Anda di halaman 1dari 27

DEVISI EXOPTERYGOTA

ORDO IPHUNCULATA
(PINJAL)

Pendahuluan, pinjal (kutu loncat) adalah insekta yang tubuhnya pipih bilateral (pipih kedua sisi), memiliki 6 (3 pasang) kaki, tidak bersayap, umumnya menginfestasi anjing, kucing, unggas dan bahkan manusia, tidak bersifat hospes spesifik, makanannya adalah darah atau cairan limfe. Sama dengan infestasi insekta lainnya, gigitan pinjal menimbulkan rasa sakit sehingga mengganggu ketenangan ternak, serta air liurnya menyebabkan alergi. ETIOLOGI SPESIES PINJAL HOSPES DEFINITIF HOSPES ANTARA atau VEKTOR Dipylidium caninum Dipetalonema reconditum Ctenocephalides Anjing kucing canis Dipylidium caninum Dipetalonema reconditum Echidnophaga gallinacea Unggas, membuat -

Ctenocephalides Anjing kucing felis

terowongan kedalam kulit disekitar mata

Pulex irritans

Manusia anjing kucing

Dipylidium caninum

Xenopsylla cheopsis

Manusia - tikus

Yersinia pesis

SIKLUS HIDUP dan CARA PENULARAN Pinjal betina dewasa yang telah bunting akan meloncat meninggalkan hospes definitif mencari tempat yang tersembunyi (seperti celah tembok, retakan lantai, dibawah karpet, celah sofa dsb) untuk bertelur. Telur akan menetas dan terbebaslah larva yang berbentuk seperti cacing, Larva kemudian membuat kokon (didalamnya berkembang menjadi pupa) dan akhirnya keluarlah pinjal dewasa. Cara penularannya, pinjal aktif menginfestasi hospes definitif

PATOGENESA dan GEJALA KLINIS. Sudah menjadi kenyataan bahwa aktivitas pinjal anjing - kucing sangat terkait dengan suhu lingkungan, dimana jika suhu lingkungan panas pinjal akan semakin aktif bergerak dan menghisap darah. Lain halnya dengan pinjal ayam, dimana pinjal akan membuat terowongan kedalam kulit yang jarang ditumbuhi bulu seperti sekitar mata. Pada saat aktif bergerak atau saat menghisap darah menimbulkan iritasi dan rasa sakit , tempat gigitan terjadi reaksi alergi, karena air liurnya adalah hapten (antigen yang tidak lengkap) dan jika berikatan dengan kolagen kulit akan menjadi zat allergen, menyebabkan terjadi alergi tipe ringan yang memiliki tanda karakteristik ditemukan Ig E dan Eosinofilia, dengan gejala kegatalan. Anjing dan kucing memiliki kepekaan yang sangat berbeda terhadap gigitan pinjal. Pada yang peka akan terjadi alergi sehingga timbul kegatalan, dengan gejala klinis yang teramati : menggosok, menggigit, menggaruk, tempat gigitan, akibat lainnya terjadi kerontokan rambut, dan kadang-kadang terjadi kelukaan kulit). Jika luka yang terjadi terinfeksi oleh bakteri sekunder (Staphylococcus sp) maka pada awalnya akan terbentuk papula kemudian melanjut terbentuk pustula, dan jika pecah terlihat eksudat atau nanah yang

mengental dan mengering akhirnya ditemukan kerak atau keropeng. Pada kasus kronis terlihat kulit menebal, keriput. Ayam yang terinfestasi pinjal pada kasus berat menampakkan gejala klinis menyerupai penyakit kronis , seperti kelemahan umum, pembengkakan daerah disekitar mata dan ditemukan ulser, selaput lendir pucat dan bisa terjadi kebutaan.

DIAGNOSA Mengidentifikasi pinjalnya secara langsung. PENGOBATAN dan KONTROL Karena terjadi alergi, maka pengobatan simptomatis diberikan

kortikosteroid. Untuk pengobatan kausatif diberikan : Malathion, Carbaryl (direndam, disemprot atau shampo). Pyrethrin atau derivatnya, Diclorvos 9,3% untuk anjing dan 4,65% kucing atau Diazinon (ikat leher flea collar ), Coumaphos 0,5%, Ronnel 1%, Hexachloro Cyclo Hexane (HCH) 0,01% (direndam atau di lap) untuk anjing dan tidak boleh diberikan untuk kucing. Kontrol, terkait dengan siklus hidupnya, maka kontrol pinjal berdasarkan Soulsby, 1982 ada tiga tindakan pokok yang harus dilakukan antara lain : 1. Membunuh pinjal yang menginfestasi ternak menggunakan insektisida 2. Memutus siklus hidupnya, dengan malakukan penyemprotan

menggunakan insektisida pada lingkungan tempat berkembangnya larva atau dilakukan penyedotan menggunakan alat sedot debu untuk menghilangkan larva dan kokon 3. Menghindarkan dari infeksi ulang, dengan cara jauhkan ternak dari ternak terinfestasi atau lingkungan terinfestasi. 1.1 Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui parasit merupakan animalia yang sangat merugikan bagi hewan, dimana dia akan menginfeksi hospesnya tersebut. Salah satu jenis parasit yaitu pinjal (Siphonaptera) yang termasuk ke

dalam kelas insekta dan phylum arthropoda. Siphonaptera adalah serangga lateral, bersayap, dan holometabola. Terdapat hampir 2.575 spesies. Semua spesies parasit dalam tahap dewasa memiliki mulut yang dirancang untuk menusuk dan mengisap, sisir dirancang hampir di seluruh tubuh mereka dan kaki, serta kaki dirancang untuk melompat. Beberapa spesies vektor penyakit, dan penelitian saat ini memberikan wawasan penting dalam evolusi. Ordo Siphonoptera mempunyai ciri-ciri tidak bersayap, termasuk endopterygota, bermata tunggal, metamorfosisnya sempurna, dan mempunyai alat mulut menusuk dan menghisap. Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea. Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Pinjal ini juga termasuk serangga Holometabolaus atau metamorphosis sempurna karena daur hidupnya melalui 4 stadium yaitu : telur-larva-pupa-dewasa. Beberapa contohnya adalah Ctenocephalus cannis (kutu anjing), Ctenocephalus felis (kutu kucing), Pulex irritan (pinjal manusia), Xenopsylla cheopsis (kutu tikus) dan Echidnophaga. Dalam dunia kedokteran hewan parasit jenis ini sangat mudah menyerang hewan. Oleh sebab itu, penulis ingin menjelaskan berbagai morphologi, siklus hidup dan habitat dari Siphonaptera ini melalui paper yang berjudul SIPHONAPTERA sebagai bahan untuk melengkapi pembelajaran dalam kuliah parasitologi Kedokteran Hewan.

1.2

Rumusan Masalah

1. Bagaimana ciri-ciri umum dari Siphonaptera? 2. Bagaimanakah klasifikasi genus dari Siphonaptera?

3.

Bagaimanakah morphologi, siklus hidup dan habitat dari masing-

masing genus?

1.3

Tujuan

1. Untuk menjelaskan ciri-ciri umum dari ordo Siphonaptera 2. Untuk mengetahui beberapa genus dari ordo Siphonaptera 3. Untuk menjelaskan morphologi, siklus hidup dan habitat dari masingmasing genus

4. BAB II 5. 6. PEMBAHASAN 7. 8. Siphonaptera adalah serangga lateral, bersayap, dan holometabola. Terdapat hampir 2.575 spesies. Semua spesies parasit dalam tahap dewasa memiliki mulut yang dirancang untuk menusuk dan mengisap, sisir dirancang hampir di seluruh tubuh mereka dan kaki, serta kaki dirancang untuk melompat. Beberapa spesies vektor penyakit, dan penelitian saat ini memberikan wawasan penting dalam evolusi. Ordo Siphonoptera mempunyai ciri-ciri tidak bersayap, termasuk endopterygota, bermata tunggal, metamorfosisnya sempurna, dan mempunyai alat mulut menusuk dan menghisap. Contohnya adalah Ctenocephalus cannis (kutu anjing), Ctenocephalus felis (kutu kucing), Pulex irritan (pinjal manusia), Xenopsylla cheopsis (kutu tikus), Echidnophaga. 9. 2.1 Klasifikasi Pinjal 10. Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea. Ketiga super famili ini terbagi menjadi Sembilan famili yaitu Pulicidae, Rophalopsyllidae, Hystrichopsyllidae, Pyglopsyllidae, Stephanocircidae, Macropsyllidae, Ischnopsyllidae dan Ceratophillidae. Dari semua famili dalam ordo

Siphonaptera paling penting dalam bidang kesehatan hewan adalah famili Pulicidae (Susanti,2001). 11. 2.2 Morfologi Pinjal 12. Pinjal betina tidak memiliki rambut pendek di belakang lekuk antenna. Kaki belakang dari sub spesies ini terdiri dari enam ruas dorsal dan manubriumnya tidak melebar di apical, sedangkan pinjal yang masuk ke dalam sub spesies C. felis formatipica memiliki dahi yang pendek dan melebar serta membulat di anterior. Pinjal pada sub spesies ini memiliki jajaran rambut satu sampai delapan yang pendek di belakang lekuk anten. Kaki belakang dari pinjal ini terdiri atas tujuh ruas dorsal dan manubrium melebar di apical. 13. Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Pinjal mempunyai kritin yang tebal. Tiga segmen thoraks dikenal sebagai pronotum, mesonotum dan metanotum

(metathoraks). Segmen yang terakhir tersebut berkembang, baik untuk menunjang kaki belakang yang mendorong pinjal tersebut saat meloncat. Di belakang pronotum pada beberapa jenis terdapat sebaris duri yang kuat berbentuk sisir, yaitu ktenedium pronotal. Sedangkan tepat diatas alat mulut pada beberapa jenis terdapat sebaris duri kuat berbentuk sisir lainnya, yaitu ktenedium genal. Duri-duri tersebut sangat berguna untuk membedakan jenis pinjal. 14. Pinjal betina mempunyai sebuah spermateka seperti kantung dekat ujung posterior abdomen sebagai tempat untuk menyimpan sperma, dan yang jantan mempunyai alat seperti per melengkung , yaitu aedagus atau penis berkitin di lokasi yang sama. Kedua jenis kelamin memiliki struktur seperti jarum kasur yang terletak di sebelah dorsal , yaitu pigidium pada tergit yang kesembilan. Fungsinya tidak diketahui, tetapi barangkali sebagai alat sensorik.

15. Mulut pinjal bertipe penghisap dengan tiga silet penusuk (epifaring dan stilet maksila). Pinjal memiliki antenna yang pendek, terdiri atas tiga ruas yang tersembunyi ke dalam lekuk kepala (Susanti, 2001)

16. 2.3

Daur Hidup Pinjal

17. Pinjal termasuk serangga Holometabolaus atau metamorphosis sempurna karena daur hidupnya melalui 4 stadium yaitu : telur-larva-pupa-dewasa. Pinjal betina bertelur diantara rambut inang. Jumlah telur yang dikeluarkan pinjal betina berkisar antara 3-18 butir. Pinjal betina dapat bertelur 2-6 kali sebanyak 400-500 butir selama hidupnya (Soviana dkk, 2003). 18. 19.

20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. Telur berukuran panjang 0,5 mm, oval dan berwarna keputih-putihan. Perkembangan telur bervariasi tergantung suhu dan kelembaban. Telur menetas menjagi larva dalam waktu 2 hari atau lebih. Kerabang telur akan

dipecahkan oleh semacam duri (spina) yang terdapat pada kepala larva instar pertama. 31. Larva yang muncul bentuknya memanjang, langsing seperti ulat, terdiri atas 3 ruas toraks dan 10 ruas abdomen yang masing-masing dilengkapi dengan beberapa bulu-bulu yang panjang. Ruas abdomen terakhir mempunyai dua tonjolan kait yang disebut anal struts, berfungsi untuk memegang pada substrata tau untuk lokomosi. Larva berwarna kuning krem dan sangat aktif, dan menghindari cahaya. Larva mempunyai mulut untuk menggigit dan mengunyah makanan yang bisan berupa darah kering, feses dan bahan organic lain yang jumlahnya cukup sedikit. Larva dapat ditemukan di celah dan retahkan lantai, dibawah karpet dan tempattempat serupa lainnya. Larva ini mengalami tiga kali pergantian kulit sebelum menjadi pupa. Periode larva berlangsung selama 7-10 hari atau lebih tergantung suhu dan kelembaban. Larva dewasa panjangnya sekitar 6 mm. Larva ini akan menggulung hingga berukuran sekitar 4x2 mm dan berubah menjadi pupa. Stadium pupa berlangsung dalam waktu 10-17 hari pada suhu yang sesuai, tetapi bisa berbulan-bulan pada suhu yang kurang optimal, dan pada suhu yang rendah bisa menyebabkan pinjal tetap terbungkus di dalam kokon. Stadium pupa mempunyai tahapan yang tidak aktif atau makan, dan berada dalam kokon yang tertutupi debris dan debu sekeliling. Stadium ini sensitive terhadap adanya perubahan konsentrasi CO2 di lingkungan sekitarnya juga terhadap getaran. Adanya perubahan yang signifikan terhadap kedua factor ini, menyebabkan keluarnya pinjal dewasa dari kepompong. Perilaku pinjal secara umum merupakan parasit temporal, berada dalam tubuh saat membutuhkan makanan dan tidak permanen. Jangka hidup pinjal bervariasi pada spesies pinjal, tergantung dari makan atau tidaknya pinjal dan tergantung pada derajat kelembaban lingkungan sekitarnya. Pinjal tidak makan dan tidak dapat hidup lama di lingkungan kering tetapi di lingkungan lembab, bila terdapat reruntuhan yang bisa menjadi tempat persembunyian maka pinjal bisa hidup selama 14 bulan. Pinjal tidak spesifik dalam memilih inangnya dan dapat makan

pada inang lain. Pada saat tidak menemukan kehadiran inang yang sesungguhnya dan pinjal mau makan inang lain serta dapat bertahan hidup dalam periode lama (Soviana dkk, 2003). 32. 33. 2.4 Genus dari ordo Siphonaptera

34. Pinjal (Siphonaptera) yang berpredileksi pada hewan terdiri dari beberapa genus, antara lain Ctenocephalidae, Xenosylla dan Echinophaga. 35. 36. 2.4.1 GENUS CTENOCEPHALIDAE

37. Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup, Predileksi, dari Ctenocephalides felis 38. 2.4.1.1 Spesies Ctenocephalus felis 39. Klasifikasi 40. 41. Klasifikasi Ctenocephalus felis adalah sebagai berikut : 42. Golongan : Animalia 43. Phylum : Arthropoda 44. Kelas : Insekta 45. Ordo : Siphonaptera 46. Family : Pulicidae 47. Genus : Ctenocephalidae 48. Spesies : Ctenocephalides felis 49. 50. Morfologi 51. Kutu jenis ini memiliki ciri-ciri tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar, Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang dan rambut keras, Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala, Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk, Metamorfosis sempurna (telur-larvapupa-imago), Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas, Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan, Memiliki 2 ktinidia baik genal

maupun prenatal. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dilihat dari struktur tubuhnya, yaitu jika jantan pada ujung posterior bentuknya seperti tombak yang mengarah ke atas dan antenna lebih panjang, sedangkan tubuh betina berakhir bulat dan antenna nya lebih pendek dari jantan 52. Kutu kucing ini berwarna coklat kemerahan sampai hitam, dengan betina yang warna nya sedikit berbeda. Selain dari sedikit perbedaan dalam ukuran dan warna, fitur utama lainnya membedakan antara jantan dan betina adalah adanya kompleks, alat kelamin berbentuk bekicot pada lakilaki. Ctenocephalides felis dibedakan dari kutu lain dengan ctenidia karakteristik, atau sisir, tetapi memiliki ctenidium pronotal dan ctenidium genal dengan lebih dari 5 gigi. Morfologi kutu kucing adalah mirip dengan kutu anjing, canis Ctenocephalides, tetapi kutu kucing memiliki karakteristik dahi miring. Tibia belakang juga berbeda dari spesies loak lainnya dalam hal ini tidak memiliki gigi apikal luar. Semua anggota ordo Siphonaptera memiliki otot yang kuat berisi bresilin, protein sangat elastis, di kaki mereka, yang memungkinkan kutu melompat setinggi 33 cm.Larva kutu mirip belatung kecil dengan bulu pendek dan rahang untuk mengunyah. Kepompong hidup terbungkus dalam kepompong sutra-puing bertaburan. 53. 54. Siklus Hidup

55. Telur akan menetas 2-10 hari menjadi larva yang makan darah kering (yang dikeluarkan pinjal dewasa), feses, bahan organik lainnya. Larva juga membuat pupa dengan menyilih 2 kali. Stadium larva berlangsung 1-24 minggu. Pupa dapat hidup selama 1 minggu sampai 1 tahun tergantung faktor lingkungan.Pinjal ini dapat sebagai hospes intermedier dari Dypillidium caninum, dan menyebabkan gatal dan iritasi pada tubuh hospes (kucing). 56. 57. 58. Habitat

59. Kutu kucing hidup di sarang dan tempat beristirahat dari host mereka ketika mereka tidak makan, dan tuan rumah mereka ketika mereka makan. Mereka hidup di hampir semua jenis habitat, selama itu hangat dan lembab cukup untuk mempromosikan pembangunan. (Roberts dan Janovy, 2000).Hewan ini ditemukan di daerah yang beriklim tropis, terestrial biomes, seperti padang pasir atau gundukan, savana atau padang rumput, kaparal, hutan hujan, hutan belukar, perkotaan, pinggiran kota, serta pertanian 60. 61. 2.4.1.2 Spesies Ctenocephalides canis 62. Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup, Predileksi, dari Ctenocephalides canis 63. 64. Klasifikasi 65. Golongan : Animalia 66. Filum : Arthropoda 67. Kelas : Insekta 68. Ordo : Siphonaptera 69. Family : Pulicidae 70. Genus : Ctenocephalides 71. Spesies : Ctenocephalides canis 72. 73. Morfologi 74. Tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar, Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang dan rambut keras, Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala, Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk, Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago), Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas, Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan,. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dilihat dari struktur tubuhnya, yaitu jika jantan pada ujung posterior bentuknya seperti tombak yang

mengarah ke atas dan antenna lebih panjang, sedangkan tubuh betina berakhir bulat dan antenna nya lebih pendek dari jantan. Kutu dewasa berwarna hitam kecoklatan, tapi tampak hitam kemerahan setelah makan darah. Kutu dewasa panjangnya 3-4mm. Memiliki baik ctenidia genal dan pronatal, memiliki mata, pada koksa kaki ke-2 (mesopleuron) ditemukan batang pleural (batang meral). 75. Siklus Hidup 76. Ada empat tahap utama dari siklus hidup kutu: telur, larva, pupa dan dewasa. Dibutuhkan sekitar 30 sampai 40 hari untuk kutu anjing dalam mengerami telur menjadi telur yang sempurna,meskipun ada beberapa kasus yang menunjukkan siklus ini berlangsung selama satu tahun.Kutu betina mulai bertelur dalam waktu 2 hari makan darah pertamanya. Telur yang putih dan kecil (0.5mm) tetapi yang terlihat dengan mata telanjang. Telur diletakkan pada rambut, bulu atau dalam habitat hospesnya, mereka kemudian jatuh ke tempat-tempat seperti tempat tidur, karpet atau perabot. Beberapa kutu meletakkan 3-18 telur sekaligus di dalam tubuh anjing tersebut,hal ini berpotensi memperbanyak telur hingga 500 telur selama beberapa bulan. Telur menetas dalam 1-12 hari setelah disimpan kemudian memproduksi larva seperti cacing yang tidak memiliki kaki dan tidak ada mata. 77. Larva berwarna putih dan 1,5-5mm panjang dengan pelindung dari bulu tipis. Mereka jarang tinggal di tubuh inang mereka, kemudian mereka segera mencari daerah tertutup seperti tempat tidur hewan peliharaan , serat karpet dan retakan pada lantai di mana mereka mencari makanan sementara menghindari cahaya. Larva memakan berbagai bahan organik termasuk kulit-kulit yang terjatuh, kotoran hewan dan kotoran dewasa (terdiri dari darah ). Larva memungkinkan untuk mengganti kulit mereka untuk tumbuh dan berubah menjadi kepompong sutra selama 5-15 hari. Sisa larva sebagai pre-pupa selama 3 hari sebelum molting lagi untuk membentuk pupa.

78. Pupa mengembangkan dalam kokon dari lima hari sampai lima minggu. Dalam kondisi normal, bentuk dewasa siap untuk muncul setelah kira-kira 2 minggu tetapi pada temperatur yang lebih tinggi perubahan akan lebih cepat. Mereka kadang-kadang tetap tinggal di kokon sampai getaran atau kebisingan dirasakan (yang mengindikasikan keberadaan manusia atau binatang) yang berarti - karena tidak ada gerakan bentuk dewasa dapat tinggal di kokon sampai dengan 6 bulan. 79. 80. Kutu dewasa, tidak bersayap, ukuran 2-8mm panjang dan lateral dikompresi. Mereka tercakup dalam bulu dan sisir yang membantu mereka untuk menempel pada host dan memiliki antena yang dapat mendeteksi dihembuskannya karbon dioksida dari hewan. Antena mereka juga sensitif terhadap panas, getaran, bayangan dan perubahan arus udara. Semua kutu bergantung pada darah untuk nutrisi mereka tetapi mampu hidup dalam waktu yang lama tanpa makan, biasanya sekitar 2 bulan. Dalam kondisi yang menguntungkan dan disertai dengan sumber t makanan (darah) yang memadai, kutu dapat hidup sampai satu tahun. 81. 82. Habitat 83. Kutu selalu ditemukan dekat host, baik dalam kontak langsung seperti di antara bulu atau rambut atau dalam sarang mereka. 84. 85. 2.4.2 GENUS XENOPSYLLA 86. Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup, Predileksi Xenopsylla cheopsis 87. Klasifikasi 88. Golongan : Animalia 89. Filum : Arthropoda 90. Kelas : Insekta 91. Ordo : Siphonaptera 92. Family : Pulicidae 93. Genus : Xenopsylla

94. Spesies : Xenopsylla cheopsis 95. 96. Morfologi 97. Kutu pada tikus tidak memiliki sisir genal atau pronotal. Karakteristik ini dapat digunakan untuk membedakan kutu tikus oriental dari kutu kucing, kutu anjing,dan kutulainnya.Tubuh kutu adalah hanya sekitar sepersepuluh dari satu inci panjang (sekitar 2,5 mm). 98. Kutu memilki dua fungsi, yaitu untuk menyemprotkan air liur atau sebagian darah dicerna ke dalam gigitan dan untuk menyedot darah dari tuan rumah. Proses ini memancarkan secara mekanis patogen yang dapat menyebabkan penyakit kutu mungkin. Kutu menghela napas bau karbon dioksida dari manusia dan hewan dan melompat dengan cepat ke sumber untuk memberi makan pada host yang baru ditemukan. kutu adalah bersayap sehingga tidak bisa terbang, tapi bisa lompat jauh dengan bantuan kaki kuat kecil. Sebuah kaki kutu terdiri dari empat bagian. Bagian yang paling dekat dengan tubuh adalah coxa tersebut. Berikutnya adalah femur, tibia dan tarsus. 99. 100. 101. 102. Siklus Hidup Tahap Telur Seekor kutu betina dapat bertelur 50 telur per hari di hewan

peliharaan anda. Telurnya tidak lengket, mereka mudah jatuh dari hewan peliharaan anda dan menetas dalam dua atau lima hari. Seekor betina dapat bertelur sekitar 1.500 telur di dalam hidupnya. 103. 104. Tahap Larva Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang

gelap sekitar rumah anda dan makan dari kotoran kutu loncat ( darah kering yang dikeluarkan dari kutu loncat). Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kempongpong dimana mereka tumbuh menjadi pupae. 105. Tahap Pupa

106.

Lama tahap ini rata-rata 8 sampai 9 hari. Tergantung dari kondisi

cuaca, ledakan populasi biasanya terjadi 5 sampai 6 minggu setelah cuaca mulai hangat. Pupa tahap yang paling tahan dalam lingkungan dan dapat terus tidak aktif sampai satu tahun. Tahap Dewasa Kutu loncat dewasa keluar dari kepompong nya waktu mereka merasa hangat, getaran dan karbon dioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah mereka loncat ke host, kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus keseluruhnya dapat dipendek secepatnya sampai 3-4 minggu. 107. 108. 109. Habitat Xenopsylla cheopis biasanya mendiami habitat tropis dan

subtropis, meskipun telah dilaporkan dalam zona sedang juga. Cheopis Xenopsylla jarang ditemukan di tempat yang dingin karena membutuhkan iklim / tropis subtropis untuk menjadi kepompong. Kutu yang lazim di kota-kota besar banyak. Spesies Rattus biasanya ditemukan dalam sistem saluran pembuangan kota dan habitat terkait manusia adalah host yang sangat baik untuk cheopis X.. Pelabuhan laut dan daerah tikus-penuh lainnya juga habitat umum untuk cheopis X.. 110. Kutu adalah parasit nidiculous, mereka tinggal di sarang tuan

rumah. Pakaian, tempat tidur dan sofa membuat rumah sempurna untuk banyak dari kutu. Kutu hanya melampirkan menjadi tuan rumah sementara mereka sedang menghisap darah; di lain waktu mereka bebas-hidup di sarang tuan rumah. (Brown, 1975; James dan Harwood, 1969) 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. Klasifikasi Golongan : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Siphonaptera 2.4.3 GENUS ECHIDNOPHAGA

119. 120. 121. 122. 123. 124. 125.

Family : Pulicidae Ordo: Siphonaptera Genus: Echidnophaga Spesies : Echidnophaga gallinacea

Morfologi Echidnophaga gallinacea dewasa memiliki panjang sekitar 1,5

sampai 4 mm dan bagian lateral rata. Echidnophaga gallinacea berwarna coklat tua, bersayap dan memiliki mulut yang membantu dalam menusuk kulit dan menghisap darah dari host. Ada bagian genal maupun pronotal. Kutu dewasa memiliki kepala yang datar,tajam tetapi miring (tidak melengkung atau membulat). 126. 127. Telur memiliki panjang sekitar 0,5 mm. Telur dari Echidnophaga

gallinacean berbentuk lonjong berwarna putih mutiara dan oval. Betina yang nonfertil memproduksi telur yang subur seperti yang Echidnophaga gallinacean betina lainnya. 128. 129. Larva mempunyai panjang sekitar 6 mm.Larva adalah belatung

mirip dengan cacing,berwarna kuning / krem dan memiliki segmen tiga belas dengan bulu pada setiap segmen. 130. 131. 132. Siklus Hidup Perkawinan terjadi sebelum kedua jenis kelamin melompat di

sekitar tanaman bebas. Siklus hidup spesies ini mirip dengan yang irritans Pulex, kecuali pembuahan. Diman betina tetap melekat pada host dan bertelur dalam borok yang telah terbentuk. Larva kemudian jatuh dan memakan sampah organik, termasuk kotoran dari kutu dewasa. Setelah beberapa minggu larva akan berubah menjadi kepompong, kemudian tertutup debu dan kotoran, di mana mereka menjadi kepompong. Kepompong dapat berubah menjadi kutu dewasa dalam beberapa hari,

minggu atau bahkan berbulan-bulan tergantung pada kondisi lingkungan. Kutu dewasa muncul mencari inang, kawin dan betina melekat pada host untuk menghasilkan generasi baru. Siklus hidup membutuhkan waktu sekitar 30-60 hari. 133. 134. Habitat Habitat dari Echidnophaga, yaitu burung, tikus, kelinci,

anjing, kucing, kuda dan kadang-kadang manusia. 135. 136. 137. 2.4.4 GENUS PULEX

Morfologi, Klasifikasi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang

ditularkan oleh Pulex irritans. Pulex irritans, disebut juga human flea atau pinjal orang. Pulex irritans dikenal sebagai pinjal pada beberapa hospes yaitu: babi, anjing, anjing liar dan sebagainya. 138. 139. Morfologi Tidak memiliki sayap, sebagian besar tidak bermata, bentuk tubuh

yang pipih dorsoventral, bagian mulut disesuaikan untuk menusuk-isap atau untuk mengunyah, dan memiliki enam tungkai atau kaki yang kokoh dengan kuku yang besar pada ujung tarsus yang bersama dengan tonjolan tibia berguna untuk merayap dan memegangi bulu atau rambut inangnya. Tidak memiliki baik ktenidia genal dan pronatal ktenidia, dahinya membentuk kurva (membulat). Umumnya menginfestasi manusia, tetapi dapat menginfestasi, ayam, babi, anjing, kucing dan tikus. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. Klasifikasi Klasifikasi Pulex irritans adalah sebagai berikut : Golongan : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Siphonaptera Family : Pulicidae Genus : Pulex

149. 150. 151. 152.

Spesies : Pulex irritans

Siklus Hidup Metamorfosis sempurna, pinjal dewasa dapat hidup 58 hari tanpa

makan dan 234 hari bila dapat makan. Pinjal betina bertelur berukurannya kecil berbentuk ovoid, berwarna keputihan dengan panjang 0,5 mm berjumlah 3 18 butir setiap hari (sejumlah 448 selama hidupnya, biasanya diletakkan dicelah kandang atau tubuh hospes definitif (tetapi pada umumnya sebelum menetas akan jatuh. Dari dalam telur akan keluar larva berbentuk seperti cacing bergerak aktif untuk mencari makan berupa bahan-bahan organik atau darah yang mengering. Larva terdiri dari 14 segmen yang ditutupi oleh bulu-bulu. Larva akan mengalami ekdisis (menyilih) selama 3 kali dan pergantian kulit yang terakhir terjadi di dalam kokon. Didalam kokon yang biasanya tertutup oleh partikel kotoran, terbentuk pupa yang berwarna keputihan dan akhirnya terbentuk pinjal dewasa. Sampai terbentuknya kokon itu diperrlukan waktu 14-21 hari, lalu menjadi dewasa. Pinjal bisa hidup selama 1 2 tahun dan tahan hidup tanpa menghisap darah selama 6 minggu. 153. 154. 155. Habitat Pulex irritans mempunyai habitat di berbagai jenis hewan,

termasuk manusia.

156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. BAB III

163. 164. 165. 166. 167.

PENUTUP

3.1

Kesimpulan

Siphonaptera adalah serangga lateral, bersayap, dan holometabola.

Terdapat hampir 2.575 spesies. Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea. Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Beberapa genus dari Siphonaptera adalah Ctenocephalus cannis (kutu anjing), Ctenocephalus felis (kutu kucing), Pulex irritan (pinjal manusia), Xenopsylla cheopsis (kutu tikus) dan Echidnophaga. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176.

Pinjal
Ciri-Ciri :

- Merupakan serangga kecil tanpa sayap dan badannya pipih lateral - Abdomen terdiri dari 10 segmen dan 3 segmen yang terakhir membentuk Kelamin.

Metamorphosis

sempurna.

- Mempunyai 7 pasang spiracle (lubang infuse) atau stigma pada thorax. Antenanya pendek dan terdiri dari 3 segmen

1.

Kepala

Terdiri dari bagian anterior dan Posterior, terpisah oleh satu lekuk miring pada masing-masing posisi yaitu fossa sungut. Bagian presungut dari kepala mengandung bagian-bagian mulut, maupun mata, dan duri-duri gena apabila ini ada. Mata berfariasi mulai dari yang berkembangbiak sampai yang sama sekali tidak ada, dan menyerupai mata tunggal strukturnya. Duri-duri gena mungkin ada atau tidak. Bila didapatkan mungkin tersusun dari dua sampai lima belas duri pada masing-masing sisi. Pada beberapa pinjal sebuah tentorium yang linear mungkin terlihat mengarah ke bagian anterior di muka mata. Daerah fronts kepala biasanya mengandung sebuah jendolan fronts. Ujung-ujung bagian atas dari lekuk sungut kadang-kadang dihubungkan oleh sutura antarsungut dengan tepi-tepi yang mengeras bagian dalam. Secara kolektif struktur-struktur ini membentuk falks (struktur bulan sabit).

2.

Thoraks

Protoraks agak berbentuk huruf L, terdiri dari sebuah pronotum dorsal yang melengkung dan prosternosom yang berbentuk tala yang terletak di sebelah ventral. Batas belakang pronotum seringkali mengandung satu sisir dari duri-duri yang berpigmen. Sklerit plerosternum mesotoraks biasanya terbagi menjadi sebuah mesepis terno anterior dan satu mesepimeron posterior oleh satu batang pleura vertical. Metatoraks juga mempunyai satu batang pleura, tetapi ini mungkin menyusut atau hilang pada pinjal-pinjal yang telah hilang kemampuannya untuk meloncat.

3.

Tungkai-Tungkai

Rambut kaku yang berbentuk duri pada koksa-koksa adalah rambut-rambut yang gemuk, biasanya terletak pada ujung koksa. Garis geligi bagian dalam pada koksa-

koksa menyebar, biasanya kelihatan pada specimen yang dijernihkan dengan bahan kimiawi sebagai satu garis yang gelap yang meluas sepanjang koksa. 4. Abdomen

Abdomen adalah sepuluh ruas, tetapi ruas pertama menyusut (tidak mempunyai sebuah sternum), dan ruas-ruas delapan sampai sepuluh dimodifikasi menjadi struktur-struktur paragenital, yang dipakai secara ekstensif pada identifikasi jenis. Beberapa jenis mempunyai sebuah striarium (sebuah daerah striae yang sejajar dan tersusun berdekatan) pada metepimeron atau ruas abdomen dasar. Sensilium adalah satu keping yang terletak pada ujung abdomen pada sisi dorsal tubuh, tepat dibelakang tergum abdomen akhir yang tidak mengalami modifikasi. Rambutrambut antepigidium adalah rambut-rambut yang besar yang terletak tepat di muka sensilium.

Daur * Tahap

Hidup Telur

Seekor pinjal betina dapat bertelur 50 telur per hari di hewan peliharaan anda. Telurnya tidak lengket, mereka mudah jatuh dari hewan peliharaan anda dan menetas dalam dua atau lima hari. Seekor pinjal betina dapat bertelur sekitar 1.500 * telur di Tahap dalam hidupnya. Larva

Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang gelap sekitar rumah anda dan makan dari kotoran kutu loncat ( darah kering yang dikeluarkan dari kutu loncat). Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kempongpong * dimana mereka Tahap tumbuh menjadi pupae. Pupa

Lama tahap ini rata-rata 8 sampai 9 hari. Tergantung dari kondisi cuaca, ledakan populasi biasanya terjadi 5 sampai 6 minggu setelah cuaca mulai hangat. Pupa tahap yang paling tahan dalam lingkungan dan dapat terus tidak aktif sampai satu tahun. * Tahap Dewasa

Pinjal dewasa keluar dari kepompong nya waktu mereka merasa hangat, getaran

dan karbon dioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah mereka loncat ke host, kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus keseluruhnya dapat dipendek secepatnya sampai 3-4 minggu.

Ada beberapa obat yang dapat memutus siklus ini dengan membunuh kutu dewasa sebelum mereka bertelur. Lalu terus menyediakan perlindungan yang terus menerus Jenis PES Pes merupakan penyakit Zoonosa terutama pada tikus dan rodent lain dan dapat ditularkan kepada manusia. Pes juga merupakan penyakit yang bersifat akut disebabkan oleh kuman/bakteri. Selain itu pes juga dikenal dengan nama Pesteurellosis atau Yersiniosis/Plague. jenis penyakit terhadap yang diakibatkan oleh kutu. pinjal

Penyebab Pes Kuman disebablan Kuman/BAKTERI berbentuk Bersifat Yersinia batang,ukuran bipolar,non Gram oleh pestis(Pasteurella 1,5-2X0,5-0,7 motil,non

pes : pestis). mikron. sporing. negatif

Pada suhu 280C merupakan suhu optimun tetapi kapsul terbentuk tidak sempurna Pada shu 370C merupakan suhu yang terbaik bagi pertumbuhan bakteri tersebut.

Vektor

pes

Vektor pes adalah pinjal.Di Indonesia saat ini ada 4 jenis pinjal yaitu: Xenopsylla cheopis.culex iritans,Neopsylla sondaica, dan Stivalus cognatus.

Reservoir Reservoir utama dari penyakit di pes Amerika adalah hewan juga hewan pada rodent bajing.

(tikus,kelinci).Kucing

Cara

penularan

Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent.Kumankuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes tadi,dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan. 1. Penularan pes secara eksidental dapat terjadi pada orang orang yang bila digigit oleh pinjal tikus hutan yang infektif.Ini dapat terjadi pada pekerja-pekerja di hutan,ataupun pada orang-orang yang mengadakan rekreasi/camping di hutan. 2. Penularan pes ini dapat terjadi pada para yang berhubungan erat dengan tikus hutan, misalnya para Biologi yang sedang mengadakan penelitian di hutan, dimana ianya terkena darah atau organ tikus yang mengandung kuman pes. 3. Kasus yang umum terjadi dimana penularan pes pada orang karena digigit oleh pinjal infeksi setelah menggigit tikus domestik/komersial yang mengandung kuman pes

4. Penularan pes dari tikus hutan komersial melalui pinjal. Pinjal yang efektif kemudian menggigit manusia.

5. Penularan pes dari orang ke orang dapat pula terjadi melalui gigitan pinjal manusia Culex Irritans (Human flea)

6. Penularan pes dari orang yang menderita pes paru-paru kepada orang lain melalui percikan ludah atau pernapasan

Pada no.1s/d5,penularan pes melalui gigitan pinjal akan mengakibatkan pes bubo.Pes bubo dapat berlanjut menjadi pes paru-paru (sekunder pes)

Masa

Inkubasi

Masa inkubasi untuk penyakit pes bubo adalah 2-6 hari, sedang masa inkubasi untuk pes paru paru adalah 2-4 hari.

Gejala 1. 2.

klinik Demam Tubuh

pes

Bubo tinggi menggigil

3. 4. 5.

Perasaan Nyeri Sakit

tidak

enak,malas otot

Kepala

hebat

6. Pembengkakan kelenjar lipat paha,ketiak,dan leher (bubo sebesar buah duku bentuk 7. 8. oval Pembengkakan Serangan dan lunak,serta kelenjar nyeri) limpa tiba-tiba

Pes 1. 2. 3. 4. Berbuih Batuk air Susah Sesak liur

Pneumonik hebat berdarah bernafas nafas

Diagnosis Diagnosis 1. Diagnosis lapangan pes: :

Diagnosis di lapangan ditemukan adanya tikus mati tanpa sebab-sebab yang jelas (rat 2. fall) di daerah fokus pes atau bekas fokus pes. :

Diagnosis

Klinis

Adanya demam tanpa sebab-sebab yang jelas (FUO = Fever Unkwon Origin) Timbul bubo/mringkil/sekelan (pembengkakan kelenjar) sebesar buah duku pada leher/ketiak/selangkangan. Batuk 3. Macam-macam 1. Spesimen yang darah mendadak Diagnosa pemeriksaan Pemeriksaan diperiksa adalah Rodent yang tanpa tanpa gejala yang jelas sebelumnya : adalah: : berasal dari: (tikus) Manusia

Laboratorium dilakukan laboratorium

Serologi serum,yang

Species hewan,

hewan manusia

lain dinyatakan

seperti positif pada

anjing,kucing tikus I :128.

Spesimen 2. Sepeciman

Pemeriksaan yang Untuk Organ manusia

Bakteriologi diperiksa: :darah,bubo,sputum tikus:limpa,paru,hati Pinja

Cara

pencegahan

penyakit

yang

disebabkan

oleh

pinjal

PENGOBATAN 1. Untuk tersangka pes

a. Tetracycline 4250 mg biberikan selama 5 hari berturut-turut atau b. Cholamphenicol 4250 mg diberikan selama 5 hari berturut-turut 2. Untuk Penderita Pes

Streptomycine dengan dosis 3 gram/hari (IM) selama 2 hari berturutturut,kemudian dosis dikurangi menjadi 2 garam/hari selama 5 hari berturutturut.Setelah panas hilang dilanjutkan dengan pemberian :

a. Tetracycline 4-6 gram/hari selama 2 hari berturut-turut,kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut atau b. Chlomphenicol 6-8 gram/hari selama 5 hari berturut turut, kemudian dosis diturunkan 3. a. b. menjadi 2 gram/hari selama terutama (serumah) dengan jika ada 5 hari berturut-turut. pada: pes pes bobo. paru

Untuk Penduduk Seluruh yang

pencegahan kontak

ditujukan pendeita penderita

penduduk

desa/dusun/RW

Tetapi yang dianjurkan adalah dengan pemberian Tertracycline 500mg/hari selama 10 hari berturut-turut

Sumber : Petunjuk Pemberantasan Pes Di Indonesia, Departemen Kesehatan RI, direktorat jendral PPM&PL tahun 2000

PEMBERANTASAN

PINJAL

- terhadap lingkungan hidup digunakan larutan minyak tanah, Diazinon, Lindane 1%, bubuk (1 nertdust), Malathion 10%, triklofin 1%.Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat dengan cara mengurangi atau mencegah terjadinya kontak dengan tikus serta pinjalnya Peran keluarga sangat penting dalam pencegahan penyakit pes demi terciptanya keluarga yang sehat dan bersih dan masing masing anggota keluarga menjaga kebersihan. - terhadap hewan rumah digunakan bedak (Malathion 4%, atau reterion 10%).

Ditambah dengan pengobatan, langkah-langkah di bawah ini dapat dilakukan untuk mencegah kutu loncat anda menyerang hewan peliharaan anda: Menyedot menggunakan vaccum

Seringlah menyedot di daerah dimana saja hewan peliharaan anda kunjungi, khususnya di mobil jika anda sering berpergian, daerah berkarpet, dan perabotan yang sering dikunjungi oleh hewan peliharaan anda supaya semua kutu termasuk telur, dan pupae nya dibersihkan sebanyak mungkin. Pencucian

Cucilah tempat tidur hewan peliharaan anda, kasur, selimut dan barang lainnya dengan air panas Penyemprotan jika memungkinkan. Lingkungan

Ada beberapa macam spray/semprotan yang tersedia yang bertujuan membunuh kutu loncat di lingkungan sekitarnya.

Kebiasaan Habitat Jenis Pinjal pinjal adalah manusia Pinjal binatang seperti kucing, jenis (Pulex tikus, dan

hidup anjing pinjal Irritans) kucing

Pinjal

tikus

(Xenopsylla

cheopis)

Pinjal anjing