Anda di halaman 1dari 2

Muted Group Theory

Contoh Kasus Patricia Fitzpatrick adalah seorang wanita yang kembali ke bangku kuliahnya pada usia yang tidak muda lagi, 40 tahun. Setelah sekian lama, Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sarjana nya yang pernah ia mulai 20 puluh tahun yang lalu. Awalnya, Patricia beranggapan bahwa melanjutkan pendidikannya yang terhenti akan menjadi hal yang positif. Namun setelah dijalankan, hal tersebut tidak berjalan sesuai dengan bayangannya. Ia merasa tidak benar-benar mampu mengerti materi yang disampaikan dan menghadapi kesulitan dalam mengerjakan seluruh tugas. Patricia awalnya berpikir bahwa keputusannya melanjutkan pendidikannya akan menmbah percaya diri dan harga dirinya. Ia juga berharap bisa mengakhiri pekerjaannya di Hudsons Department Store dimana ia bekerja di bagian distribusi selama 7 tahun dengan upah yang kecil dan tidak adanya peluang untuk posisi yang lebih baik. Hal lain yang membuat Patricia merasa gelisah adalah kesulitannya dalam mengutarakan pendapatnya. Hampir di semua kelas, Patricia sangat pasif dan tidak turut berpastisipasi dalam pelajaran. Sebenarnya, kondisi tersebut bukanlah kali pertama Patricia merasa kesulitan dalam berpendapat dan berpartisipasi. Jauh sebelum itu, Patricia sudah merasakan hal tersebut, contohnya di lingkungan pekerjaannya dimana ia adalah satu-satunya wanita pada shit nya. Ia merasa kesulitan dalam mengutarakan pendapatnya dan merasa bahwa teman laki-lakinya yang lain tidak terlalu memperhatikannya. Contoh lain, ketika ia diminta menjadi pembicara pada rapat komite dan orang tua siswa di sekolah anaknya. Lagi-lagi, ia merasa sulit berbicara di hadapan banyak pihak. Patricia sangat berharap bahwa keputusannya melanjutkan kuliah akan membantunya mengembangkan diri. Ia tidak mau menyerh, namun ia menghadapi masa-masa yang sangat sulit. Pembahasan Muted Group Theory memiliki pendekatan tersendiri dalam menganalisis kasus Patricia. MGT menerangkan bahwa sebagai seorang wanita, ibu tunggal, dan orang dengan penghasilan rendah, Patricia merupakan bagian dari beberapa kelompok yang pengalaman nya tidak tersampaikan dengan baik oleh sistem bahasanya. MGT menjelaskan bahwa wanita akan berusaha menyampaikan pendapat atau pengalamannya dengan cara yang dianggap bisa dmengerti oleh pria. Hal tersebut membuat wanita cenderung merasa ragu untuk menggunakan bahasanya. Bukan hanya wanita, MGT juga membahas bahwa hal tersebut bisa terjadi pada kelompok atau pihak yang minoritas atau memiiki power lebih rendah.

Asal-Usul Muted Theory Muted Theory berasal dari karya Edwin dan Shirley Adener. Mereka menyatakan bahwa kelompok yang dominan dalam hierarki sosial akan menentukan sistem komunikasi bagi budaya tersebut. Dengan mengubah generalisasi ini terhadap kasus tertentu mengenai wanita dalam budaya, Edwin Ardner mengamati bahwa antropolog sosial mengkaji pengalaman wanita dengan berbicara hampir secara eksklusif pada pria. Hal ini membuat wanita kesulitan karena bahasa yang tidak sepenuhnya memberikan suara bagi pemikiran mereka, dan pengalaman yang terwakilkan dari sudut pandang pria. Edwin dan Shirley mungkin berasumsi bahwa Patricia Fitzpatrick mengalami bungkam dua kali: pertama karena kegagalan bahasa yang tidak mampu memenuhi fungsinya, dan kedua karena para pengamat yang menganggapnya tidak pandai berbicara. Kelompok yang bungkam akan dianggap tidak bisa berbicara oleh sistem bahasa kelompok yang dominan. Bagi kelompok bungkam, jika ingin mengatakan sesuatu, mereka harus menggeserkan pandangan mereka terlebih dahulu dan membandingkannya dengan pengalaman-pengalaman kelompok dominan. Pemikiran mengenai MGT juga dapat dilihat dari penggunaan bahasa Inggris yang memang dikembangkan dan diformalisasikan oleh kaum laki-laki. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, MGT menyimpukan bahwa wanita dibungkam oleh bahasa mereka. Komposisi Muted Group Kegiatan berteori dan penerapan kelompok bungkam banyak terfokus pada wanita senagai kelompok bisu. Namun, teori ini bisa diterapkan pada kelompok mana saja yang dianggap tidak dominan. Contoh kelompok yang dianggap tidak dominan adalah kaum AfroAmerika, gay, lesbian, masyarakat kelas bawah, orang dengan cacat tubuh, dan lain-lain. Beberapa peneliti bahkan mengatakan bahwa pria bisa menjadi bagian dari kelompok bungkam. Radhika Chopra mengamati isu pembungkaman terhadap Ayah yang merawat anaknya. Wacana menjadi seorang Ibu bisa mereduksi Ayah menjadi orang yang tidak penting yang kehadirannya dianggap sebagai ketidakhadiran jika dibandingkan dengan peran Ibu yang sangat vital. Untuk menitikberatkan pria dan wanita pada MGT, kita harus memahami konsep jenis kelamin dan Gender. Jenis kelamin pada umumnya digunakan untuk kategori biologis, pria dan wanita, yang dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dan diberikan Tuhan. Sementara, gender didefinisikan sebagai kategori sosial yang dipelajari dalam bentuk maskulinitas dan feminitas bagi budya tertentu.