Anda di halaman 1dari 26

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pencampuran adalah salah satu operasi farmasi yang paling umum. Sulit untuk
menemukan produk farmasi dimana pencampuran tidak dilakukan pada tahap
pengolahan. Pencampuran dapat didefinisikan sebagai proses di mana dua atau lebih
komponen dalam kondisi campuran terpisah atau kasar diperlakukan sedemikian rupa
sehingga setiap partikel dari salah satu bahan terletak sedekat mungkin dengan
partikel bahan atau komponen lain. Tujuan pencampuran adalah memastikan bahwa
ada keseragaman bentuk antara bahan tercampur dan meningkatkan reaksi fisika atau
kimia. Bentuk sediaan semi padat digunakan ketika resep dokter memerlukan
kombinasi dari dua atau lebih salep atau krim dalam rasio tertentu atau penggabungan
obat ke dalam salep atau basis krim. Karena pencampuran langsung dari bahan-bahan
tidak selalu dapat dilaksanakan, penggabungan agen lain diperlukan untuk
memastikan partikel berukuran halus. Alat pencampur sediaan semi padat diantaranya
adalah spatula, mortar dan stamper, ointment slab, blender, homogenizer, mixer,
agitator mixers, shear mixers, ultrasonic mixers, planatory mixer, double planetary
mixers, sigma mixer, colloid mill, dan. triple-roller mill. Proses pencampuran adalah
salah satu operasi yang paling umum digunakan dalam pembuatan sediaan farmasi.
Berbagai macam bahan seperti cairan, semi padat dan padat memerlukan
pencampuran selama mereka menjadi formulasi bentuk sediaan, karena itu, pilihan
yang tepat dari pencampuran adalah peralatan diperlukan mengingat sifat fisik dari
bahan-bahan seperti densitas, viskositas, pertimbangan ekonomi mengenai waktu
proses diperlukan untuk pencampuran dan daya serta biaya peralatan dan
pemeliharaan.
Seiring dengan perkembangan di bidang obat, bentuk sediaan dalam bidang
farmasi juga semakin bervariasi. Sediaan obat tersebut antara lain sediaan padat
seperti serbuk, tablet, kapsul. Sediaan setengah padat seperti salep, cream, pasta,
suppositoria dan gel, serta bentuk sediaan cair yaitu suspensi, larutan, dan emulsi.
Dengan adanya bentuk sediaan tersebut diharapkan dapat memberikan kenyamanan

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 2

dan keamanan bagi konsumen. Salah satu contoh sediaan farmasi yang beredar di
pasaran, Apotek, Instalasi kesehatan, maupun toko obat adalah sediaan cair (liquid).
Dengan demikian pembuatan sediaan liquid dengan aneka fungsi sudah
banyak digeluti oleh sebagian besar produsen. Sediaan yang ditawarkanpun sangat
beragam mulai dari segi pemilihan zat aktif serta zat tambahan, sensasi rasa yang
beraneka ragam, hingga merk yang digunakan pun memiliki peran yang sangat
penting dari sebuah produk sediaan liquid.
Sediaan liquid merupakan sediaan dengan wujud cair, mengandung satu atau
lebih zat aktif yang terlarut atau terdispersi stabil dalam medium yang homogen pada
saat diaplikasikan. Sediaan cair atau sediaan liquid lebih banyak diminati oleh
kalangan anak-anak dan usia lansia, sehingga satu keunggulan sediaan liquid
dibandingkan dengan sediaan-sediaan lain adalah dari segi rasa dan bentuk sediaan.
Sediaan cair juga mempunyai keunggulan terhadap bentuk sediaan solid dalam hal
kemudahan pemberian obat terkait sifat kemudahan mengalir dari sediaan liquid ini.
Selain itu, dosis yang diberikan relatif lebih akurat dan pengaturan dosis lebih mudah
divariasi dengan penggunaan sendok takar.
Dari penyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pembuatan
sediaan liquid terdapat kelebihan dan kekurangan. Diharapkan agar dapat
mempertahankan kelebihannya, dan mengatasi kekurangan tersebut dengan
membuatnya lebih baik lagi, agar dapat diterapkan dalam dunia kerja dan bisa
didapatkan efek terapi yang diharapkan

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana teknik compounding untuk sediaan liquid ?
2. Apa masalah compounding untuk sediaan liquid ?
3. Bagaimana cara mengatasi masalah compounding untuk sediaan liquid ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan dan teknik
compounding sediaan liquid.
2. Untuk mengetahui masalah apa yang terjadi pada proses compounding
sediaan liquid.
3. Mampu mengatasi masalah yang terjadi pada sediaan liquid.

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Compounding
Menurut USP 2004 Compounding merupakan proses melibatkan pembuatan
(preparation), pencampuran (mixing), pemasangan (asembling), pembungkusan
(packaging), dan pemberian label (labelling) dari obat atau alat sesuai dengan resep
dokter yang berlisensi atas inisiatif yang didasarkan atas hubungan
dokter/pasien/farmasis/compounder dalam praktek profesional.

2.2 Teknik Compounding
Pencampuran merupakan salah satu pekerjaan yang sangat umum dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari (Lachman,1989). Pencampuran adalah proses yang
menggabungkan bahan-bahan yang berbeda untuk menghasilkan produk yang
homogen. Pencampuran dalam sediaan farmasi dapat diartikan sebagai proses
penggabungan dua atau lebih komponen sehingga setiap partikel yang terpisah dapat
melekat pada partikel dari komponen lain (Bhatt dan Agrawal, 2007).
Tujuan dilakukannya pencampuran selain menghomogenkan bahan-bahan
juga untuk memperkecil ukuran partikel, melakukan reaksi kimia, melarutkan
komponen, membuat emulsi, dan lain-lain, sehingga tidak jarang dalam teknologi
farmasi digunakan beberapa alat pencampur / mixer dengan jenis yang berbeda untuk
mengolah bahan-bahan obat. Tidak hanya bahan-bahan obat yang akan
mempengaruhi produk suatu obat, teknik pencampuran pun dapat mempengaruhi
produk obat yang dihasilkan.
Menurut Bhatt dan Agrawal (2007), beberapa contoh pencampuran skala besar
dalam bidang farmasi :
1. pencampuran bubuk/sebuk dalam pembuatan granul dan tablet
2. pencampuran kering (dry mixing) dalam proses kompresi langsung sediaan tablet
dan kapsul
3. pencampuran bubuk/serbuk dalam pembuatan sediaan kosmetik seperti bedak
4. pembuatan serbuk yang larut dalam larutan untuk pengisian dalam kapsul lunak
dan sirup

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 4

5. pencampuran dua cairan yang tidak saling larut, seperti sediaan emulsi
Mekanisme pencampuran cairan secara esensial masuk dalam empat kategori,
yaitu : transpor bulk, aliran turbulen, aliran laminer, dan difusi molekuler. Biasanya
lebih dari satu dari proses proses ini yang dilakukan pada proses pencampuran
(Lachman, 1989).
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pencampuran yaitu :
1. Sifat fisik dari bahan yang akan dicampur, seperti kerapatan, viskositas, dan
kemampuan bercampur
2. Segi ekonomi, menyangkut pemrosesan
3. Waktu, waktu yang dibutuhkan untuk mencampur
4. Alat, kemudahan mencampur, perawatan, dan pembersihannya (Lachman, 1989).
Berdasarkan pengaturan penambahan suatu cairan atau larutan serbuk berupa
bahan pengikat dan reaksi mekanik maka proses pencampuran terdiri dari low shear
dan high shear. Shear adalah jumlah tekanan mekanik pada rotor (Tousey, 2002).
Pada proses pencampuran solid-liquid, digunakan metodeshear mixing. Alat
yang digunakan adalah shear nmixer. Mesin ini dirancang untuk mengurangi ukuran
partikel dan mencampur. Metode pencampuran ini memiliki efisiensi yang lebih baik
daripada metode pencampuran lain. Kecepatan putaran mesin ini 3000-15000 rpm.
High shear adalah suatu metode pengadukan, dimana cairan dengan kekentalan
rendah (biasanya air) ditambahkan ke dalam campuran serbuk yang telah
mengandung pengikat yang kemudian dicampur dengan sisa bahan dalam formulasi
(Tousey, 2002). Namun, penggunaan high shear mixing pada kondisi tertentu dapat
digunakan untuk membantu serbuk yang mempunyai karakteristik khusus/sulit
tercampur terdispersi ke dalam cairan.

2.3 Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pencampuran Cair-Padat
Dalam industri kimia, bejana pengaduk merupakan tangki pengaduk ataupun
autoklaf. Penggunaan bejana ini disesuaikan dengan maksud dan tujuan pencampuran.
Misalnya untuk operasi kontinyu seringkali dipergunakan tangki pengaduk,
sedangkan untuk maksud pencampuran bertekanan digunakan autoklaf.
Wadah pengaduk biasanya adalah berbentuk silinder terbuka atau tertutup
sedikit sesuai jenis reaksi yang akan dilangsungkan. Kebanyakan dari wadah
pengaduk dibuat dari bahan isolator ataupun semi konduktor. Tangki pengaduk atau

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 5

tanki reaksi biasanya didesain untuk melakukan reaksi-reaksi pada tekanan diatas
tekanan atmosfer, namun seringkali juga digunakan untuk proses lain seperti
pencampuran, pelarutan, penguapan, ekstraksi ataupun kristalisasi.untuk pertukaran
panas, tangki biasanya dilengkapi dengan mantel ganda yang dilas atau disambung
dengan flens, atau dilengkapi dengan kumparan berbentuk pipa yang di las.
Untuk mencegah kerugian panas yang tidak dikehendaki, tangki dapat
diisolasi. Perlu diingat bahwa tangki pengaduk didesain sesuai dengan keperluan,
misalnya untuk reaksi dalam beberapa sistem operasi (terisolasi, terbuka ataupun
tertutup), proses kerja dan keperluan pengerjaan. Oleh karena itu kadangkala tangki
dilengkapi dengan berbagai lubang khusus. Lubang-lubang khusus ini misalnya :
sumbu pengaduk/penyekat, pipa penyuling, alat ukur pengendali, saluran pemasukan
dsb. (Lachman, 1989)

2.4 Sediaan Liquid
Bentuk sediaan liquid merupakan sediaan dengan wujud cair, mengandung
satu atau lebih zat aktif yang terlarut atau terdispersi stabil dalam medium, yang
homogen pada saat diaplikasikan. Bentuk sediaan liquid dalam konsistensi cairnya,
memiliki keunggulan terhadap bentuk sediaan solid dalam hal kemudahan pemberian
obat terkait sifat kemudahan mengalir dari sediaan liquid ini. Selain itu, dosis yang
diberikan relative lebih akurat dan pengaturan dosis lebih mudah divariasi dengan
penggunaan sendok takar. Namun, bentuk sediaan ini tidak sesuai untuk zat aktif yang
tidak stabil terhadap air. Dengan kemasan botol dan penggunaan sendok takar untuk
sediaan oral, maka tingkat kepraktisan bentuk sediaan ini relative lebih rendah jika
dibanding bentuk sediaan solid.
Untuk pemakaian topical, keunggulan bentuk sediaan liquid, jika dibanding
bentuk sediaan solid maupun semisolid, terletak pada daya sebar dan
bioadhesivitasnya, selama viskositasnya optimum. Namun terkait daya lekat dan
ketahanan pada permukaan kulit, bentuk sediaan liquid relative lebih rendah jika
dibanding bentuk sediaan semisolid. Hal ini terutama berhubungan dengan tingkat
viskositas dari kedua bentuk sediaan tersebut. Ragam bentuk sediaan liquid yang akan
didiskusikan dalam makalah ini adalah larutan, emulsi dan suspensi.



Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 6

2.4.1 Larutan
Larutan merupakan sediaan liquid yang mengandung satu atau lebih zat aktif
(solute) yang terlarut dalam medium/pelarut/solvent yang sesuai.
Medium/pelarut/solvent yang universal adalah air. Namun demikian, ada berbagai
jenis solvent lain yang digunakan, antara lain minyak dan etanol. Kriteria yang
berlaku untuk suatu sediaan larutan adalah bahwa sediaan tersebut harus:
a. Aman dalam penggunaannya (tidak toksik, tidak iritatif, tidak alergenik)
b. Homogen
c. Zat aktif harus terlarut sempurna dan stabil dalam medium
Dengan persyaratan yang mendasar dari larutan bahwa semua komponen solute
harus terlarut, maka kelarutan (solubility) suatu bahan dalam medium memegang
peranan penting. Yang dimaksud dengan kelarutan (solubility) adalah ratio
sejumlah solute yang larut dalam pelarut yang sesuai.
d. Tidak boleh ada partikel yang mengapung, melayang, atau mengendap pada
sistem larutan
e. Viskositas dan daya sebar memungkinkan untuk penuangan maupun aplikasi
dengan mudah.
Dalam larutan oral, dikenal istilah sirup dan elixir. Istilah sirup terkait dengan
penggunaan gula dengan kadar 60-80%, sedangkan elixir terkait dengan keberadaan
etanol (dengan proporsi bervariasi) yang berfungsi sebagai cosolvent.
Cosolvent merupakan bahan yang dapat membentu kelarutan suatu solute
dalam medium utamanya. Contoh cosolvent selain etanol yang sering digunakan
adalah propylene glycol, isopropyl alcohol. Penggunaan cosolvent selain
mempertimbangkan kadar dan kapasitas cosolvensinya, juga harus
mempertimbangkan faktor keamanan pada pemakaian (tidak toksik), halal/tidaknya
solvent tersebut saat digunakan per oral (telan).
Sehubungan dengan pemakaian larutan oral, penggunaan sendok takar
memegang peranan penting, untuk memastikan kebenaran dosis sediaan yang
dikonsumsi oleh pasien. Sangat tidak dianjurkan untuk menggunakan sendok makan
atau sendok teh rumah tangga, mengingat volume yang belum tentu sesuai dengan
volume yang tertara sebagai sendok makan (15 mL) atau sendok teh (5 mL) pada
standar peresepan. Di dalam Farmakope Indonesia edisi IV (1995) untuk merujuk
takaran sendok sudah digunakan istilah sendok besar (15 mL) dan sendok kecil (5

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 7

mL). Larutan tidak hanya digunakan untuk keperluan per oral saja, namun juga
parenteral dan topical. Larutan parenteral memerlukan tambahan criteria khusus yaitu
sterilitas dan bebas pyrogen. (http://romdhoni.staff.gunadarma.ac.id)

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam desain sediaan larutan,
antara lain:
1. Tujuan terapi dan jalur pemberian. Dalam tujuan terapi ini perlu dipastikan:
a. Apakah dibutuhkan sediaan yang mampu memberikan onset cepat
b. Apakah perlu secara per oral atau parenteral
c. Zat aktif apa yang sekiranya memberikan efikasi dan keamanan dalam terapi
tersebut
2. Zat aktif dan pemilihan medium
a. Kelarutan zat aktif terpilih dalam medium yang sesuai.
b. Stabilitas zat aktif dalam medium
c. Kadar zat aktif yang akan diformulasikan
d. Kebutuhan peran viscocity enhancer atau cosolvent
e. Kebutuhan peran additives, seperti misalnya: gula/pemanis,flavoring agent,
coloring agent, preservative,antioksidant
3. Desain kemasan baik primer (yang bersentuhan dengan produk) ataupun sekunder
(yang mengemas kemasan primer).

Jenis Larutan
Berdasarkan pemakaian
1. Larutan oral
Adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat dengan/ tanpa aroma,
pemanis, pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven air yang
pemakaiannya melalui oral. Contohnya : sirup, sirup simpleks, eliksir.
2. Larutan topical
Adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung
pelarut lain seperti etanol dan poliol yang pemakaiannya untuk bagian luar tubuh.
Contohnya : Collyrium Guttae, Ophthalmicae, Gargarisma, Guttae Oris, Guttae
Nasalis, Inhalation, Injectiones , Lavement, Douche.(Syamsuni, 2006)


Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 8

Berdasarkan sistem pelarut dan zat terlarut :
1. Spirit
Adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalcohol dari zat yang mudah
menguap, dari bahan-bahan yang berbau harum.

2. Tinctur
Adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dibuat dari bahan
tumbuhan atau senyawa kimia. (M.Anief, 2007)
Dalam Farmakope Edisi III Kelarutan suatu zat yang tidak diketahui secara
pasti dapat dinyatakan dengan istilah sebagai berikut:
Istilah kelarutan
Jumlah bagian pelarut yang diperlukan
untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut < 1
Mudah larut 1- 10
Larut 10-30
Agak sukar larut 30-100
Sukar larut 100-1000
Sangat sukar larut 1000-10000
Praktis tidak larut >10000

2.4.2 Emulsi
Menurut FI III : 9 Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair
atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi
atau surfaktan yang cocok. Menurut RPS 18 th : 298 Emulsi adalah suatu sistem
terdispersi yang terdiri dari paling sedikit 2 fase cairan yang tidak saling bercampur.
Sebagian besar dari emulsi konvensional dalam farmasi memiliki ukuran partikel
terdispersi dalam diameter dari 0,1 sampai 100 mm. Menurut Lachman : 1029 Emulsi
adalah suatu campuran yang tidak stabil secara termodinamika yang terdiri dari 2
cairan yang tidak saling bercampur.Menurut Parrot : 354 Emulsi adalah suatu sistem
polifase dari 2 campuran yang tidak saling bercampur. Salah satunya tersuspensi
dengan bantuan emulgator keseluruh partikel lainnya. Ukuran diameter partikelnya
0.2 50 m. Menurut Physical Pharmacy : 522 Emulsi adalah sistem yang tidak stabil
secara termodinamika mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur
satu diantaranya terdispersi sebagai globul-globul (fase pendispersi) dalam fase cair
lainnya (fase kontinyu) distabilkan dengan adanya bahan pengemulsi/emulgator.

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 9

Emulgator adalah suatu bahan yang dalam strukturnya memiliki bagian yang
lyofilik maupun lyofobik, yang mampu mengakomodasi droplet-droplet cairan yang
tidak saling campur, untuk dapat terdispersi dengan stabil. Contoh dari emulgator
adalah: Pulvis Gummi Arabicum (PGA), Tween, dan Span.
HLB (hydrophyl-lipophyl balance) merupakan suatu tingkat keseimbangan
bagian hidrofil dan bagian lipofil dari suatu emulgator dalam membentuk emulsi yang
stabil. Untuk mendesain suatu emulsi, seorang formulator perlu memahami HLB dari
emulgator atau campuran emulgator yang akan digunakan, untuk menstabilkan emulsi
sesuai tipe emulsi yang dikehendaki. Lebih daripada itu, beberapa fase minyak juga
mengindikasikan kebutuhan HLB (required HLB) yang harus dipunyai oleh
emulgator untuk menstabilkan emulsi pada dua jenis tipe emulsi.
Kriteria emulsi yang baik adalah:
1. Aman
2. Efektif dan efisien sesuai dengan tujuan terapi
3. Merupakan disperse homogen antara minyak dengan air
4. Stabil baik secara fisik maupun khemis dalam penyimpanan
5. Memiliki viskositas yang optimal, sehingga mampu menjaga stabilitas dalam
penyimpanan, serta dapat dituangkan dengan mudah
6. Dikemas dalam kemasan yang mendukung penggunaan dan stabilitas obat.

Dalam emulsi dikenal istilah fase dispers dan medium pendispersi. Ada dua
jenis tipe emulsi secara umum, yaitu:
1. Tipe air/minyak (A/M).
Tipe A/M berarti air (fase terdispersi) terdispersi dalam minyak (medium).
2. Tipe minyak/air (M/A).
Tipe M/A berarti minyak (fase terdispersi) terdispersi dalam air (medium).

Secara khusus dikenal pula tipe air/minyak/air dan tipe minyak/air/minyak.
Untuk membedakan tipe emulsi tersebut dapat dilakukan dengan cara:
1. Pemberian pewarna yang larut pada salah satu fase, kemudian dilakukan
pengamatan secara mkiroskopis terhadap kondisi emulsi yang telah terwarnai
salah satu fasenya.

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 10

Contoh: semisal digunakan methylen blue yang larut air, apabila diamati melalui
mikroskop, yang terwarnai adalah dropletnya, maka emulsi tersebut bertipe A/M,
begitu juga sebaliknya. Jika digunakan Sudan III yang larut minyak, apabila
diamati melalui mikroskop, yang terwarnai adalah dropletnya, maka emulsi
tersebut bertipe M/A, begitu juga sebaliknya.
Catatan: untuk pemastian hasil, emulsi perlu ditest dengan 2 jenis pewarna
tersebut
2. Pengenceran dengan menggunakan cairan salah satu fase. Jika cairan untuk
mengencerkan tersebut bercampur dengan emulsi, maka dapat dipastikan bahwa
cairan tersebut berperan sebagai medium pendispersi.
Catatan: untuk pemastian hasil, emulsi perlu ditest dengan 2 jenis cairan tersebut.
Sistem emulsi merupakan sistem dispersi yang diupayakan untuk memanipulasi
dalam waktu tertentu, dua cairan yang secara alami tidak saling menyatu,
sehingga suatu saat fase-fase dalam sistem tersebut dapat memisah sesuai dengan
kealamiannya (by nature).(M.Anief, 2000)

2.4.3 Suspensi
Suspensi merupakan sediaan yang merupakan sistem dispersi dari partikel zat
aktif solid yang memiliki kelarutan yang rendah pada medium. Yang diharapkan dari
suatu sediaan suspensi adalah bahwa sistem terdistribusi homogen saat digunakan.
Untuk itu yang menjadi criteria dalam sediaan suspensi adalah:
1. Aman
2. Efektif dan efisien
3. Partikel solid stabil secara kimia dalam medium
4. Partikel solid terdistribusi merata, tidak boleh cepat mengendap, kalaupun
mengendap dapat diredispersikan kembali dengan penggojogan ringan
5. Tidak membentuk cake (endapan massif yang kompak pada dasar botol yang tidak
dapat diredispersikan kembali)
6. Partikel solid tidak mengapung (floating).

Suspensi didesain dalam dunia kefarmasian untuk mengakomodasi
penghantaran zat aktif solid yang perlu dihantarkan dengan sediaan liquid, yang

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 11

memiliki kelarutan yang rendah terhadap medium. Dalam suspensi dikenal dua sistem
yaitu:
1. Sistem flokulasi
Dalam sistem ini, saat tidak dilakukan intervensi mekanik apa pun,
partikel-partikel solid saling bergabung perlahan membentuk flok dengan ikatan
yang lemah. Dengan terbentuknya flok ini, maka flok akan cepat mengendap dan
supernatant/medium akan tampak relatif jernih. Namun dengan adanya
kerenggangan dalam struktur flok ini, apabila sistem digojog, maka partikel akan
mudah terdispersi kembali.
2. Sistem deflokulasi.
Dalam sistem ini, partikel-partikel solid tidak membentuk flok, dan
sebagai akibat gravitasi, mengendap perlahan pada dasar. Berhubung partikel
tersebut mengendap perlahan, maka terjadi suatu penataan partikel di dasar botol
yang cenderung membuat endapan menjadi kompak dan keras (terbentuk cake)
yang relative sulit untuk didispersikan kembali dengan penggojogan ringan.
Kedua sistem tersebut bukan merupakan suatu pilihan. Formulator perlu
mengakomodasi kebaikan dari dua sistem tersebut untuk sediaan suspensi yang
berkualitas (lama mengendap, sekalipun mengendap dapat diredispersikan
kembali dengan mudah, sehingga dalam pemakaian/penggunaan obat dapat
memberikan sejumlah partikel yang terdistribusi homogen dalam medium) dalam
penyimpanan waktu yang dikehendaki..

Komposisi dari sediaan suspensi adalah:
1. Zat aktif dengan kelarutan yang rendah pada medium
2. Medium suspensi yang diharapkan (dapat berupa air atau minyak)
3. Wetting agent a surface active agent
Solid yang memiliki kelarutan yang rendah dalam medium cenderung memiliki
tegangan permukaan yang tinggi. Keperluan menyertakan wetting agent disini
adalah agar tegangan permukaan solid dapat diturunkan, sehingga solid dapat
terbasahi dengan baik, dapat berada dalam medium, tidak terjadi pengapungan
partikel (floating).



Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 12

4. Viscocity enhancer
Viscocity enhancer dibutuhkan untuk membentuk struktur pembawa (structured
vehicle) yang mampu menahan laju pengendapan partikel. Semakin kental sistem,
maka laju pengendapan partikel akan semakin rendah (salah satu intepretasi dari
Hukum Stokes)
5. Agen pemflokulasi
6. Agen pemflokulasi dibutuhkan untuk menstimulasi partikel-partikel membentuk
flok, sehingga resiko terbentuknya cake dapat dihindari. Namun, perlu
diperhatikan penambahan agen pemflokulasi ini, diarahkan untuk flokulasi yang
terkendali (controlled flocculation)
7. Additives
Sebagai additives disini dapat digunakan: gula (yang juga dapat berfungsi sebagai
viscocity enhancer) atau pemanis, pewarna, antioksidant, pengawet (yang
kesemuanya harus larut pada medium).

Suspensi juga dapat digunakan secara oral, topical, maupun parenteral. Namun
hal yang perlu diperhatikan terutama dengan penggunaan parenteral adalah kadar
solid, ukuran partikel solid (micro or nano sized) dan bentuk partikel solid (spheris),
selain sterilitas dan kondisi pyrogen-free. Demikian juga dengan penggunaan topical
yang ditujukan pada mata (ophthalmic suspension), perlu juga melihat ukuran dan
bentuk partikel, sealing sterilitas. Dalam ophthalmic suspension, kondisi pyrogen free
tidak dipersyaratkan, mengingat pemberian dilakukan secara topical.(Syamsuni, 2006)

2.5 Teknik Compounding Sediaan Liquid
2.5.1 Formula Umum
R/ zat aktif/bahan obat
Pengental
Anti caplocking agent
Dapar
Pengawet
Antioksidan
Pemanis
Pewarna

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 13

Pewangi
Pembasah (jika perlu)
Solubilizer (jika perlu)

Komposisi umum sediaan larutan terdiri dari : bahan obat (solut) dan bahan
pelarut (solvent) serta bahan pembantu.

Bahan Obat
Bahan obat dari sediaan liquid harus terlarut. Jika bahan obat sukar untuk larut
maka perlu penanganan khusus, seperti :
1. menaikkan kelarutan dengan cara :
a. Penggantian bentuk yang tepat (like dissolves like)
b. Dilarutkan dalam pelarut campuran
c. Dibuat bentuk kompleks yang larut
d. Pengaturan pH
e. Penambahan solubilizing agent
2. Mempercepat kelarutan dengan cara :
a. Memperkecil ukuran partikel
b. Pengadukan
c. Pemanasan

Bahan Pelarut
Menurut FI ed III : kecuali dinyatakan lain, yang disebut pelarut ialah air
suling. Pelarut yang biasa digunakan adalah:
1. Air, untuk melarutkan bermacam-macam garam.
2. Spiritus, untuk melarutkan kamfer, iodine, mentol.
3. Gliserin, untuk melarutkan tannin, zat samak, boraks, fenol.
4. Eter, untuk melarutkan kamfer, fosfor, sublimat.
5. Minyak, untuk melarutkan kamfer, mentol.
6. Paraffin liquidum, untuk melarutkan cera, cetasium, minyak-minyak, kamfer,
mentol, klorbutanol.
7. Kloroform, untuk melarutkan minyak-minyak, lemak.


Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 14

Syarat bahan pelarut antara lain :
1. Bersih dan higienis.
2. Memiliki daya melarutkan solut yang besar.
3. Inert.
4. Bebas dari warna dan bau yang tidak dikehendaki.

Bahan pembantu
1. Anti caplocking
Untuk mencegah kristalisasi gula di cap botol maka umumnya digunakan alkohol
polyhydric seperti sorbitol, gliserol, atau propilenglikol.
2. Pewangi
Flavour digunakan untuk menutupi rasa tidak enak dan membuat agar obat dapat
diterima oleh pasien terutama anak-anak. Dalam pemilihan pewangi perlu
dipertimbangkan, untuk siapa obat diberikan dan berapa usia pengkonsumsinya.
Anak-anak lebih menyukai rasa manis atau buah-buahan sedangkan orang dewasa
lebih menyukai rasa asam. Flavour seperti asam sitrat garam dan momosodium
glutamat kadang-kadang juga digunakan. Flavouring agent dapat tidak stabil
secara kimiawi karena oksidasi, reduksi, hidrolisis, dan adanya pengaruh pH
3. Zat pewarna
Zat pewarna ditambahkan untuk menutupi penampilan yang tidak menarik atau
meningkatkan penerimaan pasien. Zat warna yang ditambahkan harus sesuai
dengan flavour sediaan tersebut. Zat warna harus nontoksik, noniritan dan dapat
tersatukan dengan zat aktif serta zat tambahan lainnya.
4. Dalam pemilihan zat warna harus dipertimbangkan juga masalah:
a. Kelarutan
b. Stabilitas
c. Ketercampuran
d. Konsentrasi zat warna dalam sediaan

Pengawet
Pengawet yang digunakan harus nontoksik, tidak berbau, stabil dan dapat
bercampur dengan komponen formula lain yang digunakan selama pengawet ini
bekerja dalam melawan mikroba potensial spectrum luas. Alasan penggunaan bahan

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 15

pengawet kombinasi untuk meningkatkan kemampuan spectrum anti mikroba, efek
yang sinergis memungkinkan penggunaan pengawet dalam jumlah kecil sehingga
kadar toksisitasnya menurun pula dan mengurangi kemungkinana terjadinya
resistensi.
Kriteria untuk pengawet:
1. Harus efektif melawan mikroorganisme spectrum luas
2. Harus stabil secara fisik, kimia, dan secara mikrobiologi selama life-time produk
3. Harus nontoksik, cukup larut, dapat tercampurkan dengan komponen formula lain,
pada konsentrasi yang digunakan mempunya rasa dan bau yang dapat diterima
pengguna.

Pemanis
Pemanis yang digunakan dalam sediaan diantaranya: glukosa, sukrosa,
sorbitol, manitol, xytol, garam Na dan Ca dari sakarin, aspartam, thaumatin.

Antioksidan
Antioksidan yang ideal bersifat: nontoksik, noniritan, efektif pada konsentrasi
rendah, larut dalam fase pembawa dan stabil.
Contoh antioksidan adalah: asam askorbat, asam sitrat, Na metabisulfit, Na sulfite

Dapar
Zat yang range pH stabilitasnya kecil, maka harus di dapar dengan dapar yang
sesuai dengan memperhatikan :
1. ketercampuran dengan kandungan larutan
2. inert
3. tidak toksik
4. kapasitas dapar yang bersangkutan.
Larutan yang mengandung asam kuat atau basa kuat adalah larutan yang
mempunyai kapasitas dapar. Kebanyakan dapar terdiri dari campuran asam lemah
dan garamnya atau basa lemah dan garamnya. Buffer/ dapar adalah suatu material
yang ketika dilarutkan dalam suatu pelarut, senyawa ini mampu mempertahankan
pH ketika suatu asam atau basa ditambahakn. Buffer yang sering digunakan
adalah: karbonat, sitrat, glukonat, laktat, posfat atau tartrat.

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 16

Kriteria untuk buffer adalah:
a. mempunyai kapasitas yang cukup dalam rentang pH yang diinginkan.
b. aman untuk penggunaan jangka panjang.
c. memiliki sedikit/ tidak ada efek yang mengganggu stabilitas sediaan jadi.
d. dapat menerima flavouring dan warna dari produk.(solutio.blogspot.com)

2.5.2 Teknik compounding sediaan liquid secara umum
Dengan cara sederhana
Sirup simplex melarutkan gula dalam air
Solutio Acidi Borici melarutkan Acidum boricum dalam air.

Dengan reaksi kimia
Solutio Lugoli melarutkan Iod dalam larutan pekat kalium iodide
Solutio Magnesii citras melarutkan Magnesium carbonat dalam larutan asam
citrat.

Dengan ekstraksi simplisia nabati
infusa daun sirih (Piper betle folium).

Cara Melarutkan Zat (M.Anief, IMO, 99)
1. Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol
2. Zat-zat yang agak sukar dilarutkan dengan pemanasan
3. Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukkan dulu dalam
erlenmeyer agar tidak terbentuk senyawa hidrat yang lebih lambat.
4. Untuk zat yang meleleh dalam air panas dan merupakan tetes besar dalam dasar
erlenmeyer atau botol maka perlu dalam melarutkkan digoyang-goyangkan atau di
gojok untuk mempercepat larutnya zat tersebut.
5. Zat-zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh dilarutkan dengan
pemanasan dan dilarutkan secara dingin.
6. Zat-zat mudah menguap bila dipaanasi, dilarutkan dalam botol tertutup dan
dipanaskan serendah-rendahnya sambil digoyang-goyangkan.
7. Obat-obat keras harus dilarutkan tersendiri, untuk meyakini apakah sudah larut
semua, dapat dilakukan ditabung reaksi lalu bilas.

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 17

8. Perlu diperhatikan bahwa pemanasan hanya diperlukan untuk mempercepat
larutnya suatu zat, tidak untuk menambah kelarutan, sebab bila keadaan menjadi
dingin maka akan terjadi endapan.

Apabila meracik sediaan larutan, emulsi dan suspensi, peracik menyiapkan 2%
sampai 3% jumlah berlebih dari jumlah total. Dalam meracik sediaan ini diperhatikan:
1. Untuk wadah unit-tunggal, berat dari tiap wadah yang terisi, periksa berat, tidak
kurang dari 100% dan tidak lebih dari 110% dari volume pada label.
2. Suspensi air disiapkan dengan menghaluskan campuran serbuk menjadi pasta
halus dengan bahan pembasah yang tepat. Pasta ini diubah menjadi cairan free-
flowing dengan menambahkan pembawa secukupnya. Bagian pembawa dipakai
untuk mencuci mortir, atau bejana lain, untuk mentransfer suspensi secara
kuantitatif ke dalam botol yang sudah dikalibrasi. Sediaan dapat dihomogenkan
untuk menjamin kehomogenan sediaan akhir.
3. Kurangi ukuran partikel menjadi ukuran terkecil yang layak
4. Larutan tidak mengandung bahan-bahan tidak larut yang tampak.
5. Emulsi dan suspensi diberi label Kocok sebelum dipakai

2.5.3 Compounding process
Compounder mengingat langkah-langkah berikut untuk meminimalkan
kesalahan dan memaksimalkan tujuan penulis resep :
1. Pertimbangkan kecocokan resep yang akan diracik dengan syarat-syarat keamanan
dan tujuan pemakaian.
2. Kerjakan perhitungan yang penting untuk mendapatkan jumlah bahan-bahan yang
diperlukan.
3. Identifikasi alat-alat yang diperlukan
4. Pakai pakaian yang tepat dan cuci tangan
5. Bersihkan daerah peracikan dan alat yang diperlukan
6. Hanya satu resep yang harus diracik pada satu waktu dalam suatu peracikan yang
ditentukan.
7. Kumpulkan semua bahan-bahan untuk meracik resep
8. Racik sediaan dengan mengikuti catatan formulasi (formulation record), Proses
meracik (lanjutan)

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 18

9. Nilai variasi berat, kecukupan pencampuran, kejernihan, bau, warna, konsistensi,
dan pH setempatnya.
10. Bubuhi keterangan catatan racikan dan jelaskan rupa sediaan
11. Beri label wadah resep dengan memasukkan item berikut: a) nama sedaan, b)
nomor identifikasi internal, c) initial compounder, d) penyimpanan yang
diperlukan, dan pernyataan yang diperlukan berdasarkan undang-undang.
12. Tandatangani dan beri tanggal resep yang menegaskan bahwa semua prosedur
telah dikerjakan untuk menjamin keseragaman, identitas, kekuatan, kuantitas, dan
kemurnian.
13. Bersihkan semua peralatan dan simpan dengan tepat.

2.6 Problem Compounding Pada Sediaan Liquid
2.6.1 Pengatasan kontaminasi mikroba
Dalam rangka mengoptimalkan metode untuk mengendalikan kontaminasi
mikroba obat-obatan, perlu untuk memahami sumber-sumber dan rute dari mana
kontaminasi mungkin berasal. Kontaminasi mikroba dari bahan baku selalu akan
ditransfer ke produk, sedangkan kontaminasi lebih lanjut mungkin diperoleh dari
peralatan dan lingkungan, dari operator proses dan bahan kemasan.
Contoh sediaan liquid yang berpotensi besar terkontaminasi mikroba adalah
sediaan sirup. Sirup adalah sediaan yang komposisi terbesar pada umumnya adalah air
sebagai pelarut. Karena komposisi terbesar dari sediaan ini adalah air maka, sirup
rentan sekali terkontaminasi oleh mikroba sebab air adalah media yang sesuai untuk
pertumbuhan mikroba.
Untuk mengantisipasi tumbuhnya mikroba pada sediaan selalu di lengkapi
dengan zat pengawet atau zat anti bakteri. Selain itu tetap menjaga stabilitas dari
sediaan salah satunya dengan cara memperkecil ukuran partikel sehingga zat mudah
terlarut. Zat aktif stabil pada pH tertentu. Oleh karena itu diperlukan dapar untuk
mempertahankan pH sediaan. Untuk kontaminasi mikroba pada alat ataupun kemasan
biasanya digunakan uji sterilitas.(bloomefield,2007)

2.6.2 Pengatasan problem oksidasi
Selain kontaminasi mikroba problem yang sering terjadi pada compounding
sediaan adalah terjadinya oksidasi atau interaksi sediaan dengan oksigen bebas di

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 19

udara. Untuk mencegah terjadinya oksidasi antara produk dengan oksigen bebas
tersebut maka biasanya pada waktu pengemasan dibuat sedemikian rupa, sehingga
terdapat sedikit mungkin oksigen pada wadah obat cairan. Cara lain untuk
menghindari terjadinya oksdasi adalah dengan penambahan bahan anti oksidan pada
produk obat yang dapat mengurangi oksigen bebas.

2.6.3 Pengatasan problema pembuatan suspensi dan emulsi
Pengatasan problema pembuatan suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah
cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel.
Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi.
1. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah:
a. Ukuran Partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut
serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran
partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya.
Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan
hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil
luas penampangnya.
b. Kekentalan/viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan
tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil).
c. Jumlah Partikel/konsentrasi
Apabila di dalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka
partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering
terjadi benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan
terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar
konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel
dalam waktu yang singkat.
d. Sifat/muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam
campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada
kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 20

yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah
merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengaruhi. Ukuran partikel
dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser,
colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan
dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut.
Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan
pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).

2. Pengatasan problema pembuatan emulsi
Emulsi merupakan sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan lain dalam bentuk tetesan kecil. Untuk menyatukan sistem dua fase tersebut
distabilkan dengan penambahan emulgator. Emulsi dikatakan tidak stabil bila
mengalami hal-hal seperti dibawah ini :
a. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu
mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming
bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi
kembali.
b. Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang
meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya
irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena:
Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan PH, penambahan
CaO/CaCL
2

Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan dan
pengadukan.
Untuk dapat mencegah terjadinya koalesensi dapat ditambahkan emulgator atau
surfaktan yang cocok. Surfaktan menstabilkan emulsi dengan cara menempati
antar-permukaan tetesan dan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik di
sekeliling partikel yang akan berkoalesensi.

3. Inversi fase yaitu peristiwa berubahnya tipe emulsi W/O menjadi O/W atau
sebaliknya dan sifatnya irreversible. (Syamsuni,2006)



Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 21

BAB III
PEMBAHASAN


Kata larutan (solution) sering dijumpai. Larutan merupakan campuran
homogen antar dua atau lebih zat berbeda jenis. Ada dua komponen utama
pembentukan larutan, yaitu zat terlarut (solution), dan pelarut (solvent). Fasa larutan
dapat berupa fasa gas, cair, atau fasa padat bergantung pada sifat kedua komponen
pembentukan larutan. Apabila fase larutan dan fase zat-zat pembentukannya sama,
zat yang berada dalam jumlah terbanyak umumnya disebut pelarut sedangkan zat
lainnya sebagai zat terlarutnya. (http//www.solutio blogspot)
Larutan merupakan sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut.
Sediaan obat berbentuk larutan atau dalam farmasetika disebut sediaan cair misalnya
sirup, spirit, eliksir, air aromatik, tingtur, infusa dll. Selain itu larutan sebagai obat
luar misalnya losio dan larutan otik. Sediaan obat berbentuk larutan, merupakan
campuran homogen dimana zat aktifnya terdistribusi secara merata sehingga dosis
dapat diberikan dengan tepat. (http//www.solutio blogspot)
Faktor utama pemilihan penggunaan obat bentuk sediaan cair khususnya
larutan yaitu lebih mudah ditelan dibandingkan dengan bentuk sediaan padat seperti
tablet atau kapsul, sehingga lebih cocok untuk pemberian pada bayi, anak-anak, dan
usia lanjut yang susah menelan obat dalam bentuk kapsul atau tablet. Sediaan tablet
atau kapsul dihindari untuk anak kurang dari 5 tahun. Disamping itu, larutan juga
memberikan efek yang lebih cepat karena obat cepat di absorbsi tanpa mengalami
proses disintegrasi dan pelarutan karena sudah berada dalam bentuk larutan. Untuk
pemakaian luar , larutan lebih mudah digunakan. Namun ada beberapa obat yang
tidak stabil atau mudah rusak bila dibuat dalam larutan, sehingga harus selalu dibuat
baru bila akan digunakan. (anonim.2011)
Penggunaan obat dalam bentuk sediaan cair sangat dibutuhkan oleh
masyarakat terutama bagi bayi, anak-anak dan orang tua yang sulit mengkonsumsi
obat dalam bentuk padat. (http//www.solutio blogspot)




Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 22

Permasalahan & Penyelesaian Masalah
R/ Solutio Acidi Borici
Permasalahan: Menentukan kadar Acidi Borici dalam larutan
Penyelesaian Masalah: Dalam menentukan Acidi Borici dalam larutan dengan
melihat FMS dimana tercantum didalamnya Acidi Borici 3% yang akan dilakukan
sesuai resep yang diminta.

R/ Solutio Camphorae Spirituosa
Permasalahan:
o Solutio dengan pelarut non aqua
o Mengubah berat pelarut ke volume
Penyelasaian Masalah:
o Satu bagian Camphora spiritus diencerkan dengan 70 bagian air yang
merupakan campuran jernih karena kelarutan Champhora adalah 1: 700.
o Mengubah berat spiritus ke volume dengan menghitung BJ spiritus lalu berat
spiritus dibagi BJ spiritus.

R/ Solutio Iodii Aquasa
Permasalahan: Bahan aktif sukar larut dalam air
Penyelesaian Masalah: Iodium ditambahkan Kalii Iodida yang akan
terbentuk senyawa rangkap.

R/ Potio Alba Contra Tussim
Permasalahan:
o Solutio Formula Officinalis
o Mengganti minyak menguap menjadi aqua aromatika
o Meracik SASA dalam sediaan cair
Penyelesaian Masalah: Solutio Formula Officinalis adalah resep yang dikerjakan
dengan melihat panduan yang dikeluarkan oleh pemerintah diantaranya:
Formularium Indonesia, Formularium Nasional, FMS, Farmakope Belanda edisi
IV dan Farmakope Indonesia edisi III. Pada resep terdapat Oleum Menthae PIP
yang diganti dengan Aqua Menthae PIP, sebab dalam resep ini pelarut yang
digunakan yaitu Aqua destillata. Dimana minyak tidak dapat larut dengan Aqua

Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 23

Menthae PIP. Dalam meracik SASA dalam sediaan cair akan mengalami
pengendapan, sehingga perlu adanya pengolesan pada botol yang akan digunakan
atau botol dilapisi Sirup Simplex. Hal ini dapat mengurangi pengendapan, SASA
dalam botol sehingga SASA dapat tepat campur dengan larutan yang lain dalam
sediaan obat cair tersebut.





























Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 24

BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan yang dapat kami tarik dari makalah ini
yaitu :
1. Teknik compounding secara umum dapat dilakukan dengan cara : sederhana,
reaksi kimia, dan ekstraksi simplisia nabati.
2. Yang menjadi problem dalam compounding sediaan liquid diantaranya :
pengatasan kontaminasi mikroba, pengatasan oksidasi sediaan, serta pengatasan
problem pembuatan emulsi dan suspensi.

4.2 Saran
Untuk meminimalkan kesalahan sebaiknya dalam compounding, compounder
perlu kiranya memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi proses mulai dari
pembacaan resep sampai pada pemberian etiket sediaan yang nantinya diserahkan
kepada pasien.
















Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 25

DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta, 298

Anonim. 2007. Mixing Technologies in the Pharmaceutical and Medicinal Industries.
A White Paper. Charles Ross and Son Company.

Bhatt, Bhawna and Agrawal, S.S . 2007. Pharmaceutical Engineering Mixing. Delhi
Institute of Pharmaceutical Science and Research Sector 3. Pushp Vihar.
New Delhi

Gennaro, Alfonso R., (2000), Remington: The Science and Practice of Pharmacy20th
edition, Philadelphia College of Pharmacy and Science: Philadelphia

Jenkins, Glenn L., (1957), Scovilles the Art of Compounding Nineth edition, The
McGraw-Hill Book Company, Inc: USA

Lachman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. Jakarta : UI
Press.
Lachman, L, Lieberman, H.A, Kanig, J.L. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Martin, W., (1971), Dispending of Medication 7th edition, Marck Publishing
Company: USA

Moh. Anief. 1997. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.


Teknik Compounding Sediaan Liquid - (Kelompok 4) ------------------------------------------------------- 26

Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
Tousey. 2002. The Granulation Process 101 Basic Technologies for Tablet Making.
Pharmaceutical Technology page 8-1.

Parrot, Eugene L., (1968), Pharmaceutical Technology, Burgess Publishing Company:
Iowa