Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM PERTANIAN TANPA TANAH

PEMBUATAN BIBIT F0 DENGAN MEDIA KECAMBAH














Disusun Oleh:
1. RYAN ARDIANSYAH (1201100 )
2. FHELA BEKTI K. (1201100 )
3. AHMAD SAID (12011020)
4. AROHMAN N (12011023)
5. JUNITA SAMOSIR (12011026
6. LYAS ZULAIKHA (1201102 )
7. FERI ANDIKA (1201103 )



PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bibit berdasarkan pengertiannya adalah merupakan bahan tanam yang diambil
dari bagian tanaman (akar, batang, dan daun) yang digunakan untuk fungsi budidaya
tanaman berikutnya. Batasan tersebut digunakan juga dalam dunia jamur tetapi dalam
dunia perjamuran tidak dikenal istilah benih jamur, meskipun penumbuhannya melalui
spora hasil perkembangbiakan generatif (Sugianto, 2002).
Bibit jamur tiram adalah hal yang pertama dan utama dalam mengerjakan
budidaya jamur tiram , hal yang harus kita perhatikan adalah menentukan kualitas bibit
jamur tiram yang akan di gunakan. karena tingkat keberhasilan dalam proses budidaya
jamur tiram sangat di tentukan oleh kualitas bibit yang digunakan.
Bibit jamur tiram yang terbaik adalah bibit jamur tiram yang menggunakan
media terbaik pula dengan hasil panen yang memuaskan, yaitu bibit jamur tiram dengan
media jagung, karena jagung adalah media yang nutrisi nya paling cocok dan sangat
dibutuhkan oleh jamur tiram. dengan menggunakan jagung kebutuhan nutrisi jamur
terpenuhi sehingga tumbuh jamur sangat subur dan besar-besar nantinya.
Bibit jamur tiram F0 adalah bibit jamur indukan dengan media dasar agar-agar (
PDA) . Sebagai inokulan bibit F0 adalah jaringan jamur yang berasal dari jamur pilihan
.Bisa diperbanyak dalam media dasar, baik cawan petri, tabung reaksi, tabung pipih dll.
Keturunan dari bibit ini akan menghasilkan jamur yang cepat tumbuh, seragam , besar-
besar. 1 botol F0 akan menghasilkan sekitar 70-80 botol bibit F1. Bibit jamur tiram F0
atau banyak juga orang-orang menyebutnya dengan kultur murni, jaringan murni, PDA
atau biakan murni, bibit jamur tiram tingkat ini adalah tingkatan pertama, dimana cara
membuatnya di ambil langsung dari spora jamur tiram itu sendiri dengan menggunakan
PDA (Potatos Dextrosa Agar) sebagai tempat media tumbuh kembang misilium bibit
jamur tiram.

B. Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui pembuatan media PDA
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan bibit jamur F0.
3. Mahasiswa mampu dan mempraktekan pembuatan bibit jamur F0

II. TINJAUAN PUSTAKA
Dasar Teori
Jamur merupakan organisme eukariot (sel-selnya mempunyai inti sejati) yang
digolongkan ke dalam kelompok cendawan sejati dengan dinding sel jamur terdiri
atas zat kitin. Tubuh atau soma jamur disebut hifa yang berasal dari spora dan sel
jamur tidak mengandung klorofil. Jamur memperoleh makanan secara heterotrof dari
bahan organik yang ada di sekitar dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh hifa
kemudian diserap. Jamur tiram membentuk struktur reproduksi seksual yang berada di
dalam struktur tubuh buah yang bentuknya mencolok dan ukurannya makroskopik.
Jamur merupakan konsumen, maka dari itu jamur bergantung pada substrat yang
menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnyaSemua zat itu
diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat
parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit. (wiki,2011).
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok
Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh
buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip
cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat
dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom.
Klasifikasi jamur tiram :
Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Kelas : Homobasidiomycetes
Ordo : Agaricales
Family : Tricholomatacea
Genus : Pleurotus
Spesies :P.ostreatus

Kistinnah (2010), menyatakan bahwa secara alamiah, jamur dapat berkembang
biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan
dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel
anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari
penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini
berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui
perantara angin atau air.
Pembuatan bibit F0 PDA yang dimaksud di sini adalah pembiakan kultur
murni atau biakan murni dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Yang dimaksud
dengan kultur jaringan adalah mengambil bagian dari jamur untuk ditumbuhkan pada
media PDA agar dapat berkembang dan memperbanyak diri. Sel-sel spora jamur tiram
diharapkan dapat berkembang menjadi individu baru secara sempurna pada media
yang sesuai dalam hal ini media PDA. Teknik kultur jaringan dengan media PDA
(Potato Dextrosa Agar) ini sangat penting untuk dikuasai oleh pembudidaya jamur
karena dari sinilah semua proses multiplikasi atau pengembangan jamur tiram
berlangsung.(Anonim.2010).
Teknik kultur jaringan menuntut syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi
dalam pelaksanaannya. Laboratorium harus menyediakan alat-alat kerja, sarana
pendukung terciptanya kondisi aseptik terkendali dan fasilitas dasar seperti, air, listrik
dan bahan bakar. Pelaksanaan kultur jaringan memerlukan juga perangkat lunak yang
memenuhi syarat. Dalam melakukan pelaksanaan kultur jaringan, pelaksanaan harus
mempunyai latar belakang ilmu-ilmu dasar tertentu yaitu botani, fisiologi tumbuhan
ZPT, kimia dan fisika yang memadai. pelaksana akan berkecimpung dalam pekerjaan
yang berhubungan erat dengan ilmu-ilmu dasar tersebut. Pelaksana akan banyak
berhubungan dengan berbagai macam bahan kimia, proses fisiologi tanaman
(biokimia dan fisika) dan berbagai macam pekerjaan analitik (Yusnita, 2003).
Kadang-kadang latar belakang pengetahuan tentang mikrobiologi, sitologi dan
histologi. Pelaksana juga dituntut dalam hal keterampilan kerja, ketekunan dan
kesabaran yang tinggi serta harus bekerja intensif. Pekerjaan kultur jaringan meliputi :
persiapan media, isolasi bahan tanam (eksplan), sterilisasi eksplan, inokulasi eksplan,
aklimatisasi dan usaha pemindahan tanaman hasil kultur jaringan ke lapangan.
(Yusnita, 2003).

III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pertanian Tanpa Tanah pada acara pembuatan F0 jamur ini
dilakuakan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada
hari Jumat, 2014 pukul 08.00 WIB s/d selesai.

B. Alat dan Bahan
a. Alat :
1. Botol Pipih
2. Autoclaf
3. Kapas
4. Karet
5. Alumunium Foil
6. Cutter
7. Pinset
8. Bunzen
9. Alkohol
10. Gelas ukur
11. Kotak pembibitan
b. Bahan :
1. Kecambah segar 200 gr
2. Dextrosa 20 gr
3. Agar 20 g
4. Air steril / air destilasi 1 liter
5. Induk jamur
C. Cara Kerja
1. Cuci kecambah dengan air bersih.
2. Rebus kecambah dengan air sebanyak 1ltr selama -+ 15-20 mnt atau sampai lunak
kira-kira air menjadi 500 ml dari 1ltr tadi
3. Ambil cairan hasil rebusan kedalam gelas ukur dengan takaran 450ml-500ml
4. Masukan Dextrosa dan Agar- agar masing-masing 7gr seperti keterangan di atas
5. Aduk sampai larut dan merata kemudian masukan cairan tadi kedalam botol (tabung
reaksi tergantung keinginan) masing-masing 10ml
6. Kemudian tutup botol /tabung dengan kapas dan lapisi dengan kertas email
kemudian ikat dengan karet bila perlu.
7. Sterilkan botol yang berisi cairan PDA tadi dalam Autoclave selama kurang lebih
30-45menit dalam suhu 121c, tekanan 1,5 - 2 atm. Pertahankan kondisi ini selama
kurang lebih 45 menit.
8. Biarkan mendingin hingga suhu kurang lebih 37c
9. Keluarkan botol-botol tadi dan letakkan dalam posisi miring/tidur agar cairan bisa
melebar dengan tujuan memperbanyak area media. Jangan sampai cairan mencapai
mulut botol. Jika cairan PDA agar tadi sudah mengeras, barulah siap untuk di
Inokulasikan bibit yang didapat dari jamur langsung.
Catatan : Sebelumnya botol dibersihkan dan disteril dengan merebus botol dengan air
mendidih selama kurang lebih 10 menit. Memang dalam membuat bibit PDA, kebersihan,
sterilisasi tempat, alat dan bahan adalah syarat utama dalam menunjang keberhasilannya.
a. Dengan kultur jaringan :
1. Menuang/ memasukkan media PDA yang sudah dibuat dari Erlenmeyer ke dalam
petridish, memasukkan media tersebut dalam keaadaan masih agak panas agar
belum membentuk jel/mulai memadat dan di dekat lampu Bunsen yang sudah
dinyalakan.
2. Sambil menunggu media padat menyiapakan alat-alat yang akan digunakan, alat-
alat tersebut sudah dalam keadaan steril (pinset, blade, petidish), LAFC dibersihkan
menggunakan alkohol dan di UV terlebih dahulu 20-30 menit, setelah akan
digunakan LAFC blower dan lampu dihidupkan.
3. Mencuci jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang akan digunakan untuk bahan bibit
dengan kultur jaringan.
4. Setelah media padat, media tersebut dimasukkan kedalam laminar yang sebelumnya
disemprotmenggunakan alkohol, selain media yang dimasukkan alat-alat yang lain
yaitu petridish, scapel, blade, lampu bunsen dan jamur, semua disemprot alkohol
terlebih dahulu.
5. Setelah semua alat dan bahan siap, bisa langsung dilakukan inokulasi eksplan
dengan cara:
Memasang blade pada scapel
Menyalakan lampu Bunsen
Mensterilkan pinset dan scapel diatas bara lampu bunsen yang sebelumnya
dicelupkan kedalam alcohol
Membelah jamur merang menjadi 2 bagian diatas permukaan petridish, didalam
belahan tersebut terdapat seperti tankai itu di potong menjadi beberapa bagian
Potongan-potongan bagian tubuh jamur tersebut dimasukkan kedalam media,
masing-masing media dalam petridish diisi 3 potongan
Setelah digunakan scapel dan blade kembali disterilkan
6. Setelah inokulasi selesai diberi label dan disimpan dalam ruangan gelap dan steril
7. Melakukan pengamatan secara berkala, bila terjadi kontaminasi segera dipisahkan
dan dibersihkan.
8. Setelah miselium memenuhi petridish maka sudah siap digunakan untuk membuat
bibit F1.

b. Dengan spora :
1. Menuang/ memasukkan media PDA yang sudah dibuat dari Erlenmeyer ke dalam
petridish, memesukkan media tersebut dalam keaadaan masih agak panas agar
belum membentuk jel/mulai memadat dan di dekat lampu Bunsen yang sudah
dinyalakan.
2. Sambil menunggu media padat menyiapakan alat-alat yang akan digunakan, alat-
alat tersebut sudah dalam keadaan steril (pinset, blade, petidish, tissue), LAFC
dibersihkan menggunakan alkohol dan di UV terlebih dahulu 20-30 menit, setelah
akan digunakan LAFC blower dan lampu dihidupkan.
3. Mencuci jamur merang (Volvariella volvaceae) yang akan digunakan untuk bahan
bibit dengan kultur jaringan.
4. Setelah media padat, media tersebut dimasukkan kedalam laminar yang
sebelumnya disemprot menggunakan alkohol, selain media yang dimasukkan alat-
alat yang lain yaitu petridish, scapel, blade, lampu bunsen dan jamur, semua
disemprot alkohol terlebih dahulu.
5. Setelah semua alat dan bahan siap, bisa langsung dilakukan inokulasi eksplan
dengan cara:
Memasang blade pada scapel
Menyalakan lampu Bunsen
Mensterilkan pinset dan scapel diatas bara lampu bunsen yang sebelumnya
dicelupkan kedalam alcohol
Memotong tangkai jamur mengguankan scapel dan pinset. Bagian yang
digunakan adalah bagian tudungnya
Mengambil tissue dan ditaruh di pemukaan petridish, kemudian pegang
tudung jamur menggunakan pinset dan bagian lamela diketuk-ketukkan
kedalam tissue agar spora dalam jamur tersebut jatuh ke dalam tissue
Spora yang ada pada tissue tersebut dimasukkan ke dalam media PDA dengan
cara hati-hati.
Setelah inokulasi selesai diberi label dan disimpan dalam ruangan gelap dan
steril
Melakukan pengamatan secara berkala, bila terjadi kontaminasi segera
dipisahkan dan dibersihkan.
Setelah miselium memenuhi petridish maka sudah siap digunakan untuk
membuat bibit F1.



IV. HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil
Dari hasil praktikum pembuatan bibit F0 dengan menggunakan tubuh buah jamur
tiram.Pemilihan indukan jamur ini sangat penting karena bagian yang diambil dari
jaringan tubuh jamur itulah yang merupakan inti dari perkembangan miselium pada bibit
PDA selanjutnya . Pembuatan bibit induk F0 dengan kultur jaringan:
a. Diperoleh tiga buah petri yang didalamnya telah tertanam jaringan dari jamur Tiram
yang selanjutnya ditunggu beberapa hari sampai tumbuh hifa
b.Pada setiap masing-masing petri terdapat dua jaringan yang ditanam sehingga
keseluruhannya terdapat 6 (enam) jaringan yang tertanam.
c. Setelah selang hari pertama dan hari kedua dan selanjutnya pada jaringan yang di
tanam pada media PDA sudah terlihat tumbuh namun dari kelima petri tersebut
terkontaminasi dari organisme lain yang di tandai dengan tumbuhnya hyfa atau mikro
organisme lain yang berwarna hitam dan juga berwarna hijau.

B. Pembahasan
Bibit jamur tiram F0 atau banyak juga orang-orang menyebutnya dengan kultur
murni, jaringan murni, PDA atau biakan murni, bibit jamur tiram tingkat ini adalah
tingkatan pertama, dimana cara membuatnya di ambil langsung dari bagian tubuh buah
maupun spora jamur tiram itu sendiri dengan menggunakan PDA (Potatos Dextrosa Agar)
sebagai tempat media tumbuh kembang misilium bibit jamur tiram.
Pembuatan bibit dengan menggunakan PDA yang dimaksud di sini adalah
pembiakan kultur murni atau biakan murni dengan menggunakan teknik kultur jaringan.
Yang dimaksud dengan kultur jaringan adalah mengambil bagian dari jamur untuk
ditumbuhkan pada media PDA agar dapat berkembang dan memperbanyak diri. Sel-sel
pada spora jamur tiram diharapkan dapat berkembang menjadi individu baru secara
sempurna pada media yang sesuai dalam hal ini media PDA. Teknik kultur jaringan
dengan media PDA (Potato Dextrosa Agar) ini sangat penting untuk dikuasai oleh
pebudidaya jamur karena dari sinilah semua proses multiaplikasi atau pengembangan
jamur tiram berlangsung.
Sekilas tentang PDA, PDA adalah singkatan dari Potato Dextrosa Agar
merupakan campuran media dari larutan 200 gram kecambah ditambah 20gram Dextrosa
dan 20 gram bubuk agar-agar. Pada media PDA ini di inokulasikan / dibibitkan biakan
yang diambil dari bagian tubuh jamur tiram Lalu dari biakan murni yang diambil dari
tubuh jamur tersebut bereaksi pada media PDA dengan perkembangan sel-sel spora
jamur.
Selanjutnya jika biakan murni dari indukan jamur tersebut dapat berkembang
dengan baik,maka terjadilah duplikasi-duplikasi sel-sel spora yang sangat banyak
membentuk jaringan hifa miselium yang berkembang dengan baik pada media PDA
tersebut. Biakan tersebut harus murni dan tidak terkontaminasi oleh organisme lain.
Selain itu kemampuan untuk memperlakukan biakan murni tersebut sampai diperoleh
bibit jamur juga merupakan faktor penting yang harus dikuasai oleh pembibit jamur. Agar
didapatkan bibit jamur sesuai dengan yang diinginkan maka pengetahuan teknik
mikrobiologi harus diketahui dan dipraktikkan dengan baik oleh pembibit jamur atau
petani jamur. Teknik mikrobiologi sendiri mengandung pengertian semua teknik yang
dilakukan dengan aturan tertentu untuk menangani semua pekerjaan yang berhubungan
dengan mikrobia.
Dalam pembibitan jamur, terutama dalam pembuatan biakan murni dan biakan
induk, semua tahap kegiatan harus dilakukan dengan teknik mikrobiologi. Dengan
penerapan teknik mikrobiologi ini akan mendukung keberhasilan dalam pembuatan bibit
jamur. Beberapa tahap kegiatan pembibitan jamur yang dilakukan dengan teknik
mikrobiologi diantaranya dengan pembuatan media biakan, sterilisasi media, pembuatan
media agar-agar cawan dan media agar-agar miring, pemindahan biakan jamur,
pembuatan biakan murni, pemeliharaan biakan murni dan pembuatan biakan induk.
Sistem kultur jaringan memiliki keuntungan yaitu penghematan tenaga, waktu,
tempat, dan biaya. Kultur jaringan menggunakan dasar teori sel seperti dikemukakan oleh
Schleiden dan Schwan bahwa sel mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi
merupakan kemampuan setiap sel, dari bagian sel yang diambil dan diletakkan dalam
lingkungan yang sesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam teknik kultur jaringan antara lain adalah pemilihan eksplan
yaitu bagian dari tanaman yang digunakan dalam kulturasi, penggunaan media yang
sesuai dan keadaan lingkungan yang aseptis.
Ketersediaan nutrisi bagi jamur sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas
jamur sehingga dapat berproduksi tinggi. Kemampuan jamur untuk dapat memanfaatkan
nutrisi yang telah tersedia pada substrat tanam dapat diketahui dengan menghitung nilai
efisiensi biologis. Biokonversi adalah proses enzimatik yang dapat merubah suatu
senyawa menjadi produk lain yang strukturnya hampir sama, dengan demikian melalui
teknologi biokonversi diharapkan dapat memperbaiki nilai gizi suatu bahan pangan,
terutama yang kandungan dinding selnya tinggi, menjadi suatu produk badan buah jamur
yang bermutu tinggi, karena melalui teknologi tersebut dapat meningkatkan nilai gizi,
protein, persentase lignin menurun, tidak menyebabkan polusi, dan tidak menghasilkan
racun.
Dalam praktikum pembuatan bibit F0 ini ada kendala yang dihadapi seperti:
1. Hasil bibit atau biakan terkontaminasi
Kontaminasi terjadi karena adanya mikroorganisme lain yang tumbuh di
media tanam. Kontaminasi cendawan pada media PDA jamur tiram akan terlihat
dalam waktu 2-4 hari, ditandai adanya misellium lain selain inti. Misellium
kontaminan bisa berwarna lain atau serupa dengan misellium inti jamur. Oleh karena
itu perlu jeli membedakan tipe pertumbuhan misellium.Kontaminasi ditandai dengan
adanya lendir di sekitar media. Penyebab kontaminasi di budidaya jamur tiram ada 2,
yaitu bakteri dan cendawan.
Kontaminasi cendawan pada media bibit PDA jamur tiram ditandai dengan
adanya misellium lain selain misellium inti (maksudnya misellium jamur yang
dibudidaya). Bila kita amati setiap hari, kita akan menemukan letak kontaminan yang
berbeda, dengan cara ini kita bisa memperkirakan penyebab kontaminasi. Ketika kita
menanam kultur jaringan dari biakan murni berupa jamur tiram ataupun jamur
kancing itu sekarang kita bayangkan dulu ada berapa banyak mikroorganisme yg
melayang-layang di udara, pasti jumlahnya sangat banyak dan memenuhi setiap
milimeter volum di udara. Dan ketika kita menanam kultur dengan biakan murni
jamur tiram, apakah sudah kita sadari bahwa terjadi kontak udara bermikroorganisme
itu dengan media yang telah kita buat. Pada dasarnya kontaminasi itu terjadi karena
adanya kontak udara dengan media.
Dari tahap yang sudah kita lakukan yaitu mencampurkan bahan media dan
agar lalu di aduk hingga homogen didalam gelas ukur yang sudah mendidih lalu
dimasukan ke autoklaf dan di dinginkan. Ketika ingin mengisolasi spora dari jamur
yang kita inginkan, madia yang telah beku tersebut dipanaskan lagi hingga mencair
lalu dituang ke dalam petridisk, dan didiamkan lagi hingga membeku, lalu siap
ditanami spora.
Sekarang kita perhatikan lagi, kontak udara dengan media F0 jamur terjadi ketika :
1. Menuangkan stok ke dalam petridisk, kalau medianya masih benar-benar panas
tidak terjadi apa-apa, tetapi kalau sudah mendingin pasti disitu ada kemungkinan
mikroorganisme bisa survive / bertahan. Sebenernya petridisk yang siap tanam itu
bagian dalamnya sudah steril, berhubung media yang dituangkan sudah agak
mendingin, maka terjadi kontak udara dengan permukaan dalam dipetridisk itu
dan bakteri atau mikroorganisme kontaminan bertahan, selanjutnya akan
menyebabkan kontaminasi.
2. Kontak udara saat isolasi. Idealnya isolasi spora dilakukan dengan cepat agar
meminimalisir kontak dengan udara. Tapi terkadang ada saja kendala, bahan
tanam yang sulit dieksekusi, persiapan belum sempurna sehingga terjadi
pemindahan alat dari luar ke dalam laminar / enkas, akibatnya zona steril yang
cuma 1/3 dari luas laminar jadi berkurang.
2. Belum memiliki keahlian mengenai seluk beluk kultur jaringan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan miselium bisa berupa
faktor fisik, kimia ataupun biologi. Diantaranya yaitu suhu, pH, kelembaban,
kandungan air, O2, CO2, kualitas kultur jamur (F0), dan kontaminan. Kualitas kultur
jamur F0 pun harus baik, agar mendapatkan bibit F1 yang baik pula. Ciri-ciri bibit F0
dengan kualitas baik adalah miselium yang tumbuh pada media PDA terlihat putih
tebal dan tidak terkontaminasi. Hal yang harus dihindasi selama proses pertumbuhan
miselium adalah kehadihan kontaminan. Karenanya pastikan anda untuk selalu
menjaga ksteruilan bibit, media tanam, dan peralatan yang digunakan pada sat
penanaman bibit. Kehadiran kontaminan dapat menjadi pesaing dalam mendapatkan
nutrient pada substrat, yang menyebabkan penurunan hasil jamur bahkan tidak bisa
panen sama sekali.
V. KESIMPULAN

1. Jika pembuatan f0 terkontaminasi maka akan mengakibatkan pertumbuhan
hifa terganggu
2. 2 Penerapan teknik mikrobiologi akan mendukung keberhasilan dalam
pembuatan f0
3. Menggunakan kultur jaringan dapat memperhemat waktu yang ada
4. Ketersediaan nutrisi sangat berpengaruh untukpertumbuhan jamur untuk
berproduksi tinggi
5. Jika petridis yang digunakan untuk membuat f0 terkontaminasi maka
kemungkinan kegagalan dalam pembuatan f0 akan terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Parjimo dan Agus Andoko, Budidaya jamur, jamur kuping, jamur tiram, dan jamur
merang, Agro Media Pustaka 2007
Sugianto, A. 2002. Topik Ekologi Jamur Tiram Putih dan Apek Budidayanya. PPS
Unpad. Bandung 71 hal.