Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI (BI-2103)


PENGAMATAN SPERMATOZOA MENCIT DAN MANUSIA
DAN SISTEM REPRODUKSI MENCIT
Tanggal praktikum: 1 Oktober 2014
Tanggal pengumpulan: 8 Oktober 2014

disusun oleh:
Kinanti Prestiasani
1061366
Kelompok 8

Asisten:
Ihsan
10611008

PROGRAM STUDI BIOLOGI
SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INTSITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2014



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu tujuan dari kehidupan suatu organisme adalah mempertahankan
spesies melalui memiliki keturunan (Campbell, 2011). Pada organisme tingkat
tinggi, dalam hal ini mamalia, dibutuhkan sel gamet jantan (spema) dan sel gamet
betina (sel telur) untuk menghasilkan suatu sel anak. Terdapat sebuah sistem
organ khusus yang mengatur keseluruhan proses reproduksi dari mulai
pembentukan sel gamet sampai kelahiran keturunan. Sistem ini adalah sistem
reproduksi.
Sama seperti organisme lainnya, manusia juga ingin mempertahankan
spesiesnya melalui keturunan Namun pada kenyataannya, kesalahan dan
permasalahan yang berhubungan dengan sistem reproduksi sering terjadi sehinnga
memiliki keturunan adalah hal yang sulit untuk dicapai. Dengan semakin majunya
ilmu pengetahuan dalam sistem reproduksi, faktor-faktor penyebab ini makin bisa
diamati, dianalisis dan dicari tahu penanggulangannya. (Liphultz, 2009) . Satu
aspek dari sistem reproduksi yang menjedi penentu keberhasilan proses
menghasilkan keturunan dan memiliki cukup banyak permasalahan adalah sel
gamet, yaitu sel sperma dan ovum. Pada percobaan kali ini, sel gamet jantan (sel
sperma) akan diamati dan dianalisis aspek-aspeknya yang akan mempengaruhi
keberhasilan reproduksi.
Pengetahuan tentang sistem reproduksi, morfologi sel sperma, faktor-
faktor yang mempengaruhi fertilitasnya, abnormalitas yang dapat terjadi serta
pengaruh dari abnormalitas dapat menjadi referensi dalam pengembangan metode
untuk mengatasi kesulitan dalam proses reproduksi (Liphultz, 2009).

1. 2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Menghitung jumlah dan motilitas sperma manusia
2. Menentukan organ dan histologi dalam sistem reproduksi mencit



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Reproduksi Mencit Jantan dan Betina
2.1.1 Sistem Reproduksi Mencit Jantan
Sistem reproduksi mencit dibagi menjadi sistem reproduksi mencit jantan
dan betina. Sistem reproduksi mencit jantan dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut
ini.

Gambar 2.1 Sistem reproduksi mencit jantan
Sumber :Cook, 1965

Sistem reproduksi mencit jantan terdiri dari beberapa organ dan kelenjar
aksesori. Testis adalah organ tempat terjadinya spermatogenesis. Mencit jantan
memiliki sepasang testis (Fox et al, 2007). Di dalam testis terdapat banyak saluran
yaitu tubulus seminiferus yang terdiri dari banyak sel punca yang akan
berdiferensiasi menjadi sperma dan didukung oleh beberapa sel lainnya seperti sel
Leydig dan sertoli (Fox et al, 2007). Selain itu ada juga duktus epididimis,
sebuah saluran yang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian caput, corpus dan cauda.
Bagian caput dan corpus berfungsi dalam proses pematangan sperma dan bagian
cauda berperan dalam proses ejakulasi (Setchell et al, 1994 dalam Fox et al,
2007). Pembagian ini didasarkan pada perbedaan histologinya (Turner et al, 2003


dalam Fox et al, 2007). Vas deferens adalah saluran lanjutan dari cauda
epididimis yang langsung bersambungan dengan uretra. Di bagian akhir dari vas
deferens terdapat pelebaran sehingga sekresi yang dihasilkan oleh kelenjar
aksesori bercampur dengan sperma sebelum masuk ke uretra. Uretra berawal di
kantung kemih dan berakhir di ujung penis. Pada penis, uretra dikelilingi oleh
jaringan erektil corpus caverbosum urethrae, jatingan otot, dan jaringan ikat
(Rugh, 1968 dalam Fox et al, 2007 ).
Sistem reproduksi mencit jantan juga memiliki kelenjar aksesori yang
secara umum bertugas untuk mendukung kehidupan sel sperma sampai tiba di
ovum nanti. Kelenjar inilah yang mempengaruhi hasil ejakulasi dan motilitas
sperma (Kanai et al, 1986 dalam Fox et al, 2007). Kelenjar aksesori pada mencit
adalah vesikula seminalis, kelenjar koagulasi, kelenjar ampular (ampullary
gland), kelenjar bolboutheral atau kelenjar Cowper dan kelenjar prepusial (Fox et
al, 2007). Perkembangan dan fungsi dari kelenjar-kelenjar ini dipengaruhi oleh
hormon tetosteron. Kelenjar koagulan berada di dekat vesikula seminalis sehingga
hasil sekresi dari kedua kelenjar dapat bersatu dan terkoagulasi (Bradshall dan
Wolfe, 1977 dalam Fox et al, 2007). Kelenjar ampular adalah sepasang kelenjar
yang terbuka ke bagian ampula dan hasil sekresinya dapat meningkatkan fungsi
dari sperma (Dounjacour et al, 1998 dalam Fox et al, 2007). Kelenjar Cowper
terletak dekat dengan penis dan memproduksi mukosa yang memesuki uretra
melalui saluran dan memiliki fungsi terkait dengan kopulasi. Kelenjar prepusial
tidak terkait dengan proses ejakulasi namun menghasilkan sekret berupa feromon
yang berguna untuk berkomunikasi dan menarik betina (Fox et al, 2007).

2.1.1 Sistem Reproduksi Mencit Betina
Anatomi dari sistem reproduksi mencit betina dapat dilihat pada gambar
2.2 berikut ini.



Gambar 2.2 Sistem reproduksi mencit betina
Sumber :Cook, 1965

Pada mencit betina, organ yang bekerja adalah ovarium, ovidak, uterus,
serviks dan vagina (Fox et al, 2007). Gametogenesis pada mencit betina terjadi di
ovarium, sepasang organ yang ukurannya sangat kecil dan terletak di dekat ginjal.
Ovarium dikelilingi oleh lapisan bursa yang diisi oleh adiposa (lemak). Lapisan
ini berfungsi menjaga kestabilan posisi dan suhu dari ovarium. Ovarium memilki
dua bagian yaitu medula dan korteks. Bagian medula terletak di luar dan
merupakan tempat masuknya jaringan saraf, limfa dan pembuluh darah sebelum
bercabang dan menyebar di bagian korteks. Bagian korteks adalah tempat folikel
(calon sel telur) berkembang menjadi ovum. Organ selanjutnya adalah ovidak,
saluran yang menghubungkan ovarium dan uterus (Fox et al, 2007). Ovidak
adalah tempat terjadinya fertilisasi dan sekaligus memediasi calon ovum bergerak
dari ovarium dan mengakomodasi sel telur yang baru dibuahi. Uterus adalah
organ tempat di mana embrio berkembang. Mencit memiliki uterus dupleks, yaitu
uterus ganda yang memiliki struktur seperti huruf Y di mana uterine horn
adalah cabang dari huruf dan uterine corpus menjadi batang utamanya yang
berukuran kecil. Uterus merupakan organ yang berotot. Uterus memiliki lapisan
bagian dalam yang disebut endometrium (Fox et al, 2007). Endometrium
merupakan lapisan mukosa yang memiliki banyak pembuluh darah, lamina
propia, kelenjar uterine dan sel-sel epitel khusus yang bernama crypts. Serviks,
atau leher rahim adalah kelanjutan dari uterus dan berfungsi sebagai penjaga
dari uterus. Saat terjadinya kopulasi, jaringan yang ada di serviks mengalami


remodeling sehingga mengendur dan fertlisasi bisa terjadi. Vagina adalah organ
terluar dari sistem reproduksi mencit betina. Vagina memiliki banyak otot dan
merupakan tempat masuknya penis saat kopulasi. Pada mencit betina terdapat
kelenjar aksesori yaitu kelenjar prepusial dan sebasea di dekat klitoris yang
berfungsi untuk sekresi mukosa. Mukosa ini memepermudah proses kopulasi (Fox
et al, 2007).


2.2 Parameter Fertilitas Sperma Manusia
2.2.1 Morfologi Sperma
Struktur dari sperma dalah salah satu karakter yang menjadi
indikator fertilitas sperma (Guzick et al, 2001). Sperma yang normal dan
dapat menjalankan fungsinya dengan baik memiliki morfologi seperti pada
Gambar 2.3

Gambar 2.2 Morfologi sperma normal
Sumber : Martini 2010


Sperma normal memiliki tiga bagian yaitu kepala, badan/ leher dan
ekor. Bagian kepala berisi materi genetik yang terdapat pada nukleus dan


akrosom yang berfungsi untuk menerobos masuk ke dalam sel telur saat
fertilisasi (Martnini, 2010). Di bagian leher terdapat mitokondria dan
sentriol. Mitikondria berfungsi untk menyedakan energi untuk pergerakan
ekor sel sperma. Bagian ekor disebut juga flagel, merupakan satu-satunya
flagel yang ada pada sel tubuh manusia. Flegel inilah yang berputar dan
membuat sel bisa berpindah tempat (Martini, 2010).

2.2.2 Motilitas Spema
Motilitas adalah kemampuan untuk bergerak . Untuk membuahi sel
telur, sel sperma harus bergerak dan menembus dinding sel telur. Motilitas
adalah salah satu indikator yang digunakan dalam melihat fertilitas sperma
( Liphultz, 2009).

2.2.3 Intensitas Semen
Intensitas semen adalah perbandingan jumlah sel sperma terhadap
volume semen secara keseluruhan. Bisa juga diartikan sebagai kekentalan
dari cairan semen atau konsentrasi sel sperma dalam semen. Intensitas ini
merupakan salah satu indikator fertilitas dari sperma (Guzick, 2001).

2.2.4 Volume Semen
Volume semen adalah volume cairan yang dikeluarkan saat
ejakulasi. Aspek ini dijadikan sebagai indikator fertilitas karena volume
yang tepat dapat membuat probabilitas sperma yang sehat bisa menembus
dinding ovum menjadi lebih besar (Guzick, 2001).









BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
Dalam percobaan ini akan digunakan beberapa alat dan bahan yang
dipaparkan dalam Table 3.1.
Tabel 3.1 Alat dan Bahan Percobaan
Alat Bahan
Hemacytometer Mencit (Mus musculus) jantan dan betina
Mikroskop Larutan PBS
Alat bedah (gunting, pinset, scalpel, jarum
jara)
Sediaan segar sperma manusia
Baki bedsh Eosin 1%
Pipet tetes Nigrosin 10%
Gelas kimia Tisu
Kaca arloji
Kaca objek
Kaca penutup (cover glass)


3.2 Cara Kerja
3.2.1 Pengamatan Morfologi Sperma Mencit
Sperma mencit diisolasi dengan cara mencacah vas deferens,
epididimis dan testis dalam karutan PBS menggunakan gunting atau
jarum jara di kaca arloji. Vas deferens, epididimis dn testis harus sudah
benar-benar bersih dari lemak. Organ yang telah dicacah kemudian
ditetesi 10 tetes larutan PBS. Campuran ini diteteskan ke ujung kaca
objek dan diatasnya ditetesi eosin dan nigrosin. Kaca objek lain
ditempelkan ke ujung kaca objek tempat sperma diletakkan, lalu kaca
objek itu diseret sehingga larutan sperna dan pewarna menyebar ke
seluruh kaca objek. Kaca objek didiamkan hingga kering. Apusan sperma


kemudian diamati morfologinya di bawah mikroskop. Sperma
dibandingkan antara yang normal dan yang abnormal dengan
abnormalitas dikategorikan sebagai kelainan pada kepala, bagian tengah,
ekor, dan kelainan ganda.

3.2.2 Penghitungan Jumlah Sperma
Suspensi sprermatozoa dubuat dengan cara mencampurkan sperma
yang telah diisolasi dengan larutan PBS. Sperma diteteskan pada kaca
arloji dan ditetesi PBS 9 tetes. Larutan kemudian diteteskan pada
hemacytometer. Serma kemudian dihitung jumlahnya pada 25 kotak, lalu
sperma yang ada di kaca arloji diencerkan dengan faktor pengenceran
seperti pada Tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2 Faktor pengenceran
Jumlah spermatozoa
pada 25 segi empat
besar
Faktor pengenceran Keterangan
< 20 1:10 1 tetes sperma + 0
tetes eosin
20-100 1:20 1 tetes sperma + 10
tetes eosin
>100 1:50 1 tetes sperma + 40
tetes eosin

Suspensi sperma yang telh diencerkan kemudian diteteskan pada
hemacytometer dan dihitung kembali jumlahnya di salah satu kotam
random yang dipilih di antara 25 kotak. Lalu perhitungan kedua
dilakukan pada sejumlah kotak yang sesuai dengan jumlah sperma pada
perhitungan sebelumnya dengan ketentuan yang dipaparkan pada Tabel
3.3.




Tabel 3.3 Ketentuan jumlah kotak yang harus dihitung kembali
Jumlah spermatozoa pada 1
kotak random
Jumlah kotak yang perlu
dihitung kembali
< 10 25
10-40 10
>40 5

Dengan faktor pengenceram dan jumlah kotak yang perlu dihitung
kembali, dapat diperoleh faktor koreksi dengan kententuan seperti pada
Tabel 3.4 berikut.
Tabel 3.2 Faktor koreksi
Pengenceran

Jumlah kotak yang dihitung kembali
25 10 5
1:10 10 4 2 Faktor
Koreksi 1:20 5 2 4
1:50 2 0,8 0,4

Setelah itu, sperma dihitung dengan menggunakan persamaan
berikut:
Jumlah sperma (juta/mL) =





3.2.3 Pengamatan Motilitas Sperma
Pengamatan ini dilakukan mengunakan hemacytometer. Sperma
diteteskan pada kaca arloji dan ditambahkan larutan PBS sebanyak 10
tetes. Suspensi dibuat menggunakan pipet. Suspensi lalu diteteskan ke
hemacytometer dan diamati dengan mikroskop. Sperma dihitung
berdasarkan motilitasnya menjadi empat kelompok:
A. Spermatozoa bergerak lurus dan cepat
B. Spermatozoa bergerak tidak lurus dan lambat


C. Spermatozoa bergerak di tempat
D. Spermatozoa tidak bergerak sama sekali
Motilitas spermatozoa lalu dihitung dengan menggunakan rumus
berikut:
Persentase Motilitas =



























BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengolahan Data
Hasil pengamatan histologi sistem reproduksi pada mencit dapat dilihat di
Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Perbandingan hasil pengamatan histologi sistem reproduksi mencit dengan
literatur
Nama
Preparat
Hasil Pengamatan Literatur
Tubulus
seminiferus

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber :
lab.anhb.uwa.edu.au
Duktus
epididimis

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber : Martini, 2010
Spermato
-sit
primer
Spermato
gonium
Lumen
Stereocilia


Vas deferens

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber : Martini, 2010
Ovarium

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber : Martini, 2010


Hasil pengamatan apusan sperma manusia dan mencit dan
perbandingannya dengan literatur dapat dilihat di Tabel 4.2 berikut.







Lumen
Folikel
tersier
Korpus
luteum
Folikel
sekunder


Tabel 4.2 Perbandingan hasil pengamatan apusan sperma dengan literatur
Nama Preparat Hasil Pengamatan Literatur
Sperma manusia
normal

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber: U.S Congress
Office of Technology
Assesment, 1985

Sperma mencit
normal

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sperma mencit
tanpa kepala (no
head)

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sperma mencit
tanpa ekor (no tail)




Sumber: Dokumentasi pribadi
Sperma mencit
abnormal: ekor
panjang (longtail)

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sperma mencit
abnormal kepala
bulat (round head)

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sperma mencit
abnormal
Amorphous head

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber: U.S Congress
Office of Technology
Assesment, 1985



Sperma mencit
abnormal kepala
besar (Giant head)


Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber: U.S Congress
Office of Technology
Assesment, 1985



Perhitungan parameter fertilitas sperma, yaitu motilitas dan jumlah sperma
dipaparkan sebagai berikut:

Jumlah sperma
Pengenceran pertama :1 tetes sperma = 9 tetes larutan PBS
Pengenceran kedua : 1 tetes sperma = 49 tetes larutan PBS
Hasil perhitungan kedua di hemacytometer I = 30
Hasil perhitungan kedua d hemacytometer II = 29
Faktor koreksi (berdasarkan Tabel 3.2) = 2

I. Jumlah sperma (juta/mL) =



=


II. Jumlah sperma (juta/mL) =



=


Jumlah rata-rata =





Persentase motilitas sperma
Persentase Motilitas I =


Persentase Motilitas II =


Rata-rata =




4.2 Pembahasan
Selama percobaan, ada beberapa reagen yang digunakan. Reagen-reagen
itu antara lain larutan PBS (Phosphate Buffered Solution), eosin 1% dan nigrosin
1%. Setiap reagen memiliki fungsi masing-masing yang mendukung proses
percobaan. Larutan PBS memiliki kandungan yang mirip dengan cairan
ekstraselular di dalam tubuh makhluk hidup sehingga bisa menjaga tekanan
osmosis, menjaga pH dan menyediakan air dan bahan anorganik yang dibutuhkan
oleh sel. Larutan PBS sering digunakan sebagai media untuk isolasi secara singkat
sel hidup. Dalam percobaan ini, larutan PBS yag menjaga agar sel sperma tidak
masih bisa bertahan hidup beberapa lama setelah keluar dari tubuh dan masih
dapat diamati motilitasnya (Martin,2006). Adapun larutan eosin dan nigrosin
digunakan sebagai zat pewarna dalam pembuatan apusan (WHO, 1999).
Dalam percobaan ini, didapatkan dua jenis preparat sperma yaitu sperma
mencit dan manusia. Dapat diamati bahwa terdapat perbedaan morfologis antara
sperma mencit adan manusia. Sperma mencit memiliki kait di bagian kepalanya.
kait ini berfungsi untuk mengaitkan diri ke sperma lain untuk menumpang selama
perjalanan menuju ovum dan dilepaskan saat suatu sperma ingin mendahului
sperma yang lain. Pada sperma manusia, tidak ada struktur seperti ini, Selain itu,
ekor sperma mencit juga lebih panjang dari manusia.
Ada beberapa jenis sperma abnormal yang ditemukan pada percoban ini.
Abormal jenis pertama adalah sperma tanpa kepala atau tanpa ekor. Sperma yang


tidak memiliki struktur kepala tidak akan bisa berjalan apalagi masuk ke ovum,
karena tidak ada nukleus yang memerintahkan flagel untuk bergerak dan
mitokondria (yang ada di leher) untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh
flagel (ekor). Sperma yang tidak memiliki ekor juga tidak bisa bergerak dan
menembus ovum, karena tidak memiliki alat gerak untuk menuju ovum.
Jenis abnormal selanjutnya adalah sperma dengan ekor yang terlalu
panjang. bnormal jenis ini akan mengakibatkan terganggunya mobilisasi sperma.
Sperma yang sedang bergerak akan terlilit ekornya karena terlalu panjang namun
gerakannya cepat. Setelah bagian ekor terlilit, perjalanan sperma akan terganggu.
Jenis abnormal yang ketiga adalah abnormatilas kepala, yaitu kepala yang
bebrntuk bulat (round head), kepala yang bentuknya tidak norman (amorphus
head) dan sperma dengan kepala yang lebih besar (giant head) dari ukuran
normal. Tentu saja ketiga abnormalitas kepala ini akan mengganggu kerja dari
sperma itu sendiri karena bentuk kepala yang abnormal akan mengakibatkan
materi genetik di nukleus sperma tidak terhantarkan dengan sempurna sehingga
ada kemungkinan bayi yang lahir dari sperma tersebut tidak normal.
Dari perhitungan parameter fertilitas yaitu jumlah sperma dan persentase
motilitas sperma, diperoleh hasil sperma dan motilitas.
Sebagai perbandingan, nilai parameter fertilitas standar bisa dilihat d Tabel 4.3
dan Tabel 4.4.
Tabel 4.3 Standar analisis cairan semen menurut Liphultz (1997)
Sumber: Moreira et al, 2004




Tabel 4.4 Standar analisis cairan semen menurut WHO
Sumber: Moreira et al, 2004


Jika jumlah sperma dari pengamatan dan dari tabel standar dibandingkan,
akan terlihat bahwa ada perbedaan yang cukup signifikan antara pengamatan
(14,75 juta/mL) dan standar (> 20 juta/mL). Hal ini bisa disebebkan oleh banyak
faktor. Faktor pertama adalah kualitas dari sampel sperma itu sendiri.
Abnormalitas berupa jumlah sperma yang lebih sedikit dari standar bisa terjadi.
Faktor kedua, terlepas dari keadaan sampel sperma itu sendiri adalah kesalahan
pengamat dalam melakukan pengukuran. Saat penghitungan dilaksanakan, sel
sperma masih ada yang hidup dan bergerak sepanjang kotak-kotak hemacytometer
sehingga ada kemungkinan sperma terlewat atau terhitung ulang.
Pada parameter persentase motilitas, dapat dilihat bahwa hasil pengamatan
(43,61%) berbeda dengan standar literatur (50% dan 60%). Selain karena ada
kemungkinan bahwa sperma yang diamati memang sperma yang motlitasnya
rendah, faktor lain seperti matinya sel sperma karena terlalu lama di luar tubuh
dan larutan PBS sudah tidak bisa lagi mendukung kehidupan sel patut
diperhitungkan.










BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Jumlah sel sperma manusia pada cairan semen sampel adalah 14,75
juta/mL dengan persentase motilitas 43,61%
2. Organ dalam sistem reproduksi mencit jantan meliputi testis dengan
tubulus seminiferus di dalamnya, duktus epididimis, vas deferens, uretra,
penis dan kelenjar aksesori. Organ terkait dalam sistem reproduksi mencit
betina adalah ovarium, ovidak, uterus dupleks, serviks, vagina dan
kelenjar aksesori yang terletak di sekitar klitoris




























DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil. Reece, Jane B. Urry, Lisa A. Cain, Michale L. Wasserman,
Steven A. Minorsky, Peter V. Jackson, Robert B. 2011. Biology. San
Fransisco, Pearson Benjamin Cummings
Cook, Margaret J. 1965. The Anatomy of Laboratory Mouse . Surrey. Academic
Press
Fox, James G. Barthold, Stephen W. Davisson, Muriel T. Newcomer, Christian G.
Quimby, Fred W. Smith, Abigail L. 2007. The Mouse in Biomedical
Research, Normatve Biology. Husbandry and Model London:
Elsevier Incorporation
Guzick, David S. Overstreet, James W. Factor-Litvak, Pam. Brazil, Charlene K.
Nakajima, Steven T. Coutifaris, Christos. Carsonn, Sandra Ann.
Cisneros, Pauline. Steinkampf, Michael P. Hill, Joseph A. Dong, Xu.
2001 Sperm Morphology, Motility and Concentration in Fertile and
Infertile Men. New England Journal of Medicine. Volume 345 No.
19
Liphultz, Larry I. Howards, Stuart S. Niederger, Craig S. Infertility in The Male.
New York: Cambridge University Press
Martin, N.C. Pirie, A.A. Ford, L.V. Callaghan, C.L.. McTurk, K. Lucy, D.
Scrimger, D.G. 2006 The Use of Phosphate Buffered Saline for the
Recovery of Cells and Spermatozoa from Swabs Science & Justice.
46(3);179:184
Martini, Frederick H. Bartholomew, Edwin F. 2010. Essential of Anatomy and
Physiology. San Fransisco. Pearson International Edition.
Moreira, Sergio G. Liphultz, Larry I. 2004. Managment of Male Infertility. The
Scientifc World Journal.4 S1 214-218
Organization World Health. 1999. WHO Laboratory Manual for the Examination
of Human Semen and SpermCervical Mucus Interactions.4th
ed. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press
School of Anatomy and Human Biology, Universty of Western Australia. 2009
Blue Histology-Male reproduction System
http://www.lab.anhb.uwa.edu.au/mb140/corepages/malerepro/malerep
ro.htm diakses 08-10-2014 jam 02.23
United Stated Congress Office for Technology Assesment, Reproductive Health
Hazard in the Workplace. U.S Government Printing Office