Anda di halaman 1dari 19

PERKEMBANGAN TEORI SEJARAH

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pada Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Profesi
Angkatan II Tahun 2008-2009

Disusun Oleh:
HARI BUDIYANTO

PENDIDIKAN PROFESI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Telp. 0271-717417, 719483
Fax. 715448 Surakarta 57102
PERKEMBANGAN TEORI SEJARAH
“TEORI GERAK SEJARAH”

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pada Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Profesi
Angkatan II Tahun 2008-2009

Oleh: Hari Budiyanto

I. Teori Dalam Sejarah


Ilmu sejarah menyelidiki arti, tujuan sejarah, gerak sejarah, isi, bentuk,
makna, tafsiran sejarah, dsb. Masalah tersebut dapat dikatakan sejarah serba teori,
karena ilmu sejarah menyelidiki tentang dasar-dasar pengertian sejarah. Secara
singkat dapat dirumuskan bahwa sejarah serba teori meliputi bidang-bidang teori
seperti:
a. teori tentang sumber-sumber sejarah
b. teori tentang cara penelitian sejarah
c. teori tentang rekonstruksi fakta-fakta
d. teori tentang cara dan penafsiran rekonstruksi fakta
e. teori tentang penyusunan pengertian
f. teori tentang metode-metode ilmiah yang digunakan dalam ilmu sejarah,
misalnya: penelitian, ilmu sejarah murni, penyusunan pengertian, dsb.
g. pemikiran tentang sejarah serba obyek; arti, gerak, tujuan dan makna sejarah
h. penempatan manusia dalam sejarah dan penentuan sejarah sebagai sifat azasi
manusia
i. teori tentang penulisan sejarah atau sejarah serba subyek
j. teori tentang sejarah penulisan sejarah (perkembangan historiografi)
k. teori tentang kualifikasi sejarah sebagai ilmu, sebagai falsafah atau
perkembangan ilmu sejarah/falsafah sejarah
Pemecahan masalah tersebut memang penting untuk seorang sejarawan.
Bagi kita yang penting adalah masalah tempat manusia dalam sejarah, yaitu

2
tentang kebebasan manusia atau peranan manusia dalam sejarah. Dapatkah
manusia menentukan perjalanan sejarah?, atau manusia itu seperti wayang yang
hanya digerakkan saja oleh sejarah. Masalah lain yang erat huungannya dengan
masalah ini ialah tentang peranan tokoh-tokoh besar, seperti Iskandar Zulkarnain,
Socrates, Julius Caesar, Gajah Mada, Lao Tse, Napoleon Bonaparte, Lenin,
Mahatma Gandhi, Frnaklin Delano Roosevelt, dsb.
Masalah yang berkaitan dengan filsafat sejarah tersebut tidak dapat
dipecahkan secara absolut, artinya tidak diberi satu jawaban yang dapat diterima
dan dapat memuaskan semua orang. Jawabannya bersifat relatif atau tidak absolut,
di satu sisi benar, di sisi lain mungkin salah. Untuk memudahkan pemecahan
masalah tersebut, ditegaskan sebagai berikut:
1. siapakah yang menentukan gerak sejarah?
2. bagaimanakah sifat gerak sejarah itu?
3. apakah peranan manusia dalam sejarah atau apakah arti sejarah bagi manusia?
Apabila masalah tersebut tidak dapat dipecahkan secara memuaskan,
setidak-tidaknya akan terdapat suatu rangkuman tentang makna sejarah.
Menganalisis sejarah (kejadian sejarah) berarti mencari hakekat dari kejadian-
kejadian tersebut. Hasil analisis tersebut adalah penyusunan atau penceritaan
kembali suatu cerita sejarah . Dalam analisis tersebut terdapat juga adanya gerak
sejarah, hukum sejarah seperti halnya menganalisis suatu benda dalam ilmu
pengetahuan alam. Analisis sejarah yang obyektif bila analisis itu didasarkan pada
sumber-sumber yang ditemukan, peranan pikiran manusia yang menganalisis
(subyek) hanya terbatas kepada kemampuan mencari adanya saling hubungan
antara cerita yang terdapat pada sumber-sumber sejara tersebut (Sutrasno, 1975:
54)

II. Siapakah Yang menentukan Gerak Sejarah


Cerita sejarah melukiskan segala sesuatu dengan lugas, yaitu tidak
menyebut sebab-sebab yang pasti, hanya rangkaian peristiwa yang saling
berhubungan dengan menunjukkan keterkaitannya, seperti contoh berikut ini:
Nio Joe Lan, 1952: 155-160 dalam bukunya Tiongkok Sepandjang Abad
menyatakan suku bangsa Tartar Manchu telah menaklukkan Tiongkok dengan

3
cara sangat mudah dan mengagumkan, tetapi ini tak merupakan suatu kemalangan
besar, seperti halnya jika dilihat sepintas lalu saja. Lima puluh tahun sebelum
waktu itu, suku bangsa Manchu adalah segerombolan yang kecil dan tak penting,
dan diam di sebuah lembah subur di Manchuria. Ayah dan nenek laki-laki salah
seorang pemimpinnya telah dibunuh secara khianat oleh bangsa Tionghoa, maka
bersumpahlah pemimpin tiu untuk membalas dendam dan ia menepati
sumpahnya.
Seperti telah diketahui bangsa Manchu dapat menguasai Tiongkok selama 248
tahun (1644-1912), yang perlu dipermasalahkan di sini adalah:
1. apakah sebabnya bangsa Manchu menguasai Tiongkok?
2. apa sebab mereka memiliki kebudayaan Tionghoa sebelum menyerbu ke
Tiongkok?
3. mengapa mereka tetap berbangsa Manchu meskipun kebudayaannya
Tionghoa?
4. mengapa mereka tidak tetap berdiam di lembah yang subur itu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sukar untuk dijawab dengan tepat, akan
tetapi dapat dicari sebab-sebab yang sesuai, sebab-akibat dapat diterangkan, tetapi
dapat pula dipersoalkan:
1. mengapa bangsa Manchulah yang menguasai Tiongkok, mengapa bukan
bangsa-bangsa nomaden lain di sebelah utara Tiongkok?
2. siapakah yang menggerakkan bangsa Manchu ke Tiongkok?
3. siapakah yang menggerakkan hati orang Tionghoa untuk memanggil bangsa
Manchu?
Masalah di atas dapat dirangkum menjadi satu masalah, yaitu gerak
sejarah seperti dilaksanakan bangsa Manchu dan Tiongkok disebabkan oleh
siapakah? Manusia sendiri ataukah kekuatan-kekuatan di luar manusia? Apakah
pemimpin-pemimpin manchu bermusyawarah untuk memiliki kebudayaan
Tionghoa dengan maksud tertentu? Apakah pemimpin-pemimpin Tiongkok sudah
bulat tekadnya untuk memasukkan Manchu ke negerinya setelah
memperhitungkan segala sesuatu? Ataukah segala sesuatu itu berlangsung dengan
serba kebetulan saja? Mungkinkah bahwa memang itulah nasib bangsa-bangsa?
Dewa-dewakah yang merencanakan? Tuhankah yang mengatur segala-galanya?

4
Apabila dipersingkat, maka masalah-masalah itu bentuknya sebagai
berikut:
Jiwa besar
Manusia
Khalayak
Gerak Sejarah
Disebabkan oleh 1. Tuhan
: Kekuatan 2. Dewata
Di luar Manusia 3. Kekuatan
Masyarakat
4. Nasib

Dari bagan di atas tampaklah betapa sukarnya untuk membicarakan


masalah tersebut. Menurut Sanusi Pane (1955: 7) sejarah ialah perwujudan
kehendak Tuhan bagi manusia dalam dunia. Mempelajari sejarah berarti berdaya
upaya dengan semangat terbatas mengetahui kehendak Tuhan itu, upaya merasa,
dengan terbatas, kehidupan mutlak, supaya sanggup dengan terbatas, hidup dan
bekerja sebagai hamba Tuhan yang lebih insyaf. Pendapat Sanusi Pane
didasarkan atas kepercayaan terhadap Tuhan. Mempelajari sejarah adalah
berusaha mengetahui kehendak Tuhan.
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Tan Malaka (1944: 5) bahwa setelah
ilmu dan penelitian menjadi sempurna, setelah manusia mulai meninggalkan
dogma agama, setelah manusia mencaji cerdas dan dapat memikirkan pergaulan
hidup, pertentangan kelas dijadikan sebagai pengetahuan yang nyata. Dalam
perjuangan untuk keadilan dan politik, manusia tidak membutuhkan atau mencari-
cari Tuhan lagi, atau ayat-ayat kitab agama, tetapi langsung menuju sebab yang
nyata yang merusakkan dan memperbaiki penghidupannya.
Menurut Tan Malaka, gerak sejarah berpangkal kepada sebab nyata yang
merusakkan dan memperbaiki penghidupannya, yaitu ekonomi atau kekuatan-
kekuatan produksi. Dua pendapat di atas menunjukkan bahwa masalah gerak
sejarah tidak dapat dijawab dengan satu jawaban saja, tetapi dapat lebih dari satu
jawaban .Untuk lebih jelasnya akan diuraikan di bawah ini.

5
III. Pengertian-pengertian Dasar Gerak Sejarah
Untuk memudahkan masalah gerak sejarah, masalah tersebut harus
dipandang khusus mengenai manusia. Bagaimanakah manusia memandang
dirinya sendiri? Sejarah adalah sejarah manusia, peran sejarah hanya manusia
saja, penulis sejarah manusia juga, peminat sejarah juga manusia, maka
manusialah yang harus dipandang sebagai inti permasalah tersebut. Oleh kerena
itu, dapatlah dimengerti bahwa munculnya masalah itu dipandang sebagai akibat
pendapat manusia tentang dirinya, yaitu:
a. manusia bebas menentukan nasibnya sendiri, dengan istilah internasional
otonom
b. manusia tidak bebas menentukan nasibnya, nasib manusia ditentukan kekuatan
di luar kekuatan dirinya, manusia disebut heteronom.
Faham bahwa manusia itu otonom dalam istilah filsafat disebut
indeterminism dan faham heteronom disebut determinism. Pada umumnya
manusia lebih condong menerima kekuatan di luar pribadinya daripadaa ia
percaya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh dirinya sendiri. Masalahnya
berkisar pada pertanyaan, siapakah yang menentukan nasibnya? Penentu nasib
manusia adalah:
a. alam sekitar beserta isinya
b. kekuatan x (tidak dikenal)
c. Tuhan

A. Gerak Sejarah Menurut Hukum Fatum


Alam fikiran Yunani menjadi dasar alam fikiran Barat. Salah satu sendi
penting adalah anggapan tentang manusia dan alam. Pada dasarnya alam raya
sama dengan alam kecil, yaitu manusia, macro cosmos sama dengaan micro
cosmos. Cosmos menunjukkan bahwa alam itu teratur dan di alam itu hukum
alam berkuasa. Cosmos bukan chaos atau kekacauan! Hukum apakah yang
berlaku dalam macro dan micro cosmos? Alam raya dan alam manusia dikuasai
oleh nasib (qadar), yaitu suatu kekuatan gaib yang menguasai macro cosmos dan
micro cosmos. Perjalanan alam semesta ditentukan oleh nasib; perjalanan
matahari, bulan, bintang, manusia,dsb tidak dapat menyimpang dari jalan yang

6
sudah ditentukan oleh nasib. Hukum alam yang menjadi dasar segala hukum
cosmos ialah hukum lingkaran atau hukum siklus. Setiap kejadian, setiap
peristiwa akan terjadi lagi, terulang lagi. Apabila digambarkan seperti gambar di
bawah ini:
Benih Malam Musim Hujan

Berbuah Tumbuh Sore Pagi Pancaroba


Pancaroba

Berbunga Siang Kemarau


A B C
Arti hukum siklus iaalah, bahwa setiap kejadian atau peristiwa tertentu akan
terulang (sikuls A, B dan C). Seperti matahari tiap pagi terbit, demikian pula
setiap peristiwa akan terulang kembali. Oleh karena itu terdapat dalil bahwa di
dunia tidak terdapat sesuatu (peristiwa) yang baru, segala sesuatu berulang
menurut hukum siklus.
Hukum siklus di Indonesia disebut Cakra Manggilingan, yaitu cakram
berputar dan jika digambarkan sebagai berikut:

Cakra Manggilingan
Roda mati hidup yang berputar terus
Maut

Mati
Lahir

Hidup

Arti Cakra manggilingan ialah bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri
dari cakram itu, bahwa segala kejadian/peristiwa berlangsung dengan pasti
(Sutrasno,60-61). Cakram adalah lambang nasib (qadar) yang berputarterus serba
abadintanpa henti putusnya. Manusia terikat dengan cakram itu, hidup bergerak

7
naik turun seirama dengan gerak irama cakram di jagat raya, sesuai dengan gerak
cakram jagat kecil. Nasib (qadar) adalah kekuatan tunggal yang menentukan
gerak sejarah, manusia hanya menjalani dan menjalankan qadarnya.
Zaman lampau telah terjadi menurut kodrat alam, terlaksana menurut
qadar. Zaman yang akan datang akan terjadi seperti telah dikodratkan manusia
tidak akan dapat mengubah qadar itu. Qadar, nasib atau fatum bagi alam fikiran
Yunani merupakan kekuatan tunggal. Oleh karena itu kejadian/peristiwa sejarah
dari masa itu melukiskan kejadian/peristiwa yang tergantung pada qadar. Sifat
cerita sejarah ialah realistis, menurut kenyataan.

B. Faham Santo Agustinus


Faham fatum Yunani kemudian menjelma dalam agama Nasrani sebagai
faham ketuhanan dengan sifat-sifat yang sama:
a. Kekuatan tunggal fatum menjadi Tuhan
b. serba keharusan, menurut rencana alam, menurut ketentuan faham menjadi
kehendak Tuhan
c. Sejarah sebagai wujud qadar menjadi sejarah sebagai wujud kehendak Tuhan.
Kesimpulan dari penjelmaan hukum cakra manggilingan, ialah bahwa
manusia tidak bebas menentukan nasibnya sendiri. Ia menerima nasib dari Tuhan,
apa yang diterima sebagai kehendak Tuhan. Tuhan sudah menentukan perjalanan
hidup yang sudah ditentukan Tuhan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tuhan
sudah menentukan perjalanan hidup manusia dan alam, manusia tidak dapat
mengubah garis hidup yang sudah ditentukan. Bagi alam fikiran Yunani manusia
menerima segala sesuatu dengan amor fati (gembira), bagi alam kodrat ilahi
pemberian Tuhan diterima dengan fiat voluntas tua (kehendak Tuhan
terlaksanalah).
Santo Agustinus menghimpun suatu teori sejarah berdasarkan fiat voluntas
tua itu. Gerak sejarah dunia diibaratkan riwayat hidup manusia, babakan waktu
disusun menurut tingkatan-tingkatan hidup manusia:
No Santo Agustinus Artinya Zaman
1 intifia Bayi Adam sampai Nuh
2 pueritia Kanak-kanak Sem, Jafet
3 adulescentia Pemuda Ibrahim sampai Daud

8
4 inventus Kejantanan Daud
5 gravitas Dewasa, dewasa Babilonia
bijaksana
6 kiamat Tua Pemilihan antara baik-jahat
Tujuan gerak sejarah ialah terwujudnya Kehendak Tuhan, yaitu Civitas
Dei atau Kerajaan Tuhan. Bila Civitas Dei itu akan menjadi wujud belum
diketahui, yaitu sebelum dan sesudah kiamat, tetapi nyatalah bahwa Tuhan akan
mengadakan pemilihan, barang siapa taat dan menerima kehendak Tuhan di
terima di sorga, barang siapa menentang kehendak Tuhan akan menjadi penduduk
neraka atau jahanam.
Masa sejarah adalah masa percobaan, masa ujian bagi manusia. Kehendak
tuhan harus diterima dengan rela dan ikhlas, manusia tidak dapat melepaskan diri
dari dari kodrat ilahi. Keharusan kodrat ilahi menurut faham ini ditambah dengan
ancaman di akhirat, masuk civitas diaboli (kerajaan iblis) atau neraka.
Zaman lampau sebagai perwujudan kehendak Tuhan adalah cermin atau
hikmah untuk mengetahui kodrat ilahi. Zaman yang akan datang adalah masa
medan perjuangan untuk mendapat tempat di Civitas Dei. Maka peri kehidupan
manusia ditujukan kepada Civitas Dei, kepada akhirat, kecemasan dan ketakutan
meliputi seluruh alam fikiran itu. Apakah nasib yang akan diterima kelak? Fiat
Voluntas tua, kehendak Tuhan terlaksanalah! Manusia menyerah kepada kehendak
Tuhan, ia menerima segala sesuatu, menyerahkan nasib kepada gereja.
Demikianlah pandangan sejarah Eropa di masa abad pertengahan (midlle
ages), manusia hanya menanti-nantikan kedatangan Civitas Dei. Gerak sejarah
bermata air kodrat ilahi dan bermuara pada Civitas Dei.

C. Pendapat Ibnu Kholdum Tentang Sejarah


Ibnu Kholdun (1332-1406) adalah seorang sarjana Arab yang ternama,
ialah yang dapat dipandang sebagai ahli sejarah yang paling pertama. Teorinya
didasarkan pada kehendak Tuhan sebagai pangkal gerak sejarah seperti Santo
Agustinus, akan tetapi Ibnu Kholdun tidak memusatkan perhatiannya kepada
akhirat. Baginya sejarah adalah ilmu berdasarkan kenyataan, tujuan sejarah ialah
agar manusia sadar akan perubahan-perubahan masyarakat sebagai usaha
penyempurnaan peri kehidupannya. Pendapat Ibnu Kholdun tertuang dalam

9
bukunga An Arab Philosophy of history translated and arranged by Charles
Issawi MA, halaman 26-30:
Sejarah ialah kisah masyarakat manusia atau kisah kebudayaan dunia,
yaitu kisah perubahan-perubahan yang terjadi karena kodrat masyarakat itu seperti
masa kebiadaban, masa saling membantu terus ke masa persatuan golongan, kisah
revolusi, pemberontakan yang timbul antara bangsa dengan bangsa dan kisah
kerajaan-kerajaan dan negara-negara yang timbul karena revolusi dan
pemberontakan itu, kisah kegiatan dan pekerjaan manusia, yaitu pekerjaan untuk
mendapatkan nafkah, atau kegiatan dalam macam-macam ilmu dan usaha, dan
umumnya kisah dari perubahan yang terjadi karena kodrat manusia. Keadaan
dunia dan keadaan negara-negara dan adat lembaganya serta cara-cara
penghidupannya (produksi) tidak tinggal tetap dan bersifat kekal (tak berubah)
akan tetapi terus berubah sepanjang masa dan berubah dari suatu keadaan ke
keadaan yang lain. Demikian halnya manusia, waktu, kota-kota mengalami
perubahan, maka iklim, masa, daerah dan negara juga akan mengalami perubahan
itulah hukum yang telah ditentukan oleh Allah untuk para mukmin (R. Moh. Ali,
1963: 72).
Dengan tegas Ibnu Kholdun menunjukkan perubahan-perubahan yang
terjadi dalam masyarakat karena qadar Tuhan, yang terdapat dalam masyarakat
adalah “naluri” untuk berubah. Justru perubahan-perubahan itu berupa revolusi,
pemberontakan, pergantian lembaga, dsb, maka masyarakat dan negara akan
mengalami kemajuan. Manusia dan semua lembaga-lembaga yang diciptakannya
dapat maju karena perubahan. Ibnu Kholdun dengan tegas menyatakan perubahan
sebagai dasar kemajuan dan itulah yang kemudian disebut teori evolusi (teori
kemajuan) yang dicetuskan oleh Charles Darwin.
Perbedaan antara teori Santo Agustinus dan Ibnu Kholdun tampak dari
akhir tujuan terakhir. Agustinus mengakhiri sejarah dengan dwitunggal sorga-
neraka, bagi Ibnu Kholdun sejarah menuju ke arah timbulnya beraneka warna
masyarakat, negara dengan manusianya menuju ke arah kesempurnaan hidup.
Teori Agustinus menciptakan manusia menyerah, teori Ibnu Kholdun mendidik
manusia menjadi pejuang yang tak kenal mundur. Puncak gerak sejarah ialah umat

10
manusia bahagia dengan beraneka ragam masyarakat, negara, kesatuan hidup
lainnya yang sempurna.

D. Renaissance dan Akibatnya


Pada masa renaissance pengaruh gereja mulai berkurang. Perhatian
manusia berubah dari dunia-akhirat ke dunia-fana, kepercayaan pada diri pribadi
sendiri bertambah dalam diri manusia. Sifat menyerah pada nasib berkurang dan
harga diri memperkuat semangat otonom manusia. Semangat otonom itulah yang
mendorong manusia ke arah pengertian tentang kehendak Tuhan.
Kemajuan ilmu pengetahuan seirama dengan kemajuan filsafat dan teknik
mengakibatkan timbulnya alam fikiran baru di Eropa. Manusia lambat laun
melepaskan diri ari agama serta berani mengembangkan semangat otonom.
Sumber gerak sejarah tidak di cari di luar pribadinya, tetapi dicari dari dalam diri
sendiri. Hubungan dengan cosmos diputus, ikatan dengan Tuhan ditiadakan,
manusia berdiri sendiri (otonom.
Gerak sejarah berpangkal pada kemajuan (evolusi), yaitu keharusan yang
memaksa segala sesuatu untuk maju. Manusia melenyapkan sorga-neraka sebagai
tujuan, tujuan fatum yang serba tidak tentu diberi batasan yang jelas. Gerak
sejarah menuju ke arah kemajuan yang tidak ada batasnya. Evolusi tak terbatas
adalah tujuan manusia. Abad ke-18 dan 19 merupakan masa revolusi jiwa yang
luar biasa, yaitu suatu revolusi yang mematahkan kekuatan heteronomi. Hukum
siklus yang mengekang daya pencipta lenyap kekuatannya. Lingkaran cakra
manggilingan diterobos dan gerak sejarah tidak berputar-putar lagi, tetapi maju
menurut garis lurus yang tidak ada akhirnya. Jika digambarkan sebagai berikut:
Gerak evolusi

Sejarah adalah medan perjuangan manusia dan cerita sejarah adalah epos
perjuangan ke arah kemajuan. Dengan ilmu pengetahuan, taknik, filsafat alam

11
sekitarnya diselidiki dengan semangat evolusi. Mitos evolusi menjadi sumber
dinamika yang dahsyat dan mengeluarkan manusia dari alam rohaniah.
Evolusi berarti evolusi jasmaniah, evolusi kebendaan, evolusi duniawi,
kefanaan, misalnya kemajuan teknik: kapal api, kereta api, pabirk, dsb. Gerak
sejarah tidak menuju ke akhirat, tetapi ke arah kemajuan duniawi, maka dalam
dunia yang seolah-olah tidak memerlukan Tuhan lagi itu, timbullah faham-faham
baru yang berpedoman pada evolusi tak terbatas, diantaranya faham historical
materialism atau economic determinism.
Faham historical materialism menerangkan bahwa pangkal gerak sejarah
ialah ekonomi, gerak sejarah ditentukan oleh cara-cara menghasilkan barang
kebutuhan masyarakat (produksi). Cara produksi menentukan perubahan dalam
masyarakat, perubahan itu ditimbulkan oleh pertentangan kelas. Gerak sejarah
terlaksana dengan pasti menuju ke arah masyarakat yang tidak mengenal
pertetangan kelas. Tujuan sejarah ialah menciptakan kebahagiaan untuk setiap
manusia, kelas manusia istimewa akan lenyap pada saat amsayarat tanpa kelas
dapat diwujudkan.
Manusia pada dasarnya tidak bebas, tidak otonom dalam arti luas. Semua
perubahan terjadi tanpa persetujuan manusia, manusia hanya dapat mempercepat
jalan gerak sejarah dan tidak dapat mengubah atau menahan gerak sejarah.
Kebebasan manusia sangat terbatas oleh keharusan ekonomi. Gerak sejarah tidak
memerlukan Tuhan, tidak memerlukan fatum, tidak memerlukan manusia agar
dapat terlaksana. Sejarah berlangsung dengan sendirinya, yaitu karena
pertentangan kelas. Gerak sejarah bersifat mekanis, seperti jam tangan yang
setelah diputar berjalan dengan sendirinya, manusia menjadi alat dari dinamika
ekonomi.
Demikianlah secara singkat faham historical materialism (Croce, 2008: 6-
13) yang dicetuskan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Frederick Engels (1820-
1895). Jelaslah bahwa otonomi yang dibanggakan manusia abad 19 sebetulnya
hanya pembebasan dari Tuhan dan penambatan dari hukum ekonomi. Dunia yang
tersedia ini tidak untuk difikirkan, tetapi harus diubah menurut kehendak manusia
menurut hukum alam. Sejarah menjadi perjuangan manusia untuk menciptakan

12
dunia baru guna kebahagian manusia. Pada abad ke-20 historical materialism
diperjuangkan oleh Partai Komunis.

E. Tafsiran Sejarah Menurut Oswald Spengler (1880-1936)


Karya Oswald Spengler yang berpengaruh adalah Der Untergang des
Abendlandes (Decline of the West) atau Keruntuhan Dunia Barat/Eropa. Spengler
meramalkan keruntuhan Eropa. Ramalan itu didasarkan atas keyakinan bahwa
gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam. Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan
sebuah kebudayaan dalam segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan,
manusia dan alam semesta. Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai
oleh hukum siklus sebagai wujud dari fatum. Hukum itu tampak pada siklus:
No Alam Manusia Tumbuhan Hari Kebudayaan
1 Musim semi Masa Masa Pagi Pertumbuhan
pemuda pertumbuhan
2 Musim Masa dewasa Masa Siang Perkambangam
panas berkembang
3 Musim Masa puncak Masa berbuah Sore Kejayaan
rontok
4 Musim Masa tua Masa rontok Malam Keruntuhan
dingin
Tiap-tiap masa pasti datang menurut waktunya, itulah keharusn alam yang
mesti terjadi. Seperti halnya historical materialism, paham Spengler tentang
kebudayaan pasti runtuh apabila sudah melewati puncak kebesarannya. Oleh
sebab itu keruntuhan suatu kebudayaan dapat diramalkan terlebih dahulu menurut
perhitungan. Suatu kebudayaan mendekati keruntuhan apabila kultur sudah
menjadi Civilization (kebudayaan yang sudah tidak dapat tumbuh lagi). Apabila
kultur sudah kehilangan jiwanya, maka daya cipta dan gerak sejarah akan
membeku.
Gerak sejarah tidak bertujuan sesuatu kecuali melahirkan, membesarkan,
mengembangkan, meruntuhkan kebudayaan. Spengler menyelidikinkebudayaan
Barat dan setelah membandingkan kebudayaan Barat dengan sejarah kebudayaan-
kebudayaan yang sudah tenggelam, ia berkesimpilan:
a. kebudayaan Barat sampai pada masa tua (musim dingin), yaitu civilization
b. sesudah civilization itu kebudayaan Barat pasti akan runtuh

13
c. manusia Barat harus dengan bersikap berani menghadapi keruntuhan itu
Mempelajari sejarah tujuannya ialah untuk mengetahui suatu kebudayaan
didiagnose seperti seorang dokter menentukan penyakit si penderita. Nasib
kebudayaan dapat diramalkan, sehingga untuk seterusnya kebudayaan itu dapat
menentukan sikap hidupnya.

F. Tafsiran Arnold J. Toynbee


Arnold J. Toynbee mengarang buku A Study of History tahun 1933. Teori
Toynbee didasarkan atas penelitian terhadap 21 kebudayaan yang sempurna dan 9
kebudayaan yang kurang sempurna. 21 kebudayaan yang sempurna, antara lain:
Yunani, Romawi, Maya, Hindu, Barat/Eropa, dsb, yang kurang sempurna, antara
lain: Eskimo, Sparta, Polinesia, Turki. Kesimpulan Toynbee ialah bahwa gerak
sejarah tidak terdapat hokum tertentu yang menguasai dan mengatur timbul
tenggelamnya kebudayaan-keudayaan dengan pasti. Yang disebut kebudayaan
(civilization) oleh Toynbee ialah wujud kehidupan suatu golongan seluruhnya.
Menurut Toynbee gerak sejarah berjalan menurut tingkatan-tingkatan seperti
berikut (http://nobsnews.blogspot.com/1993 /10/introduction.htm):
a. genesis of civilizations, yaitu lahirnya kebudayaan
b. growth of civilizations, yaitu perkembangan kebudayaan
c. decline of civilizations, yaitu keruntuhan kebudayaan:
1. breakdown of civilizations, yaitu kemerosotan kebudayaan
2. disintegration civilization, yaitu kehancuran kebudayaan
3. dissolution of civilization, yaitu hilang dan lenyapnya kebudayaan
Suatu kebudayaan terjadi, karena challenge and response atau tantangan
dan jawaban antara manusia dengan alam sekitarnya). Dalam alam yang baik
manusia berusaha untuk mendirikan suatu kebudayaan seperti di Eropa, India,
Tiongkok. Di daerah yang terlalu dingin seolah-olah manusia membeku (Eskimo),
di daerah yang terlalu panas tidak dapat timbul juga suatu kebudayaan (Sahara,
Kalahari, Gobi), maka apabila tantangan alam itu baik timbullah suatu
kebudayaan.
Pertumbuhan dan perkembangan suatu kebudayaan digerakkan oleh
sebagian kecil dari pemilik kebudayaan. Jumlah kecil itu menciptakan

14
kebudayaan dan jumlah yang banyak (mayoritas) meniru keudayaan tersebut.
Tanpa minoritas yang kuat dan dapat mencipta, suatu kebudayaan tidak dapat
berkembang. Apabila minoritas lemah dan kehilangan daya mencipta, maka
tantangan dari alam tidak dapat dijawab lagi. Minoritas menyerah, mundur, maka
pertumbuhan kebudayaan tidak ada lagi. Apabila kebudayaan sudah memuncak,
maka keruntuhan (decline) mulai tampak. Keruntuhan itu terjadi dalam 3 masa,
yaitu:
a. kemerosotan kebudayaan, terjadi karena minoritas kehilangan daya mencipta
serta kehilangan kewibawaannya, maka mayoritas tidak lagi bersedia mengikuti
minoritas. Peraturan dalam kebudayaan (antara minoritas dan mayoritas pecah
dan tentu tunas-tunas hidupnya suatu kebudayaan akan lenyap.
b. kehancuran kebudayaan mulai tampak setelah tunas-tunas kehidupan itu mati
dan pertumbuhan terhenti. Setelah pertumbuhan terhenti, maka seolah-olah daya
hidup itu membeku dan terdapatlah suatu kebudayaan itu tanpa jiwa lagi.
Toynbee menyebut masa ini sebagai petrification, pembatuan atau kebudayaan
itu sudah menjadi batu, mati dan mejadi fosil.
c. lenyapnya kebudayaan, yaitu apabila tubuh kebudayaan yang sudah membatu
itu hancur lebur dan lenyap.
Untuk mwnhindarkan keruntuhan suatu kebudayaan yang mungkina
dilakukan adalah mengganti norma-norma kebudayaan dengan norma-norma
ketuhanan. Dengan pergantian itu, maka tujuan gerak sejarah ialah kehidupan
ketuhanan atau kerajaan Allah menurut paham Protestan. Dengan demikian garis
besar teori Toynbee mirip dengan Santo Agustinus, yaitu akhir gerak sejarah
adalah Civitas Dei atau Kerajaan Tuhan.

G. Teori Pitirim Sorokin


Pitirim Sorokin adalah ilmuwan Rusia yang mengungsi ke Amerika
Serikat sejak Revolusi Komunis 1917. Ia adalah seorang Sosiolog, karangannya
yang terkenal adalah: Social Cultural and Dynamics (1941), The Crisis of Our
Age (1941), dan Society, Culture and Personality (1947). Sorokin mengemukakan
teori yang berlainan, ia menerima teori siklus seperti hukum fatum ala Spengler,

15
dan menolak teori Karl Marx. Sorokin juga menolak teori Agustinus dan Toynbee
yang menuju ke arah Kerajaan Tuhan.
Ia menilai gerak sejarah dengan gaya, irama dan corak ragam yang kaya
raya dipermudah, dipersingkat dan disederhanakan sehingga menjadi teori siklus.
Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah menunjukkan fluctuation of age to age,
yaitu naik turun, pasang surut, timbul tenggelam. Ia menyatakan adanya cultural
universal dan di dalam alam kebudayaan itu terdapat masyarakat dan aliran
kebudayaan. Di alam yang luas ini terdapat 3 tipe yang tertentu, yaitu:
a. ideational, yaitu kerohanian, ketuhanan, keagamaan, kepercayaan
b. sensate, yaitu serba jasmaniah, mengenai keduniawian, berpusat pada panca
indera
c. perpaduan antara ideational-sensate, yaitu idealistic, yaitu suatu kompromis.
Tiga jenis kebudayaan adalah suatu cara untuk menghargai atau
menentukan nilai suatu kebudayaan. Menurut Sorokin tidak terdapat hari akhir
seperti pendapat Agustinus, tidak ada pula kehancuran seperti pendapat Spengler.
Ia hanya melukiskan perubahan-perubahan dalam tubuh kebudayaan yang
menentukan sifatnya untuk sementara waktu.
Apabila sifat ideational dipandang lebih tinggi dari sensate dan sifat
idealistic ditempatkan diantaranya, maka terdapat gambaran naik-turun, timbul-
tenggelam dan pasang-suruta dalam gerak sejarah tidak menunjukkan irama dan
gaya yang tetap dan tertentu. Sorokin dalam menafsirkan gerak sejarah tidak
mencari pangkal gerak sejarah atau muara gerak sejarah, ia hanya melukiskan
prosesnya atau jalannya gerak sejarah.

IV. Sifat Gerak Sejarah


Dari teori-teori yang memberikan arah dan tujuan gerak sejarah dapat
disimpulkan sebagai berikut:
a. Tanpa arah tujuan, seperti terdapat dalam alam fikiran Yunani berdasarkan
hukum fatum, teori ini kemudian diperluas dan diperdalam oleh Oswald
Spengler. Gerak sejarah berputar-putar, berputar-putar dan tidak terdapat sesuatu
yang baru. Setiap kejadian, peristiwa, fakta pasti akan terjadi lagi seperti yang
sudah-sudah.

16
b. Pelaksanaan kehendak Tuhan, gerak sejarah ditentukan oleh kehendak Tuhan
dan menuju ke arah kesempurnaan manusia menuju kehendak Tuhan. Manusia
hanya menerima ketentuan itu dan tidak dapat mengubah nasibnya. Akhir gerak
sejarah adalah Kerajaan Tuhan (Civitas Dei) bagi yang dapat diterima Tuhan
dan kerajaan setan (Civitas Diaboli) bagi yang ditolak oleh Tuhan.
c. Ada juga yang berpendapat bahwa ikhtiar, usaha dan perjuangan manusia dapat
menghasilkan perubahan nasib yang sudah ditentukan Tuhan, maka gerak
sejarah merupakan perimbangan antara kehendak Tuhan dengan usaha manusia.
Aliran ini merupakan perpaduan otonomi dan heteronomi.
d. Evolusi dengan kemajuan yang tidak terbatas, gerak sejarah membawa manusia
setingkat demi setingkat terus ke arah kemajuan. Dengan senang hati manusia
melaksanakan gerak sejarah dengan penuh harapan akan mengalami kemajuan
yang tidak terhingga. Alam semesta harus dan dapat dikuasai oleh manusia.
Semakin meningkat, semakin luas dan dalam pengetahuan manusia dan makin
berkuasalah ia.Aliran inilah yang sangat berpengaruh terhadap gerak sejarah di
dunia Barat, sehingga bangsa-bangsa di Eropa dan Amerika menglami kemajuan
yang pesat.
e. Disamping faham evolusi terdapat pula faham historical materialism yang
menentukan masyarakat tanpa kelas adalah tujuan sejarah. Masyarakat tak
berkelas itu adalah tujuan gerak sejarah setelah melalui masa kapitalis.
f. Reaksi terhadap faham evolusi menghasilkan beberapa aliran baru, yaitu:
1) aliran menuju ketuhanan seperti faham Toynbee, bahwa gerak sejarah itu
akan sampai pada masa bahagia apabila manusia menerima Tuhan serta
kehendak Tuhan sebagai dasar perjuangannya.
2) aliran irama gerak sejarah menurut Sorokin yang menyatakan bahwa gerak
sejarah tidak bertujuan apa-apa dan bahwa gerak itu hanya menunjukkan
datang-lenyapnya atau berganti-gantinya corak; ideational, sensate dan
idealistic
3) aliran kemanusiaan, yaitu suatu aliran yang sangat luas dan berpusatkan
pendapat mutlak bahwa manusialah yang terpenting di dunia ini. Gerak
sejarah adalah perjuangan manusia untuk mencapai kemajuan yang setinggi
mungkin.

17
Dari uraian di atas dapat disimpulkan secara ringkas bahwa:
a. dasar mutlak gerak sejarah adalah manusia
b. isi gerak sejarah adalah pengalaman kehidupan manusia
c. tujuannya ialah manusia sempurna dalam arti yang luas, yaitu sempurna sebagai
manusia fatum, sebagai manusia bertuhan, manusia hitorical materialism dan
manusia amr.
d. pokok dasar gerak sejarah adalah masalah kemanusiaan, apakah manusia itu,
apakah tujuannya, dimanakah letak batas-batas kemungkinannya?
Demikianlah sifat gerak sejarah sebagai daya penggerak manusianuntuk
menciptakan dunia baru yang bersifat positif dan optimistis. Manusia mampu dan
dapat mengubah dunia serta menentukan nasibnya sendiri.

V. Tugas Manusia Dalam Sejarah atau Manusia dan Sejarah


Manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Manusia tanpa sejarah adalah
khayal. Manusia dan sejarah adalah dwitunggal, manusia adalah subyek dan
obyek sejarah. Sejarah adalah pengalaman manusia dan ingatan tentang
pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Peran manusia dalam sejarah ialah
menciptakan sejarah, karena ia yang membuat pengalaman menjadi sejarah. Ia
adalah penutur sejarah, yang membuat cerita sejarah.
Sejarah memang luas artinya, yaitu pengalaman manusia yang dihimpun
sejak zaman purbakala. Manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan
melepaskan diri dari sejarah. Manusia dibentuk oleh sejarah dan manusia
membentuk sejarah. Manusia adalah ciptaan sejarah dan ia mempunyai batas
kemungkinan untuk menciptakan sejarah baru.

VI Penutup
Uraian tentang cerita sejarah pada umumnya hanya memberikan sekedar
penjelasan. Penjelasan itu hanya sekadar memberikan pengertian tentang sejarah
agar dapat dimengerti bahwa sejarah itu suatu ilmu yang mulia. Masalah manusia
adalah masalah sejarah. Setelah memiliki sekadar pengetahuan tentang ilmu
sejarah, maka kesadaran manusia tentang sejarah dapat diperjuangkan untuk
membangkitkan semangat juang bagi kepentingan bangs dan negara.

18
Daftar Pustaka
Ali, R. Moh. 1963. Pengantar Ilmu Sedjarah Indonesia. Bhratara. Jakarta
Croce, Benedetto. 1914, Historical Materialism translated by CM Meredith dalam
http://etext.lib.virginia.edu/modeng/modengC.browse.html copyright
2001, by the Rector and Visitors of the University of Virginia, diakses
tanggal 18 Nopember 2008
Malaka, Tan: 1944. Madilog. http://www.tanmalaka.estranky.cz/clanky/karya-
karya-tan-malaka/gerpolek-_sambungan_ Disakses tanggal: 18 Nopember
2008
Nio Joe Lan. 1952. Tiongkok Sepandjang Abad. Balai Pustaka. Jakarta
Sutrasno. 1975. Sejarah dan Ilmu Pengetahuan. Pradnya Paramita. Jakarta
Toynbee, Arnold Joseph. 1933. A Study of History.
http://nobsnews.blogspot.com/1993 /10/introduction.htm diakses tanggal
17 Nopember 2008

19