Anda di halaman 1dari 221

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PETA POLITIK DAN PERGESERAN POLITIK LOKAL (Studi di Kabupaten Sumbawa Barat)
Oleh : Syahrul Mustofa, S.H.,M.H
Potret perkembangan politik tahun 2004 diwarnai oleh satu momentum besar, yakni dilaksanakannya proses Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai jalan demokratis proses peralihan kekuasaan. Sebagai satu mekanisme politik, Pemilu 2004 berbeda dengan Pemilu sebelumnya, dimana model pemilihan dilakukan secara langsung oleh rakyat untuk memilih wakil-wakilnya di DPR/DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten, memilih langsung Presiden-Wapres dan juga memilih langsung anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dalam pemilu 2004, sebanyak 24 partai politik dinyatakan layak dan memenuhi syarat oleh KPU untuk menjadi kontestan Pemilu. Sebagian dari mereka (6 partai politik) adalah partai politik lama yang lolos electoral threshold (mempunyai 2% dari jumlah kursi di DPR) pada pemilu 1999 dan sebagian lagi partai-partai baru yang lolos verifikasi KPU. Dilihat dari tipologinya, parpol-parpol yang bersaing pada Pemilu paling tidak berangkat dari tiga aliran ideologi1, yakni Pertama, Parpol yang berideologi nasionalis sekuler seperti Partai Golkar, PDIP, Partai Pelopor, PNI Marhaen, dan sejenisnya. Kedua, Parpol beraliran agama/religius yang diwakili PKS, PBB, PNUI, PBR dan PDS. Ketiga, parpol beraliran nasionalis regiligus yang diwakili PAN dan PKB2. Pembagian pola aliran politik itu terlihat dari asal Parpol, visi-misi Parpol serta jumlah pemilih Parpol yang tetap dan tidak jauh berbeda dengan Pemilu sebelumnya (1999)3. Kendati basis pemilihnya terjadi penurunan atau peningkatan, namun jumlahnya tidak akan jauh bergeser dari hasil Pemilu sebelumnya, terutama Parpol-parpol besar. Memang ada beberapa partai baru dan sulit untuk digolongkan dalam aliran tertentu, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Di dalam kerangka politik aliran tersebut, sebagian masyarakat pemilih terkotakkotak di dalam aliran yang ada. Namun demikian, di luar kerangka politik aliran

1 2

Republika, 13 Maret 2004 Kendati latar belakang aliran parpol-parpol peserta Pemilu 2004 tidak sepenuhnya identik dengan aliran ideology politik yang eksis pada decade 1940-1960an, perilaku dan pengelompokkan kekuatan-kekuatan politik elit maupun massa mirip dan masih tetap menggunakan pola politik aliran yang pernah mendominasi perpolitikan di masa lalu. Penjelasan dapat dilihat dalam buku , Catatan Ham 2004, Keamanan mengalahkan kebebasan, diterbitkan Imparsial, Januari 2006. Halaman 13-24.

dalam makalah/Artikel berjudl Politik Aliran yang bias, mengatakan tTerjadinya konflik sosial dan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

,nifirA .TM 3

pertarungan politik aliran telah muncul secara kuat menjelang Pemilu 1999. Hal itu didasarkan pada kelahiran partai-partai politik yang berdasarkan ideologi. Karena itu timbullah kecenderungan tentang adanya pertarungan antarpartai politik dalam pemilu, yang lebih didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan ideologi politik. Hal tersebut terlihat pada tulisan tentang pertarungan ideologis partai-partai Islam versus partai-partai sekuler, yang menurut Al-Chaidar (1419 H) akan dimenangkan oleh partai-partai politik Islam, meski struktur dan model aturannya tidak memuaskan aspirasi umat Islam Indonesia. Dalam pemilu 7 Juni 1999 terdapat 17 partai politik Islam (12 partai politik berasas Islam dan 5 partai politik lainnya berasas Islam dan Pancasila). Adapun dari 500 kursi legislatif di DPR yang tersedia, mereka hanya mendapat 17,4% atau 87 kursi. Jika PKB dan PAN dapat dianggap sebagai partai Islam, jumlahnya menjadi 172 kursi atau 34,4% meski beberapa anggota legislatif PAN bukan muslim. Padahal sebenarnya anggota DPR yang beragama Islam mencapai 80,6%, kemudian disusul yang beragama Kristen Protestan 11,0%.

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

tersebut, ada masyarakat pemilih yang setiap proses pemilihan umum selalu berubah-ubah dalam menentukan pilihan partai politik yang dipilihnya. Pemilih seperti ini dikategorisasikan sebagai swimming voters, yang keberadaannya dalam setiap Pemilu menjadi factor yang cukup signifikan untuk menentukan kemenangan partai politik tertentu dalam Pemilu. Biasanya jumlah pemilih yang tergolong dalam swimming voters ini didominasi oleh kelompok kelas menenagh Indonesia, dimana derajat afiliasi atau partisan shipnya ditentukan oleh aspirasi dan kepentingan yang akan diterimanya. Ketika partai lama yang dipilihnya tidak lagi mampu memaksimalkan aspirasi dan kepentingan yang dibutuhkannya, maka pada saat itulah kesadaran sebagai pemilik kedaulatan mencuat dan merubah pilihannya dalam Pemilu berikutnya dan berupaya untuk mencari partai lain yang sifatnya alternative dan dianggap mampu mengakomodasikan kebutuhannya. Diluar para pemilih yang tergabung dalam kerangka politik aliran dan tergabung dalam kelompok swimming voters tersebut, ada masyarakat pemilih yang memiliki hak pilih tetapi tidak menggunakan hak pilihannya untuk memilih dalam Pemilu. Kelompok ini sering dikenal dan digolongkan dalam Golongan Putih (Golput). Secara umum, adanya golongan putih (golput) lebih disebabkan karena ketidakpercayaan sebagain kelompok masyarakat terhadap Parpol atau DPRD yang ada. Pemilu 2004 dengan segala keberhasilannya, ternyata masih memiliki banyak kelemahan, di Kabupaten Sumbawa Barat yang untuk pertama kali melaksankan Pemilu memilih DPRD Kabupaten Sumbawa Barat, merupakan salah satu tahapan agenda perjuangan mewujudkan Kabupaten Sumbawa Barat, sebagai Daerah otonom Baru yang definitif. Pada pemilu 2004, sebanyak 20 kursi di DPRD Kabupaten Sumbawa Barat diperebutkan oleh 24 partai politik, dan sebanyak 9 partai politik berhasil meraih kursi di DPRD. Pada pembahasan yang penulis beri judul pergeseran dan peta politik KSB akan mengambarkan bagaimakah pergeseran politik dan peta kekuatan politik di KSB. Fokus kajian adalah membahas tentang komposisi kekuatan politik di DPRD, aspek yang dibahas pada bagian ini antara lain adalah ; bagaimanakah komposisi perolehan suara partai politik pada pemilu 2004? Bagaimanakah dukungan real yang diperoleh anggota DPRD saat ini? pergeseran apasajakah yang terjadi dalam pemilu 2004? Apasajakah yang menjadi kelemahan dari sistem pemilu 2004? Apa implikasinya dengan komposisi perolehan suara partai terhadap pencalonan pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dalam pilkada 2005? 1. Refleksi Sistem Pemilu 2004 Berbicara sistem pemilihan umum (pemilu), bukan hanya bicara tentang bagaimana pendaftaran, pemilihan, pemungutan, atau pemilih terdaftar. Sebab, bila hal tersebut yang dijadikan ukuran, maka cenderung melihat pemilu pada sisi proses semata. Padahal, bicara sistem pemilu, maka kita akan bicara tentang electoral law, yaitu system pemilihan dan perangkat peraturan yang menata bagaimana pemilu dijalankan serta bagaimana distribusi hasil pemilu terjadi, dan electoral process, yaitu mekanisme yang dijalankan di dalam pemilu seperti

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pencalonan, kampanye dan cara penghitungan, penentuan hasil, dan pengabsahan hasil pemilu secara langsung4.

Electoral law maupun electoral process sendiri ditujukan untuk memproses pergantian pemerintah secara damai dan teratur. Karena Pemilu adalah salah satu mekanisme demokrasi perwakilan yang paling dimungkinkan dalam kondisi dan situasi saat ini, mengingat demokrasi Yunani Kuno sebagai gagasan awal demokrasi perwakilan yang demikian sudah tidak dimungkinkan lagi untuk diterapkan saat ini5. Sebuah pemilu yang demokratis harus memenuhi 3 syarat, dan ketiga syarat ini tidak pernah dipenuhi sepenuhnya oleh pemilu-pemilu Orde Baru. Syarat yang pertama adalah pemilu itu berhasil menciptakan legitimasi kekuasaan. Yang kedua, representasi (perwakilan). Pemilu yang baik adalah pemilu yang bisa menciptakan representative government. Yang ketiga: bisa menciptakan public accountability. Kalau pemilu itu ternyata tidak bisa mengantar bangsa kita ke pembentukan elemen-elemen baru sistem politik dengan ciri public accountability yang tegas, maka pemilu itu telah gagal6. Lalu pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah dengan sistem pemilu 2004, apakah telah melahirkan demokrasi yang lebih baik?. Hampir seluruh sistem pemilu memang memiliki kelemahan. Dalam system distrik misalnya, kecendrungan system ini hanya akan menghasilkan dan menguntungkan parpol besar. Sementara, system Proportional Representative cenderung menghasilkan system banyak partai, dari yang besar hingga yang kecil. Namun, konsekuensinya kecendrungan pemerintahan akan labil dan instabil dan berpotensi melahirkan konflik secara luas, mulai dari masyarakat hingga dalam parlemen. Sistem Pemilu Proportional Representation juga bisa menghasilkan system kepartaian yang depolarisasi7. Namun, dalam sistem ini partai minoritas mempunyai peluang untuk berperan dalam parlemen sehingga sistemnya tidak terpolarisasi, melainkan depolarisasi. Kedepan, sejumlah kalangan memprediksikan polarisasi tersebut pada akhirnya dapat melahirkan sedikit partai (dua partai) sedangkan system depolarisasi bisa menghasilkan banyak partai.

Ariwibowo, Negara, Pemilu, dan Demokrasi, Halaman 12 Elsham, 1996. Lihat Juga Tulisan, Mohammad Zaidun dan Ifdhal Khasism, Undang-undang Pemilihan Umum : Evaluasi Kritis, Halaman 24-48. Elsha, 1996. 5 2500 tahun yang lalu, tepatnya tahun 507 sebelum Masehi di Kota Athena-Yunani, istilah demokrasi atau demokratia diperkenalkan dengan sebutan demos (rakyat) dan kratos,(pemerintahan). Pada masa itu Yunani sendiri terdiri dari banyak kota (ratusan kota yang merdeka), selama lebih dua abad lamanya, orang Athena menganut sebuah pemerintahan kerakyatan, sampai pada akhirnya kota itu ditaklukkan oleh Macedonia. Di Athena kata demos merujuk pada seluruh rakyat Athena, namun kadang-kadang juga berarti hanya rakyat biasa atau orang miskin. Oleh kalangan aristokras di Kota itu digunakan untuk memberikan julukan dan ungkapan rasa muak para aristokrat terhadap rakyat biasa, karena rakyat biasa dianggap telah merampas kekuasaaannya. Di Athena sendiri hak untuk berpartisipasi rakyat hanya kalangan laki-laki saja. Di Romawi istilah pemerintahan rakyat (demokrasi) disebut dengan Republik. Pada tahun 1787 James Madison, salah seorang perumus konstitusi Amerika, saat itu menulis makalah untuk konstitusi Amerika, Ia yang kemudian membuat perbedaan antara sebuah demokrasi murni, yang diartikan oleh Robert A. Dahl dalam buku On Democracy (1999) sebagai sebuah masyarakat yang terdiri atas sejumlah kecil warga Negara yang berkumpul dan melaksanakan pemerintahan itu, dan republik diartikan sebagai sebuah pemerintahan dimana terdapat skema perwakilan. Lihat terjemahan Buku On Democracy yang diterbitkan oleh Yayasan Obor dengan Judul Perihal Demokrasi Menjelajahi Teori dan Praktek Demokrasi Secara Singkat, tahun 2001 halaman 9-36.
6

Eep Saefulloh Fatah, Jangan Mengulang Kesalahan Sejarah, Harian Republika, 1999.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Kedua bentuk ini berakibat berbeda bagi stabilitas dan prospek demokrasi masyarakat (Ichsanul Amal, 1998). Perubahan penting dari system pemilu 1999 dengan sistem pemilu 2004 adalah perubahan dari system pemilu proporsional tertutup ke sistem proporsional daftar calon terbuka. Artinya, pemilih bukan hanya mencoblos tanda daftar gambar seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya tetapi juga mencoblos nama calon terdaftar yang diajukan oleh partai politik peserta pemilu. Dalam UU No 12 tahun 2003 Tentang Pemilu pemilih diharuskan memberikan suara kepada anggota DPRD dengan mencoblos salah satu tanda gambar partai politik peserta pemilu dalam surat suara. Suara dianggap sah bila pemilih mencoblos tanda daftar partai walaupun tidak mencoblos nama calon. Sebaliknya, suara dianggap tidak sah bila pemilih hanya mencoblos nama calon tanpa mencoblos tanda gambar partai. Konsekuensi dari system ini adalah pertama pemilih dihadapkan pada pilihan memilih calon ataukah memilih partai politik. Kondisi ini terjadi tatkala pemilih melihat calon yang diajukan relative disukai atau dianggap baik, namun dari sisi kepartaian dinilai partai politik yang dijadikan kendaraan oleh calon yang bersangkutan tidak sesuai dengan pilihan hati nuraninya. Sehingga, pemilih mengalami konflik internal didalam dirinya. Kedua, pemilih akan memilih calon dan juga memilih partai politik dari calon yang bersangkutan. Hal ini dapat berlangsung manakala kondisi calon dan partai politik disukai oleh pemilih. Ketiga, pemilih akan memilih partai politik yang bersangkutan, namun tidak memilih satupun calon yang diajukan oleh partai politik yang bersangkutan. Keempat, pemilih tidak memilih calon dan partai politik atau dengan kata lain abstain. Kondisi diatas, sangat dipengaruhi oleh sejauhmanakah kesadaran politik pemilih, penilaian pemilih terhadap calon dan partai politik, serta kemampuan calon dan partai politik dalam menarik simpatik masyarakat. Pada pemilu 2004 juga dikenal Daerah Pemilihan (Dapil), dimana penentuan Daerah Pemilihan tersebut didasarkan pada pertimbangan antara lain; kondisi geografis, potensi pemilih, konflik, kesejarahan, komunikasi dan sebagainya, atau dengan kata lain tidak semata-mata didasarkan atas satuan administrative pemerintahan seperti halnya pada pemilu 1999. Sistem ini selain dapat memberikan peluang bagi partai-partai kecil dan menengah untuk memperoleh kursi8. Meski dari sisi, electoral law pemilu 2004, memiliki berbagai kemajuan, namun bila dibandingkan dengan pemilu pertama di Indonesia tahun 1955 dengan UU.No. 7 tahun 1953, sepertinya UU.No. 12 tahun 2003 masih belum cukup responsif. Pertama ; Pada pemilu 2004 calon independen tidak diberikan ruang. Pada UU.No. 7 tahun 1953, calon independen (perseorangan) dapat mencalonkan diri sebagai peserta pemilu. Pemilu menurut UU No.7 tahun 1953 diselenggarakan dalam rangka memilih anggota Konstituante dan anggota DPR, dengan menggunakan system mechanis, yang menempatkan partisipasi seseorang dalam pemilu dapat
8

Penetapan jumlah kursi DPRD ditentukan berdasarkan jumlah penduduk. Pola pendekatan yang digunakan dalam menentukan jumlah kursi adalah berdasarkan pola minimal dan pola maksimal. Bagi Daerah Kabupaten/Kota yang jumlah penduduknya kurang dari 100.000 jiwa maka jumlah kursi DPRD adalah sebanyak 20 kursi. Sedangkan jika jumlah penduduknya lebih dari 500.000 jiwa maka jumlah kursi di DPRD tersebut adalah sebanyak 45 kursi.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dilakukan secara mandiri tidak perlu melalui suatu organisasi. Undang-undang ini menggunakan pula system distrik, melalui pembagian Daerah Pemilihan. Selain itu menggunakan stelsel daftar, dan langsung dapat memilih orang serta dapat memilih tanda gambar. Pelaksanaanya didasarkan pada asas-asas umum, periodik, jujur, berkesamaan, bebas, rahasia dan langsung9. Pencalonan dalam pemilu dapat dilakukan oleh perorangan maupun oleh organisasi atau partai politik. Yang dapat dipilih dalam pemilu adalah orang secara pribadi atau orang yang tergabung dalam parpol. Kedua, Diintroduksinya hak recall dalam UU No31 tahun 2002 tentang parpol dan UU 22 tahun 2004 tentang Susduk Dewa, merupakan pemahkotaan kembali oligharki kepartaian. Pemuatan kembali hak recall, yang memberikan hak kepada pimpinan partai politik untuk menarik anggotanya dari kedudukan sebagai anggota legislative, dapat menyebabkan anggota legislative lebih tunduk dan loyal kepada fraksinya daripada rakyat yang diwakilinya. Karena seringkali dalam prakteknya hak recall ini digunakan untuk mencabut keanggotaan anggota legislative yang kritis dengan kebijakan-kebijakan pemerintah dari lembaga tersebut, dengan alasan pergantian antar waktu. Dapat dikatakan hak recall merupakan pedang demokles bagi anggota legislative10. 2. Implikasi Umum Sistem Pemilu 2004 di Kabupaten Sumbawa Barat 2.1. Pembagian Daerah Pemilihan : Potensi Konflik Kewilyahan Daerah Pemilihan pada pemilu 2004, menjadi salah satu perhatian penting bagi partai politik. Setidaknya, ada tiga hal mengapa daerah pemilihan menjadi penting dalam pemilu 2004 bagi partai politik. Pertama ; Daerah Pemilihan akan menentukan partai politik dalam menyusun calon anggota legislative (caleg). Dengan model system daftar calon terbuka, partai politik dituntut untuk dapat melihat kader yang potensial di daerah pemilihan tersebut. Berbeda, dengan pemilu sebelumnya yang menggunakan daftar calon tertutup. Caleg kurang menjadi penting, karena faktor dominan yang menentukan adalah partai politik. Sementara pada pemilu 2004, selain kapasitas partai politik yang menentukan, caleg sangat memiliki pengaruh besar dalam menentukan kemenangan sebuah partai politik. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan kalau sejumlah partai politik melakukan screening maupun fit and proper test terhadap sejumlah kader yang akan didudukkan sebagai caleg di Daerah Pemilihan tersebut. Kedua, Daerah Pemilihan akan turut mempengaruhi strategy partai politik untuk merebut suara di daerah pemilihan bersangkutan. Dalam konteks itupula, partai
Mohammad Zaidun & Ifdhal Kasim ,Undang-undang Pemilihan Umum : Evaluasi Kritis, hal 42, elsam, 1996. Hak recall pertama kali diperkenalkan pada masa UU.No.16 tahun 1969, dan UU.No.10 tahun 1966 tentang Kedudukan MPRS dan PPR-GR menjelang Pemilu, yang salah satu pasalnya mengatur tentang hak ini. Pada masa era pemerintahan orde baru, hak recall semakin kokoh. Lembaga legislative, baik ditingkat Pusat maupun di tingkat Daerah dibuat menjadi tidak kritis (datang, duduk, diam, duit), karena adanya hak recall tersebut. Pada tahun 1999 diera reformasi dan pemilu pertama diera reformasi dilaksanakan, hak recall ditiadakan, namun, ketiadaan hak recall tersebut disamping banyak yang disalahgunakan oleh anggota legislative, berbagai pertentangan muncul antara pimpinan partai politik dengan anggota legislative. Sejumlah anggota DPR/DPRD yang dipecat oleh partai politik tetap menjabat sebagai wakil rakyat. Sementara fraksi di DPR/DPRD banyak yang sudah tidak menerima anggota legislative yang telah direcall tersebut sebagai bagian dari fraksi. Sehingga, pada akhirnya anggota legislative yang direcall tersebut sendirian di legislative, ia disisihkan dari fraksinya. Persoalan mendasar yang menjadi masalah sebenarnya adalah kesulitan pimpinan partai politik untuk melakukan pengawasan terhadap kader partainya di legislative.
9 10

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

politik didorong untuk memahami situasi dan kondisi masyarakat setempatagar bisa memenangkan pemilu di daerah tersebut. Ketiga, selain menentukan strategy apa yang harus dilakukan oleh partai politik, Daerah Pemilihan juga sebagai salah satu alat ukur bagi partai politik untuk menilai sejauhmanakah kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan yang dihadapi di Daerah Pemilihan bersangkutan. Bagi masyarakat sendiri Daerah Pemilihan dibutuhkan sebagai pertama sarana bagi masyarakat untuk mengartikulasikan dan mengagregasikan kepentingan politiknya kepada wakil rakyat dan partai politik dalam pemilu. Kedua, sebagai alat bagi masyarakat untuk mendekatkan para wakil rakyat dengan pemilih. Ketiga, sebagai sarana bagi masyarakat untuk memberikan suara, penilaian, serta pengawasan terhadap para wakil rakyat yang terpilih nantinya. Keempat ; untuk dapat meminta pertanggungjawaban kepada wakil rakyat yang terpilih. Sistem Pemilu 2004 disatu sisi memang mencerminkan adanya keterwakilan distrik (kewilayahan), dengan diberikannya peluang dan kesempatan kepada setiap anggota masyarakat yang memiliki potensi, peluang dan kesempatan di wilayah tersebut untuk muncul sebagai wakil rakyat di DPRD. Hal ini sekaligus juga menutupi kelemahan yang ada pada sistem pemilu sebelumnya, dimana kecenderungan keterwakilan partai politik yang lebih ditonjolkan ketimbang keterwakilan wilayah. Sehingga, seringkali para wakil rakyat yang dipilih adalah mereka yang tidak dikenal dan tidak memiliki hubungan kedekatan dengan masyarakat setempat. Melalui model pemilihan calon secara terbuka serta berangkat dari basis daerah pemilihan dalam suatu wilayah tertentu, diharapkan hasil pemilu 2004 selaian menghasilkan anggota DPRD yang mewakili partai politik, juga DPRD yang mewakili daerah setempat. Sehingga, hubungan dan pertanggung jawaban anggota DPRD selain dengan parpol juga memiliki hubungan dan tanggungjawab moral atas daerah yang diwakilinya. Sistem ini membuka peluang adanya mekanisme checks and balance atau mekanisme tegur-sapa antara DPRD dan konstituen. Jadi, pembagian Daerah Pemilihan, bukan hanya semata memiliki implikasi administrative dalam penyelenggaraan pemilu, melainkan pula memiliki implikasi politis, sosial dan budayadan apabila, KPU tidak memahami secara mendalam, dapat memunculkan persoalan baru ditengah-tengah masyarakat. Pada pemilu 2004, KPU Kabupaten Sumbawa membagi Daerah Pemilihan di Kabupaten Sumbawa Barat kedalam 3 (tiga) Daerah Pemilihan, terdiri atas ; Daerah Pemilihan 1 (satu) meliputi ; Kecamatan Sateluk dan Kecamatan Brang Rea. Daerah Pemilihan (Dapil II) meliputi ; Kecamatan Taliwang dan Daerah Pemilihan Tiga (Dapil III), meliputi kecamatan Jereweh dan Sekongkang. Pembagian wilayah Daerah Pemilihan ini didasarkan pertimbangan setidaknya tiga hal. Pertama ; Daerah Pemilihan I yang meliputi Kecamatan Seteluk dan Brang Rea, secara geografis, memang Kecamatan Brang Rea lebih dekat dengan Kecamatan Taliwang. Namun, dari sisi jumlah penduduk Brang Rea sangat terbatas, sementara Kecamatan Taliwang justerus sebaliknya sangat tinggi. Sehingga bila dijadikan satu Daerah Pemilihan akan menyulitkan komposisi

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

jumlah anggota DPRD di daerah bersangkutan (tidak berimbang) antara satu Kecamatan dengan Kecamatan lainnya. Kedua, Daerah Pemilihan II, hanya Kecamatan Taliwang, jumlah penduduk dan pemilih di Kecamatan Taliwang pada pemilu 2004 sangat besar, sehingga DP ini sendiri. Ketiga ; Daerah Pemilihan III yang meliputi Kecamatan Sekongkang dan Jereweh, secara geografis wilayah ini berdekatan, meski dilihat dari luas wilayah jika daerah ini digabungkan, jangkauan pelayanan pemilu menjadi sangat luas. Dari sisi kesejarahan Kecamatan Sekongkang sebelumnya adalah merupakan bagian dari Kecamatan Jereweh. Jumlah penduduk dan pemilih diwilayah ini sangat terbatas, sehingga dalam pemilu 2004 digabung. Pembagian Daerah Pemilihan diatas, ternyata dalam proses yang berkembang, melahirkan implikasi ; pertama mendorong peluang menguatnya kembali identitas politik kewilyahan berdasarkan aspek kesejarahan masa lalu, tiga Kerajaan terdahulu, yang meliputi ; Kerajaan Seteluk, Kerajaan Taliwang, dan Kerajaan Jereweh atau dikenal dengan Kemetur Telu, sehingga berpotensi untuk menimbulkan ketegangan antar wilayah. Ketegangan tersebut berupa mengentalnya klaim kewilayahan. Sehingga, mempersempit ruang komunikasi dan dialog antar basis politik (massa) yang notabennya masih mendasarkan dirinya pada semangat kewilayahan tersebut. Kedua Pengelompokkan identitas politik kewilayahan tersebut berlangsung ditingkat basis massa dan elite. Sehingga membuka adanya jarak relasi sosialpolitik antar kekuatan politik. Kondisi ini mempersulit upaya proses pelembagaan politik dan konsolidasi demokrasi bagi KSB. Ketiga, adanya distribusi kursi di DPRD yang tidak merata bila dilihat dari aspek kewilayahan administrative, adanya sejumlah distrik memiliki wakil dalam jumlah yang besar di DPRD. Dan sebaliknya, terdapat distrik yang memiliki wakil dalam jumlah yang kecil, sehingga ini melahirkan kelompok mayoritas dan minoritas perwakilan distrik dalam DPRD. DP I secara administrative, terdiri dari 2 Kecamatan, yakni ; Kecamatan Brang Rea dan Kecamatan Seteluk, alokasi kursi di DP ini sebanyak 7 kursi. DP III secara administrative terdiri dari dua kecamatan, yakni Kecamatan Sekongkang dan Jereweh, alokasi kursi sebanyak 5 kursi atau lebih kecil dari DP I. Sedangkan, DP II yang hanya 1 Kecamatan, yakni Kecamatan Taliwang, alokasi kursi sebanyak 8 kursi. Pembagian kursi DPRD didasarkan atas dasar pertimbangan jumlah penduduk. Persoalannya adalah pola pendekatan pembangunan selama ini menitikberatkan pada wilayah administrative, sehingga dapat melahirkan Kecamatan yang di anak emaskan dan yang dianaktirikan.. Misalnya, issue pengelolaan dana Community Development PT NNT sejumlah anggota DPRD , dari DP tertentu menolak pengeloalaan dana Comdev diambil alih oleh Pemkab Sumbawa. Sementara sebagain anggota lainnya setuju. Apabila sentimen kewilayahan ini menguat, maka kemungkinan akan ada wilayah yang memperoleh kue pembangunan dalam jumlah yang besar, dan sebaliknya akan ada darerah (kecamatan) yang semakin terpuruk. 2.2. Wakil Parpol ataukah Wakil Distrik

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Konsep pemilu yang semi distrik-proporsional, telah mendorong konflik internal dalam tubuh anggota DPRD, berupa pertarungan loyalitas, apakah akan mengkedepankan kepentingan partai politik ataukah pemilih di distriknya. Disatu sisi anggota DPRD mewakili Daerah Pemilihan, dituntut bersikap loyal terhadap masyarakat di Daerah Pemilihannya karena berkat dukungan pemilihlah anggota DPRD dapat menduduki kursi DPRD. Namun pada sisi lain mereka juga dituntut untuk bersikap loyal terhadap partai politik yang menjadi kendaraan politiknya. Dalam konteks hubungan antara anggota DPRD dengan partai politik terdapat instrumen atau mekanisme recall dimana partai politik dapat menarik anggota DPRD mundur dari jabatannya bila dianggap melanggar visi, misi atau program parpol. Namun dalam hubungan anggota DPRD dengan pemilih tidak terdapat mekanisme recall ataupun hukuman (punishment) manakala anggota DPRD tidak melaksanakan mandat dan kepentingan pemilih di daerah pemilihannya. Pertanyaan adalah kearahmanakah kecendrungan anggota DPRD itu sendiri. Apakah akan lebih loyal terhadap parpol yang telah dikendarainya ataukah lebih loyal terhadap pemilih yang telah mengangkatnya. Yang pasti, ketiadaan mekanisme aturan main menyebabkan hingga saat ini masyarakat tidak bisa melakukan punishment terhadap anggota DPRD yang dianggap telah menyimpang dari kepentingan pemilih. Dengan adanya mekanisme recalling kecendrungan para anggota DPRD lebih bersahabat kepada partai politiknya daripada kepada pemilihnya. Instrumen recall ternyata telah menjadi instrumens yang cukup efektif bagi parpol bukan hanya untuk mengendalikan para kadernya di DPRD, mengontrol kinerja kader partai dalam melaksanakan platform parpol. Melainkan juga dalam mengawasi proses pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dimana negoisasi politik antara calon dengan para calon Kepala Daerah dan Wakil kepala Daerah melalui pintu Pimpinan Partai Politik, bukan pintu para anggota DPRD. Sehingga peran partai politik sangat besar dalam mengusung siapa yang bakal diajukan sebagai calon Kepala Daerah dan Wakil kepala Daerah. 2.3. Metode Sisa Terbanyak : Varian Legitimasi anggota DPRD Sistem Perhitungan Suara pada pemilu 2004 menggunakan model perhitungan suara BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Partai politik akan memperoleh kursi manakala suaranya mencapai angka BPP. Angka BPP ini diperoleh dari pembagian jumlah suara sah yang diperoleh oleh seluruh partai politik dengan jumlah kursi DPRD. Pembagian kursi pada partai politik di setiap daerah pemilihan menggunakan metode sisa terbanyak, sebuah model yang paling sederhana yang diterapkan dalam sistem representasi proporsional. Metode ini menetapkan adanya quota (jatah) pada setiap daerah pemilihan. Penghitungan quota dilakukan dengan cara membagi jumlah suara sah dalam suatu daerah pemilihan dengan jumlah kursi di daerah pemilihan tersebut. Metode pembagian kursi pada partai politik dengan menggunakan metode Sisa Terbanyak, ternyata telah melahirkan varian tingkat legitimasi anggota DPRD terpilih sangat varian, jatah harga 1 kursi dimasing-masing Daerah Pemilihan berbeda, termasuk hasil perolehan 1 kursi yang diraih oleh anggota DPRD. Dalam prakteknya, terdapat anggota DPRD yang mencapai lebih dari 1000 suara, namun

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

adapula 1 (satu) jatah kursi anggota DPRD yang terpilih hanya 100 suara11. Artinya, derajat legitimasi politik dan tingkat kepercayaan publik setiap anggota DPRD memiliki variasi. Berikut varian dukungan perolehan suara anggota DPRD KSB pada pemilu 2004 :
J UM LA H D UKUN G A N SUA R A A N G G O T A D P R D

1200 1000 800 600 400 200 0

1042

723

JUMLAH

670 460 448 284 179 454 479 389 556 409 393 450 301 157 410 459 263 216

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

2.4. Dominasi suara partai politik Pada pemilu 2004, ada dua pendekatan atau pintu masuk yang digunakan untuk memperoleh kursi di DPRD. Pertama, adalah pintu masuk melalui caleg itu sendiri, dimana caleg bersangkutan mampu mencapai angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) di Daerah Pemilihan tersebut. Kedua, adalah melalui partai politik, bila caleg bersangkutan tidak mencapai angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) maka penentuan suara untuk memperoleh kursi DPRD beralih pada perolehan suara partai politik. Dan suara caleg yang tidak mencapai angka BPP tersebut, secara otomatis menjadi suara partai politik bersangkutan. Dengan model seperti ini, pertama akan terlihat sejauhmanakah dukungan suara yang diperoleh oleh masing-masing caleg di masing-masing Daerah Pemilihan serta dukungan suara partai politik itu sendiri. Berikut ini perolehan suara pada pemilu 2004 di Kabupaten Sumbawa Barat :

11 Dalam metode ini, alokasi kursi pada partai politik dilakukan dalam dua tahap ; pertama, penentuan jumlah quota penuh diterima setiap partai politik. Kedua, bila kursi di daerah pemilihan belum habis terbagi pada tahap pertama, maka kursi yang tersisa akan dibagikan sesuai dengan urutan suara partai politik yang tersisa, yakni jumlah suara yang tersisa setelah total suara yang diterima oleh setiap partai politik dikurangi dengan quota penuh yang dimiliki partai politik.

Partai politik yang akan memperoleh kursi adalah partai politik yang jumlah suaranya mencapai angka BPP (bilangan Pembagi Pemilih). BPP ini adalah angka yang menunjukkan harga 1 kursi disuatu daerah pemilihan. Dan angka BPP ini berbeda untuk tiap daerah pemilihan, tergantung total jumlah suara sah yang diperoleh oleh semua partai politik peserta pemilu dan jumlah kursi yang diperebutkan. Angka BPP diperoleh dengan cara membagi jumlah semua suara sah yang diperoleh oleh seluruh partai politik dengan jumlah kursi anggota DPRD KSB. Calon anggota yang terpilih (mendapatkan kursi) adalah calon yang memperoleh suara dukungan minimal sama dengan BPP. Apabila tidak ada caleg yang memperoleh suara dukungan atau minimal sama dengan BPP, namun justru partainya yang mendapatkan suara dukungan mencapai BPP, maka caleg yang akan mendapatkan kursi akan ditentukan partai politik berdasarkan nomor urut sesuai tercantum disurat suara. Apabila setelah proses penghitungan suara dan pembagian kursi berdasarkan angka BPP selesai namun masih ada sisa kursi, maka sisa kursi tersebut akan diberikan kepada partai yang mempunyai kursi terbanyak secara berurutan.

M an D ca rs w M . Z u ar i .Y L l u ki f . M M suf li D us a ta Am ud k i au m ll H . k P a ah eb taw Ab a S ar d u oe i s l M A z sy us is ,S ta fa S H .M .S M .T h M am uk zi M an add l im am ba A. ng H K Ka a m h a id H ru d .K i em n al U m N ar Er M na D rs A .M oh M . N Ars a y R s ir ad ak , m S. A a g M d, S . N .A g a Su s ir da , S rl i T ,S pd


N A M A A N GGOT A D P R D

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

HASIL PEMILU 2004 KAB SUMBAWA BARAT


1 2000 1 0000 8000 6000

9655

6781 4429 3803 2772 794 563 862 0 12 0 895

3827
4000

3501 2401 1287 435 785 116 658 525

2000

1389 102 174

1 0

11

1 2

1 3

14

1 5

1 6

1 7

1 8

1 9

20

21

22

23

24

NAMA PARPOL

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Model ini juga mendorong setiap caleg untuk secara serius untuk mencari dukungan massa jika ingin terpilih. Hal ini menunjukkan bahwa system proporsional terbuka, mendorong rakyat untuk melihat calon anggota legislative, bukan hanya dari sisi kepartaian melainkan juga performance dari setiap caleg yang ada. Disisi lain, system ini juga mendorong adanya persaingan antar kader/calon legislative di dalam partai politik itu sendiri, sehingga caleg yang duduk sebagai anggota DPRD diharapkan nantinya betul-betul memiliki kompetensi dan integritas yang baik. Kelebihan lainnya, system ini juga mendorong partai politik untuk memperhatikan kader politiknya yang akan duduk sebagai anggota DPRD. Oleh sebab itu, ada asumsi bahwa caleg yang berada pada posisi nomor urut 1 adalah kader terbaik partai politik di masing-masing Daerah Pemilihan. Namun, ternyata tidak semua caleg yang menduduki nomor urut satu memperoleh dukungan real terbanyak dari pemilih. Berikut ini adalah data nomor urut 1 yang perolehan suaranya lebih kecil dibandingkan dengan nomor urut dibawahnya :
CALEG TERPILIH MENJADI CALEG SUARA MAYORITAS NAMUN ANGGOTA DPRD KSB TIDAK MENJADI ANGGOTA DPRD KSB NAMA CALON JUMLAH NAMA CALON DAN JUMLAH DAN NOMOR URUT SUARA NOMOR URUT SUARA PPP Sudarli,Spd 216 M.Saleh.S.E 345 Nomor urut 1 Nomor urut 3 PBR M.Nasir Sag 157 Syafruddin Maula 675 Nomor urut 1 Nomor urut 2 GOLKAR H.M Syafeei 837 Drs.Moh Arsyad 410 Nomor urut 1 Nomor urut 2 PPP Mukaddam 389 Drs. Abdurrahman 400 Nomor urut 1 Nomor urut 2 PBB Abdul Aziz 179 H. Abdul Hadi Syihab 202 Nomor urut 1 Nomor urut 3 PDI-P M. Yusuf Amaullah 284 M. Saleh. S 779 Nomor urut 1 Nomor urut 3 Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004 NAMA PARTAI KET

DP III DP III DP III DP II DP I DP I

Pada mulanya, memang sebagian besar caleg bersikap optimis mampu untuk mencapai angka BPP dan menyakini bahwa suara mayoritas lah yang akan duduk

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

10

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

sebagai DPRD. Oleh sebab itu, nomor urut caleg tidaklah menjadi persoalan. Namun, setelah perjalanan pemilu berlangsung, muncul sikap skeptis sebagian besar caleg. Pasalnya, UU No.12 tahun 2003 tentang Pemilu tidak mengenal hal tersebut. Jika, caleg tidak mencapai angka BPP, maka perolehan kursi didasarkan atas suara partai politik. Dengan kata lain, jikalaupun caleg bersangkutan memperoleh suara terbanyak di partai politiknya, jika tidak berada pada nomor urut satu, maka jangan berharap besar untuk bisa duduk sebagai anggota DPRD, karena harus mengantri sesuai nomor urut yang telah tersusun. Hasil Pemilu 2004, di Kabupaten Sumbawa Barat, ternyata menunjukkan dari 20 anggota DPRD yang terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Barat periode 2004-2009, tidak satupun dari calon legislative yang memperoleh angka suara mencapai BPP di masing-masing Daerah Pemilihannya. Dukungan real yang diraih oleh caleg terpilih sangat rendah. Dari 45688 total suara, akumulasi dukungan suara dari 20 caleg terpilih hanya berjumlah 8742 suara atau sekitar 19.13% dari total suara, sedangkan suara caleg lain dan pemilih yang mencoblos tanda gambar partai politik sebanyak 36946 suara atau sekitar 80.87% persen dari jumlah keseluruhan suara sah. Berikut ini tabel komposisi perbandingan :
PROSENTASE PERBANDINGAN DUKUNGAN SUARA TOTAL SUARA CALEG TERPILIH, 8742, 19%

TOTAL SUARA CALEG LAIN DAN COBLOS GAMBAR, 36946, 81%

TOTAL SUA RA CA LEG TERP ILIH TOTAL SUA RA CA LEG LA IN DAN COB LOS GAM BA R

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Dengan komposisi perolehan suara sebagaimana diatas terlihat bahwa sebagian besar caleg terpilih mendapat kursi karena terdongkrak dari perolehan caleg lainnya dan suara pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar partai politik saja. Dukungan real dalam pengertian bahwa pemilih langsung mencoblos nama caleg terpilih (anggota DPRD) ternyata hanya sebanyak 8742 suara. Dukungan suara terbanyak diraih oleh Mustafa.H.MS dengan perolehan suara 1042 suara, dan satusatunya caleg yang naik sebagai anggota DPRD meski posisinya pada pemilu 2004 di DP I berada pada nomor urut 5. Sementara 19 anggota DPRD lainnya perolehan dukungan suara real dibawah jumlah 1000 suara. Bahkan 2 anggota DPRD lainnya dukungan perolehan suaranya dibawah angka 200 suara. Berikut perolehan suara real anggota DPRD terpilih :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

11

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

J UM LA H D UKUN G A N SUA R A A N G G O T A D P R D

1200 1000 800 600 400 200 0

1042

723

JUMLAH

670 460 448 284 179 454 479 389 556 409 393 450 301 157 410 459 263 216

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Sejumlah kasus menunjukkan caleg terpilih yang saat ini menduduki kursi DPRD, lebih disebabkan faktor keberuntungan. Harus diakui bahwa system pemilu 2004 cukup memberikan keuntungan pada caleg yang berada pada nomor urut 1 (satu). Pasalnya, apabila tidak tercapai angka BPP dari setiap caleg, suara partai politiklah yang menentukan. Dengan demikian, Pelimpahan Suara dari caleg lainnya adalah merupakan berkah bagi calon nomor urut 1. Dan sebaliknya, derita bagi caleg lainnya. Gambaran diatas membuktikan bahwa Pemilu tidak selalu menempatkan suara calon legislative mayoritas sebagai wakil rakyat, sejatinya memang dalam Pemilu yang ideal mereka yang memperoleh suara terbanyak yang lebih layak dan pantas untuk duduk sebagai wakil rakyat karena perolehan suara tersebut merupakan cermin dari kehendak rakyat. Akan tetapi, system pemilu 2004 tidak memberikan peluang untuk itu, maka wakil rakyat yang terpilih dapat saja, mereka yang bukan memperoleh suara mayoritas, melainkan suara minoritas sebagaimana diatas. Inilah salah satu kelemahan sekaligus tantangan dalam system pemilu 2004 yang lalu. Dampak dari kelemahan ini adalah pertama derajat kualitas legitimasi sejumlah anggota DPRD lemah. Sehingga secara internal maupun kelembagaan posisi DPRD terancam mengalami resistensi, baik dari kalangan internal konstituen partai politik itu sendiri maupun masyarakat yang tidak memilih anggota DPRD. Secara kelembagaan dengan derajat legitimasi anggota DPRD yang rendah, maka tentu berpengaruh terhadap performance secara kseluruhan kelembagaan DPRD itu sendiri. Kedua rapuhnya bangunan legitimasi politik DPRD yang bersumber dari rakyat akan melahirkan rendahnya kepercayaan masyarakat disatu sisi dan meningkatnya keraguan para wakil rakyat sebagai wakil rakyat dalam pengambilan keputusan publik, sikap ini dapat menimbulkan ambiguitas DPRD. Secara kelembagaan DPRD akan sangat rapuh dan mudah mengalami intrik dan friksi didalam internalnya. Padahal, disisilain pula meraka dihadapkan pada tantangan dan pressure dari luar yang semakin kuat, khususnya dari para mantan caleg dan pendukungnya yang merasa telah memberikan konstribusi besar dalam mendongkrak perolehan kursi anggota DPRD tersebut. Kegagalan DPRD dalam merspons tuntutan secara dini masyarakat akan

M an D ca rs w M . Z u ar i .Y L l u ki f . M M suf li D us a ta Am ud k i au m ll H . k P a ah eb taw Ab a S ar d u oe i s l M A z sy us is ,S ta fa S H .M .S M .T h M am uk zi M an add l im am ba A. ng H K Ka a m h a id H ru d .K i em n al U m N ar Er M na D rs A .M oh M . N Ars a y R s ir ad ak , m S. A a g M d, S . N .A g a Su s ir da , S rl i T ,S pd


N A M A A N GGOT A D P R D

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

12

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

melahirkan arus gelombang ketidakpercayaan masyarakat yang semakin meningkat dan posisi ini akan semakin memperlemah legitimasi kekuasaan DPRD. Ketiga ; dengan dukungan suara yang tidak cukup signifikan, maka tentu arus tuntutan pergantian antar waktu anggota DPRD dari partai politik yang bersangkutan akan semakin meningkat, artinya peluang terciptanya konflik internal dalam tubuh partai politik akan semakin besar, khususnya antara caleg yang memperoleh suara mayoritas dengan caleg yang terpilih sebagai anggota DPRD. Secara psikologi social, caleg yang memperoleh suara mayoritas merasa lebih berhak dan terhormat sebagai wakil rakyat daripada caleg terpilih. Sebaliknya, caleg terpilih merasa lebih berhak karena secara prosedural formal memberikan legitimasi hukum kepada dirinya sebagai anggota DPRD terpilih. Keempat, suara rakyat menjadi tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan wakil rakyat, apabila tidak mencapai BPP dalam Pemilusuara rakyat yang sebelumnya tertuju pada pilihan individu caleg, berubah menjadi suara partai politik, dan suara partai politik tersebut pada pemilu 2004 direpresentasikan oleh caleg yang berada pada nomor urut satu. Padahal, apa yang direpsentasikan tersebut belum tentu sesuai dengan hati nurani atau kehendak rakyat. Artinya dengan dukungan suara real anggota DPRD yang masih sangat terbatas, sangat dimungkinkan bagi masyarakat untuk melakukan pengawasan dan mengedalikan kekuasaan DPRD dari luar. Dalam konteks, hubungan eksekutive dan legislative kedepan, dimana eksekutive (Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah) juga dipilih secara langsungyang berarti derajat kekuasaan dan legitimasi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bersumber langsung dari rakyat, bukan melalui perwakilan lagi (DPRD) seperti sebelumnya, maka rendahnya derajat legitimasi DPRD dapat menyebabkan kedudukan dan bargaining position lembaga DPRD kurang diperhitungkan oleh lembaga eksekutive. Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah, karena dipilih secara langsung dan memperoleh mandat langsung dari rakyat dapat pula mempertanyakan sikap DPRD yang kritis terhadap kekuasaan. Apalagi, jika akumulasi perolehan suara antara anggota DPRD dengan eksekutive memiliki kesenjangan yang begitu dalam. Pergeseran kekuasaan, nampaknya akan berpindah kembali, dari legislative heavy kearah executive heavy . Jika ini berlangsung, maka dapat dipastikan mekanisme control pengawasan legislative tidak akan dapat berjalan maksimal. Begitupun terhadap proses mekanisme check and balance antara kekuasaan eksekutive dengan kekuasaan legislative. Pola komunikasi politik akan terhambat, karena keduanya akan menjsutifikasi sumber kekuasaan dari rakyat. Dengan kata lain, claim kekuasaan dari rakyat dan mandat rakyat sebagai justifikasi politik akan menjadi instrumens yang paling sering digunakan baik lembaga eksekutive maupun legislative untuk saling menjaga dan mengamankan posisinya. Dinamika politik pun dengan adanya pilkada langsung akan semakin dinamis berjalan di tingkat daerah. Persoalannya adalah apakah dinamika politik yang berlangsung tersebut cukup konstruktif untuk membangun masyarakat ataukah dinamika politik tersebut hanya merebutkan kue kekuasaan? Partisipasi rakyat melalui penguatan organisasi rakyat memang dalam konteks ini sangat diperlukan sebagai penyeimbang kekuasaan, sekaligus sebagai media korektif bagi kekuasaan. Sehingga, tatkala eksekutive dan legislative mengalamai ketegangan, rakyat dapat menjadi mediator independen. Persoalannya adalah sejauhmanakah

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

13

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

kekuatan rakyat dapat menjaga independensinya dari kepentingan politik tersebut? Inilah yang menjadi agenda penting bagi semua kalangan untuk memberikan proses pemahaman dan penguatan pada masyarakat.

3. Pergeseran dan peta politik di KSB


Analisis peta politik dan pergeseran politik di KSB pada bagian ini akan dibahas berdasarkan perolehan suara partai politik dan anggota DPRD terpilih di daerah pemilihan di KSB. Pembahasan meliputi antara lain ; hasil perolehan pemilu 2004 dan pemilu sebelumnya? Kecendrungan pemilih di masing-masing daerah pemilihan? Komposisi jumlah caleg, kursi dan anggota DPRD terpilih dimasingmasing daerah pemilihan? Dan kecendrungan yang muncul dalam pergeseran peta politik di masing-masing daerah pemilihan.

3.1. Pergeseran dan Peta Politik di Daerah Pemilihan Satu


Daerah Pemilihan Satu terdiri dari dua Kecamatan yakni Kecamatan Brang Rea dan Kecamatan Seteluk. 1. Kecamatan Brang Rea Secara geografis, luas Wilayah Kecamatan Brang Rea sebesar 124,76 km2, jumlah desa di Kecamatan ini sebanyak 4 desa, yakni Desa Sapugara Bre, Beru, Tepas, dan Bangkat Monteh. Jumlah Rumah Tangga sebanyak 2557 dengan jumlah penduduk sebanyak 10253. Pemilih di Kecamatan ini pada pemilu legislative 2004, sebanyak 6851 pemilih dengan jumlah TPS sebanyak 28 TPS. Pemilih terbesar adalah Desa Tepas dengan jumlah pemilih sebanyak 2154 pemilih, diikuti Desa Bangkat Monteh 1701 pemilih, Desa Beru 1507 pemilih dan Desa Sapugara Bre. Berikut ini tabel prosentase jumlah penduduk dan pemilih di kecamatan Brang Rea :
JUMLAH PENDUDUK DAN PEMILIH

4000
JUMLAH

3394 2193 1489 2142 1507 2154 2524 1701


JUMLAH PEMILIH JUMLAH PENDUDUK

3000 2000 1000 0

Sapugara Bre

Beru

Tepas

Bangkat Monteh

NAMA DESA DI KEC.BRANG REA

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Rincian prosentase jumlah pemilih dimasing-masing desa terhadap jumlah pemilih kecamatan, dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

14

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PROSENTASE PEMILIH DARI TOTAL PEMILIH DI KEC BRANG REA

24.83 , 25%

21.73 , 22%

Sapugara Bre Beru Tepas

31.44 , 31%

22.00 , 22%

Bangkat Monteh

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Dari gambaran jumlah pemilih sebagaimana diatas, secara umum komposisi jumlah penduduk pada 4 desa di Kecamatan Brang Rea relative berimbang. Sehingga, nampak sentral kekuatan politik tidak terpusat pada salah satu desa, kondisi ini memberikan peluang pula bagi terdistribusinya perolehan suara secara merata serta berimplikasi terhadap pola perebutan suara partai politik. Dengan komposisi jumlah pemilih yang merata, maka dapat dipastikan seluruh kekuatan politik akan menjadikan desa-desa tersebut sebagai target utama pendulangan suara. Tidak cukup bagi partai politik hanya bertumpu pada satu desa untuk dijadikan sentral perolehan suara. Akibatnya, pertarungan politik di Kecamatan ini pun akan berjalan begitu ketat dalam pemilu 2004 dan berpotensi melahirkan konflik yang lebih besar. 2. Kecamatan Seteluk Secara administrative Kecamatan seteluk terdiri dari 10 Desa meliputi ; Desa Meraran, Air Suning, Rempe, Seteluk Atas, Seteluk Tengah, Senayan, Mantar, Kelawis, Poto Tano dan UPT Tir. Luas wilayah mencapai 240,32 km, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 4937 dan penduduk sebanyak 20816. Pada pemilu 2004, jumlah pemilih di kecamatan ini sebanyak 13862 pemilih, dengan jumlah TPS sebanyak 52 TPS. Pemilih terbesar di Kecamatan Seteluk berada pada Desa Seteluk Tengah dengan jumlah pemilih sebanyak 2310 pemilih, sedangkan pemilih terendah adalah desa UPT TIR sebanyak 421 pemilih. Berikut tabel grafik jumlah penduduk dan pemilih di Kecamatan Seteluk.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

15

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

TABEL JUMLAH PEMILIH 4000 3500 3000 JUMLAH 2500 2000 2729 2421 1874 1666 1177 2310 2019 1512 1017 1649 931 628 771 421 3371

3089 2591

1688 1472 1500 1079 1000 500 0

JUM LA H P EM ILIH

JUM LA H P ENDUDUK"

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Bila dilihat prosentase jumlah pemilih dimasing-masing desa terhadap total jumlah pemilih kecamatan, maka ada lima desa di Kecamatan Seteluk yang prosentase jumlah pemilih diatas 10% dari total jumlah pemilih dikecamatan tersebut. Kelima desa itu adalah Desa Seteluk Tengah 16%, Mantar 15%, Rempe 14 persen, Air Suning 12% dan Desa Poto Tano 12%. Sedangkan lima desa lainnya jumlah pemilihnya dibawah 10% dari total jumlah pemilih dikecamatan tersebut. Artinya, dengan komposisi jumlah pemilih seperti itu, maka kemenangan perolehan suara partai politik, akan sangat ditentukan dari seberapa besar partai politik tersebut mampu mendulang perolehan suara pada 5 desa diatas. Pasalnya, jika 5 desa tersebut dapat dikuasai, maka 54% perolehan suara dapat dikuasai oleh parpol bersangkutan. Berikut ini tabel prosentase pemilih di kecamatan seteluk :
PROSENTASE PEMILIH DARI TOTAL PEMILIH DI KEC. SETELUK UPT TIR 3% Poto Tano 12% Kelaw is 5% Mantar 15% Meraran 8% Air Suning 12% Meraran Air Suning Rempe Seteluk Atas Rempe 14% Seteluk Tengah Senayan Mantar Senayan Seteluk Atas 7% 8% Seteluk Tengah 16% Kelaw is Poto Tano UPT TIR

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

3. Komposisi Caleg Daerah Pemilihan Satu pada Pemilu 2004

M er ar an Ai rS un in g R em Se pe te lu k Se At te as lu k Te ng ah Se na ya n

NAMA DESA

M an ta r Ke la w is Po to Ta no U PT TI R

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

16

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Pada pemilu 2004 sebanyak 80 orang dari daerah pemilihan satu yang mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislative (caleg) Kabupaten Sumbawa Barat. Komposisi jumlah calon anggota legislative, untuk Daerah Pemilihan satu, sebanyak 80 caleg, terdiri dari 19 caleg perempuan dan 61 caleg laki-laki. Berikut ini tabel komposisi caleg laki-laki dan perempuan di daerah pemilihan satu.
KOMPOSISI CALEG BERDASARKAN JENIS KELAMIN perempuan , 23.75 Laki-laki Laki-laki, 76.25 perempuan

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Bila melihat komposisi caleg sebagaimana diatas, terlihat bahwa quota 30% untuk perempuan dapat menduduki kursi DPRD Kabupaten Sumbawa Barat di DP satu sangatlah kecil, dari 24 partai politik peserta pemilu, ternyata hanya 12 partai politik yang mengajukan calegnya berasal dari perempuan atau setengah (50%) saja dari jumlah parpol peserta pemilu. Secara umum posisi atau urutan nomor caleg dari perempuan berada berada pada nomor urut sepatu. Dari 24 parpol, hanya 3 partai politik yang menempatkan caleg perempuan berada pada urutan nomor 1 atau sebanyak 14, 29 % dari jumlah posisi nomor urut satu di DP satu. Jumlah prosentase tersebut nampak akan semakin kecil jika kita jumlahkan dari jumlah caleg di DP satu maka hanya berjumlah sekitar 3, 75 % dari total jumlah caleg. Dan sebagian caleg perempuan yang duduk pada urutan nomor satu nampaknya lebih disebabkan partai politik tidak memiliki alternative lain untuk mengajukan caleg lain12 karena caleg perempuan dalam partai tersebut adalah calon tunggal. Selain dari sisi kuantitas yang kecil, dilihat dari potensi peluang untuk menduduki kursi DPRD juga sangat tipis. Pasalnya, sebagian besar partai politik yang menempatkan posisi nomor urut satu umumnya adalah partai politik yang tidak cukup besar memiliki basis massa, sementara itu partai politik besar, yang diharapkan dapat menjadi kendaraan politik caleg perempuan untuk duduk dalam kursi legislative, nampaknya belum cukup mendapat tempat bagi politisi perempuan untuk menempati posisi strategis dalam perebutan kursi di DPRD. Tidaklah mengherankan, jika dari 19 caleg, sebanyak 16 caleg perempuan hanya berada pada posisi nomor urut sepatu. Berikut ini daftar nama caleg perempuan di DP satu pada pemilu 2004 :

12 Istilah nomor urut sepatu adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa urutan nomor yang diduduki adalah nomor urut bawah yang diasumsikan sangat kecil memiliki peluang untuk dapat duduk sebagai anggota legislative. Ketiga caleg perempuan yang menempati urutan nomor 1 pada pemilu 2004 di Daerah Pemilihan III Sumbawa Barat adalah dari PIB, PPNUI, dan PKB.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

17

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

DAFTAR CALON LEGISLATIVE DARI PEREMPUAN DAN NOMOR URUT DALAM PARTAI PADA PEMILU 2004 DI DAERAH PEMILIHAN II KEC BRANG REA DAN SETELUK
NO NAMA PARTAI NAMA CALON NOMOR URUT CALEG JUMLAH TOTAL CALEG YG DIAJUKAN PARPOL 1 4 6 6 8 2 3 3 3 3 6 5 4 4 4 7 7 8 5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

PNI MARHAENISME PBB MERDEKA MERDEKA PPP PIB PKPI PKPI PPNUI PPNUI PAN PKPB PKS PBR PBR PDI-P PDI-P GOLKAR PELOPOR

Nisa A.n Yulia Permatasari, SP Sartina Hamida Suhatinah Susi Febrianti Eka Putri Sri Utami Suhartini Yeni Lestari Surwahyuni Khaerani Nurminah Ely Purnamawati Neni Kurniati Ellynda Yulianti Rokhani Hj. Umi Kalsum.W.Said Lilis Suryani

1 2 5 6 5 1 2 3 1 2 6 5 2 2 4 5 7 7 5

80 CALEG
Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

Perolehan suara yang diperoleh oleh caleg perempuan ternyata masih sangat rendah. Dari 16,304 (Enam belas ribu tiga ratus empat) suara sah di DP 1, perolehan total suara dari 19 caleg perempuan hanya berjumlah 1143 suara atau sekitar 7,01 persen dari jumlah suara keseluruhan. Angka ini semakin kecil, bila dilihat dari konstribusi perolehan suara caleg perempuan terhadap perolehan suara parpol. Kondisi ini tentu saja, akan sangat berpengaruh terhadap pemilu dimasa mendatang. Karena partai politik dapat saja menjustifikasi hasil ini sebagai salah satu alasan untuk tidak memperioritaskan caleg perempuan pada pemilu berikutnya. Berikut ini data perolehan suara

caleg perempuan di DP I :
PEROLEHAN SUARA CALEG PEREMPUAN DI DP I (KEC BRANG REA DAN KECAMATAN SETELUK)
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 NAMA PARTAI PNI MARHAENISME PBB MERDEKA MERDEKA PPP PIB PKPI PKPI PPNUI PPNUI PAN PKPB PKS PBR NAMA CALON Nisa A.n Yulia Permatasari, SP Sartina Hamidah Suhartinah Susi Febrianti Eka Putri Sri Utami Suhartini Yeni Lestari Surwahyuni Khaerani Nurminah Ely Purnamawati Neni Kurniati JUMLAH SUARA 1 116 2 13 447 2 115 6 11 3 12 19 132 115

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

18

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa 15 16 17 18 19 PBR PDI-P PDI-P GOLKAR PELOPOR Ellynda Yulianti Rokhani Hj. Umi Kalsum.W.Said Lilis Suryani 12 56 54 19 8

JUMLAH SUARA
Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

1134

Dari data diatas terlihat hanya 5 orang anggota caleg perempuan yang meraih perolehan suara diatas 100, angka tertinggi dari caleg perempuan di DP 1 diraih oleh Suhartinah yang mencapai 447 suara dari PKPI. Sayangnya selain posisi Suhartinah yang berada pada posisi nomor urut ketiga. Perolehan suara partainya dan suara caleg lainnya tidak cukup signifikan untuk mendongkrak perolehan suara Suhartinah. Sehingga, Suhartinah dan Partainya tidak memperoleh satupun kursi DPRD di DP 1. 4. Komposisi Jumlah Caleg Pemilu 2004 dengan system sebagaimana dijelaskan diatas, membawa konsekuensi logis bahwa salah satu faktor pendorong untuk dapat meraih perolehan suara yang besar, membutuhkan pula jumlah caleg yang besar. Peluang partai politik yang menempatkan calegnya dalam jumlah yang relative besar akan sangat membantu sekaligus berpotensi untuk mendongkrak akumulasi perolehan suara partai politik yang bersangkutan. Oleh sebab itu, salah satu strategy yang dipakai oleh sejumlah partai politik adalah dengan cara mendaftarkan calegnya dalam jumlah besar. Dari 80 caleg di DP 1, nampak bahwa sebagaian besar partai politik baru yang mengikuti pemilu 2004 tidak cukup memiliki kader atau caleg dalam jumlah yang banyak, secara umum sebagian besar mereka memiliki keterbatasan untuk mendaftarkan kader partai politiknya sebagai caleg. Misalnya saja, Partai Persatuan Daerah, Partai Damai Sejahtera, dan Partai Patriot Pancasila. Ketiga partai politik yang notabennyapeserta baru dalam pemilu 2004 ini tidak memiliki caleg di DP satu dan hampir sebagian besar partai politik baru mengalami krisis jumlah caleg di daerah. PNI Marhaenisme, PBSD, Partai Nasional Banteng Merdeka, Partai Penegak Demokrasi Indonesia dan Partai Demokrat di DP satu hanya memiliki 1 caleg. Kondisi ini sangat berbeda dengan partai peserta pemilu sebelumnya, seperti Partai Golkar , PPP, PAN, PDI-P, PKS, PBB yang menempatkan jumlah calegnya dalam jumlah yang cukup banyak 4 sampai dengan 8 caleg. Berikut prosentase jumlah caleg masing-masing partai politik terhadap total jumlah caleg :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

19

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

KOMPOSISI JUMLAH CALEG

12
10 10 8.75 8 8 7.5 7 6 6 6.25 5 4 3.75 3 1.25 1 1.25 1 2.5 2 1.25 1.25 1 1 2.5 2 1.25 1 00 00 00 3.75 3 5 4 5 4 5 4 5 4 6.25 5 7.5

10 8 6 4 2 0
5

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21 22

23

24

P ROSENTASE DARI JUM LA H JUM LA H CA LEG

NAM A P ARP OL

Syahrul Mustofa : Data diolah dari laporan pemilu , KPU Sumbawa 2004

5. Hasil Perolehan Suara Pemilu 2004 di DP I (satu) Daerah Pemilihan I (satu) terdiri dari dua kecamatan, yakni Kecamatan Brang Rea dan Kecamatan Seteluk. Jumlah pemilih di Daerah Pemilihan I sebanyak 20713 (dua puluh ribu tujuh ratus tiga belas), dengan rincian 6851 Pemilih Kecamatan Brang Rea dan 13862 pemilih dari kecamatan Seteluk. Jumlah kursi yang diperebutkan di DP 1 pada pemilu 2004 sebanyak 7 kursi. Berdasarkan hasil pemungutan suara pada pemilu 2004 jumlah suara sah yang masuk di Daerah Pemilihan satu sebanyak 16,304 (enam belas ribu tiga ratus empat) dengan angka BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) sebanyak 2.329 (dua ribu tiga ratus dua puluh sembilan). Berikut grafik perolehan suara hasil pemilu 2004 di Daerah Pemilihan 1 :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

20

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PEROLEHAN SUARA PEMILU 2004 DP 1 KSB


PELOPOR, 258 PP D, 0 PSI, 372 PA TRIOT PA NCA SILA , 0 GOLKA R, 4,387 PDS, 0 PDI-P, 2,309 P BR, 322 P KS, 1 ,546 P KB, 44 PKPB , 352 PA N, 1 ,323 P PNUI, 46 P ENEGA K DEM OKRA SI, 207 PKPI, 1 96 DEM OKRA T, 85 P NB K, 96 PIB , 21 P DK, 1 23 P PP, 3,045 M ERDEKA , 534 P BB , 997 P BSD, 95 PNI, 24 0 500 1 000 1 500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Berdasarkan hasil perolehan suara tersebut diatas, maka pada pemilu 2004, di Daerah Pemilihan satu hanya terdapat 6 partai politik yang meraih kursi di DPRD Kabupaten Sumbawa Barat, keenam partai politik tersebut adalah Partai Golkar 2 kursi, PPP 1 kursi, PDIP 1 kursi, PKS 1 kursi, PAN 1 kursi dan PBB 1 kursi dengan perolehan suara sebagaimana tabel dibawah ini ;
JUMLAH PEROLEHAN SUARA PARPOL YANG M EM PEROLEH KURSI DI DPRD KSB 2004 (DAERAH PEMILIHAN 1) 5000 4500 4000 JU LA S A A M H U R 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2309 1546 3045 4387

1323 997

Golkar

PPP

PDI-P

PKS

PAN

PBB

NAMA PARPOL

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Bila melihat perolehan kursi diatas nampak dari 6 partai politik yang memperoleh kursi umumnya adalah partai politik yang pada pemilu 1999 masuk dalam kategori 5 partai politik yang memperoleh suara terbesar. Perolehan suara diatas juga menunjukkan adanya distribusi kursi yang merata antara partai yang bernafaskan nasionalis dengan partai politik yang bernafaskan islam. Dari sekian banyak Partai politik yang bernafaskan nasionalis, pada pemilu 2004 ternyata hanya 2 partai politik yang memperoleh kursi di DPRD, yakni Partai

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

21

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Golkar (2 kursi) dan PDI-Perjuangan (1 kursi). Sedangkan partai yang bernafaskan islam hanya diwakili oleh tiga partai politik, yakni PPP (1 kursi) PKS (1 kursi), PAN (1 kursi), dan PBB (1 kursi). Meski perolehan suara antara partai politik yang bernafaskan nasionalis dengan partai politik yang bernafaskan islam, relative lebih berimbang, hanya selisih sebanyak 215 suara lebih besar suara partai politik bernafaskan islam dari perolehan suara partai politik bernafaskan nasional, mencapai 6696 (49,21%), akan tetapi dalam perolehan kursi di DPRD partai politik yang bernafaskan islam lebih besar, yakni 4 kursi. Sedangkan partai politik yang bernafaskan nasionalis, hanya memperoleh 3 kursi di DPRD.
KONFIGURASI SUARA PARPOL NASIONALIS DAN ISLAM DI SETELUK

NASIONALIS ISLAM 2 51% 1 49% 1NASIONALIS 2 ISLAM

Syahrul Mustofa : data diolah dari laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Berimbangnya perolehan suara antara partai yang bernafaskan islam dengan partai yang bernafaskan nasionalis, memiliki implikasi penting dalam pilkada 2005 di Sumbawa Barat khususnya untuk Kecamatan Seteluk. Pertama ; partai politik yang bernafaskan islam maupun partai politik yang bernafaskan nasionalis dalam menentukan paket Calon Bupati dan Wakil Bupati harus mampu menggabungkan dua kekuatan diatas, atau setidaknya upaya koalisi antara kekuatan politik yang beraliran nasionalis dan islam, jika ingin memperoleh simpatik pemilih yang lebih besar, karena kecendrungan pemilih, di Kecamatan Seteluk yang terfragmentasi pada dua kekuatan besar yang berimbang, nasionalis dan islam. Sosok figur pemimpin yang ideal bagi persefektif masyarakat yang terfragmentasi pada dua kekuatan diatas, tentu menginginkan sosok figur pemimpin yang setidaknya, berasal dari dua kekuatan politik tersebut atau setidaknya dapat mengakomodir kepentingan dua kekuatan diatas. Kedua ; pergeseran pemilih yang berkembang di kecamatan seteluk, tidak terlepas dari gelombang kekuatan politik dari luar, atau dengan kata lain kecendrungan umum politik yang berkembang. Pada pemilu 1999 misalnya, PDI-P di Kecamatan Seteluk berhasil menduduki perolehan suara tertinggi, kemenangan PDI-P pada pemilu 1999 di kecamatan seteluk, nampaknya tidak terlepas dari arus gelombang reformasi ketika ituyang pada akhirnya mendorong pemilih di kecamatan tersebut untuk mengikuti arus gelombang kekuatan dari luar. Dan hal ini terbukti dengan pemilu 2004, ditengah merosotnya suara PDI-P ditingkat nasional, suara PDI-P di kecamatan Seteluk pun ikut anjlok, lebih dari 45% pemilih di kecamatan tersebut bergeser kepartai politik lain. Kondisi ini sangat berbeda halnya dengan pemilih yang berada di Kecamatan taliwang, yang sepertinya cukup konsisten untuk memilih partai Golkar. Ditengah keterpurukan partai Golkar pada Pemilu 1999, justeru hanya di Kecamatan Taliwang Golkar menang dengan perolehan suara mutlak. Karenanya, dalam konteks Pilkada, arus gelombang pemilih di

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

22

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Kecamatan Seteluk akan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal kekuatan politik yang berkembang. 6. Pergeseran Pemilih : Menguatnya posisi parpol bernafaskan islam Untuk melihat pergeseran pemilih, penulis akan membandingkan hasil perolehan suara pemilu 1999 dan hasil pemilu 2004. Pada pemilu 1999, Kabupaten Sumbawa Barat masih bergabung dengan Kabupaten Sumbawa (induk), dan pada pemilu tahun 1999, daerah pemilihan kecamatan Brang Rea masih menjadi bagian dari Kecamatan Taliwang. Oleh karenanya, pada analisis ini penulis membandingkan perolehan suara, khusus untuk Kecamatan Seteluk saja, sedangkan untuk analisis pergeseran pemilih kecamatan brang rea tidak dapat dilakukan karena pada pemilu 1999, Kecamatan Brang Rea masih bergabung dengan Kecamatan Taliwang (belum terbentuk), sementara perolehan hasil suara pada pemilu 1999 masih berdasarkan wilayah dministrative kecamatan, sehingga tidak cukup tersedia data untuk melakukan analisis perbandingan. Namun, demikian kecendrungan pemilih diwilayah ini masih dapat dilihat dari perolehan suara yang berada di Kecamatan Taliwang, yang nanti akan dilakukan analisis tersendiri pada pembahasan berikutnya dalam analisis hasil pemilu kecamatan Taliwang. Pada pemilu 1999, merupakan pemilu pertama diera reformasi pasca runtuhnya rezim orde baru, pada pemilu tahun 1999 sebanyak 48 partai politik peserta pemilu. Pada pemilu 1999 kampiun perolehan suara di kecamatan seteluk dipegang oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan perolehan suara mencapai 3,844 (tiga ribu delapan ratus empat puluh empat), sedangkan partai golkar menduduki posisi kedua perolehan suara, yakni 2,872 (dua ribu delapan ratus tujuh puluh dua), Partai Persatuan Pembangunan sebanyak 1,198 (seribu seratus sembilan puluh delapan), PAN sebanyak 422 suara dan posisi kelima Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan perolehan suara sebanyak 350 suara. Berikut ini 5 partai politik yang memperoleh suara terbesar pada pemilu 1999 di kecamatan Seteluk :
PEROLEHAN SUARA 5 PARPOL TERBESAR 5,000 JUMLAH SUARA 4,000 3,000 2,000 1,000 0 1 PEMILU 1999 KECAMATAN SETELUK 3,884 2,872 1 PDI-P 2 GOLKAR 3 PPP 1,198 422 350 4 PAN 5 PKB

Syahrul Mustofa : data diolah dari BPS, Sumbawa dalam angka 2002

Bila di bandingkan perolehan hasil pemilu 1999 dan pemilu 2004, nampak terjadi pergeseran perolehan suara sekaigus pergeseran sikap pemilih di Kecamatan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

23

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Seteluk. Pada pemilu 2004, partai pemenang adalah Partai Golkar dengan perolehan suara sebanyak 2,901 suara, diikuti posisi kedua, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebanyak 2429 suara, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebanyak 1,927 suara, Partai Amanat Nasional (PAN) sebanyak 1,136 suara, Partai Bulan Bintang (PBB) sebanyak 605 suara dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebanyak 507 suara. Pergeseran perolehan suara dan sikap pemilih tersebut nampak pada partai politik yang saat ini merupakan partai politik besar. PDI Perjuangan yang pada pemilu 1999 mencapai 3, 844 suara dan berhasil sebagai pemenang pemilu 1999 di kecamatan Seteluk pada pemilu 2004, harus puas berada pada posisi ketiga perolehan suara, PDI-P pada pemilu 2004 hanya berhasil mencapai 1,927 suara, atau perolehan suara PDI-P menurun sebanyak 1,912 atau 49,23%. Turunnya, suara PDI-P ternyata dibarengi dengan kenaikan pesaing PDI-P. Partai Golkar yang pada pemilu 1999, jatuh pada posisi kedua, pada pemilu 2004 berhasil menduduki peringkat pertama, suara Partai Golkar naik dari 2,872 menjadi 2,901 atau sebesar 29 suara (1 %), kendati kenaikan suara Partai Golkar tidak signifikan, namun nampak partai politik aliran nasionalis lainnya, tidak cukup mendapat tempat dihati pemilih di Kecamatan Seteluk. Justeru, sejumlah partai politik yang beraliran islam pada pemilu 2004 mulai menguat. Hal ini ditandai dengan kenaikan perolehan suara yang cukup signifikan dari partai-partai politik yang beraliran islam. Jika melihat prosentase kenaikan perolehan suara dari hasil pemilu 1999 dibandingkan dengan pemilu 2004, maka kenaikan perolehan suara tertinggi diperoleh oleh Partai Keadilan Sejahtera, pada pemilu 1999 partai yang bernama Partai Keadilan (PK) ini di Kecamatan Seteluk hanya memperoleh 11 suara, pada pemilu 2004 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Kecamatan Seteluk berhasil memperoleh suara sebanyak 507 suara atau naik sebanyak 496 suara (4,509%), partai berikutnya yang mengalami kenaikan diatas 500% adalah Partai Bulan Bintang (PBB) yang pada pemilu 1999 memperoleh suara 76 suara, pada pemilu 2004 mencapai 714 suara atau naik sebanyak 529 suara (696,05%). Partai Islam lainnya yang juga mengalami kenaikan perolehan suara adalah Partai Amanat Nasional yang mengalami kenaikan suara sebanyak 714 suara atau 62,85% dari pemilu sebelumnya, dan terakhir adalah Partai Persatuan Pembangunan yang mengalami kenaikan perolehan suara sebanyak 1,231 suara atau 50,68%. Dan hanya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) partai yang bernafaskan islam yang posisi jatuh dalam perolehan suara pada pemilu 2004, dibandingkan pemilu sebelumnya. PKB di kecamatan Seteluk menduduki urutan kelima perolehan suara, dengan jumlah 350 suara, namun pada pemilu 2004 PKB hanya memperoleh 32 suara. Dan posisi PKB digantikan dengan PBB. Bila melihat jumlah keseluruhan kenaikan suara dari akumulasi yang ada, maka kenaikan tertinggi diperoleh PPP yakni mencapai 1,231 suara di ikuti, PAN, PBB, dan PKS. Berikut ini data perbandingan perolehan suara pada pemilu 1999 dan pemilu 2004 :
DATA PERBANDINGAN PEROLEHAN SUARA 5 PARPOL TERBESAR PADA PEMILU 1999 dan 2004 DI KECAMATAN SETELUK Nama Parpol Pemilu 1999 NO Nama Parpol Pemilu 2004 PDI-P 3,884 1 GOLKAR 2,901 GOLKAR 2,872 2 PPP 2,429 PPP 1,,198 3 PDI-P 1,972 PAN 422 4 PAN 1,136

No 1 2 3 4

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

24

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa 5 PKB 350 5 PBB 605

Syahrul Mustofa : data diolah dari BPS, Sumbawa dalam angka 2002 dan laporan penyelenggaraan Pemilu 2004, KPU Sumbawa

Meningkatnya perolehan suara partai politik yang beraliran islam, tidak terlepas dari keberhasilan sejumlah partai politik islam dalam menempatkan posisi kadernya yang akan duduk sebagai anggota legislative (caleg). PKS misalnya, perolehan suara mustakim patawari (nomor urut 1) di kecamatan ini (anggota DPRD), hanya sebesar 76 suara, akan tetapi kader PKS lainnya, seperti Ely Purnamawati, Ilham dan Mus Mulyadi mampu memberikan sumbangan suara mencapai 461 suara. Hal yang sama juga terjadi pada partai bulan bintang (PBB), perolehan suara Abdul Azis (caleg terpilih), hanya memperoleh 33 suara, namun suara PBB di kecamatan ini mampu terdongkrak dengan perolehan suara dari H. Abdul Hadi Syihab, Yulia Permatasari, Mahmud Kadim. PPP yang naik perolehan suaranya mencapai 1,231 suara juga tidak terlepas dari perolehan suara yang diperoleh oleh Zulkifli Daud, Suhartinah, dan Wahyudi Amri serta sejumlah caleg lainnya yang pada pemilu 2004 cukup besar memberikan konstribusi bagi meningkatnya perolehan suara PPP. Padahal, pasca peristiwa pemilihan Bupati 2000 di Kabupaten Sumbawa, banyak kalangan yang memprediksikan suara PPP akan jatuh pada pemilu 2004, lantaran salah seorang figur elite partai tersebut terlibat dalam kasus pidana. Ditengah kecendrungan meningkatnya perolehan partai politik yang bernafaskan islam, justeru partai politik yang bernafaskan nasionalis, seperti PDI-P dan Partai Golkar cenderung perolehan suaranya bersifat statis. Bahkan, cenderung mengalami penurunan, PDI-P misalnya mengalami penurun suara yang cukup signifikan pada pemilu 2004 yakni mencapai 49% suara. Perolehan suara PDI-P di Kecamatan Seteluk nampaknya tertolong dengan perolehan suara yang diraih oleh M.Saleh (nomor urut 3) yang mencapai 774 suara. Sementara caleg terpilih, hanya memperoleh suara 271. Sedangkan pemilih pada Partai Golkar, nampaknya masih tetap, suara Golkar di Kecamatan ini relative stabil, kenaikan perolehan suara parpol Golkar hanya naik 1%, tingginya perolehan suara partai golkar tersebut tidak terlepas dari kontribusi suara yang diberikan oleh Mustafa HMS 1042 suara dan Mancawari L.M. yang mencapai 710 suara, serta konstribusi akumulasi suara dari caleg lainnya yang mencapai lebih dari tujuh ratus suara. Melihat fakta politik diatas, nampak bahwa kecenderungan pemilih di Kecamatan Seteluk mulai mengarah pada pilihan partai-partai politik yang beraliran islam. Meski demikian, konfigurasi kekuatan politik tersebut, tetap akan terfargmentasi kedalam kedua kekuatan, nasionalis dan islam. Peran figur, situasi umum politik luar, serta strategy dan taktik partai politik, dan modal akan sangat menentukan kecendrungan pemilih di kecamatan ini. Dengan melihat realitas kecendrungan politik pemilih saat ini yang mengarah pada pilihan partai yang bernafaskan islam, maka dalam konteks pilkada 2005, menarik untuk kita lihat nanti pada pembahasan tersendiri tentang hasi pilkada 2005 di Kabupaten Sumbawa Barat. Sejauhmanakah pengaruh dan keterkaitan pilihan pemilih terhadap partai politik? Apakah hasil pemilu 2004 simetris dengan hasil pilkada 2005? ataukah sebaliknya, terjadi pergeseran baru dalam pilihan politik masyarakat? Bagaimanakah sikap pemilih dalam menghadapi pilkada langsung ? apakah partai politik tidak lagi menjadi pemain tunggal yang menentukan suara massa partai politik, dalam arti

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

25

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

rakyat betul-betul otonom dalam memilih? Bagaimanakah pemilih yang dalam keadaan floating mass? Sebagai bahan pembelajaran penting yang mungkin dapat kita lihat adalah Pemilihan Presiden secara langsung. Partai Golkar pada pemilu 2004, mencalonkan Wiranto dan Solahudin Wahid sebagai calon presidenyang notabennya Golkar sebagai partai politik terbesar, pemenang pemilu 2004 saat itu. Sementara, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalladicalonkan oleh Partai Demokrat dan PKS, yang notabennya perolehan suaranya jauh lebih kecil dibandingkan golkar. Sejumlah kalangan, banyak berasumsi jika massa partai politik Golkar solid, maka pasangan Wiranto Solahudin Wahid, diperkirakan akan memenangkan pemilu. Dan pada saat itu, banyak kalangan yang memprediksikan Pasangan Wiranto dan Solahudin Wahid, setidaknya bisa memasuki putaran kedua pemilihan presiden. Namun, asumsi itu ternyata gagal. Thesis bahwa pemilih pada pemilu legislative 2004, adalah pemilih yang rasional pun mulai banyak dipertanyakan oleh berbagai kalangan akan kebenarannya. Bahkan, banyak kalangan yang mencurigai bahwa pemilu 2004, masih didominasi oleh pemilih floating mass dan praktek mobilisasi massa dari parpol. Sehingga, kesadaran politik rasional rakyat sesungguhnya belum terbangun secara kritis dalam menyikapi pemilu dan politik. Dalam konteks itu, maka pertanyaannya kemudian adalah apakah kecendrungan pemilih di Kecamatan Seteluk, mengisyaratkan sebuah kemenangan bagi partai politik yang bernafaskan islam dalam pilkada 2005? Jawaban ini, tentu belum pasti. Sebab, banyak faktor yang mempengaruhi sikap pemilih. Kemenangan PDIP pada pemilu berikutnya. Begitupun dengan kemenangan dan kenaikan perolehan suara partai yang bernafaskan islam pada pemilu 2004, bukanlah jaminan kemenangan pilkada 2005, maupun jaminan kemenangan pemilu 2009? Semuanya dapat berubah, dan semuanya dalam kondisi yang tidak pasti, dan politik tetap menjadi sebuah teka-teki, termasuk teka-teki siapa yang akan memenangkan pilkada 2005? 7. Caleg Suara Terbanyak Versus Nomor Urut Satu Sejak awal banyak kritik yang muncul terhadap model perhitungan suara pemilu 2004, karena dinilai berbagai kalangan menguntungkan calon anggota legislative nomor urut satu. Model perhitungan suara juga tidak menunjukkan adanya system distrik sepenuhnya sebagaimana yang digembar-gemborkan selama ini. Peluang caleg yang memperoleh dukungan suara terbanyak tetap tertutup dan sangat kecil untuk dapat memperoleh kursi DPRD, karena dalam system pemilihan jikalaupun calon anggota legislative bersangkutan memperoleh suara terbanyak, namun tidak mencapai angka BPP, maka suara caleg yang bersangkutan dilimpahkan pada nomor urut 1 (satu), begitupun bila pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar parpol. Oleh sebab itu, pada pemilu 2004, kita banyak menyaksikan antar calon anggota legislative dalam satu partai politik saling sikut untuk dapat menduduki posisi nomor urut satu. Dan dalam realitasnya, ternyata caleg nomor urut satu, umumnya adalah para pengurus teras partai politik bersangkutan. Persoalannya kemudian adalah apakah calon nomor urut satu yang diajukan oleh partai politik disenangi atau dipilih oleh rakyat? Apakah sudah tepat partai

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

26

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

politik menempatkan para caleg nomor urut satu di Daerah Pemilihan? Apakah ada konsultasi public yang dilakukan oleh partai politik kepada konstituennya atau pengurus partai politik bersangkutan hingga ke level bawah sebelum menempatkan para kadernya yang akan duduk sebagai caleg nomor urut satu? Dan sejauhmanakah perolehan suara yang diperoleh oleh caleg nomor urut satu pada pemilu 2004? Fakta menunjukkan bahwa perolehan suara yang diperoleh oleh caleg nomor urut satu yang saat ini menduduki posisi sebagai anggota DPRD, belum tentu mereka adalah pemenang pemilu atau suara mayoritas di partainya. Bila melihat dari 7 anggota DPRD terpilih di Daerah Pemilihan 1 (satu), tiga diantaranya adalah anggota DPRD terpilih yang pada pemilu 2004 di DP yang bersangkutan memperoleh suara yang lebih kecil dibandingkan dengan perolehan suara dari caleg yang berada pada nomor urut dibawahnya. Setidaknya terdapat tiga caleg di DP I sebagai caleg yang memperoleh suara terbanyak (mayoritas) di dalam partainya, melampaui perolehan suara yang diraih oleh caleg nomor satu, bila merujuk pada pilihan pemilih berdasarkan pilihan langsung caleg, maka untuk PBB, perolehan suara terbanyak, H. Abdul Hadi Syihab (202 suara), PDI-P diwakili M.Saleh, S (779 suara), dan Partai Golkar diwakili Mustafa H.M.S (1042 suara), bila berdasarkan perolehan suaranya tertinggi, maka mereka berhak untuk duduk dalam sebagai anggota DPRD terpilih. Namun, peraturan tidak mengizinkan untuk itu, melainkan nomor urut. Meski demikian, perlawanan terhadap system aturan coba diterobos oleh Mustafa. H.M.S, dari Partai Golkar, massa pendukung Mustafa H.M.S melakukan berbagai pressure kepada nomor urut 2, pengurus partai politik, bahkan KPU Sumbawa agar hasil pemilu tersebut menempatkan Mustafa H.M.S sebagai anggota DPRD. Mafhum, Mustafa. H.M.S pada pemilu 2004 hanya menduduki posisi nomor urut 5. Artinya, sisa suara Golkar bila berdasarkan aturan main, dilimpahkan kepada Arief Jayadi yang berada pada nomor urut 2, sementara perolehan suara Arief Jayadi hanya 262 suara, begitupun suara nomor urut 3, Indermawan sebanyak 344 suara dan Akhmand Yani sebanyak 144 suara. Fakta dukungan itulah yang kemudian dijadikan sebagai dasar alasan bagi Mustafa H.M.S dan pendukunganya untuk memperjuangan Mustafa.H.M.S sebagai anggota DPRD periode 2004-2009. Gejolak internal didalam tubuh partai Golkar pun tak dapat dihindari, pada awalnya Arief Jayadi bersikukuh untuk mempertahankan posisinya sebagai caleg terpilih dengan berpegang pada aturan main bahwa setelah nomor urut satu, penghitungan pelimpahan suara adalah pada nomor urut kedua. Sementara kubu Mustafa H.M.S. bersikukuh pada realitas hasil perolehan suara yang menunjukkan dukungan real pemilih mayoritas kepada dirinya. Gejolak politik dalam tubuh Golkar ini akhirnya berhasil diselesaikan setelah adanya deal politik antara Mustafa H.M.S dengan Arief Jayadi dan caleg lainnya, deal tersebut berupa pemberian kesempatan kepada Mustafa.H.M. sebagai angggota DPRD terpilih dengan sejumlah catatan yang diberikan. Bila Mustafa H.M.S berhasil menduduki kursi anggota DPRD. Maka, berbeda halnya dengan dua caleg lainnya yang memperoleh mayoritas suara dipartainya, seperti ; H. Abdul Hadi Syihab dari PBB dan M. Saleh dari PDI-P. Tidak ada

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

27

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

perlawanan yang cukup signifikan dari kedua caleg ini terhadap hasil pemilu, sehingga tidak ada perubahan terhadap hasil pemilu 2004. Posisi caleg nomor urut satu, meski suaranya minoritas pada akhirnya tetap terpilih dan menjabat sebagai anggota DPRD. Berikut data perolehan suara caleg mayoritas yang tidak terpilih menjadi DPRD dan jumlah suara Caleg terpilih, namun jumlah dukungan suaranya lebih kecil:
PERBANDINGAN PEROLEHAN SUARA DPRD TERPILIH DAN CALEG SUARANYA TERTINGGI DI PARPOL BERSANGKUTAN NAMUN TIDAK TERPILIH SEBAGAI ANGGOTA DPRD

Nama Parpol PBB PDI-P

Nama Caleg Abdul Azis M. Yusuf Amaullah

Jumlah Suara 179 284

Nama Caleg H. Abdul Syihab M.Saleh.S hadi

Jumlah Suara 202 779

Data diatas menunjukkan bahwa nomor urut 1 (satu) bukanlah jaminan seseorang memiliki basis massa yang lebih dibandingkan dengan nomor urut caleg dibawahnya. Sekaligus memberikan isyarat kepada partai politik untuk lebih membuka diri kepada konstituennya dalam menentukan kebijakan politik. Hal ini seiring dengan mulai berkembangnya kesadaran politik masyarakat disatu sisi dan adanya kebebasan, reformasi dan tuntutan demokrasi disisilain, partai politik yang notabennya sebagai sarana artikulasi dan agregasi kepentingan rakyat mulai dinilai sebagai salah satu sarana penting bagi masyarakat dalam melakukan perguliran perubahan kekuasaan secara damai. Partai politik dituntut lebih besar untuk mampu menjalankan visi, misi serta program yang menjadi cita-cita organisasi. Sistem penghitungan suara pada pemilu 2004, memang pada akhirnya bukan hanya merugikan caleg yang memperoleh suara terbanyak, melainkan juga merugikan masyarakat yang telah memilih para wakil rakyat yang mereka anggap layak untuk dipilih. Betapa tidak, suara pemilih dengan sendirinya menjadi seakan-akan sirna begitu saja, tatkala caleg yang telah dipilihnya tidak mencapai angka BPP, suara mereka beralih kepada caleg yang berada pada nomor urut satu. Padahal, dalam persfektif pemilih, calon tersebut bisa saja tidak diinginkan/layak. 8. Mengatrol Suara DPRD terpilih

Bila melihat dukungan suara real yang diperoleh anggota DPRD terpilih, maka dapat dipastikan anggota DPRD terpilih saat ini tidak mungkin akan dapat menduduki jabatan sebagai anggota DPRD, sebab pemilih yang
mencoblosnya pada saat pemilu 2004 jumlahnya sangat terbatas. Tidak ada satupun anggota DPRD terpilih yang mencapai dukungan suara lebih dari 50% dari total perolehan suara partainya. Sebagian besar, anggota DPRD KSB yang terpilih pada DP 1 (satu) terdongkrak perolehan suaranya, oleh pertama adalah dari caleg yang berada pada nomor urut dibawahnya. kedua adalah pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar partai politik saja pada pemilu 2004. Kedua faktor inilah yang cukup signifikan mengangkat mereka. Prosentase konstribusi yang diberikan dari calon anggota legislative yang tidak terpilih (gugur), bila diakumulasikan secara keseluruhan dalam satu parpol di DP yang bersangkutan jumlahnya ternyata sangatlah besar, bahkan melebihi perolehan suara anggota DPRD terpilih. Begitupun dengan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

28

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar partai politik, ternyata jumlahnya masih sangat signifikan untuk memberikan konstribusi sekaligus keuntungan bagi caleg yang berada pada nomor urut 1 (satu). Berikut ini adalah grafik dan prosentase dukungan real perolehan suara anggota DPRD dari 6 partai politik, suara pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar parpol dan akumulasi perolehan suara dari caleg lainnya yang tidak terpilih :

Gambar : Grafik Perbandingan Perolehan Suara


PEROLEHAN SUARA DPRD TERPILIH DAN CALEG GUGUR
5000 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0

4387 3045 2375


SUA RA YA NG M ENCOB LOS LA NGSUNG CA LEG CA LEG LA IN DA N COB LOS GA M B A R

2620

2309 2025

723

670

284

1546 1323 1086 875 460 448

997 1042 818 179

TOTA L SUA RA

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Gambar : Grafik prosentase perolehan suara

Pros entas e Suar a Pe m ilih di DP I Se te luk dan Br ang Rea 2004 Total Pemilih Mencoblos Parpol saja 5625 suara 36% Total pemilih mencoblos caleg lain 6871 suara 48%

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Mungkin perbandingan yang penulis gunakan tidak tepat bila perbandingan suara DPRD terpilih dengan jumlah angka akumulasi perolehan dari suara caleg yang tidak terpilih pada partai politik bersangkutan atau pada jumlah akumulasi perolehan suara pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar parpol tanpa mencoblos salah satu nama caleg. Namun, setidaknya perbandingan diatas dapat memberikan gambaran bahwa pada pemilu 2004, sesungguhnya akumulasi perolehan suara dari caleg yang tidak terpilih pada 6 partai politik yang

ul ki fli Da M ud .Y us uf Am au l la M us h ta ki m P at aw ar H i .k eb a So es sy Ab du lA zis ,S S M us ta fa H .M .S
NAMA ANGGOTA DPRD TERPILIH
Total pemilih mencoblos Caleg terpilih (DPRD) sebanyak 3806 suara 23%

M an ca w

ar i D

rs .Z

L. M

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

29

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

memperoleh kursi di DPRD ternyata tergolong cukup tinggi, yakni mencapai 6871 suara, sedangkan akumulasi jumlah suara yang hanya mencoblos tanda gambar parpol, tidak mencoblos salah satu caleg berjumlah 5625 suara. Sementara itu, bila melihat dukungan pemilih yang langsung mencoblos anggota DPRD terpilih secara umum perolehan suara yang diraih anggota DPRD terpilih relative cukup rendah, dari 7 anggota DPRD terpilih, ternyata akumulasi perolehan suara hanya sebanyak 3806 suara. Menariknya angka perolehan suara tertinggi justeru berada pada caleg yang berada pada nomor urut 5 dengan perolehan suara 1042 suara. Caleg nomor urut satu ternyata hanya memperoleh dukungan tertinggi sebanyak 723 suara. Rendahnya dukungan anggota DPRD terpilih menunjukkan tingkat legitimasi politik relative rendah. Padahal, sisi lain, partisipasi masyarakat dalam pemilu tergolong cukup tinggi. Gambar 3 grafik dukungan real perolehan suara caleg terpilih :
PER OLEHA N SU A R A C A LEG T ER PILI H

800 700 600 500 400 300 200 1 00 0

723

670 460 284 179 448 262

Golkar M ancawari L.M 1

PPP Drs. Zulkif li Daud 2

PDI-P M . Yusuf Amaullah 3

PKS M ust akim Pat awari 4

PAN H. keba Soessy 5

PBB Abdul Azis, SS 6

Golkar Arief Jayadi

N A M A A N GGOT A C A LEG T ER PI LI H

Syahrul Mustofa : data diolah dari laporan penyelenggaraan pemilu, KPU Sumbawa, 2004

9. Konstribusi Dukungan Suara DPRD terhadap parpol rendah Rendahnya dukungan caleg terpilih (anggota DPRD) juga berdampak langsung pada lumbung perolehan suara partai politik. Semakin besar, suara yang diperoleh oleh caleg, maka semakin besar pula konstribusi suara yang diberikan terhadap jumlah perolehan keseluruhan partai politik. Dan semakin besar pula partai politik tersebut memperoleh kursi di DPRD. Namun, sayangnya prosentase perolehan suara langsung caleg terpilih (anggota DPRD) terhadap perolehan jumlah suara pada masing-masing partai politik di Daerah Pemilihan bersangkutan masih tergolong minim. Dari 6 partai politik, 7 caleg terpilih sebangai anggota DPRD, ternyata rata-rata konstribusi suara yang diberikan terhadap prosentase total suara parpol masih dibawah dibawah rata-rata 40%. Berikut ini prosentase suara caleg terhadap total suara parpol :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

30

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PR O SE N T A SE JU M LA H SU A R A C A LEG T E R PI LI H D EN G A N JU M LA H S U A R A KES ELU R U HA N P A R P O LN Y A

Mustaf a H.M.S, 23.75 Abdul Azis, SS, 17.95

Mancaw ari L.M, 16.48 Mancaw ari L.M Drs. Zulkif li Daud, 22.00 Drs. Zulkif li Daud M. Yusuf Amaullah M. Yusuf Amaullah, 12.30 Mustakim Pataw ari H. keba Soessy Abdul Azis, SS Mustaf a H.M.S

H. keba Soessy, 33.86

Mustakim Pataw ari, 29.75

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

10. Tingginya Suara Caleg lain dan pemilih yang hanya coblos gambar parpol Tingginya jumlah akumulasi perolehan suara caleg yang tidak terpilih dan pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar parpol saja memiliki implikasi bukan hanya telah mendongkrak perolehan suara caleg terpilih. Melainkan juga telah melahirkan komposisi akumulasi perolehan suara terbesar pada pemilu 2004 justeru terletak pada jumlah perolehan suara caleg-caleg lain yang tidak terpilih. Artinya, jika perolehan suara caleh diakumulasikan maka kampium dari pemilu 2004 sebenarnya adalah caleg yang tidak terpilih, karena jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan perolehan jumlah suara real caleg itu sendiri. Misalnya saja, PDI-P, dukungan murni pemilih yang mencoblos caleg terpilih hanya 284 suara. Sedangkan, akumulasi suara dari para caleg yang tidak terpilih mencapai 1113 suara. Dengan tingginya angka tersebut, nampak bahwa mayoritas suara pemilih lebih besar kepada caleg yang tidak terpilih. Berikut ini table perbandingan perolehan akumulasi suara :

P ER B A N D IN G A N P ER O LE H A N A KUM ULA S I SUA R A C A LE G YA N G G UG UR D A N C A LEG T E R P ILIH


2000

1631
1500 1000 500 0

1358 1113 723 670 284 266 460 241 448 344 179 1042

suara caleg yang tidak terpilih suara caleg terpilih (anggo ta DPRD DP 1 )

Golkar

PPP

PDI-P

PKS

PAN

PBB

N A M A PA R POL

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Begitupun terhadap akumulasi perolehan suara dari pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar partai politik. Pada pemilu 2004 dengan stelsel daftar calon terbuka sebenarnya diharapkan masyarakat tidak hanya memilih partai

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

31

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

politik, seperti pemilu sebelumnya. Masyarakat membeli kucing dalam karung. Karena itu, masyarakat tidak mengetahui siapa yang sesungguhnya dipilih, melalui system daftar calon terbuka, selain memilih partai politik, masyarakat diharapkan dapat melihat dan memilih siapa-siapa saja yang dipandang layak untuk dipilih dan dianggap mampu untuk membawa aspirasinya. Oleh sebab itu, salah satu tolak ukur kemajuan atau kesadaran politik pemilih dalam pemilu 2004 adalah sejauhmanakah pemilih mampu menentukan pilihan secara otonom terhadap para caleg yang diajukan parpol, mampu untuk melihat bagaimanakah background dari para caleg, kinerja, performance, kapasitas, integritas dan sebagainya. Pasalnya, para caleg yang dipilih dalam pemilu 2004, bukan hanya caleg yang akan mewakili kepentingan parpol, melainkan juga adalah kepentingan dari daerah pemilihaan bersangkutan. Hasil pemilu 2004 ternyata angka jumlah pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar partai politik masih tergolong sangat tinggi. Data dibawah ini menunjukkan bahwa prosentase jumlah pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar partai politik mencapai 5628 suara atau mencapai 34% dari total jumlah suara sah pada pemilu 2004 di Daerah Pemilihan I. Berikut tabel perbandingan antara jumlah pemilih yang mencoblos tanda gambar parpol dengan jumlah pemilih yang mencoblos caleg terpilih.
P rosentase Suara P emilih di DP I Seteluk dan Brang Rea 2004

Total Pemilih Mencoblos Parpol saja 5625 suara 36% Total pemilih mencoblos caleg lain 6871 suara 48%

Total pemilih mencoblos Caleg terpilih (DPRD) sebanyak 3806 suara 23%
Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Dari gambaran prosentase diatas, terlihat bahwa akumulasi perolehan murni DPRD terpilih dari 7 kursi (orang) hanya sebanyak 3806 suara atau 23% dari total jumlah suara sah. Sementara, total pemilih yang mencoblos parpol saja mencapai 5625 suara atau 36% dari jumlah suara sah. Dan bila total pemilih yang mencoblos tanda gambar digabungkan dengan total suara dari caleg lain yang tidak terpilih maka total perolehan suaranya mencapai 10578 suara atau sekitar 64 % dari jumlah suara sah sebanyak 16, 304 suara. Dengan demikian, maka terlihat kampium pemilu 2004 yang sesungguhnya bila berdasarkan prosentase perbandingan sebagaimana diatas, nampak bahwa pemenangnya adalah pemilih yang tidak memilih caleg terpilih (anggota DPRD).

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

32

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Persoalannya kemudian adalah bagaimana anggota DPRD yang saat ini menjabat mampu untuk mendekatkan diri kepada masyarakat secara luas, bukan hanya terhadap konstituen pemilih semata. Sehingga, dukungan dan
legitimasi politik anggota DPRD akan terus meningkat disatu sisi, dan pada sisilain diharapkan, pemilih yang tidak memilih anggota DPRD dapat terdorong untuk berpartipasi secara aktif dalam proses politik. Dalam konteks, maka ruang komunikasi politik secara intens antara anggota DPRD dengan masyarakat harus terus dibuka seluas-luasnya baik kepada pemilih yang telah yang memilih anggota DPRD secara langsung maupun pemilih yang tidak memilih anggota DPRD bersangkutan. Bahkan, kepada pemilih yang jelas-jelas menolak keberadaan anggota DPRD sekalipunanggota DPRD harus segera menciptakan ruang mekanisme hubungan yang lebih jelas dengan masyarakat. Sebab, tanpa dukungan rakyat saat ini, anggota DPRD terpilih akan sangat mudah mengalami resistensi publik dan dislegitimasi kekuasaan mengingat tingkat perolehan suara murni yang diraih relative masih begitu rendah.

3.2. Pergeseran dan Peta Politik di Daerah Pemilihan 2 (dua)


1. Kecamatan Taliwang Daerah Pemilihan 2 (dua) terdiri dari satu Kecamatan, yakni Kecamatan Taliwang yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat. Daerah Pemilihan dua merupakan salah satu sentrum terbesar basis massa pemilu di Kabupaten Sumbawa Barat. Semasa masih bergabung dengan Kabupaten Induk (Kabupaten Sumbawa), Kecamatan Taliwang adalah salah satu Kecamatan yang merupakan sentral massa terbesar di wilayah Bagian Barat Kabupaten Sumbawa, selain Kecamatan Alas dan merupakan salah satu pusat geopolitik yang cukup signifikan dalam menentukan kemenangan pemilu pada tingkat kabupaten. Secara geografis, luas wilayah Kecamatan Taliwang terbesar di Kabupaten Sumbawa Barat, yakni mencapai 588,14 km2. Secara administrative, terdiri dari 11 desa, dengan jumlah Rumah Tangga sebanyak 8940, penduduk sebanyak 37633 penduduk. Pada pemilu legislative 2004, jumlah pemilih di Kecamatan Taliwang berjumlah 25180 (dua puluh lima ribu seratus delapan puluh) pemilih dengan jumlah TPS sebanyak 100 TPS, merupakan Kecamatan yang jumlah Desa, Penduduk, Pemilih dan TPS terbesar di Kabupaten Sumbawa Barat. Berikut ini data desa dan pemilih di Kecamatan Taliwang :
KECAMATAN TALIWANG N o Nama Desa Luas Wilayah Kec (Km2) 588, 14 Jumlah (Rumah Tangga) 780 619 505 1362 1339 Jumlah Penduduk Jumlah Pemilih Jumlah TPS

1 2 3 4 5

Lab. Lalar Mura Kalimantong Menala Kuang

3249 2641 1976 6043 5699

1965 1630 1278 4030 4019

8 6 6 15 15

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

33

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

6 7 8 9 10 11

Bugis Dalam Sampir Lalar Liang Kertasari Seloto JUMLAH

664 1896 719 281 373 402 8940

2744 7948 3126 1173 1436 1598 37633

1909 5256 2218 703 1069 1103 25180

8 22 8 4 4 4 100

Sumber : data diolah dari laporan penyelenggaran pemilu 2004, KPU Sumbawa

Jumlah pemilih terbesar di Kecamatan Taliwang adalah Desa Dalam dengan jumlah pemilih sebanyak 5256 pemilih atau 20,87 dari jumlah pemilih dikecamatan Taliwang, diikuti Desa Menala 4030 pemilih (16%) , Desa Kuang 4019 pemilih (15,96%). Dengan komposisi jumlah pemilih tersebut, maka tiga desa ini sebagai desa sentral yang sangat menentukan kemenangan partai politik. Sebab, bila diakumulasikan jumlah pemilih di tiga desa ini, mencapai 52, 83 % atau setengah lebih dari jumlah pemilih. Dengan demikian, posisi ketiga desa ini menjadi sangat strategis dalam menentukan kemenangan partai politik, bukan hanya pada tingkat kecamatan taliwang, melainkan juga kemanangan perolehan suara pada tingkat kabupaten. Berikut Prosentase jumlah pemilih setiap desa terhadap total jumlah pemilih tingkat kecamatan :
JUMLAH PEMILIH DI KEC TALIWANG PEMILU DPRD 2004 6000 5000 JUMLAH PEMILIH 4030 4000 3000 1965 2000 1000 7.80 0 6.47 5.08 16.00 15.96 7.58 20.87 8.81 1630 1909 1278 703 2.79 4.25 4.38 2218 1069 1103 4019

5256

an to ng

M en al a

al am

pi r La la rL ia ng

Ku an g

La b. La la r

Ka l im

NAMA DESA

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

2. Komposisi Keterwakilan Perempuan di DP II Pada pemilu 2004 sebanyak 97 orang dari 24 partai politik peserta pemilu mendaftarkan diri sebagai caleg. Dari 97 caleg tersebut, 23 diantaranya adalah caleg perempuan atau sekitar 23,71 persen yang disusulkan oleh 16 partai politik. Sedangkan, 8 partai politik lainnya tidak mengajukan caleg dari unsur keterwakilan perempuan.

Ke rta sa ri

Sa m

Se lo to

M ur a

Bu gi s

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

34

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Kom posisi Caleg Berdasarkan Jenis Kelam in Caleg LakiLaki, 23, 24%

Caleg LakiLaki, 74, 76%


Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Dari data diatas tergambar jelas bahwa komposisi caleg masih di dominasi oleh caleg laki-laki 74,76%, dan dari jumlah tersebut, hanya 4 partai politik yang mengajukan calegnya berada pada nomor urut 1, yakni PNI Marhaenisme, PIB, PNBK dan PKPB. Sedangkan, 12 partai politik lainnya hanya menempatkan caleg perempuan berada pada nomor urut sepatu. Berikut daftar caleg perempuan dan urutannya di Daerah Pemilihan II (Kec Taliwang) Sumbawa Barat :

DAFTAR CALON LEGISLATIVE DARI PEREMPUAN DAN NOMOR URUT DALAM PARTAI PADA PEMILU 2004 DI DAERAH PEMILIHAN II KEC TALIWANG

NO NAMA PARTAI NAMA CALON NOMOR URUT CALEG JUMLAH CALEG PARPOL

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

PNI MARHAENISME PBSD PBB PBB PPP PDK PIB PIB PNBK PAN PKPB PKPB PKPB PKB PKS PBR PBR PDI-P GOLKAR GOLKAR

Yayu Yuniarti, S.pd Sri Yanti Ratuati, S.H Yuyun Yuniarsih, S.Ag Sadia Rabiah Erna Agustina Erdawati Ratnawati Maryam.P Sendawan Purwati Khitta Sabata Jahra Nurhasanah Anti Puspitasari Soeryati Yanti Dra. Nurmi Sartono Andi Irma

1 2 6 8 9 4 1 3 1 3 1 2 3 3 4 6 7 3 3 9

2 3 8 8 9 9 3 3 1 8 1 3 3 3 4 7 7 4 10 10

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

35

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

21 22 23

GOLKAR PSI PELOPOR

Yuyun Silvia Dewi Yuliana Nurhasanah

10 3 3

10 3 3

Data diolah : laporan penyelenggaran pemilu 2004, KPU Sumbawa

12 10 10 10 10 10 8 8 8 6 6 4 4 2 0
Yu ni ar ti, Yu S Sr .pd yu n R iY Y at an un ua t ia ti , i rs ih S.H ,S .A Sa g di Er na Ra a A bi a gu h s Er ti na d R aw at at na i M wa ar t i Se ya n d m.P aw Kh Pu an i tt rw a S ati ab a N J a ta ur An h h t i as ra Pu a sp nah i ta So sar D er i ra ya .N ti ur m Yan iS t Yu a i yu A rt o n nd no S iI ilv rm ia a D e Yu wi N ur l ia ha n a sa na h

99

9 8 777 6 4 4 3 33 1 11 1 3 3 1 2 3 3 3 3 4 3 3 9

3 2 2 1

3 33 3

Ya y

NOM OR URUT CA LEG P EREM P UA N JUM LA H CA LEG P A ROL

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Perolehan suara caleg perempuan dari DP II juga tidak cukup besar, akumulasi perolehan suara dari 23 caleg perempuan ini hanya sebanyak 1826 suara atau sebanyak 9.13% dari jumlah suara sah sebesar 19990 suara. Perolehan suara tertinggi diperoleh oleh Erna Agustina dari Partai Indonesia Baru sebesar 556 suara, dan berhasil duduk sebagai satu-satunya anggota DPRD perempuan di Kabupaten Sumbawa Barat untuk masa periode DPRD 2004-2009. Berikut ini perolehan suara caleg perempuan di Daerah Pemilihan II
PEROLEHAN SUARA CALEG PEREMPUAN DP II 600 500 400 300 200 100 0 JUMLAH SUARA 556

25 Yayu

8 Sri Yanti

45 Ratuati, S.H

125 119

53 Rabiah Erna

105 2

127 137 7 Maryam.P Purwati Sendawan 13 18 19 Nurhasanah Jahra Khitta 7 Anti 1 Soeryati

47 59 Dra. Nurmi Yanti

123

169 18 43

Andi Irma

NAMA CALEG

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

3. Komposisi Pendidikan Formal Pendidikan formal merupakan salah satu indikator penting untuk menilai sejauhmanakah kapasitas caleg dan sejauhmanakah pendidikan telah dijadikan sebagai bahan pertimbangan pengurus partai politik dalam menyusun format caleg di daerah pemilihan. Memang, pendidikan formal bukanlah satu-satunya indikator yang menjamin kapasitas seseorang. Namun, setidaknya pendidikan

Nurhasanah

Sadia

Ratnawati

Erdawati

Yuyun

Yuyun

Yuliana

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

36

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

formal hingga saat ini masih menjadi salah satu barameter untuk menilai performance anggota caleg yang terpilih . Secara umum dari 97 caleg, sebanyak 29 caleg yang berpendidikan S1 atau sekitar 29.90 persen. Dari 29 caleg yang berpendidikan S1 tersebut, hanya 7 caleg yang menduduki nomor urut 1 atau sekitar 7, 22 persen atau dari total jumlah caleg di DP II. Dari komposisi tersebut nampak bahwa secara umum pada pemilu 2004 nomor urut 1 (satu) caleg di DP II masih didominasi oleh caleg yang berpendidikan SMA dan sederajat. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat disatu sisi serta rendahnya perhatian para pengurus parpol dalam menempatkan para kader politiknya yang memiliki pendidikan formal yang tinggi sebagai prioritas menyebabkan ha tersebut diatas. Berikut komposisi pendidikan caleg di DP II:
PROSENTASE PERBANDINGAN TINGKAT PENDIDIKAN Caleg Pendidikan S1, 30% Caleg Pendidikan S1, 70%
Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

4. Komposisi Jumlah Caleg Daerah Pemilihan II Pada pemilu 2004 jumlah caleg di Daerah Pemilihan II sebanyak 97 caleg. Jumlah caleg terbesar berasal dari partai Golkar sebanyak 10 caleg, diikuti PPP dan PDK sebanyak 9 orang. Jumlah caleg terkecil adalah Partai Nasional Banteng Kemerdekaan dan Partai Penegak Demokrasi Indonesia masing-masing 1 orang. Tiga partai lainnya yakni Partai Damai Sejahtera, Partai Persatuan Daerah dan Partai Patriot Pancasial tidak memunyai caleg. Berikut data jumlah caleg di DP 2 pada pemilu 2004.
JUMLAH CALEG PARPOL DP II JUMLAH CALEG
1 2 1 0 8 6 4 2 0

8 2 PNI 3 4

9 9 6 3 1 PPP PDK PIB Merdeka 4 2 Demokrat PKPI 1

10 8 3 3 4 7 4 0 PDI-P PNUI PKPB PDS GOLKAR PAN PBR PKB PKS 0 PATRIOT PSI 3 0 PELOPOR
37

PBSD

1 2

3 4

5 6

8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 NAMA PARPOL

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

Penegak

Nasional

PBB

PPD

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

5. Hasil Pemilu di Daerah Pemilihan II Pada pemilu 2004, jumlah kursi yang diperebutkan di DP II sebanyak 8 kursi dengan BPP sebanyak 2.444. Suara sah di DP II sebanyak 19.990 suara. Alokasi perolehan kursi di DP II terbagi secara merata pada 8 partai politik, yakni Partai Golkar, PPP, PBB, PDK, PDI-P, PKS, PAN, PPIB. Berikut jumlah suara dan prosentase suara 8 Partai politik peraih kursi di DP II dari jumlah suara sah :
JUMLAH SUARA PARPOL YANG MEMPEROLEH KURSI DP II

P. PIB , 1255, 8% PAN, 1268, 8% PKS, 1374, 9% PDI P, 1575, 10% PDK, 1876, 12%

GOLKAR, 2759, 19%

PPP, 2756, 19% PBB, 2247, 15%

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Berikut ini data hasil keseluruhan partai politik peserta pemilu 2004 di DP II :
GRAFIK PEROLEHAN SUARA PEMILU 2004 DP II KECAMATAN TALIWANG
3000

2756 2,247 1876 1255 755 74 51 MERDEKA PPP PNI PDK PIB PBSD PBB 20 151 DEMOKRAT PKPI PNBK 578 68 PPNUI PENEGAK PAN 1268 420 1575 1374 1183

2759

JUMLAH SUARA

2500 2000 1500 1000 500 0

310 404 PDI-P PKPB PBR PKB PKS

440 0 PDS GOLKAR 0 PATRIOT PSI 0

426 PELOPOR PPD

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 NAMA PARPOL

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Prosentase jumlah prolehan suara golkar mencapai 13,80% berbeda tipis dengan PPP yang mencapai 13,79 suara atau terpaut 3 suara. Sementara itu, diurutan ketiga ditempati PBB 11,24%, diikuti PDK 9,38%, PDI-P 7,88%, PSK 6,87%, PAN 6,34%, dan PIB 6,28%. Berikut grafik prosentase perolehan suara seluruh partai politik di DP II :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

38

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PROSENTASE PEROLEHAN SUARA DP II 16.00 14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 -

13.79 11.24 9.38 6.28 3.78 0.370.26 MERDEKA PPP PNI PDK PIB PBSD PBB 0.100.76 DEMOKRAT PNBK PKPI 2.89 6.34 2.10 0.34 PPNUI PENEGAK PAN 2.02 1.55 PDI-P PKPB PDS PBR 7.88 6.87 5.92

13.80

JUMLAH SUARA

2.20 PATRIOT GOLKAR PSI -

2.13 PELOPOR

PKB

NAMA PARPOL

Syahrul Mustofa : data diolah dari rekapitulasi model DB-1, laporan Pemilu KPU Sumbawa, 2004

Bila dilihat dari konfigurasi perolehan suara antara partai politik beraliran nasionalis dan partai politik islam nampak terjadi perimbangan kekuatan. Partai Politik nasionalis yang memperoleh kursi di DPRD ditempati 4 partai politik yakni P. Golkar, PDK, PDI-P, dan PPIB masing-masing 1 kursi. Sementara untuk partai politik yang beraliran islam diperoleh 4 kursi yakni PPP, PBB, PKS dan PAN, masing-masing 1 kursi. Kendati demikian dalam hal perolehan suara antara partai islam dan partai nasionalis yang memperoleh kursi di DPRD nampak lebih unggul perolehan suara partai politik yang beraliran islam selisih 180 suara. Berikut ini prosentase perbandingan perolehan suara antara partai politik yang beraliran nasionalis dengan partai politik islam :
PROSENTASE PERBANDINGAN PEROLEHAN SUARA P. NASIONALIS DAN P. ISLAM

Partai Islam, 7645, 51%

Partai Nasionalis, 7465, 49%

Syahrul Mustofa : data diolah dari Sumbawa dalam Angka 2003 dan Laporan Pemilu 2004

Hasil ini pemilu 2004, meskipun Golkar masih meraih peringkat pertama dalam peraihan suara, namun dominasi golkar diwilayah Kecamatan Taliwang nampak mulai berkurang bila dibandingkan dengan hasil pemilu 1999, partai Golkar memperoleh suara sebanyak 7481 suara atau meraih sekitar 36.78% dari total suara di Kecamatan Taliwang (20339 suara) sementara pada pemilu 2004 Golkar di Kecamatan Taliwang hanya memperoleh 2759 suara atau sekitar 13.80 dari jumlah suara sah. PDI-P, yang pada pemilu 1999 meraih peringkat kedua dengan total suara 4846 atau 23.83%, pada pemilu 2004 hanya menduduki peringkat kelima dengan perolehan suara 1575 atau sekitar 6.87% dari total jumlah suara sah. Sementara itu, partai islam yang relative cukup stabil bahkan cenderung mengalami kenaikan perolehan suara adalah PAN, PPP, dan PBB. 3 partai politik,

PKS

PPD

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

39

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PDK, PPIB dan PKS adalah partai baru yang berhasil meraih kursi dan kenaikan suara yang cukup signifikan pada pemilu 2004 di DP II. PDK dan PIB merupakan partai beraliran nasionalis, nampaknya berhasil meraih dukungan suara dari lompatan pemilih Golkar dan PDI Perjuangan. Sementara, PKS berhasil mengambil suara dari partai-partai islam lainnya yang pada pemilu 2004 tidak dapat menjadi peserta pemilu. Seperti Partai Ummat Islam, Masyumi Baru, dan sejumlah partai politik islam lainnya, disamping sebagian kecil suara dari pemilih nasionalis.
5 PARPOL TERBESAR PERAIH SUARA PEMILU 1999 DI KEC TALIWANG

PAN, 1449, 7.12 % PPP, 3470, 17.06%

PBB, 1157, 5.69% GOLKAR, 7481, 36.78 %

GOLKAR PDI-P PPP PAN PBB

PDI-P, 4846, 23.83%

Syahrul Mustofa : data diolah dari Sumbawa dalam Angka 2003 dan Laporan Pemilu 2004

6. Pergeseran Pemilih di DP II Pergeseran pemilih mulai nampak di Kecamatan Taliwang, menguatnya partai politik islam disatu sisi dan menurunnya jumlah perolehan suara partai nasionalis, seperti PDI-P, dan Partai Golkar adalah merupakan indikasi penting beralihnya sejumlah pemilih yang sebelumnya loyal terhadap partai golkar dan PDI-P kearah partai politik islam serta partai nasionalis baru, seperti PDK dan PIB. Perubahan sikap pemilih ini lebih disebabkan rasa ketidakpuasaan pemilih terhadap kinerja anggota DPRD dari partai politik tersebut sebelumnya ketika menjabat sebagai anggota DPRD Sumbawa. Disamping, mulai menguatnya partai politik islam di Taliwang. Konfigurasi politik ini berimplikasi terhadap dinamika politik yang berkembang dimasa mendatang. Khususnya dalam Pilkada 2005. Peta pertarungan politik, antara pemilih partai politik islam dengan pemilih partai politik nasionalis akan berlangsung sangat ketat. Meskipun kendrungan pemilih di Kecamatan Taliwang yang mulai mengarah pada pilihan ideology partai politik yang berbau keagamaan (islam) sebagai basis idologi politik pemilih, namun faktor tersebut tidak terlepas dari trend umum perkembangan politik makro. Artinya, pergeseran tersebut sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi perpolitikan di tingkat nasional maupun regional. Hal inipula yang menyebabkan arus pergeseran pemilih berlangsung dalam suasana floating mass secara terus-menerus, tanpa terbangunnya kesadaran politis rasional pemilih serta otomisasi politik massa. Akibatnya, kecendrungan kemenangan partai politik, bukanlah semata beranjak dari kegagalan para politisi local, melainkan pula kegagalan para politisi pada tingkat regional dan nasional.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

40

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

7. Perolehan Suara Caleg Terpilih Bila melihat komposisi dukungan suara yang diperoleh caleg terpilih, terlihat suara terbanyak diraih oleh Erna Agustina dari PIB dengan jumlah dukungan suara 556 suara, PIB sendiri pada pemilu 2004 di DP II hanya memperoleh total suara sebanyak 1255 suara, dengan demikian maka konstribusi suara Erna Agustina terhadap perolehan suara partainya cukup tinggi yakni mencapai 44.30% atau dengan kata lain, hampir setengah suara PIB disumbangkan dari dukungan suara pemilih yang langsung mencoblos nama Erna Agustina. Peringkat kedua perolehan suara tertinggi ditempati oleh Manimbang Kahariady (Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Barat) dengan perolehan suara 479, total suara PBB di DP ini mencapai 2247 suara, perolehan suara yang diraih Manimbang cukup tinggi, konstribusi Manimbang Kahariady terhadap total suara PBB mencapai 21.30 %. Posisi ketiga adalah M. Thamzil, perolehan suaranya mencapai 454 suara, total suara partai Golkar mencapai 2759 suara. Artinya prosentase konstribusi suara M.Thamzil terhadap perolehan suara Golkar terhadap total suara partai golkar sangat rendah, yakni hanya mencapai 16.46% dari total suara Partai Golkar. Posisi keempat adalah H. Kemal Nasir, perolehan suaranya sebanyak 450 suara, total suara PKS mencapai suara 1374, konstribusi suara yang diberikan terhadap total suara partai mencapai 32.75%. Posisi keenam adalah Abdul Hamid yang meraih suara 409 suara, dengan jumlah suara PDK sebanyak 1876, maka konstribusi Abdul Hamid terhadap perolehan suara PDK mencapai 21.80 %, posisi ketujuh adalah Mukaddam Hindun dari PPP, suara yang diraih sebanyak 389 suara, suara keseluruhan PPP mencapai 2736 suara. Konstribusi suara Mukaddam terhadap total PPP hanya mencapai 14.11%. Dan posisi terakhir adalah Umar Mansyur dengan jumlah dukungan sebanyak 301 suara, dengan posisi PAN yang hanya meraih total suara 1268 suara, maka Umar Mansyur memberikan konstribusi terhadap total perolehan suara PAN sebanyak 23.74% dari total suara PAN.
NAMA PARPOL NAMA CALEG JUMLAH SUARA CALEG 454 389 479 409 393 450 301 556 JUMLAH SUARA PARPOL % SUARA CALEG DARI JUMLAH SUARA PARTAINYA 16.46 14.11 21.32 21.80 24.95 32.75 23.74 44.30

GOLKAR PPP PBB PDK PDI-P PKS PAN PPIB

M.Thamzil Mukaddam Manimbang K A. Hamid Kaharudin H.Kemal N Umar M Erna A

2759 2756 2247 1876 1575 1374 1268 1255

Gambaran ini menunjukkan bahwa tingkat dukungan suara caleg terpilih sangat beragam, termasuk konstribusi suara yang diraih caleg terhadap jumlah suara partai politik. Pertama ; terdapat sejumlah caleg yang memperoleh dukungan suara yang tinggi, akan tetapi konstribusi terhadap perolehan suara ke partainya tergolong rendah. Kondisi ini disebabkan perolehan suara yang diraih oleh

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

41

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

partainya tergolong cukup tinggi serta konstribusi suara dari caleg lainnya juga tergolong cukup tinggi. Kedua ; terdapat sejumlah anggota caleg terpilih yang memperoleh dukungan suara yang rendah namun kontsribusi terhadap perolehan suara ke partai cukup tinggi. Kondisi ini terjadi manakala total suara partai jumlahnya kecil dan dukungan suara dari caleg lainnya yang tidak terpilih juga tidak cukup tinggi. Ketiga ; terdapat sejumlah caleg terpilih yang memiliki dukungan suara yang cukup besar dan konstribusi suaranya juga besar terhadap perolehan suara partai. Hal ini terjadi manakala suara yang diraih oleh caleg terpilih jumlahnya cukup besar dan konstribusi suara yang diberikan mendominasi dari caleg lainnya. Harus diakui bahwa pada pemilu 2004, semua caleg memberikan konstribusi terhadap naikknya anggota legislative saat ini. Kondisi ini juga yang sering memicu pula terjadinya gesekan politik didalam tubuh internal partai politik itu sendiri. Sebagian besar caleg yang ikut serta sebagai peserta pemilu 2004 merasa telah memberikan konstribusi besar terhadap naiknya sejumlah anggota DPRD yang saat ini menjabat. Apalagi, dukungan real yang diraih oleh anggota DPRD dalam pemilu 2004 tidak cukup signifikan dalam menentukan kemenangan partai politik. Sehingga, upaya pendongkelan kekuasaan terhadap DPRD terpilih pun terkadang dilakukan oleh para kader partai itu sendiri, kecendrungan upaya ini sebenarnya telah muncul tatakala menjelang dilantiknya sejumlah anggota DPRD terpilih. Sejumlah caleg yang merasa memperoleh suara lebih besar, merasa lebih berhak untuk duduk sebagai wakil rakyat daripada caleg nomor urut satu yang terpilih. Sementara, caleg nomor urut satu yang terpilih berpandangan sebaliknya, karena aturan pemilu yang memberikan peluang pada nomor urut. Gesekan politik antara caleg terpilih (anggota DPRD) dan caleg tidak terpilih semakin terbuka lebar dan semakin menguat tatkala anggota DPRD yang menjabat tidak mampu mengakomodir berbagai kepentingan politik rekan sejagwatnya yang pada masa pemilu lalu telah mendongkrak suaranya, sehingga terpilih sebagai anggota DPRD. Politik balas budi dalam konteks inipun terkadang berkembang untuk saling menjaga kekuasaan, kepercayaan, persahabatan bahan perselingkungan politik antara caleg yang terpilih dengan caleg yang tidak terpilih. Bahayanya memang, bila politik balas budi ini diterapkan dalam dimensi pembangunan. Maka, akan sangat berpeluang untuk terjadinya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dalam jaringan oligharki kepartaian yang akan berdampak pada adanya delegitimasi kekuasaan DPRD. 8. Dukungan Suara Caleg Lain Dukungan suara caleg lain memang tidak bisa dinampikkan sebagai fakta politik yang mendongkrak perolehan suara anggota DPRD sekarang. Bila kita lihat komposisi perolehan suara misalnya, dari delapan anggota DPRD sekarang yang berasal dari delapan partai politik, dukungan real yang diperoleh oleh masingmasing anggota DPRD cukup minim. Bahkan, terdapat anggota DPRD yang perolehan suaranya dibawah dari caleg lainnya. PPP misalnya, Suara Mukaddam Hindun pada pemilu 2004 hanya sebesar 389 suara, sementara caleg lainnya dari PPP Abdurrahman yang menduduki posisi nomor urut 2, perolehan suaranya mencapai 400 suara.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

42

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Akumulasi suara caleg yang tidak terpilih ditambah dengan pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar saja tergolong cukup tinggi. Perolehan suara caleg terpilih partai Golkar sebanyak 454 suara atau sekitar 16.46, sementara akumulasi suara caleg tidak terpilih mencapai 2305 atau sekitar 83.54%, PPP suara caleg terpilih 389 suara atau 14.11 persen, sementara akumulasi caleg tidak terpilih mencapai 2367 atau 85.89%, PBB suara caleg terpilih 479 suara (21.32%), sementara akumulasi suara caleg tidak terpilih mencapai 1768 suara (78.68%). Berikut ini perbandingan perolehan suara akumulasi caleg tidak dan coblos gambar dan perolehan suara real caleg terpilih.
SUARA CALEG LAIN DAN COBLOS GAMBAR 2500 2305 2000 1500 1000 500 0
P PD IP PD K AR PP PB PK PA O LK P. P IB B S N

2367 1768 1467 1182 924 967 699 450 556 301
SUA RA CALEG LAIN DAN COB LOS GA M B AR SUA RA CALEG TERP ILIH

454

389

479

409

393

Prosentase perbandingan suara dapat terlihat pada gambar dibawah ini sebagai berikut :

PERBANDINGAN AKUMULASI SUARA CALEG TERPILIH DAN CALEG TIDAK TERPILIH

PERSENTASE SUARA

100.00 90.00 80.00 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 -

83.54

85.89

78.68

78.20

75.05

67.25

76.26 55.70

PROSENTASE SUARA CALEG TERPILIH PROSENTASE AKUMULASI SUARA CALEG TIDAK TERPILIH

16.46

14.11

21.32

21.80

24.95

32.75

44.30 23.74

M .T ha m zi l M uk ad da m

al N

Ka ha ru di n

m ar M

am id

M an im ba ng

A. H

.K em

NAMA ANGGOTA CALEG TERPILIH

Dari gambaran diatas menunjukkan bahwa akumulasi suara dari caleg lainnya, khususnya caleg yang tidak terpilih terhadap perolehan suara partai sangatlah tinggi, seluruh partai politik dan caleg terpilih yang meraih kursi di DPRD saat ini, pada dasarnya tidak terlepas dari kontsribusi suara caleg lainnya. Tingginya jumlah akumulasi suara ini membuktikan pula bahwa sesungguhnya anggota DPRD yang saat ini duduk sebagai wakil rakyat memiliki dukungan suara yang rendah dengan kata lain sebenarnya sebagian besar pemilih tidak memilih langsung anggota DPRD yang duduk saat ini, pasalnya suara mayoritas pemilih

Er na

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

43

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

lebih banyak ke caleg lainnya. Kondisi ini tentu saja mengisyaratkan kepada para wakil rakyat yang menjabat untuk lebih mendekatkan diri kepada konstituen, khsusunya konstituen real dari caleg lainnya, bila anggota DPRD tersebut menginginkan dukungan politik yang lebih besar dari dukungan real yang diperoleh sebelumnya. Rendahnya dukungan anggota DPRD juga dapat menyebabkan rapuhnya legitimasi kelembagaan DPRD. Dengan perolehan suara dibawah 50% dari total suara partainya, maka akan sangat sulit bagi DPRD untuk dapat menggerakkan partisipasi masyarakat secara umum, dipihak lain DPRD juga dihadapkan pada persoalan internal dari konstituen caleg lainnya. Koalisi massa pendukung caleg yang tidak terpilih dapat saja menggoyang para anggota DPRD saat ini, sehingga anggota DPRD mengalami krisis kepercayaan dalam tubuh partai politiknya yang dapat mendorong adanya pergantian antar waktu (PAW) anggota DPRD.

3.3. Pergeseran dan Peta Politik DP III (Tiga)


Daerah Pemilihan III terdiri dari Kecamatan Jereweh dan Kecamatan Sekongkang. Pada pemilu 2004, kursi DPRD yang diperebutkan untuk DP III sebanyak 5 kursi.

1. Kecamatan Jereweh
Secara geografis, luas Wilayah Kecamatan Jereweh sebesar 554,40 km2, jumlah desa di Kecamatan ini sebanyak 5 desa, yakni Desa Belo, Beru, Goa, Benete dan Maluk. Jumlah Rumah Tangga sebanyak 1803, jumlah penduduk sebanyak 13325. Pemilih di Kecamatan ini pada pemilu legislative 2004, sebanyak 9402 pemilih dengan jumlah TPS sebanyak 36 TPS. Pemilih terbesar adalah Desa Maluk dengan jumlah pemilih sebanyak 4085 pemilih, diikuti Desa Beru 1868 pemilih, Desa Goa 1416 pemilih, Desa Belo 1259 pemilih dan Desa Benete 774 pemilih. Berikut ini tabel prosentase jumlah penduduk dan pemilih di kecamatan Brang Rea :
JUMLAH PENDUDUK DAN PEMILIH 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 1781 1259 5659 4085 2664 Jumlah Penduduk Jumlah Pemilih 774 2113 1868 1416 1108

JUMLAH

Belo 1

Beru 2

Goa 3

Benete 4

Maluk 5

NAMA DESA

Rincian prosentase jumlah pemilih dimasing-masing desa terhadap jumlah pemilih kecamatan, dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

44

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PROSENTASE PEMILIH DESA DARI JUMLAH PEMILIH KEC JEREWEH

Belo, 13.39 Maluk, 43.45 Beru, 19.87

Belo Beru Goa Benete Maluk

Benete, 8.23 Goa, 15.06

Dari gambaran jumlah pemilih sebagaimana diatas, secara umum komposisi jumlah penduduk pada 5 desa di Kecamatan jereweh nampak sentral basis massa terbesar adalah Desa Maluk yang mencapai 43% dari total jumlah pemilih di Kecamatan Jereweh, sedangkan pemilih terendah adalah desa Benete 8.23% dari jumlah pemilih. Sebagian besar pemilih di desa Maluk umumnya adalah masyarakat pendatang atau urban. Dengan basis massa pemilih terbesar di desa Maluk, maka Desa Maluk yang pada pemilu-pemilu sebelumnya belum banyak mendapat perhatian dari partai politik, pada Pemilu 2004 telah menjadi salah satu target lumbung perolehan suara bagi partai politik. Pasalnya, apabila menguasai desa ini, maka hampir 35% partai politik dapat memperoleh suara di DP III. Atau dengan kata lain, setidaknya 2 kursi DPRD dapat diperoleh oleh partai politik. Posisi strategis Desa maluk ini telah merubah pula geopolitik yang sebelumnya tersentral di Desa Beru, Belo dan Goa. Perubahan posisi ini selain dipengaruhi oleh perubahan jumlah pemilih juga dipengaruhi oleh kondisi kemajuan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat yang berada di Desa Maluk. Tumbuhnya sentral-sentral ekonomi di desa ini seiring dengan keberadaan PT.NNT berpotensi untuk menarik para pendatang dari luar untuk berdomisili di daerah ini. Pertumbuhan penduduk di Desa ini diperkirakan oleh sebagian kalangan akan terus mengalami peningkatan yang signifikan. Perebutan massa antar partai politik di desa ini akan berjalan sangat kompetitif, mengingat sebagian besar masyarakat di daerah ini adalah pemilih yang tergolong cukup rasional, dan keragaman suku, agama, ras yang sangat beragam, sehingga mendorong partai politik untuk lebih dapat memahami berbagai karakteristik pemilihnya diwilayah ini. Sentiment kewilayahan atau issue kedaerahan menjadi tidak cukup signifikan dalam mempengaruhi pilihan pemilih. Kecendrungan pemilih diwilayah ini lebih mengkedepankan platform dan program partai politik, serta performance caleg yang diusung oleh partai politik yang bersangkutan.

2. Kecamatan Sekongkang
Secara administrative Kecamatan Sekongkang terdiri dari 6 Desa meliputi ; Desa Sekongkang Bawah, Sekongkang Atas, Tongo, Ai Kangkung, Tatar, dan Desa Talonang Baru. Luas wilayah mencapai 325,401 km2, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 4937 dan penduduk sebanyak 7538. Pada pemilu 2004, jumlah pemilih di kecamatan ini sebanyak 4785 pemilih, dengan jumlah TPS sebanyak 20 TPS. Pemilih terbesar di Kecamatan Sekongkang berada pada Desa Sekongkang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

45

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Atas dengan jumlah pemilih sebanyak 1643 pemilih, sedangkan pemilih terendah adalah desa Tatar sebanyak 320 pemilih. Berikut tabel grafik jumlah penduduk dan pemilih di Kecamatan Sekongkang .
JUMLAH PENDUDUK DAN PEMILIH KEC SEKONGKANG

3000 2500 2000 1500 1000 500 0


aw ah

2591 1642 1001 772 921 504 695 399 1794 1152 536 320 JUMLAH PENDUDUK JUMLAH PEMILIH

JUMLAH

Se ko ng k

Se ko ng k

NAMA DESA

Bila dilihat prosentase jumlah pemilih dimasing-masing desa terhadap total jumlah pemilih kecamatan, maka ada dua desa di Kecamatan Sekongkang yang prosentase jumlah pemilihnya cukup signifikan dalam menentukan kemanangan partai politik, yakni Desa Sekongkang Atas dengan jumlah 34.29% dan Desa Talonang Baru 24.06 % pemilih dari jumlah pemilih kecamatan. Sedangkan 4 (empat) desa lainnya jumlah pemilihnya dibawah 20%. Artinya, dengan komposisi jumlah pemilih seperti itu, maka kemenangan perolehan suara partai politik, akan sangat ditentukan dari seberapa besar partai politik tersebut meraih kemenangan di dua desa diatas. Berikut ini tabel prosentase pemilih di kecamatan Sekongkang:
PROSENTASE PEMILIH DESA DARI JUMLAH PEMILIH KECAMATAN

Talonang Baru, 24.06

Sekongkang Baw ah, 16.12

Ta ta Ta r lo na ng Ba ru

ta s

an g

Ai Ka ng

an g

To ng o

ku ng

Sekongkang Baw ah Sekongkang Atas Tongo

Tatar , 6.68 Ai Kangkung, 8.33 Tongo, 10.52 Sekongkang Atas, 34.29

Ai Kangkung Tatar Talonang Baru

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

46

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

3. Komposisi Caleg Daerah Pemilihan III jumlah calon anggota legislative untuk Daerah Pemilihan III sebanyak 58 orang, terdiri dari 14 caleg perempuan dan 44 laki-laki dari 24 parpol peserta pemilu, hanya 12 partai politik yang mengajukan caleg perempuan.
KOMPOSISI CALEG BERDASARKAN JENIS KELAMIN

14, 24% Caleg Laki Caleg Perempuan 44, 76%

Secara umum posisi nomor urut yang ditempati oleh caleg perempuan berada pada nomor urut sepatu. Dari 14 caleg perempuan, hanya 3 caleg dari 3 partai politik yang menempatkan caleg perempuan berada pada posisi nomor 1. Keberadaan ketiga calon tersebut lebih disebabkan tidak ada caleg lain yang diajukan oleh partai bersangkutan13. Berikut daftar caleg perempuan dan posisi nomor urut pada pemilu 2004 di DP III :

DAFTAR CALEG PEREMPUAN DAN NOMOR URUT PADA PEMILU 2004 DAERAH PEMILIHAN III SUMBAWA BARAT NO NAMA PARTAI NAMA CALON 3 3 4 1 1 3 2 3 1 2 2 4 4 6 NOMOR URUT CALEG

1 PBB SULHIATI, S.Sos 2 MERDEKA MARDIANA 3 PPP ZUBAIDAH 4 PIB SRI ANDAYANI 5 PPNUI MASTAMBUAN 6 PAN MULAINI, SP 7 PKPB JUWERIAH A.R 8 PKPB DARMIATI 9 PKB MASTAWAN 10 PKB SAFIULLAH 11 PKS SENDAWAN 12 PBR SUSMAINI AGUS.P 13 GOLKAR MARYAM 14 PELOPOR TRI DEWI ASTUTI, S.Pd Data diolah : laporan penyelenggaran pemilu 2004, KPU Sumbawa

13 Istilah nomor urut sepatu adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa urutan nomor yang diduduki adalah nomor urut bawah yang diasumsikan sangat kecil memiliki peluang untuk dapat duduk sebagai anggota legislative. Ketiga caleg perempuan yang menempati urutan nomor 1 pada pemilu 2004 di Daerah Pemilihan III Sumbawa Barat adalah dari PIB, PPNUI, dan PKB.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

47

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Perolehan suara caleg perempuan dari DP III sangat rendah, dari 14 caleg perempuan total perolehan suara yang diraih hanya sekitar 379 suara atau sekitar 4.03 persen dari total suara sah 9.394 suara. Perolehan suara tertinggi diperoleh oleh Maryam dari Partai Golkar 53 suara dan Darmiati PKPB 53 suara. Berikut ini perolehan suara caleg perempuan di Daerah Pemilihan II :
DAFTAR PEROLEHAN SUARA CALEG PEREMPUAN PADA PEMILU 2004 DI DAERAH PEMILIHAN III SUMBAWA BARAT NO NAMA PARTAI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 NAMA CALON JUMLAH SUARA 51 17 16 4 29 25 8 53 42 16 50 14 53 1 379

PBB SULHIATI, S.Sos MERDEKA MARDIANA PPP ZUBAIDAH PIB SRI ANDAYANI PPNUI MASTAMBUAN PAN MULAINI, SP PKPB JUWERIAH A.R PKPB DARMIATI PKB MASTAWAN PKB SAFIULLAH PKS SENDAWAN PBR SUSMAINI AGUS.P GOLKAR MARYAM PELOPOR TRI DEWI ASTUTI, S.Pd JUMLAH 14 Data diolah : laporan penyelenggaran pemilu 2004, KPU Sumbawa

Pada Pemilu 2004 tidak ada satupun caleg perempuan dari Daerah Pemilihan III yang menduduki kursi DPRD Kabupaten Sumbawa Barat untuk masa periode DPRD 2004-2009. Rendahnya keterwakilan perempuan ini disebabkan beberapa faktor, pertama terbatasnya jumlah caleg dari unsur perempuan yang menduduki posisi nomor urut satu, kendati ada tiga posisi yang diduduki, namun partai politik yang menjadi kendaraannya tersebut tidak cukup mempuni di kabupaten Sumbawa Barat, selain partai politik baru dan tergolong partai kecil, juga calon lainnya dari partai yang bersangkutan jumlahnya sangat minim, sehingga perolehan suaranya tidak dapat dibantu atau didongkrak dari perolehan suara calon lainnya. Misalnya saja, calon dari PIB, Sri Andayani, perolehan suara nomor urut keduanya, ternyata tidak ada sama sekali (nihil). Sehingga, hanya mengandalkan kekuatan personal sosok Sri Andayani. Kedua, dari data diatas, nampak bahwa secara umum partai politik besar belum cukup signifikan memberikan ruang dan kesempatan yang lebih besar kepada caleg perempuan untuk menduduki posisi nomor urut satu. Padahal, jika peluang itu diberikan tentu kesempatan caleg perempuan untuk dapat menduduki kursi DPRD di Kabupaten Sumbawa Barat sangat besar. Ketiga, pada pemilu 2004, lebih dari 50% jumlah pemilih adalah perempuan, namun, jumlah pemilih yang besar tersebut ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perolehan suara caleg dari perempuan. Ada kecendrungan, pemilih perempuan di Kabupaten Sumbawa Barat masih terjebak dalam budaya patriakhi politik, perempuan pemilih yang telah bersuami cenderung mengikuti pilihan suaminya. Oleh sebab itu memang, perjuangan untuk menempatkan quota kursi 30% DPRD dari perempuan tidak mudah, mengingat budaya patriakhi dalam structur sosial masyarakat Sumbawa Barat yang masih begitu kental. Keempat, berdasarkan hasil perolehan suara, ternyata dukungan suara yang diraih oleh caleg perempuan di Daerah Pemilihan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

48

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

III sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas, jaringan massa, strategy politik, modal, dan lainnya yang dimiliki oleh sejumlah caleg perempuan masih sangat terbatas. Disisilain, penguatan kapasitas dari partai politik terhadap politisi perempuan selama ini masih sangat lemah. 4. Komposisi Pendidikan Secara umum dari 58 caleg di Daerah Pemilihan III sebanyak 38 caleg berpendidikan SMA sederajat, 20 caleg berpendidikan formal S1. Dari 20 anggota caleg yang berpendidikan S1 tersebut hanya 9 caleg yang menempati urutan 1 atau. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum partai politik belum menempatkan aspek pendidikan sebagai salah satu indikator penting sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan caleg. Keterbatasan tingkat pendidikan kader partai ini juga tidak terlepas dari struktur tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat yang masih sangat terbatas disatu sisi, dan kecendrungan pilihan sarjana di Kabupaten Sumbawa Barat yang lebih memilih bekerja pada sector Swasta (Karyawan PT.NNT) dan PNS (Pegawai Negeri Sipil) daripada bekerja disektor politik atau menjadi politisi. Berikut ini komposisi Pendidikan Caleg yang menempati urutan 1 pada pemilu 2004 :
KOMPOSISI PENDIDIKAN CALEG PADA PEMILU 2004 DAERAH PEMILIHAN III SUMBAWA BARAT NO NAMA PARTAI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 PBB PPP PDK PKPI PPDI PAN PKS PBR GOLKAR NAMA CALON MASHUD YUSUF, S.Si SUDARLI, Spd ERWANSYAH, Spd dr. ABDULLAH ALAMUDY Drs. HAMDAN MUHAMMAD NASIR, ST RAKHMAD, Sag M.NASIR, Sag Drs. MOH ARSYAD NOMOR URUT CALEG 1 1 1 1 1 1 1 1 1

5. Komposisi Jumlah Caleg Daerah Pemilihan III Salah satu faktor yang turut membantu kemenangan partai politik pada pemilu 2004 adalah jumlah caleg. Sebab, dengan system perolehan kursi suara yang didasarkan pada perolehan suara caleg dan perolehan suara partai politik, maka partai politik yang menempatkan calegnya dalam jumlah yang cukup besar dalam satu Derah Pemilihan, akan mendongkrak perolehan suara partai politik, perolehan suara yang diperoleh masing-masing caleg akan membantu antar caleg dalam meraih kursi DPRD. Semakin besar, jumlah caleg pada paratai politik dalam satu Daerah Pemilihan, maka semakin besar pula partai politik tersebut memperoleh dukungan suara, sebaliknya, bagi partai politik yang sedikit mengajukan calegnya, maka akan semakin kecil pula bagi partai tersebut untuk memperoleh dukungan suara. Dengan kata lain, jika pemainnya banyak, maka semakin besar setiap pemain tersebut untuk menciptakan goal, karena antar lini saling membantu. Berbeda halnya dengan pemain tunggal. Sulit bagi pemaian tunggal untuk mendongkrak perolehan suara, karena tidak ada second line yang turut serta membantu meningkatkan perolehan suara.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

49

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Besarnya jumlah caleg dalam satu partai politik di daerah pemilihan juga menunjukkan bagaimana ketersediaan dan kesiapan partai politik tersebut menghadapi pemilu. Dan tentu, dengan banyaknya caleg yang diajukan kompetisi dalam tubuh partai politik tersebut juga akan semakin kompetitif disatu sisi, dan memberikan alternative yang lebih banyak bagi masyarakat untuk menentukan pilihan pada sisi lain. Memang jumlah caleg, bukan satu-satunya faktor utama yang turut menentukan kemanangan partai politik. Namun, jika melihat hasil pemilu 2004 di Kabupaten Sumbawa Barat, nampak bahwa hanya partai politik yang memiliki caleg yang cukup banyak yang pada akhirnya memperoleh kursi di DPRD. Meski, thesis ini tidak berlaku terhadap sejumlah partai politik yang relative baru, seperti Partai Pelopor misalnya, kendati di hampir seluruh Daerah Pemilihan partai ini telah menempatkan jumlah caleg dalam jumlah yang relative besar, akan tetapi suara partai ini tidak cukup signifikan dalam perolehan suara pada pemilu 2004. Dari 24 partai politik hanya 21 partai politik di Daerah Pemilihan III yang memiliki caleg di DP III. Ketiga 3 partai politik yang tidak mengajukan calegnya adalah partai Nasional Banteng Kemerdekaan, Partai Damai Sejahtera, Partai Persatuan Daerah. Bila melihat partai politik yang tidak memiliki caleg tersebut umumnya adalah partai politik yang relative baru. Selain, itu ternyata sebanyak 5 partai politik, yakni Partai Nasional Indonesia Marhaenisme, Partai Buruh Sosial Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Partai Penegak Demokrasi Indonesia dan Partai Patroit Pancasila hanya mengajukan 1 caleg. Kondisi ini sangat berbeda dengan partai politik lama yang relative besar, seperti Partai Golkar, PPP, PAN, PDI-P, umumnya partai tersebut mengajukan 3 sampai 6 caleh di Daerah Pemilihan III. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan partai politik lama relative lebih mapan jika dibandingkan dengan partai politik baru. Berikut data jumlah caleg di DP 3 pada pemilu 2004.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 DAERAH PEMILIHAN III Nama Partai PNI Marhaenisme PBSD PBB Merdeka PPP PDK PIB Nasional Banteng Merdeka Demokrat PKPI Penegak Demokrasi Indonesia PNUI PAN PKPB PKB PKS PBR PDI-P PDS GOLKAR PATRIOT PANCASILA PSI PPD PELOPOR JUMLAH Jumlah Caleg 1 1 3 3 4 4 2 Tidak ada calon 2 1 1 2 5 3 2 2 4 3 Tidak ada calon 6 1 2 Tidak ada calon 6 58 Caleg

Data diolah : laporan penyelenggaran pemilu 2004, KPU Sumbawa

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

50

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

6. Hasil Pemilu di Daerah Pemilihan III Pada pemilu 2004, jumlah kursi yang diperebutkan di DP III sebanyak 5 kursi dengan BPP sebanyak 1.838. Suara sah di DP III sebanyak 9.394 suara. Alokasi perolehan kursi di DP III terbagi secara merata pada 5 partai politik, yakni Partai Golkar, PBR, PAN, PPP, dan PKS. Berikut Perolehan suara DP III pada pemilu 2004 :
GRAFIK PEROLEHAN SUARA PEMILU 2004 DP III KECAMATAN SEKONGKANG DAN JEREWEH 3000 JUMLAH SUARA 2500 2000 1500 1000 500 0 4 PNI 28 PBSD PBB 583 100 MERDEKA PPP 980 402 11 PDK PIB 0 PNBK 199 DEMOKRAT 383 11 PENEGAK PKPI 59 PPNUI PAN 910 132 115 PDI-P PKPB PBR PKB PKS 1267 883 545 0 PDS GOLKAR 12 50 PATRIOT PSI 0 PPD 211 PELOPOR

2509

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 NAMA PARPOL

Berdasarkan data diatas terlihat bahwa Partai Golkar memperoleh suara tertinggi 2509 suara , dikuti PBR 1267 suara, PAN 910 suara, PPP 980 suara dan PKS 883 suara. Partai Golkar berhasil memenangkan di dua Kecamatan, Jereweh dan Sekongkang. Sedangkan PBR memperoleh dukungan terbesar dari Kecamatan Jereweh 974 suara, sedangkan di Kecamatan Sekongkang PBR hanya menempati posisi keempat dengan jumlah suara 293 suara. Dukungan suara PAN di Jereweh 768 suara, sedangkan di Kecamatan Sekongkang PAN hanya meraih 142 suara dan berada pada posisi keenam. Suara PPP di Kecamatan Jereweh berada pada posisi ketiga yakni sebanyak 797 suara, dan di Kecamatan Sekongkang PPP berada pada urutan kelima dengan jumlah suara 183 suara. PKS di kecamatan Jereweh hanya menduduki peringkat ketujuh dengan jumlah suara 314 suara, sedangkan di Kecamatan Sekongkang PKS berada pada posisi kedua setelah Partai Golkar dengan perolehan suara sebanyak 569 suara. Bila dilihat dari perolehan suara di Kecamatan Jereweh dan Kecamatan Sekongkang memang terdapat perbedaan. Untuk Kecamatan Jereweh 5 partai politik yang memperoleh suara terbesar adalah Partai Golkar, PBR, PPP, PAN dan PBB. Berikut Perolehan Suara Partai Politik di Kecamatan Jereweh :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

51

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PEROLEHAN SUARA PEMILU 2004 DI KECAMATAN JEREWEH 1600 1400 JUMLAH SUARA 1200 1000 800 600 400 200 0 3 20 89 8 0 106 10 443 383 303 57 100 68 797 768 974 1467

314 198 0 6 49 0

207

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21 22

23

24

NAMA PARPOL

Sedangkan di Kecamatan Sekongkang 5 partai politik yang memperoleh suara terbesar adalah Golkar, PKS, PDI-P, PBR dan PPP. Berikut perolehan suara partai politik di Kecamatan Sekongkang :
PEROLEHAN SUARA PEMILU 2004 KECAMATAN SEKONGKANG 1200 JUMLAH SUARA 1000 800 600 400 200 1 0 8 PBSD PBB 140 11 MERDEKA PPP 183 19 PDK 3 PIB 0 PNBK 93 DEMOKRAT 80 PENEGAK 142 2 PPNUI PAN 32 47 PDI-P PKPB PBR PKB PKS 569 293 347 1 PKPI 0 PDS GOLKAR 6 PATRIOT 1 PSI 0 PPD 4 PELOPOR 1042

PNI 1

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 NAMA PARPOL

Konfigurasi perolehan suara partai politik diatas sangat erat kaitannya dengan keberadaan caleg yang diajukan oleh partai politik. Pertama; sebagian besar caleg umumnya dapat memperoleh suara yang relative tinggi di daerahnya masingmasing berdomisili atau dimana tempat mereka dilahirkan. Kemenangan Golkar di Kecamatan Jereweh dan Sekongkang tidak terlepas dari dua figur tokoh Partai Golkar, yakni Drs. Moh Arsyad (Kec Sekongkang) dan H.M. Syafeie (Kec Jereweh), keduanya berada pada nomor urut satu dan dua. Drs.Moh Arsyad (nomor urut 1) di Kecamatan Sekongkang memperoleh dukungan suara tertinggi dari caleg lainnya yang ada di partai Golkar (315 suara), sementara H.M Syafei yang berada pada nomor urut 2 memperoleh dukungan suara tertinggi di Kecamatan Jereweh dengan dukungan 795 suara. Hal yang sama juga terjadi pada

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

52

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PKS, Caleg yang berasal dari (Desa Tongo- Sekongkang) memperoleh suara yang cukup besar di Kecamatan Sekongkang, mencapai 569 suara, namun di Kecamatan Jereweh suara PKS hanya 314 suara. Suara PDI-P di Kecamatan Sekongkang cukup signifikan mencapai 347 suara dan berada pada posisi ketiga perolehan suara terbesar, namun suara PDI-P di Kecamatan Jereweh hanya 198 suara. Kemenangan PDI-P di Kecamatan Sekongkang tidak terlepas dari Caleg, Muhammad Syafii MK yang notabennya putra asli sekongkang. Begitupun dengan perolehan suara PBR, di Kecamatan Sekongkang PBR hanya berada posisi keempat, namun di Kecamatan Jereweh PBR memperoleh suara 974 suara. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan caleg nomor urut satu dari PBR yang notabennya adalah putra asli jereweh. Dari kasus tersebut nampak bahwa kecendrungan pemilih, memilih caleg yang notabennya adalah orang yang dikenal dan berdomisili diwilayah daerah pemilihan yang bersangkutan. Sebaliknya, caleg yang tidak dikenal apalagi tidak berdomisili diwilayah daerah pemilihan setempat, cenderung kurang mendapat perhatian dari pemilih. Dengan demikian, maka aspek individu caleg akan sangat menentukan sejauhmanakah caleg tersebut akan memperoleh dukungan dari pemilih. Dalam konteks ini, maka baju partai politik tidak lagi cukup signifikan dalam mempengaruhi pilihan pemilih. Kedua ; perolehan hasil pemilu secara umum di DP II menunjukkan kemenangan partai politik beraliran islam. Bila dilihat dari perolehan kursi partai nasionalis hanya diwakili oleh Partai Golkar, 1 kursi. Sedangkan 4 kursi DPRD lainnya diraih oleh Partai beraliran islam, PBR, PPP, PAN dan PKS. Prosentase perbedaan perolehan suara antara partai nasionalis dan islam cukup besar, Golkar hanya meraih 2509 suara atau sekitar 26.71% dari total suara sah DP III sebanyak 9.394 suara, sementara itu akumulasi suara partai beraliran islam mencapai 4040 suara atau sekitar 43.01% persen.
PEROLEHAN SUARA PARTAI NASIONALIS DAN ISLAM

P.Nasionalis, 2509 26.71% P. Islam, 4040 43.01%

P. Islam

P.Nasionalis

Syahrul Mustofa : data diolah dari Sumbawa dalam Angka 2003 dan Laporan Pemilu 2004

7. Pergeseran Pemilih di DP III Pada pemilu 1999 Kecamatan Sekongkang masih bergabung dengan Kecamatan Jereweh. Pada pemilu ini partai politik yang berhasil menempati posisi 5 besar perolehan suara di Kecamatan Jereweh adalah PDI-P 3879 suara, Golkar 3040 suara, PPP 981 suara, PAN 930 suara dan PPDI 604 suara. Sebagaimana tergambar dibawah ini :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

53

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

5 PARPOL TERBESAR HASIL PEMILU 1999 DI KEC JEREWEH

PPDI, 604 PAN, 930 PPP, 981 PDI-P, 3879 PDI-P Golkar PPP PAN PPDI Golkar, 3040

Syahrul Mustofa : data diolah dari Sumbawa dalam Angka 2003 dan Laporan Pemilu 2004

Partai nasionalis yang berhasil mendapatkan dukungan dari pemilih di kecamatan jereweh hanya 3 (tiga) partai politik, yakni Golkar, PDI-P dan PPDI. Munculnya PPDI sebagai salah satu partai yang meraih 5 besar perolehan suara memang cukup mengejutkan sebagian besar kalangan. Ada indikasi naikknya suara PPDI lebih disebabkan human and error pemilihyang mengartikan PPDI sama dengan PDI-P. Persoalan ini tidak terlepas dari banyaknya peserta partai politik pada pemilu 1999 yang mencapai 48 partai politik. Terlepas dari hal itu, PDI-P berhasil sebagai pemenang pemilu di Kecamatan Jereweh. Perolehan suara yang diraih oleh PDI-P cukup signifikan yakni mencapai 3879 suara mengalahkan kampium pemenang pemilu sebelumnya Golkar yang hanya menduduki posisi kedua dengan perolehan suara 3040 suara. Sementara itu, partai islam yang cukup mendapatkan tempat dihati pemilih saat itu adalah PPP yang merupakan partai politik lama. Sedangkan partai politik islama yang notabennya notabennya partai politik baru hanya PAN yang memperoleh suara yang signifikan. Bila dilihat hasil perolehan suara pada pemilu 1999 di Kecamatan Jereweh memang nampak bahwa partai yang beraliran nasionalis cukup dominan dalam perolehan suara. Dari jumlah suara sah sebanyak 11240, partai nasionalis yang diwakili PDI-P, Golkar dan PPDI berhasil mencapai jumlah 7523 suara atau sekitar 66.93% dari jumlah suara. Sementara partai islam yang diwakili PPP dan PAN hanya memperoleh 1911 suara atau 17%. Berikut prosentase perbandingan perolehan suara :
PROSENTASE PEROLEHAN SUARA PARTAI NASIONALIS DAN ISLAM Partai Islam, 1911 17%

Partai Nasionalis

Partai Islam

Partai Nasionalis, 7523 66.93%

Syahrul Mustofa : data diolah dari Sumbawa dalam Angka 2003 dan Laporan Pemilu 2004

Artinya, bila dibandingkan dengan hasil pemilu 2004 nampak terjadi eksodus besar-besaran pemilih nasionalis ke partai politik yang beridelogi islam. Dengan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

54

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

hanya Partai Golkar sebagai satu-satunya partai nasionalis yang memperoleh kursi di DPRD disisilain semakin meningkatnya jumlah kursi partai islam adalah sebuah indikasi penting adanya perubahan sikap pemilih tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah apakah pergeseran tersebut disebabkan kinerja partai politik ataukah kesadaran pemilih? Jawaban sementara, pergeseran pemilih pada pemilu 2004 nampaknya lebih disebabkan keberadaan caleg masing-masing partai politik, peran dan performance caleg sangat menentukan citra dan keberhasilan perolehan suara partai politik. Sebab, kecendrungan pemilih yang lebih melihat personality caleg daripada partai politik. Hal ini terbukti dengan kemanangan sejumlah caleg pada kantong-kantong basis dimana mereka berdomisili diwilayah tersebut atau beraktifitas dalam kehidupan social-kemasyarakatan. Hal ini memang sangat berbeda dengan system pemilu sebelumnya yang menggunakan metode daftar calon tertutup, dimana pemilih lebih cenderung melihat partai politik dan figur nasional yang berdiri dibelakang partai politik tersebut. Sementara dalam model system daftar calon terbuka, pemilih tidak hanya melihat siapa figur nasional dalam partai politik tersebut, melainkan yang lebih ditekankan adalah siapa figur lokal yang akan mewakili kepentinganya di daerah. Dalam konteks itupula, maka pemilihan anggota DPRD dirasakan lebih penting bagi masyarakat di daerah ketimbang memilih anggota DPR RI, karena jarak yang jauh dan sebagian besar caleg yang diajukan oleh partai politik umumnya tidak memiliki hubungan kedekatan emosional dengan pemilih di daerah. Harus diakui bahwa keberhasilan PBR, PAN, PPP dan PKS di DP III dalam meraih suara dari pemilih nasionalis tidak terlepas dari kemampuan strategy para pengurus partai politik tersebut dalam menempatkan posisi calegnya di daerah pemilihan masing-masing. Meski, Partai Golkar juga cukup sukses dalam mengambil langkah tersebut. Namun, target partai Golkar untuk meraih setidaknya 2 (dua) kursi ) di DP III gagal. PDI-P yang pada pemilu 1999 sebagai kampium, justeru pada pemilu 2004 perolehan suara PDI-P anjlok, basis massa PDI-P nampaknya banyak yang eksodus kepartai lainnya, meski perolehan suara PDI-P di Kecamatan Sekongkang berada posisi ketiga, namun PDI-P gagal untuk meraih kursi DPRD di DP III. Sebab, seiring dengan itu kecenderungan pemilih yang mulai bergeser kearah partai yang beraliran islam. Sehingga nampak partaipartai islam cukup gemuk dalam perolehan suara di DP III. Pergeseran pemilih ini tentu menjadi penting dalam konteks pertarungan politik pada pilkada 2005, setidaknya trend perubahan sikap pemilih ini dapat menjadi basis untuk melihat bagaimanakah pertarungan politik dalam pilkada 2005 nantinya yang akan dibahas pada bagian selanjutnya. 8. Dukungan Real Caleg Terpilih (Anggota DPRD) di DP III Tidak jauh berbeda dengan perolehan suara caleg terpilih di DP I dan DP II, hasil perolehan suara caleg terpilih di DP III juga mencerminkan dukungan real pemilih yang relative cukup rendah. Dari 2509 jumlah suara Golkar, ternyata dukungan caleg terpilih hanya 410 suara. Jumlah ini lebih kecil dari caleg yang berada pada nomor urut dua, sebanyak 837 suara atau dengan kata lain sebanyak 2099 suara adalah merupakan sumbangan dari caleg yang tidak terpilih dan pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar parpol. Begitupun PBR, dari 1267 suara, dukungan real caleg terpilih hanya 157 suara. Sementara nomor urut 2,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

55

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

perolehan suaranya mencapai 675 suara. PPP dari 980 suara, dukungan real caleg terpilih sebanyak 216 suara, sementara dukungan real terbanyak dari PPP jatuh pada posisi caleg nomor urut 3 sebanyak 345 suara. PAN perolehan suara 910 suara, caleg terpilih hanya memperoleh dukungan 263 suara berbeda tipis dengan nomor urut 4 yang mencapai 233 suara. Sementara itu, PKS dari 883 suara dukungan real caleg terpilih sebanyak 459 suara. Dari perolehan dukungan suara real tersebut, nampak bahwa 3 partai politik, Golkar, PBR dan PPP perolehan suara caleg terpilih lebih kecil dibandingkan dengan caleg nomor urut dibawahnya. Hanya 2 partai politik, yakni PKS dan PAN yang relative caleg terpilih adalah merupakan caleg yang mayoritas terbesar perolehan suara dalam partainya. Berikut data dukungan real caleg terpilih dari 5 partai politik, jumlah suara partai politik dan akumulasi perolehan suara caleg lainnya :
PERBANDINGAN PEROLEHAN SUARA 3000 2509 JUMLAH SUARA 2500 2000 1500 1000 500 0 GOLKAR Drs. Moh Arsyad PBR PKS PAN M. Nasir, ST PPP Sudarli, Spd 410 157 459 1267 1110 TOTAL SUARA PARPOL 764 216 SUARA CALEG LAIN DAN GAMBAR 2099 SUARA CALEG

883 424 263

910 647

980

M. Nasir, S.Ag Rakmad, S.Ag

NAMA PARPOL DAN CALEG TERPILIH

Gambaran diatas menunjukkan bahwa pertama ; dukungan real yang diperoleh caleg terpilih pada DP III relative masih sangat rendah. Bahkan, sejumlah caleg terpilih angka perolehan dukungan real suaranya dibawah caleg yang tidak terpilih. Seperti kasus Partai Golkar, PBR dan PPP. Kedua ; secara umum caleg terpilih berhasil menduduki kursi DPRD lebih disebabkan faktor posisi nomor urut daripada dukungan real massa. Ketiga ; tingginya akumulasi perolehan suara caleg lainnya telah mendongkrak keterpurukan perolehan suara yang diraih oleh caleg yang berada pada nomor urut satu. Keempat ; akumulasi perolehan suara real dari 5 caleg terpilih hanya sebesar 1505, sementara akumulasi perolehan suara caleg yang tidak terpilih dan pemilih yang hanya mencoblos tanda gambar pada 5 partai politik tersebut mencapai 6549 suara. Angka tersebut belum ditambah dengan akumulasi jumlah perolehan suara caleg dari partai politik lainnya yang mencapai 2845 suara atau dengan kata lain jumlah suara dari keseluruhan caleg yang tidak terpilih mencapai 7889 suara. Artinya, bila jumlah suara sah DP III sebanyak 9394 suara, maka akumulasi jumlah suara caleg yang tidak terpilih mencapai sekitar 84 persen dari jumlah suara, sedangkan dukungan real suara caleg terpilih hanya sebesar 16 persen, dengan demikian nampak memang akumulasi jumlah suara caleg yang tidak terpilih jauh lebih besar daripada akumulasi caleg yang terpilih. Hal ini mencerminkan bahwa sesungguhnya tingkat legitimasi politik caleg terpilih relative sangat kecil. Berikut ini tabel prosentase suara caleg yang terpilih dan tidak terpilih :

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

56

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PROSENTASE PERBANDINGAN REAL DUKUNGAN SUARA

Caleg terpilih 16% Caleg terpilih caleg tidak terpilih caleg tidak terpilih 84%

Berdasarkan fakta tersebut diatas, maka sangat wajar bila muncul pertanyaan masyarakat. Berapa jumlah suara rakyat yang tercecer atau terbuang dalam Pemilu? Benarkah anggota DPRD terpilih adalah pilihan seluruh rakyat? Sejauhmankah legitimasi politiknya bila dukungan suara real yang diperoleh anggota DPRD relative kecil? Bagaimanakah akibatnya terhadap pola hubungan antara anggota DPRD dengan konstituen yang mayoritas sesungguhnya tidak memilih anggota DPRD sekarang? Bagaimanakah kelembagaan DPRD itu sendiri? Jika selama ini banyak kalangan mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei), konsep tersebut dalam realitasnya ternyata hanya merupakan gagasan besar yang ada dalam cita-cita ideal dari demokrasi itu sendiri14. Fakta politik, demokrasi melalui pemilu sebagai sarana dan mekanisme pengangakatan wakil rakyat terkadang banyak mengadaikan suara rakyat. Bagaimana tidak, mayoritas suara pemilih terkadang tidak memiliki makna apa-apa. Namun, sekali lagi penulis ingin mengatakan bahwa pemilu sebagai alat pergantian kekuasaan secara damai dan aman, bukanlah sesuatu yang final, pemilu adalah merupakan sebuah proses, dan cacat-cacat yang dimiliki oleh setiap system pemilu harus terus dikoreksi dan diperbaharui, hingga pada akhirnya Pemilu nantinya betul-betul sarana artikulasi dan agregasi kepentingan rakyat. Hingga saat ini, apapun system dan model Pemilu yang diterapkan selalu saja mengandung kelemahan. Oleh sebab itu, merumuskan system pemilu yang dapat meminamilasir terbuangnya suara rakyat bukanlah hal yang mudah. Dan yang terpenting lagi adalah bagaimana para wakil rakyat menyadari akan keberadaannya sebagai wakil rakyat bahwa sesungguhnya sebagai wakil rakyat, dengan tanpa, pandang bulu melayani dan memperjuangkan hak-hak rakyat sebagai pemberi amanah secara maksimal. Sehingga kedaulatan rakyat tetap terjaga.

2500 tahun yang lalu, tepatnya tahun 507 sebelum Masehi di Kota Athena-Yunani, istilah demokrasi atau demokratia diperkenalkan dengan sebutan demos (rakyat) dan kratos,(pemerintahan). Pada masa itu Yunani sendiri terdiri dari banyak kota (ratusan kota yang merdeka), selama lebih dua abad lamanya, orang Athena menganut sebuah pemerintahan kerakyatan, sampai pada akhirnya kota itu ditaklukkan oleh Macedonia. Di Athena kata demos merujuk pada seluruh rakyat Athena, namun kadang-kadang juga berarti hanya rakyat biasa atau orang miskin. Oleh kalangan aristokras di Kota itu digunakan untuk memberikan julukan dan ungkapan rasa muak para aristokrat terhadap rakyat biasa, karena rakyat biasa dianggap telah merampas kekuasaaannya. Di Athena sendiri hak untuk berpartisipasi rakyat hanya kalangan laki-laki saja. Di Romawi istilah pemerintahan rakyat (demokrasi) disebut dengan Republik. Pada tahun 1787 James Madison, salah seorang perumus konstitusi Amerika, saat itu menulis makalah untuk konstitusi Amerika, Ia yang kemudian membuat perbedaan antara sebuah demokrasi murni, yang diartikan oleh Robert A. Dahl dalam buku On Democracy (1999) sebagai sebuah masyarakat yang terdiri atas sejumlah kecil warga Negara yang berkumpul dan melaksanakan pemerintahan itu, dan republik diartikan sebagai sebuah pemerintahan dimana terdapat skema perwakilan. Lihat terjemahan Buku On Democracy yang diterbitkan oleh Yayasan Obor dengan Judul Perihal Demokrasi Menjelajahi Teori dan Praktek Demokrasi Secara Singkat, tahun 2001 halaman 9-36.

14

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

57

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

KAJIAN

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TAMBANG


Antara Pemberdayaan Sosial & Keamanan Sosial

Penulis : Syahrul Mustofa, S.H.,M.H

Diterbitkan Oleh : Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Nusa Tenggara Barat Tahun 2010
KATA PENGANTAR

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

58

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Kajian tentang CSR (Corporate Social Responsibility) PT.NNT menjadi sangat penting untuk dilaksanakan, karena selama ini masyarakat tidak mengetahui antara dana CSR dengan dana Bantuan atau Pertolongan, sejak masa ekplorasi hingga sekarang yang ditahu oleh masyarakat di wilayah lingkar tambang khususnya, dan umumnya KSB bahwa dana yang diberikan PT.NNT adalah semata karena kebaikan hati perusahaan. Padahal, dalam pasal 74 UndangUndang Perseroan Terbatas (UUPT) yang terbaru, yakni UU Nomer 40 Tahun 2007 adalah sebuah keharusan tanggung jawab sosial perusahaan. Keberadaan CSR ini seiring dengan meningkatnya kerusakan lingkungan, berkurangnya harmonisasi sosial dan terjadinya perubahan social ekonomi dimasyarakat, beban tersebut salah satunya disebabkan karena proses industri pertambang PT.NNT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan CSR yang dilakukan oleh PT.NNT di wilayah lingkar tambang di Kabupaten Sumbawa Barat yang sesuai dengan visi korporasi dan amanat pasal 74 Undangundang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan untuk mengetahui apa saja kendala-kendala yang dihadapi oleh perusahaan dalam implementasinya. Diharapkan dari hasil studi ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi bagi pemerintah daerah KSB dalam pengambilan kebijakan di masa sekarang maupun di masa mendatang. Lembaga Bantuan Hukum Nusa Tenggara Barat (LBH-NTB) sebagai lembaga sosial yang bergerak dalam issue demokrasi, penegakkan hukum dan HAM sangat berkepentingan untuk mendorong terjadinya proses peningkatan kesejahteraan masyarakat di KSBmelalui kerjasama dengan BAPPEDA KSB, kami sangat berterima kasih karena inisiatif BAPPEDA KSB untuk melaksanakan program inidan tentu akan sangat membantu KSB dalam mempersiapkan KSB pasca tambang. Kami ucapkan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati KSB, kepala Bappeda KSB, serta para staf PEMDA serta seluruh pihak yang telah membantu selesainya kajian ini. Kami menyadari bahwa hasil kajian ini masuh jauh dari harapan, karena itu saran dan kritik untuk penyempurnaan hasil kajian ini kami harapkan. Demikian atas perhatian dan kerjsamanya diucapkan terima kasih. Penulis Syahrul Mustofa, S.H.M.H ABSTRACT

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

59

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Dana CSR (Corporate Social Responsibility) adalah sesungguhnya berdasarkan pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) UU Nomor 40 Tahun 2007 adalah sebuah keharusan tanggung jawab sosial perusahaan. PT.NNT sebagai Perusahaan Multinasional Corporation adalah merupakan perusahaan tambang pertama di NTB yang melakukan ekploitasi dan telah melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui dana CSR. Namun, persoalannya adalah apakah dana CSR tersebut telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan? Sejauhmanakah dampak keberadaan PT.NNT terhadap perubahan sosial ekonomi masyarakat setempat dan apakah masyarakat setempat memperoleh manfaat atas keberadaan dana CSR? Tantangan dan kendala apasajakah yang selama ini dihadapi dalam pengelolaan dana CSR? Peran dan fungsi apakah yang harus dijalankan Pemerintah daerah dalam merespons keberadaan dana CSR? Program apakah yang sesungguhnya yang dibutuhkan masyarakat setempat? Penelitian ini berusaha untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas dengan melakukan kajian kualitatif, pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui FGD (Focus group discussion) yang dilaksanakan di desa, khususnya lingkar tambang, melakukan indept interview kepada para tokoh masyarakat, agama, pemuda setempat yang mengalami atau mengetahui dampak langsung maupun tidak langsung dari keberadaan PT.NNT dan dana CSR, serta mengetahui permasalahan dan kebutuhan masyarakat lingkar tambang. Dari hasil penelitian telah terjadi perubahan sosial ekonomi masyarakat, tantangan kehidupan yang dialami masyarakat diwilayah lingkar tambang semakin berat, biaya ekonomi yang tinggi, tingkat persaingan dan kesenjangan ekonomi, meningkatnya potensi konflik sosial dan berbagai persoalan lainnya berlangsung begutu cepat dan dinamis. Berbagai program baik dari pemerintah daerah maupun dari PT.NNT melalui dana CSR diharapkan dapat mengatasi gap sosial, ekonomi, politik dan budaya yang terjadi saat ini. Kemiskinan dan keterbelakangan penduduk lokal diharapkan menjadi skala prioritas penanganan masyarakat diwilayah lingkar tambang. Perlu ada perubahan orientasi kebijakan dari perusahaan maupun pemerintah daerah dalam memandang keberadaan masyarakat lingkar tambang, bahwa tidak semua masyarakat lingkar tambang hidup dalam kemapan ekonomi dan sosial. Bahkan, justeru kemiskinan tertinggi adalah di wilayah lingkar tambang (data BPS dan BLT tahun 2006/2007). Oleh sebab itu dibutuhkan adanya perubahan paradigma dan kebijakan terhadap pembangunan masyarakat di wilayah lingkar tambang.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

60

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1 1.1. .........................................................................................................................T ujuan ................................................................................................................. 9 1.2. ........................................................................................................................R uang Lingkup .................................................................................................... 9 1.2.1. ..................................................................................................................M anfaat....................................................................................................... 9 1.3. ........................................................................................................................S istematika Penulisan....................................................................................... 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 13 2.1. .......................................................................................................................H asil Kajian (Assasement Program CSR PT.NNT untuk wilayah lingkar tambang) ........................................................................................................ 13 2.1.1. .................................................................................................................P engertian Corporate Sosial Responsibility (CSR) dalam praktek ....... 6 2.1.2. ................................................................................................................W acana CSR dari berbagai perspektif ................................................... 23 2.2. .......................................................................................................................L andasan Teori ................................................................................................ 28 2.2.1. ................................................................................................................C SR Sebagai Kewajiban Perusahaan ..................................................... 28 BAB III METODOLOGI ........................................................................................... 43 3.1. Desaign Penelitian ........................................................................................ 43 3.2. Lokasi dan Subyek Penelitian ...................................................................... 45 3.3. Metode Pengumpulan Data ......................................................................... 43 3.3.1. Tahapan Pengumpulan Data ................................................................ 47 3.4. Metode Analisis Data ................................................................................... 48 3.4.1. Keabsahan Data .................................................................................... 49 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................... 52 Gambaran Umum Kondisi Kabupaten Sumbawa Barat (Sebelum dan Sesudah keberadaan PT.NNT ............................................................................................ 52 4.1. Hasil Penelitian ............................................................................................ 86 4.1.1. CSR dalam Konteks Hukum Pertambangan ......................................... 86 4.1.2. Obyek dan Ruang Lingkup Kegiatan Hukum Pertambangan .............. 88 4.1.3. Azas-azas hukum Pertambangan.......................................................... 89 4.1.4. Sumber-sumber Hukum Pertambangan .............................................. 93 4.2. Pembahasan ................................................................................................. 99

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

61

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

4.2.1. Alasan-alasan Perusahaan Melaksanakan CSR .................................... 99

4.2.2. Efektifitas

Konsep

CSR

Dalam

Menangani

Permasalahan-

Permasalahan Sosial ..............................................................................................................101

4.2.3........................................................................................................ P
arameter Keberhasilan CSR .............................................................. 103

4.2.4........................................................................................................ P
rogram CSR PT.NNT untuk daerah Lingkar Tambang di KSB......... 106

4.2.5. Parameter Keberhasilan Pelaksanaan CSR oleh PT.Newmont Nusa


Tenggara Barat ................................................................................... 115 BAB V PENUTUP .................................................................................................... 119 5.1. Kesimpulan.................................................................................................. 119 5.2. Rekomendasi.............................................................................................. 120

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

62

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Corporate Social Responsibility atau yang lebih di kenal dengan sebutan (CSR) kini semakin meroket dan marak diterapkan perusahaan di berbagai belahan dunia. Menguatnya terpaan prinsip good corporate gorvernance telah mendorong CSR semakin menyentuh jantung hati dunia bisnis. Di Indonesia, CSR sekarang dinyatakan lebih tegas lagi dalam Undang Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007.. Pendapat Milton Friedman yang menyatakan bahwa tujuan utama korporasi adalah memperoleh profit semata, semakin ditinggalkan. Sebaliknya, konsep triple bottom line (profit, planet, people) yang digagas John Elkington semakin masuk ke mainstream etika bisnis. Persoalannya, hingga kini masih banyak perusahaan yang sekadar membagi-bagikan mie instant saat bencana alam atau menyumbang uang kepada Karang Taruna untuk perayaan 17 Agustus-an, sudah merasa melakukan CSR.Karenanya, Penelitian, seminar dan diskusi untuk memperkaya pemahaman tentang CSR senantiasa signifkan. Pengertian CSR sangat beragam. Intinya, CSR adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, melainkan pula untuk pembangunan sosial-ekonomi kawasan secara holistik, melembaga dan berkelanjutan. Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan dan bahkan sering diidentikkan dengan CSR adalah corporate giving, corporate philanthropy, corporate community relations, dan community development. Ditinjau dari motivasinya, keempat nama itu bisa dimaknai sebagai dimensi atau pendekatan CSR. Jika corporate giving bermotif amal atau charity, corporate philanthropy bermotif kemanusiaan, dan corporate community

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

63

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

relations bernafaskan tebar pesona, maka community development lebih bernuansa pemberdayaan. Dalam konteks pemberdayaan, CSR merupakan bagian dari policy perusahaan yang dijalankan secara profesional dan melembaga. CSR kemudian identik dengan CSP (corporate social policy), yakni strategi dan roadmap perusahaan yang mengintegrasikan tanggung jawab ekonomis korporasi dengan tanggung jawab legal, etis, dan sosial sebagaimana konsep piramida CSR-nya Archie B. Carol. Dalam literatur pekerjaan sosial (social work), CSR termasuk dalam gugus Pekerjaan Sosial Industri, industrial social work atau occupational social work. Pekerjaan Sosial Industri mencakup pelayanan sosial internal dan eksternal. Dengan menggunakan dua pendekatan, sedikitnya ada delapan kategori perusahaan. Perusahaan ideal memiliki kategori reformis dan progresif. Tentu saja, dalam kenyataannya, kategori ini bisa saja saling bertautan. a. Berdasarkan proporsi keuntungan perusahaan dan besarnya anggaran CSR: Perusahaan Minimalis. Perusahaan yang memiliki profit dan anggaran CSR yang rendah. Perusahaan kecil dan lemah biasanya termasuk kategori ini. Perusahaan keuntungan Ekonomis. tinggi, namun Perusahaan anggaran yang CSR-nya memiliki rendah

(perusahaan besar, namun pelit). Perusahaan Humanis. Meskipun profit perusahaan rendah, proporsi anggaran CSRnya relatif tinggi. Disebut perusahaan dermawan atau baik hati. Perusahaan Reformis. Perusahaan yang memiliki profit dan anggaran CSR yang tinggi. Perusahaan seperti ini memandang CSR bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk lebih maju. b. Berdasarkan tujuan CSR: apakah untuk promosi atau pemberdayaan masyarakat: Perusahaan Pasif. Perusahaan yang menerapkan CSR tanpa tujuan jelas: bukan untuk promosi, bukan pula untuk pemberdayaan. Sekadar melakukan kegiatan karitatif.

Perusahaan seperti ini melihat promosi dan CSR sebagai hal yang kurang bermanfaat bagi perusahaan.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

64

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Perusahaan Impresif. CSR lebih diutamakan untuk promosi daripada untuk pemberdayaan. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan tebar pesona ketimbang tebar karya.

Perusahaan

Agresif.

CSR

lebih

ditujukan

untuk

pemberdayaan ketimbang promosi. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan karya nyata ketimbang tebar pesona. Perusahaan Progresif. Perusahaan menerapkan CSR untuk tujuan promosi dan sekaligus pemberdayaan. Promosi dan CSR dipandang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan menunjang satu-sama lain bagi kemajuan perusahaan. Suatu kawasan yang merupakan pusat pertumbuhan seringkali menjadi pusat aksi perubahan sosial terhadap kawasan disekitarnya. Perubahan sosial pada umumnya disebabkan karena terjadinya transformasi berbagai bidang kehidupan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal. Proses transformasi yang tak terkendali akan dapat menimbulkan kesenjangan sosial, yang pada akhirnya dapat berdampak pada instabilitas kawasan. Timbulnya instabilitas dalam kawasan atau di sekitar kawasan pusat pertumbuhan akan berdampak terhadap terganggunya aktivitas pertumbuhan itu sendiri. Kegiatan penambangan Batu Hijau oleh PT.Newmont Nusa Tenggara, di Kecamatan Sekongkang kabupaten Sumbawa barat termasuk kategori penambangan skala besar. Dengan demikian, berbagai aktivitas yang terkait dengan penambangan tersebut mulai dari tahap persiapan dan konstruksi, terlebih tahap produksi dapat menimbulkan transformasi yang berimplikasi pada terjadinya perubahan sosial. Secara teoritis, perubahan sosial dapat bermuatan positif (konstruktif) dan negatif (deduktif). Kecenderungan perubahan sosial, baik yang konstruktif maupun desdruktif antara lain timbulnya karena terjadi transformasi usaha dan tenaga kerja, serta transformasi sosial budaya lainnya. Dimulai sejak tahap persiapan kegiatan penambangan telah terjadi pembebasan tanah masyarakat dan tanah negara. Kegiatan pembebasan lahan tersebut menimbulkan perubahan orientasi. Pola pekerjaan dan perilaku masyarakat secara umum. Sedangkan pada tahap konstruksi ditujukkan dengan berkembangnya aktivitas pembangunan fisik prasarana. Hal ini jelas akan membuka kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi sebagian masyarakat, baik masyarakat lokal maupun masyarakat dari daerah lain. Peluang berusaha tentu menjadi daya tarik datangnya pekerja dari luar dan tinggal berdomisili di lokasi sekitar kawasan penambangan. Dengan demikian akan timbul proses asimilasi,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

65

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

akulturasi dan sejenisnya yang bedampak juga pada perubahan sosial masyarakat. Dari pengalaman yang ada, diketahui bahwa pada tahap konstruksi, jumlah serapan tenaga kerja paling banyak, baik tenaga kerja luar daerah maupun tenaga kerja lokal. Dengan demikian, arus perubahan sosial sesungguhnya dimulai dan meningkat pesat pada tahapan konstruksi tersebut. Pada tahapan produksi, jumlah tenaga kerja secara akumulatif menurun sejalan dengan berkurangnya peluang kerja yang tersedia. Namun demikian, kegiatan produksi tersebut tetap membawa dampak terhadap perubahan sosial masyarakat. PT.Newmont Nusa Tenggara (PT.NNT) sebagai pelaksana proyek penambang di Kabupaten Sumbawa Barat sejak awal telah mengantisipasi terjadinya perubahan sosial, terutama yang dinilai negatif khususnya oleh masyarakat lokal. Antisipasi tersebut antara lain dilakukan dengan melakukan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL). Disamping itu telah dilakukan pembinaan kepada masyarakat setempat dengan melibatkan berbagai pihak seperti; Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Pemerintah Daerah. Pembinaan tersebut diharapkan agar masyarakat setempat dapat menikmati dan memanfaatkan peluang ekonomi yang berkembang di kawasan penambangan tersebut. Namun demikian, tidak semua kegiatan pembinaan tersebut dinilai berhasil atau menghasilkan perubahan sosial yang dinilai positif. Persoalan yang terkait dengan perubahan kultural dinilai sebagai aspek perubahan yang sulit diprediksi dan dikendalikan secara baik. Hal ini antara lain disebabkan karena aspek kultural terkait dengan aspek perilaku masyarakat secara umum. CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 UndangUndang Perseroan Terbatas (UUPT) yang terbaru, yakni UU Nomer 40 Tahun 2007. Melalui undang-undang ini, industri atau korporasi-korporasi wajib untuk melaksanakanya, tetapi kewajiban ini bukan suatu beban yang memberatkan. Perlu diingat pembangunan suatu negara bukan hanya tangungjawab pemerintah dan industri saja, tetapi setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan pengelolaan kualitas hidup masyarakat. Industri dan korporasi berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangkan pula faktor lingkungan hidup.15 Melihat pada kondisional semcam ini maka penulis mencoba
15

Chairil N. Siregar, Analisis Sosiologis Terhadap Implementasi CSR Pada Masyarakat Indonesia,

hal.285

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

66

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

mengangkat permasalahan ini kepermukaan. Penulis menganggap bahwa pengambilan judul diatas cukup strategis. Pertama, sebab sebenarnya konsep tanggungjawab sosial perusahaan telah dikenal sejak awal 1970, yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktik yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyrakat, lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan. Seiring perjalanan waktu, di satu sisi sektor industri atau korporasi-korporasi skala besar telah mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi di sisi lain eksploitasi sumber-sumber daya alam oleh sektor industry sering kali menyebabkn kerusakan lingkungan. Kedua, adalah sebagai upaya untuk menegaskan hubungan perusahaan dengan aktifitas perniagaan yang diselenggarakan oleh para perusahaan. Dalam konteks perniagaan yang diselenggarakan terdapat hubungan timbal-balik antara personal perusahaan secara internal dan antara internal perusahaan dengan masyarakat luar perusahaan. Corporate Social Responsibility adalah suatu bagian hubungan perniagaan yang melibatkan perusahaan di satu pihak dan masyarakat sebagai lingkungan sosial perusahaan di pihak yang lain. Ketiga,16 CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat domisili. Secara teoritik, CSR dapat didefinisikan sebagai tanggungjawab moral suatu peusahaan terhadap para stakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat di sekitar wilayah kerja atau oprasionalnya. Di tahun 1970-an, topik CSR mengemuka melalui tulisan Milton Friedman tentang bentuk tunggal tanggungjawab sosial dari kegiatan bisnis. Bahkan Estes17 menilai bahwa roh atau semangatnya telah ada sejak mula berdirinya perusahaan-perusahaan (di Inggris), yang tugas utamanya adalah untuk membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat sikap dan pendapat pro-kontra selalu merupakan bagian dari sejarah kehidupan perusahaan dan perkembangan konsep CSR itu sendiri. Pro dan kontra terhadap perkembangan CSR terus bergulir. Salah satunya, apakah tanggungjawab sosial tersebut sifatnya wajib atau sukarela, dimana ketika kegiatan Corporate Social Responsibility (untuk selanjutnya disebut CSR) diwajibkan dalam Undang-Undang. Nomer 40 Tahun 2007

16

Kutipan B Tamam Achda, anggota komisi VII DPR-RI, Konteks Sosiologis Perkembangan CSR Jean Marten, ibid., hal.10

dan Implementasinya, hal.3


17

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

67

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

tentang Perseroan Terbatas (UU.PT), Sontak menuai protes. Pasalnya aktivitas CSR diasumsikan sebagai aktivitas berdasarkan kerelaan dan bukanya paksaan. Memang bibit-bibit CSR berawal dari semangat filantropis perusahaan. Namun, tekanan dari komunitas yang keras, terutama ditengah masyarakat yang kritis semacam masyarakat Eropa, yang menjadikan CSR menjadi semacam social license to operation, dan ini dilakukan oleh komunitas, bukan oleh negara.18 Kritik lainnya, dalam pelaksanannya CSR masih memiliki kekurangan. Program-program CSR yang banyak dijalankan oleh perusahaan yang hanya memiliki pengaruh jangka pendek dengan skala yang terbatas. Program-program CSR yang dilaksanakan seringkali kurang menyentuh akar permasalahan komunitas yang sesungguhnya. Seringkali pihak perusahan masih mengangap dirinya sebagai pihak yang paling memahami kebutuhan komunitas, sementara komunitas dianggap sebagai kelompok pinggiran yang menderita sehingga memerlukan bantuan perusahaan. Di samping itu, aktivitas CSR dianggap hanya semata-mata dilakukan demi terciptanya reputasi perusahaan yang pasif bukan demi perbaikan kualitas hidup komunitas dalam jangka panjang.19 Kritik lain dari pelaksanaan CSR adalah karena seringkali diselenggarakan dengan jumlah biaya yang tidak sedikit, maka CSR identik dengan perusahan besar yang ternama. Yang menjadi permasalahan adalah dengan kekuatan sumberdaya yang ada dengan kekuatan sumber daya yang dimilikinya, perusahan-perusahan besar dan ternama ini mampu membentuk opini publik yang mengesankan seolah-olah mereka telah melaksanakan CSR, padahal yang dilakukanya hanya sematamata hanya aktivitas filantropis, bahkan boleh jadi dilakukan untuk menutupi perilaku-perilaku yang tidak etis serta perbuatan melanggar hukum.20 Diidentikkannya CSR dengan perusahaan besar dan ternama membawa implikasi lain. Bila perusahaan besar dan ternama tersebut melakukan perbuatan yang tidak etis bahkan melanggar hukum, maka sorotan tajam publik akan mengarah kepada mereka. Namun bila yang melakukanya perusahaan kecil atau menengah yang kurang ternama, maka publik cenderung untuk kurang peduli, ataupun perhatian yang diberikan tidak sebesar bila yang melakukannya adalah perusahaan besar yang ternama.
18

Dikutip dari A.B. Susanto, Corporate Social Responsibility, The Jakarta Consulting Group, 2007, hal. 3

19 20

Margiono, Menuju Corporate Social Leadersip, Suara Pembaruan, 11 Mei 2006 Ari Margono, ibid.,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

68

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Padahal perilaku-perilaku yang tidak etis serta perubahan melanggar hukum yang dilakukan oleh siapapun tidak dapat diterima.21 Seberapa penting CSR bagi perusahaan tetap menjadi wacana dalam praktis bisnis, pro dan kontra ini tidak bisa dilepaskan dari fenomena perbenturan kepentingan antara pencapaian profit dengan pencapaian tujuan sosial. Perusahaan juga harus bertanggungjawab terhadap aktivitas-aktivitas untuk meminimalkan dampak negative dari sisa produk yang dihasilkan, penanganan limbah maupun sampah dari produk yang sudah terpakai, seperti kemasan, namun kesemuanya hanya dapat terlaksana secara efektif dan efisien bila didukung sistem manajemen yang baik, serta dilandasi oleh budaya perusahaan yang peduli terhadap lingkungan, dimana hal ini dapat dilakukan terutama pada perusahan-perusahaan besar. Karena itu salah satu cara untuk menyebarkan ide-ide hijau adalah dengan mendorong perusahan-perusahaan besar agar memaksa para pemasoknya atau sub kontraknya untuk lebih ramah terhadap lingkungan. Tekanan masyarakat agar perusahan lebih peduli kepada lingkungan merupakan kesempatan untuk memperkuat antara perusahaan dengan konsumen, bahkan dapat dijadikan keunggulan kompetitif. Konsumen yang semakin sadar terhadap isu lingkungan akan mencari produk yang bersahabat dengan lingkungan. Sebagai dampak ikutannya perusahaan akan mencari pemasok yang bisa memecahkan persoalan-persoalan lingkungan. Hubungan antar perusahaan pun akan berubah, karena sama-sama ditekan untuk menjadi hijau. Maka banyak perusahaan, terutama perusahaan besar, mulai cerewet terhadap perusahaan-perusahaan pemasoknya. Bagi perusahaan-perusahaan besar reputasi adalah aset terpenting perusahaan. Walaupun hanya belakangan ini istilah CSR dikenal, sesungguhnya aktivitas community outreach atau penjangkauan masyrakat sudah dilakukan oleh perusahaan sejak dahulu kala. Bentuk community outreach yang paling primitif adalah corporate philanthropy. Yang terakhir ini merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh perusahaan, atau seseorang, untuk memberikan dana kepada individu atau kelompok masyarakat, misalnya dalam bentuk beasiswa.22 Seiring waktu berlalu, Corporate philanthropy (CP) kemudian berkembang menjadi Corporate Social Responcibility (CSR). CSR berbeda dengan philanthropy dari dimensi keterlibatan si pemberi dana dalam aktivitas yang dilakukannya. Kegiatan CSR seringkali dilakukan sendiri oleh perusahaan, atau dengan melibatkan pihak ketiga (misalnya yayasan atau
21 22

Ari Margono,ibid., Dikutip dari Ari Margono, Menuju Corporate social Leadership, Suara Pembaharuan,11 Mei 2006

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

69

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

lembaga swadaya masyarakat) sebagai penyelenggara kegiatan tersebut. Yang jelas, melalui CSR perusahaan jauh lebih terlibat dan terhubung dengan pihak pertama (beneficiaries) dalam aktivitas sosial dibandingkan dengan CP. Aktivitas sosial yang dilakukan melalui CSR pun jauh lebih beragam.23 CP maupun CSR biasanya dilakukan oleh para miliyoner ataupun perusahaan multinasional yang memiliki pendapatan yang tinggi. Oleh karena itu. Banyak kegunaan dari usaha menengah dan kecil untuk melakukan CP dan CSR. Namun dalam praktiknya, CP maupun CSR sering dilakukan sebagai salah satu bagian dari promosi produk, atau yang sering disebut sebagai socialmarketing.24 Newmont Mining Corporation merupakan perusahaan penghasil emas terkemuka yang beroperasi di lima benua. Didirikan pada tahun 1921 di kota New York dan didaftarkan pada Bursa Saham New York (NYSE) sejak tahun 1925, Newmont juga terdaftar di Bursa Saham Australia dan Toronto, dengan domisili hukum di Denver, Colorado, Amerika Serikat. Sebagai perusahaan publik yang terdaftar di bursa saham terkemuka di dunia Newmont terikat pada standar profisiensi yang tinggi serta kepemimpinan di bidangbidang manajemen lingkungan dan social kemasyarakatan, Agar perubahan sosial yang bersifat negatif pada masa sekarang dan akan datang dapat ditekan seminimal mungkin. 1.2. Tujuan Tujuan dari studi adalah untuk melakukan Assasement Program CSR PT.NNT untuk masyarakat Lingkar Tambang di Kabupaten Sumbawa Barat. Selain itu juga akan menjadi bahan rujukan bagi Pemerintah Daerah dalam pembuatan perjanjian kerjasama daerah. 1.3. Ruang Lingkup, manfaat kajian. Ruang lingkup pekerjaan yang akan ditangani pada pekerjaan penyusunan Kajian (Assesment Program CSR PT.NNT untuk Daerah Lingkar Tambang) ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Pengumpulan informasi mengenai data yang telah ada Analisa dan Evaluasi Draft Rekomendasi Konfirmasi dan Klarifikasi Laporan yang meliputi kegiatan kerjasama daerah dan peraturanperaturan kerjasama daerah
23 24

Ari Margono, ibid., Ari MArgono, ibid.,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

70

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

1.3.1. Manfaat Dengan disusunnya Kajian ( Assasement Program CSR PT.NNT Untuk Daerah Lingkar Tambang di Kabupaten Sumbawa barat) diharapkan dapat bermanfaat untuk : a. Bagi Pemerintah Daerah, kajian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan khususnya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa Barat sebagai salah satu sumber hukum dalam pembuatan perjanjian kerjasama daerah. b. Secara operasional memberikan kontribusi praktis atau bahan masukan bagi para perumus dan pelaksana kebijakan pembangunan ditingkat daerah. c. Sebagai dokumentasi perencanaan makro pemerintah daerah. d. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi khususnya bagi kalangan akademik, pihak swasta, dan masyarakat. e. Bagi peneliti sendiri merupakan pengalaman yang berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan, pengembangan diri, serta menumbuhkan kepedulian mengenai permasalahan-permasalahan yanag berkaitan dengan program CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan dalam membantu pemerintah daerah untuk melaksanakan pengentasan kemiskinan di daerah. 1.4. Sistematika Penulisan dan penyusunan laporan 1. Metode Penyusunan Kajian ini diawali dengan melakukan penelitian dan pengumpulanpengumpulan data data masalah kerjasama daerah. Analisa proses dan hasil penelitian dilakukan secara terbuka dan partisipatif melalui pelibatan para pihak yang berkepentingan dalam penyusunan Kajian (Assesment Program CSR PT.NNT untuk Daerah Lingkar Tambang). 2. Sistematika Penulisan Sistematika Penulisan Penyusunan Kajian (Assesment Program CSR PT.NNT untuk Daerah Lingkar Tambang) adalah sebagai berikut : Cover Daftar Isi Kata Pengantar

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

71

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan 1.3. Ruang Lingkup dan Sumber Dana 1.4. Sistematika Penulisan

BAB I

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA Daerah Lingkar Tambang)

1.1. Hasil Kajian (Assesment Program CSR PT.NNT untuk 1.2. Landasan Teori BAB III METODOLOGI 1.1. Desaign Penelitian 1.2. Lokasi dan Subyek Penelitian 1.3. Metode Pengumpulan Data 1.4 Metode Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1. Hasil Penelitian 1.2. Pembahasan BAB V PENUTUP 1.1. Kesimpulan 1.2. Rekomendasi Daftar Pustaka Lampiran-lampiran 3. Teknik Penulisan Tulisan dibuat dengan menggunakan ketikan font 11 karakter huruf tahoma, dengan jarak pengetikan 1 spasi dalam setiap paragraf. Ukuran dibuat dengan kertas A4 dengan berat 80 gram, dengan ketentuan sisi kanan 4,0 cm, sisi kiri 2,5 cm, sisi atas 2,5 cm dan sisi bawah 2,5 cm. 4. Model Penulisan Laporan Laporan dibuat dalam model tulisan ilmiah dengan menggunakan bahasa indonesia yang ilmiah dan sistematik dan diharapkan dapat

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

72

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dipahami secara makro oleh pemangku kepentingan dan Penyusunan Rencana Induk Teknologi Informasi Kabupaten Sumbawa Barat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasil Kajian (Assesment Program CSR PT.NNT untuk Daerah Lingkar Tambang) 2.1.1. Pengertian Corporate Sosial Responsibility (CSR) dalam praktek Menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) in Fox, et al (2002), definisi Corporate social responsibility atau tanggung jawab perusahaan secara sosial adalah komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut masyarakat setempat (lokal) dan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan. Corporate social responsibility merupakan proses penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan dan keuntungan kegiatan bisnis dari stakeholders baik secara internal (pekerja, shareholders dan penanam modal) maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota masyarakat, kelompok masyarakat sipil dan perusahaan lain). Dengan demikian, tanggung jawab perusahaan secara sosial tidak hanya terbatas pada konsep pemberian donor saja, tapi konsepnya sangat luas dan tidak bersifat statis dan pasif, hanya dikeluarkan dari perusahaan, akan tetapi hak dan kewajiban yang dimiliki bersama antar stakeholders.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

73

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Konsep corporate social responsibility melibatkan tanggung jawab kemitraan antara pemerintah, lembaga sumberdaya masyarakat, juga masyarakat setempat (lokal). Kemitraan ini, seperti telah disebutkan pada paragraf sebelumnya, tidaklah bersifat pasif dan statis. Kemitraan ini merupakan tanggung jawab bersama secara sosial antar stakeholders. Konsep kedermawanan perusahaan (corporate philanthropy) dalam tanggung jawab sosial tidak lagi memadai, karena itu konsep tersebut tidak melibatkan kemitraan tanggung jawab perusahaan secara sosial dengan stakeholders lainnya. Konsep penanaman modal perusahaan secara sosial lebih arif terdengar dan menyiratkan tanggung jawab sosial tanpa paksaan bagi perusahaan, sebagai hak dan kewajiban yang patut dilaksanakan untuk keberlanjutan perusahaan khususnya dan pembangunan stakeholder umumnya. Hubungan corporate dengan stakeholder tidak lagi bersifat pengelolaan tapi sekaligus melakukan kolaborasi, yang dilakukan secara terpadu dan berfokus pada pembangunan kemitraan. Kemitraan ini tidak lagi bersifat penyangga organisasi, tapi menciptakan kesempatankesempatan dan keuntungan bersama, untuk tujuan jangka panjang dan pembangunan berkelanjutan sesuai dengan tujuan, misi, nilai-nilai dan strategi-strategi tanggung jawab perusahaan secara sosial. Berikut di bawah ini digambarkan model kerjasama stakeholders:

INVESTOR PEMERINTAH
KELOMPOK POLITIK

SUPPLIESS

FIRM

CUSTOMERS

ASOSIASI PERDAGANGAN

PARA PEKERJA

MASYARAKAT

Gambar 1. Model kerjasama antar stakeholders Dari gambar di atas menunjukan kemitraan antar stakeholders sesuai dengan definisi tanggung jawab perusahaan secara sosial di atas, dimana tanggung jawab sosial yang mulanya diberikan oleh perusahaan pada

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

74

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

kesejahteraan stakeholders lain pada akhirnya mengumpan balik pada corporate kembali. Kemitraan ini menciptakan pembagian keuntungan bersama, dan tidak menciptakan persaingan negatif yang berpengaruh pada keberlanjutan perusahaan tersebut. Perusahaan merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat moderen, karena perusahaan merupakan salah satu pusat kegiatan manusia guna memenuhi kehidupannya. Selain itu, perusahaan juga sebagai salah satu sumber pendapatan negara melalui pajak dan wadah tenaga kerja. Menurut Dwi Tuti Muryati, perusahaan merupakan lembaga yang secara sadar didirikan untuk melakukan kegiatan yang terus-menerus untuk mendayagunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga menjadi barang dan jasa yang bermanfaat secara ekomonis.25 Menurut Sri Rejeki Hartono, aktifitas menjalankan perusahaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dalam pengertian yang tidak terputus-putus, kegiatan tersebut dlakukan secara terang-terangan dalam pengertian sah/legal, dan dalam rangka untuk memperoleh keuntungan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.26 Menurut Mentri Kehakiman Nederland (Minister van Justitie Nederland) dalam memori jawaban kepada parlemen menafsirkan pengertian perusahaan sebagai berikut: Barulah dapat dikatakan adanya perusahaan apabila pihak yang Dengan Kebijakan Lingkungan Hidup, Jurnal Law Reform, Pembaharuan Hukum, volume 3/No. 1 Februari 2007, Program Megister Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, hal.30 berkepentingan bertindak secara tidak terputus-putus, terang-terangan, serta di dalam kedudukan tertentu untuk memperoleh laba bagi dirinya sendiri 27 Menurut Molengraaf pengertian perusahaan sebagai berikut:28 Barulah dapat dikatakan adanya perusahaan bila secara terus-menerus bertindak keluar untuk memperoleh penghasilan dengan mempergunakan atau menyerahkan barang-barang atau mengadakan perjanjian perdagangan. Sementara Polak menambahkan pengertian perusahaan sebagai berikut:29 Suatu perusahaan mempunyai keharusan melakukan pembukuan. Secara jelas pengertian perusahaan ini dijumpai dalam pasal

25 26 27

Dikutip dari Dwi Tuti Mulyati , Tanggungjawab Sosial Perusahaan Dalam Kaitanya Sri Rejeki Hartono, Hukum Ekonomi Indonesia, BayuMedia, 2007, Malang, hal. 15. Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis, Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, PT. Raja Grafindo

Persada, Jakarta, hal.33.


28 29

Ibid,hal.34 Ibid

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

75

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan yang dinyatakan sebagai berikut:30 Perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terusmenerus, didirikan, bekerja,serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia dengan tujuan memperoleh keuntungan /laba. Dari pengertian-pengertian diatas, ada dua unsur pokok yang terkandung dalam suatu perusahaan, yaitu:31 1. Bentuk badan usaha yang menjalankan setiap jenis usaha baik berupa suatu persekutuan atau badan usaha yang didirikan, bekerja dan berkedudukan di Indonesia. 2. Jenis usaha yang berupa kegiatan dalam bidang bisnis, yang dijalan secara terus-menerus untuk mencari keuntungan. Dengan demikian suatu perusahaan harus mempunyai unsur-unsur di antaranya: a. Terus-menerus atau tidak terputus-putus; b. Secara terang-terangan (karena berhubungan dengan pihak ketiga); c. Dalam kualitas tertentu (karena dalam lapangan perniagaan); d. Mengadakan perjanjian perdagangan; e. Harus bermaksud memperoleh laba; Unsur-unsur perusahan sebagaimana dikemukakan diatas, dapat dirumuskan bahwa suatu perusahaan adalah setiap badan usaha yang menjalankan kegiatan dalam bidang perekonoimian secara terus-menerus, bersifat tetap, dan terang-terangan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba yang dibuktikan dengan pembukuan. Hubungan ideal antara bisnis dengan masyarakat menjadi suatu masalah perdebatan (a matter of debate). Tanggungjawab sosial merupakan suatu ide bahwa bisnis memiliki tanggungjawab tertentu kepada masyarakat selain mencari keuntungan (the persuit of profits). Baru-baru ini istilah Corporate Social Responsibility (CSR) mencakup pengertian yang lebih luas, menuju Social Responcibility dan Social Leadership. Social Responcibility (CSR) didefinisikan sebagai berikut:32 1. Social Responcibility is seriously considering the impact of the companys actions on society
30 31 32

Lihat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan. Zaeni Asyhadie, Op.cit.,hal.34 Dikutip dari Amin Widjaja Tunggal, Corporate Social Responcibility, Harvindo,Jakarta, 2008, hal. 30

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

76

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

2. the idea of social reaponsibility... ... ... ... ... ... ... .reguares the individual to consider his (or her) responsible for the effects of his (or his) acts anywhare is that system. Tanggungjawab sosial dapat pula diartikan sebagai berikut;33 merupakan kewajiban perusahaan untuk merumuskan kebijakan, mengambil keputusan, dan melaksanakan tindakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Pada pengertian yang lainnya Social Responcibility atau tanggungjawab sosial diartikan sebagai berikut:34 merupakan pembagunan kontribusi menyeluruh dengan dari dunia usaha terhadap dampak berkelanjutan, mempertimbangkan

ekonomi, sosial, dan lingkungan dari kegiataanya.

Community Developmen

Corporate Social Responsibi lity

Corporate Social Leadership

Relationship with community

Sosial License to Operation

Mutual Patnership Sustainable

Gambar 2. Skema tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya Penerapan CSR saat ini berkembang pesat, termasuk di Indonesia. CSR kini dianggap sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing serta sebagai bagian dari pengelolaan resiko menuju sustainability dari kegiatan usaha. CSR di Indonesia baru dimulai pada awal tahun 2000. Namun, kegiatan yang esensi dasarnya sama telah berjalan sejak tahun 1970-an dengan tingkat yang bervariasi, mulai dari bentuk yang sederhana seperti donasi sampai pada bentuk yang komperensif seperti membangun sekolah. Mengingat CSR bersifat intagible (kasat mata), maka sulit dilakukan pengukuran tingkat keberhasilan yang telah dicapai. Oleh karena itu, diperlukan berbagai pendekatan kuantitatif dengan menggunakan triple bottom line atau lebih dikenal secara sustainability-reporting. Dari sisi

33 34

Iibid., hal 61 Proper alat Ukur CSR, Dikutip dari CSR Review, Majalah Bulanan Vol.1 No. 1,Januari 2007, Jakarta.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

77

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

ekonomi, penggunaan sumber daya alam dihitung dengan akutansi sumber daya alam, sedangkan pengeluaran dan penghematan biaya lingkungan dapat dihitung dengan menggunakan akutansi lingkungan. Salah satu alat ukur yang dipakai disebut PROPER. Inilah awal dari pengukuran penerapan CSR dari aspek sosial dan lingkungan-sustainability-reporting. Pembangunan adalah apabila dapat memenuhi kebutuhan saat ini. Dengan mengusahakan berkelanjutan pemenuhan kebutuhan bagi hubungan antar generasi, artinya untuk memberikan kesempatan kepada generasi selanjutnya,. Hal ini mengisyaratkan adanya suatu ahli teknologi bagi hubungan antar generasi, artinya untuk memberi kesempatan kepada generasi selanjutnya dalam memenuhi kebutuhannya. Penerapan pembangunan seperti itu harus didukung oleh aspek sosial-sustainability, yang berhubungan dengan lingkungan. Hal ini harus disosialisasikan oleh para pelaksana pembangunan di Indonesia dan harus diterapkan kepada setiap manusia pelaksana kegiatan pembangunan tersebut. Socialsustansibility itu terdiri dari tiga aspek yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Untuk pelaksanaannya adalah humansustainability yaitu peningkatan kualitas manusia secara etika seperti pendidikan, kesehatan, rasa empati, saling menghargai dan kenyamanan yang terangkum dalam tiga kapasitas yaitu spiritual, emosional, dan intelektual. Pembangunan dibidang ekonomi, lingkungan dan sosial dapat dilakukan oleh korporasi yang mempunyai kebudayaan perusahaan sebagai suatu bentuk tanggungjawab social perusahaan (corporate social responcibility). Corporate Social Responsibility dapat dipahami sebagai komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersama dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan komunitas secara lebih luas. Secara umum, Corporate Social Responsibility merupakan peningkatan kualitas kehidupan mempunyai arti adanya kemamupuan manusia sebagai individu anggota komunitas untuk dapat menggapi keadaan social yang ada dan dapat menikmati serta memanfatkan lingkungan hidup termasuk perubahan-perubahan yang ada sekaligus memelihara, atau dengan kata lain merupakan cara perusahaan mengatur proses usaha untuk memproduksi dampak positif pada suatu komunitas, atau merupakan suatu proses yang penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan dan keuntungan kegiatan bisnis dari stakeholders baik secara internal (pekerja, shareholders, dan penanaman modal) maupun eksternal

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

78

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

kelembagaan pengaturan umum,angota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain). Jadi, tanggungjawab perusahaan secara sosial tidak hanya terbatas pada konsep pemberian donor saja, tetapi konsepnya sangat luas dan tidak bersifat statis dan pasif, program hanya dikeluarkan dari perusahaan akan tetapi hak dan kwajiban yang dimiliki bersama antara stakeholders. Konsep Corporate Social Responsibility melibatkan tanggungjawab kemitraan antara pemerintah, lembaga, sumberdaya komunitas, juga komunitas lokal (setempat). Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif atau statis. Kemitaraan ini merupakan tanggungjawab bersama secara sosial antara stakeholders. Konsep kedermawanan perusahaan (corporate philantrophy) dalam tanggungjawab sosial tidaklah lagi memadai karena konsep tersebut tidaklah melibatkan kemitraan tanggungjawab perusahaan secara social dengan stakeholders lainnya. Tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) pada dasarnya juga terkait dengan budaya perusahaan (corporate culture) yang ada dipengaruhi oleh etika perusahaan yang bersangkutan. Budaya perusahaan terbentuk dari para individu sebagai anggota perusahaan yang bersangkutan dan biasanya dibentuk oleh system dalam perusahaan. Sistem perusahaan khususnya alur dominasi para pemimpin memegang peranan penting dalam pembentukan budaya perusahaan, pemimpin perusahaan dengan motifasi yang kuat dalam etikanya yang mengarah pada kemanusiaan akan dapat memberikan nuansa budaya perusahaan secara keseluruhan. Seiring waktu berlalu, corporate philanthropy (CP) kemudian berkembang menjadi corporate social responsibility (CSR). CSR berbeda dengan philantropy dari dimensi ketrelibatan si pemberi dana dalam aktifitas yang dilakukannya. Kegiatan CSR seringkali dilakukan sendiri oleh perusahaan, atau dengan melibatkan pihak ketiga (misalnya yayasan atau lembaga swadaya masyarakat) sebagai penyelenggara kegiatan tersebut. Yang jelas, melalui CSR perusahaan jauh lebih terlibat dan terhubung dengan pihak penerima (beneficiaries) dalam aktivitas sosial dibandingkan dengan CP. Aktivitas sosial yang dilakukan melalui CSR pun jauh lebih beragam. Hills dan Gibbon (2002) berpendapat bahwa perusahaan harus bergeser dari pemahaman CP dan CSR menuju corporate soscial leadership (CSL), atau kepemimpinan social perusahaan. CSL menaungi sebuah jalan menuju solusi win-win antara masyarakat dan perusahaan dalam sebuah bentuk partnership.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

79

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

CSL menuntut perubahan cara pandang pelaku bisnis diminta untuk memandang aktivitas usaha yang mereka lakukan sebagai bagian dari eksistensi mereka ditengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, dalam CSL perusahaan tidak lagi hanya sekedar melakuka tanggungjawab (doing the right thing) tetapi juga menjadi pemimpin dalam perubahan sosial yang tengah berlangsung (making things right). Pergeseran paradigma dalam hubungan antara sektor privat (perusahaan) dan sektor publik (masyarakat) ini tentunya memberikan peluang yang tersendiri untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah global yang simpul-simpulnya dapat diperhatikan didalam delapan poin Milinium Development Global (MDG). Ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh sebuah aktivitas CSL perusahaan. Pertama, komitmen dan perubahan paradigma. Perusahaan harus menyadari bahwa entitas bisnis adalah juga merupakan bagian integral dari komunitas global. Ada aspek moral universal yang menaungi baik individu, masyarakat pemerintah, maupun kalangan bisnis dalam berperilaku di dunia ini. Bahwa pada kenyataanya mereka tidak boleh saling merugikan satu dengan yang lainnya adalah sebuah kenyataan moral yang tidak dapat disangkal. Kedua, dalam merancang aktivitas CSL perusahaan harus memperhatikan beberapa hal esensial yang sering kali tidak diperhatikan dalam CP maupun CSR: program-program sosial yang disusun harus beriringan dengan bidang usaha yang bersangkutan. Misalnya, perusahaan jasa komunikasi tidakdiajukan untuk mengembangkan aktivitas sosial yang jauh dari core business yang bersangkutan. Dengan mengembangkan aktivitas yang beriringan dengan bidang usaha yang bersangkutan, perusahaan tidak perlu secara khusus mengalokasikan dana yang besar, seperti halnya pada aktivitas CP dan CSR. Perusahaan cukup menggerakan resourses yang ada dan yang tengah berjalan. Hal ini membuka peluang bagi usaha menengah dan kecil untuk juga secara aktif menyelenggarakan program-program CSL. Ketiga, dampak positif yang dibawa oleh aktivitas CSL harus selalu bersifat berkelanjutan (sustainabel). Maksudnya adalah bahwa aktivitas CSL harus selalu dirancang untuk mendorong kemandirian dan keberdayaan masyarakat (community outreach). Oleh karena itu, program CSL harus terukur dan berada dalam kerangka waktu tertentu. Ini untuk menjamin dampak positif dari kegiatan community outreach yang dilakukan dapat terus terasa di tengahtengah masyarakat sekalipun perusahaan sudah tidak lagi secara aktif terlibat di komunitas yang bersangkutan. Pendukung konsep tanggungjawab sosial

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

80

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

(social responsibility) memberi argumentasi bahwa suatu perusahaan mempunyai kewajiaban terhadap masyarakat selain mencari keuntungan. Ada berapa definisi tentang definisi CSR, yang pada dasarnya adalah etika dan tindakan untuk turut berperan dalam keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan perusahaan. Hopkin (1998) memberikan definisi CSR sebagai etika memperlakukan stakeholders dan bumi. The Conadin Business for Social Responsibility-CSR (2001).35 The European Commission menebutkan CSR adalah konsep perusahaan yang mengintergrasikan kepedulian sosial dan lingkungan ke dalam oprasi bisnis serta interaksinya dengan stakeholders secara suka rela (Fenwick, T, 2004)36 Menurut WBCD (2005), CSR adalah komitmen perusahaan yang berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan pekerja dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas guna meningkatkan kualitas hidupnya. Departemen Sosial (2005) mendefinisikan CSR sebagai komitmen dan kemampuan dunia usaha untuk melaksanakan kewajiban sosial terhadap lingkungan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keseimbangan hidup ekosistem disekelilingnya. Definisi dari Corporate Social Responcibility (CSR) itu sendiri telah dikemukakan oleh banyak pakar. Diantaranya adalah definisi yang dikembangkan oleh Magnan & Ferrel (2004) yang mendefinisikan CSR sebagai A business acts in socially responsible manner when its decisionand account for and balance diverse stake holder interest 37 Pada hakekatnya setiap orang, kelompok dan organisasi mempunyai tanggungjawab sosial (social responcibility) pada lingkungannya. Tanggungjawab sosial seorang atau organisasi adalah etika dan kemampuan berbuat baik pada lingkungan sosial hidup berdasarkan aturan, nilai dan kebutuhan masyarakat. Berbuat baik atau kebajikan merupakan bagian dari kehidupan sosial. Dan segi kecerdasan, berbuat kebajikan adalah salah satu unsur kecerdasan spiritual.38 Sementara dalam konteks perusahaan, tanggungjawab sosial itu disebut tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social ResponcibilityCSR). Howard Rothmann Bowen menggagas istilah CSR pada tahun 1953 dalam tulisanya berjudul

HAM Hardiansyah, CSR dan Modal Sosial Untuk Membangun Sinergi, Kemitraan Bagi Upaya Pengentasan Kemiskinan, Makalah disampaikan pada Seminar & Talk Show CSR 2007 Kalimantan 2015: Menuju Pembangunan Berkelanjutan, Tantangan, dan Harapan, Jumat, 10 Agustus 2007 36 HAM Hardiansyah, ibid. 37 A B. Susanto,Ibid, hal.21 38 A.B. Susanto, Corporate Greening, Majalah Ozon, Edisi No.2 Oktober 2002

35

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

81

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Social Responcibility of the Businesman. CSR berakar dari etika yang berlaku di perusahaan dan di masyarakat. Etika yang dianut oleh perusahaan merupkan bagian dari budaya perusahaan (corporate culture); dan etika yang dianut oleh masyarakat merupakan bagian dari budaya masyarakat.39 Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) itu sendiri telah dikemukakan oleh banyak pakar. Diantaranya adalah definisi yang dikemukakan oleh Magnan dan Ferrel yang mendefinisikan CSR sebagai Abusiness acts in socially responsible manner when its decision and accaund for and balance diverse stake holder interest.40 Definisi ini menekankan kepada perlunya memberikan perintah secara seimbang terhadap kepentingan berbagai stakeholders yang beragam dalam setiap keputusan dan tindakan yang ambil oleh para pelaku bisnis melalui perilaku yang secara social bertanggungjawab. Sedangkan komisi eropa membuat definisi yang lebih praktis, yang pada galibnya bagaimana perusahaan secara sukarela member kontribusi bagi terbentuknya masyarakat yang lebih baik dan lingkungan yang bahwa lebih bersih. Sedangkan Elkington yang (1997) mengemukakan sebuah perusahhan menunjukan

tanggungjawab sosialnya akan memberikan perhatian kepada peningkatan kualitas perusahaan (profit); masyarakat, khususnya sekitar (people); serta lingkungan hidup (planet bumi).41 Dalam UU PM, yang digunakan sebagai rujukan pewajiban CSR dalam UU PT, di dijelaskan, CSR didefinisikan sebagai tanggungjawab yang melekat pada setiap perusahaan untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Dalam dokumen kerja Tim Perumus terdapat definisi Tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Definisi ini telah disetujui Tim Perumus pada tanggal 3 Juli 2007. Ada banyak masalah dalam definisi yang tertera dalam dokumen kerja UU PT. Pertama, penyebutan tanggung jawab sosial dan lingkungan tidaklah lazim. Penjelasan yang sangat komprehensif paling mutakhir tentang definisi misalnya diberikan
HAM Hardiansyah, CSR dan Model Sosial Untuk membangun Sinergi Kemitraan Bagi Upaya Pengentasan Kemiskinan, Makalah disam[paikan pada Seminar & TalkShow CSR 2007Kalimantan 2015:Menuju Pembangunan Berkelanjutan, Tantangan, dan Harapan Jumat, 10 Agustus 2007. 40 Ibid 41 Ibid
39

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

82

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

oleh Michael Hopkins (2007) dalam Corporate Social Responsibility and International Development.42 Di situ dijelaskan bahwa kata social di tengah CSR memang kerap menyasarkan orang pada sangkaan bahwa CSR hanya berisikan kegiatan pada ranah sosial. Namun demikian, menghilangkan kata tersebut juga problematic karena tidak memberikan penekanan terhadap sebuah bentuk tanggung jawab baru yang sebelumnya tidak/kurang begitu dikenal (kalau tadinya hanya ada tanggung jawab pada ranah ekonomi terhadap pemilik modalmaksimalisasi keuntungan kini tanggungjawab itu disadari menjadi dalam tiga ranah: ekonomi, sosial dan lingkungan. Pada ranah ekonomi juga ditekankan bahwa yang harus menikmati bukan saja pemilik modal, melainkan juga pemangku kepentingan lainnya). Ia juga menekankan bahwa social dalam CSR memang sah dan lazim untuk mewakili tiga ranah tersebut dengan mencontohkan banyak kejadian serupa (misalnya di dunia akademik). CSR sudah jelas mencakup tiga ranahbukan dua, seperti dalam penyebutan UU PTdan karenanya kerap disandingkan dengan konsep triple bottom line.43 2.1.2. Wacana CSR dari Berbagai Perspektif Perkembangan wacana dan praktik CSR di Indonesia memang sangat menggembirakan. Dari sebuah konsep asing, CSR kini menjadi konsep yang banyak sekali diperbincangkan, diperdebatkan dan digunakan untuk melabel banyak aktivitas. Tentu saja, hal tersebut sangat patut disukuri. Hanya saja, karena tidak cukup banyak pihak yang menekuni wacana CSR sebagaimana yang termuat dalam berbagai literatur di negara-negara maju, maka banyak kesalahan umum yang kerap ditemui kalau kita benar-benar memperhatikan bagaimana kini CSR digunakan. Kesalahan umum yang kerap ditemui tersebut adalah :44 1. CD adalah CSR. Kesalahan paling umum dijumpai mungkin adalah menyamakan CD (community development atau pengembangan masyarakat) dengan CSR. Pengembangan masyarakat sebetulnya adalah upaya sistematis untuk meningkatkan kekuatan kelompok-kelompok masyarakat yang
42

Hopkins, M. 2007. Corporate Social Responsibility and International Development. Is Business the Solution? Earthscan, hlm.22.

Elkington, J. 1997. Cannibals with Forks: The Triple Bottom Line of 21st Century Business. Thompson. London., hlm.66
44

43

http//www.csrindonesia.com

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

83

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

kurang beruntung (disadvantaged groups) agar menjadi lebih dekat kepada kemandirian. Jadi, CD sangatlah menyasar kelompok masyarakat yang spesifik, yaitu mereka yang mengalami masalah Perusahaan jelas punya kepentingan besar untuk melakukan CD, karena kelompok ini adalah yang paling rentan terhadap dampak negative operasi, sekaligus paling jauh aksesnya dari dampak positifnya. Kalau tidak secara khusus perusahaan membuat kelompok ini menjadi sasaran, maka ketimpangan akan semakin terjadi dan disharmoni hubungan pasti akan terjadi suatu saat. Hanya saja, menyamakan CD dengan CSR adalah kesalahan besar. CD hanyalah bagian kecil dari CSR. CSR punya cakupan yang sangat luas, yaitu terhadap seluruh pemangku kepentingan. Bandingkan dengan CD yang menyasar kelompok kepentingan sangat spesifik, yaitu kelompok masyarakat rentan. Di masyarakat sendiri, ada berbagai pemangku kepentingan di luar mereka yang rentan, belum lagi organisasi masyarakat sipil, kelompok bisnis maupun lembaga-lembaga pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa CD adalah bagian dari CSR, dan boleh jadi salah satu yang sangat penting mengingat di Indonesia kelompok masyarakat rentan jumlahnya masih sangat besar. Mereka benar-benar membutuhkan perhatian perusahaan. 2. Amal sama dengan CSR. Menyamakan tindakan karitatif/amal dengan CSR juga kini banyak dilakukan oleh Perusahaan. Banjir besar yang baru saja melanda Jakarta atau kejadian-kejadian bencana alam telah membuat iklan mengenai CSR menjamur di media massa. Padahal, yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan itu adalah tindakan karitatif belaka, yaitu membantu pihak lain agar penderitaan mereka berkurang. Tidak ada yang salah dengan tindakan mulia tersebut, namun menyamakannya dengan CSR tentu saja salah. Nama generik untuk tindakan membantu sesama manusia adalah filantropi, yang kerap juga dilakukan oleh perusahaan. Pada kondisi yang lebih maju, yaitu dengan pertimbangan kegunaan optimum dan dampak terbesar terhadap reputasi perusahaan pemberi, tindakan filantropi itu diberi nama filantropi strategis. Melihat sejarahnya, tindakan social perusahaan banyak dimulai dari filantropi, kemudian menjadi filantropi strategis, baru kemudian CSR. Tentu saja, banyak juga percabangan lain yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

84

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

tidak mengikuti alur tersebut. Yang mau ditegaskan adalah bahwa tindakan karitatif merupakan bentuk primitif dari tindakan social perusahaan yang hingga kini masih pentingdan akan terus penting dilakukan, namun kini sudah dianggap tidak lagi mencukupi. Ini berhubungan dengan pembangunan berkelanjutan, yang akan dibahas berikut ini. a. CSR harus menonjolkan aspek sosial. Banyak perusahaan juga pengamat yang menekankan CSR pada aspek sosial semata. Mereka mengira bahwa karena S yang berada di tengah C dan R merupakan singkatan dari social, maka aspek sosial di dalam CSR haruslah yang paling menonjol, kalau bukan satu-satunya. Padahal, sebagian besar literatur mengenai CSR sekarang sudah bersepakat bahwa CSR mencakup aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Ini terutama terjadi setelah pembangunan berkelanjutan menjadi arus utama berpikir walau hingga kini belum juga jadi arus utama bertindak. Pembangunan berkelanjutan yang didefinisikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya secara sangat tegas menyatakan pentingnya keseimbangan dalam tiga aspek tersebut. b. Organisasi CSR cuma tempelan. Banyak perusahaan yang mula-mula mengadopsi CSR merasa punya kebutuhan untuk membuat struktur baru, yang diberi nama-nama yang berhubungan dengan CSR. Pembuatan organisasi yang khusus sesungguhnya merupakan hal yang sangat menggembirakan, karena itu merupakan bukti komitmen perusahaan untuk menyediakan organisasi khusus, relatif independen dengan sumberdaya manusia yang bekerja secara fokus. Tentu saja, komitmen seperti itu patut diacungi jempol Namun yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah benar bahwa CSR itu bisa dilaksanakan oleh bagian itu saja, sementara yang lain bias berpangku tangan. c. CSR hanya untuk perusahaan besar. Banyak keengganan perusahaanatau dalih saja dari mereka yang tak peduliuntuk mengadopsi CSR karena anggapan bahwa CSR adalah untuk perusahaan berskala besar saja. Hal ini boleh

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

85

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

jadi merupakan kesalahan besar dari mereka yang membiarkan C di depan SR tetap sebagai singkatan dari corporate. Sebagaimana yang banyak diketahui, corporate juga corporation berarti perusahaan besar. Sementara istilah generik untuk entitas bisnis yang mencari keuntungantanpa memerhatikan ukuranadalah company. Karenanya, akibat digunakannya prihatin dengan ketidak tertarikan social, Edward Freeman dan perusahaan skala sedang dan kecil pada CSRserta kerancuan Ramakhrisna Velamuri mengusulkan agar CSR diartikan sebagai company stakeholder responsibility. Dengan demikian, CSR berarti tanggung jawab perusahaan (apapun ukurannya) terhadap (seluruh) pemangku kepentingan mereka. d. Memisahkan CSR dari bisnis inti perusahaan. Banyak sekali perusahaan yang membuat berbagai program CSR dengan curahan sumberdaya yang sangat besar, namun hingga sekarang belum banyak perusahaan yang membuat programprogram yang berkaitan dengan bisnis intinya. Tidak mengherankan kalau kebanyakan program CSR kebanyakan dikotak-kotakkan ke dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, sarana fisik, dsb sementara dampak perusahaan itu sendiri tidaklah diurus secara memadai. e. CSR untuk diri sendiri, bukan sepanjang supply chain. Kalau sebuah perusahaan beroperasi dalam sebuah rantai produksi yang sangat panjang, apakah layak ia membatasi diri untuk melakukan CSR dalam lingkup perusahaannya saja? Pembatasan ini banyak sekali dilakukan oleh perusahaan. Kilahnya adalah bahwa mereka tidak berhak untuk mencampuri kinerja CSR perusahaan lain. Logika ini jelas tak dapat diterima, karena itu berarti bahwa produknya tidaklah bisa dibuktikan berasal dari seluruh operasi yang berkinerja CSR baik. f. Setelah sampai konsumen, tak ada lagi CSR. Dalam perkembangan awal, seluruh perusahaan membatasi CSRnya sampai di tangan salah satu pemangku kepentingan terpenting: konsumen. Belakangan, setelah sampai tangan konsumen, perusahaan yang bersungguh-sungguh ingin memberikan kepuasan kepada mereka manambahkan after sales service. Garansi produk adalah salah satu bentuk dari jasa itu.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

86

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Kalau konsumen mengajukan keberatan atas mutu produk sampai batas waktu tertentupada beberapa kasus ada life time guaranteemaka konsumen berhak atas pengembalian, perbaikan atau penggantian. g. CSR cuma tambahan biaya belaka. Ketika perusahaan mulai mengadopsi CSR, tidak terelakkan adanya penambahan pengeluaran. Ini mungkin penyebab utama keengganan untuk mengadopsi CSR. Banyak pihak yang menyatakan tambahan pengeluaran itu sia-sia belaka, dan boleh jadi juga bahwa anggapan tersebut memiliki dukungan empiris. Penelitian-penelitian mengenai filantropi perusahaan banyak mendapatkan kenyataan bahwa pengeluaran perusahaan itu benar-benar tidak bias dilacak keuntungannya. h. CSR adalah pemolesan citra perusahaan. Ketika inisiatif CSR digulirkan, banyak organisasi gerakan social yang langsung skeptis dengannya. Menurut mereka, CSR hanya akan menjadi cara baru untuk memoles citra perusahaan. Kalau citra ramah lingkungan yang diinginkan perusahaanpadahal kinerja lingkungannya tidak setinggi pencitraan yang dilakukan hal itu disebuat sebagai greenwash. Belakangan juga muncul istilah bluewash untuk pemolesan citra sosial. Secara retoris, Craig Bennett dari Friends of The Earth International pernah menyatakan For every company that sincerely implements its CSR policies, there are hundreds who greenwash, and for each of these there are hundreds more who dont even bother with that. i. Menganggap bahwa CSR sepenuhnya voluntari atau sukarela. Apakah konsep tanggung jawab itu adalah sebuah konsep yang benar-benar bisa dilaksanakan dengan sukarela? Tampaknya menyatakan bertentangan. bahwa Yang tanggung benar, jawab itu sukarela jawab itu adalah wajib contradictio in terminis atau keduanya merupakan istilah yang tanggung dilaksanakan. Namun demikian, harus diakui bahwa di antara kubu pendirian bahwa CSR itu mandatori atau voluntari, kini lebih cenderung pada kemenangan kubu voluntari. Salah satu alasannya adalah bahwa perusahaan-perusahaan memang menginginkan kondisi yang demikian.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

87

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

j.

Mempraktikkan CSR dalam ranah eksternal saja. Banyak kejadian beberapa mulai tahun belakangan ini, ketika banyak perusahaan hendak menerapkan CSRnya

pekerjanya bertanya-tanya mengapa mereka merasa menjadi anak tiri. Memang, belakangan banyak sekali perusahaan tibatiba mencurahkan uang dalam jumlah yang besar, yang seakanakan memberi sinyal bahwa kondisi perusahaan sedang sangat membaik. Sayangnya curahan sumberdaya untuk pemangku kepentingan eksternal itu tidak dibarengi dengan curahan yang sama untuk pemangku kepentingan internalnya. 2.2. Landasan Teori Dari gambara diatas dapat dirumuskan landasan teori sebagai acuan untuk melakukan evaluasi guna perbaikan Program CSR yang dilakukan oleh perusahaan kedepannya yang sekaligus juga bisa menjadi bahan bagi pemerintah daerah untuk merumuskan program kerjasama antar daerah. 2.2.1. CSR Sebagai Kewajiban Perusahaan 1. Standarisasi Pelaksanaan CSR di Indonesia Pada tahun 2001, ISO-suatu lembaga internasional dalam perumusan standar atau pedoman, menggagaskan perlunya standar tanggungjawab sosial perusahaan (CSR standard). Setelah mengalami diskusi panjang selama hampir 4 tahun tentang gagasan ini, akhirnya Dewan managemen ISO menetapkan bahwa yang diperlukan adalah Standar Tanggungjawab Sosial atau Social Responcibility Standard (ISO, 2005). CSR merupakan salah satu bagian dari SR. Tidak hanya perusahaan yang perlu terpanggil melakukan SR tetapi semua organisasi, termasuk pemerintah dan LSM.45 Sejak januari 2005 dibentuk kelompok kerja ISO 26000 untuk merumuskan draf Standar SR. Definisi tanggungjawab SosialSocial Responsibility (SR), berdasarkan dokumen draf dokumen ISO 26000, adalah etika dan tindakan terkait tanggungjawab organisasi yang mempertimbangkan dampak aktivitas organisasi pada berbagai pihak dengan cara-cara yang konsisten dengan kebutuhan masyarakat. Social Responcibility (SR) merupakan kepedulian dan tindakan managemen organisasi pada masyarakat dan lingkungan, disamping harus mentaati aspel legal yang berlaku. ISO 26000
45

HAM Hardiansyah, ibid.,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

88

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

memberikan prinsip-prinsip dasar, isu-isu universal dan kerangka pikir yang menjadi landasan umum bagi penyelenggaraan SR oleh setiap organisasi, tanpa membedakan ukuran dan jenis organisasi. ISO 26000 tidak dimaksudkan untuk menjadi standar sistem managemen dan tidak untuk sertifikasi perusahaan. ISO 26000 juga tidak dimaksudkan untuk menggantikan konsensus internasional yang sudah ada, tetapi untuk melengkapi dan memperkuat berbagai konsensus internasional, misalnya tentang lingkungan, hak azazi manusia, pelindungan pekerja, MDGs, dan lain sebagainya. Prinsip Penyelenggaraan SR antara lain terkait dengan pembangungan berkelanjutan, penentuan dan pelipatan stakeholders; komunikasi kebijakan kinerja SR; penghargaan terhadap nilai-nilai universal, pengintegrasian SR dalam kegiatan normal organisasi. Oleh karena itu, ada tujuh isu utama dalam perumusan ISO 26000 yaitu 1) isu lingkungan, 2) isu hak asasi manusia, 3) isu praktek ketenaga-kerjaan, 4) isu pengelolaan organisasi, 5) isu praktik beroperasi yang adil, 6) isu hak dan perlindungan konsumen, dan 7) isu partisipasi masyarakat, Dokumen Final ISO 26000 dipublikasi pada awal tahun 2009. Diharapkan keberadaan ISO 26000 akan berdampak positif pada upaya percepatan penanggulangan masalah kemiskinan, masalah pangan dan gizi, masalah kesehatan, masalah pendidikan, dan masalah kesejahteraan sosial. Penerapan CSR di perusahaan akan menciptakan iklim saling percaya di dalamnya, yang akan menaikkan motivasi dan komitmen karyawan. Pihak konsumen, investor, pemasok, dan stakeholders yang lain juga telah terbukti lebih mendukung perusahaan yang dinilai bertanggung jawab sosial, sehingga meningkatkan peluang pasar dan keunggulan kompetitifnya. Dengan segala kelebihan itu, perusahaan yang menerapkan CSR akan menunjukkan kinerja yang lebih baik serta keuntungan dan pertumbuhan yang meningkat. Memang saat ini belum tersedia formula yang dapat memperlihatkan hubungan praktik CSR terhadap keuntungan perusahaan sehingga banyak kalangan dunia usaha yang bersikap skeptis dan menganggap CSR tidak memberi dampak atas prestasi usaha, karena mereka memandang bahwa CSR hanya merupakan komponen biaya yang mengurangi keuntungan. Praktek CSR akan berdampak positif jika dipandang sebagai investasi jangka panjang, karena dengan melakukan praktek CSR yang berkelanjutan, perusahaan akan mendapat tempat di hati dan ijin operasional dari masyarakat,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

89

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

bahkan

mampu

memberikan

kontribusi

bagi

pembangunan

berkelanjutan.46 Salah satu bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan yang sering diterapkan di Indonesia adalah community development. Perusahaan yang mengedepankan konsep ini akan lebih menekankan pembangunan sosial dan pembangunan kapasitas masyarakat sehingga akan menggali potensi masyarakat lokal yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan berkembang. Selain dapat menciptakan peluang-peluang sosialekonomi masyarakat, menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan, cara ini juga dapat membangun citra sebagai perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu, akan tumbuh rasa percaya dari masyarakat. Rasa memiliki perlahan-lahan muncul dari masyarakat sehingga masyarakat merasakan bahwa kehadiran perusahaan di daerah mereka akan berguna dan bermanfaat.47 Kepedulian kepada masyarakat sekitar komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibatnya terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.48 Setidaknya ada tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha harus merespon dan mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya. Pertama, perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Ketiga, kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial49 Program yang dilakukan oleh suatu

46 47 48 49

A.B. Susanto, CSR dalam Perspektif Ganda, Harian Bisnis Indonesia, 2 September 2007 Ibid A.B. Susanto, Membumikan Gerakan Hijau, Majalah Ozon, Edisi No.5 Februari 2003 Ibid

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

90

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

perusahaan dalam kaitannya dengan tanggung jawab sosial di Indonesia dapat digolongkan dalam tiga bentuk, yaitu:50 a. Public Relations Usaha untuk menanamkan persepsi positif kepada komunitas tentang kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. b. Strategi defensive Usaha yang dilakukan perusahaan guna menangkis anggapan negatif komunitas yang sudah tertanam terhadap kegiatan perusahaan, dan biasanya untuk melawan serangan negatif dari anggapan komunitas. Usaha CSR yang dilakukan adalah untuk merubah anggapan yang berkembang sebelumnya dengan menggantinya dengan yang baru yang bersifat positif. c. Kegiatan yang berasal dari visi perusahaan Melakukan program untuk kebutuhan komunitas sekitar perusahaan atau kegiatan perusahaan yang berbeda dari hasil dari perusahaan itu sendiri. Program pengembangan masyarakat di Indonesia dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu:51 a) Community menyangkut Relation Yaitu kegiatan-kegiatan kesepahaman yang melalui pengembangan

komunikasi dan informasi kepada para pihak yang terkait. Dalam kategori ini, program lebih cenderung mengarah pada bentuk-bentuk kedermawanan (charity) perusahaan. b) Community Services Merupakan pelayanan perusahaan untuk memenuhi kepentingan masyarakat atau kepentingan umum. Inti dari kategori ini adalah memberikan kebutuhan yang ada di masyarakat dan pemecahan masalah dilakukan oleh masyarakat sendiri sedangkan perusahaan hanyalah sebagai fasilitator dari pemecahan masalah tersebut. c) Community Empowering Adalah program-program yang berkaitan dengan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menunjang kemandiriannya, seperti pembentukan usaha industri kecil lainnya yang secara alami anggota masyarakat sudah mempunyai pranata pendukungnya dan perusahaan memberikan akses kepada pranata sosial yang ada tersebut agar dapat berlanjut. Dalam kategori ini, sasaran utama adalah kemandirian komunitas.
50 51

Himawan Wijanarko, Reputasi, Majalah Trust, 4-10 Juli 2005 Ibid

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

91

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Dari

sisi

masyarakat,

praktik

CSR

yang

baik

akan

meningkatkan nilai tambah adanya perusahaan di suatu daerah karena akan menyerap tenaga kerja, meningkatkan kualitas sosial di daerah tersebut. Sesungguhnya substansi keberadaan keberlanjutan CSR adalah dalam itu rangka sendiri memperkuat dengan jalan perusahaan

membangun kerja sama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya. Pada saat ini di Indonesia, praktek CSR belum menjadi perilaku yang umum, namun dalam abad informasi dan teknologi serta adanya desakan globalisasi, maka tuntutan terhadap perusahaan untuk menjalankan CSR semakin besar. Tidak menutup kemungkinan bahwa CSR menjadi kewajiban baru standar bisnis yang harus dipenuhi seperti layaknya standar ISO 26000 on Social Responsibility, sehingga tuntutan dunia usaha menjadi semakin jelas akan pentingnya program CSR dijalankan oleh perusahaan apabila menginginkan keberlanjutan dari perusahaan tersebut. CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan. Kedua hal tersebut akan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh para pesaing. Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan kriteriakriteria berbasis nilai-nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan CSR adalah suatu proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Dengan demikian akan tercipta satu ekosistem yang menguntungkan semua pihak (true win win situation) konsumen mendapatkan produk unggul yang ramah lingkungan, produsen pun mendapatkan profit yang sesuai yang pada akhirnya akan dikembalikan ke tangan masyarakat secara tidak langsung. Pelaksanaan CSR di Indonesia sangat tergantung pada pimpinan puncak korporasi. Artinya, kebijakan CSR tidak selalu dijamin selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika pimpinan perusahaan memiliki kesadaran moral yang tinggi, besar kemungkinan korporasi tersebut menerapkan kebijakan CSR yang benar. Sebaliknya, jika orientasi pimpinannya hanya berkiblat pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi) serta

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

92

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR hanya sekadar lipstick saja. Sifat CSR yang sukarela, absennya produk hukum yang menunjang dan lemahnya penegakan hukum telah menjadikan Indonesia sebagai Negara ideal bagi korporasi yang memang memperlakukan CSR sebagai kosmetik. Yang penting, Laporan Sosial Tahunannya tampil mengkilap, lengkap dengan tampilan foto aktivitas sosial serta dana program pembangunan komunitas yang telah direalisasi. Sekali lagi untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan program CSR, diperlukannya komitmen yang kuat, partisipasi aktif, serta ketulusan dari semua pihak yang peduli terhadap program-program CSR. Program CSR menjadi begitu penting karena kewajiban manusia untuk bertanggung jawab atas keutuhan kondisi-kondisi kehidupan umat manusia di masa datang. Perusahaan tersebut memiliki 6 konsep srategi pelaksanaan CSR yaitu environment, community empowerment, improving workplace, volunterism, stakeholders engagement dan transparency.52 Penerapan CSR dimulai pada tahun 1993 dimana pelaksanaan program CD dijalankan oleh Public Relations dengan kegiatan yang bersifat insidental dan kedermawanan. Pada 1999 July 2005 kegiatan CD lebih mengarah ke penguatan komunitas di bawah Departemen Community Development yang kemudian didirikan Community Development Foundation. Pada November 2005 CSR Department terbentuk dan pada tahun 2007 dibentuk Sustainability Director dan menandatangani The Global Compact untuk mendukung terwujudnya tujuan-tujuan Millenium Development Goals (MDGs). Perusahaan tersebut menyimpulkan bahwa melaksanakan bisnis di Indonesia memiliki tantangan yang besar terutama untuk perusahaan extractive. Bisnis bukan hanya dilaksanakan beyond compliance tapi harus juga melibatkan stakeholder (stakeholders engagement) . Perusahaan tersebut berkomitmen untuk menjalankan usaha dengan mengutamakan prinsip-prinsip sustainable management, Socio-economic contribution dan conservation and environmental responsibility. CSR sebagai core competency dilakukan sebagai sebuah nilai yang dilakukan oleh semua. Salah satu yang dilakukan perusahaan tersebut adalah melakukan collaborative effort dengan LSM sebagai usaha untuk mengelola konflik dan isu sosial serta ekonomi yang merupakan tiket untuk melakukan bisnis sehingga bisa menjanjikan bisnis yang berkelanjutan. Secara singkat CSR dapat diartikan sebagai
52

http//www.csrindonesia.com

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

93

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

tanggung jawab social perusahaan yang bersifat sukarela. CSR adalah konsep yang mendorong organisasi untuk memiliki tanggung jawab sosial secara seimbang kepada pelanggan, karyawan, masyarakat, lingkungan, dan seluruh stakeholder. Sedangkan program charity dan community development merupakan bagian dari pelaksanaan CSR.53 Dalam praktiknya, memang charity dan community development dikenal lebih dahulu terkait interaksi perusahaan dengan lingkungan sekitarnya. Serta, kebutuhan perusahaan untuk lebih dapat diterima masyarakat. Sementara itu, lebih jauh CSR dapat dimaknai sebagai komitmen dalam menjalankan bisnis dengan memperhatikan aspek sosial, norma-norma dan etika yang berlaku, bukan saja pada lingkungan sekitar, tapi juga pada lingkup internal dan eksternal yang lebih luas. Tidak hanya itu, CSR dalam jangka panjang memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatnya kesejahteraan. Memang ada pendekatan yang berbeda-beda terhadap ketentuan dan pelaksanaan CSR. Dari sisi pendekatan, misalnya, ada community based development project yang lebih mengedepankan pembangunan keterampilan dan kemampuan kelompok masyarakat. Ada pula yang fokus pada penyediaan kebutuhan sarana. Dan, yang paling umum adalah memberikan bantuan sosial secara langsung maupun tidak langsung guna membantu perbaikan kesejahteraan masyarakat, baik karena eksternalitas negatif yang ditimbulkan sendiri maupun yang bertujuan sebagai sumbangan social semata. Pada tahun 1990an para aktivis pembangunan melihat persoalan kemiskinan sebagai persoalan ketimpangan dalam sistem politik. Menurut pandangan mereka, kelompok-kelompok seperti komunitas lokal, masyarakat adat, dan buruh tidak mempunyai kesempatan untuk menentukan pembangunan macam apa yang dibutuhkan. Akibatnya, demikian menurut pandangan mereka, pembangunan sering tidak sesuai dengan kebutuhan kelompok masyarakat tersebut dan sering timpang dalam pembagian keuntungan dan resiko. Jalan keluar yang diusulkan para aktivis pembangunan adalah merubah skema pembangunan menjadi memberi kemungkinan berbagai kelompok melindungi kepentingannya. Kata kuncinya transparansi, partisipasi, dan penguatan kelompok lemah. Pemerintah dan perusahaan dituntut membuat mekanisme untuk berkomunikasi dengan lebih banyak pihak dan memperhatikan kepentingan-kepentingan mereka. Terakhir,
53

Himawan Wijanarko, Filantrofi bukan Deterjen, Majalah Trust, 11-17 September 2006

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

94

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

harus

ada

upaya

penguatan

kelompok

masyarakat

agar

dapat

berpartisipasi dengan benar. Ketiga kata kunci diatas pada akhirnya menjadi semacam prinsip yang dianggap seharusnya ada bagi organisasi apapun dalam masyarakat. CSR secara umum merupakan kontribusi menyeluruh dari dunia usaha terhadap pembangunan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan dari kegiatannya. Sebagai salah satu pendekatan sukarela yang berada pada tingkat beyond compliance, penerapan CSR saat ini berkembang pesat termasuk di Indonesia, sebagai respon dunia usaha yang melihat aspek lingkungan dan sosial sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing serta sebagai bagian dari pengelolaan risiko, menuju sustainability (keberlanjutan) dari kegiatan usahanya. Penerapan kegiatan CSR di Indonesia baru dimulai pada awal tahun 2000, walaupun kegiatan dengan esensi dasar yang sama telah berjalan sejak tahun 1970-an, dengan tingkat yang bervariasi, mulai dari yang paling sederhana seperti donasi sampai kepada yang komprehensif seperti terintegrasi ke dalam strategi perusahaan dalam mengoperasikan usahanya. Belakangan melalui Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pemerintah memasukkan pengaturan Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan kedalam Undang-Undang Perseroan Terbatas. Pada dasarnya ada beberapa hal yang mendasari pemerintah mengambil kebijakan pengaturan tanggungjawab sosial dan lingkungan Pertama adalah keprihatinan pemerintah atas praktek korporasi yang mengabaikan aspek sosial lingkungan yang mengakibatkan kerugian di pihak masyarakat. Kedua adalah sebagai wujud upaya entitas negara dalam penentuan standard aktivitas sosial lingkungan yang sesuai dengan konteks nasional maupun lokal.54 Menurut Endro Sampurno pemahaman yang dimiliki pemerintah mempunyai kecenderungan memaknai CSR semata-mata hanya karena peluang sumberdaya finansial yang dapat segera dicurahkan perusahaan untuk memenuhi kewajiban atas regulasi yang berlaku. Memahami CSR hanya sebatas sumber daya finansial tentunya akan mereduksi arti CSR itu sendiri.55 Akibat kebijakan tersebut aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan akan menjadi tanggung jawab legal yang mengabaikan sejumlah prasyarat yang memungkinkan terwujudnya makna dasar CSR tersebut, yakni sebagai pilihan sadar,
54 55

A.B. Susanto, Paradigma Baru Community Development Harian Kompas, 22 Mei 2001 Ibid

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

95

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

adanya kebebasan, dan kemauan bertindak. Mewajibkan CSR, apa pun alasannya, jelas memberangus sekaligus ruang-ruang pilihan yang ada, berikut kesempatan masyarakat mengukur derajat pemaknaannya dalam praktik. Konsekuensi selanjutnya adalah CSR akan bermakna sebatas upaya pencegahan dan dampak negatif keberadaan perusahaan di lingkungan sekitarnya (bergantung pada core business-nya masingmasing) padahal melihat perkembangan aktivitas CSR di Indonesia semakin memperlihatkan semakin sinergisnya program CSR dengan beberapa tujuan pemerintah. Terakhir yang mungkin terjadi adalah aktivitas CSR dengan regulasi seperti itu akan mengarahkan program pada formalitas pemenuhan kewajiban dan terkesan basa-basi. Keluhan hubungan yang tidak harmonis antara perusahaan dan pemangku kepentingannya sesungguhnya sudah terdengar setidaknya dalam dua dekade belakangan. Gerakan sosial Indonesia, khususnya gerakan buruh dan lingkungan, telah menunjuk dengan tepat adanya masalah itu sejak dulu. Namun, tanggapan positif terhadapnya memang baru terjadi belakangan. Di masa lampau, hampir selalu keluhan pada kinerja sosial dan lingkungan perusahaan akan membuat mereka yang menyatakannya berhadapan dengan aparat keamanan. Walaupun kini hal tersebut belum menghilang sepenuhnya, tanggapan positif atas keluhan telah lebih banyak terdengar. Kiranya, disinsentif untuk perusahaan yang berkinerja buruk kini telah banyak tersedia. Gerakan sosial kita tidak kurang memberikan tekanan kepada perusahaan berkinerja buruk. Payahnya, banyak perusahaan juga yang mulai menyadari pentingnya meningkatkan kinerja sosial dan lingkungan ternyata tidak mendapatkan insentif yang memadai dari berbagai pemangku kepentingan. Bahkan mereka yang secara fundamental hendak berubah malah menjadi sasaran tembak. Karena dianggap melunak, perusahaan tersebut kerap dianggap sebagai sumber uang yang bisa diambil kapan saja melalui berbagai cara. Di antara berbagai pemangku kepentingan itu terdapat pemerintah. Selain berbagai perangkat yang diciptakan di tingkat pusat, beberapa pemerintah kabupaten telah membuat berbagai macam forum CSR. Regulasi hubungan industrial juga telah dibuat di beberapa provinsi. Di satu sisi, perkembangan ini cukup menggembirakan karena menunjukkan tumbuhnya pemahaman pemerintah atas potensi kemitraan pembangunan dengan perusahaan. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

96

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

bahwa pemerintah sedang memindahkan beban pembangunannya ke perusahaan. Berbagai regulasi yang dibuat telah juga menjadi tambahan beban baru bagi perusahaan, alihalih menjadi insentif bagi mereka yang hendak meningkatkan kinerja CSRnya. Secara teoritis telah diungkapkan banyak pakar bahwa pemerintah seharusnya menciptakan prakondisi yang memadai agar perusahaan dapat beroperasi dengan kepastian hukum yang tinggi. Dalam hal ini, berbagai regulasi yang ada tidak hanya berfungsi memberikan batasan kinerja minimal bagi perusahaan, tapi juga memberikan perlindungan penuh bagi mereka yang telah mencapainya. Di luar itu, pemerintah bisa pula membantu perusahaan yang sedang berupaya melampaui standar minimal dengan berbagai cara. Di antaranya dengan memberikan legitimasi, menjadi penghubung yang jujur dengan pemangku kepentingan lain, meningkatkan kepedulian pihak lain atas upaya yang sedang dijalankan perusahaan, serta mencurahkan sumber dayanya untuk bersama-sama mencapai tujuan keberlanjutan Mengingat CSR sulit terlihat dengan kasat mata, maka tidak mudah untuk melakukan pengukuran tingkat keberhasilan yang dicapai. Oleh karena itu diperlukan berbagai pendekatan untuk menjadikannya kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Triple Bottom Line atau Sustainability Reporting. Dari sisi ekonomi, penggunaan sumber daya alam dapat dihitung dengan akuntansi sumber daya alam, sedangkan pengeluaran dan penghematan biaya lingkungan dapat dihitung dengan menggunakan akuntansi lingkungan. Terdapat dua hal yang dapat mendorong perusahaan menerapkan CSR, yaitu bersifat dari luar perusahaan (external drivers) dan dari dalam perusahaan (internal drivers). Termasuk kategori pendorong dari luar, misalnya adanya regulasi, hukum, dan diwajibkannya analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah memberlakukan audit Proper (Program penilaian peningkatan kinerja perusahaan). Pendorong dari dalam perusahaan terutama bersumber dari perilaku manajemen dan pemilik perusahaan (stakeholders), termasuk tingkat kepedulian/tanggung jawab perusahaan untuk membangun masyarakat sekitar (community development responsibility). Ada empat manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan mengimplementasikan CSR. Pertama, keberadaan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

97

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

perusahaan

dapat

tumbuh

dan

berkelanjutan

dan

perusahaan

mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas. Kedua, perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal). Ketiga, perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resources) yang berkualitas. Keempat, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan manajemen risiko (risk management).56 Dalam menangani isu-isu sosial, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan oleh perusahaan yaitu: Responsive CSR dan Strategic CSR. Agenda sosial perusahaan perlu melihat jauh melebihi harapan masyarakat, kepada peluang untuk memperoleh manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan. Bergeser dari sekadar mengurangi kerusakan menuju penemuan jalan untuk mendukung strategi perusahaan dengan meningkatkan kondisi sosial. Agenda sosial seperti ini harus responsif terhadap pemangku kepentingan. Isu sosial yang mempengaruhi sebuah perusahaan terbagi dalam tiga kategori. Pertama, isu sosial generik, yakni isu sosial yang tidak dipengaruhi secara signifikan oleh operasi perusahaan dan tidak memengaruhi kemampuan perusahaan untuk berkompetisi dalam jangka panjang. Kedua, dampak sosial value chain, yakni isu sosial yang secara signifikan dipengaruhi oleh aktivitas normal perusahaan. Ketiga, dimensi sosial dari konteks kompetitif, yakni isu sosial di lingkungan eksternal perusahaan yang secara signifikan mempengaruhi kemampuan berkompetisi perusahaan. Setiap perusahaan perlu mengklasifikasikan isu sosial ke dalam tiga kategori tersebut untuk setiap unit bisnis dan lokasi utama, kemudian menyusunnya berdasarkan dampak potensial. Isu sosial yang sama bisa masuk dalam kategori yang berbeda, tergantung unit bisnis, industri, dan tempatnya. Ketegangan yang sering terjadi antara sebuah perusahaan dan komunitas atau masyarakat di sekitar perusahaan berlokasi umumnya muncul lantaran terabaikannya komitmen dan pelaksanaan tanggung jawab sosial tersebut. Perubahan orientasi sosial politik di tanah air dapat memunculkan kembali apresiasi rakyat yang terbagi-bagi dalam wilayah administratif dalam upaya menciptakan kembali akses mereka terhadap sumber daya yang ada di wilayahnya. Seringkali kepentingan perusahaan
56

http//www.csrindonesia.com

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

98

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

diseberangkan

dengan

kepentingan

masyarakat.

Sesungguhnya

perusahaan dan masyarakat memiliki saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan antara perusahaan dan masyarakat berimplikasi bahwa baik keputusan bisnis dan kebijakan social harus mengikuti prinsip berbagi keuntungan, yaitu pilihan-pilihan harus menguntungkan kedua belah pihak. Saling ketergantungan antara sebuah perusahaan dengan masyarakat memiliki dua bentuk. Pertama, inside-out linkages, bahwa perusahaan memiliki dampak terhadap masyarakat melalui operasi bisnisnya secara normal. Dalam hal ini perusahaan perlu memerhatikan dampak dari semua aktivitas produksinya, aktivitas pengembangan sumber daya manusia, pemasaran, penjualan, logistik, dan aktivitas lainnya. Kedua, outside-in-linkages, di mana kondisi sosial eksternal juga memengaruhi perusahaan, menjadi lebih baik atau lebih buruk. Ini meliputi kuantitas dan kualitas input bisnis yang tersediasumber daya manusia, infrastruktur transportasi; peraturan dan insentif yang mengatur kompetisi seperti kebijakan yang melindungi hak kekayaan intelektual, menjamin transparansi, mencegah korupsi, dan mendorong investasi; besar dan kompleksitas permintaan daerah setempat; ketersediaan industri pendukung di daerah setempat, seperti penyedia jasa dan produsen mesin.57 Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya. Secara umum, prinsip-prinsip yang berlaku dalam bisnis yang baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia, dan prinsip-prinsip ini sangat erat terkait dengan sistem nilai yang dianut oleh masing-masing masyarakat. Prinsip etika bisnis itu sendiri adalah:58 1) Prinsip otonomi; adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. 2) Prinsip kejujuran. 3) Prinsip keadilan. 4) Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle).
57 58

Ibid Majalah Bisnis Dan CSR, Oktober 2007

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

99

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

5) Prinsip integritas moral; terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baik pimpinan/orang-orangnya maupun perusahaannya. Bagi masyarakat, praktik CSR yang baik akan meningkatkan nilai tambah adanya perusahaan di suatu daerah karena akan menyerap tenaga kerja, meningkatkan kualitas sosial di daerah tersebut. Pekerja lokal yang diserap akan mendapatkan perlindungan akan hak-haknya sebagai pekerja. Jika ada masyarakat adat/masyarakat lokal, praktek CSR akan menghargai keberadaan tradisi dan budaya lokal tersebut. Agar efektif CSR memerlukan peran civil society yang aktif. Setidaknya terdapat tiga wilayah dimana masyarakat dapat menunjukkan perannya yaitu:59 a. Kampanye melawan korporasi yang melakukan praktik bisnis yang tidak sejalan dengan prinsip CSR lewat berbagai aktivitas lobby dan advokasi. b. Mengembangkan kompetensi untuk meningkatkan kapasitas dan membangun institusi yang terkait dengan CSR c. Mengembangkan inisiatif multi-stakeholder yang melibatkan berbagai elemen dari masyarakat, korporasi dan pemerintah untuk mempromosikan dan meningkatkan kualitas penerapan CSR Lewat ISO 26000 terlihat upaya untuk mengakomodir kepentingan semua stakeholder. Dalam hal ini, peran pemerintah menjadi penting. Pemerintah harus punya pemahaman menyeluruh soal CSR agar bias melindungi kepentingan yang lebih luas, yaitu pembangunan nasional. Jangan lupa, dari kacamata kepentingan ekonomi pembangunan nasional, sektor bisnis atau perusahaan itu ada untuk pembangunan, bukan sebaliknya. Pemerintah perlu jelas bersikap dalam hal ini. Misalnya, di satu sisi, mendorong agar perusahaan-perusahaan yang sudah tercatat di bursa efek harus melaporkan pelaksanaan CSR kepada publik. Cakupan dari ISO 26000 ini antara lain untuk membantu organisasiorganisasi menjalankan tanggung jawab sosialnya; memberikan practical guidances yang berhubungan dengan operasionalisasi tanggung jawab sosial; identifikasi dan pemilihan stakeholders; mempercepat laporan kredibilitas
59

dan

klaim

mengenai

tanggungjawab

sosial;

untuk

Ibid

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

100

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

menekankan kepada hasil performansi dan peningkatannya; untuk meningkatkan keyakinan dan kepuasan atas konsumen dan stakeholders lainnya; untuk menjadi konsisten dan tidak berkonflik dengan traktat internasional dan standarisasi ISO lainnya; tidak bermaksud mengurangi otoritas pemerintah dalam menjalankan tanggung jawab sosial oleh suatu organisasi; dan, mempromosikan terminologi umum dalam lingkupan tanggung jawab social dan semakin memperluas pengetahuan mengenai tanggung jawab sosial.60 ISO 26000 sesuatu yang tidak bisa ditawar. Meskipun, dalam rilis yang diambil dari website resmi ISO, standarisasi mengenai Social Responsibility, memang dinyatakan sebagai sesuatu yang tidak wajib, tetap saja ini akan menjadi trend yang akan naik daun dan harus dihadapi dengan sungguh-sungguh, jika ingin tetap eksis dalam dunia usaha di Indonesia. ISO 26000 ini bisa dijadikan sebagai rujukan atau pedoman dalam pembentukan pedoman prinsip pelaksanaan CSR di Indonesia. Di sisi lain, pemerintah harus bisa bernegosiasi di level internasional untuk membantu produk Indonesia bisa masuk ke pasar internasional secara fair. Misalnya lewat mekanisme WTO. Ini bisa dibarengi dengan upaya pemerintah memberikan bantuan/asistensi pada perusahaan yang belum/menjadi perusahaan publik agar penerapan CSR-nya juga diapresiasi melalui mekanisme selain ISO. Misalnya dengan menciptakan/menerapkan standard nasional CSR yang lebih bottom-up atau insentif tertentu yang bias meyakinkan pasar internasional untuk menerima produk Indonesia. Pada saat ini CSR dapat dianggap sebagai investasi masa depan bagi perusahaan. Minat para pemilik modal dalam menanamkan modal di perusahaan yang telah menerapkan CSR lebih besar, dibandingkan dengan yang tidak menerapkan CSR. Melalui program CSR dapat dibangun komunikasi yang efektif dan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat sekitarnya.

60

A.B. Susanto, Manajemen Aktual, Jakarta, Grasindo, 1997, hlm.53

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

101

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

BAB III METODOLOGI 3.1. Desain Penelitian Pada hakekatnya desaign penelitian (Kajian) disusun untuk memperoleh data dan informasi yang dimaksud, maka kajian ini dirancang dengan model kajian penjelasan (Explanatory research), keuntungan model ini adalah mampu menggali dan sekaligus menjelaskan masalah secara rinci serta mengkaitkan berbagai fakta yang ada secara teoritis. Kajian ini menekankan pada proses pencarian dan pengungkapan makna dari fenomena atau pengalaman pelasakaan dilapangan (empirik) yang dilakukan oleh para Impelementing Agency (Pelaksana Kebijakan) dan Role Occupant (Pemegang peran/masyarakat) dalam pelaksanaan Program CSR PT.NNT untuk wilayah lingkar tambang di KSB. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengeksplore berbagai peristiwa, sebab, dampak dari keberadaan program CSR yang dilakukan oleh PT.NNT dan mengungkapkan dihadapai dari kendala-kendala atau tantantangan-tantangan nilai-nilai yang yang pelaksanaan program CSR tersebut,

tersembunyi, serta mengetahui strategi dan menyusun langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi fenomena tersebut. Oleh sebab itu maka kajian ini bersifat/jenis ekploratoris yang menggunakan pendekatan secara kualitatif. Menurut Hamidi (2004:15), penelitian kualitatif menanyakan atau ingin mengetahui makna (berupa konsep). Kajian kualitatif ini menghasilkan gambaran (deskripsi ) mengenai hal hal yang berkaitan dengan konsep dan pelaksanaan program CSR PT.NNT

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

102

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dalam konteks peraturan perUndang-Undangan yang ada. Namun karena kajian ini menyangkut penilaian dan efektivitas dari pelaksaan programprogram CSR PT.NNT untuk wilayah Lingkar Tambang di Kabupaten Sumbawa Barat, maka selain data kualitatif, diperoleh pula data-data yang bersifat kuantitatif. Oleh sebab itu, untuk menjaga konsistensi, data kuantitatif tersebut dikategorikan dan dinarasikan. Untuk memberikan gambaran latar yang komprehensif. Hal ini sejalan dengan pendapat Moleong (2004:3), bahwa penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian yang tidak melakukan perhitungan. Selanjutnya Newman (Islamy dkk, 2001:8) menyebutkan adanya 6 karakteristik utama penelitian kualitatif yaitu : 1. Mengutamakan konteks sosial Makna suatu tindakan sosial sangat tergantung sekali pada konteks dimana tindakan sosial terjadi. 2. Pendekatan studi kasus Peneliti mengumpulkan sejumlah besar informasi hanya pada suatu atau beberapa (sejumlah kecil) kasus, tetapi masuk kedalam dan mendetail agar dapat menemukan dan menggambarkan pola-pola dalam kehidupan, tindakan, sikap, perasaan, kata-kata dari orangorang di dalam konteks sosialnya secara utuh dan menyeluruh. 3. Mengutamakan integritas peneliti Hubungan yang dekat antara peneliti dengan subyek penelitiannya mengharuskan peneliti menjaga integritas dirinya agar penelitiannya tetap obyektif dan tidak bias. 4. Membangun teori dari data Teori dibangun dari data atau mendasar (grounded) di dalam data. 5. Mencermati proses dan sekuen Mengamati proses dan urutan peristiwa dari kasus yang dipelajari setiap saat agar dapat melihat perkembangan yang terjadi pada kasus tersebut terus menerus. 6. Interpretasinya kaya dan mendalam Interpretasi data dilakukan mulai dari the first order interpretation, the second interpretation dan the third order of interpretation. Untuk memperdalam kajian akan dilakukan pula wawancara langsung secara mendalam (Indept interview) dan focus group discussion. Panduan pertanyaan arahan akan disusun dengan mengacu pada pelaksanaan Program CSR PT.NNT yang telah dilakukan. Pertanyaan tersebut difokuskan pada titiktitik krusial yang berpotensi menimbulkan masalah, multitafsir dan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

103

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

permasalahan lainnya yang ada, baik secara normatif maupun pada saat program tersebut sebelum dilaksanakan maupun setelah dilaksanakan. Fokus kajian diarahkan pada metode perumusan program hingga pelaksanaan, pengelolaan dengan dasar partisipasi, tranparansi dan akuntabilitas.

3.2. Lokasi dan Subyek Penelitian Penentuan lokasi penelitian ini dimaksudkan untuk lebih mempersempit ruang lingkup dalam pembahasan dan sekaligus untuk mempertajam fenomena sosial yang ingin dikaji agar sesuai dengan substansi selain persoalan tersebut penentuan lokasi dan subyek penelitian perlu mempertimbangkan apakah lokasi sesuai dengan masalah yang akan diteliti, menurut Moleong (2005:128) bahwa cara terbaik yang perlu ditempuh dalam penentuan lapangan penelitian adalah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif dan dengan mempelajari serta mendalami fokus serta rumusan masalah penelitian; untuk itu pergilah dan jajakilah lapangan untuk melihat apa terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang ada di lapangan. keterbatasan geografis, waktu, biaya dan tenaga juga perlu dipertimbangkan. Berdasarkan berbagai aspek tersebut maka lokasi penelitian yang ditetapkan adalah berdasarkan pertimbangan yaitu wilayah yang berdampak langsung/yang merasakan manfaatnya secara langsung Program CSR PT.NNT yaitu wilayah lingkar tambang di kabupaten Sumbawa barat. 3.3. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian kualitatif, Tim Pengkaji sendiri yang menjadi instrumen utama yang terjun ke lapangan dan berusaha sendiri mengumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara. Wawancara yang dilakukan sering bersifat terbuka dan tertutup dan semi terstruktur (Nasution, 1996). Yang dimaksud dengan wawancara terbuka adalah dimana para subjeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula maksud dan tujuan wawancara, sedangkan wawancara tertutup akan dilakukan untuk mengetahui sesuatu yang bersifat rahasia, dan respondennya tidak mengetahui proses penelitian yang sedang dilakukan, pertanyaan semi terstruktur adalah pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu, disusun pertanyaan kunci dan peneliti mengembangkan materi pertanyaan pendalaman sesuai dengan kondisi dilapangan dengan mengacu pada pertanyaan kunci.. Untuk memudahkan pengumpulan data maka peneliti

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

104

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

menggunakan alat bantu berupa catatan di lapangan, garis besar dalam wawancara, tape recorder, dan kamera foto. Dalam penelitian kualitatif, proses pengumpulan data meliputi 3 (tiga) kegiatan sebagai berikut : 1. Getting in yaitu proses memasuki lokasi penelitian Pada tahap ini peneliti memasuki lokasi dengan membawa ijin penelitian dan mengadakan pendekatan terhadap subjek penelitian untuk menjelaskan rencana dan maksud kedatangan peneliti dan berusaha untuk membuat hubungan yang lebih akrab sambil mendengarkan informasi dari mereka sehingga dapat mengurangi jarak sosial antara peneliti dengan sumber data. 2. Getting Along yaitu ketika berada di lokasi penelitian Peneliti melakukan hubungan secara langsung dan akrab dengan sobjek penelitian dan sebelum melakukan wawancara peneliti menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan peneliti, sehingga mereka memahaminya. Disamping wawancara juga dilakukan observasi secara langsung sesuai dengan fokus penelitian serta memahami perilaku objek yang diteliti. 3. Logging Data yaitu saat pengumpulan data Dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data yang diperlukan, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data, yaitu : a. Wawancara secara mendalam dilakukan dengan pertanyaan yang terbuka dan mengarah pada kedalaman informasi serta dilakukan secara semi struktur guna menggali pandangan subyek yang diteliti. Wawancara mendalam ini dapat dilakukan pada waktu dan konteks yang dianggap paling tepat guna mendapatkan data yang rinci, sejujurnya dan mendalam, dan dapat dilakukan beberapa kali sesuai dengan keperluan peneliti yang berkaitan dengan kejelasan dan kemantapan masalah yang sedang dijelajahi. b. Observasi dilakukan dengan pengamatan dan pencatatan obyek penelitian secara langsung di lapangan sehingga diperoleh data yang actual dari sumber data. c. Dokumentasi, pengumpulan data melalui dokumentasi dilakukan dengan cara mencatat atau menyalin data yang ada dalam dokumen di lokasi penelitian khususnya berkaitan dengan objek yang diteliti.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

105

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

3.3.1. Tahapan pengumpulan data : Data yang akan dikumpulkan adalah data-data yang bersifat kuantitatif dan data-data yang bersifat kualitatif. Pertama, menyangkut kajian tentang gambaran pelaksanaan program CSR PT.NNT untuk wilayah lingkar tambang di Kabupaten Sumbawa Barat. Proses pengumpulan data akan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : a. Pengumpulan peraturan dan kebijakan terkait dengan program CSR PT.NNT untuk wilayah lingkar tambang dengan menggunakan metode Regulatory Impact Analysis (RIA). b. Data peraturan dan kebijakan tersebut kemudian diinterprestasikan dengan pendekatan gramatikal dan logika hukum kemudian dituangkan sebagai bahan dasar konsepsi tentang CSR PT.NNT. c. Proses Indept Interview atau wawancara mendalam semi terstruktur adakan dilakukan untuk menggali secara mendalam data-data dan informasi, Team peneliti akan menyusun panduan pertanyaan arahan atau pertanyaan-pertanyaan kunci (keys questions). Sebelum digunakan panduan pertanyaan akan diuji reabilitasnya terlebih dahulu, setelah realible kemudian akan digunakan oleh Team. Dalam proses Indept interview, diawali dengan melakukan identifikasi para key informans yang akan dijadikan sebagai nara sumber. d. Focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terfokus; diskusi ini akan dipandu oleh peneliti langsung dengan pertanyaan panduan yang telah ada, peneliti akan menggali informasi dari berbagai peserta diskusi dengan menggunaan metode ORID-sekaligus membangun capaian-capaian kesepakatan atas rekomendasi-rekomendasi yang akan dimunculkan dari hasil penelitian secara partisipatif. e. Workshop Exit Data ; workhop ini bertujuan untuk mengklarifikasi data dan informasi temuan-temauan sementara atau laporan hasil sementara yang telah disusun oleh para peneliti, sekaligus mencari umpan balik (feedback) atas hasil sementara dari penelitian.

3.4. Metode Analisis Data

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

106

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dengan wawancara terbuka dan dalam penelitian ini teknik analisis data yang dipergunakan adalah model interaktif dari Miles dan Huberman (Moleong, 2005) dengan prosedur reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan yang dinarasikan yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Reduksi Data (pengurangan data) Proses reduksi bertujuan menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, mengorganisasi bahan empirik sehingga dapat diperoleh katagori-katagori tematik. 2) Display data (penyajian data) setelah itu data disajikan karena masih ada data yang kurang maka pengumpulan data dilapangan dilakukan kembali sampai data menjadi lengkap. 3) Menarik kesimpulan/verifikasi Selanjutnya analisis disusun dan diarahkan pada fokus penelitian untuk disimpulkan dan kesimpulan harus diverifikasi selama penelitian berlangsung agar memudahkan pada kesimpulan akhir, yang tahapan analisis datanya diatur sebagai berikut : a. Data-data baik yang bersifat data kuantitatif maupun kualitatif tersebut akan dianalisis dengan pendekatan : pertama; pada aspek pelaksanaan program CSR PT.NNT, terlebih dahulu akan dilakukan analisis dasar terhadap peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan serta peraturan perundang-undangan yang ada. RIA. Untuk untuk melihat atau menemukan konsep-konsep dasar yang tertuang dalam peraturan atau kebijakan yang selama ini dijadikan dasar/pedoman dalam pelaksanaan program CSR PT.NNT. Disamping dampakdampak atas peraturan atau kebijakan tersebut. Kerangka peraturan dan kebijakan tersebut menjadi dasar bahan analisis untuk tahapanproses selanjutnya. b. Data kuantitatif yang terkumpul akan dianalisis secara kualitatif, tahapan analisis dimulai dengan melihat konsepsi dasar dari program CSR PT.NNT, kemudian dikembangkan melalui Diskusi Expert Team. Proses diskusi expert akan dilakukan pada seluruh tema pokok yang dijadikan sebagai dasar dari penelitian, proses pendalaman dan kajian dilakukan dengan cara melibatkan para pihak yang memiliki kompetensi terhadap tema kajian, untuk memverifikasi temuan-

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

107

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

temuan yang ada di lapangan dan memberikan masukan terhadap hasil untuk dikembangkan secara lebih mendalam. c. Pengembangan pertanyaan dan analisis data kuantitatif maupun kualitatif dilakukan secara bertahap dan dilakukan dengan melihat titik-titik kelamahan dari hasil studi, dilakukan oleh verifikator data. Seluruh ata hasil wawancara, indept interview maupun workshop exit akan diolah oleh Tem Expert dan analisis data dikembangkan dengan beberapa metode pendekatan sesuai dengan tema kajian dan kebutuhan masing-masing. d. Proses pengembangan analisis, diupayakan pula dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pula para stakeholders terkait untuk memastikan validitas data yang telah dihasilkan termasuk pengembagan rekomendasi dari hasil studi ini. Sehingga dari studi ini diharapkan bukan hanya dapat memberikan gambaran tentang program CSR PT.NNT untuk wilayah lingkar tambang di Kabupaten Sumbawa barat, melainkan dapat memberikan gambaran secara utuh dan komprehensif terhadap program tersebut, dari seluruh materi yang ada dalam peraturan dan kebijakan daerah. 3.4.1. Keabsahan Data Setiap penelitian memerlukan adanya standar untuk melihat derajat kepercayaan atau kebenaran hasil penelitiannya. Dalam penelitian kualitatif standar itu disebut keabsahan data. Menurut moleong (2005) untuk menetabkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada 4 (empat) criteria yang digunakan yaitu : 1. Derajat kepercayaan pembaca dan (credibility) , merujuk pada kepercayaan partisipan (responden) penelitian persetujuan

terhadap hasil temuan. Untuk memenuhi standar tersebut dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi, peer debriefing, dan member check. Triangulasi dioperasionalisasikan dalam bentuk triangulasi sumber data yaitu membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen, membandingkan pernyataan informan didepan umum dengan pernyataan informan secara pribadi, dan membandingkan perspektif informan yang berbeda latar belakang mengenai suatu isu. Teknik peer debriefing

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

108

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dioperasionalisasikan dengan cara melibatkan sejawat peneliti yang tidak ikut meneliti untuk membicarakan atau memberikan kritik terhadap proses dan hasil penelitian, sehingga bisa diperoleh masukan atas kelemahan yang terjadi dari penelitian yang dilakukan, dalam bentuk diskusi informal, seminar hasil penelitian, dan bimbingan tesis. Teknik member check dioperasionalisasikan dengan cara meminta partisipan penelitian untuk mereview data, penafsiran, dan kesimpulan.

2. Keteralihan (transferability), Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan peralihan tersebut, peneliti berusaha mencari dan mengumpulkan data kejadian empiris dalam konteks yang sama. Dengan demikian peneliti bertanggungjawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya. Data itu antara lain berupa catatancatatan lapangan, petunjuk teknis pelaksanaan, Laporan Kegiatan pelaksanaan, dan hasil wawancara dengan stakeholders dengan berpedoman pada instrumen penelitian, wawancara dan observasi. Untuk keperluan itu peneliti mengulang pengecekan data untuk menjamin kelengkapan data penelitian sehingga proses analisisnya akan didukung oleh data yang lengkap dan akurat. 3. Ketergantungan dengan (dependability), yaitu dapat dengan dicapai terus kepastian,

menkonsultasikan kepada pihak expert sehingga setahap demi setahap konsep-konsep yang dihasilkan di lapangan dikonsultasikan dengan expert. Setelah hasil penelitian dianggap benar oleh expert maka dilakukan pertemuan baik formal maupun informal
Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman 109

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dengan teman-teman guna memperoleh masukan untuk menambah kebenaran hasil penelitian. 4. Kepastian (comfirmability). Yang dimaksudkan dengan kepastian yaitu obyektifitas. Disini pemastian bahwa sesuatu obyektif pada penelitian kualitatif menekankan pada data sehingga dengan bantuan expert untuk memastikan bahwa hasil penelitian ini berdasarkan dari data dan pembimbing berupaya menelaah hasil kegiatan peneliti dalam melaksanakan kegiatan maksud pemeriksaan tersebut keabsahan maka data apakah terus dilakukan dengan memadahi atau tidak. Untuk penulis mengkonsultasikan data temuan dilapangan dengan expert selama berlangsunya konsultasi penelitian ini guna mendapatkan arahan dan menjamin keabsahan dan objektifitas penelitian.
Dari hasil penyusunan metodologi dan pelaksanaan kajian dilapangan ini akan disajikan dalam bentuk narasi pada keseluruhanya dan tidak menampilkan bagan maupun tabel, akan tetapi data yang dalam bentukbentuk tersebut oleh Tim pengkaji yang telah melalui berbagai tahapan di sajikan dalam bentuk tertulis dalam laporan yang harapanya akan memudahkan untuk dipahami secara bersama-sama. Sehingga rekomendasi-rekomendasi yang muncul bisa semakin lebih diperhatikan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Bagaimana keadaan ekonomi dan sosial masyarakat KSB, khususnya lingkar tambang sebelum dan setelah ekploitasi tambang PT. Newmont Nusa Tenggara? dampak dan perubahan sosial ekonomi apasajakah yang terjadi? Mengapa program CSR menjadi penting untuk dilakukan terutama di wilayah lingkar tambang?.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

110

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

4.1. Perubahan Ekonomi dan Sosial Masyarakat Sebelum PT.NNT beroperasi, secara administratif wilayah lingkar tambang, meliputi hanya wilayah Kecamatan Jereweh, terdiri dari 6 desa, yakni ; (1) Desa Goa, (2) Desa Beru, (3) Desa Belo, (4) Desa Sekongkang Atas, (5) Desa Sekongkang Bawah dan (6) Desa Tongo Sejorong. Kemudian pada tahun 2002, Kecamatan Jereweh di mekarkan menjadi Kecamatan Sekongkang, terdiri dari ; (1) Desa Sekongkang Atas, (2) Sekongkang Bawah, (3). Tongo, (4) Ai Kangkung, (5) Tatar dan (6) desa Talonang Baru. Seiring dengan kebijakan dan perkembangan pembangunan daerah Kabupaten Sumbawa Barat, pada tahun 2008, Kecamatan Jereweh dimekarkan kembali menjadi Kecamatan Maluk, terdiri dari ; (1), Desa Pasir Putih, (2) Desa Maluk, (3) Desa Mantun, (4) Desa Benete. (5). Desa Bukit Damai. Sehingga saat ini, yang termasuk daerah lingkar tambang adalah Kecamatan Jereweh, Maluk dan Sekongkang. Sedangkan Kecamatan Jereweh terdiri dari ; (1) Desa Beru, (2). Desa Goa, (3). Desa Dasan Anyar, dan (4) Desa Belo. Yang terkait dengan Tata Guna lahan dan Nilai Lahan penjelasanya sebagai berikut; Hadirnya PT.NNT di KSB, tahun 1986 ternyata telah membawa dampak berupa terjadi pengurangan hutan negara seluas 92 ha. Lahan Hutan negara ini sebelumnya menjadi salah satu tempat mata pencaharian masyarakat setempat, khususnya terhadap hasil-hasil hutan. Sejak masuknya PT.NNT, masyarakat setempat tidak lagi dapat mencari hasil-hasil hutan. Disamping hutan, lahan yang dipakai oleh PT.NNT adalah lahan pertanian masyarakat. Sebagian besar lahan pertanian ini digunakan untuk fasilitas pembangunan lapangan golf61. Sehingga sebagian petani penggarap lahan tersebut pun telah kehilangan mata pencaharian mereka. Selain masalah di atas, masyarakat juga dihadapkan dengan serbuan dari para pendatang. Kehadiran para pendatang, membutuhkan pula lahan untuk pemukiman. Disamping Lahan persawahan masyarakat pun mulai berkurang, karena meningkatnya pembangunan untuk pemukiman. Karena itulah muncul desakan dari masyarakat agar lahan kering yang ada dapat dimanfaatkan/menggantikan lahan pertanian (sawah) dengan mendesak adanya program pencetakan sawah baru. Pada tahun 1996 (sebelum eksploitasi PT.NNT), rata-rata setiap keluarga memiliki lahan pertanian seluas 2,74 ha. Namun, saat ini jumlah tersebut semakin berkurang tahun 2001, luas kepemilikan lahan pertanian setiap keluarga menjadi hanya 2,36 hektar, dan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
61 Pada tahun 2004, pembangunan lapangan Golf PT. NNT mulai dikerjakan oleh Koperasi Ketalasebuah Koperasi yang didirikan oleh para karyawan PT.NNT

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

111

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Sementara itu, harga nilai lahan sejak masuknya PT.NNT terus mengalami kenaikan. Dari hasil studi menunjukkan bahwa banyak warga lingkar tambang yang pada akhirnya terpaksa menjual lahan pertaniannya karena keterdesakan ekonomi. Mereka umumnya adalah warga yang tidak bekerja di PT.NNT maupun Sub-Kontraktor perusahaan lainnya. Sebagian besar tanah tersebut di jual oleh masyarakat yang memiliki ekonomi yang mapan dan umumnya adalah pada para pendatang. Penjualan tanah milik masyarakat, banyak sekali terjadi pada masa konstruksi (1997-1999) maupun pada masa produksi sekarang ini. Sebelum masa produksi PT.NNT, (tahun 1994-1996) harga tanah untuk lahan sawah yang strategis/subur harganya hanya Rp. 100,000,-/are, namun pada masa konstruksi nilainya menjadi Rp.3.500.000/are62-, begitupun dengan lahan kering, sebelumnya hanya 60.000/per are menjadi 4.000.000,-, lahan pekarangan tadinya 100 menjadi Rp.5.000.000,-, lahan miring yang sebelumnya hanya 50.000/are naik tajam menjadi 3.000.000,-/are. Harga ini sangat jauh berbeda dengan harga pembebasan lahan yang dilakukan oleh PT.NNT tahun 1997 yang hanya sebesar Rp.7.000.000,-/perhektar atau sekitar Rp.70.000/are. 4.1.1. Perkembangan Penduduk, Ketenagakerjaan, Mobilitas ekonomi tenaga kerja dan Struktur Pekerjaan Anggota Rumah Tangga Kawasan penambangan pada mulanya mempunyai penduduk yang sangat jarang, sebelum tambang pada tahun 1996 mempunyai kepadatan rata-rata 12 jiwa/km2. Namun, selama kurun waktu 5 tahun (2000) kepadatan penduduk meningkat pesat, kepadatan dua kali lipat, yaitu rata-rata 21 jiwa/km2. Kepadatan ini belum termasuk karyawan PT.NNT atau tenaga kerja atau keluarga lain yang belum tersensus. Laju pertumbuhan pendudukan sensus 1980-1990, hanya 2,28% pertahun, periode 1990-2000 meningkat menjadi 9,49% pertahun. Padahal untuk propinsi NTB pada periode yang sama laju pertumbuhan hanya 1,74%. Hal ini menunjukkan arus penduduk yang datang dan menetap dikawasan penambangan selama periode 1990-2000 sangat tinggi. Tingkat pendidikan penduduk yang belum tamat SD lebih dari 70%, selebihnya tamatan SLTP dan SLTA, dan kurang dari 1 persen penduduk yang menamatkan Sarjana Muda. Sebelum ada PT.NNT pekerjaan masyarakat 72,73% bekerja pada sektor pertanian, dan selama periode (1996-2001) mengalami penurun menjadi 33,47%. Sebagian warga berpindah mata pencahariannya ke sektor jasa, industri, kerajinan rumah tangga dan sektor perdagangan.

62

Satu are seluas 100 meter atau 10 x 10 meter persegi.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

112

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Sebagian besar anggota rumah tangga didominasi oleh usia muda, dibawah 15 tahun atau belum termasuk usia kerja (41,51%). Besarnya jumlah anggota rumah tngga yang berusia muda ini menunjukkan besarnya tanggungan ekonomi anggota rumah tangga yang berusia kerja atau berusia produktif terhadap rumah tangga yang belum masuk usia produktif. Beban tanggungan tersebut, belum termasuk anggota rumah tangga yang belum masuk pasar kerja, seperti anggota keluarga yang masih melanjutkan pendidikan SLTA atau Perguruan Tinggi dan yang masih menganggur, mereka yang dapat melanjutkan pendidikan umumnya adalah keluarga yang cukup mapan, seperti pegawai PT.NNT atau pegawai negeri. Mobilitas ekonomi (mencari dan melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga), sebagian besar dilakukan didalam kawasan tambang, yakni ; Sekongkang, Maluk dan Jereweh. Hanya sekitar 13.89% keluar kawasan tambang, dan 0,66 ke luar negeri. Mobilitas ekonomi dalam kawasan tambang ini disebabkan selain karena tempat tinggal yang dekat dan aksesbilitas dalam kawasan sudah lancar, masyarakat juga merasa kesempatan yang diperoleh lebih besar. Masyarakat lokal lingkar tambang, pada saat ini jarang melakukan satu jenis pekerjaan. Selain melakukan pekerjaan pokok, juga melakukan satu atau dua jenis pekerjaaan sampingan. Keragaman ini terjadi sejak masuknya proyek pertambangan. Adapun jenis pekerjaan sampingan yang banyak muncul adalah usaha bidang perdagangan, jasa, industri kerajinan dan usaha sebagai karyawan swasta. Pilihan bekerja pada sektor pertanian, menjadi pilihan alternatif terakhir bagi angkatan kerja muda. Mereka pada prinsipnya, lebih senang dapat bekerja di PT.NNT atau sub-kontraktor, namun apabila semua menuai kegagalan terpaksa mereka bekerja pada sektor pertanian, dan sifatnya sementara. 4.1.2. Dasar Perekonomian Lokal Sebelum masuknya PT.NNT, ada beberapa dasar perekonomian masyarakat, yakni ; (1) usahatani tanaman pangan pola subsisten di sawah dan diladang (2) usaha peternakan (kambing, sapi, kerbau dan kuda). (3) usaha penangkapan ikan di laut (4) usaha pencari hasil hutan (rotan, madu, bambu dan aren) (5) usaha pengolahan gula aren dan (6) usaha perdagangan skala kecil. a. Usaha Bidang Pertanian merupakan salah satu pekerjaan masyarakat yang sangat terpengaruh dengan adanya PT.NNT. Pada masa persiapan dan konstruksi bidang ini ditinggakan oleh masyarakat setempat, karena mendapatkan kesempatan pekerjaan lain yang memberikan hasil lebih tinggi. Namun, setelah masa produksi PT.NNT, kesempatan kerja di luar

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

113

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pertanian berkurang. Masyarakat, secara perlahan-lahan, khususnya kalangan tua, akhirnya kembali menekuni pekerjaan sebagai petani. Sebagian kecil masyarakat tetap bertahan pada pekerjaan baru sebagai karyawan PT.NNT. Transisi ini mengalami kegamangan, hal ini tercermin dari data pada tahun 2002-2003, sebagian besar lahan pertanian yang dimiliki dan dikuasai oleh masyarakat tidak termanfaatkan dengan baik. Pada musim tanam I (musin penghujan) intensitas tanam hanya 50%, musim tanam II hanya 31.28% dan pada musim tanam III hanya 11,12%, artinya sekitar 50% lahan yang dimiliki masyarakat tidak dimanfaatkan atau dibiarkan menjadi lahan tidur. Selain itu, kurang tersedianya tenaga kerja untuk mengelola lahan, upah tenaga kerja pertanian meningkat karena ketersediaan tenaga yang terbatas, sehingga tingkat keuntungan relatif usahatani terhadap usaha lain jauh lebih rendah. b. Usaha Bidang Peternakan juga sangat terpengaruh dengan keberadaan PT.NNT, padahal bidang peternakan merupakan sumber penghasilan yang sangat penting bagi masyarakat lingkar tambang. Sebelum ada PT.NNT hampir semua warga memiliki atau menginvestasikan kelebihannya pada ternak. Karena ternak merupakan asset paling liquid atau paling cepat diuangkan dibandingkan asset-asset lain yang dimiliki warga. Setelah PT.NNT masuk yang diikuti pula dengan masuknya banyak penduduk dari luar, menyebabkan kawasan lahan pengembalaan ternak semakin sempit (LAR) dan ternak tidak bisa dipelihara dengan sistem lepas tanpa pengawasan (dalam kebiasaan tenak di Sumbawa hewan ternak tidak dikandangkan, melainkan dilepas bebas dilahan luas yang dikenal dengan LAR). Disamping itu, minat masyarakat pun mengalami penurunan karena maraknya pencurian hewan ternak yang terjadi pada hampir setiap tahunnya. Sehingga banyak ternak yang dijual masyarakat, dan jumlah ternak terus cenderung mengalami penurunan. c. Usaha Bidang Perikanan laut dilakukan oleh masyarakat yang berada di sepanjang pantai jelenga (desa Beru), pantai Benete (Desa Benete), Pantai Pasir Putih (maluk), pantai sekongkang (desa sekongkang Atas dan Bawah), Pantai Sejorong (Tongo), Pantai Senutuk (Desa Ai Kangkung) dan sepanjang pantai Tatar (Desa Tatar). Masyarakat yang melakukan usaha perikanan laut sebagai mata pencaharian umumnya berasal dari Pulau Lombok. Mereka sebagian besar menetap di Pantai Jelenga, Benete, Pasir Putih dan Pantai Senutuk. Sedangkan masyarakat etnis Samawa yang tinggal disepanjang Sejorong dan Sekongkang hanya menempatkan usaha

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

114

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dalam bidang ini sebagai mata pencaharian sampingan saja. Selain ikan ada beberapa penduduk yang juga memiliki pencaharian sebagai pengumpul telur penyu, dan pengambil hasil laut pada saaat air surut (mada, seperti kerang laut) d. Usaha Industri Kerajinan Rumah Tangga mulai berkembang dan memperoleh pasar yang layak setelah masuknya PT.NNT. Sebelum masuk PT.NNT masyarakat menganggapnya sebagai usaha sampingan yang dilakukan oleh masyarakat lapisan bawah, karena pada saat itu kualitas dan pasar dari komoditi ini masih sangat terbtas pada masyarakat lokal/setempat. Sebelum ada PT NNT hingga menjelang tahun 1997, jenis kerajinan yang dilakukan oleh masyarakat lokal terbatas pada industri gula aren atau gula semut, meubel, anyaman lontar, anyaman pandan, industri batu bata dan pengolahan batu. Indutsri saat rumah tangga saat ini mulau berkembang, seperti industri tahu tempe, batako dan beberapa jenis lainnya, namun jenis kerajinan baru tersebut umumnya dilakukan oleh masyarakat pendatang. e. Usaha Perdagangan merupakan usaha baru bagi masyarakat lokal, karena sebelum masuk PT.NNT masih terbatas pada usaha dagang hasil bumi yang banyak dilakukan dengan sistem barter. Sedangkan usaha dalam bentuk kios atau toko jumlahnya sangat terbatas dan umumnya terdapat di Kota Kecamatan Jereweh. Desa/kecamatan yang paling pesat adalah Maluk. Di desa ini hampir semua kebutuhan masyarakat, mulai dari Sembako sampai kebutuhan rekreasi tersedia. Jenis usaha perdagangan yang banyak dilakukan oleh masyarakat lokal adalah berupa toko/kios, warung, pedagang keliling atau bakulan, pedagang kaki lima dan pedagang hasil bumi lainnya. f. Usaha Jasa Seperti halnya usaha perdagangan, usaha bidang jasa juga banyak muncul setelah masuk proyek pertambangan, mulai dari usaha jasa pada bidang pertukangan, perbengkelan, jasa trasportasi, komunikasi, perbankan dan usaha jasa pada bidang-bidang lainnya, perkembangan ini khususnya di Kecamatan Maluk. Usaha yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat lokal adalah usaha jasa pada bidang transportasi, yakni dalam bentuk Ojek (Tukang Ojek), benhur dan mobil angkut. Kemudian usaha bidang pertukangan, seperti tukang jahit dan tukang bangunan, perbengkelan atau presban dan jasa-jasa kecantikan. g. Usaha Pencaharian hasil Hutan dan berburu Usaha lokal yang lebih bersifat mata pencaharian tradisional, seperti pencari rotan, madu, bambu

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

115

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dan aren (nira), kegiatn ini banyak dilakukan oleh masyarakat Sekongkang Atas, Sekongkang Bawah dan Tongo Sejorong menjadi sangat berkurang sejak masuknya PT.NNT. Namun, Usaha-usaha tersebut tetap dikerjakan oleh penduduk yang tidak memiliki akses terhadap PT.NNT. Salah satu penyebabnya adalah karena sejumlah kawasan hutan yang sebelumnya dijadikan lokasi pengambilan hasil hutan menjadi tertutup mengingat kawasan tersebut bagian dari kawasan tambang. Sebelum masuknya PT.NNT, daerah lingkar tambang memiliki corak agro ekosistem hutan dan lahan kering (tegal dan ladang). Oleh sebab itu, kegiatan pengambilan hasil hutan merupakan salah satu corak perekonomian lokal. Penduduk setempat, bahkan dari desa lain sangat lazim mengambil hasil hutan terutama hutan bambu, rotan, madu, nira, lontar dan binatang buruan sebagai mata pencaharian mereka. Bambu dan rotan diambil dari hutan selanjutnya dijual dalam bentuk batangan. Sedangkan nira diolah menjadi gula (gula aren) selanjutnya dipasarkan ke pasar lokal. Usaha ekonomi lokal tersebut saat ini berkurang setelah PT NNT beroperasi. Lokasi pengamblan bambu dan rotan semakin terbatas karena beberaa kawasan telah menjadi kawasan tambang dan tidak mudah mendapatkan akses untuk masuk kewilayah tersebut. Disamping itu, banyak pelaku usaha tersebut yang telah mengalihkan mata pencahriannya ke usaha lain sejak masa kontruksi tambang berlangsung. Usaha pengambilan madu, dan usaha berburu (rusa) juga semakin berkurang dn bersifat insidental (musiman). Sementara usaha pengambilan dan pengolahan nira/aren masih tetap berlangsung terutama di desa Tongo-Sejorong. Usaha pada bidang pencaharian hasil hutan, adalah usaha sampingan masyarakat yang hanya dilakukan pada waktu senggang dalam kegiatan usaha tani. Akan tetapi pada saat itu aktivitas masyarakat dalm bidang ini masih cukup intensif, karena pada saat itu waktu senggang masyarakat masih cukup banyak, tertutama pada musim kemarau. Setelah masuk PT.NNT yang diikuti oleh semakin banyaknya aktivitas masyarakat yang lebih produktif dan ketatnya pengawasan pengambilan hasil hutan, menyebabkan usaha ini menurun secara drastis. Hanya beberapa orang saja yang melakukan pencarian hasil hutan untuk memperoleh pendapatan. Jenis hasil hutan yang dicari adalah madu, kayu gaharu, kayu bangunan dan hewan buruan. h. Usaha Ekonomi lokal lainnya. Beberapa masyarakat lokal bekerja sebagai buruh harian dibeberapa pertokoan di Maluk dan Sekongkang dan buruh harian dibeberapa proyek bangunan. Usaha lainnya adaah usaha

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

116

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

perdagangan skala kecil tumbuh dan berkembang mulai masa konstruksi PT.NNT dan mengalami penurunan setelah berakhirnya masa konstruksi. Usaha dagang dengan sekala kecil pada masa sebelum masuknya PT.NNT didominasi perdagangan hasil laut dan hasil pertanian. Transaksi dagang dilakukan di pasar tradisional yang disebut tenten. Tidak jarang sistem transaksinya berlangsung dengan barter barang. Sistem transaksi tardisional ini (barter) mulai ditinggalkan. 4.1.3. Perkembangan Aspek Sosial Budaya ( Kepemilikan/Penguasaan Asset (barang prestise) Perubahan gaya hidup masyarakat antara lain terlihat dari penguasaan atau kepemilikan barang/benda yang bernilai dan dipandang sebagai lambang prestise sosial. Untuk saat ini, barang prestise tersebut melekat pada barang-barang manufaktur atau hasil industri, seperti banrang elektronik dan asesoris rumah tangga lainnya. Sejak beroperasinya PT.NNT kepemilikan barang prestisius, terutama elektronik dan sarana komunikasi informasi semakin banyak. Terdapat kebiasaan masyarakat Samawa, termasuk Jereweh dan Sekongkang cenderung memperlihatkan kepemilikan tersebut kepada orang lain. Hal ini terlihat dari berbagai aksesoris atau perabot rumah tangga yang selalu ditempatkan di ruang tamu atau beranda depan rumah. masyrakat lokal, biasanya diikuti Kebiasaan ini merupakan kebiasaaan lama kepemilikan barang prestisius tersebut semakin meningkat, keinginan untuk melengkapi assesoris rumah dengan

banyak penduduk yang membangun rumah baru atau melakukan renovasi dan perlengkapan yang dipandang memiliki keindahan dan kesan kemewahan seperti barang elektronik dan sejenisnya, antara televisi, radio/tape recorder, VCD player, Receiver/Parabola, Refrigator/Kulkas, Mesin Cuci, Kompor gas, telepon seluler, kendaraan roda 2, kendaraan roda 4. Gaya hidup masyarakat cenderung berubah ke arah yang lebih konsusmtif dan demonstratif setelah adanya kegiatan tambang. Selain itu, berbagai jenis barang yang terasuk kategori mewah tersebut diperoleh dengan cara membeli di berbagai kota yang ada di Lombok (Mataram) dan Sumbawa. Ada semacam kepuasaan dan kebanggaan masyarakat bila memperoleh barang dari daerah lain dibandingkan bila diperoleh di sekitar KSB. Adanya kebiasaaan untuk memperoleh barang keperluan hidup dari Kota besar diluar KSB juga mencerminkan gaya hidup masyarakat karena didalam hal tersebut terselip harapan atas prestise sosialnya. Sesungguhnya sangatlah logis apabila terjadi peningkatan pendapatan akan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

117

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dialokasikan untuk pemenuhan barang pemuas psikologis selama kebutuhan fisik minimum terpenuhi secara optimal. Kehadiran PT NNT secara langsung maupun tidak langsung telah berpengaruh terhada oreientasi nilai budaya masyarakat desa lingkar tambang terutama dilihat dari perubahan gaya hidupnya. 4.1.4. Perkembangan nilai adat dan kebiasaan Sejak mulai beroperasi PT NNT, ikatan adat istiadat masyarakat desa ingkar tambang cenderung mengalami kelonggaran terutama pada aspek (1) adat pergaulan sehari-hari, dan (2) ikatan adat dalam hal pembagian kerja dalam berbagai usaha. Pada aspek lainnya ikatan adat relatif masih kuat dalam arti masih dipertahankan oleh anggota masyarakat, seperti ; pelaksanaan upacara adat dan upacara lain sekitar siklus hidup manusia. Longgarnya ikatan adat istiadat masyarakat pada beberapa aspek kehidupan ditandai dengan makin berkurangnya peran tokoh-tokoh adat, dimana pada masa sebelum dimulainya aktivitas yang terkait penambangan batu hijau, keberadaan tokoh adat serta kelembagaan cukup dirasakan. Kelonggaran norma adat dirasakan terjadi sejak masa konstruksi (tahun 1997). Karena sebagian besar anggota masyarakat bekerja pada berbagai bidang usaha sehingga waktu luang yang tersedia untuk melaksanakan acara-acara sosial makin berkurang. Sejak saat itu, anggota masyarakat lebih berorientasi pada perubahan ekonomi dibandingkan dengan mempertahankan nilai-nilai sosial yang ada. Disamping itu, banyaknya pekerja pendatang yang berdomisili sementara di semua desa lingkar tambang menyebabkan masyarakat lokal kurang memperhatikan standar perilaku (adat istiadat) setempat, bahkan cenderung mengacu pada perilaku masyarakat pendatang. Ikatan adat dalam pergaulan keseharian pada masa sebelum tambang sangat kuat, hal ini tercermin dengan kuatnya kedudukan sanksi sosial dalam masyarakat, berperannya kelembagaan adat, tokoh-tokoh adat setempat dan lain sebagainya. Dalam Implementasinya, kuatnya ikatan adat dapat ditunjukkan dengan kuatnya penghormatan kaum muda terhadap orang tua, adanya kesepakatan tidak tertulis yang mengatur tat cara pergaulan hidup dan berkembangnya gotong royong serta tolong menolong atas dasar setempat. Sebelum masuknya PT NNT, landasan tindakan perolaku sosial masyarakat umumnya didominasi oleh pengalaman/kebiasaan dan instituisi, seperti dasar penyelenggaraan kegiatan sosial tolong menolong, gotong royong, mengembangkan kelembagaan sosial lokal, dan perilaku keseharian (gaya hidup). Kehidupan sosial sebelum tambang ditandai

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

118

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dengan kuatnya rasa tolong menolong dan gotong royong serta kuatnya peran dan kedudukan tokoh masyrakat terutama mereka yang dipandang memiliki kelebihan, seperti dukun (sandro), tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya. Hal ini menggambarkan kehidupan masyarakat dekat dengan alam dengan pola kehdupan subsisten, yakni bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pola dan sistem berinteraksi sosial berlandaskan pada kebiasaan dan pengalaman setempat. Hal ini diterima secara turun temurun. Kepekaan naluriah (intuitif), yakni dengan mengkedepankan faktor-faktor perasaan juga sering melandasi sikap dan tindakan sosial masyarakat pada era sebelum beroperasinya PT.NNT. Bisikan perasaan (intuisi) sebagai landasan interaksi sosial tercermin dengan tingginya rasa hormat menghormati sesama anggota masyarakat terutama dalam stratifikasi yang berbeda. Selain itu, dalam aspek tolong menolong dan gotong royong, jarang sekali masyarakat melakukannya atas pertimbangan ilmiah rasional (efisiensi). Sejumlah barang atau jasa serta tenaga yang dikeluarkan dalam konteks tolong menolong atau gotong royong semata-mata atas rasa kebersamaan dan rasa senasib dan sepenanggungan. Gaya hidup masyarakat sebelum ada PT.NNT bahwa sebagian besar masyarakat berada dalam kehidupan tradisional subsisten. Hal ini dicirikan dari beberapa hal, yakni; pola mata pencaharian yang berbasis pertanian perladangan (shifting cuktivation), tingkat pendidikan rendah (Sekolah Dasar), mobilitas keluar desa sangat rendah karena aksesbilitas kawasan rendah, perumahan dengan pola perkempungan (komunal) dengan rumah panggung, berkembangnya mta pencharian sampingan berupa ; pencarian hasil hutan (rotan, nira dan lebah madu) termasuk berburu dan pengambilan kayu dihutan. Selain itu tidak ada akses terhadap informasi dan komunikasi dengan daerah perkotaan. Masyarakat sebelum ada PT.NNT lebih banyak bergantung pada alam. Kondisi ini menyebabkan tindakan sosial pendatang dalam berperilaku sosial cendrung diadopsi masyarakat lokal dan dimulai oleh kalangan pemuda yang memang cenderung lebih freksibel dalam berinteraksi sosial dengan pendatang. Selanjutnya perubahan (adopsi nilai) tersebut menular kepada kalangan tua dan anak-anak, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama. Faktor pendorong perubahan ini, antara lain dikarenakan (a) meningkatnya aksesbilitas kawasan setelah masuknya PT.NNT (b). Banyak dan beragamnya asal dan etnik pekerja pendatang masuk ke daerah tambang. (c). Kurangnya penyaringan (filterisasi) sosial masyarakat lokal. (d). Berubahnya orientasi nilai dan budaya masyarakat lokal. (e). Meningkatnya pendapatan dan status sosial, dan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

119

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

(f). Meningkatnya ketersentuhan masyarakat atas informasi dari luar lingkar tambang. Perubahan ini sangat dirasakan mulai tahun 1997. Pola hubungan orang tua dengan anak, sebelum masuknya PT NNT, pengaruh orang tua terhadap anak dan kepatuhan anak kepada orang tua sangat tinggi, namun sejak masa produksi, (1999). Anak-anak cenderung bebas menentukan dan mengambil keputusan terutama menyengkut pekerjaan dan jodoh. Terjadi kelonggaran nilai disebabkan oleh meningkatnya rasa kemandirian dan kemmapuan didi anak terutama secara ekonomis. Banyak anak-anak muda yang telah mampu menghasilkan uang sendiri dan bahkan telah mampu membantu ekonomi keluarga. Dengan demikian, kemampuan anak menghasilkan uang melalui berbagai pekerjaan telah mampu menggeser otoritas orang tua dalam menentukan berbagai hal dalam rumah tangga. Akibat lebih jauh dan masih kental dirasakan sampai saat ini adalah orang tua tidak lagi memaksakan kehendak pada anak-anak mereka. Bahkan pola hubungan yang dalam konsep Sumbawa disebut tau lokaq tu salokaq, tau ode tu sangode sudah cenderung hilang dalam tata pergaulan masyarakat. Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan keluarga, seperti antara suami-istri, setelah masuknya PT NNT pola hubungan lebih mengarah kepada sifat-sifat egaliter, demokratis dan kemitraan. Secara umum, mulai terjadi hubungan timbal balik yang seimbang antara suami dengan istri menyangkut hak dan kewajiban dalam mengelola rumah tangga. Mereka sama-sama bekerja untuk menhidupkan rumah tangga. Hal ini berbeda dengan kondisi masa lampau yang sifat masyarakatnya masih tertutup karena rendahnya aksesbilitas kawasan. Umumnya pada masa lalu, para isteri lebih banyak tinggal dirumah mengurusi anak dan urusan rutin rumah tangga dan sepenuhnya tunduk kepada suami. Saat ini sebagian besar pengambilan keputusan rumah tangga dilakukan bersama hampir pada semua bidang kehidupan rumah tangga. Bahkan yang lebih menarik adalah kecendrungan dominannya peran anggota keluarga (apakah anak, suami atau istri) yang mampu menghasilkan pendapatan keluarga lebih banyak untuk menentukan keputusan rumah tangga. Hal ini menunjukkan terjadinya pergeseran dari peran senioritas (paternalistik) ke peran ekonomis dalam keluarga terutama untuk pengambilan keputusan. Kehadiran PT NNT berpengaruh terhadap perubahan nilai adat dalam masyarakat pada tatanan kehidupan sehari-hari. Perubahan standar hidup tersebut menyebabkan perubahan orientasi nilai masyarakat yang implikasinya adalah perubahan pada nilai sosial seperti adat dan kebiasaan sehari-hari. Meningkatnya akses informasi dengan dunia luar, serta

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

120

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

berkembangnya wacana perlindungan hak-hak perempuan dan anak juga turut mendorong perubahan di atas. 4.1.5. Perkembangan adat/kebiasaan dalam pembagian kerja dan kegiatan ekonomi (usaha) masyarakat. Sebelum masuknya PT.NNT, masyarakat lokal dengan pola kerjasama yang cukup kuat dalam berbagai pekerjaan. Disadari bahwa ketersediaan tenaga kerja di sektor pertanian kurang proporsional, maka atas spirit adat setempat mereka menciptakan kelembagaan kerja yang disebut besiru . Pola siru ini adalah semacam arisan pekerjaan. Dalam suatu kelompok petani, terutama atas dasar domisili mereka mengerjakan lahan secara bersama-sama tanpa upah. Pekerjaan lahan tersebut terus berlanjut secara bergiliran sampai semua anggota siru selesai mempersiapkan lahannya. Dalam bidang peternakan, pada sejumlah padang pengembalaan ternak para pemilik ternak yang ada di LAR saling kerjasama dalam mengawasi dan mengelola LAR yang ada. Semuanya didasarkan atas sistem kerjasama saling menguntungkan berdasarkan kaidah-kaidah tradisional yang sesungguhnya telah merupakan harmoni dalam masyarakat. Sejak dimulainya persiapan dan konstruksi hingga masa produksi saat ini, masyarakat lokal telah banyak mengalami perkembangan informasi, deversifikasi usaha, dan perubahan orientasi nilai budaya. Ternyata perubahan mendasar tersebut secara langsung berdampak pada adat kebiasaan dalam pembagian atau pengaturan kerja dalam bidang usaha masyarakat. Pembagian kerja dengan sistem basiru diakui telah berkurang secara drastis. Pengelolaan LAR atau padang pengembalaan bersama juga telah berkurang, dan sejumlah penduduk lebih berorientasi ekonomi atau keuntungan. Artinya, setiap pencurahan tenaga kerja harus diimbangi dengan sejumlah upah yang disepakati. Bagi masyarakat yang sebelumnya menjadi peladang di sejumlah kawasan ladang, hutan dan tegal mengenal aturan adat atau aturan komunal mereka, bahwa setiap suatu kawasan yang telah diberi tanda batas tertentu pantang ada yang menyerobot untuk menggarapnya. Tetapi pada beberapa tahun terakhir, terutama setelah meningkatnya harga tanah sebagai akibat adanya penambangan, cara dan kebiasaan tersebut tidak bisa dipertahankan lagi. Masyarakat peladang secara perlahan mulai meninggalkan kebiasaan tersebut dan mulai menerapkan aturan formal yang ada. Kepastian hak secara administratif menjadi hal yang sangat penting dalam kaitannya dengan penguasaan lahan, meskipun lahan kering yang tidak produktif. Upaya kearah pemastian hak-hak atas tanah, mulai marak sejak adanya informasi pembebasan tanah oleh perusahaan yang berkaitan dengan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

121

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

aktivitas tambang yakni pada awal masa persiapan. Bahwa akibat adanya informasi pembebasan lahan tersebut sudah mulai ada konflik antar masyarakat menyangkut hak atas sebidang tanah tertentu. Disamping itu, persoalan penetapan harga juga tidak jarang menjadi perselisihan, namun hal ini tidak sampai pada terjadinya konflik terbuka. Berdasarkan hasil studi menunjukkan perubahan tatanan atau nilai sosial semakin terlihat. Hal ini ditunjukkan dengan pengakuan sejumlah masyarakat yang menyatakan bahwa pada saat ini setiap curahan tenaga kerja yang menjadi faktor produksi harus dinilai dengan sejumlah materi (uang). Berkaitan dengan hal ini, sejumlah petani lokal mengungkapkan sulitnya mendapat tenaga kerja pertanian dari penduduk lokal. Kalaupun ada yang bersedia, upah yang diminta sangat tinggi. Itulah sebabnya, pelaku produksi diberbagai bidang usaha (pertanian, kerajinan, pertukangan dan sebagainya) cenderung menggunakan tenaga upahan dari luar daerah, terutama sekali pendatang dari Pulau Lombok. Perilaku ekonomi masyarakat dipandang sebagai aspek yang paling dinamis dalam perubahan masyarakat di daerah lingkar tambang PT.NNT. Artinya, perubahan aspek ekonomi sangat nampak setelah mulainya kegiatan yang terkait dengan PT.NNT/penambangan. Kegiatan ekonomi yang dimaksud adalah kegiatan masayarakat yang berkaitan dengan usaha untuk menghasilkan barang dan jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan atau meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Dinamika perubahan tersebut nampak antara kondisi sebelum masuknya PT.NNT dengan setelah dimulainya pekerjaan konstruksi untuk persiapan penambangan (mining). Sebelum ada PT NNT, perilaku dan kegiatan ekonomi masyarakat umumnya dilandasi oleh pengalaman dan perasaan (intuisi). Landasan pengalaman dan instuisi tersebut umumnya menyengkut dasar penyelenggaraan kegiatan ekonomi, seperti menetapkan/memutuskan bentuk kegiatan usaha, mulai membuka usaha, tempat usaha, pantangan dalam berusaha (bisnis) dan sejenisnya. Dikatakan mengandung nilai-nilai pengalaman dan institusi karena acuan yang digunakan mengambil keputusan usaha tersebut adalah pengetahuan tradisional setempat (kearifan budaya lokal), yatu peta waktu tradisional yang dalam istilah masyarakat Samawa disebut Wariga atau dalam bahasa Jawa disebut Pranata mangsa. Selain menggunakan wariga, masyarakat lokal juga menggunakan kitab Tajjul Muluk dan Mujarrobat. Tindakan ini diyakini sebagai cara untuk memperoleh kelancaran dan keberhasilan dari setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan dan terhindar dari berbagai bala atau kendala yang dalam istilah setempat disebuah dengan Nahas. Karena masyarakat Lokal menggunakan nilai-nilai tradisional yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

122

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dialami dan diyakini, maka dalam setiap keputusan ekonomi yang cukup besar mereka sangat tergantung pada orang pintar atau dukun yang dalam istilah masyarakat Samawa disebut Sandro. Sandro tersebut adalah orang yang memiliki kemampuan supranatural dan mampu menterjemahkan Wariga atau Tajjjul Muluk atau Mujarrobat tersebut dan diaplikasikan dalam berbagai kehidupan masyarakat lokal. Menurut masyarakat setempat, sebelum beroperasinya PT.NNT, disetiap kampung minimal ada satu orang Sandro, dan mereka umumnya ditempatkan sebagai tokoh masyarakat. Dalam hl kegiatan jual beli dikalangan masyarakat sebelum tambang, juga berlandaskan nilai pengalaman yang diterima turun temurun, yakni cara barter (tukar menukar natura atas kepesekatan) antar warga masyarakat. Berkembangnya sistem barter dan perilaku ekonomi yang tradisional lain, disebbabkan karena sebelum dibukanya tambang aksesbilitas (keterjangkuann) kawasan sangat rendah. Alat transportasi antar dusun pada

masa itu hanya berupa kuda angkut. Dengan berkembangnya sistem barter, muncul pasar tradisional terbatas disebut tenten sebagai lokasi transaksi tersebut. Berkaitan dengan aspek ekonomi, bahwa nilai yang mendasari tindakan ekonomi masyarakat adalah kemampuan analitis (rasional ilmiah). Dengan demikian, dalam kurun waktu tidak terlalu lama telah terjadi pergeseran nilai dari sistemik nilai-nilai rasional. Keputusan ekonomi tidak lagi berdasarkan gerak intuitif atau keputusan dukun (sandro), tetapi berdasarkan pemikiran rasional ekonomi. Tindakan ekonomi yang mengacu kepada keputusan Sandro telah sebagian besar ditinggalkan dan transaksi secaara berter (pertukaran natura) sangat jarang terjadi. Komponen yang berubah terletak pada dasar nilai berperilaku ekonomi secara keseluruhan. Pola dan kegiatan usaha ditentukan berdasarkan analisis peluang usaha dan peluang pasar. Sistem jual beli berlaku dengan sistem modern yakni transaksi formal (finansial). Meski masih ada beberapa warga yang masih meminta Sandro. Terjadinya peruahan nilai penalaran masyarakat dalam aspek ekonomi tersebut disebabkan oleh meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang aktivitas dan perkembangan perekonomian secara umum. Peningkatan pengetahuan tersebut disebabkan oleh meningkatnya intensitas interaksi masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang yang membawa nilai-nilai baru dalam aspek ekonomi. Selain karena faktor pengetahuan, faktor ketersediaan barang dan jasa yang dapat membentuk pasar formal di daerah lingkar tambang turut mempercepat terjadinya perubahan pada tataran nilai yang dianut oleh masyarakat lokal.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

123

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Masyarakat lokal tidak dapat bertahan dengan pola-pola dan nilai tradisioal sebagaimana yang dianut selama ini, karena disadari bahwa sikap statis akan menyebebkan mereka tertinggal dalam berbagai kehidupan ekonomi. Perkembangan pasar produk dan jasa di Kecamatan Maluk sangat maju berkembang dibandingkan dengan pasar-pasar lainnya diwilayah lingkar tambang mauun diluar wilayah lingkar tambang. Jenis dan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan setempat sangat beranake ragam, mulai dari produk hasil ertanian tradisional hingga produk industri maju. Perubahan ini berlangsung secara cepat (revolutif). Perubahan dimulai dengan terbukanya/terbentuknya pasar karena masuknya pekerja tambang dalam jumlah besar kedaerah lingkar tambang. Terbentuknya pasar tersebut disebabkan adanya kebutuhan barang dan jasa, dan sebagian dari kebutuhan tersebut dapat disediakan oleh masyarakat lokal. Setiap satuan barang atau jasa yang dikeluarkan oleh masyarakat lokal maupun pendatang selalu diperhitungkan dengan nilai (uang) dalam jumlah tertentu. Proses tersebut terus berkembang dan terakumulasi menjadi pasar. Dengan intensifnya interkasi dengan sistem pasar tersebut selanjutnya menimbulkan perubahan nilai dan orientasi ekonomi masyarakat lokal. Orientasi tersebut terus berkembang sehingga membentuk sistem nilai baru dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Beberapa hal yang mendasari terjadinya perubahan tersebut adalah (1) karena masyarakat lokal telah mengetahui (memiliki pemikiran baru) tentang aspek-aspek perilaku ekonomi masyarakat secara umum sebagai akibat terbukanya akses interaktif mereka terhadap masyarakat atau daerah lain. (2) terbentuknya pasar secara otomatis dengan skala yang lebih luas dan harus dapat dimanfaatkan dalam kerangka perbaikan ekonomi masyarakat lokal. Dengan demikian harus ada penyesuaian nilai dan cara pada masyarakat lokal sebagaimana yang diperlukan oleh sistem pasar dan perilaku ekonomi yang baru. (3). Alasan lain yang cukup banyak diungkapkan masyarakat adalah penilaian bahwa cara baru tersebut dinilai sesuai dengan perkembangan zaman, dan cara lama dinilai kurang praktis dan kurang prestisius. 4.1.6. Pembagian Niali-nilai yang ada di tengan Masyarakat a. Nilai Sosial (Penentuan Status Sosial dalam Masyarakat) Sebelum adanya PT.NNT, landasan penentuan status sosial masyarakat umumnya ddidominasi oleh pengalaman/kebiasaan yang diterima secara turun temurun. Pada masa lalu, status seseorang ditentukan oleh keturunan dan banyaknya pengalaman yang diwujudkan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

124

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dalam kemampuan dibidang kepemimpinan. Masyarakat dari keturunan bangsawan atau keturunan pemimpin terdahulu, baik pemimpin tingkat desa terlebih di atasnya, memiliki status sosial yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat lainnya. Implikasinya, kebanyakan dari mereka senantiasa dimunculkan sebagai pemimpin atau tokoh adat dan sejenisnya. Disamping itu, orang juga terangkat statusnya karena dipandang memiliki sejumlah pengalaman yang menyebabkan pengetahuannya lebih luas diabndingkan anggota masyarakat lainnya. Demikian juga dengan orang yang dipandang memiliki ilmu lebih, terutama penguasaan ilmu gaib dan ilmu agama biasanya akan dijadikan tokoh sentral dalam masyarakat desa. Tokoh-tokoh tersebut senantiasa menjadi penentu sikap dan pendapat masyarakat (opinion leader) yang segala keputusannya akan dihormati oleh masyarakat lainnya. Dari perkembangan status sosial masyarakat dimasa lalu dikenal beberapa kedudukan yang memiliki status sosial lebih tinggi seperti ; lebe, Kyai, Sandro, Wangsa. Setelah masuknya PT.NNT, aspek yang melandasi penentuan status sosial seseorang tidak hanya pada dasar ekonomi, pekerjaan, pengalaman dan keturunan, tetapi berdasarkan kependidikan. Seorang yang berpendidikan akan disertai dengan kemampuan bekerja yang lebih baik, sehingga mampu menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi. Landasan ini kemudian memunculkan adanya status sosial yang baru dimasyarakat lingkar tambang, yakni status sosial berdasarkan pendidikan, kemampuan atau ekonomi, dan status pekerjaan. Saat ini landasan pendidikan sebagai bentuk status semakin diakui oleh masyarakat. Sehingga mendorong masyarakat untuk meningkatkan pendidikan. Sebagian besar masyarakat menilai bahwa semakin tinggi pendidikan dan kemampuan kerja seseorang akan semakin dihargai dan statusnya lebih tinggi dibandingkan masyarakat biasa. Kemampuan karya yang tinggi menyebabkan mereka dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal, sehingga penghasilannya lebih baik. Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi baik, disertai sifat kedermawanan (sosial) yang cukup baik, akan sangat dihormati oleh masyarakat. Disamping itu, jenis dan status pekerjaan seseorang ikut menentukan status sosial seseorang setelah adanya tambang. Penduduk lokal yang bisa bekerja sebagai pekerja tetap di PT NNT atau Subkontrak yang mapan (seperti; PT. Thiess, Fluidcon, Trakindo), memiliki status sosial cukup baik. Artinya, mereka senantiasa dijadikan panutan dan ditokohkan masyarakatnya sendiri.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

125

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Faktor pendorong perubahan, yakni meningkatnya aksesbilitas kawasan setelah tambang, sehingga membuka peluang penduduk setempat menguasau akses kepada sumber ekonomi, tersedianya lapangan kerja baru yang mendatangkan pendapatan, tingginya animo masyarakat lokal memasuki lapangan kerja baru yang terkait dengan perusahaan tambang, berubahnya orientasi nilai budaya masyarakat lokal dari nilai kekerabatan menjadi dan meningkatnya ketersentuhan masyarakat atas informasi dari luar daerah lingkar tambang. Pergeseran perubahan status sosial ini telah mendorong sejumlah kalangan elite yang mulai tersisihkan menolak keberadaan elit sosial baru. b. Nilai Sosial (Kemampuan Berkarya) Sejak sebelum masuknya PT.NNT, penghargaan masyarakat terhadap kemampuan seseorang cenderung bersifat generalis. Artinya, orang dengan kemampuan beragan dinilai lebih baik dan lebih dihargai oleh masyarakat. Dalam kenyataannya, penilaian tersebut tidak mengalami perubahan setelah mulai masuknya kegiatan tambang. Apresiasi masyarakat masih cukup tinggi terhadap orang dengan kemampuan umum (general). Berdasarkan penuturan sejumlah masyarakat, bahwa seseorang yang ahli dibidang agama, perdukunan, dan sejenisnya tetapi terampil juga dalam ercocok tanam dan kegiatan lainnya, lebih dihargai dibandingkan dengan orang yang berkeahian khusu. Penilaian atas dasar keragaman kemampuan tersebut masih berlangsung sampai saat ini, meskiun masyarakat setempat telah banyak berinteraksi dengan masyarakat dari daerah lain. c. Nilai Sosial (Partisipasi Sosial) Sebelum ada PT NNT, masyarakat etnis Samawa merupakan masyarakat agraris, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan pladang. Kedekatan pada alam sangat mempengaruhi pola perilaku kehidupan mereka sebelum tambang, terutama nilai-nilai sosial seperti cara dan dasar pelibatan masyarakat dalam aktivitas sosial. Dasar pelibatan masyarakat dalam kegiatan sosial pada masa sebelum masuknya PT.NNT adalah hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan tersebut dapat berbentuk kekerabatan disekitar kampung (komunal), tetapi juga kekerabatan diluar kampung. Munculnya nilai kekerabatan tersebut antara lain melalui sistem pemukiman yang cenderung berkumpul pada lokasi tertentu atau dapat pula muncul melalui berbagai interaksi dibidang sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

126

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Sebelum tambang sebagian besar anggota masyarakat yang melakukan kegiatan sosial, seperti pesta pernikahan, kematian dan sejenisnya senantiasa melibatkan atau dibantu oleh kerabat-kerabatnya secara spontanitas. Diakui oleh sebagian besar masyarakat bahwa yang paling diutamakan adalah kaum kerabat disekitarnya. Kalaupun ada pelibatan secara individual, itu disebabkan karena seseorang memiliki peran atau kedudukan tertentu dalam masyarakat. Penyelenggaraan sosial hampir seluruhnya diselenggarakan secara koletkif, yakni oleh warga dalam suatu perkampungan. Berbagai pengalman tersebut menunjukkan bahwa faktor kekerabatan senantiasa menjadi dasar menentukan keterlibatan seseorang dalam kegiatan sosial pada masa sebelum masuknya tambang. Saat ini, penyelenggaraan kegiatan sosial cenderung mengalami pergeseran, yakni berubahnya pola kekerabatan menjadi individual. Hal ini terlihat dalam berbagai kegiatan sosial, seperti pembangunan prasarana ibadah, enyelenggaraan pesta adat dan sejenisnya. Pada kegiatan tersebut tidak lagi pelibatan masyarakat dalam kaitan kekerabatan, tetapi pelibatan masyarakat secara secara pribadi dan sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, daat dikatakan bahwa komponen yang berubah terletak pada dasar penentuan pelibatan seseorang dalam kegiatan sosial. Perubahan tersebut cukup mendasar dan berpengaruh terhadap kegiatan sosial lainnya. Arah perubahan yang terjadi setelah ada PT.NNT cenderung kearah yang lebih individualistis. Hal ini ditandai dengan berkurangnya keterikatan keluarga terhadap keluarga lain (lebih individual) terutama pada kegiatan sosial yang diprakarsai masyarakat setempat. Perubahan tersebut terjadi akibat semakin meningkatnya dinamika masyarakat dalam bekarja untuk menghasilkan barang dan jasa. Peningkatan dinamika pekerjaan tersebut terjadi setelah mulainya konstruksi tambang PT.NNT, dimana pada fase tersebut banyak sekali peluang kerja bagi masyarakat lokal. Akibatnya masyarakat nilai-nilai lokal sibuk bekerja itu, sehingga sebagai mengesampingkan kekerabatan. Disamping

pengaruh interaksi yang cukup intens dengan masyarakat luar yang lebih maju dan individualis, menyebabkan masyarakat setempat mengukur segala sesuatunya dalam kerangka material dan individual. Cara perubahan untuk aspek tertentu dalam pelibatan masyarakat pada kegiatan sosial, berlangsung secara sistemik dan tidak berencana. Banyaknya anggota kerabat yang harus bekerja diluar kampung atau desa

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

127

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

menyebabkan kian longgarnya kekerabatan itu sendiri. Mereka sudah berfikir dan bertindak sesuai dengan kepentingan pribadi (individu) dan lama kelamaan berkembang menjadi kebiasaan sehingga menjadi sistem nilai sampai saat ini. Perubahan tersebut disebabkan karena berubahnya kepentingan masyarakat, dari kepentingan sosial kepada kepentingan ekonomi. Indikasi adanya perubahan orientasi masyarakat kearah yang lebih individualis. Aspek-aspek sosial komunal berubah menjadi pertimbangan ekonomis dan efisiensi sebagaimana dinamika sosial yang sedang terjadi. Selain itu, aspek-aspek pekerjaan produktif menjadi lebih dipentingkan dibandingkan aspek hubungan sosial, dan pola-pola hubungan sosial dan kekerabatan berubah menjadi pendekatan ekonomi dan materalistik. 4.1.7. Tatanan Sosial Budaya (Sistem Gotong Royong) Sebelumnya masuknya PT.NNT, tatanan sosial budaya yang cukup berkembang adalah gotong royong dan tolong menolong. Gotong royong dipandang sebagai salah satu bentuk interaksi antar warga. Kegiatan gotong royong tersebut berlangsung untuk berbagai asek kehidupan, seperti; bercocok tanam, membangun rumah, melaksanakan upacara adat dan ritual (perkawinan, kematian, dan upacara selamatn lainnya), membersihkan kampung, membangun fasilitas umum (masyarakat) dan sebagainya. Gotong royong ini terus berkurang. Menurunnya perkembangan kegiatan gotong royong pada berbagai aspek kehidupan masyarakat pada awalnya disebabkan oleh meningkatnya kesibukan warga dengan pekerjaan sehari-hari dan bergesernya orientasi mereka kearah yang lebih mandiri. Selain itu, ada beberaa obyek yang dulunya bisa digotong-royongkan tapi pada saat ini sudah kurang memungkinkan karena dianggap tidak efetif. Terbentuknya kebiasaan baru masyarakat dalam ke gotongroyongan setelah kegiatan konstruksi tambang berlangsung tidak mudah berubah atau kembali ke sikap sebelum masuknya erusahaan tambang. Nilai-nilai kekerabatan sangat dirasakan semakin longgar, bahkan secara kasuistik ada rasa persaingan antar masyarakat lokal terutama berkaitan dengan kemampuan mereka mengakses perusahaan PT.NNT. Aktivitas gotong royong dan tolong menolong saat ini telah mengalami transformasi. Pola interaksi kelompok sebagai basis gotong royong, seperti bawa penulung (membawa bahan makanan untuk

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

128

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

membantu pesta perkawinan(, bawa perenok/ngenong (membawa bahan makanan pada keluarga yang mengalami musibah kematian) umumnya masih tetap ada namun kadang-kadang divariasikan dengan mengganti barang bawaan tersebut dengan uang. Kebiasaan memberikan pertolongan atau partisipasi sosial dengan uang kian terasa setelah masuknya PT.NNT. Pada kegiatan gotong royong membangun rumah (Basanata) yang dahulu paling lazim dan tampak pelaksanaannya, setelah masuknya perusahaan menjadi sangat jarang dilakukan kecuali oleh masyarakat desa di perkampungan yang agak jauh dari pusat desa. Basanata jika dibangun adalah rumah tradisional (rumah panggung) biasanya seluruh proses pembangunannya di gotong royongkan. Tetapi jika yang dibangun adalah rumah batu, maka yang digotong royongkan adalah penyelesaian atapnya. Namun aktivitas gotong royong semacam ini sudah semakin jarang dilakukan saat ini. tukang. Bentuk gotong royong yang juga sudah mulai berkurang adalah dibidang pertanian, seperti Basiru (mengerjakan sebidang lahan secara bersama-sama dan bergiliran antar penggarap lahan tanpa upah). Basiru tersebut biasanya berlaku untuk pekerjaan pengolahan lahan, menanam, menyiang sampai panen. Berkurangnya gotong royong Basiru tersebut sesungguhnya disebabkan oleh diintrodusirnya paket teknologi pertanian (intensifikasi) seperti penggunaan benih unggul, dan peralatan mekanisasi pertanian. Praktik-praktik gotong royong tersebut semakin berkurang sejak dimulainya persiapan kegiatan penambangan PT.NNT. Saat ini bentuk gotong royong dalam arti sumbangan tenaga secara sukarela banyak diganti dengan bantuan berupa materi atau uang. Sebagian besar penduduk bekerja di PT NNT dan perusahaan lainnya menyebabkan sebagian besar waktu digunakan untuk bekerja sehingga tidak banyak waktu untuk kegiatan yang kurang produktif. Pada masa konstruksi masih berlangsung, pekerjaan gotong royong sebagaimana di atas oleh genarasi muda justru dipandang sebagai kontra produktif. Hal ini menggambarkan perubahan orientasi masyarakat dari spirit sosial ke arah yang dilandasi oleh materi (ekonomis). Begitupun aktivitas gotong royong, seperti pengadaan fasilitas umum, pembangunan prasarana ibadah, kebersihan lingkungan, konservasi sumberdaya alam dan sebagainya, penurunan drastis ini berlangsung sejak tahun 1996 dan semakin meningkat saat ini. Hal ini Pembangunan rumah saat ini diserahkan kepada

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

129

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

antara lain karena ada upaya dari PT.NNT untuk pengadaan berbagai fasilitas sosial tersebut dikerjakan oleh perusahaan lokal atau tenaga upahan penduduk lokal ataupun pekerja dari daerah lain. Kehadiran PT.NNT telah menyebabkan berkurangnya kegiatan gotong royong pada masyarakat di desa lingkar tambang. 4.1.8. Pelapisan Sosial Pelapisan sosial dapat di pandang sebagai potensi interaksi dalam suatu masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pelapisan sosial dalam masyarakat terutama wilayah lingkar tambang kurang kentara, baik sebelum maupun sesudah berlangsungnya kegiatan tambang PT.NNT, lapis sosial dalam bentuk Patron dan klien sangat jarang dijumpai di masa lalu. Hal ini disebabkan karena sebagaian besar penduduk asli di desa lingkar tambang adalah masyarakat subsisten dengan level yang tidak jauh berbeda (seperti petani sawah dan peladang, serta sebagian kecil adalah nelayan). Perbedaan status sosial yang ada hanya sebatas kelas sosial yang ditentukan atas dasar jenis pekerjaan dan status ekonomi. Dalam kelas sosial tersebut dikenal ada pamong (Pegawai, guru dan lainnya). Selain itu dari status ekonomi dikenal adanya kalangan atau keturunan orang kaya dan orang biasa. Ditempat-tempat tertentu (Benete, maluk, Tongo Sejorong) sejak masa sebelum masuknya PT.NNT dikenal juga kelas sosial berdasarkan kependudukannya, yakni masyarakat asli dan masyarakat pendatang. Kenyataan adanya kelas-kelas sosial tersebut tampaknya tidak berubah setelah masuknya PT.NNT bahkan dari hasil wawancara dan pengamatan diketahui bahwa kelas sosial berdasarkan daerah asal tersebut cenderung semakin kentara (local versus non local). Hal ini memungkinkan mengingat dalam penyerapan tenaga kerja pada perusahaan sejak masa konstruksi isu-isu daerah asal ini cukup menonjol dan senantiasa menjadi sorotan khalayak sampai saat ini. Dalam persepsi masyarakat lokal, terutama tokoh informal, hadirnya PT NNT dan perusahaan pendukungnya sejak masa konstruksi dinilai telah membentuk kelas-kelas baru dalam struktur masyarakat desa lingkar tambang. Kelas sosial yang baru tersebut adalah kelompok yang bekerja di PT NNT maupun perusahaan pendukungnya, dan kelompok masyarakat yang tidak dapat mengakses perusahaan. Dalam kenyataannya para pekerja (karyawan) perusahaan tersebut telah memiliki status sosial cukup tinggi dalam struktur sosial saat ini. Hal ini merupakan salah satu

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

130

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

motivasi kuat masyarakat setempat untuk bisa bekerja di perusahaan. Munculnya status dan lapisan sosial baru tersebut tidak terlepas dari orientasi ekonomi masyarakat setempat, dari hasil wawancara menunjukan bahwa masyarakat yang tidak bekerja pada PT NNT maupun perusahaan penunjangnya (Sub Kontraktor) berpandangan bahwa orang yang bekerja pada perusahaan tersebut memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari pegawai negeri yang ada di sekitar desa. Oleh sebab itu atas munculnya pandangan tentang penghasilan tinggi inilah yang menyebabkan status karyawan perusahaan lebih tinggi dari pada lainnya. Lebih lanjut sebagaimana yang masih terasa hingga saat ini, munculnya kelas sosial baru tersebut memiliki implikasi terhadap banyaknya anggota masyarakat lokal yang sebelumnya telah memiliki pekerjaan tetap rela meninggalkan pekerjaanya untuk bekerja di perusahaan, indikasi ini mendukung pernyataan sebelumnya, bahwa orientasi masyarakat desa lingkar tambang khususnya bergeser dari spirit sosial kekerabatan menjadi spirit rasional materialistik. Hal ini juga tercermin dalam pembagian Kondisi sosial masyarakat dilihat dari pengelompokan serta tingkat kerawan konflik yang terjadi ; 1. Golongan Masyarakat dan Suku Pada masa sebelum mulai masuknya perusahaan tambang (PT.NNT), penggolongan masyarakat dan suku kurang begitu menonjol. Penggolongan masyarakat umumnya atas dasar pekerjaannya. Struktur masyarakat pada masa itu cukup sederhana, yakni masyarakat pedesaan dengan corak subsisten. Penduduk di desa-desa lingkar tambang dulunya didominasi oleh orang samawa dan sebagian kecil dari lombok (terutama di Maluk, Aik Kangkung, Tatar, Beru/Jelenga). Penggolongan masyarakat dari aspek lain tidak menonjol karena sebagian besar penduduk sepuluh desa lingkar tambang pada masa itu beragama Islam. Penggolongan yang ada, tapi tidak terlalu tampak adalah berdasarkan kelompok-kelompok keagamaan yang bernuansa politis, yakni kelompok Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan lainnya. Khusus masyarakat di desa Tongo Sejorong sejak dahulu ada kesan masyarakat, yakni penduduk Tongo Loka dan asli Sejorong. Demikian juga halnya di Benete dan Maluk ada kesan sejak dahulu potensi penggolongan penduduk berdasarkan keaslian asal usulnya. Penduduk asli Benete kadangkala tidak mau menyebut penduduk di dusun Tatar dan Singa sebagai orang Benete. Artinya terdapat penggolongan masyarakat Benete berdasarkan keasliannya, yakni penduduk asli Benete (yang berasal dari Jereweh) dan penduduk asli pendatang dari

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

131

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Tatar dan Singa yang mulai masuk sekitar tahun 1975 dengan suatu program Resettlement penduduk yang terkena bencana alam. Sejak mulainya pekerjaan konstruksi penambangan (1997) golongan masyarakat suku menjadi lebih kentara. Persaingan dalam perebutan lapangan kerja, persaingan dalam peran dan fungsi sosial dan formal dinilai sebagai akselelator penggolongan masyarakat tersebut. Daerah asal dan keaslian status kependudukan sering menjadi isu dan sumber konflik berkaitan dengan kesempatan memasuki lapangan kerja pada perusahaan yang ada. Pada masa konstruksi, kelompok suku sangat beragam, dimana hampir semua suku dominan di Indonesia ini dapat dijumpai orangnya pada masa konstruksi tersebut. Penggolongan masyarakat juga terasa berdasarkan pekerjaan dan status pekerjaanya pada perusahaan. Pekerja Newmont dan bukan Newmont, atau pekerja perusahaan dan bukan pekerja perusahaan. Pekerja Newmont dan bukan Newmont, atau pekerja Perusahaan dan bukan Perusahaan diniali sangat terasa pada masa konstruksi. Pada masa itu, selain menjadi motivasi pengembangan etos. Tidak jarang penggolongan tersebut menjadi potensi konflik terutama kaitanya dengan perebutan akses kesumber-sumber ekonomi produktif. Pada saat ini penggolongan masyarakat dan suku masih sangat kental, sejalan dengan masa ekploitasi PT.NNT. Adanya kebijakan konsentrasi karyawan di Townside dan Benete oleh PT.NNT pada masa produksi menyebabkan disparitas sosial dan penggolongan masyarakat maupun suku semakin mengental. Menurut pendapat sejumlah pejabat formal di wilayah lingkar tambang (Sekongkang, Maluk Jereweh), penggolongan masyarakat dan suku pada tahap produksi ini sangat jauh berbeda dengan kondisi pada masa sebelum masuknya PT.NNT, lebih jauh ditegaskan bahwa terjadinya pergeseran yang signifikan atas pergeseran sosial sebagai akibat difrensiasi masyarakat yang terjadi pada masa konstruksi. Tingkat pembauran sosial masyarakat cuku rendah, dan interaksi ekonomi dan sosial pun sangat terbatas, penggolongan masyarakat dan suku ini berpengaruh besar terhadap perubahan sosial. 2. Keamanan dan Ketertiban Sosial Perkembangan situasi dan kondisi kemanan ketertiban sosial semakin kurang baik setelah masuknya PT.NNT, indikasi meningkatnya gangguan kemanan dan ketertiban tersebut antara lain; 1) meningkatnya kriminalitas (perkelahian, pencurian, perjudian, prostitusi). 2) meningkatnya kenakalan remaja, dan 3) meningkatnya konflik sosial antar dan di dalam kelompok itu sendiri. Kriminalitas yang merupakan salah satu masalah sosial yang senantiasa terjadi di berbagai

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

132

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

tempat. Tindakan kriminal yang masih dirasakan oleh masyarakat linkar tambang sampai saat ini adalah; pencurian, perkelahian dan penganiayaan dan kriminal ringan lainnya. Penilaian masyarakat terhadap kejadian kriminal (perkelahian, penganiayaan, pencurian dan ancaman sejenis) memang meningkat terutama pada masa konstruksi, disebabkan beberapa hal yaitu : Masih adanya penduduk pendatang yang bertujuan mencari pekerjaan ke daerah lingkar tambang, namun kenyataannya mereka tidak mendapatkan pekerjaan produktif yang menghasilkan upah, barang/jasa. Tersedianya sarana prasarana yang berfungsi sebagai media konflik, seperti Bar dan sejenisnya, seperti yang telah beroperasi di sekitar pantai Desa Sekongkang bawah dan Maluk. Masih adanya oknum (perorangan atau kelompok) yang kurang puas atas situasi riil yang ada. Melemahnya pengawasan dari pihak pemerintah daerah dan tidak ada tindakan tegas atas terjadinya gangguan keamanan ketertiban selama ini. Berkurangnya lapangan kerja memasuki masa produksi yang diikuti dengan meningkatnya jumlah pencari kerja ekses munculnya gangguan ketertiban dalam berbagai coraknya. Kondisi inilah yang kemudian mendorong beberapa organisasi sosial keagamaan maupun sosial untuk melakukan gerakan moral; anti minuman keras, anti prostitusi anti pencurian dan anti kekacauan sosial maupun gerakan sosial dari masyarakt lkal yang menuntut untuk dipekerjakan di perusahaan. Seringkali tindak kriminal (anarkis) terjadi sebagai akibat dari banyaknya pekerja yang sudah habis masa kontrak kerjanya pada berbagai perusahaan konstruksi PT.NNT. Sejumlah gangguan ketertiban yang terjadi pada masa produksi, diduga salah satunya sebagai ungkapan kekecewaan sejumlah orang karena tidak dapat bertahan pada posisi pekerjaan yang ada atau pernah dimasukinya. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa terjadi anomali didalam sebagian masyarakat lokal, yaitu mereka telah meninggalkan budaya dan kebiasaan komunal/tradisional, sementara mereka juga belum mampu memasuki sistem budaya modern yang dihadapinya. Menurut tokoh masyarakat di desa Sekongkang Atas dan Desa Goa, perkembangan gangguan keamanan dan ketertiban akan sulit diatasi. Hal tersebut disebabkan karena keterbukaan daerah terhadap

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

133

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

daerah lain, dan masyarakat lokal cenderung sudah kurang memperhatikan sistem ketahanan sosial budaya sebagaimana yang pernah ada sebelum masuknya perusahaan tambang PT.NNT. 3. Kerawanan Sosial dam Kenakalan Remaja Berbagai masalah kerawanan dan gangguan sosial yang dihadapi masyarakat setempat telah menimbulkan hasrat dari para tokoh setempat untuk segera melakukan restrukturisasi sistem sosial sesuai dengan kondisi setempat. Harapan yang muncul dari para tokoh masyarakat adalah menumbuhkan perangkat aturan setempat seperti awiq-awiq desa, kelompok pengamanan swakarsa dan sebagainya. Potensi kerawanan sosial dan kenalakan remaja pada saat ini masih dirasakan oleh masyarakat di beberapa desa dalam lingkar tambang PT.NNT, kondisi ini tidak berubah dengan keadaan tahun-tahun sebelumnya. Upaya masyarakat setempat untuk menghambat berkembangnya kerawanan sosial dan kenakalan remaja untuk masa tertentu cukup berhasil, karena mampu menekan terjadinya kasus, namun apabila media atau sarana cukup tersedia tidak tertutup kemungkinan kembali berkembangnya kerawanan sosial dalam skala yang luas, saat ini ternyata banyak masyarakat yang mensinyalir adanya praktik terlarang (protitusi,judi, miras dan sejenisnya) secara terselubung di beberapa tempat, seperti lokasi sekitar Town side dan komplek pemukiman dan penginapan di Desa maluk. Indikasi inilah yang memperkuat anggapan sejumlah tokoh masyarakat bahwa tingkat kerawanan sosial dan kenakalan remaja lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kenakalan remaja yang terjadi selama ini oleh masyarakat sebagai dampak minuman keras. Di beberapa tempat (Maluk,Sekongkang,Benete) peningkatan tersebut dipacu oleh tersedianya sarana hiburan seperti bar dan sejenisnya yang aktif beroperasi pada pertengahan tahun 2004. 4. Konflik Sosal Intensitas konflik sosial cenderung meningkat, konflik sosial yang terjadi saat ini berkisar pada masalah kebutuhan masyarakat terhadap prasarana dan pelayanan lain yang diharapkan dapat diadakan oleh PT.NNT. Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi beberapa kecenderungan terjadinya konflik sosial. Konflik yang terjadi di desa lingkar tambang terutama pada masa produksi terjadi sebagai akibat benturan kepentingan sosial ekonomi dalam sistem hubungan kemasyarakatan, dari hasil wawancara mendalam diketahui model konflik yang terjadi bersifat horizontal (antar masyarakat) dan konflik dalam struktur sosial yang ada). (a). Konflik antar masyarakat Hasil

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

134

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

penelusuran menemukan bahwa konflik antar masyarakat lokal banyak terjadi pada tahap persiapan konstruksi penambangan PT.NNT konflik antar masyarakat berawal dari merenggangnya hubungan antar anggota masyarakat akibat perbedaan kemampuan dan kepentingan dalam mengakses diri pada PT.NNT dari perbedaan kemampuan mengakses tersebut sering kelompok masyarakat tertentu menilai PT.NNT diskriminatif. Contoh kejadian yang terjadi di awal kegiatan tambang adalah perebutan penawaran tanah kepada PT.NNT dan perusahaan sub kontraktor lainnya, kalau ada penduduk setempat yang mampu mengakses perusahaan, seperti menjadi suplier barang atau jasa akan dinilai oleh warga setempat sebagai pengkhianat. Kalau ada warga masyarakat asli (lokal) yang sudah menduduki posisi cukup baik di perusahaan dan saat yang sama ada sebagaian lain pelamar kerja lokal yang tertolak, maka karyawan tersebut juga dicaci sebagai pengkhianat yakni warga yang lupa dan tak tahu diri Konflik horizontal antar warga juga kadang terjadi karena perbedaan layanan yang diterima dari perusahaan, baik layanan langsung maupun layanan melalui yayasan yang ditetapkan PT.NNT sebagai penghubungnya dengan masyarakat dalam kerangka pengembangan masyarakat, misalnya dalam satu dusun ada yang mendapatkan bantuan ternak dan ada yang tidak mendapatkan bantuan maka hal ini menimbulkan konflik internal warga setempat. Akan tetapi konflik tersebut lebih bersifat tertutup. Pada penelitian ini menunjukkan intensitas konflik antar warga berkurang dibandingkan pada masa konstruksi, kalaupun terjadi konflik biasanya terkait dengan rasa ketidak adilan dalam menerima pelayanan dari PT.NNT hal ini disebabkan karena PT.NNT yang mulai produksi tidak membuka akses bagi kepentingan ekonomi tertentu. Langkah kebijakan dengan memberikan kepercayaan kepada Lembaga lokal untuk menghubungkan kepentingan ekonomi masyarakat dengan PT.NNT dimaksudkan untuk mengurangi konflik vertikal, namun dalam berbagai kasus yang terjadi justru potensi konflik horizontal yang muncul dari rasa ketidak adilan akibat sistem kerja lembaga lokal yang diberi kepercayaan. Sebagai contoh dalam beberapa realisasi bantuan melalui YOP dinilai diskriminatif karena, ada warga yang menerima dan ada yang tidak menerima.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

135

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Konflik horizontal masih terjadi saat ini, yakni ; konflik yang terjadi karena perbedaan manfaat yang diterima, secara terperinci beberapa potensi konflik horizontal saat ini antara lain adalah sebagai berikut : 1. Berkembangnya image (persepsi) masyarakat, bahwa aparat pemerintah Desa kurang adil dan kurang terbuka dalam menerima atau mengusulkan calon karyawan yang akan bekerja di perusahaan (PT.NNT), aparat Desa dinilai lebih mendahulukan kelangan keluarga dan kerabat dekatnya. 2. Masih adanya kesan didalam anggota masyarakat bahwa perusahaan khususnya karyawan PT.NNT cenderung bersikap demonstratif ketika berada di sekitar lingkungan sosialnya, hal ini menimbulkan kecemburuan anggota masyarakat yang tidak berkesempatan bekerja di perusahaan. Hal ini juga yang mendorong kuatnya tuntutan masyarakat lokal untuk dapat bekerja di perusahaan. 3. Adanya rasa dibedakan (diskriminatif) pelayanan dan bantuan oleh PT.NNT terhadap tiap-tiap Desa yang ada di lingkar tambang, masyarakat desa belo, Goa dan Beru di Kecamatan Jereweh merasa sangat sedikit menerima bantuan pelayanan dan dukungan lainnya dari perusahaan. Sementara mereka menilai bahwa desa lainnya mendapatkan bantuan yang jumlah dan macamnya lebih banyak. 4. Munculnya perambahan hutan disekitar sinyur dan kawasan hutan lindung (hutan suaka alam) yang dalam penilaian anggota masyarakat diawali oleh program pertanian Comdev PT.NNT program pertanian tersebut dinilai gagal (tidak berkelanjutan) dan lahan bekas kawasan pengembangan tersebut terbengkalai. Semua isu tersebut potensial menjadi konflik terbuka antar masyarakat (konflik horizontal). (b). Konflik masyarakat Lokal dengan pendatang dan perusahaan. Konflik masyarakat lokal dengan pendatang banyak terjadi pada masa konstruksi sedangkan pada saat ini relatif berkurang. Persoalan dasar sebagai pemicu timbulnya konflik masa lalu adalah masalah peluang dan kesempatan kerja pada perusahaan (PT.NNT dan sub Kontraktornya). Faktor penyebab lain adalah persoalan remaja dan perbedaan sosio kultural antara masyarakat lokal dengan oknum anggota masyarakat dari etnis lain. Hasil wawancara mendalam dengan sejumlah masyarakat menyebutkan bahwa konflik masyarakat lokal dengan pendatang setelah memasuki masa produksi memang masih terjadi. Penghentian sejumlah pekerja pada perusahaan PT.NNT senantiasa dicermati oleh pekerja atau mantan pekerja dari penduduk

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

136

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

lokal. Bagi pekerja yang kecewa karena masa kontraknya dengan perusahaan berakhir terkadang melakukan advokasi dan provokasi bahwa seolah-olah yang diputuskan masa kontraknya sebagian besar pekerja lokal. Sesungguhnya hal ini merupakan potensi dan tidak jarang justru terbukanya konflik tersebut dalam bentuk reaksi ketidak puasan masyarakat terutama mantan pekerja terhadap perusahaan yang masih beroperasi. Beberapa isu yang bernuansa konflik pada saat ini dari hasi studi mendalam adalah sebagai berikut : Masyarakat lokal memperoleh informasi bahwa PT.NNT telah berupaya memperluas kawasan penambangan dengan mulai melakukan pengeboran pada beberapa lokasi baru. Dari isu tersebut muncul harapan baru bagi warga untuk dapat bekerja seiring dengan perluasan kawasan penambangan tersebut. Selain itu masyarakat ada yang mendapat informasi bahwa ekosistem hutan semakin terancam yang akan dapat mengganggu kehidupan mereka. Berkembangan isu bahwa aktifitas penambangan telah menimbulkan kerusakan kawasan hutan yang cukup luas dan akan mengganggu ekosistem kawasan yang berdampak pada kehidupan masyarakat sekitarnya. Berkembangnya isu bahwa dengan beroperasinya tambang terjadi pencemaran kawasan pesisir pantai dan laut (limbah tailing) yang berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan nelayanan. Bahwa aktivitas penambangan telah menyebabkan rusaknya sistem hidrologis hutan yang menyebabkan berkurangnya debit air sungai dan air tanah, disamping itu telah terjadi penurunan kualitas air sungai, air tanah dan air PAM yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk berbagai aktivitas kehidupannya. Dengan berkurangnya serapan tenaga kerja di perusahaan maka bagi masyarakat lokal relatif sulit kembali menekuni pekerjaan (mata pencaharian tradisional, seperti mencari rotan, madu, berburu dan mencari hasil hutan lainnya). Bahwa selama ini masyarakat tidak banyak mengetahui sejauh mana konstribusi kongrit PT.NNT yang disalurkan melalui pemerintah masyarakat lokal tidak mau apabila mereka yang terkena dampak tetapi masyarakat atau daerah lain atau oknum tertentu yang banyak menikmati manfaat royalti tersebut. Kehadiran PT.NNT dan sub Kontraktor lain sejak masa konstruksi dinilai telah menyebabkan harga kebutuhan pokok dan harga barang lainnya

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

137

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

meningkat secara mencolok, sementara pendapatan masyarakat di masa produksi saat ini tidak mengalami peningkatan. Dengan sistem konsentrasi akomodasi karyawan PT.NNT di Town side dan Benete dinilai sebagai sikap eksklusif (sikap memisahkan diri dari lingkungan sosial masyarakat) terlebih dengan pengamanan yang sangat ketat memasuki kawasan pemukiman di Townsite dan Benete. Masih adanya kesan masyarakat bahwa kredebilitas dan kinerja Yayasan olat Parigi (YOP) sebagai suatu lembaga lokal yang membantu PT.NNT dalam rangka pengembangan masyarakat kurang memuaskan masyarakat sasaran. Faktor-faktor subyektif dinilai masih dominan dalam menentukan kelompok atau perseorangan yang menerima bantuan. Banyaknya permohonan bantuan (terutama bantuan sosial) ke PT.NNT yang diunjukkan dengan pengusulan proposal. Permohonan tersebut tentu tidak semua dapat dipenuhi akan tetapi banyak pemohon bantuan yang kecewa karena tidak adanya kejelasan jawaban atas permohonan bantuan mereka. Disisi lain mereka banyak mengetahui lembaga atau unsur-unsur lain yang mendapatkan bantuan (proposal direalisasi). Isu atau probematika sebagaimana hasil studi yang disebutkan di atas menggambarkan persepsi sebagian masyarakat. Dipandangnya hal tersebut sebagai potensi konflik antara masyarakat lokal dengan perusahaan karena hal-hal (isu) tersebut dianggap sebagai pembenaran bahwa kehadiran PT.NNT merugikan kepentingan masyarakat lokal, terutama mereka yang terbatas kemampuannya membuka akses dengan perusahaan. Dalam pandangan sebagian nara sumber kunci yang diwawancarai secara mendalam menunjukkan bahwa isu-isu tersebut sering menjadi bahan pemberitaan dalam media cetak dan elektronik sehingga dianggap tingkat kebenaranya cukup tinggi. Oleh sebab itu, informasi, persepsi dan isu yang berkembang didalam masyarakat merupakan potensi konflik yang apabila tidak diantisipasi dan ditangani secara baik akan muncul menjadi konflik terbuka. Dari gambaran kondisi kabupaten Sumbawa Barat mulai dari sejak sebelum adanya P.NNT hingga masa beroperasinya hingga kini menunjukkan bahwa sangat besar sekali perubahan yang telah di timbulkannya mulai dari tatanan masyarakat hingga persoalan-persoalan sosial yang muncul diakibatkan oleh keberadaan perusahaan tersebut. hal ini yang merupakan salah satu alasan pentingnya pelaksanaan program CSR karena hal tersebut merupakan tanggung jawab

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

138

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

perusahaan yang telah secara langsung maupun tidak langsung merubah tatanan masyarakat yang ada.

4.2. Mengapa CSR penting untuk dilaksanakan 4.2.1. CSR dalam konteks Hukum Pertambangan Istilah hukum pertambangan merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu mining low. Hukum pertambangan adalah : hukum yang mengatur tentang penggalian atau pertambahan bijih-bijihan dan mineralmineral dalam tanah Definisi ini hanya difokuskan pada aktifitas penggalian atau pertambangan bijih-bijihan. Penggalian atau pertambangan merupakan usaha untuk menggali berbagai potensi-potensi yang terkandung dalam perut bumi. Di dalam definisi ini juga tidak terlihat bagaimana hubungan antara pemerintah dengan subjek hukum. Padahal untuk menggali bahan tambang itu diperlukan perusahaan atau badan hukum yang mengelolanya. Menurut Blacklaw Dictionary. Mining law adalah: the act of appropriating a mining claim (parcel of land containing preciours metal in its soil or rock) according to certain establishedrule (Blacklaw Dictionary, 1982:847). Artinya, hukum pertambangan adalah ketentuan yang khusus yang mengatur hak menabung (bagian dari tanah yang mengandung logam berharga di dalam tanah atau bebatuan) menurut aturan-aturan yang telah ditetapkan. Definisi ini difokuskan kepada hak masyarakat semata-mata untuk melakukan penambangan pada sebidang tanah atau bebatuan yang telah ditentikan. Sementara itu, hak menambang adalah hak untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan hak untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan hak untuk melakukan kegiatan eksploitasi (mining right shall be regarded as a prospecting right and exploitation right) (lihat Articele 11 Japanese Mining law, No.289,1950 Latest Amendement In 1962). Begitu juga dengan objek kajian hukum pertambangan. Objek kajian hukum pertambangan tidak hanya mengatur hak penambangan sematamata, tetapi juga mengatur kewajiban penambangan kepada negara. Oleh karena itu, kedua definisi diatas perlu disempurnakan sehingga menurut penulis,yang diartikan dengan hokum pertambangan adalah : keseluruhan kidah hukum yang mengatur kewenangan negara dalam pengelolaan bahan galian(tambang) dan mengatur huungan hukum antara

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

139

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

negara dengan orang dan atau badan hukum dalam pengelolaan dan pemanfataan bahan galian (tambang). Kaidah hukum dalam hukum pertambangan dibedakan menjadi dua macam, yakni kaidah hukum pertambangan tertulis merupakan kaidah hukum yang terdapat didalam peraturan perundang-undangan. traktat dan yurisprudensi. Hukum Pertambangan tidak tertulis merupakan ketentuanketentuan hukum yang hidup berkembang dalam masyarakat. Bentuknya tidak tertulis dan sifatnya lokal, artinya hanya berlaku dalam masyarakat setempat. Kewenangan negara merupakan kekuasaan-kekuasaan yang diberikan oleh hukum kepada negara untuk mengurus, mengatur dan mengawasi pengelolaan bahan galian sehingga didalam pengusahaan dan pemanfaatannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kewenangan negara ini dilakukan oleh pemerintah. Penguasaan bahan galian tidak hanya menjadi mnopoli pemerintah semata-mata, tetapi juga diberikan hak kepada orangdan/ atau badan hukum untuk mengusahakan bhan galian sehingga hubungan hukum antara negara dengan orang atau badadan hukum harus diatur sedemikian rupa agar mereka dapat mengusahakan bahan galian secara optimal. Agar orang atau badan hokum dapat mengusahakan bahan galian secara optimal, pemerintah/pemerintah daerah (provinsi/kabupaten/kota) memberikan izin kuasa pertambangan, kontrak karya, perjanjian karya pengusahaan batubara kepada orang atau badan hukum tersebut. Dari uraian diatas, ada tiga unsur yang tercantum dalam definisi yang terakhir ini, yakni adanya kidah hukum , adanya kewenangan negara dalam pengelolan bahan galian, dan adanya hubungan hukum antara negara dan orang dan/atau badan hukum dalam pengusahaan bahan galian. 4.2.2. Objek dan Ruang Lingkup Kegiatan Hukum Pertambangan Apabila kita mengacu kepada definisi yang dipaparkan di atas, kita dapat menelaah objek dan ruang lingkup kajian hukum pertambangan. Objek kajian merupakan sasaran di dalam penyelidikan atau pengkajian hokum pertambangan. Objek itu dibagi menjadi dua macam, yaitu objek materiil dan objek formil. Objek materiil adalah : Bahan (materiil) yang dijadikan sasaran dan penyelidikan. Objek materiil hukum pertambangan adalah manusia dan dan bahan galian. Objek formil hukum pertambangan adalah mengatur hubungan antara negara dengan bahan galian dan hubungan antara negara dengan orang atau badan hukum dalam pemanfaatan bahan galian.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

140

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Kedudukan negara adalah sebagai pemilik bahan galian mengatur peruntukan dan penggunaan bahan galian untuk kemakmuran masyarakat sehingga negara menguasai bahan galian. Tujuan pengusahaan oleh Negara (pemerintah) adalah agar kekayaan nasional tersebut dimanfatkan untuk sebesar-besar kemakmuran seluruh rakyat indonesia. Dengan demikian, baik perseorangan, masyarakat maupun pelaku usaha , sekalipun memiliki hak atas sebidang tanah di permukaan, tidak mempunyai hak menguasai ataupun memiliki bahan galian yang terkandung dibawahnya. Pengusahaan olah negara diselenggarakan oleh pemerintah sebagai pemegang kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan adalah wewenang yang diberikan negara kepada pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan ekploitasi dan eploitas baik terhadap bahan galian strategis, vital mupun golongan C. Ruang lingkup kajian hukum pertambnagan meliputi pertambangan umum, dan pertambangan minyak dan gas bumi. Pertambangan umum merupakan pertambnagan bhan galian di luar minyak dan gas bumi. Pertambangan umum digolongkan menjadi lima golongan, yaitu : 1. pertambangan mineral radioaktif; 2. pertambangan mineral logam; 3. pertambangan mineral nonlogam; 4. pertambangan batu bara, gambut, dan bitumen padat; dan 5. pertambangan panas bumi (pasal 8 Rancangan undang-undang tentang Pertambangan Umum). Walaupun ruang lingkup kajian hukum pertambangan begitu luas, namun dalam buku ini yang menjadi ruang lingkup kajian hanya difokuskan pada pertambangan mineral non logam, seperti emas, perak dan tembaga, pertambnagan batu bara dan pertambangan minyak dan gas bumi. Ketiga pertambangan ini mempunyai nilai komersial yang sangat tinggi dan tidak hanya melibatkan modal dalam negeri, tetapi juga melibatkan modal asing. Modal asing diperlukan untuk membiayai kegiatan pertambangan ini karena Indonesia tidak memiliki modal yang cuku dan sumber daya manusia yang memadai untuk mengelola sumber daya tambang itu. Di samping itu, pengusahaan bahan galian tambang banyak menimulkan persoalan dalam masyarakat, seperti terjadinya pencemaran lingkungan, kondisi kesehatan masyarakat di sekitar tambang yang sangat memprihatinkan, konflik antara pemilik tanah dengan perusahaan tambang, konflik antara perusahaan dengan buruh, dan lainlain.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

141

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

4.2.3. Asas-asas Hukum Pertambangan Di dalam undang-undang nomer 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan pokok pertambangan, tidak ditemukan secara eksplisit tentang asas-asas hukum pertambangan. Namun apalagi kita mengkaji secara mendalam berbagai substansi pasal-pasal didalamnya maupun yang tercantum dalam penjelasannya, kita dapat mengidentifikasi asas-asas hukum pertambangan yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967. Asas-asas itu meliputi asas manfaat, asas pengusahaan, asas keselarasan, asas partisipatif, asas musyawarah dan mufakat. Di dalam undang-undang itu tidak ditemukan pengertian yang terkandung dalam asas hukum tersebut. Untuk itu, berikut diberikan penjelasan tentang pengertian kelima atas hukum sebagimana yang terkandung dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967. 1. Asas manfaat merupakan asas, dimana di dalam penguasahaan bahan galian 2. Asas dapat dimanfatkan/digunakan merupakan asas, untuk di sebesar-besarnya mana di dalam kemakmuran rakyat Indonesia. pengusahaan penyelengaraan usaha pertambangan atau bahan galian yang terdapat di dalam hokum pertambangan Indonesia dapat diusahan secara optimal. 3. Asas keselarasan merupakan asas, dimana ketentuan undang-undang pokok pertambangan harus selaras atau sesuai atau seide dengan citacita dasar negara republik Indonesia dapat diusahakan secara optimal. 4. Asas partisipatif merupakan asas, di mana pihak swasta maupun perorangan diberikan hak untuk mengusahakan bahan galian yang terdapat dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia. 5. Asas musyawarah dan mufakat merupakan asas, di mana pemegang kuasa pertambangan yang menggunakan hak atas tanah hak milik harus membayar ganti kerugian kepada pemilik hak atas tanah, yang besarnya ditentukan berdasarkan hasil musyawarah (berunding, berembuk) dan disepakati oleh kedua belah pihak Disamping asasasas itu, di dalam pasal 2 di dalam Undang-undang nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi telah ditentukan secara jelas asas-asas hukum dalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi. Asas-asas itu meliputi ekonomi kerakyatan, keterpaduan,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

142

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

manfaat, keadilan, keseimbangan, pemerataan, dan kemakmuran bersama dan kesejahteraan rakyat banyak, keamana, keselamatan, dan kepastian hukum serta berwawasan lngkungan. Di dalam penjelasan pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tidak kita jumpai pengerian dari masing-masing asas tersebut, namun penulis mencoba untuk memberikan pengertian dari masing-masing asas tersebut di atas. Ketujuh asas itu disajikan berikut ini. a. Asas ekonomi kerakyatan Asas ekonomi kerakyatan, yaitu asas di mana di dalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi harus memberikan peluang yang sama kepada pelaku ekonomi. b. Asas Keterpaduan Asas keterpaduan di maksudkan agar setiap penyelenggaraaan pertambnagan minyak dan gas bumi di lakukan secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasonal, sektor lain dan masyarakat setempat. c. Asas manfaat Asas manfaat adalah suatu asas didalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi, di mana dalam penyelenggaraan kegiatan usaha minyak dan gas bumi harus memberikan d. Asas keadilan Asas keadilan adalah suatu asas di dalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi, di mana dalam penyelenggaraan kegiatan itu harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada semua warga negara sesuai dengan kemampuanya sehingga dapat meningkatkan kemampuan seluruh masyarakat. Oleh karena itu di dalam memberikan izin usaha hilir dan kontrak kerja sama harus terjadinya praktik monopoli, monoposni, oligopoli, dan oligopsoni. f. Asas keseimbangan Asas keseimbangan merupakan asas di atas di dalam penyelenggaraan pertambngan minyak dan gas bumi, di mana para piha mempunyai kedudukan yang setara/sejajar dalam manfaat/kegunaan bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat banyak.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

143

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

menentukan bentuk dan substansi kontrak kerja sama, baik kontrak bagi hasil pertambangan maupun kontrak-kontrak lainnya. g. Asas pemertaan, yaitu asas di dalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi, di mana hasil-hasil dari pertambangan minyak dan gas bumi dapat dimiliki secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia. h. Asas kemakmuran bersama dan kesejahteraan rakyat banyak, yaitu asas didalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi, di mana hasil-hasil dari pertambangan minyak dan gas bumi dapat memakmurkan (menjadi makmur) dan menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia. i. Asas keamanan dan keselamatan, yaitu asas di dalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi, di mana di dalam penyelenggaraannya mampu memberikan rasa entram, tidak ada ganguan dan aman bagi para pihak yang mengadakan kontrak kerja sama atau permintaan izin usaha hilir. j. Asas Kepastian hukum Asas kepastian hukum merupakan asas dalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi, di mana di dalam penyelenggaraan usaha minyak dan gas bu,i mampu menjamin kepastian hak-hak dan kewajiban para pihak yang mengadakan kontrak kerja sama atau yang menerima izin usaha hilir. k. Asas berwawasan lingkungan, yakni asas dalam penyelenggaraan pertambangan minyak dan gas bumi, di mana di dalam penyelenggaraan kegiatan usaha minyak dan gas bumi harus memperhatikan lingkungan hidup agar tidak terjadi pencemaran lingkungan. Tujuan penyelenggaraan kegiatan usaha minyak dan gas bumi adalah : Menjamin efektifitas pelaksana dan pengendalian kegiatan usaha eksploitasi dan eksploitasi secara berdaya guna, berhasil guna, serta berdaya asing tinggi dan berkelanjutan atas minyak dan gas bumi milik negara yang strategis dan tidak terbarukan melalui mekanisme yang terbuka dan transparan;

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

144

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Menjamin efektifitas pelaksanaan dan pengendalian usaha pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan niaga secara bertanggung jawab yang diselenggarakan melalui mekanisme persaingan usaha yang wajar , sehat, dan transparan;

Menjamin efisiensi dan efektifitas terjadinya minyak bumi dan gas bumi, baik sebagai sumber energi maupun sebagai bahan baku, untuk kebutuhan dalam negeri;

Mendukung dan menumbuh kembangkan kemampuan nasional untuk lebih mampu bersaing di tingkat nasional, regional, dan interbasional;

Meningkatkan pendapatan negara untuk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional dan mengembangka serta memperkuat posisi industri dan perdagangan Indonesia;

Menciptakan

lapangan

kerja,

meningkatkan

kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang adil dan merata, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup. Keberadaan pertambangan minyak dan gas bumi dalam suatu wilayah mempunyai arti yang sangat strategis karena dengan adanya usaha pertambangan itu akan menambah lapangan kerja baru. Sebagian besar warga masyarakat yang berada di wilayah pertambangan akan direkrut oleh perusahaan untuk dapat antara bekerja pada perusahaan pertambangan. Apabila Rekrutmen itu akan menjegah terjadinya konflik masyarakat dengan periusahaan. sebagian dari mereka telah tertampung di perusahaan, perusahaan akan aman di dalam melakukan usaha eksplorasi dan eksploitasi. 4.2.4. Sumber-sumber Hukum Pertambangan Pada dasarnya sumber hukum dapat dibesdakan menjadi dua macam yaitu : sumber hukum materiil dan sumber hukum formal (Alarga, dkk.1975). Sumber hukum materiiil adalah tempat dari mana materi hokum itu diambil. Sumber hukum materiil ini merupakan faktor yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

145

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

membantu pembentukan hukum, misalnya hubungan sosialkekuatan politik, situasi sosial ekonomi, tradisi (pandangan keagamaan dan kesusilaan), hasil penelitian ilmiah, perkembangan internasional, dan keadaan geografis. Sumber hukum formal maupun tempat memperoleh kekuatan hukum. Ini berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum formal itu berlaku. Sumber hukum yang diakui umum sebagai hukum formal ialah undang-unfdang, perjanjian antarnegara, yurisprudensi, dan kebiasaan. Adapun yang menjadi sumber hukum pertambangan tertulis disajikan berikut ini. 1. Indische Mijin Wes (IMW). Undang-undang ini diundangkan pada tahun 1899 dengan staatblad 1899, Nomor 214. Indische Mijin Wes (IMW) hanya mengatur mengenai penggolongan bahan bahan galian dan pengusahaan pertambangan. Peraturan pelaksanaan dari Indische Mijin Wes (IMW) adalah berupa Minordonantie, yang diberlakukan mulai tanggal 1 Mei 1907. Minordonantie mengatur pengawasan keselamatan kerja (tercantum dalam pasal 356 sampai dengan pasal 612). Kemudian, pada tahun 1930, Minordonantie 1907 dicabut dan diperbaharui dengan Minordonantie 1930, yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Juli 1930. Dalam Minordonantie 1930, tidak lagi mengatur mengenai pengawasan keselamatan kerja pertambangan tetapi diatur sendiri dalam Minj Politie Reglemen (Stb. 1930 Nomor 341), yang hinga kini masih berlaku (Abror Saleng, 2004:64). 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan Dasar pokokpokok Agaria Hubungan undang-undang pokok nomor 5 Tahun 1960 dengan pertambangan erat kaitannya dengan pemanfaatan hak atas tanah untuk kepentingan pembangunan di bidang pertambangan. Pasal-pasal yang berkaitan dengan itu adalah sebagai berikut : a. Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi :Seluruh bumi, air dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalammya dalam wilayah Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional. Apabila kita mengacu kepada ketentuan ini, maka yang menjadi ketentuan objek ketentuan hukum ageraria, tidak hanya hak atas tanah (bumi), tetapi juga tentang air, ruang angkasa dan bahan galian. Namun dalam proses pengembangan ilmu hukum keempat hal itu dikaji oleh disiplin ilmu hukum yang berbeda.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

146

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

b. Pasal 16 ayat (1) berbunyi Hak-hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) ialah: hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunandan hak pakai, hak sewa,hak membuka tanah, hak memungut hasil hutan, dan hak-hak lainnya. c. Pasal 20 yang berkaitan dengan hak milik. d. Pasal 28 UUPA berkaitan hak guna usaha. e. Pasal 35 UUPA yang berkaitan dengan hak guna bangunan. f. Pasal 41 UUPA yang berkaitan dengan hak pakai. Hak-hak atas tanah tersebut dapat diberikan untuk kepentingan pembangunan di bidang pertambangan. Tentunya perusahaan pertambangan yang akan menggunakan hak atas tanah itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan. a. Bahwa guna mempercepat terlaksananya pembangunan ekonomi nasional menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila, perlu dikerahkan semua dana dan daya untuk mengolah dan membina segenap kekuatan ekonomi potensildi bidang pertambangan menjadi kekuatan ekonomi. b. Bahwa berkaitan dengan hal itu, dengan dengan tetap berpegang bahwa Undang-Undang Dasar 1945, dipandang perlu untuk mencabut Undang-Undang No. 37 prop tahun 1960 tentang pertambangan (Lembaga Negara Tahun 1960 No.119), , serta menggantinya dengan undang-undang pokok pertambangan yang baru yang lebih sesuai dengan kenyataan yang ada, dalam rangka memperkembangkan usaha-usaha pertambangan Indonesia di masa sekarang dan kemudian hari. Undang-undang ini terdiri atas 12 bab dan 37 pasal . Hal-hal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 meliputi sebagai berikut : a) Ketentuan umum (pasal 1 sampai dngan pasal 2) Ada dua hal yang diatur dalam ketentuan umum ini yaitu pengusahaan bahan galian dan istilah-istilah. Pasal 1 Berbuyi : Segala bahan galian yang terdapat dalam wilayah hokum pertambangan Indonesia merupakan endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah kekayaan nasional bangsa Indonesia dan oleh

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

147

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

karenanya dikuasai dan dipergunakan oleh negara untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Istilah yang tercantum dalam pasal 2 meliputi : bahan galian, hak atas tanah, penyelidikan umum, eksplorasi, esploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, kuasa pertambangan, menteri, wilayah hukum pertambangan Indonesia, perusahaan negara, perusahaan daerah, dan pertambangan rakyat. b) Penggolongan dan pelaksana penguasaan bahan galian (pasal 3 sampai dengan pasal 4). Bahan galian dibagi atas tiga golongan, yaitu: o o o Golongan bahan galian strategis; golongan bahan galian vital; golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan a dan b. c. Bentuk dan organisasiperusahaan pertambangan (pasal 5 sampai dengan pasal 13). d. Usaha pertambangan (pasal 14). e. Kuasa pertambangan (pasal 15 sampai dengan pasal 16). f. Cara dan syarat-syarat bagaimana memperoleh kuasa pertambangan (pasal 17 sampai sdengan pasal 19). g. Berahkirnya kuasa pertambangan (pasal 20 sampai dengan pasal 24). h. Hubungan kuasa pertambangan dengan hak-hak tanah (Pasal 25 sampai dengan pasal 27). i. j. l. Pungutan-pungutan Negara (pasal 28). Pengawasan pertambangan (Pasal 29 sampai dengan pasal 30). Ketentuan peralihan dan penutup (Pasal 35 sampai dengan pasal 37). Masing-masing ketentuan itu dikaji secara mendalam dalam bab-bab berikutnya. 4. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001tentan Minyak dan Gas Bumi Undang-Undang ini ditetapkan pada tanggal 23 Novmber 2001. Pertimbangan ditetapkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi adalah : a. Bahwa pembangunan nasional harus diarahkan kepada terwujudnya kesejahteraan rakyat dengan melakukan reformasi di

k. Ketentuan-ketentuan pidana (Pasal 31 sampai dengan pasal 34).

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

148

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

segala bidang kehidupan bangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang dasar 1945; b. Bahwa minyak dan gas bumi merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan yang dikuasai oleh negara serta merupakan komoditas vital yang yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional sehinggapengelolaanya harus dapat secara maksimal memberikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; c. Bahwa kegiatan usaha minyak dan gas bumi mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertrumbuhan berkelanjutan; d. Bahwa undang-undang Nomor 44 Prop. Tahun 1960tentang pertambangan Minyak dan Gas Bumi, , Undang-undang Nomor 15 tahun 1962 tentang penetapan peraturan pemerintah Perganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Kewajiban Perusahaan Minyak memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan usaha pertambangan minyak dan gas bumi; e. Bahwa dengan tetap mempertimbangkan perkembangan nasional maupun internasional dibutuhkan peraturan perundang-undangan tentang pertambangan minyak saing dan gas bumiyang dan dapat menciptakan kegiatan usaha minyak dan gas bumi yang mandiri, andal,transparan, berdaya efisien, berwawasan pelestarian limgkungan, serta mendorong perkembangan potensi dan peranan nasional; f. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, hguruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e tersebut diatas serta untuk memberikan landasan hukum bagi langkah-langkah pembaharuan dan penataan atas penyelenggaraan pengusahaan minyak dan gas bumi, maka perlu membentuk undang-undang tentang minyak dan gas bumi. Pertimbangan yang paling prinsip ditetapkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 karena peraturan yang mengatur tentang pertambangan minyak dan gas bumi sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan usaha ekonomi nasional yang meningkat dan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

149

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pertambangan minyak dan gas bumi. Undang-Undang ini terdiri atas 14 bab dan 67 pasal.hal-hal yang diatur dalamundang-undang ini adalah sebagai berikut : Ketentuan umum (Pasal 1) Dalam ketentuan umum ini diatur tentang pengertuian minyak bumi, gas bumi, bahan bakar minyak,kuasa pertambangan, survai umum, kegiatan usaha hulu, kegiatan usaha hilir, eksplorasi, esploitasi, pengolahan ,penyimpanan, niaga, wlayah hukum pertambnagan Indonesia, wilayah kerja, badan usaha, bentuk usaha tetap, kontrak kerja sama, izin usaha, badan pelaksana, badan pengatur, menteri dan pengertian pemerintah daerah. Asas dan tujuan (Pasal 2 sampai dengan Pasal 3). Penguasaan dan pengusahaan (Pasal 4 sampai dengan Pasal 10). Kegiatan usaha hulu (Pasal 112 sampai dengan Pasal 22). Kegiatan usaha hilir (Pasal 23 sampai dengan Pasal 31). Penerimaan negara (Pasal 31 sampai dengan Pasal 32). Hubungan antara kegiatan usaha minyak dan gas bumi dengan hak atas tanah (Pasal 33 sampai dengan Pasal 37). Pembinaan dan pengawasan (Pasal 38 sampai dengan pasal 43). Badan pelaksana dan badan pengatur (Pasal 44 sampai dengan Pasal 49). Penyidikan (Pasal 50 sampai dengan pasal 51). Ketentuan pidana (Pasal 52 sampai dengan Pasal 58). Ketentuan peralihan (Pasal 59 sampai dengan Pasal 64). Ketentuan lain (Pasal 65). Ketentuan penutup (Pasal 66 sampai dengan Pasal 67).

4.3.1. Alasan-Alasan Perusahaan melaksanakan CSR Setidaknya ada tiga alasan penting dan manfaat yang diperoleh suatu perusahaan dalam merespon dan menerapkan isu tanggung jawab sosial (CSR) yang sejalan dengan operasi usahanya. Pertama, perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan juga turut

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

150

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

memperhatikan kepentingan masyarakat. Dengan adanya penerapan CSR, maka perusahaan secara tidak langsung telah menjalin hubungan dan ikatan emosional yang baik terhadap shareholder maupun stakeholders. Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme (saling mengisi dan meguntungkan). Bagi perusahaan, untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, setidaknya licence to operate, adalah suatu keharusan bagi perusahaan jika dituntut untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, sehingga bias mendongkrak citra dan performa perusahaan. Dan Ketiga, kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi berbagi potensi mobilisasi massa (penduduk) untuk melakukan hal-hal yang tidak diiginkan sebagai akses ekslusifme dan monopoli sumber daya alam yang dieksploitasi oleh perusahaan tanpa mengedepankan adanya perluasan kesempatan bagi terciptanya kesejahteraan dan pengembangan sumber daya manusia yang berdomisili di sekitar wilayah penambangan pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Suatu perusahaan, jangan pernah mengidap penyakit amputasi sosial, yakni kelumpuhan rasa untuk menolong ketika menyaksikan warga tidak mampu (miskin) disekitarnya. Sebab, hal ini dapat mengundang bertebarannya konflik horizontal sehingga perusahaan akan merasa dirugikan oleh sikap dan perilaku merusak warga. Hal ini bisa dilihat, misalnya, pada masyarakat Papua yang menuntut perusahaan Freefort secara anarkis karena telah sedemikian gerah dengan eksploitasi perusahaan terhadap potensi alam daerah, sementara itu kesejahteraan warga tidak beringsut ke arah lebih baik. Kepedulian sosial perusahaan terutama didasari alasan bahwasanya kegiatan perusahaan membawa dampak for better or worse, bagi kondisi lingkungan dan sosial-ekonomi masyarakat, khususnya di sekitar perusahaan beroperasi. Selain itu, pemilik perusahaan sejatinya bukan hanya shareholders atau para pemegang saham. Melainkan pula stakeholders, yakni pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Stakeholders dapat mencakup karyawan dan keluarganya, pelanggan, pemasok, masyarakat sekitar perusahaan, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, media massa dan pemerintah selaku regulator. Jenis dan prioritas stakeholders relatif berbeda antara satu perusahaan dengan lainnya, tergantung pada core bisnis perusahaan yang bersangkutan. Sebagai contoh, PT Aneka Tambang, Tbk. dan Rio Tinto menempatkan masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai stakeholders dalam skala prioritasnya.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

151

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Sementara itu, stakeholders dalam skala prioritas bagi produk konsumen seperti Unilever atau Procter & Gamble adalah para customernya. Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguhsungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) mengharuskan perusahaan, perusahaan termasuk untuk lingkungan hidup. Hal ini membuat keseimbangan antara

kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal. Pengaturan CSR di dalam peraturan perundangan-undangan Indonesia masih menciptakan kontroversi dan kritikan. Kalangan pebisnis CSR dipandang sebagai suatu kegiatan sukarela, sehingga tidak diperlukan pengaturan di dalam peraturan perundang-undangan. Menurut Ketua Umum Kadin, Mohammad S. Hidayat, CSR adalah kegiatan di luar kewajiban perusahaan yang umum dan sudah ditetapkan dalam perundangundangan formal, sehingga jika diatur akan bertentangan dengan prinsip kerelaan dan akan memberikan beban baru kepada dunia usaha. Di lain pihak, Ketua Panitia Khusus UU PT, Akil Mochtar menjelaskan bahwa kewajiban CSR terpaksa dilakukan karena banyak perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia lepas dari tanggung jawabnya dalam mengelola lingkungan. Selain itu kewajiban CSR sudah diterapakan pada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang mewajibkan BUMN untuk memberikan bantuan kepada pihak ketiga dalam bentuk pembangunan fisik. Kewajiban ini diatur di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait dengang BUMN. 4.3.2. Efektifitas Konsep CSR Dalam Menangani Permasalahan-

Permasalahan Sosial Di dalam keterbatasan sumber daya maupun pendanaan, mencari solusi terhadap penyakit, masalah dan penyediaan kebutuhan masyarakat, seringkali mengalami kebuntuan. Contoh penyakit sosial antara lain seperti tindakan korupsi yang sudah dianggap hal yang biasa. Sedangkan masalah

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

152

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

masyarakat antara lain misalnya kesenjangan ekonomi yang cenderung semakin melebar, mewabahnya penyakit seperti flu burung, demam berdarah yang tak kunjung tuntas, banjir bandang yang hampir secara rutin dialami beberapa daerah tertentu, dan sebagainya. Meskipun tanggung jawab utama dalam mengatasi hal tersebut berada pada Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, namun sesuai dengan porsinya hal ini juga merupakan tanggung jawab semua pihak sebagai anggota masyarakat. Kita tahu Pemerintah Pusat dan juga Pemerintah Daerah memiliki keterbatasan APBN/ APBD, namun upaya yang paling penting dilakukan oleh Pemerintah adalah memetakan penyakit dan masalah masyarakat itu secara komprehensif berikut solusi mengatasinya. Beberapa proyek strategis yang tanggung jawab utamanya berada pada Pemerintah, tentu dapat dibiayai oleh APBN maupun APBD, selebihnya kita bias melibatkan dunia usaha dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk secara bersama-sama mengatasi secara tuntas penyakit dan masalah masyarakat tersebut. Dari sisi dunia usaha, kecenderungan belakangan ini, Corporate Social Responsibility (CSR) tidak lagi dipandang sebagai cost center tetapi sudah menjadi bagian dari strategi usaha dalam meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan usaha yang stabil. CSR lahir dari desakan masyarakat atas perilaku perusahaan yang biasanya mengabaikan tanggung jawab social seperti perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, mengemplang pajak, menindas buruh, dan sejenisnya. Intinya, keberadaan perusahaan berdiri secara berseberangan dengan kenyataan kehidupan sosial. Namun, kini situasi semakin berubah, konsep dan praktik CSR sudah menunjukkan gejala baru sebagai suatu strategi perusahaan yang dapat memacu dan menstabilkan pertumbuhan usaha secara jangka panjang. Sebagai contoh Unilever meluncurkan program CSR tentang sosialisasi air bersih. Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat yang mendambakan kehidupan bersih jauh dari penyakit. Di sisi Unilever, program ini akan meningkatkan penjualan produk kebersihannya. Contoh yang lain, Panasonic meluncurkan program CSR dengan melakukan pelatihan instalasi, pemeliharaan, dan reparasi produkproduk elektronik bagi pemuda-pemudi yang putus sekolah, sebagai pelengkap Program Kelompok Belajar Mandiri (PKBM). Dari sisi masyarakat setempat, program ini sangat bermanfaat untuk menyediakan tenaga kerja ataupun wiraswasta yang siap memberikan pelayanan yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Dari sisi Panasonic sendiri, program ini sedikit banyaknya akan mendukung peningkatan penjualan produk-produknya.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

153

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Jelas dalam hal ini Pemerintah Daerah memerlukan dukungan dunia usaha dan masyarakat pada umumnya dalam mengatasi penyakit dan masalah masyarakat tersebut. Dunia usaha juga sudah menempatkan CSR sebagai strategi usaha dalam meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan usaha yang stabil. Namun, yang menjadi persoalan adalah upaya yang sudah dilakukan oleh suatu perusahaan bisa jadi tumpang tindih dengan perusahaan yang lain atau bisa juga hanya terfokus pada masalah tertentu saja. Dalam kaitan ini, Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan LSM seyogyanya melakukan upaya bersama dalam mengatasi penyakit dan masalah sosial tersebut. Harapan kita tidak lain tuntasnya penanggulangan penyakit dan masalah sosial yang ada, sekaligus terjadi sinergi yang saling menguntungkan antara Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat pada umumnya. 4.3.3.Parameter Keberhasilan Pelaksanaan CSR Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral akhirnya menyatakan apa saja aspek yang akan menjadi fokus penilaian terhadap, pendapatan negara, jumlah produksi, dampak terhadap lingkungan dan dana pengembangan masyarakat (Koran Tempo 22/3/2009). Empat aspek tersebut konsisten dengan pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial yang terkenal dengan sebutan triple bottom line. Hanya saja, ada dua ganjalan dalam hal pengembangan masyarakat. Pertama adalah bahwa sudah seharusnya seluruh program sosial dinilai, bukan saja yang berkenaan dengan pengembangan masyarakat. Ini demi keadilan penilaian terhadap yang telah mencurahkan sumberdayanya. Kedua, kalau memang hanya program pengembangan masyarakat yang menjadi fokus, sudah seharusnya bukan semata-mata masalah dana saja yang dinilai. Aspek sosial, sebagaimana aspek lingkungan, tidaklah mungkin direduksi menjadi ukuranukuran finansial. Pembiayaan merupakan fungsi dari program, dan karenanya ukuran finansial seharusnya menjadi salah satu indikator saja. Secara umum, program sosial perusahaan biasa dinilai dari masukan, proses dan kinerjanya. Kalau hal ini diikuti, maka banyak indicator lain yang bisa dipergunakan untuk menilai program pengembangan masyarakat . Pertamatama, harus disadari bahwa program pengembangan masyarakat yang memadai haruslah diintegrasikan ke dalam strategi menyeluruh perusahaan, bukan sekedar tempelan. Untuk menilainya, beberapa indikator dapat dipergunakan, yaitu: Adanya kebijakan tertulis perusahaan mengenai

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

154

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pentingnya membangun hubungan baik dengan masyarakat yang terkena dampak operasi perusahaan; Terdapatnya bagian khusus yang menanganinya pengembangan masyarakat yang bekerja secara efektif dengan bagian lain yang terkait dengan aktivitas hubungan antara perusahaan dan masyarakat; Sumberdaya manusia yang bekerja untuk bagian itu memiliki kapabilitas yang memadai dari segi pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja; Adanya rencana kerja strategik untuk waktu lima tahun, dilengkapi dengan rincian program setahunan yang telah disepakati bersama-sama pemangku kepentingan serta mekanisme penyesuaian rencana; Dan tersedianya dana yang mencukupi untuk melaksanakan program yang direncanakan Perusahaan pertambangan dalam operasinya pasti mengakibatkan dampak negative sosial dan lingkungan bagi masyarakat yang berada disekitarnya. Pengembangan masyarakat dapat dipandang sebagai salah satu bentuk upaya mengkompensasi dampak tersebut, di luar minimisasi dampak yang wajib juga dilakukan oleh perusahaan. Tanpa penyelesaian permasalahan dampak negatif, sangatlah sulit bagi perusahaan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Karenanya perusahaan seharusnya melakukan perhitungan dampak dengan terperinci sebagai dasar dari pengembangan masyarakat. Sebagai konsekuensi penghitungan dampak, besaran program harus dibedakan menurut wilayah dan kelompok dampak. Semakin besar suatu wilayah atau kelompok masyarakat terkena dampak negative aktivitas perusahaan, semakin besar hak mereka untuk memperoleh program. Dalam hal tersebut, tiga indikator dapat diajukan, yaitu: Penilaian kerusakan yang diderita masyarakat dilakukan secara bersama-sama antara perusahaan dan masyarakat, dengan disaksikan oleh pihak lain yang netral; Negosiasi harga Kompensasi kerusakan dilakukan dengan cara-cara yang jujur, diterima masyarakat setempat, tanpa paksaan dan tipuan; Dan pembayaran kompensasi sesuai dengan kesepakatan yang dibuat, baik dalam aras individu maupun kelompok. Penting disadari bahwa perusahaan bukanlah agen pembangunan masyarakat semata. Perusahaan adalah entitas yang mencari keuntungan ekonomi, namun dalam usahanya tidak diperkenankan merusak lingkungan dan tatanan sosial ekonomi masyarakat. Perusahaan juga harus melindungi lingkungan dan sedapat mungkin memaksimumkan keuntungan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Karenanya, partisipasi masyarakat luas serta pihak-pihak lain yang kompeten dan memiliki niat baik menjadi sangat penting. Mengingat hal di atas, berbagai indikator

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

155

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

partisipasi dapat dipergunakan, yaitu Program direncanakan secara partisipatoris dengan memperhitungkan keragaman kelompok-kelompok masyarakat; Program tersebut merupakan komplemen dan suplemen dari kegiatan-kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan pihakpihak lain; Kegiatan dilaksanakan bersama-sama dengan masyarakat dan pihak lain yang memiliki kompetensi yang tepat; Pelaksanaan pemantauan kegiatan dilakukan bersama-sama dengan komponen masyarakat dan pemangku kepentingan lain, Serta dilakukannya evaluasi keberhasilan kegiatan bersama masyarakat dengan umpan balik bagi kegiatan mendatang Seluruh indikator di atas merupakan indikator masukan dan proses, sementara penilaian kinerja merupakan puncak upaya untuk mengetahui apakah perusahaan diterima oleh seluruh pemangku kepentingannya. Dalam hal ini, haruslah dikemukakan dimensi-dimensi keberhasilan dari berbagai sudut pandang, utamanya dari perusahaan sendiri, masyarakat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain yang terlibat langsung dalam pengelolaannya. Program yang memuaskan seluruh pihak merupakan cerminan keberhasilan tertinggi sehingga dapat diyakini bahwa keberadaan dan operasi perusahaan tersebut akan terus mendapatkan dukungan masyarakat dan pihak terkait lainnya. Indikator-indikator kinerja yang dapat dipergunakan antara lain: 1. Terlaksananya seluruh program yang direncanakan; Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang dinyatakan hendak dipenuhi dalam rencana program; 2. Terpeliharanya integrasi sosial masyarakat; 3. Program berhasil mendorong kemandirian masyarakat dan tidak menimbulkan ketergantungan; 4. Perusahaan secara umum diterima keberadaannya di tengah-tengah masyarakat; 5. Adanya pengakuan dari pemerintah dan pihak lain bahwa perusahaan telah berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Jika indikator-indikator di atas dipergunakan, reduksi pengembangan masyarakat menjadi sekadar masalah dana akan dapat dihindari. Tentu saja, lebih baik lagi kalau Departemen ESDM mau menilai keseluruhan program sosial . Hasilnya kemudian dapat dipergunakan untuk membuat daftar tindakan perbaikan yang dituangkan dalam sebuah kontrak kinerja. Penilaian dan tindak lanjutnya yang komprehensif akan mengurangi resistensi banyak

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

156

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pihak, juga akan mengurangi retorika elit yang tidak perlu, sehingga kita tidak lagi akan terjerumus ke dalam politisasi atas nasib masyarakat. 4.3.3. Program CSR PT. NNT untuk daerah lingkar tambang di Kabupaten Sumbawa Barat. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) memiliki komitmen untuk meningkatkan program yang berkelanjutan dengan didasarkan pada empat pilar yaitu pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan, pendidikan, komunitas yang makmur, dan penyediaan infrastuktur. Komitmen ini diwujudkan melalui sejumlah strategi seperti Participatory Rural Appraisal (PRA), Future Search Dialogue, Ziel-Orienterte Projekt planung (ZOPP) dan Participatory Wealth Ranking (PWR) untuk kecamatan Sekongkang, Maluk dan Jereweh. Perencanaan partisipatif membutuhkan partisipasi dari perusahaan, pemerintah lokal, dan juga komunitas. Sehingga setiap orang tahu apa yang dapat mereka lakukan untuk turut terlibat PT NNT sangat menghargai hubungannya dengan masyarakat lokal dan menghargai peran mereka bagi keberadaan dan kemampuan operasi tambang Batu Hijau. Karyawan, waktu dan sumber daya disediakan dalam jumlah yang signifikan bagi program hubungan kemasyarakatan. Batu Hijau menargetkan empat bidang utama bagi program pengembangan masyarakat yakni infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan usaha kecil, serta pengembangan usaha pertanian bagi desa-desa di wilayah kecamatan yang masuk dalam potret lingkar tambang. Untuk menghilangkan persepsi yang salah dan harapan yang tidak realistis terhadap prioritas tersebut, Batu Hijau mengumumkan daftar program pengembangan masyarakat melalui surat kabar lokal Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih bagi masyarakat dan petani tetap menjadi prioritas. Melalui kerja sama dengan pemerintah setempat, PTNNT menghimpun kelompok pengelola air untuk membangun prasarana yang dapat mengalirkan air bersih dan air irigasi . Masyarakat membayar penggunaan air tersebut dan subsidi diberikan bagi masyarakat yang tidak mampu membayar. Kurangnya dana, kemiskinan dan prasarana yang tidak memadai berperan besar terhadap buruknya sistem pendidikan Indonesia. PT NNT terletak di suatu daerah terpencil, di antara kecamatan Jereweh, Maluk dan Sekongkang, di mana akses ke pendidikan yang lebih baik masih merupakan impian. Indeks Pembangunan Manusia

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

157

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PBB menempatkan Indonesia pada urutan ke-112 dari 120 negara. Indeks ini mengukur pembangunan manusia dari angka harapan hidup, angka melek huruf orang dewasa dan taraf hidup. Masyarakat dan dinas pendidikan setempat berharap PT NNT memberikan bantuan dana untuk pendidikan. Upaya PT. Newmont Nusa Tenggara untuk meningkatkan kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat mendukung tujuan Newmont untuk mewariskan suatu masyarakat mandiri yang berkelanjutan. Inisiatif PT NNT yang luas dalam bidang pendidikan mencakup pembangunan dan renovasi sekolah, penyediaan buku-buku dan alat bantu belajar mengajar, mendanai dua buah perpustakaan keliling dan memberikan beasiswa kepada pelajar yang berasal dari Nusa Tenggara Barat dan membantu siswa-siswi yang tidak mampu membayar uang sekolah dan membeli buku. Dalam pengembangan usaha pertanian dilakukan dengan mendukung kemampuan petani untuk memperoleh penghasilan tetap dan meningkatkan kualitas tanaman, hal ini turut mendukung pencapaian tujuan jangka panjang perusahaan. PT NNT, bekerja sama dengan desa Tongo Sejorong kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat, menyelesaikan pembangunan sebuah dam dan saluran irigasi sepanjang 1.950 meter untuk mengairi lahan pertanian seluas 70 hektar. Dam tersebut akan memungkinkan petani untuk menanami dan mengairi lahan pertanian mereka pada musim tanam padi kedua setiap tahunnya sehingga meningkatkan hasil panen dan penghasilan petani. Selain pembangunan dam, Batu Hijau juga memulai perbaikan sistem irigasi di Bendung Plampo (sejenis dam pada sebuah sungai) di kecamatan Sekongkang dan membangun saluran irigasi di desa lain. Pada 2005, Batu Hijau membangun sebuah bendung di Benete untuk mengairi lahan pertanian seluas 80 hektar yang saat ini sudah terealisasi. Proyek infrastruktur utama lainnya adalah membantu pemerintah dan desa setempat membangun sistem kebersihan dan pembuangan sampah di Benete, Maluk, Sekongkang Atas dan Sekongkang Bawah. Sekitar 20 persen rumah tangga yang ada telah terdaftar sebagai pelanggan sistem ini. Limbah rumah tangga dari desa lingkar tambang biasanya ditanam atau dibakar di dekat rumah atau pantai. Sebagai upaya untuk menjaga kebersihan pantai yang akan dijadikan tujuan wisata, Batu Hijau menyediakan truk, pengemudi dan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

158

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

tukang sampah untuk mengangkut sampah yang dibuang di pantai Maluk ke tempat pembuangan akhir. Namun demikian, partisipasi masyarakat masih terbatas. Untuk memberikan insentif dan mencapai tujuan dalam menjaga kebersihan pantai, PT NNT mengadakan kerja sama dengan pemerintah desa setempat dan setuju untuk menyediakan dana awal yang akan digunakan untuk mengubah pantai tersebut menjadi pantai tujuan wisata. Pada tahun 2003, Batu Hijau mendirikan 12 warung makan dan fasilitas pantai yang menyediakan pekerjaan bagi warga setempat dalam bidang konstruksi dan usaha warung makan. Pemerintah desa bertugas menjaga kebersihan dan keamanan pantai dengan menugaskan penjaga pantai dan petugas keamanan bagi pengunjung yang dapat mencapai 500 pengunjung setiap minggunya. PT NNT tetap memberikan kontribusi dalam pemeliharaan fasilitas tersebut. Pada 2004, lebih dari 200 orang petani dari 10 desa mendapat pelatihan mengenai Sistem Intensifikasi Padi, sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan hasil panen padi pada lahan kering. Hasil panen tradisional sebesar 3,6 ton per hektar diharapkan meningkat menjadi 10 ton per hektar setelah menerapkan Sistem Intensifikasi Padi. Batu Hijau juga menyediakan benih padi varietas unggul dan dukungan irigasi. Prioritas lainnya adalah meningkatkan akses terhadap perawatan kesehatan yang berkualitas. Pada 2004, Batu Hijau bekerja sama dengan masyarakat mendirikan dua puskesmas pembantu. Puskesmas pembantu tersebut dikelola oleh tenaga medis profesional yang disediakan oleh pemerintah. Puskesmas baru dan yang telah ada serta bantuan makanan dan perlengkapan telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi kesehatan seluruh masyarakat sekitar terutama anak-anak yang kurang gizi. Selain menyediakan tenaga spesialis untuk mendidik ibu-ibu mengenai nutrisi, perusahaan juga menyediakan susu dan dana bagi tenaga spesialis kesehatan dari International SOS. PT NNT dan Doctors Children Fund juga tetap bekerja sama dengan Interplast, sebuah tim ahli bedah dari Australia, yang memberikan perawatan kesehatan bagi 79 anak-anak dan orang dewasa di Sumbawa. Batu Hijau tetap menjalankan program prakarsa bisnis local termasuk memberikan kontrak bagi jasa lokal dan membeli kebutuhan dari pengusaha lokal. Berbagai kegiatan yang mendatangkan penghasilan dan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

159

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pelatihan kejuruan diberikan untuk menyiapkan pemuda setempat yang ingin berwiraswasta atau mencari peluang kerja lainnya. Batu Hijau memberikan bantuan kepada yayasan lokal yang dikelola masyarakat bernama Yayasan Olat Parigi (YOP), yang menyediakan bantuan dana bagi usaha kecil, pertanian dan prakarsa lainnya di tiga kecamatan setempat. Proyek-proyek 2004. Kebingungan pun timbul di masyarakat mengenai YOP, apakah yayasan ini merupakan wadah pemberi bantuan, dana bergulir untuk kredit mikro atau keduanya. Keterbukaan dan prioritas pendanaan yayasan pun dipertanyakan. Perusahaan melakukan audit internal terhadap yayasan ini dan mengakui bahwa tambahan pekerjaan dan komunikasi sangat diperlukan untuk memudahkan pemahaman yang lebih baik mengenai peranan yayasan dalam masyarakat dan peranan PT NNT sebagai penyandang dana. PT NNT melibatkan LSM dan wakil pemerintah dalam acara tingkat lokal, provinsi atau nasional seperti pameran, dialog tentang isu-isu yang berkembang dan safari penyuluhan. Batu Hijau melakukan reklamasi atau rehabilitasi lahan yang terkena dampak selama penambangan untuk mengembalikan kawasan tersebut kepada fungsi ekosistem hutan. Untuk mereklamasi daerah yang terganggu, Batu Hijau menambahkan tanah lapisan bawah dan tanah pucuk yang telah dipadatkan dan dilanjutkan dengan revegetasi. Kegiatan ini juga menstabilkan tanah yang terganggu oleh kegiatan konstruksi dan penambangan untuk mengurangi erosi yang dapat mempengaruhi kualitas air hilir. Pada 2004, daerah yang telah direklamasi mencapai 14 hektar sehingga jumlah daerah yang telah direklamasi menjadi 635 hektar. Pelatihan formal mengenai penanggulangan tumpahan telah diberikan kepada 140 karyawan Tanggap Darurat, Operasi Pelabuhan dan Departemen Lingkungan. Selain itu, karyawan Departemen Lingkungan juga mengikuti kursus ekologi pantai, hortikultura serta identifikasi dan reklamasi tanaman. Batu Hijau mengeluarkan sekitar $4,1 juta, yang meliputi program sosial, pertanian, kesehatan dan pendidikan, dibanding $673.000 pada 2003. Dari jumlah tersebut, bantuan dalam bentuk barang mencapai nilai $900.000. Sebesar $594.038 disediakan untuk mendanai program YOP dan $158.000 dialokasikan untuk beasiswa. Untuk pembangunan dipilih oleh kelompok perwakilan masyarakat dan dipresentasikan di perusahaan untuk mendapat bantuan dana selama

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

160

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

infrastruktur disediakan dana sebesar $1,57 juta, yang meliputi sistem irigasi masyarakat, gedung umum, air dan sanitasi desa, pengumpulan sampah dan pembuatan tempat pembuangan akhir. Untuk dukungan dan bantuan dalam bentuk barang disediakan dana sejumlah $789.000. Dalam rangka membantu mengatasi kejadian tak terduga yang dihadapi Indonesia, karyawan PT NNT berhasil mengumpulkan dana sebesar $32.000 (Rp306 juta) untuk disumbangkan kepada korban gempa bumi dan tsunami yang telah menghancurkan Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir 2004. Manajemen PT NNT emberi tambahan sumbangan sehingga mencapai total $64.000 (Rp612 juta) dalam bentuk dana. Bantuan dalam bentuk barang berupa telepon satelit dan makanan juga telah diberikan. Selain itu, PT NNT dan pemasok alat beratnya, Trakindo dan Caterpillar, bersama-sama mengirimkan berbagai alat berat seperti excavator, bulldozer, loader, generator dan kendaraan ringan serta satu kru yang terdiri dari 50 orang untuk mengoperasikan alat tersebut. Perkembangan tingkat kehidupan ekonomi masyarakat yang terus berkembang, juga berpengaruh pada perkembangan dunia usaha. Iklim usaha semakin mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini juga diikuti dengan kemajuan di bidang teknologi, yang mengakibatkan semakin mutakhirnya teknologi yang digunakan oleh kalangan dunia usaha tersebut. Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat ditandai dengan munculnya berbagai perusahaan yang berskala produksi besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Bidang-bidang usaha yang tersedia juga semakin banyak sehingga semakin membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Apalagi didukung dengan adanya kebijakan Otonomi Daerah, yang menyebabkan daerah-daerah juga turut berlomba-lomba untuk memajukan dirinya dengan cara memberikan kesempatan bagi perusahaan-perusahaan untuk beroperasi di daerahnya. Kemajuan yang seperti ini tentunya membawa dampak yang positif bagi perkembangan dunia investasi dan bisnis di Indonesia. Selain itu turut berperan serta dalam peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Namun, yang sangat disayangkan, tidak jarang perusahaan-perusahaan yang ada terlalu terfokus kepada kegiatan ekonomi dan produksi yang mereka lakukan, sehingga melupakan keadaaan masyarakat di sekitar wilayah beroperasinya dan juga melupakan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Padahal, sebagaimana diamanatkan di dalam Undang-Undang Dasar 1945, pada pasal 28H ayat 1, yang berbunyi sebagai berikut: Setiap orang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

161

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Hak yang sama juga diatur di dalam Pasal 9 Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, sebagai berikut: Ayat (2) Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin. Ayat (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dari kedua aturan hukum tersebut dapat dilihat dengan jelas, bahwa masyarakat memiliki hak akan kehidupan sosial yang baik dan atas lingkungan hidup yang sehat. Selanjutnya, kewajiban untuk melakukan pelestarian lingkungan hidup juga diatur di dalam Pasal 5 Undang-Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagai berikut: Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di lain pihak, seiring dengan perkembangan jaman, juga mendorong masyarakat untuk menjadi semakin kritis dan menyadari hakhak asasinya, serta berani mengekspresikan tuntutannya terhadap perkembangan dunia bisnis Indonesia. Hal ini menuntut para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin bertanggung jawab. Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya. Sesuai dengan pada pembahasan Bab-bab sebelumnya yang terkait dengan pemahamannya CSR merupakan suatu konsep yang bermaterikan tanggung jawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah perusahaan tersebut beroperasi. Misalnya, CSR bisa berupa program yang memberikan bantuan modal kerja lunak bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, pemberian beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa terutama yang tidak mampu dan berprestasi, perbaikan infrastruktur jalan, gedung-gedung sekolah, sarana keagamaan dan olah raga, pendidikan dan pelatihan keperempuanan dan pemuda, serta pemberdayaan masyarakat adat. Termasuk pula memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang sehat dan seimbang. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan ekologis. Implementasi CSR oleh perusahaan-perusahaan pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah terkait dengan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

162

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

komitmen pimpinannya. Perusahaan yang pimpinannya tidak tanggap dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan, kecil kemungkinan akan mempedulikan aktivitas sosial. Kedua, menyangkut ukuran dan kematangan perusahaan. Perusahaan besar dan mapan lebih mempunyai potensi memberikan kontribusi ketimbang perusahaan kecil dan belum mapan. Namun, bukan berarti perusahaan menengah, kecil dan belum mapan tersebut tidak dapat menerapkan CSR. Ketiga, regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah. Semakin overlap-nya regulasi dan penataan pajak akan membuat semakin kecil ketertarikan perusahaan untuk memberikan donasi dan sumbangan sosial kepada masyarakat. Sebaliknya, semakin kondusif regulasi atau semakin besar insentif pajak yang diberikan, akan lebih berpotensi memberi semangat kepada perusahaan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Program CSR dapat dilihat sebagai suatu pertolongan dalam bentuk rekrutmen tenaga kerja dan memperjakan masyarakat sekitar, terutama sekali dengan adanya persaingan kerja diantara para lulusan sekolah. Akan terjadi peningkatan kemungkinan untuk ditanyakannya kebijakan CSR perusahaan pada rekrutmen tenaga kerja yang berpotesi maka dengan memiliki suatu kebijakan komprehensif akan menjadi suatu nilai tambah perusahaan. CSR dapat juga digunakan untuk membentuk suatu atmosfir kerja yang nyaman diantara para staf, terutama apabila mereka dapat dilibatkan dalam "penyisihan gaji" dan aktifitas "penggalangan dana" atapun suka relawan. Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat memunculkan kesadaran baru tentang pentingnya melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR). Pemahaman itu memberikan pedoman bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja sehingga ter-alienasi atau mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat di tempat mereka bekerja, melainkan suatu entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya. Hal yang sama juga terjadi pada aspek lingkungan hidup, yang menuntut perusahaan untuk lebih peduli pada lingkungan hidup tempatnya beroperasi. Sebagaimana hasil KTT Bumi (Earth Summit) di Rio de Janerio, Brasil, pada tahun 1992, yang menegaskan mengenai konsep pembangunan berkelanjutan (sustainability development) sebagai suatu hal yang bukan hanya menjadi kewajiban negara, namun juga harus diperhatikan oleh kalangan korporasi. Konsep

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

163

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pembangunan erkelanjutan menuntut korporasi, dalam menjalankan usahanya, untuk turut memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut: 1. Ketersediaan dana; 2. Misi lingkungan; 3. Tanggung jawab sosial; 4. Terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat, korporat, dan pemerintah); 5. Mempunyai nilai keuntungan/manfaat). Substansi keberadaan Prinsip Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan bagi Perusahaan (Corporate Social Responsibility; selanjutnya disebut CSR), adalah dalam rangka memperkuat kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, komunitas dan stakeholder yang terkait dengannya, baik lokal, nasioal, maupun global. Di dalam pengimplementasiaannya, diharapakan agar unsur-unsur perusahaan, pemerintah dan masyarakat saling berinteraksi dan mendukung, supaya CSR dapat diwujudkan secara komprehensif, sehingga dalam pengambilan keputusan, menjalankan keputusan, dan pertanggungjawabannya dapat dilaksanakan bersama. Peraturan pemerintah pada beberapa negara mengenai lingkungan hidup dan permasalahan sosial melatarbelakangi lahirnya konsep CSR. Beberapa investor dan perusahaan manajemen investasi telah mulai memperhatikan kebijakan CSR dari suatu perusahaan dalam membuat keputusan investasi mereka, sebuah praktek yang dikenal sebagai "Investasi bertanggung jawab sosial" (socially responsible investing). CSR berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan" , dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata hanya berdasarkan faktor keuangan belaka seperti halnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekwensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang. Diskursus CSR dewasa ini, mengalami perkembangan yang cukup tematik, yang ikut mempengaruhi perusahaan-perusahaan untuk melaksanakan CSR. Salah satu pendorongnya adalah perubahan dan pergeseran paradigma dunia usaha, untuk tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi turut pula bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial. Di antaranya, yang lazim dilakukan oleh perusahaan adalah melakukan kegiatan karitatif, filantropis, dan meyelenggarakan program pengembangan dan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

164

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pemberdayaan masyarakat (community development). Di sisi lain, pemicunya adalah ketika disahkannya Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) terutama pasal 74 yang mewajibkan perseroan untuk menyisihkan sebagian laba bersih dalam menganggarkan dana pelaksanaan tanggung jawab sosial terutama bagi perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam. Namun, UU PT secara eksplisit tidak mengatur berapa jumlah nominal dan atau berapa besaran persen laba bersih dari suatu perusahaan yang harus disumbangkan. Karena, pengaturan lebih lanjut merupakan pemerintah. 4.3.4. Parameter Keberhasilan Pelaksanaan CSR Oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral akhirnya menyatakan apa saja aspek yang akan menjadi fokus penilaian terhadap , yaitu pendapatan negara, jumlah produksi, dampak terhadap lingkungan dan dana pengembangan masyarakat (Koran Tempo 22/3). Empat aspek tersebut konsisten dengan pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial yang terkenal dengan sebutan triple bottom line. Hanya saja, ada dua ganjalan dalam hal pengembangan masyarakat. Pertama adalah bahwa sudah seharusnya seluruh program sosial dinilai, bukan saja yang berkenaan dengan pengembangan masyarakat. Ini demi keadilan penilaian terhadap yang telah mencurahkan sumberdayanya. Kedua, kalau memang hanya program pengembangan masyarakat yang menjadi fokus, sudah seharusnya bukan semata-mata masalah dana saja yang dinilai. Aspek sosial, sebagaimana aspek lingkungan, tidaklah mungkin direduksi menjadi ukuran-ukuran finansial. Pembiayaan merupakan fungsi dari program, dan karenanya ukuran finansial seharusnya menjadi salah satu indikator saja. Secara umum, program sosial perusahaan biasa dinilai dari masukan, proses dan kinerjanya. Kalau hal ini diikuti, maka banyak indikator lain yang bisa dipergunakan untuk menilai program pengembangan masyarakat. Pertama-tama, harus disadari bahwa program pengembangan masyarakat yang memadai haruslah diintegrasikan ke dalam strategi menyeluruh perusahaan, bukan sekedar tempelan. Untuk domain daripada Peraturan Pemerintah (PP) sebagai manifestasi dari UU, dan saat ini PP tersebut masih dibahas oleh

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

165

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

menilainya, beberapa indikator dapat dipergunakan, yaitu: Adanya kebijakan tertulis perusahaan mengenai pentingnya membangun hubungan baik dengan masyarakat yang terkena dampak operasi perusahaan; Terdapatnya dengan bagian khusus yang antara menanganinya perusahaan pengembangan masyarakat; masyarakat yang bekerja secara efektif dengan bagian lain yang terkait aktivitas hubungan dan Sumberdaya manusia yang bekerja untuk bagian itu memiliki kapabilitas yang memadai dari segi pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja; Adanya rencana kerja strategik untuk waktu lima tahun, dilengkapi dengan rincian program setahunan yang telah disepakati bersama-sama emangku kepentingan serta mekanisme penyesuaian rencana; Dan tersedianya dana yang mencukupi untuk melaksanakan program yang direncanakan Perusahaan pertambangan dalam operasinya pasti mengakibatkan dampak negative sosial dan lingkungan bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Pengembangan masyarakat dapat dipandang sebagai salah satu bentuk upaya mengkompensasi dampak tersebut, di luar minimisasi dampak yang wajib juga dilakukan oleh perusahaan. Tanpa penyelesaian permasalahan dampak negatif, sangatlah sulit bagi perusahaan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Karenanya perusahaan seharusnya melakukan perhitungan dampak dengan terperinci sebagai dasar dari pengembangan masyarakat. Sebagai konsekuensi penghitungan dampak, besaran program harus dibedakan menurut wilayah dan kelompok dampak. Semakin besar suatu wilayah atau kelompok masyarakat terkena dampak negative aktivitas perusahaan, semakin besar hak mereka untuk memperoleh program. Dalam hal tersebut, tiga indikator dapat diajukan, yaitu: Penilaian kerusakan yang diderita masyarakat dilakukan secara bersama-sama antara perusahaan dan masyarakat, dengan disaksikan oleh pihak lain yang netral; Negosiasi harga Kompensasi kerusakan dilakukan dengan cara-cara yang jujur, diterima masyarakat setempat, tanpa paksaan dan tipuan; Dan pembayaran kompensasi sesuai dengan kesepakatan yang dibuat, baik dalam aras individu maupun kelompok. Penting disadari bahwa perusahaan bukanlah agen pembangunan masyarakat semata. Perusahaan adalah entitas yang mencari keuntungan ekonomi, namun dalam usahanya tidak diperkenankan merusak lingkungan dan tatanan sosial ekonomi masyarakat. Perusahaan juga harus melindungi lingkungan dan sedapat mungkin memaksimumkan keuntungan sosial dan ekonomi

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

166

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

masyarakat sekitar. Karenanya, partisipasi masyarakat luas serta pihakpihak lain yang kompeten dan memiliki niat baik menjadi sangat penting. Mengingat hal di atas, berbagai indikator partisipasi dapat dipergunakan, yaitu Program direncanakan secara partisipatoris dengan memperhitungkan keragaman kelompok-kelompok masyarakat; Program tersebut merupakan komplemen dan suplemen dari kegiatan-kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak lain; Kegiatan dilaksanakan bersama-sama dengan masyarakat dan pihak lain yang memiliki kompetensi yang tepat; Pelaksanaan pemantauan kegiatan dilakukan bersama-sama dengan komponen masyarakat dan pemangku kepentingan lain, Serta dilakukannya evaluasi keberhasilan kegiatan bersama masyarakat dengan umpan balik bagi kegiatan mendatang Seluruh indikator diatas merupakan indikator masukan dan proses, sementara penilaian kinerja merupakan puncak upaya untuk mengetahui apakah perusahaan diterima oleh seluruh pemangku kepentingannya. Dalam hal ini, haruslah dikemukakan dimensi-dimensi keberhasilan dari berbagai sudut pandang, utamanya dari perusahaan sendiri, masyarakat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain yang terlibat langsung dalam pengelolaannya. Program yang memuaskan seluruh pihak merupakan cerminan keberhasilan tertinggi sehingga dapat diyakini bahwa keberadaan dan operasi perusahaan tersebut akan terus mendapatkan dukungan masyarakat dan pihak terkait lainnya. Indikator-indikator kinerja yang dapat dipergunakan antara lain: 1. Terlaksananya seluruh program yang direncanakan; Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang dinyatakan hendak dipenuhi dalam rencana program; 2. Terpeliharanya integrasi sosial masyarakat; 3. Program berhasil mendorong kemandirian masyarakat dan tidak menimbulkan ketergantungan; 4. Perusahaan secara umum diterima keberadaannya di tengahtengah masyarakat; 5.Adanya pengakuan dari pemerintah dan pihak lain bahwa perusahaan telah berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Jika indikator-indikator di atas dipergunakan, reduksi pengembangan masyarakat menjadi sekadar masalah dana akan dapat dihindari. Tentu saja, lebih baik lagi kalau Departemen ESDM mau menilai keseluruhan program sosial Hasilnya kemudian dapat dipergunakan untuk

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

167

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

membuat daftar tindakan perbaikan yang dituangkan dalam sebuah kontrak kinerja. Penilaian dan tindak lanjutnya yang komprehensif akan mengurangi resistensi banyak pihak, juga akan mengurangi retorika elit yang tidak perlu, sehingga kita tidak lagi akan terjerumus ke dalam politisasi atas nasib masyarakat.

4.2. Program CSR-Community Development PT. NNT yang telah berjalan Penyusunan Program CSR PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), selama ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan secara partisipatif. Metode yang digunakan diantaranya adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), Future Search Dialogue, Ziel-Orienterte Projekt planung (ZOPP) dan Participatory Wealth Ranking (PWR) untuk kecamatan Sekongkang, Maluk dan Jereweh. Namun proses perencanaan partisipatif tersebut dalam prosesnya kurang melibatkan para stakeholders strategis, seperti pemerintah daerah, pemerintahan desa dan masyarakat setempat (warga miskin), selama ini kelompok masyarakat yang terlibat dalam proses perencanaan program tersebut lebih banyak adalah komunitas yang merupakan binaan atau dampingan pihak perusahaan. Bahkan, terhadap kelompok masyarakat yang kontra terhadap keberadaan PT.NNT sama sekali tidak dilibatkan dalam proses perencanaan program CSR. Sehingga seringkali apa yang direncanakan oleh perwakilan kelompok masyarakat dengan kebutuhan pemerintahan desa dan masyarakat secara umum kurang sesuai, bahkan terkadang program PT.NNT tidak berjalan sinergis dengan program daerah. PT. NNT dalam program CSRnya menggunakan istilah Community Development. Fokus program Community Development PT. Newmont Nusa Tenggara adalah mengembangkan SDM dan SDA di mana pendidikan sebagai kata kuncinya. Bentuk-bentuk kegiatannya adalah : 4.2.1. Bidang Kesehatan Meliputi pemberantasan penyakit malaria, program kesehatan ibu dan anak, air dan sanitasi, pencegahan TBC dan Penyakit Menular Seksual, pendirian Posyandu dan Puskesmas, kesehatan. serta penyuluhan-penyuluhan Dalam pemberatasan Penyakit Malaria biasanya PT.NNT

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

168

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

melakukan cenderung

penyemprotan mengalami

setiap

satu jika

bulan

sekali,

intensitas

penyemprotan nyamuk malaria dari tahun ke tahun menurut masyarakat penurunan, sebelumnya penyemprotan dilakukan setiap minggu, maka dalam dua tahun tahun terakhir ini hanya 1 kali dalam dua minggu bahkan 1 bulan sekali. Sehingga terkesan sebatas lip services semata. Begitupun dengan program pencegahan TBC dan Penyakit Menular Seksual (HIV-AIDS), sebelum ada PT.NNT, masyarakat di wilayah lingkar tambang tidak mengenal penyakit HIV-AIDS, namun sejak PT.NNT beroperasididukung dengan beroperasinya pula sejumlah cafe dan praktek prostitusi terselubung di kawasan Wisata Pantai Maluk dan Sekongkang, penyakit HIV-AIDS mulai muncul. Berdasarkan data dari Komisi Penanggulan Aids-NTB, jumlah pengidap HIVS-AIDS di KSB sebanyak 15 orang dan mereka umumnya adalah para pekerja seksual yang selama ini beroperasi di cafe-cafe yang ada di Maluk. Potensi masyarakat lingkar tambang untuk terkena penyakit HIV-AIDS tergolong tinggi, karena sebagian besar para remaja yang berasal dari masyarakat lingkar tambang, dalam beberapa tahun terakhir mulai intens ke cafe, bahkan banyak diantara mereka yang melakukan seks bebas dengan para PSK yang ada di cafe-cafe, perilaku ini terjadi pula pada kalangan para orang tua, beberapa masyarakat bahkan tokoh masyarakat, seperti Kades dan Anggota BPD Desa banyak sekali yang datang ke cafe untuk minum-minuman keras dan menjalin hubungan seks bebas dengan para PSK. Bergesernya perubahan sikap, perilaku dan nilai masyarakat ini seiring dengan semakin terbukanya pergaulan masyarakat lingkar tambang dengan dunia luar. Sejauh ini belum banyak upaya pencegahan yang dilakukan oleh PT.NNT dalam program pencegahan penyakit menular HIV-AIDS , karena banyak pula para karyawan PT.NNT, khususnya yang bekerja dalam Departemen Community Development maupun Community Relation yang turut terlibat dan menikmati keberadaan cafe-cafe dan keberadaan PSK di kawasan pantai Maluk dan Sekongkang. Sebelumnya telah ada pergerakan yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk melakukan penutupan tempat-tempat hiburan, seperti gerakan yang dilakukan oleh masyarakat Sekongkang. Namun, gerakan ini telah melahirkan kontra produktif, karena pasca gerakan penutupan cafe dan tempat hiburan kawasan wisata pantai Sekongkang perlahan-lahan mulai sepi dan para investor dan PSK banyak yang pindah ke Maluk. Terlepas dari aspek ekonomis, dilihat dari sisi program kesehatan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

169

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

seyongyanya program CSR diarahkan pula untuk mengatasi masalah penyakit menular HIV-AIDS, bukan hanya pada aspek pencegahan semata, melainkan pula harus diarahkan pada upaya pengobatan/penanganan serius terhadap para penderita HIV-AIDS. Di tingkat masyarakat, penyakit HIV-AIDS ini sangatlah menakutkan, biasanya masyarakat mengislosir kepada mereka yang diduga terkena HIV-AIDS, bahkan dalam satu kasus di Desa Sekongkang Atas, salah seorang warga pendatangpenderita HIVAIDS pada akhirnya lamban untuk dikuburkan oleh masyarakat setempat, lantaran takut mayat yang akan di kubur tersebutdapat menimbulkan virus menular bagi warga setempat. Ancaman terhadap penyakit HIV-AIDS menjadi ancaman yang cukup serius dan perlu untuk segera direspons, mengingat KSB yang merupakan penduduk dengan jumlah terendah dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya di NTB, namun dalam hal catatan penderita HIVAIDS berada pada posisi kedua setelah Kota Mataram. Program CSR bidang ksehatan yang cukup berhasil dinilai masyarakat selama ini adalah program Kesehatan Ibu dan Anak, program ini dirasakan sangat menyentuh kebutuhan masyarakat, misalnya program pemberian makanan bergizi bagi balita, program imunisasi Balita, pemeriksaaan rutin perkembangan Balita dan Ibu Hamil cukup membantu masyarakat setempat. PT.NNT dinilai juga berhasil dalam mendorong adanya ketersediaan akses bagi mayarakat setempat untuk menyediakan sarana dan prasarana kesehatan, seperti ; pembangunan Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu maupun perumahan bagi para petugas kesehatan. Dalam konteks program kesehatan di masa mendatang, diharapkan Program CSR bidang kesehatan diharapkan dapat diarahkan pada dukungan untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Bantuan berupa sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan, seperti ; obat-obatan yang bermutu dan berkualitas, peralatan kesehatan yang canggih dan sebagainya diharapkan dapat diberikan oleh PT.NNT terhadap sejumlah Puskesmas yang ada di wilayah lingkar tambang. Seperti, Puskesmas Kecamatan Sekongkang dan Puskesmas Kecamatan Maluk. Ketersediaan fasilitas kesehatan yang canggih tersebut sangat dibutuhkan mengingat keberadaan Puskemas di wilayah tersebut sangat vital bagi masyarakat setempat dan masyarakat lingkar tambang akan mengalami kesulitan akses dalam memperoleh layanan kesehatanjika

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

170

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

hanya bertumpuh pada rujukan ke Puskesmas Taliwang atau RSUD Mataram atau RSUD KSB nanti. PT.NNT juga telah memberikan dukungan kepada Puskemas di Kecamatan Sekongkang, Maluk maupun Jereweh berupa mobil untuk pengangkutan pasien. Namun, bantuan mobil ambulance tersebut tidak cukup memadai, sebagian besar telah mengalami kerusakan, bahkan biaya operasional dan pemeliharaan kendaraan tersebut, menurut Kepala Puskemas Sekongkang jauh lebih besar dibandingkan dengan harga mobil tersebut. Selama ini menurut Kepala Puskesmas, beberapa kali mobil ambulance yang diberikan oleh PT.NNT kepada Puskesmas Sekongkang mengalami kerusakansementara biaya untuk pemeliharaan/perbaikan yang dimiliki oleh Puskemas sangat terbatas, bahkan Puskemas Sekongkang sudah tidak mampu lagi untuk membiayai biaya pemeliharaan mobil ambulance tersebut. Kendaraan tersebut menurut Kepala Puskemas Sekongkang tidaklah standar dan justeru riskan kalau digunakan untuk membawa pasien dari Sekongkang ke Taliwang apalagi Mataram. Dari hasil evaluasi, masyarakat selama ini seringkali mengeluhkan pelayanan fasilitas ambulance dari pihak Puskemas, bahkan beberapa kali sejumlah warga melakukan protes langsung kepada para petugas kesehatan yang ada di Puskesmas terkait dengan lambannya layanan ambulance. Kebutuhan terhadap penyediaan fasilitas ambulance sangat dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Program CSR PT.NNT, khususnya terkait dengan divestasi saham (1 milliar 1 desa untuk desa lingkar tambang) dapat dilakukan dengan cara masing-masing desa di wilayah lingkar tambang memberikan konstribusi untuk pembelian mobil ambulance, melalui sharing anggaran. Dalam menjalankan program di bidang kesehatan, selama ini PT.NNT bermitra dengan LSM lokal (LSM Lakmus). Menurut para petugas kesehatan dan masyarakat setempat, pola pendampingan yang dilakukan oleh LSM ini kurang efektif, karena banyak para petugas LSM yang notabennya sebagai konsultan atau CO/Pendamping tidak memiliki kapasitas untuk menangani masalah di bidang kesehatan, selain background pendidikan yang tidak sesuai, seperti ; sarjana ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya, banyak pula diantara para CO yang bertugas dilapangan adalah hanya tamatan SMA, sehingga dari aspek teknis maupun skill terkait program kesehatan sangat tidak memadai atau mendukung.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

171

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Pengelolaan program CSR di bidang kesehatan diharapkan dapat dilakukan perubahan di masa mendatang, PT.NNT perlu meingkatkan kerjasama dengan Dinas Kesehatan atau Para Petugas kesehatan yang ada di masing-masing desasecara langsung, para petugas kesehatan yang ada di Puskesmas, Puskemas Pembantu, Posyandu dan sebagainya perlu dilibatkan secara langsung sebagai pengelola programbahkan bila memungkinkan alokasi dana untuk LSM dan para CO dialihkan untuk belanja langsung bidang kesehatan, seperti misalnya ; biaya gaji dan operasional LSM bisa dialihkan untuk dukungan bantuan kesehatan bagi warga miskin untuk kesehatan, penyediaan obat-obatan yang berkualitas, dan sebagainya. Sehingga program CSR langsung dapat menyentuh kebutuhan masyarakat, memutus jalur birokrasi yang semakin panjang (LSM sebagai perantara di hapus), dan lainnya. 4.2.2. Bidang Pertanian Di bidang Pertanian, Program Community Development PT.NNT yang dilaksanakan adalah meliputi peningkatan teknik pertanian melalui pelatihan dan Sekolah Lapangan Petani, penekanan pada sistem intensifikasi pertanian dan pertanian terpadu, yang mencakup peningkatan teknik pertanian, diversifikasi palawija, budi daya perikanan, pupuk organik, pengelolaan hama terpadu, pemasaran dan peningkatan keterampilan pemecahan masalah terhadap para petani, serta penyediaan bibit, pupuk organik, pengelolaan hama terpadu, pemasaran dan peningkatan keterampilan pemecahan masalah terhadap para petani. Salah satu persoalan mendasar dalam pembangunan pertanian adalah irigasi. Menurut sejumlah masyarakat, sebelum PT.NNT beroperasi masyarakat setempat panen 2 sampai 3 kali padi dan 1 sampai 2 kali palawija. Saat itu sungai-sungai, seperti sungai di Desa Sekongkang Atas dan Bawah, Sungai Sejorong dan beberapa sungai lainnya memiliki debit air dalam jumlah yang relatif besar, sehingga masyarakat setempat, khususnya para petani memperoleh air untuk lahan pertaniannya tersebut dari sungai itu. Namun, setelah PT.NNT beroperasi sungai-sungai di sekitar kawasan pertambangan menjadi kering. Berkurangnya debit air sungai yang terjadi di beberapa lokasi tersebut, diduga oleh masyarakat setempat disebabkan karena banyaknya aliran sungai yang dibuat jalan serta sebagian sumber mata air tersebut

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

172

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

digunakan untuk operasional PT.NNT. Oleh karena itulah muncul tuntutan masyarakat setempat, agar PT.NNT dalam program Community Development untuk membangun sejumlah fasilitas irigasi dengan memanfaatkan beberapa sumber mata air dan sungai yang masih tersisa dan dapat dimanfaatkan untuk irigasi. Atas desakan masyarakat tersebut, akhirnya PT.NNT membangun fasilitas irigasi. Beberapa bendungan dibangun, seperti ; Bendung Tabiung di Desa Ai Kangkung atau Satuan Pemukiman (SP) I Transmigrasi untuk mengairi 200 hektar (ha), bendungan Tiu Sepit di Dusun Sejorong, Desa Tongo, Bendungan Senutuk di Desa tatar (300 ha), Embung Puja (70 ha), Embung Batu Bangkong di Desa Benete (200 ha), Bendungan Plam-pok di Desa Sekongkang Atas (200 ha). Keberadaan prasarana irigasi tersebut dirasakan bermanfaat, namun khusus untuk Bendungan Dam Plampo di Desa Sekongkang Atas, keberadaanya belum cukup mampu mendongkrak peningkatan hasil pertanian. Secara keseluruhan, panjang saluran irigasi yang sudah dibangun oleh PTNNT mencapai 18.766 meter. Dengan luas lahan pertanian 111,111 yang bisa diairi mencapai 1.010 hektare. PTNNT kini tengah membangun satu lagi prasarana irigasi di Desa Belo, Kecamatan Jereweh. Irigasi Lang Mutus yang diharapkan nantinya mampu mengairi lahan seluas 200 hektare, dan direncanakan selesai pada 2011 mendatang. Program ComDev di bidang pertanian lainnya adalah melakukan pelatihan dan pembinaan sumber daya manusia (SDM). Seperti, pelatihan petugas lapangan (PL) secara berkala tentang pentingnya menanam padi dengan System of Rice Intensification (SRI) sebagai teknologi terbaik di Indonesia. Sosialisasi informasi mengenai SRI, pendampingan petani oleh LSM (CO/PL) disetiap desa63. Pihak COMDEV telah mengklaim bahwa program SRI telah berhasil, dicontohkan mereka adalah Petani bernama Adam Master dari Desa Sekongkang Bawah, menurut COMDEV PT.NNT petani binaannya telah berhasil memanen padi 10,88 ton per hektare, jumlah ini melampaui target nasional untuk revitalisasi pertanian hanya 6 ton. Dengan keberhasilan sosok individu Adam Master pada masa itu

Penyuluhan atau pendampingan PL ditargetkan 200 petani per tahun dengan

asumsi 20 orang petani per desa per tahun.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

36

173

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

kemudian pihak PT.NNT mengkalim senyum telah mengembang menebar di Desa Sekongkang, juga di desa-desa lainnya di lingkar tambang. Pada 2004, lebih dari 200 orang petani dari 10 desa mendapat pelatihan mengenai Sistem Intensifikasi Padi, sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan hasil panen padi pada lahan kering. Hasil panen tradisional sebesar 3,6 ton per hektar diharapkan meningkat menjadi 10 ton per hektar setelah menerapkan Sistem Intensifikasi Padi. PT.NNT juga menyediakan benih padi varietas unggul dan dukungan irigasi. Namun, sejauh ini program SRI yang telah didengungkan dan dipublikasikan keberhasilannya dimana-mana ternyata hanyalah di atas kertas. Menurut sebagian besar masyarakat, dalam program pertanian selama ini, tidak banyak yang berhasil, tidak ada perubahan apa-apa terhadap peningkatan nasib dan kesejahteraan petani. Jikalaupun, dikatakan penanaman SRI berhasil, itu hanya terjadi pada seorang Adam Master dan itupun hanya terjadi satu kali pada tahun 2007/2008. Jika dikalkulasi banyak pula program comdev PT.NNT dan pendampingan yang dilakukan oleh LSM Mitra PT.NNT dilapangan yang mengalami kegagalan. Namun, kondisi tersebut tidak pernah dipublikasikan. Selama ini kecendrungan para tenaga pendamping lapangan (CO) hanya memberikan laporan yang baik-baik saja kepada pihak management perusahaan. Laporan yang diberikan berupa laporan keberhasilan semata, sementara kegagalan tidak dilaporkan kepada pihak perusahaan. Pola pendampingan para petani yang dilakukan oleh sejumlah LSM yang menjadi mitra PT.NNT ternyata banyak dikeluhkan masyarakat. Keluhan tersebut diantaranya adalah ; kapasitas CO/PL yang ternyata tidak lebih baik dari petani, ketidakseriusan CO/PL dalam melakukan pendampingan petani (rendahnya komitmen sosial), hingga proses pengelolaan program yang dinilai tidak transparans, partisipatif dan akuntabel serta adanya kecenderungan LSM hanya memanfaatkan keberadaan dan keberhasilan semata petani. Para petani mulai merasa tereksploitasi dengan keberadaan dan peran LSM mitra PT.NNT. Mereka menuntut agar dalam proses pemberdayaan petani PT. NNT untuk dilakukan perubahan, diantaranya adalah terkait dengan mekanisme pengelolaan program pertanian agar pemberdayaan petani oleh Comdev PT.NNT dilakukan tanpa melalui LSM, melainkan langsung kepada para petani atau kelompok tani binaan, sehingga alokasi dana yang selama ini

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

174

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

terserap untuk operasional LSM dan pembayaran gaji CO dapat di alokasikan dan dimanfaatkan langsung oleh para petani. Selama ini jumlah alokasi untuk pembayaran gaji dan operasional LSM termasuk fee LSM bernilai ratusan juta bahkan milliaran rupiah/tahun, jika dana tersebut dapat dimanfaatkan oleh petani langsung, misalnya untuk belanja langsung sektor pertanian, seperti ; pengadaan bibit, pupuk, alat mekanisasi pertanian dan sebagainya, maka tentu para petani akan lebih sejahtera dan dapat merasakan langsung program CSR. Keberadaan LSM pendamping selama ini dirasakan tidak cukup bermanfaat bagi para petani, bahkan banyak para petani yang mengeluhkan kinerja pada CO/PL, hanya datang meminta data dan laporan dari kelompok taniuntuk kemudian laporan tersebut digunakan untuk melakukan penagihan atau invoice kepada perusahaan. Keberadaan LSM dan para CO yang menjadi mitra program PT.NNT dirasakan pula masyarakat selama ini cukup menghambat akses masyarakat untuk dapat langsung kepada perusahaan (Comdev.PT.NNT), banyak aspirasi petani yang tidak sampai kepada perusahaan, bahkan banyak pula program yang diberikan dari perusahaan tidak sepenuhnya diterima oleh para petani karena beberapa oknum LSMmencari keuntungan dalam proyek pemberdayaan petani tersebut. Oleh sebab itulah, dimasa mendatangagar kelompok petani mandiri, maka perlu dilakukan perubahan kebijakan program. Pada prinsipnya, peran pendamping/CO adalah memandirikan organisasi rakyat, karena itu jika rakyat merasa telah mampu dan bisa, maka sudah sepatutnya LSM tersebut menarik diri, mendukung organisasi rakyat untuk mandiri (Lao Tse). Persoalan lainnya yang dinilai perlu untuk dilakukan dalam konteks perubahan pengambangan program pada sektor petanian adalah terkait dengan distribusi dukungan kepada para petani yang ada di masing-masing desa. Selama ini, petani yang didampingi di masing-masing desa adalah sebanyak 20 orang/petani. Sementara jumlah petani yang ada di masingmasing desa jumlahnya ratusan orang. Sehingga muncul kecemburuan sosial antara petani binaan PT.NNT dan Petani bukan binaan PT.NNT. kebijakan ini dinilai masyarakat/petani cenderung diskriminatif, karena tidak jelas pula indikator yang digunakan dalam menentukan siapasiapa dari 20 orang tersebut yang layak sebagai petani dampingan. Apakah didasarkan atas luasnya jumlah lahan pertanian, eks pemilik lahan,

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

175

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

kategori kemiskinan atau apa?. Dari hasil wawancara dengan salah seorang Koordinator LSM yang juga merupakan koordinator pendampingan petani untuk wilayah sekongkang mengatakan bahwa 20 orang petani yang didampingi tersebut sesungguhnya adalah merupakan kebijakan top down ditentukan sendiri oleh LSM bersama dengan Pemdes dan dikonsultasikan kepada pihak PT.NNT. mengenai ukuran atau indikator dalam penentuan 20 orang petani tersebut koordinator lapangan tersebut tidak mengetahuinya. Kondisi menimbulkan kerawanan terhadap praktek nepotismedimana para kepala desa dan LSM yang ditunjuk sebagai mitra akan memprioritaskan kalangan keluarga mereka sebagai petani binaan. Hal inilah yang mencuat di masyarakat bahwa selama ini program pertanian hanya mereka yang memiliki kedekatan dengan Kades dan LSM atau memiliki akses dengan orang-orang yang berada didalam Comdev PT.NNT. Tingkat partisipasi petani dalam program pertanian semakin terbatas, hanya petani yang menjadi binaan PT.NNT (20 orang), partisipasi merekapun dari tahun ke tahun terus menurun. Penurunan tingkat partisipasi petani ini seiring dengan belum adanya kejelasan atas program pertanian yang memandirikan dan dapat mensejahterakan petani, sikap demikian ditopang pula dengan kegagalan sejumlah LSM selama ini dalam melakukan pemberdayaan terhadap program pertanian. Tingkat legitimasi LSM mitra PT.NNT mulai dipertanyakan masyarakat, bahkan komitmen mereka dipertanyakan. Apakah memang ingin memandirikan dan memajukan petani ataukah hanya memandirikan dan memajukan LSM mereka?. Keberadaan dan peran Dinas Pertanian KSB sebagai institusi legal (formal) yang relatif lebih mandiri, berkelanjutan serta merupakan perangkat daerah yang telah memiliki otoritas yang jelas diharapkan masyarakat dapat memainkan perannya secara maksimal dalam rangka program pertanian. Keberadaan Para tenaga penyuluh pertanian yang tersedia serta anggaran program pertanian Pemerintah Daerah yang selama ini telah tersedia menjadi potensi potensial yang dapat mensinergiskan program pertanian PT.NNT dalam CSRnya dengan Program Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah perlu segera melakukan take over atas program pemberdayaan pertanian (termasuk melakukan pendampingan petani) sehingga program pertanian di wilayah lingkar tambang selain dapat

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

176

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

mempercepat akselerasi kemajuan program pertanian diharapkan juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama ini belum banyak yang dilakukan oleh Dinas Pertanian, khususnya Para Penyuluh Pertanian dalam melakukan pendampingan program pertanianpadahal, kapasitas para Tenaga Penyuluh Pertanian lebih berkompeten dan lebih memiliki kapasitas dibandingkan dengan para CO/Pendamping Lapangan yang selama ini dilaksanakan oleh LSM mitra PT.NNT. Dari hasil assesment menujukkan bahwa sektor pertanian menjadi sektor yang paling utama untuk dilakukan pembenahan dalam program CSR PT.NNT, karena sektor ini dinilai masyarakat lingkar tambang belum menunjukkan adanya kemajuan yang berarti, atau dengan kata lain sebelum ada PT.NNT dan setelah ada PT.NNT (Program CSR pertanian) kondisi petani di wilayah lingkar tambang tidak ada perubahan, bahkan justeru para petani, khususnya petani yang tidak masuk dalam binaan PT.NNT merasakan dampak negatif, diantaranya adalah ; meningkatnya upah para buruh tani, harga pupuk yang tinggi, harga sembako dan sebagainya yang justeru semakin memperburuk keadaan perekonomian para petani. 4.2.3. Bidang Pendidikan Dalam program CSR bidang pendidikan diarahkan pada upaya

untuk peningkatan kualitas pendidikan (pendidikan informal) melalui pelatihan guru dan pendekatan manajemen berbasis sekolah. Sedangkan Bidang pendidikan non formal, kegiatan yang dilaksanakan diantaranya adalah berupa peningkatan pada pelatihan kejuruan, yaitu perbaikan otomotif, pengelasan, keterampilan komputer, bahasa Inggris, dan perbaikan listrik. Kemudian, sektor pendidikan informal juga menekankan pada pemberantasan buta huruf, dan penguatan kelembagaan kelompok mitra. Selain itu, program pengembangan masyarakat di bidang pendidikan juga meliputi pembangunan infrastruktur pendidikan, pelatihan, bantuan peralatan pendidikan, perpustakaan serta beasiswa. PT Newmont Nusa Tenggara memulai pemberian program beasiswa pada 1998 sewaktu proyek Batu Hijau masih dalam tahap konstruksi. Program Beasiswa ini ditujukan untuk pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal meliputi program pemberian beasiswa untuk pelajar dan mahasiswa Sumbawa dan Nusa Tenggara Barat yang memiliki prestasi tinggi. Program ini sesungguhnya difokuskan untuk para

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

177

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pelajar dan mahasiswa yang berasal dari daerah sekitar tambang, namun demikian bagi para pelajar dan mahasiswa diluar lingkar tambang ( semua daerah di Nusa Tenggara Barat) juga diberikan kesempatan untuk mengajukan lamaran beasiswa. Beasiswa ini diberikan tanpa kewajiban dari para pelajar kecuali mereka harus berhasil menyelesaikan pendidikannya. Pada tahun 2002, beasiswa diberikan kepada 500 mahasiswa dan pelajar SLTA, jumlah tersebut meningkat pada tahun 2003 menjadi 620 mahasiswa dan pelajar SLTA dan pada periode tahun 2010/2011 meningkat menjadi sebanyak 700 pelajar dan mahasiswa64. Berikut tabel penerima beasiswa PTNNT periode XIII Juli 2010/2011 :

Menurut laporan PT.NNT yang dipublikasikan dalam webstite resmi perusahaan tersebut menyebutkan bahwa capaian keberhasilan program di pendidikan adalah Pemberian Program Beasiswa bagi siswa-siswi lingkar tambang hingga 2009 ini mencapai 7.441 orang dengan total dana yang telah dikeluarkan mencapai Rp11,5 miliar. Laporan dan capaian keberhasilan ini menurut masyarakat patut untuk dipertanyakan. Benarkah program beasiswa tersebut adalah untuk siswa dan siswi lingkat tambang? Benarkah sebanyak 7.441 orang dari masyarakat lingkar tambang sampai tahun 2009 telah menerima program beasiswa? Benarkah dana Rp.11,5 milliar yang telah dikeluarkan oleh PT.NNT dinikmati oleh para siswa dan siswi yang berasal dari wilayah lingkar tambang? Siapasajakah warga lingkar tambang (siswa-siswi) dari 7.441 tersebut?. Mengapa banyak warga yang berasal dari warga lingkar tambang mengeluhkan program beasiswa, bahwa tidak pernah menerima program tersebut?. Berita Tambangnews.com berjudul Diduga, Beasiswa PT.NNT Kurang Adil yang ditulis oleh Usep Syarif, Rabu 10 Juni 2009 dan

64 Pemberian Program Beasiswa bagi siswa-siswi lingkar tambang hingga 2009 ini mencapai 7.441 orang. Total dana yang telah dikeluarkan mencapai Rp11,5 miliar

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

178

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dipublikasikan dalam webstite berita tambang news, patut untuk menjadi bahan renungan semua pihak, sekaligus bahan pertimbangan. Berikut kutipan beritanya; Tambang News, Bantuan pendidikan yang diberikan PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT) tak terbilang banyak. Termasuk adanya bantuan beasiswa bagi masyarakat untuk meneruskan jenjang pendidikannya. Salah seorang warga mengaku, sejak anaknya sekolah SMP selalu mengajukan beasiswa ke PT. NNT, namun hingga masuk perguruan tinggi permohonannya tidak pernah dikabulkan. Sekarang dia mencoba mengajukan program beasiswa lagi ketika anaknya sudah duduk di semester 2 perguruan tinggi swasta di Mataram. Saya tetap akan mencoba mengajukan permohonan. Syarat sudah dipenuhi, termasuk Indeks Prestasi (IP) minimal 3.00, sementara anak saya IP-nya 3,28, masa permohonan ini pun tidak diberikan, ungkap salah seorang warga sambil memperlihatkan formulir permohonan beasiswa yang sudah dilengkapi persyaratannya. Dari informasi yang dia peroleh, bahwa tidak didapatnya program beasiswa bagi anaknya karena kuota pemberian beasiswa hanya 200 orang, sehingga permohonan yang sudah lama diajukan tidak kunjung terealisasi. Sementara itu, salah seorang aktifis KSB, Lahmuddin alias Blenk meminta agar PT. NNT bisa berbuat adil dalam memberikan beasiswa, terutama bagi masyarakat di lingkar tambang. Kami lebih setuju jika pemberian beasiswa diutamakan kepada masyarakat lingkar tambang, ujar Blenk sambil menambahkan sesuai hasil investigasinya penerima beasiswa banyak orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya. Blenk meminta kepada PT. NNT agar lebih selektif dalam memberikan beasiswa, karena ada indikasi permainan oknumoknum tertentu meloloskan program beasiswa hanya dengan bermodalkan KTP Sumbawa Barat. Banyak sekali oknum yang memanipulasi KTP persoalannya, sehingga kami minta pihak Newmonpun lebih selektif dalam menentukan penerima beasiswa, tegasnya. Blenk bahkan mengaku dirinya mengendus adanya dugaan permainan dalam pemberian beasiswa. Dimana sebagian penerima ada indikasi sebagai titipan dari oknum-oknum tertentu selaku pengambil kebijakan di KSB. Dari hasil wawancara dan FGD dengan masyarakat, keluhan yang sama juga muncul dari masyarakat, bahkan beberapa warga masyarakat di Desa Sekongkang Atas yang merupakan Desa tempat beroperasinya PT.NNT mengeluhkan program beasiswa PT.NNT yang menurut mereka selama ini tidak mencerminkan keberpihakan kepada warga lingkar tambang, banyak diantara mereka yang selama ini (sejak menyekolahkan anaknya dari SD sampai Perguruan Tinggi) ternyata tidak menerima beasiswa dari PT.NNT. Terkait dengan kebijakan pemberian beasiswa tersebut, pada bulan November 2010, para pelajar dari SMAN 1 Sekongkang di dampingi guru mereka melakukan demonstrasi ke PT.NNT, mereka menuntut agar proporsi kuota penerimaan beasiswa bagi para pelajar SMAN 1 Sekongkang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

179

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

untuk ditingkatkan, mereka juga menolak standar yang digunakan oleh pihak perusahaan yang menetapkan skala nilai 8,0. Dalam tututannya para guru dan SMAN 1 Sekongkang menuntut kepada Pihak Perusahaan agar ; pertama, memprioritaskan penerimaan beasiswa bagi masyarakat lingkar tambang, khususnya Sekongkang, karena masyarakat Sekongkang adalah masyarakat yang paling terkena dampak langsung atas keberadaan PT.NNT dan di Sekongkang inipula PT.NNT beroperasi, seyogyanya PT.NNT memberikan beasiswa kepada para pelajar Sekongkang-sebagai bentuk kompensasi atas produksi PT.NNT dan penggunaan lahan masyarakat setempat. Kedua; dengan adanya penentuan skala nilai tersebut, maka dapat dipastikan jumlah penerima beasiswa dari pelajar yang berasal dari SMAN 1 Sekongkang menjadi sangat terbatas, karena tidak semua murid SMAN 1 Sekongkang memiliki nilai 8,0, pasti dalam sekolah tersebut nilai yang diraih oleh pelajar yang memperoleh nilai 8,0 jumlahnya sangat terbatas. Disamping itu, mereka juga menuntut agar PT.NNT memberikan dukungan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, diantaranya adalah ; dukungan untuk pembangunan ruang kelas (3 ruang), penyediaan fasilitas buku pelajaran, perpustakaan dan sebagainya. Menurut Agus Putrahadi, Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Sekongkang, menilai komitmen PT.NNT kepada masyarakat lingkar tambang, khususnya sekongkang dalam bidang pendidikan sangatlah rendah. Banyak masyarakat sekongkang yang hidupnya dibawah garis kemiskinan, termasuk orang tua murid yang kurang mampu. Selama ini memang ada bantuan bagi warga yang tidak mampu, namun bantuan tersebut berupa bantuan untuk pembelian tas dan sepatu dan lebih kepada pencitraan semata perusahaan di masyarakat, yang dibutuhkan masyarakat yang tidak mampu bukan sekedar atau sebatas bantuan seperti itu, melainkan adalah meyangkut peningkatan mutu dan keberlanjutan para peserta didik65. Saat ini banyak warga lingkar tambang, khususnya Sekongkang yang telah mengikuti pendidikan S1 diberbagai daerah, mereka banyak dari kalangan warga yang sesungguhnya tidak mampu, akan tetapi mereka tidak memperoleh dukungan dari pihak perusahaan. Orang tua mereka (pelajar dan mahasiswa) banyak yang mengeluh, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berhutang dan menjual asset yang dimilikinya, semata-mata hanya ingin dapat mengikuti pendidikan hingga

65

Bantuan paket pendidikan bagi 2676 siswa kurang mampu

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

180

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

jenjang Perguruan Tinggi. Masyarakat yang tidak mampu namun memiliki keinginan untuk melanjutkan anak-anaknya untuk sekolah hingga Perguruan Tinggi inilah yang semestinya pula mendapat perhatian dan dukungan dari PT.NNT. kami melakukan demosntrasi bersama para pelajar SMAN 1 Sekongkang karena pada tahun 2011 tidak jelas komitmen PT.NNT untuk pengembangan pendidikan bagi warga lingkar tambang, khususnya pengembangan pada SMAN 1 Sekongkang 66. Senada dengan pernyataan di atas, Salah seorang guru di SMPN 1 Sekongkang dan SDN 2 Sekongkang Atas juga menyatakan hal yang sama, dukungan dari PT.NNT terhadap dunia pendidikan bagi masyarakat lingkar tambang di nilai masih setengah hati. Bahkan jika dilihat dari kecendrungan dari tahun ke tahun bukan meningkat malah mengalami penurunan, terlebih lagi saat ini (sejak tahun 2010). Setelah Manager Eksternal di pegang oleh orang luar NTB dan didominasi oleh para pekerja yang bukan berasal dari masyarakat NTB. PT Newmont Nusa Tenggara memang telah melaksanakan program perpustakaan keliling yang mencakup daerah sekitar Taliwang, Jereweh dan Sekongkang. Namun, efektifitas program Perpustakaan Keliling yang diklaim merupakan program yang populer, memiliki lebih dari 3000 buku dan 6000 anggota tersebut patut untuk dipertanyakan efektifitas. Termasuk jumlah buku dan anggotanya. Benarkah anggota telah mencapai 6000? Siapa sajakah? Kapan 2 mobil Perpustakaan Keliling itu jalan? Klaim keberhasilan atas program di bidang pendidikan memang seringkali muncul, termasuk keberhasilan SMAN 1 Sekongkang yang berhasil menamatkan 100% siswa-siswinya dalam Ujian Akhir Nasional pada tahun 2009 lalu, bahwa keberhasilan tersebut seakan-akan adalah dikarenakan adanya program pemantapan dan Bimbingan Belajar PT.NNT. Padahal, keberhasilan tersebut lebih banyak dikarenakan faktor para guru SMAN 1 Sekongkang dan para murid itu sendiri yang memang telah sungguh-sungguh belajar. Termasuk kebijakan dari Kepala SMAN 1 Sekongkang, Abdullah Spd yang ketika itu mengambil langkah untuk melakukan karantina terhadap para pelajar SMAN1 Sekongkang selama kurang lebih 1 bulan untuk mempersiapkan UAN. Kebijakan tersebut didukung oleh para Orang Tua/Wali Murid, bahkan mereka bersedia untuk

66 Hasil Wawancara mendalam dengan Agus Putrahadi, Spd, Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Sekongkang, pada tanggal 7 November 2010.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

181

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

memberikan dana sumbangan kepada pihak sekolah sebesar Rp.150.000 s.d. Rp.200.000,- untuk biaya selama masa karantina. Namun, peran Kepala Sekolah, Murid dan Orang Tua Siswa tersebut dinegasikan dengan pemberitaan dan opini yang dibangun oleh perusahaan, bahwa seakan-akan keberhasilan tersebut karena peran PT.NNT. Bahkan para pekerja di Comdev PT.NNT, ketika itu terkesan segera melakukan release keberbagai media massa untuk meraih pencitraan publik. Begitupun di Bidang pendidikan non formal, seperti kegiatan peningkatan pada pelatihan kejuruan, yaitu perbaikan otomotif, pengelasan, keterampilan komputer, bahasa Inggris, dan perbaikan listrik. Sesungguhnya program ini tidak banyak yang memiliki manfaat dan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Misalnya terkait dengan pelatihan otomotif, pengelasan dan perbaikan listik para pemuda yang pernah mengikuti pelatihan tersebut merasakan program tersebut lebih sekedar memenuhi tuntutan semata atau ala kadarnya, pasca pelatihan para pemuda yang notabennya sebagai penggaguran tersebut tidak didukung dengan penyediaan fasilitas untuk menindaklanjuti hasil pelatihan, sehingga mereka tetap saja menjadi pengangguran. Begitupun dengan pendidikan non formal lainnya. Dari hasil FGD dengan para guru, program pengembangan pendidikan yang dilaksanakan oleh PT.NNT melalui LSM mitra PT.NNT selama ini kurang berjalan efektif, para petugas lapangan (CO) di bidang pendidikan yang ditempatkan di berbagai lokasi, tidak memiliki komitmen dan kapasitas yang memadai sebagai CO yang bekerja melakukan pendampingan. Bahkan, muncul kesan dikalangan para pendidik, LSM dan para CO yang mengerjakan program pendidikan, terkesan hanya menghabiskan anggaran program pendidikan, seperti ; belanja operasional dan gaji untuk CO dan LSM. Jika jumlah CO 4 orang dengan gaji sebesar Rp. 2,500,000,-/bulan, maka untuk gaji sebulan mencapai Rp.10 juta/bulan, belum lagi operasional lainnya. Jika dibandingkan antara input dengan output yang dihasilkan sesungguhnya tidaklah seimbang. Misalnya dengan kerja para tenaga sukarela atau kontrak daerah (guru) yang mengajar di Sekolah-Sekolah, mereka hanya menerima gaji Rp.400.000/bulan, namun kinerja untuk pengembangan pendidikan lebih jelas, terarah dan terukur.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

182

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Alokasi

anggaran

program

CSR

dalam

bidang

pendidikan,

khususnya terkait dengan kemitraan PT.NNT dengan LSM perlu untuk dipertimbangkan kembali, perlu ada evaluasi khusus terhadap penggunaan dana CSR khususnya yang langsung dikelola oleh LSM. Para guru berharap, alokasi anggaran CSR dibidang pendidikan tersebut sebaiknya diarahkan langsung pada kebutuhan masyarakat, misalnya bantuan pendidikan bagi siswa kurang mampu, atau bantuan untuk peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, dukungan untuk para guru tenaga sukarela dan belanja langsung (publik) lainnya. Sehingga, keberadaan dan manfaat dana program CSR tersebut di bidang pendidikan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Khususnya, warga yang tidak mampu. 4.2.4. Usaha Lokal Program CSR-Community Development PT NNT yang keempat adalah pada bidang pengembangan usaha lokal. Merupakan upaya untuk meningkatkan usaha lokal sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bantuan meliputi usaha jahit menjahit, pabrik paving block, perbaikan kontainer, peralatan penggergajian, pertanian dan produk perikanan meliputi berbagai buah-buahan, sayur-sayuran, madu dan lainlain, dan jasa kontrak termasuk pelatihan keterampilan keuangan mikro dan pelatihan keterampilan usaha. Menurut PT Newmont Nusa Tenggara, Prakarsa Pembelian Lokal telah dibentuk untuk meningkatkan pembelian barang dan jasa yang bersifat lokal, dan membantu usaha lokal memenuhi persyaratan PT. Newmont Nusa Tenggara. Dan saat ini, menurut PT. Newmont Nusa Tenggara telah membeli 25 ton barang lokal setiap bulan untuk kebutuhan internal senilai 10 miliar rupiah per tahun. Sehingga dengan demikian, kapasitas usaha lokal meningkat dan mampu bersaing di luar area tambang. Kemudian, pemberdayaan usaha lokal juga meliputi program bantuan pelatihan antara lain: jahit-menjahit, perbaikan kontainer, pelatihan ketrampilan keuangan mikro dan pelatihan ketrampilan usaha dan lainnya. Pesertanya mendapat sertifikasi pelatihan dengan berbagai keahlian diakui secara internasional. Yayasan Pembangunan Ekonomi Sumbawa Barat adalah yayasan yang dibangun PT. Newmont Nusa Tenggara dalam usaha pengembangan komunitas lokal. Yayasan ini didirikan dengan bekerja sama dengan masyarakat lokal, LSM, dan pemerintah lokal. Beberapa kegiatan yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

183

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

telah dilaksanakan diantaranya adalah mengadakan pelatihan pada kurang lebih 30 orang petani rumput laut yang tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Jaya, Desa Labuan Kertasari, Kecamatan Taliwang (lihat lampiran), pengembangan produk makanan lokal, pengambangan makanan lidah buaya, gandum, dan sebagainya. Selain YPESB, PT.NNT juga membangun dan memberikan dukungan pendanaan kepada YOP (Yayasan Olat Parigi), saat ini telah terbentuk 4 YOP meliputi ; YOP Jereweh (Kantor Pusat), YOP Sekongkang, YOP Taliwang, dan YOP Seteluk. Program yang telah dilaksanakan diantaranya adalah bantuan hand tractor, bantuan sapi, bantuan modal untuk pengusaha kecil, penanaman jati, dan sebagainya. Namun, program CSR yang dilaksanakan melalui YOP belum menunjukkan adanya perbaikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, keberhasilan program yang terlihat di masyarakat baru berupa program penanaman pohon jati dan pembuatan produk minumal mineral (Pola Mata), sedangkan program-program lainnya, sejauh ini menurut penilaian masyarakat jauh dari harapan. Masyarakat secara umum menilai bahwa keberadaan dan peran YOP selama ini hanyalah sebagai alat untuk meredam gejolak sosial dimasyarakat atau pemadam kebakaran. Bahkan masyarakat menilai hanya kesejahteraan pengurus YOP sajalah yang meningkat. Karena dinilai sebagian besar pengurus YOP yang sebelumnya tidak memiliki apa-apa, sejak bekerja dan menjadi pengurus YOP hidupnya sejahtera, serba ada. Kecurigaan masyarakat terhadap dugaan praktek penyimpangan pengelolaan anggaran CSR yang dikelola oleh YOP bukanlah tidak beralasan. Pasalnya, selama ini proses perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi atas dana CSR dan program YOP tidak dilakukan secara transparans dan partisipatif, tidak ada sosialiasi yang dilakukan oleh para pengurus YOP berapa setiap tahunnya mereka menerima anggaran dari PT.NNT dan program apa saja yang akan dilaksanakan pada tahun sekarang. Begitupun dan terkait program dengan tahun pertanggungjawaban pengelolaan anggaran

sebelumnya, masyarakat tidak pernah diberitahukan, bahkan Kepala Desa, BPD, Camat sekalipun tidak mengetahui anggaran dan program YOP. Padahal, YOP didirikan dan diperuntukkan oleh masyarakat. YOP juga dicurigai menjadi alat atau kendaraan politik bagi para pengurusnya, saat ini tercatat dua orang Pengurus YOP Jereweh dan YOP Sekongkang telah menduduki posisi sebagai Ketua dan Wakil Ketua DPRD

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

184

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

periode 2009-2014, naikknya mereka diduga masyarakat karena selama ini telah menggunakan sarana dan prasarana yayasan, khususnya program CSR untuk kepentingan politis. Ketidak independensi pengurus YOP dari unsur politik menyebabkan YOP sebagai LSM yang seyogyanya bergerak pada aras gerakan sosial bergeser menjadi gerakan politik. Banyak oknum elite di tingkat desa bahkan Kabupaten yang berusaha untuk merebut jabatan sebagai pengurus YOP. Dalam konteks program, seperti program bantuan modal senilai Rp. 2.500.000,- s.d. 10.000.000,- yang digulirkan selama ini, adalah merupakan kredit, masyarakat harus mengembalikan dana tersebut kepada YOP. Sementara, dana tersebut adalah merupakan dana hibah atau CSR dari pihak perusahaan, dan setiap tahunnya habis atau dengan kata lain, PT.NNT tidak menarik dana kepada masyarakat (CSR) yang telah dikeluarkan setiap tahunnya. Program seperti ini, menurut sebagian masyarakat tidak lebih dari program rentenir yang justeru tidak mendidik dan memandirikan masyarakat, justeru sebaliknya menjerat dan mencekik masyarakat, bagaimana mungkin masyarakat miskin, mampu untuk melakukan pinjaman dan mengembalikan dana pinjaman dalam waktu yang singkat. Pengembalian dana tersebut juga dipertanyakan masyarakat, untuk apa dan siapa sesungguhnya?. Terkait dengan keberadaan dan peran YOP selama ini, masyarakat menilai bahwa sebaiknya dana CSR yang selama ini diberikan kepada YOP dialihkan pengelolaannya kepada pemerintahan Desa, di desa tersedia mekanisme untuk merencanakan program secara bersama (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa) juga tersedia mekanisme pertanggungjawaban (Laporan Pertanggungjawaban) Pemerintah Desa kepada BPD setiap tahunnya, serta tersedia pula lembaga-lembaga kemasyaratan lainnya yang dapat melakukan pengawasan atas pengelolaan anggaran CSR. Disamping itu, pemerintahan desa (mulai dari Kades hingga RT) sangat mengetahui keadaan dan kebutuhan setiap warganya, termasuk siapa sajakah yang miskin dan membutuhkan bantuan di tingkat RT. Pada tingkat atas, ada Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Daerah yang dapat berfungsi untuk melakukan supervisi terhadap pengelolaan anggaran dan programtentu saja melalui pengelolaan di tingkat desa, akan memudahkan untuk mensinergiskan program Pemerintah Daerah dengan Program CSR PT.NNT.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

185

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Sejauh ini dalam pengembangan usaha lokal, sesungguhnya masyarakat lingkar tambang banyak yang mengeluhkan, termasuk keluhan warga lingkar tambang terkait dengan supplai barang dan jasa ke PT.NNT dan perusahaan Sub-kontraktor, seperti PBU. Hasil-hasil usaha masyarakat, seperti sayuran dan buah-buahan, ternyata banyak yang tidak diterima oleh pihak perusahaan, sehingga para petani menjadi malas untuk menanam sayuran atau buah-buahan. Misalnya saja, kasus yang dialami oleh Muriyanto, pada tahun 2008, 2009 dan 2010, Ia bersama dengan teman-teman yang lainnya telah menanam Semangka, namun panen Semangka yang dihasilkan, akhirnya menjadi sia-sia, karena tidak di beli oleh perusahaan, bahkan banyak yang busuk, disamping harga jual yang tidak sesuai. Keluhan ini juga dihadapi oleh Masud, salah seorang Pengusaha Lokal yang selama ini mensuplai hasil-hasil pertanian ke PBU. Ia mengeluhkan selain proses yang dialaminya rumit, juga jangka waktu pembayaran yang begitu lama, sehingga proses perputaran modal menjadi lamban dan membutuhkan modal dalam jumlah yang sangat besar, sehingga bagi para pengusaha lokal, karena keterbatasan modal akhirnya mencari pengusaha luar untuk menyokong supplai hasil-hasil pertanian tersebut, sehingga tidak banyak sesungguhnya keuntungan yang dapat diperoleh oleh para pengusaha lokal. Cerita keberhasilan pengembangan usaha lokal, sesungguhnya adalah cerita di atas kertas. Para Pengusaha Lokal yang selama ini bergerak dalam bidang pengadaan barang dan jasa serta konstruksi banyak yang mengalami jatuh bangun bahkan banyak diantara mereka yang terjerat hutang. Karena keuntungan yang diraih selama ini tidak sebanding dengan proses pengeluaran yang terjadi, harga barang dan jasa di PT.NNT semakin lama semakin menurun, karena semakin banyaknya perusahaan lokal baru, antar pengusaha lokal harus bersaing harga, belum lagi mereka harus berkompetisi dengan para pengusaha dari luar yang notabennya memiliki modal dan jaringan yang besar dan luas, mereka semakin terlibas. Bahkan sejak tahun 2010, para pengusaha lokal, khususnya para pengusaha yang berasal dari lingkar tambang, khususnya di Kecamatan Sekongkang, banyak yang bangkrut dan terlelit hutang ratusan juta rupiah, hanya beberapa gelintir saja yang masih bisa bertahan. Pekerjaan yang diberikan oleh PT.NNT semakin berkurang, harga penawaran semakin rendah dan keuntungan yang bisa diraih semakin kecil, sementara disisilain tingkat persaiangan semakin tinggi. Belum lagi persoalan praktek dugaan korupsi

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

186

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

yang dilakukan oleh sejumah oknum pemilik proyek, meminta fee , services atau enternainment dari para pengusaha lokal yang memenangkan proses tender, semakin membuat keterpurukan para pengusaha lokal semakin panjang. Pengembangan Usaha lokal sesungguhnya tidaklah jauh berbeda dengan program CSR lainnya. Jikalaupun saat ini terlihat bahwa terdapat kemajuan, seperti tumbuhnya kios-kios di wilayah lingkar tambang, seperti Maluk, terdapat pasar, dikawasan wisata terdapat kios-kios pedagang dan sebagainya, namun yang menikmati adalah para pendatang, bukan masyarakat setempat. Justeru masyarakat setempat lebih banyak sebagai penonton. 4.2.5. Bidang Pembangunan Infrastruktur Program CSR-Community Development PT.NNT di bidang

pembangunan infrastuktur antaralain meliputi; perbaikan jalan dan drainase, perbaikan dan pembangunan gedung sekolah, pembangunan klinik, bantuan pemasangan listrik, sarana air bersih, irigasi, pembangunan tempat sarnpah dan pasar tradisional. Semua kegiatan infrastruktur dilakukan atas kerja sama dengan masyarakat dan pemerintah setempat. Pada Bidang Peningkatan Infrastruktur Di tiga kecamatan yang berada di sekitar tambang Batu Hijau, tercatat 196 proyek infrastruktur dan fasilitas umum berhasil diselesaikan. Proyek-proyek tersebut meliputi; Pembangunan drainase desa Perbaikan jalan dari desa Jereweh - Tatar Pengadaan fasilitas air bersih Pembangunan Puskesmas, Pustu dan posyandu Pembangunan dan rehabilitasi sekolah dari tingkat

TK,SD,SMP/MTs,SMA/MA Pembangunan dan pengadaan fasilitas pasar tradisional Pembangunan pantai wisata Pembangunan bendung, embung dan saluran irigasi bagi 1250 hektar lahan Pembangunan Gedung Serba Guna Selain itu terdapat pula beberapa fasilitas umum yang telah dibangun di luar wilayah tambang atau luar Kabupaten Sumbawa Barat seperti bantuan pengadaan asrama bagi Polres KSB, pembangunan gedung

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

187

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

PERUSDA Kab. Sumbawa, Pembangunan PUSKESMAS Moyo dan Ropang, pembangunan asrama mahasiswa Sumbawa di Mataram, pengerasan jalan di wilayah eksplorasi Sumbawa bagian timur, tempat pelelangan ikan di Lombok Timur, dsb. Bantuan Sosial Aspek lain dari bantuan PT Newmont Nusa Tenggara kepada masyarakat adalah bantuan langsung. Bantuan utama meliputi bantuan bagi upaya penanggulangan musibah oleh pemerintah setempat, kegiatan kemasyarakatan dan budaya, pelatihan dan pendidikan, kegiatan keagamaan, seminar dan konferensi, program LSM dan pengembangan usaha kecil.

4.3.

Pengaruh

Program

Community

Development

terhadap

Peningkatan Kesejahteraan Komunitas Lokal Secara umum sesungguhnya tidak banyak dampak dan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat (masyarakat asli lokal/indegenous people) dari keberadaan program CSR-Community Development PT.NNT, khususnya bagi kelompok masyarakat miskin (asli lokal). Jikalaupun manfaat program community development tersebut berdampak langsung bagi masyarakat, namun dampak tersebut belum mampu mengatasi kemiskinan atau meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal. Minimnya pengaruh program community development bagi komunitas lokal tersebut disebabkan, pertama; sebagain besar komunitas lokal, umumnya adalah mereka yang berada di Desa Sekongkang Atas, Desa Sekongkang Bawah, Desa Tongo, Desa Benete, Desa Goa, Desa Beru dan Desa Belo kurang memiliki akses langsung terhadap keberadaan program community development. Kedua, kehadiran desa transmigrasi, seperti Desa Ai Kangkung, Desa Tatar, Desa talonang, serta pemekaran Desa di Kecamatan Maluk, ternyata berdampak pada tersedotnya anggaran community development ke desa-desa tersebut yang notabennya mereka sebagain besar adalah para pendatang. Kebijakan PT.NNT dalam program

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

188

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

community development yang mengarahkan bahkan memprioritaskan masyarakat desa urban sesungguhnya adalah merupakan bentuk kekliruan dalam program. Mereka (masyarakat pendatang) bukanlah para eks pemilik lahan, merek datang karena ada PT.NNT dan berpotensi besar akan meinggalkan KSB jika PT.NNT berakhir. Karena itu perlu dilakukan reformulasi kebijakan pengembangan program community development terhadap desa urban. Ketiga, sebagain besar program community development selama ini lebih banyak diakses oleh para elite di tingkat desa, serta orang-orang yang memiliki kedekatan dengan penguasa di tingkat desa serta para pekerja di Comdev PT.NNT. Bahkan, beberapa oknum pekerja di PT.NNT yang notabennya putra asli lingkar tambang kevendrungannya untuk mengarahkan program Community Development kepada kalangan keluarganya. Sehingga, nampak terlihat bahwa para penikmat program community development hanyalah segelintir orang yang memiliki kedekatan hubungan dengan desa dan personil di Comdev.PT.NNT. Akibatnya terlihat kesejangan dan kecemburuan sosial di tengah-tengah masyarakat, beberapa kali segelintir orang menerima bantuan dari program community development-PT.NNT namun sebagian besar warga yang notabennya adalah kelompok marginal jarang bahkan ada yang belum terkena program community development PT.NNT. Menurut sejumlah masyarakat, selama ini program community development terkesan memang hanya diperuntukkan pada elite di tingkat, karena para elite di tingkat desa ini juga sering digunakan oleh pihak perusahaan untuk mengamankan proses produksi perusahaan, meredam demonstrasi dan aksi-aksi masyarakat yang kontra terhadap perusahaan. Bahkan, beberapa oknum elite masyarakat menerima gaji bulanan dari PT.NNTdengan hanya bekerja sebagai informan yang menyampaikan gejolak di masyarakat kepada pihak perusahaan. Oleh sebab itulah, tidaklah mengherankan jika program CSRCommunity Development PT.NNT yang begitu banyak dan beragam, hasilnya tidaklah signifikan bagi perbaikan nasib atau kesejahteraan bagi warga miskin atau komunitas lokal marginal. Dari hasil wawancara dan FGD dengan kelompok masyarakat miskin yang berada di wilayah lingkar tambang, mereka sesungguhnya sangat mengharapkan berbagai program community development yang selama ini dijalankan oleh perusahaan diarahkan pada upaya bagaimana dapat mengentasakan kemiskinan yang ada di desa lingkar tambang, dan berharap sasaran program difokuskan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

189

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

pada kelompok kumintas lokal marginal, bukan para elite di pedesaan. Sejak program community development dijalankan oleh PT.NNT hingga sekarang, mereka (kelompok komunitas marginal) tingkat kesejahteraannya tetap sama seperti dahulu kala sebelum adanya program community development. Bahkan, banyak diantara mereka yang justeru merasakan kehidupan yang dijalaninya saat ini jauh lebih berat dan memiliki banyak tantangan, karena saat ini mereka dihadapkan pula dengan kenaikan harga sembako akibat beroperasinya tambang di wilayahnya. Kondisi ini dirasakan sangat memberatkan komunitas lokal marginal. Saat ini sesungguhnya adalah merupakan peluang dan kesempatan bagi komunitas lokal untuk memperoleh peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena banyak program community developmenet PT.NNT, namun harapan tersebut ternyata sebatas harapan, sebab pemberdayaan yang dilakukan oleh PT.NNT terhadap program pengentasan kemiskinan masih setengah hati, tidaklah mengherankan jika dari data BPS atau Bantuan Tunai Langsung pada tahun 2006 dan 2007, menempatkan penduduk yang berada di Kecamatan Sekongkang sebagai penduduk tertinggi tingkat kemiskinannya di KSB (nomor urut 1). Fakta kemiskinan tertinggi berada di Kecamatan Sekongkang dengan apa yang telah dilaporkan mengenai keberhasilan program community development PT.NNT sangat jauh berbeda. Bahkan, seringkali fakta kemiskinan ini ditutup-tutupi dengan berbagai berita manis mengenai keberhasilan program community development PT.NNT. Seyogyanya PT.NNT harus bernai dan jujur untuk membuka semua tabir misterius mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah lingkar tambang, khususnya Sekongkang. Karena data kemiskinan dari Pemda KSB justeru sangat jauh berbeda dengan laporan PT.NNT. Secara teoritis, memang program community development PT.NNT telah banyak dilaksanakan dan telah banyak pula alokasi anggaran untuk kegiatan tersebut. Jika dihitung antara program dan hasil termasuk anggaran yang telah dikeluarkan oleh PT.NNT selama ini dalam pengembangan masyarakat lingkar tambang, maka dapat dipastikan jumlah angka kemiskinan yang terjadi di wilayah lingkar tambang tersebut akan semakin berkurang, namun data trend dan lapangan menunjukkan hasil yang berbeda.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

190

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Terlepas dari itu semua, dapat dikatakan bahwa bicara dampak program community development memang menimbulkan kontroversial. Dilapangan, dari hasil pemetaan menunjukkan bahwa sebagain masyarakat yang selama ini menerima atau menikmati keberadaan program community development menilai bahwa program commmunity development PT.NNT dirasakan sangat bermanfaat, penilaian ini umumnya adalah dari kelompok elite masyarakat pedesaa. Sedangkan kelompok masyarakat lainnya, khususnya komunitas marginal, merasakan bahwa keberadaan program community development PT.NNT dirasakan tidak memiliki dampak dan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan kelompok komunitas lokal marginal, bahkan sebagian mereka mengatakan bahwa dengan adanya keberadaan PT.NNT justeru semakin memperburuk keadaan mereka, karena harga-harga sembako dan kebutuhan hidup lainnya menjadi sangat mahal. Disamping itu, bangunan pranata sosial masyarakat pun menjadi terkikis bahkan nyaris punah. Misalnya terkait dengan nilai gotong royong atau besiru, saat ini mulai berkurang, bahkan kehidupan masyarakat menjadi sangat individulaitis dan materiliatistis. Sebagian kelompok masyarakat lainnya, terutama mereka yang tidak menggantungkan hidupnya dari keberadaan PT.NNT menilai program community development PT.NNT adalah biasa-biasa saja. Ada tidak ada PT.NNT kehidupan masyarakat berjalan statis. Program community development PT.NNT oleh kelompok ini (PNS, Akademisi, profesi dll) dinilai adalah merupakan tanggung jawab sosial perusahaan atau kewajiban sosial perusahaan atas pemanfaatan asset sumber daya alam yang sebelumnya dikuasai oleh masyarakat kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan, oleh sebab itu kompensasi yang diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat harus jelas dan seimbang. Sejauh ini program community development yang diberikan oleh PT.NNT kepada masyarakat dinilai masih jauh dengan apa yang telah direnggut oleh perusahaan. Dan jika dibandingkan program CSR-community Development PT.NNT dengan program CSR lainnya, seperti yang dilakukan KPC di Kalimantan, Freeport di Irian jaya, masih sangat jauh kemajuan yang dicapai di daerah tersebut dengan apa yang telah dilaksanakan dan dicapai oleh PT.NNT di KSB-NTB. Minimnya dampak program community development, khususnya dalam kerangka program pengentasan kemiskinan (Millenium Development Goals) adalah sebuah pembelajaran penting bagi perusahaan untuk melakukan penataan ulang terhadap seluruh program yang selama

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

191

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

ini telah dijalankan oleh perusahaan. Hal ini penting agar di masa mendatang, program community development tersebut, bukan lagi hanya sekedar program untuk memenuhi capaian perusahaan semata dalam meraih penghargaan, melainkan terpenting adalah bagaimana program tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan pemenuhan hak-hak warga miskin dan dapat mengurangi tingkat kemiskinan di lokasi beroperasinya PT.NNT, sehingga pasca tambang, masyarakat yang berada di wilayah lingkar tambang tidak lagi menjadi masyarakat yang tergantung terhadap program community development, melainkan masyarakat yang memang mandiri dalam mengelola keberlanjutan program pembangunan, khususnya mampu survive ketika kelak perusahaan meninggalkan masyarakat tersebut. Dalam konteks itupula maka penting untuk dilihat kembali adalah pemberian program CSR kepada masyarakat urban. Jangan sampai justeru masyarakat urban lah sebagai penerima utama dan prioritas utama dari program CSR. Sementara komunitas lokal marginal terabaikan hak-hak mereka. Sesunguhnya jika dilihat dari keberadaan komunitas lokal/adat (indigeniuos people), maka dapat dilihat dari

4.4.

Program-Program Yang di Butuhkan Saat ini dan di Masa Mendatang 4.4.1. Bidang Pembangunan Infrastuktur Dari serangkaian program CSR-Community Development PT.NNT yang telah dilaksanakan di bidang infrastuktur saat ini dirasakan sudah cukup memadai, berbagai fasilitas kebutuhan masyarakat, seperti ; pembangunan sekolah, puskemas, pustu, kantor desa, bendungan dan irigasi, gedung serba guna dan sebagainya relatif telah dilaksanakan oleh PT.NNT. Namun, demikian masih terdapat beberapa kekurangan program infastruktur yang masih dibutuhkan oleh masyarakat lingkar tambang saat ini, beberapa usulan program di bidang infrastuktur tergambarkan sebagai berikut ; (1). Pembangunan Infrastuktur Jalan dan Drainase Dalam Desa Lingkar Tambang Dari hasil assesment program di masyarakat, secara umum permasalahan jalan dan drainase dalam desa secara umum menjadi masalah sekaligus kebutuhan pembangunan infsrastuktur bagi masyarakat desa lingkar tambang, khususnya masyarakat yang berada di Kecamatan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

192

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Sekongkang, karena sebagian besar jalan dalam desa di kecamatan tersebut masih belum di aspel atau belum dilakukan pengerasan jalan. Khusus di Kecamatan Maluk, saat ini jalan desa telah di aspek (hotmik) namun masih terdapat beberapa permasalahan, seperti masalah drainase yang masih sering terhambat. Kebutuhan terhadap pembangunan infrastuktur jalan yang dirasakan cukup mendesak untuk segera di respons oleh Pemerintah daerah adalah ; (a). Pembangunan menghubungkan infrastuktur antara jalan (jalan Jereweh, utama) Maluk yang dan kecamatan

Sekongkang (Jalan lingkar selatan). Saat ini pembangunan jalan tersebut telah sampai di Polamata-jereweh dan terus dikerjakan, diharapkan pemerintah daerah dapat memberikan dukungan terhadap peningkatan jalan tersebut agar pengaspalan jalan lingkar selatan dalam bentuk hotmilk hingga sampai Kecamatan Sekongkang. Sehingga akses masyarakat dari ke Ibu Kota akan semakin mudah dan diharapkan pula dengan adanya perbaikan jalan ini akan dapat memicu menurunkan biaya transportasi dan harga-harag barang. Terkait dengan penggunaan jalan lingkar selatan, Pemerintah Daerah perlu membuat regulasi khusus mengenai penggunaan jalan yang digunakan oleh pengendara truck mobil yang mengangkut Batu Kapur dari Jereweh ke Benete. Karena selama ini diduga kerusakan jalan utama (hotmik) disebabkan tingginya intensitas truck pengangkut kapur dan volume angkutan (batu kapur) yang melebihi kapasitas kemampuan jalan. Sehingga jalan menjadi mudah rusak dan seringkali pula batu kapur tersebut jatuh dan berserakan dijalan yang juga berakibat pada keselamatan para pengendara, khususnya sepeda motor. Perlu ada kebijakan daerah untuk menarik pendapatan (dana pemeliharaan jalan) dari perusahaan pengangkut batu kapur. (b). Sehubungan dengan pembangunan infrastuktur jalan lingkar selatan (jalan negara) diharapkan jalan alternatif yang menghubungan Kecamatan Maluk dan kecamatan Sekongkang (Sekongkang Atas/bawah) yang telah dirintis dan dikerjakan oleh Pemerintah Daerah KSB diharapkan dapat segera diselesaikan. Saat ini, kondisi jalan alternatif Maluk-Sekongkang atau dikenal dengan jalan bawah masih belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Sekongkang maupun Masyarakat Maluk. Kebutuhan terhadap

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

193

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

peningkatan jalan ini sangat tinggi mengingat jalan atas yang selama ini digunakan oleh masyarakat sangat rawan terhadap kecelakaan. Dari tahun ke tahun jalan tersebut menelan korban. Terakhir terjadi pada bulan Oktober 2010, dimana 6 orang peneliti dari Bandung yang mengendarai kendaraan roda empat (mobil avanza) terbalik di Tanjangan curam Desa Kemuning yang mengakibatkan seluruh penumpang tersebut luka berat dan harus dibawa ke RSUD Mataram. Tercatat sedikitnya sedikitnya sebanyak 5 orang telah meninggal dunia akibat kecelakaan (terbalik dan masuk jurang), dan sedikitnya rata-rata setiap tahun 5 orang mengalami luka berat dan ringan akibat kecelakaan. Proyek pembangunan jalan ini sebenarnya telah mencapai Rp. 2 milliar lebih, namun jalan tersebut hingga sekarang belum juga dapat diselesaikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. (c). Pembangunan infrstuktur jalan yang menghubungkan antara jalan Desa Tongo, SP I,II,III dan IV dengan Ibu Kota Kecamatan. Saat ini Pemerintah Daerah KSB bersama dengan PT.NNT telah melakukan pengerasan jalan yang menghubungkan antara Ibu Kota Kecamatan dengan Desa Tongo. Pengerasan/perbaikan jalan diharapkan pula dapat terjadi pada jalan yang menghubungan antara Desa Tongo, Desa Ai Kangkung, Desa tatar, Desa SP IV dan Desa Talonang. Secara umum seluruh desa yang berada di kawasan Tongo, Tatar dan AiKangkung membutuhkan program infrastuktur peningkatan jalan desa, karena hampir seluruh jalan di desa tersebut belum ada pengerasan sehingga menyulitkan akses masyarakat, terlebih lagi jarak antar rumah di wilayah tersebut berjauhan. Program CSR diharapkan dapat diarahkan pada peningkatan infrastuktur jalan tersebut. (d). Secara umum keseluruhan Desa di dalam Kecamatan Lingkar Tambang mengharapkan adanya pengaspalan jalan desa, khususnya Desa-desa yang belum dilakukan pengerasan atau pengaspalan jalan. Diharapkan pula pemerintahan desa setempat untuk membuka jalan Usaha Tani disetiap desa, seiring dengan meningkatnya jumlah sawah baru. (d). Pembukaan jalan baru (Jalan Wisata Pantai). Pembukaan jalan baru diharapkan dapat menjadi agenda pembangunan infrastuktur di masa mendatang. Dari hasil kongres

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

194

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

rakyat yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna Balong Rungan, Desa Sekongkang Bawah pada bulan maret 2010, yang dihadiri oleh perwakilan masyarakat dari berbagai desa di wilayah lingkar tambang merekomendasikan dan menyetujui bahwa dalam rangka membuka akses kawasan pariwisata yang berada di Sekongkang, Maluk dan Jereweh perlu dibuat jalan baru (lintas pesisir pantai) sehingga seluruh akses jalan yang menghubungkan kawasan wisata pantai yang berada di tiga kecamatan lingkar tambang tersebut dapat terhubung. Dengan terbukanya akses jalan baru tersebut diharapkan seluruh kawasan pantai wisata yang berada di wilayah lingkar tambang semakin terbuka dan diharapkan nantinya dapat mendorong peningkatan jumlah wisatawan. Saat ini jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Sekongkang dan Maluk terus mengalami peningkatan. Bahkan, khsusus di Kawan wisata pantai sekongkang, seperti Pantai rantung, saat ini mulai berdiri bungalow-bungalow baru. (e). Pembangunan jalan diharapkan juga dapat dilakukan pada kawasan wisata air terjun di Sekongkang, potensi wisata alam ini cukup potensial, namun sejauh ini pembangunan infrastuktur untuk menuju ke kawasan tersebut masih sulit, termasuk menuju bendungan plampok. Beberapa fasilitas saat ini sudah tersedia, seperti di kawasan bendungan plampok telah terbangun 4 berugak, dan pada hari-hari tertentu digunakan oleh masyarakat untuk wisata keluarga. Promosi wisata juga menjadi salah satu kelemahan sehingga obyek wisata tersebut belum dapat diketahui oleh masyarakat secara luas, khususnya para wisatwan asing. (2). Pembangunan Bendungan (Dum) dan Irigasi. (a). Pembangunan Dum Senyur-diharapkan oleh sebagian besar para petani yang memiliki lahan pertanian di kawasan pertanian senyur, Lokasi Desa sekongkang Atas dan Sekongkang bawah. Sebagian besar para petani yang memiliki lahan di senyur adalah tergolong miskin, dan hasil pertanian di kawasan tersebut menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat. Selama ini, para petani senyur mengalami kesulitan untuk mengairi sawahnya, karena sebagian sumber mata air sudah digunakan oleh perusahaan (PT.NNT) untuk memenuhi kebutuhannya dan saluran irigasi yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

195

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

telah mengalami kerusakan. Sejak tahun 2002, para petani senyur telah menyuarakan tuntutan mereka kepada pihak PT.NNT namun belum juga ditindaklanjuti, dan sejak tahun 2005 para petani senyur dalam beberapakali musrenbangdesa maupun musrenbangkab selalu menyuarakan dibangunya bendungan senyur (dum senyur), namun hingga sekarang tuntutan tersebut belum jua dipenuhi. Kebutuhan terhadap pembangunan bendungan dum senyur bagi petani cukup tinggi karena di kawasan ini lebih dari 200 ha lahan pertanian yang notabennya adalah merupakan daerah yang relatif cukup subur untuk tanaman padi dan palawija. (b). Secara umum keseluruhan desa yang berada di wilayah lingkar tambang masih membutuhkan dibangunnya fasilitas irigasi serta dilakukannya pemeliharaan terhadap saluran irigasi karena sarana irigasi dianggap sebagai bagian penting dalam mendukung pengembangan sektor pertanian. (3) Penyediaan Alat Mekanisasi Pertanian Sebelumnya baik Pemerintah Daerah maupun PT.NNT telah memberikan dukungan kepada masyarakat lingkar tambang berupa pengadaan alat-alat mekanisasi pertanian, baik itu berupa mesin tracktor, mesin penggiling padi, dan sebagainya. Namun, selama ini bantuan tersebut belum menyentuh pada kelompok masyarakat atau petani miskin yang memang membutuhkan dan ada kecendrungan penerima alat mekanisasi pertanian adalah segelintir orang (elit) yang memiliki kedekatan dengan Pihak Manajemen Perusahaan dan Pemerintah Desa. Pola pendekatan atau penyaluran/pendistribusian alat mekanisasi pertanian menjadi salah satu masalah, selama ini distribusi diberikan langsung kepada individu atau kelompok. Pola ini seringkali mengutungkan mereka yang memiliki kedekatan dan akses dengan pemagang kebijakan. Akibatnya, kelompok petani miskin yang notabennya tidak mengetahui program bantuan tersebut seringkali tidak memperoleh bantuan. Dampak lainnya adalah dari pola pendekatan tersebut seringkali adalah bantuan alat mekanisasi pertanian seakan menjadi hak milik pribadi dan seringkali pula berakhir dengan dijual bantuan tersebut kepada pihak lain. Dari hasil assesmnent perlu dilakukan perubahan kebijakan terkait dengan pola, sasaran dan mekanisme dalam

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

196

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

penyaluran bantuan alat-alat mekanisasi pertanian. Salah satunya adalah mendorong agar bantuan alat mekanisasi pertanian dimanfaatkan secara bersama, maka distribusi dan pengelolaan bantuan alat mekanisasi pertanian haruslah dilakukan melalui BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) sebagai institusi formal di tingkat desa, alat mekanisasi pertanian tersebut harus di dorong menjadi asset desa, pengelolaannya dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab, melalui pola ini pula digarapkan akan menjadi usaha desa untuk memperoleh PADesa yang kemudian dari PADesa tersebut dapat dialokasikan kembali untuk penambahan alat mekanisasi pertanian ataupun kebutuhan petani lainnya. Dari hasil assesment, kebutuhan terhadap alat-alat mekanisasi pertanian, termasuk pupuk, bibit atau saprodi masing tergolong sangat tinggi, khususnya bagi para petani yang notabennya adalah kelompok miskin. Sebagian besar para petani miskin selama ini tidak memiliki alat mekanisasi pertanian, sehingga biaya produksi mereka menjadi sangat tinggi dan seringkali mengalami kerugian, bahkan banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa hasil panen yang diperolehnya dalam jumlah ton beras tidak berarti apa-apa, bahkan terkadang mereka ternyata membeli beras kembali karena seluruh hasil panen yang telah dihasilkan dijual untuk menutupi biaya produksi ataupun kerugian yang dialaminya. Program CSR-Community Development dalam konteks ini, seyogyanya tidak hanya membina petani (20 orang)/desa, melainkan mengarahkan pada program pertanian yang berbasikan pada kelompok masyarakat atau petani miskin (eks pemilik lahan), mereka harus menjadi skala prioritas dalam pengembangan program pertanian. Pola pendekatan pada sektor pembinaan petani harus dilakukan perubahan, ekspansi penerima manfaat program harus diperluas, dan harus didorong semangat kolektivisme para petani dalam membangun sektor pertanian, dikotomi antara petani binaan PT.NNT dengan petani bukan binaan harus dihapuskan karena kondisi ini selain telah menimbulkan kecemburuan sosial antar petani juga berpotensi terjadinya konflik sosial antar petani. (3) Pemasaran Produk Hasil Pertanian

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

197

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Salah satu persoalan klasik yang dihadapi para petani selama ini adalah terkait dengan pemasaran hasil produk pertanian. Dan masalah ini sangat dirasakan oleh masyarakat yang jauh dari pusat perdagangan atau akses pemasaran, seperti masyarakat Desa Talonang, Desa Aikankung, Desa tatar dan Desa Tongo. Para petani hingga saat ini masih dihadapkan pada masalah jatuhnya harga beras pada musim panen. Posisi petani yang lemah dalam proses penawaran atau transaksi perdagangan ini disebabkan karena tidak ada pilihan bagi para petani untuk menjual hasil produk pertaniannya, kesulitan ekonomi memasuki masa musim tanam menyebabkan para petani akhirnya terpaksa harus menjual gabahnya kepada para tengkulak dengan harga murah. Sementara itu, memasuki masa musim tanam kebutuhan pupuk dan harga pupuk semakin tinggi. Terkait dengan persoalan pemasaran ini, maka perlu ada perlu ada intervensi dari Pemerintah Daerah atau Pemerintah Desa untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dari hasil assesment yang dilakukan salah satunya upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mendorong BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) sebagai salah satu unit usaha di tingkat desa yang menjadi salah satu tempat untuk menampung hasil produksi pertanian, BUMDES harus diberikan modal oleh Pemerintah Daerah atau Perusahaan untuk dapat membeli hasil-hasil pertanian para petani. Tentu penggunaan modal ini harus diatur dengan kerangka aturan yang jelas, sehingga para petugas BUMDES dapat memahami kerangka kerja pengelolaan modal. Dengan adanya BUMDES diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam memasarkan hasil-hasil produksi pertanian. Keberadaan dan peran BUMDES dalam hal ini perlu pula dihubungkan dengan Perusahaan Daerahmenjadi anak Perusahaan Daerahdan Perusahaan Daerah bertugas mencari jaringan pemasaran ke luar. Sehingga dengan demikian, intervensi Pemerintah Daerah dalam rangka mengamankan hasil dan pemasaran produksi hasil pertanian tetap terjaga dari hulu dan hilirdengan demikian, para petani dapat terlindungi dari mafia jaringan tengkulak. Dalam konteks program CSR-Community Development, seyogyanya pembinaan BUMDES selama ini bukan hanya terbatas pada usaha pengelolaan sampah atau pembuangan sampah dan air minum, karena potensi usaha tersebut sesungguhnya tidaklah cukup potensial

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

198

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

untuk dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan desa. Sehingga tidaklah mengherankan pula jika sejauh ini beberapa BUMDES di wilayah lingkar tambang yang telah dibentuk oleh PT.NNT kurang produktif, bahkan cenderung mengalami ketergantungan dari sibsidi perusahaan. (4) Pengadaan Pupuk dan Saprodi Selain hasil pertanian tentu saja adalah kebutuhan terhadap pupuk, harga pupuk di wilayah lingkar tambang selama ini dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan harga pupuk di desa lainnya. Sementara untuk harga penjualan hasil pertanian relatif lebih rendah dibandingkan dengan desa-desa lainnyakarena jalan dan sarana transportasi yang sulit dan jauh, sehingga menyebabkan harga hasil pertanian lebih rendah dan harga produksi lebih tinggi. Program CSR diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini, sehingga para petani dapat lebih giat dalam memproduksi hasil pertanian dan tingkat kesejahteraan mereka akan semakin meningkat. (5) Pembangunan Sarana dan Prasarana Ibadah (a). Pembangunan Mesjid dan Musholla. Dari hasil assesment pada beberapa tahun terakit

kecendrungan masyarakat yang berada di wilayah lingkar tambang mulai memperhatian upaya terhadap peningkatan sarana dan prasatana ibadah, seperti dibeberapa desa, dari hasil assesment membutuhkan adanya pembangunan maupun renovasi mesjid dan mushollah seperti Desa Sekongkang Bawah, Desa Sekongkang Atas, Desa Tatar, Desa AiKankung dan beberapa desa lainnya yang berada di Kecamatan Jereweh maupun Maluk. sesungguhnya bersedia dan telah Dalam hal untuk pembangunan mesjid atau musholla ini secara prinsipil, masyarakat berkonstribusi pembangunan sarana ibadah baik berupa dana, tenaga, maupun pikiran. Adanya sikap kesawdayaan ini perlu untuk tetap dijaga, oleh sebab itu dalam konteks pembangunan sarana ibadah, program CSR-Community Development sifatnya hanyalah berupa dana dampingan atau stimulus, pola sharing antara masyarakat, pemda, dan perusahaan harus tetap terjaga.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

199

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Berdasarkan hasil evaluasi dan assement program terkait dengan Community Development di bidang sarana dan prasarana ibadah, menurut masyarakat dukungan yang diberikan masih sangat terbatas, tidak seperti pada sektor lainnya, seperti pembangunan infrastuktur pendidikan dan kesehatan. Saat ini kebutuhan sarana dan prasarana ibadah mulai meningkat karena beberapa mesjid yang selama ini digunakan sebagai sarana ibadah banyak yang sudha tidak menampung lagi, khususnya ketika pelaksanaan ibadah jumat. (b). Pembangunan TPQ Pembangunan fasilitas penddidikan berupa Taman

Pendidikan Quran dan Taman Bacaaan bagi masyarakat masih sangat minim, bahkan beberapa desa baru sebatas menginisiasi adanya TPQ. Padahal, potensi anak-anak peserta TPQ dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Misalnya saja, TPQ Dusun Kemuning, jumlah peserta TPQ telah melebihi 50 orang, dengan jumlah tersebut membutuhkan dukungan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai, seperti ; tempat, bahan bacaan, dsb. Saat ini para peserta TPQ (taman pendidikan quran) diselenggaran di Mesjid Babussalam dan seluruh desa, dimana para peserta TPQ banyak yang berasal dari Desa Sekongkang Atas, Desa Sekongkang Bawah dan Desa Kemuning.

(6)

Pemasangan Saluran Listrik, Telepon dan Air Bersih Beberapa desa di wilayah lingkar tambang hingga saat ini belum tersedia fasilitas listrik, khususnya Desa talonang baru, desa tatar, Desa AiKangkung, Dusun Jelenga, Dusun Kampung Nelayan dan beberapa desa dan dusun lainnya. Termasuk kawasan wisata pantai Sekongkang, kebutuhan terhadap saluran listrik di kawasan wisata pantai sekongkang saat ini dirasakan cukup dibutuhkan oleh kalangan dunia usaha, investor. Dari hasil wawancara dengan para pengusaha hotel yang ada di kawasan tersebut, menilai bahwa biaya operasional hotel menjadi tinggi disebabkan fasilitas hotel saat ini menggunakan mesin genset, salah satu hotel seperti hotel yoyo

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

200

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

misalnya, biaya operasional untuk genset mencapai Rp. 50 juta/bulan. Disamping listrik adalah penyediaan fasillitas air bersih, sebelumnya air bersih dikawasan tersebut disalurkan melalui pelayanan air bersih BUMDES sekongkang Bawah, namun saat ini mengalami kerusakan dan sudah tidak ada penyaluran lagi. Salah satu fasitas infrastuktur lainnya yang masih menjadi kendala sekaligus tantangan bagi masyarakat di wilayah lingkar tambang, khususnya masyarakat yang berada di Kecamatan Sekongkang adalah menyangkut fasilitas telepon (rumah), dengan tidak tersedianya fasilitas tersebut, akhirnya banyak para pendatang dan perusahaan-perusahaan sub-kontraktor yang memilih domisili di wilayah Malukkarena fasilitas di wilayah Maluk relatif lebih lengkap, khususnya terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana informasi. Keterbatasan potensi jumlah pelanggan telepon menjadi salah satu kendala yang menghambat masuknya PT.Telkom ke wilayah sekongkang, sehingga dengan keterbatasan tersebuthasil analisis perusahaan, pemasangan jaringan telepon akan merugi, atas dasar itulah usulan masyarakat pada tahun 2005 lalu tidak dapat diakomodir oleh perusahaan. Mencermati perkembangan penduduk, wisatawan, hotel, dan fasilitas lainnyapenunjang pariwisata sekongkang, maka kedepan perlu ada intervensi dari Pemerintah Daerah untuk mendorong kinerja masuknya jaringan telepon ke Kecamatan di masa Sekongkangkondisi ini dimaksudkan pula untuk memudahkan pemerintah daerah menuju e-goverment mendatang. 4.4.2. Bidang Capacity Building (1) Sektor Pertanian (Pemberdayaan Petani) Pada bagian sebelumnya telah di bahas masalah dan kebutuhan program pada sektor pertanian. Pada bagian ini akan difokuskan sektor pertanian dalam kerangka pemberdayaan petani dalam program CSR-Community Development berkaitan dengan peningkatan kapasitas petani. Dari hasil assemnet, peningkatan kapasita petani yang dibutuhkan saat ini adalah berkaitan dengan upaya percepatan adaptasi dan respons petani terhadap tehnologi pertanian. Perubahan mendasar yang butuhkan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

201

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

adalah menyangkut sikap dan nilai-nilai kehidupan petani. Pergeseran sosial dan ekonomi yang terjadi pada masyarakat daerah lingkar tambang telah mendorong perubahan pula pada kehidupan para petani. Penggunaan tehnologi dan alat-alat mekanisasi pertanian menjadi kebutuhan para petani. Tantangan sekarang adalah terkait dengan alih tehnologi pertanian. Sementara disisilain para pemuda, khususnya para sarjana pertanian sendiri yang berasal dari wilayah lingkar tambang saat ini sudah tidak lagi berminat untuk menjadi petani. Ancaman krisis keberadaan petani menjadi ancaman serius di masa mendatang dalam program pertanian. Karena sektor pertanian dinilai oleh generasi muda sekarang tidaklah cukup potensial dalam meningkatkan kesejahteraan hidup bagi mereka. Perubahan masyarakat dari masyarakat agraris ke masyarakat industri yang berlangsung saat ini, mendorong semua pihak untuk memikirkan kembali, mencari dan menemukan sektor ekonomi alternatif atau sektor pertanian yang potensial yang dapat dijadikan sebagai penopang hidup masyarakat setempat pasca tambang. Proses alih tehnologi saat ini terasa sulit untuk dikembangkan, karena sebagian petani tidak meiliki pendidikan formal yang memadai serta pola dan budaya petani tradisional yang terjadi selama ini telah mengikat kulture bertani di wilayah lingkar tambang yang tidak berubah pada corak pertanian pada masa lalu, sebagian besar mereka adalah petani yang telah berusia diatas 45 tahun. Dalam situasi tersebut, tentu harus dilakukan upaya perubahan dalam peningkatan kapasitas pertanian. Arah peningkatan kapasitas atau pemberdayaan petani sebaiknya dilakukan pada persiapan proses regenerasi, para pemuda desa lingkar tambang yang selama ini telah meninggalkan sektor pertanian harus di dorong untuk berminat dan diberikan keyakinan yang kuat bahwa sektor pertanian dimasa mendatang akan menjadi salah satu sektor yang akan menopang keberlanjutan ekonomi masyarakat setempat. Tantangan ini memang tergolong cukup berat. Berdasarkan hasil evaluasi dan assesment yang dilakukan, perlu pula dilakukan perubahan terkait dengan pola pemberdayaan petani. Para CO atau LSM pendamping program Comdev yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

202

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

bergerak pada sektor pertanian perlu dievaluasi, termasuk rekomendasi masyarakat terkait dengan keberadaan para CO dan peran LSM pendamping dalam pemberdayaan petani. Apakah masih dibutuhkan ataukah memang harus dihapuskan dan dialihkan dana dan program tersebut langsung dari Comdev PT.NNT kepada para kelompok petani. Karena selama ini sesungguhnya hanya ada beberapa gelintir CO dan LSM pendmaping program pertanian yang relatif berhasil, namun lebih banyak yang mengalami kegagalan. Padahal, dana/biaya program Comdev PT.NNT untuk peningkatan kapasitas Petani yang telah dikeluarkan tidaklah sedikit. Dalam konteks pemberdayaan petani yang terpenting pula adalah bagaimana dalam proses perencanaan sejak awal hingga pertanggungjawaban atas pengelolaan anggaran dan program para petani tersebut dilihatkan, para CO dan LSM pendamping harus terbuka, bertanggung jawab serta partisipatif dalam seluruh proses pelaksanaan pemberdayaan petani, dan harus bersedia/siap untuk meninggalkan para petani dampingannya, jika para petani yang didampingi tersebut merasa telah memiliki kemampuan secara mandiri untuk melaksanakan programnya secara mandiri. (2) Sektor Pendidikan Dari hasil assesment sesungguhnya kebutuhan masyarakat terhadap program CSR adalah bagaimana program CSR pada sektor pendidikan dapat memberikan akses bagi masyarakat lingkar tambang untuk memperoleh jaminan keberlanjutan untuk mengikuti jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi. Secara umum masyarakat lingkar tambang telah menyadari bahwa sektor pendidikan merupakan sektor utama untuk mendorong adanya perubahan di masa mendatang, termasuk mempersiapkan generasi pasca tambang nantinya. Melalui pendidikan inipula masyarakat diwilayah lingkar tambang berharap dengan meningkatnya jenjang pendidikan masyarakat setempat, maka dimasa mendatang para generasi mendatang dapat menghadapi berbagai cobaan dan tantangan dalam

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

203

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

menghadapi kehidupan masyarakat pasca tambang. Kebijakan PT. NNT dalam pemberian beasiswa selama ini dirasakan tidak cukup memadai untuk mendukung keberlangsungan dan peningkatan jenjang pendidikan bagi masyarakat setempat, karena sebagain besar masyarakat masih banyak yang tidak menerima bantuan maupun program beasiswa. Para mahasiswa dan pelajar yang berasal dari lingkar tambang, khususnya pelajar dan mahasiswa sekongkang yang berada di luar daerah, khusunya di Mataram, saat ini sangat membutuhkan dukungan dari program CSR-Comdev PT.NNT berupa dukungan terhadap pendanaan untuk biaya pendidikan, fasilitas asrama, buku-buku dan sebagainya. Namun, beberapa kali pelajar dan mahasiswa sekongkang yang tergabung dalam HPMS menuntut selalu menuai kegagalan. Begitupun dengan tuntutan sejumlah sekolah di wilayah lingkar tambang. Perubahan terhadap pengelolaan dana dan program pendampingan program comdev di bidang pendidikan seharusnya dilakukan perubahan, keberadaan LSM dengan para CO pendidikannya selama ini ternyata tidak cukup signifikan dalam upaya peningkatan jenjang pendidikan, mutu maupun kualitas pendidikan serta keberlanjutan atas pendidikan bagi warga, bahkan dana CSR-Comdev yang diberikan kepada LSM mitra PT.NNT dan CO terkesan sia-sia, ratusan bahkan milliaran rupiah uang tersebutakan jauh lebih bermanfaat, jika dialokasikan untuk belanja langsung pada sektor publik, jika untuk 1 CO sebulan Rp.2,500,000/bulan, maka sudah ada 2 sampai 3 warga lingkar tambang (mahasiswa) yang terbantu dari dana tersebut untuk pendidikan. Apalagi jika dalam jumlah CO yang banyak, maka akan semakin banyak pula mahasiswa akan menikmatinya jika saja pendidikan). Dari hasil assement dana tersebut yang dialokasikan untuk para pelajar dan mahasiswa (bantuan sesungguhnya dibutuhkan oleh sekolah (guru, murid dan orang tua) adalah peningkatan mutu dan kualitas pendidikan. Dengan adanya kebijakan pendidikan gratis dari daerah, seyogyanya program CSR-PT.NNT dalam bidang pendidikan adalah mendukung kearah peningkatan kualitas tersebut. Para guru di beberapa sekolah selama ini banyak mengeluhkan, persoalan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

204

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

mutu/kulitas pendidikan di wilayah lingkar tambang, khususnya Skeongkang, masih jauh tertinggal dengan daerah lainnya. Kecendrungan pula program pendidikan baru akan muncul tatakal ada desakan dari pihak sekolah. Bahkan, meski telah didesak pun masih pula tidak direspons oleh pihak perusahaan. Mutu pendidikan tersebut tentu harus didukung dengan peningkatan kapasitas guru, misalnya penyelenggaran pendidikan/pelatihan-pelatihan bagi para guru, anggaran untuk para guru tidak tetap atau sukarela dan tenaga kontrak, dukungan terhadap fasilitas sekolah seperti perpustakaan, internet dan komputer, penyediaan fasilitas minat dan bakat siswa, dan beberapa faktor pendukung lainnya. Dalam konteks itu, Program CSR diharapkan bagi selain memprioritaskan lingkar tambang penerimaan beasiswa masyarakat

diharapkan pula adalah terkait dengan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan. Dan yang paling utama adalah bagaimana kelompok warga miskin yang berada di wilayah lingkar tambang dapat memperoleh dukungan khusus untuk pendidikan. (3) Sektor Kesehatan Setelah program CSR-Comdev PT.NNT berhasil membangun sejumlah fasilitas gedung, seperti Puskesmas, Pustu, dan sebagainya. Diharapkan program CSR dimasa mendatang adalah berkaitan dengan bagaimana dana CSR- mampu untuk mendorong adanya perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan di bidang kesehatan, ketersediaan sarana dan prasarana, seperti alat-alat kedokteran, ambulance, ketersediaan dokter spresialis dan sebagainya menjadi agenda program CSR yang diharapkan dapat segera direspons oleh PT.NNT. Saat ini kebutuhan yang paling mendesak menurut Kepala Puskemas Sekongkag untuk Wilayah Sekongkang adalah ketersediaan fasilitas ambulance khusus pasien. Setelah itu dukungan lainnya yang diharapkan adalah berupa penyediaan alat-alat kesehatan. Sedangkan berkaitan dengan pencegahan penyakit menular, yang paling ditakutkan dan menjadi kebutuhan masyarakat

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

205

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

adalah terkait dengan peningkatan program pencegahan penyakit menular HIV-AIDS dan malaria.

(4) Sektor Usaha Lokal : Pemberdayaan Usaha Ekonomi bagi Pemuda Desa (Mengwirausahakan Pemuda) Dalam beberapa bulan terakhir, terlebih lagi sejak dikeluarkannya Perbup No.9 tahun 2010 tentang tenaga Kerja lokal. Tuntutan para pemuda desa di wilayah lingkar tambang semakin meningkat. Beberapa kali dalam beberapa bulan ini aksi terus berlangsung hampir setiap hari. Para pemuda desa lingkar tambang tersebut menuntut agar diberikan kesempatan yang lebih besar dan diprioritaskan dalam penempatan kerja. Beberapa sub-kontraktor yang ada selama ini di PT.NNT ternyata masih kurang membuka diri dan kesmepatan bagi para pemuda desa lingkar tambang. Bahkan menurut para pemuda yang masih menganggur tersebut, mereka menilai justeru setelah adanya kebijakan Perbup ttg tenaga kerja lokal, situasi para pencari kerja di Sekongkang semakin sulit, dengan tingkat pendidikan yang rendah mereka akhirnya kalah bersaing dengan pendatang dan para pemuda dari desa lainnya yang berada di luar lingkar tambang. Persoalan pengangguran ini telah menjadi persoalan yang sangat akut dan krusial. Sementara itu, program pemberdayaan usaha lokal yang selam ini dilaksanakan dalam program Comdev.PT.NNT belum banyak yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi para pemuda. Dari hasil assemnet dengan para pencari pekerja (pemuda lingkar tambang) berharap jikalaupun peluang dan kesempatan untuk dapat mengakses ke PT NNT dan Sub kontraktor sangat terbatas, para pemuda tersebut berharap ada upaya dan langkah real dari pihak perusahaan dalam program comdevnya untuk melakukan pemberdayaan-mengwirusahkan para pemuda, sehingga dapat berusaha dan menjadi mandiri. Beberapa pemuda mengeluhkan, mereka ada yang pernah mengikuti pelatihan yang telah dilaksanakan oleh Pihak perusahaan, namun keahlian yang telah dimiliki ternyata tidak ditindaklanjuti lebih jauh dalam program usaha. Mencermati dinamika tersebut yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

206

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

terus berkembang, maka seyogyanya program pengembangan usaha, bukan hanya ditujukan kepada para Ibu Rumah tangga, atau para pengusaha lokal yang notabennya telah memiliki perusahaan, melainkan harus diarahkan dan difokuskan pada kelompok sasaran pemuda. Karena mereka adalah para generasi mendatang yang akan menghadapi kesulitan ekonomipasca tambang. Oleh sebab itu, persiapan sejak dini peningkatan kapasitas pemuda dan mengwirausahakan pemuda sejak dini haruslah menjadi agenda terdepan dalam program CSR-dimasa sekarang dan mendatang.

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Telah terjadi perubahan sosial ekonomi masyarakat di wilayah lingkar tambang, dasar perekonomian masyarakat yang mulai bergeser dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri ternyata telah berpengaruh pula terhadap sistem nilai dan relasi sosial, berkurangnya gotong royong, meningkatnya individualisme, serta sikap materailistis dikalangan masyarakat, disamping itupula dalam proses transisi perubahan sosial tersebut, dinamikan relasi sosial masyarakat diwarnai dengan berbagai pertentangan sosial, budaya dan sebagainya.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

207

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

2. Meningkatnya jumlah pendatang membawa atribut SARA yang berbeda telah melahirkan potensi konflik di wilayah lingkar tambang, tingkat persaiangan yang semakin meningkat serta mulai terjadinya proses marginalisasi komunitas lokal, tingginya tingkat kecemburuan dan kesenjangan sosial akibat gap ekonomi antara masyarakat lokal dengan pendatang disisilain meningkatnya beban hidup dan tingginya harga sembako telah mendorong komunitas lokal semakin terpinggirkan. 3. Keberdaan dan dampak PT.NNT sesungguhnya lebih banyak negatif bagi komunita lokal marginal merosotnya kualitas air sungai, jumlah lahan pertanian yang terus berkurang, kawasan hutan yang semakin menyempit, serta kerusakan lingkungan lainnya menambah keterpurukan mereka ; 4. Keberadaan Dana dan program CSR dalam bentuk Community Development yang selama ini telah dilaksanakan oleh PT.NNT ternyata kurang memberikan dampak dan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, khususnya kelompok marginal. Karena sebagian besar dana CSR-Comdev dinikmati oleh segelintir elite yang memiliki kedekatan baik dengan perusahaan maupun desa ; 5. Secara umum sebagain besar masyarakat lingkar tambang tidak mengetahui dan memahami dana CSR-Comdev, penggunaan istilah yang seringkali digunakan oleh PT.NNT adalah dana bantuan yang terkesan lebih bersifat belas kasih perusahaan kepada masyarakat, bukan sebagai bentuk tanggungjawab sosial. 6. Bahwa tingkat kemiskinan diwilayah lingkar tambang, khususnya di Kecamatan sekongkang masih tergolong sangat tinggi, sebagian mereka adalah eks-pemilik lahan. Meski dalam kontrak karya PT.NNT, akan memprioritaskan pemberdayaan masyarakat kepada mereka, namun dalam impelmentasinya, tidak banyak eks pemilik lahan yang menerima program CSR-Comdev PT.NNT. 7. Keberadaan LSM, seperti YPESB, YOP, serta LSM Mitra PT.NNT yang selama ini melakukan proses pendampingan/pemberdayaan masyarakat wilayah lingkar tambang ternyata belum cukup berhasil memberdayakan masyarakat, bahkan masyarakat mendesak agar dana operasional dan gaji yang selama ini diberikan PT.NNT melalui CSR-Comdev agar diarahkan pada belanja langsung publik, tanpa melalui perantara (realokasi anggaran CSR).

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

208

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

8. Sejauh ini sulit bagi masyarakat setempat, khususnya komunitas lokal marginal untuk dapat mengetahui dana dan program CSR karena akses informasi yang sangat terbatas. Disisi lain, sosialiasi dari LSM mitra, desa maupun PT.NNT itu sendiri dirasakan masih sangat minim. 9. PT. NNT telah melaksanakan program CSR, dengan fokus pada bidang Pendidikan, pembangunan infrastuktir, pertanian, kesehatan dan pengembangan usaha lokal. Berbagai jenis program telah dilaksanakan, seperti dibidang pendidikan berupa pembangunan sarana pendidikan dan beasiswa mencakup pembangunan dan renovasi sekolah, penyediaan buku-buku dan alat bantu belajar mengajar, mendanai dua buah perpustakaan keliling dan sebagainya. Di bidang pembangunan Infrastruktur, berupa pembangunan dum, irigasi, gedung dan sebagainya. Di bidang Kesehatan diantaranya berupa pembangunan Puskesmas, Pustu, Pencegahan penyakit menular dan sebagainya. Dibidang Pertanian, diantaranya bantuan handtracktor, saprodi, SRI, bibit dan sebagainya. Namun, berbagai program tersebut dirasakan belum banyak memiliki dampak dan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan komunitas lokal marginal. 10. Pelaksanaan program CSR-Comdev PT.NNT menuai banyak kendala dan tantangan, diantaranya adalah ; mulai menurunkan partisipasi warga, rendahnya komitmen dan kapasitas tenaga pendamping, kurangnya persamaan presepsi, tingginya ketergantungan masyarakat atas program, dan lain sebagainya. 11. Pola pemberdayaan masyarakat yang berlangsung selama ini ternyata belum cukup efektif mendorong terjadinya pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Capaian keberhasilan yang dilaporkan dan dipublikasikan oleh PT.NNT terkait dengan keberhasilan program CSR-Comdev sesungguhnya lebih banyak bersifat pencitraan, dalam realitasnya masih banyak kegagalan dalam program, khususnya yang dilakukan oleh para mitra PT.NNT dalam pelaksanaan program CSR (LSM dan CO). 12. Program CSR dan program daerah belum berjalan sinergis, begitupun mengenai keterkaitan capaian akhir program (goals), prioritas, strategy dan sebagainya. Sehingga program CSR-Comdev terkesan berjalan sendiri begitupun dengan program Pemda, dan seringkali pula dalam prakteknya terjadi duplikasi program/kegiatan.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

209

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

5.2. Rekomendasi Berdasarkan uraian dan kesimpulan di atas maka kami merekomendasikan 5.2.1. PT Newmont Nusa Tenggara ; 1. Perlu ada reformulasi kebijakan dan realokasi anggaran CSR-Comdev. Reformulasi kebijakan tersebut terkait dengan goals, indikator, program, strategy, ouput dan hasil-hasil dari capaian program CSR agar dapat disesuaikan dan disinergiskan dengan masalah mendasar dan prioritas program daerah. Sedangkan dalam konteks realokasi anggaran CSRdiarahkan terkait dengan sasaran penerima angggaran, pola pendekatan, mekanisme, efisiensi dan efektifitas CSRagar diarahkan langsung pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat lokal marginal (indeginious people/adat) atau masyarakat asli, bukan masyarakat atau desa-desa urban serta pengelolaan anggaran yang lebih partisipatif, transparans dan akuntabel. 2. Program CSR hendaknya diarahkan pada pencapaian atau penempatan skala prioritas program pengentasan kemiskinan menjadi program utama perusahaan mengingat keadaan penduduk sekitar lokasi lingkar tambang yang masih jauh dari kesejahteraan, khususnya adalah masyarakat komunitas lokal marginal. Prioritas program pengentasan kemiskinan dan prioritas sasaran pada kelompok masyarakat asli (adat ; sekongkang atas, tongo, sekongkang bawah, belo, goa, beru, benete, desa maluk loka) yang telah lama menetap sebelum ada PT.NNTdan sebagain besar adalah eks pemilik lahan, haruslah ditempatkan sebagai rink pertama kelompok sasaran program CSR. Sedangkan masyarakat atau desa yang notabennya adalah desa karbitan/transmigrasi haruslah ditempatkan setelah masyarakat aslikarena mereka adalah kelompok masyarakat yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

210

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

sesungguhnya bukan eks pemilik lahan, sekaligus masyarakat yang sesungguhnya masih bersifat sementara, karena pasca tambang keberadaan mereka di desa tersebut masih belum ada jaminan kepastian untuk berdomisili. Saat ini banyak diantara mereka yang memang tidak melakukan perbaiakn rumah dan fasilitas lainnyaagar dilihat dan dinilai berada dalam kondisi kemiskinan (kemiskinan yang dipelihara)sehingga program CSR-Comdev PT.NNT pada akhirnya akan tetap terarah pada kelompok tersebut. Kondisi ini sangatmerugikan masyarakat adat asli samawa. 3. Pelaksanaan CSR_Comdev PT Newmont, baik yang langsung ditangani oleh Departement Community Development maupun yang ditangani melalui YOP, YPESB dan LSM Mitra lainnya haruslah dibawah pengendalian dan pengawasan yang ketat, karena sejumlah oknum pekerja di Comdev-PT.NNT kurang obyektif dalam memberikan dukunagn program dan pendanaan kepada kelompok sasaran program, hubungan emosional baik berupa kekerabatan, agama, etnis dan sebagainya seringkali mempengaruhi penentuan kelompok sasaran, wilayah sasaran program dan sebagainya. Oleh sebab itulah hendaknya proses program dan anggaran termasuk mengenai penetapan mekanisme haruslah bersifat terbuka, dan evaluasi serta pemantauan dilakukan secara berkala, jelas dan transparan sehingga masyarakat penerima program maupun masyarakat lokal setempat dapat melakukan kontroling terhadap berlangsungnya proses program CSR. 4. Pola kemitraan yang dibangun oleh PT.NNT selama ini yang lebih kepada pola kemitraan dengan LSM haruslah dievaluasi dan diuji kembali, mengingat komitmen, kapasitas serta keberlanjutan dalam pengelolaan program maupun keberlanjutan atas lembaga mitra pelaksana tersebut masih sangat minim, maka perlu ada upaya dari PT.NNT untuk meningkatkan dan menjalin kerjasama multi stakeholder dengan kelompok strategis lainnya, khususnya adalah Pemerintah Daerah dan LSM lain yang memiliki ketersediaan kapasitas dan keberlanjutan yang lebih baik, sehingga dana CSR dan pengelolaan program CSR-Comdev dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat setempat. Sebaiknya pula dalam proses pengelolaan program, PT.NNT harus lebih terbuka menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga yang berkompeten untuk menangani program CSR.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

211

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Sehingga dana operasional yang diberikan kepada LSM tidaklah menjadi dana yang hanya bersifat sia-sia atau sebatas meredam tuntutan dari LSM setempat. Keberanian untuk mengambil sikap dan tindakan harus dilakukan oleh PT.NNT dalam program CSRuntuk menyelamatkan keberhasilan dan keberlanjutan program CSRbagi masyarakat miskin. Sudah sepatutnya jika organsiasi masyarakat sipil, seperti kelompok tani yang telah mandiri untuk diberikan kepercayaan langsung untuk mengelola program CSRsehingga dana dan program CSR tersebut dapat langsung dirasakan oleh kelompok sasaran. 5. Dalam rangka efektifitas dan efisiensi percepatan pengentasan kemiskinan di daerah lingkar tambang, maka perlu programprogram CSR-Comdev PT.NNT untuk disinergiskan dengan program yang ada di pemerintah daerah. Mekanisme mengenai perencanaan program Pemda maupun program CSR, seperti waktu penyusunan, prioritas program dan kegiatan, pelaksana, kelompok sasaran, capaian keberhasilan program dan sebagainya harus dikomunikasikan dan disepakati secara bersama-sama oleh PT.NNT dan Pemda. Sehingga dimasa mendatang, program CSR tersebut diharapkan dapat betulbetul mengarah pada pencapaian visi dan misi daerah, baik yang tercantum dalam RPJPDaerah maupun RPJMDaerah. Dalam konteks itupula penyusunan renstra bersama menjadi sangat penting untuk dilakukan oleh PT.NNT dan Pemda. Disamping itu, mekanisme musrebangdes yang tersedia selama ini juga dapat dijadikan sarana oleh PT.NNT untuk menggali masalah dan kebutuhan-kebutuhan program CSR. Sehingga tidak perlu lagi PT.NNT membuat mekanisme perencanaan masyarakat lainnya yang sesungguhnya perwakilan dan mandat para pihak yang terlibat dalam proses tersebut tidak jelas. 6. Berbagai regulasi secara bersama perlu disusun oleh PT.NNT maupun Pemerintah daerah agar dana CSR dapat sesuai dengan rencana dan kelompok sasaran yang ditujui. Mekanisme sanksi terhadap para pekerja perusahaan yang nakal perlu ditindak tegas oleh perusahaan, agar program CSR-Comdev PT.NNT tidak menjadi lahan atau bisnis baru bagi sebagian oknum pekerja PT.NNT berupa bisnis perdayakan masyarakat. 7. Program-program CSR-Comdev PT. NNT dimasa mendatang haruslah didorong pada upaya membangun kemandirian dan keberlanjutan kehidupan masyarakat lingkar tambang pasca tambang. Seluruh

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

212

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

program comdev harus mengacu pada tujuan akhir yang hendak dicapai yakni menjadikan masyarakat sejahtera sekarang dan pasca tambang. 5.2.2. Pemerintah Daerah KSB ; 1. Perlu ada regulasi atau kebijakan daerah yang mengatur secara khusus mengenai pengelolaan dana CSR-Comdev PT.NNT, landasan kebijakan ini sesungguhnya telah ada yakni UU.No.40 Tahun 2007 Tentang Perseoran terbatas. Payung hukum nasional tersebut perlu dijabarkan dalam bentuk yang lebih rinci didaerah, termasuk adalah penegasan atas hak daerah dalam mengelola dana dan program CSR dari perusahaan. 2. Pemerintah Daerah perlu untuk melakukan pemantauan dan evaluasi secara intens terhadap pengelolaan dana dan program CSR PT.NNT secara periodik, termasuk meminta laporan dan akuntabilitas dari LSM Mitra PT.NNT yang selama ini ditunjuk sebagai pengelola atau pendamping program, sebagai salah satu pemilik saham, Pemda KSB berhak untuk mengetahui proses pelaksanaan dan progrest kemajuan dari pengelolaan dan dan program yang dilakukan oleh PT.NNT maupun LSM, seperti YPESB, YOP maupun Mitra LSM Pendamping program CSR lainnya. Bahkan, jika dipandang perlu adalah melakukan audit terhadap dana-dana tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksana program. 3. Dalam rangka menginisasi dana dan program CSR yang lebih efektif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka perlu di benruk Team khusus Monev atau Team Khusus Pengelola CSR Pemerintah Daerah yang disisi oleh kelompok masyarakat yang memiliki komitmen, integritas, kapasitas dan profesionalisme yang tinggi dalam menangani program-program Comdev. 4. Pemerintah daerah perlu untuk segera mempersiapkan secara dini konsepsi mengenai pengelolaan dana CSR yang tepat, termasuk mempersiapkan segala tahapan dan langkah-langkah untuk mengambil alih pengelolaan dana Comdev, termasuk dalam konteks ini adalah mempersiapkan segala perangkat pendukung baik perangkat lunak maupun perangkat keras pengelolaan CSR. 5. Dalam rangka penyusunan RPJMD 2010-2014, maka perlu pemerintah daerah untuk melibatkan pula PT.NNT dalam proses pembahasan

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

213

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

RPJMD untuk dilakukannya kesesuaian atau sinegisitas program dan dana CSR dengan RPJMD dan perlu ada upaya dari pemerintah daerah agar dana dan program CSR diarahkan pula pada upaya pencapaian visi dan misi daerah ; 6. Mengingat tingginya pemuda desa diwilayah lingkar yambang yang masih mengganggur, maka program pengembangan usaha lokal yang selama ini dilaksanakan oleh PT.NNT agar diarahkan pada pengembangan kewirausahaan para pemuda, program dan kegiatan berupa usaha pemuda, seperti perbengkelan, perdagangan, dan sebagainya yang berbasiskan para pemuda yang masih menganggur perlu untuk segera dilakukan. Program CSR-Comdev PT.NNT didesak agar dapat memfasilitasi para wirausaha yang bersal dari pemuda. Upaya untuk memfasilitasi kebutuhan untuk exiting dari ketergantungan terhadap keberadaan PT.NNT dengan cara mendorong adanya pusat pengembangan ekonomi baru sekaligus pengembangan ekonomi bagi masyarakat setempat, khsusunya pemuda pasca tambang menjadi agenda penting yang harus dipersiapan pada program CSRmenghadapi pasca tambang ; 7. Pemerintah daerah perlu pula merusmukan kerangka grand design kebijakan, program dan anggaran terkait pembangunan daerah menghadapai pasca tambang sebagai langkah antisipasi dini merespons persoalan yang akan dihadapi dikemudian hari pasca tambang nantinya. Grand design atau Master Plann Pembangunan Pasca Tambang ini dapat menjadi kerangka acuan pencapaian program CSR maupun program lainnya baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun Pihak ketiga, termasuk adalah para subkontraktor lokal. 8. Pemerintah daerah perlu mendorong agar mekanisme proses perencanaan pembangunan daerah mulai dari musrenbang RT, musrenbangdes hingga musrenbangkabupaten menjadi mekanisme yang digunakan pula oleh PT.NNT dalam merusmukan agenda program tahunan CSR sehingga terdapat sinergisitas, mengurangi terjadinya tumpang tindih atau penumpakan suatu program dalam suatu wilayah atau kelompok tertentu ; 9. Dalam rangka kebijakan program pemberian dana 1 Milliar untuk 10 Desa di lingkar tambang, pemerintah daerah perlu segera menyusun regulasi yang tepat (juklak-juknis) agar proses (perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban) anggaran 1 milliar tersebut

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

214

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

dapat lebih terarah pada upaya pengentasan kemiskinan dan terarahpula pada kelompok sasaran. 10. Dalam rangka mengatasi masalah pengangguran pemuda desa di wilayah lingkar tambang serta mengurangi intensitas gejolak sosial masyarakat akibat aksi-demosntrasi yang terus menerus dilakukan oleh para pemuda desa diwilayah lingkar tambang (khususnya pemuda desa yang masih menganggur). 11. Pemerintah Daerah perlu untuk segera membuat formulasi kebijakan pemanfaatan dana 1 milliar, sebagai berikut ; a. Perlu mewajibakan kepada seluruh pemerintahan desa diwilayah lingkar tambang agar dalam proses penyusunan program agar dilakukan musyawarah secara berjenjang ; mulai dari musyawarah RT, Dusun hingga Desa, dan dalam proses musyawarah desa tersebut, pemerintah harus menegaskan kepada pemerintah desa setempat agar melibatkan kelompok masyarakat miskin/marginal dan perempuan. b. Pengelolaan dana 1 milliar desa, harus berdasarkan pada prinsipprinsip partisipatisi, transparansi dan akuntabilitas. Diantaranya adalah mengumumkan kepada masyarakat secara luas mengenai rencana program dan alokasi anggaran serta memberikan ruang tanggapan kepada masyarakat. c. Pengalokasikan dana 1 milliar haruslah proporsional dan harus memperioritaskan pada upaya pencapaian pengentasan kemiskinan yang ada di desa lingkar tambang. d. Kelompok sasaran utama dari penerima manfaat sekaligus proporsi alokasi anggaran haruslah terarah pada upaya pengentasan kemiskinan kelompok sasarannya adalah dari warga miskin, harus ada kejelasan dan ketegasan dari pemerintah daerah untuk memerintahkan kepada pemerintahan desa, misalnya mengharuskan kepada pemerintahan desa bahwa dari dana 1 milliar tersebut haruslah penerima program kelompok masyarakat miskin/marginal adalah sekurang-kurangnya 20% dari jumlah anggaran diperuntukkan untuk warga miskin untuk program pengembangan usaha lokal atau usaha lainnya yang mendukung peningkatan kesejahteraan bagi warga miskin. e. Dana 1 miliiar bagi desa lingkar tambang harus pula didorong pada upaya pengembangan program kewirausahaan pemuda, dari dana

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

215

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Rp. 1 milliar tersebut, misalnya sekurang-kurangnya 2,5% s.d. 10% adalah ditujukan kepada upaya program pemberdayaan kewirausahaan bagi para pemuda. Misalnya berupa bantuan modal usaha, bantuan peralatan, perdagangan sebagainya. Dan untuk menjamin agar tidak terjadi penyimpangan dalam pengelolaannya perlu disusun atau dibuat regulasi dan pengawasan yang ketat, bahkan sanksi yang jelas. f. Pada bidang pendidikan perlu dialokasikan khusus bagi warga miskin untuk peningkatan akses dan mutu pendidikan, warga miskin yang selama ini tidak memperoleh bantuan dan program beasiswa dari CSR-PT.NNT (khsusunya para pelajar dan mahasiswa yang berada di luar daerah) yang berasal dari warga miskin, perlu untuk diberikan alokasi anggaran dari dana 1 milliar, misalnya dengan kebijakan penetapan 2,5 % untuk pengembangan pendidikan (jumlah proporsi disesuaikan dengan jumlah mahasiswa dan siswa miskin di luar daerah). g. Agar dana tersebut tidak habis dan desa memiliki pula usaha desa yang dapat menjadi sarana pengembangan ekonomi dan kewirausahaan, maka dari dana 1 milliat perlu dialokasikan pula secara khusus dana untuk pengembangan BUMDES, misalnya berupa modal usaha desa 2,5 s.d. 10% dari dana 1 milliar sehingga BUMDES di wilayah lingkar tambang diharapkan nantinya dapat berkembang; h. Bahwa dari dana 1 milliar perlu pula untuk dialokasikan bagi kelompok fakir miskin, berupa dukungan bantuan modal atau usaha atau dalam bentuk lainnya yang dapat membantu kehidupan warga miskin pedesaan. i. Dibidang pertanian, Kesehatan, Infrastruktur dan sebagainya perlu pula dialokasikan sesuai dengan masalah dan kebutuhan yang dihdapai oleh warga msikin yang berada di desa lingkar tambang.

Hal tersebut di atas (formulasi anggaran) perlu segera dilakukan oleh Pemerintah daerah mengingat dari hasil assesmnet hampir seluruh desa penerima dana 1 milliar dalam proses penyusunan anggaran dan program dilakukan tanpa melalui proses musyawarah desa, dan melibatkan kelompok masyarakat miskin. Bahkan banyak desa yang

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

216

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

terkesan hanya ingin menghabiskan anggaran semata, tanpa arah tujuan dan sasaran yang jelas. Dari hasil assesment ditemukan pula misalnya, di salah satu desa yang menghabiskan dana Rp.700 juta hanya untuk bronjong. Padahal kebutuhan terhadap pembangunan bronjong tidaklah signifikan dan menjadi kebutuhan warga miskin setempat. Namun, oleh karena proyek bronjong sungai sangat menguntungkan pengusahakades tersebut berkolaborasi dan berharap dapat memperoleh dari proyek tersebut. Untuk itupula team pemantauan pengelolaan dana 1 milliar harus dibentuk untuk membantu pemerintahan desa setempat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan monev program dana 1 milliar. Demikian pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi yang telah kami susun, kami berharap seluruh hasil kajian ini dapat dipertimbangkan oleh Pemerintah daerah KSb dalam rangka pengembangan program CSR dimasa mendatang.

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

217

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Curriculum Vitae Data Pribadi / Personal Details Nama / Name : Syahrul Mustofa, SH.,M.H Alamat / Address : RT 01 RW 02 Desa Sekongkang Atas Kec. Sekongkang, KSB-NTB Nomor Telepon / Phone : 085253830001 fax 081915888320 Email : arul_afif@yahoo.co.id Jenis Kelamin / Gender : Laki-Laki/Male Tanggal Kelahiran / Date of Birth : Tangerang, 15 Nop 1978 Status Marital / Marital Status : Menikah Warga Negara / Nationality : Indonesia Agama / Religion : Islam Pekerjaan/Job : Advokat/Pengacara (Lawyer) (Syahrul Mustofa, SH.,MH & Associate) Nama Organisasi Advokat : Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Nomor Induk Advokat/NIA : 10.00976 Riwayat Pendidikan dan Pelatihan Educational and Professional Qualification Pendidikan Formal : 1. Pasca Sarjana (S2) Ilmu Hukum-Konsentrasi Hukum Pemerintahan Daerah, Universitas Mataram, Lulus Tahun 2009 2. Sarjana (S1) Ilmu Hukum-Konsentrasi Hukum Tata Negara, Universitas Mataram, Lulus Tahun 2002 3. Sekolah Menengah Atas Negeri 2 (SMAN 2) Tangerang, Lulus Tahun 1996 4. Sekolah Menengah Pertama (SMP), PGRI Batu Ceper, Tangerang Lulus Tahun 1993 5. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam I Batu Sari-Tangerang, Lulus Tahun 1990. Pendidikan Informal : 1. Pelatihan Tehnology Of Parcipatoris, di selenggarakan oleh The Asia Foundation-DFID, Jakarta, 2010 2. Pelatihan Analisis Anggaran dan Advokasi Anggaran Publik, diselenggarakan oleh Seknas Fitra Jakarta dan The Asia Foundation, 2009 3. Pendidikan Advokat, diselenggarakan oleh Univ.Mataram kerjasama dengan IPHI-Mataram, tahun 2006 4. Pendidikan Fasilitator Perdamaian, diselenggarakan oleh ITP Jakarta, Univ.Indonesia dan NZAID, 2006 5. Pelatihan Legislative Drafting (Penyusunan Peraturan PerundangUndangan) diselenggarakan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) Jakarta, Tahun 2003. 6. Pelatihan Anti Korupsi, diselenggarakan oleh Indonesia Corruption Watch, jakarta Tahun 2003 7. Pelatihan Investigasi Korupsi, diselenggarakan oleh Solidaritas Masyarakat Transparansi Nusa Tenggara Barat (SOMASI NTB, 2003

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

218

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

8. Pelatihan Advokasi diselenggarakan Yayasan Koslata, Tahun 1998 9. Mengiktui berbagai Seminar, Workshop, Lokakarya dan lain-lain. Riwayat Pengalaman Kerja Summary of Working Experience 1. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ketua Divisi Hukum Kabupaten Sumbawa Barat, periode 2004-2009. 2. Pendiri dan Wakil Ketua Lembaga Bantuan Hukum-Nusa Tenggara Barat (LBH-NTB), 2007 s.d sekarang 3. Direktur Yayasan Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa, LEGITIMID KSB 2006 s.d. 2010 4. Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah, sejak 2008 s/d sekarang 5. Peneliti Indonesia Rapid Decentralization Appraisal (IRDA)-The Asia Foundation, 2001-2003 6. Ketua Divisi Hukum, SOMASI NTB, 1998-2004 7. Anggota Divisi Pemantauan, Komite Independen Pemantau Pemilu, 19992000. 8. Wartawan TABLOID KILAS, tahun 1999 Pengalaman Organisasi : 1. Mantan Koordinator Pergerakan Indonesia (PI) Nusa Tenggara Barat, 2003 2. Mantan Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa-Wahana Mahasiswa Pengabdi Masyarakat (UKM-WMPM) Universitas Mataram, Tahun 1999. 3. Mantan Ketua Divisi Propaganda dan Agitasi, Forum Komunikasi Mahasiswa Mataram (FKMM) 1997-1999. 4. Pengurus HMI Cabang Mataram, 1999-2000 5. Mantan Ketua Buletin Keadilan, Fakultas Hukum Universitas Mataram, Tahun 2000. 6. Anggota Dewan Pengurus Daerah Muhammadiyah KSB & Sekretaris Muhammadiyah Center KSB. 7. Dll. Pengalaman dalam menangani perkara/kasus : 1. Kasus Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sumbawa Barat, Tahun 2010 di Mahkamah Konstitusi-Jakarta. 2. Kasus Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lombok Utara, Tahun 2010 di Mahkamah Konstitusi-Jakarta 3. Kasus Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lombok tengah, Tahun 2010 di Mahkamah Konstitusi-Jakarta 4. Kasus Dugaan Ijazah Palsu Bupati Sumbawa Barat di Pengadilan Tata usaha Negara-Mataram 5. Kasus Dugaan Ijazah Palsu Bupati Sumbawa Barat di Pengadilan Tinggi Surabaya 6. Kasus Perdata (Sengketa Tanah), Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Barat di Pengadilan Negeri Sumbawa

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

219

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

7. Kasus Perdata (Sengketa Tanah), Asisten I Kabupaten Sumbawa Barat di Pengadilan Negeri Sumbawa 8. Kasus Perdata (Sengketa Tanah), Ibu Emma Kabupaten Sumbawa Barat di Pengadilan Negeri Sumbawa 9. Dll. Buku-Buku yang telah diterbitkan : 1. Panduan Pemberantasan Korupsi (Mencabut Akar Korupsi), diterbitkan SOMASI NTB, Cetakan Pertama Tahun 1999, cetakan kedua tahun 2003 2. Sejarah Pilkada KSB (Peta Politik dan Kecendrungannya), diterbitkan oleh Bappeda KSB dan LEGITIMID KSB, tahun 2006 3. Panduan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung, diterbitikan oleh KPU KSB, Tahun 2005 4. Inovasi Best Practice Kabupaten Sumbawa Barat, diterbitkan oleh LEGITIMI Press, tahun 2009 5. Korupsi, Konspirasi dan Pengenakkan Hukum, Diterbitkan oleh Lembaga Bantuan Hukum Nusa Tenggara Barat, Tahun 2009 6. Dll. Skill diluar Advokat Keahlian lain selaian sebagai Advokat/Pengacara adalah ; 1. Perancangan Peraturan Perundang-undangan 2. Analisis APBD/Keuangan Daerah 3. Advokasi Litigasi dan Non Litigasi 4. Menulis Opini dan Buku 5. Fasilitasi Pendidikan Orang Dewas 6. NGO Demikian Daftar Riwayat hidup dibuat dengan sebenar-benarnya. Sumbawa Barat, Desember 2010

(SYAHRUL MUSTOFA, S.H.,M.H)

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

220

Peta Politik Lokal dan Pergeseran Politik By Syahrul Mustofa

Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa-Sumbawa Barat (LEGITIMID)______________Halaman

221