Anda di halaman 1dari 29

APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Moh. Mujib Zunun @lmisri

I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Masyarakat Indonesia sekarang ini dan dimasa mendatang merupakan
masyarakat yang berbudaya teknologi, yaitu bahwa perkembangan teknologi telah
berlangsung sedemikian rupa hingga tersebar luas dan memengaruhi segenap
bidang kehidupan.
Teknologi, sebagai struktur, proses, dan artefak, merupakan ciri imperative
perkembangan masyarakat masa depan. Mengingat bahwa teknologi itu
berkembang dan merupakan bagian integral dalam segala bidang kehidupan,
maka teknologi dalam bidang pendidikan harus pula dapat dikembangkan,
dikendalikan, dan didayagunakan untuk dapat membantu terwujudnya amanat
UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa.
Indonesia merupakan satu-satunya Negara yang unik kondisi geografinya
dimana untuk menjalin persatuan dan kesatuan bangsa peranan teknologi
komunikasi mempunyai arti yang sangat strategis. Angkasa dengan gelombang
elektromagnetik merupakan salah satu kekayaan alam, dan karena itu sesuai
dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Bab XIV Pasa 33 ayat (3) kekayaan
alam itu dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Jumlah penduduk yang senantiasa bertambah, meskipun dengan angka
pertumbuhan yang kian berkurang, menyiratkan bahwa makin bertambahnya
orang memerlukan pendidikan. Ditambah lagi dengan adanya perubahan yang
senantiasa berlangsung, yang menghendaki didik ulang atau pendidikan terus-
menerus bagi semua orang. Sementara itu sumber-sumber sedekala (tradisional)
makin terbatas, sehingga harus diciptakan sumber-sumber baru, termasuk sumber

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 1


untuk pendidikan. Bersamaan dengan itu sumber yang ada dan terbatas perlu
dimanfaatkan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna, yaitu untuk menjamin
terlaksananya amanat yang terkandung dalam Bab XIII Pasal 31 Ayat (1) Undang-
Undang Dasar 1945 agar tiap-tiap warganegara berhak mendapat pengajaran.

B. Rumusan Masalah
Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul “Aplikasi Teknologi
Pendidikan”, penulis membagi berdasarkan kisi-kisi sekaligus rumusan masalah
sebagai berikut :
o Apakah Pengertian Teknologi Pendidikan ?
o Bagaimana Aplikasi Teknologi Pendidikan ?
o Bagaimana Desain Sistem Pembelajaran Pendidikan Multikultural ?

C. Tujuan Penulisan Makalah


Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan
penulisan makalah ini diarahkan untuk :
1. Untuk mengetahui pengertian Teknologi Pendidikan
2. Untuk mengetahui Aplikasi Teknologi Pendidikan
3. Untuk mengetahui Desain Sistem Pemberlajaran Pendidikan Multikultural

D. Sistematika Penulisan Makalah


Sebagai langkah akhir dalam penulisan makalah ini, maka klasifikasi
sistematika penulisannya sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah, pembatasan
dan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Dibahas tentang tinjauan hakikat teknologi pendidikan, aplikasi teknologi
pembelajarn dan desain system pembelajaran pendidikan multikultural.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 2


Bab III : Merupakan bab terakhir dalam penulisan makalah ini yang berisikan
tentang kesimpulan.

II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknologi Pendidikan
Istilah teknologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Technologia” yang
menurut Webster Dictionary berarti systematematic treatment atau penanganan
sesuatu secara sistematis. Sedangkan Techne sebagai dasar kata teknologi berarti
art, skil, science yang berarti keahlian, keterampilan, dan ilmu. Jadi teknologi
pendidikan dapat diartikan sebagai penanganan atau pelaksanaan pendidikan
secara sistematis atau penerapan science untuk memecahkan masalah-masalah
pendidikan.1
Dalam bahasa Inggris digunakan istilah instructional technology atau
educational technology, yang mendefinisikan sebagai berikut, instructional
technology means tehe media born of the communications relatioan which can be
used for instructional purpose alongside the teacher, the book, and the
blackboard.2 (Teknologi pembelajaran adalah mengutamakan media komunikasi
yang berkembang secara pesat yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan selain
guru, buku, dan papan tulis).
Teknologi pendidikan / pembelajaran berdasarkan beberapa definisi dari
berbagai lembaga dan perkembangannya, adalah sebagi berikut :
o Council for educational Technology for the United Kingdom (CET)

1
S. Nasution, Teknologi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 1999), hal. 2
2
Ibid, hal. 1

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 3


Teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan, dan penilaian
system-sistem, teknik-teknik dan alat-alat Bantu untuk memperbaiki proses
belajar manusia.3
Dalam rumusan ini, fungsi pokok teknologi pendidikan adalah penerapan,
dengan obyek pengetahuan ilmiah atau hasil penelitian, dengan obyek dan
sasaran yang terdiri atas system-system, teknik-teknik dan alat-alat Bantu,
dengan maksud memperbaiki proses belajar yang dilakukan manusia.
o Commission on Instructional Technology 1970,
Teknologi pembelajaran adalah membuat agar suatu pembelajaran lebih
efektif dengan cara mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi secara
sistematis berdasarkan teori komunikasi dan belajar, serta memanfaatkan
segala sumber baik yang bersifat manusia maupun non manusia. Dengan
demikian, sejak tahun 1970-an, sudah ada pandangan bahwa manusia (dalam
hal ini guru) bukanlah satu-satunya sumber belajar.

o National centre for programmed,


Teknologi pendidikan adalah penerapan pengetahuan ilmiah tentang belajar
dan kondisi untuk memperbaiki efektifitas dan efisiensi pengajaran dan
latihan. Ketiadaan prinsip-prinsip yang dibangun secara ilmiah, teknologi
pendidikan melaksanakan teknik-teknik pengujian empiric untuk
memperbaiki situasi-situasi belajar.4
Dalam rumusan ini fungsi pokok teknologi pendidikan adalah penerapan
dengan obyek pengetahuan ilmiah atau hasil penelitian dalam bidang belajar
dengan maksud memperbaiki efektifitas dan efisiensi pengajaran dan latihan,
khususnya memperbaiki situasi-situasi belajar.
o Commission on Instructional Technology (USA)

3
Oemar Hamalik, Komputerisasi Pendidikan Nasional (Bandung : Mandar Maju, 1989), hal. 8
4
Ibid., hal. 9

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 4


Teknologi pendidikan adalah suatu cara sistematik tentang belajar dan
mengajar dalam kerangka-kerangka tujuan khusus, berdasarkan penelitian
dalam belajar dan komunikasi dan mendayagunakan sumber-sumber
manusiawi dan non manusiawi menuju pengajaran yang lebih efektif.5
o Association For Educational Communications and Technology (AECT-1972)
Teknologi pendidikan adalah suatu bidang / disiplin dalam memfasilitasi
belajar manusia melalui identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan
pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar dan melalui pengelolaan
proses kesemuanya itu.
Atau dapat dikatakan bahwa teknologi pendidikan adalah suatu disiplin ilmu
yang memfokuskan diri dalam upaya memfasilitasi belajar pada manusia. Jadi
obyek formal teknologi pendidikan menurut pengertian ini adalah bagaimana
memfasilitasi belajar. Melalui identifikasi, pengembangan, pengorganisasian
dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar. Disamping itu,
melalui pengelolaan yang baik dan tepat terdapat proses daripada
pengembagan, pengoganisasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh
sumber belajar tersebut.
o Association For Educational Communications and Technology (AECT-1977);
Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi
orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah
dan merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah
dalam aspek belajar manusia.6 Menurut pengertian ini bahwa formal teknologi
pendidikan adalah memecahkan masalah belajar manusia yang dilakukan
dengan cara menganalisis masalah terlebih dahulu, baru kemudian
melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah tersebut.
o Association For Educational Communications and Technology (AECT-1994);

5
Ibid.
6
Ibrahim, Teknologi Pendidikan (Arti, Kawasan dan Penerapannya di Indonesia), (Malang : FIP-IKIP
Malang 1985), hal. 2-3

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 5


Teknologi Instruksional adalah teori dan praktek dalam mendesain,
mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, dan menilai proses-proses
maupun sumber-sumber belajar. Definisi ini lebih operasional dari pada
rumusan tahun 1977 yang menurut saya terlalu rumit. Definisi ini menegaskan
adanya lima domain (kawasan) teknologi pembelajaran, yaitu kawasan desain,
kawasan pengembagnan, kawasan pemanfaatan, kawasan pengelolaan, dan
kawasan penilaian baik untuk proses maupun sumber belajar. Seorang
teknologi pembelajaran bisa saja memfokuskan bidang garapannya dalam
salah satu kawasan tersebut.
o Tom Cutchall (1999)
Teknologi pembelajaran merupakan penelitian dan aplikasi ilmu prilaku dan
teori belajar dengan menggunakan pendekatan system untuk melakukan
analisis, desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dn pengelolaan
penggunaan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan
kinerja. Tujuan utamanya adalah pemanfaatan teknologi (soft-technology
maupun hard-technology) untuk membantu memecahkan masalah belajar dan
kinerja manusia.
o AECT (2004):
Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi
pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan,
menggunakan / memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber
teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya masih tetap untuk memfasilitasi
pembelajaran (agar efektif, efisien dan menarik/joyfull) dan meningkatkan
kinerja.

Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa :


1. Teknologi pembelajaran / teknologi pendidikan adalah suatu disiplin/bidang
(field of study)

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 6


2. Istilah teknologi pembelajaran dipakai bergantian dengan istilah teknologi
pendidikan tujuan utama teknologi pembelajaran adalah (1) untuk
memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran; dan (2) untuk
meningkatkan kinerja.
3. Dalam mewujudkannya menggunaka pendekatan sistemik (pendekatan yang
holistic/komprehensif, bukan pendekatan yang bersifat parsial);
4. Kawasan teknologi pembelajaran dapat meliputi kegiatan yang berkaitan
dengan analisis, desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan,
implementasi dan evaluasi baik proses-proses maupun sumber-sumber belajar.
5. Teknologi pembelajaran tidak hanya bergerak di persekolahan tetapi juga
dalam semua aktifitas manusia (seperti perusahaan, keluarga, organisasi
masyarakat, dan lain-lain) sejauh berkaitan dengan upaya memecahkan
masalah belajar dan peningkatan kinerja.
6. Yang dimaksud dengan teknologi disini adalah teknologi dalam arti luas,
bukan hanya teknologi fisik (hardtech), tetapi juga teknologi lunak (softtech).

B. Aplikasi Teknologi Pendidikan


Apabila konsep atau pengertian teknologi pendidikan kita analisis, kita
akan memperoleh pedoman umum aplikasi sebagai berikut :
1. Memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi,
manajemen, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem.
2. Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak,
dengan memerhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan
diantaranya.
3. Digunakannya teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu
memecahkan masalah belajar.
4. Timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan
dan atau unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekadar penjumlahan.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 7


Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai
nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah.
Teknologi pembelajaran memiliki lima kawasan yang menjadi bidang
garapnya, baik sebagai objek formal maupun objek materinya, yaitu desain,
pengembangan, pemanfaatan, pengolahan, evalusi sumber dan proses belajar.
Oleh karenanya aplikasi teknologi pembelajaran juga tidak terlepas dari lima
kawasan tersebut. Seels dan Richey (1994) menjelaskan bahwa demi menjaga
keutuhan definisi (teknologi pembelajaran) kegiatan-kegiatan dalam setiap
kawasan teknologi pembelajaran dapat dikaitkan baik kepada proses maupun
sumber pembelajaran.7
Masih menurut Seels dan Richey (1994),8 dalam Teknologi Pembelajaran
praktik sangat berpengaruh terhadap evolusi bidang tersebut, bahkan lebih besar
daripada teorinya. Mempraktikkan Teknologi pembelajaran akan berhadapan
dengan elemen-elemen yang memudahkan atau menyulitkan praktik itu sendiri.
Elemen-elemen tersebut yaitu: 1) jenis materi pembelajaran; 2) sifat atau
karakteristik pembelajar; 3) organisasi di mana pembelajaran berlangsung; 4)
kemampuan sarana yang tersedia; dan 5) keahlian para praktisi.
Dimensi praktik teknologi pembelajaran sejalan dengan perkembangan
teknologi. Pada tahun 30-an ketika komputer elektronik pertama berhasil
diciptakan, teknologi pembelajaran berkembang pesat sejalan dengan teknologi
tersebut. Teknologi ini melahirkan berbagai alat yang merubah dunia dalam
berbagai aspeknya, mulai dari bom atom dalam mengakhiri Perang Dunia II
hingga Internet sebagai jaringan informasi publik global yang mampu
menghubungkan jutaan orang di seluruh penjuru dunia hanya melalui komputer
yang terhubung dengan jaringan. Fenomena yang juga banyak disebut sebagai
revolusi digital inilah yang mampu meyakinkan banyak orang bahwa peradaban

7
Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya.
Penerjemah Dewi S. Prawiradilaga dkk. Jakarta: Kerjasama IPTPI LPTK UNJ., hal. 122.
8
Ibid., hal. 103.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 8


umat manusia akan segera memasuki sebuah era baru yang diintrodusir sebagai
era informasi.
Seiring dengan perkembangan pesat Teknologi Pembelajaran tersebut,
berkembang pula tempat kerja para teknolog pembelajaran. Hal ini juga
mempunyai dampak terhadap keyakinan, nilai-nilai dan prioritas dalam bidang
teknologi pembelajaran. Dampak ini pada akhirnya juga mempengaruhi
perkembangan pola dan ragam praktik teknologi pendidikan, namun hal ini tidak
mempengaruhi secara signifikan terhadap struktur dasar bidang studi. Kelima
kawasan umum dalam Teknologi Pembelajaran masih tetap sesuai dengan konteks
masing-masing kerja. Dampak kecil tersebut umumnya dapat diamati pada
sumber yang digunakan, isi yang digarap, dan kadang-kadang proses yang
dilaksanakan. Teknologi Pembelajaran telah berkembang dari ‘sekedar
keterampilan’ menjadi profesi dan kemudian menjadi bidang kajian.
Perlu diperhatikan dalam perkembangan pesat teknologi pembelajaran ini,
salah satunya adalah praktik teknologi pembelajaran harus tetap memperhatikan
kawasan dan memegang konsep utama yang membatasinya serta memanfaatkan
dukungan dari pelbagai ilmu lain yang relevan (Atwi Suparman dalam
Budiningsih, 2000).9 Miarso (2004) menambahkan bahwa teknologi, termasuk
teknologi pendidikan harus memililiki ciri: 1) proses untuk meningkatkan nilai
tambah (added values); 2) menghasilkan dan memanfaatkan produk yang
bervariasi dan semakin canggih; dan 3) interaksi proses dan produk tersebut
sebagai suatu sistem dengan lingkungannya sebagai suatu sistem yang lebih
luas.10
Berkaitan dengan kawasan dan konsep utama serta ciri teknologi
pembelajaran, tema makalah ini berada di kawasan Desain, dengan fokus pada
Desain Sistem Pembelajaran (DSP). Desain Sistem Pembelajaran adalah prosedur
yang terorganisasi yang meliputi langkah-langkah penganalisaan, perancangan
9
Budiningsih, C. Asri. 2000. Kerangka Perkuliahan dan Bahan Pembelajaran Dasar-dasar Teknologi
Pendidikan. Yogyakarta. Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNY
10
Miarso, Yusuf Hadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana, hal. 198

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 9


pengembangan, pengaplikasian dan penilain pembelajaran. Penganalisaan adalah
adalah proses perumusan apa yang akan dipelajari; perancangan adalah proses
penjabaran bagaimana hal tersebut akan dipelajari; pengembangan adalah proses
penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan pembelajaran; pelaksanaan
adalah pemanfaatan bahan dan strategi yang bersangkutan; dan penilaian adalah
proses penentuan ketepatan pembelajaran.11
Aplikasi teknologi pendidikan secara khusus dalam PSDM terlalu banyak
untuk disebutkan satu per satu dalam tulisan ini. Pada tahun 1980 AECT (sebagai
organisasi profesi Teknologi Pendidikan yang berpusat di Amerika Serikat)
bekerja sama dengan NSPI (National Society for Performance of Instruction)
membentuk suatu joint task force untuk menyusun standar dalam bidang desain
dan pengembangan instruksional, khususnya untuk keperluan PSDM. Joint task
force ini kemudian dilebur dalam suatu lembaga baru yang disebut International
Board of Standards for Training, Performance, and Instruction (IBSTPI) pada
tahun 1985. IBSTPI antara lain merumuskan kompetensi dasar bagi instruktur
PSDM, yaitu :12
1. Menganalisis bahan belajar dan informasi pembelajar.
2. Mempersiapkan tempat untuk kegiatan instruksional.
3. Menentukandan mempertahankan kredibiltas instruktur.
4. Mengelola lingkungan belajar.
5. Mendemonstrasikan keterampilan berkomunikasi yang efektif.
6. Mendemonstrasikan keterampilan presentasi yang efektif
7. Mendemonstrasikan keterampilan dan teknik bertanya yang efektif.
8. Merespons kebutuhan belajar dengan senantiasa mengusahakan umpan balik.
9. Memberikan penguatan dan dorongan untuk belajar.
10. Menggunakan metode instruksional dengan semestinya.

11
Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran…………….., hal. 33.
12
Gilley, Jerry W. dan Steven A. Eggland, 1989, Princeples of Human Resource Development,
Reading, MA : Addison-Sesley Publishing Company Inc. : 30, 371-372

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 10


11. Menggunakan media instruksional secara efektif.
12. Mengevaluasi kinerja pembelajar.
13. Mengevaluasi pembelajaran.
14. Melaporkan hasil penilaian.

Apabila kita memakai pendekatan dengan menganalisis model kawasan


teknologi pendidikan, aplikasi itu dapat berupa pelaksanaan fungsi pengembangan
pendidikan / instruksional meliputi :13
1. Pengakajian karakteristik dan kondisi SDM.
2. Pengkajian kemampuan SDM yang diharapkan.
3. Pengkajian kebutuhan pendidikan/latihan.
4. Perencanaan program pendidikan/latihan.
5. Pengembangan materi pendidikan/latihan.
6. Pembuatan media instruksional.
7. Penyusunan strategi instruksional.
8. Pemilihan dan penerapan teknik pembelajaran.
9. Penyebaran/penyajian pelajaran.
10. Penilaian program, proses, dan hasil pendidikan/latihan.

Sistem pembelajaran yang inovatif, sebagai bentuk penerapan konsep


teknologi pendidikan, telah berhasil diciptakan dan bahkan dilembagakan dalam
system pendidikan nasional. System itu antara lain adalah Sekolah Dasar PAMONG(
Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua, dan Guru), Sekolah Dasar Kecil, SMP
Terbuka, serta system pembelajaran jarak jauh yang sekarang ini telah
dilaksanakan/direncanakan oleh berbagai lembaga pendidikan dan latihan seperti di

13
Miarso,Yusufhadi, Menyemai Benih……………………, hal. 78-79

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 11


Lembaga Pendidikan Perbankan (LPPI), PT Telkom, departemen Kesehatan,
Departemen Penerangan, Departemen Pekerjaan Umum, dan sebagainya.14
Berbagai komponen teknologi pendidikan seperti media, teknik pembelajaran,
pengembangan pembelajaran, dan sebagainya telah pula dilakukan oleh lembaga
pendidikan dan pelatihan, seperti misalnya di Pusdiklat TNI-AD dan AU, Balai
Latihan Kerja Departemen Tenaga Kerja, Pusdiklat Garuda, Pusdiklat Bulog, dan
sejumlah pusdiklat lain. Di kalangan perguruan tinggi teknologi pendidikan telah dan
sedang dimanfaatkan di IPB, ITB, UNDIP, UGM, UNS, UNAIR, ITS, UNHAS,
UNLAM, UNPATI, UNTAD, UNHALU, UNSRAT, UNCEN, IKIP Medan, IKIP
Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP
Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Ujung Pandang. Tak terhitung lagi pemanfaatannya
di sekolah dasar dan menengah serta satuan pendidikan lain. Yang terakhir ini
berkembang dengan adanya siaran televise pendidikan.
Sebagaimana tercantum dalam UUSPN Pasal 30 setiap tenaga kependidikan
yang bekerja pada satuan pendidikan mempunyai hak untuk menggunakan sarana,
prasarana, dan fasilitas pendidikan yang lain dalam melaksanakan tugasnya. Sarana,
prasarana, dan fasilitas pendidian itu perlu disediakan, dikembangkan dan
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya supaya diperoleh efektifitas dan efisiensi yang
tinggi. Media pendidikan sebagai salah satu bentuk sarana pendidikan telah pula
ditentukan dalam GBHN 1988 untuk terus dikembangkan dan dimanfaatkan (MPR-
RI, 1988 : halaman. 70)

Jelaslah bahwa untuk membantu memecahkan masalah pendidikan dan


pelatihan dengan kondisi unik Indonesia, serta untuk menyerasikan perkembangan
teknologi dengan dampak globalisasi, diperlukan usaha sinergistik yang memadukan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, informasi, dan social-
ekonomi. Kesemuanya ini merupakan bidang kompetensi teknologi pendidikan.

14
Miarso,Yusufhadi, Menyemai Benih…………………, hal. 94-96

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 12


Untuk itu mutlak diperlukan tenaga profesi yang mahir dan ahli dalam teknologi
pendidikan.
Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia
berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar
lebih efektif, lebih efesien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat, dan sebagainya.
Untuk itu ada produk yang sengaja dibuat ada yang ditemukan dan di manfaatkan.
Namun perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat akhir-
akhir ini dan menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan,
telah membalik cara berpikir kita dengan “ bagaimana menganbil manfaat teknologi
tersebut untuk mengatasi masalah belajar “.
Berkembangnya penerapan teknologi pendidikan boleh dikatakan berasal dari
Amerika Serikat. Pada awal perkembangan sekitar ratusan tahun yang lalu teknologi
itu dikenal sebagai cara mengajar dengan menggunakan alat peraga hasil buatan
sendiri oleh guru di sekolah. Tiga puluh tahun kemudian (sekitar tahun 1930)
penggunaan alat peraga itu berkembang dengan diproduksinya secara massal media
belajar-pengajaran untuk digunakan disekolah secara meluas. Sepuluh tahun
kemudian, saat Amereka Serikat terlibat dalam PD II, diperlukan banyak sekali
tenaga terampil dalam mengoperasikan dan menangani peralatan perang. Untuk itu
diperlukan latihan yang efektif dalam waktu yang pendek dan dapat diulang sesering
mungkin. Dikembangkanlah cara pelatihan dengan menggunakan berbagai media dan
simulator untuk keperluan pelatihan personel angkatn bersenjata tersebut. Mulailah
dikenal istilah teknologi kinerja (performance technology).
Seusai PD II mulai dikembangkan pengalaman di kalangan angkatan
bersenjata tersebut untuk keperluan pendidikan dan pelatihan. Dalam lingkungan
sekolah dan perguruan tinggi mulai dibangun suatu lembaga yang dipisahkan dari
perpustakaan, dengn menyediakan dan mengembangkan media pengajaran dan diberi
nama Pusat Sumber Belajar. Program studi atau keahlian dalam teknologi pendidikan
mulai dibuka di beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 13


Namun pendidikan dalam lingkungan sekolah ini lebih berorientasi teoritis
dan mengganggap fungsinya adalah mempersiapkan peserta didik untuk masa depan
yang siap latih. Padahal dengan semakin berkembangnya kegiatan social ekonomi
diperlukan tenaga yang kompeten lebih banyak dan cepat. Hal ini memicu tumbuh
dan berkembangnya lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pelatihan dan kursus
sebagai upaya pendidikan berkelanjutan yang bersifat terapan. Lembaga-lembaga ini
ada yang berdiri sendiri, namun banyak yang merupakan bagian dari organisasi
bisnis, industri dan public, serta organisasi pemerintah. Untuk mereka ini lebih tepat
digunakan istilah “teknologi pembelajaran”, karena mereka lebih berkepentingan
dalam membelajarkan orang dalam lingkungan kerja mereka sendiri atau
pembelajaran untuk penguasaan suatu kompetensi tertentu. Perkembangan ini dapat
digambarkan seperti pada gambar berikut :
Di Indonesia sendiri penerapan teknologi pembelajaran tidak jauh berbeda
dengan perkembangan seperti halnya di amerika Serikat, hanya terpaut waktu yang
cukup lama. Perkembangan itu boleh dikatakan baru dikenal sekitar awal tahun 1950,
dengan didirikannya Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) dan Balai Alat
Peraga Pendidikan (BAPP) di Bandung. BKTPG yang sekarang menjadi Pusat
Pengembangan Penataran Guru Tertulis (P3G Tertulis) bertanggung jawab untuk
menyelenggarakan penataran kualifikasi guru dengan bahan pelajaran tertulis dengan
berpegangan pada konsep belajar mandiri. BAPP pada awal tahun 1970
diintegrasikan dengan Pusat Pengaembangan Penataran Guru bidang studi.
Beberapa bentuk penerapan teknologi pembelajaran secara menyeluruh, yaitu
yang meliputi semua komponen dan karena itu merupakan system dapat dicontohkan
sebagai berikut :15
o Proyek percontohan system PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang
tua, dan Guru) di Kabupaten Karanganyar, Surakarta pada tahun 1974, dan
disebarkan di Kabupaten Malang dan Gianyar pada tahun 1978.

15
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih………………………….., hal. 171-174

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 14


o Pemasyarakatn P4 melalui permainan yang diujicobakan di Kabupaten Batu,
Malang.
o Proyek Pendidikan Melalui Satelit (Rural Satellite Project) di Perguruan tinggi
wilyah Indonesia bagian Timur (BKSPT INTIM).
o Program Pendidikan karakter melalui serial televise ACI (Aku Cinta Indonesia =
Amit, Cici, Ito) = serial televise (pendidikan) pertama (dan terakhir).
o Program KEJAR Paket A dan B
o Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
o SLTP Terbuka
o Universitas Terbuka
o Sistem Belajar Jarak Jauh yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga
pendidikan dan pelatihan.
o Jaringan system belajar jarak jauh (Indonesian Distance Learning Network =
IDLN) dan SEAMOLEC 9SEAMEO Open Learning Center) yang berkedudukan
di Pustekkom Diknas.

C. Desain Sistem Pembelajaran Pendidikan Multikultural


Pengertian Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi
dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis
multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk
memahami dan menghargai keberagaman. Menurut Tilaar (dalam Atmajaya.ac.id,
2006),16 pengembangan model pendidikan berbasis multikultural diharapkan
mampu menjadi salah satu metode efektif meredam konflik. Selain itu,
pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran

16
Atmajaya.ac.id. 2006. Pendidikan Multikultural Tanamkan Sikap Menghargai Keragaman. Diakses
melalui www.atmajaya.ac.id/content.asp tanggal 11 Desember 2008.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 15


peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, agama, ras,
dan antargolongan.
Inti dari pendidikan multikultural adalah kultur itu sendiri. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, kultur secara sederhana diartikan sebagai kebudayaan
(Depdiknas, 2001: 611). Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang
diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta
menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber
bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga
atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Kebudayaan itu
diselimuti oleh nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut
adalah pada pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh
setiap manusia (Geertz,2006).17
Dalam pengalaman dan proses belajar, sesungguhnya manusia
memperoleh serangkaian pengetahuan mengenai simbol-simbol. Simbol adalah
segala sesuatu (benda, peristiwa, kelakuan atau tindakan manusia, ucapan) yang
telah ditempeli sesuatu arti tertentu menurut kebudayaan yang bersangkutan.
Simbol adalah komponen utama perwujudan kebudayaan karena setiap hal yang
dilihat dan dialami oleh manusia itu sebenarnya diolah menjadi serangkaian
simbol-simbol yang dimengerti oleh manusia. Sehingga Geertz (1966)18
menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah suatu sistem pengetahuan
yang mengorganisasi simbol-simbol. Dengan adanya simbol-simbol ini
kebudayaan dapat dikembangkan karena sesuatu peristiwa atau benda dapat
dipahami oleh sesama warga masyarakat hanya dengan menggunakan satu istilah
saja. Dalam setiap kebudayaan, simbol-simbol yang ada itu cenderung untuk
dibuat atau dimengerti oleh para warganya berdasarkan atas konsep-konsep yang
mempunyai arti yang tetap dalam suatu jangka waktu tertentu. Dalam
menggunakan simbol-simbol, seseorang biasanya selalu melakukannya
17
Kuliah.dinus.ac.id, 2006. Konsep Kebudayaan. Diakses dari http://kuliah.dinus.ac.id/ edi-
nur/mbbi/bab3.html tanggal 8 November 2008.
18
Ibid.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 16


berdasarkan aturan-aturan untuk membentuk, mengkombinasikan bermacam-
macam simbol, dan menginterpretasikan simbol-simbol yang dihadapi atau yang
merangsangnya. Kalau serangkaian simbol-simbol itu dilihat sebagai bahasa,
maka pengetahuan ini adalah tata bahasanya. Dalam antropologi budaya,
pengetahuan ini dinamakan kode kebudayaan.
Menurut Spradley (1972)19 kebudayaan dapat secara operasional
merupakan sebuah resep. Di mana kebudayaan menghasilkan kelakuan dan
benda-benda kebudayaan tertentu, sebagaimana yang diperlukan sesuai dengan
motivasi yang dipunyai ataupun rangsangan yang dihadapi. Resep-resep yang ada
dalam setiap kebudayaan terdiri atas serangkaian petunjuk-petunjuk untuk
mengatur, menyeleksi, dan merangkaikan simbol-simbol yang diperlukan,
sehingga simbol-simbol yang telah terseleksi itu secara bersama-sama dan diatur
sedemikian rupa diwujudkan dalam bentuk kelakuan atau benda-benda
kebudayaan sebageimana diinginkan oleh pelakunya. Di samping itu, dalam
setiap kebudayaan juga terdapat resep-resep yang antara lain berisikan
pengetahuan untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai
sesuatu dengan sebaik-baiknya, berbagai ukuran untuk menilai berbagai tujuan
hidup dan menentukan mana yang terlebih penting, berbagai cara untuk
mengidentifikasi adanya bahaya-bahaya yang mengancam dan asalnya, serta
bagaimana mengatasinya.
Budaya sebagai nilai, simbol, ataupun resep, akan memberikan makna
bahwa pembelajaran dengan berbasis budaya setempat di mana si pebelajar hidup
adalah sangat efektif. Hal ini disebabkan budaya lokal di mana si pebelajar hidup
sudah sangat akrab, menyatu dan riil, yang artinya dialaminya berkali-kali.
Dengan menggali kembali/memanggil kembali budaya yang telah dialaminya dan
sedang dijalaninya dan merekonstruksi ulang sebagai kesatuan ‘materi’ tertentu
akan terjadi pemahaman baru, yang sangat mungkin pada gilirannya sikap baru
(sebagai hasil belajar).
19
Ibid.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 17


Untuk membuat pembelajaran berbasis budaya (yang berhasil), maka
unsur-unsur dalam kebudayaan itu sendiri harus dipahami sepenuhnya.
Sebagaimana menurut Conrad P. Kottak (dalam Ghofur, 2006), kebudayaan
memiliki karakter-karakter khusus, yaitu:20
Pertama, kultur adalah sesuatu yang spesifik dan general sekaligus. Dalam
kondisi bagaimanapun, secara general setiap manusia memiliki kultur. Namun
secara spesifik, kultur pada kelompok manusia berbeda antara satu dan lainnya
tergantung pada kelompok mana kultur itu berada. Pendek kata, setiap manusia
mempunyai kultur, dan mereka hidup dalam kulturnya masing-masing. Maka,
sulit dibantah bahwa masyarakat di Yogyakarta, misalnya, memiliki kultur yang
berbeda dengan masyarakat di Jawa Timur.
Kedua, kultur adalah sesuatu yang dipelajari. Di sini kultur terbentuk oleh
ritus kegiatan yang dilakukan secara intens dan simultan oleh sekelompok
masyarakat. Kultur lahir karena improvisasi kolektif yang secara alamiah
mengikat pelakunya dalam satu kesatuan yang utuh. Dengan demikian, kultur
terjadi karena sebuah rutinas, dilakukan berulang-ulang, persis sebagaimana
seorang anak meniru kebiasaan orangtuanya.
Ketiga, kultur adalah sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama yang
menjadi atribut bagi individu sebagai anggota dari kelompok masyarakat tertentu.
Kultur, secara alamiah, ditransformasikan melalui masyarakat.
Keempat, kultur adalah sebuah model. Artinya, kultur bukanlah
sekumpulan adat istiadat dan kepercayaan yang hampa makna. Kultur disatukan
oleh sistem-sistem yang tersusun secara jelas. Adat-istiadat, kepercayaan, dan
nilai-nilai adalah sesuatu yang saling berkait kelindan antara satu lainnya.
Kelima, kultur adalah sesuatu yang bersifat adaptif. Dengan kata lain,
kultur merupakan proses bagi sebuah populasi untuk membangun hubungan yang

20
Ghofur, Saiful Amin. 2006. KTSP dan Pendidikan Multikultural. Opini dalam Buletin Safiria.
Yogyakarta, Magister Studi Islam UII.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 18


baik dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga, semua anggota melakukan usaha
maksimal untuk bertahan hidup dan melanjutkan keturunan.
Andersen dan Cusher (dalam Ghofur: 2006)21 mengatakan bahwa
multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Posisi
kebudayaan masih sama dengan apa yang dikemukakan dalam sejumlah definisi
di atas, yaitu keragamaan kebudayaan menjadi sesuatu yang dipelajari, jadi
berstatus sebagai objek studi. Dalam pengertian ini, pendidikan multikultural
diharapkan mampu menyuntikkan kesadaran sekaligus pengakuan siswa terhadap
berbagai perbedaan kultur tersebut. Fokusnya adalah pada pemahaman dan hidup
dengan perbedaan sosial dan budaya, baik secara individual maupun secara
kelompok dan masyarakat. Individu dilihat sebagai refleksi dari kesatuan sosial
dan budaya di mana mereka menjadi bagian darinya.
Bertolak dari preposisi tersebut, Baidhawi (2005) merumuskan
kompetensi yang hendak dicapai dalam pendidikan multikultural adalah:22 1)
mengembangkan kompetensi akademik standar dan dasar (standard and basic
academic skills) tentang nilai-nilai persatuan-kesatuan, demokrasi, keadilan,
kebebasan, persamaan derajat atau saling menghargai dalam keragaman budaya;
2) mengembangkan kompetensi sosial agar dapat menumbuhkan pemahaman (a
better understanding) tentang latar belakang budaya sendiri dan budaya lain
dalam masyarakat; 3) mengembangkan kompetensi akademik untuk menganalisis
dan membuat keputusan yang cerdas (intelligent decisions) tentang isu-isu dan
masalah keseharian (real-life problems) melalui sebuah proses demokratis atau
inkuiri dialogis (dialogical inquiry); dan 4) membantu mengkonseptualisasi dan
mengaspirasikan sebuah masyarakat yang lebih baik, demokratis dan memiliki
persamaan derajat.

21
Ibid.
22
Baidhawi, Zakiyuddin. 2005. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta: Erlangga., hal.
7-9

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 19


Penulis sepakat dengan Ghofur (2006) yang merumuskan bahwa
tujuan proyek pendidikan multikultural, yaitu:23 1) memahami latar belakang diri
dan kelompok dalam masyarakat; 2) menghormati dan mengapresiasi
kebhinekaan budaya dan sosio-historis etnik; 3) menyelesaikan sikap-sikap yang
terlalu etnosentris dan penuh purbasangka; 4) memahami faktor-faktor sosial,
ekonomis, psikologis, dan historis yang menyebabkan terjadinya polarisasi etnik
ketimpangan dan keterasingan etnik; 5) meningkatkan kemampuan menganalisis
secara kritis masalah-masalah rutin dan isu melalui proses demokratis melalui
sebuah visi tentang masyarakat yang lebih baik, adil dan bebas; dan 6)
mengembangkan jati diri yang bermakna bagi semua orang.
Secara operasional, kompetensi pendidikan multikultural yang
dirumuskan oleh Baidhawi dan tujuan pendidikan multikultural yang dirumuskan
Ghofur tersebut dapat dijadikan sebagai langkah penganalisaan untuk
merumuskan apa yang akan dipelajari. Selain itu, deskripsi tentang pendidikan
multikultural ini mempunyai dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai isi pesan dari
desain sistem pembelajaran dan sekaligus memperkuat bahwa budaya sebagai
basis pembelajaran adalah efektif.

Desain Sistem Pembelajara Pendidikan Multikultural


Sebagaimana diungkap di depan, Desain Sistem Pembelajaran adalah
prosedur yang terorganisasi yang meliputi langkah-langkah: 1) penganalisaan,
yaitu proses perumusan apa yang akan dipelajari; 2) perancangan, yaitu proses
penjabaran bagaimana hal tersebut akan dipelajari; 3) pengembangan, yaitu
proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan pembelajaran; 4)
pelaksanaan, yaitu pemanfaatan bahan dan strategi yang bersangkutan; dan 5)
penilaian, yaitu proses penentuan ketepatan pembelajaran.
1. Pendekatan Desain Sistem Pembelajaran

23
Ghofur, Saiful Amin. 2006. KTSP ………………………., hal. 10

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 20


Proses perumusan yang akan dipelajari telah dideskripsikan pada bagian-
bagian di depan. Untuk langkah kedua, perancangan, yaitu proses bagaimana
hal tersebut dipelajari, penulis sepakat dengan Harto (2006) yang berpendapat
bahwa untuk pendidikan multikultural perlu dibuat pendekatan alternatif
ketiga yang berbeda dengan dua pendekatan yang selama ini dipakai, yaitu :
Pertama, pendekatan dogmatik (dogmatic approuch), yaitu
pendekatan yang melihat pendidikan agama di sekolah sebagai media
transmisi ajaran dan keyakinan agama tertentu semata secara "ecclesiastical".
Tujuannya adalah terwujudnya komitmen dogmatik peserta didik terhadap
agamanya.
Kedua, pendekatan ilmu-ilmu sosial (social studies approuch), yaitu
pendekatan yang melihat pendidikan agama di sekolah sebagai mata pelajaran
seperti mata pelajaran lainnya (ilmu-ilmu sosial) dan materi agama yang
diajarkan dilihat sebagai sesuatu yang sekuler seperti halnya yang dilakukan
oleh ilmu antropologi dan sosiologi. Kedua pendekatan itu sama-sama
mengandung kelemahan. Kelemahan pendekatan pertama terletak pada
potensinya untuk menumbuhkan fanatisme keagamaan yang tidak pada
tempatnya. Sedangkan kelemahan pendekatan kedua terletak pada
kecenderungan sekulernya, sehingga tidak mendorong bagi terwujudnya
penganut agama yang baik.
Pendekatan ketiga yang dimaksud oleh Harto adalah pendekatan
perencanaan sosial (social plannning approach), yaitu pendekatan yang
mendorong pemahaman dan komitmen peserta didik terhadap agama yang
dipeluknya, dan pada waktu yang sama juga mendorong lahirnya sikap
menghormati pemeluk dan ajaran agama lain untuk saling berdampingan
dalam kemajemukan. Pendekatan ini perlu dirumuskan aspek-aspeknya.
Pertama, apa yang disebut dengan multikulturalisme itu, apa saja materinya,
keragaman agama atau keragaman budaya, apakah bersifat kognitif, atau
bersifat pendekatan pembelajaran, berapa porsinya, dan sebagainya. Kedua,

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 21


bagaimana metode guru agama dalam proses pembelajarannya, guru yang
bagaimana yang mampu mengajarkannya, diklat apa yang diperlukan oleh
para guru agama itu, dan sebagainya. Ketiga, sarana apa saja yang dapat
mendukung wawasan multikulturalisme itu, buku sumber belajar yang
bagaimana, alat belajar-mengajar apa dan bagaimana yang diperlukan dan
sebagainya. Keempat, lingkungan sosial yang bagaimana yang diperlukan
untuk mendukung wawasan multikultural itu.
Selain pendekatan sebagaimana telah terurai di atas, strategi
pembelajaran yang digunakan guru juga mempunyai peran penting dalam
membentuk sikap dan perilaku peserta didik dalam konteks multikultural.
Menurut Cushner, pendidikan hendaknya memadukan pengalaman-
pengalaman berikut, yakni mempelajari bagaimana dan di/ke mana
memperoleh tujuan, informasi yang akurat mengenai kelompok budaya lain :
o mengidentifikasi dan menguji pandangan yang positif dari kelompok atau
individu yang berbudaya lain;
o mempelajari toleransi terhadap keragaman melalui eksperimentasi di
sekolah dan ruang kelas dengan kebiasaan dan praktik alternatif;
o menghadapi, jika mungkin, pengalaman positif dari tangan pertama
dengan kelompok budaya yang berbeda;
o mengembangkan perilaku empatik melalui strategi bermain peran dan
simulasi; dan mempraktikkan penggunaan “kaca mata perspektif”, yaitu,
dengan melihat sebuah peristiwa, kurun sejarah, atau isu melalui
perspektif dari kelompok budaya lain (Cushner: 1993: 56 dalam Harto,
2006).24

24
Harto, Kasinyo. 2006. Membangun Pola Pembelajaran Berwawasan Multikultural. Opini di Radar
Banjarmasin. Diakses melalui http://www.radarbanjarmasin.
com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=64636. tanggal 11 Desember 2008.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 22


Berkaitan dengan apa yang dikemukana oleh Cushner tersebut, pendidik
dituntut untuk secara tepat memilih strategi pembelajaran dalam komunitas
yang majemuk. Peserta didik harus dibiasakan melihat persoalan dari berbagai
pendekatan dan perpektif. Ia harus dapat menjelaskan dan memberikan
pengertian bahwa perbedaan dan keragaman merupakan hal yang biasa dan
sebuah keniscayaan, upaya penyeragaman merupakan bentuk pengingkaran
terhadap sunatullah. Karena itu pendekatan pembelajaran tidak monolitik;
bahwa seolah-olah kebenaran pendapat hanya miliknya, seolah pendapat
pihak lain yang kebetulan berbeda pendekatan adalah keliru dan sesat. Strategi
pembelajaran ini harus diterapkan ketika guru membahas persoalan
keagamaan maupun persoalan budaya.
Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang dapat dijadikan
catatan. Pertama, pendidikan agama yang diajarkan pada lembaga pendidikan
perlu dilakukan reformulasi pola pendekatan pembelajaran dengan
menyesuaikan pada konteks multikultural. Sebab, munculnya berbagai kasus
konflik dan kerusuhan masa yang bernuansa etnis dan agama lebih disebabkan
oleh minimnya wawasan pemahaman terhadap keragaman budaya yang sudah
menjadi keniscayaan. Kedua, perlunya merubah paradigma pembelajaran
agama yang selama ini dianut oleh sebagian umat beragama, sebab paradigma
yang selama ini dijalankan ternyata lebih cenderung membentuk manusia
beragama yang bersikap intoleran, eksklusif, egois, close-minded, dan
berorientasi pada kesalehan individu. Karena itu, menghadapi kehidupan
masyarakat yang multikultural ini, selain pendidikan dengan paradigma to
think, to do dan to be, juga perlu paradigma to live together.
2. Aspek Desain Bahan Pembelajaran
Langkah ketiga dalam Mendesaian Sistem Pembelajaran adalah
pengembangan, yaitu proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-
bahan pembelajaran. Proses penulisan bahan pembelajaran harus
memperhatikan hal-hal berikut:

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 23


a. Kejelasan tujuan pembelajaran (realistis dan terukur);
b. Relevansi tujuan pembelajaran dengan Kurikulum/SK/KD;
c. Ketepatan penggunaan media yang sesuai dengan tujuan dan materi
pembelajaran;
d. Kesesuaian materi, pemilihan media dan evaluasi (latihan, test, kunci
jawaban) dengan tujuan pembelajaran;
e. Sistematika yang runut, logis, dan jelas;
f. Interaktivitas;
g. Penumbuhan motivasi belajar;
h. Kontekstualitas;
i. Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar;
j. Kejelasan uraian materi, pembahasan, contoh, simulasi, latihan;
k. Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran;
l. Relevansi dan konsistensi alat evaluasi;
m. Pemberian umpan balik terhadap latihan dan hasil evaluasi.
3. Aspek Rekayasa Perangkat Lunak dalam Pemanfaatan Bahan dan Strategi
Langkah ketiga dalam Mendesain Sistem Pembelajaran adalah pemanfaatan
bahan dan strategi pembelajaran yang telah disusun dalam proses
pembelajaran. Proses pemanfaatan bahan dan strategi tersebut harus
memperhatikan hal-hal berikut:
a. Efektif dan efisien dalam pengembangan maupun penggunaan media
pembelajaran;
b. Reliabilitas (kehandalan);
c. Maintainabilitas (dapat dipelihara/dikelola dengan mudah);
d. Usabilitas (mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya);
e. Ketepatan pemilihan jenis aplikasi/software/tool untuk pengembangan;
f. Kompatibilitas (media pembelajaran dapat diinstalasi/dijalankan
diberbagai hardware dan software yang ada);

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 24


g. Pemaketan program media pembelajaran terpadu dan mudah dalam
eksekusi;
h. Dokumentasi program media pembelajaran yang lengkap meliputi:
petunjuk instalasi (jelas, singkat, lengkap), trouble shooting (jelas,
terstruktur, dan antisipatif), desain program (jelas dan menggambarkan
alur kerja program);
i. Reusabilitas (sebagian atau seluruh program media pembelajaran dapat
dimanfaatkan kembali untuk mengembangkan media pembelajaran lain).
4. Aspek Komunikasi Visual
Selain harus memperhatikan aspek-aspek di atas, langkah pemanfaatan juga
dapat menggunakan komunikasi visual sebagai strategi pembelajaran, dengan
memperhatikan hal-hal berikut:
a. Komunikatif: visualisasi mendukung materi ajar, agar mudah dicerna oleh
siswa;
b. Kreatif: visualisasi diharapkan disajikan secara unik dan tidak klise (sering
digunakan), agar menarik perhatian;
c. Sederhana: visualisasi tidak rumit, agar tidak mengurangi kejelasan isi
materi ajar dan mudah diingat;
d. Unity: menggunakan bahasa visual yang harmonis, utuh, dan senada, agar
materi ajar dipersepsi secara utuh (komprehensif);
e. Penggambaran objek dalam bentuk image (citra) yang representatif;
f. Pemilihan warna yang sesuai, agar mendukung kesesuaian antara konsep
kreatif dan topik yang dipilih;
g. Tipografi (font dan susunan huruf), untuk memvisualisasikan bahasa
verbal agar mendukung isi pesan, baik secara fungsi keterbacaan maupun
fungsi psikologisnya;
h. Tata letak (lay-out): peletakan dan susunan unsur-unsur visual terkendali
dengan baik, agar memperjelas peran dan hirarki masing-masing unsur
tersebut;

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 25


i. Unsur visual bergerak (animasi dan/atau movie), animasi dapat
dimanfaatkan untuk mensimulasikan materi ajar dan video untuk
mengilustrasikan materi secara nyata;
j. Navigasi (icon) yang familiar dan konsisten agar efektif dalam
penggunaannya.
5. Penilaian, Umpan Balik dan Perbaikan Terus Menerus
Langkah kelima dalam mendesain sistem pembalajaran adalah penilaian, yaitu
proses penentuan ketepatan pembelajaran. Setiap bab menyajikan
rangkuman/kesimpulan dan atau soal latihan untuk mengukur keberhasilan
belajar peserta didik dan sekaligus mengevaluasi ketepatan strategi
pembelajaran. Penilaian ini mutlak dilakukan sebagai sistem manajemen mutu
dan pengendalian proses belajar mengajar sehingga terjadi umpan balik dan
perbaikan secara terus menerus (continous improvement).
6. Desain Sistem Pembelajaran dan KTSP
Desain Sistem Pembelajaran Pendidikan Multikultural dihadirkan untuk
memanfaatkan peluang liberasi muatan kurikulum lokal dalam KTSP. Oleh
karenanya, untuk memudahkan usulan, Desain Sistem Pembelajran
Pendidikan Multikultural ini harus didesain sebagaimana desain mata
pelajaran lain dalam konteks penyesuaian dengan standar KTSP. Pada
dasarnya KTSP hanya memberikan rambu-rambu bahwa kurikulum dan
proses pembelajaran harus berpatokan pada Standar Komptensi (SK) dan
Kompetensi Dasar (KD), maka guru bisa Mendesain Sistem Pembelajaran
secara otonom. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar meliputi: 1)
Tingkat Satuan Pendidikan; 2) Mata Pelajaran; 3) Latar Belakang Pelajaran;
4) Tujuan Mata Pelajaran; 5) Ruang Lingkup Mata Pelajaran; 6) Tabelisasi
Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar; dan 7) Arah Pengembangan.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 26


III
KESIMPULAN

Teknologi pendidikan pada hakekatnya adalah pemecahan masalah


pendidikan (tindak belajar manusia) dari segala aspek, bukan hanya digunakannya
mesin-mesin atau alat-alat elektronik dfalam pendidikan.

Teknologi pembelajaran memiliki lima kawasan yang menjadi bidang


garapnya, baik sebagai objek formal maupun objek materinya, yaitu desain,
pengembangan, pemanfaatan, pengolahan, evalusi sumber dan proses belajar

Aplikasi teknologi Pembelajaran Pendidikan Multikultural ini hanya


dilakukan penulis pada Kawasan Desain dengan subkategori Desain Sistem
Pembelajaran. Walau hanya pada subkategori kawasan, namun kelima langkah dalam
menyusun Desain Sistem Pembelajaran menunjukkan sinergitas antara berbagai
kawasan Teknologi Pembelajaran : Desain, Pengembangan, Pemanfaatan,
Pengelolaan dan Evaluasi Sumber dan Proses Belajar.

Perkembangan Teknologi Pembelajaran yang linear dengan perkembangan


teknologi harus disikapi secara hati-hati oleh Teknolog Pendidikan. Praktik Teknologi
Pembelajaran harus memperhatihan Kawasan, Konsep Utama dan ciri khas Teknologi
pembelajaran. Hal ini mutlak diperlukan untuk mengukuhkan keberadaan Teknologi
Pembelajaran itu sendiri.

Aplikasi Teknologi Pembelajaran Pendidikan Multikultural dapat


dikembangkan tidak hanya untuk pembelajaran yang terkait erat dengan budaya itu
sendiri (seperti pendidikan multikultural), namun dapat dikembangkan ke
pembelajaran yang lain melihat substansi dari kaitan antara budaya dan substansi
materi.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 27


BIBLIOGRAPY

Atmajaya.ac.id. 2006. Pendidikan Multikultural Tanamkan Sikap Menghargai


Keragaman. Diakses melalui www.atmajaya.ac.id/content.asp tanggal 11
Desember 2006.

Baidhawi, Zakiyuddin. 2005. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta:


Erlangga.

BNSP. 2006. Instrumen Penilaian Tahap II Buku Teks Pelajaran Ekonomi SMA/MA.
diakses melalui www.google.com/search?q=cache:W7IEGU_K5bQJ:www.
bsnp-indonesia.org/files/FORMAT_INSTRUMEN_EKONOMI_8agst-FINAL
.pdf+penilaian+ketepatan+pembelajaran&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=5
tanggal 11 Desember 2008.

Budiningsih, C. Asri. 2000. Kerangka Perkuliahan dan Bahan Pembelajaran Dasar-


dasar Teknologi Pendidikan. Yogyakarta. Prodi Teknologi Pendidikan FIP
UNY.

DePorter, Bobbi & Hernacki, Mike. 2001. Quantum Learning (Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan). Bandung: Kaifa.

Ghofur, Saiful Amin. 2006. KTSP dan Pendidikan Multikultural. Opini dalam Buletin
Safiria. Yogyakarta, Magister Studi Islam UII.

Harto, Kasinyo. 2006. Membangun Pola Pembelajaran Berwawasan Multikultural.


Opini di Radar Banjarmasin. Diakses melalui http://www.radarbanjarmasin.
com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=64636. tanggal 11 Desember 2008.

Ibrahim, Teknologi Pendidikan (Arti, Kawasan dan Penerapannya di Indonesia),


(Malang : FIP-IKIP Malang 1985)

Kompas, 2006. Nilai-nilai Bidaya jawa Penting untuk Tangkal Budaya Asing.
Kompas Yogyakarta, 5 Desember 2006. Halaman G (Dikbud).

Kuliah.dinus.ac.id, 2006. Konsep Kebudayaan. Diakses dari http://kuliah.dinus.ac.id/


edi-nur/mbbi/bab3.html tanggal 8 November 2008.

Miarso, Yusuf Hadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Nasution, S., Teknologi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 1999).


Oemar Hamalik, Komputerisasi Pendidikan Nasional (Bandung : Mandar Maju,
1989)

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 28


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22/2006 tentang
Standar Isi Pendidikan dan Permendiknas No 23/2006 tentang Standar
Kompetensi Kelulusan.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan
Kawasannya. Penerjemah Dewi S. Prawiradilaga dkk. Jakarta: Kerjasama
IPTPI LPTK UNJ.

Servocenter. 2006. Kecerdasan Emosi. Diakses dari servocenter.wordpress.com/


2006/11/22/kecerdasan-emosi/, tanggal 11 Desember 2008.

Suryani, Neneng. 2006. Urgensi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. diakses dari
Riau Pos Online http://riaupos.co.id/. tanggal 5 Desember 2008.

Seminar Teknologi Pendidikan, Semester III B, Stainta@Desember 2008 29