Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PENGANTAR INDUSTRI PETRO DAN OLEOKIMIA

ALKOHOL LEMAK

OLEH KELOMPOK I KELAS A

DEDI YUANDA YULI ASTUTI ARBHY INDERA I LUCY RAHMAWATI SRI MEILANI

0807135412 1007113729 1007113576 1007135518 1007121835

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2012

KATA PENGANTAR

Alkohol lemak merupakan suatu dasar utama oleokimia yang memiliki laju pertumbuhan yang berkelanjutan. Sebagai bahan baku yang utama untuk surfaktan, pertumbuhan paralel alcohol lemak meningkatkan kemakmuran ekonomi dan kemajuan standar hidup. Alcohol lemak terus meningkat sebagai bahan baku surfaktan karena sifatnya yang dapat diurai dan dapat diperbaharui. Permintaan dunia akan alcohol lemak meningkat 4% tiap tahun, mencapai 1.500.000 MT pada tahun 2000(2). Alcohol lemak dapat diproduksi dari minyak alami, atau sintetis dari petrokimia. Persediaan alcohol lemak dunia sekarang ini dapat dibagi menjadi alami dan buatan. Bagaimanapun, perbandingan penggunaan alami : sintetik bervariasi di masing-masing daerah. Sebagai contoh, pada tahun 1995 di Amerika Utara memiliki perbandingan 30 : 70, Eropa Barat 52,5 : 47,5, Jepang 86 : 14. keseluruhan perbandingan antara dunia tersebut di proyeksikan untuk menjangkau 65 : 35 menuju alcohol lemak alami tahun 2000(2). Ini dapat meningkatkan persediaan dan stabilitas harga dari minyak lauric. Sumber utama dari minyak lauric terdapat di daerah Asia bagian Tenggara. Diharapkan dengan dibuatnya makalah ini, dapat memberikan tambahan pengetahuan tentang salah satu hasil Pengilangan Industri Petro dan Oleo,

Alkohol Lemak.

Pekanbaru, Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1.2 Tujuan Penulisan ..................................................................................... 1.3 Metode Penulisan..................................................................................... 1.4 Sistematika Penulisan .............................................................................. 1.5 Manfaat Penulisan ................................................................................... BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 2.1 Pengertian Alkohol Lemak ...................................................................... 2.2 Jenis-jenis Alkohol Lemak ...................................................................... 2.3 Metode Pembuatan Alkohol Lemak ........................................................ 2.3.1 Hidrolisis Dari Lilin Ester ................................................................ 2.3.2 Proses Reduksi Sodium.................................................................... 2.3.3 Proses Zieglar Menggunakan Etilen ................................................ 2.3.4 Proses Oxo menggunakan Olefin..................................................... 2.3.5 Hidrogenasi Katalistik dari asam lemak dan metil Ester........... 2.3.6 Hidrogenasi Langsung dari minyak dan Lemak .............................. 2.4 Metode Lurgi Fatty Acid Hidrogenation ................................................. 2.5 Penggunaan Alkohol Lemak Dalam Industri .......................................... BAB III KESIMPULAN .................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

i ii 1 1 1 2 2 2 4 4 5 6 6 7 7 8 9 9 14 15 16 17

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sebagai salah satu tugas mata kuliah industri oleokimia, membuat makalah tentang suatu bidang pada industri oleokimia serta mempresentasikanya menjadi tolok ukur keaktifan mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Landasan tersebut adalah alasan utama kami untuk menyajikan tugas dalam bentuk makalah ini. Adapun topik yang akan kami coba menjelaskannya pada makalah ini adalah mengenai Alkohol Lemak pada industri oleokimia. Alasan utama kami mengambil topik ini adalah karena memang kelompok kami ditugaskan untuk mengupas tuntas tentang materi ini. Atas alasan itu pulalah kami mencoba menjelaskan proses pembuatan asam akrilik yang sedikit lebih mendalam, yang kami kumpulkan dari berbagai referensi dan hasil browsing pada beberapa situs via koneksi internet.

1.2 Tujuan penulisan Secara garis besar dapat kami jelaskan beberapa tujuan dari penulisan makalah tentang Alkohol Lemak adalah sebagai berikut: Sebagai salah satu jalan keluar atas tuntutan tugas dalam mata kuliah industri oleokimia, yang merupakan mata kuliah penting untuk program studi teknik kimia S-1. Sebagai penjelasan terhadap bahan ataupun pertanyaan atas materi Alkohol Lemak yang menjadi salah satu proses utama industri petrokimia. Sebagai sedikit tambahan teori maupun referensi mengenai topik Alkohol Lemak Terakhir mungkin sebagai suatu cara pengkatalogkan pelbagai materi mengenai Alkohol Lemak.

1.3 Metode Penulisan Metode pengumpulan bahan serta teori pada pengembangan makalah ini dapat kami bagi menjadi tiga aspek, yaitunya: Study kepustakaan, yakni dengan membaca dan memahami pelbagai referensi seperti; buku teks, jurnal ilmiah, dan makalah. Browsing internet, hal ini menjadi sumber materi kami yang kedua terbanyak, dengan mencari beberapa tinjauan pada beberapa situs, kami mendapat banyak landaran teori yang teranyar dan informasi yang sedang membahana mengenai topik bahasan kami. Tanya jawab langsung dengan narasumber yang lebih memahami; seperti beberapa senior yang telah lulus mata kuliah ini.

1.4 Sistematika Penulisan Untuk sistematika penulisan pada makalah yang berjudul Alkohol Lemak kami membagi menjadi tiga bab utama, dan setiap babnya akan dibahas lebih mendetail dengan pengkhususan dalam beberapa subbab pada bab itu. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat: Bab I, merupakan bagian pendahuluan yang membahas; latar belakang penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika serta diakhiri oleh subbab manfaat penulisan Bab II (Pembahasan), merupakan bagian terpenting makalah ini. Pada bab ini akan dijelaskan secara terperinci mengenai materi Alkohol Lemak. Bab III adalah bab penutup, yang merupakan bagian penulisan kesimpulan makalah secara kausal serta saran-saran yang diharampak setelah terbentuknya makalah ini.

1.5 Manfaat Penulisan Secara kasat mata, dapat sedikit kami jelaskan mengenai manfaat yang diperoleh setelah terbit dan terbacanya karya ilmiah ini adalah sebagai berikut: Dapat menambah literature dan referensi mengenai topik Alkohol Lemak

Dapat menjadi suatu makalah yang dapat menyelesaikan serta menjelaskan pertanyaan seputar topik makalah

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Alkohol Lemak


Fatty alkohol (lemak alkohol) adalah alkohol alifatis yang merupakan turunan dari lemak alam ataupun minyak alam. Fatty alkohol merupakan bagian dari asam lemak dan fatty aldehid. Fatty alkohol biasanya mempunyai atom karbon dalam jumlah genap. Molekul yang kecil digunakan dalam dunia kosmetik, makanan dan pelarut dalam industri. Molekul yang lebih besar penting sebagai bahan bakar. Karena sifat amphiphatic mereka, fatty alkohol berkelakuan seperti nonionic surfaktan. Fatty alkohol dapat digunakan sebagai emulsifier, emollients, dan thickeners dalam industri kosmetik dan makanan. Contoh fatty alkohol : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Capryl alcohol (1-octanol) -- 8 carbon atoms Pelargonic alcohol (1-nonanol) -- 9 carbon atoms Capric alcohol (1-decanol, decyl alcohol) -- 10 carbon atoms 1-dodecanol (lauryl alcohol) -- 12 carbon atoms Myristyl alcohol (1-tetradecanol) -- 14 carbon atoms Cetyl alcohol (1-hexadecanol) -- 16 carbon atoms Palmitoleyl alcohol (cis-9-hexadecan-1-ol) -16 carbon atoms,

unsaturated,CH3(CH2)5CH=CH(CH2)8OH 8. 9. Stearyl alcohol (1-octadecanol) -- 18 carbon atoms Isostearyl alcohol (16-methylheptadecan-1-ol) -- 18 carbon atoms, branched, (CH3)2CH-(CH2)15OH 10. Elaidyl alcohol (9E-octadecen-1-ol) -18 carbon atoms,

unsaturated,CH3(CH2)7CH=CH(CH2)8OH 11. Oleyl alcohol (cis-9-octadecen-1-ol) -- 18 carbon atoms, unsaturated 12. Linoleyl alcohol (9Z, 12Z-octadecadien-1-ol) -- 18 carbon atoms, polyunsaturated 13. Elaidolinoleyl alcohol (9E, 12E-octadecadien-1-ol) -- 18 carbon atoms, polyunsaturated

14. Linolenyl alcohol (9Z, 12Z, 15Z-octadecatrien-1-ol) -- 18 carbon atoms, polyunsaturated 15. Elaidolinolenyl alcohol (9E, 12E, 15-E-octadecatrien-1-ol) -- 18 carbon atoms, polyunsaturated 16. Ricinoleyl alcohol (12-hydroxy-9-octadecen-1-ol) -- 18 carbon atoms, unsaturated, diol, CH3(CH2)5CH(OH)CH2CH=CH(CH2)8OH 17. Arachidyl alcohol (1-eicosanol) -- 20 carbon atoms 18. Behenyl alcohol (1-docosanol) -- 22 carbon atoms 19. Erucyl alcohol (cis-13-docosen-1-ol) -- 22 carbon atoms, unsaturated,

CH3(CH2)7CH=CH(CH2)12OH
20. Lignoceryl alcohol (1-tetracosanol) -- 24 carbon atoms 21. Ceryl alcohol (1-hexacosanol) -- 26 carbon atoms 22. Montanyl alcohol, cluytyl alcohol (1-octacosanol) -- 28 carbon atoms 23. Myricyl alcohol, melissyl alcohol (1-triacontanol) -- 30 carbon atoms 24. 24. Geddyl alcohol (1-tetratriacontanol) -- 34 carbon atoms

2.2 Jenis-Jenis Alkohol Lemak

Alkohol lemak, berdasarkan sumber terbentuknya, terbagi menjadi 2 macam, yaitu : 1. Alkohol Lemak Alami (Natural Fatty Alcohol) Alkohol lemak alami berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui yang terdapat di alam.. Alkohol Jenis ini selalu berada dalam bentuk gabungan dari pada rantai bebas (senyawa murni ). Alkohol gabungan yang penting adalah gliserol TAG (triasilgliserol) yang mengandung asam lemak yang memilki panjang rantai karbon C12-C18 yang di pertukarkan ( metil ester menjadi alcohol lemak). Contoh : Lemak, minyak dan lilin dari tumbuhan dan hewan, seril sesoat dalam lilin erna dan mirisil palmit dalam lilin lebah.

2. Alkohol Lemak Dari Sumber Lainnya Untuk mendapatkan Alkohol Lemak dengan bentuk seperti ini, dapat menggunakan beberapa metode berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. hydrolysis lilin ester menggunakan lemak hewani proses reduksi sodium mennggunakan lemak dan minyak proses Ziegler menggunakan ethylen proses oxo menggunakan hydrogenation olefin katalitik hidrogenasi asam lemak dan metil ester dari lemak dan minyak hydrogenation lansung lemak dan minyak

Walaupun bukan minyak kelapa yang digunakan, deskripsi tentang metoda pertama dalam acuan histories; deskripsi tentang metoda kedua dam metoda keenam juga dimasukkan. Metoda ketiga dan keempat menggunakan bahan baku yang berasal dari petrokimia dan tidak akan dibahas disini. Bagaimanapun, harus diketahui bahwa kira-kira 50% persediaan alcohol lemak dunia di produksi melalui dua cara ini. Agar lebih terperinci, diskusi dari metoda kelima diberikan kemudian.

2.3 Metode Pembuatan Alkohol Lemak 2.3.1 Hidrolisis dari lilin ester Alcohol lemak pertama kali diperoleh dari hidrolisis lilin ester yang berasal dari binatang, terutama spermaceti dari sperma ikan paus. Karena kutukan di seluruh dunia atas ikan paus yang diburu, sehingga sumber ini tidak lagi tersedia. Lilin spermaceti dipisahkan dengan cara pemanasan menggunakan NaOH pekat diatas 3000C, lalu alcohol didistilasi dari sabun sodium. Hasil Sulingan (distilat) mengandung alcohol tak jenuh C16-C20. Untuk mencegah terjadinya autooksidasi, distilat ini dikeraskan dengan hidrogenasi katalitik.. Alkohol yang diperoleh jika minyak sperma hanya mengandung 70 % wax ester, mencapai yield 35 %, kemudian hasilnya dipisahkan dalam distilasi vakum dari sabun dan air yang terbentuk. Produk utama terdiri dari : cetyl, oceyl, dan alcohol arachidyl

2.3.2 Proses Reduksi Sodium Pada tahun 1909, Beauvault dan Blanc menemukan proses reduksi sodium untuk memproduksi alcohol lemak dari kelapa ester. Pabrik alcohol lemak yang dibentuk pada tahun 1930an menggunakan proses ini. Sedangkan proses dasarnya relative sederhana, sebenarnya operasi pabrik banyak menangani produk dan reaktan yang kompleks. Larutan sodium didispersikan dalam pelarut inert lalu ditambahkan ester kering dan alcohol dengan hati-hati. Saat reaksinya komplit , oksida nya dipecah dengan pengadukan dalam air, kemudian alkoholnya dicuci dan didistilasi. Penambahan Alkohol R (sebaiknya alcohol sekunder), bertindak sebagai donor hydrogen. Karena adanya reaksi samping , pemakaian sodium bisa jadi di atas 20 % dari kebutuhan stoikiometri. Reduksi berjalan selektif tanpa pembuatan hidrokarbon dari isomerisasi atau hidrogenasi ikatan rangkap.

2.3.3 Proses Zieglar Menggunakan Etilen Alkohol lemak dari proses ini mempunyai struktur yang sama dengan alcohol lemak alami. Proses ini dibagi dalam dua proses yaitu proses alfol dan proses Epal. a. Proses Alfol. Hidrokarbon digunakan sebagai pelarut. Proses ini melalui lima tahap yaitu : 1. Hidrogenasi Al(CH2CH3)3 + Al + 1,5 H2 3 Hal(CH2CH3)3 2. Etilasi 3 HAl(CH2CH3)3 + 3 CH2=CH2 3 Al(CH2CH3)3 2/3 dari hasil proses ini di recycle lagi ke proses hidrogenasi dan sisanya langsung masuk ke reaksi perkembangan 3. Reaksi perkembangan (growth Reaction) 4. Oksidasi 5. Hidrolisa

b. Proses Epal Proses ini mempunyai langkah-langkah yang hampir sama dengan proses alfol. Fleksibilitas Proses ini lebih besar dibandingkan dengan prose alfol. Alkohol dan - olefin yang terbentuk bisa dipasarkan. Namun modal dan biaya yang dibutuhkan jjuga lebih besar , karena membutuhkan proses control yang lebih kompleks dan penambahan olefin dan alcohol rantai bercabang.

2.3.4 Proses Oxo menggunakan Olefin Proses oxo (hidroformilasi) terdiri dari reaksi antara olefin dengan campuran gas H2-CO dan katalis yang cocok.. Reaksi ini Di temukan oleh O.Roelen pada tahun 1938. CH3 2R CH=CH2 + 2CO + 2H2 R-CH2CH2-CHO + R-CH-CHO Yield - olefin diperkirakan o o o sama dengan jumlah aldehid rantai lurus dan bercabangnya. Proses oxo dapat dilakukan dengan tiga cara berikut : Proses klasik dengan menggunakan katalis HCO(CO)4 Proses Shell berdasarkan kompleks kobalt karbonil phosphine Proses menggunakan Katalis Rhodium

Langkah- langkah pada proses klasik yaitu reaksi oxo , pemisahan katalis dan regenerasi , hidrogenasi aldehid dan distilasi alcohol.

Proses antara ketiga proses tersebut dapat dilihat pada table berikut ini : Perbandingan Proses OXO Klasik Katalis Cobalt Carbonil Shell Cobalt Carbonil Phosphine Complex Konsentrasi katalis CO2 : H2 0,1 1,0 1,1 1,2 0,5 1,2 2,5 0,001 - 0,1 Excess hidrogen Unio Carbide Rhodium Carbonil Phospine complex

Temperatur (0C) Tekanan (MPa) LHSV Produk Primer Linearitas (%)

150 180 20 30 0,5 1,0 Aldehid 40 50

170 210 5 10 0,1 1,2 Alkohol 80 85

100 - 120 2-4 0,1 0,25 aldehid 90

Pada proses shell, alcohol diperoleh langsung karena bagusnya aktifitas katalis sehingga tahap hidrogenasi aldehid tidak di perlukan lagi, kelemahan proses ini adalah, adanya olefin yang hilang dari proses. Sedangkan proses yang menggunakan katalis Rhodium dapat dilakukan pada P dan T yang rendah, karena tingginya aktifitas katalis . Kelemahannya adalah memerlukan biaya yang tinggi karena mahalnya harga Rhodium.

2.3.5 Hidrogenasi Katalistik dari asam lemak dan metil Ester Proses ini biasanya digunakan untuk memproduksi alcohol lemat tak jenuh pada skala besar. Katalis yang digunakan dalam kompleks dari Cu 2+ dan Cu 3+. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut : RCOOCH3 +2 H2 RCH2OH + CH3OH dengan katalis CuCr RCOOH + 2H2 RCH2OH + H2O dengan katalis CuCr

2.3.6 Hidrogenasi Langsung dari minyak dan Lemak Suatu proses yang terakhir, yang dikembangkan dan dipatenkan oleh Henkel KGaA, yaitu direct hydrogenation dari minyak alami atau trigliserida. Proses ini melalui dua tahap reaksi, yaitu : 1). Esterifikasi asam lemak dan alcohol lemak menghasilkan Ester dan Air 2). Hidrogenasi ester menghasilkan dua mol Alkohol lemak Kedua reaksi ini berlangsung simultan pada reactor yang sama. Reactor yang digunakan adalah reactor bertekanan tinggi yang berguna sebagai pemanas awal bagi material umpan asam lemak ;

Resirkulasi alcohol lemak dan katalis Slurry , dan gas hydrogen yang diumpankan secara terus menerus . proses ini berlansung pada kondisi P = 30.000 KPa dan T = 280 0C Reaksi Hidrogenasi Hidrogenasi metil ester dan asam lemak menjadi alcohol lemak dapat terjadi melalui reaksi berikut:
RCOOCH 3 metil ester 2H 2 hidrogen
katalis CuCr

RCH 2 OH

CH 3OH me tan ol

alkohol lemak

RCOOH

katalis

2H 2

CuCr

RCH 2 OH alkohol lemak

H 2O air

Asam lemak hidrogen

Hidrogenasi langsung asam lemak tidak digunakan dalam skala industri besar karena kebutuhan temperature reaksi yang lebih tinggi menghasilkan yield yang lebih rendah dan karena dapat merusak katalis. Secara konvensional, asam lemak dikonversi terlebih dahulu menjadi ester sebelum dihidrogenasi. Lurgi telah menemukan cara untuk mengatasi masalah ini dengan esterifikasi bersama asam lemak dengan alcohol dan hidrogenasi ester dalam reactor yang sama :

RCH 2 OH

katalis

RCOOH As. lemak

RCH 2 COOR ester

H 2O air

alkohol lemak

RCH 2 COOR ester

katalis

2H 2

2 RCH 2 OH alkohol lemak

hidrogen

Asam lemak dimasukkan ke dalam alcohol lemak bervolume besar yang sedang berputar. Volume alcohol lemak adalah lebih dari 250 kali volume asam lemak, sehingga esterifikasi berpengaruh cepat tanpa adanya efek merusak oleh katalis.

Proses Hidrogenasi Tekanan Tinggi Metil ester yang telah difraksionasi dapat diubah menjadi alcohol lemak dengan proses hidrogenasi dengan tekanan tinggi dengan menggunakan katalis CuCr.CuCr juga membentuk carbon berikatan ganda yang tidak jenuh sehingga h anya alcohol lemak jenuh yang terbentuk. Jika diinginkan hasil berupa alcohol lemak tak jenuh, diperlukan katalis zinc. Proses hidrogenasi terjadi pada tekanan 25.000-30.000 kPa dan temperature antara 2500C-3000C di dalam sebuah kolom tubular. Berdasarkan perlakuan terhadap katalis, proses hidrogenasi dibedakan atas suspension process dan fixed bed process. Suspension Process Katalis dan sejumlah kecil metil ester diumpankan ke dalam reactor bersamaan dengan sisa ester. Metil ester dan gas hydrogen dipanaskan secara terpisah. Katalis CuCr yang direaksikan dengan sejumlah kecil metil ester dimasukkan bersamaan dengan metil ester dan gas hydrogen yang telah dipanaskan, ke dalam reactor tubular, konsentrasi katalis dalam system setidaknya 2 % umpan yang digunakan kira-kira 20 mol gas hydrogen per mol ester. Gas hydrogen mengakibatkan gelembung yang membantu proses agitasi reaktan. Reaksi dijaga pada tekanan 25.000-30.000 kPa dan suhu 2500-3000C. selama proses eksotermik berlabgsung, suhu reaksi harus dijaga untuk mengurangi reaksi samping berupa pembentukan hidrokarbon yang tidak diinginkan. Dari kolom, campuran reaksi didinginkan, memisahkan gas hydrogen dari campuran alcohol-metanol. Gas hydrogen di recycle, dan campuran alkohometanol dialirkanke unit methanol stripping, pada tekanan yang lebih rendah, methanol dipisahkan, di recycle untuk proses esterifikasi. Alcohol lemak mentah disaring untuk memisahkan katalisnya sebagian besar katalis di recycle, sehingga terpakai rata-rata 0,5-0,7% alcohol yang dihasilkan. Alcohol yang disaring kemudian ditreatment dengan soda pekat untuk membentuk sabun dengan ester yang tidak bereaksi. Alcohol didistilasi untuk menghilangkan hidrokarbon yang terbentuk. Sabun tertinggal di dasar kolom

Gambar 1 Hidrogenasi Metil Ester dengan Proses Suspensi

Fixed Bed Process Reaki terjadi dalam fasa uap dimana umpan organic diuapkan dalam gas

hydrogen berlebih (20-25 mol) melalui pemanas sebelum melewati fixed catalyst bed. Hidrogenasi berlangsung pada takanan 20.000-30.000 kPa dan suhu 20002500C. campuran reaksi yang meninggalkan reactor didinginkan dan dipisahkan menjadi fasa gas dan cair. Fase gas, kebanyakan berupa kelebihan hydrogen, direcycle, fasa cair diexpansi ke tangki untuk menghilangkan methanol dari alcohol lemak. Pengoperasian kondisi termasuk mudah, oleh karena itulah produksi alcohol lemak tidak memerlukan proses selanjutnya. Hasil keseluruhannya adalah 99% dengan hidrokarbon dan ester yang tidak melebihi 1,0%. Penggunaan katalis diusahakan dibawah 0,3%.

Gambar Hidrogenasi Metil Ester dengan Proses Fixed Bed Perbandingan Alkohol Lemak hasil Proses Fixed bed dan Proses Suspensi Proses fixed bad memerlukan sesuatu untuk menaikkan nilai karena itu dibutuhkan bejana reaksi yang besar, pompa gas sirkulasi, dan pipa yang tepat untuk volume yang tinggi dari penggunaan gas hydrogen .Proses suspensi dilain sisi memerlukan penambahan peralatan untuk pelepasan katalis, distilasi alcohol lemak mentah dan mengolah lagi methyl ester. Dalam penggunaan bahan mentah, proses fixed bad memiliki hasil yang banyak dan penggunaan katalis hanya setengahnya. Alcohol lemak yang dihasilkan dari proses fixed bad memiliki kualitas yang tinggi. Meskipun begitu, kualitas dari alcohol lemak yang dihasilkan oleh prosess suspensi bisa juga ditingkatkan ke tingkat yang sama dengan distilasi selanjutnya.

2.4 Metoda Lurgi Fatty Acid Hidrogenation Metoda lurgi dengan proses suspensi, menimbulkan kemungkinan hidrogenasi secara langsung asam lemak menjadi alcohol lemak yang mengatasi efek kerugian dari fatty acid on the copper-bearing analysist. Ini dicapai dengan dua tahap reaksi. Reaksi pertama adalah esterifikasi dari asam lemak dengan alcohol lemak menghasilkan ester dan air. Reaksi kedua adalah hidrogenasi ester untuk menghasilkan dua mol alcohol. Kedua reaksi memiliki silmutaneously di reactor yang sama. Volume yang besar dari alcohol lemak direcirculated lebih dari 250 kali umpan asam lemak, dengan efektif mengurangi umpan, asal saja untuk kondisi yang optimum untuk laju dan esterifikasi yang kompleks. Hidrogenasi diletakkan dalam reactor bertekanan tinggi dimana material dipanaskan terlebih dahulu- umpan asam lemak, di sirkulasi menjadi alcohol lemak dengan menggunakan katalis, dan gas hydrogen adalah fed continuously. Reaksi ini berlansung kira-kira 30.000 kPa dan 2800C. Panas dari campuran produk yang meninggalkan reactor didapatkan lagi dengan recirculating gas hydrogen melalui heat exchanger, setelah produk dipisahkan melalui sebuah twostage cooling-expansion system. Fasa gas (pada dasarnya kelebihan gas hydrogen, sedikit alcohol mendidih dan reaksi air) dipisahkan dari larutan alcohol didalam separator panas. Pencampuran ini didinginkan selanjutnya di cold separator, dimana the low boiling alcohol dan reaksi air dikondensasi dan diseparasi. Gas hydrogen yang berlebih di recycle ke system. Larutan alcohol dari hot separator dipompakan ke flash drum dimana penguraian hydrogen dimulai dan recycled dengan pemisahan hydrogen. Katalis dipisahkan dan alcohol lemak mentah menggunakan sebuah sentrifugal separator. Bagian dari katalis diganti dengan katalis baru yang segar untuk mempertahankan aktivitas dan di recirculasi dengan alcohol lemak. Fase penyelesaian dan sentrifugal separator adalah melalui a polishing filter untuk menghilangkan semua sisa dari solid yang didapat. Penghasilan alcohol mentah undergoes distilasi selanjutnya untuk menghilangkan hidrokarbon dan mungkin mengalami fraksinasi bila diinginkan

Secara Umum, Proses Pembuatan Alkohol Lemak, dapat di lihat dari Skema Proses Berikut :

2.5 Penggunaan Alkohol Lemak Dalam Industri Adapun alkohol lemak dapat digunakan secara luas pada industri sebagai berikut : Plasticizer (C6 C10) Detergen (C11 keatas) Pengemulsi Pelumas Softener Kosmetik , untuk pembuatan macam-macan cream Makanan sebagai anti oksidan Surfaktan Bahan anti Busa Produk Intermediate Parfum Farmasi

BAB III KESIMPULAN


3.1 Kesimpulan Alkohol lemak dapat diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diperbaharui seperti lemak dan minyak yang terdapat pada hewan dan tumbuhan maupun dari industri petrokimia atau minyak bumi sperti olefin dan parafin Kegunaan alkohol lemak dalam industri skala besar hanya ada 2, yaitu pada ind0075stri deterjen dan plastisizer Ada beberapa metoda pembuatan alkohol lemak antara lain sebagai berikut: Hydrolysis lilin ester mengunakan lemak hewan Sodium pengurangan proses (yang) mengunakan gemuk dan minyak Ziegler proses yang mengunakan Ethylen Proses oxo mengunakan olefin Hidrogenasi katalik daridari asam lemak dan metil ester hidrogenasi langsung dari lemak dan minyak

DAFTAR PUSTAKA Hui, Y.H. 1996. Baileys Industrial Oil and Fat Products. Volume 4. A WileyInterscience Publication. New York. Hui, Y.H. 1996. Baileys Industrial Oil and Fat Products. Volume 5. A WileyInterscience Publication. New York. OBrien, Ricard D. 1998. Fats and Oils. Technomic Publishing Company Inc. Switzeland.

Tambun, Rondang. 2006. Buku Ajar Teknologi Oleo Kimia. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Wibawa, G dkk. 2007. Current Status of Research and Development an Oil Palm Derived Fatty Alcohol in Indonesia. http://www.ics.trieste.it/Portal/ ActivityDocument.aspx?id=4715. 16 Maret 2012