Anda di halaman 1dari 4

Perdagangan Karbon (Carbon Trading)

APA ITU CARBON TRADING ??? Dalam beberapa tahun belakangan, mugkin sering anda dengar istilah Perdagangan Karbon atau Carbon Trading yang diangkat oleh beberapa media massa di tanah air. Dan mungkin anda juga bertanya-tanya, apa sich Carbon Trading tu ??? apakah Indonesia mau berjualan arang Karbon yang dikemas dalam suatu wadah gitu ??? Truz yang mau beli tu siapa ??? Hmm sebenarnya Carbon Trading merupakan kompensasi yang diberikan oleh negaranegara industri maju untuk membayar kerusakan lingkungan yang sudah mereka buat. Salah satunya asap karbondioksida (CO2) yang dihasilkan pabrik-pabrik di Eropa dan AS sudah terlalu sesak dan memenuhi atmosfer bumi kita, yang berakibat naiknya suhu bumi (istilah trendnya Global Warming gitu..) serta lubang dilapisan ozon yang makin luas. Salah satu cara untuk memperbaiki kerusakan ozon adalah dengan mempertahankan produksi karbon dari hutan-hutan di Indonesia, Asia Pasific, Amerika Selatan, ataupun Papua New Guinea. Kompensasi diambilkan dari pembayaran negara-negara maju tersebut atas kerusakan lingkungan yang dibuat. Jadi singkatnya, negara-negara yang maju industrinya (tapi juga paling maju dalam hal merusak lingkungan) harus membayar kompensasi kepada Negara yang memiliki luasan hutan yang besar terutama Brazil dan Indonesia atas polusi industrinya. Karena hanya hutanlah yang mampu menyerap asap CO2 yang ada di atmosfir. Perdagangan karbon dunia semakin meningkat sejak ditandatangani Protokol Kyoto, di mana negara-negara di dunia sepakat untuk menekan emisi karbon dioksida rata-rata 5,2 persen selama 2008 hingga 2012. Di bawah kesepakatan Protokol Kyoto, negara industri maju penghasil emisi karbon dioksida diwajibkan membayar kompensasi kepada negara miskin dan atau berkembang atas oksigen yang dihasilkannya.

TRUZ BENEFIT APA YANG DIDAPAT ??? Hmm.menurut informasi yang saya dapat dari sana-sini, harga karbon di Indonesia yang ditawar negara-negara maju saat ini adalah 3 dollar per Hektar/ton/tahun. Padahal, hutan di Brazil dihargai 12 dollar. Sangat mengherankan memang. Sedangkan Indonesia saat ini hanya memiliki hutan sekitar 90-an juta Hektar saja, itupun tak semuanya dalam kondisi baik. Jadi kalau mau tau keuntungan yang diperoleh Indonesia ya tinggal mengalikan saja harga per Hektar dengan luasan hutan yang ada. Indonesia baru akan menjual potensi hutannya selepas tahun 2012 nanti, atau setelah Kyoto Protokol (2008-2012) berakhir. Namun saat ini sudah banyak lembaga internasional dan perusahaan asing datang ke Indonesia, dan mereka langsung ke kabupaten dan provinsi untuk menawarkan membeli karbon Oleh karena itu tugas bagi pemeritah untuk membuat peraturan untuk perdagangan karbon ini. Tentu Indonesia tidak ingin ada perjanjian yang merugikan. Harga karbon, durasi perjanjian, distribusi benefit-nya harus dipikirkan. Serta peran dari masyarakat dan tentunya orang-orang kehutanan sangat diperlukan untuk merehabilitasi hutan yang rusak dan melestarikan hutan yang ada.

1 Sie Infokum Ditama Binbangkum WALHI:PERDAGANGANKARBONTAKKURANGIPEMANASAN GLOBALcocomerina.wordpress.com DeputiDirekturWahanaLingkunganHidupNasional(Wa lhi),AliAkbar,mengatakan,perdagangankarbontidakmenjaminpengurangandampakpemanasan globali.Menurutnya,perdagangankarbonbukanjalanterbaikuntukmengurangidampakpemanasa nglobal,melainkanmenurunkandayakonsumsimasyarakat.Haltersebutdikemukakannyadalama caradiskusiyangbertema"CarbonTrading,SiapaUntung?"diJakarta,Kamis(15/7).Menurutdia,pe rdagangankarbonyangmerupakansalahsatuisiProtokolKyototersebutjustruakanmerugikannega raberkembangyangmemilikihutantropispenghasilkarbon.Perdagangankarbon,katanya,dapatme mberikandampakpadawilayahkonservasidinegaraberkembangtermasukIndonesiasepertiswasta nisasihutannegara,marginalisasiposisirakyat,danpenyerahankawasandalamjangkapanjang.Per dagangankarbonadalahmekanismeberbasispasaruntukmembantumembatasipeningkatanCO2di atmosfer.Pasarperdagangankarbonsedangmengalamiperkembanganyangmembuatpembelidan penjualkreditkarbonsejajardalamperaturanperdaganganyangsudahdistandardisasi.Senadadeng anitu,pembicaralainnyaAnggotaIVBadanPemeriksaKeuangan(BPK),AliMasykurMusamengat akan,jikasemuanegaraberkembangpemilikhutantropismemasukipasarkarbon,bisadipastikanhar gakarbonakanjatuh.Sehingga,lanjutnya,targetpenguranganemisikarbontidakakantercapai.Alim engatakan,dalambeberapahalperdagangankarbonsamasekalitidakberkaitandenganupayapenan ggulangankrisisbumi.Iamenilai,Indonesiabolehsajaikutsertadalamagendatersebutnamundenga nbeberapasyaratyangdiantaranyamenyiapkaninfrastrukturkebijakandankelembagaannya.Selai nitu,tambahnya,denganmeningkatkan 2 Sie Infokum Ditama Binbangkum posisitawarmenawardantidakmenjadikanperdagangankarbonsebagaibisnisbarudenganmengabaikanagend apenyelamatanlingkunganhidup.PerdagangankarbonmerupakansalahsatuisiProtokolKyotount ukmengurangiemisisebagaidampakdaripemanasanglobal.
Jakarta Pelbagai kengerian tentang masa depan umat manusia, terutama bencana yang diakibatkan kerusakan lingkungan semakin menyebar. Salah satu yang membuat gencar penghembuskan wacana tersebut tentu saja film-film produksi Hollywood, Amerika Serikat (AS). Melalui film-film fiksi ilmiah maupun dokumenternya. Bagi saya, kengerian yang disebarkan secara menghibur tersebut merupakan sebuah bentuk pelajaran mengenai lingkungan yang mudah dicerna banyak orang. Bukan tanpa alasan, salah satu prediksi ilmiah memperkirakan bahwa di tahun 2100 akan terjadi peningkatan suhu global antara 1,0 hingga 4,5 derajat Celsius, gunungan es di kutub semakin mencair dan mengakibatkan tinggi muka air laut bertambah 60 sentimeter. Apa jadinya bila prediksi tersebut benar-benar terjadi? Kota-kota besar di dunia yang kebanyakan terletak di dataran rendah tentu saja tergenang air, sementara penduduknya tersiksa dengan panasnya suhu luar ruang. Risiko lainnya bagi Indonesia, kemungkinan hilangnya ribuan pulau saat permukaan laut meninggi. Perubahan iklim secara global tentu saja akan mempengaruhi tanaman juga. Produktivitas dan perkembangan hama serta penyakit tanaman akan mempengarui ketersediaan air dan distribusi vektor penyakit manusia. Dalam jangka panjang ketahanan pangan dan air yang dibutuhkan makhluk hidup akan terganggu. Manusia kehilangan sumber kehidupannya. Perubahan iklim dan peningkatan suhu secara global tersebut dikarenakan banyaknya pelepasan karbon ke udara. Karbon tersebut salah satunya berasal dari sisa pembakaran yang dihasilkan

industri maupun rumah tangga. Karbon yang terdapat di udara akan menipiskan dan menggangu kemampuan atmosfir untuk memantulkan sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Hal ini biasa dikenal juga dengan efek gas rumah kaca. Dalam sebuah lokakarya yang digelar Wetlands International, dipaparkan antara tahun 1850 hingga 1998 diperkirakan 270 gigaton (Gt) karbon telah dilepaskan ke atmosfer. Bagian terbesar disumbangkan aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan industri, yaitu sebesar 67 persen. Pembukaan lahan secara global dalam waktu 20 tahun terakhir telah mengakibatkan terlepasnya 1,65 Gt karbon per tahun. Lebih dari 80 persen berasal dari negara berkembang dan Indonesia sendiri menyumbangkan sembilan persen (0,155 Gt karbon) dengan kemampuan penyerapan 0,110 Gt karbon. Hutan memang memiliki fungsi sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (reservoir) karbon, istilahnya carbon sink. Dunia pun tidak tinggal diam, hal itu harus diatasi dengan cara mengurangi emisi dari sumbernya dan juga meningkatkan kemampuan penyerapan. Dalam Konvensi Perubahan Iklim Dunia (The United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) yang diperdengarkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi 1992 di Rio de Janeiro, komitmen penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) itu telah disepakati sekitar 150 negara, termasuk Indonesia. Komitmen itu dimatangkan dalam Konferensi Negara Pihak (COP) III UNFCCC tahun 1997 yang melahirkan Protokol Kyoto. Negara-negara maju bersepakat menekan emisi mereka ke tingkat lima persen di bawah tingkat emisi 1990. Target itu dicapai dalam periode komitmen pertama, antara 2008-2012. Gas-gas penting yang disebutkan dalam Protokol Kyoto adalah karbondioksida (CO), metana (CH), nitrogen oksida (NO), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfur hexafluorida (SF6). Sejak saat itu pulalah, berkembang tren baru, perdagangan karbon (carbon trade). Perdagangan karbon merupakan istilah untuk aktivitas penyaluran dana dari negara-negara penghasil emisi karbon kepada negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya alam untuk mampu menyerap emisi karbon secara alami. Konservasi dimotivasi dengan imbalan dana segar melalui skema pembangunan bersih (clean mechanism development/CDM). Hal ini merupakan peluang yang sangat baik untuk memanfaatkan potensi alam. Tentunya dengan cara lain selain menebang pohon. Karena yang dihitung dalam perdagangan karbon adalah hutan yang ada dijaga kelestariannya dan penanaman pada kawasan bukan hutan. Serta melakukan perbaikan kawasan hutan yang rusak dengan cara reboisasi. Indonesia dengan luas hutannya, berpotensi untuk memasuki era perdagangan karbon tersebut. Berdasarkan data ADB - GEF - UNDP menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas reduksi karbon lebih dari 686 juta ton yang berasal dari pengelolaan hutan. Jika harga rata-rata per ton karbon sebesar US$ 5, maka Indonesia berpotensi menjual sertifikat surplus karbon senilai US$ 3,430 milyar atau sekitar Rp 34 triliun. Perhitungan tersebut memang belum menyertakan karbon yang dilepaskan oleh Indonesia sendiri. Tetapi, semakin banyak hutan lindung, semakin banyak pohon yang ditanam di setiap lahan kosong, semakin luas lahan yang direhabilitasi dan direboisasi tentunya akan meningkatkan potensi penerimaan dana.

Hal ini menjadi insentif moral bagi semangat Departemen Kehutanan dalam melakukan konservasi sumber daya alam hutan dan rehabilitasi lahan. Seperti yang sudah dilakukan selama ini melalui berbagai gerakan dan kampanye. Di antaranya Gerakan Penananam Serentak Indonesia yang memiliki tema dan target tersendiri setiap tahunnya, serta Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Bagi negara, mekanisme perdagangan karbon tentunya menguntungkan. Keberhasilan dalam upaya menjaga, meningkatkan, dan mengembalikan kelestarian hutan yang dalam operasionalnya menghabiskan biaya yang tidak sedikit ternyata malah menghasilkan keuntungan dalam bentuk finansial. Tawaran Nyata Untuk Indonesia Jika selama ini perdagagan karbon masih dianggap sebagai wacana, tawaran yang paling nyata untuk perdagangan karbon datang belum lama dari Australia. Medio November 2008, Carbon Strategic Global (CSG) Australia menawarkan pembelian oksigen yang dihasilkan hutan di Sumatera Barat. Oksigen yang diusulkan itu diproduksi hutan lindung dalam wilayah 10 kabupaten dan satu kota di Sumatera Barat. Seluas 865.560 ha hutan lindung itu berada di Kabupaten Solok seluas 126.600 ha, di Solok Selatan 63.879 ha, Tanah Datar 31.120 ha, Pesisir Selatan 49.720 ha, Pasaman 232.660 ha, 50 Kota 151.713 ha dan Kabupaten Agam 34.460 ha. Lalu di Kabupaten Pasaman Barat 56.829 ha, Padang Pariaman 19.894 ha, Sijunjung 85.835 ha dan hutan lindung di Kota Padang yang luasnya 12.850 ha. CSG telah menawarkan kompensasi Rp 900 miliar per tahun untuk oksigen yang diproduksi hutanhutan lindung di Sumatera Barat tersebut. Jika perdagangan itu terealisasi, maka dana kompensasi akan diterima juga oleh pemerintah daerah yang memiliki kawasan hutan lindung dan menghasilkan oksigen. Dana yang cukup besar itu, selain menjadi pendapatan baru bagi daerah juga bisa dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan dan masyarakat adat pemilik ulayat hutan lindung. Sehingga upaya untuk menuju pemanfaatan hutan yang lestari untuk kemakmuran rakyat segera terwujud. Segala permasalahan seperti kasus pencurian kayu, pembakaran hutan, perambahan hutan dapat ditekan semaksimal mugkin, dampaknya tentu positif secara ekonomi dan sosial.