Anda di halaman 1dari 48

102

BAB IV
PERENCANAAN SISTEM JARINGAN
DISTRIBUSI AIR BERSIH

4.1 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Perhitungan proyeksi penduduk pada studi ini menggunakan tiga metode,
yaitu metode geometrik, metode aritmatik dan metode eksponensial. Kriteria
pemilihan salah satu dari ketiga metode tersebut adalah dengan melihat grafik ketiga
metode tersebut yang paling mendekati grafik data penduduk yang ada, sehingga
metode yang dipilih dapat mendekati kenyataan pertumbuhan penduduk eksisting.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Kediri rasio pertumbuhan
penduduk Kecamatan Mojoroto adalah 3.48 %. Berikut tabel pertambahan penduduk
Kecamatan Mojoroto.
Tabel 4.1 Perkembangan Penduduk Kecamatan Mojoroto
1 1997 71876
2 1998 74088
3 1999 76580
4 2000 79310
5 2001 82250
6 2002 85330
7 2003 87975
8 2004 90701
Sumber : Data BPS Kabupaten Kediri
No. Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa)

Berdasarkan data jumlah penduduk dari tabel 4.1 di atas dapat digambarkan
grafik seperti gambar 4.1 berikut:


102
Grafik Data Pertumbuhan Penduduk
0
20000
40000
60000
80000
100000
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

Gambar 4.1 Grafik Jumlah Penduduk Kecamatan Mojoroto
Sumber : Hasil Perhitungan

4.1.1 Proyeksi penduduk dengan metode Geometrik
Perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan metode Geometrik, dihitung
berdasarkan persamaan 2-1. Maka perhitungan proyeksi penduduk untuk tahun 1998
dengan metode geometrik adalah sebagai berikut:
Pn = P (1+r)
n
0

= 71.876 (1+0,033)
1
= 74.378 jiwa
Dengan cara yang sama untuk perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan
menggunakan metode geometrik untuk tahun berikutnya disajikan pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Kecamatan Mojoroto dengan Metode Geometrik
1 1998 74.378
2 1999 76.968
3 2000 79.647
4 2001 82.420
5 2002 85.289
6 2003 88.258
7 2004 91.331
Sumber : Hasil Perhitungan
No. Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa)



102
Berdasarkan data jumlah penduduk dari tabel 4.2 di atas dapat digambarkan
grafik seperti gambar 4.2 berikut:
Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Metode Geometrik
0
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k
Gambar 4.2 Grafik Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Mojoroto
dengan Metode Geometrik
Sumber : Hasil Perhitungan

4.1.2 Proyeksi penduduk dengan metode Aritmatik
Perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan metode Aritmatik, dihitung
berdasarkan persamaan 2-2. Maka perhitungan proyeksi penduduk untuk tahun 1998
dengan metode Aritmatik adalah sebagai berikut:
(1+r.n)

Pn = P
0

= 71.876 (1+0,037)
1
= 74.378 jiwa
Dengan cara yang sama untuk perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan
menggunakan metode aritmatik untuk tahun berikutnya disajikan pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Kecamatan Mojoroto dengan Metode Aritmatik
1 1998 74.378
2 1999 76.880
3 2000 79.383
4 2001 81.885
5 2002 84.387
6 2003 86.889
7 2004 89.391
Sumber : Hasil Perhitungan
No. Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa)



102
Berdasarkan data jumlah penduduk dari tabel 4.3 di atas dapat digambarkan
grafik seperti gambar 4.3 berikut:

Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Metode Aritmatik
0
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

Gambar 4.3 Grafik Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Mojoroto
dengan Metode Aritmatik
Sumber : Hasil Perhitungan

4.1.3 Proyeksi penduduk dengan metode eksponensial
Perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan metode eksponensial dihitung
berdasarkan persamaan 2-3. Maka perhitungan proyeksi penduduk untuk tahun 1998
dengan metode geometrik adalah sebagai berikut:
r.n
Pn = Po e
(0,033x1)
Pn = 71.876 e

= 74.422 jiwa
Dengan cara yang sama untuk perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan
menggunakan metode geometrik untuk tahun berikutnya disajikan pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Kecamatan Mojoroto dengan Metode Eksponensial
1 1998 74.422
2 1999 77.059
3 2000 79.789
4 2001 82.615
5 2002 85.542
6 2003 88.572
7 2004 91.710
Sumber : Hasil Perhitungan
No. Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa)




102



Berdasarkan data jumlah penduduk dari tabel 4.4 di atas dapat digambarkan
grafik seperti gambar 4.4 berikut:
Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Metode Eksponensial
0
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

Gambar 4.4 Grafik Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Mojoroto
dengan Metode Eksponensial
Sumber : Hasil Perhitungan

102

Perbandingan Beberapa Metode Proyeksi
70000
75000
80000
85000
90000
95000
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k
Pertumbuhan
Penduduk
Kecamatan
Mojoroto Eksisting
Proyeksi Penduduk
Kecamatan
Mojoroto Dengan
Metode Geometrik
Proyeksi Penduduk
Kecamatan
Mojoroto Dengan
Metode Aritmatik
Proyeksi Penduduk
Kecamatan
Mojoroto Dengan
Metode
Eksponensial
Gambar 4.5 Grafik Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Mojoroto dengan Beberapa Metode Proyeksi


Sumber : Hasil Perhitungan

102
Dari grafik di atas yang paling mendekati data yang ada adalah metode
Geometrik, jadi metode yang digunakan untuk menghitung proyeksi pertumbuhan
penduduk hingga tahun 2015 adalah metode Geometrik.
Sehingga proyeksi pertumbuhan penduduk hingga tahun 2015 dengan metode
Geometrik disajikan pada tabel 4.5
Tabel 4.5 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Mojoroto
dengan Metode Geometrik Sampai Tahun 2015
1 1998 74.378
2 1999 76.968
3 2000 79.647
4 2001 82.420
5 2002 85.289
6 2003 88.258
7 2004 91.331
8 2005 94.510
9 2006 97.800
10 2007 101.205
11 2008 104.728
12 2009 108.374
13 2010 112.147
14 2011 116.051
15 2012 120.091
16 2013 124.272
17 2014 128.598
18 2015 133.075
Sumber : Hasil Perhitungan
No. Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa)

Berdasarkan data jumlah penduduk dari tabel 4.5 di atas dapat digambarkan
grafik seperti gambar 4.6 berikut:








102
Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Metode Geometrik
70.000
80.000
90.000
100.000
110.000
120.000
130.000
1
9
9
8
1
9
9
9
2
0
0
0
2
0
0
1
2
0
0
2
2
0
0
3
2
0
0
4
2
0
0
5
2
0
0
6
2
0
0
7
2
0
0
8
2
0
0
9
2
0
1
0
2
0
1
1
2
0
1
2
2
0
1
3
2
0
1
4
Tahun
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

Gambar 4.6 Grafik Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Metode Geometrik
Tahun 2014
Sumber : Hasil Perhitungan

4.2. Perkembangan Jumlah Penduduk Terlayani
Pendistribusian air bersih untuk Desa Pojok yang dilakukan oleh PDAM Kota
Kediri pada saat ini baru sekitar 70 % oleh karena itu target dari PDAM Kota Kediri
untuk tahun 2015 sebesar 92 % dengan peningkatan per tahun sebesar 2 %.
Contoh perhitungan persentase tingkat pelayanan pada daerah yang dikaji
adalah sebagai berikut:
1. Pada Desa Pojok jumlah penduduk sampai dengan tahun 2015 sebanyak
11.669 jiwa
2. Jumlah penduduk yang terlayani pada tahun 2015 sebanyak 10.735 jiwa
3. Persentase tingkat pelayanan adalah
% 100
669 . 11
735 . 10
x = 92 %
Untuk Perhitungan penduduk terlayani sampai tahun 2015 bisa dilihat pada
tabel 4.6


102
Tabel 4.6 Jumlah Penduduk terlayani sampai tahun 2015 di Kecamatan Mojoroto
Prosentase Jumlah Jumlah Penduduk Prosentase Jumlah Jumlah Penduduk
(%) Penduduk Terlayani (%) Penduduk Terlayani
Pojok 70 7,739 5417 92 11669 10735
Campurrejo 50 6,582 3291 83 9924 8237
Tamanan 30 3,583 1075 63 5402 3404
Banjarmlati 0 4,211 0 55 6349 3492
Bandar Kidul 20 7,896 1579 53 11906 6310
Lirboyo 50 7,745 3873 83 11678 9693
Bandar Lor 50 9,154 4577 83 13802 11456
Mojoroto 50 11,385 5693 83 17166 14248
Sukorame 50 7,536 3768 83 11363 9431
Bujel 15 6,580 987 48 9921 4762
Ngampel 50 4,781 2391 83 7209 5983
Gayam 0 3,531 0 55 5324 2928
Mrican 0 6,786 0 55 10232 5628
Dermo 0 3,192 0 55 4813 2647
Sumber : Hasil Perhitungan
Desa
Tahun 2004 Tahun 2015

4.3. Kebutuhan Air Bersih Kondisi Existing
Kebutuhan air bersih meliputi atas kebutuhan domenstik dan kebutuhan non
domestik, kebutuhan non domestik sendiri terdiri atas berbagai kebutuhan. Untuk
lebih jelasnya akan disajikan sebagai berikut:
A. Kebutuhan Domestik meliputi:
1. Sambungan Rumah Tangga
Berdasarkan data pemakaian air yang tercatat pada tahun 2004 unit
kebutuhan air rerata untuk golongan rumah tangga direncanakan sebesar
sebesar 130 l/orang/hari.
2. Kran Umum
Pelayanan melalui kran umum sampai tahun 2004 tidak ada, karena
penggunaannya tidak efektif.
B. Kebutuhan Non Domestik
Kebutuhan non domestik digunakan untuk memenuhi kebutuhan air pada:
1. Fasilitas sosial, termasuk didalamnya tempat ibadah, lembaga
pemasyarakatan, rumah sakit dan lain sebagainya.
2. Pelanggan instansi dan perkantoran.


102
3. Pelanggan niaga dan industri.
Besar konsumsi non domestik sampai tahun 2004 ditetapkan 10 % dari
kebutuhan domestik
C. Kehilangan air
Yaitu merupakan besar air yang hilang selama proses pendistribusiannya,
Untuk kehilangan air diasumsikan setiap tahun terjadi sebesar 30 % (PDAM Kota
Kediri)
D. Fluktuasi Kebutuhan air
Besar pemakaian air pada suatu sistem jaringan distribusi tidak melulu pada
tiap jamnya, terjadi fluktuasi yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat
pengguna air, pada saat-saat tertentu terjadi peningkatan aktivitas yang memerlukan
air lebih banyak dari kondisi normal atau juga sebaliknya. Kebutuhan air secara
umum dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Kebutuhan air rerata
Kebutuhan air rerata masyarakat dalam setiap jamnya
2. Kebutuhan harian maksimum (Q )
maks
Merupakan kebutuhan air yang harus disediakan pada hari-hari tertentu
seperti hari-hari besar, hari libur dan lain-lain. Perhitungan kebutuhan air
pada hari maksimum ini direncanakan berdasarkan pendekatan sebesar 1,15
dikalikan dengan total kebutuhan dan kehilangan.
) 3. Kebutuhan air pada jam puncak (Q
peak
Merupakan kebutuhan air pada jam-jam tertentu dalam satu hari yang
kebutuhan airnya memuncak. Perhitungan kebutuhan air pada jam puncak ini
direncanakan berdasarkan pendekatan sebesar 1,56 dikalikan dengan total
kebutuhan dan kehilangan.






102
fluktuasi kebutuhan pemakaian air bersih harian hasil penelitian Ditjen Cipta Karya
selama 24 jam dapat dilihat dibawah ini :


0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
1.2
1.4
1.6
1.8
2.0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24
Ja m
L
o
a
d

f
a
k
t
o
r
jam puncak
jam minimum
rata-rata






Gambar 4.7 Fluktuasi pemakaian air harian


Contoh perhitungan kebutuhan air bersih :
Desa Pojok ( tahun 2004 ).
1. Proyeksi jumlah penduduk pada tahun 2004 sebesar 7739 jiwa
2. Luas Area = 3.212 ha
3. Jumlah sambungan rumah = 758
4. Kebutuhan air domestik
a. Sambungan rumah tangga
Tingkat pelayanan sambungan rumah pada tahun 2004 sebesar 70 %
Jumlah sambungan
Qsr = 70 x 5417 / 100
= 3792 Lt/hr
Hidran Umum
Qhu = 0
b. Sambungan kran umum
= 0
Q domestic
= 130 x 3792 /1000
= 493 Lt/hr


102
5. Kebutuhan air non domestik
= 493 x 10 / 100
= 49 Lt/hr
6. Total kebutuhan air
= Q domestik + Q non domestik
= 493 Lt/hr + 49 Lt/hr
= 542 Lt/hr
7. Kehilangan air
( Tingkat kehilangan air sebesar 30 % )
= 542 x ( 30 /100 ) Lt/hr
= 163 Lt/hr
8. Total Kebutuhan dan Kehilangan
= Total kebutuhan air + Kehilangan air
= 543 Lt/hr + 163 Lt/hr
= 706 Lt/hr
= 8.15 Lt/det
9. Kebutuhan harian maks
= (1,15) x Kebutuhan dan Kehilangan
= (1,15) x 8.15 L/det
= 9.37 L/det
10. Kebutuhan jam puncak
= (1,56) x Kebutuhan dan Kehilangan
= (1.56) x 8.15 L/det
= 12.71 L/det.

Dengan cara yang sama untuk perhitungan pembebanan titik simpul untuk
masing-masing titik simpul dengan cara yang sama disajikan pada tabel 4.7







102











DEBIT PEMBEBANAN TITIK SIMPUL KONDISI EXISTING


TABEL 4.7









Gambar 4.8 peta kondisi existing









102
4.4. Simulasi Kondisi Tidak Permanen Pada Jaringan Pipa Existing
Simulasi kondisi tidak mengevaluasi kondisi aliran, tekanan, dan kapasitas
sistem sepanjang waktu akibat suatu corak perubahan kebutuhan air pada titik
simpul. Kriteria dan asumsi yang dipakai dalam simulasi kondisi tidak permanen
dengan paket program Watercad V 4.5 pada studi ini adalah sebagai berikut:
a. Pada simulasi ini dipakai durasi perubahan kondisi permintaan selama 24 jam
dengan interval waktu 1 jam.
b. Simulasi kondisi tidak permanen didasarkan pada perhitungan fluktuasi beban
titik simpul akibat corak perubahan permintaan dan operasi kontrol pompa
berdasarkan penugasan waktu.
c. Prosedur perhitungan simulasi ini mengacu pada langkah-langkah pengerjaan
simulasi kondisi permanen.
d. Simulasi ini akan dilakukan pada kondisi normal di mana variasi kebutuhan titik
simpul hanya disebabkan oleh fluktuasi kebutuhan pelanggan tiap jam.
e. Tandon merupakan reservoir yang berfungsi untuk mensuplai air ketika jam-jam
puncak selama simulasi kondisi tidak permanen.
f. Pompa digunakan untuk menyalurkan air dari reservoir ke tandon dan
selanjutnya didistribusikan ke sistem jaringan air secara gravitasi. Selain itu di
beberapa unit produksi, pompa digunakan untuk menyalurkan air langsung dari
reservoir ke dalam sistem jaringan air bersih.
g. Sistem jaringan distribusi di sini merupakan bentuk gabungan antara skema kisi-
kisi (looped networks) dan skema percabangan (branched network).

4.4.1 Data masukan simulasi kondisi tidak permanen pada program WaterCAD
4.5
Simulasi kondisi tidak permanen dimasukkan ke dalam paket program
WaterCad v 4.5 dengan menggunakan keyword dan Parameter data pada simulasi
kondisi tidak permanen adalah sebagai berikut :
a. [PRESSURE JUNCTIONS] : titik simpul, data masukan berupa label, elevasi
(m), debit kebutuhan (l/s).


102
b. [TANK] : tandon. data masukan berupa GENERAL : label dan elevasi (m),
SECTION : tinggi air rerata (m), tinggi air minimal (m), ketinggian air
maksimal (m), diameter (m).
c. [RESERVOIRS] : sumber, data masukan berupa elevasi (m)
d. [PIPE] : pipa, data masukan berupa label, panjang (m), diameter (mm), material
dan koefisien kekasaran.
e. [PUMP] : pompa, data masukan berupa label, elevasi (m), tipe pompa - yang
mana telah tersedia 5 macam tipe pompa beserta data masukan opsional. Dapat
pula diikuti dengan CONTROLS, yaitu pola pengoperasian pompa, baik durasi
pengoperasiannya maupun setting yang lain.

4.4.2 Proses simulasi kondisi tidak permanen Existing
Langkah awal pada proses simulasi kondisi tidak permanen adalah
memasukkan data parameter simulasi kondisi permanen pada network map dan
mengedit pada browser map dan browser data. Setelah itu menggunakan parameter
pattern berupa faktor pengali kebutuhan air bersih oleh Ditjen Cipta Karya
Departemen PU. Hasil simulasi kondisi tidak permanen akan dipengaruhi corak
kebutuhan air pada tahap waktu, data tandon dan titik simpul serta link yang
menghubungkan masing-masing titik. Bila simulasi telah dijalankan dan berjalan
sukses, program dapat menghasilkan tabel-tabel , grafik. Tabel dapat ditampilkan
dalam setiap timestep, tiap titik simpul maupun tiap link
Pada hasil simulasi, nilai debit negatif pada pipa menunjukkan arah aliran
yang berlawanan arah. Pada tabel yang ditampilkan berdasarkan junctions akan
ditampilkan besar demand, elevasi, dan tekanan pada tiap titik. Sedang bila link
yang ditampilkan akan tampak diameter, besar aliran, kecepatan dan headloss pada
tiap-tiap link di samping dapat ditampilkan dalam bentuk tabel hasil keluaran
simulasi juga dapat ditampilkan dalam bentuk grafik







102
4.4.3. Evaluasi Simulasi Kondisi Tidak Permanen Pada Jaringan Pipa Existing
4.4.3.1 Evaluasi tekanan sisa pada titik simpul
Tekanan sisa pada titik simpul merupakan selisih elevasi tinggi tekan pada
titik simpul (HGL) dengan elevasi titik simpul tersebut. Dari hasil simulasi tekanan
sisa pada titik simpul secara keseluruhan telah memenuhi Kriteria perencanaan.
Untuk fluktuasi tekanan dapat kita lihat pada pukul 04.00 turun dan pukul 08.00 naik
lagi perubahan ini disebabkan karena 2 pompa yang tidak menyuplai tandon mulai
beroperasi pada pukul 04.00. sedangkan pada pukul 10.00 turun dari 21.98 mH
2
O
menjadi -0.817 mH O dan terus turun sampai pukul 18.00 sebesar -8.516 mH
2 2
O dan
pada pukul 20.00 tekanan kembali meningkat hingga tengah malam sebagai akibat
berkurangnya penggunaan air. Tekanan sisa sebesar pada pipa distribusi terjadi pada
pukul 24.00 di titik simpul 78 sebesar 46.173 mH
2
O dan tekana sisa terkecil pada
pipa distribusi terjadi pada pukul 13.00 sebesar -8.939 mH
2
O.
Sedangkan untuk output simulasi kondisi tidak permanen jaringan pipa distribusi
kondisi existing yang lain bisa dilihat pada table 4.8
Contoh :
Time (hr) Pressure (m H2O)
0.00 42.419
0.22 42.860
1.00 47.913
2.00 47.057
2.94 47.057
3.00 45.912
4.00 42.301
5.00 28.498
6.00 21.953
7.00 18.310
7.22 18.631
7.22 18.631
8.00 17.381
8.33 17.842
9.00 21.072
9.25 21.686
10.00 21.980
10.14 22.476
11.00 -0.817
11.36 -0.510
12.00 2.178
12.92 3.315
12.92 3.315
13.00 -8.939
13.30 -8.824
14.00 3.301


102
Time (hr) Pressure (m H2O)
15.00 4.216
15.13 4.366
16.00 0.963
17.00 -2.889
17.13 -2.796
18.00 -8.516
19.00 -0.295
19.89 0.606
20.00 13.547
20.10 13.768
21.00 25.433
21.21 30.576
22.00 39.131
23.00 42.350
24.00 46.173

Pressure Varying Time
Pressure J unction: J -78
Time
(hr)
(
m

H
2
O
)
P
r
e
s
s
u
r
e
-10.0
-5.0
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
30.0
35.0
40.0
45.0
50.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Existing

Gambar 4.9 Grafik Fluktuasi Tekanan Titik Simpul J-78 Kondisi Existing









102
Tabel 4.9 Contoh hasil simulasi pada jaringan existing pukul 08.00
Pressure
Label Elevation (m)
m H O
2
J-15 67.98 46.710
J-16 67.90 46.162
J-17 67.74 49.553
J-18 67.83 48.295
J-19 67.68 49.465
J-20 68.90 49.565
J-21 68.00 49.537
J-22 68.00 48.666
J-23 67.21 46.674
J-24 67.19 46.637
Sumber: Hasil Simulasi

4.4.3.2 Evaluasi kondisi aliran pada pipa distribusi
Kondisi aliran yang terjadi didasarkan pada kondisi pengaliran penuh, dengan
kecepatan aliran rerata v (m/dt) pada suatu tampang ditentukan berdasarkan debit
aliran Q (l/det) di setiap luas tampang A (m
2
). Pada simulasi kondisi tidak permanen
terjadi corak permintaan yang berubah-ubah. Dengan luas penampang yang tetap
sementara debit berubah setiap jamnya maka kecepatan aliran yang terjadi dalam
setiap jamnya juga berubah.
Persamaan yang digunakan dalam menentukan kehilangan energi hf di sini
adalah persamaan Hazen Williams, kehilangan energi akan sangat dipengaruhi oleh
panjang pipa L, debit yang mengalir Q, diameter pipa D, dan koefisien kekasaran
relatif. Kehilangan energi yang terjadi akan proporsional dengan kecepatan aliran,
semakin besar kecepatan aliran maka kehilangan energi akibat gesekan juga akan
semakin besar.

4.4.3.3 Evaluasi Tandon
Pada kondisi existing ini kta menggunakan 2 tandon yang terletak pada desa
pojok 1000 m
3
dan unika 120 m
3
pada elevasi yang sama yaitu + 100 m. kedua
tandon disuplai oleh 2 sumber air untuk pojok dan 1 sumber untuk unika, selain itu
untuk dapat mencukupi kebutuhan air bersih pada kondisi existing dengan dibantu 2
sumber air yang langsung mensuplai air ke pipa distribusi, hal tersebut dapat dilihat
dari Tank Grafik tandon. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada gambar 4.10




102
Calculated Percent Full Varying Time
Tank: T UNIKA
Time
(hr)
(
%
)
C
a
l
c
u
l
a
t
e
d

P
e
r
c
e
n
t

F
u
l
l
40.0
45.0
50.0
55.0
60.0
65.0
70.0
75.0
80.0
85.0
90.0
95.0
100.0
105.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Existing


Gambar 4.10 Grafik Prosentase Tandon Unika Kondisi Existing

4.4.3.4 Evaluasi Pompa dan Sumber Air
Pompa yang digunakan oleh PDAM Kecamatan Mojoroto sesuai dengan
kapasitas dari sumber air yang diangkut oleh pompa tersebut. Hal ini dapat kita lihat
selama pompa beroperasi tidak ada pompa yang mengangkut air melebihi kapasitas
sumber air dimana pompa tersebut berada. Dari grafik Reservoir dapat disimpulkan
bahwa sumber air masih memungkinkan untuk dilakukan pengembangan, karena
kondisi sekarang masih banyak sumber air yang digunakan secara maksimum. Untuk
lebih jelasnya dapat kita lihat grafik Demand Reservoir.


















102

Inflow Varying Time
Reservoir: R-105
Time
(hr)
(
l
/
s
)
I
n
f
l
o
w
-50.0
-45.0
-40.0
-35.0
-30.0
-25.0
-20.0
-15.0
-10.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Existing

Gambar 4.11 Grafik Demand Pump Pada Pompa R-105

4.4.3.5 Evaluasi hukum kontinuitas
Model jaringan yang digunakan untuk evaluasi diambil jaringan model loop
yang mewakili. Perhitungan dianggab benar apabila nilai evaluasi berada diantara 0
0,005 (Rossman, 2000). Apabila hasil yang didapat tidak memenuhi syarat maka
perhitungan harus diulang.
Contoh

Gambar 4.12 Potongan jaringan pipa loop


102
Hukum kontinuitas menyatakan debit yang masuk pada suatu titik pertemuan sama
dengan debit yang keluar. Dimana berlaku rumus :
Q = Q in Q out - Qe
Dimana :
Q in = debit yang masuk ke titik simpul
Q out = debit yang keluar dari titik simpul
Qe = debit kebutuhan pada titik simpul

Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Tekanan Pada Titik Simpul Pada Kondisi
Existing
No.Titik Debit
Simpul lt/det
Junc 30 0.1
Junc 31 0.4
Junc 32 0.3
Junc 33 0.5
Sumber : Hasil Analisa

Tabel 4.11 Hasil Perhitungan Tekanan Tinggi Tekan Pada Kondisi Existing
Flow Headloss
Panjang Pipa
Pipa m l/det m
Pipe 28 625 6.5 4.257
Pipe 29 1000 -1.1 0.265
Pipe 30 275 7.0 2.146
Pipe 31 130 5.2 1.550
Pipe 32 637 18.0 3.992
Pipe 33 286 16.5 1.582
Pipe 36 195 12.6 0.790
Pipe 37 364 10.3 0.829
Pipe 41 195 5.4 0.924
Sumber : Hasil Analisa
Evaluasi total debit yang masuk ke dalam jaringan dan debit yang keluar
jaringan adalah sebagai berikut :
Q in = debit yang masuk ke titik simpul
= P28 + P32
= 6.5 + 18
= 24.5 lt/det


102
Q out = debit yang keluar dari titik simpul
= P36 + P31 + P41
= 12.6 + 5.2 + 5.4
= 23.3 lt/det
Qe = Debit kebutuhan pada titik simpul
= J-30 + J-31 + J-32 + J-33
= 0.1 + 0.4 + 0.3 + 0.5
= 1.3 lt/det
Q = Qin - Qout Qe
= 24.5 23.2 1.3
= 0 lt/det

4.4.3.6 Evaluasi Kehilangan Tinggi
Jumlah aljabar dari analisa kehilangan tinggi energi dalam suatu jaringan
loop harus sama dengan nol. Untuk analisa bisa dilihat gambar 4.12
Loop
Searah jarum jam
Pipa 33 dan Pipa 37
1.582 + 0.829 = 2.411 m
Berlawanan arah jarum jam
Pipa 29 dan Pipa 30
0.265 + 2.146 = 2.411 m
Total kehilangan tinggi dalam jaringan loop tersebut adalah
Hf = 2.411 2.411 = 0 m










102
4.5. Pengembangan Jaringan Pipa Distribusi Air Bersih
PDAM akan melakukan pengembangan jaringan pipa distribusi air bersih
pada 4 desa yaitu Banjarmlati, Gayam, Mrican, Dermo. Pengembangan ini dilakukan
dengan pemasangan pipa baru yaitu :
Tabel 4.12 Pemasangan pipa rencana Kecamatan Mojoroto
No. Pipa Panjang Diameter Titik simpul
m m Dari Ke
137 658 150 21 113
138 556 150 113 114
139 489 150 114 115
140 567 150 115 116
141 486 150 116 113
142 1,500 300 22 117
143 1,256 150 117 118
144 359 150 118 119
145 1,256 150 119 120
146 356 300 120 117
147 1,247 300 120 121
148 987 150 121 122
149 1,247 150 122 123
150 986 150 123 120
Sumber : PDAM Kediri

4.6. Perhitungan Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Sampai Tahun 2015
Kebutuhan air bersih meliputi atas kebutuhan domenstik dan kebutuhan non
domestik, kebutuhan non domestik sendiri terdiri atas berbagai kebutuhan. Untuk
lebih jelasnya akan disajikan sebagai berikut:
A. Kebutuhan Domestik meliputi:
1. Sambungan Rumah Tangga
Berdasarkan data pemakaian air yang tercatat pada tahun 2015, unit
kebutuhan air rerata untuk golongan rumah tangga direncanakan sebesar
sebesar 130 l/orang/hari.
2. Kran Umum
Pelayanan melalui kran umum sampai akhir tahun 2004 tidak ada, karena
penggunaan tidak efektif. Pada tahun 2015 juga tidak dipasang kran umum
karena pemakaianya tidak efektif.


102
B. Kebutuhan Non Domestik
Kebutuhan non domestik digunakan untuk memenuhi kebutuhan air pada:
1. Fasilitas sosial, termasuk didalamnya tempat ibadah, lembaga
pemasyarakatan, rumah sakit dan lain sebagainya.
2. Pelanggan instansi dan perkantoran.
3. Pelanggan niaga dan industri.
Besar konsumsi non domestik sampai tahun 2015 ditetapkan 15 % dari
kebutuhan domestik
C. Kehilangan air
Yaitu merupakan besar air yang hilang selama proses pendistribusiannya,
Untuk kehilangan air diasumsikan setiap tahun terjadi sebesar 19 % (PDAM Kota
Kediri)
D. Fluktuasi Kebutuhan air
Besar pemakaian air pada suatu sistem jaringan distribusi tidak melulu pada tiap
jamnya, terjadi fluktuasi yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat
pengguna air, pada saat-saat tertentu terjadi peningkatan aktivitas yang memerlukan
air lebih banyak dari kondisi normal atau juga sebaliknya. Kebutuhan air secara
umum dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Kebutuhan air rerata
Kebutuhan air rerata masyarakat dalam setiap jamnya
2. Kebutuhan harian maksimum (Q )
maks
Merupakan kebutuhan air yang harus disediakan pada hari-hari tertentu
seperti hari-hari besar, hari libur dan lain-lain. Perhitungan kebutuhan air
pada hari maksimum ini direncanakan berdasarkan pendekatan sebesar 1,15
dikalikan dengan total kebutuhan dan kehilangan.
3. Kebutuhan air pada jam puncak (Q )
peak
Merupakan kebutuhan air pada jam-jam tertentu dalam satu hari yang
kebutuhan airnya memuncak. Perhitungan kebutuhan air pada jam puncak ini


102
direncanakan berdasarkan pendekatan sebesar 1,56 dikalikan dengan total
kebutuhan dan kehilangan.
fluktuasi kebutuhan pemakaian air bersih harian hasil penelitian Ditjen selama 24
jam dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
1.2
1.4
1.6
1.8
2.0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24
Ja m
L
o
a
d

f
a
k
t
o
r
jam puncak
jam minimum
rata-rata






Gambar 4.13 Fluktuasi pemakaian air harian

Contoh perhitungan kebutuhan air bersih :
Desa Pojok ( tahun 2015 ).
1. Proyeksi jumlah penduduk pada tahun 2015 sebesar 11.669 jiwa
2. Luas Area = 3.212 ha
3. Jumlah sambungan rumah = 1975
4. Kebutuhan air domestik
a. Sambungan rumah tangga
Tingkat pelayanan sambungan rumah pada tahun 2015 sebesar 92 %
Jumlah sambungan
Qsr = 92 x 10735 / 100
= 9876 Lt/hr
Hidran Umum
Qhu = 0
a. Sambungan kran umum
= 0
Q domestic
= 130 x 9876 /1000
= 1284 Lt/hr


102
5. Kebutuhan air non domestik
= 1284 x 15 / 100
= 193 Lt/hr
6. Total kebutuhan air
= Q domestik + Q non domestik
= 1284 Lt/hr + 193 Lt/hr
= 1477 Lt/hr
7. Kehilangan air
( Tingkat kehilangan air sebesar 19 % )
= 1477 x ( 19 /100 ) Lt/hr
= 281 Lt/hr
8. Total Kebutuhan dan Kehilangan
= Total kebutuhan air + Kehilangan air
= 1477 Lt/hr + 281Lt/hr
= 1758 Lt/hr
= 20.34Lt/det
9. Kebutuhan harian maks
= (1,15) x Kebutuhan dan Kehilangan
= (1,15) x 20.34 L/det
= 23.39 L/det
10. Kebutuhan jam puncak
= (1,56) x Kebutuhan dan Kehilangan
= (1.56) x 20.34 L/det
= 31.73 L/det.
Dengan cara yang sama untuk perhitungan pembebanan titik simpul untuk
masing-masing titik simpul dengan cara yang sama disajikan pada tabel 4.13 dan
untuk perhitungan kebutuhan air tahun 2004 dan 2015 disajiakan dalam tabel 4.14







102

















DEBIT PEMBEBANAN TITIK SIMPUL 2015



TABEL 4.13



Gambar 4.14 Peta 2015




Tabel 4.14 kebutuhan tiap desa 2004-2015



102
4.7 Analisa Simulasi Kondisi Tidak Permanen pada Jaringan Pipa
Pengembangan
Simulasi kondisi tidak mengevaluasi kondisi aliran, tekanan, dan kapasitas
sistem sepanjang waktu akibat suatu corak perubahan kebutuhan air pada titik
simpul. Kriteria dan asumsi yang dipakai dalam simulasi kondisi tidak permanen
dengan paket program Watercad V 4.5 pada studi ini adalah sebagai berikut:
a. Pada simulasi ini dipakai durasi perubahan kondisi permintaan selama 24 jam
dengan interval waktu 1 jam.
b. Simulasi kondisi tidak permanen didasarkan pada perhitungan fluktuasi beban
titik simpul akibat corak perubahan permintaan dan operasi kontrol pompa
berdasarkan penugasan waktu.
c. Prosedur perhitungan simulasi ini mengacu pada langkah-langkah pengerjaan
simulasi kondisi permanen.
d. Simulasi ini akan dilakukan pada kondisi normal di mana variasi kebutuhan titik
simpul hanya disebabkan oleh fluktuasi kebutuhan pelanggan tiap jam.
e. Tandon merupakan reservoir yang berfungsi untuk mensuplai air ketika jam-jam
puncak selama simulasi kondisi tidak permanen.
f. Pompa digunakan untuk menyalurkan air dari reservoir ke tandon dan selanjutnya
didistribusikan ke sistem jaringan air secara gravitasi. Selain itu di beberapa unit
produksi, pompa digunakan untuk menyalurkan air langsung dari reservoir ke
dalam sistem jaringan air bersih.
g. Sistem jaringan distribusi di sini merupakan bentuk gabungan antara skema kisi-
kisi (looped networks) dan skema percabangan (branched network).

4.7.1. Data masukan simulasi kondisi tidak permanen pada program WaterCAD
4.5
Simulasi kondisi tidak permanen dimasukkan ke dalam paket program
WaterCad v 4.5 dengan menggunakan keyword dan Parameter data pada simulasi
kondisi tidak permanen adalah sebagai berikut :
a. [PRESSURE JUNCTIONS] : titik simpul, data masukan berupa label, elevasi
(m), debit kebutuhan (l/s).


102
b. [TANK] : tandon. data masukan berupa GENERAL : label dan elevasi (m),
SECTION : tinggi air rerata (m), tinggi air minimal (m), ketinggian air
maksimal (m), diameter (m).
c. [RESERVOIRS] : sumber, data masukan berupa elevasi (m)
d. [PIPE] : pipa, data masukan berupa label, panjang (m), diameter (mm), material
dan koefisien kekasaran.
e. [PUMP] : pompa, data masukan berupa label, elevasi (m), tipe pompa - yang
mana telah tersedia 5 macam tipe pompa beserta data masukan opsional. Dapat
pula diikuti dengan CONTROLS, yaitu pola pengoperasian pompa, baik durasi
pengoperasiannya maupun setting yang lain.

4.7.2. Proses simulasi kondisi tidak permanen pengembangan
Langkah awal pada proses simulasi kondisi tidak permanen adalah
memasukkan data parameter simulasi kondisi permanen pada network map dan
mengedit pada browser map dan browser data. Setelah itu menggunakan parameter
pattern berupa faktor pengali kebutuhan air bersih oleh Ditjen Cipta Karya
Departemen PU. Hasil simulasi kondisi tidak permanen akan dipengaruhi corak
kebutuhan air pada tahap waktu, data tandon dan titik simpul serta link yang
menghubungkan masing-masing titik. Bila simulasi telah dijalankan dan berjalan
sukses, program dapat menghasilkan tabel-tabel , grafik. Tabel dapat ditampilkan
dalam setiap timestep, tiap titik simpul maupun tiap link
Pada hasil simulasi, nilai debit negatif pada pipa menunjukkan arah aliran
yang berlawanan arah. Pada tabel yang ditampilkan berdasarkan junctions akan
ditampilkan besar demand, elevasi, dan tekanan pada tiap titik. Sedang bila link
yang ditampilkan akan tampak diameter, besar aliran, kecepatan dan
headloss pada tiap-tiap link di samping dapat ditampilkan dalam bentuk tabel hasil
keluaran simulasi juga dapat ditampilkan dalam bentuk grafik







102
4.7.3. Evaluasi Simulasi Kondisi Tidak Permanen pada Jaringan Pipa
Pengembangan 2015
4.7.3.1 Evaluasi tekanan sisa pada titik simpul
Tekanan sisa pada titik simpul merupakan selisih elevasi tinggi tekan pada
titik simpul (HGL) dengan elevasi titik simpul tersebut. Dari hasil simulasi tekanan
sisa pada titik simpul secara keseluruhan telah memenuhi criteria perencanaan.
Untuk fluktuasi tekanan kita lihat pada pukul 04.00 turun sampai pukul 07.00 dan
naik lagi pukul 08.00, perubahan ini disebabkan karena 2 pompa yang tidak
menyuplai tendon mulai beroperasi pada pukul 04.00. sedangkan pada pukul 10.00
turun dari 18.81 mH O menjadi -2.837 mH
2 2
O dan pada siang hari mulai pukul 13.00
tekanan kembali meningkat. memasuki pukul 14.00 18.00 tekanan kembali
menurun sampai 3.103 mH
2
O. disebabkan matinya 2 pompa yang mulai bekerja pada
pukul 14.00 sedangkan pada pukul 19.00 -21.00 tekanan mengalami peningkatan
hingga tengah malam sebagai akibat berkurangnya penggunaan air. Tekanan sisa
sebesar pada pipa distribusi terjadi pada pukul 24.00 di titik simpul 78 sebesar
46.125 dan tekanan sisa terkecil pada pipa distribusi terjadi pada pukul 13.00 di titik
simpul 78 sebesar -11.34 mH
2
O. untuk output simulasi kondisi tidak permanen
jaringan pipa distribusi kondisi Pengembangan yang lain bisa dilihat pada table 4.15
Contoh :
Time (hr) Pressure (m H2O)
0.00 42.393
0.20 48.010
1.00 47.327
2.00 46.217
3.00 44.734
4.00 40.058
5.00 24.914
6.00 17.996
6.79 18.456
7.00 14.032
8.00 13.183
8.73 13.235
9.00 17.713
9.80 18.149
10.00 18.815
10.42 19.063
11.00 -2.837
12.00 1.459
13.00 -11.340
14.00 3.103
15.00 3.077


102
Time (hr) Pressure (m H2O)
15.61 3.311
16.00 0.287
17.00 -4.871
18.00 -9.475
19.00 -1.557
20.00 12.857
20.43 13.553
21.00 25.864
21.18 26.551
22.00 39.199
23.00 42.355
24.00 46.125
Pressure Varying Time
Pressure J unction: J -78
Time
(hr)
(
m

H
2
O
)
P
r
e
s
s
u
r
e
-15.0
-10.0
-5.0
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
30.0
35.0
40.0
45.0
50.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Pengembangan

Gambar 4.15 Grafik Fluktuasi Tekanan Titik Simpul J-78 Kondisi
Pengembangan

Tabel 4.16 Contoh hasil simulasi pada jaringan Pengembangan pukul 08.00
Pressure
Label Elevation (m)
m H O
2
32.488
J-15 67.98
32.511
J-16 67.90
32.793
J-17 67.74
32.639
J-18 67.83
32.705
J-19 67.68
31.688
J-20 68.90
30.677
J-21 68.00
30.496
J-22 68.00
31.197
J-23 67.21
31.159
J-24 67.19
Sumber: Hasil Simulasi


102
4.7.3.2 Evaluasi kondisi aliran pada pipa distribusi
Kondisi aliran yang terjadi didasarkan pada kondisi pengaliran penuh,
dengan kecepatan aliran rerata v (m/dt) pada suatu tampang ditentukan berdasarkan
debit aliran Q (l/dt) disetiap luas tampang A (m2). Pada simulasi kondisi tidak
permanent terjadi corak permintaan yang berubah-ubah. Dengan luas penampang
yang tetap sementara debit berubah setiap jamnya maka kecepatan aliran yang terjadi
dalam setiap jamnya juga berubah.
Persamaan yang digunakan dalam menentukan kehilangan energi hf di sini
adalah persamaan Hazen Williams, kehilangan energi akan sangat dipengaruhi oleh
panjang pipa L, debit yang mengalir Q, diameter pipa D, dan koefisien kekasaran
relatif. Kehilangan energi yang terjadi akan proporsional dengan kecepatan aliran,
semakin besar kecepatan aliran maka kehilangan energi akibat gesekan juga akan
semakin besar. Secara umum kehilangan tinggi pada jaringan pipa setelah
pengembangan telah memenuhi syarat yaitu 0 15 m.Km
-1


4.7.3.3 Evaluasi Tandon
Pada kondisi pengembangan ini kita menggunakan tandon yang sama
dengan tandon yang digunakan pada kondisi existing dan juga dua sumber yang
langsung mensuplai air ke pipa distribusi dengan pompa yang sama pada kondisi
existing. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada grafik prosentase pengisian
tendon kondisi pengembangan.
















102
Calculated Percent Full Varying Time
Tank: T UNIKA
Time
(hr)
(
%
)
C
a
l
c
u
l
a
t
e
d

P
e
r
c
e
n
t

F
u
l
l
55.0
60.0
65.0
70.0
75.0
80.0
85.0
90.0
95.0
100.0
105.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Pengembangan

Gambar 4.16 Grafik Prosentase Pengisian Tandon Unika Kondisi
Pengembangan

4.7.3.4 Evaluasi Pompa dan Sumber Air
Pompa dan sumber air yang digunakan oleh PDAM Kecamatan Mojoroto
pada saat pengembangan sama dengan pompa dan sumber air kondisi existing,
sebagian besar kebutuhan air pelanggan dipenuhi dari pompa-pompa distribusi yang
masuk dari sumur-sumur produksi kemudian langsung didistribusikan ke pelanggan
dan sebagai pemasok air terutama pada saat pompa distribusi sedang tidak aktif
misalnya pada malam dini hari. Dari grafik Reservoir dapat disimpulkan bahwa
sumber air masih memungkinkan untuk dilakukan pengembangan, karena pada
kondisi sekarang masih banyak sumber air yang digunakan secara maksimum. Untuk
lebih jelasnya dapat kita lihat grafik Demand PUMP.








102
Discharge Varying Time
Pump: PMP TAMANAN
Time
(hr)
(
l
/
s
)
D
i
s
c
h
a
r
g
e
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Pengembangan

Gambar 4.17 Grafik Demand PMP Tamanan
4.8. Perbaikan Jaringan Pipa Distribusi Kondisi Pengembangan
Perencanaan jaringan direncanakan memakai jaringan yang ada dan
sambungan baru yang telah direncanakan sebelumnya.
Karena kondisi hidraulika pada sistem jaringan pipa distribusi existing tidak
memenuhi kriteria maka dilakukan pemasangan pipa baru secara pararel.
Penambahan tersebut akan menambah tekanan sisa pada titik simpul yang
menghubungkan pipa-pipa tersebut. Penambahan-penambahan pipa tersebut dapat
dilihat pada tabel 4.18 Untuk memenuhi kriteria perencanaan pipa distribusi selain
penambahan pipa baru juga dilakukan penggantian diameter pipa dengan dimeter
yang lebih besar terutama pada pipa yang memiliki kehilangan tinggi tekan yang
besar. Penggantian diameter bisa dilihat pada tabel 4.17 Adapun sebagai kriteria
perencanaan tekanan sisa pada titik simpul berkisar 10 50 m H
2
O. Sedangkan
kehilangan tinggi tekan maksimal yang diijinkan sebesar 15 m.km
-1
.







102
Tabel 4.17 Penggantian diameter pipa rencana Kecamatan Mojoroto
Diameter
lama
Diameter
baru
No.
Pipa
mm mm
23 200 300
32 150 300
33 150 300
37 150 300
36 150 300
35 150 300
34 150 300
50 150 300
49 100 300
22 200 300
19 150 300
15 100 300
12 100 300
11 150 300
10 150 300
8 150 300
4 150 300
3 150 300
47 150 300

Tabel 4.18 Pemasangan pipa tambahan pada Kecamatan Mojoroto
Titik Simpul No.Pipa Panjang (m) Diameter (mm)
Dari Ke
152 256 150 44 76
153 910 200 66 49
154 156 100 48 45










102
4.9. Analisa Simulasi Kondisi Tidak Permanen pada Jaringan Pipa
Perbaiakan Pengembangan
Simulasi kondisi tidak mengevaluasi kondisi aliran, tekanan, dan kapasitas
sistem sepanjang waktu akibat suatu corak perubahan kebutuhan air pada titik
simpul. Kriteria dan asumsi yang dipakai dalam simulasi kondisi tidak permanen
dengan paket program Watercad V 4.5 pada studi ini adalah sebagai berikut:
a. Pada simulasi ini dipakai durasi perubahan kondisi permintaan selama 24 jam
dengan interval waktu 1 jam.
b. Simulasi kondisi tidak permanen didasarkan pada perhitungan fluktuasi beban
titik simpul akibat corak perubahan permintaan dan operasi kontrol pompa
berdasarkan penugasan waktu.
c. Prosedur perhitungan simulasi ini mengacu pada langkah-langkah pengerjaan
simulasi kondisi permanen.
d. Simulasi ini akan dilakukan pada kondisi normal di mana variasi kebutuhan titik
simpul hanya disebabkan oleh fluktuasi kebutuhan pelanggan tiap jam.
e. Tandon merupakan reservoir yang berfungsi untuk mensuplai air ketika jam-jam
puncak selama simulasi kondisi tidak permanen.
f. Pompa digunakan untuk menyalurkan air dari reservoir ke tandon dan selanjutnya
didistribusikan ke sistem jaringan air secara gravitasi. Selain itu di beberapa unit
produksi, pompa digunakan untuk menyalurkan air langsung dari reservoir ke
dalam sistem jaringan air bersih.
g. Sistem jaringan distribusi di sini merupakan bentuk gabungan antara skema kisi-
kisi (looped networks) dan skema percabangan (branched network).

4.9.1. Data masukan simulasi kondisi tidak permanen pada program WaterCAD
4.5
Simulasi kondisi tidak permanen dimasukkan ke dalam paket program
WaterCad v 4.5 dengan menggunakan keyword dan Parameter data pada simulasi
kondisi tidak permanen adalah sebagai berikut :
a. [PRESSURE JUNCTIONS] : titik simpul, data masukan berupa label, elevasi
(m), debit kebutuhan (l/s).

102
4.9.3. Evaluasi Simulasi Kondisi Tidak Permanen Pada Jaringan Pipa Rencana
4.9.3.1 Evaluasi tekanan sisa pada titik simpul
Tekanan sisa pada titik simpul merupakan selisih elevasi tinggi tekan pada
titik simpul (HGL) dengan elevasi titik simpul tersebut. Dari hasil simulasi tekanan
sisa pada titik simpul secara keseluruhan telah memenuhi criteria perencanaan.
Untuk fluktuasi tekanan kita lihat pada pukul 01.00 turun sampai pukul 08.00 dan
naik lagi pukul 09.00, perubahan ini disebabkan karena 2 pompa yang tidak
menyuplai tendon. sedangkan pada pukul 10.00 turun dari 26.855 mH
2
O menjadi
20.271 mH
2
O dan pada siang hari mulai pukul 13.00 tekanan kembali meningkat.
memasuki pukul 15.00 18.00 tekanan kembali menurun sampai 16.917 mH
2
O.
disebabkan matinya 2 pompa sedangkan pada pukul 19.00 -23.00 tekanan mengalami
peningkatan hingga tengah malam sebagai akibat berkurangnya penggunaan air.
Tekanan sisa terbesar pada pipa distribusi terjadi pada pukul 1.00 di titik simpul 78
sebesar 47.862 dan tekanan sisa terkecil pada pipa distribusi terjadi pada pukul
13.00 di titik simpul 78 sebesar 16.361 mH
2
O. untuk output simulasi kondisi tidak
permanen jaringan pipa distribusi kondisi perbaikan Pengembangan yang lain bisa
dilihat pada table 4.19

Contoh :
Time (hr) Pressure (m H2O)
0.00 41.270
0.20 41.814
1.00 47.862
2.00 47.008
3.00 45.871
4.00 42.312
5.00 31.223
6.00 27.430
6.61 27.860
6.61 27.860
7.00 25.059
8.00 24.782
8.99 24.935
9.00 27.677
9.02 27.691
10.00 26.855
11.00 20.371
12.00 22.295
12.88 22.568
13.00 16.361
14.00 22.627


102
Time (hr) Pressure (m H2O)
15.00 22.900
15.48 23.080
16.00 21.103
17.00 19.012
18.00 16.917
19.00 20.348
20.00 26.672
20.50 27.498
21.00 31.849
21.16 36.749
22.00 42.433
23.00 44.595
24.00 47.199
Pressure Varying Time
Pressure J unction: J -78
Time
(hr)
(
m

H
2
O
)
P
r
e
s
s
u
r
e
15.0
20.0
25.0
30.0
35.0
40.0
45.0
50.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Pengembangan

Gambar 4.18 Grafik Fluktuasi Tekanan Titik Simpul J-78 Kondisi Perbaikan

Tabel 4.20 Contoh hasil simulasi pada jaringan Perbaikan pukul 08.00
Pressure
Label Elevation (m)
m H O
2
36.641
J-15 67.98
32.663
J-16 67.90
32.946
J-17 67.74
32.792
J-18 67.83
32.858
J-19 67.68
31.843
J-20 68.90
30.871
J-21 68.00
30.694
J-22 68.00
31.400
J-23 67.21
31.363
J-24 67.19
Sumber: Hasil Simulasi


102
4.9.3.2 Evaluasi kondisi aliran pada pipa distribusi
Kondisi aliran yang terjadi didasarkan pada kondisi pengaliran penuh,
dengan kecepatan aliran rerata v (m/dt) pada suatu tampang ditentukan berdasarkan
debit aliran Q (l/dt) disetiap luas tampang A (m2). Pada simulasi kondisi tidak
permanent terjadi corak permintaan yang berubah-ubah. Dengan luas penampang
yang tetap sementara debit berubah setiap jamnya maka kecepatan aliran yang terjadi
dalam setiap jamnya juga berubah.
Persamaan yang digunakan dalam menentukan kehilangan energi hf di sini
adalah persamaan Hazen Williams, kehilangan energi akan sangat dipengaruhi oleh
panjang pipa L, debit yang mengalir Q, diameter pipa D, dan koefisien kekasaran
relatif. Kehilangan energi yang terjadi akan proporsional dengan kecepatan aliran,
semakin besar kecepatan aliran maka kehilangan energi akibat gesekan juga akan
semakin besar. Secara umum kehilangan tinggi pada jaringa pipa setelah
pengembangan telah memenuhi syarat yaitu 0 15 m.Km
-1


4.9.3.3 Evaluasi Tandon
Pada kondisi pengembangan perbaikan ini kita menggunakan tandon yang
sama dengan tandon yang digunakan pada kondisi existing dan juga dua sumber
yang langsung mensuplai air ke pipa distribusi dengan pompa yang sama pada
kondisi existing. Hal tersebut dapat kita lihat dari grafik Demand Tandon (Kurva
tank kondisi perbaikan)












102
Calculated Percent Full Varying Time
Tank: T UNIKA
Time
(hr)
(
%
)
C
a
l
c
u
l
a
t
e
d

P
e
r
c
e
n
t

F
u
l
l
40.0
45.0
50.0
55.0
60.0
65.0
70.0
75.0
80.0
85.0
90.0

102
Discharge Varying Time
Pump: PMP TAMANAN
Time
(hr)
(
l
/
s
)
D
i
s
c
h
a
r
g
e
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
J aringan Distribusi Kec Mojoroto Pengembangan

Gambar 4.20 Grafik Demand PMP Tamanan Kondisi Perbaikan
4.9.3.5 Evaluasi hukum kontinuitas
Model jaringan yang digunakan untuk evaluasi diambil jaringan model loop
yang mewakili. Perhitungan dianggab benar apabila nilai evaluasi berada diantara 0
0,005 (Rossman, 2000). Apabila hasil yang didapat tidak memenuhi syarat maka
perhitungan harus diulang.
Contoh

Gambar 4.21 Potongan jaringan pipa loop




102
Hukum kontinuitas menyatakan debit yang masuk pada suatu titik pertemuan sama
dengan debit yang keluar. Dimana berlaku rumus :
Q = Q in Q out - Qe
Dimana :
Q in = debit yang masuk ke titik simpul
Q out = debit yang keluar dari titik simpul
Qe = debit kebutuhan pada titik simpul

Tabel 4.21 Hasil Perhitungan Tekanan Pada Titik Simpul Pada Kondisi
Pengembangan
No.Titik Debit
Simpul lt/det
Junc 30 0.5
Junc 31 1.1
Junc 32 0.8
Junc 33 1.5
Sumber : Hasil Analisa

Tabel 4.22 Hasil Perhitungan Tekanan Tinggi Tekan Pada Kondisi
Pengembangan
Flow Headloss
Panjang Pipa
Pipa
m l/det m
Pipe 28 625 0.4 0.026
Pipe 29 1000 0.2 0.009
Pipe 30 275 4.3e-2 0.00
Pipe 31 130 2.0 0.387
Pipe 32 637 6.1 0.017
Pipe 33 286 5.5 0.007
Pipe 36 195 0.3 0.02
Pipe 37 364 2.6 0.002
Pipe 41 195 0.3 0.163
Sumber : Hasil Analisa







102
Evaluasi total debit yang masuk ke dalam jaringan dan debit yang keluar
jaringan adalah sebagai berikut :
Q in = Debit yang masuk ke titik simpul
= P28 + P32
= 0.4 + 6.1
= 6.5 lt/det
Q out = Debit yang keluar dari titik simpul
= P36 + P31 + P41
= 0.3 + 2.0 + 0.3
= 2.6 lt/det
Qe = Debit kebutuhan pada titik simpul
= J-30 + J-31 + J-32 + J-33
= 0.50 + 1.10 + 0.80 + 1.50
= 3.9 lt/det
Q = Qin - Qout Qe
= 6.5 2.6 3.9
= 0 lt/det

4.9.3.6 Evaluasi Kehilangan Tinggi
Jumlah aljabar dari analisa kehilangan tinggi energi dalam suatu jaringan
loop harus sama dengan nol. Untuk analisa bisa dilihat gambar 4.21
Loop
Searah jarum jam
Pipa 33 dan Pipa 37
0.007 + 0.002 = 0.009 m
Berlawanan arah jarum jam
Pipa 29 dan Pipa 30
0.009 + 0.0 = 0.009 m
Total kehilangan tinggi dalam jaringan loop tersebut adalah
Hf = 0.009 0.009 = 0 m




102
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan atas rumusan masalah dan hasil perhitungan yang telah dilakukan
maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Jumlah penduduk yang dilayani oleh jaringan distribusi air bersih kota kediri
tahun 2004 untuk Kecamatan Mojoroto sebesar 32651 jiwa. Sementara jumlah
penduduk yang akan dilayani sampai tahun 2015 sebesar 98954 jiwa. Dengan
penambahan penduduk yang dilayani sebesar 66303 jiwa.
2. Pada kondisi pelayanan existing tidak terjadi masalah, dimana air mencukupi
dengan pressure dan headloss sesuai dengan kriteria dan pada tahun 2015 juga
tidak terjadi masalah setelah diadakan penambahan pipa pada jaringan distribusi
air bersih atau pergantian diameter pipa.
3. Penambahan jaringan pipa yang harus dilakukan PDAM untuk Kecamatan
Mojoroto
agar dapat memenuhi kriteria perencanaan pada tahun 2015 antara lain:
- Pipa 152 yang menghubungkan node 76 dan 44 sejauh 256 meter dengan
diameter 150 mm
- Pipa 154 yang menghubungkan node 48 dan 45 sejauh 156 meter dengan
diameter 100 mm
- Pipa 153 yang menghubungkan node 66 dan 49 sejauh 910 meter dengan
diameter 200 mm












102
Pengembangan daerah pelayanan juga diperlukan pergantian pipa pada
daerah tertentu, yaitu sebagai berikut :

Diameter
lama
Diameter
baru
No.
Pipa
mm mm
23 200 300
32 150 300
33 150 300
37 150 300
36 150 300
35 150 300
34 150 300
50 150 300
49 100 300
22 200 300
19 150 300
15 100 300
12 100 300
11 150 300
10 150 300
8 150 300
4 150 300
3 150 300
47 150 300


4. Untuk proses penerapan simulasi kondisi tidak permanen dengan paket program
Watercad 4.5 didapatkan tekanan sisa minimum 10.532 mH2O pada titik simpul
2 dan maksimum sebesar 59.620 Mh2O pada titik simpul 109 Secara umum
seluruh komponen sistem jaringan distribusi yang direncanakan mampu untuk
beroperasi secara optimum dan telah memenuhi kriteria perencanaan.












102
5.2 Saran

Kualitas dari suatu perencanaan ditentukan oleh akurasi data-data pendukung
yang diperlukan. Guna mendapatkan hasil yang lebih baik, maka harus dilakukan
pencatatan dan pendataan oleh PDAM Kota Kediri tentang penyambungan SR dan
titik pengambilannya, juga intensitas dan fluktuasi pemakai air harian setiap jam oleh
pelanggan secara berkala yang selanjutnya dipakai untuk perencanaan dan pola
operasi.
Dalam perencanaan suatu sistem jaringan distribusi air bersih sepatutnya
mempertimbangkan adanya suatu penerapan model simulasi kondisi tidak permanen,
agar didapatkan hasil yang optimal dan efisien.

























102