Anda di halaman 1dari 13

Pasar Modal

MODEL-MODEL KESEIMBANGAN

Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa akan memahami efisiensi pasar dan memiliki kemampuan menggunakan model-model keseimbangan. 2. Mahasiswa mampu menggunakan keseimbangan berdasarkan metode: Capital Asset Pricing Model (CAPM) Abritage pricing theory (APT) 3. Efisiensi Pasar model

Ada berbagai pertimbangan yang mendasari seorang investor dalam berinvestasi di bursa efek. Di antaranya pertimbangan return dan risiko atas investasi tersebut. Bentuk return yang diharapkan berupa dividen atau dalam bentuk capital gain yang tercipta karena harga sahamnya membaik. Dari aspek manajemen keuangan dapat dirumuskan salah satu tolok ukur dari risiko yang dihadapi oleh investor berupa fluktuasi atau variasi harga saham. Fluktuasi diukur atas dasar harga suatu saham dari harga rataratanya atau fluktuasi harga saham dari harga saham secara umum di bursa efek. Makin tinggi fluktuasi harga saham di atas harga rata-rata maka risiko saham tersebut kian besar. Demikian pula makin tinggi fluktuasi harga saham dari harga saham secara umum di bursa berarti kian tinggi risiko saham tersebut. Seberapa besar
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

76

Pasar Modal

fluktuasi atau sensitivitas harga saham tersebut, oleh para ahli manajemen keuangan diberi istilah beta saham. Koefisien beta suatu saham menggambarkan risiko saham tersebut. Makin tinggi koefisien beta suatu saham berarti kian tinggi risikonya.

Capital Asset Pricing Model (CAPM) Dalam pasar keuangan yang efisien, dan jika investor tidak suka risiko (riskaverter), maka kenaikan risiko harus dikompensasi oleh return yang lebih tinggi. Semakin tinggi risiko, semakin tinggi return yang diharapkan. Ahli manajemen keuangan William F Sharpe mengemukakan seorang investor dalam berinvestasi berharap mendapatkan exess return. Menurut pemikirannya exess return yang didapat hendaknya minimal di atas suku bunga bebas risiko. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan salah satu tolok ukur suku bunga bebas risiko. Seorang yang berinvestasi pada SBI risiko pengembalian dananya dijamin oleh pemerintah. Model CAPM dirumuskan oleh dua orang yang bekerja secara independen: William Sharpe (1964) dan John Lintner (1965). CAPM menggunakan beberapa asumsi, yaitu: 1. Investor memfokuskan pada periode kepemilikan tunggal, mereka mencoba memaksimumkan tingkat kepuasan mereka (expected utility) dengan memilih alternatif portofolio dengan menggunakan basis tingkat keuntungan yang diharapkan (expected rate of return) dan standar deviasi (total risk). 2. Investor bisa meminjam dan meminjamkan dengan jumlah yang tidak terbatas pada tingkat bunga bebas risiko, dan tidak ada pembatasan terhadap short-sales. Short sales adalah penjualan aset yang dipinjam. Short sales dilakukan jika kita mengantisipasi penurunan harga. 3. Investor mempunyai perkiraan return, varians, dan kovarians antar aset, yang sama satu sama lain. Jika investor yang satu memperkirakan tingkat keuntungan aset X adalah 15%, maka investor lainnya juga memperkirakan 15%. Dengan kata lain pengharapan investor adalah homogen (homogenous expectation) 4. Tidak ada biaya transaksi 5. Tidak ada pajak penghasilan bagi investor 6. Investor tidak bisa mempengaruhi harga, semuanya price takers (harga ditentukan oleh pasar). Situasi semacam ini terjadi di pasar persaingan sempurna. Seorang investor sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan pasar.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

77

Pasar Modal

7. Terdapat riskless lending and borrowing rate, sehingga investor bisa menyimpan dan meminjam dengan tingkat bunga yang sama. 8. Kuantitas semua aset sudah ditentukan dan bisa diperjualbelikan.

Asumsi-asumsi yang dibangun tersebut tidak realistis. Tetapi baik tidaknya suatu model tidak tergantung dari realistis atau tidaknya asumsi yang dipakai. Baik tidaknya model akan tergantung dari kemampuannya menjelaskan fenomena yang ada. Dengan kata lain, baik tidaknya teori tersebut akan ditentukan oleh bukti empiris, apakah mendukung atau konsisten dengan model tersebut atau tidak. Efisien Set pemikiran awal Harry Markowizt (1952) perlu juga dipahami sehubungan dengan model keseimbangan. Bila semua kesempatan investasi digambarkan dalam suatu kurva dan konsep MVC Harry Markowitz diterapkan, maka gambarannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Figure 1 Efisien Set Markowitz

Daerah warna hijau menunjuk pada daerah return dan risiko yang dapat dicapai, kotak-kotak putih adalah alternatif investasi yang tersedia. Melalui konsep MVC, maka terdapat investasi yang mendominasi investasi lainnya, yaitu investasi yang membentuk garis melengkung (garis lengkung warna keemasan). Garis tersebut merupakan set yang efisien, yaitu garis yang terdiri dari portofolio yang mendominasi aset lainnya. Setiap titik dalam daerah tersebut, akan terdapat paling tidak satu portofolio. Efficient Frontier adalah kurva yang menghubungkan titik-titik teratas dari daerah yang dapat dicapai (garis melengkung warna emas) yang mewakili konsep mean-variance-criterium (MVC). Capital Market Line (CML)

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

78

Pasar Modal

Jika diantara berbagai alternatif investasi terdapat investasi bebas risiko (risk-free asset), maka set yang efisien akan berubah menjadi garis lurus yang menghubungkan risk-free (Rf) dengan set yang efisien untuk investasi yang berisiko (Risky asset). Lebih tepatnya lagi, garis tersebut menyentuh (tangent) set yang efisien untuk investasi yang berisiko (CML diwakili dengan garis lurus biru). Bila ada risik-free asset, investor bisa investasi hanya pada risk-free asset dan memperoleh return (Rf) sebesar 5%
Figure 2 Capital Market Line Adanya Riskfree

Dari Figure 2 di atas beberapa observasi bisa dilakukan.. Titik M yang merupakan titik persinggungan pada Figure 2 disebut sebagai portofolio pasar (ditulis sebagai titik M, yaitu kepanjangan dari Market atau Pasar). Semua investor akan memilih titik M (portofolio pasar) untuk investasi berisiko, meskipun kurva kepuasan mereka berbeda-beda. Mekanisme atau prinsip semacam itu disebut sebagai prinsip pemisahan (separation principles). Separataion principles mengatakan bahwa keputusan investasi seorang investor terdiri dari dua tahap: (1) Investor akan mengestimasi risiko (standar deviasi), return yang diharapkan, dan kovarians antar return aset, untuk semua alternatif investasi yang ada. (2) Setelah titik M ditentukan, investor akan melakukan kombinasi dengan aset bebas risiko (Rf) sedemikian rupa sehingga preferensi individunya akan terpenuhi. Sebagai contoh, investor yang tidak suka dengan risiko akan menggabungkan 50% investasi bebas risiko dan 50% investasi berisiko (titik A). Keputusan (1) sering disebut juga sebagai keputusan investasi, sedangkan keputusan (2) bisa juga disebut sebagai keputusan pendanaan (karena meminjam atau meminjamkan dengan tingkat bunga Rf). Karena itu separation principle juga bisa dikatakan sebagai prinsip pemisahan keputusan investasi dengan keputusan pendanaan. Keputusan investasi dan pendanaan tidak terkait satu sama lain (dalam konteks di atas).

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

79

Pasar Modal

Pada garis CML di atas, investor bisa memilih posisi mana saja di CML tergantung dari preferensi risikonya (kurva kepuasan). Investor yang sangat risk averse (tidak menyukai risiko) barangkali akan memilih aset bebas risiko (Rf). Investor yang bersedia menanggung risiko lebih besar akan memilih portofolio A, yaitu portofolio yang terdiri dari 50% aset bebas risiko dan 50% aset berisiko (portofolio M). Investor juga bisa memilih portofolio 100% aset berisiko (titik M). Investor yang bersedia menanggung risiko lebih tinggi lagi, bisa memilih titik B. Titik tersebut tercapai melalui pinjaman dengan tingkat bunga Rf (atau short sales investasi bebas risiko), kemudian pinjaman tersebut dibelikan aset berisiko M. Dengan demikian, daerah Rf-M merupakan daerah meminjamkan, sedangkan daerah M-B-dan seterusnya, adalah daerah meminjam. Rf-M-B-dan seterusnya biasa disebut sebagai CML (Capital Maket Line). Garis tersebut menjelaskan hubungan antara risiko dengan return untuk portofolio yang efisien. Tingkat keuntungan yang diharapkan (expected rate of return) bisa dituliskan sebagai E(Ri) = Rf + [ (E (RM) Rf ) / (M Rf ) ] i Karena Rf = 0 (aset bebas risiko), maka persamaan CML di atas bisa ditulis lagi sebagai berikut ini. E(Ri) = Rf + [ (E (RM) Rf ) / (M) ] i dimana E(Ri) i Rf E(RM) M Rf i

= tingkat keuntungan yang diharapkan untuk = return aset bebas risiko = return pasar yang diharapkan = risiko (standar deviasi) return pasar = risiko (standar deviasi) investasi bebas risiko = risiko (standar deviasi) aset i

aset

Persamaan di atas bisa diinterpretasikan sebagai berikut. return yang diharapkan untuk portofolio i sama dengan return bebas risiko ditambah premi risiko. Perhatikan bahwa Rf merupakan intercept dari garis CML, sedangkan (E(RM) Rf) / (M) merupakan slope dari garis tersebut. (E(RM) Rf) merupakan premi risiko pasar. Security Market Line (SML)

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

80

Pasar Modal

Garis SML (Security Market Line) menjelaskan hubungan antara risiko dengan return untuk semua aset. Garis tersebut diturunkan dari CML. Setelah melakukan beberapa manipulasi dan asumsi, gambar berikut ini diperoleh

Figure 3 Security Market Line

Garis SML bisa dituliskan sebagai berikut ini. E(Ri) = Rf + [ (E (RM) Rf ) / (M Rf ) ] i Karena Rf = 0 (aset bebas risiko), dan M didefinisikan sebagai 1, maka persamaan SML di atas bisa ditulis lagi sebagai berikut ini. E(Ri) = Rf + [ (E(RM) Rf) ] i
Dimana: E(Ri) = Rf = E(RM) = i = return yang diharapkan untuk aset i return aset bebas risiko return pasar yang diharapkan risiko sistematis aset i

Persamaan di atas bisa diinterpretasikan sebagai berikut. return yang diharapkan untuk sekuritas i sama dengan return aset bebas risiko ditambah dengan premi risiko. Rf bisa ditafsirkan sebagai kompensasi atas

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

81

Pasar Modal

waktu, sedangkan term kedua bisa ditafsirkan sebagai kompensasi atas risiko sistematis. Return bebas risiko bisa diambilkan dari sertifikat bank Indonesia (SBI) atau obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah Perhatikan bahwa persamaan di atas ditulis dalam bentuk ex-ante (pengharapan di masa mendatang). Untuk menghitung beta dalam prakteknya, kita bisa menggunakan data historis. Tentunya data historis tersebut diasumsikan bisa dipakai sebagai proxy (pendekatan) nilai masa mendatang. Sebagai proxy, return indeks harga saham gabungan (IHSG) sering dipakai sebagai indikator return pasar i (risiko sistematis) pada dasarnya merupakan koefisien regresi dari market model. Beta juga bisa dihitung melalui formula berikut ini. i = ( RmRi / 2Rm ) RmRi merupakan kovarians antara return aset i dengan return pasar. Karena 2Rm mempunyai nilai yang sama (tetap) untuk semua saham, beta saham i tergantung secara proporsional pada kovarians saham tersebut dengan pasar (RmRi). Dengan kata lain, kontribusi risiko aset i terhadap risiko portofolio yang akan menentukan besarnya risiko sistematis aset i

Capital Asset Pricing Model (CAPM) Sehubungan dengan konsep risk-return tradeoff, model CAPM yang disempurnakan oleh William Sharpe menjelaskan hubungan antara risiko dan return yang diharapkan (expected return), model ini digunakan untuk memperhitungkan harga dari aset berisiko. CAPM menyatakan bahwa return yang diharapkan dari sekuritas atau sebuah portofolio sama dengan tingkat return dari sekuritas tidak berisiko (risk-free security) ditambah premium risiko. Secara spesifik CAPM mempunyai dua tujuan: (1) Menjelaskan hubungan antara risiko dengan return Model CAPM bertujuan untuk menghitung premi risiko yang pantas. Lebih spesifik lagi, model CAPM menggunakan risiko sistematis (beta pasar saham) sebagai indikator risiko. Sebagian dari risiko total (yang diukur melalui standar deviasi) bisa dihilangkan melalui diversifikasi. Diversifikasi tersebut secara teoritis mudah dilakukan. Dengan membentuk portofolio yang terdiri dari beberapa aset, risiko tidak sistematis praktis bisa dihilangkan. Karena itu hanya risiko sistematis (risiko yang tidak bisa dihilangkan melalui diversifikasi) yang relevan. CAPM berusaha menjelaskan hubungan antara risiko sistematis dengan return.
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

82

Pasar Modal

(2) Menjelaskan kondisi keseimbangan dalam pasar keuangan Model keseimbangan menurut disiplin ekonomi keuangan dengan disiplin ekonomi berbeda. Dalam disiplin ekonomi, keseimbangan akan terjadi jika kurva penawaran bertemu dengan kurva permintaan. Kurva permintaan mempunyai slope negatif, sedangkan kurva penawaran mempunyai slope positif. Harga dan kuantitas keseimbangan akan ditentukan. Dalam disiplin ekonomi keuangan, permintaan terhadap aset keuangan biasanya diasumsikan tidak terbatas. Maka kurva permintaan terlihat mendatar. Berapapun besarnya penawaran sekuritas, permintaan akan bisa menyerap penawaran tersebut. Kuantitas sekuritas tidak akan menentukan harga sekuritas. Sekuritas seperti komoditas, satu sama lain bisa menjadi pengganti dengan sempurna (substitutable). Secara umum formula yang menggambarkan hubungan CAPM adalah sebagai berikut: Expected Return = RF Rate + (Market Return - RF Rate) x Beta E(Rp) = Ilustrasi: Diketahui besarnya risk-free rate 5% dan return pasar 12%. Beta saham PT. Imut2 tbk sebesar 1,9. Expected Return = Expected Return = 5% + (12% - 5%)*1.9 18.3% Rf + (Rm Rf) x

Expected return ini sekaligus menggambarkan tingkat return yang disyaratkan untuk memiliki saham PT.Imut2 tbk, yakni 18,3%. Bila seseorang menginvestasikan dananya pada saham ini, maka return minimal adalah 18,3% bila tidak bisa menghasilkan return sebesar yang disyaratkan, maka lebih baik mempertimbangkan investasi pada saham perusahaan lain.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

83

Pasar Modal

ARBITRAGE PRICING THEORY Model APT berusaha menjelaskan hubungan antara risiko dengan tingkat keuntungan. APT berbeda dengan CAPM dalam dua hal. Pertama, proses keseimbangan yang dibayangkan oleh APT adalah mekanisme arbitrase. Arbitrase dilakukan sampai harga yang terjadi sama untuk semua aset yang mempunyai risiko yang sama, mengikuti hukum the law of one price. Dalam CAPM, investor berusaha memaksimumkan kepuasannya (utility function). Kedua, jika CAPM sampai pada kesimpulan bahwa faktor pasar mempegaruhi tingkat keuntungan yang diharapkan, APT sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan yang diharapkan untuk suatu aset. Proses Arbitrase Kegiatan arbitrase adalah kegiatan yang berusaha memperoleh keuntungan arbitrase. Keuntungan arbitrase adalah keuntungan yang diperoleh dengan modal nol dan risiko nol. Proses arbitrase akan mendorong berlakunya hukum satu harga (the law of one price). Hukum tersebut pada dasarnya mengatakan bahwa aset dengan karakteristik yang sama akan terjual dengan harga yang sama dimanapun di dunia ini. Ilustrasi: Riskfree rate (Rf) = 10%, Market return (Rm) = 20% Beta market (m) =1 Return saham Y = 12% Untuk melihat apakah ada kesempatan arbitrase atau tidak, kita melakukan langkah berikut ini: Membentuk portofolio pasar dengan Riskfree rate (Rf), komposisi sedemikian rupa sehingga beta portofolio X tersebut sama dengan beta saham, yaitu 0,5. Beta portofolio merupakan rata-rata tertimbang beta individualnya. P = wi i
dimana:
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

84

Pasar Modal

P
wi

= beta portofolio = proporsi alokasi dana untuk aset i = beta aset i

Karena M = 1, dan RF = 0, maka proporsi masing-masing adalah 50%. Dengan demikian beta portofolio X akan sama dengan 0,5. X = (0,5 0) + (0,5 1) = 0,5 Kemudian kita menghitung tingkat keuntungan sebagai berikut. E(RX) = (0,5 20%) + (0,5 10) = 15% Return dan beta portofolio X dengan Y sebagai berikut ini. E(RX) = 15% X = 0,5 E(RY) = 12% Y = 0,5 Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa meskipun risiko sistematis keduanya sama, yaitu 0,5, tetapi return berbeda. Berarti ada kesempatan arbitrase. Arbitrase bisa dilakukan dengan jalan men-short sales aset Y, kemudian kas masuk dipakai untuk membeli portofolio X, yang berarti membeli 50% pada portofolio M dan 50% pada aset bebas risiko. Return dan risiko kegiatan tersebut adalah (X minus Y): Return = 15% - 12% = 2% Tambahan risiko = 0,5 - 0,5 = 0 Tambahan modal = 0 karena kas masuk (modal) diperoleh dari short sales Y (pinjam aset Y, kemudian dijual, dikembalikan periode berikutnya). Proses semacam itu akan menurunkan harga Y dan menaikkan harga X. Kemudian return Y akan naik, return X akan turun. Setelah tingkat return Y dan X sama, maka tidak ada lagi kesempatan arbitrase. Model Arbitrage Pricing Theory Proses penghasilan return (return generating process) menurut APT bisa dirumuskan sebagai berikut ini. Ri = E(Ri) + b1 [RF1 E(RF1)] + + bN [RFN - E(RFN)] + ei
Dimana: Ri = actual return aset i E(Ri) = expected return aset i 1..N = risiko sistematis aset terhadap faktor 1 ... faktor N

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

85

Pasar Modal

RF1...RFN = return dari faktor 1 ... faktor N

Faktor tersebut bisa berupa faktor pasar (Retrun Market, seperti dalam CAPM) atau faktor lainnya, seperti faktor ekonomi (pertumbuhan GNP, inflasi, dan sejenisnya). Persamaan di atas mengatakan bahwa return suatu aset sama dengan (1) return yang diharapkan, (2) perubahan faktor yang tidak diharapkan (RF - E(RF), (3) sensitifias aset i terhadap perubahan faktor pada (2), dan (3) random term yang mencerminkan faktor spesifik perusahaan/industri. Dalam APT, hanya perubahan yang tidak terduga yang dikompensasi oleh return, seperti terlihat berikut ini. Return bisa dipecah ke dalam return yang diharapkan dan return yang tidak diharapkan: R = E(R) + Unexpected (Tidak Terduga) Return yang tidak terduga bisa dipecah ke dalam dua tipe: (1) Return yang tidak diharapkan yang berasal dari kejutan (surprises) faktor-faktor tertentu. Kejutan tersebut bersifat sistematis (tidak bisa dihilangkan melalui diversifikasi), dan (2) Return yang tidak diharapkan yang berasal dari kejutan (surprises) dari perusahaan spesifik. Kejutan tersebut bersifat tidak sistematis (bisa dihilangkan melalui diversifikasi). Misalkan ada tiga faktor yang terlibat: (a) Inflasi, (b) Pertumbuhan GNP, dan (c) Perubahan Tingkat Bunga. Model di atas bisa dipecah ke dalam model berikut ini. Ri = E(Ri) + inflasi Finflasi + GNP FGNP + sukubungaFsukubunga+ i Misalkan seorang investor memegang banyak (N) saham dalam portofolionya. Sumber return dari portofolionya bisa dilihat sebagai berikut: Rp = E(Rp)+inflasi Finflasi+ GNP FGNP+ sukubungaFsukubunga+ p E(RP) P-Faktor P = W1 E(R1) + + WN E(RN) = W1 1 - Faktor F1 + + W1 N - Faktor FN = W1 1 + + WN N

Karena 1N bersifat tidak sistematis, maka P diharapkan mempunyai nilai 0. Dengan demikian tingkat keuntungan portofolio bisa ditulis sebagai berikut ini. Rp = E(Rp) + inflasi Finflasi + GNP FGNP + sukubungaFsukubunga

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

86

Pasar Modal

Perhatikan hanya risiko sistematis terhadap faktor-faktor yang dikompensasi oleh kenaikan return. Dengan melakukan beberapa manipulasi matematis, model APT yang ekuivalen dengan SML dalam CAPM bisa dirumuskan sebagai berikut :

E(Ri) = Rf + bi1 (RF1 - Rf) + + iN (RFN - Rf)


dimana: E(Ri) Rf RF1 .. RFN i1 .. iN = expected reutn aset i = return aset bebas risiko = Untuk risiko faktor 1,2,3, dan N = Risiko sistematis untuk faktor 1, 2, 3, dan N

EFISIENSI PASAR Pasar dikatakan efisien jika harga mencerminkan semua informasi yang relevan. Implikasi teori tersebut adalah investor tidak bisa memperoleh keuntungan abnormal yang konsisten. Pada tahun 1953, seorang ahli statistik, Maurice Kendall, mempresentasikan pengamatannya terhadap perilaku harga saham dan komoditas di konferensi Royal Statistical Society di London. Ia ingin melihat apakah ada pola tertentu dalam pergerakan harga saham dan komoditas. Menurut pemikiran dia, jika pasar komoditas rasional, tentu akan ada pola-pola tertentu yang akan terlihat. Di luar dugaan dia, ternyata dia tidak menemukan pola tertentu. Sebaliknya, ia menemukan pola yang acak (random). Informasi baru datang ke pasar dengan pola yang random. Informasi tersebut tidak bisa diperkirakan kapan datangnya atau seberapa baik informasi tersebut. Karena itu pergerakan harga menjadi random karena kedatangan informasi yang bersifat random. Kenapa terjadi pasar yang efisien (kenapa harga mencerminkan semua informasi yang relevan)? Ada dua hal yang menjadi penyebabnya. (1) Analis yang banyak dan pandai. (2) Ada kompetisi antar para analis. Kedua hal tersebut akan menjamin informasi selalu mengalir ke pasar keuangan, dan dengan demikian pasar menjadi selalu efisien.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

87

Pasar Modal

Bentuk Efisiensi Pasar Efisiensi pasar bisa dikelompokkan ke dalam tiga jenis, berdasarkan jenis informasinya. Ketiga jenis tersebut adalah: (1) Efisiensi bentuk lemah, (2) Efisiensi bentuk setengah kuat, dan (3) Efisiensi bentuk kuat Efisiensi keuangan dengan demikian juga bisa dilihat sebagai hirarki. Secara spesifik, jika pasar efisien dalam bentuk kuat, maka pasar juga efisien dalam bentuk setengah kuat dan lemah. Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka pasar efisien dalam bentuk lemah. Jika pasar belum efisien dalam bentuk lemah, maka pasar juga belum efisien dalam bentuk setengah kuat dan kuat. (1) Efisiensi Bentuk Lemah Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah jika harga mencerminkan informasi masa lampau. Implikasi dari efisiensi bentuk lemah adalah investor tidak akan memperoleh keuntungan abnormal yang konsisten dengan menggunakan informasi masa lampau. Strategi yang berusaha melihat informasi masa lampau untuk memprediksi harga masa mendatang dinamakan sebagai strategi teknikal. (2) Efisiensi Bentuk Setengah Kuat Pasar dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat jika harga-harga mencerminkan informasi yang dipublikasikan. Ada dua kemungkinan penyimpangan dari skenario yang digambarkan oleh pasar yang efisien tersebut. a. Ada kemungkinan pasar bereaksi secara berlebihan (overreaction). b. Ada kemungkinan reaksi pasar terjadi secara lambat. (3) Efisiensi Bentuk Kuat Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga mencerminkan informasi yang bersifat pribadi, dan juga informasi lainnya (yang dipublikasikan dan masa lalu).

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

88