Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Salah satu tujuan Milenium Development Goals (MDGs) adalah
mengurangi kemiskinan yang di antaranya diukur melalui indikator prevalensi
gizi kurang. Meskipun jumlah kasus gizi kurang menurun dalam beberapa
tahun terakhir, tetapi gizi kurang masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat Indonesia yang sulit diatasi. Data terakhir menunjukkan
prevalensi gizi kurang di Indonesia turun dari 31,0 % pada tahun 1989
menjadi 18,4 % pada tahun 2007. Berdasarkan profil kesehatan Jawa Tengah
tahun 2012, prevalensi balita dengan gizi kurang masih sebesar 4,88%.1
Ditinjau dari sudut masalah kesehatan dan gizi, balita termasuk dalam
golongan masyarakat kelompok rentan gizi, yaitu kelompok masyarakat yang
paling mudah menderita kelainan gizi. Hal ini menjadi penting karena mereka
sedang mengalami proses pertumbuhan yang relatif pesat. Kemenkes melalui
Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) mencanangkan berbagai
program sebagai upaya penurunan prevalensi gizi kurang dengan tujuan utama
menurunkan angka kejadian gizi kurang dan agar balita dengan gizi kurang
tidak berkembang menjadi gizi buruk. 2
Masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait. Menurut
mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, gizi kurang disebabkan oleh
kurangnya asupan gizi sehingga anak rentan terhadap infeksi penyakit. Situasi
ini akibat kemiskinan, pendidikan rendah, dan kesempatan kerja yang rendah.
Secara lebih terperinci, keadaan gizi dipengaruhi oleh kecukupan asupan
makanan dan keadaan kesehatan individu. Kedua faktor tersebut di samping
dipengaruhi oleh masalah ekonomi dan pelayanan kesehatan, juga dipengaruhi
oleh pola asuh anak tidak memadai. Oleh karena itu, masalah gizi harus
dipecahkan melalui pendekatan keluarga serta pendekatan terpadu, tidak hanya
dari masalah kesehatan saja, tapi juga melibatkan berbagai sektor terkait.3,4

Berdasarkan data survei mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas


Diponegoro pada tanggal 23 Januari 2014 di Desa Madukoro, Kecamatan
Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah didapatkan 4 balita tergolong gizi
kurang dari lima puluh enam balita. Gizi kurang pada balita dengan presentasi
sebesar 7,1% menunjukkan bahwa angka kejadian gizi kurang di Desa
Madukoro masih tinggi dan merupakan suatu masalah kesehatan yang menjadi
prioritas untuk segera ditangani dan diselesaikan.5
Angka kejadian gizi kurang dapat dipengaruhi berbagai faktor antara lain
faktor lingkungan, perilaku, pelayanan

kesehatan,

dan genetik atau

kependudukan . Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui


faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi kurang.
B. PERUMUSAN MASALAH
Apakah faktor tingkat pendidikan Ibu, pekerjaan Ibu, pendapatan keluarga tiap
bulan, dan perilaku Ibu berhubungan dengan kejadian gizi kurang di Desa
Madukoro periode Januari 2014?
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian gizi kurang pada balita di Desa Madukoro
periode Januari 2014.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian
gizi kurang pada balita di Desa Madukoro periode Januari 2014.
b. Untuk mengetahui hubungan pekerjaan ibu dengan kejadian gizi
kurang pada balita di Desa Madukoro periode Januari 2014.
c. Untuk mengetahui hubungan pendapatan keluarga tiap bulan dengan
kejadian gizi kurang pada balita di Desa Madukoro periode Januari
2014.

d. Untuk mengetahui hubungan perilaku ibu dengan kejadian gizi kurang


pada balita di Desa Madukoro periode Januari 2014.
D. MANFAAT
Dengan diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi
kurang pada balita diharapkan dapat membantu program perbaikan gizi
kurang, yaitu dalam:
1. Menentukan cara yang tepat dalam melakukan tindakan preventif dan
promotif kejadian gizi kurang.
2. Menetapkan metode dan materi penyuluhan yang tepat kepada masyarakat
agar sedapat mungkin mengurangi faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian gizi kurang.
3. Sebagai informasi yang dapat digunakan untuk penelitan-penelitian
selanjutnya yang lebih komprehensif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DASAR TEORI
1. Definisi
Gizi adalah zat yang diperlukan untuk metabolisme dan fungsi biologis
tubuh. Gizi diperoleh melalui serangkaian proses pengolahan makanan yang
dikonsumsi, meliputi proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, dan
metabolisme untuk menghasilkan energi, mempertahankan kehidupan, untuk
fungsi pertumbuhan dan pemeliharaan fungsi normal dari organ-organ. Status
gizi seseorang adalah suatu keadaan yang menggambarkan keseimbangan
antara asupan zat gizi yang diperoleh dan yang dibutuhkan atau digunakan
oleh tubuh. Jadi, status gizi merupakan refleksi kecukupan zat gizi seseorang.
Agar seseorang dapat hidup sehat, tumbuh kembang optimal dan beraktivitas
secara produktif, dibutuhkan aneka ragam makanan untuk dapat memenuhi
kebutuhan gizinya. Hal ini dikarenakan tidak ada satu jenis makanan yang
dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Kecuali bayi umur 06 bulan, dimana mereka cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja untuk
memenuhi kebutuhan gizinya.6
2. Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan data-data yang diperoleh dari
anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesis bisa didapatkan informasi tentang riwayat nutrisi selama dalam
kandungan, riwayat saat kelahiran dan keadaan waktu lahir ( termasuk berat
dan panjang badan lahir). Selain itu, dapat pula didpatkan informasi
mengenai

penyakit dan kelainan yang pernah/sedang diderita, riwayat

makanan yang dikonsumsi hingga data keadaan fisik ayah dan ibu. Kemudian
pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan bentuk tubuh dan perbandingan
proporsi tubuh. Penilaian status gizi dapat dibagi menjadi 2 yaitu: 7
Secara langsung: antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik

Secara tidak langsung: survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor
ekologi
1) Penilaian Secara Langsung
a. Antropometri
Antropometri merupakan salah satu indikator terukur yang dapat
digunakan untuk menilai status gizi seseorang. Antropometri berasal dari
kata antropos (tubuh) dan metros (ukuran). Dari sudut pandang gizi,
antropometri oleh Jellife diartikan sebagai berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat
gizi.
Antropometri sering digunakan secara luas di masyarakat karena:
Alat mudah didapat dan digunakan
Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif
Pengukuran tidak selalu harus oleh tenaga khusus profesional, dapat oleh
tenaga lain setelah mendapat pelatihan
Biaya relatif murah
Hasilnya mudah disimpulkan, memiliki cut of point dan baku rujukan
yang sudah pasti
Secara ilmiah diakui kebenarannya
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola
pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan
jumlah air dalam tubuh.7
Tata cara pemeriksaan antropometri berkaitan dengan empat aspek yaitu:7
o Baku antropometri
Jenisjenis ukuran antropometri gizi yang diperlukan untuk penilaian
pertumbuhan dan status gizi adalah ukuran berat badan, panjang (tinggi)
badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas dan lipatan kulit. Baku
antropometri yang memenuhi syarat untuk digunakan saat ini adalah
Baku WHO NCHS Berdasarkan Lokakarya Antropometri di Ciloto
tahun 1992.

o Indeks antropometri yang meliputi:


Dihubungkan dengan umur, yaitu B / U (berat terhadap umur), T /
U(Tinggi terhadap umur), dan LLA (lingkar lengan atas terhadap
umur)
Tidak dihubungkan dengan umur, yaitu B / T, LLA / T
o Klasifikasi status gizi dan garis pembatas
Klasifikasi status gizi digunakan untuk menentukan nilai status
gizi, sedangkan garis pembatas (cut of points) digunakan untuk
membedakan

nilai

status

gizi

(indikator).

WHO

menyarankan

menggunakan klasifikasi status gizi berdasarkan indeks antropometri


Standar Deviasi Unit (SD) atau Z-Skor untuk meneliti dan untuk
memantau pertumbuhan.
-

1 SD unit (1 Z-skor) } sama dengan 11% dari median BB/U

1 SD unit (1 Z-skor) kira-kira 10% dari median BB/TB

1 SD unit (1 Z-skor) kira-kira 5% dari median TB/U

Waterlow
menyatakan

juga

ukuran

merekomendasikan
pertumbuhan

penggunaan

(Growth

SD

untuk

Monitoring).

WHO

memberikan gambaran perhitungan SD unit terhadap baku NCHS.


Contoh: 1 SD unit = 11-12% unit dari median BB/U, misalnya seorang
anak berada pada 75% median BB/U berarti 25% unit berada di bawah
median atau -2.
Pertumbuhan nasional untuk suatu populasi dinyatakan dalam
positif dan negatif 2 SD unit (Z-skor) dari median, yang termasuk hampir
98% dari orang-orang yang diukur yang berasal dari referensi populasi.
Di bawah -2 SD unit dinyatakan sebagai kurang gizi yang ekuivalen
dengan 78% dari median untuk BB/U, 80% median untuk BB/TB, dan
90% median untuk TB/U.
Rumus perhitungan Z-skor:
Z-skor = Nilai Individu Subjek Nilai Median Baku Rujukan
Nilai Simpang Baku Rujukan

Sejak dekade 80-an Indonesia menggunakan 2 baku acuan


internasional: Harvard dan WHO-NCHS. Pada Februari 1991,
dikemukakan saran pengajuan penggunaan secara seragam baku
rujukan WHO-NCHS sebagai pembanding dalam penilaian status gizi
dan pertumbuhan baik perorangan maupun masyarakat dalam acara
Semiloka Antropometri Ciloto. Kemudian sebagai hasil tindak
lanjutnya, dikeluarkan Kepmenkes RI Nomor: 920/ Menkes/ SK/
VIII/ 2002 tentang klasifikasi status gizi anak balita yang didasarkan
atas perkembangan iptek dan hasil temu pakar gizi Indonesia Mei
2000 di Semarang. Pada peraturan ini standar baku antropometri yang
digunakan secara nasional disepakati menggunakan standar baku
WHO-NCHS 1983.7
Tabel 1. Klasifikasi status gizi anak balita menurut Kepmenkes
Nomor:920/Menkes/SK/VIII/2002
Indeks
BB/U

TB/U
BB/TB

b.

Status
Gizi lebih
Gizi baik
Gizi kurang
Gizi buruk
Normal
Pendek (stunted)
Gemuk
Normal
Kurus (wasted)
Kurus sekali

Ambang Batas
> +2SD
> -2 SD sampai +2SD
< -2SD sampai -3SD
< -3SD
2SD
< -2SD
> +2SD
-2SD sampai +2SD
< -2SD sampai -3SD
< -3SD

Klinis
Penilaian secara klinis merupakan metode yang sangat penting untuk

menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi
seperti adanya perubahan pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues)
seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat
dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Pada umumnya metode ini

digunakan untuk rapid clinical surveis. Survei ini dirancang untuk


mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan zat gizi.
c. Biokimia dan Biofisik
Secara kimiawi, status gizi dapat dinilai dengan serangkaian pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam
jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja
dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Hasil pemeriksaannya
dapat dijadikan sebagai peringatan akan adanya kemungkinan terjadi keadaan
malnutrisi yang lebih parah. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka
penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan
kekurangan gizi yang spesifik.
Penentuan status gizi secara biofisik dapat dilakukan dengan melihat
kemampuan fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur dari jaringan.
Sebagai contohnya adalah pemeriksaan kejadian buta senja epidemik
(epidemic of night blindnes) dengan tes adaptasi gelap.
2) Penilaian Secara Tidak Langsung
o Survei konsumsi makanan
Survei konsumsi makanan dilakukan dengan melihat jumlah dan jenis
zat gizi yang dikonsumsi. Dari hasil olahan datanya dapat menunjukkan
gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga
dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan
kekurangan zat gizi.
o Statistik vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis
dan beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan
umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data
lainnya yang berhubungan. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai
bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
o Faktor Ekologi

Menurut Bengoa, malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil


interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah
makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti
iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang
sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu
masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.
3. Klasifikasi
Berdasarkan

Kepmenkes

Nomor:

920/Menkes/SK/VIII/2002,

penilaian status gizi secara nasional di Indonesia didasarkan pada standar


baku antropometri WHO-NCHS 1983. Status gizi dibagi menjadi 4
golongan, yaitu gizi lebih, gizi baik, gizi kurang, dan gizi buruk. Dalam
makalah ini akan lebih ditekankan pada pembahasan tentang gizi kurang.7
Gizi kurang adalah suatu keadaan kekurangan satu atau lebih zat gizi
esensial yang dibutuhkan tubuh. Secara umum, istilah gizi kurang dalam
masyarakat mewakili penyakit malnutrisi energi-protein (MEP), yaitu
penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan protein. Gejala gizi
kurang ringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak
tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya
hanya sekitar 60-80% dari berat ideal. Adapun ciri-ciri klinis lain yang
dapat menyertainya antara lain:8
a.

Kenaikan berat badan berkurang, terhenti atau bahkan


menurun

b.

Ukuran lingkar lengan atas kurang

c.

Maturasi tulang terlambat

d. Rasio berat badan terhadap tinggi badan normal atau cenderung


menurun
e.

Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang

4. Penyebab Gizi Kurang

Gizi kurang merupakan suatu permasalahan yang timbul sebagai dampak


dari beberapa kondisi. Sebagian aspek yang dianggap melatarbelakanginya
antara lain:8
1. Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi
bagi pertumbuhan anak. Balita hanya diberi makanan "sekadarnya",
tidak memenuhi pedoman gizi seimbang.
2. Faktor kemiskinan/rendahnya pendapatan masyarakat. Hal ini
menyebabkan pemenuhan kebutuhan keluarga tidak dapat maksimal,
termasuk kebutuhan akan menu makanan seimbang.
3. Tingginya laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan
bertambahnya ketersediaan bahan pangan sehingga menyebabkan
krisis pangan.
4. Malnutrisi yang disebabkan oleh infeksi. Infeksi akan berpengaruh
pada

tubuh.

memperlemah

Sedangkan
daya

tahan

kondisi
tubuh

malnutrisi
yang

pada

akan

semakin

akhirnya

juga

mempermudah masuknya beragam penyakit.


5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gizi Kurang
Kejadian gizi kurang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:8
1. Faktor lingkungan. Lingkungan berperan dalam penentuan status gizi.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yose Rizal,
SKM pada tahun 2007 yang menyatakan bahwa

pola penyebaran

kasus gizi buruk dan gizi kurang terjadi pada wilayah dengan lahan
pertanian terbatas.
2. Faktor perilaku. Dalam hal ini perilaku yang dimaksudkan adalah pola
asuh ibu dan perilaku gizi seimbang. Pengetahuan, sikap dan praktie
keluarga mempengaruhi pola konsumsi makanan seimbang dan
perilaku hidup sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada
kualitas pengasuhan anak. Anak yang diasuh oleh ibu yang
berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan
kebersihan, lebih sehat dibanding anak lainnya dengan ibu yang

10

pendidikannya kurang. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan


pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan
makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena
ketidaktahuan.
3. Akses terhadap pelayanan kesehatan. Akses yang kurang terhadap
pelayanan kesehatan dapat meningkatkan angka kejadian gizi kurang
karena keterbatasan terhadap informasi dan pelayanan kesehatan.
4. Faktor sosial ekonomi. Kondisi sosial ekonomi terkait secara langsung
dengan ketersediaan makanan yang adekuat. Adanya bencana alam,
perang, maupun kebijaksanaan politik dan ekonomi yang memberatkan
rakyat akan memperberat kondisi ini.
5. Faktor sosial budaya. Adanya kepercayaan dalam masyarakat untuk
tidak mengkonsumsi makanan tertentu akan menyebabkan anak
kekurangan zat gizi tertentu. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan /
adat istiadat masyarakat yang tidak benar dalam pemberian makan
akan berpengaruh pada status gizi anak. Misalnya kebiasaan memberi
minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat
terlalu dini, ataupun pantangan makan ikan untuk anak karena takut
kecacingan. Hal ini akan menghilangkan kesempatan anak untuk
mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup sehingga
anak menjadi sering sakit.
6. Akibat Gizi Kurang
Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh tergantung pada zat-zat gizi yang
kurang. Kekurangan gizi ini secara umum menyebabkan gangguan pada:

Pertumbuhan
Pertumbuhan anak menjadi terganggu karena protein yang ada
digunakan sebagai zat pembakar sehingga otot-otot menjadi lunak dan
rambut menjadi rontok

Produksi tenaga
Kekurangan energi yang berasal dari makanan mengakibatkan anak

11

kekurangan tenaga untuk bergerak dan melakukan aktivitas. Anak


menjadi malas, dan merasa lemas

Pertahanan tubuh
Sistem imunitas dan antibodi menurun sehingga anak mudah terserang
infeksi sepertibatuk, pilek dan diare

Struktur dan fungsi otak


Kurang gizi pada anak adapt berpengaruh terhadap perkembangan
mental. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak
secara permanen seperti perkembangan IQ dan motorik yang
terhambat

Perilaku
Anak yang mengalami gizi kurang menunjukkan perilaku yang tidak
tenang, cengeng dan apatis.
Gizi kurang juga dapat menjadi salah satu latar belakang dari besarnya

angka kesakitan dan kematian bayi dan balita. Hal ini disebabkan karena
gizi kurang dapat meningkatkan risiko terkena infeksi dan menurunkan
daya tahan tubuh anak. Selain itu gizi kurang dapat mempengaruhi
perkembangan otak dan psikologi anak serta menghambat pertumbuhan.
Wanita hamil yang kurang gizi juga punya kecenderungan untuk
melahirkan anak dengan berat badan rendah, sehingga memiliki risiko
lebih besar terkena infeksi.
7. Landasan Teori
Kejadian gizi kurang dipengaruhi beberapa faktor yaitu:
1. Faktor lingkungan. Lingkungan berperan dalam hal pemanfaatan
pekarangan sebagai lahan tanaman pangan. Letak geografis juga
mempengaruhi status gizi seseorang.
2.

Faktor perilaku. Perilaku yang dimaksudkan adalah perilaku keluarga


sadar gizi seimbang (kadarzi).

3. Faktor pelayanan kesehatan. Akses terhadap pelayanan kesehatan juga


mempengaruhi status gizi seseorang.

12

4. Faktor sosial ekonomi. Sosial ekonomi sedikit banyak juga


mempengaruhi status gizi.
5. Faktor sosial budaya.

Sosial budaya dapat juga menjadi faktor

penyebab gizi kurang dimana adanya pantangan mengkonsumsi


makanan tertentu.
Gizi kurang dapat berakibat antara lain sebagai berikut:
1. Gangguan pertumbuhan anak.
2. Kekurangan energi
3. Menurunnya sistem pertahanan tubuh
4. Gangguan perkembangan mental
5. Perilaku anak menjadi tidak tenang, cengeng, apatis
6. Meningkatnya angka kesakitan dan kematian bayi dan balita

B. KERANGKA TEORI

FAKTOR
LINGKUNGAN

FAKTOR
PERILAKU

F AKTOR
PELAYANAN
KESEHATAN

13
FAKTOR SOSIAL
BUDAYA

FAKTOR SOSIAL

EKONOMI

GIZI KURANG
MENURUNKAN
ANGKA
KESAKITAN DAN
KEMATIAN

PERTUMBUHAN
TERGANGGU

KEKURANGAN
PRODUKSI
TENAGA

PERKEMBANGAN
MENTAL
TERGANGGU

ANAK TIDAK
TENANG,
CENGENG,
APATIS

MENURUNKAN
PERTAHANAN
TUBUH

C. KERANGKA KONSEP

14

Tingkat
pendidikan ibu

Pekerjaan ibu
Kejadian Gizi Kurang
Pendapatan
keluarga tiap
bulan

Perilaku ibu

D. HIPOTESIS
1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian gizi kurang di
Desa Madukoro periode Januari 2014.
2. Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan kejadian gizi kurang di Desa
Madukoro periode Januari 2014.
3. Ada hubungan antara pendapatan keluarga tiap bulan dengan kejadian gizi
kurang di Desa Madukoro periode Januari 2014.
4. Ada hubungan antara perilaku ibu dengan kejadian gizi kurang di Desa
Madukoro periode Januari 2014.

BAB III
METODE PENELITIAN

15

A. RUANG LINGKUP PENELITIAN


Ruang lingkup keilmuan

: Ilmu Kesehatan Masyarakat

Ruag lingkup tempat

: Desa Madukoro, Kecamatan Kajoran,


Kabupaten Magelang

Ruang lingkup waktu

: 23-30 Januari 2014

B. RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan jenis
studi cross sectional.

Bhismamurdi 2003
Keterangan

= populasi

= kelompok sampel

F+

= kelompok dengan faktor resiko

F-

= kelompok tanpa faktor resiko

= kelompok dengan faktor resiko yang mengalami efek / sakit (gizi


kurang)

= kelompok dengan faktor resiko yang tidak mengalami efek /


tidak sakit

16

= kelompok tanpa faktor resiko yang mengalami efek / sakit

= kelompok tanpa faktor resiko yang tidak mengalami efek / tidak


sakit

C. VARIABEL PENELITIAN
1.

2.

Variabel Bebas (Variabel Independen)

Tingkat pendidikan ibu

Pekerjaan ibu

Pendapatan keluarga tiap bulan

Perilaku ibu

Variabel Tergantung (Variabel Dependen)


Kejadian gizi kurang

B. BAHAN PENELITIAN

Populasi

: semua balita yang berdomisili di wilayah Desa


Madukoro Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang.

Sampel penelitian

Kriteria inklusi

a. Semua balita (usia 12 bulan 4 tahun 11 bulan) yang berdomisili di


wilayah Desa Madukoro Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang
b. Ibu balita bersedia untuk diwawancarai

Kriteria eksklusi

a. Ibu balita menolak untuk diwawancarai.


b. Balita yang memiliki kelainan kongenital (misalnya sindroma Down,
sindroma Turner, sindroma Russel Silver, dan lain-lain) yang tidak
dapat diukur dengan kurva WHO Anthro.

Prosedur penarikan sampel pada penelitian ini secara consecutive


sampling, yaitu semua subjek yang ada dan memenuhi kriteria pemilihan
(inklusi dan eksklusi) diambil sampai jumlah sampel yang diperlukan
terpenuhi

17

Estimasi besar sampel 9


n = (Z)2PQ
(d)2
n = (1,96)2 x 0,049 x 0,95
(0,1)2
n = 18
Keterangan:
Z

= tingkat kepercayaan 95% = 1,96

= proporsi = 4,88% = 0,049

= 1-P = 0,951

= presisi yang dikehendaki = 10%

C. CARA PENELITIAN
Cara Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan cara menimbang berat badan balita, mengukur
tinggi badan balita, wawancara dengan ibu balita yang berada di wilayah
Desa Madukoro, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa

Tengah

sesuai dengan kuesioner.


Data yang dikumpulkan
Data yang dikumpulkan berupa data primer yang meliputi:
Identitas balita
Berat badan, tinggi badan, status gizi balita
Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya gizi kurang
(tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga tiap
bulan, dan perilaku ibu)

D. DEFINISI OPERASIONAL

18

Tabel 2. Definisi Operasional


No
1.

Variabel
Gizi kurang

Definisi Operasional
Didapatkan dari berat badan

Alat Ukur
- Timbangan

Hasil Ukur
Gizi kurang

Skala
Nominal

dan umur balita (12 bulan 4 pengukur berat

1 = Ya

dikotom

tahun 11 bulan), dihitung

badan balita.

(WHZ Score -2

WHZ score (Weight per

- Program WHO

sampai -3 SD)

Height Z score) dengan

Anthro.

2 = Tidak

program WHO Anthro. Balita

(WHZ Score >

yang WHZ Score-nya berada

-2 SD)

di antara -2 sampai -3 SD
merupakan balita dengan gizi
2.

3.

4.

Tingkat

kurang.
Pendidikan terakhir ibu di

Berdasarkan

1 = tidak

Nominal

pendidikan

institusi pendidikan (SD,

wawancara

sekolah/ tamat

dikotom

ibu

SLTP, SLTA, Akademi, dan

langsung pada

SD

Perguruan tinggi) yang dapat

ibu balita.

2 = tamat SLTP/

dibuktikan dengan ijazah.

SLTA/ Akademi/

Minimal wajib belajar 9

Perguruan tinggi

Pekerjaan

tahun (tamat SLTP).


Aktivitas yang dilakukan

Berdasarkan

1= bekerja di

Nominal

ibu

secara rutin sebagai sumber

wawancara

luar rumah

dikotom

pendapatan untuk memenuhi

langsung pada

2= tidak

kebutuhan

ibu balita.

bekerja/ bekerja

Pendapatan

Semua bentuk penghasilan

Berdasarkan

di rumah
0= Tidak ada

Nominal

keluarga

atau penerimaan yang nyata

wawancara

1= Ada

dikotom

tiap bulan

dari seluruh anggota keluarga

langsung pada

untuk memenuhi kebutuhan

ibu balita.

1 = kurang

Nominal

keluarga dengan cut off


Upah Minimum Regional
(UMR) Kabupaten Magelang
5.

Perilaku ibu

2013 (Rp 900.000,00)


Aktivitas ibu terkait

Berdasarkan

19

kesehatan dengan rincian

wawancara

(jawaban YA

perilaku memberikan aneka

langsung pada

kurang dari 4)

ragam makanan, memberikan

ibu balita.

2 = baik

makanan dengan gizi

(jawaban YA

seimbang, membuat balita

lebih sama

menghabiskan porsi

dengan 4)

makannya, riwayat
pemberian ASI eksklusif, ASI
hingga 2 tahun, riwayat
imunisasi, rutinitas periksa ke
Posyandu dengan adanya
KMS yang terisi rutin, dan
keikutsertaan penyuluhan
oleh tenaga kesehatan.
Dinilai dengan kuesioner.
E. ANALISIS DATA
Pengolahan data dilakukan dengan tahapan editing, coding, tabulasi dan
analisis data dengan menggunakan program komputer. Uji statistik yang
dipergunakan untuk menguji hubungan antar variabel meliputi:
1. Deskripsi dari setiap variabel bebas dengan crosstabulation.
2. Analisis bivariat untuk menghitung rasio prevalensi dari setiap
variabel bebas.
3. Analisis multivariat dengan regresi logistik untuk memprediksi
variabel bebas mana yang paling berhubungan dengan kejadian gizi
kurang.

BAB IV
HASIL PENELITIAN

20

dikotom

A.

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN


1. Keadaan Umum
Desa Madukoro merupakan salah satu desa dari 29 desa di Kecamatan
Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Desa Madukoro dibatasi
oleh beberapa desa yaitu batas utara berbatasan dengan Desa Sambak,
batas timur Desa Bumiayu, batas selatan Desa Kaliabu, dan batas barat
Desa Kwaderan. Luas wilayah desa Madukoro mencakup 92,5 ha, yang
terbagi menjadi 2 dusun (dusun Madukoro I dan dusun Madukoro II ), 3
RW, dan 11 RT. Dusun Madukoro I terdiri dari 1 RW dan 6 RT, Dusun
Madukoro II terdiri dari 1 RW dan 5 RT.
Berdasarkan survei penduduk tahun 2012, Desa Madukoro terdiri dari
404 kepala keluarga. Jumlah penduduk di desa ini adalah 1229 jiwa yang
terdiri dari 611 laki-laki dan 618 perempuan.
2. Keadaan Lingkungan
Wilayah penelitian dilakukan di desa Madukoro yang sebagian
besar wilayahnya merupakan daerah pertanian dan peternakan.
Perumahan peduduk sebagian besar adalah rumah tembok.
Sebagian rumah lantainya telah diplester/ditegel, memiliki jendela yang
cukup yang dibuka ketika pagi atau siang dan penerangan di dalam rumah
cukup pada waktu siang.

B. ANALISIS HASIL PENELITIAN


Karakteristik Subyek Penelitian
Distribusi Jenis Kelamin Subyek Penelitian

21

Distribusi jenis kelamin balita terdapat pada gambar 1.

Gambar 1. Distribusi jenis kelamin balita


Jenis kelamin subyek penelitian sebagian besar adalah balita laki-laki
(57,50%).
Distribusi Tingkat Pendidikan Ibu
Distribusi tingkat pendidikan ibu terdapat pada gambar 2.

Sebagian besar ibu merupakan tamatan SLTP (47,50%).


Gambar 2. Distribusi tingkat pendidikan ibu
Distribusi Pekerjaan Ibu

22

Distribusi pekerjaan ibu terdapat pada gambar 3.

Gambar 3. Distribusi pekerjaan ibu


Sebagian besar ibu merupakan ibu rumah tangga atau bekerja di rumah
(42,50%).
Distribusi Kejadian Gizi Kurang pada Balita
Distribusi pekerjaan ibu terdapat pada gambar 4.

Berdasarkan data penelitian, dari 40 sampel balita didapatkan balita dengan


Gambar 4. Kejadian gizi kurang pada balita Desa Madukoro Januari 2014
gizi kurang sebesar 35%.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gizi Kurang

23

Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi kurang


pada balita di Desa Madukoro periode Januari 2014 ditampilkan pada tabel
berikut.
Tabel 3 . Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi kurang

Faktor Faktor
Tingkat Pendidikan ibu
- Tidak sekolah/ Tamat SD
- Tamat SLTP/ SLTA/
Akademi/ Perguruan
Tinggi
Pekerjaan ibu
- Bekerja di luar rumah
- Ibu rumah tangga/
bekerja di rumah
Pendapatan keluarga
tiap bulan
- < Rp 900.000,00
- Rp 900.000,00
Perilaku ibu
- Kurang
- Baik

pada balita
Gizi Kurang
Ya
Tidak
n (%)
n (%)

Rasio
Prevalensi
(95% CI)

8
(20%)
6
(15%)

5
(12,5%)
21
(52,5%)

0,031

(1,2 6,3)
2,7

8
(20%)
6
(15%)

15
(37,5%)
11
(27,5%)

0,973*

(0,4 2,3)
1,0

9
(22,5%)
5
(12,5%)

6
(15%)
20
(50%)

0,010*

(1,2 7,3)
3,0

12
(30%)
2
(5%)

4
(10%)
22
(55%)

0,000*

(2,3 34)
9,0

* uji 2
uji Fisher-exact

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar balita


dengan gizi kurang memiliki ibu dengan tingkat pendidikan rendah yaitu
tidak sekolah atau tamat SD (20%), bekerja di luar rumah (20%),
pendapatan keluarga tiap bulan < Rp 900.000,00 (22,5%), dan perilaku ibu
kurang (30%). Berdasarkan uji statistik didapatkan tingkat pendidikan ibu

24

dan perilaku ibu memiliki hubungan bermakna dengan kejadian gizi kurang
pada balita di Desa Madukoro periode Januari 2014 dengan nilai p < 0,05.
Rasio prevalensi tingkat pendidikan ibu dengan kejadian gizi kurang sebesar
2,7 dengan interval kepercayaan (IK) 95% 1,2-6,3. Rasio prevalensi
perilaku ibu dengan kejadian gizi kurang sebesar 9,0 dengan IK 95% 2,3-34.
Analisis regresi logistik dilakukan untuk mengetahui faktor yang paling
dominan berhubungan dengan kejadian gizi kurang balita di Desa
Madukoro. Faktor-faktor yang dianalisis adalah faktor dengan nilai p < 0,25
yaitu tingkat pendidikan, pendapatan keluarga tiap bulan, dan perilaku ibu.
Tabel 4. Analisis Multivariat dengan Regresi Logistik
Variables in the Equation
95% C.I.for
EXP(B)
B
Step 1

Step 2

Wald

Df

Sig.

Exp(B)

Lower

Upper

Pendidikan(1)

-1.628

1.301

1.567

.211

.196

.015

2.512

Pendapatan(1)

-1.739

1.258

1.912

.167

.176

.015

2.067

Perilaku(1)

-4.022

1.274

9.959

.002

.018

.001

.218

3.952

1.270

9.678

.002

52.020

Pendapatan(1)

-2.337

1.173

3.974

.046

.097

.010

.962

Perilaku(1)

-3.873

1.180

10.771

.001

.021

.002

.210

3.597

1.159

9.628

.002

36.505

Constant
a

S.E.

Constant

a. Variable(s) entered on step 1: Pendidikan, Pendapatan, Perilaku.


Berdasarkan analisis regresi logistik, faktor yang paling bermakna
adalah perilaku ibu dengan nilai p = 0,001 dan nilai eksponensial sebesar
0,021.
C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Pembahasan hasil penelitian didasarkan pada hasil analisa analitik, hasil uji
statistik, data dari wawancara berdasarkan kuesioner serta dari tinjauan
pustaka. Pembahasan dilakukan untuk menemukan alasan-alasan yang
mendukung hasil penelitian.
1. Tingkat pendidikan ibu

25

Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan


pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia.
Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan
faktor penting dalam masalah kurang gizi. Salah satu faktor yang
menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang rendah.
Adanya pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang
mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupan.
Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam
keluarga yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi
pangan yang merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada
anak balita. Tingkat pendidikan terutama tingkat pendidikan ibu dapat
mempengaruhi derajat kesehatan karena pendidikan ibu berpengaruh
terhadap kualitas pengasuhan anak. Tingkat pendidikan yang tinggi
membuat seseorang mudah untuk menyerap informasi dan mengamalkan
dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan adalah usaha yang terencana dan
sadar untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi diri dan ketrampilan yang
diperlukan oleh diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara.10
Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi balita karena
pendidikan yang meningkat kemungkinan akan meningkatkan pendapatan
dan dapat meningkatkan daya beli makanan. Pendidikan diperlukan untuk
memperoleh

informasi

yang

dapat

meningkatkan

kualitas

hidup

seseorang.11

2. Pekerjaan ibu
Bekerja bagi ibu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
Ibu yang bekerja mempunyai batasan yaitu ibu yang melakukan aktivitas
ekonomi yang mencari penghasilan baik dari sektor formal atau informal
yang dilakukan secara reguler di luar rumah yang akan berpengaruh
terhadap waktu yang dimiliki oleh ibu untuk memberikan pelayanan
terhadap anaknya. Pekerjaan tetap ibu yang mengharuskan ibu

26

meninggalkan anaknya dari pagi sampai sore menyebabkan berbagai tugas


terkait tumbuh kembang balita seperti pemberian ASI tidak dilakukan
dengan sebagaimana mestinya. Namun, dewasa ini masyarakat tumbuh
dengan kecenderungan bahwa orang yang bekerja akan lebih dihargai
secara sosial ekonomi di masyarakat. 12
3. Pendapatan keluarga tiap bulan
Rendahnya ekonomi keluarga akan berdampak dengan rendahnya
daya beli pada keluarga tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan rendahnya
kualitas dan kuantitas konsumsi pangan yang merupakan penyebab
langsung dari kekurangan gizi pada balita. Keadaan sosial ekonomi yang
rendah berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapi karena
ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai masalah
tersebut. Balita dengan gizi kurang pada umumnya hidup dengan makanan
yang kurang bergizi. Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten
Kampar Kepulauan Riau terdapat hubungan bermakna status ekonomi
dengan kejadian gizi buruk p=0,0001.13
4. Perilaku ibu
Ibu merupakan orang yang berperan penting dalam penentuan
konsumsi makanan dalam keluaga khususnya pada balita. Perilaku ibu
berpengaruh terhadap pola konsumsi makanan keluarga. Keluarga akan
lebih banyak membeli barang karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan
lingkungan. Selain itu, gangguan gizi juga disebabkan karena kurangnya
kemampuan ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan
sehari-hari.14
Perilaku ibu dalam hal ini merupakan aktivitas ibu terkait kesehatan
dengan rincian perilaku memberikan aneka ragam makanan, memberikan
makanan dengan gizi seimbang, membuat balita menghabiskan porsi
makannya, riwayat pemberian ASI eksklusif, ASI hingga 2 tahun, riwayat
imunisasi, rutinitas periksa ke Posyandu dengan adanya KMS yang terisi
rutin, dan keikutsertaan penyuluhan oleh tenaga kesehatan.15

27

Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur,


imunisasi yang tidak lengkap terdapat hubungan yang bermakna dengan
kejadian gizi kurang OR(95%CI) dari 10,3; p<0,001. Perilaku pemberian
ASI eksklusif juga masih sangat rendah di Indonesia dimana hanya 14%
ibu di Indonesia yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sampai
enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif
kurang dari dua bulan. Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah kartu yang
memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri
berat badan menurut umur. Gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan
gizi

dapat

diketahui

lebih

dini

dengan

KMS

sehingga

dapat

dilakukantindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat. Berdasarkan


hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Puslitbang Gizi Bogor dapat
diketahui bahwa penimbangan balita secara rutin dan diimbangi dengan
penyuluhan serta pemberian makanan tambahan pada setiap bulan
penimbangan di posyandu dalam kurun waktu 3 bulan dapat menurunkan
angka kasus gizi kurang. Namun, partisipasi ibu dalam kegiatan Posyandu
di Indonesia masih rendah.16,17
D. KETERBATASAN PENELITIAN
Beberapa keterbatasan dan kelemahan yang terdapat dalam penelitian ini
adalah,
1. Keterbatasan waktu dalam melaksanakan survei dan pembuatan laporan.
2. Keterbatasan

kepustakaan

yang

menyebabkan

kurang

dalamnya

pembahasan materi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan data primer yang didapat, dilakukan analisis bivariat, dan
didapatkan hasil sebagai berikut:

28

1. Faktor tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan kejadian gizi kurang


di Desa Madukoro periode Januari 2014 dengan rasio prevalensi 2,7.
2. Faktor pekerjaan ibu tidak berhubungan dengan kejadian gizi kurang di
Desa Madukoro periode Januari 2014.
3. Faktor pendapatan keluarga tiap bulan tidak berhubungan dengan
kejadian gizi kurang di Desa Madukoro periode Januari 2014.
4. Faktor perilaku ibu berhubungan dengan kejadian gizi kurang di Desa
Madukoro periode Januari 2014 dengan rasio prevalensi 9,0.
Berdasarkan analisis multivariat dengan regresi logistik, perilaku merupakan
faktor paling dominan berhubungan dengan kejadian gizi kurang balita di Desa
Madukoro periode Januari 2014 dengan kekuatan hubungan sebesar 0,021.
B. SARAN
1. Menyarankan pada Kepala Desa melalui Forum Kesehatan Desa ikut
mengampanyekan wajib belajar 9 tahun dan kejar Paket B agar seorang
ibu dapat mengambil keputusan secara lebih matang khususnya keputusan
kesehatan terkait peningkatan status gizi anak.
2. Menyarankan pada kader kesehatan agar menyosialisasikan keluarga sadar
gizi dan pemeriksaan tumbuh kembang balita secara rutin di Posyandu.
3. Menyarankan pada Puskesmas Kajoran II yang bertanggungjawab atas
Desa Madukoro agar memberikan penyuluhan yang berkesinambungan
mengenai pemberian aneka ragam makanan dengan gizi seimbang, ASI
eksklusif dan berlanjut hingga usia 2 tahun, dan imunisasi wajib sebagai
upaya perubahan perilaku ibu.
DAFTAR PUSTAKA

1. Sedyaningsih, ER. Target MDGs Bidang Kesehatan. Available from:


http://wartapedia.com/kesehatan/medis/1456-depkes-target-mdgs-bidangkesehatan.html. 2010.

29

2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Indonesia. Buku


Kuliah Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: Bag Ilmu Kesehatan Anak FK
UI. 2000.
3. Budiyanto, AK. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Malang: Universitas Muhammadiyah
Malang. 2002.
4. Minarto. Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat. Available from:
http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/658. 2011.
5. Azwar,Azrul. Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Jakarta: Direktorat
Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. 2002.
6. Susilowati. Pengukuran Status Gizi dengan Antropometri Gizi. Cimahi:
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Ahmad Yani. 2008.
7. Yose Rizal. Distribusi Spasial Kasus Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita
di Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman Tahun 2007.
8.

Tim Kewaspadaan Pangan dan Gizi Pusat, Situasi Pangan dan gizi di
Indonesia, Jakarta, 2000.

9. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi klinis. 3rd ed. Jakarta: CV


Sagung Seto; 2008. Chapter 16, Perkiraan Besar Sampel; p. 313.
10. Dini L.Konsumsi Pangan Tingkat Rumah Tangga Sebelum dan Selama Krisis
Ekonomi.Jakarta:PT Gramedia Pustaka;2000.
11. Rumiasih. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Buruk
pada Anak Balita di Kabupaten Magelang[karya tulis ilmiah].Semarang:
Universitas Diponegoro;2003.
12. Taruna J.Hubungan Status Ekonomi Keluarga dengan Terjadinya Kasus Gizi
Buruk pada Anak Balita di Kabupaten Kampar Provinsi Riau Tahun 2002
[karya tulis ilmiah].Jakarta:Universitas indonesia;2002.
13. Dewati M. Analisis Pengaruh Pendapatan Keluarga, Jumlah Anggota
Keluarga, Tingkat Pendidikan Ibu dan Tingkat Pendidikan Ayah Terhadap
Status Gizi Balita di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo [karya tulis
ilmiah].Solo: Universitas Negeri Sebelas Maret; 2008.

30

14. Oetomo D. Gizi Buruk Balita di Surakarta Dikaji dari Tingkat Pendidikan Ibu
dan Pola Konsumsi Makan Balita [karya tulis ilmiah]. Surakarta: Universitas
Negeri Sebelas Maret;2006.
15. Lingga NK.Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Balita di Desa
Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang [karya tulis
ilmiah]. Medan:Universitas Sumatera Utara;2010.
16. Wahyuni. Hubungan Kelengkapan Imunisasi dan Pemberian Vitamin A
dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Titi Rantai dan Kelurahan Babura
Kecamatan Medan Maru [karya tulis ilmiah]. Medan; UniversitasSumatera
Utara;2005.
17. Nadimin. Hubungan Keluarga Sadar Gizi dengan Status Gizi Balitadi
Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Jurnal Media Gizi Pangan [Internet].
2010

[cited

2012

Mei

28]:10(2):1-7.

Available

from:

http://jurnalmediagizipangan.files.wordpress.com/2012/04/1-hubungankeluarga-sadar-gizi-dengan-status-gizi-balita.

LAMPIRAN

KUESIONER UNTUK IBU

31

I. Identitas Responden
Nama Ibu

Usia Ibu

Alamat

Jumlah anak

Usia anak

: 1.
2.
3.
4.

II. Sosial Ekonomi Keluarga


1. Pendidikan Ibu

: 1. Tidak sekolah
2. Tamat SD
3. Tamat SLTP
4. Tamat SLTA
5. Tamat akademi/ perguruan tinggi

2. Pekerjaan Ibu

: 1. Tidak bekerja/ Ibu rumah tangga


2. Bekerja (Sebutkan...............................................)

3. Pendapatan keluarga : 1. 900.000 rupiah


2. 900.000 rupiah

III. DAFTAR PERTANYAAN


No

Pertanyaan

Jawaban
Ya
Tidak

32

1.

Apakah Ibu selalu memberi makanan yang


beranekaragam pada balita? (buah minimal 2x

2.

seminggu)
Apakah makanan yang diberikan selalu

3.

memenuhi gizi seimbang?


Apakah
Ibu
dapat
membuat

balita

menghabiskan porsi makannya setiap kali


4.

makan?
Apakah sebelumnya Ibu hanya memberikan

5.

ASI saja saat bayi berusia 0-6 bulan?


Apakah Ibu tetap memberi ASI sampai usia 2

6.

tahun?
Apakah balita sudah mendapatkan imunisasi

7.

lengkap?
Apakah balita memiliki KMS yang terisi

8.

rutin?
Apakah Ibu selalu mengikuti penyuluhan
kesehatan balita yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan?

OUTPUT SPSS

33

Jenis Kelamin Balita


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Laki-laki

23

57.5

57.5

57.5

Perempuan

17

42.5

42.5

100.0

Total

40

100.0

100.0

Kejadian Gizi Kurang Balita


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

14

35.0

35.0

35.0

Tidak

26

65.0

65.0

100.0

Total

40

100.0

100.0

Jenis pendidikan ibu


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Tamat SD

13

32.5

32.5

32.5

Tamat SLTP

19

47.5

47.5

80.0

Tamat SLTA

20.0

20.0

100.0

40

100.0

100.0

Total

34

Jenis pekerjaan ibu


Cumulative
Frequency
Valid

Ibu rumah tangga/bekerja di

Percent

Valid Percent

Percent

17

42.5

42.5

42.5

22.5

22.5

65.0

12

30.0

30.0

95.0

Guru

5.0

5.0

100.0

Total

40

100.0

100.0

rumah
Buruh tani
Swasta

Tingkat Pendidikan Ibu * Kejadian Gizi Kurang Balita

35

Crosstab
Kejadian Gizi Kurang Balita
Ya
Tingkat Pendidikan Ibu

Tidak sekolah/ tamat SD

Count

SLTP/SLTA/Akademi/Pergur

Total

13

4.6

8.5

13.0

21

27

Expected Count

9.5

17.6

27.0

Count

14

26

40

14.0

26.0

40.0

Expected Count
Tamat

Tidak

Count

uan Tinggi
Total

Expected Count

36

Chi-Square Tests

Value

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Df

Pearson Chi-Square

5.962a

.015

Continuity Correctionb

4.359

.037

Likelihood Ratio

5.868

.015

Fisher's Exact Test

.031

Linear-by-Linear Association

5.813

N of Valid Cases

.019

.016

40

a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,55.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Tingkat

Lower

Upper

5.600

1.328

23.620

2.769

1.212

6.327

.495

.242

1.012

Pendidikan Ibu (Tidak


sekolah/ tamat SD / Tamat
SLTP/SLTA/Akademi/Perguru
an Tinggi)
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Ya
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Tidak
N of Valid Cases

40

37

Pekerjaan Ibu * Kejadian Gizi Kurang Balita

Crosstab
Kejadian Gizi Kurang Balita
Ya
Pekerjaan Ibu

Bekerja di luar rumah

Count

rumah
Total

Tota

15

8.1

15.0

11

Expected Count

6.0

11.1

Count

14

26

14.0

26.0

Expected Count
Ibu rumah tangga/ bekerja di

Tidak

Count

Expected Count

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-side

Pearson Chi-Square

.001a

.973

Continuity Correctionb

.000

1.000

Likelihood Ratio

.001

.973

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

1.000
.001

.974

40

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,95.
b. Computed only for a 2x2 table

38

.6

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Pekerjaan Ibu

Lower

Upper

.978

.263

3.637

.986

.420

2.312

1.008

.636

1.598

(Bekerja di luar rumah / Ibu


rumah tangga/ bekerja di
rumah)
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Ya
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Tidak
N of Valid Cases

40

Pendapatan per bulan * Kejadian Gizi Kurang Balita

Pendapatan per bulan * Kejadian Gizi Kurang Balita Crosstabulation


Kejadian Gizi Kurang Balita
Ya
Pendapatan per bulan

kurang dari 900ribu rupiah

Count

900ribu rupiah
Total

Total

15

5.3

9.8

15.0

20

25

Expected Count

8.8

16.3

25.0

Count

14

26

40

14.0

26.0

40.0

Expected Count
lebih atau sama dengan

Tidak

Count

Expected Count

39

Chi-Square Tests

Value

Df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

6.593a

.010

Continuity Correctionb

4.952

.026

Likelihood Ratio

6.585

.010

Fisher's Exact Test

.017

Linear-by-Linear Association

6.429

N of Valid Cases

.013

.011

40

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,25.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Pendapatan

Lower

Upper

6.000

1.445

24.919

3.000

1.237

7.278

.500

.261

.958

per bulan (kurang dari


900ribu rupiah / lebih atau
sama dengan 900ribu rupiah)
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Ya
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Tidak
N of Valid Cases

40

40

Perilaku Ibu * Kejadian Gizi Kurang Balita

Crosstab
Kejadian Gizi Kurang Balita
Ya
Perilaku Ibu

Kurang (jawaban YA kurang dari Count


4)

16

5.6

10.4

16.0

22

24

Expected Count

8.4

15.6

24.0

Count

14

26

40

14.0

26.0

40.0

Count

sama dengan 4)
Total

Total

12

Expected Count

Baik (Jawaban YA lebih atau

Tidak

Expected Count

Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

18.755a

.000

15.939

.000

20.033

.000

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

.000
18.286

.000

.000

40

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,60.
b. Computed only for a 2x2 table

41

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Perilaku Ibu

Lower

Upper

33.000

5.255

207.234

9.000

2.318

34.951

.273

.116

.643

(Kurang (jawaban YA kurang


dari 4) / Baik (Jawaban YA
lebih atau sama dengan 4))
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Ya
For cohort Kejadian Gizi
Kurang Balita = Tidak
N of Valid Cases

40

Logistic Regression
Variables in the Equation
95% C.I.for EXP(B)
B
Step 1a

Wald

df

Sig.

Exp(B)

Lower

Upper

Pendidikan(1)

-1.628

1.301

1.567

.211

.196

.015

2.512

Pendapatan(1)

-1.739

1.258

1.912

.167

.176

.015

2.067

Perilaku(1)

-4.022

1.274

9.959

.002

.018

.001

.218

3.952

1.270

9.678

.002

52.020

Pendapatan(1)

-2.337

1.173

3.974

.046

.097

.010

.962

Perilaku(1)

-3.873

1.180

10.771

.001

.021

.002

.210

3.597

1.159

9.628

.002

36.505

Constant
Step 2a

S.E.

Constant

a. Variable(s) entered on step 1: Pendidikan, Pendapatan, Perilaku.

42