Anda di halaman 1dari 15

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pulau Panggang, Kepulauan Seribu


Pulau Panggang merupakan salah satu pulau yang berada pada gugusan
Kepulauan Seribu. Letak geografis Pulau Panggang (Gambar 1) berada pada
054418 54437 Lintang Selatan dan 106356 106368 Bujur Timur
yang seluruh wilayahnya dibatasi oleh perairan Laut Jawa. Kawasan Permukiman
Pulau Panggang merupakan sebuah pulau kecil yang diperuntukkan bagi kegiatan
permukiman penduduk di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Pada saat
ini, Pulau Panggang menunjukkan kondisi fisik yang relatif buruk. Adanya
keterbatasan lahan, kepadatan penduduk yang tinggi, tidak adanya penataan ruang
dan tingginya kepadatan bangunan, serta minimnya penyediaan fasilitas telah
menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan di kawasan permukiman
Pulau Panggang (Wicaksana 2006).

Gambar 1. Pulau Panggang, Kepulauan Seribu


(Sumber: Google Earth)
Dari data monografi yang ada diketahui bahwa Pulau Panggang memiliki
laju pertumbuhan penduduk rata-rata yang cukup besar, yaitu 2,87 per tahun.
Dengan laju pertumbuhan penduduk tersebut, maka dapat diperkirakan pada masa
mendatang jumlah dan kepadatan penduduk di Pulau Panggang akan terus
bertambah. Hal ini terbukti pada meningkatnya jumlah penduduk Pulau Panggang

tahun 2008 menjadi sebanyak 3905 jiwa dengan 433 jiwa/ha3 (Kel. P.Panggang
dalam Angka 2008) dari jumlah penduduk sebelumnya tahun 2005 sebesar 3.411
jiwa dan kepadatan penduduk sebesar 379 jiwa/ ha3 (Kel. P.Panggang dalam
Angka 2005).

2.2 Lamun
2.2.1

Pengertian Lamun
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang

seluruh proses kehidupan berlangsung di lingkungan perairan laut dangkal


(Susetiono 2004). Lamun merupakan satu satunya tumbuhan angiospermae atau
tumbuhan berbunga yang memiliki daun, batang, dan akar sejati yang telah
berdaptasi untuk hidup sepenuhnya di dalam air laut (Tuwo 2011).
Lamun yang dijumpai di Asia Tenggara berjumlah 20 jenis dan hanya 12
jenis lamun yang dijumpai di perairan Indonesia. Penyebaran padang lamun di
Indonesia mencakup perairan Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi,
Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Lamun Thalassia hemprichii merupakan
spesies yang dominan dan dijumpai hampir di seluruh Indonesia (Dahuri 2003).
Lamun memiliki sistem perakaran yang nyata, dedaunan, sistem
transportasi internal untuk gas dan nutrien, serta stomata yang berfungsi dalam
pertukaran gas. Akar pada tumbuhan lamun tidak berfungsi penting dalam
pengambilan air karena daun dapat menyerap nutrien secara langsung dari dalam
air laut. Lamun dapat menyerap nutrien dan melakukan fiksasi nitrogen melalui
tudung akar. Kemudian untuk menjaga agar tetap mengapung didalam kolom air,
tumbuhan ini dilengkapi oleh rongga udara (Dahuri 2003).
Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat
berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering
ditemukan di substrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan
terumbu karang. Sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari
komponen biotik dan abiotik disebut ekosistem lamun (seagrass ecosystem).

Habitat tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga
dijumpai di terumbu karang (Den Hartog 1970).

2.2.2

Klasifikasi dan Morfologi Lamun Thalassia hemprichii


Lamun Thalassia hemprichii merupakan salah satu tumbuhan dari kelas

Angiospermae dan termasuk ke dalam kelompok lamun. Berikut ini klasifikasi


dari lamun Thalassia hemprichii menurut Phillips dan Menez (1988) dalam
Soedharma (2007).
Divisi

: Anthophyta

Kelas

: Angiospermae

Subkelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Helobiae

Famili

: Hydrocharitaceae

Genus

: Thalassia

Spesies

: Thalassia hemprichii

Morfologi lamun Thalassia hemprichii dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Lamun Thalassia hemprichii


Sumber: Huisman (2002)
Lamun Thalassia hemprichii memiliki jumlah yang cukup berlimpah dan
sering dominan pada padang lamun campuran. Lamun ini tumbuh pada substrat
pasir berlumpur yang berbeda atau pasir medium kasar atau pecahan koral kasar
(Dahuri 2003). Daun lamun Thalassia hemprichii bercabang dua, tidak terpisah,
berbentuk pita dan bertepi rata dengan ujung daun membulat serta memiliki akar

yang berbuku-buku yang pendek. Umumnya lamun Thalassia hemprichii


ditemukan pada dasar berlumpur dan berpasir, hidup bersama dengan jenis lamun
lain yaitu Enhalus acoroides dan Halophila ovalis (Setyawan et al. 2009).
Terdapat perbedaan morfologi dan anatomi akar yang jelas antara jenis
lamun yang dapat digunakan untuk taksonomi. Akar pada beberapa spesies seperti
Halophila dan Halodule memiliki karakteristik tipis (fragile), seperti rambut,
diameter kecil, sedangkan spesies Thalassodendron memiliki akar yang kuat dan
berkayu dengan sel epidermal. Jika dibandingkan dengan tumbuhan darat, akar
dan akar rambut lamun tidak berkembang dengan baik. Namun, beberapa
penelitian memperlihatkan bahwa akar dan rhizoma lamun memiliki fungsi yang
sama dengan tumbuhan darat. Semua akar memiliki pusat stele yang dikelilingi
oleh endodermis. Stele mengandung phloem (jaringan transport nutrien) dan
xylem (jaringan yang menyalurkan air) yang sangat tipis. Karena akar lamun tidak
berkembang baik untuk menyalurkan air maka dapat dikatakan bahwa lamun tidak
berperan penting dalam penyaluran air. Diantara banyak fungsi, akar lamun
merupakan tempat menyimpan oksigen untuk proses fotosintesis yang dialirkan
dari lapisan epidermal daun melalui difusi sepanjang sistem lakunal (udara) yang
berliku-liku. Sebagian besar oksigen yang disimpan di akar dan rhizoma
digunakan untuk metabolisme dasar sel kortikal dan epidermis seperti yang
dilakukan oleh mikroflora di rhizospher (Patriquin 1972).
Semua lamun memiliki lebih atau kurang rhizoma yang utamanya adalah
herbaceous, walaupun pada Thallasodendron ciliatum (percabangan simpodial)
yang memiliki rhizoma berkayu yang memungkinkan spesies ini hidup pada
habitat karang yang bervariasi dimana spesies lain tidak bisa hidup.
Kemampuannya

untuk

tumbuh

pada

substrat

yang

keras

menjadikan

Thallasodendron ciliatum memiliki energi yang kuat dan dapat hidup berkoloni
disepanjang hamparan terumbu karang. Struktur rhizoma dan batang lamun
memiliki variasi yang sangat tinggi tergantung dari susunan saluran di dalam
stele. Rhizoma, bersama sama dengan akar, menancapkan tumbuhan ke dalam
substrat. Rhizoma seringkali terbenam di dalam substrat yang dapat meluas secara
ekstensif dan memiliki peran yang utama pada reproduksi secara vegetatif dan

10

reproduksi yang dilakukan secara vegetatif merupakan hal yang lebih penting
daripada reproduksi dengan pembibitan karena lebih menguntungkan untuk
penyebaran lamun. Rhizoma merupakan 60 80% biomas lamun. Seperti semua
tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari meristem basal yang terletak
pada potongan rhizoma dan percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum
yang hampir sama, spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi
yang memiliki nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi
sangat mudah terlihat yaitu bentuk daun, bentuk puncak daun, keberadaan atau
ketiadaan ligula. Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata
dan keberadaan kutikel yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan
pergerakan ion dan difusi karbon sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung
dari air laut. Air laut merupakan sumber bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk
penggunaan karbon inorganik dalam proses fotosintesis.

2.2.3

Fungsi Padang Lamun


Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem

di laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga ekosistem lamun
mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan
jasad hidup di laut dangkal, sebagai berikut :
1. Sebagai produsen primer : Lamun memiliki tingkat produktifitas primer
tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal
seperti ekosistem terumbu karang (Thayer et al. 1975).
2. Sebagai habitat biota : Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat
menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu,
padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang
pengembalaan dan makanan berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang
(coral fishes) (Kikuchi dan Peres 1977).
3. Sebagai penangkap sedimen : Daun lamun yang lebat akan memperlambat air
yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan disekitarnya menjadi
tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat

11

sedmen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi,


padang lamun disini berfungsi sebagai penangkap sedimen dan juga dapat
mencegah erosi (Gingsuburg dan Lowestan 1958).
4. Sebagai pendaur zat hara : Lamun memegang peranan penting dalam
pendauran berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka dilingkungan
laut, khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit (Thayer et al.
1975).

2.2.4

Faktor Pembatas Lamun

1. Suhu
Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan suhu
terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme,
penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun (Brouns dan Hiejs, 1986).
Walaupun padang lamun secara geografis tersebar luas yang diindikasikan oleh
adanya kisaran toleransi yang luas terhadap temperatur tapi pada kenyataannya
spesies lamun di daerah tropik mempunyai toleransi yang rendah terhadap
perubahan temperatur. Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun adalah 28-30C
(Dahuri,

2003).

Penelitian

yang

dilakukan

Barber

(1985)

melaporkan

produktivitas lamun yang tinggi pada suhu tinggi, bahkan diantara faktor
lingkungan yang diamati hanya suhu yang mempunyai pengaruh nyata terhadap
produktivitas tersebut. Pada kisaran suhu 10-35C produktivitas lamun meningkat
dengan meningkatnya suhu (Azkab 1999).

2. Salinitas
Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun
yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman, 1993).
Ditambahkan bahwa Thalassia ditemukan hidup dari salinitas 3,5-60 0/00, namun
dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan
Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 0/00 (Azkab 1999).
Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas,
kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis antartica

12

biomassa, produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan pada salinitas


42,5

/00. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya

salinitas, namun jumlah cabang dan lebar daun semakin menurun (Azkab 1988).
3. Kecerahan
Penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat mempengaruhi
proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan lamun. Lamun membutuhkan
intensitas cahaya yang tinggi untuk proses fotosintesa tersebut dan jika suatu
perairan

mendapat

pengaruh

akibat

aktivitas

pembangunan

sehingga

meningkatkan sedimentasi pada badan air yang akhirnya mempengaruhi turbiditas


maka akan berdampak buruk terhadap proses fotosintesis. Kondisi ini secara luas
akan mengganggu produktivitas primer ekosistem lamun. Sebaran komunitas
lamun di dunia masih ditemukan hingga kedalaman 90 meter, asalkan pada
kedalaman ini masih dapat ditembus cahaya matahari (Dahuri 2003).
4. Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal.
Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai
kedalaman 30 m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi
oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, sedangkan
Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo et al,
1987).
Kedalaman

perairan

juga

berpengaruh

terhadap

kerapatan

dan

pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (1986) mendapatkan pertumbuhan


tertinggi Enhalus acoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi. Selain
itu di Teluk Tampa Florida ditemukan kerapatan T. testudinun tertinggi pada
kedalaman sekitar 100 cm dan menurun sampai pada kedalaman 150 cm (Hutomo
et al. 1987).
5. Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun
dan ekosistem

lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi

faktor pembatas

13

pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih


(Hutomo 1999). Unsur nitrat (N) dan fosfat (P) terdapat pada sedimen dan dalam
bentuk terlarut di air. Hanya yang bentuk terlarut yang dapat dimanfaatkan oleh
lamun. Ditambahkan bahwa kapasitas sedimen kalsium karbonat dalam menyerap
fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen halus mempunyai
kapasitas penyerapan yang paling tinggi (Hutomo 1999).

6. Substrat
Lamun dapat ditemukan pada berbagai karakteristik substrat. Di Indonesia
padang lamun dikelompokkan ke dalam enam kategori berdasarkan karakteristik
tipe substratnya, yaitu lamun yang hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir,
pasir lumpuran, puing karang dan batu karang (Kiswara et al. 1985). Sedangkan
di kepulauan Spermonde Makassar, Erftemeijer (1993) menemukan lamun
tumbuh pada rataan terumbu dan paparan terumbu yang didominasi oleh sedimen
karbonat (pecahan karang dan pasir koral halus), teluk dangkal yang didominasi
oleh pasir hitam terrigenous dan pantai intertidal datar yang didominasi oleh
lumpur halus terrigenous. Adanya perbedaan penting antara komunitas lamun
dalam lingkungan sedimen karbonat dan sedimen terrigennous dalam hal struktur,
kerapatan, morfologi dan biomassa (Kiswara et al. 1985).

2.3 Logam Berat


2.3.1

Pengertian Logam Berat


Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi batuan

tambang, vulkanis dan sebagainya. Untuk kepentingan biologi Clark (1986);


Diniah (1995) dalam Yudhanegara (2005) membagi logam ke dalam tiga
kelompok yaitu:
1. Logam ringan (seperti natrium, kalium, kalsium, dan lain-lain); biasanya
diangkut sebagai kation aktif di dalam larutan yang encer;
2. Logam transisi (seperti besi, tembaga, kobalt dan mangan), diperlukan
dalam konsentrasi yang rendah, tetapi dapat menjadi racun dalam
konsentrasi yang tinggi;

14

3. Logam berat dan metaloid (seperti raksa, timah hitam, timah, selenium,
dan arsen), umumnya tidak diperlukan dalam kegiatan metabolisme dan
sebagai racun bagi sel dalam konsentrasi rendah.
Miettinen (1987) dalam Saeni (1997) mendefinisikan logam berat sebagai
unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 g/cm3, terletak di sudut
kanan bawah daftar berkala, mempunyai affinitas yang tinggi terhadap unsur S
dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari periode 3 sampai 7 pada tabel
periodik. Pada kenyataannya, dalam pengertian logam berat ini dimasukkan pula
unsur-unsur metalloid yang memiliki sifat berbahaya seperti logam berat sehingga
jumlahnya mencapai lebih kurang 40 jenis. Beberapa logam berat yang beracun
tersebut adalah As, Cd, Cr, Pb, Hg, Ni dan Zn (Wild 1995).
Menurut Darmono (1995), faktor yang menyebabkan logam berat
termasuk dalam kelompok zat pencemar adalah karena adalnya sifat-sifat logam
berat yang tidak dapat terurai (non degradable) dan mudah diabsorbsi.
Berdasarkan penelitian toksisitas akut terhadap organisme air dan akibatnya yaitu
LC-50 selama 48 jam disimpulkan bahwa urutan logam dari toksisitas paling
tinggi ke paling rendah adalah sebagai berikut:
Hg2+ > Cd2+ > Ag+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+ > Cr2+ > Sn2+ > Zn2+
Menurut Bryan (1976), kekuatan racun logam berat terhadap ikan dan
organisme lainnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Bentuk ikatan kimia dari logam yang larut dalam air
2. Pengaruh interaksi antara logam dan jenis racun lainnya
3. Pengaruh lingkungan seperti temperature, kadar garam, pH atau kadar
oksigen dalam air
4. Kondisi hewan, fase siklus hidup, besarnya organisme, jenis kelamin,
dan kecukupan kebutuhan nutrisi.
5. Kemampuan hewan untuk menghindar dari kondisi buruk (polusi)
6. Kemampuan untuk beradaptasi terhadap racun

Babich dan Stotzky (1978) mengemukakan bahwa berbagai faktor


lingkungan berpengaruh terhadap logam berat yaitu keasaman tanah, bahan

15

organik, suhu, tekstur, mineral liat, kadar unsur lain dan lain-lain. pH adalah
faktor penting yang menentukan transformasi logam. Penurunan pH secara umum
meningkatkan ketersediaan logam berat kecuali Mo dan Se (Klein dan Trayer
1995). Pada tanah, semakin halus teksturnya semakin tinggi kekuatannya untuk
mengikat logam berat. Oleh karena itu, tanah yang bertekstur liat memiliki
kemampuan untuk mengikat logam berat lebih tinggi daripada tanah berpasir.
Logam berat mungkin diabsorbsi dan diakumulasi dalam jaringan hidup.
Kemampuan beberapa logam berat dalam berikatan dengan asam amino
mengikuti urutan sebagai berikut : Hg > Cu > Ni > Pb > Co > Cd (Hutagalung
1991).
Organisme yang pertama terpengaruh akibat penambahan polutan logam
berat ke tanah atau habitat lainnya adalah organisme dan tanaman yang tumbuh di
tanah atau habitat tersebut. Dalam ekosistem alam terdapat interaksi antar
organisme baik interaksi positif maupun negatif yang menggambarkan bentuk
transfer energi antar populasi dalam komunitas tersebut. Dengan demikian
pengaruh logam berat tersebut pada akhirnya akan sampai pada hierarki rantai
makanan tertinggi yaitu manusia. Logam-logam berat diketahui dapat mengumpul
di dalam tubuh suatu organisme dan tetap tinggal dalam tubuh untuk jangka waktu
lama sebagai racun yang terakumulasi (Saeni 1997).

2.3.2

Logam Kadmium (Cd)


Menurut Palar (1994) seperti halnya unsur-unsur kimia lainnya terutama

golongan logam Cd mempunyai sifat fisika dan kimia tersendiri. Berdasarkan


pada sifat-sifat fisikanya Cd merupakan logam yang lunak, ductile, berwarna
putih seperti putih perak. Logam ini akan kehilangan kilapnya jika berada dalam
udara yang basah atau lembab serta akan cepat mengalami kerusakan bila dikenai
uap ammonia (NH3) dan sulfur hidroksida (SO2). Sedangkan berdasar pada sifatsifat kimianya, logam Cd didalam persenyawaan yang dibentuknya pada
umumnya mempunyai bilangan valensi 2-, sangat sedikit yang mempunyai
bilangan valensi 1+.

16

Kadmium terdapat di alam biasanya tercampur dengan bijih timbal dan


seng (Lu 1995). Kadmium jarang sekali ditemukan dalam bentuk bebas.
Keberadaannya di alam dalam berbagai jenis batuan, tanah, dalam batubara dan
minyak (Saeni 1997). Kadmium dalam air laut berbentuk senyawa klorida
(CdCl2), sedangkan dalam air tawar berbentuk karbonat (CdCO3) (Darmono
1995). Logam ini memiliki sifat tahan panas dan tahan korosif sehingga kadmium
banyak digunakan sebagai pelapis karena dapat membuat logam menjadi
antikorosif bila digunakan dalam air laut, air alkalis dan lingkungan tropis
(Fergusson 1990). Kadmium telah digunakan secara meluas pada berbagai
industri antara lain pelapisan logam, peleburan logam, pewarnaan, baterai, minyak
pelumas, bahan bakar. Bahan bakar dan minyak pelumas mengandung Cd sampai
0,5 ppm, batubara mengandung Cd sampai 2 ppm, pupuk superpospat juga
mengandung Cd bahkan ada yang sampai 170 ppm.
Pada kadar yang cukup rendah logam berat Cd dalam perairan sudah
bersifat racun. Sanusi et al. (1984) menyatakan bahwa toksisitas Cd terhadap
hewan air meningkat dengan menurunnya kadar oksigen dan kesadahan dan
meningkatnya pH dan suhu. Keracunan yang disebabkan oleh kadmium dapat
bersifat akut dan keracunan kronis. Di Jepang terjadi peristiwa keracunan oleh
logam kadmium yang menyebabkan terjadinya kerapuhan pada tulang-tulang
penderita (Itai-itai diseases). Keracunan akut yang disebabkan oleh kadmium
sering terjadi pada pekerja di industri-industri yang berkaitan dengan logam ini.
Peristiwa keracunan akut ini dapat terjadi karena para pekerja terkena paparan uap
logam kadmium atau Cd. Gejala-gejala keracunan akut yang disebabkan oleh
logam kadmium adalah timbulnya rasa sakit dan panas pada dada (Palar 1994).
Menurut Timbrell (1996) kadmium memiliki banyak efek toksik diantaranya
kerusakan ginjal dan karsinogenik pada hewan yang menyebabkan tumor pada
testis. Akumulasi logam kadmium dalam ginjal membentuk komplek dengan
protein. Waktu paruh dari kadmium dalam tubuh 7-30 tahun dan menembus ginjal
terutama setelah terjadi kerusakan. Kadmium bisa juga menyebabkan kekacauan
pada metabolisme kalsium yang pada akhirnya mengalami kekurangan kalsium

17

pada tubuh dan menyebabkan penyakit osteomalacia (rasa sakit pada persendian
tulang belakang, tulang kaki) dan bittlebones (kerusakan tulang).
Logam

kadmium

akan

mengalami

proses

biotransformasi

dan

bioakumulasi dalam organisme hidup (tumbuhan, hewan dan manusia). Logam ini
masuk ke dalam tubuh bersama makanan yang dikonsumsi dan telah
terkontaminasi oleh logam kadmium dan atau persenyawaannya. Dalam tubuh
biota perairan jumlah logam yang terakumulasi akan terus mengalami
peningkatan dengan adanya proses biomagnifikasi di badan perairan (Palar 1994).

2.3.3

Logam Timbal (Pb)


Timbal (Pb) adalah logam lunak kebiruan atau kelabu keperakan yang

lazim terdapat dalam kandungan endapan sulfit yang tercampur mineral-mineral


lain, terutama seng dan tembaga. Menurut Saeni (1989) dalam Afrizal (2000) Pb
masuk ke dalam perairan melalui pengendapan, jatuhan debu yang mengandung
Pb yaitu dari hasil pembakaran bensin yang mengandung tetra etil, erosi dan
limbah industri. Penggunaan Pb terbesar adalah dalam industri baterai kendaraan
bermotor seperti timbal metalik dan komponen-komponennya. Timbal digunakan
pada bensin untuk kendaraan, cat dan pestisida. Pencemaran Pb dapat terjadi di
udara, air, maupun tanah. Pencemaran Pb merupakan masalah utama, tanah dan
debu sekitar jalan raya pada umumnya telah tercemar bensin bertimbal selama
bertahun-tahun (Sunu 2001).
Pb dan persenyawaanya dapat berada di dalam badan perairan secara
alamiah dan sebagai dampak aktivitas manusia. Dibandingkan logam berat Cd,
maka unsur Pb tidak terlalu beracun, akan tetapi senyawa Pb dalam bentuk
organik lebih beracun daripada dalam bentuk anorganik (Pain 1995 dalam
Kennish 1996). Badan perairan yang telah kemasukan senyawa atau ion-ion Pb
akan menyebabkan jumlah Pb yang ada melebihi konsentrasi yang dapat
menyebabkan kematian bagi biota perairan tersebut (Suharto 2005).
Menurut Saeni (1997), logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia sehingga
bila makanan tercemar oleh logam tersebut, maka tubuh akan mengeluarkan
sebagian dan sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu, seperti ginjal,

18

hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut. Accidental poisoning seperti termakannya
senyawa timbal dalam konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan gejala keracunan
timbal seperti iritasi gastrointestinal akut, rasa logam pada mulut, muntah, sakit
perut dan diare (Darmono 1995).

2.3.4

Mekanisme Penyerapan Logam Berat pada Tumbuhan


Proses absorpsi racun, termasuk unsur logam berat menurut Soemirat

(2003) dapat terjadi lewat beberapa bagian tumbuhan, yaitu : (1) akar, terutama
untuk zat anorganik dan zat hidrofilik; (2) daun bagi zat yang lipofilik; dan (3)
stomata untuk memasukkan gas. Adapun proses absorpsinya sendiri terjadi seperti
pada hewan dengan berbagai mekanisme difusi, hanya isitilah yang digunakan
berbeda, yakni translokasi. Transpor ini terjadi dari sel ke sel menuju jaringan
vaskuler agar dapat didistribusikan ke seluruh bagian tumbuhan. Difusi katalitis
terjadi dengan ikatan benang sitoplasma yang disebut plasmodesmata. Misalnya
transpor zat hara dari akar ke daun dan sebaliknya transpor makanan atau hidrat
karbon dari daun ke akar.
Tumbuhan

memiliki

kemampuan

untuk

menyerap

ion-ion

dari

lingkungannya ke dalam tubuh melalui membran sel. Dua sifat penyerapan ion
oleh tumbuhan adalah (1) faktor konsentrasi, yaitu kemampuan tumbuhan dalam
mengakumulasi ion sampai tingkat konsentrasi tertentu, bahkan dapat mencapai
beberapa tingkat lebih besar dari konsentrasi ion di dalam mediumnya; dan (2)
perbedaan kuantitatif dalam kebutuhan hara yang berbeda pada tiap jenis
tumbuhan (Fitter dan Hay 1991).
Sel-sel akar tumbuhan umumnya mengandung konsentrasi ion yang lebih
tinggi daripada medium di sekitarnya. Sejumlah besar eksperimen menunjukan
adanya hubungan antara laju pengambilan ion dengan konsentrasi ion yang
menyerupai hubungan laju reaksi yang dihantarkan enzim dengan konsentrasi
substratnya. Analogi ini menunjukkan adanya makanisme khusus dalam membran
sel yang hanya sesuai untuk suatu ion tertentu dan dapat menyerap ion tersebut,
sehingga pada konsentrasi substrat yang tinggi berperan pada laju maksimum
hingga mencapai laju pengambilan jenuh (Fitter dan Hay 1991).

19

Beraneka ragam unsur dapat ditentukan di dalam tubuh tumbuhan, tetapi


tidak berarti bahwa seluruh unsur-unsur tersebut tidak dibutuhkan tumbuhan
untuk kelangsungan hidupnya. Beberapa unsur yang ditemukan di dalam tubuh
tumbuhan ternyata dapat mengganggu metabolisme atau meracuni tumbuhan,
sebagai contoh adalah beberapa jenis logam berat seperti Al, Cd, Ag dan Pb.
Unsur hara dapat kontak dengan permukaan akar melalui 3 cara, yakni : (1) secara
difusi dalam larutan tanah; (2) secara pasif oleh aliran air tanah, dan (3) akar
tumbuhan ke arah posisi hara dalam matrik tanah. Serapan hara oleh akar dapat
bersifat akumulatif, selektif, satu arah (unit directional), dan tidak dapat jenuh.
Penyerapan hara pada waktu yang lama menyebabkan konsentrasi hara dalam sel
jauh lebih tinggi, ini disebut sebagai akumulasi hara. Pengukuran konsentrasi
unsur hara dalam jaringan tumbuhan, tanah, atau larutan hara dapat dilakukan
dengan alat spektrometer serapan atomik (atomic absorption spectrometer) atau
spektrometer emisi optikal (optical emission spectrometer) (Lakitan 2001).
Menurut Fitter dan Hay (1991) mekanisme yang mungkin dilakukan oleh
tumbuhan untuk menghadapi konsentrasi toksik adalah :
a) Penanggulangan (ameliorasi), jika konsentrasi internal harus dihadapi maka
ion-ion akan dipindahkan dari tempat sirkulasi dengan beberapa jalan atau
menjadi toleran di dalam sitoplasma. Terdapat empat pendekatan dalam
ameliorasi, yaitu : (1) lokalisasi (intraseluler atau ekstraseluler); biasanya di
dalam akar; (2) ekskresi, secara aktif melalui kelenjar pada tajuk atau secara
pasif melalui akumulasi pada daun-daun tua yang diikuti dengan absisi daun;
(3) dilusi (melemahkan), yaitu melalui pengenceran; dan (4) inaktivasi secara
kimia. Mekanisme pembentukan kompleks logam sering dijumpai pada
tumbuhan, seperti pada tembaga (Cu) yang biasanya mengalami translokasi
pembentukan khelat dengan asam-asam poliamino-polikarbonsilik;
b) Toleransi, yaitu tumbuhan mengembangkan sistem metabolik yang dapat
berfungsi pada konsentrasi toksik. Pada beberapa kasus, enzim dinding sel,
terutama fosfatase asam, telah diperlihatkan toleran terhadap tingkat toksik
ion-ion yang jauh lebih tinggi (Cu2+, Zn2+) dalam ketahanannya dibandingkan
pada tanaman normal.

20

Ada tiga jalan yang dapat ditempuh oleh air dan ion-ion yang terlarut
bergerak menuju sel-sel xylem dalam akar, yaitu (1) melalui dinding sel (apoplas)
epidermis dan sel-sel korteks; (2) melalui sistem sitoplasma (simplas) yang
bergerak dari sel ke sel; dan (3) melalui sel hidup pada akar, dimana sitosol dari
setiap sel membentuk suatu jalur (Rosmarkam dan Nasih 2002).
Absorpsi unsur hara pada tumbuhan ditentukan oleh berbagai faktor biotik
dan abiotik. Faktor biotik antara lain status hormonal, fase pertumbuhan,
metabolisme, morfologi tumbuhan, densitas daun, bentuk daun (sempit atau
lebar), berbulu atau berlapis, mudah tidaknya menjadi basah, umumnya daun yang
muda lebih sulit mengabsorpsi daripada yang sudah tua. Sedangkan faktor abiotik
antara lain suhu, sinar/radiasi, kelembapan, dan kualitas tanah (Soemirat 2003).
Tumbuhan yang tumbuh di air akan terganggu oleh bahan kimia toksik
dalam limbah (sianida, khlorine, hipoklorat, fenol, derivat bensol dan campuran
logam berat). Pengaruh polutan terhadap tumbuhan dapat berbeda tergantung pada
macam polutan, konsentrasinya dan lamanya polutan itu berada. Gejala adanya
pencemaran pada tumbuhan sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada konsentrasi
tinggi tumbuhan akan menderita kerusakan akut dengan menampakkan gejala
seperti klorosis, perubahan warna, nekrosis dan kematian seluruh bagian
tumbuhan. Di samping perubahan morfologi juga akan terjadi perubahan kimia,
biokimia, fisiologi dan struktur tumbuhan (Luncang 2005).
Hasil-hasil penelitian pada tumbuhan dikatakan bahwa tumbuhan
cenderung mengakumulasi logam-logam berat yang terdapat pada ekosistem yang
bersangkutan. Hal ini tidak lepas dari peranan mikrob-mikrob tanah yang
membantu tumbuhan untuk mengakumulasi logam berat tersebut, baik mikrob
yang mengkonsumsi logam berat itu sendiri ataupun mikrob yang bersatu dengan
jenis tanaman tertentu untuk mengakumulasi logam berat. Sebagian besar logam
berat ini merupakan deposit di dinding sel-sel perakaran dan daun (Merian 1994).