingredient in grape seed extract. Further research is needed to confirm these results. Other Antioxidant Scientic Studies and Research Grape seed has been studied for the treatment of pancreatitis, cancer, varicose veins, attention deficit hyperactivity disorder and premenstrual syndrome. There is some evidence that a commercial form of grape seed called Activin may help reduce the inflammatory response in patients with systemic sclerosis. There are no clear answers in these areas, and more research is needed. Unproven but Repoted Uses Grape seed has been suggested for many other uses, based on tradition or on scientific theories. However, these uses have not been thoroughly studied in humans, and there is limited scientific evidence about safety or effectiveness. Some of these suggested uses are for conditions that are potentially serious and even life-threatening. You should consult a health care provider before using grape seed for any unproven use. Anti-Aging AIDS Alzheimer's disease Antiviral

Arthritis Asthma Astringent Bleeding Bruising Cellulite Cholera Chronic fatigue syndrome Connective tissue disorders Constipation Corneal ulcers Cough Degenerative diseases of the eye Dental cavities Diabetic neuropathy Diarrhea Enzyme function Excessive weight loss Eye infection Eye irritation Genetic mutations Glaucoma Hay fever Hemorrhoids

HIV Immune system boosting Impaired night vision Improved insulin sensitivity Increased urination Inflammation Intestinal dysfunction Kidney protection Liver cirrhosis Liver protection Macular degeneration Menstrual cramps Nausea Parkinson's disease Protection against toxins (such as chemotherapeutic agents) Psoriasis Respiratory tract infection prevention Scurvy Seasonal allergies Shock Skin care aging Skin irritation Smallpox

Sore throat Stomach and intestinal ulcers Telangiectasia (broken capillaries showing on the skin) Potential Grape Seed Dangers and Side Effects Allergies Individuals allergic to grapes should not take grape seed. There are at least two published cases of allergic reaction to the active compounds found in grape seed. Side Effects Many experts consider grape seed to be safe, with few reports of side effects. The most common complaints include dry, itchy scalp; headache; dizziness and nausea. In theory, grape seed may increase the risk of bleeding. You may need to stop taking grape seed before some surgeries; discuss this with your health care provider. Pregnancy And Breast-Feeding Grape seed use during pregnancy and breast-feeding has not been studied and cannot be recommended. Interactions Interactions with drugs, supplements and other herbs have not been thoroughly studied. The interactions listed below have been reported in scientific publications. If you are taking prescription drugs, speak with your health care provider or pharmacist before using herbs or dietary supplements. Interactions With Drugs In theory, grape seed may increase the risk of bleeding when used with anticoagulants (blood thinners) or antiplatelet drugs. Examples include warfarin (Coumadin), heparin and clopidogrel (Plavix). Some pain relievers may also increase the risk of bleeding if used with grape seed. Examples include aspirin, ibuprofen (Motrin, Advil) and naproxen (Naprosyn, Aleve, Anaprox). Grape seed may interact with prescription drugs, such as angiotensin-converting enzyme inhibitors, methotrexate, allopurinol and cholesterol-lowering drugs. There is evidence that grape seed may interfere with the way the liver breaks down certain drugs. As a result, grape seed may cause the levels of drugs in the body to be too high, leading to serious side effects. If you are taking prescription drugs, ask your health care provider for advice before you take grape seed. Interactions With Herbs And Dietary Supplements In theory, grape seed may increase the risk of bleeding when also taken with other products that are believed to increase the risk of bleeding.

Examples include Ginkgo biloba and garlic (Allium sativum). In theory, grape seed may excessively lower cholesterol levels in the blood if also taken with herbs and supplements that lower cholesterol levels, such as red yeast. Grape seed may also increase the blood levels of herbs processed by the liver, such as chasteberry (Vitex agnus-castus). There is some evidence that grape seed may enhance the effectiveness of vitamin C and vitamin E. Grape Seed Vitamin Supplement Dosage The doses listed below are based on scientific research, publications or traditional use. Because most herbs and supplements have not been thoroughly studied or monitored, safety and effectiveness may not be proven. Brands may be made differently, with variable ingredients even within the same brand. Combination products often contain small amounts of each ingredient and may not be effective. Grape seed extract may be standardized to contain 40 percent to 80 percent proanthocyanidins or 95 percent polyphenols per dose. (cellhealthmakeover.com) tidak ada komentar

Khasiat Madu Lebah Menurut AL-Qur'an Dan Hadis

Jun 23, '07 9:57 AM untuk semuanya

Selaras dengan perkembangan dunia yang semakin canggih, dunia perubatan juga semakin maju berbanding dengan cara perubatan dahulu. Oleh itu rawatan-rawatan tertumpu kepada cara moden di hospital-hospital yang cukup dengan segala kemudahan dan kepakaran. Namun begitu berubat mengikut saranan al-Qur'an dan hadis masih tetap mengambil tempat di dalam kehidupan masyarakat Islam. Menurut Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam setiap penyakit itu pasti ada ubatnya. Sabda Baginda : Maksudnya : "Berubatlah, maka sesungguhnya Allah tidak meletakkan penyakit kecuali Allah menyediakan baginya ubat, kecuali satu penyakit,yaitu tua" ( Hadis riwayat Abu Daud) Beberapa kajian telah diusahakan yang tertumpu kepada bahan-bahan semulajadi daripada tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Begitu juga dengan madu lebah kerana dalam al-Quran sendiri telah menggariskan pelbagai pengajaran dan maklumat penjagaan diri daripada pelbagai

penyakit, maupun kesihatan jasad atau rohani agar kita dapat mengerjakan segala perintah Allah dengan teratur. Firman Allah dalam surah an-Nahl:

(Surah An-NAhl: 69). Tafsirnya: "Kemudian makanlah daripada setiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan. Daripada perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat ubat menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang memikirkan." Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam juga ada berpesan agar seseorang itu berubat dengan madu dan al-Qur'an, Baginda bersabda:

Maksudnya: "Ambillah / pergunakanlah olehmu sekalian akan dua ubat penyembuh yaitu madu dan al-Qur'an." (Hadis riwayat Ibnu Majah) Daripada hadis tersebut ternyata madu mempunyai keistimewaan yang tersendiri dengan nilainilai utama dalam ilmu kesihatan, yang mempunyai zat-zat besi dan vitamin yang kuat. Di samping itu madu juga dianggap penting kerana memenuhi keperluan tubuh dan cepat memberi tenaga. Mereka yang mengetahui akan khasiat madu akan menggunakannya secara rutin, hal ini bukan hanya teori tetapi telah dibuktikan daripada beberapa kajian yang telah dilakukan di mana jika ianya diamalkan setiap hari akan mencegah daripada pelbagai penyakit dan memberi tenaga yang cukup. Di samping itu madu juga seringkali digunakan untuk sampingan sarapan pagi agar tenaga segera siap digunakan dalam menjalankan kerja harian. Madu juga memiliki aroma enak yang meningkatkan selera, sepertimana Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam juga mengamalkannya. Diperkuatkan dengan hadis baginda yang berbunyi:

Maksudnya: "Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menjilat madu sebanyak tiga kali pagi pada setiap bulan, maka dia tidak akan terkena cubaan yang besar." Di samping itu dengan memakan madu juga boleh menyembuhkan batuk-batuk yang menganggu dan boleh mencegah daripada kekejangan pada otot tubuh khususnya pada bahagian kaki. Dalam perubatan tradisional, madu telah dimanfaatkan untuk menahan luka-luka terbakar pada kulit. Jika diusapkan madu akan dapat mengurangi rasa sakit yang menyengat dan mencegah pembentukan lepuh (melecur) dan cepat sekali menyembuhkan kawasan yang terbakar. Di samping itu banyak lagi penyakit yang boleh sembuh misalnya hidung tersumbat, anak yang kencing malam dan sesuai untuk kanak-kanak damit yang baru lahir. Dalam al-Qur'an, hadis-hadis yang disebutkan dan amalan perubatan tradisional, madu mempunyai keistimewaannya yang tersendiri. Adalah menjadi suatu amalan yang baik menjadikan madu sebagai ubat dan penjagaan kesihatan. (permai1.tripod.com) tidak ada komentar

Khasiat Alami Buah Jeruk

Jun 23, '07 9:46 AM untuk semuanya

Tahukah Anda, vitamin C yang terkandung dalam jeruk tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga untuk kecantikan kulit? Vitamin C kini dikenal sebagai anti-oksidan yang sangat kuat, yaitu suatu zat yang dapat melawan radikal bebas. Vitamin C dalam peranannya sebagai anti-oksidan, selain melindungi kulit dari pengaruh buruk radikal bebas, juga memperkuat sel-sel kulit, sehingga sel-sel kulit dapat lebih cepat memperbaiki jaringan yang rusak karena pengaruh radikal bebas tersebut. Selain itu, vitamin C juga meningkatkan produksi kolagen pada kulit sehingga elastisitas kulit pun terjaga. Proses ini disebut dengan proses regenarasi kulit.

Kandungan asam yang terdapat pada vitamin C juga mampu menipiskan tumpukan kulit mati yang menimbun kulit. Dengan menipisnya kulit mati ini, penyumbatan pori-pori juga berkurang. Hal ini terutama baik untuk jenis kulit berminyak/berjerawat. Inilah beberapa kegunaan lain jeruk bagi Anda selain untuk dimakan. 1. Mandi Wangi jeruk yang menyegarkan membuat semangat Anda timbul. Hal ini sangat berguna di pagi hari ketika Anda merasa lemas dan tidak bersemangat. Mandilah dengan menggunakan sabun maupun shower gel beraroma jeruk. Aroma lime, atau jeruk nipis, misalnya, sangat baik untuk membangkitkan semangat. Sebaliknya, jika Anda merasa lelah seusai beraktivitas sehari penuh, wewangian jeruk dapat membantu Anda menenangkan dan menyamankan tubuh. Cobalah berendam dengan air mandi yang ditetesi minyak esensial sitrun. Berendamlah dan hirup aromanya yang menenangkan tersebut. 2. Terapi Aroma Anda merasa lesu karena udara yang panas? Tengangkan pikiran Anda dan cobalah melakukan latihan pernapasan sambil memejamkan mata dan menghirup aroma esensial campuran antara tiga tetes orange oil dan dua tetes citrus oil. Campur minyak ini dengan sedikit air dan panaskan. Uap yang tercipta akan menyegarkan serta mendamaikan perasaan. 3. Highlight Alami Ingin mendapatkan highlight rambut secara alami? Sisirkan beberapa helai rambut dengan sari jeruk lemon, kemudian berjemurlah di bawah matahari. Helaian rambut yang dibubuhi sari jeruk lemon tersebut lambat laun akan berubah warnanya menjadi lebih muda sehingga tampak seperti highlight. Jangan lakukan cara ini jika rambut Anda tergolong kering atau rapuh. 4. Menyejukkan Kulit Kepala Di hari yang sangat panas, cobalah cara berikut untuk menyejukkan kepala Anda. Buat campuran tonik rambut dengan sari jeruk nipis atau lemon. Simpan di lemari es sampai terasa sejuk, kemudian gunakan pada kepala dan pijit-pijitkan dengan gerakan memutar. Selain dapat menyejukkan kulit kepala, cara ini juga membantu Anda untuk mengendalikan ketombe. 5. Mengatasi Masalah Kaki Potongan jeruk, terutama jeruk sitrun maupun lemon, dapat membantu Anda mengatasi masalah kaki membengkak, terutama jika terlalu lelah. Bersihkan dan seka kaki hingga bersih, lalu rendam dalam air hangat yang ditetesi Citrus oil maupun Lemon oil. Bisa juga Anda menaruh potongan-potongan lemon segar pada air rendaman tersebut, atau mengompres kaki dengan potongan buah tersebut.

6. Menghaluskan Kulit Anda merasa terganggu dengan kulit yang kasar mengeras dan berwarna kehitaman? Buah lemon atau jeruk nipis dapat membantu mengatasi masalah ini. Gosoklah bagian yang mengeras dengan batu apung atau scrub. Kemudian, gosokkan potongan lemon pada bagian yang mengeras. Sesudahnya gunakan pelembab. Lakukan hal ini dengan teratur untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. (astaga.com) tidak ada komentar

Jun 23, '07 8:50 AM untuk semuanya Juicy and sweet and renowned for its concentration of vitamin C, oranges make the perfect The Orange Benefits

snack and add a special tang to many recipes; it is no wonder that they are one of the most popular fruits in the world. Oranges are generally available from winter through summer with seasonal variations depending on the variety. Oranges are round citrus fruits with finely-textured skins that are, of course, orange in color just like their pulpy flesh; the skin can vary in thickness from very thin to very thick. Oranges usually range from approximately two to three inches in diameter. Oranges' Healing Phytonutrients In recent research studies, the healing properties of oranges have been associated with a wide variety of phytonutrient compounds. These phytonutrients include citrus flavanones (types of flavonoids that include the molecules hesperetin and naringenin), anthocyanins, hydroxycinnamic acids, and a variety of polyphenols. When these phytonutrients are studied in combination with oranges' vitamin C, the significant antioxidant properties of this fruit are understandable. But it is yet another flavanone in oranges, the herperidin molecule, which has been singled out in phytonutrient research on oranges. Arguably, the most important flavanone in oranges, herperidin has been shown to lower high blood pressure as well as cholesterol in animal studies, and to have strong anti-inflammatory properties. Importantly, most of this phytonutrient is found in the peel and inner white pulp of the orange, rather than in its liquid orange center, so this beneficial compound is too often removed by the processing of oranges into juice. A Healthy Dose of Vitamin C for Antioxidant Protection and Immune Support

You may already know that oranges are an excellent source of vitamin C-just one orange supplies 116.2% of the daily value for vitamin C-but do you know just how important vitamin C and oranges are for good health? Vitamin C is the primary water-soluble antioxidant in the body, disarming free radicals and preventing damage in the aqueous environment both inside and outside cells. Inside cells, a potential result of free radical damage to DNA is cancer. Especially in areas of the body where cellular turnover is especially rapid, such as the digestive system, preventing DNA mutations translates into preventing cancer. This is why a good intake of vitamin C is associated with a reduced risk of colon cancer. Free radical damage to other cellular structures and other molecules can result in painful inflammation, as the body tries to clear out the damaged parts. Vitamin C, which prevents the free radical damage that triggers the inflammatory cascade, is thus also associated with reduced severity of inflammatory conditions, such as asthma, osteoarthritis, and rheumatoid arthritis. Free radicals also oxidize cholesterol. Only after being oxidized does cholesterol stick to the artery walls, building up in plaques that may eventually grow large enough to impede or fully block blood flow, or rupture to cause a heart attack or stroke. Since vitamin C can neutralize free radicals, it can help prevent the oxidation of cholesterol. Vitamin C, which is also vital for the proper function of a healthy immune system, is good for preventing colds and may be helpful in preventing recurrent ear infections. A Glass of Orange Juice More Protective than Vitamin C Alone Consuming vitamin C supplements does not provide the same protective benefits as drinking a glass of orange juice, shows research by Italian researchers in the Division of Human Nutrition at the University of Milan, Italy (Guarnieri S, Riso P, et al., British Journal of Nutrition). Seven healthy test subjects were given each of three drinks, two weeks apart: blood-orange juice containing 150 milligrams of vitamin C, fortified water containing 150 milligrams of vitamin C, and a sugar and water solution containing no vitamin C. Blood samples were collected immediately before the drink was consumed, then every hour for 8 hours, and finally 24 hours after consumption of each drink. Blood samples were exposed to hydrogen peroxide, and free radical damage to DNA was evaluated at 3 and 24 hours. Only when orange juice was consumed was any protective effect seen. After drinking orange juice, DNA damage was 18% less after 3 hours, and 16% less after 24 hours. No protection against DNA damage was seen after consumption of the vitamin C fortified drink or the sugar drink. While another study, which looked at much larger quantities of vitamin C, did show a protective effect from the vitamin alone, this research indicates that not only is the protection afforded by fruit more complex, but smaller amounts of nutrients like vitamin C are all that are needed for benefit. Said lead researcher, Serena Guarnieri, "It appears that vitamin C is not the only chemical responsible for antioxidant protection." In oranges, vitamin C is part of a matrix involving many beneficial phytochemicals (for example, cyanidin-3-glucoside, flavanones and carotenoids)..

"But how they are interacting is still anyone's guess," she added. Fortunately, we don't have to wait until scientists figure this out to receive oranges' DNA-protective benefits. Practical Tip: For the best DNA protection, skip the vitamin C-fortified bottled drinks and enjoy a glass of real (preferably organic as organic foods have been shown to contain higher amounts of phytonutrients), freshly squeezed orange juice - or simply eat an orange! Owing to the multitude of vitamin C's health benefits, it is not surprising that research has shown that consumption of vegetables and fruits high in this nutrient is associated with a reduced risk of death from all causes including heart disease, stroke and cancer. Protection against Cardiovascular Disease A 248-page report, "The Health Benefits of Citrus Fruits," released December 2003 by Australian research group, CSIRO (The Commonwealth Scientific and Industrial Research), reviews 48 studies that show a diet high in citrus fruit provides a statistically significant protective effect against some types of cancer, plus another 21 studies showing a non-significant trend towards protection. Citrus appears to offer the most significant protection against esophageal, orophayngeal/laryngeal (mouth, larynx and pharynx), and stomach cancers. For these cancers, studies showed risk reductions of 40 - 50%. The World Health Organization's recent draft report, "Diet, Nutrition and the Prevention of Chronic Disease," concludes that a diet that features citrus fruits also offers protection against cardiovascular disease due to citrus fruits' folate, which is necessary for lowering levels of the cardiovascular risk factor, homocysteine; their, potassium, which helps lower blood pressure, protecting against stroke and cardiac arrhythmias; and the vitamin C, carotenoids and flavonoids found in citrus fruits, all of which have been identified as having protective cardiovascular effects. One large US study reviewed in the CSIRO report showed that one extra serving of fruit and vegetables a day reduced the risk of stroke by 4%, and this increased by 5-6 times for citrus fruits, reaching a 19% reduction of risk for stroke from consuming one extra serving of citrus fruit a day. The CSIRO Report also includes evidence of positive effects associated with citrus consumption in studies for arthritis, asthma, Alzheimer's disease and cognitive impairment, Parkinson's disease, macular degeneration, diabetes, gallstones, multiple sclerosis, cholera, gingivitis, optimal lung function, cataracts, ulcerative colitis and Crohn's disease. Finally, the CSIRO Report notes that as low fat, nutrient-rich foods with a low glycemic index, citrus fruits are protective against overweight and obesity, conditions which increase the risk of heart disease, certain cancers, diabetes, high blood pressure and stroke, and add to symptoms of other conditions like arthritis.

An orange has over 170 different phytonutrients and more than 60 flavonoids, many of which have been shown to have antiinflammatory, anti-tumour and blood clot inhibiting properties, as well as strong antioxidant effects. Phytonutrients, specifically, the class of polyphenols, are high in citrus with oranges containing 84mg Gallic Acid equivalents/100mg. The polyphenols so abundant in oranges have been shown to have a wide range of antioxidant, anti-viral, anti-allergenic, anti-inflammatory, antiproliferative and anti-carcinogenic effects. Although most of the research has centered on citrus polyphenols' possible role in cancer and heart disease, more recently, scientists have begun to look at their role in brain functions such as learning and memory. An increasing number of studies have also shown a greater absorption of the nutrients in citrus when taken not as singly as supplements, but when consumed within the fruit in which they naturally appear along with all the other biologically active phytonutrients that citrus fruits contain. The Health Benefits of Citrus Fruits," released December 2003 by Australian research group, CSIRO (The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization. If you would like to read more, click CSIRO. Long-Acting Liminoids in Citrus Add to Their Ability to Promote Optimal Health In animal studies and laboratory tests with human cells, compounds in citrus fruits, including oranges, called limonoids have been shown to help fight cancers of the mouth, skin, lung, breast, stomach and colon. Now, scientists from the US Agricultural Research Service have shown that our bodies can readily absorb and utilize a very long-acting limonoid called limonin that is present is citrus fruits in about the same amount as vitamin C. In citrus fruits, limonin is present in the form of limonin glucoside, in which limonin is attached to a sugar (glucose) molecule. Our bodies easily digest this compound, cleaving off the sugar and releasing limonin. In the ARS study, 16 volunteers were given a dose of limonin glucoside in amounts ranging from those that would be found in from 1 to 7 glasses of orange juice. Blood tests showed that limonin was present in the plasma of all except one of the subjects, with concentrations highest within 6 hours after consumption. Traces of limonin were still present in 5 of the volunteers 24 hours after consumption! Limonin's bioavailability and persistence may help explain why citrus limonoids are potent anticarcinogens that may continuously prevent cancerous cells from proliferating. Other natural anticarcinogens are available for much less time; for example, the phenols in green tea and chocolate remain active in the body for just 4 to 6 hours. Possible Cholesterol-Lowering Benefits The ARS team is now investigating the potential cholesterol-lowering effects of limonin. Lab tests indicate that human liver cells produce less apo B when exposed to limonin. Apo B is a

structural protein that is part of the LDL cholesterol molecule and is needed for LDL production, transport and binding, so higher levels of apo B translate to higher levels of LDL cholesterol. Compounds in Orange Peel May Lower Cholesterol as Effectively as Statin Drugs A class of compounds found in citrus fruit peels called polymethoxylated flavones (PMFs) have the potential to lower cholesterol more effectively than some prescription drugs, and without side effects, according to a study by U.S. and Canadian researchers that was published in the Journal of Agricultural and Food Chemistry. In this study, when laboratory animals with diet-induced high cholesterol were given the same diet containing 1% PMFs (mainly tangeretin), their blood levels of total cholesterol, VLDL and LDL (bad cholesterol) were reduced by 19-27 and 32-40% respectively. Comparable reductions were also seen when the animals were given diets containing a 3% mixture of two other citrus flavonones, hesperidin and naringin. Treatment with PMFs did not appear to have any effect on levels of beneficial HDL cholesterol, and no negative side effects were seen in the animals fed the PMF-containing diets. Although a variety of citrus fruits contain PMFs, the most common PMFs, tangeretin and nobiletin, are found in the peels of tangerines and oranges. Juices of these fruits also contain PMFs, but in much smaller amounts. In fact, you'd have to drink about 20 glasses of juice each day to receive an amount of PMFs comparable in humans to that given to the animals. However, grating a tablespoon or so of the peel from a well-scrubbed organic tangerine or orange each day and using it to flavor tea, salads, salad dressings, yogurt, soups, or hot oatmeal, buckwheat or rice may be a practical way of achieving some cholesterol-lowering benefits. The researchers are currently exploring the mechanism of action by which PMFs lower cholesterol. Based on early results in cell and animal studies, they suspect that PMFs work like statin drugs, by inhibiting the synthesis of cholesterol and triglycerides inside the liver. A Very Good Source of Fiber Oranges' health benefits continue with their fiber; a single orange provides 12.5% of the daily value for fiber, which has been shown to reduce high cholesterol levels thus helping to prevent atherosclerosis. Fiber can also help out by keeping blood sugar levels under control, which may help explain why oranges can be a very healthy snack for people with diabetes. In addition, the natural fruit sugar in oranges, fructose, can help to keep blood sugar levels from rising too high after eating. The fiber in oranges can grab cancer-causing chemicals and keep them away from cells of the colon, providing yet another line of protection from colon cancer. And the fiber in oranges may be helpful for reducing the uncomfortable constipation or diarrhea in those suffering from irritable bowel syndrome. In addition to oranges' phytonutrients, vitamin C and fiber, they are a good source of thiamin, folate, vitamin A (in the form of beta-carotene), potassium and calcium. Prevent Kidney Stones

Want to reduce your risk of calcium oxalate kidney stones? Drink orange juice. A study published in the British Journal of Nutrition found that when women drank to 1 litre of orange, grapefruit or apple juice daily, their urinary pH value and citric acid excretion increased, significantly dropping their risk of forming calcium oxalate stones. Help Prevent Ulcers and Reduce Risk for Stomach Cancer An orange a day may help keep ulcers away, according to a study published in the Journal of the American College of Nutrition. In this study, researchers evaluated data from over 6,000 adults enrolled in the Third National Health and Nutrition Examination Survey. Study participants with the highest blood levels of vitamin C had a 25% lower incidence of infection with Helicobacter pylori (H. pylori), the bacterium responsible for causing peptic ulcers and in turn, an increased risk for stomach cancer. Researchers are uncertain whether H. pylori lowers blood levels of vitamin C or if high blood levels of vitamin C help protect against infection-either way, eating an orange or drinking a glass of orange juice each day may help prevent gastric ulcers. Lead researcher in this study, Dr. Joel A. Simon at the San Francisco VA Medical Center, urges people who have tested positive for H. pylori to increase their consumption of vitamin C-rich foods since this may help them combat H. pylori infection. Protect Respiratory Health Consuming foods rich in beta-cryptoxanthin, an orange-red carotenoid found in highest amounts in oranges, corn, pumpkin, papaya, red bell peppers, tangerines, and peaches, may significantly lower one's risk of developing lung cancer. A study published in the September 2003 issue of Cancer Epidemiology, Biomarkers and Prevention reviewed dietary and lifestyle data collected from over 60,000 adults in Shanghai, China. Those eating the most crytpoxanthin-rich foods showed a 27% reduction in lung cancer risk. When current smokers were evaluated, those who were also in the group consuming the most cryptoxanthin-rich foods were found to have a 37% lower risk of lung cancer compared to smokers who ate the least of these health-protective foods. Protection Against Rheumatoid Arthritis New research published in the American Journal of Clinical Nutrition adds to the evidence that enjoying a daily glass of freshly squeezed orange juice can significantly lower your risk of developing rheumatoid arthritis. Data collected by the European Prospective Investigation of Cancer Incidence (EPIC)-Norfolk study, a population-based, prospective study of over 25,000 subjects, showed that study participants with the highest daily intake of the carotenoids, zeaxanthin and -cryptoxanthin, had a much lower risk of developing rheumatoid arthritis compared to individuals consuming the least of these beneficial phytonutrients. Those whose intake of zeaxanthin was highest were 52% less likely to develop rheumatoid arthritis, while those with the highest intake of cryptoxanthin had a 49% reduction in risk. Pretty dramatic benefits for doing something as simple as enjoying a glass of freshly squeezed orange juice each day! (whfoods.org)

tidak ada komentar

How An Orange A Day Can Help Ward Off Stroke And Cancer

Jun 23, '07 8:00 AM untuk semuanya

Why is an orange good for you? Everyone knows about the high vitamin C content and the natural fibre. But oranges (and other citrus fruits) also contain folic acid, betacarotene, potassium, selenium, antioxidants, and plenty of phytochemicals, the bioactive compounds in plant foods that help nutrients boost the immune system. Citrus fruits also have a low glycemic index, which make them excellent nutrition for diabetics. Knowing this, the Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) of Australia conducted an extensive review of 48 international studies of citrus fruits. Among the conclusions revealed by the combined data: * Those with the highest intake of citrus fruits reduced their risk of stomach, mouth, oesophageal, and larynx cancers by as much as 40 to 50 percent * One additional serving of citrus fruit each day (beyond the recommended five servings of fresh fruits and vegetables) may reduce the risk of stroke by nearly 20 percent * The combined studies (including the World Health Organisation's recent draft report on "Diet, Nutrition and the Prevention of Chronic Disease") reveal "convincing evidence" that cardiovascular diseases, diabetes, and obesity may be reduced with daily citrus fruit intake Commenting on the dramatic reduction of some cancer risks, CSIRO researcher Katrine Baghurst told Reuters news service that the inhibition of tumour growth and the normalising of tumour cells is most likely the result of the high antioxidant content of citrus fruits. Again: Not news, and no surprise really. But this new evidence serves as an irrefutable reminder of just how important it is for our diets to include as many fresh whole foods as possible especially citrus. The powerhouse Citrus fruits - and oranges in particular - deliver two highly favourable aspects of nutrition, which I've told you about in previous e-Alerts this year: flavinoids and water-soluble fibre. Flavinoid is a substance that gives fruits and vegetables their colour. It also performs a beneficial double duty as both antioxidant and anti-inflammatory.

(thehealthierlife.co.uk) tidak ada komentar

Keajaiban Lebah Madu

Jun 22, '07 6:47 PM untuk semuanya

Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (QS. An-Nahl, 16:68) Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan. Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah. Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui ilham dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas. Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung obat bagi manusia tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur'an: Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69)

Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini? Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon. Sebagaimana firman Allah, madu adalah obat yang menyembuhkan bagi manusia. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya. (harunyahya.com) tidak ada komentar

Manfaat Pisang Untuk Kesehatan

Jun 22, '07 6:00 PM untuk semuanya

Secara umum, kandungan gizi yang terdapat dalam setiap buah pisang matang adalah sebagai berikut: kalori 99 kalori, protein 1,2 gram, lemak 0,2 gram, karbohidrat 25,8 miligram (mg), serat 0,7 gram, kalsium 8 mg, fosfor 28 mg, besi 0,5 mg, vitamin A 44 RE, Vitamin B 0,08 mg, Vitamin C 3 mg dan air 72 gram. Berbagai kandungan vitamin, mineral, karbohidrat dan sedikit lemak dari pisang, memberikan kemanfaatan yang besar untuk kebutuhan medis. Anemia : Kandungan besi yang cukup tinggi pada pisang dapat menstimulasi produksi hemoglobin dalam darah untuk membantuk kasus anemia. Tekanan Darah: Buah tropis ini secara ekstrim memiliki kandungan potasium tinggi tetapi rendah garam, menjadikan pisang makanan yang bagus untuk membantu penurunan tekanan

darah. Lembaga Food and Drug Administration Amerika memperbolehkan pengusaha pisang untuk membuat klaim bahwa pisang dapat mengurangi resiko tekanan darah dan stroke. Kekuatan Otak : 200 pelajar sekolah Inggris terbantu menyelesaikan ujian akhir dengan makan pisang pada saat sarapan, istirahat dan makan siang karena pisang meningkatkan kekuatan otak. Riset juga menunjukkan kandungan potasium pada pisang membuat pupil lebih aktif sehingga membantu proses belajar. Konstipasi : Pisang tinggi serat, sehingga membantu proses pencernaan dan mengatasi sembelit tanpa harus memakai obat pencahar. Depresi: Berdasarkan survey MIND kepada pasien penderita depresi, menunjukkan pasien merasa lebih baik setelah mengkonsumsi pisang. Ini disebabkan pisang mengandung tryptophan yaitu suatu tipe protein yang diubah oleh tubuh menjadi serotonin yang membuat efek relax, memperbaiki mood dan secara umum membuah perasaan bahagia. Panas Dalam: Pisang memiiki efek antacid alami dalam tubuh, jadi kalau anda menderita panas dalam cobalah mengkonsumi pisang untuk memicu penyembuhan. Morning Sickness: Ngemil pisang untuk ibu hamil membantu menjaga kadar gula darah sehingga mengurangi morning sickness. Gigitan nyamuk: Sebelum mengoleskan krim gigitan serangga, cobalah mengoleskan bagian dalam kulit pisang ke daerah gigitan. Banyak orang membuktikan manfaatnya untuk mengurangi benjolan dan iritasi akibat gigitan. Syaraf : Pisang mengandung vitamin B tinggi yang membantu menenangkan sistem syaraf. Kelebihan berat badan dan stressing pekerjaan: Riset di Institute of Psychologi Austria menemukan bahwa tekanan selama bekerja meninggi jika mengkonsumsi makanan seperti coklat dan snack krispi secara berlebihan. Pada 5000 pasien rumah sakit, peneliti menemukan pasien paling obesitas rata-rata berada dalam pekerjaan dengan tekanan. Laporan riset menyimpulkan, untuk menghindari kepanikan yang mendorong rakus menkonsumsi makanan, kita perlu mengendalikan kadar gula darah dengan ngemil makanan tinggi karbohidrat setiap dua jam, dan pisang salah satu makanan yang sesuai. PMS: Lupa minum pil PMS? makanlah pisang. Kandungan vitamin B6 mengatur kadar gula darah, yang dapat mempengaruhi mood. Seasonal Affective Disorder (SAD): Pisang membantu penderita SAD karena mempunyai kandungan trypotophan. Stres: Potasium dalam pisang merupakan mineral vital, yang membantu menormalkan detak jantung, mengirim oksigen ke otak dan mengatur keseimbangan kadar air dalam tubuh. Ketika stres, metabolisme tubuh meningkat drastis sehingga mengurangi kadar potasium tubuh. Mengkonsumsi pisang dapat menyeimbangkan kembali kadar potasium tubuh.

Stroke: Berdasarkan riset The New England Journal of Medicine, mengkonsumsi pisang sebagai konsumsi harian menurunkan resiko kematian akibat stroke hingga 40%. Mengontrol Temperatur: Di beberapa negara, pisang dipandang sebagai makanan pendingin yang dapat menurunkan temperatur fisik dan emosional ibu hamil. Di Thailand contohnya, ibu hamil mengkonsumsi pisang untuk memastikan bayi lahir dengan temperatur sejuk. Maag: Pisang digunakan sebagai makanan untuk melawan kerusakan usus karena teksturnya yang lembut Pisang adalah satu-satunya buah yang dapat dikonsumsi langsung tanpa membahayakan pasien iritasi atau kerusakan usus. Pisang juga menetralkan kelebihan asam dan mengurangi iritasi dengan melapisi perut. (HalalGuide.Info) tidak ada komentar

Apel, Mengatasi Beragam Penyakit

Jun 21, '07 11:58 AM untuk semuanya

MAKANLAH apel setiap hari dan tubuh akan terhindar dari penyakit". Demikian makna peribahasa Inggris, "An apple a day keeps the doctor away". Di negara-negara maju, seperti di Amerika dan Eropa, kalimat ini bukan saja sangat populer, tapi juga diyakini masyarakatnya, dengan mengonsumsi sebutir apel sehari, seseorang akan tetap sehat. Bukan hanya penyakit ringan seperti flu dan diare yang bisa ditangkal dengan apel, tapi juga kanker, serangan jantung dan stroke. Luar biasa bukan?Di dalam buah 'meja' ini terkandung banyak sekali zat yang bersifat mencegah atau menyembuhkan sejumlah penyakit. Tak heran, di berbagai negara maju, termasuk Amerika Serikat diproduksi obat yang disebut 'pil apel'. Menurut para ilmuwan, salah satu kandungan zat dalam buah apel mampu mengatasi insomnia. Christoph Hufeland, pakar obat-obatan alamiah, senantiasa menganjurkan pasien insomnia rajin makan apel. Banyak bukti, para penderita insomnia bisa tidur nyenyak setelah mengonsumsi apel. Hal ini dimungkinkan karena dalam buah apel terdapat mineral magnesium plus kalsium yang berkhasiat sebagai obat penenang alami. Dampaknya memang sangat positif, sebab selagi kita tidur, tubuh secara otomatis akan mereparasi seluruh sel yang telah aus, rusak atau yang mati, sehingga peredaran darah lancar dan tubuh menjadi kuat kembali. Peneliti dari Amerika, Prof.Dr. Ancel Keys mengatakan, zat yang terkandung dalam apel mampu mengatur pembagian gula darah dalam tubuh, sehingga orang dapat tidur nyenyak setelah

memakannya. Peneliti lain, Dr. Jeffry S. Hyams berpendapat, zat yang terkandung dalam apel mengatur perkembangan bakteri dalam usus, sehingga peredaran darah menjadi lancar dan pertahanan tubuh menjadi kuat. Sementara Prof. Josef Jagic dari Wina berpendapat, zat yang terkandung dalam apel mampu melarutkan garam dan air yang berlebihan di dalam tubuh. Menurutnya, apel sangat cocok untuk pasien tekanan darah tinggi dan dapat mencegah sakit jantung. Sumber gizi dan obat

Pemahaman mengenai apel sebagai 'obat' sudah dikenal masyarakat sejak zaman baheula. Hipocrates, seorang dokter dari Yunani pada 460-377 SM, menganjurkan orang yang jantungnya lemah, usus dan ginjalnya bermasalah, supaya rajin makan apel. Para peneliti berpendapat, yang bertanggung jawab terhadap efek menyehatkan dari apel tidak lain adalah antioksidan. Para dokter dan ahli farmasi sepakat, dalam apel, selain terkandung vitamin juga terdapat zat pektin (serat alami) yang bersifat melindungi tubuh dari infeksi. Pektin adalah senyawa polisaccharida yang bisa larut dalam air dan membentuk cairan kental (jelly) yang disebut mucilage/mucilagines. Cairan ini dapat berfungsi sebagai pelindung yang melapisi selaput lendir lambung dan usus. Dinding lambung dan usus akan terlindungi bila terdapat luka, kuman atau toksin. Pektin juga dikenal sebagai antikolesterol. Bila berinteraksi dengan vitamin C dapat menurunkan kolesterol darah. Selain itu, pektin juga dapat menyerap kelebihan air dalam usus dan memperlunak feses, serta mengikat dan menghilangkan racun dalam isi usus. Karena itu, secara tidak langsung, apel bisa juga untuk mengobati penyakit mag, lambung dan diare. Manfaat lainnya, memperlambat reasorpsi dan menyerap lemak serta gula yang muncul setelah mengonsumsi karbohidrat. Karena penyerapan lemak itulah kadar kolesterol turun, penyakit darah tinggi pun dengan sendirinya diredam. Di samping itu buah apel hampir tanpa lemak dan kolesterol, sehingga cocok dimasukkan sebagai menu diet. Keluhan seperti sembelit pada orang diet tidak akan terjadi bila orang tersebut memasukan apel sebagai bagian dari menunya. Jenis dan khasiat

Di Indonesia beredar berbagai jenis apel. Ada apel impor, ada apel lokal. Namun, dari sekian banyak apel, hanya ada satu jenis apel yang diyakini memiliki khasiat obat. Yaitu jenis apel romebeauty yang berwarna hijau dengan semburat merah. Apel jenis ini biasa dikenal dengan nama apel Malang. Rasanya memang lebih masam dibandingkan apel jenis lainnya. Apel Malang banyak mengandung vitamin seperti vitamin A, B dan C serta mineral seperti belerang, zat besi, klor, fosfor, kalsium, magnesium, natrium, potassium dan silikon. Buah ini bisa digunakan untuk obat batuk, penghancur batu ginjal, melancarkan pencernaan, membersihkan tubuh dari racun dan mengobati peradangan di dalam tubuh. Apel mengandung 50% lebih banyak vitamin A dibandingkan jeruk. Vitamin ini berfungsi untuk

menyembuhkan influenza dan infeksi lainnya. Khasiat lainnya menjaga mata dalam kondisi baik dan mencegah kebutaan. Apel memiliki kandungan vitamin C dan B yang penting untuk mempertahankan kesehatan saraf. Vitamin C juga merupakan antioksidan dan berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh juga penting untuk pembentukan tulang dan gigi. Pada tahun 1978, Konowalchuck memublikasikan artikel berjudul Antiviral Effect of Apple Beverages. Ia menulis, sari buah apel sangat baik diminum untuk melawan berbagai serangan infeksi virus. Dalam buku lain, Natural Remedies, dosis apel yang bisa melindungi tubuh dari virus adalah tiga kali sehari satu buah atau segelas jus apel. Menurut penelitian US Apple Association pada tahun 1992, diberitakan apel mengandung boron yang membantu tubuh wanita mempertahankan kadar estrogen pada saat menopause. Gangguan penyakit pada saat menopause, seperti ancaman penyakit jantung dan kekeroposan tulang karena berkurangnya hormon estrogen, bisa dicegah dengan boron yang terkandung dalam apel. Penelitian lain mengungkapkan, apel kaya akan serat, fitokimia dan flavonoid. Bahkan menurut Institut Kanker Nasional Amerika Serikat, apel paling banyak mengandung flavonoid dibandingkan dengan buah-buahan lain. Zat ini, menurut laporan tersebut, mampu menurunkan risiko terkena penyakit kanker paru-paru sampai 50%. Fakta ini didukung sebuah penelitian lain di Welsh, Inggris yang menunjukkan konsumsi buah apel secara teratur akan membuat paru-paru berfungsi lebih baik. Selain itu, ada kabar baik untuk kaum pria, hasil penelitian Mayo Clinic, Rochester di Amerika Serikat yang dimuat dalam jurnal Carcinogenesis pada tahun 2001 membuktikan, kuersetin (quacertin), sejenis flavonoid yang terkandung dalam apel dapat membantu mencegah pertumbuhan sel kanker prostat. Kuersetin adalah salah satu zat aktif kelas flavonoid yang secara biologis amat kuat. Bila vitamin C memiliki aktivitas antioksidan 1, maka kuersetin memiliki aktivitas antioksidan 4,7. Fitokimia di dalam apel dapat berfungsi sebagai antioksidan yang melawan kolesterol 'jahat' (Low Density Lipoprotein/LDL) yang potensial menyumbat pembuluh darah. Antioksidan ini dapat mencegah kerusakan sel-sel atau jaringan pembuluh darah. Pada saat bersamaan, antioksidan akan meningkatkan kolesterol 'baik' (High Density Lipoprotein/HDL) yang bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung, pembuluh darah dan stroke. Secara spesifik pada sebuah penelitian awal, terbukti dalam apel ditemukan asam D-glucaric yang bermanfaat mengatur kadar kolesterol. Jenis asam ini mampu mengurangi kolesterol 'jahat' hingga 35%. Penelitian di Cornell University, AS membuktikan zat fitokimia yang terdapat pada apel bermanfaat menghambat pertumbuhan sel kanker usus sebesar 43%. Fitokimia lain pada apel yang memiliki aktivitas antikanker adalah asam elagat, asam kafeat, asam klorogenat dan glutation (glutathione). Asam elagat berperan sebagai "obat" antikanker generasi baru, dengan aksi utama melindungi kromosom dari kerusakan dan menghambat aksi dari banyak karsinogen

(bahan pencetus kanker), seperti asap rokok (dikenal secara kolektif sebagai polycylic aromatic hydrocarbons dan bahan-bahan kimia beracun seperti benzopyrene). Sementara glutation adalah bahan antikanker penting yang menangkal efek racun dari logam berat, seperti timah hitam. Zat tersebut juga dapat mengeliminasi pestisida dan bahan pelarut. Selain yang diterangkan di depan, banyak yang meyakini, makan buah apel membuat keringat lebih wangi. Di samping kandungan zat-zat yang telah disebutkan di atas, apel juga mengandung tannin berkonsentrasi tinggi. Tannin, seperti ditulis jurnal American Dental Association pada tahun 1998, mengandung zat yang dapat mencegah kerusakan gigi dan penyakit gusi yang disebabkan tumpukan plak. Tidak hanya itu, tannin juga berfungsi mencegah infeksi saluran kencing dan menurunkan risiko penyakit jantung. Nah, tunggu apalagi? Rajinlah mengunyah apel dalam waktu luang Anda.*** (Kabelan Kunia,Staf KPP Bioteknologi ITB. Peminat masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat, pikiran-rakyat.com) tidak ada komentar

Apples Really Are Good For You!

Jun 20, '07 9:42 PM untuk semuanya

Eating fresh apples is always good for you, but to get the full nutritional benefits associated with eating apples you should eat at least one fresh apple every day. The average U.S. consumer eats about 19 pounds of fresh apples a year about one apple per week. Ongoing consumer attitude tracking in nine major markets across the United States has shown that Washington apples remain number one as far as consumers are concerned. According to a one report, 56 percent of those surveyed named Washington as the brand they look for when buying apples. WHOLE-BODY HEALTH BENEFITS Lower blood cholesterol, improved bowel function, reduced risk of stroke, prostate cancer, type II diabetes and asthma. The disease-fighting profile of apples provides a multitude of health benefits, including a potential decreased risk of cancer and heart disease. Several recent studies suggest apples may provide a "whole-body" health benefit. A number of components in apples, most notably fiber and phytonutrients have been found in studies to lower blood cholesterol and improve bowel function, and may be associated with a

reduced risk of ischemic heart disease, stroke, prostate cancer, type II diabetes and asthma. Preliminary research from Finland indicates diets with the highest intake of apple phytonutrients were associated with a 46 percent reduction in the incidence of lung cancer. Findings indicate that two apples a day or 12 ounces of 100% apple juice reduced the damaging effects of the bad LDL cholesterol. - Interpoma 2002 Conference, Bolzano, Italy - Dianne Hyson, Ph.D., M.S., R.D., University of California-Davis CANCER PREVENTION Over the past four years, apple consumption has been linked with reduced cancer risk in several studies. A 2001 Mayo Clinic study indicated that quercetin, a flavonoid abundant in apples, helps prevent the growth of prostate cancer cells. A Cornell University study indicated phytochemicals in the skin of an apple inhibited the reproduction of colon cancer cells by 43 percent. The National Cancer Institute has reported that foods containing flavonoids like those found in apples may reduce the risk of lung cancer by as much as 50 percent. Carcinogenesis (March, 2001) Nature (June, 2000) Journal of the National Cancer Institute (January, 2000) HEALTHY LUNGS Two recent British studies indicated that eating apples can improve lung health. A study of Welsh men indicated that people who ate at least five apples per week experience better lung function. Researchers at the University of Nottingham reported that those who ate five apples per week also had a lower risk for respiratory disease. In the Netherlands at the University of Groningen, apples were singled out as a fruit that could cut smokers risk of COPD (chronic obstructive pulmonary disease) in half. Scientists believe antioxidants found in apples may ward off disease by countering oxygens damaging effects on the body. American Thoracic Society Meeting (May, 2001) Thorax (January, 2000) HEART DISEASE & STROKE PREVENTION A Finnish study published in 1996 showed that people who eat a diet rich in flavonoids have a lower incidence of heart disease. Other studies indicate that flavonoids may help prevent strokes. The British Medical Journal (1996)

WEIGHT LOSS Apples are a delicious source of dietary fiber, and dietary fiber helps aid digestion and promotes weight loss. A medium apple contains about five grams of fiber, more than most cereals. Also, apples contain almost zero fat and cholesterol, so they are a delicious snack and dessert food thats good for you. UC-DAVIS: APPLES ARE HEART-HEALTHY Researchers at the University of California-Davis recently reported that apples and apple juice may help protect arteries from harmful plaque build-up. In the first study conducted in humans, adults who added two apples, or 12 ounces of 100% apple juice, to their daily diet demonstrated a significant slowing of the cholesterol oxidation process that leads to plaque build-up - thereby giving the body more time to rid itself of cholesterol before it can cause harm. AGE-RELATED MEMORY IMPROVEMENT LINKED WITH CONSUMPTION OF APPLE PRODUCTS New Study Finds Consuming Apple Juice Associated With Brain Health In Older Animals LOWELL, MASS. (January 19, 2006) An apple a day now has new meaning for those who want to maintain mental dexterity as they age. New research from the University of Massachusetts Lowell suggests that consuming apple juice may protect against cell damage that contributes to age-related memory loss, even in test animals that were not prone to developing Alzheimers disease and other dementias. This new study suggests that eating and drinking apples and apple juice, in conjunction with a balanced diet, can protect the brain from the effects of oxidative stress and that we should eat such antioxidant-rich foods, notes lead researcher Thomas B. Shea, Ph.D ., director of the University of Massachusetts Lowells Center for Cellular Neurobiology and Neurodegeneration Research, whose study was just published in the latest issue of the Journal of Alzheimers Disease. Although more research is needed, Shea is excited about these brain health findings, which are encouraging for all individuals who are interested in staying mentally sharp as they age. Using a well-established animal protocol, Shea and his research colleagues assessed whether consumption of apple juice was protective against oxidative brain damage in aging mice, damage that can lead to memory loss. These newer findings show that there is something in apples and apple juice that protects brain cells in normal aging, much like the protection we previously saw against Alzheimer-like symptoms, says Shea. The researchers evaluated adult and aged mice using a standard diet, a nutrient-deficient diet, and a nutrient-deficient diet supplemented with apple juice concentrate in drinking water. Although the adult mice tested were not affected negatively by the deficient diets, the aged mice were, which is consistent with normal aging due to oxidative neurodegeneration. The effect on cognition among the aged mice was measured through well-established maze tests, followed by

an examination of brain tissue. However, the aged mice who consumed the diets supplemented with apple juice performed significantly better on the maze tests and all had less oxidative brain damage than those on the standard diet. Supplementation by apple juice fully protected the aged mice from the oxidative stress caused by the nutrient-deficient diet. In addition, stronger mental acuity resulted when the aged mice consumed the human equivalent of 2-3 cups of apple juice or approximately 2-4 apples per day. We believe that this effect is due to the apples naturally high level of antioxidants, states Shea. Previous research with his colleagues also determined that it is not the sugar and energy content of the apple juice, but the antioxidant attributes of apple juice that are responsible for the positive effects. This study was sponsored through an unrestricted grant by the U.S. Apple Association and the Apple Products Research and Education Council. The research abstract can be found at http://www.j-alz.com/issues/8/vol8-3.html. University of Massachusetts Lowell US: STUDY LINKS APPLES TO REDUCED RISK OF HEART DISEASE IN WOMEN American Heart Association new recommendations support increased fruit, vegetable consumption Apples may prove to be a winner when it comes to reducing the risk of heart disease, says a new study of more than 34,000 women. In this study, flavonoid-rich apples were found to be one of three foods (along with red wine and pears) that decrease the risk of mortality for both coronary heart disease (CHD) and cardiovascular disease (CVD) among post-menopausal women, The findings were published in the March 2007 American Journal of Clinical Nutrition. Women of all ages are encouraged to consume more fruit and vegetables, including apples and apple products, for heart health. However, this study focused on postmenopausal woman, a group becoming more aware of the risk for heart disease. Using a government database that assesses the flavonoid-compound content of foods, the researchers hypothesized that flavonoid intake (in general and from specific foods), might be inversely associated with mortality from CVD and CHD among the women in the study groupSubjects selected for this research analysis were postmenopausal and part of the ongoing Iowa Women's Health Study, each of which has been monitored for dietary intake and various health outcomes for nearly 20 years. As a result of the extensive analysis that considered what the women ate, the types of cardiovascular-related diseases they experienced, and the overall flavonoid content of an extensive list of foods, the researchers concluded that consumption of apples, pears and red wine were linked with the lowest risk for mortality related to both CHD and CVD (not just one or the other).

"Flavonoids are compounds found in small quantities in numerous plant foods, including fruits and vegetables, tea, wine, nuts and seeds, and herbs and spices," say the university researchers from the University of Minnesota and the University of Oslo (Norway) Earlier research has indicated that flavonoids also have antioxidant properties that are linked to the reduction of oxidation of the bad (LDL - low density lipoprotein) cholesterol which have been linked in various ways with the development of CVD. According to the government database cited in this paper, apples contain a wide variety of flavonoid compounds. The researchers also believe this is the first prospective study of postmenopausal women to report on the intake and impact of total and specific flavonoid subclasses. They conclude, "Dietary intakes of flavanones, anthocyanins, and certain foods rich in flavonoids were associated with reduced risk of death due to CHD, CVD and all causes." The publication of this positive study for apples comes on the heels of updated heart disease prevention guidelines for women just released by the American Heart Association in the February 20 issue of Circulation. As part of their guidelines, AHA emphasizes that women increase their intake of fruits and vegetables to help prevent heart disease over their lifetime, not just to reduce short-term risk. Worldwide, cardiovascular disease is the largest single cause of mortality among women, accounting for one third of all deaths. Source: innovations-report.com (thanks to bestapples.com) tidak ada komentar

Apple Nutrition Facts

Jun 20, '07 9:39 PM untuk semuanya

Scientific Researchers are discovering new reasons to eat An Apple a Day Phytochemicals found in Apples may fight some types of cancers, help reduce cholesterol damage and promote healthy lungs.

Important Terms Phytochemicals: chemical compounds found in plants, fruits, and vegetables that can act as antioxidants. Antioxidants: chemicals that reduce or prevent oxidation, thus preventing cell and tissue damage from free radicals in the body. Phenolic Compount: a type of phytochemical. Flavonoids: a class of antioxidant. Apples are packed with flavonoids. Quercetin: a type of flavonoid found in apples. Pectin: a soluble fiber present in most fruits and vegetables. Tannins: substance found in apple juice that helps prevent urinary tract infections and may reduce heart disease. Research also suggests tannins may help prevent periodontal or gum disease. (thanks to bestapples.com) tidak ada komentar

The Amazing Banana

Jun 20, '07 5:06 PM untuk semuanya

Doctors - Home Remedy: If you want a quick fix for flagging energy levels there's no better snack than a banana. Containing three natural sugars - sucrose, fructose and glucose - combined with fiber a banana gives an instant, sustained and substantial boost of energy. Research has proven that just two bananas provide enough energy for a strenuous 90 minute workout. No wonder the banana is the number one fruit with the world's leading athletes. But energy isn't the only way a banana can help us keep fit. It can also help overcome or prevent a substantial number of illnesses and conditions making it a must to add to our daily diet. Depression: According to a recent survey undertaken by MIND amongst people suffering from depression, many felt much better after eating a banana. This is because bananas contain tryptophan, a type of protein that the body converts into serotonin known to make you relax,

improve your mood and generally make you feel happier. PMS: Forget the pills - eat a banana. The vitamin B6 it contains regulates blood glucose levels, which can affect your mood. Anemia: High in iron, bananas can stimulate the production of hemoglobin in the blood and so helps in cases of anemia. Blood Pressure: This unique tropical fruit is extremely high in potassium yet low in salt making it the perfect to beat blood pressure. So much so, the US Food and Drug Administration has just allowed the banana industry to make official claims for the fruit's ability to reduce the risk of blood pressure and stroke. Brain Power: 200 students at a Twickenham (Middlesex) school were helped through their exams this year by eating bananas at breakfast, break and lunch in a bid to boost their brain power. Research has shown that the potassium packed fruit can assist learning by making pupils more alert. Constipation: High in fiber, including bananas in the diet can help restore normal bowel action, helping to overcome the problem without resorting to laxatives. Hangovers: One of the quickest ways of curing a hangover is to make a banana milk shake, sweetened with honey. The banana calms the stomach and, with the help of the honey, builds up depleted blood sugar levels, while the milk soothes and re-hydrates your system. Heart burn: Bananas have a natural antacid effect in the body so if you suffer from heart burn, try eating a banana for soothing relief. Morning Sickness: Snacking on bananas between meals helps to keep blood sugar levels up and avoid morning sickness. Mosquito bites: Before reaching for the insect bite cream, try rubbing the affected area with the inside of a banana skin. Many people find it amazingly successful at reducing swelling and irritation. Nerves: Bananas are high in B vitamins that help calm the nervous system. Overweight and at work? Studies at the Institute of Psychology in Austria found pressure at work leads to gorging on comfort food like chocolate and crisps. Looking at 5,000 hospital patients, researchers found the most obese were more likely to be in high-pressure jobs. The report concluded that, to avoid panic induced food cravings, we need to control our blood sugar levels by snacking on high carbohydrate foods every two hours to keep levels steady. Ulcers: The banana is used as the dietary food against intestinal disorders because of its soft texture and smoothness. It is the only raw fruit that can be eaten without distress in over chronicler cases. It also neutralizes over acidity and reduces irritation by coating the lining of the

stomach. Temperature control: Many other cultures see bananas as a 'cooling' fruit that can lower both the physical and emotional temperature of expectant mothers. In Thailand, for example, pregnant women eat bananas to ensure their baby is born with a cool temperature. Seasonal Affective Disorder (SAD): Bananas can help SAD sufferers because they contain the natural mood enhancer, tryptophan. Smoking: Bananas can also help people trying to give up smoking. The B6, B12 they contain, as well as the potassium and magnesium found in them, help the body recover from the effects of nicotine withdrawal. Stress: Potassium is a vital mineral, which helps normalize the heartbeat, sends oxygen to the brain and regulates your body's water balance. When we are stressed, our metabolic rate rises, thereby reducing our potassium levels. These can be re-balanced with the help of a high potassium banana snack. Strokes: According to research in 'The New England Journal of Medicine' eating bananas as part of a regular diet can cut the risk of death by strokes by as much as 40%! Warts: Those keen on natural alternatives swear that, if you want to kill off a wart, take a piece of banana skin and place it on the wart, with the yellow side out. Carefully hold the skin in place with a plaster or surgical tape! So you see a banana really is a natural remedy for many ills. When you compare it to an apple, it has four times the protein, twice the carbohydrate, three times the phosphorus, five times the vitamin A and iron, and twice the other vitamins and minerals. It is also rich in potassium and is one of the best value foods around. Maybe its time to change that well known phrase so that we say, "A Banana a day keeps the doctor away."

Comment by JCT: If Marijuana and Apricot seeds are any precursor, they should be making bananas illegal real soon. Since they tout pharmaceutical benefits, they'll have to be tested as a drug before bananas can be used by the general population. Banning Marijuana, Apricot pits, Bananas???

Added comment by IH.: Commercial bananas are heavily loaded with insecticides and chemicals. I have noticed a mega difference in my body's reaction to organic vs regular commercially grown and treated bananas. I no longer eat the chemically grown and treated bananas that one buys in the regular food-market. With bananas, organic is definitely best. i.h.

(thanks to newmediaexplorer.org) tidak ada komentar

The General Facts About Honey The nutritive value of honey - a pure natural sweetener

Jun 9, '07 12:48 PM untuk semuanya

Honey has more nutritious elements than refined sugar. It's a concentrated source of energy - quickly digested and readily absorbed - and contains no fat. Honey is pure because no other ingredients are added. But what puts honey first among sweeteners is its truly unique flavour, its look and natural character. A little goes a long way... Versatile and fat-free, honey makes other foods more tasty and pleasurable. From appetizers to dessert, honey enhances healthy cooking. Here are some quick and easy ideas. * On half of a grapefruit bursting with Vitamin C. * On wholegrain toast (bagel, english muffin) * In plain, low-fat yogurt, fruit milk shakes or a mug of hot milk...a delicious way to increase calcium in the diet. * On crepes or bran waffles instead of butter or margarine. * Add a variety of fruits for a colourful plate full of vitamins and fibre! * As a glaze for carrots or squash. * In the preparation of vinaigrette and dressings for light salads. * For making marinades tenderly sweet, marinate lean cuts of meat, skinless chicken breast, fish, vegetables and even fruit.Honey contains a variety of minerals and trace elements in small amounts (0.1% to 1.5%) depending on floral source and geographic origin. Studies have shown that the human body absorbs these minerals very well. Two tbsp (30ml) of honey

contains 25mg of potassium. Dark honeys have more nutrients than light ones. Honey also contains trace amounts of vitamins C, B and sometimes A, D and K. I prefer honey because... * Honey is pure and natural, not refined * Honey has a unique taste - a mild sweetness in lighter varieties and more character in dark ones * Honey is easy to use in preparing a variety of foods * Honey is a humectant (it attracts moisture) which increases the shelf-life of baked goods * Honey stabilizes salad dressings and sauces because of its emulsifying qualities * Honey complements healthy eating (Thanks to BillyBee) tidak ada komentar

Halaman:1234

megawon Haris Kudus, Jateng


Tambahkan sebagai Kontak Pesan Pribadi

Mangga Bisa Turunkan Risiko Penyakit Jantung

Jul 13, '07 5:14 PM untuk semuanya

Oleh: Nurfi Afriansyah MSc, Peneliti pada Pusat Litbang Gizi dan Makanan Depkes RI

Setiap orang membutuhkan antioksidan untuk mencegah kerusakan tubuh akibat radikal bebas yang dapat mencetuskan penuaan, penyakit degeneratif, dan kematian dini. Buah mangga termasuk pemasok antioksidan beta-karoten sekaligus penyedia provitamin A yang unggul. Mangga adalah sumber penting beta-karoten, salah satu jenis karotenoid (pigmen tanaman yang berwarna kuning hingga merah) yang memiliki aktivitas provitamin A. Artinya, ketika dikonsumsi, betakaroten dalam mangga akan diubah menjadi vitamin A. Di samping beraktivitas provitamin A, betakaroten mempunyai aktivitas antioksidan. Antioksidan ialah senyawa penetral radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul tak stabil yang terus-menerus menyerang tubuh dari luar (karena sinar matahari, polusi, asap rokok) dan dari dalam (disebabkan oleh metabolisme dan kehidupan normal). Molekul ini mengalami suatu reaksi berantai yang menimbulkan jutaan radikal bebas baru yang merusak protein, sel, jaringan, dan organ tubuh. Ia menyebabkan penuaan, perubahan degeneratif, radang, dan penyakit, yang membuat lama hidup lebih singkat. Sederhananya, cara radikal bebas merusak sel tubuh sama dengan proses oksigen membuat kertas putih berubah warna menjadi kuning atau mentega menjadi tengik. Antioksidan mencegah kerusakan tubuh dengan melindungi protein, sel, jaringan, dan organ sasaran radikal bebas. Antioksidan sudah terbukti secara ilmiah menghambat penuaan, penyakit jantung, berbagai kanker, dan kebutaan, serta memperkuat sistem imun. Beta-karoten Mangga tergolong buah yang sarat beta-karoten dan vitamin A. Penelitian yang dilaporkan oleh Setiawan dan tiga koleganya memperlihatkan bahwa mangga mengandung beta-karoten sebanyak 553 g per 100 g bagian segar yang dapat dimakan, "cuma kalah" dari salak (2997 g), jambu biji (984 g), dan semangka merah (592 g). Sebagai penyedia vitamin A, mangga juga termasuk yang layak diandalkan sebab dengan mengonsumsinya sebanyak 6-7 buah besar sehari, kebutuhan vitamin A orang dewasa tiap hari dapat dicukupi. Karena kaya akan beta-karoten dan vitamin A, makan mangga diduga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Itu didasarkan atas riset yang dilakukan the Institute of Nutritional Science, the University of Potsdam, Jerman, yang menemukan bahwa bayi tikus percobaan yang makanannya diberi tambahan beta-karoten dan vitamin A ternyata memiliki kadar

protein pembentuk sistem kekebalan lebih tinggi. Studi-studi epidemiologis menunjukkan, tingginya asupan (intake) karotenoid berhubungan dengan rendahnya risiko penyakit jantung. Osganian dan kawan kawan meneliti kaitan antara asupan makanan kaya karotenoid dan risiko PAK (penyakit arteri koroner) pada 73.286 perawat perempuan selama 12 tahun terus-menerus. Selama kurun waktu tersebut, mereka menemukan 998 kasus baru PAK. Setelah dilakukan adjustment untuk umur, kebiasaan merokok, dan faktor-faktor risiko PAK lainnya, para peneliti menemukan hubungan signifikan antara tingginya asupan beta-karoten dan alfa-karoten dengan rendahnya risiko PAK. Asupan beta-karoten subyek penelitian bersumber dari makanan sarat beta-karoten seperti mangga, aprikot, wortel, bayam, brokoli, dan cabai, sedangkan asupan alfa-karoten berasal dari antara lain wortel, jagung, dan labu kuning. Riset lain yang dilakukan Klipstein-Grobusch dan kawan kawan terhadap 4.802 warga Belanda selama empat tahun terus-menerus menemukan, ada penurunan signifikan risiko infarksi myocardial pada subyek-subyek yang mengonsumsi beta-karoten paling tinggi daripada yang mengonsumsi beta-karoten terendah. Mangga, aprikot, wortel, bayam, brokoli, dan cabai adalah buah dan sayuran yang kaya akan betakaroten. Namun, bioavailabilitas beta-karoten yang dijumpai dalam buah berwarna kuning kemerahmerahan seperti mangga dan aprikot jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bioavailabilitas beta-karoten yang terdapat pada sayuran berwarna kuning kejingga-jinggaan dan sayuran berdaun hijau seperti wortel, cabai, bayam, brokoli. Artinya, beta-karoten dalam buah lebih mudah digunakan oleh tubuh daripada beta-karoten pada sayuran. Mangga dan aprikot merupakan buah-buahan yang sarat antioksidan beta-karoten sekaligus pemasok provitamin A yang dapat diandalkan untuk menurunkan risiko penyakit jantung. Dibandingkan dengan aprikot, mangga lebih unggul sebab tergolong buah lokal yang murah saat ketersediaannya berlimpah, sedangkan aprikot termasuk buah imporyang lebih sukar dijumpai di pasarsehingga berharga jauh lebih mahal. Sayang, mangga adalah buah musiman sehingga biasanya hanya tersedia melimpah di pasaran sekitar 2-3 bulan. Mangga gedong Anda tentu ingin memperoleh mangga dengan kualitas paling baik. Pilihlah mangga yang tua/matang, berwarna hijau kekuning-kuningan atau kuning kemerah-merahan dengan aroma harum. Tanda-tanda mangga sudah tua adalah bagian pangkal buah penuh membulat, bagian ujung tidak terlalu runcing, serta bagian permukaan kulit buah licin (dilapisi lilin) dan getah terlihat jernih. Mangga matang

mempunyai daging buah lunak dan rasa manis. Hindarilah memilih mangga yang terlalu keras atau terlampau lembek, ada goresan, memar, atau berbau fermentasi. Bila Anda menginginkan mangga yang memiliki kandungan beta-karoten lebih tinggi, pilihlah mangga gedong. Mangga jenis ini banyak tumbuh di daerah Cirebon dan Majalengka, Jawa Barat. Studi yang dilaporkan Rosmalina & Permaesih dari Pusat Litbang Gizi dan Makanan Depkes RI menunjukkan bahwa dalam setiap 100 gram mangga gedong terkandung beta-karoten sebesar 215 g. Kadar beta-karoten pada mangga gedong itu hampir 2,5 kali lipat kadar beta-karoten yang terdapat dalam mangga golek (90,5 g), sekitar 16 kali lipat mangga indramayu (13,5 g), dan sekitar 17 kali lipat mangga harum manis (12,5 g).

[v3..jangan cerewet dunks!!!]

Anti Oksidan vs Radikal Bebas


Apa sih antioksidan itu? Antioksidan merupakan sebutan untuk zat yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan radikal bebas. Yang termasuk ke dalam golongan zat ini antara lain vitamin, polipenol, karotin dan mineral. Secara alami, zat ini sangat besar peranannya pada manusia untuk mencegah terjadinya penyakit. Antioksidan melakukan semua itu dengan cara menekan kerusakan sel yang terjadi akibat proses oksidasi radikal bebas. Lalu, apa itu radikal bebas? Radikal bebas sebenarnya berasal dari molekul oksigen yang secara kimia strukturnya berubah akibat dari aktifitas lingkungan. Aktifitas lingkungan yang dapat memunculkan radikal bebas antara lain radiasi, polusi, merokok dan lain sebagainya. Radikal bebas yang beredar dalam tubuh berusaha untuk mencuri elektron yang ada pada molekul lain seperti DNA dan sel. Pencurian ini jika berhasil akan merusak sel dan DNA tersebut. Dapat dibayangkan jika radikal bebas banyak beredar maka akan banyak pula sel yang rusak. Sialnya, kerusakan yang ditimbulkan dapat menyebabkan sel tersebut menjadi tidak stabil yang berpotensi menyebabkan proses penuaan dan kanker. Bagaimana antioksidan memerangi radikal bebas? Antioksidan membantu menghentikan proses perusakan sel dengan cara memberikan elektron kepada radikal bebas. Antioksidan akan menetralisir radikal bebas sehingga tidak mempunyai kemampuan lagi mencuri elektron dari sel dan DNA. Proses yang terjadi sebenarnya sangat komplek tapi secara sederhana dapat dilukiskan seperti itu. Penyakit apa saja yang berhubungan dengan radikal bebas?

Beberapa penyakit degeneratif berhubungan erat dengan radikal bebas. Diantaranya, kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, pikun, katarak dan penurunan fungsi kognitif. Proses penuaan dini juga berhubungan dengan radikal bebas. Antioksidan dipercaya mampu untuk mencegah beberapa penyakit ini. Darimana sumber antioksidan? Antioksidan bisa dengan mudah kita dapatkan dari makanan. Sayangnya banyak yang tidak mengetahui bahwa makanan tersebut banyak mengandung antioksidan sehingga mereka membeli suplemen antioksidan yang harganya cukup mahal. Beberapa contoh makanan sumber antioksidan antara lain :

Vitamin A : Wortel, brokoli, sayur hijau, bayam, labu, hati, kentang, telur, aprikot, mangga, susu dan ikan. Vitamin C : Lada/merica, cabe, peterseli, jambu biji, kiwi, brokoli, taoge, kesemek, pepaya, stowberi, jeruk, lemon, bunga kol, bawang putih, anggur, raspberri, jeruk kepruk, bayam, tomat dan nanas. Vitamin E : Asparagus, alpukat, buah zaitun, bayam, kacang-kacangan, biji-bijian, minyak sayur, seral. Karotin : Beta karoten, lutein, likopen, wortel, labu, sayur-sayuran hijau, buah-buahan berwarna merah, tomat, rumput laut. Polipenol : Buah berri, teh, bir, anggur, minyak zaitun, cokelat, kopi, buah kenari, kacang, kulit buah, buah delima dan minuman anggur.

Sekarang anda tahu bahwa makanan yang sebenarnya sudah sering kita makan sehari-hari ternyata mengandung antioksidan yang diperlukan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas. Jadi, sudahkah anda makan BUAH DAN SAYUR hari ini?

Ditulis ulang dari selebaran yang didapatkan pada pengajian rutin Rektorat UII oleh Joko Winarno, SST Seorang Ahli Gizi RSU Dr. Sarjito Yogyakarta. Semoga Bermanfaat. October 14th, 2010 at 10:06 am

4 Responses to Anti Oksidan vs Radikal Bebas


1. Air Purifying Bulb Says: [...] Anti Oksidan vs Radikal Bebas | Fitria [...]
November 18th, 2010 at 8:16 pm

tivitas antioksidan dalam segelas air teh sama dengan 7 buah apel. Kalimat ini berasal dari iklan teh celup yang ditayangkan oleh televisi. Antioksidan di sini menjadi salah satu bahan persuasi terhadap konsumen agar membeli produk yang dipromosikan. Namun jika line layanan konsumen kurang memuaskan dalam menjawab segala sesuatunya tentang antioksidan, semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang berguna tentang antioksidan. Antioksidan sebenarnya didefinisikan sebagai inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif yang relatif stabil. Tetapi mengenai radikal bebas yang berkaitan dengan penyakit, akan lebih sesuai jika antioksidan didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif. Efek berbahaya radikal bebas Saat ini ditemukan bahwa ternyata radikal bebas berperan dalam terjadinya berbagai penyakit. Hal ini dikarenakan radikal bebas adalah spesi kimia yang memiliki pasangan elektron bebas di kulit terluar sehingga sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, karbohidrat, atau DNA. Reaksi antara radikal bebas dan molekul itu berujung pada timbulnya suatu penyakit. Efek oksidatif radikal bebas dapat menyebabkan peradangan dan penuaan dini. Lipid yang seharusnya menjaga kulit agar tetap segar berubah menjadi lipid peroksida karena bereaksi dengan radikal bebas sehingga mempercepat penuaan. Kanker pun disebabkan oleh oksigen reaktif yang intinya memacu zat karsinogenik, sebagai faktor utama kanker. Selain itu, oksigen reaktif dapat meningkatkan kadar LDL (low density lipoprotein) yang kemudian menjadi penyebab penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Akibatnya timbullah atherosklerosis atau lebih dikenal dengan penyakit jantung koroner. Di samping itu penurunan suplai darah atau ischemic karena penyumbatan pembuluh darah serta Parkinson yang diderita Muhammad Ali menurut patologi juga dikarenakan radikal bebas.

Tipe radikal bebas turunan oksigen reaktif sangat signifikan dalam tubuh. Oksigen reaktif ini mencakup superoksida (O`2), hidroksil (`OH), peroksil (ROO`), hidrogen peroksida (H2O2), singlet oksigen (O2), oksida nitrit (NO`), peroksinitrit (ONOO`) dan asam hipoklorit (HOCl). Sumber radikal bebas Sumber radikal bebas, baik endogenus maupun eksogenus terjadi melalui sederetan mekanisme reaksi. Yang pertama pembentukan awal radikal bebas (inisiasi), lalu perambatan atau terbentuknya radikal baru (propagasi), dan tahap terakhir (terminasi), yaitu pemusnahan atau pengubahan menjadi radikal bebas stabil dan tak reaktif. Penjelasan mengenai sumber radikal bebas endogenus ini sangat bervariasi. Sumber endogenus dapat melewati autoksidasi, oksidasi enzimatik, fagositosis dalam respirasi, transpor elektron di mitokondria, oksidasi ion-ion logam transisi, atau melalui ischemic. Autoksidasi adalah senyawa yang mengandung ikatan rangkap, hidrogen alilik, benzilik atau tersier yang rentan terhadap oksidasi oleh udara. Contohnya lemak yang memproduksi asam butanoat, berbau tengik setelah bereaksi dengan udara. Oksidasi enzimatik menghasilkan oksidan asam hipoklorit. Di mana sekitar 70-90 % konsumsi O2 oleh sel fagosit diubah menjadi superoksida dan bersama dengan `OH serta HOCl membentuk H2O2 dengan bantuan bakteri. Oksigen dalam sistem transpor elektron menerima 1 elektron membentuk superoksida. Ion logam transisi, yaitu Co dan Fe memfasilitasi produksi singlet oksigen dan pembentukan radikal `OH melalui reaksi HaberWeiss: H2O2 + Fe2+ > `OH + OH- + Fe3 +. Secara singkat, xantin oksida selama ischemic menghasilkan superoksida dan xantin. Xantin yang mengalami produksi lebih lanjut menyebabkan asam urat. Sedangkan sumber eksogenus radikal bebas yakni berasal dari luar sistem tubuh, diantaranya sinar UV. Sinar UVB merangsang melanosit memproduksi melanin berlebihan dalam kulit, yang tidak hanya membuat kulit lebih gelap, melainkan juga berbintik hitam. Sinar UVA merusak kulit dengan menembus lapisan basal yang menimbulkan kerutan. Penggolongan Antioksidan Untuk memenuhi kebutuhan antioksidan, sebelumnya kita perlu mengenal penggolongan antioksidan itu sendiri. Antioksidan terbagi menjadi antioksidan enzim dan vitamin. Antioksidan enzim meliputi superoksida dismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase (GSH.Prx). Antioksidan vitamin lebih populer sebagai antioksidan dibandingkan enzim. Antioksidan vitamin mencakup alfa tokoferol (vitamin E), beta karoten dan asam askorbat (vitamin C). Superoksida dismutase berperan dalam melawan radikal bebas pada mitokondria, sitoplasma dan bakteri aerob dengan mengurangi bentuk radikal bebas superoksida. SOD murni berupa peptida orgoteina yang disebut agen anti peradangan. Kerja SOD akan semakin aktif dengan adanya poliferon yang diperoleh dari konsumsi teh. Enzim yang mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen adalah katalase. Fungsinya menetralkan hidrogen peroksida beracun dan mencegah formasi gelembung CO2 dalam darah.

Antioksidan glutation peroksidase bekerja dengan cara menggerakkan H2O2 dan lipid peroksida dibantu dengan ion logam-logam transisi. GSH.Prx mengandung Se. Sumber Se ada pada ikan, telur, ayam, bawang putih, biji gandum, jagung, padi, dan sayuran yang tumbuh di tanah yang kaya akan Se. Dosis Se yang terlalu tinggi bersifat racun. Vitamin E dipercaya sebagai sumber antioksidan yang kerjanya mencegah lipid peroksidasi dari asam lemak tak jenuh dalam membran sel dan membantu oksidasi vitamin A serta mempertahankan kesuburan. Vitamin E disimpan dalam jaringan adiposa dan dapat diperoleh dari minyak nabati terutama minyak kecambah, gandum, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran hijau. Sebagai antioksidan, beta karoten adalah sumber utama vitamin A yang sebagian besar ada dalam tumbuhan. Selain melindungi buah-buahan dan sayuran berwarna kuning atau hijau gelap dari bahaya radiasi matahari, beta karoten juga berperan serupa dalam tubuh manusia. Beta karoten terkandung dalam wortel, brokoli, kentang, dan tomat. Antioksidan yang berasal dari sumber hewani walaupun menjadi penyumbang minoritas tetapi peranannya tidak dapat disepelekan begitu saja. Hal yang mengejutkan ada pada astaxanthin yang tergolong karoten. Menurut para ahli, astaxanthin 1000 kali lebih kuat sebagai antioksidan daripada vitamin E. Udang, ikan salmon, kerang merupakan sumber potansial astaxanthin. Tetapi kandungan astaxanthin terbanyak ada pada sejenis mikroalga, yaitu Haematococos pluvalis. Astaxanthinnya melindungi alga dari perubahan lingkungan seperti tingginya foto oksidasi ultraviolet dan evaporasi. Aktivitas antioksidan ini bekerja melawan lipid peroksida dan bahaya oksidasi LDL kolesterol maupun UV, serta membantu penglihatan, respon kekebalan, reproduksi dan pigmentasi bagi alga. Sedangkan asam askorbat mudah dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat. Dengan demikian maka vitamin C juga berperan dalam menghambat reaksi oksidasi yang berlebihan dalam tubuh dengan cara bertindak sebagai antioksidan. Vitamin C terkandung dalam sayuran berwarna hijau dan buah-buahan. Di samping penggolongan antioksidan di atas, ada pula senyawa lain yang dapat menggantikan vitamin E, yaitu flavonoid. Hal ini dikemukakan oleh Department of Environmental and Molecular Toxicology, Oregon State University. Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang terdapat pada teh, buah-buahan, sayuran, anggur, bir dan kecap. Aktivitas antioksidan flavonoid tergantung pada struktur molekulnya terutama gugus prenil (CH3)2C=CH-CH2-. Dalam penelitian menunjukkan bahwa gugus prenil flavonoid dikembangkan untuk pencegahan atau terapi terhadap penyakit-penyakit yang diasosiasikan dengan radikal bebas. Dari penjabaran di atas, setidaknya kita telah dapat mengetahui berbagai sumber antioksidan berikut mengapa antioksidan diperlukan bagi kesehatan. Prevention is much better than curation, however. Jadi, mulailah dengan menjaga kesehatan dari makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari.
Antioksidan merupakan pemangsa radikal bebas sekaligus pelindung kulit. Karena, antioksidan membatasi dan memperbaiki kerusakan sel kulit yang terjadi sebagai akibat dari paparan sinar

ultraviolet, juga faktor-faktor eksternal lain yang bisa merusak kulit, misalnya nikotin dan alkohol. Salah satu efek yang paling terlihat dari antioksidan adalah kemampuannya dalam merangsang produksi kolagen yang merupakan bagian penting dari struktur dan proses peremajaan kulit. Saat ini telah banyak tersedia produk perawatan kulit yang diperkaya dengan kandungan antioksidan. Beberapa zat yang efektif berfungsi sebagai antioksidan pada produk perawatan kulit di antaranya adalah vitamin C (L-ascorbic acid), alpha-lipoic acid, ferulic acid, coffeeberry, dan idebenone. Kandungan tersebut banyak ditemukan pada produk pelembap kulit dan krim malam. Meski sangat baik dan dibutuhkan oleh sel kulit, antioksidan juga merupakan agen yang tidak tahan paparan sinar matahari. Karenanya, penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung antioksidan wajib diiringi dengan pemakaian tabir surya yang maksimal. (f) Baca juga:femina

Kulit dan Antioksidan


Seiring dengan bertambahnya usia, maka semakin lambat pula regenerasi kulit. Akibatnya kulit kering dan elastisitasnya berkurang. Keriput tidak dapat dihindari. Namun pada beberapa orang berlangsung sangat cepat (penuaan dini). Penuaan dini merupakan proses penuaan kulit yang lebih cepat daripada yang seharusnya. Usia kulit terdiri dalam dua proses, yaitu kronologis dan faktor lingkungan. Penuaan secara kronologis merupakan penuaan alamiah yang ditunjukkan dengan perubahan struktur, fungsi, dan metabolisme kulit yang berlangsung sesuai dengan bertambahnya usia. Sedangkan penuaan yang terjadi karena faktor lingkungan dapat terjadi karena sinar matahari. Sinar ultraviolet dapat membentuk radikal. Radikal bebas juga dapat terbentuk karena polusi dan asap rokok, makanan yang mengandung pengawet dan pewarna, alkohol, depresi, lelah, stres. Radikal bebas merupakan suatu zat atau bahan kimia yangterbentuk dalam tubuh akibat metabolisme oksidasi. Radikal bebas sebenarnya penting bagi kesehatan dan fungsi tubuh yang normal dalam memerangi peradangan, membunuh bakteri, mengendalikan tonus otot polos pembuluh darah dan organ-organ tubuh kita. Namun jika jumlahnya berlebihan, dapat mengancam tubuh. Selain karena dapat merusak sel kulit, juga dapat menimbulkan kerusakan di berbagai sel dalam tubuh, menyebabkan terjadinya penyakit (tumor, kanker, arteroklerosis, katarak, keriput, dan penyakit generatif lainnya). Untuk mengendalikannya diperlukan antioksidan yang akan menghambat proses oksidasi. Antioksidan menangkan radikal bebas sebelum bereaksi dengan molekul dalam tubuh, memperbaiki molekul-molekul yang rusak akibat radikal bebas. Antioksidan menangkap rasikal bebas pada kulit sehingga melindungi protein atau asam amino sebagai penyusun kolagen dan elastin dari oksidasi yang dilakukan oleh radikal bebas. Tubuh sebenarnya memproduksi sendiri antioksidan (antioksidan endogen) berupa enzim, seperti superoksida dismutase, glutation peroksidase, dan katalse. Asupan antioksidan dari luar dapat

membantu kerja antioksidan enzimatik. Antioksidan dapat diperoleh dari makanan sehari-hari yang kaya vitamin A, vitamin C, dan vitamin E, bekaroten, dan flavonoid. Diposkan oleh adietpapraw di 18:34

Kolagen Alpha-Gel untuk kulit sehat, halus, segar, awet muda, menghilangkan keriput dan flek di wajah
Kolagen Kulit adalah organ terbesar dan terluas pada tubuh manusia, yang berfungsi sebagi pelindung tubuh dari gangguan luar dan sebagai indra peraba. Kulit terdiri dari lapisan Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Di bawah Sub Cutis adalah lapisan kolagen yang merupakan the base of the skin. Pada lapisan kolagen terdapat saluran menuju lapisan dermis. Saluran tersebut berfungsi sebagai pipa untuk mengalirkan kolagen ke lapisan dermis sebagai bahan baku pembentukan sel-sel kulit yang baru.

Terjadinya proses penuaan Penuaan adalah proses biologi yang kompleks yang terjadi secara alami dimana kulit mengalami penurunan dalam fungsi dan penampilannya karena faktor usia. Tanda-tanda penuaan antara lain meningkatnya kekasaran kulit, pembentukan kerutan-kerutan, kehilangan elastisitas, dan pembentukan pigmen. Penuaan merupakan akibat dari penurunan kemampuan tubuh untuk memproduksi sel-sel kulit yang baru. Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan kolagen, dimana kolagen merupakan bahan baku utama untuk memproduksi sel-sel kulit.

Seiring dengan meningkatnya usia, maka pembentukan kolagen secara alami oleh tubuh menjadi berkurang dan lambat, sehingga jumlah kolagen yang diperlukan untuk membentuk sel kulit baru menjadi kurang. Proses penuaan dapat dipengaruhi oleh faktor luar, seperti radiasi UV dari sinar matahari. Radiasi tersebut menyebabkan pembentukan radikal bebas yang membahayakan sel kulit. Hasil study ilmiah menyatakan bahwa sinar matahari dapat meningkatkan pembentukan enzim yang merusak kolagen dan dalam waktu yang sama jumlah gen pembentuk kolagen berkurang. Oleh karena itu, kolagen merupakan faktor utama yang berperan dalam proses melawan penuaan. Dengan demikian, solusi untuk perawatan kulit dan mencegah penuaan dini adalah dengan mengkonsumsi nutrisi untuk biosintesa kolagen. Nutrisi tersebut adalah kolagen serbuk kolagen hidrolisat murni.yang merupakan 100% kolagen. Perawatan kulit dengan kolagen Alpha Gel Untuk mendapatkan kulit yang kenyal, lembut dan awet muda, minumlah kolagen Alpha Gel sebanyak 1 sendok teh setiap pagi dan malam.

Kolagen Alpha-Gel

Untuk konsultasi dan pemesanan silahkan menghubungi : dr.Alif Fitriyana, S.Ked Jl.P.Sudirman No.H9 Malang Tlp. 0341 340863, HP.081 25 99 55 45