Anda di halaman 1dari 14

Obstruksi Traktus Urinarius (Ur)

Written by Silvia Estuarina Thursday, 15 September 2011 09:11

PENDAHULUAN
Obstruksi traktus urinarius adalah masalah yang paling banyak ditemukan oleh dokter spesialis urologi, dokter umum dan dokter emergency. Obstruksi traktus urinarius dapat terjadi pada daerah disepanjang traktus urinarius, dari ginjal sampai meatus urethra. Yang secara sekunder dapat menjadi calculi, tumor, striktur, dan anatominya menjadi abnormal. Uropaty obstruksi dapat menyebabkan nyeri, infeksi traktus urinarius, penurunan fungsi ginjal, atau, mungkin sepsis atau meninggal. Sehingga, setiap kasus yang di curigai dengan obstruksi traktus urinarius sebaiknya di konsultasikan dengan dokter spesialis urologi untuk dievaluasi.

Sekitar 2% dari setiap kasus obstruksi dapat menyebabkan gagal ginjal. Hal ini paling sering terjadi pada laki-laki, karena penyakit prostat dan paling banyak karena batu saluran kencing. Walaupun jumlah pasien rawat inap di rumah sakit karena penyakit ginjal dan urologi yang disebabkan obstruksi, sekitar 40% pada laki-laki dan 60% pada perempuan.
Pada otopsi yang dilakukan secara berkala pada 59,064 pasien yang berusi 0-80 tahun, sekitar 3,1% menderita hidronefrosis. Hidronefrosis pada perempuan paling sering terjadi pada usia 30-70 tahun yang muncul bersamaan dengan keganasan pada kehamilan dan ginekologi. Hidronefrosis pada laki-laki kebanyakan terjadi pada usia lebih dari 60 tahun yang muncul akibat obstruksi prostat. Hidronefrosis ditemukan pada 2-2.5% anak-anak.

TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI TRAKTUS URINARIUS 1. Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak dirongga retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial. Pada sisi ini terdapat hilus ginjal yaitu tempat struktur-struktur pembuluh darah, sistem limfatik, sistem saraf, dan ureter menuju dan meninggalkan ginjal. Besar dan berat ginjal sangat bervariasi ; hal ini tergantung pada jenis kelamin, umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain. Pada autopsi klinis didapatkan bahwa ukuran ginjal orang dewasa rata-rata adalah 11.5 cm x 6 cm x 3.5 cm. Beratnya bervariasi antara

120-170 gram atau kurang lebih 0.4% dari berat badan. Struktur di Sekitar Ginjal Ginjal dibungkus oleh jaringan fibrus tipis dan mengkilat yang disebut kapsula fibrosa (true kapsul) ginjal dan diuar kapsul ini terdapat jaringan lemak perirenal. Di sebelah kranial ginjal terdapat kelenjar anak ginjal atau glandula adrenal / suprarenal yang berwarna kuning. Kelenjar adrenal bersama-sama ginjal dan jaringan lemak perirenal dibungkus oleh fasia Gerota. Fasia ini berfungsi sebagai barier yang menghambat meluasnya perdarahan dari parenkim ginjal serta mencegah ekstravasasi urine pada saat terjadi trauma ginjal. Selain itu fasia Gerota dapat pula berfungsi sebagai barier dalam menghambat penyebaran infeksi atau menghambat metastasis tumor ginjal ke organ sekitarnya. Di luar fasia Gerota terdapat jarinagan lemak retroperitoneal atau disebut jaringan lemak para renal. Di sebelah posterior, Ginjal dilindungi oleh otot-otot punggung yang tebal serta tulang rusuk ke XI dan XII sedangkan disebelah anterior dilindungi oleh organ-organ intraperitoneal. Ginjal kanan dikelilingi oleh hepar, kolon, dan duodenum; sedangkan ginjal kiri dikelilingi oleh lien, lambung, pankreas, jejenum, dan kolon. Struktur Ginjal Secara anatomis ginjal terbagi menjadi dua bagian yaitu korteks dan medulla ginjal. Di dalam korteks terdapat berjuta-juta nefron sedangkan di dalam medula banyak terdapat duktuli ginjal. Nefron adalah unit fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri atas, tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distalis, dan duktus kolegentes. Darah yang membawa sisa-sisa hasil metabolisme tubuh difiltrasi di dalam glomeruli kemudian di tubuli ginjal, beberapa zat yang masih diperlukan tubuh mengalami reabsorbsi dan zat-zat hasil sisa metabolisme mengalami sekresi bersama air membentuk urine. Setiap hari tidak kurang 180 liter cairan tubuh difiltrasi di glomerulus dan menghasilkan urine 1-2 liter. Urine yang terbentuk di dalam nefron disalurkan melalui piramida ke sistem pelvikalikes ginjal untuk kemudian disalurkan ke dalam ureter. Sistem pelvikalikes ginjal terdiri atas kaliks minor, infundibulum, kaliks mayor, dan pielum/pelvis renalis. Mukosa sistem pelvikalikes terdiri atas epitel transisional dan dindingnya terdiri atas otot polos yang mampu berkontraksi untuk mengalirkan urine sampai ke ureter. Vaskularisasi Ginjal Ginjal mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabang langsung dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui vena sentralis yang bermuara ke dalam vena kava inferior. Sistem arteri ginjal adalah end arteri yaitu arteri yang tidak mempunyai anstomosis dengan cabang-cabang dari arteri lain, sehingga jika terdapat

kerusakan pada salah satu cabang arteri ini, berakibat timbulnya iskemia/nekrosis pada daerah yang dilayaninya.

2. Ureter
Ureter adalah organ yang berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urine dari pielum ginjal ke dalam buli-buli. Pada orang dewasa panjangnya kurang lebih 20 cm. Dindingnya terdiri atas mukosa yang dilapisi oleh sel-sel transisional, otot-otot polos sirkuler dan longitudinal yang dapat melakukan gerakan peristaltik guna mengeluarkan urine ke buli-buli. Sepanjang perjalanan ureter dari pielum menuju buli-buli, secara anatomis terdapat beberapa tempat yang ukuran diameternya relatif lebih sempit daripada ditempat lain, sehingga batu atau benda-benda lain yang berasal dari ginjal seringkali tersangkut di tempat itu. Tempat-tempat penyempitan itu antara lain adalah : pada perbatasan antara pelvis renalis dan ureter, tempat arteri menyilang arteri iliaka di rongga pelvis, dan pada saat ureter masuk ke buli-buli (intramural). Keadaan ini dapat mencegah terjadinya aliran balik urine dari buli-buli ke ureter pada saat buli-buli berkontraksi. Untuk kepentingan radiologi dan kepentingan pembedahan, ureter dibagi dua bagian yaitu : ureter pars abdominalis, yaitu yang berada dari pelvis renalis sampai menyilang vasa iliaka, dan ureter pars pelvika, yaitu mulai dari persilangan dengan vasa iliaka sampai masuk ke buli-buli. Di amping itu secara radiologis ureter dibagi dalam tiga bagian, yaitu ureter 1/3 proksimal mulai dari pelvis renalis sampai batas atas sakrum, ureter 1/3 medial mulai dari batas atas sakrum smpai pada batas bawah sakrum, dan ureter 1/3 distal mulai batas bawah sakrum sampai masuk ke buli-buli.

3. Buli-buli
Buli-buli adalah organ berongga yang terdiri atas tiga lapis otot detrusor yang saling beranyaman. Di sebelah dalam adalah otot longitudinal, di tengah merupakan otot sirkuler, dan paling luar merupakan otot longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri atas sel-sel transisional yang sama seperti pada mukosa-mukosa pada pelvis renalis, ureter, dan uretra posterior. Pada dasar buli-buli kedua muara ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang trigonum buli-buli. Secara anatomi bentuk buli-buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum, dua permukaan inferolateral, dan permukaan posterior. Permukaan superior merupakan likus minoris dinding buli-buli. Pada saat kososng, buli-buli terletak di belakang simfisis pubis dan pada saat penuh berada di atas simfisis sehingga dapat dipalpasi dan diperkusi. Buli-buli yang terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen dan menyebabkan aktivasi pusat miksi di medula spinalis segmen sakral S2-4.Hal ini akan menyebabkan kontraksi otot dtrusor, terbukanya leher buli-

buli, dan relaksasi sfingter uretra sehingga terjadilah proses miksi.

4. Urethra
Uretra adalah saluran yang dimulai dari orifisium uretra interna dibagian buli-buli sampai orifisium uretra eksterna glands penis, dengan panjang yang bervariasi. Uretra pria dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian anterior dan bagian posterior. Uretra posterior dibagi menjadi uretra pars prostatika dan uretra pars membranasea. Uretra anterior dibagi menjadi meatus uretra, pendulare uretra dan bulbus uretra. Dalam keadaan normal lumen uretra laki-laki 24 ch, dan wanita 30 ch. Kalau 1 ch = 0,3 mm maka lumen uretra laki-laki 7,2 mm dan wanita 9 mm.3 a. Urethra bagian anterior Uretra anterior memiliki panjang 18-25 cm (9-10 inchi). Saluran ini dimulai dari meatus uretra, pendulans uretra dan bulbus uretra. Uretra anterior ini berupa tabung yang lurus, terletak bebas diluar tubuh, sehingga kalau memerlukan operasi atau reparasi relatif mudah. b. Urethra bagian posterior Uretra posterior memiliki panjang 3-6 cm (1-2 inchi). Uretra yang dikelilingi kelenjar prostat dinamakan uretra prostatika. Bagian selanjutnya adalah uretra membranasea, yang memiliki panjang terpendek dari semua bagian uretra, sukar untuk dilatasi dan pada bagian ini terdapat otot yang membentuk sfingter. Sfingter ini bersifat volunter sehingga kita dapat menahan kemih dan berhenti pada waku berkemih. Uretra membranacea terdapat dibawah dan dibelakang simpisis pubis, sehingga trauma pada simpisis pubis dapat mencederai uretra membranasea.

B. DEFINISI
Obstruksi traktus urinarus terjadi pada traktus urinarius, termasuk pelvis renalis, ureter, bulibuli dan urethra. Kondisi ini terjadi bila bagian dari traktus urinarus mengalami obstruksi, sehingga aliran urin dari ginjal terhambat.

C. ETIOLOGI
Obstruksi dari aliran urin dapat terjadi di mana saja dari ginjal sampai meatus urethra. Secara anatomis terdapat beberapa tempat yang ukuran diameternya relatif lebih sempit daripada ditempat lain, sehingga batu atau benda-benda lain yang berasal dari ginjal seringkali tersangkut di tempat itu. Tempat-tempat penyempitan itu antara lain adalah : pada perbatasan antara pelvis renalis dan ureter (UPJ), tempat arteri menyilang arteri iliaka di rongga pelvis, dan pada saat ureter masuk ke buli-buli (UVJ).

Pada perempuan, tempat penyempitannya ada pada ureter distal yang menyilang secara posterior dari pembuluh darah pelvis dan broad ligament pada pelvis posterior. Obstruksi traktus urinarius pada perempuan dapat terjadi bila ureter ditekan dari luar oleh tumor pelvis atau keganasan gynekologi. Obstruksi traktus urinarius pada perempuan yang lebih tua paling sering terjadi akibat prolapnya struktur pelvis, seperti uterus dan bulibuli. Kehamilan dapat menyebabkan obstruksi traktus urinarius pada

perempuan yang lebih muda akibat obstruksi ureter oleh uterus yang gravid. Pada laki-laki, pembesaran prostat (BPH) dapat menyebabkan obstruksi traktus urinarius dengan cara mengobstruksi uretra. Striktur urethra dapat juga menyebabkan obstruksi traktus urinarius. Laki-laki dan perempuan dapat menderita obstruksi traktus urinarius yang disebabkan oleh kalkuli, striktur, atau tumor (intrinsik atau ekstrinsik). Riwayat pasien sangat membantu dalam mencari penyebab dari obstruksi, yaitu riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu (diabetes, kalkuli, tumor, radiasi, fibrosis retroperitoneal, penyakit neurologi), riwayat konsumsi obat-obatan (antara lain, antikolinergik, narkotik), dan riwayat operasi sebelumnya (operasi pelvis, radiasi). Seseorang dengan buli-buli neurogenik atau spinkter detrusor dyssinergi dapat menderita obstruksi bulibuli. Obstruksi yang terjadi pada anak kecil biasanya disebabkan oleh obstruksi pada UPJ atau UVJ, ureter ektopic, ureterocele, megaureter, atau posterior urethra valves. Pemantauan periode perinatal dengan USG penting dilakukan untuk mengidentifikasi terjadinya obstruksi. Anak-anak dengan infeksi traktus urinarius perlu segera di tangani karena hal ini dapat juga menyebabkan obstruksi traktus urinarius.

Penyakit yang dapat menyebabkan obstruksi nephropati Kidney Congenital Neoplastic Inflammatory Metabolic Miscellaneous Polycystic kidney Renal cyst Fibrous obstruction at ureteropelvic junction Peripelvic cyst Aberrant vessel at ureteropelvic junction Wilms tumor Renal cell carcinoma Transitional cell carcinoma of the renal pelvis Multiple myeloma Tuberculosis Echinococus infection Calculi Sloughed papillae Trauma Renal artery aneurysm

Ureter Congenital Neoplastic Inflammatory Miscellaneous

Stricture Ureterocele Ureterovesical reflux Ureteral valve Ectopic kidney Retrocaval ureter Prune-belly syndrome Primary carcinoma of ureter Metastatic carcinoma Tuberculosis Schistosomiasis Abscess Ureteritis cystica Endometriosis Retroperitoneal fibrosis Pelvic lipomatosis Aortic aneurysm Radiation therapy Lymphocele Trauma Urinoma pregnancy

Bladder and urethra Congenital Neoplastic Inflammatory Miscellaneous

Posterior uretral valve Phimosis Urethral stricture Hypospadias and epispadias Hydrocolpos Bladder carcinoma Prostate carcinoma Carcinoma of urethra Carcinoma of penis Prostatitis Paraurethral abscess Benign prostatic hypertrophy Neurogenic bladder

D. GEJALA
Obstruksi traktus urinarius dapat menyebabkan bermacam-macam gejala, baik itu asimpomatis sampai kolik renal. Hal ini dipengaruhi oleh : 1. Berapa lama obstruksi terjadi (akut atau kronis) 2. Letak obstruksi unilateral atau bilateral 3. Penyebab obstruksi (intrinsik atau ekstrinsik) 4. Obstruksi total atau parsial Obstruksi akut merupakan salah satu kegawat daruratan urologi yang paling sering dijumpai diklinik dan praktek dokter. sumbatan ini dapat terjadi pada system kemih sebelah atas maupun pada saluran kemih bagian bawah. Pada saluran kemih bagian atas memberikan manifestasi klinis berupa kolik atau anuria sedangkan pada saluran kemih bagian bawah berupa retensi urine. Kolik ureter atau kolik ginjal Kolik ureter atau kolik ginjal adalah nyeri pinggang hebat yang datangnya mendadak, hilang-timbul (intermitten) yang terjadi akibat spasme otot polos untuk melawan suatu hambatan. Perasaan nyeri bermula di daerah pinggang dan dapat menjalar ke seluruh perut, ke daerah inguinal, testis, atau labium. Penyebab sumbatan pada umumnya adalah batu, bekuan darah atau debris yang berasal dari ginjal dan turun ke ureter. Batu kecil yang turun ke pertengahan ureter pada umumnya menyebabkan penjalaran nyeri ke pinggang sebelah lateral dan seluruh perut. Jika batu turun mendekati buli-buli biasanya disertai dengan keluhan lain berupa sering kencing dan urgensi. Gambaran klinis Pasien tampak gelisah, nyeri pinggang, selalu ingin berganti posisi dari duduk, tidur kemudian berdiri guna memperoleh posisi yang dianggap tidak nyeri. Denyut nadi meningkat karena kegelisahan dan tekanan darah meningkat pada pasien yang sebelumnya normotensi. Tidak jarang dijumpai adanya pernafasan cepat dan grunting terutama pada saat puncak nyeri. Jika disertai demam harus waspada terhadap adanya infeksi yang serius atau urosepsis. Dalam keadaan ini pasien secepatnya harus dirujuk karena mungkin memerlukan tindakan drainase urine. Palpasi pada abdomen dan perkusi pada daerah pinggang akan terasa nyeri. Anuria obstruktif Manifestasi dari sumbatan total aliran urine pada sistem saluran kemih sebelah atas adalah anuria yaitu berkurangnya produksi urine hingga kurang dari 200 ml dalam 24 jam. Anuria obstruktif ini terjadi jika terdapat sumbatan saluran kemih bilateral atau sumbatan saluran kemih unilateral pada ginjal tunggal. Selain disebabkan oleh adanya

sumbatan di saluran kemih, anuria juga bisa disebabkan oleh : perfusi darah ke jaringan ginjal yang berkurang (disebut sebagai anuria pre renal) atau kerusakan pada jaringan ginjal (anuria intrarenal). Gambaran klinis Pada anamnesis pasien mengeluh tidak kencing atau kencinga hanya sedikit, yang kadang kala didahului oleh keluhan obstruksi yang lain, yaitu nyeri di daerah pinggang atau kolik; dan tidak jarang diikuti dengan demam. Jika didapatkan riwayat adanya kehilangan cairan, asupan cairan yang berkurang, atau riwayat menderita penyakit jamtung, harus waspada adanya faktor penyebab pre renal. Perlu ditanyakan kemungkinan penggunaan obat-obat nefrotoksik, pemakaian bahan kontras atau foto radiologi, setelah menjalani radiasi di daerah perut sebelah atas, riwayat reaksi tramsfusi hemolitik, atau riwayat penyakit ginjal sebelumnya. Kesemuanya itu untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab intra renal. Diperiksa keadaan hidrasi pasien dengan mengukur tekanan darah, nadi, dan perfusinya. Lebih baik jika dapat dipasang manometer tekanan vena sentral atau CVP sehingga dapat diketahui keadaan hidrasi pasien dengan tepat dan mudah. Tidak jarang dijumpai pasien datang dengan tandatanda uremia yaitu pernafasan asidosis, demam karena urosepsis atau dehidrasi, serta tanda-tanda ileus. Palpasi bimanual dan perkusi di daerah pinggang bertujuan untuk mengetahui adanya nyeri aatau massa pada pinggang akibat hidro atau pionefrosis. Pada colok dubur atau colok vagina mungkin teraba adanya karsinoma buli-buli, karsinoma prostat, atau karsinoma serviks stadium lanjut yang membuntu kedua muara ureter. Retensi urine Retensi urine adalah ketidak mampuan seseorang untuk mengeluarkan urine yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui. Proses miksi terjadi karena adanya koordinasi harmonik antara otot detrusor buli-buli sebagai penampung dan pemompa urine dengan uretra yang bertindak sebagai pipa untuk menyalurkan urine. Adanya penyumbatan pada uretra, kontraksi buli-buli yang tidak adekuat, atau tidak adanya koordinasi antara buli-buli dan uretra dapat menimbulkan terjadinya retensi urine. Gambaran klinis Pasien mengeluh tertahan kencing atau kencing keluar sedikit-sedikit. keadaan ini harus dibedakan dengan inkontinensia paradoks yaitu keluarnya urine secara menetes, tanpa disadari, dan tidak mampu ditahan oleh pasien. Selain itu tampak benjolan kistus pada perut sebelah bawah dengan disertai rasa nyeri yang hebat.

E. DIAGNOSIS

1. Laboratorium
Urinalisis Urinalisis dapat memberikan informasi mengenai adanya infeksi atau hematuri Leukosit pada urin dapat menunjukkan adanya infeksi atau peradangan Infeksi ditunjukkan dengan adanya peningkatan dari Nitrit atau leukosit esterase Semua urinalisis yg leukositnya tinggi atau dengan leukosit esterase atau nitrit positif maka sebaiknya dilakukan kultur urine dan di rencanakan diberikan antibiotika RBC pada urin dapat menunjukkan adanya infeksi, batu atau tumor. Dokter sebaiknya mengevaluasi pasien dengan hematuri mikroskopis atau gros hematuri untuk menilai apakah ada keganasan. Perlu dilakukan pemeriksaan sitologi urin dan pemeriksaan hematuri yang lebih lanjut (sistokopi, upper urinary tract imaging) pH urin sangat berguna untuk menilai adanya batu

2. Foto polos abdomen


Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radio-opak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kasium fosfat bersifat radio-opak dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu asam urat bersifat non-opak (radio-lusent).

3. Urography excretory
IVP adalah pemerikasaan gold standart untuk mendeteksi adanya obstruksi pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal, tidak alergi dengan kontras dan tidak sedang hamil. IVP dapat menilai antomi dan fungsi dari organ traktus urinarius yang mengalami obstruksi. Pada obtruksi urinarius yang akut maka pada IVP akan terlihat : (a). Obstruksi nefrogram (b). Terlambatnya pengisian kontras pada system urinarius (c). Dilatasi dari system urinarius, mungkin juga terjadi ginjal membesar (d). Dapat juga terjadi ruptur fornix akibat extravasasi traktus urinarius Pada kasus obstruksi ureter yang kronis maka biasanya terlihat dilatasi ureter, berlikuliku, dan contras mengumpul pada daerah ureter yang mengalami obstruksi. Pada ginjal dapat terlihat parenkimnya menipis (baik segmental maupun komplet), kaliks nampak seperti bulan sabit, dan nafrogramnya nampak menggembung.

4. USG
USG merupakan alat yang baik untuk mengevaluasi ginjal pada pasien azotermia, alergi terhadap kontras, wanita yang sedang hamil, atau pada anak-anak. Informasi yang signifikan mengenai parenkim ginjal dan system urinarius dapat diperolh tanpa adanya expose dengan radiasi dan material kontras yang dapat menimbulkan nefrotoxic dan reaksi anaplastik.

5. Diuretik renography

Diuretik renography relative lebih aman digunakan dibandingakan dengan IVP dalam menilai dilatasi dari system urinarius. Pemeriksaan ini tidak invasive sehingga tidak dipengaruhi oleh fungsi ginjal dan mempunyai kemampuan untuk membersihkan agen radiofarmakologi dari traktus urinarius yang mengalami dilatasi. Dosis radiasinya lebih rendah dibandingkan dengan IVP dan tidak ada kemungkinan kontras yang dapat menyebabkan nefrotoksik. Banyak factor yang dapat mempengaruhi waktu setelah pemberian diuretic yaitu : (a). fungsi ginjal, termasuk tingkat maturitas dari ginjal, (b). compliance dan volume dari traktus urinarius, (c). hidrasi dari pasien, (d). ada atau tidaknya kateter, (e). agen radifarmakologi, (f). dosis dari diuretic.

6. Whitaker test
Whitaker test merupakan salah satu gold standart untuk menilai adanya obstruksi pada traktus urinarius atas. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya urodinamaik pada obstruksi traktus urinarius atas yang ditandai dengan penurunan aliran. Dengan adanya diuretik renography, whitaker test sudah jarang digunakan lagi di klinik. Hasil penilaian dari whitaker test : (a). Tekanan < 15 cmH2O = tidak ada obstruksi (b). Tekanan 15 22 cmH2O = obstruksi masih meragukan (c). Tekanan > 22 cmH2O = obstruksi

7. CTscan dan MRI


CT scan merupakan indikasi pada pasien dengan peningkatan kadar BUN atau kreatinin atau keduanya. Ct scan lebih sensitif untuk menilai batu ureter dibandingkan dengan IVU pada pasien dengan nyeri akut flank. MRI merupakan salah satu indikasi pada pasien dengan alergi kontras dan fungsi ginjal yang buruk.

F. TERAPI
Pengobatan dan indikasi untuk menghilangkan obstruksi traktus urinarius tergantung dari penyebab dan tingkat obstruksinya. Indikasi untuk menghilangkan obstruksi

Obstruksi unilateral analgetik Suhu 101F Mual dan muntah yang persisten

Obstruksi bilateral peningkatan BUN dan kreatinin Gejala dan tanda uremia Hyperkalemia

Nyeri tidak hilang berkurang dengan Sama seperti obstruksi unilateral atau ada

Grade obstruksi tinggi


Penanganan dari obstruksi tergantung dari penyebab obstruksi. Beberapa penanganan tersebut adalah : 1. Penaganan obstruksi karena batu ESWL (Extracorporeal shockwave lithotripsi) Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau buli-buli tanpa melalui tindakan invasif dan tanpa pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmenfragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria. Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui urethra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukanm secara mekanik, dengan memakai energi hidraulik, energi gelombang suara atau dengan energi laser. Beberapa tindakan endourologi itu adalah : 1.PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : yaitu mengeluarkan batu yang berda di dalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises melalui insisi pada kulit.Batu kemudian dikeluarkan atau dip[ecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.Litotripsi : yaitu memecah batu buli-buli atau batu urethra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pemecah batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik. 2.Ureteroskopi atau uretero-renoskopi : yaitu memasukkan alat ureteroskopi peruretram guna melihat keadaan ureter atau sistem pielo-kaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalikes dapat dipecah melalui tuntuan ureteroskopi/ureterorenoskopi ini. 3.Ekstraksi dormia : yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang dormia Bedah laparaskopi Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkambang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter. Bedah terbuka Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakantindakan endourologi, laparaskopi, maupun ESWL, pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain adalah :

pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien harus menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis, atau mengalami pengkerutan akibat batu saluran kemih yang menimbulkan obstruksi dan infeksi yang menahun. 2. Penanganan obstruksi karena striktur : Tindakan khusus yang dilakukan terhadap striktura urethra adalah : Businasi (dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati. Tindakan yang kasar tambah akan merusak uerethra sehingga menimbulkan luka baru yang pada akhirnya menimbulkan striktura lagi yang lebih berat. Tindakan ini dapat menimbulkan salah jalan (false route). Uretrolitotomi interna : yaitu memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau Sache. Otis dikerjakan jika belum terjadi striktura total, sedangkan pada striktura yang lebih berat, pemotongan striktura dikerjakansecara visual dengan memakai pisau sachse. Uretrotomi eksterna adalah tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis, kemudian dilakukan anstomosis di antara jaringan uretra yang masih sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Kidney stone adult. Available from : http://kidney.niddk.nih.gov. Accessed on May 27th 2010 Kim, Edward David. 2008. Urinary Tract Obstruction. Available from : emedicine.medscape.com. Accessed on May 27th 2010 Mendelsohn, Cathy. Functional obstruction: the renal pelvis rules. Available from : www.jci.org. Accessed on May 27th 2010 Purnomo, Basuki B. 2008. Dasar Dasar Urologi Edisi Kedua. Jakarta : Sagung Seto. Sjamsuhidayat, R., Wim De Jong, 2003. buku Ajar Ilmu bedah edisi 2. EGC : Jakarta.