Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN SIMULASI ESTIMASI POPULASI HEWAN eKolOgi UmUm

Filed under: Uncategorized Tinggalkan Komentar 24 Desember 2010 SIMULASI ESTIMASI POPULASI HEWAN Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi. Merupakan metode yang umumnya dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson. Untuk metode sampling biotik hewan bergerak biasanya digunakan metode capture-recapture. Merupakan metode yang sederhna untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung dan mamalia kecil. Metode CMMR ini dilakukan dengan mengambil dan melepaskan sejumlah kancing yang dianggap sebagai besarnya populasi yang ada menggunakan kancing hitam dan putih yang danggap sebagai populasi yang tersebar di alam. Hasil memperlihatkan banyaknya populasi yang ditandai dengan kancing berawarna putih dan akan ditandai dengan kancing hitam. PENDAHULUAN Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya parameter ini tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase.(Suin.N.M.1989) Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu.(Soetjipta.1992) Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran poulasi mempertahankan ukuran populasi, yang relatif konstan sedangkan pupolasi lain berfluktasi cukup besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang dinamika populasi,

pada hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam.(Naughton.Mc.1973) Tingkat pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian, juga mempengaruhi struktur umur dan populasi.(Hadisubroto.T.1989) Suatu populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan. Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan satuan ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau biomassa per satuan luas per satuan isi. Kadang kala penting untuk membedakan kerapatan kasar dari kerapatan ekologik (=kerapatan spesifik). Kerapatan kasar adalah cacah atau biomassa persatuan ruang total, sedangkan kerapatan ekologik adalah cacah individu biomassa persatuan ruang habitat. Dalam kejadian yang tidak praktis untuk menerapkan kerapatan mutklak suatu populasi. Dalam pada itu ternyata dianggap telah cukup bila diketahui kerapan nisbi suatu populasi. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara : 1. Penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya. 2. Metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi.(Peterson).(Soetjipta.1992) BAHAN DAN METODE Percobaan yang dilakukan untuk pengamatan simulasi estimasi populasi hewan ini diperlukan dua buah toples yang masing-masing berisi dua macam warana kancing baju dengan jumlah tertentu. Percobaan dilakukan dengan pengambilan segenggam kancing baju hitam yang ada di dalam toples, dihitung jumlahnya (ni) kemudian diganti dengan kancing berwarna putih dengan dikembalikan lagi ke dalam toples berisi kancing hitam tadi, hal ini diberlakukan sebagai penanda hewan. Toples dikocok sehingga seluruh kancing tercampur secara homogen. Kemudian dilakukan pengambilan cuplikan kedua dengan prosedur yang sama, bila terdapat kancing berwarna lain, dicatat sebagai (Ri) Cuplika dilakukan hingga sepuluh kali, dilanjutkan dengan penghitungan estimasi populasi dengan rumus Patersen dan Schanabel. Selanjutnya dilakukan penghitungan dengan daftar lembaran keraja simulasi populasi dengan metode CMMR HASIL DAN PEMBAHASAN Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa saat pengambilan kancing dalam pengamatan poulasi menggunakan metode CMMR, saat pengambilan cuplikan pertama kancing hitam yang dianggap sebagai hewan yang akan ditandai (ni), diperoleh hasil jumlah yang tertangkap adalah 38, dan pada cuplikan kedua ni menunjukkann nilai 54 dengan dengan Ri sebanyak 3, sehingga jumlah hewan yang bertanda sebanyak 51. hingga pada cuplikan ke 10 ni mendapatkan hasil 65 dan Ri 41, sehingga hasil jumlah hewan yang bertanda adalhah 22. dari keseluruhan percobaan didapatkan hasil bahwa jumlah total ni adalah 549 dan Ri sebanyak 226, sehingga perhitungan hewan yang bertanda menjadi sebanyak 323. Sehingga diperolehlah jumlah

hewan yang terperangkap hingga perhitungan periode akhir adalah 1853. Dari percobaan dapat terlihat bahawa salah satu hal yang menakjubkan dalam penelitian ialah kenyataan bahwa kita dapat menduga sifat-sifat suatu kumpulan objek penelitian hanya dengan mempelajari dan mengamati sebagian dart kumpulan itu. Bagian yang diamati itu disebut sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut populasi. Objek penelitian dapat berupa orang, hewan, maupun tumbuhan. Dalam penelitian, objek penelitian ini disebut satuan analisis (units of analysis) atau unsur-unsur populasi. Bila kita meneliti seluruh unsur populasi, kita melakukan sensus. Sensus mudah dilakukan bila jumlah populasi terbatas. Sensus, memang, tidak selamanya sempurna. Hasil sensus, Yang mengungkapkan karakteristik populasi (seperti rata-rata, ragam, modus, atau (range), disebut parameter. Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak, padahal kita ingin menghemat biaya dan waktu, kita harus puas dengan sampel. Karakteristik sampel disebut statistik. Kita sebetulnya tidak tertarik pada statistik. Kita ingin menduga secara cermat parameter dart statistik. Metode pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel harus mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif. Sebaliknya sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur populasi untuk dipilih. Memang, sampel mungkin menunjukkan karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus (Neter, Wasserman, Whitmore, 1979: 195). Statistik dapat membantu kita menentukan sampling error hanya bila kita menggunakan sampel tak bias. Sampel tak bias adalah sampel yang ditarik berdasarkan probabilitas (probability sampling). Dalam sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai nilai kemungkinan tertentu untuk dipilih. Karena sampel ini mengasumsikan kerandoman (randomness), maka sampel probabilitas lazim juga disebut sebagai sampel random. Bila kita mengambil sampel tertentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita memperoleh sampel pertimbangan (judgemental sampling), disebut juga sample non-probabilitas. Untuk kedua jenis sampling ini, ada beberapa alternatif teknik penelitian sampel. Teknik penarikan sampel sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design). Dari praktikum yang telah dilakukan mengenai simulasi estimasi populasi hewan. Kami mendapatkan hasil perhitungan menggunakan rumus Schanabel, maka didapat hasil 449,5 dan standart errornya adalah 34,5. Sedangkan pada data yang dilakukan perhitungan dengan Patersen didapat hasil 684 dan standart errornya adalah 368,3.Dan selisih yang didapat adalah 449,5 maka untuk selang kepercayaannya tidak dapat kami tampilkan hasil, dikarenakan tidak adanya table distribusi untuk perhitungan. Model Peterson menangkap sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan ( Penangkapan Ke 2 terhadap sejulah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah diidentifikasi indifidu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan ke dua. Metode schanebel ini dapat digunakan untuk mengurangi ke tidak validan dalam metode Patersen. Metode ini membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2

kali. Untuk setiap periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali. (Agus.1994) KESIMPULAN Percobaan simulasi estimasi populasi hewan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu metode Capture-Mark-Release-Recapture (CMMR) Penghitungan sebaran populasi yang diperoleh dapat dilakukan dengan penghitungan Schanabel dan Patersen. Penggunaan rumus Schanabel lebih akurat karena perhitungan dilakukan untuk setiap cuplikan yang dilakukan. Penghitungan dengan rumus Patersen mendapatkan hasil 684 dengan kesalahan baku (standar eror) 368,3 Penghitungan dengan rumus Schanabel melalui total seluruh data mendapatkan hasil 449,4 dengan kesalahan baku (standar eror) 34,5 Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetic) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu DAFTAR PUSTAKA Agus,Subagyo 1994. Penuntun Ekologi Umum. Universitas jambi:Jambi Hadisubroto,tisno.1989. Ekologi Dasar.DeptDikBud : Jakarta Naughhton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press : Yogyakarta Soetjipta.1992.Dasar-dasar Ekologi Hewan.DeptDikBud DIKTI : Jakarta Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara : Jakarta

Latar Belakang Permasalahan lingkungan hidup mendapat perhatian yang besar dihampir semua negara di dunia dalam dasawarsa 1970 an. Terdapat kesan bahwa masalah lingkungan hidup adalah suatu hal yang baru. Namun sebenarnya, permasalahan itu telah ada sejak manusia ada di bumi. Oleh sebab itu faktor yang sangat penting dalam permasalahan lingkungan hidup adalah besarnya populasi manusia. Pertumbuhan populasi manusia yang cepat, menyebabkan kebutuhan akan pangan, bahan bakar, tempat pemukiman, dan lain kebutuhan serta limbah domestik juga bertambah dengan cepat. Pertumbuhan populasi manusia telah mengakibatkan perubahan yang besar dalam lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan hidup menjadi besar karena kemajuan teknologi. Akan tetapi yang harus diingat bahwa teknologi bukan saja dapat merusak lingkungan, melainkan diperlukan juga untuk mengatasi masalah lingkungan hidup. Contoh: Mesin mobil yang tidak menggunakan bahan bakar fosil (bensin), tetapi menggunakan gas. Pertumbuhan populasi manusia menyebabkan timbulnya permasalahan lingkungan, seperti: kerusakan hutan, pencemaran, erosi, dan lain-lain; karena manusia selalu

berinteraksi dengan makhluk hidup lainnya dan benda mati dalam lingkungan. Ini dilakukan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam upaya mempertahankan jenis dan keturunannya. Pemenuhan kebutuhan manusia dapat terpenuhi karena adanya pemanfaatan lingkungan yang berbentuk pengelolaan lingkungan hidup. Melalui pengelolaan lingkungan hidup, terjadi hubungan timbal balik antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Ini berarti sudah berkaitan dengan konsep ekologi, terutama tentang konsep hubungan timbal balik antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Dengan demikian apabila membicarakan lingkungan hidup, maka konsep ekologi akan selalu terkait, sehingga permasalahan lingkungan hidup adalah permasalahan ekologi. Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan sebuah kegiatan praktikum untuk mengetahui bagaimana cara menerapkan metode CMRR (Capture Mark Release recapture) untuk memperkirakan cacah populasi kacang koro dan membandingkan hasil estimasi dengan rumus Schumacher-Eschemeyer, rumus Peterson dan rumus Scenebel. Tujuan Praktikum Tujuan yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan praktikum ini, yaitu: Menerapkan metode CMRR (Capture Mark Release recapture) untuk memperkirakan cacah populasi kacang koro dan membandingkan hasil estimasi dengan rumus Schumacher-Eschemeyer, rumus Peterson dan rumus Scenebel. Manfaat Praktikum Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara menerapkan metode CMRR (Capture Mark Release recapture) untuk memperkirakan cacah populasi kacang koro dan membandingkan hasil estimasi dengan rumus Schumacher-Eschemeyer, rumus Peterson dan rumus Scenebel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914). Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk

pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut. Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem (Anonima, 2010). Seperti yang dialami oleh berbagai disiplin ilmu lainnya, ekologi pun dalam perkembangannya telah mengalami diversifikasi dengan lahirnya cabang-cabang ilmu ekologi yang telah terspesialisasi, dengan materi bahasan yang lebig terbatas, khusus dan lebih mendalam. Pemilihan ekologi atas cabang ilmu yang lebih khusus dapat didasarkan atas kelompok organisme yang menjadi pokok bahasan misalnya: eklogi tumbuhan, ekologi hewan, ekologi parasit, ekologi gulma, ekologi serangga, dan sebagainya. Berdasarkan corak habitat ekologi dapat dibedakan atas ekologi perairan tawar, ekologi estuaria, ekologi tanah, ekologi bahari, dan sebagainya. Berdasarkan aspek-aspek tertentu yang menjad pokok bahasan ekologi dapat dibedakan menjadi ekologi perilaku, ekologi perkembangbiakan, ekologi populasi, ekologi komunitas, dan sebagainya. Berdasarkan pada corak pendekatan atau pembahasan ekologi dapat dibedakan menjadi ekologi eksperimental, ekologi teoritik, ekologi matematik, dan sebagainya. Masing-masing cabang ekologi tersebut diatas selanjutnya dapat dipilah-pilah lagi berdasarkan spesialisasi yang lebih sempit (Dharmawan, 2004:7). Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai decomposer (Anonima, 2010). Inti permasalahan ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal) makhluk hidup. Dengan demikian ekologi biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Berdasarkan arti harfiah dari asal katanya ekologi dan ekonomi sama. Ekologi (Oikos dan logos) sedang ekonomi (Oikos dan nomos) sehingga kedua ilmu itu banyak persamaannya. Namun dalam ekologi, mata uang yang dipakai dalam transaksi

bukan rupiah atau dolar, melainkan materi, energi, dan informasi. Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas mendapat perhatian utama dalam ekologi, seperti uang dalam ekonomi. Oleh karena itu transaksi dalam ekologi berbentuk materi, energi, dan informasi (Anonimb, 2010). Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik material (bahan makanan) dan nonmaterial (keindahan dan nilai ilmiah). Dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup (Anonimb, 2010). Pada kasus yang luar biasa mungkin bisa menentukan ukuran dan kepadatan populasi dengan menghitung langsung seluruh individu yang ada di dalam batas suatu populasi. Misalnya, kita dapat menghitung jumlah bintang laut dalam kolam yang pasang. Kelompok mamalia besar seperti kerbau atau gajah, kadang-kadang dpat dihitung secara tepat dari dari pesawat udara. Akan tetapi, pada sebagian kasus, tidak praktis atau bahkan tidak mungkin untuk menghitung seua individu yang berada dalam suatu populasi. Malahan, para ahli ekologi seringkali menggunakan berbagai macam teknik pengambilan contoh atau sampel untuk menaksir kepadatan dan ukuran total populasi. Sebagai contoh para ahli bisa menaksir jumlah alligator di Florida Everglade dengan cara menghitung individu yang terdapat dalam beberapa bidang tanah (plot) yang mewakili dengan ukuran yang sesuai. Taksiran seperti itu lebih tepat jika menggunakan sampel bidang tanah yang lebih banyak dan lebih besar dan saat habitat homogen (Campbell, 2004:334). Populasi juga diartikan sekelompok individu sejenis dalam suatu areal tertentu. Pengertian ini digunakan untuk menyatakan banyaknya individu dalam suatu populasi. Cacah semua individu dalam suatu populasi disebut ukuran populasi. Ukuran populasi dapat diketahui dengan cara sensus, yaitu menemukan dan mencatat setiap individu yang ada di daerah pengamatan (Susanto, 2000: 202). Menurut Anonima (2010), faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut: Suhu Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Sinar matahari Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. Air Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan

sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk. Tanah Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan. Ketinggian Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda. Angin Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu. Garis lintang Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja. Menurut Pomalingo (2007:83), penyebaran individu-individu sejenis yang membentuk populasi di dalam suatu ekosistem mengikuti tiga pola dasar yaitu pola pola penyebaran acak. Dari tiga pola penyebaran organisme, Kurniati menyusun lima tipe penyebaran yakni: Seragam (uniform) Acak (random) Acak bergerombol/kelmpok Seragam bergerombol Berkelompok berkumpul Dengan mengetahui adanya kesulitan-kesulitan tersebut timbul metode-metode penelitian populasi hewan secara tidak langsung. Untuk metode penangkapan, penandaan kembali (CMRR) untuk hewan-hewan yang mudah ditangkap. Metode CMRR dapat dibuat simulasi atau tiruan untuk menggantikan populasi hewan yang dimaksud. Perhitungan estimasi besarnya populasi digunakan rumus SchumacherEschemeyer. Dengan teknik pengambilan sampel yang akurat akan didapatkan besarnya populasi yang mendekati jumlah sebenarnya (Lahay, 2010:19).

BAB III METODE PRAKTIKUM Waktu dan Tempat Hari/Tanggal : Rabu, 28 April 2010 Waktu : Pukul 16.00 17.30 WITA Tempat : Lab. Biologi Lantai III Barat FMIPA UNM Alat dan Bahan Alat : Toples 1 Buah Alat Tulis Menulis Bahan : Kacang Koro hitam 100 Biji Kacang Koro Putih 100 Biji Prosedur Kerja Kacang Koro Hitam Pertama-tama yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah mengambil 1 buah toples yang disediakan sebelumnya, dimana toples sebelumnya telah diisi dengan kacang koro hitam sebanyak 100 biji. Kemudian memberikan perlakuan pertama pada kacang koro hitam dalam toples dengan cara mengambil segemgam kacang koro hitam dari dalam toples dengan metode tangan terbuka, lalu menghitung jumlahnya dan memasukkannya ke dalam toples yang lain dan menggantikan kacang koro yang telah terambil tersebut dengan kacang koro putih dengan jumlah yang sama. Mengocok toples sehingga kacang koro putih yang baru dimasukkan homogen dengan kacang koro hitam dalam toples. Melakukan pencuplikan selanjutnya sebanyak 10 kali, dengan mencatat setiap jumlah kacang koro yang terambil sebagai nilai C, jumlah kacang koro hitam yang baru terambil sebagai nilai m, dan kacang koro putih yang terambil sebagai nilai R. Melakukan perlakukan yang sama untuk kacang koro hitam dengan metode tangan tertutup. Kacang Koro Putih Mengembalikan komposisi kacang koro dalam toples seperti kondisi awal perlakuan. Memberikan perlakuan pertama pada kacang koro putih dalam toples dengan cara mengambil segemgam kacang koro putih dari dalam toples dengan metode tangan terbuka, lalu menghitung jumlahnya dan memasukkannya ke dalam toples yang lain dan menggantikan kacang koro yang telah terambil tersebut dengan kacang koro hitam dengan jumlah yang sama. Mengocok toples sehingga kacang koro hitam yang baru dimasukkan homogen dengan kacang koro putih dalam toples. Melakukan pencuplikan selanjutnya sebanyak 10 kali, dengan mencatat setiap jumlah kacang koro yang terambil sebagi nilai M, jumlah kacang koro putih yang baru terambil sebagai nilai m, dan kacang koro hitam yang terambil sebagai nilai R. Melakukan perlakukan yang sama untuk kacang koro putih dengan metode tangan tertutup.

Analisis Data Tangan Terbuka, Kacang koro Hitam Rumus Schumacher-Eschemeyer N = ( CM^2 )/(MR) = 195446/2212 = 88.36 (a) Variansi =1/( S-1) { (R^2/C )- ((MR)/a) } = 1/(11-1) { (25.93) (25,03) } = 1/10 { 0,9} =0.09.. (b) Standar Error = ((a^(3 ).b)/(MR)) = ((88.36^(3 ).0.09)/2212) = 5,3 2. Rumus Peterson N = ( (CM^ /R) )/(S-1) = (764.5)/10 = 76,45 3. Rumus Scerabel N = ((CM)^ /((R)) ) 1/(S-1) = (754.33)1/( S-1) = ( 754.33) x 1/(11-1) = 75,43 Tangan Tertutup, Kacang koro Hitam Rumus Schumacher-Eschemeyer N = ( CM^2 )/(MR) = 97248/1119 = 86, 90 (a) Variansi =1/( S-1) { (R^2/C )- ((MR)/a) } = 1/(11-1) { (14.83) (12,88) } = 1/10 { 1,95} =0.19.. (b) Standar Error = ((a^(3 ).b)/(MR)) = ((86,90^(3 ).0.19)/1119) = 10,6 Rumus Peterson N = ( (CM^ /R) )/(S-1) = (756.24)/10 = 75,62 Rumus Scerabel N = ((CM)^ /((R)) ) 1/(S-1) = (1848.78)1/( S-1) = ( 1848.78) x 1/(11-1) = 184,88

Tangan Terbuka, Kacang koro Putih Rumus Schumacher-Eschemeyer N = ( CM^2 )/(MR) = 400908/3627 = 110,53 (a) Variansi =1/( S-1) { (R^2/C )- ((MR)/a) } = 1/(11-1) { (35.38) (32,81) } = 1/10 { 2,57} = 0,26.. (b) Standar Error = ((a^(3 ).b)/(MR)) = ((110,53^(3 ).0,26)/3627) = 9,83 Rumus Peterson N = ( (CM^ /R) )/(S-1) = (1167.32)/10 = 116,73 Rumus Scerabel N = ((CM)^ /((R)) ) 1/(S-1) = (937.52)1/( S-1) = ( 937.52) x 1/(11-1) = 93,75 Tangan Tertutup, Kacang koro Putih Rumus Schumacher-Eschemeyer N = ( CM^2 )/(MR) = 156773/2030 = 77,23 (a) Variansi =1/( S-1) { (R^2/C )- ((MR)/a) } = 1/(11-1) { (27,70) (26,28) } = 1/10 { 1,42} = 0,142.. (b) Standar Error = ((a^(3 ).b)/(MR)) = ((77,23^(3 ).0,142)/2030) = 5,67 Rumus Peterson N = ( (CM^ /R) )/(S-1) = (860,65)/10 = 86,065 Rumus Scerabel N = ((CM)^ /((R)) ) 1/(S-1) = (769,57)1/( S-1) = ( 769,57) x 1/(11-1) = 76,957 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan metode CMRR, dengan bahan kacang koro putih dan jacang koro hitam stimulasi untuk menyajikan populasi. Menghitung populasi kacang koro dengan metode pengambilan sampling melalui tangan terbuka dengan tangan tertutup untuk kedua macam kacang koro hitam dan kacang koro putih. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh data : Kacang koro hitam Dari hasil pengamatan dan data yang diperoleh pada metode tangan terbuka dengan menggunakan rumus Schumacher-Eschemeyer adalah 88.36, jumlah variansinya 0.09

dengan standar errornya 5,3. Sedangkan pada metode tangan tertutup dengan menggunakan rumus yang sama data yang diperoleh sebesar 86,90, jumlah variansinya 0.19 dan standar errornya 10,6. Apabila dilihat dari standar errornya maka kedua metode ini tidak memiliki tingkat kesalahan yang cukup tinggi karena menurut teori bahwa pengambilan suatu data dikatakan benar apabila standar errornya mendekati nol. Pada metode tangan terbuka dengan menggunakan rumus Peterson diperoleh data sebesar 76,45 dan pada rumus Scenebel diperoleh data sebesar 75,43 sedangkan pada metode tangan tertutup dengan menggunakan rumus yang sama yaitu rumus Peterson sebesar 75,62 dan rumus Scenebel sebesar 184,88. Oleh karena itu suatu populasi mencirikan ukuran dan jumlah individu populasi dalam suatu daerah. Kacang koro putih Pada kacang koro hitam ini data yang diperoleh dengan jumlah metode tangan terbuka dengan rumus Schumacher-Eschemeyer 110,53, variansi 0,26, dan standar errornya 9,83. Dengan metode tangan tertutup dengan rumus SchumacherEschemeyer diperoleh data sebesar 77,23, variansinya 0,142, dan standar errornya sebesar 5,67. Apabila dilihat dari standar errornya maka metode yang lebih akurat yaitu metode tangan tertutup karena standar errornya mendekati nol. Karena menurut teori bahwa pengambilan suatu data dikatakan benar apabila standar errornya mendekati nol. Pada metode tangan terbuka dengan menggunakan rumus Peterson diperoleh data sebesar 116,73 dan pada rumus Scenebel diperoleh data sebesar 93,75 sedangkan pada metode tangan tertutup dengan menggunakan rumus yang sama yaitu rumus Peterson sebesar 86,065 dan rumus Scenebel sebesar 76,957. Dua karakteristik penting pada populasi adalah kepadatan dan jarak antarindividu. Pada kasus yang luar biasa kita mungkin bisa menetukan ukuran dan kepadatan populasi dengan menghitung langsung seluruh individu yang ada di dalam batas suatu populasi. Pada beberapa kasus, ukuran populasi ditaksir bukan dengan menghitung organismenya akan tetapi dengan menggunakan indicator tidak langsung, seperti jumlah sarang, atau tanda-tanda seperti kotoran atau jejak. Teknik pengambilan sample lainnya yang umum digunakan untuk menaksir populasi hewan yaitu metode penandaan dan penangkapan kembali (Campbell, 2004).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Dari hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan yaitu dari perhitungan dengan rumus Schumacher-Eschemeyer diperoleh standar error untuk kacang koro hitam dengan cara pengambilan tangan terbuka yang nilainya 5,3 dan dengan tangan tertutup nilainya 10,6. Sedangkan untuk kacang putih nilai standar error pada metode tangan terbuka yaitu 9,53 dan untuk tangan tertutup nilainya 5,

67. Saran Sebaiknya praktikan serius dalam melakukan praktikum. Diharapkan kepada asisten pendamping agar lebih baik lagi dalam mendampingi praktikum dalam melakukan praktikum. Diharapkan semua alat yang digunakan dalam praktikum diperbanyak.

DAFTAR PUSTAKA Anonim a. 2010. Geomorfologi kloning http://munadhiroh.ngeblogs.com. Diakses pada tanggal 7 April 2010. Anonimb. 2010. Pembelajaran Ekologi (Microsoft word ekologi tanaman. Final word.doc) Diakses pada tanggal 7 April 2010. Campbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga. Dharmawan, Agus. 2004. Ekologi hewan. Malang: Universitas Negeri Malang. Lahay, Jutje. 2010. Penuntun praktikum ekologi hewan .Makassar : Universitas Negeri Makassar. Susanto, Pudyo. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah. Pomalingo, Nelson.. 2007. Pengetahuan Lingkungan Edisi Revisi. Makassar: Kawasan Timur Indonesia.

Anonim b Pembelajaran Ekologi

*) Dr. Paskalis Riberu, M.Pd. adalah dosen Pascasarjana UNJ, Jakarta A. Arti Ekologi. Inti permasalahan ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal) makhluk hidup. Dengan demikian ekologi biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Berdasarkan arti harfiah dari asal katanya ekologi dan ekonomi sama. Ekologi (Oikos dan logos) sedang ekonomi (Oikos dan nomos) sehingga kedua ilmu itu banyak persamaannya. Namun dalam ekologi, mata uang yang dipakai dalam transaksi bukan rupiah atau dolar, melainkan materi, energi, dan informasi. Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas mendapat perhatian utama dalam ekologi, seperti uang dalam ekonomi. Oleh karena itu transaksi dalam ekologi berbentuk materi, energi, dan informasi. B. Konsep Dasar Ekologi Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik material (bahan makanan) dan non-material (keindahan dan nilai ilmiah). Dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup. Menurut Odum (1979) dalam bukunya Fundamentals of Ecology, lingkungan hidup didasarkan beberapa konsep ekologi dasar, seperti konsep: biotik, abiotik, ekosistem, produktivitas, biomasa, hukum thermodinamika I dan II, siklus biogeokimiawi dan konsep faktor pembatas. Dalam komunitas ada konsep biodiversitas, pada populasi ada konsep carrying capacity, pada spesies ada konsep distribusi dan interaksi serta konsep suksesi dan klimaks. 1. Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup. Makhluk hidup (organisme) memiliki tingkat organisasi dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat organisasi yang paling kompleks. Tingkatan organisasi tersebut terlihat sebagai deretan biologi yang disebut spektrum OPINI biologi. Adapun spektrum biologi yang dimaksud yaitu: protoplasma (zat hidup dalam sel); sel (satuan dasar suatu organisme); jaringan (kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama); organ (alat tubuh, bagian dari organisme), sistem organ (kerjasama antara struktur dan fungsional yang harmonis); organisme (makhluk hidup, jasad hidup); populasi (kelompok organisme yang sejenis yang hidup dan berbiak pada suatu daerah tertentu); komunitas (semua

populasi dari berbagai jenis yang menempati suatu daerah tertentu); ekosistem; dan biosfer (lapisan bumi tempat ekosistem beroperasi)

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Ekologi Hewan unit III dengan judul Estimasi Besarnya Populasi Serangga, yang disusun oleh : Nama : Hasnah Nim : 071404066 Kls/Klp : B/VI Telah diperiksa dan disetujui oleh Asisten dan Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima. Makassar, April 2010 Koordinator Asisten Asisten,

Risna Irawati Rifal Nim : 061414005

Mengetahui Dosen Penanggung Jawab

HARTONO.S.Si,S.Pd,M,biotek

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Permasalahan lingkungan hidup mendapat perhatian yang besar dihampir semua negara di dunia dalam dasawarsa 1970 an. Terdapat kesan bahwa masalah lingkungan hidup adalah suatu hal yang baru. Namun sebenarnya, permasalahan itu telah ada sejak manusia ada di bumi. Oleh sebab itu faktor yang sangat penting dalam permasalahan lingkungan hidup adalah besarnya populasi manusia. Pertumbuhan populasi manusia yang cepat, menyebabkan kebutuhan akan pangan, bahan bakar, tempat pemukiman, dan lain kebutuhan serta limbah domestik juga bertambah dengan cepat. Pertumbuhan populasi manusia telah mengakibatkan perubahan yang besar dalam lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan hidup menjadi besar karena kemajuan teknologi. Akan tetapi yang harus diingat bahwa teknologi bukan saja dapat merusak lingkungan, melainkan diperlukan juga untuk mengatasi masalah lingkungan hidup. Contoh: Mesin mobil yang tidak menggunakan bahan bakar fosil (bensin), tetapi menggunakan gas. Pertumbuhan populasi manusia menyebabkan timbulnya permasalahan lingkungan, seperti: kerusakan hutan, pencemaran, erosi, dan lain-lain; karena manusia selalu berinteraksi dengan makhluk hidup lainnya dan benda mati dalam lingkungan. Ini dilakukan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam upaya mempertahankan jenis dan keturunannya. Pemenuhan kebutuhan manusia dapat terpenuhi karena adanya pemanfaatan lingkungan yang berbentuk pengelolaan lingkungan hidup. Melalui pengelolaan lingkungan hidup, terjadi hubungan timbal balik antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Ini berarti sudah berkaitan dengan konsep ekologi, terutama tentang konsep hubungan timbal balik antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Dengan demikian apabila membicarakan lingkungan hidup, maka konsep ekologi akan selalu terkait, sehingga permasalahan lingkungan hidup adalah permasalahan ekologi. Berdasarkan dengan mengetahui adanya kesulitan-kesulitan tersebut timbul metodemetode penelitian populasi hewan secara tidak langsung. Untuk metode penangkapan, penandaan kembali (CMRR) untuk hewan-hewan yang mudah ditangkap. Metode CMRR dapat dibuat simulasi atau tiruan untuk menggantikan populasi hewan yang dimaksud. Perhitungan estimasi besarnya populasi digunakan rumus Schumacher-Eschemeyer. Dengan teknik pengambilan sampel yang akurat akan didapatkan besarnya populasi yang mendekati jumlah sebenarnya. Oleh karena itu diperlukan sebuah kegiatan praktikum ini untuk mengetahui bagaimana cara menerapkan metode CMRR (Capture Mark Release recapture) untuk memperkirakan cacah populasi serangga belalang.

Tujuan Praktikum Tujuan yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan praktikum ini, yaitu: Menerapkan metode CMRR (Capture Mark Release recapture) untuk memperkirakan cacah populasi serangga belalang dan membandingkan hasil estimasi dengan rumus Schumacher-Eschemeyer, rumus Peterson dan rumus Scenebel. Manfaat Praktikum Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara menerapkan metode CMRR (Capture Mark Release recapture) untuk memperkirakan cacah populasi serangga belalang dan membandingkan hasil estimasi dengan rumus Schumacher-Eschemeyer, rumus Peterson dan rumus Scenebel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914). Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut. Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem (Anonima, 2010). Seperti yang dialami oleh berbagai disiplin ilmu lainnya, ekologi pun dalam perkembangannya telah mengalami diversifikasi dengan lahirnya cabang-cabang ilmu ekologi yang telah terspesialisasi, dengan materi bahasan yang lebig terbatas, khusus dan lebih mendalam. Pemilihan ekologi atas cabang ilmu yang lebih khusus dapat didasarkan atas kelompok organisme yang menjadi pokok bahasan misalnya: eklogi tumbuhan, ekologi hewan, ekologi parasit, ekologi gulma, ekologi serangga, dan sebagainya. Berdasarkan corak habitat ekologi dapat dibedakan atas ekologi perairan tawar, ekologi estuaria, ekologi tanah, ekologi bahari, dan sebagainya. Berdasarkan aspek-aspek tertentu yang menjad pokok bahasan ekologi dapat dibedakan menjadi ekologi perilaku, ekologi perkembangbiakan, ekologi populasi, ekologi komunitas, dan sebagainya. Berdasarkan pada corak pendekatan atau pembahasan ekologi dapat dibedakan menjadi ekologi eksperimental, ekologi teoritik,

ekologi matematik, dan sebagainya. Masing-masing cabang ekologi tersebut diatas selanjutnya dapat dipilah-pilah lagi berdasarkan spesialisasi yang lebih sempit (Dharmawan, 2004:7). Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai decomposer (Anonima, 2010). Hubungan lain antara sesame makhluk hidup di dalam suatu komunitas yang dipelajari dalam ekologi adalah hubungan intrafesifik dan hubungan interspesifik. Hubungan intraspesifik adalah hubungan antara individu yang satu dengan individu lain dalam satu polpulasi. hubungan intraspesifik itu antara lain adalah kompetisi. Hubungan interspesifik adalah hubungan antara hubungan antara organismeorganisme dalam populasi yang berbeda. Hubungan yang termasuk interspesifik antara lain adalah simbiosis dan paratisme (Susanto, 2000:9). Populasi yang hidup pada suatu habitat dalam lingkungan, dapat memenuhi kebutuhannya karena lingkungan mempunyai kemampuan untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan populasi disebut daya dukung (carrying capacity). Daya dukung lingkungan tersebut merupakan sumber daya alam lingkungan. Kemampuan lingkungan mempunyai batas, sehingga apabila keadaan lingkungan berubah maka daya dukung lingkungan juga berubah. Hal ini karena daya dukung lingkungan dipengaruhi oleh faktor pembatas, seperti: cuaca, iklim, pembakaran, banjir, gempa, dan kegiatan manusia. Manusia mampu memodifikasi komunitas alami dan mengubah daya dukungnya. Akibatnya nilai daya dukung naik dengan menambah komponen lingkungan yang menjadi faktor pembatas. Contoh: pemupukan lahan pertanian. Makhluk hidup dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membentuk kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kelompok yang hidup secara bersama telah menyesuaikan diri dan menghuni suatu tempat alami disebut komunitas. Karakteristik komunitas pada suatu lingkungan adalah keanekaragaman. Makin beranekaragam komponen biotik (biodiversitas), maka makin tinggi keanekaragaman. Sebaliknya makin kurang beranekaragaman maka dikatakan keanekaragaman rendah (Anonimb, 2010). Pada kasus yang luar biasa mungkin bisa menentukan ukuran dan kepadatan populasi dengan menghitung langsung seluruh individu yang ada di dalam batas suatu populasi. Misalnya, kita dapat menghitung jumlah bintang laut dalam kolam yang pasang. Kelompok mamalia besar seperti kerbau atau gajah, kadang-kadang dpat dihitung secara tepat dari dari pesawat udara. Akan tetapi, pada sebagian kasus, tidak praktis atau bahkan tidak mungkin untuk menghitung seua individu yang

berada dalam suatu populasi. Malahan, para ahli ekologi seringkali menggunakan berbagai macam teknik pengambilan contoh atau sampel untuk menaksir kepadatan dan ukuran total populasi. Sebagai contoh para ahli bisa menaksir jumlah alligator di Florida Everglade dengan cara menghitung individu yang terdapat dalam beberapa bidang tanah (plot) yang mewakili dengan ukuran yang sesuai. Taksiran seperti itu lebih tepat jika menggunakan sampel bidang tanah yang lebih banyak dan lebih besar dan saat habitat homogeny (Campbell, 2004:). Menurut Anonum b (2010), faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut: Suhu Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Sinar matahari Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. Air Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk. Tanah Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan. Ketinggian Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda. Angin Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu. Garis lintang Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja. Menurut Pomalingo (2007), penyebaran individu-individu sejenis yang membentuk populasi di dalam suatu ekosistem mengikuti tiga pola dasar yaitu pola pola penyebaran acak. Dari tiga pola penyebaran organisme, Kurniati (1994:83)

menyususn lima tipe penyebaran yakni: Seragam (uniform) Acak (random) Acak bergerombol/kelmpok Seragam bergerombol Berkelompok berkumpul Sebagai agensia pengendali hayati, parasitoid sangat baik digunakan dan selama ini paling berhasil mengendalikan hama. Keberhasilan semua teknik pengendalian sangat ditentukan oleh sinkronisasi antara fenologi dan parasitoid di lapangan. Fase larva parasitoid hanya dapat hidup pada fase hidup inang tertentu terutama telur dan larva sehingga hidup parasitoid sangat ditentukan oleh ketersediaan fase inang yang tepat. Meskipun parasitoid serangga disebut sebagai serangga yang berguna dan dimanfaatkan dalam pengendalian hayati, namun ada beberapa jenis parasitoid yang keberadaannya merugikan. Kelompok parasitoid adalah yang memparasitoid serangga predator dan parasitoid (Hidayat, 2004:7). Dengan mengetahui adanya kesulitan-kesulitan tersebut timbul metode-metode penelitian populasi hewan secara tidak langsung. Untuk metode penangkapan, penandaan kembali (CMRR) untuk hewan-hewan yang mudah ditangkap. Metode CMRR dapat dibuat simulasi atau tiruan untuk menggantikan populasi hewan yang dimaksud. Perhitungan estimasi besarnya populasi digunakan rumus SchumacherEschemeyer. Dengan teknik pengambilan sampel yang akurat akan didapatkan besarnya populasi yang mendekati jumlah sebenarnya (Lahay, 2010:19). BAB III METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Hari/ Tanggal Praktikum : Selasa, 14 April 2010 Waktu : Pukul 16.00 17.30 WITA Tempat : Wilayah Bagian Belakang Teknik UNM Alat dan Bahan 1. Alat : Jaring perangkap serangga Spidol 2. Bahan yang digunakan adalah Dissostura sp (belalang) Prosedur Kerja Pertama-tama yang dilakukan adalah menangkap sejumlah belalang dengan menggunakan jaring. Kemudian, menghitung jumlah belalang yang tertangkap lalu memberi tanda dengan spidol pada bagian caput, thorax dan abdomen pada tiap belalang, kemudian melepaskannya. Selanjutnya mengulangi langkah 1 dan menghitung jumlah belalang yang tertangkap baik yang sudah memiliki tanda dan tertangkap kembali maupun yang belum memiliki tanda. Memberikan tanda pada

belalang yang belum memiliki tanda kemudian melepaskannya kembali. Mengulangi kembali percobaan di atas sampai penangkapan keseblas kali.Mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan Sampling ke- C M m R CM CM2 CM MR CM/R R CM/ R R2/C 1101000000000 21110111000 3 3 2 3 0 6 12 7 0 0 0 4 2 5 1 1 10 50 17 5 10 1 17 0.5 5 4 6 3 1 24 144 41 6 24 2 20.5 0.25 6 3 9 2 1 27 243 68 9 27 3 22.67 0.33 7 1 11 1 0 11 121 79 0 3 26.33 0 8 1 12 1 0 12 144 91 0 3 30.33 0 9 1 13 1 0 13 169 104 0 3 34.67 0 10 1 14 1 0 14 196 118 0 3 39.33 0 11 2 15 2 0 30 450 148 0 3 49.33 0 Jml 20 88 17 3 148 1530 674 20 61 21 86.5 1.083

Keterangan: C: jumlah serangga yang ditangkap M: jumlah semua serangga yang sudah ditandai m: jumlah serangga yang baru ditandai R: jumlah serangga yang tertangkap kembali setelah ditandai Analisis Data Rumus Schumacher-Eschemeyer N = ( CM^2 )/(MR) = 1530/20 = 76.5 (a) Variansi =1/( S-1) { (R^2/C )- ((MR)/a) } = 1/(11-1) { (1,08 ) (0,26) } = 1/10 { 0.82 } =0.082.. (b)

Standar Error = ((a^(3 ).b)/(MR)) = ((76.5^(3 ).0.082)/20) = 42.89 Rumus Peterson N = ( (CM^ /R) )/(S-1) = 61/10 = 6.1 Rumus Scerabel N = ((CM)^ /((R)) ) 1/(S-1) = ((674)^ /((21)) ) 1/(S-1) = ( 150.5) x 1/(11-1) = 3.21

Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan metode CMRR, yang bahannya adalah serangga belalang (Dissosteria carolina), yang mana setelah dilakukan penangkapan sebelas kali dengan selang waktu selama 2 menit ditemukan jumlah keseluruhan serangga yang ditangkap adalah 20, sedangkan untuk jumlah keseluruhan serangga yang sudah ditandai yaitu 15, untuk jumlah serangga yang baru ditandai adalah 17 dan seluruh jumlah serangga yang tertangkap kembali setelah ditandai yaitu ada 3 saja. Kepadatan populasi dengan berdasar pada Rumus Schumacher-Eschemeyer diperoleh nilai N= 76.5, sedangkan Variansinya adalah 0.082 maka diperoleh Standar error sebesar 42.89, berbeda dengan nilai N yang diperoleh dengan menggunakan rumus Peterson dengan N = 6.1 dan dengan menggunakan rumus scerabel nilai N adalah 3,21. Untuk metode penangkapan, penandaan kembali (CMRR) untuk hewanhewan yang mudah ditangkap. Metode CMRR dapat dibuat simulasi atau tiruan untuk menggantikan populasi hewan yang dimaksud. Perhitungan estimasi besarnya populasi digunakan rumus Schumacher-Eschemeyer. Dengan teknik pengambilan sampel yang akurat akan didapatkan besarnya populasi yang mendekati jumlah sebenarnya. Dua karakteristik penting pada populasi adalah kepadatan dan jarak antarindividu. Pada kasus yang luar biasa kita mungkin bisa menetukan ukuran dan kepadatan populasi dengan menghitung langsung seluruh individu yang ada di dalam batas suatu populasi. Pada beberapa kasus, ukuran populasi ditaksir bukan dengan menghitung organismenya akan tetapi dengan menggunakan indicator tidak langsung, seperti jumlah sarang, atau tanda-tanda seperti kotoran atau jejak. Teknik pengambilan sample lainnya yang umum digunakan untuk menaksir populasi hewan yaitu metode penandaan dan penangkapan kembali (Campbell, 2004). Metode tangkap-dan tangkap lagi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Mula-mula ditentukan daerah yang akan dijadikan sampel dan ditentukan luasnya.

Batas-batas daerah sampel harus ditentuka secara jelas. Setelah itu dilakukan penangkapan pada hewan yang akan diteliti. Setiap menangkap seekor hewan, hewan diberi tanda bahan yang digunakan tanda sebaiknya tidak mudah hilang atau terhapus, misalnya oleh air hujan. Setelah diberi tanda hewan itu dilepaskan lagi. Penangkapan dilakukan sampai tidak lagi menemukan hewan yang tidak bertanda, artinya diperkirakan semua hewan sudah pernah ditangkap. Selang beberapa waktu dilakukan lagi penangkapan hewan-hewan di lokasi tersebut. Selang waktu harus pendek sehingga tidak ada hewan-hewan baru yang masuk ke dalam atau keluar dari daerah pengamatan. Penangkapan yan g kedua ini akan mengenai individu-individu yang bertanda (pernah tertangkap) dan individu-individu yang tidak bertanda (belum pernah tertangkap). Setelah penangkapan selesai jumlah individu yang bertanda dan yang tidak bertanda dijumlah (Susanto, 2000). Pengukuran populasi dengan metode tangkap-dan tangkap lagi makin tepat jika jumlah individu bertanda pada penangkapan pertama dan kedua tidak berbeda jauh. Metode tangkap-dan-tangkap lagi lebih cocok digunakan pada populasi yang hidup pada daerah tertutup dan populasinya bersifat stabil, kepik emas dan jengkerik (Andrews, 1974). Kondisi populasi seperti itu menyebabkan hewan tidak banyak banyak yang keluar atau masuk antara penangkapan yang pertama dengan penangkapan yang kedua (Susanto, 2000). Teknik TBTLTL ini memungkinkan estimasi besarnya populasi sekaligus juga laju kelahiran dan laju kematian di dalam populasi tersebut. Perlu diingat bahwa teknik ini melibatkan tiga asumsi yang rawan dan biasanya digunakan pada hewan yang cukup besar bentuknya seperti kupu-kupu, siput, dan hewan serangga lainnya yang mudah ditandai.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa hasil analisis diperoleh nilai N= 76.5, sedangkan Variansinya adalah 0.082 maka diperoleh Standar error sebesar 42.89, berbeda dengan nilai N yang diperoleh dengan menggunakan rumus Peterson dengan N = 6.1 dan dengan menggunakan rumus scerabel nilai N adalah 3,21. Saran Sebaiknya praktikan serius dalam melakukan praktikum. Diharapkan kepada asisten pendamping agar lebih baik lagi dalam mendampingi praktikum dalam melakukan praktikum. Diharapkan semua alat yang digunakan dalam praktikum diperbanyak.

DAFTAR PUSTAKA Anonim a. 2010. Geomorfologi kloning http://munadhiroh.ngeblogs.com. Diakses pada tanggal 7 April 2010. Riberu, Paskalis. 2010. Pembelajaran Ekologi (Microsoft word ekologi tanaman. Final word.doc) Diakses pada tanggal 7 April 2010. Campbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga. Dharmawan, Agus. 2004. Ekologi hewan. Malang: Universitas Negeri Malang. Hidayat, Otang. 2004. Dasar-Dasar Entomologi. Makassar : Universitas Pendidikan Nasional. Lahay, Jutje. 2010. Penuntun praktikum ekologi hewan .Makassar : Universitas Negeri Makassar. Susanto, Pudyo. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah. Pomalingo, Nelson.. 2007. Pengetahuan Lingkungan Edisi Revisi. Makassar: Kawasan Timur Indonesia.