Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN LAB TEKNIK PENGUKURAN FREKUENSI TINGGI

Percobaan No.3
Pengukuran Karakteristik Low Pass Filter (LPF)

Oleh:
Kelompok 3/Kelas 3A1
1. Intan Putri Asyfa/121331009
2. Maria Goretty Panjaitan/121331011
3. Miantami HSP/121331012

Tanggal percobaan : 18/11/2014

PRODI TELEKOMUNIKASIKASI TEKNIK ELEKTRO


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
NOVEMBER 2014

1. PERCOBAAN NO : 3
2. JUDUL PERCOBAAN :
Pengukuran Karakteristik Low Pass Filter (LPF)
3. TUJUAN
3.1 Mengukur karakteristik transmisi Low Pass Filter (LPF) seperti Insertion Loss,
Ripple, Shape Factor, dan lain-lain.
3.2 Mengukur karakteristik impedansi LPF

4. PENDAHULUAN
Low Pass Filter (LPF) atau filter lolos bawah adalah filter yang hanya melewatkan
sinyal dengan frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi cut-off dan akan melemahkan
sinyal dengan frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi cut-off. Pada Low Pass Filter
yang ideal sinyal dengan frekuensi diatas frekuensi cut-off tidak akan tidak akan
dilewatkan sama sekali. Gambar 1. di bawah ini menunjukkan kurva karakteristik dari
LPF.

Gambar 1. Kurva karakteristik Low Pass Filter


Ripple/ Riak
Ripple/Riak adalah ukuran kedataran dari daerah passband pada rangkaian resonansi yang
dinyatakan dalam dB. Secara fisik, ripple dapat diukur dalam karakteristik respon sebagai
perbedaan antara attenuasi maksimum pada passband dengan attenuasi minimum pada
passband.
Insertion Loss
Jika komponen-komponen disisipkan antara generator dan beban, beberapa signal akan
diserap dalam komponen-komponen tersebut. Hal ini terjadi karena sifat dari komponen
itu sendiri yang bersifat resistive losses. Sehingga signal yang ditransmisikan tidak

semuanya sampai ke beban. Kondisi ini terjadi dengan asumsi tidak dilakukannya
impedansi matching. Attenuasi yang dihasilkan dari kejadian itu disebut sebagai insertion
loss dan dinyatakan dalam dB.
Return Loss
Pada percobaan ini, pada pengukuran impedansi kita akan mengukur return loss pada low
pass filter tersebut. Pengukuran return loss ini membandingkan antara nilai coupling
forward (Cf) dengan coupling reverse (Cr) (atau biasa kita sebut dengan perbandingan
nilai B/R).
Shape Factor
Frekuensi cutoff adalah frekuensi sinyal di mana pada frekuensi tersebut daya sinyal
turun menjadi setengah dari daya sinyal pada passband, atau 3 dB dari daya pada
passband. Antara passband dengan stopband ada daerah transisi. Bandwidth filter ini
ditentukan dari nol hingga fc. Bandwidth ini disebut bandwidth 3 dB (redaman kecil).
Bandwidth pada redaman 60 dB disebut bandwidth 60 dB (redaman besar). Perbandingan
antara bandwidth 60 dB dan bandwidth 3 dB disebut shape factor. Shape Factor dapat
dihitung dengan formula sebagai berikut :

Pada percobaan ini untuk mendapatkan nilai Shape Factor dengan perbandingan dari
bandwidth 3 dB dan bandwidth 40 dB. Shape factor dikatakan baik apabila hasil
perbandingan tersebut adalah 1<SF<2.

5. SETUP PENGUKURAN
Scalar Network Analyzer

RF

DC

RF Detector

Cf

CR

inc

Open/short

coaxial

IN

OUT

Gambar 2. Rangkaian Kalibrasi open short

Scalar Network Analyzer

Detector

Terminasi
50

Cf

CR

inc

Filter

Detector

coaxial
IN

OUT

Gambar 3. Setup pengukuran transmisi

Scalar Network Analyzer

Detector

Cf

CR

Filter

inc
coaxial
IN

OUT
Terminasi
50

Gambar 4. Setup pengukuran Impedansi

6. ALAT /BAHAN YANG DIPERLUKAN

Dual directional coupler

HP 8602C SWEEP OSCILATOR (0.01

HP 86222A RF PLUG-IN (0.01

HP 8756A SCALAR NETWORK ANALYZER HEWLET PACKARD

11664A DETECTOR HEWLET PACKARD Schotcy (0.01 - 18GHz)

2.4GHz)

2.4GHz)

Max Input 20dBm/10Vdc

LM3010 MULTIFUNCTION COUNTER


B INPUT 100MHz-1GHz , 3V MAX

FILTER KAL MICROWAVE INC 4L120-300-NF/N

Impedansi 50

Connector & kabel N to BNC

Connector & kabel N to N

7. LANGKAH PENGUKURAN
7.1 Siapkan semua alat yang diperlukan dan pastikan bahwa alat dalam kondisi yang
baik.
7.2 Set frekuensi pada sweep dari 10 MHz 200 MHz.
7.3 Tampilkan 3 kursor pada layar Scalar Network Analyzer (SNA) dengan ubah
saklar MARKER ke INTEN dan tekan FULL SWEEP pada SWEEP OSC.
7.4 Kalibrasi detektor B dan R dengan cara mengubungkan port detektor pada port RF
OUT sweep Ossillator dengan power level 0dBm. Lihat pada display SNA jika
nilai yang ditampilkan belum 0 dBM maka atur pada SNA dengan menekan
tombol Offset lalu masukan nilai referensi offset agar nilai referensi menjadi 0dB.
7.5 Melakukan kalibrasi short dan open seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.
7.6 Melakukan pengukuran transmisi seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.
7.6.1

Mengukur insertion loss

7.6.2

Mengukur ripple pada low pass filter. Pada pengukuran ripple tersebut
setting alat seperti pada gambar 5 berikut :
SNA

A B R
Terminasi

RF Detector

LPF

Gambar 5. Diagram Pengukuran Ripple


Untuk mendapatkan nilai ripple, kita dapat menggunakan formula :

Ripple =

7.6.3

Pengukuran Shape Factor. Pada pengukuran shape factor ini, kita harus
mengetahui nilai bandwidth pada -3dB dengan bandwidth pada -40 dB.
Untuk pengukuran shape factor setting alat seperti pada gambar 6 berikut.

SNA

A B R
Terminasi

RF Detector

Frequency Counter

LPF

Gambar 6. Diagram Pengukuran Shape Factor


7.7 Melakukan pengukuran impedansi (Return Loss) seperti ditunjukkan pada gambar
4.

8. HASIL DAN ANALISA


8.1 Hasil pengukuran transmisi
a. Insertion Loss
IL = 0.3 dB
b. Ripple
Ripple max = -0.05 dBm
Ripple min = -0.37 dBm
= -0.05 (-0.37) = 0.32 dB

Ripple =

c. Frekuensi cut-off (-3 dB) = 100 MHz


Frekuensi rejection (-40 dB) = 140 MHz
SF (Shape factor) =

= 1.4

Hasil pengukuran dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 7. Kurva hasil pengukuran

Analisa :
Dari hasil percobaan di atas dapat dianalisa bahwa insertion loss yang dihasilkan
bernilai 0.3 dB dan IL < 1 dB, hal tersebut menunjukkan bahwa filter masih
bekerja dengan baik karena IL < 1 dB. Begitupun dengan ripple yang dihasilkan
menunjukkan filter bekerja dengan baik, karena ripple yang dihasilkan bernilai
0.32 dB (Ripple yang baik < 1 dB. Kemudian, shape factor yang dihasilkan dari
perbandingan BW 3dB dengan BW 40 dB adalah 1.4 dan shape factor yang baik
adalah 1<SF<2.

8.2 Hasil pengukuran impedansi


Dir = 28 dB
Dir = -20 log
28 = -20 log
28/-20 = log
= 0.04

Frekuensi Return Loss VSWR

(MHz)
(dB)
(Coeficient Reflection)
20
-28.53
1.08
0.04
40
-20.86
1.20
0.09
60
-27.64
1.09
0.04
80
-8.99
2.077
0.35
100
0.84
20.7
0.908
120
0.66
26.4
0.927
140
0.54
32.3
0.94
160
0.42
41.5
0.953
180
0.20
89.9
0.978
200
0.07
249
0.992
Tabel 1. Hasil pengukuran impedansi

Gambar 8. Kurva Return Loss terhadap fungsi frekuensi

Gambar 9. Kurva koefisien reflkeksi terhadap fungsi frekuensi

Gambar 10. Kurva VSWR terhadap fungsi frekuensi


Analisa :
Hasil pengukuran directivity coupler mendapatkan nilai sebesar 28dB. Artinya
coupler yang digunakan masih bekerja dengan baik. Sehingga berdasarkan hasil
perhitungan di atas, koefisien refleksi yang dihasilkan adalah sebesar 0.04. Return
loss, koefisien refleksi dan VSWR dapat dilihat dari table dan penyajian kurva.

Dari percobaan pengukuran impedansi dan transmisi, dihasilkan gambar


seperti di bawah ini:

Gambar 11. Return Loss dan Respon Frekuensi

Pada gambar di atas dapat dilihat ada titik potong antara kurva respon
frekuensi dengan kurva return loss. Titik potong tersebut menunjukkan bahwa
daerah < 100 MHz adalah daerah matching impedance sedangkan daerah > 100
MHz daerah unmatch.
Ini menyatakan bahwa return loss terbaik ada pada frekuensi mendekati fCUTOFF =
100MHz.

9. KESIMPULAN

Dalam melakukan pengukuran karakteristik LPF terdapat dua karakteristik


yang diukur, yaitu impedansi dan transmisi.

Parameter yang paling penting dalam pembuatan filter yaitu frekuensi cut-off,
bandwidth dan shape factor.fungsi dari shape factor yaitu untuk menahan
frekuensi di atas frekuensi cut-off.

Aplikasi Low Pass Filter yaitu pada pemancar (dipasang di penguat akhir)
sebagai penyesuai impedansi dan untuk memfilter. Dan juga untuk
menghilangkan spectral-spektral yang tidak diinginkan.