Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi adalah suatu ilmu yang mempelajari cara bagaimana mencampur
obat, meracik formula, identifikasi, kombinasi serta menganalisis mengenai obat
serta pengobatan. Didalam ilmu farmasi, diajarkan juga tentang ilmu farmasetika.
Farmasetika sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang penyediaan obat
meliputi pengumpulan, pengenalan, pengawetan, dan pembekuan obat-obatan,
seni peracikan obat, serta pembuatan sendiaan farmasi menjadi bentuk tertentu
hingga siap digunakan sebagai obat, serta perkembangan obat yang meliputi ilmu
dan teknologi pembuatan obat dalam bentuk sediaan yang dapat digunakan dan
diberikan kepada pasien (Syamsuni, 2007).
Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi, perkembangan
di dunia farmasi pun tak ketinggala. Semakin hari semakin banyak jenis dan
ragam penyakit yang muncul. Perkembangan pengobatan pun terus
dikembangkan. Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan
masyarakat, yang bertujuan memberikan efek terapi obat, dosis yang sesuai untuk
komsumsi oleh masyarakat (Ansel, 2008)
Bentuk sediaan dalam bidang farmasi juga semakin bervariasi. Sediaan obat
tersebut antara lain sediaan padat seperti serbuk, tablet, kapsul. Sediaan setengah
padat seperti salep, cream, pasta, suppositoria dan gel, serta bentuk sediaan cair
yaitu suspense, larutan, dan emulsi. Dengan adanya bentuk sediaan tersebut
diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen. Salah
satu contoh sediaan farmasi yang beredar dipasaran, Apotek, Instalasi kesehatan,
maupun toko obat adalah sediaan cair (liquid) (Sulistia, 2007).
Sediaan liquid merupakan sediaan dengan wujud cair, mengandung satu atau
lebih zat aktif yang terlarut atau terdispersi stabil dalam medium yang homogen
pada saat diaplikasikan. Sediaan cair atau sediaan liquid lebih banyak
diminatioleh kalangan anak-anak dan usia lansia, sehingga satu keunggulan
sediaan liquid dibandingkan dengan sediaan-sediaan lain adalah dari segi rasa dan
bentuk sediaan (Syamsuni, 2007).

1
Salah satu sediaan liquid yang beredar dipasaran adalah sediaan bentuk
emulsi. Sediaan emulsi ini didesain dalam dunia kefarmasian untuk memfasilitasi
pengantaran zat aktif yang berupa minyak, atau zat aktif yang larut minyak. Jika
hanya diberikan dalam bentuk minyak saja, maka tingkat penerimaan pasien akan
cenderung rendah (Syamsuni, 2007).
Sediaan emulsi selain dikenal sebagai sediaan cair, juga dapat berupa
sediaan setengah padat. Penggunaan sediaan ini, pada saat ini makin popular
karena dapat digunakan untuk pemakaian dalam maupun untuk pemakaian luar.
Emulsi merupakan disperse koloid dimana zat terdispersi dan medium pendispersi
merupakan cairan yang tidak saling bercampur. Emulsi dapat distabilkan dengan
penambahan bahan pengemulsi yang disebut emulgator (Ansel, 2008).
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan emulsi menggunkan 1 resep.
Pada resep ini digunakan zat aktif berupa paraffin liquidum. Sediaan emulsi yang
menggandung paraffin cair yang beredar di pasaran digunakan sebagai obat
oral/dalam dan biasanya untuk melunakan fases sehingga mudah dikeluarkan,
pengobatan eczema dan kulit kering yang terkelupas (Sulistia, 2007).
1.2 Maksud Percobaan
Maksud percobaan ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pembuatan emulsi
serta mampu menghitung dosis obat dalam bentuk sediaan emulsi.
1.3 Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan emulsi
2. Mahasiswa dapat mengetahui tipe-tepe emulsi
3. Mahasiswa dapat mengetahui komponen-komponen emulsi
4. Mahasiswa dapat mengetahui cara membedakan tipe-tipe emulsi

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.2.1 Pengertian Emulsi
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan lain dalam bentuk tetesan kecil ( Dirjen POM, 1995).
Emulsi adalah suatu sistem dispersi dimana fase terdispersi terdiri dari
bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi keseluruh pembawah yang tidak
tercampur (Ansel, 1966).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan
obat,terdispersi dalam cairan pembawa,distabilkan dengan zat pengemulsi atau
surfaktan yang cocok (Dirjen POM, 1979).
Emulsi adalah suatu sediaan yang mengandung dua zat cair yang tidak mau
campur,biasanya air dan minyak dimana cairan satu terdispersi menjadi butir-butir
kecil dalam cairan yang lain.Dispersi ini tidak stabil,butir-butir ini akan
bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang
terpisah.Flavor dan pengawet yang berada dalam fase air yang mungkin larut
dalam minyak harus dalam kadar yang cukup untuk memenuhi yang
diinginkan.Emulgator merupakan komponen yang penting untuk memperoleh
emulsi yang stabil (Anief,1993).
Emulsi atau emulsions adalah sistem disperse kasar yang solid
termodinamik tidak stabil,terdiri dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak
bercampur satu sama lain.Dimana cairan yang satu terdispersi didalam cairan
yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan penambahan emulgator
(Voight,1994)
Emulsi adalah sistem heterogen, terdiri dari kurang lebih satu cairan yang
tidak tercampurkan yang terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan-
tetesan di mana diameternya kira-kira 0,1 mm atau dapat diartikan sebagai dua
fase yang terdiri dari satu cairan yang terdispersi dalam cairan lainnya yang tidak
tercampurkan (Martin,1971).

3
Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah sediaan yang mengandung 2
cairan yang tidak bercampur, satu diantaranya terdispersi secara seragam sebagai
globul.(Jenkins,1957).
Emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan dalam
sistem dispersi,fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam
fase cairan lainya,umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi ,fase cairan
terdispersi disebut fase dalam,sedangkan fase cairan pembayanya disebut fase
luar.Jika fase dalam berupa minyak atau larutan dalam minyak dan fase luarnya
air atau larutan,maka emulsi disebut emulsi minyak-air,sedangkan sebaliknya
emulsi disebut air-minyak (Depkes,1978).
2.2.2 Tipe Emulsi
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal maupun
eksternal, emulsi digolongkan menjadi dua macam, yaitu (Syamsuni, 2006) :
1. Emulsi tipe o/w (Oil in Water) atau M/A (Minyak dalam Air) adalah emulsi
yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air.
Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
2. Emulsi tipe w/o (Water in Oil) atau A/M (Air dalam Minyak) adalah emulsi
yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak.
Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.
2.2.3 Tujuan Pemakaian Emulsi (Syamsuni, 2006).
1. Untuk dipergunakan sebagai obat dalam atau per oral. Umumnya emulsi tipe
o/w.
2. Untuk dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe o/w maupun w/o.
tergantung pada banyak faktor, misalnya sifat zatnya atau efek terapi yang
dikehendaki.
2.2.4 Cara Pembuatan Emulsi (Syamsuni, 2006).
1. Metode GOM kering atau Metode Kontinental
Dalam metode ini, zat pengemulsi (Biasanya GOM Arab) dicampur
dengan minyak terlebih dahulu, kemudian ditambah air untuk membentuk
korpus emulsi, baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia.

4
2. Metode GOM Basah atau Metode Inggris
Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (Zat pengemulsi umumnya
larut dalam air) agar membentuk suatu musilago, kemudian perlahan-lahan
minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi, kemudian diencerkan
dengan sisa air.
3. Metode Botol atau Metode Botol Forbes
Digunakan untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan
mempunyai viskositas rendah (kurang kental). Serbuk GOM dimasukkan ke
dalam botol kering, ditambahkan 2 bagian air, botol ditutup, kemudian
campuran tersebut dikocok dengan kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi
sedikit sambil dikocok.
2.2.5 Kestabilan Emulsi (Syamsuni, 2006).
1. Creaming
Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 bagian, yaitu satu bagian
mengandung fase disper lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming
bersifat reversibel artinya jika dikocok perlahan-lahan akan terdispersi
kembali.
2. Koalesensi dan Cracking (Breaking)
Koalesensi dan Cracking (Breaking) adalah pecahnya emulsi karena film
yang meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menjadi
fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat ireversibel (tidak dapat
diperbaiki kembali). Hal ini terjadi karena:
a. Peristiwa Kimia: Seperti penambahan alkohol, Perubahan pH,
Penambahan elketrolit CaO/CaCl2 eksikatus.
b. Peristiwa Fisika: Seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan,
pengadukan.
c. Peristiwa Biologis: Seperti fermentasi bakteri, jamur atau ragi.
3. Inversi Fase
Inversi Fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o
secara tiba-tiba atau sebaliknya. Sifatnya ireversibel.

5
2.2.6 Keuntungan dan Kerugian Emulsi
1. Keuntungan Emulsi (Lachman, 1994) :
a. Beberaapa bahan obat menjadi lebih mudah diabsorpsi bila obat-obat
tersebut diberikan secara oral dalam bentuk emulsi.
b. Emulsi memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah diasi bila
diinginkan.
c. Pembuatan emulsi dapat mengonrol viskositas dan derajat kekasaran
(greasiness) dari emulsi dan kosmetik maupun emulsi dermotologis.
d. Emulsi memiliki suatu keuntungan biaya yang lebih penting dari pada
preparat fase tunggal.
2. Kerugian Emulsi (Ansel, 1989) :
a. Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil secara
termodinamika.
b. Jika pengocokan ditentukan, tetesan akan bergabung menjadi satu
dengan cepat
c. Biasanya hanya satu fase yang bertahan dalam bentuk tetesan.
d. Emulsi memiliki suatu keuntungan biaya yang lebih penting dari pada
preparat fase tunggal.
e. Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil secar
termodinamika.
f. Jika pengocokan ditentukan, tetesan akan bergabung menjadi satu
dengan cepat.
g. Biasanya hanya satu fase yang bertahan dalam bentuk tetesan.
2.2 Uraian Bahan
1. Air Suling (Dirjen POM, 1979; Rowe et al, 2009)
Nama Resmi : AQUA DESTILATA
Nama Lain : Air Suling, Aqua destilata
Nama Kimia : Hidrogen Oksida
Rumus Struktur : O

H H

6
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02 gr/mol
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak
mempunyai rasa.
Kelarutan : Larut dengan semua jenis larutan.
Khasiat : Zat pelarut atau pengencer.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
2. Alkohol (Dirjen POM, 1979; Rowe et al, 2009; IAI, 2013)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, Alkohol, Ethyl alcohol, Ethyl hydroxide.
Nama kimia : Etil Alkohol [64-17-5]
Rumus struktur :

CH3 OH

Rumus molekul : C2 H5OH


Berat Molekul : 46,07 gr/mol
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform
Pdan dalam eter P.
Khasiat : Sebagai antiseptik (membunuh mikroorganisme),
dan desinfektan (membunuh bakteri pada alat
laboratorium), penetral kulit.
Kegunaan : Sebagai bahan sterilizer alat-alat laboratorium.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

7
3. Gummi Arabicum (Dirjen POM, 1979; Williams et al., 2004; Tranggono,
1991)
Nama resmi : GUMMI ACACIAE
Nama lain : Gom akasia, Gom Arab
Rumus struktur :

Rumus molekul : C36H34O29.


Berat Molekul : 250.000- 1.000.000 gr/mol.
Pemerian : Hampir tidak berbau, Rasa tawar seperti lendir
Kelarutan : Mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang
kental dan tembus cahaya. Praktis tidak larut dalam
etanol (95 %) P
Khasiat : Sebagai emulgator
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
Penyimpanan : Pada wadah tertutup baik
4. Metil Paraben (Dirjen POM, 1979 ; Subandi,2010)
Nama Resmi : METHYLIS PARABENUM
Nama Lain : Metil Paraben
Nama Kimia : Metil-p-hidroksibenzoat
Rumus Struktur :
COOCH3

OH

Rumus Molekul : C8H8O3


Berat Molekul : 152,15 gr/mol

8
Pemerian : Serbuk hablur; putih; hamper tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti
rasa tebal
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, 20 bagian air mendidih,
dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3
bagian eseton P, mudah larut dalam eter P
Khasiat : Sebagai pengawet anti mikroba
Kegunaan : Sebagai indikator
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
5. Paraffnium Liquidum (Dirjen POM, 1979: 475; Rowe et al, 2009: 445:
Dianne, dkk, 2013: 27)
Nama Resmi : PARRAFINUM LIQUIDUM
Nama Lain : Parafin Cair
Rumus Struktur :

Rumus Molekul : C5H12


Berat Molekul : 72,15 gr/mol – 240,48 gr/mol
Pemerian : Cairan kental, transparan; tidak berfluoresensi; tidak
berwarna; hampir tidak berbau; hampir tidak
mempunyai rasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95
%) P, dalam kloroform P dan dalam eter
Khasiat : Laksativum / obat pencahar
Kegunaan : Zat aktif
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya

9
6. Sirup Simpeks (Dirjen POM, 1979; Tjay & Rahadja, 2007)
Nama Resmi : SIRUPUS SIMPLEKS
Nama Lain : Sirup simpleks
Nama Kimia : Sirup simpleks
Rumus Struktur :
OCH3

Rumus Molekul : C12H22O11


Berat Molekul : 342,2965 gr/mol
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna
Kelarutan : Kelarutan dalam air 1 : 0,2, pada suhu 100 0C 1 :
400 dalam etanol pada suhu 200C 1: 170 dalam
etanol 95 % pada suhu 200C 1: 400 dalam propan -
2-0,1, tidak larut dalam kloroform
Khasiat : Pemanis, coating agent, granulatin agent,
suspending agent, tablet binder, sugar coating adjust
pengikat viskositas
Kegunaan : Zat tambahan (Pemanis)
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
7. Sukrosa (Dirjen POM, 1979; Rowe, 2009)
Nama Resmi : SUCEOSUM
Nama Lain : Sakarosa, sukrosa
Nama Kimia : Sukrosa
Rumus Struktur :

10
Rumus Molekul : C12H22O4
Berat Molekul : 342,30 gr/mol
Pemerian : Hablur putih, tidak berwarna, serbuk hablur putih,
tidak berbau, manis, stabil di udara
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut
dalam air mendidih/ sukar larut
Khasiat : Sebagai pemanis
Kegunaan : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

11
BAB 3
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum farmasetika dasar tentang Emulsi yang dilaksanakan pada hari
Senin 2 April 2018 Pukul 13.00-17.00 WITA yang bertempat di Laboratorium
Teknologi Jurusan Farmasi Fakultas olahraga dan kesehatan Universitas Negeri
Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Batang pengaduk, botol, gelas kimia, gelas ukur, lap halus, .lumpang dan
alu, neraca analitik, penangas air, pipet tetes, spatula.
3.2.2 Bahan
Alkohol 70%, alkohol 95%, aqua destilata, gom arab, metil paraben, parafiin
liquidum, sukrosa, sirup simpleks, tisu
3.3 Cara kerja
3.3.1 Cara Pembuatan Sirup Simplex
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Dipanaskan air 18 ml menggunakan penangas air.
4. Ditimbang metil paraben sebanyak 0,0045 gr dimasukkan kedalam air yang
telah dipanaskan, diaduk hingga larut.
5. Ditimbang sukrosa sebanyak 11,7 gr, dimasukkan ke dalam metil paraben
yang telah larut, sedikit demi sedikit hingga homogen.
6. Diaduk hingga mendidih
7. Didinginkan selama beberapa menit
8. Dituangkan dalam wadah dan ditutup dengan aluminium foil
3.3.2 Pembuatan Elmugator
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang gom arab 2,5 gr dan dimasukkan kedalam lumpang
4. Ditambahkan aquades 3,75 ml, digerus homogen hingga terbentuk musilago

12
5. Ditutup dengan aluminium foil dan disimpan selama 24 jam
3.3.3 Kalibrasi Botol
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70 %
3. Diukur air sebanyak 60 ml digelas ukur
4. Dimasukkan air yang telah diukur ke dalam botol yang akan digunakan
5. Ditandai botol dengan penanda agar dapat diketahui batas 60 ml
6. Dibuang air dalam botol setelah ditandai.
3.3.4 Penenceran Alkohol 95% Menjadi Alkohol 95%
1. Disiapka alat dan bahan
2. Dibersihkan alat dengan alkohol 70%
3. Dibuat perhitungan pengenceran alkohol dengan menggunakan rumus :
N1 × V1 = N2 × V2
95% × V1 = 90% × 10 ml
0,95 × V1 = 9 ml
9 𝑚𝑙
V1 = = 9,47 ml
0,95

Jadi, yang harus diambil dari alkohol 95% adalah sebanyak 9,47 ml. Aqua
destilata = 10 ml – 9,47 ml = 0,53 ml
4. Diambil alkohol sebanyak 9,47ml menggunakan gelas ukur
5. Ditambahkan aqua destilata sebanyak 0,53 ml sampai 10 ml
5. Diaduk hingga homogen dan ditutup dengan aluminium foil
3.3.5 Pembuatan Emulsi
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Diukur paraffin sebanyak 10 ml, aquades sebanyak 3,75 ml, etanol sebanyak
2,84 ml dan cukupkan air hingga 3 ml
4. Dimasukkan elmugator kedalam lumpang, dimasukkan paraffin cair
kemudian digerus cepat hinggs homogen
5. Ditambahkan etanol 90% sambil digerus hingga homogen
6. Ditambahkan air sebanyak 22,75 ml, sambil digerus

13
7. Dikalibrasi botol sebanyak 60 ml
8. Dimasukkan emulsi kedalam wadah, beri etiket putih dan etiket tambahan,
serta copy resep.
3.4 Deskripsi Resep
3.4.1 Resep

dr. Kristanto, Sp.PD


SIK : 228/FM/GTO/84
Jl. Agus Salim No.30
Telp. 0435-875492
Gorontalo, 5 Mei 2017
R/ Paraffinum liquidum 10 ml
Gummi Arabicum 2,9 gr
Sirup simplex 18 ml
Aethanolum 90% 5%
Aqua Destilata ad 60 ml
m.f Emuls da in fl No. VI
ʃ b.d.d II C a.c

Pro : Vyra
Umur : 27 Tahun

3.4.2 Narasi Resep


1. Narasi Resep Perkata (Syamsuni, 2006).
ʃ : signa : tandai
% : persenta : persen
I : unus : satu
II : duo : dua
1 : unus : satu
2.5 : duo punchtu quinque : dua koma lima
5 : quinque : lima
10 : decem : sepuluh

14
18 : duodeviginti : delapan belas
27 : viginti septem : dua puluh tujuh
60 : sexaginta : enam puluh
90 : nonaginta : sembilan puluh
a.c : ante coenam : sebelum makan
ad : ad : tambahkan
aetal : aetal : umur
annos : annos : tahun
b.d.d : bis de die : dua kali sehari
C : cochlear : sendok
da in : da in : dalam
fl : flacon : botol
gr : gramma : gram
m.f : misce fac : campur dan buatlah
ml : milli litra : milliliter
No : numero : sebanyak
Pro : pro : untuk
2. Narasi Resep per Kalimat dalam Bahasa Latin (Syamsuni, 2006)
Recipe paraffin liquidum decem milli litra, gummi arabicum duo puncthu
quinque gramma, sirup simplex duodeviginti milli litra, aethanolum nonaginta
parcenta quinque, aquadestilata ad sexsaginta milli litra. Signa bis de die duo
cochlear ante coenam. Pro Vyra, aetal viginti septem annos.
3. Narasi Resep per kalimat dalam Bahasa Insonesia (Syamsuni, 2006).
Ambilah paraffin liquidum 10 ml, gummi arabicum 2,5 gr, sirup simplex 18
ml, aethanolum 90% sebanyak 5%, aquadestilata ditambahkan 60 ml. Campur dan
buatlah emulsi dan masukkan ke dalam botol sebanyak 1. Tandai pemakaian dua
kali sehari 2 sendok makan, sebelum makan.

15
3.4.3 Perhitungan Bahan
Paraffinum liquidum = 50 ml
Gummi arabicum = 2,5 gr
Sirup simplex = 18 ml
65
Sukrosa = 100 × 18 = 11,7 gr
35
Aquades = 100 × 18 = 6,3 ml
0,25
Metil paraben = × 18 = 0,045 gr
100
5
Aethanolum 90% = 100 × 60 = 3 ml
1
Air untuk karpus = 12 × 2,5 = 3,75 ml

Aqua destilata = 60 ( 10 + 2,5 + 18 + 3 + 3,75 )


= 60 – 37,75
= 22, 75 ml
3.4.4 Perhitungan Dosis
Paraffinum liquidum : dosis = 15-45 ml
𝑛+1
Sekali = × 𝐷𝑀
24
27+1
= × 15
24
28
= 24 × 15

= 17,5 ml
30
% sekali = 17,5 × 100%

= 117, 43% (OD)


𝑛+1
Sehari = × 𝐷𝑀
24
27+1
= × 45
24
28
= 24 × 45

= 52,5 ml
30 × 2
% sehari = × 100%
52,5

= 114, 28%

16
3.4.5 Usulan Perubahan Dosis
Setelah melakukan perhitungan dosis pada resep, dinyatakan bahwa resep
tersebut OD (over dosis). Sebaiknya dosis sekali diubah menjadi 15 ml dalam 1
kali pemakaian dengan aturan pakai tetap 2 kali sehari.
Perhitungan :
𝑛+1
Sekali = × 𝐷𝑀
24
27+1
= × 15
24
28
= 24 × 15

= 17,5 ml
30
% sekali = 17,5 × 100%

= 117, 43% (OD)


𝑛+1
Sehari = × 𝐷𝑀
24
27+1
= × 45
24
28
= × 45
24

= 52,5 ml
15 ×2
% sehari = × 100%
52,5

= 57,14 %
3.4.6 Kekurangan Resep
Resep ini tidak lengkap, karena tidak terdapat paraf atau tanda tangan
dokter,( subcricptio ) dan tidak disertakan alamat pasien. menurut Anief (1997),
resep yang lengkap harus memuat alamat pasien, dan tanda tangan atau paraf
dokter yang menulis resep.
3.4.7 Interaksi Obat
Paraffin liquidum dapat berinteraksi dengan Docusate, Fat soluble vitamins,
Retinol, Sodium succinate yang menyebabkan peningkatan resiko efek samping
dan menyebabkan obat tidak bekerja dengan baik (Tjay dan Rahardja, 2007).

17
3.4.8 Indikasi Resep
Paraffin cair diindikasikan untuk mengobati konstipasi atau untuk orang
yang susah buang air besar (IAI, 2013)
3.4.9 Penyampaian Informasi
Obat ini untuk pemakaian dalam. Diminum 2 kali sehari 2 sendok makan,
tiap 12 jam dan diminum sebelum makan. Sebelum mengonsumsi obat ini, harus
dilakukan pengocokan agar obat dapat terdispersi kembali. Emulsi disimpan
dalam wadah tertutup baik, disimpan ditempat sejuk (Dirjen POM, 1995).
3.4.10 Farmakologi
Menurut Dipiro (2005), paraffinum liquidum diabsorbsi, didistribusi,
dimetabolisme dan diekskresikan sebagai berikut :
a. Absorbsi
Paraffin liquidum tidak dicerna didalam usus dan hanya sedikit diabsorbsi.
Yang diabsorbsi ditemukan pada limfa nodus mesenteric, hati dan limfa.
Kebiasaan menggunakan paraffin liquid akan mengganggu absorbs zat
larut lemak, misalnya absorbs karoten menurun 50%, absorbs vitamin A
dan vitamin D juga akan menurun. Absorbs vitamin K menurun dengan
akibat hipo protrombinemia dan juga dilaporkan terjadinya pneumonia
lipid.
b. Distribusi
Paraffin didistribusi di usus, untuk melembekkan feses.
c. Metabolisme
Paraffinum dimetabolisme ditempat yang sama dengan tempat didistribusi
yaitu diusus, untuk melembekkan feses.
d. Ekskresi
Paraffin diekskresikan bersama dengan feses.

18
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL

Gambar 4.1 Emulsi dalam botol

4.2. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini di lakukan pembuatan obat dalam bentuk emulsi.
Menuru Ansel (1989), emulsi adalah suatu sistem dispersi dimana fase terdispersi
terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi keseluruh pembawah
yang tidak tercampur. Menurut Leon (1994), dalam batasan emulsi, fase
terdispersi, dianggap sebagai fase dalam dan medium dispersinya sebagai fase
luar atau fase kontinu. Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar
air disebut emulsi minyak dalam air dan biasanya diberi tanda sebagai tanda
emulsi “M/A”. Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar
minyak disebut emulsi air dalam minyak dan dikenal sebagai emulsi “A/M”.
Dalam pembuatan emulsi terbagi atas beberapa tahap yaitu tahap pembuatan
pembuatan musilago, sirup simpleks, kalibrasi botol, , dan pembuatan emulsi.
Dalam hal ini emugator yang kita gunakan adalah PGA. Menurut Lachman
(1957), emulgator akan memperkecil tegangan permukaan antara kedua cairan
tersebut sehingga emulsi akan stabil. Seperti diketahui pada emulsi, suatu cairan
tersebar dalam bentuk tetes-tetes dalam cairan lainnya sehingga bidang muka
antar kedua cairan sangat besar. Biasanya tegangan permukaan kedua cairan yang
tak bercampur ini besar maka tegangan permukaan ini akan berusaha

19
memperkecil luas bidang antar muka dengan jalan memecah emulsi sehingga
membentuk dua lapisan lagi.
Sebelum melakukan praktikum pembuatan sediaan emulsi disiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan yang telah dibersihkan menggunakan alkohol 70%.
Menurut syamsuni (2006), Membersihkan alat menggunakan alkohol 70%
bertujuan agar alat-alat yang digunakan tersebut akan terbebas dari
mikroorganisme.
Kemudian ditimbang dan diukur semua bahan yang akan digunakan
diantaranya yaitu, paraffin cair sebanyak 10 ml, aethanolum 5 % setara dengan 3
ml, gom arab sebanyak 2,5 gr, sukrosa sebanyak 70,2 gr, dan metil paraben 0.045
gr.
Setelah itu, dilakukan pembuatan sirup simplex. Pertama dipanaskan air 18
ml sampai mendidih, kemudian dimasukan 0,045 gr metil paraben ke dalam air
yang telah dipanaskan, diauk sampai larut. Menurut Dirjen POM (1995) sifat
mentil paraben sukar larut dalam air. Sehingga diperlukan pemanasan terlebih
dahulu untuk membantu kelarutannya. Menurut Dirjen POM (1995), metil
paraben dalam sirup simplex digunakan sebagai pengawet. Kemudian di masukan
70,2 gr sukrosa, diaduk perlahan-lahan selama beberapa menit sampai larutan
tersebut mendidih. Setelah di tuang dalam wadah dan ditutup mengunakan
alumonium foil.
Langkah selanjutnnya, dilakukan pengenceran alkohol. Hal ini dilakukan
karena konsentrasi awal alkohol adalah 95 % sementara yang di perlukan adalah
alkohol dengan konsentrasi 95 %. Setelah semua bahan telah siap digunakan maka
tibalah kita pada tahap pembuatan emulsi. Hal pertama yang dilakukan terlebih
dahulu adalah mengkalibrasi botol yang akan digunakan dengan cara mengukur
air sebanyak 60 ml, kemudian air dimasukan kedalam botol dan ditandai batas 60
ml pada botol tersebut.
Selanjutnnya, ditambahkan paraffin cair sebanyak 10 ml, dan di gerus
hingga tercampur merata, kemudian di ukur alkohol 95 % sebanyak 5 ml dan
sirup simplex sebanyak 18 ml. Menurut Dirjen POM (1995), metil paraben

20
berfungsi sebagai antimikroba dan sukrosa sebagai penambah rasa manis pada
larutan emulsi tersebut.
Kemudian di masukan ke dalam gelas kimia dan diaduk hingga homogen.
Selanjutnnya dimasukan campuran alkohol 95 % dan sirup simplex kedalam
lumpang yang berisi campuran musilago, dan diaduk hingga tercampur merata.
Ditambahkan aqua destilata sebanyak 60 ml sedikit demi sedikit untuk mencegah
pecahnnya emulsi sehinnga stabilitas emulsi tetap terjaga. Diaduk hingga
homogen dan ditambahkan strowberry oil sebagai pengaroma dalam emulsi.
Kemudian di aduk kembali hingga semua bahan tercampur merata. Menurut
Ansel (1989), pengadukan dilakukan secara perlahan dengan kecepatan stabil
dengan tujuan untuk mencegah pecahnya emulsi yang dapat merusak stabilitas
emulsi tersebut (Ansel, 1989: 384).
Langkah selanjutnnya, emulsi dipindahkan kedalam gelas kimia dan
dimasukan kedalam botol 60 ml. Botol yang digunakan untuk menyimpan sediaan
emulsi adalah botol cokelat. Menurrut Ansel (1989,) dalam sediaan oral terdapat
senyawa yang peka terhadap cahaya, maka digunakan botol berwarna coklat.
Hampir semua senyawa organik peka terhadap cahaya, sehinnga kebanyakan
sediaan oral cair harus dikemas dalam botol berwarna coklat. Kemudian diberi
etiket dan label. Obat ini diminum dua kali sehari 2 sendok makan, setiap 12 jam
tiap pagi dan malam setelah makan, agar obat yang terkandung dalam emulsi
dapat terdistribusi secara merata kembali.
Kemungkinan kesalahan yang biasa terjadi pada saat pembuatan sediaan
emulis yaitu terdapat bahan obat yang tersisa atau menempel pada alat-alat
laboratorium yang telah dipakai, seperti menempel pada lumpang, gelas ukur,
gelas kimia, dan alat laboratorium lainnya yang dapat membuat sediaan tersebut
berkurang atau tidak memenuhi kebutuhan dari serep. Sebagai kemungkinan
kesalahannya yaitu pembuatan emulsi diharuskan 60 ml sedangkan pada akhir
pembuatan emulsi yang dicapai hanya 30 ml atau 40 ml yang tidak mencukupi
kebutuhan resep 60 ml. Kemungkinan kesalahan yang lain seperti kesalahan
dalam penimbangan atau pengukuran bahan, kesalahan membaca skala gelas ukur
dan kesalahan saat pengadukan bahan obat.

21
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, kami dapat menyimpulkan:
1. Emulsi adalah suatu disperse dimana fase terdispersi terdiri dari bulatan-
bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak
bercampur.
2. Secara umum tipe emulsi terbagi dua yaitu tipe emulsi minyak dalam air
atau emulsi “m/a, dan tipe emulsi air dalam minyak atau emulsi “a/m.
3. Komponen emulsi terbagi atas dua yaitu komponen dasar dan komponen
tambahan.
4. Cara membedakan tipe emulsi yaitu dengan pengenceran fase, pengecatan
atau pewarnaan, kertas saring atau kertas tisu dan konduktivitas listrik.
5.1 Saran
5.2.1 Saran untuk asisten:
Diharapkan kerjasama antara asisten dengan pratikan lebih ditingkatkan
dengan memberi lebih banyak wawasan tentang pratikum farmasetika
5.2.2 Saran untuk pratikan:
1. Praktikan diharapkan lebih memahami materi tentang praktikum farmasetika
2. Pratikan diharapkan lebih tepat waktu
3. Pratikan diharapkan bisa bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan agar
mendapatkan hasil yang maksimal.
5.2.3 Saran untuk Jurusan:
Hendaknya jurusan farmasi lebih memperhatikan kelengkapan laboratorium
teknologi farmasi.

22