Anda di halaman 1dari 13

BAB II ISI

2.1. Membran Bioreactor (MBR) Membrane bioreactor merupakan reactor yang mengkombinasikan penggunaan proses biologi dan teknologi membran untuk mengolah air limbah untuk penghilangan bahan organic dan suspended solid. Air limbah akan mengalir melewati membrane kemudian padatan yang tertinggal akan diolah secara biologi. Proses yang terjadi di dalam bioreaktor mirip dengan lumpur aktif konvensional (conventional activated sludge, CAS), di mana zat organic di dalam air limbah akan didegradasi secara biologis oleh mikroorganisme aerob kemudian terjadi pemisahan solid (lumpur). Bedanya, pada MBR proses pemisahan solid dilakukan menggunakan membran sementara pada CAS pemisahan solid dilakukan secara gravitasi di dalam tangki pengendap. Perbandingan anatra MBR dan CAS disajikan dalam gambar berikut:

Gambar 2.1. Perbandingan MBR dan CAS Sumber: S.Judd (2006) Membran menggantikan peran kolam sedimentasi untuk memisahkan padatan dan cairan pada teknologi konvensional (lumpur aktif). Dengan membran, kinerja pemisahan menjadi lebih baik karena pemisahan tidak lagi dibatasi oleh

kondisi hidrodinamik lumpur seperti waktu tinggal lumpur (SRT, sludge retention time), waktu tinggal cairan (HRT, hydraulic retention time) serta laju pembuangan lumpur. Beberapa fitur utama dari MBR antara lain: 1. Tidak memerlukan bak pengendap (clarifier) sehingga dapat menghemat penggunaan lahan 2. Konsentrasi MLSS (mixed liquor suspended solids) yang tinggi dapat memaksimalkan jumlah BOD yang masuk ke dalam modul MBR untuk diolah sehingga dapat mengurangi waktu pengolahan 3. Pembuangan lumpur dapat dilakukan langsung dari dalam reactor 4. Kualitas efluen hasil pengolahan yang tinggi sehingga air hasil olahannya dapat digunakan kembali (misal untuk boiler) Penggunaan modul MBR dalam pengolahan air limbah saat ini cukup luas di negara-negara dimana faktor ketersediaan lahan dan konservasi air menjadi pertimbangan. Bagi negara-negara yang lahannya terbatas, teknologi ini akan sangat menguntungkan. Begitu pula jika di tempat tersebut terdapat keterbatasan dalam sumber daya air, hasil olahan dari MBR dapat digunakan sebagai sumber air (contohnya di Singapura). Di Indonesia sendiri tampaknya teknologi membran belum terlalu banyak digunakan mengingat ketersediaan lahan dan sumber air masih bisa dibilang cukup banyak. Akan tetapi, jika kita memikirkan kondisi di masa datang dimana pertumbuhan penduduk semakin meningkat dan lahan akan semakin mahal, maka teknologi MBR mungkin sebaiknya mulai diterapkan. Memang MBR memiliki kelemahan dari segi harga, teknologi membran memang bukan teknologi yang murah. Selain harganya yang mahal, juga diperlukan operator yang terlatih (berdampak pada upah pekerja yang lebih tinggi). Dari segi operasional, akan diperlukan regular chemical cleaning serta laju kerusakan membran tidak dapat dipastikan.

Kondisi yang diperlukan untuk modul MBR Modul MBR yang akan digunakan harus memiliki kelebihan dari sisi cost reduction (baik investasi maupun operasional), usia pakai yang cukup lama, serta mudah ditangani. Berikut ini kondisi-kondisi yang penting untuk diperhatikan dalam penggunaan modul MBR: 1. Kuat menahan beban fisik (akibat aerasi) maupun kimiawi (akibat proses pembersihan dengan bahan kimia). 2. Struktur membran haruslah kuat untuk mengatasi gaya gesekan dan osilasi dari gelembung udara dari proses aerasi. 3. Aerasi harus efektif dan uniform serta aliran vertikal gelembung udara dari bawah ke atas membran harus berlangsung tanpa hambatan. Konfigurasi MBR Terdapat dua konfigurasi MBR yang tergantung pada letak membran terhadap bioreaktor, yaitu (a) submerged MBR dan (b) sidestream MBR.

Gambar 2.2. Konfigurasi MBR Sumber: Malia dan Till (2001) Pada submerged MBR, membran terletak di dalam bioreaktor sehingga proses filtrasi langsung dilakukan di dalam reaktor. Sementara itu, pada sidestream MBR proses filtrasi dilakukan di luar bioreaktor melalui aliran

resirkulasi. Perbandingan antara kedua konfigurasi MBR dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1 : Perbandingan Submerged MBR dan Sidestream MBR Submerged MBR Biaya aerasi Biaya pemompaan Tinggi Sangat rendah, kecuali jika digunakan pompa hisap Ukuran (footprint) Kebutuhan untuk proses pembersihan Biaya operasional Biaya investasi Lebih rendah Lebih tinggi Lebih tinggi Lebih rendah Lebih besar Lebih sedikit Lebih kecil Lebih tinggi Sidestream MBR Rendah Tinggi

Sumber: Malia dan Till (2001) Bioreaktor membran terendam (Submerged MBR) paling disukai dan banyak digunakan pada instalasi pengolahan air limbah. Hal ini disebabkan oleh faktorfaktor sebagai berikut (Thanh, 2002): Ukuran unit lebih kecil Dengan MBR terendam, membran diletakkan di dalam bioreaktor sehingga tidak diperlukan tempat khusus untuk membran. Penggunaan energi lebih efisien MBR terendam tidak menggunakan pompa tambahan untuk mengalirkan umpan ke membran seperti halnya MBR eksternal. Hal ini menyebabkan, kebutuhan energi menjadi lebih sedikit. Lebih ekonomis karena tidak menggunakan housing membran Hal ini terjadi karena dialirkan secara dead-end dan dari luar ke dalam sehingga MBR terendam tidak memerlukan housing membran. Akibatnya, tidak diperlukan biaya untuk housing membran.

Instalasi unit lebih mudah dan sederhana Akibat tidak menggunakan pompa resirkulasi, konfigurasi dan instalasi MBR

ini menjadi lebih mudah. 2.2. Teknologi Membran Pemilihan jenis proses membrane sangat bergantung dari substansi-substansi yang ingin dihilangkan pada proses membrane bioreactor. Membran sendiri pada umumnya terbagi dalam 4 kategori sebagai berikut: Microfiltration Membaran mikrofiltrasi memiliki ukuran pori antara 0,02 sampai 10 m dan tebal antara 10 sampai 150 m. Mikrofiltrasi digunakan pada berbagai macam aplikasi di industri, terutama untuk pemisahan partikel berukuran lebih dari 0,1 m dari larutannya. Membran ini dapat menahan koloid, mikroorganisme, dan padatan tersuspensi. Mikrofiltrasi juga dapat menahan bahan-bahan yang ukurannya lebih kecil daripada rata-rata ukuran pori karena penahan adsorptif. Salah satu aplikasi utamanya di industri adalah sterilisasi dan klarifikasi pada industri makanan dan obat-obatan, pemanenan sel, klarifikasi juice, recovery logam dalam bentuk kolid, pengolahan limbah cair, fermentasi kontinue, ataupun pemisahan emulsi minyak-air. Mikrofiltrasi juga dapat digunakan untuk memisahkan partikel selama proses pembuatan air ultramurni pada industri semi konduktor. Aplikasi terbaru adalah di bidang bioteknologi, yaitu pengambilan sel dan bioreaktor membran, serta teknologi biomedik yaitu pemisahan plasma dari sel darah. Membaran mikrofiltrasi biasanya beroperasi pada tekanan 0,5-5 atmosfer, dan membran yang digunakan pada umumnya berstruktur simetrik. MF dapat memisahkan partikel berukuran > 0,05 m Bahan berukuran < 0,05 m (garam/ion, gula & protein) melewati membran MF Ukuran pori: 0,08 10 m Tekanan : 0,1 3 bar

Gambar 2.3. Skema Mikrofiltrasi Ultrafiltration Ultrafiltrasi (UF) adalah salah satu proses membran yang saat ini tengah berkembang dengan pesat baik dari perluasan aplikasi maupun pengembangan lainnya yang berkaitan dengan usaha peningkatan kinerja membran. Sistem UF beroperasi pada tekanan rendah dengan TMP umumnya 0,5-3 bar. Hal ini tidak saja memungkinkan penggunaan nonpositive displacement pumps tetapi juga instalasi membran dapat dikonstruksi dari komponen-komponen sintetik yang lebih murah. UF dapat memisahkan bahan berukuran > 0,005 m (BM > 1000 Da) UF dan MF adalah identik, hanya membran UF asimetris membarn lebih dense Molekul berukuran kecil (garam/ion, dan gula) dapat melewati membran UF Aliran permeat dapat digambarkan dengan pers. Konseny-Carmen Tekanan: 1 10 bar

Gambar 2.4. Skema Ultrafikasi

NanoFiltration Nanofiltrasi (NF) adalah lintas aliran teknologi filtrasi yang berkisar antara

ultrafiltrasi (UF) dan reverse osmosis (RO). Ukuran pori membran biasanya sekitar 1 nanometer. Membran Nanofilter biasanya diukur dari berat molekul cutoff (MWCO) daripada ukuran pori nominal. MWCO ini biasanya kurang dari 1000 unit massa atom (dalton). Tekanan transmembran (penurunan tekanan di seluruh membran) yang diperlukan lebih rendah (sampai dengan 3 Mpa) daripada yang digunakan pada RO, mengurangi biaya operasional secara signifikan. Namun, membran NF masih tergantung pada skala dan pengotor, dan sering mengubah seperti anti-scalant yang diperlukan untuk digunakan. Terletak diantara UF dan RO Tekanan: 10 35 bar
2+ 2+

Dapat memisahkan ion dwi-valensi (Mg kesadahan MWCO: > 250 Da

dan Ca ), penghilangan

Tipikal rejeksi (5 bar, 200 ppm): 60 % NaCl, 80 %, Ca(CO3)2, 98 % MgSO4, Glukosa, Sukrosa

Aplikasi:Pemisahkan gula (sumber C-eksternal), eliminasi warna, TOC, TDS, dan kesadahan, logam berat

Gambar 2.5 Skema Nanofiltrasi Reverse Osmosis Membran yang digunakan untuk reverse osmosis memiliki lapisan padat dalam matriks polimer - baik kulit membran asimetris atau lapisan interfasial

dipolimerisasi dalam membran tipis-film-komposit - di mana pemisahan terjadi. Dalam kebanyakan kasus, membran ini dirancang untuk memungkinkan air hanya untuk melewati melalui lapisan padat, sementara mencegah bagian dari zat terlarut (seperti ion garam). Proses ini mensyaratkan bahwa tekanan tinggi akan diberikan pada sisi konsentrasi tinggi membran, biasanya 2-17 bar (30-250 psi) untuk air tawar dan payau, dan 40-82 bar (600-1200 psi) untuk air laut, yang memiliki sekitar 27 bar (390 psi) [3] tekanan osmotik alam yang harus diatasi.Proses ini terkenal karena penggunaannya dalam desalinasi (menghilangkan garam dan mineral lainnya dari air laut untuk mendapatkan air tawar), namun sejak awal 1970-an itu juga telah digunakan untuk memurnikan air segar untuk aplikasi medis, industri, dan domestik. Membran non-porous, hampir hanya air yang dapat melewati membran RO Garam/ion dan bahan organik > 50 Da dapat dihalangi membran RO Tekanan: 20-60 bar, tetapi dapat juga s/d 200 bar Aplikasi: penanganan leachate, penghilangan logam berat, gramgraman, dan bahan organik sintetik
Partikel dan Makromolekul, ion bervalensi dua Ion bervalensi satu

Membran

Air

Gambar 2.6. Skema Reverse Osmosis

Tabel 2 Reduksi Pada Mikroorganisme pada masing-masing jenis proses membrane

2.3. Proses Pada Membran Bioreaktor Teknologi membran bioreactor seperti yang sudah dijaelakan diatas tadi merupakan perpaduan antara teknologi membrane dan proses biologi dalam pengolahan air limbah. Berikut penjelasan singkat mengenai kedua proses tersebut 1. Proses Membran Pada dasarnya, ada dua jenis proses dalam membran yaitu, dead-end filtrasi dan cross-flow filtrasi. Pada dead-end filtrasi, air limbah mengalir sepanjang permukaan membran, sehingga partikel yang tersisih akan menumpuk dan membentuk semacam cake pada lapisan permukaan membran. Ketebalan cake meningkat sepanjang waktu filtrasi dan akibatnya mengurangi tingkat permeasi (perembesan). Sedangkan pada cross-fow filtrasi air limbah mengalir sepanjang permukaan membran, sehingga bagian dari zat terlarut yang tersaring akan menumpuk. Pengendapan zat terlarut di dalam pori-pori membran dan permukaan membrane disebut 'fouling'. Konsentrasi polarisasi adsorpsi, pembentukan lapisan gel, terisinya pori-pori adalah beberapa penyebab dari fouling, yang mengakibatkan masalah utama yang dihadapi ketika diterapkan pada microfiltration - penurunan fluks aliran.

Penurunan Fluks terjadi meskipun pemilihan jenis proses sudah tepat, karena ini merupakan bagian mutlak yang tak terpisahkan dari proses, sehingga membran harus dibersihkan secara berkala. Ini berarti bahwa pilihan bahan/material membran harus menunjukkan stabilitas sesuai aturan pembersihan. Umumnya, fluks air murni melalui membran berbanding lurus dengan tekanan hidrostatik terapan, dinyatakan sebagai:J = P / ( * Rm)

Dimana Rm merupakan resistansi/perlawanan hidrostatis pada air. Pada prakteknya, pengurangan fouling hanya dapat dilakukan dengan pembersihan.. Frekuensi pembersihan membrane dapat diperkirakan dari proses optimasi. Pembersihan dapat dilakukan dengan cara hidrolik, mekanik dan kimia. Beberapa strategi pengurangan fouling adalah sebagai berikut: Metode Pretreatment, yang meliputi perlakuan panas, penyesuaian pH, penambahan agen kompleksasi, klorinasi, adsorbtion pada karbon aktif, klarifikasi kimia dan penyaringan. Perubahan sifat membran, misalnya, penyempitan ukuran pori-pori membrane yang dapat mengurangi fouling. Pengurangan konsentrasi terpolarisasi dengan meningkatkan kecepatan aliran dan menggunakan membrane dengan flux yang lebih Peningkatan turbulensi pada permukaan membran.

2. Proses Biologi Proses biologi yang terjadi didalam membren bioreactor antara lain: Penurunan COD dan Penghilangan Lumpur yang Terbentuk Karena tingginya jumlah mikroorganisme dalam MBR, laju penyerapan polutan dapat ditingkatkan. Hal ini menyebabkan proses degradasi menjadi lebih baik dalam jangka waktu tertentu atau kebutuhan volume reaktor yang kecil. Dibandingkan dengan CAS (Conventional Activated Sludge) yang biasanya mencapai 95 persen, penurunan COD dapat ditingkatkan menjadi 96 untuk 99 persen pada MBR.

Penghilangan Senyawa Organik Penghilangan senyawa organik merupakan salah satu konsen utama dalam

pengolahan air limbah modern., terutama di daerah yang sensitif terhadap eutrofikasi. Seperti pada activated sludge konvensional, saat ini, proses yang paling banyak digunakan untuk mereduksi senywa nitrogen adalah nitrifikasi dikombinasikan dengan reaksi denitrifikasi. Selain itu, proses presipitasi fosforenhanced biological phosphorus removal (EBPR)-dapat diterapkan untuk mendegradasi fosor, namun memerlukan proses anaerobic tambahan. Pada beberapa teknologi MBR, EBRP di kombinasikan dengan denitrifikasi yang menghasilkan penurunan senyawa organic sangat efektif. 2.4.Perbandingan Teknologi Membran Bioreactor dengan Proses

Konvensional Lain Bioreaktor membran terendam memiliki potensi yang sangat besar untuk mengolah air limbah menggantikan proses konvensional yang ada saat ini. Berikut ini adalah penelitian beberapa ahli yang membandingkan antar kinerja lumpur aktif (conventional activated sludge) dan bioreaktor membran terendam (BRM). 1. Hasar, Halil dan Cumali Kinaci meneliti tentang kinerja BRM untuk reklamasi dan reuse limbah perkotaan dan membandingkannya dengan classic activated sludge process (CASP). Proses membran menggunakan bioreaktor membran terendam dengan ukuran nominal pori 0,03 mm dan luas permukaan 0,3 mm2. Membran menggunakan modul tubular dengan waktu tinggal lumpur 8-24 jam selama 30-100 hari. Bioreaktor membran diisi dengan lumpur aktif yang bervolume 50 liter. Dari tabel 3 terlihat rejeksi COD dengan bioreaktor membran terendam jauh lebih tinggi (97,1%) dibandingkan dengan metode lumpur aktif (86%). Total fosfor, turbiditas, amoniak dan senyawa nitrogen pada effluen bioreaktor membran terendam jauh lebih rendah dibandingkan dengan lumpur aktif. Efisiensi pemisahan padatan terlarut dengan bioreaktor membran terendam mencapai 100% sedangkan dengan lumpur aktif hanya sekitar 60%.

Tabel 3. Perbandingan antara kinerja bioreaktor membran dengan lumpur aktif

(Hasar, 2004). 2. Merlo dkk. meneliti tentang kinerja membran bioreaktor terendam dan teknologi lumpur aktif untuk mengangani limbah perkotaan (domestik). Waktu tinggal limbah dalam bioreaktor diatur selama 2-10 hari. Lumpur dianalisis menggunakan distribusi ukuran partikel, material koloid, substansi polimer ekstraseluler dan mikroorganisme berfilamen. Dari hasil percobaan, diperoleh effluen BRM terendam jauh lebih baik dibanding reaktor CAS. Namun perkembangan lumpur dari CAS lebih baik dibanding pengolahan dengan BRM terendam. Karakteristik lumpur pada bioreaktor membran dan lumpur aktif dapat dilihat pada gambar 2.6. Dari penelitian-penelitian tersebut, bioreaktor membran sangat potensial digunakan untuk mengolah limbah baik limbah domestik maupun limbah industri. Kelebihan sistem bioreaktor membran adalah : 1. Biomassa dapat direjeksi dengan sempurna. Efluen yang dihasilkan oleh bioreaktor membran tidak tergantung dari efisiensi pengolahan biologis. Dengan demikian, produk BRM terendam bersih dari kista dan protozoa, serta

dapat mereduksi bakteri dan virus. Efluen ini, sesuai dengan standar baku air bersih. 2. Waktu tinggal padatan yang lama dapat diperoleh dan lumpur yang dihasilkan sangat sedikit. 3. Rentang MLSS yang dapat diolah lebih tinggi dibanding dengan metode lumpur aktif. Desain BRM dapat mengolah limbah dengan kandungan MLSS 8-15 mg/l bahkan sampai 50 mg/l, sedangkan dengan lumpur aktif hanya sekitar 3,5 mg/l. 4. Level pencemar pada efluen seperti bahan organik, nitrogen, fosfor dan padatan terlarut sangat rendah sehingga tidak dibutuhkan pengolahan lanjutan. 5. Dapat digunakan pada skala kecil untuk pengolahan limbah pemukiman atau untuk dikomersialisasikan. 6. Membran menahan mikroorganisme di bioreaktor selama mungkin termasuk bakteri nitrogen, sehingga laju reduksi bahan organik dan nitrogen berlangsung cepat. 7. Konfigurasi dan instalasi alat sederhana, sehingga dapat mereduksi biaya konstruksi dan operasi. Peralatan yang dibutuhkan tidak banyak, termasuk tidak membutuhkan pompa lumpur dan pompa resirkulasi.