BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Protein adalah zat makanan yang penting bagi tubuh, karena mempunyai fungsi
antara lain sebagai zat pembangun dan pengatur tubuh serta sebagai sumber tenaga. Protein
merupakan makromolekul yang tersusun atas asam-asam amino yang mengandung unsur-
unsur utama C, O, H, dan N. Molekul protein juga mengandung belerang, posfor, besi dan
tembaga. Molekul protein mempunyai sifat atau ciri khas protein yang spesifik yang
berguna dalam kegiatan analisis. Sifat atau ciri khas molekul tersebut antara lain yaitu: 1)
Mempunyai ukuran berat molekul (BM) besar, sehingga mudah mengalami perubahan
bentuk fisik dan aktivitas biologi. Hal ini dapat bermanfaat untuk mengenali dan
memisahkan dari komponen bahan pangan lain. 2) Struktur molekul protein mengandung
unsur nitrogen (N) relatif banyak, sehingga keberadaan protein di dalam bahan pangan
dapat ditentukan berdasarkan kandungan nitrogen (N) jumlah unsur N dan unsur unsur lain
dalam molekul protei dapat dilihat dalam tabel 1.1. 3) Protein merupakan polimer yang
tersusun oleh banyak monomer asam-asam amino (lebih dari 20 jenis), sehingga protein di
dalam bahan pangan juga banyak jenisnya (Legowo, 2007).
Tabel 1.1 Jumlah Unsur Protein di dalam Molekul Protein
No. Jenis Unsur Jumlah (%)
1 Karbon (C) 50-55
2 Oksigen (O) 20-25
3 Nitrogen (N) 15-18
4 Hidrogen (H) 5-7
5 Belerang (S) 0,4-2,5
6 Posfor (P) Sedikit
7 Besi (Fe) Sedikit
8 Tembaga (Cu) Sedikit
Sumber: Sudarmadji (1996) dalam Legowo (2007).
Pengukuran kadar protein yang paling banyak digunakan adalah penetapan metode
protein kasar. Penetapan kadar protein kasar bertujuan untuk menera jumlah protein total
di dalam bahan pangan. Metode pengukuran jumlah protein tersebut yaitu metode
Kjeldahl, metode Biuret, metode Lowry, dan metode pengikatan zat warna. Disamping itu
ada beberapa metode lain untuk analisi asam amino dan komponen protein lainnya
(Legowo, 2005).
Menurut Tejasari (2005), Kandungan protein pangan dapat ditentukan antara lain
dengan metode Kjeldahl dan spektrofotometri penetuan kadar protein metode Kjeldahl
dilakukan dengan analisis volumetri dengan teknik titrasi. Prinsip pengukuran kadar
nitrogen (N) pangan dengan metode Kjeldahl adalah oksidasi senyawa organik oleh asam
sulfat menjadi karbondioksida, air, dan nitrogen. Senyawa nitrogen (N) dilepas dalam
bentuk amonia (amonia Sulfat), sedangkan karbondioksida dan air terpisah oleh proses
destilasi. Amonia bereaksi dengan kelebihan asam membentuk amonium sulfat. Larutan
dibuat basa, dan amonium diuapkan lalu diserap dalam larutan asam borat. Nitrogen dalam
larutan ditentukan jumlahnya dengan titrasi asam HCL 0,02 N. Kadar total protein
merupakan jumlah gram protein dalam bahan pangan yaitu jumlah gram nitrogen dikali
dengan faktor 6,25 didasarkan pada asumsi bahwa protein mengandung jumlah yang 16
persen nitrogen. Namun karena tidak semua protein mempunyai jumlah yang sama, kadar
protein yang dihitung merupakan jumlah protei kasar. Faktor Konversi beberapa Jenis
Pangan sumber protein disajikan dalam Tabel 1.2.
Tabel 1.2 Faktor Konversi Kadar Protein beberapa Jenis Bahan Pangan Sumber Protein
Jenis Pangan X
(% N dalam Protein)
Faktor Konversi/F
(100/X)
Campuran 16,00 6,25
Daging 16,00 6,25
Maizena 16,00 6,25
Roti, gandum, makaroni, bakmi 16,00 6,25
Susu dan produk susu 15,66 6,38
Tepung 17,54 5,70
Telur 14,97 6,68
Gelatin 18,02 5,55
Kedelai 17,51 5,71
Beras 16,81 5,95
Kacang tanah 18,32 5,46
Sumber : Puspitasari (2012).
1.2. Tujuan
1.2.1. Untuk mengetahui cara analisis kadar protein metode Kjeldahl pada bahan pangan
dan hasil pertanian;
1.2.2. Untuk menetapkan kadar protein dengan metode Kjeldahl.
BAB 2 BAHAN DAN PROSEDUR ANALISA
2.1. Bahan
2.1.1. bahan yang Digunakan dalam Analisa
a. Tempe
Menurut Standar Nasional Indonesia 01-3144-1992, tempe kedelai adalah produk
makanan hasil fermentasi biji kedelai oleh kapang tertentu, berbentuk padatan kompak dan
berbau khas serta berwarna putih atau sedikit keabu-abuan. Tempe merupakan bahan
makanan tradisional Indonesia hasil fermentasi kedelai rebus atau jenis kacang kacangan
lainnya yang menggunakan jamur Rhizopus oligosporus atau Rhizopus oryzae.
Tempe telah lama digunakan sebagai bagian dari diet, selain karena kandungan zat
gizi juga mengandung senyawa isoflavon yang mempunyai aktivitas biologis terhadap
peningkatan kesehatan. Kedelai sebagai sumber senyawa bioaktif, dan produk
fermentasinya diketahui mengandung 3 senyawa isoflavon, yaitu daidzein, genistein dan
glisitein baik dalam bentuk bebas (aglikon) maupun dalam bentuk terikat (glukosida)
(Deddy, 2010).
Selama proses fermentasi dalam pembuatan tempe, banyak bahan dalam kedelai
menjadi bersifat lebih larut dan lebih mudah dicerna. Setengah dari kandungan protein
awal dipecah menjadi produk yang lebih kecil dan larut dalam air, misalnya asam amino,
peptida, asam lemak dan monosakarida. Adapun ciri ciri tempe yang baik adalah
Mempunyai ciri-ciri berwarna putih, ada lapisan putih di sekitar kedelai pada saat di
potong, tempe tidak hancur, tekstur kompak dan flavor spesifik. Warna putih disebabkan
adanya miselia jamur yang tumbuh pada permukaan biji kedelai. Tekstur yang kompak
juga disebabkan oleh miselia-miselia jamur yang menghubungkan antara biji-biji kedelai
tersebut. Terjadinya degradasi komponen-komponen dalam kedelai dapat menyebabkan
terbentuknya flavor (penyimpanan cita rasa dan aroma pada produk pengolahan kedelai )
spesifik setelah fermentasi (Ernawati, 2006).
Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak
berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang
dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi
lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh
karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi
hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.
Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada
tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut,
nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein,
serta skor proteinnya.
Tabel 2.1. Kandungan Gizi antara Kedelai dan Tempe (100 g)
Kandungan gizi
Kedelai Tempe
Protein 46,2 46,5
Lemak 19,1 19,7
Karbohidrat 28,2 30,2
Kalsium (mg) 254 347
Besi (mg) 11 9
Fosfor (mg) 781 724
Vitamin B1 0,48 0,28
Vitamin B12 0,2 3,9
Serat 3,7 7,2
Abu 6,1 3,6
Sumber : Sutomo (2008)
b. Daging Sapi
Menurut Astawan, (2007) daging merupakan bahan pangan yang penting dalam
memenuhi kebutuhan gizi. Selain mutu proteinnya tinggi, pada daging terdapat pula
kandungan asam amino esensial yang lengkap dan seimbang. Keunggulan lain, protein
daging lebih mudah dicerna dibanding protein yang berasal dari nabati. Bahan pangan ini
juga mengandung beberapa jenis mineral dan vitamin. Selain kaya protein sekitar 27 %,
daging juga mengandung energi sebesar 250 kkal/100 g. Jumlah energi dalam daging
ditentukan oleh kandungan lemak intraselular di dalam serabut-serabut otot, yang disebut
lemak marbling. Kadar lemak pada daging berkisar antara 5-40 persen, tergantung pada
jenis dan spesies, makanan dan umur ternak. Daging juga mengandung kolesterol,
walaupun dalam jumlah yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bagian jeroan
maupun otak. Kadar kolesterol daging sekitar (500 mg/100g) lebih rendah daripada
kolesterol otak (1.800-2.000 mg/100 g) atau kolesterol kuning telur (1.500 mg/100 g).
Di dalam daging sapi juga terdapat mineral-mineral seperti kalsium, magnesium,
natrium, fosfhor, khorl, besi, belerang, tembaga, dan mangan. Viatamin yang terdapat
terutama golongan vitamin B (B1, B12, B6, dan B2), viatamin C, A, E, D, dan K. selain
itu daging pigmen pemberi warna merah (mioglobin). Perubahan warna daging dari karkas
menjadi merah cerah karena pembentukan oksimioglobing dan ketika berubah menjadi
coklat karena mioglobin menjadi metmioglobin (Sudarwati, 2007).
Warna daging sapi adalah warna merah cerah, karena dianggap daging tersebut
adalah daging yang berkualitas jika dibandingkan dengan daging yang berwarna meraH
tua. Daging sapi yang baik harus berwarna merah segar, mengkilat, tidak pucat, seratnya
halus, tidak berbau asam, tidak busuk, apabila dipanggang terasalekat pada tangan dan
masih terasa kebasahannya serta lemaknya berwarna kuning. Banyak faktor yang
mempengaruhi warna daging, termasuk pakan, spesies, bangsa, umur, jenis kelamin, stress
(tingkat aktifitas), tipe otot, pH, dan oksigen. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi
penentu utama warna daging yaitu konsentrasi pigmen daging mioglobin (Lawrie, 2004).
Flavor atau aroma daging adalah sensasi komplek dan sangat terkait. Bau dan rasa
paling sukar untuk didefinisikan secara objektif. Daging dari ternak yang lebih tua lebih
menyengat dari ternak yang lebih muda. Bau dan aroma pada daging sangat dipengaruhi
oleh prekusor yang larut dalam air dan lemak, serta pembebasan substansi atsiri (volatil)
yang terdapat didalam daging (Soeparno,2005) dalam (Lena, 2007).
2.1.2. Bahan Kimia yang Digunakan dalam Analisa
a. Larutan H
2
SO
4
Fungsi H
2
SO
4
pekat yaitu untuk membebaskan amonium sulfat dari sampel yang
mengandung protein. Penambahan dilakukan didalam lemari asam dengan tujuan untuk
menghindari sulfur (S) yang berada didalam protein terurai menjadi SO
2
yang sangat
berbahaya sehingga SO
2
yang terbentuk langsung diserap oleh blower dalam lemari asam.
b. Selenium
Selenium adalah elemen kimia non metalik pada group VI A, pada tabel periodik
dengan symbol Se, nomor atom 34, berat atom 78,96 A. Titik beku 217,0
0
C, titik didih
684,9
0
C. Ada 4 tingkat oksidasi, yaitu elemental Se (0), selenate (+6), selenite (+4) dan
selenide (-2). Selenium memiliki 3 bentuk, yaitu kristal berwarna merah, bubuk berwarna
merah dan kristal heksagonal warna abu-abu. Di alam, terdapat berbagai senyawa yang
mengandung selenium, yaitu elemental selenium, garam inorganik (selenite dan selenate),
organik (selemomethionine, selenocystein dan selenocystine), gas (hydrogen selenide) dan
cair (selenium oksiklorid, selenium dioksid dan asam selenius).
c. Larutan NaOH
Fungsi utama tahap destilasi yaitu untukmemecah amonium sulfat menjadi amonia
dengan penambahan NaOH sampai alkali dandipanaskan dengan pemanas dalam alat unit
destilasi. Masing-masing labu Kjeldahl dimasukkan ke dalam pemanas unit destilasi.
Selanjutnya ditekan tombol reagent sehingga NaOH akan masuk ke dalam labu Kjeldahl
melalui selang yang terhubung antara unit destilasi dengan botol berisi NaOH.
Penambahan NaOH yaitu untuk menetralkan sifat amonium sulfat yang asam. Tombol
reagen ditekan sampai terjadi perubahan warna menjadi keruh kecoklatan pada sampel
dalam labu Kjeldahl.Selanjutnya ditekan tombol start yang berarti proses destilasi dimulai
dengan adanya pemanasan dengan pemanas dalam alat unit destilasi. Proses destilasi
berlangsungselama 3 menit. Selama pemanasan akan terjadi pemecahan amonium sulfat
menjadi amonia.
d. Larutan Asam Borat (H
3
BO
3
)
Asam borat juga disebut hydrogen borat, asam boraks, asam orthoborat dan acidum
boricum adalah monobasa asam Lewis boron lemah yang sering digunakan sebagai
antiseptic, insektisida, tahan api, neutron absorber, atau precursor untuk senyawa kimia
lainnya. Senyawa ini memiliki rumus kimia H
3
BO
3
dan ada dalam bentuk Kristal tidak
berwarna atau serbuk putih yang larut dalam air. Ketika berbentuk mineral, senyawa ini
disebut Sassolite. Larutan standar dibuat dengan 50 ml larutan asam borat yang ditambah
dengan 4 tetes indicator kjeldahl dan digojog supaya larutan yang terbentuk homogeny dan
menghasilkan warna ungu. Larutan standar asam borat berada di dalam 4 erlenmeyer yang
berbeda. Asam borat berfungsi untuk membebaskan ammonium yang ditandai dengan
perubahan warna menjadi kuning.
e. Larutan HCl
Larutan asam klorida atau yang biasa kita kenal dengan larutan HCl dalam air,
adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl termasuk bahan kimia
berbahaya. Di dalam tubuh HCl diproduksi dalam perut dan secara alami membantu
menghancurkan bahan makanan yang masuk ke dalam usus. Dalam skala industri, HCl
biasanya diproduksi dengan konsentrasi 38%. Ketika dikirim ke industri pengguna, HCl
dikirim dengan konsentrasi antara 32~34%. Pembatasan konsentrasi HCl ini karena
tekanan uapnya yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan kesulitan ketika penyimpanan.
Asam klorida digunakan pada industri logam untuk menghilangkan karat atau kerak besi
oksida dari besi atau baja. HCl merupakan bahan baku pembuatan besi (III) klorida
(FeCl3) dan polyalumunium chloride (PAC), yaitu bahan kimia yang digunakan sebagai
bahan baku koagulan dan flokulan. Koagulan dan flokulan digunakan pada pengolahan air.
Selain itu asam klorida dimanfaatkan pula untuk mengatur pH (keasaman) air limbah cair
industri, sebelum dibuang ke badan air penerima. Di laboratorium, asam klorida biasa
digunakan untuk titrasi penentuan kadar basa dalam sebuah larutan.
2.2. Preparasi Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tempe dan daging sapi yang
disiapkan dengan cara dihancurkan terlebih akan proses pembebasan nitrogen (N) dari
bahan berlangsung sempurna. Penghancuran dilakukan dengan cara ditumbuk
menggunakan mortar sampai halus kemudian bahan tempe atau daging sapi ditimbang
sebanyak 0,5 gram.
2.3. Prosedur Analisa
Penetapan kadar protein kasar dengan metode kjeldahl dibagi 3 tahap yaitu:
a. Tahap Penghancuran (Digestion)
Tahap ini dilakukan untuk dengan menambahkan asam kuat (asam kuat) pada
bahan tempe atau daging yang telah disiapkan sebelumnya sambil dilakukan pemanasan.
Tahapan ini bertujuan untuk membebaskan nitrogen (N) dari bahan tempe atau daging.
Kemudian ditambahkan katalis berupa selenium untuk menaikkan titik didih larutan asam
sulfat dan mempercepat proses penghancuran sehingga menjadi sempurna. Pada saat
proses penghancuran bahan terhadap asam sulfat, terjadi reaksi nitrogen (N) pada bahan
dengan asam sulfat membentuk amonium sulfat. Reaksi yang terjadi selama proses
penghancuran adalah:
b. Tahap Netralisasi dan Distilasi
Setelah proses penghancuran terjadi kemudian dinetralisasi dengan cara larutan
yang mengandung amonium sulfat diperlakukan dengan penambahan alkali (NaOH) pekat
untuk menetralkan asam sulfat. Adanya larutan NaOH pekat mampu memecah amonium
sulfat menjadi gas amoniak (NH
3
). Kemudian dilanjutkan dengan proses distilasi dengan
cara gas amoniak diuapkan dan ditangkap oleh asam borat (H
3
BO
3
) membentuk
NH
4
H
2
BO
3.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
c. Tahap Titrasi
N (bahan) + H
2
SO
4
(NH
4
)
4
SO
4
pemanasan
katalis
(NH
4
)
4
SO
4
+ 2 NaOH Na
2
SO
4
+ 2 H
2
O + 2 NH
3
2 NH
3
+ 2H
3
BO
3
2 NH
4
H
2
BO
3
Senyawa NH
4
H
2
BO
3
dititrasi menggunakan asam klorida (HCl) encer (0,02 N)
sehingga asam borat terlepas kembali dan terbentuk amonium klorida. Reaksi yang terjadi
selama proses titrasi adalah:
Jumlah asam klorida yang digunakan untuk titrasi setara dengan jumlah NH
3
yang
dibebeaskan.
2 NH
4
H
2
BO
3
+ 2HCl 2NH
4
Cl + 2 H
3
BO
3
3.2. Analisa Data
Pada praktikum ini dilakukan penetapan kadar protein pada 2 jenis bahan
pangan yang berbeda yaitu tempe dan daging sapi dengan menggunakan metode kjedahl.
Pada praktikum ini kadar protein dinyatakan dengan jumlah asam klorida (HCl) yang
digunakan untuk titrasi setara dengan jumlah gas NH
3
yang dibebaskan dari proses distilasi
yang mana 1 mol HCl setara dengan 14 gram nitrogen akan tetapi karena tidak semua
unsur nitrogen terdapat pada protein maka asumsi kadar nitrogen dalam nitrogen sekitar 16
%. Untuk daging sapi dan tempe digunakan faktor konvesi protein sebesar 6,25 dan angka
ini dimasukkan dalam perhitungan kadar protein. Berdasarkan hasil perhitungan yang
dilakuakan sebanyak 8 kali ulangan untuk bahan daging sapi dan 12 kali ulangan untuk
bahan tempe, daging sapi memiliki kadar protein rata-rata sebesar % dalam17,37251125
basis basah, sedangkan tempe memiliki kadar lemak rata-rata dalam basis basah sebesar
17,19885167 %. Hasil pengamatan ini memiliki nilai yang jauh dari literatur yang
menyatakan bahwa apabila dinyatakan dalam basis basah kandungan protein daging sapi
sekitar 27 % sedangkan kandungan lemak tempe adalah 46,5%. Kadar lemak basis kering
pada daging sapi memiliki rata-rata 57,90845125 % dan kadar lemak basis kering pada
tempe memiliki rata-rata 47,7745875 %. Dari angka hasil analisa yang diperoleh masih
ternyata masih jauh dari angka sebenarnya jadi dapat dikatakan analisa ini memeiliki
ketepatan yang kurang baik
Dari hasil pengulangan yang diperoleh terhadap kedua bahan tersebut memiliki
hasil yang berbeda-beda antara pengulangan satu dan lainnya terutama pada analisa kadar
protein bahan bahan tempe. Dari suatu pengukuran analisis tersebut, maka diperlukan
menghitung Standar Deviasi (SD) untuk mengetahui tingkat variasi suatu kelompok data.
Dengan demikian dapat diketahui seberapa besar tingkat penyimpangan dalam pengukuran
analisis kadar protein ini dengan menghitung Relative Standar Deviation (RSD) yang
diperoleh dari hasil bagi antara Standar Deviation (SD) dan rata-rata. Dari hasil
perhitungan Relative Standart Deviation (RSD), RSD kadar protein basis basah pada
daging sapi adalah 0,171512398 % sedangkan pada basis keringnya adalah 0,17151504 %.
RSD kadar protein basis basah pada tempe adalah 0,133837753 % dan kadar protein
kering basis kering pada tempe adalah 0,133837758 %. Dari hasil perhitungan Relative
Standar Deviation tersebut, pengukuran analisa kadar protein pada praktikum kali ini
hasilnya masih bisa diterima apabila selang kepercayaan yang digunakan 95 % bahkan
untuk selang kepercayaannya 99 % sehingga bisa dikatakan hasil kadar lemak pada daging
sapi dan tempe memiliki ketelitian yang baik karena Relative Standar Deviasi (RSD) yang
diperoleh kurang dari 1%.
BAB 4 PENUTUP
4.1. Kesimpulan
4.1.1. Analisa protein metode kjedahl yang terukur adalah total nitrogen (N). Namun
karena tidak semua unsur nitrogen ada dalam bahan pangan maka dapat dihitung
kadar protein dengan cara total N dikali faktor korversi yang dimiliki oleh jenis
bahan pangan.
4.1.2. Analisa protein metode kjedahl ada 4 tahap yakni dekstruksi, distilasi, dan
perhitungan kandungan nitrogen (N).
4.1.3. Menurut literatur, menyatakan bahwa apabila dinyatakan dalam basis basah
kandungan protein daging sapi sekitar 27 % sedangkan kandungan lemak tempe
adalah 46,5% akan tetapi nilai dari hasil analisa memiliki angka yang jauh dari
kandungan protein yang sebenarnya sehingga dapat dikatakan hasil analisa
memiliki ketepatan yang jelek.
4.1.4. Dari hasil perhitungan Relative Standart Deviation (RSD), RSD kadar protein baik
daging sapi maupun tempe nilainya kurang dari 1 %, sehingga pengukuran analisa
kadar protein pada praktikum kali ini hasilnya bisa diterima apabila selang
kepercayaan yang digunakan 99 % sehingga bisa dikatakan hasil kadar lemak pada
daging sapi dan tempe memiliki ketelitian yang baik karena Relative Standar
Deviasi (RSD) yang diperoleh kurang dari 1% tetapi karena hasil yang tidak sesuai
dengan angka kadar protein yang sebenarnya (literatur) maka dikatakan kegiatan
analisa ini memiliki pengukuran dengan ketelitian yang baik namun ketepatan yang
jelek.
4.1. Saran
Dari hasil analisis yang dilakukan pada praktikum ini, ketepatan pengukuran masih
belum mengenai sasaran pada angka yang sebenarnya. Oleh karena itu dapat diambil
kesimpulan bahwa mahasiswa perlu berlatih untuk lebih terampil lagi dalam menganalisa.
DAFTAR PUSTAKA
Astawan. 2007. Mengapa kita perlu makan daging. kompas Cyber Media. Bandung.
http://multiply.com/kulinerkita/daging.html. Diakses pada tanggal 06 Oktober
2014.
Deddy Muchtadi. 2010. Kedelai komponen Bioaktif untuk Kesehatan. Bogor: Anggota
Ikatan Penerbit Indonesia.
Ernawati. 2006. Perbaikan Kinerja Reproduksi Akibat Pemberian Isoflavon Dari Tanaman
Kedelai. Jakarta, FMIPA Universitas Indonesia.
Lawrie, R. A. 2004. Ilmu Daging. (Terjemahan Parakasi, A). Universitas Indonesia
Press, Jakarta.
Legowo, Anam M. dkk. 2007. Buku Ajar Analisis Pangan. Program Studi Teknologi Hasil
Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Fiponegoro. Semarang.
Lena Soi, F. 2007. Pertumbuhan Staphylococcus Aureus pada Daging Sapi dalam
Penyimpan Suhu Kamar. [Skripsi]. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin,
Makassar
Puspitsari, 2012. Pengantar Analisis Mutu Pangan dan Hasil Pertanian. Jurusan
Teknologi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember.
Sudarwati. 2007. Pembuatan Bakso Daging Sapi dengan Penambahan Kitosan. [Skripsi].
Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara.
Sumatra Utara.
Sutomo, 2008. Kandungan Senyawa Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung : ITB.
Tejasari, 2005. Nilai Gizi Pangan. Yogyakarta. Graha Ilmu.