Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Duta Mall adalah fasilitas Kota Banjarmasin yang mampu memberikan suasana yang aman dan nyaman dalam berbelanja maupun berekreasi meliputi Trade Center, Mall, Hotel dan Apartement, berada di atas tanah seluas 42.000 m2. Mall ini berada di pusat kota dan menjadi pusat perkembangan bisnis dengan akses langsung dari Jl. A. Yani yang memudahkan potensial buyer dari dalam maupun luar kota. Kawasan ini merupakan kawasan perdagangan dan perkantoran. Ini berarti pasar yang sangat potensial dan strategis untuk berinvestasi. Mall ini merupakan pusat perbelanjaan modern, terbesar, terlengkap, dan termegah di pusat kota Banjarmasin. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang, dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana dampak proyek pembangunan Duta Mall terhadap lingkungan sekitar ? 2. Bagaimana solusi pemerintah untuk mengatasi dampak proyek pembangunan Duta Mall ? 3. Bagaimana saran-saran yang dapat diberikan dari hasil pembahasan makalah ini ? 1.3. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengidentifikasi keterkaitan proyek pembangunan Duta Mall dengan dampak negatif yang di timbulkan terhadap lingkungan sekitar, sehingga dapat memberikan solusi-solusi yang berguna untuk lingkungan yang berada disekitar pembangunan Duta Mall. 1.4 Metodelogi Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, metode yang dilakukan yaitu pengamatan langsung di lapangan, studi pustaka, dan penelusuran di internet.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi AMDAL

AMDAL yaitu Kependekan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, merupakan salah satu alat yang dibuat untuk tindakan terhadap kemungkinan ketidaklestarinya fungsi lingkungan sebagai akibat adanya rencana usaha dan atau kegiatan pambangunan. AMDAL lahir dengan diundangkanya undang-undang tentang lingkungan hidup di AS, National Environmental Policy act (NEPA) pada tahun 1969. NEPA 1969 mulai berlaku pada tanggal 1 januari 1970 pasal 102 (2) (C) dalam undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan akitivitas pemerintah federal yang besar, yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Diharuskan disertai dengan laporan Environmental Impact Assessment (Analisa Dampak Lingkungan). AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan. NEPA 1969 merupakan suatu reaksi kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang makin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta menurunya estetika lingkungan. 2.2 Dasar Hukum AMDAL

Bermula dari Amerika Serikat, tahun 1969. The National Enviromental Policy Act of 1969 (NEPA 1969) diperkenalkan sebagai sebuah instrumen untuk mengendalikan dampak segala macam kegiatan yang bisa merusak kelestarian lingkungan. Dalam perkembangan selanjutnya, peraturan ini diadopsi oleh banyak negara. Tahun 1982, Indonesia mengeluarkan undang-undang (UU) lingkungan hidup. Dari sinilah masyarakat Indonesia mengenal istilah analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). UU ini diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 1986, yang kemudian diganti PP Nomor 51 Tahun 1993, dan terakhir diganti lagi dalam PP Nomor 27 Tahun 1999. Pemerintah membentuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (BAPEDAL) melalui Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 untuk melengkapi pelaksanaan peraturan tersebut. Ada tingkat pusat dan daerah, meskipun keduanya tidak memiliki hubungan hierarki struktural. Bapedal pusat kini berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup.

Dalam PP Nomor 27 tahun 1999 di sebutkan, bahwa AMDAL merupakan kajian bagi dampak besar atau penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup, yang di perlukan bagi proses pengambilan keputusan dalam suatu usaha atau kegiatan. Namun kebijakan tersebut ternyata melemah setelah berbenturan dengan PP Nomor 27 tahun 1999 pasal 9. Jika dalam waktu 71 hari, pemerintah belum mengambil keputusan layak atau tidaknya AMDAL suatu usaha, maka usaha tersebut dinilai layak lingkungan. Tentunya, hal itu memberikan pukulan berat bagi masyarakat. Pasalnya, dalam aturan tersebut sangat terbuka ruang kolusi bagi pejabat di pemerintahan terkait dengan tidak mengeluarkan keputusan selama 71 hari. Hal itu berbuntut pada sepuluh ribu dokumen hasil riset mengenai AMDAL di indonesia hanya masuk ke keranjang sampah tanpa tindak lanjut. Ketentuan tentang AMDAL di indonesia diatur dalam undang-undang RI No.23 Tahun 1997 tentang pengolahan lingkungan hidup pada pasal 15 dinyatakan kembali bahwa, Setiap rencana usaha dan atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting wajib memiliki AMDAL dan pelaksanaanya diatur dalam peraturan pemerintah (PP) No.27 Th 1999 (pasal 1 ayat 2 PP No.27/1999) tentang AMDAL. Yang dimaksud dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan atau kegiatan (Kornelius, 2008). Dalam pelaksanaan AMDAL merupakan proses kajian terpadu yang mempertimbangkan aspek ekologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya sebagai pelengkap study kelayakan suatu rencana usaha dan atau kegiatan. Kajian terpadu tersebut merupakan seluruh proses yang meliputi penyusunan: 1. Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan Analisi Dampak Lingkungan (ANDAL), dokumen ini memuat ruang lingkup dan kedalaman kajian analisi mengenai dampak lingkungan yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan. 2. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Dokumen ini memuat telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting dari suatu rencana kegiatan dan atau usaha berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA ANDAL. 3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan atau kegiatan. 4. Rencana Pemantauan Lingkungan. Dokumen ini memuat berbagai rencana pematauan terhadap berbagai komponen lingkungan hidup yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan atau kegiatan.

Rencana suatu usaha dan atau kegiatan akan di tolak oleh instansi yang bertanggung jawab apabila : 1. Dampak besar dan penting negatif yang timbul tidak dapat ditangani atau ditanggulangi dengan teknologi yang sudah tersedia. 2. Biaya yang dikeluarkan untuk menangani dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif. Hal ini kemudian ditegaskan dalam pasal 3 PP No. 27/1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang menyebutkan bahwa usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi: 1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. 2. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tidak terbaharui. 3. Proses dan kajian yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. 4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sumber daya. 5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/ atau perlindungan cagar budaya. 6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jasad renik. 7. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati. 8. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. 9. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan dapat mempengaruhi pertahanan negara. Dalam proses penyusunan dokumen AMDAL, sangat sering ditemui konsultan (tim penyusun) AMDAL meninggalkan berbagai prinsip dalam AMDAL. Terutama posisi rakyat dalam proses penyusunan dokumen AMDAL. Proses keterbukaan informasi dijamin oleh kebijakan, di mana pasal 33 PP No. 27/1999 menegaskan kewajiban pemrakarsa untuk mengumunkan kepada publik dan saran, pendapat, masukan publik wajib untuk dikaji dan dipertimbangkan dalam AMDAL. Dan pasal 34 menegaskan bagi kelompok rakyat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan, penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Masyarakat merupakan fokus dalam studi AMDAL sehingga AMDAL bersifat terbuka untuk umum. BAPPEDA dan pamrakarsa wajib mengumumkan secara luas suatu rencana usaha atau kegiatan yang membutuhkan studi AMDAL

supaya masyarakat dapat memberikan tanggapan secara langsung yang disalurkan lewat komisi terutama bagi masyarakat yang berkepentingan. Kecuali untuk kegiatan-kegiatan yang menyangkut rahasia negara. (Kornelius, 2008) Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi Penilai AMDAL, pemrakarsa, dan masyarakat yang berkepentingan. Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup, di tingkat Propinsi berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Propinsi, dan ditingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Kabupaten/Kota. Unsur pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga masyarakat yang terkena dampak diusahakan terwakili di dalam Komisi Penilai ini. Tata kerja dan komposisi keanggotaan Komisi Penilai AMDAL ini diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sementara anggota-anggota Komisi Penilai AMDAL di propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur dan Bupati/Walikota Maksud dan tujuan dilaksanakannya ketertibatan masyarakat dalam keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk : 1. Melindungi kepentingan masyarakat; 2. Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/ atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap Lingkungan; 3. Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAl darirencana usaha dan/ atau kegiatan; dan 4. Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan, yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh. 2.3 Definisi Mall Mall adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur berupa bangunan tertutup dengan suhu yang diatur dan memiliki jalur untuk berjalan jalan yang teratur sehingga berada diantara toko-toko kecil yang saling berhadapan. Karena bentuk arsitektur bangunannya yang melebar (luas), umumnya sebuah mall memiliki tinggi tiga lantai. (Wikipedia, 2009). Mall atau Super Mall atau Plaza adalah sarana atau tempat usaha untuk melakukan perdagangan, rekreasi, restorasi dan sebagainya yang diperuntukkan bagi kelompok, perorangan, perusahaan, atau koperasi untuk melakukan penjualan barang-barang dan/ atau jasa yang terletak pada bangunan/ruangan yang berada dalam suatu kesatuan wilayah/tempat. Mall termasuk ke dalam Pasar

Modern, karena Pasar modern adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Swasta, atau Koperasi yang dalam bentuknya berupa Pusat Perbelanjaan, seperti Mall, Plaza, dan Shopping Centre serta sejenisnya dimana pengelolaannya dilaksanakan secara modern, dan mengutamakan pelayanan kenyamanan berbelanja dengan manajemen berada di satu tangan, bermodal relatif kuat, dan dilengkapi label harga yang pasti. Mall adalah representasi fisik dari berbagai paradoks kehidupan sosial ekonomi, yakni: antara kaya-miskin, eksklusif-inklusif, artifisial-natural, dan modern-tradisional. Mall, plaza, town square dan sejenisnya adalah monumen kesenjangan sosial ekonomi. 2.4 Syarat Pendirian Bangunan Menurut Penataan Pasar Modern Pasal 12 Bagian Kedua Nomor 20 Tahun 2009 : 1. Lokasi pendirian pasar modern wajib mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, dan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten, termasuk pengaturan zonasinya. 2. Penyelengaraan dan pendirian pasar modern wajib memenuhi ketentuan, sebagai berikut : a. Memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan keberadaan pasar tradisional, usaha kecil, dan usaha menengah yang ada diwilayah yang bersangkutan; b. Memperhatikan jarak dengan pasar tradisional maupun pasar modern lainnya; c. Pasar modern dapat dibangun dengan jarak radius terdekat dari pasartra disional minimal 1000 meter; d. Menyediakan fasilitas yang menjamin pasar modern yang bersih, sehat, hygienis, aman, tertib dan ruang publik yang nyaman; e. Menyediakan fasilitas tempat usaha bagi usaha kecil dan menengah, pada posisi yang sama-sama menguntungkan; f. Menyediakan fasilitas parkir kendaraan bermotor dan tidak bermotor yang memadai di dalam area bangunan; g. Menyediakan sarana pemadam kebakaran dan jalur keselamatan bagi petugas maupun pengguna pasar modern dan toko modern; h. Pemberian ijin usaha pasar modern wajib memperhatikan pertimbangan Kepala Desa/Lurah dan BPD/LPM; i. Pendirian Pasar Modern khususnya Minimarket diutamakan untuk diberikan kepada pelaku usaha yang domisilinya sesuai dengan lokasi Minimarket tersebut.

3. Perkulakan hanya boleh berlokasi pada akses sistem jaringan jalan arteriatau kolektor primer atau arteri sekunder. 4. Hypermarket dan Pusat Perbelanjaan: a. Hanya boleh berlokasi pada atau pada akses sistem jaringan jalan arteriatau kolektor; b. Tidak boleh berada kawasan pelayanan lokal atau lingkungan di dalam kota/perkotaan. 5. Supermarket dan Departemen Store: a. Tidak boleh berlokasi pada sistem jaringan jalan lingkungan; dan b. Tidak boleh berada pada kawasan pelayanan lingkungan di dalam kota/perkotaan. 6. Minimarket a. Dapat berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan, termasuk pada sistem jaringan lingkungan pada kawasan pelayanan lingkungan (perumahan) di dalam kota/perkotaan; b. Jumlah minimarket untuk setiap kawasan pelayanan lingkungan (perumahan) di dalam kota/perkotaan maksimal hanya ada 2 (dua) minimarket dalam jarak 2 km. (anonym.2009).

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Dampak Pembangunan Duta Mall

Terdapat berapa dampak yang dapat ditimbulkan dengan adanyapembangunan mall. Dampak tersebut dibagi menjadi dua, yang terdiri dari: a. Dampak Negatif - Perubahan karakteristik tanah. - Menghambat gerakan angin, sehingga sirkulasi angin tidak stabil danselalu bergerak ke atas membawa partikel partikel polutan ke udara. - Mengakibatkan sinya elektronik menjadi lemah. - Jendela kaca dapat memantulkan radiasi panas matahari. - Kebisingan oleh mesin-mesin bermotor dan alat-alat berat pada saatpembangunan proyek tersebut. - Mengakibatkan debu-debu bertebaran bila musin panas terjadi. - Mengakibatkan banjir lumpur bila musim penghujan terjadi. - Berkurangnya drainase resapan air hujan. b. Dampak Positif - Menambah lapangan pekerjaan. - Mengurangi angka pengangguran. - Menambah pendapatan keuangan daerah. - Menjadikan Kota lebih maju dan modern. - Mempercantik tata letak Kota. (Saputra, 2010) 3.2 Faktor Lingkungan Abiotik Kebisingan Proses pembangunan mall membuat tingkat kebisingan di daerah tersebut meningkat. Hal ini dikarenakan peralatan yang digunakan selama proses pembangunan. Kebisingan juga terjadi karena meningkatnya jumlah pengunjung yang mendatangi Mall, walaupun pembangunan belum rampung sepenuhnya. Kendaraan yang digunakan oleh pengunjung tersebut membuat tingkat kemacetan meningkat dan memicu terjadinya kebisingan di seputar daerah perkantoran dan pendidikan dalam hal ini adanya kampus Kedokteran UNLAM yang terletak di belakang area pembangunan yang terganggu akibat terjadinya peningkatan kebisingan di lokasi kegiatan dan sepanjang jalan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut alat, material, agregat dan tanah urug untuk runaway yang apabila dibandingkan dengan keputusan menteri negara lingkungan hidup No. Kep/48/MENLH/11/1996 batas kebisingan di lingkungan Sekolah dan Area Pendidikan adalah 55 dBA.

3.3

Debu Tingkat paparan debu juga semakin meningkat karena bahan bangunan yang digunakan selama proses pembangunan Mall. Hal juga diperparah dengan jumlah kendaraan yang berlalu lalang di daerah Jl. A. Yani, sehingga beresiko meningkatkan jumlah debu yang berterbangan, sehingga terjadi peningkatan emisi di udara. Dampak yang akan terjadi pada masyarakat terutama dilihat dari segi kesehatan beberapa dampak, yakni: 1. Dampak Umum Dampak umum adalah dampak yang dapat dirasakan oleh semua atau sebagian besar orang atau yang dapat dirasakan oleh orang dalam jumlah yang banyak. Dampak-dampak ini yakni : Banjir Kurangnya resapan air yang terdapat di Banjarmasin karena banyaknya pembangunan yang tidak diimbangi dengan pembuatan resapan air, mengakibatkan meningkatnya kejadian banjir. Hal ini tentunya akan berdampak sangat luas terhadap masyarakat. Khusus untuk kesehatan masyarakat, banjir akan menyebabkan banyak penyakit yang terjadi, sebut saja diare dan penyakit kulit. 2. ISPA Akibat kontaminasi debu yang terlalu sering oleh pekerja di mall, sehingga kemungkinan besar terjadi penyakit di saluran pernapasan sangat besar. Apalagi ditambah dengan polutan yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor, maka resiko terkena infeksi saluran pernafasan akan semakin besar. 3. Dampak Psikologis Akibat kemacetan yang di timbulkan karena efek pembangunan mall, sehingga dapat membuat para pemilik kendaraan akan merasa stress atau merasakan hal lain karena hal tersebut. Dari berbagai dampak yang dapat diketahui diatas, dapat diperoleh analisa dari segi kesehatan, lingkungan dan Sosial bahwa pembangunan Duta Mall di Jl. A.Yani akan banyak mengakibatkan gangguan dan resiko.

BAB IV PENUTUP 4.1 4.2 Kesimpulan Saran

Catatan : File asli nya, bs d buka d situs ini


http://merdekasempurna.blogspot.com/2012/06/amdal-dalam-rencana-pembangunanmall-di.html