Anda di halaman 1dari 24

Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang

lain, dalam bentuk tetesan kecil. ( Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995 hal 6)
Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat
cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. ( Howard C. Ansel. Pengantar
Bentuk Sediaan Farmasi hal 376 ).
Dalam batasan emulsi, fase terdispers dianggap sebagai fase dalam dan medium dispers
sebagai fase luar atau fase kontinu. Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air
disebut emulsi minyak-alam-air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi m/a . Sebaliknya
emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air-dalam-minyak
dan dikenal sebagai emulsi a/m .
Secara farmasetik, proses emulsifikasi memungkinkan ahli farmasi dapat membuat
suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bercampur. Untuk
emulsi yang diberikan secara oral, tipe emulsi minyak dalam air memungkinkan pemberian obat
yang harus dimakan tersebut mempunyai rasa yang lebih enak walaupun yang diberikan
sebenarnya minyak yang rasanya tidak enak, dengan menambahkan pemanis dan memberi rasa
pada pembawa air sehingga mudah dimakan dan ditelan sampai ke lambung.
Berdasarkan konstituen dan maksud pemakaiannya, emulsi cair dapat digunakan secara
bermacam-macam seperti oral, topikal, atau parenteral; emulsi semisolid digunakan secara
topikal.
Teori-teori lazim yang menggambarkan cara umum untuk menguraikan cara yang
mungkin dimana dapat menghasilkan emulsi yang stabil, antara lain :
a) Teori tegangan permukaan
Bila cairan kontak dengan cairan kedua yang tidak larut dan tidak saling bercampur, kekuatan (
tenaga ) yang menyebabkan masing-masing cairan menahan pecahnya menjadi partikel-partikel
yang lebih kecil disebut Tegangan Antarmuka.
b) Oriented wedge theory
Menganggap lapisan monomolekuler dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase
dalam pada emulsi. Dalam suatu system yang mengandung dua cairan yang tidak saling
bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan terikat dengan kuat dan
terbenam dalam fase tersebut dibandingkan dengan fase lainnya. Umumnya suatu zat pengemulsi
yang mempunyai karakteristik hidrofilik lebih besar dari pada sifat hidrofobik akan memajukan
suatu emulsi minyak-dalam-air dan suatu emulsi air-dalam-minyak sebagai hasil dari
penggunaan zat pengemulsi yang lebih hidrofobik dari pada hidrofilik. Dengan kata lain, fase
dimana zat pengemulsi tersebut lebih larut umumnya akan menjadi fase kontinu atau fase luar
dari emulsi tersebut.
c) Teori plastik atau teori lapisan antarmuka
Menempatkan zat pengemulsi pada antarmuka antara minyak dan air, mengelilingi tetesan fase
dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diadsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut.
Lapisan tersebut mencegah kontak dan bersatunya fase terdispersi; makin kuat dan makin lunak
lapisan tersebut, akan makin besar dan makin stabil emulsinya. Pembentukan emulsi minyak-
dalam-air atau air-dalam-minyak tergantung pada derajat kelarutan dari zat pengemulsi dalam
kedua fase tersebut, zat yang larut dalam air akan merangsang terbentuknya emulsi minyak-
dalam-air dan zat pengemulsi yang larut minyak sebaliknya.
Umumnya untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian ketiga
dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulgator/emulsifying agent). Suatu pengemulsi berfungsi
serta didefinisikan secara operasional sebagai suatu penstabil bentuk tetesan (bola-bola) dari fase
dalam. Berdasarkan strukturnya, pengemulsi (zat pembasah dan surfaktan) bisa digambarkan
sebagai molekul-molekul yang terdiri dari bagian-bagian hidrofilik (oleofobik) dan hidrofobik
(oleofilik). Karena itu gugus senyawa-senyawa ini seringkali disebut amfifilik (yakni menyukai
air dan minyak).
Zat pengemulsi memudahkan pembentukan emulsi dengan tiga mekanisme:
1. Mengurangi tegangan antarmuka-stabilitas termodinamis.
2. Pembentukan suatu lapisan antarmuka yang kaku-pembatas mekanik untuk penggabungan.
3. Pembentukan lapisan listrik rangkap-penghalang elektrik untuk mendekati partikel-partikel.
Dalam pembuatan emulsi, dapat digunakan 2 ( dua ) macam emulgator yaitu emulgator
alam dan emulgator system HLB.
Pada system HLB, umumnya masing-masing zat pengemulsi mempunyai suatu bagian
hidrofilik dan suatu bagian lipofilik dengan salah satu diantaranya lebih atau kurang dominan
dalam mempengaruhi dengan cara yang telah diuraikan untuk membentuk tipe emulsi. Suatu
metode telah dipikirkan dimana zat pengemulsi dan zat aktif permukaan, dapat digolongkan
susunan kimianya sebagai keseimbangan hidrofil-lipofil atau HLB-nya. Dengan metode ini, tiap
zat mempunyai harga HLB atau angka yang menunjukkan polaritas dari zat tersebut.
Umumnya zat aktif permukaan itu mempunyai harga HLB yang ditetapkan 3 sampai 6,
yang menghasilkan emulsi air dalam minyak, sedangkan zat-zat yang mempunyai harga HLB
antara 8 sampai 18 menghasilkan emulsi minyak dalam air. Dalam suatu sistem HLB, harga
HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dari zat-zat yang seperti minyak. Dengan
menggunakan dasar HLB dalam penyimpanan suatu emulsi, dapat dipilih zat pengemulsi yang
mempunyai harga HLB sama atau hampir sama sebagai fase minyak dari emulsi yang dimaksud.
( Howard C. Ansel. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi hal 376 382 ).
Bahan-bahan yang diperlukan ditambahkan dalam pembuatan emulsi, antara lain :
a) Bahan pengemulsi sebagai emulgator
Untuk mencegah koalesensi sehingga tetesan besar menjadi tetesan kecil.
b) Bahan pengemulsi sebagai surfaktan
Untuk mengurangi tegangan permukaan antara fase eksternal sehingga proses emulsifikasi dapat
ditingkatkan.
c) Pengental
Untuk mempertinggi kestabilan emulsi
d) Pengawet
Ditambahkan untuk semua jenis emulsi terutama emulsi minyak dalam air karena kontaminan
fase minyak dan fase air mudah terjadi.
e) Zat-zat tambahan
Pemanis, pewarna, pewangi.

Ketidakstabilan emulsi yang dapat terjadi, antara lain :
a) Flokulasi dan Creaming
Pemisahan emulsi menjadi beberapa lapis cairan, masing-masing lapisan mengandung fase
terdispersi yang berbeda.
b) Cracking dan Breaking
Merupakan koalesensi dan pecahnya tipe emulsi dan bersifat irreversible.
c) Inversi fasa
Perubahan yang terjadi tiba-tiba dari tipe emulsi M/A menjadi emulsi A/M atau sebaliknya.
d) Demulsifikasi
Proses pemisahan sempurna dari suatu tipe emulsi ke dalam masing-masing komponen cair.
Emulsi bisa disiapkan dengan beberapa cara, tergantung pada sifat komponen emulsi dan
perlengkapan yang tersedia untuk digunakan. Dalam ukuran kecil preparat emulsi yang dibuat
baru, dapat dibuat dengan tiga metode yang umum digunakan oleh ahli farmasi di apotek. Ketiga
metode tersebut adalah:
1. Metode gom kering atau metode kontinental
Zat pengemulsi (biasanya gom) dicampur dengan minyak sebelum penambahan air.
2. Metode Inggris atau metode gom basah
Zat pengemulsi ditambahkan ke air (di mana zat pengemulsi tersebut larut) agar membentuk
suatu mucilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi.
3. Metode botol atau metode botol Forbes
Digunakan untuk minyak menguap dan minyak-minyak yang kurang kental dan merupakan
suatu variasi dari metode gom kering.
Kestabilan termodinamik emulsi berbeda dari kestabilan seperti didefinisikan oleh pembuat
formula atau pemakai berdasarkan pertimbangan subjektif secara menyeluruh. Kestabilan yang
dapat diterima dalam bentuk sediaan farmasi tidak membutuhkan kestabilan termodinamika. Jika
suatu emulsi membentuk krim ke atas (naik ke atas) atau membentuk krim ke bawah (endapan),
emulsi bisa tetap dapat diterima secara farmasetik selama emulsi tersebut dapat dibentuk kembali
dengan pengocokan biasa.
Untuk menentukan tipe emulsi dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. Metode zat warna
- Sudan III
Merupakan zat warna yang larut dalam minyak, tetapi tidak larut dalam air jika ke dalam
larutan ditambahkan sudan III, setelah diaduk warna merah menjadi semakin jelas menunjukan
bahwa emulsi adalah tipe a/m, tetapi jika warna merah suram semakin tidak tampak
menunjukkan emulsinya adalah m/a.
- Metilen blue
Merupakan zat warna yang larut dalam air tetapi tidak larut dalam minyak. Jika zat ini
diteteskan pada emulsi berwarna seragam maka air merupakan fase luar dan emulsi ini bertipe
m/a.
2. Metode electrical conductivity
Air dapat menghantarkan arus listrik sedangkan minyak tidak. Alatnya terdiri dari kawat
dengan 2 elektrode yang dicelupkan dalam emulsi dan dihubungkan dengan lampu neon. Jika
lampu menyala dalam air maka merupakan medium pendipers dan emulsinya merupakan tipe
m/a. Bila lampu tidak menyala maka minyak merupakan medium pendispers dan emulsinya
adalah tipe a/m.
3. Metode pengenceran fase
Jika ke dalam emulsi ditambahkan sedikit air maka setelah pengocokan dan pengadukan
diperoleh kembali emulsi yang homogen sehingga emulsinya adalah tipe m/a. jika emulsi
dicampur minyak maka akan menyebabkan pecahnya emulsi. Pada emulsi a/m akan diperoleh
sebaliknya.
4. Fluoresensi
Karena minyak berfluoresensi seluruhnya dan emulsinya m/a menunjukkan pola titik-titik.



III. DATA PREFORMULASI
Zat Aktif
Paraffin Liquidum (Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6 hlm. 445, FI IV hlm. 652)
Pemerian : Transparan, tidak berwarna, cairan kental, tidak
berfluoresensi, tidak berasa dan tidak berbau ketika dingin
dan berbau ketika dipanaskan.
Kelarutan : Praktis tidak larut etanol 95%, gliserin dan air.
Larut dalam jenis minyak lemak hangat.
Stabilitas : Dapat teroksidasi oleh panas dan cahaya.
Khasiat : Laksativ (pencahar)
Dosis : Emulsi oral : 15 45 ml sehari (DI 88 hlm. 1630)
HLB Butuh : 10 12 (M/A). 5 6 (A/M)
OTT : Dengan oksidator kuat.
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat, hindari dari cahaya, kering dan sejuk.

Zat Tambahan

Emulgator Sistem HLB
Span 80 (Sorbitan Monooleat) (Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hal. 675,
Martindale hal. 577)
Pemerian : Cairan kental seperti minyak berwarna kuning.
Kelarutan : Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan propilen
glikol, tercampur dalam alcohol dan methanol, 1 bagian span
larut dalam 100 bagian minyak biji kapas, sedikit larut dalam
etil asetat.
Khasiat : Emulgator, surfaktan non ionik, peningkat kelarutan.
Bobot jenis : 1,01 g/ml.
Konsentrasi : Emulgator A/M = 1-15%, emulgator M/A = 1-10%
Stabilitas : Stabil terhadap asam dan basa lemah.
Penyimpanan : Wadah bertutup rapat dan pada tempat sejuk dan
kering.
HLB : 4,3
OTT : Dengan asam atau basa kuat, terjadi pembentukan sabun dengan
basa kuat.

Tween 80 (FI edisi IV hal. 687 Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hlm. 549)
Pemerian : Cairan seperti minyak, jernih berwarna kuning muda, bau khas lemah, rasa
pahit dan hangat.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; larut dalam etanol; tidak larut dalam minyak mineral.
OTT : Perubahan warna dan atau presipitasi terjadi dengan berbagai zat fenol, tannin,tar
dan bahan seperti tar.
Stabilitas : Stabil pada elektrolit, asam lemah,dan basa lemah.
Khasiat : Bahan pengemulsi (emulgator)
Bobot jenis : 1,06 1,09 g/ml.
Konsentrasi : Emulgator M/A = 1-15%
Emulgator A/M = 1-10%
HLB : 15,0
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, sejuk dan kering.

CMC Na. (Carboxymethylcellulose sodium) (Handbook Of Pharmaceutical Exipent edisi VI
halaman 120; Farmakope Indonesia Edisi IV halaman 175; Remington edisi 21 halaman 1073).
Pemerian = Serbuk atau granul, putih sampai krem, higroskopis.
Kelarutan = Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloida,
tidak larut dalam etanol, eter, dan pelarut organik lain.
Stabilitas = Larutan stabil pada pH 2-10, pengendapan terjadi pada pH dibawah 2.
Viscositas larutan berkurang dengan cepat jika pH diatas 10. Menunjukkan viskositas dan
stabilitas maksimum pada pH 7-9. Bisa disterilisasi dalam kondisi kering pada suhu 160 selama
1 jam, tapi terjadi pengurangan viskositas.
Penyimpanan = Dalam wadah tertutup rapat.
OTT = Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan dengan larutan garam besi dan beberapa logam
seperti aluminium, merkuri dan zink juga dengan gom xanthan; pengendapan terjadi pada pH
dibawah 2 dan pada saat pencampuran dengan etanol 95%.; Membentuk kompleks dengan
gelatin dan pektin.
Khasiat = Emulsifying agent, bahan pengental.
Konsentrasi = 0,25 1% untuk emulsifying agent.

Natrium Benzoat (FI IV hal. 584, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hal. 627)
Synonym : Sodium benzoat, Natrii benzoat
RM : C
7
H
5
NaO
2

BM : 144,11
Pemerian : Granul atau serbuk hablur, putih, tidak berbau, stabil di udara.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, lebih mudah larut dalam etanol 90%.
Stabilitas : Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan kering.
OTT : Tidak bercampur dengan komponen kuartener, gelatin, garam ferri, garam kalsium, dan garam
logam berat termasuk perak, timah, dan merkuri.
Konsentrasi : 0,02-0,5 %
Fungsi : Pengawet/antimikroba.
Wadah : Wadah tertutup rapat, di tempat kering & sejuk.

Sorbitol (FI IV hal. 756, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hal. 679)
RM : C66H14O6
BM : 182,17
Pemerian : Serbuk, granul atau lempengan; higroskopis; warna putih rasa manis.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; sukar larut dalam etanol, metanol dan asam asetat.
Konsentrasi : 20 35%
Khasiat : Pemanis.
Stabilitas : Dapat bercampur dengan kebanyakan bahan tambahan, stabil di udara, keadaan dingin dan
asam basa encer.
OTT : Ion logam divalent dan trivalent dalam asam kuat dan suasana basa.
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat.


BHT(Butil hidroksi toluen)
FI IV hal.157; Excipients 6th Edition hal. 75
Pemerian : Hablur padat, putih; bau khas lemah.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilen glikol, asam-asam mineral dan larutan alkali;
mudah larut dalam etanol, aseton, benzen dan parafin liquid; lebih mudah larut dalam minyak-
minyak makanan dan lemak.
Stabilitas : Jauhkan dari cahaya, kelembaban dan panas.
Konsentrasi : 0,02 %
Kegunaan : Antioksidan untuk minyak-minyak dan lemak.
OTT : Bahan pengoksidasi kuat seperti peroksida dan permanganat.
Wadah : Dalam wadah tertutup baik.


Aquadest FI IV hal. 112
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan pelarut polar
Kegunaan : Sebagai pelarut
Stabilitas : Dalam semua keadaan fisik (es, cairan, udara).
OTT : Bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis, bereaksi keras
dengan logam alkali.
Penyimpanan : Wadah tertutup baik.
Sunset Yellow (Excipient Edisi 6 hal. 193-194)
Pemerian : Serbuk kuning kemerahan, di dalam larutan memberikan warna
orange terang.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, gliserin dan propilen glikol (50%), sedikit
larut dalam propilen glikol.
OTT : Asam askorbat, gelatin, dan glukosa.
Kegunaan : Sebagai pewarna.
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat dan tempat sejuk dan kering.

Essence Orange
Pemerian : Terbuat dari kulit jeruk yang masih segar diproses secara mekanik.
Kelarutan : Mudah larut dalam alkohol 90 %, asam asetat glasial.
Kegunaan : Flavouring agent.
Stabilitas : Dapat disimpan dalam wadah gelas dan plastik.
Penyimpanan : Wadah tertutup dan tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari
cahaya matahari

IV. ALAT dan BAHAN
Alat : 1. Beaker glass
2. Gelas ukur
3. Cawan penguap
4. Lumpang dan mortir atau stirer
5. Batang pengaduk
6. Objek glass
7. Cover glass
8. Pipet tetes
9. Penangas air
10. Kertas perkamen
11. Timbangan
12. Mikroskop
13. Viskometer Brookfield
14. Tabung sedimentasi
15. Erlenmeyer
16. Sudip




Bahan:
1. Paraffin Liquid
2. Span 80
3. Tween 80
4. CMC Na
5. Na.Benzoat
6. BHT
7. Sunset Yellow
8. Essence Orange
9. Sorbitol
10. Aquadest
11. Metilen Blue
12. Sudan III

V. FORMULA

Komposisi Formula I Formula II Formula III
Paraffin Liquid 20% 20% 20%
Span 80 2 % 3 % 4 %
Tween 80 2 % 3 % 4 %
CMC 1% 1% 1%
Natrium Benzoat 0,1% 0,1% 0,1%
BHT 0,02% 0,02% 0,02%
Sunset Yellow 0,05 % 0,05 % 0,05%
Ess. Orange 0,1 % 0,1 % 0,1 %
Sorbitol 2% 2% 2%


VI. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN
A. Perhitungan
HLB Butuh Parrafin liquid : 12
HLB Span 80 : 4.3
HLB Tween 80 : 15



Formula I
Paraffin Liq = 20/100 x 400 ml = 80 gram
Berat total emulgator (Tween 80 + Span 80) : 2/100 x 400 ml = 8 gram
Tween 80 : 15 7,7 = tween 80 : 7,7/10,7 x 8 = 5,76 gram
12
Span 80 : 4,3 3 = span 80 : 3/10,7 x 8 = 2,24 gram

10,7
CMC Na = 1/100 x 400 ml = 4 gram
Air u/ CMC Na = 20 x 4 gram = 80 ml
Na Benzoat = 0,1 /100 x 400 ml = 0,4 gram
Air u/ Na Benzoat = 1 x 0,4 gram = 0,4 ml
BHT = 0,02/100 x 400 ml = 0,08 gram
Sunset Yellow = 0,05 % x 400 ml = 0,2 gram
Ess Orange = 0,1 % x 400 ml = 0,4 ml = 0,4 x 20 tetes = 8 tetes
Sorbitol = 2/100 X 400ml = 8 gram
Aquadest sisa = 400 ml [80 + 5,76 +2,24 +4 +80 +0,4 +0,4 +0,08 +0,2
+0,4 +8 ]
= 218,52 ml

Formula II
Paraffin Liq = 20/100 x 400 ml = 80 gram
Berat total emulgator (Tween 80 + Span 80) : 3/100 x 400 ml = 12 gram
Tween 80 : 15 7,7 = tween 80 : 7,7/10,7 x 12 = 8,64 gram
12
Span 80 : 4,3 3 = span 80 : 3/10,7 x 12 = 3,36 gram

10,7
CMC Na = 1/100 x 400 ml = 4 gram
Air u/ CMC Na = 20 x 4 gram = 80 ml
Na Benzoat = 0,1 /100 x 400 ml = 0,4 gram
Air u/ Na Benzoat = 1 x 0,4 gram = 0,4 ml
BHT = 0,02/100 x 400 ml = 0,08 gram
Sunset Yellow = 0,05 % x 400 ml = 0,2 gram
Ess Orange = 0,1 % x 400 ml = 0,4 ml = 0,4 x 20 tetes = 8 tetes
Sorbitol = 2/100 X 400ml = 8 gram
Aquadest sisa = 400 ml [80 + 8,64 +3,36 +4 +80 +0,4 +0,4 +0,08 +0,2
+0,4 +8 ]
= 214,52 ml

Formula III
Paraffin Liq = 20/100 x 400 ml = 80 gram
Berat total emulgator (Tween 80 + Span 80) : 4/100 x 400 ml = 16 gram
Tween 80 : 15 7,7 = tween 80 : 7,7/10,7 x 16 = 11,51 gram
12
Span 80 : 4,3 3 = span 80 : 3/10,7 x 16 = 4,49 gram

10,7
CMC Na = 1/100 x 400 ml = 4 gram
Air u/ CMC Na = 20 x 4 gram = 80 ml
Na Benzoat = 0,1 /100 x 400 ml = 0,4 gram
Air u/ Na Benzoat = 1 x 0,4 gram = 0,4 ml
BHT = 0,02/100 x 400 ml = 0,08 gram
Sunset Yellow = 0,05 % x 400 ml = 0,2 gram
Ess Orange = 0,1 % x 400 ml = 0,4 ml = 0,4 x 20 tetes = 8 tetes
Sorbitol = 2/100 X 400ml = 8 gram
Aquadest sisa = 400 ml [80 + 11,51 +4,49 +4 +80 +0,4 +0,4 +0,08 +0,2
+0,4 +8 ]
= 210,52 ml

B. Penimbangan

Komposisi Formula I Formula II Formula III
Paraffin Liquidum 80 g 80 g 80 g
Span 80 2,24 g 3,36 g 4,49 g
Tween 80 5,76 g 8,64 g 11,51 g







VI. CARA
PEMBUATAN
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Ditimbang bahan-bahan obat dan kalibrasi botol.
3. Dikembangkan CMC Na dengan menggunakan air hangat di beaker glass
sejumlah 20 X berat CMC Na, diamkan kurang lebih 24 jam untuk mengembangkan CMC Na.
4. Dilebur paraffin liquid, span 80, BHT di water bath, diaduk ad homogen/larut (fase minyak).
5. Dilebur Tween 80 dengan sedikit air panas dalam cawan penguap di water bath pada suhu 70
(fase air).
6. Dilarutkan Na. benzoat dan sorbitol dalam sebagian aquadest ad larut.
7. Dilarutkan sunset yellow dalam sebagian air ad larut dan homogen.
8. Dimasukkan fase minyak ke dalam lumpang digerus, kemudian ditambah fase air sedikit demi
sedikit sambil terus digerus (konstan) sampai terbentuk corpus emulsi.
9. Dipindahkan corpus emulsi ke dalam CMC Na yang telah dikembangkan, lalu
dihomogenkan dengan alat homogenizer.
10. Ditambahkan larutan sorbitol dan Na. benzoat, dihomogenkan.
11. Ditambahkan larutan sunset yellow, dihomogenkan.
12. Ditambahkan essence orange, dihomogenkan.
13. Dimasukkan hasil emulsi ke dalam botol yang telah dikalibrasi 60 ml dan dikemas.
14. Dilakukan evaluasi untuk sisa emulsi.

VII. EVALUASI dan PENGAMATAN
a. Tipe emulsi
i. Siapkan objek glass dan cover glass.
CMC Na 4 g 4 g 4 g
Natrium Benzoat 0,4 g 0,4 g 0,4 g
BHT 0,08 g 0,08 g 0,08 g
Sunset Yellow 0,2 g 0,2 g 0,2 g
Ess Orange 8 tetes 8 tetes 8 tetes
Sorbitol 8 g 8 g 8 g
Aqua dest ad 218,52 ml 214,52 ml 210,52 ml
ii. Teteskan emulsi formula I pada objek glass, lakukan duplo.
iii. Teteskan Sudan III dan Metilen blue.
iv. Lakukan hal yang sama pada formula II dan III.
v. Lihat preparat emulsi dibawah mikroskop.

Formula Sudan III Metilen blue Tipe emulsi

I



M/A

II



M/A

III

M/A

Minyak air minyak air

2. Viskositas dan sifat alir
Alat: Viskometer Brookfield tipe LV
KV: 673,7 dyne/cm
Viskositas (): skala x faktor
Gaya (F): skala x KV






Formula I :
Spindel RPM Faktor Skala F
2 1,5 200 14,5 2900 9768,65
2 3 100 21,5 2150 14484,55
2 6 50 32,5 1650 21895,25
2 3 100 21 2100 14147,70
2 1,5 200 15 3000 10105,50

Formula II :
Spindel RPM Faktor Skala F
2 0,3 1000 10,5 10500 7073,85
2 0,6 500 12 6000 8084,40
2 1,5 200 19 3800 12800,30
2 0,6 500 11,5 5750 7747,55
2 0,3 1000 10 10000 6737,00

Formula III
Spindel RPM Faktor Skala F
2 0,6 500 11,5 5750 7747,55
2 1,5 200 16 3200 10779,20
2 3 100 21 2100 14147,70
2 1,5 200 15 3000 10105,50
2 0,6 500 11 5500 7410,70

3. Volume sedimentasi
Tabung sedimentasi = 25 ml
F = Vu/Vo
F = derajat sedimentasi (mendekati 1 baik)
Vu = Volume sedimentasi
Vo = Volume awal

Hari ke- FORMULA I FORMULA II FORMULA III
Vo 25 25 25
0

Vu
F
25
1
25
1
25
1

1

Vo
Vu
F
25
25
1
25
25
1
25
25
1

2

Vo
Vu
F
25
25
1
25
25
1
25
25
1

3

Vo
Vu
F
25
25
1
25
25
1
25
25
1

4

Vo
Vu
F
25
25
1
25
25
1
25
25
1

4. Ukuran Partikel
Cara :
a. Kalibrasi Skala Okuler.
Tempatkan micrometer di bawah mikroskop, himpitkan garis awal skala okuler dengan garis
awal skala objektif kemudian tentukan garis kedua yang berhimpit. Tentukan jarak skala okuler.
b. Buatlah preparat dari emulsi formula I, II, dan III
c. Ukurlah partikel sebanyak 100 partikel, Tabelkan
Objektif
Kalibrasi = x 10 m
Okuler
Ukuran partikel pada formula I, II dan III tidak dapat ditentukan. Hal ini disebabkan ukuran
partikel yang teramati di bawah mikroskop lebih kecil dari 1 skala, sehingga sulit diprediksi
skala yang sebenarnya.

1. Mikromiretik (Ukuran Partikel)
Formula 1
N0 Skala m N0 Skala m N0 Skala m N0 Skala m
1 4x10 40 26 2x10 20 51
1x10 10
76 2x10 20
2 1x10 10 27 1x10
10
52
1x10 10
77
1x10 10
3 2x10 20 28 1x10
10
53
1x10 10
78
1x10 10
4 2x10 20 29 2x10
20
54
1x10 10
79
1x10 10
5 2x10 20 30
1x10 10
55
1x10 10
80
1x10 10
6
1x10
10 31
1x10 10
56
1x10 10
81
1x10 10
7
1x10 10
32
1x10 10
57
1x10 10
82
1x10 10
8
1x10 10
33
1x10 10
58
1x10 10
83 2x10 20
9
1x10 10
34
1x10 10
59
1x10 10
84
1x10 10
10
1x10 10
35
1x10 10
60
1x10 10
85
1x10 10
11 2x10 20 36
1x10 10
61
1x10 10
86
1x10 10
12 1x10 10 37
1x10 10
62
1x10 10
87
1x10 10
13 1x10 10 38
1x10 10
63
1x10 10
88
1x10 10
14 1,5x10 15 39 8x10 80 64
1x10 10
89
1x10 10
15
1x10 10
40 6,5x10 65 65
1x10 10
90 1,5x10 15
16
1x10 10
41 8x10 80 66
1x10 10
91 2x10 20
17
1x10 10
42
1x10 10
67
1x10 10
92 1x10 10
18
1x10 10
43
1x10 10
68
1x10 10
93 2x10 20
19
1x10 10
44
1x10 10
69
1x10 10
94 3x10 30
20
1x10 10
45
1x10 10
70
1x10 10
95
1x10 10
21
1x10 10
46
1x10 10
71
1x10 10
96
1x10 10
22
1x10 10
47
1x10 10
72
10x10
100 97
1x10 10
23 1,5x10 15 48
1x10 10
73
1x10 10
98
1x10 10
24 1,5x10 15 49
1x10 10
74
1x10 10
99
1x10 10
25 1x10 10 50
1x10 10
75
1x10 10
100 3x10 30

Rentang data (R)= Data terbesar-data terkecl
= 100m - 10m = 90m
Banyak data = 1 + 3.3logn
= 1 + 3.3log 100 = 7,6~8
Panjang interval kelas = R = 90m = 11,25 m
Banyak data 8
Interval kelas = data terkecil + P
= 10 + 11,25= 21,25

Rentang
ukuran
Rata-rata
rentang
Jumlah
Partikel
nd nd
2
nd
3
nd
4

(m) (d) (n)
10-21,25 15,625 93 1453,125 22705,078 354766,846 5543231,964
21,25-32,50 26,875 2 53,75 1444,531 38821,777 1043335,266
32,50-43,75 38,125 1 38,125 1453,516 55415,283 2112707,672
43,75-55 49,375 0 0 0 0 0
55-66,25 60,625 1 60,625 3675,391 222820,557 13508496,25
66,25-77,50 71,875 0 0 0 0 0
77,50-88,75 83,125 2 166,25 13819,531 1148748,535 95489721,98
88,75-100 94,375 1 94,375 8906,641 840564,209 79328247,22


100 1866,25 52004,688 2661137,207 197025740,4

Dln = nd = 1866,25 = 18,6625
n 100
Dsn =

= 22,8045

Dvn =
3

= 29,8554

Dsl= = 27,8659

Dsv= = 51,1711
Dwn= = 74,0382








Formula II
N0 Skala m N0 Skala m N0 Skala m N0 Skala m
1 1x10 10 26
1x10 10
51
1x10 10
76
1x10 10
2
1x10 10
27
1x10 10
52
1x10 10
77
1x10 10
3
1x10 10
28
1x10 10
53
1x10 10
78
1x10 10
4
1x10 10
29
1x10 10
54
1x10 10
79
1x10 10
Formula 2


Rentang data
(R)= Data
terbesar-data
terkecl


=
20m 10m
= 10m
Banyak data =
1+3.3logn

=
1+3.3log 100 = 7,6~8
Panjang interval kelas = R = 10m = 1,25 m
Banyak data 8

Interval kelas= data terkecil + P
= 10 + 1,25 = 11,25

Rentang ukuran Rata-rata rentang
Jumlah
Partikel
nd nd
2
nd
3
nd
4

(m) (d) (n)
10-11,25 10,625 95 1009,375 10724,609 113948,975 1210707,855
11,25-12,50 11,875 0 0 0 0 0
12,50-13,75 13,125 0 0 0 0 0
13,75-15 14,375 0 0 0 0 0
15-16,25 15,625 2 31,25 488,281 7629,395 119209,290
16,25-17,50 16,875 0 0 0 0 0
17,50-18,75 18,125 0 0 0 0 0
18,75-20 19,375 3 58,125 1126,172 21819,580 422754,364
5
1x10 10
30
1x10 10
55
1x10 10
80
1x10 10
6
1x10 10
31
1x10 10
56
1x10 10
81
1x10 10
7
1x10 10
32
1x10 10
57
1x10 10
82
1x10 10
8
1x10 10
33
1x10 10
58
1x10 10
83 2x10 20
9
1x10 10
34
1x10 10
59
1x10 10
84
1x10 10
10
1x10 10
35
1x10 10
60
1x10 10
85
1x10 10
11
1x10 10
36
1x10 10
61 2x10 20 86
1x10 10
12
1x10 10
37
1x10 10
62
1x10 10
87
1x10 10
13
1x10 10
38
1x10 10
63
1x10 10
88
1x10 10
14
1x10 10
39
1x10 10
64
1x10 10
89 1,5x10 15
15
1x10 10
40
1x10 10
65
1x10 10
90
1x10 10
16
1x10 10
41
1x10 10
66
1x10 10
91
1x10 10
17
1x10 10
42
1x10 10
67
1x10 10
92
1x10 10
18
1x10 10
43
1x10 10
68
1x10 10
93
1x10 10
19
1x10 10
44
1x10 10
69
1x10 10
94
1x10 10
20
1x10 10
45
1x10 10
70
1x10 10
95
1x10 10
21
1x10 10
46
1x10 10
71
1x10 10
96
1x10 10
22 2x10 20 47 1,5x10 15 72
1x10 10
97
1x10 10
23
1x10 10
48
1x10 10
73
1x10 10
98
1x10 10
24
1x10 10
49
1x10 10
74
1x10 10
99
1x10 10
25
1x10 10
50
1x10 10
75
1x10 10
100
1x10 10


100 1098,75 12339,062 143397,95 1752671,509

Dln = nd = 1098,75 = 10,9875
n 100
Dsn =

= 11,1081

Dvn =
3

= 11,2767

Dsl= = 11,2301

Dsv= = 11,6215

Dwn= = 12,2224








Formula III
N0 Skala m N0 Skala m N0 Skala m N0 Skala m
1 1x10 10 26
1x10 10
51 1,5x10 15 76
1x10 10
2 1,5x10 15 27
1x10 10
52
1x10 10
77
1x10 10
3 2x10 20 28
1x10 10
53
1x10 10
78
1x10 10
4
1x10 10
29 1,5x10
15
54
1x10 10
79
1x10 10
5
1x10 10
30 1, 5x10
15
55
1x10 10
80
1x10 10
6
1x10 10
31
1x10 10
56
1x10 10
81
1x10 10
7
1x10 10
32
1x10 10
57
1x10 10
82
1x10 10
8 1,5x10 15 33
1x10 10
58
1x10 10
83 1,5x10 15
9 2x10 20 34
1x10 10
59 1,5x10 15 84 1,5x10 15
10 1,5x10 15 35
1x10 10
60
1x10
10 85 4x10 40
11 3x10 30 36
1x10 10
61
1x10
10 86 1,5x10 15







Rentang
data (R)=
Data
terbesar-
data terkecl
= 40m - 10m = 30m
Banyak data = 1+3.3logn
= 1+3.3log 100 = 7,6~8
Panjang interval kelas = R = 30m = 3,75 m
Banyak data 8
Interval kelas= data terkecil + P
= 10 + 3,75 = 13,75

Rentang
ukuran
Rata-rata
rentang
Jumlah
Partikel
nd nd
2
nd
3
nd
4

(m) (d) (n)
10,00-13,75 11,875 66 783,75 9307,031 110520,996 1312436,829
13,75-17,5 15,625 23
359,37
5 5615,234 87738,037 1370906,830
17,5-21,25 19,375 8 155 3003,125 58185,547 1127344,971
21,25-25 23,125 0 0 0 0 0
25-28,75 26,875 0 0 0 0 0
28,75-32,5 30,625 2 61,25 1875,781 57445,801 1759277,649
32,5-36,25 34,375 0 0 0 0 0
36,25-40 38,125 1 38,125 1453,516 55415,283 2112707,672


100 1397,5
21254,68
7 369305,664 7682673,951

12
1x10 10
37
1x10 10
62
1,5x10
15 87 1x10 10
13
1x10 10
38 2x10 20 63 1,5x10 15 88 1,5x10 15
14
1x10 10
39 1x10 10 64
1x10 10
89
1x10 10
15
1x10 10
40 1,5x10 15 65
1x10 10
90
1x10 10
16
1x10 10
41 1x10 10 66
1x10 10
91
1x10 10
17 1,5x10 15 42 2x10 20 67 2x10 20 92 1,5x10 15
18 1,5x10 15 43 2x10 20 68
1x10 10
93 1x10 10
19
1x10 10
44 2x10 20 69
1x10 10
94 1,5x10 15
20
1x10 10
45 1,5x10 15 70 1,5x10 15 95 2x10 20
21
1x10 10
46 1x10 10 71 3x10 30 96
1x10 10
22
1x10 10
47 2x10 20 72 1,5x10 15 97
1x10 10
23
1x10 10
48
1x10 10
73
1x10 10
98
1x10
10
24
1x10 10
49
1x10 10
74
1x10 10
99 1,5x10 15
25
1x10 10
50
1x10 10
75
1x10 10
100 1,5x10 15
Dln = nd = 1397,5 = 13,9750
n 100

Dsn =

= 14,5790

Dvn =
3

= 15,4571

Dsl= = 15,2091
Dsv= =17,3753

Dwn= = 20,8030

5. Organoleptik
Formula Bau Warna Rasa
I Jeruk Kuning Muda Manis
II Jeruk Kuning Muda Manis
III Jeruk Kuning Muda Manis


VIII. PEMBAHASAN
1. Parafin liquid sebagai zat aktif dalam sediaan ini dibuat dalam bentuk emulsi dengan tujuan
absorbsi di dalam tubuh dapat terjadi lebih cepat dan lebih mudah karena dalam bentuk larutan
yang dapat langsung diserap oleh sistem pencernaan dan aktivitas parafin liquid sebagai
pencahar dapat bekerja dengan baik.
2. Zat pengental yang digunakan pada formula ini adalah CMC Na dimana berfungsi untuk
meningkatkan viskositas agar didapat sediaan dengan viskositas yang baik dan untuk
menstabilkan sediaan ( emulsi ).
3. Emulgator yang digunakan pada formula ini adalah golongan surfaktan non ionik yaitu tween 80
dan span 80 untuk menurunkan tegangan permukaan antara fase minyak dan fase air, dengan
memperkecil ukuran partikel yang besar dan berukuran seragam sehingga dapat bercampur saat
dilakukan pengadukan.
4. Emulsi yang baik adalah emulsi yang berwarna seperti putih susu, dan jika dikocok atau diberi
gaya dan tekanan, viskositasnya akan bertambah kecil sehingga emulsi tersebut mudah dituang.

5. Suatu emulsi dianggap tidak stabil, jika :
fase dalam atau fase terdispersi pada pendiaman cenderung untuk membentuk agregat dari
bulatan-bulatan,
jika bulatan-bulatan atau agregat dari bulatan naik ke permukaan atau turun ke dasar emulsi
tersebut akan membentuk suatu lapisan pekat dari fase dalam,
jika semua atau sebagian dari cairan fase dalam tidak teremulsikan dan membentuk suatu
lapisan yang berbeda pada permukaan atau pada dasar emulsi, yang merupakan hasil dari
bergabungnya bulatan-bulatan fase dalam.
6. Pada ketiga formula didapat emulsi yang stabil dengan harga F=1 sebab tidak ada perubahan
dari volume awal hingga volume akhir selama penyimpanan 5 hari.
7. Tipe emulsi yang diperoleh adalah emulsi tipe M/A karena ketika zat warna sudan III diteteskan
pada emulsi menyebabkan warna merah pada butir minyak. Meskipun warna merah tidak begitu
terlihat jelas karena sudan III yang tersedia kurang baik (encer). Perlu diingat bahwa tipe emulsi
ditentukan oleh emulgator, yaitu bila emulgator yang digunakan larut air atau suka air (hidrofil)
maka akan diperoleh emulsi tipe M/A, apabila emulgator larut dalam minyak atau suka minyak
(lipofil) maka akan membentuk tipe emulsi A/M. (Ilmu Meracik Obat, hal.141). Selain itu
perbandingan jumlah fase juga dapat mempengaruhi tipe emulsi. Jumlah fase yang sedikit
biasanya akan menjadi fase dalam, dan yang jumlahnya lebih besar akan menjadi fase luar. Di
dalam formula didapatkan tipe emulsi M/A karena jumlah fase minyak lebih sedikit dari fase air.
8. Dalam suatu sistem HLB, harga HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dari zat-zat yang
seperti minyak. Dengan menggunakan dasar HLB dalam penyiapan suatu emulsi, dapat memilih
zat pengemulsi yang mempunyai harga HLB sama atau hampir sama sebagai fase minyak dari
emulsi yang di maksud. Contoh zat pengemulsi dalam pembuatan formula ini adalah Span 80
dan Tween 80. (Ansel hal.382).
9. HLB butuh minyak adalah HLB yang dibutuhkan oleh minyak agar sediaan stabil. HLB butuh
yang digunakan pada ketiga formula ini adalah 10,7. Dengan demikian emulsi yang didapat
stabil karena menggunakan HLB butuh yang dibutuhkan yaitu minyak 10,7.
10. Sifat alir yang didapat dari 3 formula adalah Thiksotropi pseudoplastis, karena jenis aliran ini
bekerja pada gaya geser yang lebih tinggi, dimana viskositas turun dengan menaikkan
kebutuhan geser dan sistem tersebut menjadi lebih cair yang tidak terbentuk kembali dengan
segera jika stress tersebut dihilangkan atau dikurangi. Dapat dilihat dari nilai viskositas yang
berbeda meskipun rpm sama.
11. Ukuran partikel yang dilihat dengan mikroskop didapatkan hasil yang kurang baik karena
memiliki grafik yang tidak menyerupai lonceng, dari ke 3 formula didapatkan bahwa formula 3
memiliki hasil yang lebih baik dari formula lain karena formula 3 memiliki ukuran distribusi
partikel merata dalam suatu sediaan dan lebih menyerupai lonceng.

IX. KESIMPULAN

Formula I Formula II Formula III
Tipe emulsi M/A M/A M/A
Tipe aliran
Volume
sedimentasi
F ( Hari 0 )
F ( Hari 1 )
F ( Hari 2 )
F ( Hari 3 )
F ( Hari 4 )


1
1
1
1
1


1
1
1
1
1


1
1
1
1
1
Ukuran partikel
Paling banyak
10 m 10 m 10 m












X. DAFTAR PUSTAKA
a. Ansel, H. C., Ph. D. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
b. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta.
c. Lachman, Leon, Ph. D. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri II, edisi ketiga. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
d. Mc. Evory, Gerald K, Pharm. D. American Hospital Formulary Service, Drug Information.
American Society of Hospital Pharmacist.
e. Wade, Ainley and Paul J. Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients, edisi kedua.
London: The Pharmaceutical Press.
Van Duin, C. F. R